Anda di halaman 1dari 8

Pengemasan Benih

Oleh Dewi Rahmitasari, S.TP. PBT Pertama

Benih tanaman yang selanjutnya disebut Benih dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman adalah tanaman atau bagiannya yang digunakan untuk memperbanyak dan/atau mengembangbiakkan tanaman. Dalam pengertian luas, benih tanaman mencakup segala bentuk bahan tanam yang dalam pengadaannya memerlukan kecermatan dan ketelitian agar diperoleh benih tanaman yang memenuhi persyaratan sebagai benih unggul dan bermutu sehingga mampu tumbuh dengan baik dan dapat memberikan jaminan harapan produksi yang tinggi serta tahan terhadap ganggguan alam maupun hama dan penyakit. Benih tanaman perkebunan harus bersumber dari kebun sumber benih yang telah ditunjuk oleh pemerintah melalui surat keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia ataupun Direktur Jenderal Perkebunan. Kebun sumber benih atau produsen benih yang telah resmi biasanya berlokasi cukup jauh dari lokasi pengembangan perkebunan didasarkan atas karakter/ sifat benih dan lokasi tersebut, sehingga teknik pengemasan dan pengiriman benih yang baik sangat dibutuhkan agar benih yang dikirim dengan jarak yang relatif jauh dapat dipertahankan daya tumbuhnya. Peranan teknologi pengemasan perlu diterapkan dalam mendukung pemenuhan kebutuhan benih bermutu. Berbeda dengan pengemasan barang yang tidak memiliki daya tumbuh, teknik pengemasan benih memiliki kekhususan yaitu mempertahankan viabilitas atau daya tumbuh. Pada teknik pengemasan barang yang menjadi target adalah kerusakan fisik barang sedapat mungkin nol atau tidak terjadi kerusakan, dengan mengupayakan agar keutuhan fisik barang dan keamanan di bagian dalam barang tersebut terjamin keutuhannya. Sementara pada pengemasan benih tanaman, target utamanya adalah keamanan terhadap daya tumbuh yang dalam pengertianya adalah wujud fisik benih tidak mengalami perubahan baik secara fisiologis dan biokimiawi.

Proses Kemunduran Benih Menurut beberapa penelitian terdahulu, selama benih dikemas dan disimpan akan mengalami proses kemunduran (deteriorasi) daya tumbuh yang ditandai dengan perubahan fisik, fisiologis dan biokimiawi yang pada akhirnya menyebabkan hilangnya daya tumbuh benih (Munandar, et al., 2004). Oleh karena itu strategi yang ditempuh dalam teknik pengemasan benih dilakukan dengan membatasi ketersediaan oksigen, pembatasan kadar air, dan pemberian media pelembab yang memadai. Kualitas benih yang terbaik adalah pada saat benih masak fisiologis karena pada saat benih masak fisiologis maka berat kering benih, viabilitas dan vigornya tertinggi. Setelah masak fisiologis kondisi benih cenderung menurun sampai pada akhirnya benih tersebut kehilangan viabilitas dan vigornya. Kemunduran benih didefinisikan sebagai menurunnya kualitas benih, baik secara fisik maupun fisiologis yang mengakibatkan rendahnya viabilitas dan vigor benih sehingga pertumbuhan dan hasil tanaman menurun. Laju kemunduran benih dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu: 1. Merupakan Sifat Genetis Benih Kemunduran benih karena sifat genetis biasa disebut proses deteriorasi yang kronologis. Artinya, meskipun benih ditangani dengan baik dan faktor lingkungannya pun mendukung namun proses ini akan tetap berlangsung. 2. Karena Faktor Lingkungan Proses ini biasa disebut proses deteriorasi fisiologis. Proses ini terjadi karena adanya faktor lingkungan yang tidak sesuai dengan persyaratan penyimpanan benih, atau terjadi proses penyimpangan selama pembentukan dan prosesing benih (Satia, 2009). Salah satu gejala biokimiawi pada benih selama mengalami penurunan viabilitas adalah terjadinya perubahan kandungan beberapa senyawa cadangan makanan yang berfungsi sebagai bahan sumber energi utama (Norita-Toruan, 1985). Perubahan cadangan makanan dalam benih terutama berupa kandungan karbohidrat, lemak, dan protein selama penyimpanan menjadi salah satu penyebab benih mengalami penurunan kemampuan berkecambah, dan bahkan kehilangan daya tumbuh. Oleh karena itu sedapat mungkin teknik pengemasan benih memberikan jumlah oksigen yang cukup untuk respirasi, tetapi masih menjamin benih tidak kehabisan energi pada akhir penyimpanan. Benih yang masih mampu berkecambah berarti masih memiliki cadangan

makanan dalam jumlah yang cukup. Upaya mempertahankan daya tumbuh benih dalam penyimpanan dengan membatasi ketersediaan oksigen dimaksudkan agar laju respirasi berlangsung lambat. Laju respirasi benih yang lambat dalam penyimpanan, berarti laju perombakan cadangan di dalam benih juga berlangsung lambat. Oleh karena pemakaian cadangan makanan dalam benih lewat proses perombakan sangat sedikit, sehingga benih tidak kehabisan cadangan makanan meskipun disimpan dalam waktu lama untuk suatu pengiriman yang jauh.

Pentingnya pengemasan benih yang baik Viabilitas benih selama penyimpanan sangat tergantung pada jenis kemasan yang digunakan. Pengemasan yang tepat akan mempertahankan kadar air, kualitas fisik lot benih, menghindarkan benih dari serangan hama, dan menurunkan laju kemunduran fisiologis benih serta memudahkan dalam proses transportasi. Pengemasan berfungsi sebagai tempat penyimpanan kecil yang melindungi benih agar viabilitasnya tetap terjaga, mulai dari panen, diproses, dan akhirnya ditanam. Setelah itu benih disimpan dengan sebaik mungkin agar dapat mempertahankan daya hidup benih (daya simpan) selama mungkin. Selama penyimpanan kemasan berfungsi untuk menjaga mutu genetik benih yaitu menghindari tercampurnya benih dengan varietas yang berbeda, memudahkan dalam transportasi, menjaga kadar air benih, serta melindungi benih dari gangguan hama dan cendawan (Napiah, A., 2009). Menurut Hendarto, K. (2003) pengemasan benih bertujuan untuk: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Memudahkan pengelolaan benih Memudahkan transportasi benih untuk pemasaran Memudahkan penyimpanan benih dengan kondisi yang memadai Mempertahankan persentase viabilitas benih Mengurangi deraan (tekanan/pengaruh) alam Mempertahankan kadar air benih

Penyimpanan benih atau kelompok benih (lot benih) diharapkan dapat mempertahankan kualitas benih dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan lamanya penyimpanan. Pengemasan benih bertujuan untuk melindungi benih dari faktor-faktor biotik dan abiotik, mempertahankan kemurnian benih baik secara fisik maupun genetik, serta memudahkan dalam penyimpanan dan pengangkutan. Prinsip dasar pengemasan benih adalah untuk mempertahankan viabilitas dan

vigor benih, dan salah satu tolok ukurnya adalah kadar air benih (Ambo, Amsar, 2012). Menurut Masalah yang dihadapi dalam penyimpanan benih semakin kompleks sejalan dengan meningkatnya kadar air benih. Penyimpanan benih yang berkadar air tinggi dapat menimbulkan resiko terserang cendawan. Benih adalah bersifat higroskopis, sehingga benih akan mengalami kemunduran tergantung dari tingginya faktor-faktor kelembaban relatif udara dan suhu lingkungan dimana benih disimpan (Purwanti dalam In Sari, 2010). Penyimpanan benih pada ruang terbuka akan mengakibatkan benih cepat mengalami kemunduran atau daya simpannya menjadi singkat akibat fluktuasi suhu dan kelembaban. Oleh karena itu, benih yang disimpan dalam ruang terbuka perlu dikemas dengan bahan kemasan yang tepat agar viabilitas dan vigor benih dapat dipertahankan. (Amsar, A., 2012). Harington (1973) mengemukakan bahwa penggunaan kemasan penyimpanan yang tertutup dapat melindungi benih dari perubahan kadar air. Sutopo (2004) dalam Ali Napiah (2009) menambahkan, benih yang disimpan dalam kemasan tertutup untuk waktu yang lama harus memiliki kadar air rendah.

Syarat Kemasan Benih Yang Baik Untuk mempertahankan daya kecambah benih, cara-cara pengemasan yang baik harus diperhatikan. Penggunaan bahan kemasan yang tepat dapat melindungi benih dari perubahan kondisi lingkungan simpan yaitu kelembapan nisbi dan suhu. Kemasan yang baik dan tepat dapat menciptakan ekosistem ruang simpan yang baik bagi benih sehingga benih dapat disimpan lebih lama (Amsar, A., 2012). Bahan kemasan harus mempunyai syarat-syarat antara lain tidak toksik terhadap benih, cocok dengan bahan yang dikemas (benih), dapat menjamin sanitasi dan syarat-syarat kesehatan benih (Nurminah, 1997). Kemasan simpan harus dibuat dari bahan yang memiliki kekuatan tekanan, tahan atas kerusakan serta tidak mudah sobek. Kemasan yang kurang baik dapat mempengaruhi sifat fisik benih dan aspek fisiologisnya (Kartasapoetra, 2003). Bahan, metode dan alat pengemas yang akan digunakan ditentukan oleh jenis dan jumlah benih, tipe kemasan, lama penyimpanan, suhu penyimpanan dan kelembaban areal penyimpanan. (Justice dan Bass, 2002). Metode pengemasan yang tertutup dapat mengisolasi benih yang disimpan dari pengaruh luar wadah simpan terutama bila terjadi fluktuasi kelembaban. Sebaliknya dengan pengemasan terbuka adanya perubahan kondisi udara akan berpengaruh terhadap benih yang disimpan (Owen, 1956).

Beberapa jenis kemasan simpan yang sering digunakan untuk menyimpan benih antara lain yaitu plastik, kaleng, kain terigu, kain blacu dan goni. Bahan kemasan tersebut sering dijumpai penggunaannya oleh para petani karena harganya yang relatif murah. Fungsi penting kemasan sebagai wadah penyimpanan adalah kemampuannya dalam mempertahankan viabilitas benih dan menurunkan laju kemunduran fisiologis benih. Harrington (1973) membagi kemasan dalam tiga golongan, yaitu kemasan kedap uap air, resisten terhadap kelembaban dan kemasan porous atau sarang penuh. Sementara menurut Barlian (1989) ada beberapa jenis bahan kemasan benih, yaitu: 1. Bahan porous contohnya kain blacu, kertas, jute dan cellophane. Kemasan yang berbahan porous ini berpengaruh paling buruk terhadap viabilitas benih karena kemasan berbahan ini tembus udara sehingga mudah terjadi pertukaran kelembaban dengan udara di sekelilingnya. Dengan sifat yang demikian, kemasan porous hanya dapat digunakan untuk penyimpanan benih dalam waktu yang pendek. Bahan pengemas kertas sangat mudah sekali robek dan bersifat porus sehingga pertukaran gas-gas dari luar ataupun uap air dapat dengan mudah terjadi, hal seperti inilah yang mempercepat proses deteriorasi pada benih (Anonim, 2010). 2, Bahan resisten terhadap kelembaban contohnya Polyethilene, polyphorophelene, dan polyvinilcloride. Dengan bahan pengemas ini, udara dan kelembaban tidak mampu menembus pada batas tertentu sehingga kemasan ini mampu menyimpan benih dalam waktu cukup lama. Bahan dari kemasan plastik memiliki kekuatan terhadap tekanan, tidak mudah robek dan kedap udara serta mampu menahan masuknya air ke dalam kemasan (Anonim, 2010) 3. Bahan kedap udara dan kelembaban contohnya kaleng, aluminium foil dan gelas. Bahan pengemas kedap udara dan kelembaban seperti kaleng, aluminium foil dan gelas dapat menghambat pertukaran kelembaban dengan sekitarnya sehingga dapat digunakan untuk menyimpan benih dalam jangka waktu yang lama (Justice dan Bass, 2002). Bahan pengemas yang terbuat dari alumunium foil tidak bersifat porus karena dilapisi bahan plastik di dalamnya, tetapi kekuatan regangan tidak sebaik dengan bahan pengemas plastik. Bahan plastik cenderung lebih kuat sedangkan bahan dari alumunium foil kekuatan terhadap regangan nya sedang sehingga sangat dimungkinkan sekali tempat kemasan mudah rusak dan memungkinkan adanya pertukaran udara dari luar dan uap air ke dalam kemasan sehingga sedikitdemi sedikit kualitas benih menurun. (Anonim, 2010).

Kemampuan jenis kemasan dalam mempertahankan kadar air benih berbeda-beda. Kemasan plastik dan kaleng relatif lebih mampu mempertahankan kadar air benih selama masa penyimpanan. Menurut Justice dan Bass (2002) benih yang berada pada kemasan yang terbuat dari bahan yang kedap akan menunjukkan perubahan kadar air yang kecil sedangkan benih yang berada dalam kemasan yang terbuat dari bahan yang porous akan mengalami perubahan kadar air yang relatif lebih tinggi, hal ini sesuai dengan penelitian Ali Napiah (2009) yang menunjukkan bahwa benih pada kemasan plastik dan kaleng memiliki nilai kadar air tertinggi pada periode simpan satu hingga lima bulan dan pada periode simpan ini nilai kadar air benih mengalami penurunan. Pada periode simpan enam bulan kadar air benih mengalami kenaikan, namun benih pada kemasan plastik dan kaleng tetap menunjukan perubahan nilai kadar air yang kecil. Hal ini disebabkan karena sifat kemasan yang kedap sehinggga mampu menekan peningkatan dan penurunan kadar air benih (Napiah, A., 2009).

Sumber:

Ambo Amsar, 2012. Hubungan Simpan.http://alulagro.blogspot.com/

Daya

Simpan

Benih

Dengan

Wadah

Anonim, 2010. Makalah Laporan Akhir Praktikum http://www.scribd.com/doc/46104507/Makalah-Laporan-Praktikum. anonim,2010.

Teknologi

Benih

Ali Napiah, 2009. Pengaruh Jenis Kemasan Dan Tingkat Kemasakan Buah Terhadap Daya Simpan Benih Tanaman Jarak Pagar (Jatropha Curcas L.) Progran Studi : Pemuliaan Tanaman Dan Teknologi Benih Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/44693/A09ana.pdf?sequence=1 Barlian, Y. 1989. Pergudangan dan penyimpanan benih. Seed Technology Training for Researches. Seed Science and TechnologyWinrock International. AARP. Ed II. 192-218. Harrington, J. C. 1973. Problems of seed storage, p. 251-263. In: Heydecker (Ed). Seed Ecologi. Academy Press. London.

In Sari, 2010. Pengaruh lama pengeringan dan penyimpanan terhadap viabilitas benih bengkuang (Pachyrhizus erosus L.). Universitas Sumatera Utara. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19966/4/Chapter%20II.pdf.

Justice, O. L. dan L. N. Bass. 2002. Prinsip dan Praktek Penyimpanan Benih. Roesli, R. (Terjemahan). Cetakan Ketiga. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 446 hal.

Kartasapoetra, A. G. 2003. Teknologi Benih (Pengolahan Benih dan Tuntunan Praktikum). Cetakan Keempat. Rineka Cipta. Jakarta. 188 hal.

Hendarto K, 2003. Teknologi Pemrosesan, Pengemasan & Penyimpanan Benih. Kanisius. Jogjakarta. http://books.google.co.id/books?id=usg0axa1cYcC&printsec=frontcover&hl=id#v=onepage&q& f=false Satia, 2009. Pengaruh kemasan terhadap http://hirupbagja.blogspot.com/search/label/Teknologi%20Benih. viabilitas benih.

Owen, E. B. 1956. The Storage of Maintenance of Viability. Bull 43. Commonwealth Agr. Breaux Farnham Royal, Buck, England. 79p.