Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU TANAMAN PERKEBUNAN (AGH 341) PENYADAPAN KARET

Kelompok A6 : Iskandar Zulkarnaen Amanda Sari Widyanti Fanny Sukma Ramdana Rizky Paramita Sasti Yulisda Eka Wardani A24100023 A24100050 A24100052 A24100140 A24100151 A24100189

Dosen : Dr. Ir. Hariyadi, MS Asisten : Meta Simangunsong

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2013

PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu komoditas pertanian yang memiliki peran penting bagi Indonesia adalah karet (Hevea brasiliensis) . Di Indonesia, karet merupakan salah satu hasil pertanian yang banyak menunjang perekonomian negara. Hasil devisa yang diperoleh dari karet cukup besar. Bahkan, Indonesia pernah menguasai produksi karet dunia dengan mengungguli hasil dari negara-negara lain. Hal ini diimbangi dengan adanya luas lahan karet Indonesia mencapai 3-3.5 juta hektar, (Tim Penulis PS 2008). Sekitar 83% perkebunan karet di Indonesia merupakan perkebunan karet rakyat, sehingga produksi karet terbesar dihasilkan dari perkebunan rakyat (Setyamidjaja 1993). Tanaman yang termasuk dalam famili Euphorbiaceae ini memiliki metabolik sekunder berupa lateks. Lateks karet dapat diolah dan dimanfaatkan menjadi berbagai produk industri, seperti ban kendaraan, conveyor belt, sabuk transmisi, dock fender, sepatu dan sandal karet. Tingginya kebutuhan masyarakat akan karet alam, harus diimbangi pula dengan produksi lateks karet, sehingga untuk diperolehnya mutu dan produksi karet yang tinggi, maka faktor budidaya harus diperhatikan dengan baik (BPPP 2008). Salah satu kegiatan budidaya yang dapat mempengaruhi produksi lateks adalah pemeliharaan tanaman dan proses penyadapan. Pemeliharaan tanaman karet TM maupun TM secara umun bertujuan untuk meningkatkan produksi lateks, sedangkan proses penyadapan bertujuan untuk mengeluarkan lateks yang terdapat pada bawah kulit batang karet. Mutu sadapan dapat dilihat dari konsumsi kulit batang oleh penyadap, dan tidak melukai kambium agar karet alam yang diproduksi memiliki kualitas dan kuantitas yang tinggi (Siregar 2000). Hal lain yang perlu diperhatikan dalam penyadapan adalah kriteria sadap pada pohon karet. Kriteria utama layak sadap pada suatu areal pertanaman karet adalah lilit batang. Lilit batang dinilai sudah dapat member petunjuk tentang ketebalan kulit dan kemampuan fisiologisnya untuk menghasilkan lateks dalam jangka waktu yang lama,

yaitu 20-25 tahun. Ditinjau dari umur tanaman, biasanya lilit batang yang siap sadap berukuran 45 cm yang dicapai pada umur 5-7 tahun (Siregar 2000).

Tujuan Menentukan sistem sadap, melakukan penyadapan dengan sistem sadap tertentu, mengukur hasil penyadapan, serta menentukan kebutuhan tenaga kerja dan waktu untuk penyadapan karet.

TINJAUAN PUSTAKA Taksonomi Karet Daun karet terdiri dari tangkai daun utama dan tangkai anak daun. Panjang tangkai daun utama 3 20 cm. Panjang tangkai anak daun sekitar 3 10 cm dan pada ujungnya terdapat kelenjar. Biasanya ada tiga anak daun yang terdapat pada sehelai daun karet. Anak daun berbentuk eliptis, memanjang dengan ujung meruncing, tepinya rata dan gundul (Anwar2001) .Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar, tinggi pohon dewasa mencapai 15 25 m. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi di atas. Di beberapa kebun karet ada beberapa kecondongan arah tumbuh tanamanya agak miring ke arah utara. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks. Sesuai dengan sifat dikotilnya, akar tanaman karet merupakan akar tunggang. Akar ini mampu menopang batang tanaman yang tumbuh tinggi dan besar. Sistem perakaran yang bercabang pada setiap akar utamanya (Santosa2007). Biji karet terdapat dalam setiap ruang buah. Jadi jumlah biji biasanya ada tiga kadang enam sesuai dengan jumlah ruang. Ukuran biji besar dengan kulit keras. Warnanya coklat kehitaman dengan bercak-bercak berpola yang khas (Aidi dan Daslin 1995). Bunga pada tajuk dengan membentuk mahkota bunga pada setiap bagian bunga yang tumbuh. Bunga berwarna putih, rontok bila sudah membuahi, beserta tangkainya. Bunga terdiri dari serbuk sari dan putik (Maryadi 2005).

Kriteria Bidang Sadap Tanaman karet siap sadap bila sudah matang sadap pohon. Matang sadap pohon tercapai apabila sudah mampu diambil lateksnya tanpa menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan dan kesehatan tanaman. Kesanggupan tanaman untuk disadap dapat ditentukan berdasarkan umur dan lilit batang. Diameter untuk pohon yang layak sadap sedikitnya 45 cm diukur 100 cm dari pertautan sirkulasi

dengan tebal kulit minimal 7 mm dan tanaman tersebut harus sehat. Pohon karet biasanya dapat disadap sesudah berumur 5 - 6 tahun. Semakin bertambah umur tanaman semakin meningkatkan produksi lateksnya (Santosa 2007). Mulai umur 16 tahun produksi lateksnya dapat dikatakan stabil sedangkan sesudah berumur 26 tahun produksinya akan menurun. Penyadapan dilakukan dengan memotong kulit pohon karet sampai batas cambium dengan menggunakan pisau sadap. Jika penyadapan terlalu dalam dapat membahayakan kesehatan tanaman, dan juga untuk mempercepat kesembuhan luka sayatan maka diharapkan sadapan tidak menyentuh kayu (xilem) akan tetapi paling dalam 1.5 mm sebelum kambium (Radjam 2009). Sadapan dilakukan dengan memotong kulit kayu dari kiri atas ke kanan bawah dengan sudut kemiringan 30 dari horizontal dengan menggunakan pisau sadap yang berbentuk V. Semakin dalam sadapan akan menghasilkan banyak lateks. Pada proses penyadapan perlu dilakukan pengirisan. Bentuk irisan berupa saluran kecil, melingkar batang arah miring ke bawah. Melalui saluran irisan ini akan mengalir lateks selama 1 - 2 jam. Sesudah itu lateks akan mengental. Lateks yang yang mengalir tersebut ditampung ke dalam mangkok aluminium yang digantungkan pada bagian bawah bidang sadap. Sesudah dilakukan sadapan, lateks mengalir lewat aluran V tadi dan menetes tegak lurus ke bawah yang ditampung dengan wadah (Anwar 2001).

Waktu Penyadapan Waktu penyadapan yang baik adalah jam 5.00 7.30 pagi dengan dasar pemikirannya: Jumlah lateks yang keluar dan kecepatan aliran lateks dipengaruhi oleh tekanan turgor sel, tekanan turgor mencapai maksimum pada saat menjelang fajar, kemudian menurun bila hari semakin siang, pelaksanaan penyadapan dapat dilakukan dengan baik bila hari sudah cukup terang (Nazaruddin dan Paimin 1998). Tanda-tanda kebun mulai disadap adalah umur rata-rata 6 tahun atau 55 % dari areal 1 ha sudah mencapai lingkar batang 45 cm sampai dengan 50 cm. Disadap berselang

1 hari atau 2 hari setengah lingkar batang, dengam system sadapan / rumus S2-D2 atau S2-D3 hari (Maryadi 2005). Waktu bukaan sadap adalah 2 kali setahun yaitu, pada (a) permulaan musim hujan (Juni) dan (b) permulaan masa intensifikasi sadapan (Oktober), oleh karena itu tidak secara otomatis tanaman yang sudah matang sadap lalu langsung disadap, tetapi harus menunggu waktu tersebut di atas tiba (Anwar 2001).

Bagian-bagian Tanaman Karet yang Disadap Tanaman karet siap sadap bila sudah matang sadap pohon. Matang sadap pohon tercapai apabila sudah mampu diambil lateksnya tanpa menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan dan kesehatan tanaman. Kesanggupan tanaman untuk disadap dapat ditentukan berdasarkan umur dan lilit batang. Diameter untuk pohon yang layak sadap sedikitnya 45 cm diukur 100 cm dari pertautan sirkulasi dengan tebal kulit minimal 7 mm dan tanaman tersebut harus sehat. Pohon karet biasanya dapat disadap sesudah berumur 5-6 tahun. Semakin bertambah umur tanaman semakin meningkatkan produksi lateksnya. Mulai umur 16 tahun produksi lateksnya dapat dikatakan stabil sedangkan sesudah berumur 26 tahun produksinya akan menurun (Santosa 2007). Penyadapan dilakukan dengan memotong kulit pohon karet sampai batas cambium dengan menggunakan pisau sadap. Jika penyadapan terlalu dalam dapat membahayakan kesehatan tanaman, dan juga untuk mempercepat kesembuhan luka sayatan maka diharapkan sadapan tidak menyentuh kayu (xilem) akan tetapi paling dalam 1.5 mm sebelum kambium (Aidi dan Daslin 1995). Sadapan dilakukan dengan memotong kulit kayu dari kiri atas ke kanan bawah dengan sudut kemiringan 30 dari horizontal dengan menggunakan pisau sadap yang berbentuk V. Semakin dalam sadapan akan menghasilkan banyak lateks. Pada proses penyadapan perlu dilakukan pengirisan. Bentuk irisan berupa saluran kecil, melingkar batang arah miring ke bawah. Melalui saluran irisan ini akan mengalir lateks selama 1-2 jam. Sesudah itu lateks akan mengental. Lateks yang mengalir tersebut ditampung ke dalam mangkok

aluminium yang digantungkan pada bagian bawah bidang sadap. Sesudah dilakukan sadapan, lateks mengalir lewat aluran V tadi dan menetes tegak lurus ke bawah yang ditampung dengan wadah (Maryadi 2005).

Pemulihan Bidang Sadap Lateks adalah getah seperti susu dari banyak tumbuhan yang membeku ketika terkena udara. Ini merupakan emulsi kompleks yang mengandung protein, alkaloid, pati, gula, minyak, tanin, resin, dan gom. Pada banyak tumbuhan lateks biasanya berwarna putih, namun ada juga yang berwarna kuning, jingga, atau merah untuk memperoleh hasil sadap yang baik, penyadapan harus mengikuti aturan tertentu agar diperoleh hasil yang tinggi, menguntungkan, serta berkesinambungan dengan tetap memperhatikan factor kesehatan tanaman agar tanaman dapat berproduksi secara optimal dan dalam waktu yang lama (Siregar 1995). Praktiknya untuk kelangsungan produksi, hal yang sangat mendasar adalah di dalam pemulihan bidang sadap. Agar bidang sadap dapat kembali pulih, tentu ada yang dipelukan di dalam penyadapanya. Menghindari penggunaan Ethepon pada pohon yang terkena kekeringan alur sadap adalah salah satu cara agar bidang sadap dapat kembali pulih dan pohon yang mengalami kekeringan alur sadap perlu diberikan pupuk ekstra untuk mempercepat pemulihan kulit (Santosa 2007 ). Memperistirahtkan tanaman dalam waktu tertentu juga merupakan konsep pemulihan bidang sadap, karena tanaman akan mengoptimalakan kembali bagianbagian tanaman yang telah mengalami pelukaan. Begitu juga dengan pemberian unsure hara untuk kelanjutan tanaman itu sendiri sehingga pertumbuhanya akan lebih optimal tentunya pemulihan bagian-bagian yang disadap (Nazaruddin dan Paimin 1998).

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Kegiatan praktikum dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikabayan,

Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, pada hari Senin, 20 Mei 2013 dimulai pukul 07.00 hingga 09.00.

Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah tanaman karet menghasilkan sebanyak 3 pohon. Alat yang digunakan adalah pisau sadap tiga buah, mangkok sadap enam buah, talang (spout), paku, dan satu buah ember.

Metode Kerja Setiap kelompok mencari 3-6 tanaman menghasilkan karet yang sudah siap sadap. Tanaman yang digunakan pada praktikum ini adalah tanaman karet yang sudah pernah disadap sebelumnya. Bidang sadap dibersihkan dari sisa-sisa lateks yang mengering. Penampung lateks yang sudah ada, diganti dengan mangkok sadap yang disediakan serta diganti pula apabila talang (spout) yang ada terbuat dari daun atau sudah tidak dapat digunakan dengan talang (spout) yang telah disediakan sebelumnya. Permukaan bidang sadap disadap menggunakan pisau sadap dengan kedalaman kulit yang disadap kurang lebih 2mm. Arah penyadapan adalah dari kiri atas ke kanan bawah batang karet. Bidang sadap diusahakan tidak terluka karena akan menyebabkan lateks yang keluar akan mengalir keluar dari bidang sadap. Bidang sadap dibiarkan hingga lateks keluar dan tertampung pada mangkok sadap selama kurang lebih 40 menit. Apabila telah 40 menit, lateks yang tertampung pada mangkok sadap disatukan kedalam satu tempat untuk dihitung rata-rata volume lateks yang tertampung dari 3-6 pohon karet yang digunakan. Apabila telah selesai, kembalikan peralatan yang digunakan ke dalam ember dan dikumpulkan kembali.

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL KEGIATAN : 1. Waktu kerja : 19 menit = 0.32 jam 2. Perhitungan HOK (1 HOK = 1 orang dengan 7 jam kerja) = 0.32 jam x 6 orang x (1 HOK/7 jam) = 0,27 HOK 3. HOK yang dibutuhkan untuk 1 ha :

Volume lateks per tanaman 1. Lateks total yang diperoleh : 30 ml 2. Jumlah tanaman yang di sadap : 3 tanaman. 3. Produksi karet per pohon : Penyadapan merupakan kegiatan yang menjadi ciri khas dari tanaman karet (Hevea brasiliensis).Penyadapan tidak bisa dilakukan tanpa adanya perencanaan karena apabila penyadapan tidak dilakukan dengan teknik yang tepat bisa jadi akan menurunkan hasil sadapan, timbulnya penyakit pada bidang sadap, berkurangnya umur ekonomi tanaman berkurangnya kerapatan pohon per hektar atau bahkan tanaman karet tidak dapat berproduksi lagi. Penyadapan harus dilakukan secara konsisten dan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. Hal yang perlu diperhatikan dalam membuat perencanaan adalah tebal kulit diiris setiap penyadapan, lama bidang sadap digunakan serta kemiringan (Balitsp 2011). Sebaiknya penyadapan dilakukan pada pagi hari sekitar jam 05.00-07.30. Penentuan waktu tersebut didasarkan pada pemikiran antara lain jumlah lateks yang keluar dan kecepatan aliran lateks dipengaruhi oleh tekanan turgor sel, tingkat turgor maksimum terjadi saat menjelang fajar serta penyadapan dapat dilakukan dengan baik bila hari sudah terang (SRAS 2005) Prinsip ini didasarkan atas mekanisme fisiologi internal tanaman. Seperti diketahui, tanaman menanggapi perubahan lingkungan dengan mengendalikan transpirasi.Ini berarti, pada saat suhu dan intensitas matahari tinggi, tanaman menekan transpirasi serendah mungkin untuk mencegah kehilangan air di

jaringannya. Dalam konteks sel, terjadi perubahan turgor yang memberi dampak pelambatan aliran cairan sel. Bersamaan dengan itu, stomata daunpun menutup sehingga air dapat dihemat pelepasannya.Mekanisme ini berlangsung pada siang hari dan sejalan dengan turunnya suhu serta rendahnya intensitas matahari, sel-sel membesar, membentuk turgor yang tinggi. Dengan pendekatan inilah lateks di dalam pembuluhnya dinamik mengalir, sejalan dengan fluktuasi suhu dan intensitas matahari. Percobaan-percobaan sehubungan dengan hal ini sudah dilakukan dan membuktikan bahwa penyadapan di siang hari adalah pekerjaan sia-sia dan hanya akan merusak pohon (Balitsp 2011). Pembuluh lateks pada karet terdapat pada kulit batang/cabang. Pembuluh lateks ini yang akan mengalirkan lateks, sehingga kulit pohon karet ini menjadi modal terbesar pada perkebunan karet (Siregar 1984). Semakin sering dilakukan penyadapan maka kulit akan semakin tipis. Tingkat intensivitas penyadapan juga akan mempengaruhi tebal kulit, sehingga bila dilakukan penyadapan secara intensif kulit harus disadap sehemat mungkin agar suatu pohon dapat mencapai umur ekonomi yang panjang yaitu antara 15-20 tahun. Pengirisan kulit setipis mungkin sebisa mungkin dilakukan, karena dengan pengirisan yang tipis pun lateks sudah dapat mengalir. Tebal kulit yang pada umumnya diiris antara 1.5-2 mm dengan sudut penyadapan 35-40o (SRAS 2005). Pohon yang baik untuk disadap memiliki beberapa kriteria.Tanaman karet yang bisa disadap disebut dengan tanaman yang matang sadap.Secara umum, tolak ukur yang dapat menentukan tanaman matang sadap adalah umur dan lilit batang tanaman.Umur matang sadap berkisar antara 4 - 6 tahun, namun umur tersebut tidak dapat menjadi patokan karena umur matang sadap bervariasi bergantung dari klon dan lingkungannya. Lilit batang yang baik adalah 45 cm yang diukur 1 m diatas pertautan okulasi. Secara keseluruhan, suatu kebun dapat dikatakan matang sadap kebun bila jumlah tanaman matang sadap mencapai >60% dari total tanaman yang ada di kebun (SBUTK 2003). Pada praktikum yang telah dilakukan, penyadapan dilakukan pada 3 tanaman.Waktu yang dibutuhkan adalah 19 menit dengan 40.5 HOK untuk 1 hektar. Volume lateks yang dihasilkan sebanyak 30 ml sehingga rata-

rata tanaman menghasilkan 10 ml. HOK yang diperlukan dan volume lateks yang dihasilkan masih jauh dari rata-rata perkebunan karet pada umumnya. Hal ini dapat disebabkan kurang terawatnya perkebunan karet sehingga pada umur ekonomis pun volume lateks yang dihasilkan sangat sedikit.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan Untuk menentukan suatu tanaman karet sudah mencapai kriteria sadap matang dapat dilakukan pengukuran lilit batang. Lilit batang diukur 130 cm dari tanah, jika sudah melewati 45 cm tanaman karet tersebut sudah dapat dikatakan sudah mencapai sadap matang. Untuk memperoleh hasil sadap yang baik, penyadapan harus mengikuti aturan yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan tanaman agar dapat dicapai umur ekonomis yang optimal.

Saran Secara keseluruhan praktikum sudah berjalan dengan cukup baik, hanya saja dalam proses penyadapan terdapat beberapa ketidaksesuaian dengan literature seperti alat sadap yang sudah tidak layak pakai dan pohon karet yang sudah disadap hari sebelumnya sehingga hasil sadap tidak optimal.

DAFTAR PUSTAKA Aidi, Daslin. 1995. Pengelolaan Bahan Tanam Karet. Palembang (ID): Pusat Penelitian Karet. Balai Penelitian Sembawa. Anwar C. 2001.Manajemen dan Teknologi Budidaya Karet. Medan (ID): Pusat Penelitian Karet. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2008. Panduan Praktis Budidaya Tanaman Karet (Hevea brasiliensis). Bogor(ID): Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian [Balitsp] Balai Penelitian Sungei Putih. 2011. Prinsip Dasar Penyadapan Pohon Karet. [Internet]. [2013 May24]. Tersedia pada: http://balitsp.com/ [BPPP] Balai Pusat Penelitian Karet. 2003. Sapta Bina Usaha Tani Karet. PalembangID): Balai Penelitian Sumbawa. Maryadi.2005. Manajemen Agrobisnis Karet.Yogyakarta (ID): UGM Pr. Nazaruddin, Paimin FB. 1998. Karet. Jakarta (ID): Penebar Swadaya. Radjam S.2009. Musuh-musuh Penyadap Karet. Jakarta (ID): Penebar Swadaya. Santosa. 2007.Karet. Jakarta (ID): Penebar Swadaya. Setyamidjaja D. 1993. Karet, Budidaya dan Pengolahan. Yogyakarta (ID): Kanisius. Siregar THS. 1995. Teknik Penyadapan Karet. Yogyakarta (ID): Kanisius. [SRAS] Smallholder Rubber Agroforestry System. 2005. Sistem Wanatani Berbasis Karet. [Internet]. [2013 May24]. Tersedia pada: http://www.worldagroforestrycentre.org/ Tim Penulis PS. 2008. Panduan Lengkap Karet. Jakarta (ID): Penebar Swadaya

LAMPIRAN

Gambar 1. Proses penyadapan karet

Gambar 2. Proses penyadapan karet

Gambar 3. Karet yang sudah disadap

Gambar 4. Lateks dialirkan melalui spout

Gambar 5. Lateks ditampung di mangkok sadap

LEMBAR KERJA PRAKTIKUM ILMU TANAMAN PERKEBUNAN MATERI ke-13 LOKASI : PENYADAPAN KARET : KEBUN PERCOBAAN CIKABAYAN

HARI/TANGGAL : Senin, 20 Mei 2013 KELOMPOK PRAKTIKUM : A6 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Nama Ramdana Fanny Sukma YulisdaEka W. Amanda Sari W. RizkyParamitaSasti Iskandar Zulkarnaen NRP A24100140 A24100052 A24100189 A24100050 A24100151 A24100023 TandaTangan Keterangan

HASIL KEGIATAN : 1. Waktu kerja : 19 menit = 0.32 jam 2. Perhitungan HOK (1 HOK = 1 orang dengan 7 jam kerja) = 0.32 jam x 6 orang x (1 HOK/7 jam) = 0,27 HOK 3. HOK yang dibutuhkan untuk 1 ha :

Volume lateks per tanaman 1. Lateks total yang diperoleh : 30 ml 2. Jumlah tanaman yang di sadap : 3 tanaman. 3. Produksi karet per pohon : JAWABAN PERTANYAAN 1. Lateks total yang diperoleh : 30 ml Jumlah tanaman yang di sadap : 3 tanaman. Produksi karet per pohon : 1 jam. dengan waktu sadap hanya

Populasi karet per hektar 450 tergantung jarak tanam sehingga dalam 1 jam kemungkinan didapatkan 4500 ml atau 4.5 liter lateks. 2. Karena kedalaman irisan sangat mempengaruhi hasil lateks. Apabila penyadapan melukai kambium maka kulit pulihan tidak akan terbentuk dengan baik dan umur ekonomis tanaman karet dapat terganggu. 3. Manfaat penggunaan Ethrel untuk memperlambat penyumbatan pembuluh lateks. Selain itu, penetesan lateks menjadi lebih lama sehingga

memaksimalkan potensi produksi karet. Ethrel dapat digunakan pada tanaman yang pertumbuhannya subur dan berdaun lebat, jangan memberikan perlakuan Ethrel pada saat gugur daun. METODE PELAKSANAAN : Setiap kelompok mencari 3-6 tanaman menghasilkan karet yang sudah siap sadap. Bidang sadap dibersihkan dari sisa-sisa lateks yang mengering. Permukaan bidang sadap disadap menggunakan pisau sadap dengan kedalaman kulit yang disadap kurang lebih 2 mm. Arah penyadapan adalah dari kiri atas ke kanan bawah batang karet. Bidang sadap dibiarkan hingga lateks keluar dan tertampung pada mangkok sadap selama kurang lebih 40 menit. Apabila telah 40 menit, lateks yang tertampung pada mangkok sadap disatukan kedalam satu tempat untuk dihitung ratarata volume lateks yang tertampung dari 3-6 pohon karet yang digunakan.

Diperiksa oleh : Pembimbing/AsistenPraktikum