Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH BUDIDAYA TANAMAN KAKAO

MAKALAH
BUDIDAYA TANAMAN KAKAO
(Theobroma cacao L )
OLEH :
ANDRIANSYAH
NIM. 1206121585
M. JOEHARI JAMILI
NIM. 1206121349
DARYADI
NIM. 1206136685

AGROTEKNOLOGI A
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS RIAU
2013

KATA PENGANTAR

Kakao merupakan salah satu produk pertanian yang memiliki peranan yang cukup nyata
dan dapat diandalkan dalam mewujudkan program pembangunan per-tanian, khususnya dalam
hal penyediaan lapangan kerja, pendorong pengembangan wilayah, peningkatan kesejahteraan
petani dan peningkatan pendapatan/ devisa negara. Pengusahaan kakao di Indonesia sebagian
besar merupakan perkebunan rakyat. Dalam dua dasawarsa terakhir ini areal kakao
Nasional terus menjalani pertumbuhan yang nyata sehingga produksi kakao nasional juga
menjalani pertumbuhan yang nyata sehingga produksi kakao nasional juga meningkat seiring
dengan peningkatan luas arealnya, namun demikian produktivitasnya stabil bahkan menurun.
Teknologi akan bermanfaat apabila dapat menjangkau dan diterapkan oleh pihak-pihak
yang membutuhkan. Hasil-hasil penelitian kakao yang telah dihasilkan oleh beberapa instansi
penelitian telah dirangkum dalam makalah ini dengan maksud untuk memperkenalkan tanaman
kakao dan memberikan pedoman kepada masyarakat cara budidaya, pasca panen dan produk
usahataninya. Kami menyampaikan penghargaan kepada tim penyusun yang telah bersusah
payah sehingga makalah ini dapat diterbitkan dan berharap semoga makalah ini dapat menjadi
acuan dalam mengembangkan usaha tani kakao.

Penulis, Mei 2013

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
I.
PENDAHULUAN...................................................................
1.1. Latar Belakang....................................................................
II.
ISI..............................................................................................
2.1. Klasifikasi..............................................................................
2.2. Morfologi...............................................................................
2.2.1. Batang Dan Cabang...................................................
2.2.2. Daun.............................................................................
2.2.3. Akar.............................................................................
2.2.4. Bunga...........................................................................
2.2.5. Buah.............................................................................
2.2.6. Biji................................................................................
2.3. Syarat Tumbuh....................................................................
2.3.1. Curah Hujan...............................................................
2.3.2. Temperatur.................................................................
2.3.3. Sinar Matahari............................................................
2.3.4. Tanah...........................................................................
2.3.5. Sifat Kimia Tanah.......................................................
2.3.6. Sifat Fisik Tanah.........................................................
2.3.7. Kriteria Tanah Yang Tepat Bagi Tanaman Kakao
2.4. Teknik Budidaya .................................................................
2.4.1. Penanaman..................................................................
2.4.2. Pemeliharaan Tanaman.............................................
2.4.3. Pengendalian Hama & Penyakit...............................
2.4.4. Pemangkasan.............................................................
2.4.5 Panen
2.4.6. Pascapanen
2.4.7. Pengolahan Hasil.........................................................
2.4.8. Potensi Produksi.........................................................
III.
KESIMPULAN DAN SARAN...............................................
3.1 Kesimpulan......................................................................
3.2 Saran

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Indonesia merupakan salah satu negara pembudidaya tanaman kakao paling luas di dunia
dan termasuk Negara I penghasil kakao terbesar ketiga setelah Ivory-Coast dan Ghana, yang nilai
produksinya mencapai 1.315.800 ton/thn. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, perkembangan
luas areal perkebunan kakao meningkat secara pesat dengan tingkat pertumbuhan rata-rata
8%/thn dan saat ini mencapai 1.462.000 ha. Hampir 90% dari luasan tersebut merupakan
perkebunan rakyat. Tanaman kakao diperkenalkan pertama kali di Indonesia pada tahun 1560,
tepatnya di Sulawesi, Minahasa. Ekspor kakao diawali dari pelabuhan Manado ke Manila tahun
1825-1838 dengan jumlah 92 ton, setelah itu menurun karena adanya serangan hama. Hal ini
yang membuat ekspor kakao terhenti setelah tahun 1928. Di Ambon pernah ditemukan 10.000 12.000 tanaman kakao dan telah menghasilkan 11,6 ton tapi tanamannya hilang tanpa informasi
lebih lanjut. Penanaman di Jawa mulai dilakukan tahun 1980 ditengah-tengah perkebunan kopi
milik Belanda, karena tanaman kopi Arabika mengalami kerusakan akibat serangan penyakit
karat daun (Hemileia vastatrix). Tahun 1888 puluhan semaian kakao jenis baru didatangkan dari
Venezuela, namun yang bertahan hanya satu pohon. Biji-biji dari tanaman tersebut ditanam
kembali dan menghasilkan tanaman yang sehat dengan buah dan biji yang besar. Tanaman
tersebutlah yang menjadi cikal bakal kegiatan pemuliaan di Indonesia dan akhirnya di Jawa
Timur dan Sumatera.
Kakao Indonesia, khususnya yang dihasilkan oleh rakyat, di pasar Internasional masih
dihargai paling rendah karena citranya yang kurang baik yakni didominasi oleh bijibiji
tanpa fermentasi, biji-biji dengan kadar kotoran tinggi serta terkontaminasi serangga, jamur dan
mitotoksin. Sebagai contoh, pemerintah Amerika serikat terus meningkatkan diskonnya dari

tahun ke tahun. Citra buruh inilah yang menyebabkan ekspor kakao ke China atau negara lain
harus melalui Malaysia atau Singapura terlebih dahulu.
Kelompok negara Asia diperkirakan akan terus mengalami peningkatan konsumsi seiring
dengan pertumbuhan ekonomi di kawasan ini, sedikit saja kenaikan tingkat konsumsi di Asia,
akan meningkatkan serangan produk kakao di Asia. Kapasitas produksi kakao di beberapa
Negara Asia Pasifik lain seperti Papua New Guinea, Vietnam dan Fhilipina masih jauh di bawah
Indonesia baik dalam hal luas areal maupun total produksi, oleh karena itu disbanding Negara
lain, Indonesia memiliki beberapa keunggulan dalam hal pengembangan kakao, antara lain
ketersediaan lahan yang cukup luas, biaya tenaga kerja relatif murah, potensi pasar domestik
yang besar dan sarana transportasi yang cukup baik.
Masalah klasik yang hingga kini sering dihadapi adalah rendahnya produktivitas yang
secara umum rataratanya 900 kg/ha. Faktor penyebabnya adalah penggunaan bahan tanaman
yang kurang baik, teknologi budidaya yang kurang optimal, umur tanaman serta masalah
serangan hama penyakit. Upaya yang dapat ditempuh untuk Masalah klasik yang hingga kini
sering dihadapi adalah rendahnya produktivitas yang secara umum rataratanya 900 kg/ha. Faktor
penyebabnya adalah penggunaan bahan tanaman yang kurang baik, teknologi budidaya yang
kurang optimal, umur tanaman serta masalah serangan hama penyakit. Upaya yang dapat
ditempuh untuk

II.

ISI

2.1. Klasifikasi
Kakao merupakan satu-satunya dari 22 jenis marga Theobroma, suku Sterculiaceae, yang
diusahakan secara komersial. Menurut Tjitrosoepomo (1988) sistematika tanaman ini sebagai
berikut:
Divisi : Spermatophyta
Anak divisi : Angioospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Anak kelas : Dialypetalae
Bangsa : Malvales
Suku : Sterculiaceae
Marga : Theobroma
Jenis : Theobroma cacao L
Beberapa sifat (penciri) dari buah dan biji digunakan dasar klasifikasi dalam sistem
taksonomi. Berdasarkan bentuk buahnya, kakao dapat dikelompokkan ke dalam empat populasi.
Kakao lindak (bulk) yang telah tersebar luas di daerah tropika adalah anggota sub
jenis sphaerocarpum. Bentuk bijinya lonjong, pipih dan keping bijinya berwarna ungu gelap.
Mutunya beragam tetapi lebih rendah daripada sub jenis cacao. Permukaan kulit buahnya relatif
halus karena alur-alurnya dangkal. Kulit buah tipis tetapi keras (liat). Menurut Wood (1975),
kakao dibagi tiga kelompok besar, yaitu criollo, forastero, dan trinitario; sebagian sifat criollo
telah disebutkan di atas. Sifat lainnya adalah pertumbuhannya kurang kuat, daya hasil lebih
rendah daripada forastero, relatif gampang terserang hama dan penyakit permukaan kulit buah
criollo kasar, berbenjolbenjol dan alur-alurnya jelas. Kulit ini tebal tetapi lunak sehingga mudah
dipecah. Kadar lemak biji lebih rendah daripada forastero tetapi ukuran bijinya besar, bulat, dan

memberikan citarasa khas yang baik. Dalam tata niaga kakao criollo termasuk kelompok kakao
mulia (fine flavoured), sementara itu kakao forastero termasuk kelompok kakao lindak (bulk),
kelompok kakao trinitario merupakan hibrida criollo dengan farastero. Sifat morfologi dan
fisiologinya sangat beragam demikian juga daya dan mutu hasilnya. Dalam tata niaga, kelompok
trinitario dapat masuk ke dalam kakao mulia dan lindak, tergantung pada mutu bijinya.

2.2. Morfologi
2.2.1. Batang dan cabang
Habitat asli tanaman kakao adalah hutan tropis dengan naungan pohon-pohon yang
tinggi, curah hujan tinggi, suhu sepanjang tahun relatif sama, serta kelembapan tinggi dan relatif
tetap. Dalam habitat seperti itu, tanaman kakao akan tumbuh tinggi tetapi bunga dan buahnya
sedikit. Jika dibudidayakan dikebun, tinggi tanaman umur tiga tahun mencapai 1,8 3,0 meter
dan pada umur 12 tahun dapat mencapai 4,5 7,0 meter (Hall, 1932). Tinggi tanaman tersebut
beragam, dipengaruhi oleh intensitas naungan serta faktor-faktor tumbuh yang tersedia.
Tanaman kakao bersifat dimorfisme, artinya mempunyai dua bentuk tunas vegetatif. Tunas yang
arah pertumbuhannya ke atas disebut dengan tunas ortotrop atau tunas air (wiwilan atau chupan),
sedangkan tunas yang arah pertumbuhannya ke samping disebut dengan plagiotrop (cabang kipas
atau fan).
Tanaman kakao asal biji, setelah mencapai tinggi 0,9 1,5 meter akan berhenti tumbuh
dan membentuk jorket. Jorket adalah tempat percabangan dari pola percabangan ortotrop ke
plagitrop dan khas hanya pada tanaman kakao. Pembentukan jorket didahului dengan
berhentinya pertumbuhan tunas ortotrof karena ruas-ruasnya tidak memanjang. Pada ujung tunas
tersebut, stipula (semacam sisik pada kuncup bunga) dan kuncup ketiak daun serta tunas daun
tidak berkembang. Dari ujung perhentian tersebut selanjutnya tumbuh 3 6 cabang yang arah

pertumbuhannya condong ke samping membentuk sudut 0 60o dengan arah horisontal.


Cabang-cabang itu disebut dengan cabang primer (cabang plagiotrof). Pada cabang primer
tersebut kemudian tumbuh cabang-cabang lateral (fan) sehingga tanaman membentuk tajuk yang
rimbun.
Pada tanaman kakao dewasa sepanjang batang pokok tumbuh wiwilan atau tunas air
(chupon). Dalam teknik budi daya yang benar, tunas air ini selalu dibuang, tetapi pada tanaman
kakao liar, tunas air tersebut akan membentuk bantang dan jorket yang baru sehingga tanaman
mempunyai jorket yang bersusun.
Dari tunas plagiotrop biasanya hanya tumbuh tunas-tunas plagiotrop, tetapi juga kadangkadang tumbuh tunas ortotrop. Pangkasan berat pada cabang plagiotrop yang besar ukurannya
merangsang tumbuhnya tunas ortotrop itu. Tunas ortotrop hanya membentuk tunas plagiotrop
setelah membentuk jorket. Tunas ortotrop membentuk tunas ortotrop baru dengan menumbuhkan
tunas air.
Saat tumbuhnya jorket tidak berhubungan dengan umur atau tinggi tanaman. Pemakaian
pot besar dilaporkan menunda tumbuhnya jorket, sedangkan pemupukan dengan 140 ppm N
dalam bentuk nitrat mempercepat tumbuhnya jorket. Tanaman kakao membentuk jorket setelah
memiliki ruas batang sebanyak 60 70 buah. Namun batasan tersebut tidak pasti, karena
kenyataannya banyak faktor lingkungan yang berpengaruh dan sukar dikendalikan. Contohnya,
kakao yang ditanam di dalam polibag dan mendapat intensitas cahaya 80% akan membentuk
jorket lebih pendek daripada tanaman yang ditanam di kebun. Selain itu, jarak antar daun sangat
dekat dan ukuran daunnya lebih kecil. Terbatasnya medium perakaran merupakan penyebab
utama gejala tersebut. Sebaliknya, tanaman kakao yang ditanam di kebun dengan jarak rapat
akan membentuk jorket yang tinggi sebagai efek dari etiolasi (pertumbuhan batang memanjang
akibat kekurangan sinar matahari).

2.2.2. Daun
Daun kakao bersifat dimorfisme. Pada tunas ortotrop, tangkai daunnya panjang, yaitu 7,5
10 cm sedangkan pada tunas plagiotrop panjang tangkai daunnya hanya sekitar 2,5 cm (Hall,
1932). Tangkai daun bentuknya silinder dan bersisik halus, bergantung pada tipenya.n Salah satu
sifat khusus daun kakao yaitu adanya dua persendian (articulation) yang terletak di pangkal dan
ujung tangkai daun. Dengan persendian ini dilaporkan daun mampu membuat gerakan untuk
menyesuaikan dengan arah datangnya sinar matahari.Bentuk helai daun bulat memanjang
(oblongus), ujung daun meruncing (acuminatus), dan pangkal daun runcing (acutus). Susunan
tulang daun menyirip dan tulang daun menonjol ke permukaan bawah helai daun. Tepi daun rata,
daging daun tipis tetapi kuat seperti perkamen. Warna daun dewasa hijau tua bergantung pada
kultivarnya. Panjang daun dewasa 30 cm dan lebarnya 10 cm.Permukaan daun licin dan
mengilap.

Pertumbuhan daun pada cabang plagiotrop berlangsung serempak tetapi berkala. Masa
tumbuhnya tunas-tunas baru itu dinamakan pertunasan atau flushing. Pada saat itu setiap tunas
membentuk 3 6 lembar daun baru sekaligus. Setelah masa tunas tersebut selesai, kuncup
kuncup daun itu kembali dorman (istirahat) selama periode tertentu. Kuncup-kuncup akan
bertunas lagi oleh rangsangan faktor lingkungan.
Ujung kuncup daun yang dorman tertutup oleh sisik (scales). Jika kelak bertunas lagi
sisik tersebut rontok meninggalkan bekas (scars) atau lampang yang berdekatan satu sama lain
dan disebut dengan cincin lampang (ring scars). Dengan menghitung banyaknya cincin lampang
pada suatu cabang, dapat diketahui jumlah pertunasan yang telah terjadi pada cabang yang
bersangkutan. Intensitas cahaya memengaruhi ketebalan daun serta kandungan klorofil. Daun

yang berada di bawah naungan berukuran lebih lebar dan warnanya lebih hijau daripada daun
yang mendapat cahaya penuh.

2.2.3. Akar
Kakao adalah tanaman dengan surface root feeder, artinya sebagian besar akar lateralnya
(mendatar) berkembang dekat permukaan tanah, yaitu pada kedalaman tanah (jeluk) 0 30 cm.
Menurut Himme (cit. Smyth, 1960), 56% akar lateral tumbuh pada jeluk 11 20 cm, 14% pada
jeluk 21 30 cm, dan hanya 4% tumbuh pada jeluk di atas 30 cm dari permukaan tanah.
Jangkauan jelajah akar lateral dinyatakan jauh di luar proyeksi tajuk. Ujungnya membentuk
cabang-cabang kecil yang susunannya ruwet (intricate).

2.2.4. Bunga
Tanaman kakao bersifat kauliflori. Artinya bunga tumbuh dan berkembang dari bekas
ketiak daun pada batang dan cabang. Tempat tumbuh bunga tersebut semakin lama semakin
membesar dan menebal atau biasa disebut dengan bantalan bunga (cushion).Bunga kakao
mempunyai rumus K5C5A5+5G(5). Artinya, bunga disusun oleh 5 daun kelopak yang bebas satu
sama lain, 5 daun mahkota, 10 tangkai sari yang tersusun dalam 2 lingkaran dan masing-masing
terdiri dari 5 tangkai sari tetapi hanya satu lingkaran yang fertil, dan 5 daun buah yang bersatu.
Bunga kakao berwarna putih, ungu, atau kemerahan. Warna yang kuat terdapat pada benang sari
dan daun mahkota. Warna bunga ini khas untuk setiap kultivar.
Tangkai bunga kecil tetapi panjang (1-1,5 cm). Daun mahkota panjangnya 6 8 mm, terdiri dari
dua bagian. Bagian pangkal berbentuk seperti kuku binatang (claw) dan biasanya terdapat dua
garis merah. Bagian ujung berupa lembaran tipis, fleksibel, dan berwarna putih.

2.2.5. Buah
Warna buah kakao sangat beragam, tetapi pada dasarnya hanya ada dua macam warna.
Buah yang ketika muda berwarna hijau atau hijau agak putih jika sudah masak akan berwarna
kuning. Sementara itu, buah yang ketika muda berwarna merah, setelah masak berwarna jingga
(orange).
Kulit buah memiliki 10 alur dalam dan dangkal yang letaknya berselang-seling. Pada tipe
criollo dan trinitario alur buah kelihatan jelas. Kulit buah tebal tetapi lunak dan permukaannya
kasar. Sebaliknya, pada tipe forastero, permukaan kulit buah pada umumnya halus (rata);
kulitnya tipis, tetapi keras dan liat.
Buah akan masak setelah berumur enam bulan. Pada saat itu ukurannya beragam, dari panjang
10 hingga 30 cm, bergantung pada kultivar dan faktor-faktor lingkungan selama perkembangan
buah.

2.2.6. Biji
Biji tersusun dalam lima baris mengelilingi poros buah. Jumlahnya beragam, yaitu 20
50 butir per buah. Jika dipotong melintang, tampak bahwa biji disusun oleh dua kotiledon yang
saling melipat dan bagian pangkalnya menempel pada poros lembaga (embryo axis). Warna
kotiledon putih untuk tipe criollo dan ungu untuk tipe forastero.
Biji dibungkus oleh daging buah (pulpa) yang berwarna putih, rasanya asam manis dan
diduga mengandung zat penghambat perkecambahan. Di sebelah dalam daging buah terdapat
kulit biji (testa) yang membungkus dua kotiledon dan poros embrio. Biji kakao tidak memiliki
masa dorman. Meskipun daging buahnya mengandung zat penghambat perkecambahan, tetapi
kadang-kadang biji berkecambah di dalam buah yang terlambat dipanen karena daging buahnya
telah kering. Pada saat berkecambah, hipokotil memanjang dan mengangkat kotiledon yang

masih menutup ke atas permukaan tanah. Fase ini disebut fase serdadu. Fase kedua ditandai
dengan membukanya kotiledon diikuti dengan memanjangnya epikotil dan tumbuhnya empat
lembar daun pertama. Keempat daun tersebut sebetulnya tumbuh dari setiap ruasnya, tetapi
buku-bukunya sangat pendek sehingga tampak tumbuh dari satu ruas. Pertumbuhan berikutnya
berlangsung secara periodik dengan interval waktu tertentu.

2.3. Syarat Tumbuh


Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi
tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah
hujan, temperatur, dan sinar matahari menjadi bagian dari faktor iklim yang menentukan.
Demikian juga faktor fisik dan kimia tanah yang erat kaitannya dengan daya tembus (penetrasi)
dan kemampuan akar menyerap hara.
Ditinjau dari wilayah penanamannya, kakao ditanam di daerahdaerah yang berada pada 100 LU
sampai dengan 100 LS. Walaupun demikian penyebaran pertanaman kakao secara umum berada
pada daerahdaerah antara 70 LU sampai dengan 180 LS. Hal ini tampaknya erat kaitannya
dengandistribusi curah hujan dan jumlah penyinaran matahari sepanjang tahun.
2.3.1. Curah Hujan
Hal terpenting dari curah hujan yang berhubungan dengan pertanaman kakao adalah
distribusinya sepanjang tahun. Hal tersebut berkaitan dengan masa pembentukan tunas muda dan
produksi. Areal penanaman kakao yang ideal adalah daerahdaerah bercurah hujan 1.100 3.000
mm per tahun.
Disamping kondisi fisik dan kimia tanah, curah hujan yang melebihi 4.500 mm per tahun
tampaknya berkaitan dengan serangan penyakit busuk buah (black pods).

Didaerah yang curah hujannya lebih rendah dari 1.200 mm per masih dapat ditanami
kakao, tetapi dibutuhkan air irigasi. Hal ini disebabkan air yang hilang karena transpirasi akan
lebih besar daripada air yang diterima tanaman dari curah hujan, sehingga tanaman perlu dipasok
dengan air irigasi.
Ditinjau dari tipr iklimnya, kakao sangat ideal ditanam pada daerahdaerah yang tipe
iklimnya Am (menurut Koppen) atau B (menurut Scmid dan Fergusson). Di daerahdaerah yang
tipe iklimnya C (menurut Scmid dan Fergusson) kurang baik untuk penanaman kakao karena
bulan keringnya yang panjang.

2.3.2. Temperatur
Pengaruh temperatur pada kakao erat kaitannya dengan ketersediaan air, sinar matahari,
dan kelembaban. Faktorfaktor tersebut dapat dikelola melalui pemangkasan, penanaman
tanaman pelindung, dan irigasi. Temperatur sangat berpengaruh pada pembentukan flush,
pembungaan, serta kerusakan daun.
Temperatur ideal bagi pertumbuhan kakao adalah 300320C (maksimum) dan 180210
(minimum). Temperatur yang lebih rendah dari 100 akan mengakibatkan gugur daun dan
mengeringnya bunga, sehingga laju pertumbuhannya berkurang. Temperatur yang tinggi akan
memacu pembungaan, tetapi kemudian akan segera gugur.
2.3.3. Sinar Matahari
Lingkungan hidup alami tanaman kakao adalah hutan tropis yang di dalam
pertumbuhannya mebutuhkan naungan untuk mengurangi pencahayaan penuh. Cahaya matahari
yang terlalu banyak menyoroti tanaman kakao akan mengakibatkan lilit batang kecil, daun
sempit, dan tanaman relatif pendek.

Kakao termasuk tanaman yang mampu berfotosintesis pada suhu daun rendah. Fotosintesis
maksimum diperoleh pada saat penerimaan cahaya pada tajuk sebesar 20% dari pencahayaan
penuh. Kejenuhan cahaya di dalam fotosintesis setiap daun kakao yang telah membuka sempurna
berada pada kisaran 330 persen cahaya matahari penuh atau pada 15 persen cahaya matahari
penuh. Hal ini berkaitan pula dengan pembukaan stomata yang menjadi lebih besar bila cahaya
yang diterima lebih banyak.
2.3.4. Tanah
Tanaman kakao dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, asal persyaratan fisik dan kimia
tanah yang berperan terhadap pertumbuhan dan produksi kakao terpenuhi. Kemasaman tanah
(pH), kadar zat organik, unsur hara, kapasitas adsorbsi, dan kejenuhan basa merupakan sifat
kimia yang perlu diperhatikan, sedangkan faktor fisiknya adalah kedalaman efektif, tinggi
permukaan air tanah, drainase, struktur, dan konsistensi tanah. Selain itu kemiringan lahan juga
merupakan sifat fisik yang mempengaruhi pertumbuhan dan pertumbuhan kakao.
2.3.5. Sifat Kimia Tanah
Tanaman kakao dapat tumbuh dengan baik pada tanaman yang memiliki pH 6 7,5; tidak
lebih tinggi dari 8 serta tidak lebih rendah dari 4; paling tidak pada kedalaman 1 meter. Hal ini
disebabkan terbatasnya ketersediaan hara pada pH tinggi dan efek racun dari Al, Mn, dan Fe
pada pH rendah.
Disamping faktor keasaman, sifat kimia tanah yang juga turut berperan adalah kadar zat
organik. Kadar zat organik yang tinggi akan meningkatkan laju pertumbuhan pada masa sebelum
panen. Untuk itu zat organik pada lapisan tanah setebal 0 15 cm sebaiknya lebih dari 3 persen.
Kadar tersebut setara dengan 1,75 persen unsur karbon yang dapat menyediakan hara dan air
serta struktur tanah yang gembur.

Usaha meningkatkan kadar organik dapat dilakukan dengan memanfaatkan serasah sisa
pemangkasan maupun pembenaman kulit buah kakao. Sebanyak 1.990 kg per ha per tahun daun
gliricida yang jatuh memberikan hara nitrogen sebesar 40,8 kg per ha, fosfor 1,6 kg per ha,
kalium 25 kg per ha, dan magnesium 9,1 kg per ha. Kulit buah kakao sebagai zat organik
sebanyak 900 kg per ha memberikan hara yang setara dengan 29 kg urea, 9 kg RP, 56,6 kg MoP,
dan 8 kg kieserit. Sebaiknya tanahtanah yang hendak ditanami kakao paling tidak juga
mengandung kalsium lebih besar dari 8 Me per 100 gram contoh tanah dan kalium sebesar 0,24
Me per 100 gram, pada kedalaman 0 15 cm.

2.3.6. Sifat Fisik Tanah


Tekstur tanah yang baik untuk tanaman kakao adalah lempung liat berpasir dengan
komposisi 30 40 % fraksi liat, 50% pasir, dan 10 20 persen debu. Susunan demikian akan
mempengaruhi ketersediaan air dan hara serta aerasi tanah. Struktur tanah yang remah dengan
agregat yang mantap menciptakan gerakan air dan udara di dalam tanah sehingga
menguntungkan bagi akar. Tanah tipe latosol dengan fraksi liat yang tinggi ternyata sangat
kurang menguntungkan tanaman kakao, sedangkan tanah regosol dengan tekstur lempung berliat
walaupun mengandung kerikil masih baik bagi tanaman kakao.
Tanaman kakao menginginkan solum tanah menimal 90 cm. Walaupun ketebalan solum
tidak selalu mendukung pertumbuhan, tetapi solum tanah setebal itu dapat dijadikan pedoman
umum untuk mendukung pertumbuhan kakao.
Kedalaman efektif terutama ditentukan oleh sifat tanah, apakah mampu menciptakan
kondisi yang menjadikan akar bebas untuk berkembang. Karena itu, kedalaman efektif berkaitan
dengan air tanah yang mempengaruhi aerasi dalam rangka pertumbuhan dan serapan hara. Untuk
itu kedalaman air tanah disyaratkan minimal 3 meter.

2.3.7. Kriteria tanah yang tepat bagi tanaman kakao


Areal penanaman tanaman kakao yang baik tanahnya mengandung fosfor antara
257 550 ppm berbagai kedalaman (0 127,5 cm), dengan persentase liat dari 10,8 43,3
persen; kedalaman efektif 150 cm; tekstur (ratarata 050 cm di atas) SC, CL, SiCL; kedalaman
Gley dari permukaan tanah 150 cm; pHH2O (1:2,5) = 6 s/d 7; zat organik 4 persen; K.T.K rata
rata 050 cm di atas 24 Me/100 gram; kejenuhan basa ratarata 0 50 cm di atas 50%.

2.4. Teknik Budidaya


2.4.1. Penanaman
a. Pengajiran
- Ajir dibuat dari bambu tinggi 80 - 100 cm
- Pasang ajir induk sebagai patokan dalam pengajiran selanjutnya
- Untuk meluruskan ajir gunakan tali sehingga diperoleh jarak tanam yang sama
b. Lubang Tanam
-

Ukuran

lubang

tanam

60

60

60

cm

pada

akhir

musim

hujan

- Berikan pupuk kandang yang dicampur dengan tanah (1:1) ditambah pupuk TSP 1-5 gram per
lubang
c. Tanam Bibit
- Pada saat bibit kakao ditanam pohon naungan harus sudah tumbuh baik dan naungan sementara
sudah berumur 1 tahun
- Penanaman kakao dengan system tumpang sari tidak perlu naungan, misalnya tumpang sari
dengan pohon kelapa

- Bibit dipindahkan ke lapangan sesuai dengan jenisnya, untuk kakao Mulia ditanam setelah bibit
umur 6 bulan, Kakao Lindak umur 4-5 bulan
- Penanaman saat hujan sudah cukup dan persiapan naungan harus sempurna. Saat pemindahan
sebaiknya bibit kakao tidak tengah membentuk daun muda (flush)
2.4.2. Pemeliharaan Tanaman
a. Penyiraman dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore) sebanyak 2-5 liter/pohon
b. Dibuat lubang pupuk disekitar tanaman dengan cara dikoak. Pupuk dimasukkan dalam lubang
pupuk kemudian ditutup kembali. Dosis pupuk lihat dalam tabel di samping ini :
Tabel Pemupukan Tanaman Coklat
UMUR
(bulan)
2
6
10
14
18
22
28
32
36
42

Dosis
pupuk
Makro (per ha)
15
15
25
30
30
30
160
160
140
140

Urea
(kg)
15
15
25
30
30
30
250
200
250
200

TSP
(kg)
8
8
12
15
45
45
250
250
250
250

MOP/
KCl (kg)
8
8
12
15
15
15
60
60
80
80

2.4.3. Pengendalian Hama & Penyakit

Ulat Kilan ( Hyposidea infixaria; Famili : Geometridae ), menyerang pada umur 2-4 bulan.

Serangan berat mengakibatkan daun muda tinggal urat daunnya saja. Pengendalian dengan
PESTONA dosis 5 - 10 cc / liter.

Ulat Jaran / Kuda ( Dasychira inclusa, Familia : Limanthriidae ), ada bulu-bulu gatal pada

bagian dorsalnya menyerupai bentuk bulu (rambut) pada leher kuda, terdapat pada marke 4 dan 5
berwarna putih atau hitam, sedang ulatnya coklat atau coklat kehitam-hitaman. Pengendalian
dengan musuh alami predator Apanteles mendosa dan Carcelia spp, semprot PESTONA.

Parasa lepida dan Ploneta diducta (Ulat Srengenge), serangan dilakukan silih berganti karena

kedua species ini agak berbeda siklus hidup maupun cara meletakkan kokonnya, sehingga masa
berkembangnya akan saling bergantian. Serangan tertinggi pada daun muda, kuncup yang
merupakan pusat kehidupan dan bunga yang masih muda. Siklus hidup Ploneta diducta 1 bulan,
Parasa lepida lebih panjang dari pada Ploneta diducta. Pengendalian dengan PESTONA.

Kutu - kutuan ( Pseudococcus lilacinus ), kutu berwarna putih. Simbiosis dengan semut

hitam. Gejala serangan : infeksi pada pangkal buah di tempat yang terlindung, selanjutnya
perusakan ke bagian buah yang masih kecil, buah terhambat dan akhirnya mengering lalu mati.
Pengendalian : tanaman terserang dipangkas lalu dibakar, dengan musuh alami predator; Scymus
sp, Semut hitam, parasit Coccophagus pseudococci Natural BVR 30 gr/ 10 liter air atau
PESTONA.

Helopeltis antonii, menusukkan ovipositor untuk meletakkan telurnya ke dalam buah yang

masih muda, jika tidak ada buah muda hama menyerang tunas dan pucuk daun muda. Serangga
dewasa berwarna hitam, sedang dadanya merah, bagian menyerupai tanduk tampak lurus. Ciri
serangan, kulit buah ada bercak-bercak hitam dan kering, pertumbuhan buah terhambat, buah
kaku dan sangat keras serta jelek bentuknya dan buah kecil kering lalu mati. Pengendalian
dilakukan dengan PESTONA dosis 5-10 cc / lt (pada buah terserang), hari pertama semprot
stadia imago, hari ke-7 dilakukan ulangan pada telurnya dan pada hari ke-17 dilakukan terhadap
nimfa yang masih hidup, sehingga pengendalian benar-benar efektif, sanitasi lahan, pembuangan
buah terserang.

Cacao Mot ( Ngengat Buah ), Acrocercops cranerella (Famili ; Lithocolletidae). Buah muda

terserang hebat, warna kuning pucat, biji dalam buah tidak dapat mengembang dan lengket.
Pengendalian : sanitasi lingkungan kebun, menyelubungi buah coklat dengan kantong plastik
yang bagian bawahnya tetap terbuka (kondomisasi), pelepasan musuh alami semut hitam dan
jamur antagonis Beauveria bassiana ( BVR) dengan cara disemprotkan, semprot dengan
PESTONA.

Penyakit Busuk Buah (Phytopthora palmivora), gejala serangan dari ujung buah atau pangkal

buah nampak kecoklatan pada buah yang telah besar dan buah kecil akan langsung mati.
Pengendalian : membuang buah terserang dan dibakar, pemangkasan teratur, semprot dengan
Natural GLIO.

Jamur Upas ( Upasia salmonicolor ), menyerang batang dan cabang. Pengendalian : kerok

dan olesi batang atau cabang terserang dengan Natural GLIO+HORMONIK, pemangkasan
teratur, serangan berlanjut dipotong lalu dibakar.
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum
mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida
kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810,
dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.

2.4.4. Pemangkasan
Pemangkasan ditujukan pada pembentukan cabang yang seimbang dan pertumbuhan
vegetatif yang baik. Pohon pelindung juga dilakukan pemangkasan agar percabangan dan
daunnya tumbuh tinggi dan baik.
Pemangkasan ada beberapa macam yaitu :

Pangkas Bentuk, dilakukan umur 1 tahun setelah muncul cabang primer (jorquet) atau sampai

umur 2 tahun dengan meninggalkan 3 cabang primer yang baik dan letaknya simetris.

Pangkas Pemeliharaan, bertujuan mengurangi pertumbuhan vegetatif yang berlebihan dengan

cara menghilangkan tunas air (wiwilan) pada batang pokok atau cabangnya.

Pangkas Produksi, bertujuan agar sinar dapat masuk tetapi tidak secara langsung sehingga

bunga dapat terbentuk. Pangkas ini tergantung keadaan dan musim, sehingga ada pangkas berat
pada musim hujan dan pangkas ringan pada musim kemarau.
Pangkas Restorasi, memotong bagian tanaman yang rusak dan memelihara tunas air atau
dapat dilakukan dengan side budding.

2.4.5 Panen
2.4.5.1 Ciri dan Umur Panen
Buah cokelat/kakao bisa dipenen apabila perubahan warna kulit dan setelah fase pembuahan
sampai menjadi buah dan matang usia 5 bulan. Ciri-ciri buah akan dipanen adalah warna
kuning pada alur buah; warna kuning pada alur buah dan punggung alur buah; warna kuning
pada seluruh permukaan buah dan warna kuning tua pada seluruh permukaan buah. Kakao masak
pohon dicirikan dengan perubahan warna buah:a) Warna buah sebelum masak hijau, setelah
masak alur buah menjadi kuning.b) Warna buah sebelum masak merah tua, warna buah setelah
masak merah muda, jingga, kuning. Buah akan masak pada waktu 5,5 bulan (di dataran rendah)
atau 6 bulan (di dataran tinggi) setelah penyerbukan. Pemetikan buah dilakukan pada buah yang
tepat masak. Kadar gula buah kurang masak rendah sehingga hasil fermentasi kurang baik,
sebaliknya pada buah yang terlalu masak, biji seringkali telah berkecambah, pulp mengering dan
aroma berkurang.
2.4.5.2. Cara Panen
Untuk memanen cokelat digunakan pisau tajam. Bila letak buah tinggi, pisau disambung dengan
bambu. Cara pemetikannya, jangan sampai melukai batang yang ditumbuhi buah. Pemetikan

cokelat hendaknya dilakukan hanya dengan memotong tangkai buah tepat dibatang/cabang yang
ditumbuhi

buah.

Hal

tersebut

agar

tidak

menghalangi

pembungaan

pada

periode

berikutnya. Pemetikan berada di bawah pengawasan mandor. Setiap mandor mengawasi 20


orang per hari. Seorang pemetik dapat memetik buah kakao sebanyak 1.500 buah per hari. Buah
matang dengan kepadatan cukup tinggi dipanen dengan sistem 6/7 artinya buah di areal tersebut
dipetik enam hari dalam 7 hari. Jika kepadatan buah matang rendah, dipanen dengan sistem 7/14.

2.4.5.2.1. Periode Panen


Panen dilakukan 7-14 hari sekali. Selama panen jangan melukai batang/cabang yang ditumbuhi
buah karena bunga tidak dapat tumbuh labi di tempat tersebut pada periode berbunga
selanjutnya.
2.4.5.2.2. Prakiraan Produksi
Tanaman kakao mencapai produksi maksimal pada umur 5-13 tahun. Produksi per hektar dalam
satu tahun adalah 1.000 kg biji kakao kering.
2.4.6. Pascapanen
2.4.6.1. Pengumpulan
Buah yang telah dipanen biasanya dikumpulkan pada tempat tertentu dan dikelompokkan
menurut kelas kematangan. Pemecahan kulit dilaksanakan dengan menggunakan kayu bulat yang
keras.
2.4.6.2. Penyortiran/pengelompokkan
Biji kakao kering dibersihkan dari kotoran dan dikelompokkan berdasarkan mutunya:a) Mutu
A: dalam 100 gram biji terdapat 90-100 butir bijib) Mutu B: dalam 100 gram biji terdapat 100110 butir bijic) Mutu C: dalam 100 gram biji terdapat 110-120 butir biji.

2.4.6.3. Penyimpanan

Biji kakao basah diperam (difermentasi) selama 6 hari di dalam kotak kayu tebal yang dilapisi
aluminium dan bagian bawahnya diberi lubang-lubang kecil dengan cara sebagai berikut:a)
Tumpukkan biji di dalam kotak dengan tinggi tumpukan tidak lebih dari 75.b) Tutup dengan
karung goni atau daun pisang.c) Aduk-aduk biji secara periodik (1 x 24 jam) agar suhu naik
sampai 50 derajat C.
2.4.6.4. Pengemasan dan Pengangkutan
Biji-biji cokelat yang sudah kering dapat dimasukan dalam karung goni. Tiap goni diisi 60
kilogram biji cokelat kering. kemudian karung-karung yang berisi biji cokelat kering tersebut
disimpan dalam gudang yang bersih, kering dan berfentilasi yang baik. Sebaiknya biji cokelat
tersebut sudah segera bisa dijual dan diangkut dengan menggunakan truk dan sebagainya.
Penyimpanan di gudang, sebaiknya tidak lebih dari 6 bulan, dan setiap tiga bulan harus diperiksa
untuk melihat ada tidaknya jamur atau hama yang menyerang biji cokelat.
2.4.7. Pengolahan Hasil
Fermentasi, tahap awal pengolahan biji kakao. Bertujuan mempermudah menghilangkan
pulp, menghilangkan daya tumbuh biji, merubah warna biji dan mendapatkan aroma dan cita
rasa yang enak.
Pengeringan, biji kakao yang telah difermentasi dikeringkan agar tidak terserang jamur
dengan sinar matahari langsung (7-9 hari) atau dengan kompor pemanas suhu 60-700C (60-100
jam). Kadar air yang baik kurang dari 6 %. Sortasi, untuk mendapatkan ukuran tertentu dari biji
kakao sesuai permintaan. Syarat mutu biji kakao adalah tidak terfermentasi maksimal 3 %, kadar
air maksimal 7%, serangan hama penyakit maksimal 3 % dan bebas kotoran.
2.4.8. Potensi Produksi
Kakao jenis Bulk pada umur 2 tahun sudah mulai panen permulaan, dan pada umur
sekitar 7 tahun mulai mencapai tingkat produksi yang tinggi. Pada kondisi yang sesuai dengan

tanaman kakao, maka potensi rata-rata dalam satu siklus hidup ( 25 tahun ) mencapai sekitar
1000 kg biji kakao kering/hektar/ tahun.

Tabel Potensi Produksi Biji Kakao kering per hektar, dalam satu siklus hidup ( 25 tahun )
Umur tanaman

Biji Kering Kakao


( dalam Kg/ha )

2-3

600

3-4

900

4-5

1.200

5-6

1.400

6-7

1.600

7-8

1..700

8-9

1..600

9 - 10

1.800

10 - 11

1.700

11 - 12

1.600

12 - 13

1.500

13 - 14

1.400

14 - 15

1.400

15 - 16

1.300

16 - 17

1.300

17 - 18

1.300

18 - 19

1.200

19 - 20

1.200

20 - 21

1.100

21 - 22

1.000

22 - 23

700

23 - 24

700

24 - 25

700

Jumlah
Rata - Rata Per
Tahun

28.900
1.257

Sumber : Direktorat Jenderal Perkebuanan, Departemen Pertanian RI, 1982.

Keterangan

III.

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan
Didalam usaha tani Kakao membutuhkan teknik budidaya yang baik dan benar agar
memperoleh produksi yang optimal, juga memperhatikan kondisi lingkungan dan agroklimat di
lokasi pembukaan kebun kakao harus sesuai dengan kebutuhan tanaman kakao. Tetapi jika faktor
tanah yang semakin keras dan miskin unsur hara terutama unsur hara mikro dan hormon alami,
faktor iklim dan cuaca, faktor hama dan penyakit tanaman, serta faktor pemeliharaan lainnya
tidak diperhatikan maka tingkat produksi dan kualitas akan rendah.

3.2. Saran
Semoga karya tulis ilmiah yang kami buat, dapat berguna dan bermanfaat bagi
semua para pembaca. Terutama untuk lebih mengetahui informasi mengenai cara pembudidayaan
tanaman Kakao. Serta dapat menjadi bahan acuan didalam pembudidayaan tanaman kakao.