Anda di halaman 1dari 19

SI-3051 Manajemen Konstruksi

Tugas I
Dosen : Dr. Ir. Muhammad Abduh, MT

Oleh : Sofia Fadillah (15010077)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG BANDUNG 2013

KLIPING

Kontraktor Resah Ada Dualisme LPJK-D

PANGKALPINANG, BANGKA POS Sejak dikukuhkannya Pengurus Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Daerah (LPJK-D) Provinsi Babel, pada Rabu (2/5) oleh pelaksana tugas (Plt) Gubernur Babel, dualimas LPJK-D di Bangka Belitung terjadi. Adanya dualisme LPJK-D ini tentunya menimbulkan keresahan bagi masyarakat jasa konstruksi dan asosiasi jasa konstruksi. Anggotanya sulit untuk mengikuti LPJK-D yang mana. Demikian dikatakan, Ketua DPD Gabungan Perusahaan Kontraktor Nasional (Gapeknas) Babel, Haidir Amin, melalui rilis yang dikirimnya kepada Bangka Pos Group, Minggu (13/5). LPJK-D yang lama merupakan versi AD/RT dan Undang-undang No.18 tahun 1999. Yang baru saja terbentuk adalah LPJK-D versi PU. Dualisme LPJK-D ini akan menimbulkan ketegangan nantinya. Karena masing-masing LPJK berhak mengeluarkan atau menerbitkan sertifikat badan usaha (SBU). Dan masingmasing LPJKD mengklaim bahwa merekalah yang sah berdasarkan SK Mentri PU No. 223/KPTS/M/2011 untuk versi PU dan satu lagi berdasarkan versi UU No. 18 atau versi AD/RT, kata Haidir. Haidir menjelaskan, konflik ini tentu berpengaruh terhadap perusahaan jasa konstruksi yang mengikuti proses tender proyek pemerintah, baik dalam penyerapan APBN atau APBD. Disebutkannya, ketua LPJK N versi UU No. 18 menegaskan bahwa LPJK versi mentri PU adalah ilegal. Karena bertentangan dengan permen PU No. 10 tahun 2010. Kekisruhan ini terjadi disebabkan karena adanya peraturan yang keluar dari LPJK versi mentri PU. Dimana dalam peraturan itu hanya memperoleh perusahaan kontraktor yang bernaung di bawah gapensi dan apeksindo saja yang dapat mengikuti tender proyek. Ini tidak benar, karena bertentangan dengan permen PU No.10/PRT/M/2010 tentang cara pemilihan pengurus, masa bhakti, tupoksi serta mekanisme kerja lembaga ini, ucapnya. Dampak permasalahan ini, sangat luas. Tidak hanya di Bangka Belitung. Tetapi terjadi juga diberbagai daerah, bahkan terjadi gejolak yang cukup panas. Sedangkan di Babel, kata Haidir Hamim, masih tetap kondusif dan terjaga dengan baik. Permasalahan dualisme LPJK, saat ini sedang dilakukan gugatan PTUN di PN Jakarta Selatan. Namun terlepas dari persoalan hukum ini, harusnya mengikuti mekanisme regulasi yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Penerbitakn SBU sampai saat ini mengikuti regulasi yang berlaku secara nasional dimulai pada bulan Agustus 2012. Proses ini belum final. Kami imbau kepada yang berwenang penyedia anggaran, satker dan panitia lelang, jangan sampai membuat keputusan yang tidak jelas. Hal ini bisa berakibat hukum. Kita harus menciptakan iklim bisnis yang sehat, bebas, transparan, dinamis dan kondusif di Babel, tukasnya. http://cetak.bangkapos.com/metronews/read/47804/Kontraktor+Resah+Ada+Dualisme+LPJK-D.html 2

Murdianto: LPJK Maluku Versi Menteri PU Ilegal


Ambon - Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) di Provinsi Maluku saat ini terdapat dualisme kepengurusan sehingga menimbulkan keresahan bagi anggotanya entah mau mengikuti kepengurusan yang mana. Berdasarkan adanya dualisme ini, maka saat ini terjadi ketegangan antara dualisme LPJK yang berpengaruh terhadap perusahaan jasa konstruksi yang mengikuti proses tender proyek pemerintah di kabupaten/kota. Ketua LPJK Provinsi Maluku, Totok Murdianto menegaskan, LPJK Maluku versi Menteri Pekerjaan Umum (PU) adalah ilegal, karena bertentangan dengan Peraturan Menteri (Permen) PU Nomor 10 tahun 2010. Menyikapi hal ini khususnya di Maluku memang sebagaimana diketahui terjadi dualisme kepengurusan di lembaga ini, sehingga secara nasional dan khususnya ke daerah itu menimbulkan keresahan padahal hal ini hanya kesalahan persepsi bahwa hanya ada dua asosiasi, yakni Gapensi dan Apeksindo yang berhak untuk mengikuti proses tender, ungkap Murdianto dalam keterangan persnya di Ambon, Sabtu (21/4). Murdianto mengungkapkan, kekisruhan ini terjadi disebabkan karena adanya peraturan yang keluar dari dari LPJK versi Menteri PU. Di mana dalam peraturan itu hanya memperbolehkan perusahaan kontraktor yang bernaung dibawah Gapensi dan Apeksindo saja yang dapat mengikuti tender proyek, padahal hal ini tidak benar karena bertentangan dengan Permen PU Nomor:10/PRT/M/2010 tentang, Cara Pemilihan Pengurus, Masa Bhakti, Tupoksi serta mekanisme kerja lembaga ini. Pada pasal 4 ayat 5 berbunyi pengurus lembaga tingkat nasional dan tingkat provinsi sesuai dengan ketentuan Permen PU harus sudah dikukuhkan paling lama pada bulan Desember 2011, kenyataannya LPJK versi Menteri PU tersebut dikukuhkan oleh Gubernur Maluku pada Februari 2012, sehingga pelantikan pengurus LPJK melewati waktu yang ditentukan, ungkap Murdianto. Menurutnya, saat ini, dualisme LPJK secara nasional sementara dalam masalah di tingkat pusat bahkan dengan adanya dualism kepengurusan ini juga sangat meresahkan masyarakat konstruksi di setiap daerah. Memang hal ini merupakan persoalan pusat dan sementara diproses secara hukum, namun sayangnya, hal ini sudah berkembang luas di masyrakat jasa konstruksi. Padahal penerbitan surat Sertifikasi Badan Usaha (SBU) sampai saat ini mengikuti regulasi yang berlaku secara nasional itu dimulai pada bulan Agustus 2012, ujarnya. Murdianto menjelaskan, proses hukum dari masalah dualism ini belum final sehingga harus diberikan kebebasan bagi masyarakat jasa konstruksi. Ketetapan hukumnya, masih berproses di Jakarta, jangan sampai membuat keputusan-keputusan yang keputusannya masih belum jelas, untuk itu berikanlah kesempatan tanpa mengurangi regulasi yang ada dan masih bisa berusaha untuk mengikuti prosesproses tender yang ada secara nasional di semua wilayah, ujarnya. Murdianto menghimbau, hal ini harus disikapi dengan bijaksana, sehingga tidak menimbulkan pemahaman yang keliru. Jangan sampai ada anggota-anggota asosiasi di luar dua asosiasi ini tidak bisa mengikuti proses tender, padahal mereka-mereka ini juga sebagai penopang perputaran ekonomi di Maluku, cetusnya. (Cr-1) http://www.siwalimanews.com/post/murdianto_lpjk_maluku_versi_menteri_pu_ilegal 3

Dualisme LPJK Picu Kerancuan Hukum Jasa Konstruksi


(Berita Daerah-Kalimantan), Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Provinsi Kalimantan Barat versi Musyawarah Nasional Bambang Widianto mengatakan dualisme kepengurusan memicu terjadinya kerancuan dan cacat produk hukum di bidang jasa konstruksi. "Salah satu tugas LPJK adalah menerbitkan sertifikat badan usaha (SBU), sertifikat keahlian (SKA) maupun sertifikat keterampilan (SKTK), selain tugas di bidang pendidikan latihan dan penelitian pengembangan jasa konstruksi," kata Bambang Widianto di Pontianak, Jumat. Menurut dia, dalam penerbitan SBU, SKA dan SKTK diperlukan sistem operasi yang baik, layak uji serta melewati sertifikasi manajemen mutu yang selama ini dimiliki LPJK versi Munas dan Musda. "Setiap SBU, SKA dan SKTK memiliki nomor registrasi unik dan dikeluarkan secara online, bukan manual dan saat ini hanya kelengkapan yang andal dalam hal itu," katanya. Ia mengungkapkan, fasilitas itu yang tidak dimiliki oleh LPJK versi Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan akan menjadi sumber permasalahan di kemudian hari. Padahal, lanjut dia, berdasarkan Surat Edaran Menteri PU dan aturan pendukungnya, bahwa SBU, SKA dan SKTK yang habis masa berlaku setelah 31 September 2011 harus menggunakan SBU, SKA dan SKTK yang diterbitkan LPJK versi PU. "Sebagaimana yang diatur dalam Peraturan LPJK versi PU No 2 Tahun 2011 yang hampir semuanya mengadopsi Peraturan LPJKN versi Munas Nomor 11a tahun 2008," ujar dia. Ia menambahkan, masalahnya dalam Peraturan LPJK versi PU tersebut dicantumkan penggunaan sistem informasi jasa konstruksi dan perangkatnya yang belum mereka miliki. "Informasi yang dihimpun, bahwa LPJK versi PU akan menggunakan sistem manual, dan ini justru menimbulkan permasalahan yang lebih besar," kata Bambang Widianto. Yakni, lanjut dia, melanggar LPJK versi PU dalam proses penerbitan SBU, SKA dan SKTK yakni harus menggunakan sistem teknologi informasi dan perangkatnya. "Kalau saja dalam penerbitan SBU, SKA dan SKTK tadi sudah melanggar aturan, maka secara otomatis produknya adalah produk cacat hukum," ujar dia. Misalnya legalitas dari perusahaan penyediaan jasa, belum lagi kemungkinan digagalkannya proses lelang terkait sanggahan resmi yang mempertanyakan hal itu. Gubernur Kalbar Cornelis pada Kamis (29/12) melantik Bride Suryanus Allorante menjadi Ketua LPJK Provinsi Kalbar periode 2011 - 2015. Gubernur mengacu ke Peraturan Pemerintah No 4 Tahun 2010 yang direvisi dengan PP No 92 Tahun 2010, serta dengan beberapa ketetapan Menteri PU baik berupa Permen maupun Surat Edaran. Sedangkan LPJKN versi Munas berdiri sejak 9 Agustus 1999 berdasarkan UU No 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi. Menurut Bambang, ada sejumlah daerah yang juga menolak LPJK versi Menteri PU diantaranya Kalteng, Sulbar, Kepri dan Jatim. (es/ES/bd-ant) http://beritadaerah.com/berita/kalimantan/52772 4

LPJK Harus Benahi Dualisme Sertifikasi


Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Indonesia (LPJK) diminta bersikap tegas terhadap dualisme sertifikasi. Sementara, potensi pasar usaha jasa konstruksi tahun ini mencapai Rp100 triliun dan sebagian besar dari proyek swasta, sisanya proyek pemerintah pusat, daerah dan BUMN. "Ini untuk menjawab berbagai persoalan yang muncul di seputar pengadaan barang dan jasa maupun pengerjaan proyek di lingkungan pemerintah akibat dualisme sertifikasi itu," kata Menkimpraswil, Soenarno, pada rakernas LPJK di Jakarta, Selasa (27/5). Setelah membenahi adanya sertifikasi yang dibuat lembaga di luar LPJK, dia menyarankan lembaga ini mengubah AD/ART yang memungkinkan pengkajian kembali berbagai produk, aturan dan kelembagaan yang dihasilkan LPJK sebelumnya. Misalnya, akreditasi dan sertifikasi. "Ini yang sering disoroti publik dan saya minta galang rekonsiliasi dengan seluruh kontraktor." Ia mengungkapkan beberapa waktu lalu LJKI (Lembaga Jasa Konstruksi Indonesia) minta memfasilitasi agar tergabung dalam LPJK. Keinginan ini dipenuhi dalam merealisasi bagian konsolidasi masyarakat jasa konstruksi. Apalagi, selama ini elemen usaha jasa konstruksi cenderung mengutamakan kepentingan diri sendiri dan melupakan kepentingan bersama yang lebih besar. Selain itu, langkah tadi dapat mendorong profesionalisme pelaku dan badan usaha jasa konstruksi sehingga antara eksistensi dan keberadaan tenaga inti dan penanggung jawab teknis, semakin jelas keberadaannya. "Mengherankan pada saat menurunnya kue ekonomi, jumlah kontraktor justru melesat, sehingga terkesan tak ada saringan terhadap profesionalisme kontraktor," ujarnya. Kurang dilirik Kepala Badan Pembinaan Konstruksi dan Investasi (Bapekin), Wibisono Setiowibowo, di tempat yang sama menegaskan pangsa pasar usaha jasa tahun ini mencapai Rp100 triliun. "Angka itu merupakan hitung-hitungan Bapekin. Sebanyak 55 persen berasal dari proyek swasta seperti proyek permukiman dan pusat belanja, 19 persen proyek APBN, sembilan persen proyek APBD dan 17 persen proyek BUMN besar," ujarnya. Namun, selama ini pasar swasta kurang dilirik kontraktor. Malahan banyak yang meributkan proyek pemerintah. Padahal, kalau kontraktor mampu menggarap proyek swasta, tidak ada alasan untuk terus ribut. Mengenai ekspansi pasar ke luar negeri, lanjut Wibisono, secara teknis sebagian kontraktor nasional mampu melakukannya. Kendalanya hanya pada minimnya dukungan permodalan dan asuransi sehingga kalah bersaing dengan Jepang, Taiwan, dan Korea. "Di Libya ada proyek pemasangan pipa air bersih dari utara ke selatan. Untuk bisa ikut tender, kontraktor harus punya jaminan 70 juta dolar AS. Kontraktor kita mana kuat," ujarnya. Untuk bisa menyediakan jaminan itu, mereka harus membentuk konsorsium beranggotakan para kontraktor, konsultan dan industriawan pipa. Atau meminta pemerintah membantu mengeluarkansovereign guarantee kepada negara pemilik proyek yang menjamin profesionalisme kontraktor Indonesia.(oto) http://www.pelita.or.id/baca.php?id=13514

Dualisme LPJK Babel Makan Korban

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Persoalan dualisme Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) akhirnya memakan korban. Anggota Gabungan Pengusaha Kontraktor Nasional (Gabpeknas) Provinsi Babel, yakni CV CAB yang akan membuat Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) ditolak Kantor Pelayanan Terpadu (KPT) Kabupaten Bangka. Alasan petugas KPT karena terjadi masalah dualisme LPJK Provinsi Babel membuat bingung mereka soal LPJK mana yang sah. Hal ini diungkapkan Haidar Hamim, Ketua Umum Gabpeknas Provinsi Babel kepada bangkapos.com di Sungailiat, Rabu (6/6/2012). "Saya datang ke Sungailiat ini karena ada keluhan dari anggota Gabpeknas yang akan membuat IUJK di Kantor KPT Bangka ditolak petugas. Alasannya karena persoalan dualisme LPJK Babel yang sedang mencuat saat ini. Kita diminta menemui dinas PU yang terkait soal ini," kata Haidar. Menurut Haidar, seharusnya petugas KPT Bangka tetap melayani semua anggota LPJK Babel versi UU No. 18/1999 (AD/ART atau Munas) maupun anggota LPJK versi Kementerian Pekerjaan Umum (PU). "Jangan dibedakan karena saat ini status LPJK sedang status quo, menunggu hasil sidang PTUN Jakarta," ujar Haidar. "Saat ini belum ada keputusan. Memang anggota Gabpeknas saat ini masih memegang SBU (sertifikat badan usaha) yang dikeluarkan LPJK versi UU No. 18/1999, tapi sebaiknya jangan dibeda-bedakan lah," lanjutnya. Ditambahkannya, CV CAB selama ini tidak pernah mengikuti lelang proyek pemerintah, baik yang didanai APBN maupun APBD, melainkan mengikuti lelang proyek di perusahaan swasta, seperti perusahaan perkebunan sawit. "CV CAB ini tidak pernah ikut lelang proyek pemerintah, tapi pihak swasta namun persyaratannya tetap sama seperti lelang proyek pemerintah, sehingga mereka jadi terhambat dan menjadi korban akibat adanya dualisme LPJK ini," imbuh Haidar. Terpisah Kepala Kantor Pelayanan Terpadu (KPT) Kabupaten Bangka Rahmat Gunawan sudah tidak berada di kantornya saat hendak ditemui bangkapos.com, Rabu (6/6/2012) sekitar pukul 13.40 WIB. Ketika dihubungi via ponselnya, diminta meninggalkan pesan. Begitu juga ketika dikirimi SMS untuk meminta konfirmasi juga belum ada balasan. Ketika hendak ditemui di rumahnya di Kompleks Perumahan SDN 15 Sungailiat, Rahmat Gunawan juga tidak ada di rumah. http://bangka.tribunnews.com/2012/06/06/dualisme-lpjk-babel-makan-korban

Persoalan LPJK Kembali Mengemuka


BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Nasional versi Undangundang atau LPJK Graha Arteri melarang penggunaan nama dan logo LPJK oleh LPJK versi Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan asosiasi yang berada di bawahnya. Pasalnya LPJK versi UU dinyatakan berhak atas nama dan logo LPJK karena keputusan PTUN Jakarta atas perkara itu dinyatakan sudah memiliki kekuatan hukum tetap atau inkrah. Hal ini ditegaskan Haidar Hamim, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Konstruksi Nasional (Gabpeknas) Babel kepada bangkapos.com, di Sungailiat, Rabu (19/9/2012). "Berdasarkan salinan putusan PTUN No. 55 / G/2012/PTUN-JKT, tanggal 2 Agustus 2012, dan akta pencabutan permohonan banding dari LPJK versi Kementerian PU No. 55/G/2012/PTUN-JKT tertanggal 10 September 2012, yang ditandatangani Ir Triwidjajanto J.MT serta surat pemberitahuan dan penyerahan akta pencabutan dan permohonan banding No. 55/G/2012/PTUN-JKT tanggal 13 September 2012 yang disampaikan panitera PTUN Jakarta kepada LPJK versi UU sebagai tergugat Intervensi, maka putusan PTUN tersebut dinyatakan telah sah dan mempunyai kekuatan hukum tetap atau inkrah," tutur Haidar. Dia menambahkan, berkaitan dengan putusan PTUN tersebut, maka LPJK versi UU berdasarkan surat No. 153/LPJK/D/VIII/2012, tanggal 5 September 2012, melarang menggunakan nama dan logo LPJK versi UU tanpa izin. "Selain itu menginstruksikan kepada pihak-pihak, khususnya lembaga ataupun asosiasi yang masih menggunakan nama dan logo LPJK versi UU (Graha Arteri) untuk tidak lagi menggunakannya, sebab akan berakibat hukum, sebagaimana tanda bukti Laporan Kepolisian (LP) di Mabes Kepolisian Negara No. Pol TBL/31/I/2012 Bareskrim, tanggal 17 Januari 2012, yang saat ini sudah dalam proses memasuki tahap penyidikan sebagaimana surat dari Kabareskrim No. B/260/OPS/I/2012 Bareskrim, tanggal 19 Januari 2012," jelasnya. Dilanjutkannya, khusus di Provinsi Babel, LPJK versi UU saat ini sudah mempersiapkan perangkat hukum untuk menindaklanjuti putusan PTUN apabila LPJK Babel versi Kementerian PU dan asosiasi dibawahnya, masih menggunakan nama dan logo LPJK versi UU yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, terhitung sejak tanggal putusan PTUN ditetapkan. Terpisah Ketua LPJK Provinsi Babel versi UU, Agung Setiawan ditemui harian ini, Rabu (19/9) mengatakan pada prinsipnya yang dipentingkan dalam masalah ini adalah nama dan logo LPJK berdasarkan versi UU. "Untuk itu saya masih menunggu apa yang menjadi keputusan di LPJKN pusat, yang akan disampaikan kepada LPJK Provinsi," kata Agung. Sementara itu Ketua LPJK Provinsi Babel versi Kementerian PU, Bel Menara Olo Malau dikonfirmasi via handphone mengaku sudah mengetahui permasalahan tersebut. "Kami LPJK Provinsi Babel hanya ikut instruksi LPJKN, kemudian kami laksanakan dengan sebaik-baiknya," kata Bel singkat. http://bangka.tribunnews.com/2012/09/19/persoalan-lpjk-kembali-mengemuka

Hakmi Desak SBY Tuntaskan Dualisme LPJK

JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) didesak segera mengambil keputusan tepat pasca-penolakan gugatan Lembaga Pengawas Jasa Konstruksi (LPJK) bentukan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, terkait pemakaian nama dan logo LPJK. Sebab penolakan pemakaian nama dan logo LPJK mengakibatkan adanya ketidakpastian hukum mengenai sertifikasi badan usaha (SBU) dalam mengikuti tender di instansi pemerintah yang sudah meresahkan pengusahan jasa konstruksi. Himpunan Kontraktor Muda Indonesia (Hakmi), menegaskan masalah ini jangan dibiarkan berlarut dan seyogyanya Presiden SBY tidak lagi menyerahkan kebijakan pengaturannya kepada Menteri PU. Mengingat lelang jasa konstruksi tidak hanya di Departemen PU tetapi hampir di Kementrian. "Sehingga Presiden SBY lah yang harus mengambil alih penyelesaian dualisme LPJK dan membuat keputusan yang benar sesuai amanat Undang-Undang Jasa Konstruksi," kata Ketua Umum Hakmi, Ikbal Basir Khan, dalam siaran persnya, Senin, (13/8). Persoalan yang terjadi, menurut Ikbal adalah, SBU dan sertifikat tenaga ahli menjadi persyaratan wajib dalam pelelangan, sehingga jika sertifikat itu cacat hukum bisa mengakibatkan tidak sah atau batalnya proses pelelangan. Nah masalahnya, sebahagian proyek APBN/APBD telah selesai dilelang, bahkan banyak proyek yang sudah selesai dikerjakan 100 persen, dan dalam proses lelangnya itu menggunakan sertifikat yang diterbitkan oleh LPJK versi Menteri PU. "Kami khawatirkan kontraktor lagi-lagi yang menanggung beban kerugian apabila ada persoalan hukum yang timbul di kemudian hari," kesal Ikbal. Sebagaimana diketahui, menteri PU telah membentuk LPJKN yang beralamat di Gedung Balai Krida, Jalan Pattimura, Jakarta Selatan. LPJK ini diberikan kewenangan menerbitkan SBU dan SKA dengan tidak lagi mengakui Keberadaan LPJK sebelumnya yang telah tiga periode telah melaksanakan Munas yang belalamat di Jalan Alteleri, Pondok Indah, Jakarta Selatan. Kemudian setelah kisruh berkepanjangan terbitlah putusan PTUN Nomor W2- TUN-1862/HK.06/VIII/2012, tertanggal 2 Agustus 2012, yang intinya LPJIK bentukan Menteri PU tidak berhak lagi menggunakan nama dan logo LPJK hingga segala sesuatu yang diterbitkan oleh lembaga ini menggunakan logo LPJK versi Munas yang diketuai Rendy Lamadjido.(Fat/jpnn) http://www.jpnn.com/read/2012/08/13/136740/Hakmi-Desak-SBY-Tuntaskan-Dualisme-LPJK-

LPJK Sesuai UU Seharusnya Hanya Satu


Jakarta (ANTARA) - Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) sesuai amanat Undang-Undang No. 18 tahun 1999 tentang jasa konstruksi seharusnya hanya satu untuk memberi layanan kepada badan usaha yang bergerak di sektor konstruksi. "Sehingga kita tidak mengerti pertimbangan apa yang dipakai kalau Kementerian Pekerjaan Umum kemudian membuat institusi yang sama," kata Sekretaris Umum LPJK Nasional Poltak Situmorang di Jakarta, Sabtu. Menurut dia, kebijakan membentuk LPJK baru itu hanya akan menimbulkan kebingungan dikalangan pelaku di sektor konstruksi karena untuk melakukan akreditasi sesuai undang-undang seharusnya hanya dilaksanakan satu lembaga saja. Dia juga menepis tudingan yang menyebutkan pengurus LPJK (lama) terlalu komersial dengan memungut iuran terlalu tinggi, justru yang terjadi tidak ada sama sekali aliran dana kepada pengurus. Seluruh iuran sudah disepakati bersama tertuang dalam peraturan lembaga sehingga nilainya standar dan itu dipergunakan untuk keperluan operasional seperti biaya pegawai, pemeliharaan gedung, dan sebagainya. Poltak mengatakan, undang-undang secara jelas menyebutkan LPJK merupakan institusi mandiri (independen) sehingga untuk menjaga kelangsungannya tetap harus ada iuran anggota, tetapi nilainya dijamin sangat terjangkau. "Sehingga kalau ada LPJK baru, kemudian operasinya dibiayai APBN jelas itu menyalahi undang-undang karena berarti sudah tidak independen lagi," kata Poltak. Direktur II LPJK Djoko Suseno mengatakan, kalau melihat keputusan final Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) maka keberadaan LPJK yang berkedudukan di Graha LPJK Nasional Pondok Indah merupakan lembaga yang sah secara hukum. Seperti diketahui Menteri Hukum dan HAM sebelumnya digugat LPJK (Kementerian PU) di PTUN menyangkut dua hal: pertama mengenai perubahan alamat merek LPJK dan kedua mengenai pendaftaran ciptaan logo LPJK. PTUN, kata Djoko, menerima eksepsi (pembelaan) kami diantaranya PTUN tidak memiliki wewenang mengadili pendaftaran cipta logo, serta PTUN juga tidak memiliki kewenangan mengadili soal pendaftaran, jelas Djoko. Sedangkan Ketua bidang Perusahaan LPJK, Bachtiar Ravenala Ujung mengatakan, dengan keputusan itu berarti pengadilan hanya mengakui LPJK Pondok Indah, sehingga kalau ada sertifikat badan usaha yang diterbitkan di luar lembaga kami berarti palsu. Dia mengatakan, bagi badan usaha konstruksi yang masih memegang sertifikat palsu LPJK memberi kesempatan untuk mengurusnya agar dapat dipergunakan dalam melakukan tender. Namun bagi mereka yang tidak mengurus sertifikat LPJK akan melaporkan kepada polisi sebagai sertifikat palsu. Untuk mengurusnya sangat mudah mengingat sebagian besar badan usaha masih terdaftar di database kami, tinggal kita cocokan syarat-syaratnya saja. 9

Beberapa badan usaha sejak didirikannya LPJK (Kementerian PU) terlanjur pindah menggunakan sertifikat mereka biasanya karena selama ini syarat-syaratnya tidak lengkap misalnya tenaga ahli yang dimiliki apakah sudah lolos uji dari assessor yang sudah diakui, ujarnya. Bachtiar mengatakan, LPJK saat ini sudah menerima 170 ribu sertifikat badan usaha, dari sebanyak 199 ribu yang pernah diterbitkan. "Bagi kita yang penting mereka tidak akan dikorbankan, asalkan mereka mendaftarkan sertifikatnya," ujar dia menegaskan. Bachtiar juga mengatakan, LPJK awalnya memiliki 64 asosiasi konstruksi yang menginduk kepadanya, namun dengan adanya LPJK baru tersebut sebagian beralih ke lembaga tersebut, saat ini yang menginduk ada 32 asosiasi. LPJK saat ini memiliki 400 assessor dan 1.200 tenaga ahli, 64 asosiasi, serta 10.000 anggota asosiasi yang di dalamnya terdapat tenaga ahli dan terampil, jelas dia. Keberadaan LPJK sangat penting apabila ada proyek konstruksi yang mengalami kegagalan maka kami dapat menyiapkan bukti kesalahan sebelum ditangani kepolisian atau KPK kalau terbukti terjadi pelanggaran hukum, jelas Bachtiar. Keberadaan LPJK memang harus mandiri, karena terkait juga dengan pengawas dalam hal ini pengguna anggaran (pemerintah) seperti bangunan sekolah kalau rubuh sebelum waktunya tentu harus ada pihak yang bertanggungjawab disinilah fungsi kita, sanksi dari LPJK berupa pencabutan sertifikat, serta menginstruksikan kepada asosiasi untuk membina kembali anggotanya. Anggaran pemerintah (APBN dan APBD) untuk konstruksi tahun 2012 nilainya mencapai Rp187 triliun, sehingga membutuhkan sistem pengawasan dan perencanaan yang baik untuk menghasilkan bangunan berkualitas, sehingga menjadi kewajiban kami melaksanakan pembinaan, kata Bachtiar. (tp) http://id.berita.yahoo.com/lpjk-sesuai-uu-seharusnya-hanya-satu-034005752--finance.html

10

CARUT MARUT DAN DUALISME LPJKN YANG TAK KUNJUNG USAI: Dunia Konstruksi Indonesia Dibuat Ruwet Lembaga Pembuat Regulasi, Pemerintah Tidak Mau Turun Tangan
Gajah bertarung melawan gajah, landak mati ditengah-tengah, mungkin itulah peribahasa yang bisa menggambarkan kondisi dunia konstruksi di Indonesia sekarang ini. LPJKN sebagai lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mengemban amanat membina, mengembangkan, serta membuat regulasi di dunia konstruksi mengalami dualisme yang tak kunjung habis. Perseteruan ini dimulai dengan adanya peraturan pemerintah ( Menteri PU ) untuk merombak LPJKN menjadi lembaga yang lebih kredibel, merombak susunan pengurus dengan mengambil unsur-unsur Pemerintah, Asosiasi dan Profesional. Akan tetapi, setelah Proses rekrutmen selesai, dan terpilih pengurus baru, pengurus lama berontak karena mayoritas tidak masuk dalam kepengurusan yang baru. Repotnya, para pengurus lama ini mengantongi Hak Cipta dari merek, Logo, Sistem Informasi, SIMJAKON dan SIMOLI. Mereka kemudian mengeluarkan pengumuman, maklumat, serta ancaman agar LPJK baru produk pemerintah agar tidak serta merta mengakuisisi produk mereka. Dengan adanya maklumat dan pengumuman tersebut otomatis database badan usaha, tenaga ahli, tenaga trampil dan lain-lain yang sudah tersimpan di LPJK lama ( LPJK Arteri ) tidak bisa diadopsi ataupun diambil oleh LPJK Baru ( LPJK Pemerintah / Iskandarsyah ). Penulis Juga sempat mengecek data di situs LPJK Baru yang dibuat hampir sama dengan yang Lama, yaitu www.lpjk.net ( yang lama www.lpjk.org), sebagian data perusahaan memang sudah masuk, tetapi banyak yang tidak lengkap, mulai kualifikasi, pengalaman, dll banyak yang kosong. Nah kalau dipaksakan pengurusan sertifikasi Asosiasi, Badan usaha, tenaga ahli, tenaga terampil, dll mau dibuat berdasarkan data apa? betapa repot dan ribetnya kalau dari asosiasi, Badan usaha, dll harus memasukkan kembali data-data tersebut ke database LPJK yang baru. Belum lagi keruwetan apabila nantinya LPJK Lama juga mengeluarkan Sertifikat Badan Usaha, dll, pada proses tender / lelang pekerjaan tentu akan terjadi beda tafsir yang dapat menimbulkan kericuhan. Menurut pendapat penulis, sekaranglah waktunya pemerintah dalam hal ini menteri PU agar segera mengambil sikap untuk mengakhiri konflik ini, kapan dunia konstruksi bisa maju kalau dari pembuat regulasinya saja terjadi dualisme. Dalam hal ini penulis yang juga sebagai pelaku di dunia konstruksi amat sangat dibingungkan dengan hal ini, bagaimana tidak, sertifikat sudah hampir kadaluarsa dan harus segera diregistrasi, lembaga yang meregistrasi masih ribut dan belum jelas, padahal tender/lelang pekerjaan sudah didepan mata.. http://cv-bimasakti.blogspot.com/2012/02/carut-marut-dan-dualisme-lpjkn-yang-tak.html

11

Ratusan Tender Proyek Terancam Batal

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Ratusan proyek APBN dan APBD di Bangka Belitung terancam batal. Proyek tersebut sudah melalui proses tender dan sudah tanda tangan kontrak antara pemerintah dengan kontraktor. Hal ini diungkapkan Haidar Hamin, Ketua Umum Gabpeknas Babel yang juga Ketua Umum Forum Lintas Asosiasi Jasa Konstruksi (FLAJK) Babel kepada bangkapos.com melalui siaran pers yang disampaikan via email, Sabtu (11/8/2012). Haidar menjelaskan, proyek tersebut terancam batal menyusul putusan PTUN Jakarta dalam perkara No. 55/G/2012/PTUN-JKT perihal menolak gugatan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN) versi Kementerian PU. Dan LPJKN versi UU/ADRT sebagai tergugat intervensi memenangkan gugatan atas penggunaan nama LPJK, hak paten dan logo LPJK, menyusul keputusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta 2 Agustus lalu. "PTUN menolak gugatan LPJK versi Kementerian PU atas Kemenkumham selaku pihak tergugat dan LPJK versi UU/ADRT selaku tergugat intervensi. Dengan adanya putusan ini, berarti LPJK versi Kementerian PU atau LPJK Daerah yang dikukuhkan gubernur, walikota/bupati, atau Asosiasi Jasa Konstruksi tidak diperkenankan lagi memakai logo dan nama LPJK," tegas Haidar yang juga menjabat anggota Komite Tetap Jasa Konstruksi Kadin Babel. Haidar menampik pernyataan Ketua LPJKD Babel versi Kementerian PU, Bel Menara Olo Malau bahwa gugatan yang diajukan ke PTUN itu salah alamat. Sebab, kata Haidar tidak ada satu klausul pun dalam amar putusan majelis hakim PTUN Jakarta tersebut yang menyatakan salah alamat. "Pertimbangan hukum yang dibacakan majelis hakim atas eksepsi LPJKN versi UU/ADRT yang dikabul majelis adalah bahwa logo hak paten LPJK yang semula beralamat di Jalan Iskandarsyah Raya No. 35 Kebayoran Baru Jakarta Selatan, adalah sah milik LPJK yang didirikan berdasarkan UU No. 18 dan AD/RT melalui ketetapan munas, juknis dan juklak AD/ART mencantumkan nama logo dan hak paten, serta kewenangan lembaga," jelas Haidar. Oleh karena itu lanjut Haidar, PTUN tidak punya kewenangan untuk mengadili objek sengketa dan harus menolak gugatan LPJK Kementerian PU selaku penggugat atas perkara ini. Pasalnya, nama LPJK, hak paten dan logo adalah sah milik LPJKN versi UU/ADRT, yang sekarang pindah alamat di Graha LPJK Nasional, Jalan Arteri Pondok Indah No. 82 Jakarta Selatan. "Untuk menghindari gugatan pidana pemalsuan logo dan nama LPJK, LPJKN Graha Arteri akan melakukan gerakan nasional melalui LPJK daerah se-Indonesia akan membuat somasi atas putusan PTUN, kalau ada yang masih memakai logo dan nama LPJK," tandasnya.

12

Haidar mengatakan, mengenai proses tender yang sudah ada tandatangan kontrak dengan kontraktor yang masih menggunakan SBU (sertifikat badan usaha) dengan logo dan nama LPJK, berdasarkan keputusan PTUN tersebut batal demi hukum, dan harus dilakukan tender ulang atau dibuat kontrak baru. "Jika diteruskan itu melanggar hukum," tegas Haidar. Terpisah Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Kepulauan Babel, Anshori mengatakan pernyataan Haidar Hamim itu hanya klaim sepihak darinya. Dinas PU sendiri memiliki mekanisme dan aturan sendiri mengenai masalah tender proyek ini sehingga tidak bisa dibatalkan begitu saja. "Kita belum dapat surat apa-apa dari Kementerian PU pusat soal masalah ini. Nanti akan saya tanyakan ke pusat. Saya kira ini hanya klaim sepihak dari Haidar saja, kita ini memiliki mekanisme dan aturan tidak bisa dibatalkan begitu saja seperti itu," tegas Anshori dikonfirmiasi via handphone. Menurutnya, persoalan perseteruan dua kubu LPJKN ini belum selesai di tingkat pusat sehingga masih menunggu keputusan dari pusat. "Kita kembalikan saja ke pusat persoalan ini, sebab dinas PU ini kan bukan hanya ada di Provinsi Babel, tapi di seluruh Indonesia. Jadi persoalan ini belum selesai," kata Anshori. Sementara Ketua LPJKD Provinsi Babel versi Kementerian PU, Bel Menara Olo Malau dikonfirmasi terpisah menegaskan Haidar Hamim tidak mengerti soal hukum. "Nanti saya akan jawab secara tertulis menanggapi pernyataan Haidar ini ke email bapak ya," kata Bel yang mengaku sedang berolahraga, Minggu (12/8/2012).

http://bangka.tribunnews.com/2012/08/12/ratusan-tender-proyek-terancam-batal

13

Sertifikat Diregistrasi LPJK Non Pemerintah Tidak Sah


MEDAN (Waspada): Pemerintah Provinsi Sumatera Utara selaku pembina jasa konstruksi di Sumut menegaskan, sertifikat yang diregistrasi Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Nasional dan LPJK Daerah versi non pemerintah maupun perpanjangannya, tidak sah digunakan untuk mengikuti tender di seluruh instansi pemerintah di Sumut. Dengan demikian, sertifikat badan usaha (SBU), sertifikat keahlian (SKA) dan sertifikat keterampilan (SKT) yang sah digunakan sebagai persyaratan mengikuti tender adalah yang diregistrasi LPJK versi pemerintah. Hal tersebut ditegaskan Kepala Biro Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Sumut (Setdaprovsu) Ibnu Sri Hutomo kepada wartawan di Medan, Kamis (16/2), menanggapi dualisme kepemimpinan LPJKD Sumut saat ini. LPJKD versi pemerintah dipimpin Ketua Umum Murniati Pasaribu untuk periode 20122016. Sedangkan non pemerintah atau versi AD/ART dipimpin Edi Usman periode 20082012. Edi Usman menggantikan posisi Murniati yang dicopot Dewan Pengurus LPJK Nasional versi AD/ART tanggal 14 Februari 2012. Namun, kata Ibnu, sertifikat yang pernah diregistrasi LPJK versi AD/ART dan yang belum habis masa berlakunya, masih bisa digunakan sebagai syarat mengikuti tender. Namun sejak dikukuhkannya Dewan Pengurus LPJKD Sumut versi pemerintah oleh Plt Gubsu melalui Sekdaprovsu pada 3 Februari 2012, otomatis produk sertifikat yang baru dan perpanjangan yang diregistrasi LPJKD versi AD/ART, tidak berlaku lagi. Singkatnya, sejak dikukuhkannya Dewan Pengurus LPJKD Sumut versi pemerintah, maka LPJKD versi AD/ART tidak dibolehkan lagi meregistrasi sertifikat. Jika ini dilanggar, maka tidak berlaku karena tidak akan diakui pemerintah dalam hal persyaratan mengikuti tender. Semuanya menjadi wewenang LPJKD versi pemerintah dan itulah yang sah, katanya. Pernyataan Ibnu tersebut sekaligus menegaskan bahwa LPJKD yang sah saat ini adalah yang baru saja dikukuhkan. Disinggung bagaimana dengan keberadaan LPJKD Sumut versi AD/ART, Ibnu mengatakan, hanya versi pemerintah yang sah. Sebab, mekanismenya ada yakni PP Nomor 4 tahun 2010 junto PP Nomor 92 tahun 2010, Permen PU Nomor 10/PRT/M/2010 junto Permen PU Nomor 24/PRT/M/2010 tentang tata cara pemilihan pengurus, masa bakti, tugas pokok dan fungsi serta mekanisme kerja LPJK dan ketentuan terkait lainnya. Kemudian dari hasil pelaksanaan atas ketentuan itu, didapatkan calon anggota dewan pengurus LPJKD Sumut periode 20122016 dan mengikuti fit and proper test. Setelah itu, Menteri Pekerjaan Umum menetapkan 7 orang sebagai dewan pengurus dan Plt Gubsu mengeluarkan keputusan pengukuhan Nomor 188.44/95/KPTS/2012. Begitu pun, Ibnu mengaku tidak khawatir terhadap dualisme LPJKD. Alasannya, lebih 90 persen badan usaha berikut tenaga ahli dan terampil ada di asosiasi jasa konstruksi dan jasa konsultansi yang berhimpun di bawah naungan LPJKD Sumut versi pemerintah. 14

Bagaimana tindakan jika LPJKD versi AD/ART terus beroperasi di Sumut, menurut Ibnu, pihaknya akan berkoordinasi dengan pembina jasa konstruksi Sumut, yakni Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho. Di pusat juga masih terjadi dualisme dan menjalar ke daerah seperti di Sumut. Kami akan koordinasikan kepada Pak Gubernur, beliau yang punya wewenang di daerah, ujarnya.(m28) http://www.waspadamedan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=17424&catid=51&I temid=206

15

SUMMARY

LPJK merupakan lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mengemban amanat membina, mengembangkan, serta membuat regulasi di dunia konstruksi. Selain itu, LPJK juga bertugas antara lain menerbitkan sertifikat badan usaha (SBU), sertifikat keahlian (SKA) maupun sertifikat keterampilan (SKTK), selain tugas di bidang pendidikan latihan dan penelitian pengembangan jasa konstruksi. Saat ini, di Indonesia terdapat dualisme kepengurusan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK), yaitu LPJK versi Undang-undang dan LPJK versi Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Kementerian Pekerjaan Umum adalah institusi pemerintah yang merupakan Pembina Jasa Konstruksi dan telah diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 30 Tahun 2000. Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) juga adalah lembaga resmi yang merupakan perwujudan dari Undang-Undang (UU) Nomor 9 Tahun 1999. Namun, pada tataran kebijakan, ada beberapa hal yang bentrok satu sama lain yang ujung-ujungnya membingungkan masyarakat jasa konstruksi itu sendiri. Perseteruan ini dimulai dengan adanya peraturan pemerintah (Menteri PU) untuk merombak LPJKN menjadi lembaga yang lebih kredibel, merombak susunan pengurus dengan mengambil unsur-unsur Pemerintah, Asosiasi dan Profesional. Akan tetapi, setelah proses rekrutmen selesai, dan terpilih pengurus baru, pengurus lama berontak karena mayoritas tidak masuk dalam kepengurusan yang baru. Repotnya, para pengurus lama ini mengantongi Hak Cipta dari merek, Logo, Sistem Informasi, SIMJAKON dan SIMOLI. Mereka kemudian mengeluarkan pengumuman, maklumat, serta ancaman agar LPJK baru produk pemerintah agar tidak serta merta mengakuisisi produk mereka. Dengan adanya maklumat dan pengumuman tersebut otomatis database badan usaha, tenaga ahli, tenaga trampil dan lain-lain yang sudah tersimpan di LPJK lama (LPJK Arteri) tidak bisa diadopsi ataupun diambil oleh LPJK Baru (LPJK Pemerintah / Iskandarsyah). Penulis Juga sempat mengecek data di situs LPJK Baru yang dibuat hampir sama dengan yang Lama, yaitu www.lpjk.net (yang lama www.lpjk.org), sebagian data perusahaan memang sudah masuk, tetapi banyak yang tidak lengkap, mulai kualifikasi, pengalaman, dll banyak yang kosong. Menurut beberapa pihak, keputusan Menteri PU untuk membuat LPJK merupakan suatu pelanggaran terhadap Undang-Undang No.18 tahun 2009 yang menyebutkan bahwa sertifikasi kontraktor dan pengelolaan LPJK sepenuhnya ditangani masyarakat. Pelanggaran ini membuat sertifikasi tender, lelang dan pengawasan berada dalam satu tangan, yaitu pemerintah. Sama seperti apa yang terjadi di jaman Orde Baru. Dampak yang ditimbulkan dari dualisme LPJK ini sangat luas. Hal ini akan menimbulkan ketegangan nantinya. Karena masing-masing LPJK berhak mengeluarkan atau menerbitkan sertifikat badan usaha (SBU). Dan masing-masing LPJK mengklaim bahwa merekalah yang sah. Adanya dualisme LPJK ini juga menimbulkan kerancuan dan cacat produk hukum di bidang jasa konstruksi. Hal ini membuat resah masyarakat jasa konstruksi dan asosiasi jasa konstruksi karena

16

ketidakpastian hukum mengenai sertifikasi badan usaha (SBU) dalam mengikuti tender di instansi pemerintah. Anggotanya sulit untuk mengikuti LPJK yang mana. Dalam penerbitan SBU, SKA dan SKTK diperlukan sistem operasi yang baik, layak uji serta melewati sertifikasi manajemen mutu yang selama ini dimiliki LPJK versi Munas dan Musda. Setiap SBU, SKA dan SKTK memiliki nomor registrasi unik dan dikeluarkan secara online, bukan manual. Fasilitas ini tidak dimiliki oleh LPJK versi Kementerian PU dan akan menjadi sumber permasalahan di kemudian hari. Padahal, berdasarkan Surat Edaran Menteri PU dan aturan pendukungnya, bahwa SBU, SKA dan SKTK yang habis masa berlaku setelah 31 September 2011 harus menggunakan SBU, SKA dan SKTK yang diterbitkan LPJK versi PU. SBU dan sertifikat tenaga ahli menjadi persyaratan wajib dalam pelelangan, sehingga jika sertifikat itu cacat hukum bisa mengakibatkan tidak sah atau batalnya proses pelelangan. Permasalahan yang timbul akibat hal ini, sebagian proyek APBN/APBD telah selesai dilelang, bahkan banyak proyek yang sudah selesai dikerjakan 100 persen, dan dalam proses lelangnya itu menggunakan sertifikat yang diterbitkan oleh LPJK versi Menteri PU. Kekisruhan juga disebabkan karena adanya peraturan yang keluar dari LPJK versi mentri PU. Dimana dalam peraturan itu hanya memperoleh perusahaan kontraktor yang bernaung di bawah gapensi dan apeksindo saja yang dapat mengikuti tender proyek. Hal ini bertentangan dengan Peraturan Menteri PU No.10/PRT/M/2010 tentang cara pemilihan pengurus, masa bhakti, tupoksi serta mekanisme kerja lembaga ini. Kemudian setelah kisruh berkepanjangan terbitlah putusan PTUN Nomor W2- TUN-1862/HK.06/VIII/2012, tertanggal 2 Agustus 2012, yang intinya LPJIK bentukan Menteri PU tidak berhak lagi menggunakan nama dan logo LPJK hingga segala sesuatu yang diterbitkan oleh lembaga ini menggunakan logo LPJK versi Munas yang diketuai Rendy Lamadjido. Sesuai amanat Undang-Undang No. 18 tahun 1999 tentang jasa konstruksi, Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) seharusnya hanya satu untuk memberi layanan kepada badan usaha yang bergerak di sektor konstruksi.

17

SUMBER
http://cetak.bangkapos.com/metronews/read/47804/Kontraktor+Resah+Ada+Dualisme+LPJK-D.html http://www.siwalimanews.com/post/murdianto_lpjk_maluku_versi_menteri_pu_ilegal http://beritadaerah.com/berita/kalimantan/52772 http://www.pelita.or.id/baca.php?id=13514 http://bangka.tribunnews.com/2012/06/06/dualisme-lpjk-babel-makan-korban http://bangka.tribunnews.com/2012/09/19/persoalan-lpjk-kembali-mengemuka http://www.jpnn.com/read/2012/08/13/136740/Hakmi-Desak-SBY-Tuntaskan-Dualisme-LPJKhttp://id.berita.yahoo.com/lpjk-sesuai-uu-seharusnya-hanya-satu-034005752--finance.html http://cv-bimasakti.blogspot.com/2012/02/carut-marut-dan-dualisme-lpjkn-yang-tak.html http://bangka.tribunnews.com/2012/08/12/ratusan-tender-proyek-terancam-batal http://www.waspadamedan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=17424&catid=51&I temid=206

18

SI-4251 Ekonomi Teknik

Tugas 2
Dosen : Dr. Ir. Muhammad Abduh, MT

Oleh : Sofia Fadillah (15010077)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG BANDUNG 2013