Anda di halaman 1dari 34

1

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Karet merupakan salah satu komoditi perkebunan penting, baik sebagai

sumber pendapatan, kesempatan kerja dan devisa, pendorong pertumbuhan ekonomi


sentra-sentra baru di wilayah sekitar perkebunan karet maupun pelestarian lingkungan
dan sumberdaya hayati. Namun sebagai negara dengan luas areal terbesar dan
produksi kedua terbesar dunia, Indonesia masih menghadapi beberapa kendala, yaitu
rendahnya produktivitas, terutama karet rakyat yang merupakan mayoritas (91%)
areal karet nasional dan ragam produk olahan yang masih terbatas, yang didominasi
oleh karet remah (crumb rubber). Rendahnya produktivitas kebun karet rakyat
disebabkan oleh banyaknya areal tua, rusak dan tidak produktif, penggunaan bibit
bukan klon unggul serta kondisi kebun yang menyerupai hutan. Oleh karena itu perlu
upaya percepatan peremajaan karet rakyat dan pengembangan industri hilir.
Karet merupakan komoditas pertanian yang erat hubungannya dengan
kebutahan sehari-hari manusia. Dapat kita lihat dan rasakan olahan karet yang yang
memberikan bayak manfaat, misalkan ban, sandal, peratan otomotif, mainan dan lainlain. Anwar (2006) dalam Benny (2013), menjelaskan bahwa saat ini, karet telah
meluas di berbagai wilayah dunia termasuk telah dikembangkan di Asia Tenggara
karena faktor lingkungan yang memiliki syarat tumbuh yang memadai. Namun
sebagai negara dengan luas areal terbesar dan produksi kedua terbesar dunia,
Indonesia masih menghadapi beberapa kendala, yaitu produktivitas, serta kualitas
produk yang masih rendah (Ekpete, 2011). Di Indonesia perkebunan besar karet baru
dimulai di Sumatera pada tahun 1902 dan di Jawa pada tahun 1906. Sedangkan
perkebunan karet rakyat dimulai sekitar tahun 1904 -1910 (Hamidah, 2008).
Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk
pertanaman karet, sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Luas
area perkebunan karet tahun 2005 tercatat mencapai lebih dari 3.2 juta ha yang

Universitas Sriwijaya

tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Diantaranya 85% merupakan perkebunan karet


milik rakyat, dan hanya 7% perkebunan besar negara serta 8% perkebunan besar
milik swasta. Produksi karet secara nasional pada tahun 2005 mencapai 2.2 juta ton.
Jumlah ini masih akan bisa ditingkatkan lagi dengan melakukan peremajaan dan
memberdayakan lahan-lahan pertanian milik petani serta lahan kosong/tidak
produktif yang sesuai untuk perkebunan karet. Dengan memperhatikan adanya
1
peningkatan permintaan dunia terhadap komoditi karet ini dimasa yang akan datang,
maka upaya untuk meningkatakan pendapatan petani melalui perluasan tanaman karet
dan peremajaaan kebun bisa merupakan langkah yang efektif untuk dilaksanakan.
Guna mendukung hal ini, perlu diadakan bantuan yang bisa memberikan modal bagi
petani atau perkebunan swasta untuk membiayai pembangunan kebun karet dan
pemeliharaan tanaman secara intensif.
1.2 Tujuan
Untuk mengetahui teknik budidaya dan pengelolaan tanaman karet dari proses
persiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan, panen dan pasca panen.

Universitas Sriwijaya

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sistematika Karet
Menurut Nazarrudin dan Paimin (2006) dalam dunia tumbuhan karet
tersusun dalam sistematika sebagai berikut.
Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledone

Ordo

: Euphorbiales

Famili

: Euphorbiaceae

Genus

: Hevea

Spesies

: Hevea brasiliensis

2.2 Morfologi Tanaman Karet


Tanaman karet (Hevea brasiliensis) merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan
berbatang cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15 25 m. Batang tanaman
biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi di atas. Di beberapa
kebun karet ada kecondongan arah tumbuh tanamannya agak miring ke arah utara.
Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks (Nazarrudin
dan Paimin, 2006). Sedangkan menurut Setiawan (2000) tanaman karet merupakan
pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Pohon dewasa dapat mencapai
tinggi antara 15 30 m. Perakarannya cukup kuat serta akar tunggangnya dalam
dengan akar cabang yang kokoh. Pohonnya tumbuh lurus dan memiliki percabangan
yang tinggi diatas.
2.3. Syarat Tumbuh
Sesuai dengan habitat aslinya di Amerika Selatan, terutama di Brazil yang

Universitas Sriwijaya

beriklim tropis, maka karet juga cocok ditanam di daerah daerah tropis lainnya.
Daerah tropis yang baik ditanami karet mencakup luasan antara 15o Lintang Utara
sampai 10o Lintang Selatan. Walaupun daerah itu panas, sebaiknya tetap menyimpan
kelembapan yang cukup. Suhu harian yang diinginkan tanaman karet rata rata 25
30o C. Apabila dalam jangka waktu panjang suhu harian rata rata kurang dari 20o C,
maka tanaman karet tidak cocok di tanam di daerah tersebut.
Pada daerah yang suhunya terlalu tinggi, pertumbuhan tanaman karet tidak
optimal (Setiawan, 2000). Tanaman karet dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian
antara 1 600 m dari permukaan laut. Curah hujan yang cukup tinggi antara 2000
2500 mm setahun. Akan lebih baik lagi apabila curah hujan itu merata sepanjang
tahun (Nazarrudin dan Paimin, 2006). Sinar matahari yang cukup melimpah di negara
negara tropis merupakan syarat lain yang diinginkan tanaman karet. Dalam sehari
tanaman karet membutuhkan sinar matahari dengan intensitas yang cukup paling
tidak selama 5 7 jam (Setiawan, 2000). Tanah tanah yang kurang subur seperti
podsolik merah kuning yang terhampar luas di Indonesia dengan bantuan pemupukan
dan pengelolaan yang baik bisa dikembangkan menjadi perkebunan karet dengan
hasil yang memuaskan. Selain jenis podsolik merah kuning, tanah latosol dan alluvial
juga bisa dikembangkan untuk penanaman karet. Tanah yang derajat keasamannya
mendekati normal cocok untuk ditanami karet. Derajat keasaman yang paling cocok
adalah 5 6. Batas toleransi pH tanah bagi pohon karet adalah 4 8. Tanah yang
agak masam masih lebih baik dari pada tanah yang basa. Topografi tanah sedikit
banyak juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman karet. Akan lebih baik apabila
tanah yang dijadikan tempat tumbuhnya pohon karet datar dan tidak berbukit bukit
(Nazarrudin dan Paimin, 2006)
2.4. Persiapan Lahan
Lahan tempat tumbuh tanaman karet harus bersih dari sisasisa tumbuhan hasil tebas, ngimas, tumbang sehingga jadwal
pembukaan

lahan

harus

disesuaikan

dengan

jadwal

penanaman. Dalam mempersiapkan lahan pertanaman karet juga

Universitas Sriwijaya

diperlukan pelaksanaan berbagai kegiatan yang secara sistematis


dapat menjamin kualitas lahan yang sesuai dengan persyaratan.
Beberapa diantara langkah tersebut antara lain :
-

pembabatan semak belukar,

penebangan dan penumbangan pohon

merencek dan pemangkasan

pendongkelan akar kayu

penumpukan dan pembakaran serta pembersihan

membajak tanah
Pada lahan yang telah selesai tebas tebang dan lahan lain

yang mempunyai vegetasi alang-alang, dilakukan pemberantasan


alang-alang dengan menggunakan bahan kimia antara lain Round
up, Scoup, Dowpon atau Dalapon. Kegiatan ini kemudian diikuti
dengan pemberantasan gulma lainnya, baik secara kimia maupun
secara mekanis. Pengolahan lahan untuk pertanaman karet dapat
dilaksanakan
membuat

dengan

larikan

sistem

antara

minimum

barisan

satu

tillage,
meter

yakni

dengan

dengan

cara

mencangkul selebar 20 cm. Namun demikian pengolahan tanah


secara mekanis untuk lahan tertentu dapat dipertimbangkan
dengan tetap menjaga kelestarian dan kesuburan tanah.
Seiring dengan pembukaan lahan ini dilakukan penataan
lahan dalam blok-blok, penataan jalan-jalan kebun, dan penataan
saluran drainase dalam perkebunan. Penataan blok-blok. Lahan
kebun dipetak-petak menurut satuan terkecil dan ditata ke dalam
blok-blok berukuran 10 -20 ha, setiap beberapa blok disatukan
menjadi satu hamparan yang mempunyai waktu tanam yang relatif
sama. Jaringan jalan harus ditata dan dilaksanakan pada waktu
pembangunan tanaman baru dan dikaitkan dengan penataan lahan
ke dalam blok-blok tanaman. Pembangunan jalan di areal datar dan

Universitas Sriwijaya

berbukit dengan pedoman dapat menjangkau setiap areal terkecil,


dengan jarak pikul maksimal sejauh 200 m. Sedapatkan mungkin
seluruh jaringan ditumpukkan/ disambungkan, sehingga secara
keseluruhan merupakan suatu pola jaringan jalan yang efektif.
Lebar jalan disesuaikan dengan jenis/kelas jalan dan alat angkut
yang akan digunakan. Setelah pemancangan jarak tanam selesai,
maka pembuatan dan penataan saluran drainase (field drain)
dilaksanakan. Luas penampang disesuaikan dengan curah hujan
pada

satuan

waktu

tertentu,

dan

mempertimbangkan

faktor

peresapan dan penguapan. Seluruh kelebihan air pada field drain


dialirkan pada parit-parit penampungan untuk selanjutnya dialirkan
ke saluran pembuangan (outlet drain).
Untuk mencegah terjadinya erosi dapat dilakukan dengan
penanaman tanaman penutup tanah, selain itutanaman penutup
tanah juga dapat melindungi tanah dari sinar matahari langsung,
menekan pertumbuhan gulma. Tanaman penutup tanah juga
mempercepat

matang

sadap

dan

mempertinggi

hasil

lateks.Tanaman penutup tanah dapat dipilih dari 3 ( tiga ) jenis


tanaman, yaitu tanaman merayap, tanaman semak dan tanaman
pohon. Tanaman merayap terdiri atas rumput dan jenis leguminosa
seperti

Pueraria

javanica,

Centrosema

pubescens

dan

Calopogonium mucunoides. Tanaman merayap, tanaman semak


yang biasa digunakan adalah Crotalaria usara moensis, C juncea, C
anagyrroides,

Tephorosia

Candida

dan

T.

Vogelili

sedangkan

tanaman pohon yang digunakan sebagai tanaman penutup adalah


petai cina namun sangatlah jarang kecuali pada daerah daerah
yang

sering

terjadi

angin

kencang

dan

serangan

babi

hutan. Tanaman penutup tanah adalah tumbuhan atau tanaman


yang khusus ditanam untuk melindungi tanah dari ancaman

Universitas Sriwijaya

kerusakan oleh erosi dan / atau untuk memperbaiki sifat kimia dan
sifat fisik tanah.
Tanaman

penutup

tanah

berperan:

(1)

menahan

atau

mengurangi daya perusak butir-butir hujan yang jatuh dan aliran air
di atas permukaan tanah, (2) menambah bahan organik tanah
melalui batang, ranting dan daun mati yang jatuh, dan (3)
melakukan transpirasi, yang mengurangi kandungan air tanah.
Peranan

tanaman

penutup

tanah

tersebut

menyebabkan

berkurangnya kekuatan dispersi air hujan, mengurangi jumlah serta


kecepatan aliran permukaan dan memperbesar infiltrasi air ke
dalam tanah, sehingga mengurangi erosi. Tumbuhan atau tanaman
yang sesuai untuk digunakan sebagai penutup tanah dan digunakan
dalam sistem pergiliran tanaman harus memenuhi syarat-syarat
(Osche et al, 1961): (a) mudah diperbanyak, sebaiknya dengan biji,
(b)

mempunyai

sistem

perakaran

yang

tidak

menimbulkan

kompetisi berat bagi tanaman pokok, tetapi mempunyai sifat


pengikat

tanah

yang

baik

dan

tidak

mensyaratkan

tingkat

kesuburan tanah yang tinggi, (c) tumbuh cepat dan banyak


menghasilkan daun, (d) toleransi terhadap pemangkasan, (e)
resisten terhadap gulma, penyakit dan kekeringan, (f) mampu
menekan pertumbuhan gulma, (g) mudah diberantas jika tanah
akan digunakan untuk penanaman tanaman semusim atau tanaman
pokok lainnya, (h) sesuai dengan kegunaan untuk reklamasi tanah,
dan (i) tidak mempunyai sifat-sifat yang tidak menyenangkan
seperti duri dan sulur-sulur yang membelit. Tanaman penutup tanah
atau tanaman pembantu dapat digolongkan dalam:
- Tanaman penutup tanah rendah, tanaman penutup tanah rendah terdiri
dari jenis rumput-rumputan dan tumbuhan merambat atau menjalar.
- Tanaman Penutup Tanah sedang (perdu).

Universitas Sriwijaya

- Tanaman penutup tanah tinggi atau tanaman pelindung.


Pengajiran
Pada dasarnya pemancangan air adalah untuk menerai tempat lubang tanaman
dengan ketentuan jarak tanaman sebagai berikut :
a) Pada areal lahan yang relatif datar / landai (kemiringan antara 0% - 8%) jarak
tanam adalah 7 m x 3 m (= 476 lubang/hektar) berbentuk barisan lurus mengikuti
arah Timur - Barat berjarak 7 m dan arah Utara - Selatan berjarak 3 m
b) Pada areal lahan bergelombang atau berbukit (kemiringan 8% - 15%) jarak tanam
8 m x 2, 5 m (=500 lubang/ha) pada teras-teras yang diatur bersambung setiap
1,25 m (penanaman secara kontur). Bahan ajir dapat menggunakan potongan
bambu tipis dengan ukuran 20 cm - 30 cm. Pada setiap titik pemancangan ajir
tersebut merupakan tempat penggalian lubang untuk tanaman.
Pembuatan Lubang Tanam
Ukuran lubang untuk tanaman dibuat 60 cm x 60 cm bagian atas , dan 40 cm
x 40 cm bagian dasar dengan kedalaman 60 cm. Pada waktu melubang, tanah bagian
atas (top soil) diletakkan di sebelah kiri dan tanah bagian bawah (sub soil) diletakkan
di sebelah kanan. Lubang tanaman dibiarkan selama 1 bulan sebelum bibit karet
ditanam. Lahan yang akan ditanami tanaman karet harus disiapkan terlebih dahulu
dengan membuat lubang tanam berjarak antar lubang 7 x 3 meter. Pembuatan lubang
tanam dimulai dengan mengajir lubang tanam sesuai jarak yang dianjurkan. Jika
tanah yang disiapkan bentuk teras kontur jarak antar teras 7 meter ajir yang dipancang
pada barisan berjarak 3 meter. Sedangkan pada tanah datar yang tanpa teras
pemancangan dilakukan sesuai system penanamannya dengan jarak 7 meter kearah
utara selatan dan 3 meter kearah timur barat. Perlu diperhatikan pada tanaman karet
yang ditanam pada lokasi kemiringan tanah dibawah 10 %. harus menggunakan
larikan dan pada tanah yang kemiringannya lebih digunakan teras
2.5. Pembibitan

Universitas Sriwijaya

Pembibitan merupakan tempat penyiapan dan penyediaan bahan tanam (bibit),


baik yang berasal dari hasil perbanyakan generatif (benih) maupun vegetatif (klonal).
Ada beberapa tahapan dalam kegiatan pembibitan karet, yaitu mulai dari pengadaan
biji, persemaian biji, persemaian bibit rootstock, okulasi, pembuatan bibit polibag dan
penanaman. Pembibitan sangat diperlukan untuk penyiapan dan penyediaan bibit
tanaman perkebunan untuk memenuhi kebutuhan areal pertanaman dalam skala luas
dan hanya satu kali dalam setiap satu siklus umur ekonomis tanaman (20 25 tahun).
2.5.1. Seleksi Biji
Benih yang digunakan berupa biji diperoleh dari kebun sendiri dan berasal
dari tanaman yang berumur lebih dari 10 tahun. Benih diperoleh pada saat musim biji
yang biasanya terjadi pada bulan Januari. Benih yang telah diperoleh harus diseleksi
untuk mendapat benih berkualitas baik. Ada dua cara seleksi benih yang biasa
digunakan adalah metode pantul, dimana biji satu persatu dijatuhkan di atas alas yang
keras,

misal

lantai,

lembaran

kayu.

Biji

yang

baik

adalah

biji

yang

memantul/melenting, sementara biji yang afkir adalah biji yang menggulir ke


samping dengan bunyi hampa.

2.5.2. Persemaian Biji


Tujuan persemaian biji adalah untuk memperoleh bibit yang pertumbuhannya
seragam dengan cara seleksi dan mengelompokkan bibit yang tumbuh cepat dan baik
serta memisahkan bibit yang tumbuh lambat dan kurang baik. Sebelum dilakukan
persemaian, media persemaian (kimbed) harus dipersiapkan terlebih dahulu. Ada
beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan kimbed, yaitu :
1. Buat bedengan dengan ukuran lebar 1,2 m, tinggi 0,2 m dan panjang disesuaikan
dengan kebutuhan.
2. Bedengan dibuat dengan mengarah timur barat.
3. Cangkul tanah di dalam ukuran bedengan tersebut sedalam 40-60 cm, bersihkan
dari sisa-sisa akar dan kotoran lainnya.

Universitas Sriwijaya

10

4. Permukaan tanah setelah dicangkul halus, dilapisi pasir halus setebal 5-10 cm.
5. Bedengan dibuat diberi atap/naungan miring arah utara selatan dengan tinggi di
sebelah utara 1,5 m dan sebelah selatan 1,2 m.
6. Naungan dibuat dari rumbia, daun kelapa atau plastik.
Setelah kimbed dapat digunakan, persemaian benih (pendederan) dapat segera
dilaksanakan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan selama persemaian biji, yaitu
:
1. Jarak antar barisan biji 5 cm dan jarak antar biji dalam barisan 2 cm. Bila jumlah
biji yang dikecambahkan lebih banyak, penanaman biji pada kimbed dapat lebih
rapat.
2. Letakkan biji dengan bagian perut yang lebih rata mengarah ke bawah di atas
permukaan pasir dan tekan sampai 3/4bagian biji terbenam.
3. Arah mata keluarnya lembaga mengarah ke satu arah.
Pemeliharaan kimbed dilakukan dengan melakukan penyiraman pagi dan sore.
Penyiraman pada pagi hari dilakukan pada pukul 06.00 - 09.00 WIB, sementara
penyiraman pada sore hari dilakukan pada pukul 15.00 - 18.00 WIB. Biji akan
tumbuh menjadi kecambah setelah 10-14 hari. Jika biji tumbuh lebih dari 14 hari
maka biji tersebut diafkir. Pemindahan ke lokasi pembibitan untuk batang bawah
sewaktu kecambah masih pendek dan sebelum membentuk daun (fase pancing).
Kecambah yang telah dicabut dari kimbed harus ditanam di pembibitan pada hari itu
juga.
2.5.3. Persemaian Bibit (Main Nursery)
Persemaian bibit dilakukan adalah sebagai persemaian tempat pemeliharaan
bibit sebagai batang bawah yang akan diokulasi. Bibit dipelihara untuk beberapa
bulan sampai tiba saatnya untuk siap diokulasi. Sebelum pelaksanaan penanaman
kecambah yang akan dijadikan bibit batang bawah, lahan yang akan digunakan
sebagai areal pembibitan harus memenuhi beberapa syarat, yaitu:
1. Datar atau agak miring sedikit.
2. Dekat sumber air dan cukup subur.

Universitas Sriwijaya

11

3. Dekat areal rencana tanam untuk memudahkan pengangkutan.


4. Bebas sisa-sisa akar dan gulma.
5. Bebas penyakit akar.
6. Drainase baik.
7. Mudah untuk melakukan pengontrolan.
Setelah memperoleh lahan yang sesuai, perlu dilakukan beberapa persiapan
lahan, antara lain :
1. Pengolahan lahan dengan menggunakan menggunakan cangkul kasar dengan
kedalaman 60-70 cm dan berishkan lahan dari sisa-sisa akar, gulma dan kotoran
lainnya.
2. Pengolahan lahan dengan cangkul halus untuk meratakan tanah dan membentuk
petak-petak.
3. Pembuatan terasan jika pembibitan dilakukan pada lahan miring
4. Pembuatan parit-parit untuk mengalirkan kelebihan air.
5. Pembuatan jalan setapak untuk keperluan kontrol dan pekerja.
Media tanah yang telah diratakan permukaannya dengan cangkul diberi tanda
lubang/jarak tanam dari ajir bambu ukuran pensil. Benih yang ditanam berada dalam
fase pancing dan harus dijaga akar tunggang dan bakal daun dari kerusakan. Jarak
tanam yang digunakan adalah 0 x 40 cm untuk okulasi coklat (brown budding)
Kegiatan pemeliharaan benih di areal pembibitan batang bawah sebagai
berikut :
1. Penyiraman dilakukan pada awal bibit ditanam selama + 1 minggu, pemulshingan
dilakukan juga pada bibit yang baru ditanam, karena bibit yang baru ditanam
sangat rentan terhadap sinar matahari yang terlalu terik.
2. Penyulaman bibit rootstock dilakukan saat awal awal penanaman, penyulaman
dilakukan pada bibit yang mati, tumbuh tidak normal, hal ini dilakukan agar bibit
rootstock yang ditanam dapat memenuhi kebutuhan bibit untuk okulasi.
3. Penyiangan dilakukan dengan cara manual yaitu menggunakan sabit, biasanya
penyiangan dilakukan sebelum dilakukan pemupukan, hal ini bertujuan untuk
mengoptimalkan unsur hara dari pemupukan pada bibit.

Universitas Sriwijaya

12

4. Pengendalian hama penyakit dilakukan dengan cara pemberian fungisida dan


belerang. Untuk pengendalian penyakit akar dilakukan dengan mengisolasi
tanaman yang terserang agar tidak menular pada tanaman lainnya dengan cara
mencabut bibit dengan akar akarnya dan memberi belerang pada lubang bekas
bibit.
5. Pemupukan bibit rootstock di Perkebunan Tugusari dilakukan 3 bulan sekali
menggunakan pupuk urea 8 gram, KCl 2 gram dan TSP 4 gram dosis per bibit.
2.5.4. Okulasi
Okulasi merupakan cara pembiakan vegetatif dengan tujuan meningkatkan
sifat tanaman agar lebih baik, sehingga produktivitas menjadi lebih tinggi dan lebih
tahan terhadap hama dan penyakit. Okulasi dilakukan di Perkebunan Bayah
adalah Brown Budding, yaitu okulasi pada batang yang sudah berwarna coklat dan
berusia 9 12 bulan. Untuk mendapatkan klon yang baik maka dalam pemilihan
batang bawah dan entres harus memenuhi beberapa kriteria. Kriteria batang bawah
yang baik antara lain : 1) berusia 9 12 bulan, 2) memiliki lingkaran batang 4 cm,
dan 3) daun tua dan tidak gundul. Kriteria entres yang baik antara lain, 1) entres
berasal dari tanaman yang jelas klonnya, 2) tidak terserang hama dan penyakit, 3)
pertumbuhan tanaman lurus ke atas, 4) mempunyai banyak mata tunas, 5) berdaun
banyak dan agak tua, dan 6) kulit berwarna coklat, mudah dikelupas dan tidak mudah
patah.
Berikut langkah-langkah okulasi :
1. Membuat keretan/jendela pada batang bawah.
2. Membersihkan getah dari keretan/jendela
3. Keretan/jendela dibuka dan mata entres dimasukkan
4. Keretan/jendela ditutup dan diikat dengan menggunakan plastik. Pengikatan
keretan/jendela tidak boleh longgar karena mata entres dapat bergeser dan mata
entres dapat membusuk.
Keberhasilan okulasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
1. Sifat spesifik dan umur batang bawah dan entres

Universitas Sriwijaya

13

2. Waktu pelaksanaan
3. Kebersihan
4. Teknik Okulasi
Kontrol okulasi dilakukan 2-3 minggu setelah okulasi dan pembalut dapat
dibuka. Pemeriksaan dilakukan dengan menggores sedikit jendela okulasi, bila
berwarna hijau segar, maka okulasi tersebut dinyatakan berhasil. Setelah okulasi
dibuka, pemotongan batang bawah harus dilakukan dengan tujuan pangalihan
transport unsur hara dari cabang atas ke mata tunas dan digunakan untuk
pertumbuhan mata tunas. Pemotongan dilakukan dengan arah potongan miring 40
dengan bagian yang lebih tinggi terletak di atas mata okulasi. Pembongkaran tanaman
induk dilakukan dilakukan 10 hari setelah pemotongan atau ketika mata tunas mulai
tumbuh dengan ukuran 0.3 0.5 cm. pembongkaran dilakukan dengan dicangkul
sampai terlihat akar tunggang dan dilakukan pemotongan dan pencabutan.
Selanjutnya benih berupa bibit hasil okulasi dapat segera ditanam dalam media dalam
polibag.
2.5.5. Bibit Polibag
Pemindahan bibit hasil okulasi ke polybag bertujuan untuk memudahkan saat
bibit akan ditanam dilahan, teknisnya dilakukan pembongkaran dengan cangkul pada
bibit okulasian. Akar tunggang dipotong dan disakan 20 25 cm kemudian dioles
rootone yang merupakan zat perangsang tumbuh akar. Bibit ditanam pada polybag
berukuran 40 x 25 cm dengan media tanah dan pupuk kandang perbandingan 2 : 1,
bagian bawah polybag diberi lubang lubang yang berfungsi mengalirkan kelebihan
air pada polybag. Bibit ditata dengan posisi mata tunas saling berlawanan arah
sehingga nantinya saat tunas sudah besar memiliki ruang tumbuh dan tidak
mengganggu satu sama lain. Bibit omti dalam polybag berumur + 5 bulan dan
berpayung dua siap untuk ditanam
Berikut kegiatan pemeliharaan benih polibag :
1. Penyiraman, penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi dan sore.

Universitas Sriwijaya

14

2. Penyiangan, dilakukan untuk membersihkan polibag dari gulma dengan cara


manual.
3. Pemupukan, jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk majemuk dengan dosis 5
gram / polybag.
4. Pengendalian hama penyakit, penyakit yang umum menyerang benih dalam
polibag adalah penyakit mealdow, pengendalian biasanya dilakukan dengan
pemberian belerang.
5. Pewiwilan, kegiatan ini bertujuan untuk memacu pertumbuhan tunas utama
dengan cara membuang tunas liar/tunas palsu.
2.6. Penanaman
Penanaman dilakukan dengan cara memasukkan bibit ketengah2 lubang
kemudian ditimbun dengan tanah bawah (subsoil) dan selanjutnya tanah bagian atas
(topsoil).bila menggunakan bahan tanam stum mata tidur, mini dan tinggi pemadatan
tanah dilakukan dengan cara bertahap sehingga timbunan menjadi padat dan merata,
sehingga apabila digoyang tidak mudah lepas ataupun tercabut. Dan jika bahan tanam
yang digunakan bibit dalam polybag pemadatan disekeliling tanah cukup dilakukan
dengan tangan. Penginjakan dengan menggunakan kaki disekeliling tanaman tidak
dianjurkan karena akan menyebabkan bergesernya kolom tanah dan berakibat
kematian tanaman. Dua minggu setelah penanaman, tanah disekeliling tanaman
biasanya mencekung hal ini perlu dilakukan penambahan tanah agar rata dengan
permukaan tanah disekelilingnya.
2.7. Pemeliharaan
Metode pemupukan pada tanaman karet diperlakukan dengan dua cara, cara
yang pertama pemupukan terhadap tanaman belum menghasilkan (TBM), dan
pemupukan tanaman karet yang menghasilkan (TM). Pada pemupukan tanaman karet
belum menghasilkan berfungsi untuk mempercepat tanaman sampai matang sadap.
Sedangkan pemupukan pada tanaman karet menghasilkan didasarkan pada analisis
tanah dan daun yang dapat dilakukan 1 sampai 2 tahun sekali. Hal ini dilakukan agar

Universitas Sriwijaya

15

pemupukan tersebut dilakukan agar kualitas lateks yang dihasilkan dari tanaman karet
tetap terjaga. Program pemupukan secara berkelanjutan pada tanaman karet harus
dilakukan dengan dosis yang seimbang dua kali pemberian dalam setahun. Jadwal
pemupukan pada semester 1 yakni dimulai pada bulan januari hingga Februari, pada
semester 2 dimulai pada bulan Juli hingga Agustus.
Tanaman karet tentunya membutuhkan beberapa unsur hara yang sangat
penting untuk pertumbuhan batang karet agar dapat subur dan cepat besar serta cepat
produksi. Adapun mengenai hal tersebut, pupuk yang sering digunakan untuk
tanaman karet yaitu pupuk Urea, SP-36, dan KCl. Dalam pemupukan tanaman karet
ada dua hal yang perlu di perhatikan dalam program pemupukan tanaman karet. Yang
pertama yaitu pemupukan yang diperlakukan terhadap tanaman karet belum
menghasilkan (TBM) dan yang kedua pemupukan terhadap tanaman karet yang
menghasilkan (TM).
2.7.1. Pemupukan pada tanaman belum menghasilkan (TBM)
Pemupukan pada TBM berfungsi untuk mempercepat tanaman mencapai
matang sadap. Pada umumnya unsur yang diberikan adalah N, P, K dan Mg dengan
dosis sesuai anjuran pada daerah setempat. Pupuk ini diberikan dua kali dalam
setahun yaitu pada awal dan akhir musim hujan. Jika dirasa perlu, penggunaan pupuk
daun juga dapat dilaksanakan. Dosis pupuk untuk tanaman belum menghasilkan dapat
dilihat tabel berikut:

Tabel 2.7.1.1 Rekomendasi Pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan


Umur
Urea
Frekuensi
SP 36
KCL
Tanaman
(g/pohon/th)
Pemupukan
Pupuk dasar
125
1
250
150
100
2 kali/th
2
250
250
200
2 kali/th
3
250
250
200
2 kali/th
4
300
250
250
2 kali/th
5
300
250
250
2k
Pemeliharaan pada tanaman karet juga meliputi penyulaman, pembuangan tunas
palsu, pembuangan tunas cabang, dan perangsangan percabangan.

Universitas Sriwijaya

16

2.7.1.2 Penyulaman
Bibit yang baru ditanam harus diperiksa setiap dua minggu sekali selama tiga
bulan pertama setelah penanaman. Pemeriksaan ini penting khususnya bila bahan
tanam yang digunakan adalah stum matta tidur. Bibit yang mati harus segera diganti
atau disulam dengan bibit yang baru agar populasi tanaman dapat dipertahankan dan
seragam.
Penyulaman sebaiknya dilakukan dengan bahan tanam yang mempunya umur
relatif sama atau lebih tua dari tanaman yang disulam. Untuk memperoleh bahan
tanam yang seumur, haruslah disediakan bibit terlebih dahulu bahan tanam dalam
bentuk polibag dan disulam pada tahun yang sama. Jika penyulaman masih harus
dilakukan pada tahun ke-dua atau tahun ke-tiga penyulaman harus dilakukan dengan
bahan tanam berupa stum mata tinggi.
2.7.1.3. Pembuangan Tunas Palsu
Tunas palsu pada tanaman karet adalah tunas yang tumbuh bukan dari mata okulasi.
Tunas ini banyak dijumpai pada bibit stum mata tidur, sedangkan pada bibit stum
mini atau bibit polibag, tunas palsu relatif jarang ditemui.
Tunas palsu dapat menghambat tumbuhnya mata okulasi bahkan dapat menyebabkan
mata okulasi tidak tumbuh, karena pasokan fotosintat yang dihasilkan diserap
seluruhnya untuk pertumbuhan tunas palsu. Oleh karena itu, tunas palsu harus
dibuang agar pertumbuhan dan populasi tanaman tetap optimal. Pembuangan tunas
sebaiknya dilakukan ketika tunas tersebut belum mengayu atau dilakukan pada awalawal pertumbuhan bibit
2.7.2. Pemupukan pada Tanaman Menghasilkan (TM)
Pemupukan pada tanaman menghasilkan didasarkan pada analisa tanah dan
daun yang dapat dilakukan 1 sampai 2 tahun sekali. Oleh karena itu untuk masingmasing daerah dosis pupuk yang diberikan sangat bervariasi. Pupuk diberikan dengan
cara disebar disekitar daerah perakaran tanaman lalu dicampur dengan tanah.

Universitas Sriwijaya

17

Pemupukan dilakukan dua kali dalam setahun yaitu pada awal dan akhir musim
hujan. Rekomendasi umum untuk pemupukan tanaman menghasilkan dapat dilihat
tabel seperti dibawah ini:
Tabel 2.7.2 Rekomendasi Pemupukan Tanaman Menghasilkan
Urea
Umur
(g/pohon/t SP 36
KCL
Frekuensi Pemupukan
Tanaman
h)
6-15
2 kali/th
16-25
350
260
300
2 kali/th
>25 sampai 2 300
190
250
2 kali/th
tahun sebelum 200
150
peremajaan
Sebelum melakukan pemupukan pada tanaman karet yang telah menghasilkan
yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah melakukan pembersihan kebun. Kebun
karet yang baik adalah kebun yang bebas dari tanaman pengganggu agar tidak terjadi
persaingan kompetitif dalam penyerapan unsur hara dalam tanah. Apabila tanaman
pokok terganggu dalam pencarian makanan atau dalam penyerapan unsur hara
tanaman, maka proses reproduksi terganggu sehingga hasil produksi getah akan
berkurang. Pupuk Urea mengandung unsur hara N (nitrogen) 46% dalam setiap berat
100 gram, fungsi dari pupuk urea ini adalah membuat daun karet menjadi hijau
mengkilat serta meningkatkan pertumbuhan batang agar menjadi besar serta cabang
pohon karet dan juga peningkatan jumlah hasil sadap tanaman karet. Pupuk SP36
merupakan sumberdaya posfor untuk tanaman karet serta mudah larut dalam air,
fungsi dari pupuk ini adalah mempercepat pertumbuhan akar agar pohon karet tahan
terhadap kekeringan di musim kemarau, meningkatkan hasil produksi getah karet,
menambah ketahanan terhadap hama penyakit tanaman karet.
Pada pupuk KCl memiliki fungsi dalam mempercepat proses unsur
metabolisme unsur nitrogen dan zat-zat unsur hara lainnya pada tanaman karet,
menambah daya tahan batang karet agar tidak roboh atau tumbang. Selain itu,
sebelum melakukan pemupukan perlu diperhatikan pula keadaan cuaca, karena jika

Universitas Sriwijaya

18

melakukan pemupukan di saat hujan turun maka akan terjadi pencuncian unsur hara,
sehingga unsur hara yang di serap oleh akar tanaman akan diperoleh sedikit, dan juga
kadar dosis untuk pemupukan tanaman per hektar perlu diperhatikan agar dapat
mengurangi perkembangbiakan organisme pengganggu tanaman (OPT), serta
memahami sifat fisik, kimia dan biologi tanah atau dengan kata lain tingkat
kesburannya, agar pertumbuhan tanaman karet bisa memberikan hasil yang produktif.
2.8.Panen
2.8.1.Pemberian Stimulan
Untuk mengoptimalkan penggunaan tenaga kerja, beberapa dekade ini telah
lazim digunakan bahanstimulan untuk memperpanjang lama aliran lateks atau
meningkatkan produksi harian. Stimulan yang biasa digunakan adalah etepon
(Chloro-ethyl phosphonic acid) . Di pasaran banyak dikenal berbagai produk stimulan
seperti Ethrel, Islin. Flo-tek, Green Omega, dan lain-lain. Bahan ini akan terhidrolisis
dan mengeluarkan hormon berupa gas etilen (C 2=H4). Gas etilen merupakan bahan
aktif yang dapat mendorong stabilitas lateks untuk mengalir lebih lama (misalnya dari
3 - 4 jam menjadi 9 -10 jam), sehingga produksi lateks harian dapat meningkat
khususnya pada klon yang responsif. Faktor utama dalam aplikasi stimulan adalah
konsentrasi bahan, dosis dan aplikasinya. Adapun aplikasi stimulan tergantung pada
caranya, dosisnya dan frekuensinya.
Notasi aplikasi stimulan:
ET2.5% : Etepon (Ethrel) konsentrasi 2,5%
ET5.0% : Etepon (Ethrel) konsentrasi 5,0%
Ga : Cara membuang skrep dan dioles pada alur sadap (groove) dengan pelarut air
Ba : Cara dikerok dan dioles pada kulit / bidang sadap (bark) dengan pelarut minyak
sawit mentah (CPO)
Pa : Cara dioles pada panel sadap dengan pelarut air
9/y(m) : Pemberian 9 kali dalam setahun, diaplikasi sebulan sekali
18/y(2w) : Pemberian 18 kali dalam setahun, diaplikasi sebulan dua kali
Dalam pelaksanaan aplikasi stimulan perlu diperhatikan beberapa hal berikut :

Universitas Sriwijaya

19

n Maks. 9 bulan/tahun, gugur daun dihentikan


n Pada frekuensi rendah (d/3, d/4)
n Tanaman tidak sakit
n Tanaman dipupuk
Konsentrasi stimulan yang dianjurkan adalah 2,5%, bila di pasaran tidak terdapat
konsentrasi 2,5%, maka perlu dilakukan pengenceran dengan persamaan sebagai
berikut :
v1 x m1 = v2 x m2
V1 = Volume sebelum diencerkan
M1= Konsentrasi sebelum diencerkan
v2 = Konsentrasi sesudah
m2 = Konsentrasi sesudah
2.8.2. Sistem Penyadapan
Adapun teknik penderesan/penyadapan karet meliputi:
2.8.2.1.

Penentuan Matang Sadap


Matang sadap Tanaman karet akan siap apabila sudah matang sadap pohon,

artinya tanaman karet telah sanggup disadap untuk dapat diambil lateksnya tanpa
menyebabkan gangguan yang berarti terhadap pertumbuhan dan kesehatannya.
a.

Umur Tanaman

Dalam keadaan pertumbuhan normal, tanaman karet akan siap disadap pada umur 4
6 tahun. Namun demikian seringkali dijumpai tanaman belum siap disadap walau
umurnya sudah lebih dari 6 tahun. Hal ini terjadi akibat kondisi lingkungan dan
pemeliharaan

yang

kurang

mendukung

pertumbuhan

tanaman.

Sebenarnya

Penyadapan karet dapat dilakukan pada usia kurang dari 5 tahun dengan syarat
kondisi lingkungan dan pemeliharaan dilakukan dengan sangat baik sehingga
pertumbuhan tanaman akan lebih cepat.
b. Pengukuran Lilit Batang
Tanaman karet dikatakan matang sadap apabila lilit batang sudah mencapai 43 cm
atau lebih. Pengukuran lilit batang untuk menentukan matang sadap mulai dilakukan

Universitas Sriwijaya

20

pada waktu tanaman berumur 4 tahun. Lilit batang diukur pada ketinggian batang 100
cm dari pertautan mata okulasi.
c.

Matang Sadap Kebun

Kebun dikatakan matang sadap kebun apabila jumlah tanaman yang sudah matang
sadap pohon sudah mencapi 60% atau lebih. Pada kebun yang terpelihara dengan
baik, jumlah tanaman yang matang sadap pohon biasanya telah mencapai 60-70%
pada umur 4-5 tahun.
2.8.2.2 Persiapan Pembukaan Bidang Sadap
Sebelum melakukan pembukaan bidang sadap dilakukan Penggambaran bidang sadap
pada kebun yang sudah mencapai matang sadap. Kriteria yang ditetapkan dalam
penggambaran bidang sadap terdiri dari tinggi bukaan sadap, arah dan sudut
kemiringan irisan sadap, panjang irisan sadap, dan letak bidang sadap.
a.

Tinggi Bukaan Sadap

Tinggi bukaan sadap adalah 130 cm diatas pertautan okulasi. Ketinggian ini berbeda
dengan ketinggian pengukuran lilit batang untuk penentuan matang sadap.
b. Arah dan Sudut Kemiringan Irisan Sadap
Arah dan sudut kemiringan irisan sadap diharapkan dapat memotong pembuluh lateks
sebanyak mungkin agar lateks yang keluar maksimal. Posisi pembuluh lateks pada
umumnya tidak sejajar dengan batang tanaman tetapi agak miring dari kanan atas
kekiri bawah membentuk sudut 3,7 derajat dengan bidang tegak. Agar pembuluh yang
terpotong maksimal jumlahnya, arah irisan sadap harus dari kiri atas kekanan bawah
tegak lurus terhadap pembulu lateks. Sudut kemiringan irisan sadap berpengaruh
terhadap produksi. Sudut kemiringan yang paling baik berkisar antar 30 40 derajat
terhadap bidang datar untuk bidang sadap bawah dan 45 derajat pada bidang sadap
atas. Sudut kemiringan sadap juga berpengarug pada aliran lateks kearah mangkuk
sadap.
c.

Panjang Irisan Sadap

Universitas Sriwijaya

21

Panjang irisan sadap sangat berpengaruh terhadap produksi dan pertumbuhan


tanaman. Panjang irisan sadap yang dianjurkan untuk karet rakyat adalah S ( irisan
miring sepanjang spiral )
d. Penentuan Letak Bidang Sadap
Bidang sadap harus diletakkan pada arah yang sama dengan arah pergerakan
penyadap waktu menyadap. Jadi bidang sadap diletakkan pada arah timur-barat
( pada jarak antar tanaman yang pendek )
e.

Pemasangan Talang Sadap

Pemasangan talang sadap dilakukan bertujuan supaya tidak mengganggu pelaksanaan


penyadapan sehingga lateks dapt mengalir dengan baik dan tidak terlalu banyak
meninggalkan getah bekuan pada batang,. Talang sadap baiknya dibuat dari seng
dengan lebar 2,5 cm dan panjang +/- 8 cm dipasang pada jarak 5-10cm dari ujung
irisan bagian bawah.
f.

Pemasangan Mangkuk Sadap

Pemasangan mangkuk sadap dilakukan pada jarak 15 cm 20 cm dibawah talang


sadap hal ini dilakukan agar lateks dapat mengalir sampai ke mangkuk dengan baik.
2.8.2.3.
a.

Pelaksanaan Penyadapan

Kedalaman irisan sadap

Pembuluh lateks dalam kulit batang tersusun berupa barisan dan terdapat pada bagian
luar sampai bagian dalam kulit, semakin kedalam jumlah pembuluh kateks semakin
banyak. Kedalaman irisan sadap yang dianjurkan adalah 1 mm 1,5 mm agar pohon
dapat disadap 25 30 tahun.
b. Ketebalan irisan sadap
Lateks akan mengalir dengan cepat pada awalnya, dan semakin lama akhirnya akan
semakin lambat hingga akhirnya terhenti sama sekali. Hal ini disebabkan
tersumbatnya ujung pembuluh lateks dengan gumpalan lateks. Sumbatan berupa
lapisan yang sangat tipis. Lateks akan mengalir bila sumbatan dibuang dengan cara
mengiris kulit pada hari sadap berikutnya dengan ketebalan 1,5 mm 2 mm setiap
penyadapan .

Universitas Sriwijaya

22

Frekuensi penyadapan adalah jumlah penyadapan yang dilakukan dalam


jangka waktu tertentu. Penentuan frekuensi penyadapan sangat erat kaitannya dengan
panjang irisan dan intensitas penyadapan. Dengan panjang irisan spiral (1/2 S) ,
frekuensi penyadapan yang dianjurkan untuk karet rakyat adalah satu kali dalam 3
hari (d/3) untuk 2 tahun pertama penyadapan, dan kemudian diubah menjadi satu kali
dalam dalam 2 hari (d/2) untuk tahun selanjutnya. Menjelang peremajaan tanaman,
panjang irisan dan frekuensi penyadapan dapat dilakukan secara bebas. Waktu
penyadapan jumlah lateks yang keluar kecepatan alirannya dipengaruhi oleh tekanan
turgor sel. Tekanan turgor mencapai maksimum pada saat menjelang fajar, dan akan
menurun bila hari semakin siang. Oleh karena itu penyadapan sebaiknya dilakukan
sepagi mungkin setelah penyadap dapat melihat tanaman dengan jelas, yaitu jam
05.00 07.00.
2.9.Pasca Panen
Untuk memperoleh bahan olah karet yang bermutu baik beberapa persyaratan
teknis yang harus diikuti yaitu :
1.
2.
3.
4.

Tidak ditambahkan bahan-bahan non karet.


Dibekukan dengan asam semut dengan dosis yang tepat.
Segera digiling dalam keadaan segar.
Disimpan di tempat yang teduh dan terlindung dan tidak direndam. Jenis bahan
olah karet (bokar) yang dapat diproduksi yaitu :
a. Lateks Pekat
Lateks pekat adalah lateks kebun yang dipekatkan dengan cara sentrifus atau

didadihkan dari KKK 28% - 30% menjadi KKK 60% - 64%. Peralatan yang
diperlukan adalah tangki dadih dari plastik, pengaduk kayu, dan saringan lateks 60
mesh. Bahan-bahan yang diperlukan berupa bahan pendadih yaitu campuran
amonium alginat dan karboksi metil selulose, bahan pemantap berupa amonium laurat
dan pengawet berupa gas atau larutan amoniak. Pengolahan lateks pekat melalui
beberapa tahap yaitu penerimaan dan penyaringan lateks kebun, pembuatan larutan
pendadih, pendadihan dan pemanenan.
b. Lump Mangkok

Universitas Sriwijaya

23

Lump mangkok adalah lateks kebun yang dibiarkan menggumpal secara


alamiah dalam mangkok. Pada musim penghujan untuk mempercepat proses
penggumpalan lateks dapat digunakan asam semut yang ditambahkan ke dalam
mangkok.
c. Slab Tipis / Giling
Slab tipis dibuat dari lateks atau campuran lateks dengan lump mangkok yang
dibekukan dengan asam semut di dalam bak pembeku yang berukuran 60 x 40 x 6
cm, tanpa perlakuan penggilingan. Proses pembuatan slab tipis dapat diuraikan
sebagai berikut :
1. Masukkan dan susun lump mangkok secara merata di dalam bak pembeku.
2. Tambahkan larutan asam semut 1% ke dalam lateks kebun, dengan dosis 110 ml
per liter lateks, kemudian diaduk.
3. Tuangkan campuran tersebut ke dalam bak pembeku yang telah diisi lump
mangkok.
4. Biarkan sekitar 2 jam, lalu gumpalan diangkat dan disimpan di atas rak dalam
tempat yang teduh. Untuk meningkatkan kadar karet kering menjadi sekitar 70%,
slab tipis dapat digiling dengan menggunakan handmangle dan hasilnya disebut
dengan slab giling. Slab tipis dapat diolah menjadi blanket melalui penggilingan
dengan mesin creper. Proses penggilingan dilakukan sebanyak 4-6 kali sambil
disemprot dengan air bersih untuk menghilangkan kotoran yang terdapat di dalam
slab. Hasil blanket mempunyai ketebalan sekitar 0,6 cm 1 cm, dengan KKK
sekitar 75%.
d. Sit Angin
Sit angin adalah lembaran karet hasil penggumpalan lateks yang digiling dan
dikeringanginkan sehingga memiliki KKK 90% - 95%. Pengolahan sit angin
dilakukan melalaui berbagai tahap yaitu penerimaan dan penyaringan lateks,
pengenceran, penggumpalan, pemeraman, penggilingan, pencucian, penirisan dan
pengeringan.
e. Sit Asap (Ribbed Smoked Sheet/RSS)

Universitas Sriwijaya

24

Proses pengolahan sit asap hampir sama dengan sit angina. Bedanya terletak
pada proses pengeringan, dimana pada sit asap dilakukan pengasapan pada suhu yang
bertahap antara 40o- 60o C selama 4 hari, dengan pengaturan sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Hari pertama, suhu 40o - 45o C, ventilasi ruang asap lebar.


Hari kedua, suhu 40o - 50o C, ventilasi ruang asap sedang.
Hari ketiga, suhu 50o - 55o C, ventilasi ruang asap tertutup
Hari keempat, suhu 55o-60o C.

BAB 3
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat pelaksanaan Praktikum Pengelolaan Perkebunan
karet ini dilakukan dari bulan September November 2014 di Lahan Praktikum
Perkebunan Karet, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Indralaya.
3.2.Alat dan Bahan
Alat dan Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah (1) Cangkul (2)
Pisau okulasi (3) Ember (4) Ajir (5) tali raffia (6) plastik okulasi (7) meteran. Dan
bahan yang digunakan adalah (1) biji karet (2) pupuk anorganik (3) Air

Universitas Sriwijaya

25

3.3.Cara Kerja
3.3.1 Pengajiran
Adapun cara kerja dalam pelaksanaan praktikum pengajiran ini adalah sebagai
berikut :
1. Praktikan membawa ajir sebanyak 70 buah
2. Setiap kelompok mendapatkan lahan seluas 50 m x 13 m dengan jarak tanam 6 m
x 3 m.
3. Sebelumnya tali rafia dengan ukuran 50 m telah dibagi menjadi 8 titik ukuran 6 m
di bentangkan utara ke selatan di pasang ajir utamanya di setiap ujung tali
tersebut.
4. Tali rafia dengan ukuran 13 m yang telah di bagi menjadi 4 titik di setiap ukuran 3
m membentang dari timur ke barat dan di pasang ajir utamanya di ujung tali.
5. Kemudian diikuti dengan pembuatan ajir ke arah selatan dan ke arah timur, pada
tiap tiap titik jarak tanam di pasanglah kayu ajir,
6. Untuk membantu agar pola ajiran tersebut lurus maka digunakan kompas

3.3.2

Penanaman Bibit Karet di Lapangan

24

Adapun cara kerja dalam pelaksanaan praktikum penanaman bibit tanaman karet di
lapangan ini adalah sebagai berikut :
1. Buat lubang tanam berukuran 40 x 40 x 40 cm pada lahan yang telah dilakukan
pengajiran.
2. Lubang dibuat di sisi kanan ajir.
3. Buka polybag dari bibit dengan hati-hati agar akar tanaman tidak stress.
4. Masukkan bibit beserta tanahnya kedalam lubang dan tutup kembali dengan
tanah.
5. Siram dengan air.
3.3.3 Penanaman Stum Mata Tidur di Polibag
Adapun cara kerja dalam pelaksanaan praktikum Penanaman stum mata tidur di
dalam polybag ini adalah sebagai berikut :
1. Isi polybag dengan tanah liat yang diambil di lahan botum UNSRI menggunakan
cangkul.
2. Celupkan tanah kedalam ember yang berisi air.

Universitas Sriwijaya

26

3. Tanamnkan stum mata tidur ke dalam polybag.


4. Letakkan di bawah naungan.
3.3.4 Okulasi Tanaman Karet
Adapun cara kerja dalam pelaksanaan praktikum mengenai persiapan bahan tanam
yaitu okulasi adalah sebagai berikut :
1. Mempersiapkan batang bawah dengan lilit batang tanaman berkisar 5-7 cm diukur
pada ketinggian 5 cm dari permukaan tanah dan tunas ujung dalam keadaan tidur
atau daun tua.
2. Mempersiapkan mata tunas dari batang atas.
3. Pembuatan jendela okulasi, mengiris vertikal sejajar batang bawah (4cm) dan
irisan melintang (2cm) di atas irisan vertikal untuk bukaan jendela dari atas, irisan
melintang di bawah irisan vertikal untuk bukaan jendela dari bawah.
4. Pembuatan Perisai Mata Okulasi, pengambilan perisai mata okulasi pada jendela
bukaan atas dan pengambilan perisai mata okulasi pada jendela bukaan bawah,
melepas bagian kulit perisai mata okulasi dari bagian kayunya, dan perisai mata
okulasi yang baik ditandai dengan titik putih yang menonjol pada bagian kulitnya
(mata tidak berlubang).
5. Pemasangan mata okulasi pada jendela bukaan atas atau pemasangan mata
okulasi pada jendela bukaan bawah, penutupan jendela okulasi,
6. Pembalutan jendela okulasi dengan plastik okulasi.
7. Setelah 2 minggu dilakukan pembukaan dan pemeriksaan okulasi, balutan plastik
dibuka, diperiksa hasil okulasi dengan dicongke untuk dilihat kalau hijau pada
okulasinya berarti berhasil kalau coklat berarti okulasi gagal.
3.3.5 Pemeliharaan Tanaman Karet
Beberapa cara pemeliharaan tanaman karet, yaitu:
1. Pemeliharaan tanaman karet yang dipraktekan dalam praktikum adalah
penyiangan gulma.
2. Setiap kelompok diharuskan menyiangi 5 tanaman karet
3. Penyiangan dilakukan dengan membersikan tanaman dengan diameter 1,5 meter
setiap pohon dengan menggunakan cangkul
3.3.6 Pendederan
Beberapa cara kerja pendederan tanaman karet, yaitu:
1. Benih disemai di bedengan dengan lebar 1-1,2 m, panjang sesuai tempat.
2. Di atas bedengan dihamparkan pasir halus setebal 5-7 cm.

Universitas Sriwijaya

27

3. Bedengan dinaungi jerami/daun-daun setinggi 1 m di sisi timur dan 80 cm di sisi


4.
5.
6.
7.

Barat.
Benih direndam POC NASA selama 3-6 jam (1 tutup/liter air).
Benih disemaikan langsung disiram larutan POC NASA 0,5 tutup/liter air.
Jarak tanam benih 1-2 cm.
Siram benih secara teratur, dan benih yang normal akan berkecambah pada 10-14
hss dan selanjutnya dipindahkan ke tempat persemaian bibit.

Universitas Sriwijaya

28

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Adapun hasil yang diperoleh pada praktikum Pengelolaan Perkebunan Karet ini
antara lain sebagai berikut:
4.1.1. Tabel Praktikum Pemeliharaan Kebun Entres
No
Praktikan

Jumlah Mata Tunas

Erlina

23

Fadhil Tamamin

22

Frisdani Simatupang

18

Jesika Manurung

34

Mika Evelin P

29

M. Kudus Perdana

24

7
8

Sanggam Dodi V.S


Santryani Simanjuntak

23
17

Tulus Angkumiharja

23

10

Yohana Poppy Samantha S

23

4.1.2. Tabel Praktikum Penanaman Karet


No Tanaman
Tinggi

Jumlah PaJumlah Payung

Jumlah
Daun

84 cm

27

55cm

13

38

4.1.3. Praktikum Pendederan


Minggu KeTinggi
1

3 cm

Stadia

Persentase yang tumbuh

Stadia Mentis

0,3 %

Universitas Sriwijaya

29

7-9 cm

Stadia Jarum

0,5 %

10 cm

Stadia Pancing

0,5 %

16 cm

Stadia payung
28

0,5 %

4.1.4. Tabel Praktikum Okulasi


Minggu ke1

Tanaman 1

Tanaman 2

Tanaman Mati

Tanaman Mati

4.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada praktikum pemeliharaan kebun entres di
dapat data bahwa pada kebun entres tersebut memiliki jumlah mata tunas diatas 20
dalam rentang 100 cm, dengan demikian kebun entres tersebut dapat dikatakan baik
karena pada suatu kebun entres harus memiliki minimal 20 mata tunas dalam rentang
100 cm. Pemeliharaan kebun karet dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu
pemeliharaan

tanaman

belum

menghasilkan

dan

pemeliharaan

tanaman

menghasilkan. Pada pemeliharaan tanaman sebelum menghasilkan terdapat beberapa


tahapan yang harus dilakukan diantaranya pemotongan tunas palsu, pemupukan, dan
pengendalian hama dan penyakit tanaman. Sedangkan pada pemeliharaan tanaman
menghasilkan diantaranya adalah pemupukan, pengendalian penyakit kering alur
sadap dan pengendalian penyakit gugur daun.
Pada praktek budidaya tanaman karet, terdapat berbagai hal yang perlu
diperhatikan diantaranya adalah bibit batang bawah, batang atas, kondisi media
tanam, kelembaban, syarat tumbuh, dan sebagainya. Ada 4 fungsi media tanam yang
harus mendukung pertumbuhan tanaman yang baik, yaitu sebagai tempat unsur hara,
harus dapat memegang air yang tersedia bagi tanaman dapat melakukan pertukaran
udara antara kardari atmosfer di atas media dan berakhir harus dapat menyokong
tanaman asal tidak kokoh (Setiawan, 2000). Pada awalnya seluruh karet dikumpulkan
dari tanaman liar, awalnya karet dari Brazil tetapi ada juga dari daerah lain dalam
jumlah perbandingan yang kecil. Karena permintaan yang bertambah dan lebih cepat
dibandingkan dengan persediaan yang ada dan harga yang melambung tinggi.

Universitas Sriwijaya

30

Pemeliharaan tanaman karet yang belum menghasilkan dapat berupa


pembersihan gulma, Masalah gulma di perkebunan karet dianggap serius karena bisa
mengakibatkan terjadinya persaingan dalam penyerapan unsure hara, air, cahaya, dan
ruang tempat tumbuh. Di samping itu, juga ada beberapa jenis gulma yang bisa
mengeluarkan zat penghambat pertumbuhan sehingga tanaman terhambat dan
menjelang waktu penyadapan produksinya rendah. Gulma juga dapat menjadi
tanaman inang (host plant) dari hama dan penyakit tanaman. Oleh karena itu, gulma
harus diberantas. Pengendalian gulma harus dilakukan sejak tanaman masih di
pembibitan. Hal ini dilakukan untuk menjaga pertumbuhan tanaman agar tetap baik.
Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan cangkul, kored, dengan tangan, atau
dengan mwnggunakan bahan kimia.
Pengendalian

gulma

Areal

pertanaman

karet,

baik

tanaman

belum

menghasilkan (TBM) maupun tanaman sudah menghasilkan (TM) harus bebas dari
gulma seperti alang-alang, Mekania, Eupatorium, dll sehingga tanaman dapat tumbuh
dengan baik. Lakukan penyiangan untuk menghindari persaingan tanaman di dalam
pengambilan unsur hara. Penyulaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang telah
mati sampai dengan tanaman telah berumur 2 tahun pada saat musim penghujan.
Tunas palsu harus dibuang selama 2 bulan pertama dengan rotasi 2 minggu sekali,
sedangkan tunas lain dibuang sampai tanaman mencapai ketinggian 1,80 m. Setelah
tanaman berumur 2-3 tahun, dengan ketinggian 3,5 m dan bila belum bercabang,
perlu diadakan perangsangan dengan cara pengeratan batang, pembungkusan pucuk
daun dan pemenggalan.
Pada praktikum penanaman terdapat bahan tanam berupa bibit dalam polybag,
tingkat keberhasilan penanaman sangat ditentukan oleh bahan tanam tersebut. Bibit
tanam yang digunakan memiliki tinggi 80-90 cm dengan dua payung. Pengembangan
perkebunan karet memberikan peranan penting bagi perekonomian nasional, yaitu
sebagai sumber devisa, sumber bahan baku industri, sumber pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat serta sebagai pengembangan pusat-pusat pertumbuhan
perekonomian di daerah dan sekaligus berperan dalam pelestarian fungsi lingkungan
hidup. Guna mendukung keberhasilan pengembangan karet, perlu disusun Teknis

Universitas Sriwijaya

31

Budidaya Tanaman Karet digunakan sebagai acuan bagi pihak-pihak yang terkait
pengolahan komoditi tersebut.
Pertumbuhan tanaman karet pada fasebelum menghasilkan umumnya mengikuti
sebuah siklus, artinya pada suatu saat tanaman karetakan tumbuh tinggi tanpa
membentuk paying daun dan pada suatu saat pertumbuhan tinggi tanaman akan
terhenti dan membentuk paying daun. Selama payung daun yang terbentuk belum
benar-benar tua, tinggi tanaman tidak bertambah, dan apabila daun-daun pada payung
daun tersebut sudah benar-benar tua tanaman akan tumbuh tinggi tanpa membentuk
paying daun, begitu seterusnya. Pertumbuhan tanaman yang demikian apabila
dibiarkan dapat menyebabkan batang tanaman mudah patah karena tiupan angin.
Oleh karena itu, pertumbuhan tinggi batang haruslah dibatasi dengan cara
merangsang percabangan tanaman pada ketinggian > 3 meter dari permukaan tanah.
Dengan terbentuknya percabangan, tanaman akan lebih kuat menahan terpaan angin.
Perangsangan percabangan bisa dilakukan dengan berbagai cara yang diantaranya
adalah penyanggulan, pemangkasan daun, dan pemenggalan batang.
Pada praktikum pendederan ,jumlah biji karet yang tumbuh sangatlah sedikit.
Pada lahan pendederan terjadi serangan hama dan penyakit tanaman. Hama yang
menyerang tanaman karet adalah tikus yang menyebabkan adanya lubang- lubang
pada media tanam tersebut. Hal lain yang menyebabkan tanaman ini tidak tumbuh
adalah kondisi biji yang tidak baik serta waktu penanaman yang tidak tepat. Pada
praktikum okulasi tidak ada okulasi yang tumbuh dikarenakan lahan yang terbakar.
Untuk bisa disadap, tanaman karet yang berada dalam suatu hamparan lahan
harus sudah matang sadap pohon dan matang sadap kebun. Matang sadap pohon
adalah suatu kondisi di mana tanaman karet akan memberikan hasil lateks maksimal
ketika disadap tanpa menyebabkan gangguan pada pertumbuhan dan kesehatan pohon
karet tersebut . Dengan perawatan yang baik, matang sadap pohon umumnya bisa
dicapai pada saat tanaman karet berusia 4-5 tahun. Ciri utama tanaman karet yang
sudah matang sadap pohon adalah lilit batang yang sudah mencapai 45 cm pada
ketinggian 100 cm dari pertautan okulasi (kaki gajah). Matang sadap kebun adalah
jumlah tanaman yang sudah matang sadap pohon dalam suatu areal pertanaman karet

Universitas Sriwijaya

32

sudah mencapai 6070 % ketika berusia 4-5 tahun. Pada saat matang sadap pohon,
diharapkan ketebalan kulit kayu sudah mencapai 6-7 mm.Saat mencapai umur 5
tahun, dilakukan pe-lejer-an pada tanaman karet yang berada di hamparan lahan
karet. Pe-lejer-an adalah pemberian tanda pada tanaman karet, apakah tanaman karet
sudah matang sadap pohon atau belum. Lilit batang yang berukuran 45cm diberi
tanda (T). Yang lebih dari 45 cm diberi tanda (+).

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari Praktikum Pengelolaan
Perkebunan Karet adalah sebagai berikut :

Universitas Sriwijaya

33

1. Karet adalah salah satu komoditas penting di Indonesia yang menyumbang devisa
bagi negara dan berguna untuk dijadikan bahan baku keperluan sehari-hari.
2. Budidaya tanaman karet adalah Persiapan Lahan, Pembibitan, Penanaman,
Pemeliharaan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dan Tanaman Menghasilkan
(TM), Proses Panen meliputi Pemberian Stimulan dan Penyadapan dan Pasca
Panen.
3. Pada Praktikum Pemeliharaan Kebun Entres beberapa memiliki mata tunas diatas

20, yang mengartikan pohon karet memiliki tunas yang baik dalam rentang
ketinggian 100 cm, Pada Praktikum Pendederan dilakukan pengamatan biji karet
dengan tinggi 3 cm, stadia mentis untuk bii yang tumbuh serta presentase
pertumbuhan sebesar 0.3% dan biji karet stadia jarum dengan tinggi 7-9 cm
dengan presentase pertumbuhan 0,5%
4. Praktikum Okulasi tidak dapat diketahui hasilnya dikarenakan lahan perkebunan
karet terbakar habis pada minggu berikutnya.
5. Untuk bisa disadap, tanaman karet yang berada dalam suatu hamparan lahan
harus sudah matang sadap pohon dan matang sadap kebun.
5.2.

Saran
Saran yang dapat diberikan dalam praktikum ini, agar tiap praktikan dapat

melakukan pengamatan setiap minggu agar didapat hasil data yang lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Chairil, 2006. Jurnal Manajemen dan Teknologi Budidaya Karet. Medan.
Oleh PT. FABA Indonesia Konsultan
33
Benny, dkk. 2013. Uji Dosis dan Cara Aplikasi Biofungisida Bacillus Sp. Terhadap
Penyakit Jamur Akar Putih (Rigidoporus Lignosus) pada Tanaman Karet di
Pembibitan. Agroekoteknologi 1 (2) : 58-66.
Ekpete, et all. 2011. Fixed Bed Adsorption of Chlorophenol on to Fluted Pumpkin
and Commercial Activated Carbon. Basic and Applied Sciences 5 (11): 11491155.

Universitas Sriwijaya

34

Hamidah. 2008. Pengaruh Pengendalian Gulma dan Pemberian Pupuk


NPK Phonska Terhadap Pertumbuhan Tanaman Karet (Hevea Brasiliensis Muell
Arg.) Klon
Pb 260.Pengaruh Pengendalian Gulma tanaman Karet 1 (2): 1-10.
Nasaruddin dan Paimin. 2006. Produksi Tanaman Karet pada Pemberian
Stimulan Etephon.Agrisistem 5 (2) : 89-101.
Setiawan, A. I., 2000. Penghijauan Dengan Tanaman Potensial. Kanisius,
Yogyakarta

Universitas Sriwijaya