Anda di halaman 1dari 43

STANDAR

PT PLN (PERSERO)

SPLN D3.002-1: 2007

Lampiran Surat Keputusan Direksi PT PLN (PERSERO) No. 161.K/DIR/2007

Spesifikasi Transformator Distribusi

Bagian 1:

Transformator Fase Tiga, 20 kV-400 V dan Transformator Fase Tunggal, 20 kV-231 V dan 20/3 kV-231 V

Fase Tunggal, 20 kV-231 V dan 20/ √ 3 kV-231 V PT PLN (PERSERO ) JALAN

PT PLN (PERSERO)

JALAN TRUNOJOYO BLOK M-I/135 KEBAYORAN BARU JAKARTA SELATAN 12160

Spesifikasi Transformator Distribusi Bagian 1:

Transformator Fase Tiga, 20 kV-400 V dan Transformator Fase Tunggal, 20 kV-231 V dan 20/3 kV-231 V

Disusun oleh :

Kelompok Bidang Distribusi dengan Surat Keputusan Direksi PT PLN(Persero)

No.094.K/DIR/2006

Kelompok Kerja Transformator Distribusi dengan Surat Keputusan General Manager PT PLN (Persero) Penelitian dan Pengembangan Ketenagalistrikan No. 042.K/LITBANG/2006

Diterbitkan oleh :

PT PLN (PERSERO) Jalan Trunojoyo Blok M-I /135, Kebayoran Baru Jakarta Selatan

Susunan Kelompok Bidang Distribusi Standardisasi

Surat Keputusan Direksi PT PLN (Persero) : No. 094.K/DIR/2006

1. Ir. Widyastomo Sarli

:

Sebagai Ketua merangkap Anggota

2. Ir. Suwarno

:

Sebagai Sekretaris merangkap Anggota

3. Ir. Raharjo

:

Sebagai Wakil Sekretaris merangkap Anggota

4. Ir. Hilwin Manan

:

Sebagai Angota

5. Ir. Nyoman Ardana

:

Sebagai Angota

6. Ir. Arif Nur Hidayat

:

Sebagai Angota

7. Ir. Amir Rosidin

:

Sebagai Angota

8. Ir. Rudy Trijanto

:

Sebagai Angota

9. Ir. Adi Subagio

: Sebagai Angota

10. Ir. Sulastyo

: Sebagai Angota

11. Ir. Satri Falanu

: Sebagai Angota

12. Ir. Wahjudi SN

: Sebagai Angota

13. Ir. Ratno Wibowo

:

Sebagai Angota

14. Ir. Rutman Silaen

:

Sebagai Angota

Susunan Kelompok Kerja Spesifikasi Transformator Distribusi Bagian 1:

Transformator Fase Tiga, 20 kV - 400 V dan Transformator Fase Tunggal, 20 kV - 231 V dan 20/3 kV - 231 V

Surat Keputusan General Manager PT PLN (Persero) Penelitian dan Pengembangan Ketenagalistrikan No. : 042.K/LITBANG/2006

1. Ir. Nyoman Ardana

:

Sebagai Ketua merangkap Anggota

2. Satyagraha A. Kadir, ST

:

Sebagai Sekretaris merangkap Anggota

3. Ir. Hernadi Buhron

:

Sebagai Anggota

4. Ir. Achmad Riandhie

:

Sebagai Anggota

5. Ir. M. Tabrani Machmudsyah

: Sebagai Anggota

6. Ir. Sri Budi Santoso

:

Sebagai Anggota

7. Ir. Didik Djarwanto, MT

:

Sebagai Anggota

SPLN D3.002-1: 2007

Daftar Isi

Susunan Kelompok Bidang Distribusi

ii

Susunan Kelompok Kerja

ii

Prakata

v

Daftar

Isi

i

Daftar Gambar

iii

Daftar

Tabel

iv

1 Ruang Lingkup

1

2 Tujuan

1

3 Acuan Normatif

1

4 Istilah dan Definisi

2

5 Kondisi Pelayanan

7

6 Karakteristik

8

6.1 Tegangan primer

8

6.2 Tegangan sekunder

8

6.3 Tegangan sadapan

8

6.4 Daya pengenal

9

6.5 Frekuensi

9

6.6 Rugi-rugi

9

6.7 Tegangan

10

6.8 Kelompok vektor dan polarisasi

10

6.9 Tingkat isolasi

10

6.10 Kelas suhu isolasi dan kenaikan suhu

11

6.11 Tingkat bising

11

 

7 Konstruksi

11

7.1 Umum

11

7.2 Inti besi

12

7.3 Belitan

12

7.4 Penyambungan belitan

13

7.5 Minyak isolasi

14

7.6 Tangki dan radiator

14

i

SPLN D3.002-1: 2007

8 Alat Lengkapan

9

8.1

8.2

8.3 Konektor busing

8.4 Pipa pengisi minyak

8.5 Indikator tinggi minyak

8.6 Pengaman tekanan lebih

8.7 Pengubah sadapan

8.8 Kantong termometer

8.9 Terminal pembumian

8.10 Lubang penguras minyak

8.11 Kuping pengangkat

8.12 Penggantung (hanger)

8.13

Penandaan

9.1 Pelat nama

9.2 terminal

Busing primer Busing sekunder

Roda

Penandaan

9.3 Penandaan daya pengenal

10 Pemeriksaan dan Pengujian

10.1

10.2

10.3

10.4

10.5

Pengujian jenis Pengujian rutin Pengujian serah-terima Pengujian lapangan Pengujian khusus

LAMPIRAN A

LAMPIRAN B

ii

15

15

16

17

17

17

18

18

18

18

18

19

19

22

22

22

22

24

24

25

25

25

27

27

29

31

SPLN D3.002-1: 2007

Daftar Gambar

Gambar 1. Konektor bantu

17

Gambar 2. Konstruksi penggantung transformator bentuk tangki persegi-empat

20

Gambar 3. Konstruksi penggantung transformator fase tunggal bentuk tangki silindris

21

Gambar 4. Urutan penandaan terminal transformator fase tiga

23

Gambar 5. Penandaan terminal transformator fase tunggal

23

Gambar 6. Penandaan daya pengenal

24

iii

SPLN D3.002-1: 2007

Daftar Tabel

Tabel 1. Tegangan sadapan

8

Tabel 2.

Rugi-rugi transformator fase tunggal

9

Tabel 3.

Rugi-rugi transformator fase tiga

9

Tabel 4.

Tingkat bising maksimum

11

Tabel 5. Daftar lengkapan

16

Tabel 6. Macam pengujian

28

iv

SPLN D3.002-1: 2007

Prakata

SPLN D3.002-1 : 2007 merupakan revisi dari SPLN 50 : 1997 ; Spesifikasi Transformator Distribusi.

Perubahan spesifikasi ditekankan pada :

1. Rugi-rugi transformator (rugi besi dan rugi belitan), mengingat semakin mahalnya biaya pokok penyediaan energi listrik.

2. Sistem preservasi minyak, ditetapkan pada hermetically-sealed fully filled untuk dapat menekan biaya pemeliharaan.

3. Pengaturan pada aspek konstruksi inti besi dan belitan, berdasarkan data kerusakan transformator pada pengoperasian dan pengujian.

Dengan ditetapkannya SPLN D3.002-1 : 2007, maka spesifikasi transformator distribusi pada SPLN 50 : 1997 dinyatakan tidak berlaku lagi kecuali untuk transformator dengan kelompok vektor YNd5.

v

SPLN D3.002-1: 2007

Spesifikasi Transformator Distribusi Bagian 1:

Transformator Fase Tiga, 20 kV - 400 V dan Transformator Fase Tunggal, 20 kV - 231 V dan 20/3 kV - 231 V

1 Ruang Lingkup

Standar ini menetapkan persyaratan transformator distribusi dengan metoda pendinginan ONAN ; daya pengenal s/d 2500 kVA ; tegangan pengenal :

- transformator fase tiga

:

20 kV – 400V

- transformator fase tunggal

:

20 kV – 231 V dan 20/3 kV – 231 V

yang dipergunakan di lingkungan PT PLN (Persero).

Dikecualikan dari standar ini, transformator distribusi sebagai berikut:

- Transformator penaik tegangan untuk pembangkit skala kecil (kelompok vektor YNd5).

- Transformator fase tunggal dengan pengaman sendiri (DPS/CSP).

2 Tujuan

Sebagai pedoman pengadaan dan pemesanan transformator bagi unit-unit PT PLN (Persero) serta ketentuan desain, pembuatan dan pengujian untuk pabrikan, pemasok dan lembaga penguji.

Dalam penggunaan yang bersifat khusus, PT PLN (Persero) dapat menetapkan spesifikasi lebih lanjut sesuai dengan kebutuhan dan pengalaman.

3 Acuan Normatif

Kecuali disebutkan secara khusus, ketentuan pada standar ini mengikuti revisi terakhir dari standar-standar berikut:

a. SNI 04-6954.1, Transformator tenaga – Bagian 1: Umum;

b. IEC 60076-1 : 2000, Power transformers – Part 1: General;

c. SNI 04-6954.2, Transformator tenaga – Bagian 2: Kenaikan suhu;

d. IEC 60076-2 : 1997, Power transformers – Part 2: Temperature rise;

e. IEC 60076-3 : 2000, Power transformers – Part 3: Insulation levels, dielectric tests and external clearances in air;

1

SPLN D3.002-1: 2007

f. IEC 60076-4 : 2002, Power transformers – Part 4: Guide to lightning impulse and switching impulse testing of power transformers and reactor;

g. IEC 60076-5 : 2006, Power transformers – Part 5: Ability to withstand short-circuit;

h. IEC 60076-7 : 2005, Power transformers – Part 7: Loading guide for oil-immersed power transformers;

i. IEC 60076-8 : 1997, Power transformers – Part 8: Application guide;

j. IEC 60076-10 : 2001, Power transformers – Part 10: Determination of sound levels;

k. IEC 60076-13 : 2006, Power transformers – Part 13: Self-protected liquid-filled transformers;

l. IEC 60296, Fluid for electrotechnical applications – Unused mineral insulating oils for transformers and switchgear;

m. IEC 60137, Insulated bushings for alternating voltages above 1000 V;

n. SPLN 67-2C : 1986, Kondisi spesifik di Indonesia, Bagian dua: Pengendalian dan pengawasan mutu.

4

Istilah dan Definisi

4.1

Transformator dengan metoda pendinginan ONAN

Transformator dengan media pendinginan belitan berupa minyak dengan mekanisme sirkulasi alami dan media pendinginan eksternal berupa udara dengan mekanisme sirkulasi alami.

4.2 Transfomator dengan pengaman sendiri (DPS/CSP - Completely Self Protected)

Transformator distribusi yang dilengkapi dengan sistem pengaman arus lebih yang ditempatkan di dalam tangki transformator berupa pengaman lebur (fuse) pada sisi primer dan pemutus tenaga (circuit breaker) pada sisi sekunder, dan pada sisi primer di luar tangki dilengkapi dengan penangkap petir (lightning arrester).

4.3 Transformator kedap udara (hermetically sealed)

Transformator yang tertutup sedemikian rupa sehingga tidak ada pertukaran antara isinya dengan atmosfer luar. Transformator kedap udara dapat dibedakan menjadi: hermetically- sealed fully filled dan hermetically-sealed inert gas cushion.

2

SPLN D3.002-1: 2007

4.4 Hermetically-sealed fully filled

Transformator kedap udara dengan minyak mengisi penuh seluruh ruang di dalam tangki.

4.5 Hermetically-sealed inert gas cushion

Transformator kedap udara dengan minyak mengisi ruang di dalam tangki sampai ketinggian tertentu (merendam inti besi, belitan dan pengubah sadapan), sedang sisa ruang diatasnya diisi oleh gas tertentu, biasanya N 2 (Nitrogen).

4.6 Belitan primer

Belitan yang menerima daya aktif dari sumber daya.

4.7 Belitan sekunder

Belitan yang menyalurkan daya aktif ke sirkit beban.

4.8 Terminal fase

Terminal yang dimaksud untuk hubungan ke penghantar fase sistem.

4.9 Tegangan pengenal (Ur)

Tegangan yang akan diterapkan, atau yang diperoleh dalam keadaan tanpa beban, antara terminal fase belitan sadapan utama transformator fase tiga atau antara terminal belitan sadapan utama transformator fase tunggal.

4.10 Rasio tegangan pengenal

Rasio dari tegangan pengenal sebuah belitan terhadap tegangan pengenal belitan lainnya.

4.11 Frekuensi pengenal (fr)

Frekuensi dimana transformator didesain untuk beroperasi.

4.12 Daya pengenal (Sr)

Nilai konvensional daya semu (dalam kVA atau MVA), yang dijadikan dasar untuk desain, jaminan pabrikan, pengujian dan yang menentukan nilai arus pengenal pada tegangan pengenal, di dalam kondisi yang ditentukan oleh standar ini.

3

SPLN D3.002-1: 2007

4.13 Arus pengenal (Ir)

Arus yang mengalir melalui terminal fase belitan, diperoleh dari daya pengenal belitan dibagi dengan tegangan pengenal dan faktor fase. Faktor fase transformator fase tiga adalah 3 dan transformator fase tunggal adalah 1.

4.14 Sadapan utama (principal tapping)

Sadapan yang menentukan besaran-besaran pengenalnya.

4.15 Faktor sadapan (berkaitan dengan suatu sadapan)

Rasio pada kondisi tanpa beban antara tegangan terminal suatu belitan sadapan dengan tegangan belitan sadapan utama.

4.16 Langkah sadapan

Perbedaan antara faktor sadapan, dalam persen, dari dua sadapan yang berurutan.

4.17 Julat sadapan

Variasi julat dari faktor sadapan dalam persen dibandingkan dengan nilai 100.

4.18 Rugi tanpa beban (rugi besi)

Daya aktif yang diserap ketika tegangan pengenal pada frekuensi pengenal diberikan pada terminal salah satu belitan, sedangkan belitan lainnya terbuka.

4.19 Arus tanpa beban

Nilai arus (rms) yang mengalir pada terminal fase belitan ketika tegangan pengenal pada frekuensi pengenal diberikan pada belitan tersebut, sedangkan belitan lainnya terbuka.

CATATAN Arus tanpa beban pada transformator fase tiga adalah nilai rata-rata dari ketiga arus fase dan dinyatakan dalam persen terhadap arus pengenal.

4.20 Rugi berbeban (rugi belitan)

Daya aktif yang diserap pada frekuensi pengenal dan suhu acuan ketika arus pengenal mengalir melalui terminal fase salah satu belitan, sedangkan terminal belitan lainnya dihubung-singkat.

CATATAN Nilai rugi berbeban ditetapkan pada suhu acuan 75°C.

4

SPLN D3.002-1: 2007

4.21 Rugi total

Jumlah dari rugi tanpa beban dan rugi berbeban.

4.22 Tegangan impedans

Tegangan pada frekuensi pengenal yang diperlukan untuk diberikan ke terminal belitan, yang menyebabkan mengalirnya arus pengenal melalui terminal ini bilamana terminal lainnya dihubung-singkat.

CATATAN Tegangan impedans dinyatakan dalam persen dari tegangan pengenal belitan yang diberikan tegangan dan nilainya ditetapkan pada suhu acuan 75°C.

4.23 Kenaikan suhu

Selisih antara suhu pada bagian yang diamati dengan suhu udara ambien.

4.24 Tegangan maksimum (Um)

Tegangan efektif tertinggi fase-fase pada sistem fase tiga dimana belitan transformator dirancang sesuai dengan isolasinya.

4.25 Tingkat isolasi pengenal

Nilai ketahanan tegangan standar yang mengkarakterisasi ketahanan dielektrik dari isolasi.

CATATAN

Tingkat isolasi dinyatakan dengan : LI/AC

LI

= tegangan ketahanan impuls petir dari terminal fase dan netral setiap belitan

AC

= tegangan ketahanan frekuensi-daya dari terminal fase dan netral setiap belitan

4.26

Hubungan bintang

Hubungan belitan yang disusun sedemikian rupa sehingga salah satu ujung dari setiap belitan transformator fase tiga, atau salah satu ujung setiap belitan transformator fase tunggal yang bertegangan pengenal sama dalam gugus fase tiga, dihubungkan ke titik bersama (titik netral) dan ujung lainnya adalah terminal fase.

4.27 Hubungan delta

Hubungan belitan yang disusun sedemikian rupa sehingga belitan-belitan fase transformator fase tiga, atau belitan dari tiga unit transformator fase tunggal yang bertegangan pengenal sama dalam gugus fase tiga, dihubung seri membentuk sirkit tertutup.

5

SPLN D3.002-1: 2007

4.28 Hubungan zig-zag

Hubungan belitan yang disusun sedemikian rupa sehingga salah satu ujung dari setiap belitan fase transformator fase tiga, dihubungkan ke titik bersama (titik netral) dan tiap belitan fase terdiri dari dua bagian yang tegangan induksinya berbeda fase. Kedua bagian ini mempunyai jumlah lilitan yang sama.

4.29 Kelompok vektor

Notasi konvensi yang menunjukan hubungan belitan tegangan-tinggi dan tegangan rendah serta pergeseran fase relatif yang digambarkan sebagai jam-lonceng.

4.30 Pengujian jenis

Pengujian secara lengkap terhadap sampel yang mewakili suatu jenis desain transformator yang disiapkan oleh pabrikan untuk membuktikan apakah jenis tersebut memenuhi karakteristik yang ditetapkan dalam standar ini. Pengujian jenis dilakukan sebelum diadakan produksi masal untuk menjaga kemungkinan adanya kesalahan prinsipil sehingga kerugian yang besar dapat dihindarkan.

4.31 Pengujian rutin

Pengujian yang dilakukan oleh pabrikan terhadap seluruh transformator yang diproduksi untuk memisahkan yang cacat atau yang menyimpang dari persyaratan standar.

4.32 Pengujian serah-terima

Pengujian yang dilakukan terhadap sampel yang mewakili sejumlah transformator yang akan diserah-terimakan.

4.33 Pengujian khusus

Pengujian dengan macam pengujian selain mata uji pengujian rutin dan pengujian jenis dan telah disepakati bersama oleh PT PLN (Persero) dan pabrikan dengan kontrak khusus.

4.34 Pengujian lapangan

Pemeriksaan dan pengujian yang dilakukan terhadap transformator sebelum dipasang pada jaringan.

4.35 Transformator pasangan luar

Transformator yang didesain untuk dipasang pada gardu tiang (pole mounted)

6

SPLN D3.002-1: 2007

4.36 Transformator pasangan dalam

Transformator yang didesain untuk dipasang pada gardu bangunan (pad mounted)

4.37 Jaringan distribusi tegangan menengah fase tiga 3 kawat

Jaringan Tegangan Menengah (JTM) 20 kV fase tiga yang terdiri dari tiga hantaran fase tanpa hantaran netral.

4.38 Jaringan distribusi tegangan menengah fase tiga 4 kawat

Jaringan Tegangan Menengah (JTM) 20 kV fase tiga yang terdiri dari tiga hantaran fase dan satu hantaran netral sedang titik netral sistem ini dibumikan dengan cara pembumian langsung pada tiang-tiang sepanjang jaringan.

CATATAN:

Jaringan distribusi tegangan menengah fase tiga 4-kawat merupakan sistem yang digunakan oleh PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.

5 Kondisi Pelayanan

Kondisi pelayanan transformator adalah kondisi normal:

a. Ketinggian.

Ketinggian tidak lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut.

b. Suhu udara ambien.

Suhu udara ambien tidak melebihi 40 °C

Suhu udara acuan untuk desain transformator:

- Suhu rata-rata harian 30 °C

- Suhu rata-rata tahunan 30 °C

c. Bentuk gelombang tegangan suplai.

Bentuk gelombang tegangan suplai mendekati sinusoidal.

d. Simetris dari tegangan pelayanan.

Untuk transformator fase tiga, tegangan suplai mendekati simetris.

7

SPLN D3.002-1: 2007

6

Karakteristik

6.1

Tegangan primer

Tegangan primer adalah tegangan nominal sistem jaringan tegangan menengah 20 kV:

a. Transformator fase tiga

:

20 kV

b. Transformator fase tunggal

- untuk sistem distribusi JTM 3 kawat : 20 kV

- untuk sistem distribusi JTM 4 kawat : 20/3 kV

6.2 Tegangan sekunder

Tegangan sekunder pada keadaan tanpa beban adalah tegangan nominal sistem jaringan tegangan rendah:

a. Transformator fase tiga

:

400 V

b. Transformator fase tunggal

:

231 V*)

CATATAN *) Transformator fase tunggal dikonstruksi dengan dua belitan sekunder.

6.3 Tegangan sadapan

Penyadapan pada belitan primer dengan langkah sadapan 2,5% dibedakan menjadi:

a. : 5 (lima) langkah, julat sadapan ± 2x2,5%

Tipe 1

b. : 7 (tujuh) langkah, julat sadapan + 2x2,5%, - 4x2,5%

Tipe 2

Sadapan No. 3 merupakan sadapan utama.

Nilai-nilai tegangan sadapan tercantum pada tabel 1.

Tabel 1. Tegangan sadapan

No.

 

Sistem JTM 3 kawat

 

Sistem JTM 4 kawat

 
     

Sadapan

Fase tiga dan fase tunggal

 

Fase tiga

 

Fase tunggal

 

Tipe 1

 

Tipe 2

 

Tipe 1

 

Tipe 2

Tipe 1

Tipe 2

1

21

kV

21

kV

21

kV

21

kV

21/3 kV

21/3 kV

2

20,5 kV

20,5 kV

20,5 kV

20,5 kV

20,5/3 kV

20,5/3 kV

3

20

kV

20

kV

20

kV

20

kV

20/3 kV

20/3 kV

4

19,5 kV

19,5 kV

19,5 kV

19,5 kV

19,5/3 kV

19,5/3 kV

5

19

kV

19

kV

19

kV

19

kV

19/3 kV

19/3 kV

6

-

18,5 kV

-

18,5 kV

-

18,5/3 kV

7

-

18

kV

-

18

kV

-

18/3 kV

8

SPLN D3.002-1: 2007

6.4 Daya pengenal

Daya pengenal tercantum pada kolom 1, tabel 2 dan tabel 3.

6.5 Frekuensi

Frekuensi pengenal adalah 50 Hz.

6.6

Rugi-rugi

Rugi tanpa beban (rugi besi) tercantum pada kolom 2, tabel 2 dan tabel 3. Rugi berbeban (rugi belitan) tercantum pada kolom 3, tabel 2 dan tabel 3.

Tabel 2. Rugi-rugi transformator fase tunggal

 

Rugi tanpa

Rugi berbeban

Daya

beban

pada 75°C

kVA

W

W

1

2

3

10

40

185

16

50

265

25

70

370

50

120

585

9

Tabel 3. Rugi-rugi transformator fase tiga

 

Rugi tanpa

Rugi berbeban

Daya

beban

pada 75°C

kVA

W

W

1

2

3

25

75

425

50

125

800

100

210

1420

160

300

2000

200

355

2350

250

420

2750

315

500

3250

400

595

3850

500

700

4550

630

835

5400

800

1000

6850

1000

1100

8550

1250

1400

10600

1600

1680

13550

2000

1990

16900

2500

2350

21000

SPLN D3.002-1: 2007

Batas maksimum dari nilai rugi-rugi pada tabel 2 dan 3 :

Rugi tanpa beban

:

+ 10%

Rugi total

:

+ 5%

6.7 Tegangan impedans.

Nilai tegangan impedans pada sadapan utama dan pada suhu acuan 75°C :

a. Transformator fase tunggal

:

2,5 %

b. Transformator fase tiga

630 kVA

:

4 %

800 kVA

:

4,5 %

1000 kVA

:

5 %

1250 kVA

:

5,5 %

1600 kVA

:

6 %

2000 kVA

:

7%

Toleransi dari tegangan impedans adalah ± 10%

6.8 Kelompok vektor dan polarisasi

Untuk sistem distribusi JTM 3 kawat :

a. Kelompok vektor Yzn5, dipakai untuk transformator 160 kVA;

b. Kelompok vektor Dyn5, dipakai untuk transformator > 160 kVA.

Untuk sistem distribusi JTM 4 kawat kelompok vektor adalah YNyn0.

Polarisasi transformator fase tunggal adalah subtraktif (Ii0).

6.9 Tingkat isolasi

Tingkat isolasi transformator:

Terminal primer

Terminal sekunder

: LI/AC 125/50 kV

: LI/AC

-/3

kV

Tegangan ketahanan impuls petir pengenal:

Terminal primer, fase dan netral

:

125 kV

Tegangan ketahanan frekuensi daya pengenal:

 

Terminal primer, fase dan netral

:

50 kV

Terminal sekunder, fase dan netral

:

3 kV

10

SPLN D3.002-1: 2007

6.10 Kelas suhu isolasi dan kenaikan suhu

Kelas suhu isolasi transformator adalah A (105°C).

Batas maksimum kenaikan suhu:

Suhu minyak atas

:

50 K

Suhu belitan rata-rata

:

55 K

6.11 Tingkat bising

Tingkat bising maksimum pada kondisi tanpa beban, tercantum pada tabel 4.

Tabel 4. Tingkat bising maksimum

Daya pengenal

Tingkat bising

[kVA]

[dB]

50

50

100

51

160 Sr 250

55

315 Sr 630

56

800

57

1000

58

1250

59

1600

60

2000

61

2500

62

7

Konstruksi

7.1

Umum

7.1.1 Transformator harus dirancang dan dibuat dari komponen dan bahan baku yang sama sekali baru dan sesuai dengan persyaratan desain untuk transformator pada kondisi pelayanan sebagaimana ditetapkan pada ayat 5. Komponen dan bahan baku serta penyelesaiannya harus disesuaikan dengan geografi dan iklim Indonesia, khususnya mempunyai sifat tahan karat.

7.1.2 Desain konstruksi transformator adalah:

Pasangan luar

Pasangan dalam : daya pengenal 315 kVA

: daya pengenal 400 kVA

Pabrikan

7.1.3 harus

mendokumentasi

gambar

teknik

beserta

ukuran-ukurannya,

meliputi :

Bentuk dan susunan belitan termasuk jenis dan ukuran konduktor belitan;

Torsi (Nm) dari baut klem vertikal dan horizontal inti besi;

11

SPLN D3.002-1: 2007

Dimensi tangki;

Dimensi dan jumlah sirip pendingin.

7.2 Inti besi

7.2.1 Inti besi dibentuk dari laminasi baja silikon (cold-rollled grain oriented) atau baja amorphous (amorphous steel).

7.2.2 Konstruksi inti besi dapat dibentuk dengan dua cara :

Susunan (stacking);

Gulungan (wound type).

7.2.3 Baut klem vertikal dan horizontal inti besi harus dikencangkan dengan dua buah mur. Bagian ujung ulir dari baut klem-klem tersebut harus dimatikan (dipahat, dilas, dll.) setelah mur terpasang dan kekencangan yang dispesifikasi tercapai.

7.2.4 Pabrikan harus mendokumentasi nilai torsi kekencangan dari setiap baut klem inti besi dan mencantumkannya dalam gambar konstruksi.

7.3

Belitan

7.3.1 Bahan konduktor belitan adalah tembaga (Cu) atau aluminium (Al).

7.3.2 Konduktor belitan sekunder dapat berbentuk segi empat (rectangular) atau lembaran (sheet/foil). Bahan isolasi dari konduktor belitan harus sesuai dengan suhu kerja transformator dan tahan minyak.

7.3.3 Belitan tidak boleh diimpregnasi dengan varnis.

7.3.4 Lead wire untuk belitan yang mempunyai konduktor berbentuk lembaran harus menggunakan jenis bahan yang sama dengan belitan tersebut. Penyambungan antara lead wire dengan lembaran belitan ini harus dengan pengelasan.

7.3.5 Untuk belitan yang menggunakan konduktor aluminium, busbar netral pada belitan hubungan bintang dan penghubung antara busbar tersebut dengan konektor busing sekunder (7.4.2) dapat menggunakan busbar tembaga.

7.3.6 Bahan yang dapat digunakan untuk pasak belitan :

Press wood, press board, atau material lain yang diproduksi masal sebagai komponen khusus transformator;

Kayu alam setara kayu jati yang dikeringkan. Dalam hal ini, pabrikan harus mempunyai metoda untuk memastikan bahwa kadar air pada kayu cukup rendah, sehingga tidak menyebabkan pemburukan sistem isolasi minyak saat transformator beroperasi.

12

SPLN D3.002-1: 2007

7.3.7 Pemegang/penahan lead wire belitan harus mempunyai kekuatan mekanis yang terukur. Kayu alam yang dikeringkan dapat digunakan hanya jika bagian luarnya diperkuat dengan logam non magnetik.

7.4 Penyambungan belitan

7.4.1 Penyambungan dengan pengubah sadapan

7.4.1.1 Penyambungan belitan primer dengan pengubah sadapan harus dengan cara :

Pengelasan, lead wire pengubah sadapan dilas dengan lead wire belitan sadapan;

Pengepresan, lead wire belitan sadapan dipress langsung ke terminal pengubah sadapan dengan alat press yang direkomendasi oleh pabrikan pengubah sadapan.

7.4.1.2 Penyambungan dengan menggunakan konektor-lurus untuk menyambungkan lead wire pengubah sadapan dengan lead wire belitan sadapan dapat digunakan hanya jika :

celah di dalam konektor diisi dengan timah solder ; dan

bila dilakukan juga pengepresan pada konektor ini, harus menggunakan alat press yang sesuai.

7.4.2 Penyambungan belitan sekunder dengan busing

7.4.2.1 Hubungan antara lead wire belitan sekunder dengan busing harus menggunakan konektor siku atau konektor fleksibel. Penggunaan sepatu kabel (cable lug) sebagai konektor tidak diperbolehkan.

7.4.2.2 Konektor dari bahan aluminium hanya dapat digunakan pada belitan aluminium dan berukuran minimal satu tingkat lebih besar dari ukuran konduktor belitan.

7.4.2.3 Penyambungan lead wire belitan dengan konektor:

Untuk bahan sejenis (Al – Al atau Cu – Cu) harus secara pengelasan;

Untuk bahan berlainan jenis (Al – Cu) dengan mur-baut ¹);

Untuk konektor fleksibel dapat menggunakan pengelasan atau mur-baut ¹).

7.4.3 Penyambungan pada busbar netral

Penyambungan antara lead wire belitan sekunder pada busbar netral :

Untuk busbar sejenis (Al – Al atau Cu – Cu) harus secara pengelasan;

Untuk busbar berlainan jenis (Al – Cu) dengan mur-baut ¹).

CATATAN ¹) Mur-baut yang digunakan untuk penyambungan harus bersifat non-magnetik.

13

SPLN D3.002-1: 2007

7.5 Minyak isolasi

7.5.1 Minyak sebagai media pendingin dan isolasi transformator adalah jenis mineral dan tidak beracun.

7.5.2 Minyak harus memenuhi persyaratan IEC 60296 dengan tegangan tembus 50 kV/2,5 mm.

7.5.3 Pabrikan harus menyediakan sertifikat hasil uji dari laboratorium independen untuk merek minyak yang digunakan.

7.5.4 Pengisian minyak diproses secara vakum untuk menjamin penetrasi maksimum dari minyak isolasi ke dalam sistem isolasi belitan.

7.6 Tangki dan radiator

7.6.1 Tangki dan radiator dibuat dari pelat baja dengan permukaan yang halus. Tangki untuk transformator fase tunggal dapat berbentuk silindris atau persegi empat.

7.6.2 Bagian luar tangki dan radiator harus dicat dengan cat tahan cuaca berwarna cerah/tidak menyerap panas dengan ketebalan minimum 70 µm. Penghilangan karat, lemak, minyak, maupun percikan las pada proses pengecatan, diutamakan dengan sistem shot blasting. Cara lain adalah dengan proses kimiawi.

7.6.3 Tebal pelat penutup tangki transformator fase tiga minimum 4 mm.

7.6.4 Penutupan antara tangki dengan penutup (tank cover) dapat dilakukan dengan pengelasan atau mur-baut.

7.6.5 Untuk penutupan secara las, sisi dalam dari bibir tangki (tank flange, bagian tangki yang berfungsi sebagai landasan bagi penutup) harus dipasangkan bahan pelapis yang sesuai untuk menghindari masuknya partikel/percikan ke dalam tangki saat pengelasan.

7.6.6 Untuk penutupan dengan mur-baut, gasket/pelapis harus menggunakan bahan yang tahan minyak dan sesuai dengan suhu kerja transformator (Neoprene, atau lebih baik).

Jumlah sambungan pada gasket hanya diperbolehkan satu buah.

Bibir tangki sebelah luar harus dipasangkan pembatas tekanan gasket (gasket compression stopper) yang terbuat dari baja galvanis bulat dengan diameter yang sesuai dan dilas pada bibir tangki.

Jumlah gasket dan pembatas tekanan gasket yang digunakan pada satu tangki disesuaikan dengan ukuran tangki transformator.

7.6.7 Tangki, radiator dan sistem seal harus mampu menahan tekanan 50 kPA (0,5 bar) selama 24 jam, tanpa mengalami kebocoran.

7.6.8 Lebar total transformator (tangki + radiator) untuk transformator dengan daya

14

SPLN D3.002-1: 2007

pengenal 315 s/d 1000 kVA tidak melebihi 1200 mm.

7.6.9 Sistem preservasi minyak:

kedap udara (hermetically sealed) dengan atau tanpa sirip pendingin untuk transformator dengan daya pengenal sampai dengan 50 kVA;

kedap udara dengan sirip pendingin untuk transformator dengan daya pengenal 100 kVA sampai dengan 1000 kVA;

kedap udara atau konvensional untuk transformator dengan daya pengenal lebih besar dari 1000 kVA.

Sistem kedap udara yang diterapkan adalah hermetically sealed - fully filled dimana minyak mengisi seluruh ruang kosong di dalam tangki.

Pelat baja untuk sirip pendingin transformator harus cukup fleksibel, namun mampu menahan fluktuasi tekanan dari beban operasi. Tekanan di dalam tangki akibat beban operasi dan beban lebih yang diizinkan, harus tidak menyebabkan bekerjanya pengaman tekanan lebih (8.6).

8 Alat Lengkapan

Transformator dilengkapi dengan alat-alat pelengkap yang sama sekali baru dan sesuai untuk penggunaan seperti ditetapkan pada ayat 5.

Daftar jenis lengkapan transformator tercantum pada tabel 5.

8.1 Busing primer

8.1.1 Jenis busing adalah porselin untuk transformator pasangan luar atau plug-in untuk transformator pasangan dalam.

8.1.2 Tegangan maksimum busing adalah 24 kV dengan arus pengenal yang sesuai dengan arus pengenal transformator.

8.1.3 Busing porselin adalah untuk tingkat polusi sedang sesuai IEC 60137 dengan jarak rambat nominal 480 mm.

8.1.4 Busing jenis porselin harus memenuhi EN 50180. Pabrikan harus menyediakan sertifikat uji dari laboratorium independen untuk setiap merek busing yang digunakan.

8.1.5 Pemasangan busing porselin pada penutup tangki harus menggunakan fixing ring yang sesuai dengan tipe busing.

8.1.6 Penempatan busing primer mengikuti ketentuan ayat 9.2 dengan jarak udara minimum 210 mm.

8.1.7 Untuk transformator kelompok vektor YNyn0, busing netral menggunakan kelas isolasi tegangan yang sama dengan busing fase.

15

SPLN D3.002-1: 2007

Tabel 5. Daftar lengkapan

     

Fase tiga

Jenis lengkapan

Fase tunggal

100 kVA

160 kVA Sr 1000 kVA

> 1000 kVA

Busing primer

Busing sekunder

Pipa pengisi minyak

Indikator tinggi minyak

Pengaman tekanan lebih

Pengubah sadapan

Kantong termometer

*)

Terminal pembumian

Lubang penguras minyak

Kuping pengangkat

Penggantung

Roda

*)

CATATAN *) hanya untuk transformator pasangan dalam, lihat sub-ayat 8.8 dan 8.13.

8.2 Busing sekunder

8.2.1 Busing adalah jenis porselin dengan tegangan pengenal 1 kV dengan arus pengenal yang sesuai dengan arus pengenal transformator, minimum 250A. Ukuran dari ulir konduktor busing adalah minimum M12.

8.2.2 Untuk transformator pasangan dalam, terminal busing sekunder dilengkapi dengan selungkup penutup.

8.2.3 Busing harus memenuhi persyaratan EN 50386 atau DIN 42530. Jenis busing lebih diutamakan pada konstruksi yang dapat memberikan perlindungan pada seal busing terhadap sinar ultra violet.

8.2.4 Pabrikan harus menyediakan sertifikat uji dari laboratorium independen untuk setiap merek busing yang digunakan.

8.2.5 Untuk transformator fase tunggal, busing harus dilengkapi dengan kabel/konduktor tembaga untuk menghubungkan terminal belitan sekunder. Penampang minimum adalah :

25 kVA

:

50 mm 2

50 kVA

:

70 mm 2

16

SPLN D3.002-1: 2007

8.3 Konektor busing

8.3.1 Busing sekunder untuk transformator dengan daya pengenal > 400 kVA harus dilengkapi dengan konektor busing (bushing connector flag) dengan ukuran yang sesuai dengan ukuran busing.

8.3.2 Busing sekunder transformator dengan daya pengenal 400 kVA dan busing primer untuk semua daya pengenal, harus dilengkapi dengan konektor bantu yang terbuat dari busbar tembaga dilapis timah.

8.3.3 Bentuk dan ukuran konektor ditunjukkan dalam Gambar 1.

8.3.3 Bentuk dan ukuran konektor ditunjukkan dalam Gambar 1. Gambar 1. Konektor bantu a. Busing primer
8.3.3 Bentuk dan ukuran konektor ditunjukkan dalam Gambar 1. Gambar 1. Konektor bantu a. Busing primer

Gambar 1. Konektor bantu

a. Busing primer semua daya pengenal dan busing sekunder Sr 160 kVA

b. Busing sekunder 200 kVA Sr 400 kVA

8.4 Pipa pengisi minyak

8.4.1 Pipa pengisi minyak dipasang pada penutup tangki.

8.4.2 Tinggi pipa adalah sama dengan ketinggian minyak pada busing primer porselin. Posisi penempatan adalah sedemikian, sehingga jarak udara seperti pada 8.1.6 dapat terpenuhi.

8.5 Indikator tinggi minyak

8.5.1 Indikator tinggi minyak ditempatkan pada pipa pengisi minyak.

8.5.2 Jenis indikator adalah visual oil level eye indicator. Pelapis/gasket yang digunakan pada lengkapan ini harus sesuai dengan suhu kerja transformator dan tahan minyak.

17

SPLN D3.002-1: 2007

8.6 Pengaman tekanan lebih

8.6.1 Pengaman tekanan lebih (pressure relief device) dipasang pada ujung atas pipa pengisi minyak.

8.6.2 Tekanan pengenal dan diameter pengaman tekanan lebih harus disesuaikan dengan tekanan operasi di dalam tangki, sehingga tidak bekerja saat transformator dibebani beban pengenal dan beban lebih yang diizinkan, tetapi dapat bekerja mengamankan tekanan pada saat terjadi gangguan didalam transformator.

8.7 Pengubah sadapan

8.7.1 Jenis yang digunakan adalah pengubah sadapan tanpa beban. Perubahan posisi sadapan dilakukan dengan merubah komutator pada keadaan tanpa tegangan.

8.7.2 Pengubah sadapan dilengkapi dengan penandaan dengan tulisan : ”perubahan posisi sadapan tanpa tegangan”

8.8 Kantong termometer

8.8.1 Transformator pasangan dalam harus dilengkapi dengan kantong (pocket) termometer, tetapi termometer itu sendiri bukan merupakan lengkapan yang diwajibkan. Kantong termometer dibuat dari bahan non magnetik.

8.8.2 Kantong termometer harus terisi minyak dan ditutup sedemikian rupa, sehingga tidak bocor saat transportasi.

CATATAN :

Bila termometer merupakan kelengkapan yang diinginkan, hal ini harus dinyatakan pada saat pemesanan (lihat Lampiran A). Untuk hal ini, termometer harus dilengkapi dengan indikator suhu maksimum, selain indikator suhu aktual.

8.9 Terminal pembumian

8.9.1 Tangki transformator dilengkapi dengan terminal pembumian yang dibuat dari kuningan, satu buah pada penutup tangki dan satu buah pada bagian bawah tangki.

8.9.2 Ukuran terminal pembumian adalah M12 dan harus dilengkapi dengan penandaan

pembumian adalah M12 dan harus dilengkapi dengan penandaan 8.10 Lubang penguras minyak 8.10.1 Lubang penguras minyak

8.10 Lubang penguras minyak

8.10.1 Lubang penguras minyak dilengkapi dengan penandaan: ”Tidak boleh dibuka dan uji minyak tidak diperlukan”

8.10.2 Katup (valve) pada pipa dari lubang penguras minyak bukan merupakan lengkapan yang diwajibkan, namun pabrikan dapat menggunakannya untuk memudahkan proses pengisian minyak.

18

SPLN D3.002-1: 2007

8.11 Kuping pengangkat

Transformator harus dilengkapi kuping pengangkat (lifting lug) yang dipasang dengan sistem las dan ditempatkan sedemikian rupa, sehingga mampu mengangkat berat transformator tanpa kerusakan.

8.12 Penggantung (hanger)

8.12.1 Penggantung digunakan untuk transformator kapasitas 100 kVA

8.12.2 Bentuk dan dimensi penggantung ditunjukkan dalam Gambar 2 dan 3.

19

SPLN D3.002-1: 2007

A
A
SPLN D3.002-1: 2007 A B kVA A (mm) B (mm) 25 400 400 50 400 400
SPLN D3.002-1: 2007 A B kVA A (mm) B (mm) 25 400 400 50 400 400
B kVA A (mm) B (mm) 25 400 400 50 400 400 100 520 520
B
kVA
A (mm)
B (mm)
25
400
400
50
400
400
100
520
520
A (mm) B (mm) 25 400 400 50 400 400 100 520 520 Gambar 2. Konstruksi

Gambar 2. Konstruksi penggantung transformator bentuk tangki persegi-empat

20

SPLN D3.002-1: 2007

SPLN D3.002-1: 2007 Gambar 3. Konstruksi penggantung transformator fase tunggal bentuk tangki silindris 21
SPLN D3.002-1: 2007 Gambar 3. Konstruksi penggantung transformator fase tunggal bentuk tangki silindris 21

Gambar 3. Konstruksi penggantung transformator fase tunggal bentuk tangki silindris

21

SPLN D3.002-1: 2007

8.13

Roda

8.13.1

Roda digunakan untuk transformator pasangan dalam.

8.13.2

Diameter roda disesuaikan dengan ukuran transformator.

9

Penandaan

9.1 Pelat nama

Transformator harus dilengkapi pelat nama yang kuat, tahan karat, dan mudah dikenali. Tulisan pada pelat ini harus jelas dan tidak mudah hilang/luntur, data pada pelat nama sekurang-kurangnya adalah sebagai berikut :

- Jenis transformator

- Nomor spesifikasi/standar

Transformator distribusi (Hermetik)

SPLN D3.002-1 : 2007

- Nomor seri

contoh 07-001

 

(diawali dua digit tahun pembuatan)

- Jumlah fase

- Daya pengenal

- Frekuensi pengenal

50 Hz

- Tegangan pengenal primer dan sekunder

- Arus pengenal primer dan sekunder

- Kelompok vektor

- Tegangan impedans

- Rugi tanpa beban - rugi berbeban

contoh :

200W – 1400 W

- Bahan belitan primer - sekunder

contoh :

Cu - Al ;

Cu - Cu

- Berat total

- Volume minyak

- Jenis minyak

Mineral

Selain pelat nama, transformator harus dilengkapi dengan identitas pabrikan dan diagram hubungan.

9.2 Penandaan terminal

9.2.1 Transformator fase tiga

Urutan penandaan terminal dari kiri ke kanan dilihat dari sisi sekunder adalah :

- Terminal primer

:

(1N) - 1U - 1V - 1W

- Terminal sekunder

:

(2N) - 2U - 2V - 2W

22

SPLN D3.002-1: 2007

SPLN D3.002-1: 2007 Dyn5 dan Yzn5 YNyn0 Gambar 4. Urutan penandaan terminal transformator fase tiga 9.2.2

Dyn5 dan Yzn5

SPLN D3.002-1: 2007 Dyn5 dan Yzn5 YNyn0 Gambar 4. Urutan penandaan terminal transformator fase tiga 9.2.2

YNyn0

Gambar 4. Urutan penandaan terminal transformator fase tiga

9.2.2 Transformator fase tunggal

Urutan penandaan terminal dari kiri ke kanan:

Terminal tegangan tinggi

- Sistem distribusi JTM 3 kawat

:

H1 - H2

H1 - H2

- Sistem distribusi JTM 4 kawat

:

H1 -

Terminal tegangan rendah

:

x1 - x3 - x2 - x4

Terminal pembumian

:

diantara x3 dan x2

diantara x3 dan x2

- x2 - x4 Terminal pembumian : diantara x3 dan x2 Transformator untuk sistem JTM 4

Transformator untuk sistem JTM 4 kawat

diantara x3 dan x2 Transformator untuk sistem JTM 4 kawat Transformator untuk sistem JTM 3 kawat

Transformator untuk sistem JTM 3 kawat

Gambar 5. Penandaan terminal transformator fase tunggal

CATATAN Gambar di atas hanya merupakan contoh untuk urutan penandaan terminal transformator dengan tangki silindris. Tangki transformator fase tunggal itu sendiri dapat berbentuk silindris atau persegi empat.

23

SPLN D3.002-1: 2007

9.3 Penandaan daya pengenal

9.3.1 Transformator pasangan luar harus dilengkapi penandaan daya pengenal pada tangki.

9.3.2 Penandaan ditulis dengan cat warna hitam dengan tinggi huruf minimal 100 mm.

dengan cat warna hitam dengan tinggi huruf minimal 100 mm. Gambar 6. Penandaan daya pengenal 9.3.3

Gambar 6. Penandaan daya pengenal

9.3.3 Ketentuan penandaan:

Tahun pembuatan (empat digit)

 

Daya pengenal

 

H

-

(tanpa satuan)

-

9.3.4 Untuk transformator yang tidak dilengkapi sirip pendingin, penandaan dapat dituliskan langsung pada bagian tengah badan tangki.

9.3.5 Untuk transformator yang dilengkapi sirip pendingin :

dituliskan pada pelat logam ditempatkan di bagian tengah tangki ; atau

dituliskan langsung pada bagian bawah tangki.

9.3.6 Lokasi penandaan untuk transformator 100 kVA adalah pada sisi yang tidak dipasangi penggantung (hanger), sedangkan untuk transformator lainnya pada bidang tangki yang berdekatan dengan sisi primer.

10 Pemeriksaan dan Pengujian

Semua sistem pengukuran yang digunakan pada pengujian-pengujian harus bersertifikat, terkalibrasi periodik dan tertelusur sesuai aturan yang tertuang dalam ISO 9001.

Macam pengujian pada setiap klasifikasi pengujian tercantum pada Tabel 6.

PT PLN (Persero) dapat menetapkan mata uji khusus maupun merubah atau menambahkan mata uji dengan menyatakannya saat pemesanan.

24

SPLN D3.002-1: 2007

10.1 Pengujian jenis

Mata uji pengujian jenis (type test) tercantum pada Tabel 6 kolom 5. Pengujian jenis dilaksanakan oleh laboratorium PLN.

Untuk

mengenai:

keperluan

pengujian

jenis,

pabrikan

perlu

menyediakan

data

dan

informasi

Gambar konstruksi seperti diuraikan pada sub-ayat 7.1.3;

Sertifikat dari laboratorium independen dari peralatan/komponen pada sub-ayat 7.5, 8.1, 8.2, dan 8.7.

Sampel transformator untuk pengujian jenis adalah transformator pasangan luar dengan julat sadapan tipe 2 (+2x2,5%, -4x2,5%).

Pengujian jenis cukup dilakukan sekali saja untuk setiap desain transformator, namun perlu diverifikasi setiap 5 (lima) tahun.

Jika pabrikan merubah desain atau konstruksi sehingga kriteria identik pada sub-ayat 10.3.2 tidak terpenuhi, maka transformator tersebut memerlukan pengujian jenis ulang.

10.2 Pengujian rutin

Mata uji pengujian rutin tercantum pada Tabel 6 kolom 4.

Pada setiap transformator yang lulus uji rutin, pabrikan harus memberikan stiker QC sebagai tanda lulus uji rutin.

10.3 Pengujian serah-terima

Mata uji pengujian serah-terima adalah sama dengan mata uji pengujian rutin (Tabel 6 kolom 4), tetapi PT PLN dapat menambah mata uji lainnya dengan menyatakannya pada saat pemesanan.

Pengujian serah-terima dilaksanakan di laboratorium PLN atau pabrikan.

10.3.1 Prosedur pengujian serah terima

Prosedur pengujian adalah sebagai berikut:

a. Transformator yang akan diserah-terimakan harus telah lulus uji jenis dan identik dengan transformator yang diuji jenis;

b. Transformator yang akan diserah-terimakan harus lulus uji rutin dan dilengkapi dengan laporan pengujiannya;

c. Pengujian serah terima disaksikan oleh PT PLN;

d. Jumlah sampel adalah 10% (dibulatkan) dari jumlah yang akan diserahterimakan dengan jumlah minimum 1 (satu) unit pada kelompok tersebut.

25

SPLN D3.002-1: 2007

10.3.2 Transformator identik

Sebuah transformator dapat dinyatakan identik satu sama lain bila:

a. Daya pengenal, tegangan tertinggi (Um) sisi belitan primer dan sekunder, kelompok vektor harus sama;

b. Tegangan impedans harus sama dengan toleransi ± 10%;

c. Rugi tanpa beban harus sama dengan toleransi ± 10%;

d. Rugi I²R pada belitan primer dan sekunder harus sama dengan toleransi ± 10%;

e. Arus tanpa beban harus sama dengan toleransi 30%.;

f. Bahan dasar, desain dan konstruksi dari belitan dan inti besi harus sama;

g. Letak busing tegangan tinggi maupun tegangan rendah harus sama, tetapi jenis busing dapat berbeda (porselin atau plug-in);

h. Jumlah dan ukuran sirip pendingin harus sama, toleransi ukuran sirip 5%;

i. Dimensi tangki harus sama dengan toleransi 5%.

CATATAN 1 Merek busing, minyak mineral dan pengubah sadapan dapat berbeda dengan merek pada transformator yang diuji jenis, sepanjang pabrikan dapat memberikan sertifikat dari laboratorium independen yang membuktikan bahwa peralatan baru tersebut mempunyai mutu yang setara.

CATATAN 2 Penerapan toleransi pada kriteria identik di atas harus tetap memperhatikan batas nilai maksimum dan minimum yang ditetapkan standar ini.

CATATAN 3 Transformator dengan julat sadapan tipe 1 dapat dinyatakan identik dengan transformator berjulat sadapan tipe 2.

Bila sampel pada pengujian serah-terima tidak sesuai dengan kondisi di atas maka sampel tersebut harus diuji jenis.

10.3.3 Penilaian pengujian serah terima

Kriteria penilaian pengujian serah-terima:

a) Sampel transformator dinyatakan baik, jika hasil pengujian dari seluruh mata uji pada kolom 6 Tabel 6 berhasil baik;

b) Seluruh transformator yang akan diserahterimakan dinyatakan diterima jika semua sampel yang diuji hasilnya baik;

26

SPLN D3.002-1: 2007

c) Jika lebih dari 1 (satu) sampel mengalami kegagalan, maka semua transformator yang diajukan (akan diserahterimakan) ditolak, karena dianggap dalam kelompok tersebut masih ada cacat;

d) Jika 1 (satu) sampel mengalami kegagalan, pada dasarnya semua transformator yang diajukan belum dapat diterima dan pengujian dapat diulang dengan mengambil sampel baru sejumlah yang pertama. Jika semua sampel baru diuji dengan hasil baik, maka semua transformator yang diajukan dianggap baik dan dapat diterima. Jika dalam pengujian ulang masih ada 1 (satu) sampel saja mengalami gagal, maka seluruh transformator yang diajukan ditolak;

e) Terhadap kelompok transformator yang dinyatakan ditolak pada butir c) dan d), pabrikan atau pemasok dapat mensortir dan transformator yang baik dapat diajukan kembali. Untuk pengajuan kembali pabrikan harus meneliti sebab-sebab kegagalan dan bila kegagalan menyangkut sistem produksi, pabrikan harus memperbaiki proses produksinya.

10.4 Pengujian lapangan

Pengujian lapangan dilakukan oleh PLN unit.

Mata uji pengujian lapangan tercantum pada Tabel 6 kolom 7.

10.5 Pengujian khusus

Pengujian khusus dilakukan terutama untuk transformator kapasitas besar.

Mata uji pengujian khusus meliputi:

- Pengukuran impedans urutan nol;

- Pengukuran harmonik pada arus tanpa beban;

- Pengujian fungsi peralatan.

PLN harus menyampaikan adanya pengujian khusus ini saat pemesanan.

27

SPLN D3.002-1: 2007

Tabel 6. Macam pengujian

No.

 

Mata uji

 

Metoda uji / acuan

R

1)

J 1)

S

1)

L

1)

1

 

2

 

3

4

5

6

7

1.

Pemeriksaan dimensi/konstruksi transformator

Pemeriksaan dimensi

Ayat 7

       

Spesifikasi pabrikan

Pemeriksaan konstruksi

Ayat 7

Pemeriksaan lengkapan

Ayat 8

Pemeriksaan penandaan Pengukuran jarak udara dan jarak rambat busing

Ayat 9

IEC 60076-3 Sub-ayat 8.1.3 dan 8.1.6

2.

Pengukuran tahanan belitan

IEC 60076-1, sub ayat 10.2

 

3.

Pengukuran rasio tegangan dan pemeriksaan kelompok vektor

IEC 60076-1, sub ayat 10.3

4.

Pengukuran rugi berbeban dan tegangan impedans

Sub ayat 6.6 dan 6.7 IEC 60076-1, sub-ayat 10.4

 

5.

Pengukuran rugi dan arus tanpa beban

Sub ayat 6.6 IEC 60076-1, sub ayat 10.5

 

6.

Pengujian ketahanan tegangan frekuensi-daya

Sub ayat 6.9 IEC 60076-3

2)

 

7.

Pengujian tegangan lebih induksi

IEC 60076-3

3)

 

8.

Pengukuran tahanan isolasi

IEC 60076-3

9.

Pengujian ketahanan tegangan impuls petir

IEC 60076-3 IEC 60076-4

 

   

10.

Pengujian kenaikan suhu

Sub-ayat 6.10 IEC 60076-2

 

4)

   

11.

Pengujian tingkat bising

IEC 60076-10 Sub ayat 6.11

 

   

12.

Pengujian ketahanan hubung-singkat

         

Kemampuan termal

IEC 60076-5, sub ayat 4.1

Kemampuan dinamik

IEC 60076-5, sub ayat 4.2

13.

Pengujian tegangan tembus minyak

Sub ayat 7.5.2

 

 

14.

Pengujian kebocoran tangki

Sub ayat 7.6.7

5)

5)

 

15.

Pengujian enerjais tanpa beban

Durasi uji = 24 jam

     

CATATAN

1)

R = pengujian rutin ; J = pengujian jenis ; S = pengujian serah-terima ;

2)

L = pengujian lapangan Tidak dilakukan pada sisi primer untuk transformator dengan tegangan pengenal 20 kV/3

3)

Untuk transformator dengan tegangan pengenal 20 kV/3, pengujian dilakukan pada tegangan

4)

uji 3,46 tegangan nominal Setelah pengujian kenaikan suhu, transformator harus mampu dienerjais tanpa beban pada

5)

105% tegangan pengenal selama 2 jam. Dapat dilakukan dengan waktu uji lebih singkat.

28

SPLN D3.002-1: 2007

LAMPIRAN A Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemesanan

Ketentuan yang diuraikan pada standar ini merupakan persyaratan desain bagi transformator yang akan digunakan pada kondisi pelayanan normal seperti tercantum pada ayat 5. Pada kondisi pelayanan tersebut, beberapa informasi yang masih perlu dinyatakan pada saat pemesanan antara lain:

Daya pengenal

 

Spesifikasi

SPLN D3.002-1 : 2007

No. Laporan pengujian jenis

 

Jumlah fase

SatuJumlah fase Tiga

TigaJumlah fase Satu

Tegangan primer

20 kVTegangan primer 20 kV

20 kVTegangan primer 20 kV

20/√ 3 kV 3 kV

Langkah sadapan

(lima)(tujuh) 5 7

(tujuh)(lima) 5 7

5

7

(lima)(tujuh) 5 7

(tujuh)(lima) 5 7

5

7

Kelompok vektor

Ii0Kelompok vektor Dyn5, Yzn5

Dyn5, Yzn5Kelompok vektor Ii0

YNyn0(tujuh) 5 7 Kelompok vektor Ii0 Dyn5, Yzn5 Konstruksi Pasangan luar Pasangan luar Pasangan

Konstruksi

Pasangan luarKonstruksi Pasangan luar

Pasangan luarKonstruksi Pasangan luar

Pasangan dalamYzn5 YNyn0 Konstruksi Pasangan luar Pasangan luar untuk transformator > 1000 kVA - Kedap udara

untuk transformator > 1000 kVA

-

Kedap udarauntuk transformator > 1000 kVA -

Sistem preservasi minyak

(full-filled)

Konvensionalluar Pasangan dalam untuk transformator > 1000 kVA - Kedap udara Sistem preservasi minyak ( full-filled

Untuk setiap kondisi yang berbeda dengan kondisi pelayanan seperti yang tercantum pada ayat 5 atau kebutuhan lengkapan atau konstruksi yang berbeda, selain informasi di atas, PLN harus merinci dan menyatakan pada saat pemesanan, kondisi-kondisi seperti :

- Mata uji pengujian serah-terima bila berbeda dengan Tabel 6 kolom 6 atau mata uji pengujian khusus yang diperlukan.

- Jarak rambat busing yang lebih panjang bila transformator akan digunakan pada lokasi dengan tingkat polusi berat atau sangat berat.

- Kebutuhan termometer.

29

SPLN D3.002-1: 2007

- Kebutuhan proteksi, misalnya Buchholz, dll.

- Ketentuan lebih lanjut sesuai IEC 60076-2 untuk transformator yang akan dioperasikan pada suhu udara ambien melebihi ketentuan pada ayat 5.

- Ketentuan lebih lanjut sesuai IEC 60076-2 dan IEC 60076-3 untuk transformator yang akan dioperasikan pada ketinggian melebihi 1000 meter dari permukaan laut.

30

SPLN D3.002-1: 2007

LAMPIRAN B Efisiensi dan pengaturan tegangan

Efisiensi dan pengaturan tegangan berdasarkan rugi-rugi dan tegangan impedans yang ditetapkan standar ini tercantum pada tabel B1 dan B2.

TABEL B1. Efisiensi dan pengaturan tegangan transformator fase-tunggal

 

Rugi tanpa

Rugi

Tegangan

Efisiensi pada cos φ =1

Regulasi tegangan pada beban penuh

Daya

berbeban

impedans

beban

pada 75°C

pada 75°C

beban

beban

cos φ

cos φ

cos φ

50%

100%

0,8

0,9

1

kVA

W

W

%

%

%

 

%%%

 

1

2

3

4

5

6

 

789

 

10

40

185

2,5

98,30

97,80

2,49

2,40

1,86

16

50

265

2,5

98,57

98,07

2,45

2,31

1,67

25

70

370

2,5

98,72

98,27

2,40

2,22

1,50

50

120

585

2,5

98,95

98,61

2,27

2,03

1,19

TABEL B2. Efisiensi dan pengaturan tegangan transformator fase-tiga

   

Rugi

Tegangan

Efisiensi pada cos φ =1

Regulasi tegangan pada beban penuh

Daya

Rugi tanpa

beban

berbeban

impedans

pada 75°C

pada 75°C

beban

beban

cos φ

cos φ

cos φ

50%

100%

0,8

0,9

1

kVA

W

W

%

%

%

%

%

%

 

123

 

4

5

6

7

8

9

25

75

425

4

98,57

98,04

3,55

3,14

1,77

50

125

800

4

98,72

98,18

3,50

3,07

1,67

100

210

1420

4

98,88

98,40

3,40

2,95

1,49

160

300

2000

4

99,01

98,58

3,31

2,82

1,32

200

355

2350

4

99,07

98,67

3,26

2,77

1,25

250

420

2750

4

99,12

98,75

3,22

2,71

1,17

315

500

3250

4

99,17

98,82

3,17

2,66

1,11

400

595

3850

4

99,23

98,90

3,13

2,61

1,04

500

700

4550

4

99,27

98,96

3,10

2,57

0,99

630

835

5400

4

99,31

99,02

3,06

2,52

0,93

800

1000

6850

4,5

99,33

99,03

3,38

2,76

0,95

1000

1100

8550

5

99,36

99,04

3,70

3,00

0,98

1250

1400

10600

5,5

99,36

99,05

4,01

3,23

1,00

1600

1680

13550

6

99,37

99,06

4,33

3,48

1,02

2000

1990

16900

7

99,38

99,06

4,97

3,96

1,09

2500

2350

21000

7

99,40

99,07

4,97

3,96

1,08

31

Pengelola Standardisasi:

PT PLN (Persero) Litbang Ketenagalistrikan Jalan Durentiga Jakarta 12760, Telp. 021-7973774, Fax. 021-7991762, www. pln-litbang.co.id.