Anda di halaman 1dari 20

RESTORASI RESIN KOMPOSIT AKTIVASI SINAR TAMPAK DENGAN PASAK RESIN KOMPOSIT AKTIVASI KIMIAWI PADA GIGI PASCA

APIKOEKTOMI RELASI OKLUSI OPEN BITE (LAPORAN KASUS)

KARYA TULIS ILMIAH

Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai sebutan Dokter Gigi Spesialis I Program Studi Ilmu Konservasi Gigi Bidang Ilmu Kedokteran Gigi

diajukan oleh: Puji Widodo 214 / KG / SP / 01 KEPADA FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2004

RESTORASI RESIN KOMPOSIT AKTIVASI SINAR TAMPAK DENGAN PASAK RESIN KOMPOSIT AKTIVASI KIMIAWI PADA GIGI PASCA APIKOEKTOMI RELASI OKLUSI OPEN BITE (LAPORAN KASUS)

KARYA TULIS ILMIAH

Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai sebutan Dokter Gigi Spesialis I Program Studi Ilmu Konservasi Gigi Bidang Ilmu Kedokteran Gigi

diajukan oleh: Puji Widodo 214 / KG / SP / 01 KEPADA FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2004

PRAKATA

Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya atas berkat rahmat dan anugerah-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat Spesialis I Konservasi Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis telah berusaha dengan sebaik-baiknya, namun menyadari bahwa keberhasilan penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini tidak bisa dipisahkan dari pihak-pihak lain. Untuk itu perkenankan penulis memberikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. drg. Sri Daradjati S, S.U, Sp KG., selaku pembimbing utama yang telah memberikan bimbingan, dorongan dan pengarahan kepada penulis dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini. 2. drg. Endang Retnowati, M.kes, Sp KG., selaku pembimbing pendamping yang telah membimbing dan mengarahkan kepada penulis dalam

menyelesaikan penulisan Karya Tulis Ilmiah ini. 3. drg. H. Ngesti Yuwono, Sp KG., selaku Ketua Program Studi Ilmu Konservasi Gigi PPDGS I Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penulisan ini. 4. Menteri Pertahanan dan Keamanan Republik Indonesia, atas kesempatan tugas belajar di Universitas Gadjah Mada.
v

5.

Komandan Lanud Adi Sucipto, selaku pembina personil TNI-AU di Yogyakarta.

6.

Ketua Bagian Ilmu Konservasi Gigi beserta seluruh dosen dan staf, yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penulisan ini.

7.

Dekan Fakultas Kedokteran Gigi UGM, atas kesempatan yang diberikan untuk mengikuti pendidikan PPDGS I Ilmu Konservasi Gigi.

8.

Pengelola Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis I Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada.

9.

Pimpinan dan staf Perpustakaan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, yang telah memberikan fasilitas dalam penulisan ini.

10. Rekan-rekan sejawat karya siswa PPGDS I Ilmu Konservasi Gigi Universitas Gadjah Mada, atas bantuan dan kerjasama yang baik selama pendidikan. 11. Istriku Wiwi Triani, putriku Huditami Ajeng Widanti, atas pengertian dan pengorbanannya selama ini. 12. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah ikut membantu penulis dalam menyelesaikan pendidikan dan tidak akan dilupakan jasa-jasanya. Akhir kata, semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi perkembangan Ilmu Kedokteran Gigi, khususnya dalam bidang Ilmu Konservasi Gigi. Yogyakarta, Februari 2004 Penulis Puji Widodo

vi

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL i HALAMAN PENGESAHAN... ii PERNYATAAN iv PRAKATA v DAFTAR ISI. vii DAFTAR GAMBAR viii INTISARI. ix ABSTRACT. X I. PENDAHULUAN.... A. Latar Belakang B. Permasalahan.. C. Tujuan. D. Manfaat TINJAUAN PUSTAKA... A. Perawatan Saluran Akar dan Apikoektomi. B. Pasak Resin komposit.. C. Resin Komposit... D. Relasi open bite E. Restorasi Resin Komposit Kavitas Kelas IV... KASUS.. A. Pemeriksaan. B. Diagnosis. C. Rencana Perawatan.. D. Prognosis.. PROSEDUR PERAWATAN A. Bahan dan Alat B. Perawatan kasus... PEMBAHASAN KESIMPULAN DAN SARAN. A. Kesimpulan... B. Saran.. 1 1 5 5 5 6 6 7 11 18 19 22 22 23 24 24 25 25 27 35 39 39 39 40

II.

III.

IV.

V. VI.

DAFTAR PUSTAKA

vii

DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar 1 2 3 4 5 6 7 8 : Keadaan gigi sebelum restorasi. : Keadaan relasi oklusi..... : Radiografi sebelum restorasi. : Model malam untuk pembuatan matriks silicone putty.. : Keadaan gigi setelah preparasi bentuk hollow ground bevel. : Ledge ..... : Resin komposit midifill hybrids aktivasi kimiawi. : Aplikasi resin komposit aktivasi kimiawi.. A. Pistol resin. B. Syringe tip.. 9 : A. Resin komposit micro hybrids aktivasi sinar. B. Bahan etsa asam posphat 34% .. C. Bahan bonding... D. Pasta poles.... 10 : A. Aplikasi resin komposit aktivasi sinar tampak.. B. Compule resin C. Pistol resin. 11 : Memoles gigi menggunakan foam cup dan pasta poles.... 12 : Keadaan gigi selesai direstorasi 13 : Keadaan gigi pada saat kontrol satu minggu pasca restorasi. 14 : Radiografi satu minggu pasca restorasi . 15 : Keadaan gigi 6 bulan pasca restorasi. 16 : Radiografi 6 bulan pasca restorasi. 22 23 23 28 29 29 30 30 30 30 32 32 32 32 32 32 32 32 32 33 33 34 34

Gambar

Gambar

Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar

viii

RESTORASI RESIN KOMPOSIT AKTIVASI SINAR TAMPAK DENGAN PASAK RESIN KOMPOSIT AKTIVASI KIMIAWI PADA GIGI PASCA APIKOEKTOMI RELASI OKLUSI OPEN BITE

INTISARI Laporan kasus ini bertujuan untuk menginformasikan tentang restorasi resin komposit aktivasi sinar tampak dengan pasak resin komposit aktivasi kimiawi pada gigi pasca apikoektomi relasi oklusi open bite. Pada gigi insisivus sentralis kanan maksila pasca apikoektomi dengan relasi open bite, terdapat kavitas kelas IV di sebelah mesio insisal. Untuk mengembalikan fungsi dilakukan restorasi menggunakan resin komposit aktivasi sinar tampak dengan pasak resin komposit aktivasi kimiawi.Tahap perawatan dimulai dengan pencetakan rahang atas dan rahang bawah untuk pembuatan die. Memodel malam die sesuai kontur gigi asli kemudian membuat matriks silicone putty. Selanjutnya gigi dipreparasi pada bagian mahkota, akhiran preparasi bevel berbentuk hollow ground, preparasi saluran pasak menggunakan rimer Peeso kedalaman 5mm dari orifis. Ujung saluran pasak diisi semen ionomer kaca, Dilanjutkan pengetsaan, aplikasi bonding. Saluran pasak diisi resin komposit aktivasi kimiawi sampai dengan bagian ruang pulpa berjarak 1 mm sebelum tepi kavitas. Setelah resin komposit di saluran pasak mengeras dilanjutkan restorasi mahkota menggunakan resin komposit aktivasi sinar tampak yang diawali, penempatan matriks silicone putty, aplikasi resin komposit warna A2O untuk permukaan palatinal, A2 sebagai warna body, lapis terakhir warna YE (Yellow Enamel) untuk permukaan labial dan penyelesaian akhir restorasi, dipoles. Hasil restorasi gigi insisivus sentralis kanan maksila baik. Hal ini dapat dilihat pada saat kontrol satu minggu dan enam bulan pasca restorasi yang ditandai gigi dapat berfungsi kembali, hubungan tepi restorasi baik, tidak ada garis fraktur akar dari hasil radiografi, warna masih seperti pada saat direstorasi dan pasien merasa puas.

ix

LIGHT-CURED COMPOSITE RESIN RESTORATION WITH SELF-CURED COMPOSITE RESIN POST ON POST-APICOECTOMY OPEN BITE TOOTH RELATION ABSTRACT The aim of this case report is to inform the use of light-cured composite resin restoration and self-cured composite resin post to restore a post apicoectomy tooth with open bite relation. A class IV cavity on mesio- incisal of maxillary right central incisor was restored by using light-cured composite resin and self-cured composite resin post which was conducted as follows maxillary and mandibullar impression were taken, the die was modelled according to tooth contour followed by impression material taking of the palatal surface of the upper anterior teeth by using silicone putty matrix. The crown was prepared with hollow ground bevel and prepared the post canal using Peeso reamer was 5 mm depth. Glass ionomer cements are applicated into post canal terminal. The prepared enamel and dentin were etched and bonded followed by application syringe tip was used to fill post canal with self-cured composite resin up to the pulp chamber 1mm beyond the cavo surface margin. After polymerization of self-cured had completed, application of light-cured composite resin of A2 shade as manufactured instruction which were A2O, A2 and YE respectively. Evaluation after 6 months indicated rehabilitating tooth function, good restoration margin, no fracture line in the radiographic, no discoloration seen and the patient satisfied.

I. PENDAHULUAN

A. Latar belakang Semenjak bahan resin komposit diperkenalkan oleh Bowen tahun 1960, bidang restorasi gigi mengalami kemajuan pesat (Soetopo, 1980). Resin komposit saat ini banyak digunakan sebagai bahan restorasi gigi anterior dan posterior, karena merupakan bahan restorasi warna gigi yang memenuhi persyaratan estetik, kekuatan mastikasi cukup baik dan diaplikasikan secara langsung (Crim, 1991). Resin komposit tersusun oleh empat komponen utama yaitu matriks organik polimer, partikel pengisi anorganik, bahan pengikat dan inisiator-accelerator. Resin komposit mengeras melalui aktivasi kimiawi atau sinar tampak. Kekuatan resin komposit aktivasi kimiawi dan aktivasi sinar tampak pada dasarnya sama, dan dipengaruhi oleh kandungan bahan pengisi (Craig dan Powers, 2002). Seiring dengan kemajuan di bidang material resin komposit, banyak klinisi sangat tertarik terhadap material ini, karena tidak hanya mempunyai daya tahan yang baik tetapi juga menyerupai substansi gigi alami, sehingga beberapa ahli menganggap bahan ini mampu digunakan sebagai pasak (Stahl & ONeal, 1975 sit Linde 1983; Plasmans dkk., 1988; Lui, 1999). Resin komposit yang digunakan sebagai pasak berasal dari bahan pembuat inti yang mempunyai partikel bahan pengisi macrofill atau hybrids tipe heavy filled atau highly filled karena mempunyai kekuatan tekan cukup, warna gigi dan modulus elastisitas hampir sama dengan dentin. Bahan resin komposit dengan partikel microfill atau resin komposit tipe ligthly filled tidak dianjurkan untuk pembuatan pasak (Linde, 1983; Plasmans dkk., 1988, Yaman dan Thornsteinsson 1992).
1

Pickard dkk. (2000) menganjurkan untuk memeriksa hubungan oklusi gigi-gigi baik horisontal maupun vertikal gigi-gigi anterior (overjet dan overbite). Hal ini relevan untuk menentukan restorasi yang akan dibuat. Menurut Nanda (1990 sit. Stuani dkk., 2000) penyimpangan dalam hubungan lengkung gigi dengan karakteristik tidak adanya kontak insisal gigi maksila dan mandibula dalam bidang vertikal disebut open bite. Pickard dkk. (2000), menyatakan pada gigi open bite tekanan mastikasi yang diterima oleh gigi tidak berat. Untuk mempertahankan gigi yang telah mengalami nekrosis pulpa dan kelainan periapikal harus dilakukan perawatan saluran akar. Harty (1993),

menyatakan bahwa tujuan perawatan saluran akar adalah untuk membersihkan rongga pulpa yang infeksi dan kotoran toksik serta membentuk saluran akar agar dapat menerima bahan pengisi yang akan menutup seluruh sistem saluran akar dari jaringan periodontal dan rongga mulut. Perawatan saluran akar adakalanya perlu dikombinasikan dengan apikoektomi, terutama pada gigi-gigi dengan kelainan patologis pada periapikal yang tidak melebihi sepertiga panjang akar, seperti adanya kista radikular (Grossman dkk., 1995). Tingkat keberhasilan apikoektomi pada umumnya tinggi tergantung pada kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan. Phillip dan Maxten (1941 sit. Grossman dkk.,1995). Gigi pasca perawatan saluran akar biasanya akan kehilangan sejumlah struktur gigi yang disebabkan oleh karies dan preparasi pada saat perawatan saluran akar itu sendiri. Kehilangan struktur gigi ini membuat restorasi mengalami permasalahan yaitu bertambahnya kemungkinan fraktur selama berfungsi (Juntavee dan Mullkut, 2000). Helfer (1972 sit. Mannocci dkk.,1999), menyatakan

bahwa gigi pasca perawatan saluran akar pada umumnya lebih rapuh dibandingkan dengan gigi vital, ditandai dengan berkurangnya kandungan kelembaban internal. Shillingburg dan Kessler (1982) menyatakan untuk

mengatasi masalah pada gigi pasca perawatan saluran akar, dianjurkan pemakaian pin atau pasak dan inti sebagai retensi, baru kemudian dibuatkan restorasi mahkotanya. Keputusan penggunaan penguat inti pasak (dowel core) tergantung beberapa faktor, diantaranya keadaan jaringan keras supragingival gigi yang tersisa, diameter akar gigi, morfologi akar, jaringan pendukung gigi dan fungsi gigi setelah restorasi akhir. Tidak semua gigi pasca perawatan saluran akar memerlukan restorasi seluruh mahkota. Smith dan Schuman (1997), menyatakan bahwa gigi anterior pasca perawatan saluran akar, apabila kerusakan bagian koronal kecil, dapat direstorasi dengan resin komposit saja, sedangkan bila kerusakan sudah lebih besar seperti kehilangan salah satu atau kedua sudut insisal, kerusakan melibatkan marginal ridge dan fraktur korona, memerlukan pembuatan pasak dan inti. Mateer dan Reitz (1970 sit. Glazer 2000), mengungkapkan bahwa pasak yang terbuat dari logam dapat menyebabkan korosi. Freedman (1996 sit.

Freedman, 2001) menyatakan bahwa pemakaian inti pasak logam dapat menyebabkan warna mahkota menjadi gelap. Menurut Mannocci dkk. (1999) pasak metal juga mempunyai perbedaan modulus elastisitas yang mencolok dibandingkan dentin. Perbedaan modulus elastisitas antara struktur gigi dengan inti pasak akan menambah risiko fraktur akar. Bahan yang memungkinkan untuk

mengatasi masalah ini adalah resin komposit atau semen ionomer kaca sebagai langkah untuk menghindari pemakaian pasak metal dalam saluran pasak. Grgl dkk. (2002), menganjurkan restorasi gigi pasca perawatan saluran akar menggunakan resin komposit sebagai retensi dan resistensi di dalam saluran pasak. Plasmans dkk. (1988) menyatakan sistem pasak resin komposit tidak

menimbulkan reaksi negatif terhadap jaringan lunak sekitar gigi. Sidoli dkk., (1997), menyatakan bahwa sistem pasak resin komposit mempunyai kekuatan tekan yang cukup, walaupun jika dibandingkan dengan aloi, titanium, maupun fiber mempunyai kekuatan paling rendah. Plasmans dkk. (1988) menganjurkan pemakaian resin komposit aktivasi kimiawi untuk saluran pasak yang dalam. Menurut Smith dan Schuman (1997) pasak resin komposit tidak dianjurkan pada kasus gigi pasca perawatan saluran akar dengan kerusakan berat, struktur jaringan gigi tersisa sedikit. Menurut Sidoli dkk., (1997) sistem pasak resin komposit tidak dianjurkan pada gigi yang mempunyai beban oklusi berat dan mempunyai beban ganda misalnya sebagai abutment. Untuk menjamin estetika dan kekuatan yang tinggi, restorasi pada bagian mahkota digunakan resin komposit polimerisasi sinar. Menurut Jordan (1988) bangunan restorasi mahkota dapat dibuat menggunakan resin komposit microfill atau hybrids. Pada kasus-kasus yang dijamin tidak akan terjadi beban langsung, restorasi dapat menggunakan resin komposit microfill, sedangkan kasus kelas IV dianjurkan memakai resin komposit hybrids.

B. Permasalahan Dari uraian latar belakang di atas timbul permasalahan sebagai berikut : Apakah gigi insisivus sentralis kanan maksila pasca apikoektomi yang mempunyai relasi oklusi open bite bila dilakukan restorasi resin komposit

aktivasi sinar tampak dan pasak resin komposit aktivasi kimiawi secara klinis kekuatannya cukup kuat ?

C. Tujuan Laporan kasus ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang restorasi resin komposit aktivasi sinar tampak dengan pasak resin komposit aktivasi kimiawi pada gigi insisivus sentralis kanan maksila pasca apikoektomi yang mempunyai relasi oklusi open bite.

D. Manfaat Manfaat penulisan ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam merestorasi gigi insisivus maksila pasca apikoektomi yang mempunyai relasi oklusi open bite menggunakan resin komposit aktivasi sinar tampak serta pasak resin komposit aktivasi kimiawi.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Perawatan Saluran Akar dan Apikoektomi Perawatan saluran akar merupakan bagian dari bentuk perawatan endodontik. Perawatan endodontik dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu cara tanpa bedah dan bedah (Harty, 1993). Bedah endodontik meliputi reseksi akar atau apikoektomi, kuretase periapikal, radisektomi, replantasi, transplantasi, implantasi, trefinasi dan insisi untuk drainase. Apikoektomi termasuk bedah periapikal yang paling umum (Grossman dkk., 1995). Tujuan perawatan saluran akar adalah untuk membersihkan kavitas pulpa yang infeksi dan kotoran toksik serta membentuk saluran akar agar dapat menerima bahan pengisi yang akan menutup seluruh sistem saluran akar dari jaringan periodontal dan rongga mulut. Perawatan saluran akar meliputi pengeluaran seluruh jaringan pulpa yang rusak (ekstirpasi), preparasi biomekanis ( pembersihan dan pembuatan bentuk) yang diikuti desinfeksi dan obturasi saluran akar (Harty, 1993). Perawatan saluran akar dilaporkan mempunyai tingkat keberhasilan lebih dari 95% (Noah,1984 sit. Smith dan Schuman 1997). Apikoektomi adalah tindakan pemotongan bagian apikal gigi dan kuretase jaringan periapikal nekrotik dan meradang (Archer, 1975). Tujuan apikoektomi untuk mempertahankan gigi yang mengalami kelainan pulpa dan periapikal agar tetap berada di dalam rongga mulut. (Grossman dkk., 1995). Heuser (sit. Harnisch, 1975) menyatakan bahwa suksesnya tindakan apikoektomi tidak hanya ditentukan oleh tindakan bedah saja, tapi juga karena pengisian pendahuluan yang seksama pada saluran akar. Menurut Grossman dkk. (1995) Tingkat keberhasilan
6

perawatan saluran akar bila dikombinasikan dengan reseksi apikal 90% sampai 99%, tergantung pada kriteria yang digunakan dalam menentukan tingkat keberhasilan. Harty (1993), menyatakan tingkat keberhasilan bedah endodontik terutama pada reseksi apikal 90%. Kekuatan gigi pasca perawatan saluran akar tergantung jumlah struktur gigi yang masih tersisa dan hasil restorasi (Smith dan Schuman, 1997). Jumlah struktur gigi yang tersisa pasca perawatan saluran akar sangat terbatas akibat karies, trauma, restorasi terdahulu dan prosedur perawatan saluran akar (Milot dan Stein, 1992).

B. Pasak Resin Komposit Gigi pasca perawatan saluran akar telah mengalami pengurangan kadar air sampai 9%. Hal ini menyebabkan rapuhnya struktur gigi, karena sifat gigi pasca perawatan saluran akar semakin rapuh maka untuk membuat restorasi diperlukan pasak atau dowel. (Helfer dkk., 1972 sit. Mannocci dkk., 1999) Sebenarnya pemakaian pasak telah ada sejak tahun 1849 yang diperkenalkan oleh Dr F.H Clark yang menggunakan pipa penguat dalam saluran akar, dilanjutkan oleh G.V Black yang memakai gold foil ke dalam saluran akar. Mahkota Richmond

merupakan disain pasak pertama dibuat oleh Richmond tahun 1880 yang masih dikenal sampai sekarang (Shillingburg dan Kessler, 1982). Smith dan Schuman (1997) semula masih meragukan kemampuan pasak dan inti sebagai penguat, penelitian lebih lanjut ternyata gigi pasca perawatan saluran akar dengan pasak dan inti lebih tahan lama di dalam mulut.

Robbins (2002), membagi jenis pasak menjadi dua bagian besar yaitu pasak metal dan pasak nonmetal. Pasak metal terdiri dari pasak tuang dan pasak prefabricated. Pasak Prefabricated terdiri dari 3 macam pasak yaitu pasak

tapered pasif, pasak parallel pasif, pasak aktif. Pasak non metal terdiri dari Carbon fiber dan pasak warna gigi. Termasuk pasak warna gigi adalah Aesthetic post plus (Bisco) Cosmoposts ( Ivoclar) Light post ( Bisco), Luscen Anchor (Dentatus: New york), juga yang dibuat secara konvensional seperti pasak Vectris targis dan pasak resin komposit. Kemajuan teknologi dalam bidang endodontik, periodontik dan teknik restoratif serta prosedurnya memungkinkan dokter gigi membuat keputusan yang akurat, dan hasilnya dapat diprediksi. Pemilihan restorasi yang tepat pada gigi pasca perawatan saluran akar terutama pada masalah penggantian struktur mahkota gigi yang hilang merupakan kunci keberhasilan restorasi (Morgano dkk., 1994). Dari tahun 1986 sampai 1996 terdapat banyak sekali artikel yang mendiskusikan tentang teknik perawatan gigi pasca perawatan saluran akar, tapi tidak satupun dokter gigi yang menjelaskan secara sistematik. Smith dan Schuman (1997), membedakan tindak lanjut perawatan gigi pasca perawatan saluran akar untuk gigi anterior dan posterior. Restorasi gigi anterior dibagi dalam 3 kriteria: kerusakan minimal, kerusakan sedang, kerusakan berat. Kerusakan ringan adalah gigi yang marginal ridge masih utuh, singulum dan insisal masih utuh. Kerusakan sedang adalah terdapat jejas kecil pada bagian proksimal dan ukuran gigi masih rata-rata. Tindakan untuk kriteria kerusakan ringan dan sedang tidak dianjurkan pemakaian mahkota tapi hanya direstorasi resin komposit disertai penguat

menggunakan ionomer kaca masuk dalam saluran akar. Termasuk kerusakan berat yaitu kerusakan telah melibatkan marginal ridges, hilangnya semua sudut insisal atau fraktur mahkota, dalam hal ini tindakan yang dianjurkan adalah pembuatan mahkota penuh dengan penguat pasak. Jenis pasak yang dibuat tergantung bentuk saluran akar, bila saluran akar kecil dan berbentuk sirkular dianjurkan menggunakan fabricated dan bila salurannya berbentuk elip atau sudah besar dianjurkan menggunakan custom dowel core dan mahkota. Sorensen dan Martinoff, (1984), menyimpulkan hasil penelitiannya bahwa pemakaian pasak self threading dapat menyebabkan kegagalan berupa fraktur angular dan vertikal, hal ini terjadi karena tekanan yang terlalu besar terhadap struktur gigi yang tersisa. Mannocci dkk. (1999), menyatakan bahwa teknik sementasi merupakan hal yang harus diperhatikan, sebab tekanan mekanis yang masuk selama prosedur sementasi terutama pada pasak aktif dapat menyebabkan fraktur akar selama sementasi atau selama berfungsi. Mateer dan Reitz (1970 sit. Glazer 2000) menyatakan bahwa kegagalan pemakaian pasak metal juga dapat terjadi karena korosi yang menyebabkan fraktur akar. Yaman dan Thornsteinsson (1992) menyatakan bahwa pasak emas lebih tahan korosi daripada bahan metal lain. Cohen dkk.(1996) menyatakan permintaan pasak yang memenuhi estetik semakin tinggi. Pasak metal mempunyai kelemahan warna yang kontras dengan warna gigi, sehingga nampak pada korona gigi. Menurut Mannocci dkk. (1999), perbedaan modulus elastisitas yang mencolok akan menambah resiko fraktur akar. Bahan yang memungkinkan untuk membuat pasak yang tidak korosi, tidak menimbulkan pewarnaan dan mempunyai modulus elastisitas setara dentin adalah