Anda di halaman 1dari 54

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Peran lulusan program studi teknik fisika di dunia industri proses pada umumnya ialah dalam bidang instrumentasi dan kontrol. Instrumentasi ialah tentang sistem pengoperasian instrumen-instrumen pabik seperti alat-alat pengukuran, transmitter, dll. Control ialah tentang bagaimana mengontrol besaran-besaran proses dalam pabrik agar sesuai seperti yang diinginkan. Namun lulusan program studi teknik fisika juga dibekali dengan disiplindisiplin ilmu yang sangat luas, oleh karena itu lulusan teknik fisika dapat berperan lebih dalam dunia industri. Pembelajaran-pembelajaran di bangku kuliah banyak berisikan teori-teori, di samping itu juga terdapat praktikum-praktikum yang mengaplikasikan teori-teori yang dipelajari. Namun, melihat langsung dunia kerja sangat dibutuhkan untuk melihat bagaimana lulusanlulusan program studi dibutuhkan, dan apa-apa saja sebenarnya yang dibutuhkan di dunia kerja. Oleh karena itu praktikan mengajukan kerja praktek, di samping sebagai syarat kelulusan, juga untuk bekal menempuh dunia kerja. Bitumen Plant Gresik merupakan Bitumen Plant yang menerima supply aspal melalui kapal tanker, yang sebagian besar berasal dari impor, dan sebagian lagi dari RU-IV Cilacap. Aspal yang dibawa oleh kapal tanker supplier kemudian diterima dan ditimbun di tangki timbun (storage tank). Kemudian berdasarkan demand pasar dilakukan program produksi, diantaranya ialah produksi drum di bagian fabrikasi drum untuk menampung aspal dalam bentuk drum. Aspal yang ditimbun di storage tank kemudian dapat didistribusikan dalam kemasan drum, maupun dalam bentuk curah (bulk) menggunakan mobil tanki. Karena sebagai fungsinya untuk menerima dan mendistribusikan aspal, maka proses-proses teknis di BPG relatif tidak lebih kompleks dibanding proses-proses teknis di pabrik-pabrik industri proses, sehingga praktikan dapat mempelajari tidak hanya di bidang instrumentasi dan kontrol saja, melainkan lebih dari itu. Oleh karena itu, melaksanakan kerja praktek di BPG akan dapat memberikan banyak pelajaran dan pengetahuan yang sangat luas. Selama proses peninjauan lapangan, ditemukan beberapa potensi optimasi untuk Teknik Fisika ITB 1

perkembangan BPG, namun tidak semua digarap dalam laporan ini, melainkan hanya 2 buah ide saran untuk optimasi di BPG. Problem pertama yang ditemukan ialah sudah tidak berfungsinya Level Indicator (LI) di semua storage tank, di mana LI yang digunakan berjenis Automatic Tank Gauge (ATG). Untuk optimasi dapat digunakan teknologi yang lebih maju yang lebih reliable dan lebih akurat seperti teknologi Radar Tank Gauge (RTG). Yang kedua ialah sistem weighing dan filling yang terpisah. Jika sistem weighing dan sistem filling diintegrasikan, maka akan dapat diperoleh efisiensi waktu pendistribusian aspal curah, apalagi mengingat prospek peningkatan jumlah permintaan aspal untuk tahun-tahun ke depan. Untuk merealisasikan ide-ide ini, maka ditulislah laporan ini untuk pembahasan lebih lanjut. 1.2 Tujuan Penulisan Mengevaluasi sistem instrumentasi pengukuran level di tangki timbun BPG. Membuat rencana optimasi tank gauging di tangki timbun BPG untuk meningkatkan efisiensi terutama dalam sistem pengukuran level. Mengevaluasi sistem weighing dan sistem filling aspal curah (bulk) di BPG. Membuat rencana optimasi pengintegrasian sistem weighing dengna sistem filling aspal curah (bulk) untuk peningkatan efisiensi waktu. 1.3 Batasan Masalah Dua saran optimasi yang di bahas di dalam laporan ini dibatasi hanya sampai ide optimasi secara garis besar, tidak sampai dibahas lebih detail, misalnya gambar rancangan, biaya keseluruhan, potensi jangka panjang, ataupun hal-hal detail lainnya. 1.4 Motede Pengumpulan Data Memperoleh data-data berupa technical file yang telah disediakan oleh pihak perusahaan, seperti P&ID, General Plot Plan, General Piping Plan, dan Isometric Pipe Lines. Observasi lapangan. Diskusi dengan pembimbing, serta pihak-pihak lain yang terkait. Memperoleh referensi dari Pedoman Mutu dan K3LL, serta beberapa referensi via internet.

Teknik Fisika ITB

1.5

Sistematika Penulisan Bab I Pendahuluan

Berisi latar belakang penulisan laporan, tujuan penulisan laporan, batasan masalah yang dibahas di dalam laporan, metoda pengumpulan data untuk menyusun laporan, dan sistematika penulisan laporan. Bab II Profil Bitumen Plant Gresik

Berisi tentang profil perusahaan PT. Pertamina (Persero) Bitumen Plant Gresik, di antaranya ialah visi, misi (kebijakan),acuan, ruang lingkup, sistem dokumentasi, proses bisnis, dll. Bab III Fabrikasi Drum

Berisi tentang proses-proses pembuatan ready drum di Drum Asphalt Plant. Bab IV Penerimaan dan Penimbunan

Berisi tentang proses-proses yang dilakukan dalam menerima dan menimbun aspal dari supplier melalui kapal tanker (jetty) beserta dengan fasilitas-fasilitas penunjangnya. Bab V Penyaluran

Berisi tentang proses pengisian aspal dalam bentuk curah ( bulk) maupun dalam kemasan drum beserta dengan prosedur pendistribusiannya. Bab VI Saran Optimasi Untuk BPG

Berisi tentang 2 saran optimasi untuk BPG yaitu optimasi sistem pengukuran level aspal di setiap tangki timbun BPG dan pengintegrasian sistem weighing dan sistem filling untuk proses penyaluran aspal curah. Bab VIII Kesimpulan dan Saran

Berisi kesimpulan yang menjawab tujuan pembuatan laporan, serta saran untuk BPG terkait dengan apa-apa saja yang dibahas di dalam laporan.

Bab II Teknik Fisika ITB 3

Profil Bitumen Plant Gresik 2.1 Umum PT PERTAMINA (Persero) Bitumen Plant Gresik diresmikan pada tanggal 11 Agustus 1990. Tanggal peresmian tersebut sekaligus merupakan detik awal mulai beroperasi. Bitumen Plant Gresik adalah salah satu Supply Point penyaluran aspal ke seluruh wilayah Pemasaran Region V sampai Region VIII. Bitumen Plant Gresik mempunyai kapasitas produksi 180000 Mton/tahun dan berdiri di atas lahan seluas 10,4 hektar, di Kelurahan Pulopancikan, Kecamatan Gresik Kota, Kabupaten Gresik. Kegiatan utama dari Bitumen Plant Gresik adalah menerima aspal sebagian besar dari impor dan sebagian lagi dari Pertamina Refinery Unit IV Cilacap, membuat drum kosong (ready drum) secara toll fee, mengisi aspal ke dalam drum, melayani penyaluran aspal dalam drum maupun curah sesuai SO (Sales Order) yang diterbitkan oleh Bagian Marketing dari Pemasaran Region V. 2.1.2 Acuan dan Ruang Lingkup Pedoman Mutu dan K3LL (Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Lindungan Lingkungan) ini disusun dengan mengacu kepada standar internasional ISO 9001, ISO 14001 dan OHSAS 18001 revisi terakhir. Adapun ruang lingkup penerapan Sistem Manajemen Mutu dan K3LL yang diterapkan mencakup seluruh area kerja Bitumen Plant Gresik tetapi tidak mencakup area kerja yang menjadi milik dari PERTAMINA Production Unit Gresik. Pasal 7.3. Desain dan Pengembangan dari ISO 9001 tidak diterapkan karena Bitumen Plant Gresik tidak melakukan kegiatan yang dimaksud dalam pasal tersebut.

2.1.1 Profil Organisasi

2.1.3 Struktur Sistem Manajemen Mutu dan K3LL Teknik Fisika ITB 4

Kepala Bitumen Plant Gresik selaku Manajemen Puncak (Top Management) menetapkan visi dan kebijakan Mutu dan K3LL. Untuk memastikan efektivitas penyusunan dan pelaksanaan dari sistem tersebut, maka Kepala Bitumen Plant Gresik menunjuk Pengawas Utama Operasi sebagai Management Representative (MR) atau Wakil Manajemen. Sesuai dengan persyaratan OHSAS 18001 dan dengan masukan dari pekerja, maka Kepala Bitumen Plant Gresik menunjuk Asisten LK3 sebagai Employee Representative (ER). Para pekerja dapat menyampaikan masukan atau keluhan terkait K3LL kepada ER untuk selanjutnya dibawa kepada Top Management dan/atau MR. 2.1.4 Visi dan Kebijakan Visi: To be a world class asphalt plant Menjadi Bitumen Plant kelas dunia Kebijakan Mutu dan K3LL Bitumen Plant Gresik: Bitumen Plant Gresik sebagai supply point penyaluran aspal di PERTAMINA memiliki komitmen untuk mencapai kinerja kelas dunia dengan cara: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Memastikan kepuasan pelanggan. Mencegah polusi dan kecelakaan kerja melalui pengendalian dampak lingkungan dan

risiko K3. Meningkatkan kinerja sistem manajemen mutu, K3LL, dan sumber daya manusianya secara Mematuhi peraturan dan persyaratan mutu dan K3LL. Menerapkan pengendalian terhadap dampak lingkungan dan risiko K3 dari kegiatan berkelanjutan.

operasi. Mencapai tingkat kinerja yang ditetapkan secara berkala sesuai dengan Key Performance Indicator (KPI). Melaksanakan program penghijauan dan penghematan sumber daya alam. Melakukan pemberdayaan masyarakat sekitar lokasi operasi sebagai bagian dari program

CSR (Corporate Social Responsibility). 2.1.5 Pengertian Teknik Fisika ITB 5

1.

Sistem Manajemen Mutu dan K3LL

Adalah sistem yang digunakan untuk mengarahkan dan mengendalikan organisasi dalam mencapai visi dan misinya di bidang mutu dan K3LL (Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lindungan lingkungan) melalui pengelolaan pemenuhan persyaratan mutu dan pengelolaan risiko K3 dan dampak lingkungan. 2. Mutu

Adalah keseluruhan karakteristik melekat dari suatu produk yang dapat memenuhi persyaratan. 3. Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Adalah kondisi dan faktor yang mempengaruhi, atau dapat mempengaruhi kesehatan dan keselamatan pegawai atau pekerja lain (termasuk pekerja sementara dan kontraktor), tamu, atau siapapun di lokasi kerja. 4. Lingkungan

Adalah keadaan sekeliling tempat organisasi beroperasi, termasuk udara, air, tanah, sumber daya alam, flora, fauna, manusia, dan hubungan timbal baliknya. 5. Bahaya (hazard)

Adalah sumber, situasi, atau tindakan yang berpotensi merusak dalam arti cedera atau sakitnya manusia atau kombinasinya. 6. Risiko

Adalah kombinasi dari kemungkinan terjadinya peristiwa bahaya atau paparannya dan tingkat parahnya cedera atau sakit yang dapat disebabkan oleh peristiwa atau paparan tersebut. 7. Dampak Lingkungan

Adalah setiap perubahan lingkungan, menguntungkan maupun merugikan, seluruhnya atau sebagian yang dihasilkan oleh kegiatan, produk, atau jasa organisasi. 8. Top Management Adalah satu atau sekelompok orang yang memiliki wewenang tertinggi untuk mengarahkan dan mengendalikan organisasi. Top Management diterjemahkan sebagai Manajemen Puncak. 9. Management Representative 6

Teknik Fisika ITB

Adalah anggota manajemen yang ditunjuk oleh Top Management untuk mengelola sistem manajemen organisasi. 10. Employee Representative

Adalah pekerja yang ditunjuk oleh Top Management dengan mempertimbangkan masukan para pekerja lain untuk mewakili pekerja di bidang K3LL. 2.2 Sistem Manajemen Mutu dan K3LL 1. Bitumen Plant Gresik menetapakan, mendokumentasikan, menerapkan, dan memelihara sistem manajemen mutu dan K3LL dengan mengacu kepada standar ISO 9001, ISO 14001, dan OHSAS 18001 revisi terakhir. 2. Sistem manajemen mutu dan K3LL dari Bitumen Plant Gresik dirancang untuk: a. Menjadi suatu sistem manajemen di bidang mutu dan K3LL yang mampu mengurangi ataupun meniadakan risiko, baik bagi karyawan maupun terhadap bahaya K3LL. b. c. Memberikan panduan dan menetapkan kebijakan, prosedur, dan instruksi kerja yang terkait Menguraikan bentuk atau struktur organisasi, tanggung jawab, dan fungsi-fungsi kerja dengan mutu dan K3LL. yang berkaitan dengan mutu dan K3LL. d. Memungkinkan efisiensi pengendalian operasional dan kegiatan lain, sehingga sistem dapat diterapkan, dipelihara, dan ditingkatkan secara berkelanjutan. bagi masyarakat

2.2.1 Umum

2.2.2 Sistem Dokumentasi Sistem dokumentasi Sistem Manajemen Mutu dan K3LL Bitumen Plant Gresik mengacu kepada Sistem dan Tata Kerja PERTAMINA Korporat, dengan hirarki seperti digambarkan pada gambar 1 sebagai berikut:

Teknik Fisika ITB

Gambar 1. Hirarki Dokumentasi Sistem Manajemen Mutu dan K3LL Penjelasan dari hirarki tersebut di atas adalah sebagai berikut: Pedoman mengatur tentang kebijakan-kebijakan organisasi dalam hal penetapan tujuan, sasaran, dan strategi atau hal-hal yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan/sasaran tersebut. Tata Kerja Organisasi (TKO) berisi prosedur-prosedur yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proses yang melibatkan beberapa unit kerja. Tata Kerja Individu (TKI) berisi instruksi kerja yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang dilakukan oleh satu orang (individu) atau lebih (kelompok). Tata Kerja Penggunaan Alat (TKPA) berisi petunjuk yang diperlukan untuk mengoperasikan atau menjalankan suatu alat atau mesin. Catatan Kerja (record) merupakan dokumen yang menunjukkan hasil kerja menggunakan formulir standar yang ditentukan untuk mencatat hasil pelaksanaan TKO, TKI, atau TKPA. Sistem dan Tata Kerja berupa Pedoman, TKO, TKI, dan TKPA dikendalikan sesuai dengan TKO B-014/F10214/2012-S0 Pengendalian Dokumen. Sedangkan Catatan Kerja dikendalikan sesuai dengan TKO B-015/F10214/2012-S0 Pengendalian Catatan Kerja.

Teknik Fisika ITB

2.2.3 Proses Bisnis Peta proses bisnis yang menggambarkan hubungan antar proses di Bitumen Plant Gresik diperlihatkan pada Gambar 2 sebagai berikut.

Gambar 2. Proses Bisnis Bitumen Plant Gresik 2.3 Perencanaan Tanggung jawab manajemen dibuktikan dengan komitmen Manajemen Puncak untuk: 1. 2. 3. 4. Menetapkan Kebijakan dan Sasaran. Mengkomunikasikan kebijakan, sasaran, kepatuhan terhadap persyaratan dan pekerjaan. Melaksanakan tinjauan manajemen. Menjamin tersedianya sumber daya. Sasaran dalam KPI ditetapkan setiap tahun dengan berdasarkan kontrak manajemen antara OH Bitumen Plant Gresik dengan Kantor Pusat. Apabila kontrak tersebut belum mencakup atau belum sesuai dengan sistem manajemen mutu dan K3LL, maka Kepala Bitumen Plant Gresik akan menambahkan sasaran baru di dalam KPI Bitumen Plant Gresik. KPI ini dikomunikasikan dan didelegasikan kepada semua Pengawas Utama / Pengawas untuk pelaksanaan dan pemantauan pencapainnya. Terkait tanggung jawab manajemen, OH Bitumen Plant Gresik membuat surat perintah yang berisi penunjukan MR dan Tim lainnya serta prosedur sebagai acuan kerja, yaitu TKO Teknik Fisika ITB 9 peraturan,

2.3.1 Tanggung Jawab Manajemen

pentingnya kepuasan pelanggan dan kompetensi dalam melaksanakan

B-012/F10214/2012-S0 Komunikasi Internal dan Eksternal , B-009/F10214/2012-S0 Penanganan Keluhan Pelanggan, B-013/F10214/2012-S0 Partisipasi dan Konsultasi, B007/F10214/2012-S0 Tindakan Perbaikan dan Pencegahan , dan B-008/F10214/2012-S0 Tinjauan Manajemen. 2.3.2 Identifikasi Aspek Lingkungan dan Penilaian Risiko K3LL Aspek dan bahaya K3LL yang ada di lokasi-lokasi Bitumen Plant Gresik diidentifikasi dan dicatat dalam Daftar Aspek dan Bahaya K3LL yang disusun berdasarkan TKO B026/F10214/2012-S0 Identifikasi Aspek dan Dampak Lingkungan serta Penilaian Bahaya dan Risiko K3. Identifikasi aspek lingkungan dan bahaya K3 meliputi: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) kegiatan rutin dan tidak rutin; kegiatan pihak yang memilki akses ke PAG (termasuk kontraktor dan tamu); kebiasaan manusia, kemampuan, dan faktor manusiawi lainnya; bahaya yang berasal dari luar tempat kerja yang dapat memilki pengaruh kuat bahaya yang tercipta dalam lingkungan tempat kerja oleh kegiatan terkait infrastruktur, peralatan, dan material di tempat kerja yang disediakan oleh perubahan atau usulan perubahan organisasi, kegiatan, atau materialnya; modifikasi sistem Manajemen Mutu dan K3LL, termasuk perubahan sementara dan kewajiban hukum apapun yang terkait penilaian risiko dan penerapan kendali yang kerja, organisasi kepada

K3LL di dalam kendali organisasi atau di dalam tempat kerja. kerja di bawah kendali organisasi; atau pihak lain;

risikonya terhadap operasi, proses, dan kegiatan; diperlukan; desai area kerja, proses, instalasi, mesin/peralatan, prosedur operasi dan organisasi termasuk adaptasinya terhadap kemampuan manusia. Hasil identifikasi tersebut didokumentasikan dan dipelihara agar tetap mutakhir. 2.3.3 Hukum dan Persyaratan Lain Semua ketentuan hukum, peraturan, persyaratan, dan kebijakan-kebijakan K3LL yang berkaitan dengan kegiatan aspek lingkungan dan bahaya K3 di lokasi-lokasi Bitumen Plant Gresik dicatat dalam Daftar Peraturan dan Persyaratan K3LL . Tata cara identifikasi, pemutakhiran, dan penyebarluasan informasi dari peraturan dan persyaratan tersebut diatur Teknik Fisika ITB 10

dalam TKO B-027/F10214/2012-S0 Identifikasi dan Pematuhan Peraturan dan Persyaratan K3LL. Bitumen Plant Gresik terus-menerus menjaga agar informasi tersebut mutakhir dan menyebarluaskan informasi yang relevan tentang peraturan dan persyaratan K3LL kepada orang yang bekerja di bawah kendali organisasi dan pihak berkepentingan lainnya. 2.3.4 Sasaran, Target, dan Program Manajemen Mutu dan K3LL Kebijakan Mutu dan K3LL merupakan panduan dalam usaha mencapai sasaran dan terget mutu dan K3LL. Sasaran dan target yang ditetapkan juga berkaitan dengan aspek mutu dan K3LL yang telah diidentifikasi dan dianggap memiliki risiko penting. Sasaran dan target yang ditetapkan pada fungsi dan tingkatan yang sesuai dalam perusahaan harus terukur dan kemajuan pencapainnya selalu dipantau. Kemajuan dari pencapaian sasaran dan target dipantau oleh penanggung jawab program Manajemen Mutu dan K3LL dan dilaporkan dalam rapat tinjauan manajemen. Program Manajemen Mutu dan K3LL meliputi: Sasaran dan target Mutu dan K3LL. Tahapan kegiatan untuk mencapai sasaran dan target. Penanggung jawab pencapaian. Batas waktu pencapaian.

2.4

Penerapan dan Operasi Top Management, yaitu Manager Pabrik Bitumen Plant Gresik, merupakan penanggung jawab tertinggi untuk sistem Manajemen Mutu dan K3LL. Manager Bitumen Plant Gresik mewujudkan komitmennya melalui:

2.4.1 Sumber Daya, Peran, Tanggung Jawab, Akuntabilitas, dan Wewenang

Teknik Fisika ITB

11

Jaminan ketersediaan sumber daya yang penting untuk menetapkan, menerapkan, memelihara, dan meningkatkan sistem Manajemen Mutu dan K3LL. Tersedianya sumber daya infrastruktur, teknologi, dan keuangan perusahaan untuk melaksanakan sistem Manajemen Mutu dan K3LL. Penetapan peran, pembagian tanggung jawab dan akuntabilitas, dan pendelegasian wewenang untuk memfasilitasi efektivitas Manajemen Mutu dan K3LL. Peran, tanggung jawab, akuntabilitas, dan wewenang ditulis dan dikomunikasikan. Manager Bitumen Plant Gresik menetapkan Ast Man Operation Services sebagai Management Representative (MR) dengan tanggung jawab khusus untuk sistem manajemen Mutu dan K3LL sebagai berikut: Memastikan bahwa sistem Manajemen Mutu dan K3LL ditetapkan, diterapkan, dan dipelihara sesuai persyaratan. Memastikan bahwa laporan kinerja sistem Manajemen Mutu dan K3LL disampaikan kepada Top Management untuk tinjauan manajemen dan digunakan sebagai dasar untuk peningkatan sistem Manajemen Mutu dan K3LL. Menjamin bahwa sistem tata kerja (STK) yang dibutuhkan untuk mencapai sasaran K3LL dapat diperoleh dan dilaksanakan oleh karyawan. Menjamin bahwa setiap ketidaksesuaian yang mempengaruhi kinerja sistem Manajemen Mutu dan K3LL dilakukan tindakan perbaikan. Memprakarsai tindakan perbaikan di area yang menjadi tanggung jawabnya untuk mencegah potensi atau terulangnya ketidaksesuaian, terutama terhadap persyaratan dan peraturan. Top Management juga menetapkan bahwa Kepala Lokasi adalah MR untuk lokasinya dengan tanggung jawab sesuai tanggung jawab MR, namun untuk ruang lingkup lokasinya sendiri. Setiap OH Fungsi dan Pekerja memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa bidang pekerjaannya selalu: Terlaksana sesuai dengan sistem tata kerja yang berlaku. Memperhatikan aspek K3LL yang terkait dengan pekerjaannya, sehingga dijamin selalu mematuhi persyaratan dan peraturan K3LL yang berlaku. Mencegah polusi dan risiko kecelakaan kerja serta menggunakan sumber daya alam Teknik Fisika ITB 12

dengan efektif dan efisien. 2.4.2 Kompetensi, Pelatihan, dan Kepedulian Bitumen Plant Gresik menetapkan dan memastikan bahwa pekerja yang pekerjaannya memiliki aspek K3LL harus memiliki kompetensi berdasarkan pendidikan, pelatihan, atau pengalaman yang sesuai. Para OH Fungsi mengidentifikasi kebutuhan pelatihan yang berhubungan dengan risiko K3LL dan sistem Manajemen Mutu dan K3LL untuk diberikan pelatihan atau tindakan lain agar kompetensi pekerja memenuhi kebutuhan persyaratan pekerjaan, serta mengevaluasi efektivitas pelatihan atau tindakan yang diambil. Identifikasi kebutuhan, pelaksanaan, evaluasi dan pencatatan hasil pelatihan diatur dalam TKO B-011/F10214/2012-S0 Kepedulian, Kompetensi, dan Pelatihan. 2.4.3 Komunikasi, Partisipasi, dan Konsultasi Semua program dan segala permasalah terkait dengan sistem Manajemen Mutu dan K3LL dikomunikasikan secara internal dan eksternal sesuai TKO B-012/F10214/2012-S0 Komunikasi Internal dan Eksternal. Komunikasi eksternal dilakukan kepada pihak-pihak di luar Bitumen Plant Gresik yang memerlukan informasi mengenai sistem Manajemen Mutu dan K3LL Bitumen Plant Gresik. Pihak eksternal antara lain: instansi pemerintah, pelanggan, otoritas bandara, dan lain-lain. Di lokasi, komunikasi terkai K3LL kepada pihak eksternal menjadi tanggung jawab dan wewenang MR Lokasi, sedangkan di Kantor Region menjadi tanggung jawab dan wewenang MR. Sedangkan komunikasi internal terkait K3LL dilaksanakan secara berjenjang dari Top Management hingga Kepala Fungsi dan pekerja. Komunikasi internal dapat menjadi kanal atau saluran untuk memastikan partisipasi pekerja dan pelaksanaan konsultasi oleh atasan. Tata cara partisipasi dan konsultasi diatur dalam TKO B-013/F10214/2012-S0 Partisipasi dan Konsultasi.

Teknik Fisika ITB

13

2.4.4 Dokumentasi Sebagaiman adijelaskan dalam Bab 2.2 Dokumentasi Sistem Manajemen Mutu dan K3LL meliputi dokumen acuan kerja yang disebut STK (Sistem Tata Kerja), yaitu: Pedoman, TKO, TKI, dan TKPA serta Record (Catatan). Dokumen disusun sesuai dengan kebutuhan yang diidentifikasi melalui proses bisnis, identifikasi aspek dan dampak lingkungan, penilaian bahaya dan risiko serta uraian tugas pokok dan penilaian jabatan (UTP / UPJ). 2.4.5 Pengendaliain Dokumen Dokumen yang digunakan sebagai acuan kerja yang menjadi bukti hasil kerja dikendalikan sesuai dengan TKO B-014/F10214/2012-S0 Pengendalian dokumen. TKO tersebut mengatur tentang: a) pengesahan kecukupan dokumen sebelum diterbitkan; b) meninjau dan memperbaharui sesuai keperluan dan mengesahkan ulang dokumen; c) menjamin bahwa perubahan dan status revisi yang berlaku dari dokumen diidentifikasi; d) menjamin versi dokumen yang berlaku tersedia di tempat penggunaan; e) menjamin bahwa dokumen tetap dapat dibaca dan mudah diidentifikasi; f) menjamin bahwa dokumen yang berasal dari luar yang ditetapkan oleh organisasi diperlukan untuk perencanaan dan pelaksanaan dari sistem Manajemen Mutu diidentifikasi dan distribusinya dikendalikan; g) mencegah penggunaan yang keliru dari dokumen kadaluarsa, dan untuk identifikasi yang sesuai jika disimpan untuk tujuan tertentu. dan dan K3LL

2.4.6 Realisasi Produk Realisasi produk atau proses produksi meliputi penerimaan material, pembuatan drum, penerimaan dan penimbunan aspal, pengisian aspal dalam drum, pemeriksaan mutu, dan pengiriman aspal dalam drum dan curah. Proses produksi dilaksanakan berdasarkan program produksi yang ditetapkan oleh Kantor Pusat, sedangkan pengiriman aspal dilakukan dengan mengacu kepada Sales Order yang Teknik Fisika ITB 14

diterima. Pemastian mutu adalah bagian penting dari proses produksi. Aspal tidak akan dikirimkan kepada pelanggan apabila tidak memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. Pemeriksaan mutu dan penghitungan/pengukuran volume dilakukan dengan menggunakan alat ukur yang dikalibrasi dan ditera secara berkala, untuk memastikan kebenaran hasil pemeriksaan dan pengukuran. Dalam pengadaan material dan suku cadang, Bitumen Plant Gresik selalu menggunakan pemasok yang terseleksi. Aturan seleksi pemasok dan proses pengadaan barang dan jasa dilaksanakan sesuai dengan TKO yang diatur dalam SK Direksi tentang Pengadaan Barang dan Jasa. Untuk mengelola realisasi produk, Bitumen Plant Gresik menyusun TKO-TKO sebagai berikut: a. B-001/F10214/2012-S0 Penerimaan dan Penimbunan Aspal b. B-002/F10214/2012-S0 Pengiriman Aspal Curah c. B-003/F10214/2012-S0 Pengisian Aspal Drum d. B-004/F10214/2012-S0 Pemeriksaan Mutu e. B-005/F10214/2012-S0 Pengendalian Ketidaksesuaian Produk Aspal f. B-006/F10214/2012-S0 Pembuatan Ready Drum g. B-010/F10214/2012-S0 Penerimaan dan Pengeluaran Material Operasional dari bisnis Bitumen Plant Gresik dilaksanakan oleh pekerja yang kompeten dan diberikan acuan kerja berupa TKI dan/atau TKPA. 2.4.7 Pengendalian Operasi Kondisi operasi yang terkendali menjadi syarat terlaksananya sistem Manajemen Mutu dan K3LL yang efektif. Untuk itu, kondisi peralatan harus dipastikan kesiapannya sesuai dengan TKO B-021/F10214/2012-S0 Preventive Maintenance, TKO B-022/F10214/2012-S0 Corrective Maintenance, dan TKO B-024/F12300/2010-S0 Manajemen Perubahan. Demikian pula dengan kondisi lingkungan dan area kerja yang dipantau sesuai dengan TKO Teknik Fisika ITB 15

B-030/F10214/2012-S0 Pemantauan dan Pengukuran Dampak Lingkungan dan Risiko K3. Sedangkan untuk penanganan limbah diatur dalam TKO B-031/F10214/2012-S0 Pengelolaan Material dan Limbah B3 dan TKO B-032/F10214/2012-S0 Pengelolaan Limbah Non B3. 2.4.8 Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat Bitumen Plant Gresik menerapakna pengendaliain dan tanggap darura yang memadai untuk menghadapi jangkauan yang luas dari potensi bahaya proses operasi. Top Management adalah penanggung jawab utama dari kegiatan kesiapsiagaan dan tanggap darurat. Tindakan kesiapsiagaan dan tanggap darurat dilaksanakan menurut TKO B-

028/F10214/2012-S0 Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat untuk: a) mengidentifikasi potensi terjadinya situasi darurat; b) menanggapi situasi darurat tersebut. Sedangkan untuk memastikan keamanan area disusun TKO B-036 Sekuriti PAG sebagai acuan Sekuriti dalam melaksanakan pengamanan. Bitumen Plant Gresik secara periodik melaksanakan simulasi atau latihan untuk menanggapai sistuasi darurat, dan bila memungkinkan dapat melibatkan piak berkepentingan yang terkait.

2.5

Pengecekan Bitumen Plant Gresik menetapkan tata kerja pemantauan dan pengukuran untuk memastikan bahwa sistem Manajemen Mutu dan K3LL selalu efektif serta memenuhi persyaratan dan peraturan yang berlaku. Kegiatan pemantauan dan pengukuran tersebut diatur dalam TKO B-030/F10214/2012-S0 Pemantauan dan Pengukuran Dampak Lingkungan dan Risiko K3.

2.5.1 Pemantauan dan Pengukuran Kinerja K3LL

Teknik Fisika ITB

16

Untuk menjamin kebenaran hasil pemantauan dan pengukuran, maka alat pantau atau alat ukur yang digunakan dikalibrasi sesuai dengan TKO B-023/F10214/2012/S0 Kalibrasi dan Tera. Fungsi Pemeliharaan dan/atau MR Lokasi mengevaluasi hasil pemantauan dan pengukuran untuk memastikan pemenuhannya terhadap persyaratan dan peraturan pengukuran untuk memastikan pemenuhannya terhadap persyaratan dan peraturan (kepatuhan). Aspek-aspek terkait dengan pemantauan atau pengukuran meliputi: a. ukuran-ukuran kuantitatif dan kualitatif, sesuai dengan kebutuhan; b. pemantauan sasaran K3LL dicapai; c. pemantauan efektivitas pengendalian K3LL; d. ukuran-ukuran proaktif dari kinerja untuk memantau kesesuaian dengan programprogram K3LL; e. ukuran-ukuran reaktif dari kinerja untuk memantau sakit, kejadian (termasuk near-miss, dll) dan bukti riwayat kinerja K3LL yang kurang; f. rekaman data dan hasil pemantauan dan ukuran yang cukup untuk memungkinkan analisis tindakan perbaikan dan pencegahannya. 2.5.2 Evaluasi Kepatuhan Konsistensi dengan komitmen untuk selalu patuh terhadap peraturan dan persyaratan lainnya, maka Bitumen Plant Gresik secara berkala mengevaluasi hasil pemantauan dan pengukuran sesuai dengan TKO B-027/F10214/2012-S0 Identifikasi dan Pematuhan Peraturan dan Persyaratan K3LL. Hasil evaluasi disampaikan kepada Top Management sebagai bahan masukan untuk Tinjauan Manajemen. 2.5.3 Penyelidikan Kejadian, Ketidaksesuaian, Tindakan Perbaikan, dan Pencegahan Bitumen Plant Gresik menyusun TKO B-034/F10214/2012-S0 Penyelidikan Kejadian, TKO B-029/F10214/2012-S0 Pelaporan Near-Miss dan Penanganan Ketidaksesuaian K3LL serta TKO B-007/F10214/2012-S0 Tindakan Perbaikan dan Pencegahan untuk memastikan bahwa kegiatan penyelidikan kejadian, penanganan ketidaksesuaian dan tindakan perbaikan serta pencegahannya terlaksana dengan baik. kecelakaan,

Teknik Fisika ITB

17

TKO-TKO tersebut antara lain mengatur tentang tata cara untuk: a) menetapkan kekurangan landasan K3LL dan faktor lain yang dapat menyebabkan menyumbang terjadinya kejadian K3LL; b) identifikasi kebutuhan tindakan perbaikan; c) identifikasi kesempatan tindakan pencegahan; d) identifikasi kesempatan untuk peningkatan berkelanjutan; e) komunikasi hasil penyelidikan tersebut. 2.5.4 Pengendalian Catatan Kerja Catatan atau record adalah bukti pelaksanaan pekerjaan. Untuk itu setiap kegiatan terkait dengan K3LL yang memerlukan bukti harus dibuatkan catatan. Semua catatan yang berkaitan dengan K3LL harus dapat dibaca, diidentifikasi dan dilacak, dijaga dari kehancuran, kerusakan, dan kehilangan dengan retensi sesuai dengan Daftar Induk Catatan serta dikendalikan sesuai dengan TKO B-015/F10214/2012-S0 Pengendalian Catatan Kerja. 2.5.5 Audit Sistem Manajemen Mutu dan K3LL Audit terhadap sistem Manajemen Mutu dan K3LL dilakukan untuk meyakinkan bahwa: a. Sistem Manajemen Mutu dan K3LL efektif untuk melaksanakan Kebijakan PERTAMINA Bitumen Plant Gresik. b. Aktivitas kerja di PERTAMINA Bitumen Plant Gresik sesuai dengan STK, Manajemen Mutu dan K3LL, persyaratan, dan peraturan K3LL. program K3LL atau

Audit sistem Manajemen Mutu dan K3LL dilaksanakan sesuai dengan TKO B020/F10214/2012-S0 Audit Internal. TKO tersebut minimal mengatur tentang kebutuhan audit, persyaratan auditor termasuk independensinya, tata cara pelaksanaan audit, dan pelaporannya. TKO juga mengatur tentang pelaksanaan tindakan perbaikan dan pencegahan dari ketidaksesuaian yang ditemukan selama audit. Teknik Fisika ITB 18

Hasil-hasil audit dibahas dalam tinjauan manajemen. 2.6 Tinjauan Manajemen Tinjauan manajemen Bitumen Plant Gresik dilaksanakan minimal 1 kali dalam setahun. Maksud dari tinjauan ini adalah untuk memastikan bahwa sistem Manajemen Mutu dan K3LL memenuhi ketentuan ISO 9001, ISO14001, dan OHSAS 18001, dan untuk memelihara kesesuaian serta efektifitas sistem tersebut. Tinjauan dilakukan berdasarkan TKO B-008/F10214/2012-S0 Tinjauan Manajemen. Tinjauan diarahkan pada masalah pokok untuk peningkatan sistem Manajemen Mutu dan K3LL. Tinjauan dipimpim Kepala Bitumen Plant Gresik selaku Top Management dengan didukung oleh MR. Rekomendasi yang dihasilkan dari tinjauan ini disampaikan kepada pihak terkait oleh MR dan efektivitas tindak lanjutnya dipantau sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan. 2.7 Produk Aspal Pertamina Aspal diproduksi oleh kilangn Pertamina melalui proses Propane Deasphalting atau Air Blowing. Kilang Pertamina yang memproduksi Aspal saat ini adalah Kilang Refinery Unit (RU) IV Cilacap dengan penyerahan dalam bentuk drum dan curah (bulk).

2.7.1 Pendahuluan

Aspal Minyak diperoleh dari Crude Oil jenis Asphaltic, dihasilkan dalam bentuk semi solid, berwarna coklat kehitaman bersifat Non-Metalic, larut dalam CS 2 (Carbon Disulphide), mempunyai sifat Waterprofing dan Adhesive. Aspal dibedakan gradenya atas Softening Point R&B (Ring & Ball), sifat penetrasi ataupun kombinasi dari kedua sifat di atas. Saat ini Pertamina memproduksi 2 (dua) Grade Aspal straight run, yaitu: 1. Aspal Penetrasi 60/70 (Aspal Pen 60) 2. Aspal Penetrasi 80/100 (Aspal Pen 80) Teknik Fisika ITB 19

Selain itu, melalui anak perusahaannya, PT Patra Trading, Pertamina memproduksi aspal modifikasi dengan nama Aspal Super. Aspal sebagai bahan semi solid dalam penggunaannya dirubah dalam bentuk cair dengan cara pemanasan. Aspal digunakan pada pembuatan jalan, juga berfungsi sebagai bahan perekat, bahan pengisi,dan bahan kedap air. Di samping untuk pembuatan jalan, Aspal dapat digunakan sebagai pelindung/coating anti karat, isolasi listrik, kedap suara / penyekat suara dan getaran bila dipakai untuk lantai, dll. 2.7.2 Penggunaan Di Indonesia sebagian besar produk Aspal (lebih dari 95%) digunakan untuk konstruksi jalan dan landasaran udara. Fungsi Aspal pada bangunan jalan adalah untuk mengikat batu, pasir, dan bahan-bahan lainnya supaya menjadi satu kesatuan yang homogen (fungsi pelekat dan sebagai bahan pengisi), meredam suara lalu lintas, melindungi badan jalan terhadap air hujan dan panas matahari, dan mencegah permukaan jalan berdebu. Untuk landasan udara, fungsi Aspal sama dengan bangunan jalan hanya bebannya lebih berat namun frekuensi lalu lintasnya lebih sedikit. Untuk bangunan air, Aspal berfungsi mencegah hilangnya air yang meresap ke dalam tanah, serta mencegah erosi. Untuk bangunan rumah dan industri, fungsi Aspal adalah sebagai berikut: Anti korosif (melindungi terhadap pengaruh air hujan, panas matahari, dan anti karat). Bahan perekat. Penyekat suara dan getaran bila dipakai untuk lantai. Tahan terhadap kelembaban udara. Sebagai bahan cat/pelapis/coating, biasanya Aspal dicampur dengan bahan pelarut (melindungi besi dari air dan karat). Pelindung karat pada pipa bawah tanah. Industri listrik (pelindung kabel, Accumulator boxes, dll). Fungsi Aspal yang terpenting dalam suatu konstruksi adalah sebagai bahan perekat dan bahan pengisi. Untuk dapat memberikan daya rekat yang baik, maka Aspal harus dapat: Membasahkan batu/campuran. Teknik Fisika ITB 20

Memiliki daya dhesi yang besar (Aspal akan melekat lebih baik dengan kapur andesit dibandingkan dengan batu-batu silika yang bersifat asam). Memiliki daya kohesi yang besar (tergantung pada kekerasan aspal). Sebagai bahan pengisi, Aspal harus dapat menyesuaikan dengan isi/ruangan yang tersedia. (Aspal harus bersifat plastis dan sifat cairan yang tertentu). 2.7.3 Sifat-sifat Utama Aspal Agar dapat memenuhi fungsi tersebut di atas dengan baik, maka sifat-sifat utama yang perlu diperhatikan adalah Penetrasi, Titik Lembek, dan Daktilitas. Penetrasi: Penetrasi adalah ukuran bilangan atau angka yang menunjukkan keras-lunaknya suatu bahan plastis (bahan dalam bentuk semi solid, seperti aspal dan gemuk pelumas). Angka penetrasi rendah akan menunjukkan sifat yang mudah mengalir dan sifat kohesi yang baik. Oleh karena itu pada pemakaian sebagai bahan perekat dibutuhkan penetrasi yang lebih tinggi daripada pemakaian Aspal sebagai bahan pengisi atau dengan kata lain, untuk mendapatkan suatu konstruksi pengaspalan yang baik, maka jika di dalam konstruksi tersebut Aspal banyak berfungsi sebagai bahan perekat haruslah digunakan Aspal dengan penetrasi tinggi. Sebaliknya jika Aspalnya banyak berfungsi sebagai bahan pengisi, dibutuhkan Aspal dengan penetrasi yang rendah. Titik Lembek: Karena susunan Aspal terdiri dari bermacam-macam campuran / persenyawaan, maka Aspal tidak mempunyai satu titik leleh tertentu. Untuk produk yang demikian hanyalah dapat ditentukan titik lembeknya. Penentuan titik lembek Aspal diperlukan untuk menetapkan kegunaan Aspal pada iklim tertentu, bersama dengan angka penetrasi, dapat dipakai untuk menetapkan hubungan Aspal terhadap perubahan suhu. Daktilitas: Daktilitas Aspal ditentukan untuk mengetahui apakah Aspal tersebut homogen, dan tidak mengandung butiran. Daktilitas berhubungan dengan sifat kohesi Aspal. Makin tinggi daktilitasnya, maka makin baik sifat kohesinya. Bila Aspal terutama berfungsi sebagai bahan

Teknik Fisika ITB

21

pengisi maka daktilitasnya harus tinggi. 2.7.4 Spesifikasi Aspal Pertamina 2.7.4.1 Spesifikasi Aspal Pertamina Penetrasi 80/100 Item Penetration at 25oC, 100g, 5 sec Ductility at 25 C, 5cm/min Softening Point (Ring & Ball) Solubility in CCL4 Flash Point (Cleveland Open Cup) Drop in Penetration after heating
o

Unit mm cm
o

Test Method ASTM D 5 ASTM D 113 ASTM D 36 ASTM D 2042 ASTM D 92 ASTM D 6 ASTM D 6 & D 5

Spec 80-100 100 Min 46-54 99 Min 225 Min 0,4 Max 75 1 Min

C C

% weight
o

Loss on Heating at 163oC, 5cm/min % %

Density at 25oC ASTM D 70 Tabel 1. Spesifikasi Aspal Pertamina Penetrasi 80/100 *nb: BPG sudah tidak menerima aspal penetrasi 80/100 2.7.4.2 Spesifikasi Aspal Pertamina Penetrasi 60/70 Item Penetration at 25oC, 100g, 5 sec Ductility at 25oC, 5cm/min Softening Point (Ring & Ball) Solubility in CCL4 Flash Point (Cleveland Open Cup)
o

Unit mm cm
o

Test Method ASTM D 5 ASTM D 113 ASTM D 36 ASTM D 2042 ASTM D 92 ASTM D 6 ASTM D 6 & D 5

Spec 60-79 100 Min 48-58 99 Min 200 Min 0,4 Max 75 1 Min

C C

% weight
o

Loss on Heating at 163 C, 5cm/min % Drop in Penetration after heating %

Density at 25oC ASTM D 70 Tabel 2. Spesifikasi Aspal Pertamina Penetrasi 60/70 2.7.4.3 Spesifikasi Aspal Pertamina Super Item Penetration at 25oC, 100g, 5 sec Ductility at 25oC, 5cm/min Unit mm cm Test Method ASTM D 5 ASTM D 113 ASTM D 36

Spec 40-50 120 Min 53-55

o Softening Point (Ring & Ball) C Tabel 3. Spesifikasi Aspal Pertamina Super

Teknik Fisika ITB

22

3.1.5 Spesifikasi Aspal Yang Dipersyaratkan Ditjen Bina Marga 3.1.5.1 Spesifikasi Aspal Pen 60 Jenis Pengujian Penetrasi, 25 C, 5 detik Titik Lembek Titik Nyala Daktilitas, 25oC Berat Jenis Kelarutan dalam Trichloro Ethylene % berat Penurunan Berat (dengan TFOT) Penetrasi setelah penurunan berat Daktilitas setelah TFOT Uji bintik (spot tes) - Standar Naphta - Naphta Xylene - Heptane Xylene Tabel 4. Spesifikasi Aspal Pen 60 yang Dipersyaratkan Ditjen Bina Marga 2.7.5.2 Spesifikasi Aspal Polymer Jenis Pengujian Penetrasi, 25oC, 5 detik Titik Lembek Titik Nyala Daktilitas, 25 C Berat Jenis Kekentalan pada 135 selama 48 jam - Perbedaan Titik Lembek Kelarutan dalam Trichloro Ethylene % berat Penurunan Berat (dengan TFOT) Perbedaan Penetrasi setelah TFOT TFOT Elastic Recovery pada 25oC Teknik Fisika ITB % Min. 30 23 % berat % SNI 06-2438-1991 SNI 06-2440-1991 SNI 06-2456-1991 SNI 06-2434-1991 Min. 99 Maks. 1,0 Maks. 40 Maks. 6,5 cSt Stabilitas Penyimpanan pada 163oC oC
o o

Unit mm
o o

Test Method SNI 06-2456-1991 SNI 06-2434-1991 SNI 06-2433-1991 SNI 06-2432-1991 SNI 06-2441-1991 SNI 06-2438-1991 SNI 06-2440-1991 SNI 06-2456-1991 SNI 06-2432-1991 AASHTO T. 102

Spec 60-79 48-58 Min. 200 Min. 100 Min. 1,0 Min. 99 Maks. 0,8 Min. 54 Min. 50 Negatif

C C

cm

% berat % %

Unit mm
o o

Test Method SNI 06-2456-1991 SNI 06-2434-1991 SNI 06-2433-1991 SNI 06-2432-1991 SNI 06-2441-1991 SNI 06-6721-1991 SNI 06-2434-1991

Spec 50-80 Min. 54 Min. 225 Min. 50 Min. 1,0 300-2000 Maks. 2

C C

cm

Perbedaan Titik Lembek setelah %

Tabel 5. Spesifikasi Aspal Polymer yang Dipersyaratkan Ditjen Bina Marga 2.7.5.3 Spesifikasi Aspal Dimodifikasi Dengan Aspal Alam Jenis Pengujian Penetrasi, 25 C, 100gr, 5 detik Titik Lembek Titik Nyala Daktilitas, 25oC Berat Jenis Kelarutan dalam Trichloro Ethylene % berat Penurunan Berat (dengan TFOT) Penetrasi setelah kehilangan berat Daktilitas setelah TFOT % berat % %
o

Unit mm
o o

Test Method SNI 06-2456-1991 SNI 06-2434-1991 SNI 06-2433-1991 SNI 06-2432-1991 SNI 06-2441-1991 SNI 06-2438-1991 SNI 06-2440-1991 SNI 06-2456-1991 SNI 06-2432-1991

Spec 40-55 Min. 55 Min. 225 Min. 50 Min. 1,0 Min. 90 Maks. 2,0 Min. 55 Min. 50

C C

cm

Mineral Lolos Saringan No. 100 % SNI 03-1968-1990 Min. 90 Tabel 6. Spesifikasi Aspal Dimodifikasi Dengan Aspal Alam yang Dipersyaratkan Ditjen Bina Marga 2.7.5.4 Spesifikasi Aspal Multigrade Jenis Pengujian Penetrasi, 25 C, 100gr, 5 detik Titik Lembek Titik Nyala Daktilitas, 25oC Berat Jenis Kelarutan dalam Trichloro Ethylene % berat Penurunan Berat (dengan TFOT) Penetrasi setelah penurunan berat % berat %
o

Unit mm
o o

Test Method SNI 06-2456-1991 SNI 06-2434-1991 SNI 06-2433-1991 SNI 06-2432-1991 SNI 06-2441-1991 SNI 06-2438-1991 SNI 06-2440-1991 SNI 06-2456-1991

Spec 50-70 Min. 55 Min. 225 Min. 100 Min. 1,0 Min. 99 Maks. 0,8 Min. 60

C C

cm

Daktilitas setelah penurunan berat % SNI 06-2432-1991 Min. 5 Tabel 7. Spesifikasi Aspal Multigrade yang Dipersyaratkan Ditjen Bina Marga 2.7.6 Produksi dan Distribusi Aspal Pertamina dipasarkan dalam kemasan drum maupun bulk (curah). Kilang aspal Cilacap mempunyai fasilitas pengisian drum dan pengisian curah/bulk. Untuk lebih mendekatkan produk serta meningkatkan pelayanan, maka Pertamina membangun pengisian Aspal drum dan Aspal curah di Gresik dan Terminal Aspal Curah oleh swasta di hampir Teknik Fisika ITB 24

seluruh wilayah Indonesia, kecuali wilayah Indonesia bagian timur (Maluku, Papua, dan Papua Barat). Aspal Pertamina diproduksi oleh RU-IV Cilacap sejak tahun 1976 (Proyek Kilang Minyak I) dan ditingkatkan kapasitasnya pada tahun 1983 (Proyek Kilang Minyak II). Sejalan dengan proyek peningkatan kapasitas (debottlenecking) pada tahun 1998/1999, maka kapasitas produksi Aspal ditingkatkan dari 512000 ton/tahun menjadi 720000 ton/tahun. Namun demikian produksi aspal pada tahun 2010 hanya mencapai 180000 ton/tahun karena kerusakan kilang RU IV Cilacap pada Januari 2010. Saat ini supply aspal diperoleh sebagian besar dari impor, sementara supply aspal dari RU IV Cilacap adalah sekitar 10-20 %.

BAB III FABRIKASI DRUM 3.1 Umum Proses fabrikasi drum dilakukan di Drum Plant Asphalt. Raw material (bahan dasar) pembuatan drum diperoleh dari PT. Krakatau Steel Cilegon. Raw material tersebut terbagi menjadi 3 macam, yaitu body sheet, head and bottom sheet, dan lid sheet. Body sheet Teknik Fisika ITB 25

merupakan raw material pembuatan body drum, head and bottom sheet merupakan raw material pembuatan top cover dan bottom cover; dan lid sheet merupakan raw material pembuatan tutup drum. Ukuran masing-masing raw material dapat dilihat seperti pada tabel 8 sebagai berikut: Raw Material: Body Sheet Head and Bottom Sheet Ukuran: 1580 mm x 882 mm x 0.63 mm 1900 mm x 900 mm x 0.63 mm

Lid Sheet 1125 mm x 565 mm x 0.63 mm Tabel 8. Ukuran Dimensi Raw Material Ready Drum BPG 3.2 Proses Penerimaan dan Pengeluaran Material Raw material raw material ini diterima di Gudang sebelum diserahkan kepada bagian Fabrikasi Drum sesuai kebutuhan. Adapun prosedur penerimaan material ke Gudang dan proses pengeluaran material dari Gudang dilakukan berdasarkan TKO B- 010/F10214/2012S0 Penerimaan dan Pengeluaran Material, yaitu sebagai berikut: A. PENERIMAAN MATERIAL 1. Petugas Sekuriti menerima kedatangan pemasok material, memeriksa dokumen pengantarnya, dan melaporkan kedatangan tersebut kepada Administrasi, Penjualan dan Keuangan. 2. Administrasi, Penjualan, dan Keuangan memeriksa jenis dan jumlah material, kelengkapan, dan kebenaran dokumen pendukungnya, serta membuat dokumen penerimaan untuk ditandatangani oleh Pengawas Administrasi, Penjualan, dan Keuangan. 3. Teknik memeriksa kesesuaian spesifikasi material. Bila hasil pemeriksaan: a. b. Sesuai, maka dilanjutkan ke langkah 7. Tidak sesuai, maka dilanjutkan ke langkah 4-6. 4. Teknik melaporkannya kepada OH BPG. 5. OH BPG memberikan disposisi tindak lanjut kepada Administrasi, Penjualan, dan Keuangan. 6. Administrasi, Penjualan, dan Keuangan melaksanakan disposisi OH BPG. 7. Teknik menandatangani dokumen penerimaan dan meneruskannya kepada OH BPG. 8. OH BPG menandatangani dokumen penerimaan. Teknik Fisika ITB 26

9. Administrasi, Penjualan , dan Keuangan menyimpan material di gudang dengan baik, dan dengan memperhatikan aspek K3LL, serta memutakhirkan kartu stok. B. PENGELUARAN MATERIAL 1. Fungsi Terkait / User mengisi formulir Permintaan Material dan menyerahkannya ke Administrasi, Penjualan, dan Keuangan. 2. Administrasi, Penjualan, dan Keuangan memeriksa ketersediaan material, jika hasil pemeriksaan: a. b. Tidak tersedia, maka Administrasi, Penjualan, dan Keuangan memberi Tersedia, maka Administrasi, Penjualan, dan Keuangan menyerahkan stempel material, PH dan (Persediaan Habis) pada formulir Permintaan Material. melanjutkannya ke langkah 3. 3. Administrasi, Penjualan, dan Keuangan mencatat pengeluaran pada kartu stock dan menerbitkan PNBP untuk material own use, misalnya BBM dan pelumas. 4. Administrasi, Penjualan dan Keuangan melaporkan stok material kepada OH BPG secara bulanan. 3.3 Proses Pembuatan Ready Drum Pada proses pembuatan top cover dan bottom cover digunakan raw material berupa head and bottom sheet. Raw material ini kemudian diproses dengna menggunakan 150 Tons Press Machine, sehingga diperoleh top cover dan bottom cover. Untuk top cover kemudian diproses lebih lanjut dengan melubanginya menggunakan 60 Tons Press Machine, di mana lubang ini untuk tempat masuk filling aspal.

Pada proses pembuatan lid drum (tutup drum) digunakan lid sheet. Lid sheet ini kemudian diproses menggunakan 60 Tons Press Machine, sehingga diperoleh lid drum. Lid drum ini berfungsi sebagai tutup drum. Pada proses pembuatan body drum digunakan raw material berupa body sheet. Body sheet ini kemudian diproses menggunakan Rolling Machine untuk membuatnya menjadi melengkung. Kemudian diproses lebih lanjut menggunakan Seam Welding Machine untuk Teknik Fisika ITB 27

menyambungkan kedua ujung sheet sehingga menjadi berbentuk tabung. Kemudian diproses lebih lanjut menggunakan Flanging Machine untuk membuat lekukan di kedua ujungnya. Kemudian diproses lebih lanjut menggunakan Corrugating Machine untuk membuat aluralur pada dinding drum, sehingga diperoleh body drum. Top cover dan bottom cover yang sudah jadi kemudian disambungkan ke body drum dengan menggunakan Double Seaming Machine. Setelah tersambung, drum ini kemudian dites bocor-tidaknya menggunakan Leakage Tester Machine. Setelah itu, kemudian drum dimasukkan ke Painting Machine untuk dicat warna hitam polos. Setelah itu, drum dikeringkan dengan menggunakan Drying Machine. Drum yang sudah kering kemudian dipasang lid drum, sehingga diperolehlah ready drum. Ready drum ini memiliki diameter 500 mm dengan tinggi 870 mm yang memiliki daya tampung 160 L. Ready drum ready drum yang telah diproduksi kemudian ditampung di dalam Drum Plant Asphalt. Ready drum ready drum kemudian akan diserahkan ke bagian Penyaluran sesuai kebutuhan untuk keperluan pendistribusian aspal dalam kemasan drum. Alur proses pembuatan ready drum tersebut dapat dilihat seperti pada gambar 4 sebagai berikut:

Teknik Fisika ITB

28

Gambar 3. Proses Pembuatan Ready Drum di BPG Teknik Fisika ITB 29

Prosedur pembuatan ready drum dilakukan berdasarkan TKO B-006/F10214/2012-S0 Pembuatan Ready Drum, yaitu sebagai berikut: 1. 2. 3. Senior Supervisor Operation menyusun Rencana Kerja Tahunan dan Bulanan berdasarkan kontrak perjanjian tailor made produksi drum. OH BPG mengkaji dan mengesahkan Rencana Kerja Tahunan dan Bulanan. Fabrikasi Drum melaksanakan produksi berdasarkan Program Produksi Bulanan, dimulai dengan mengajukan Bon Permintaan Material kepada Gudang/Administrasi, Penjualan dan Keuangan sesuai TKO B-001/F10214/2012-S0 Penerimaan dan Penimbunan Aspal. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Administrasi, Penjualan dan Keuangan menyerahkan bahan baku dan bahan sesuai permintaan. Fabrikasi Drum menerima dan menggunakan bahan baku dan bahan pembantu untuk produksi drum. Fabrikasi Drum melaksanakan produksi ready drum dan mencatat hasil produksinya dalam Formulir Laporan Hasil Produksi Ready Drum. Fabrikasi Drum menyerahkan hasil produksi ready drum kepada Penyaluran sesuai Formulir Bon Permintaan Ready Drum. Fabrikasi Drum melaporkan hasil produksi dan penyerahan ready drum kepada Senior Supervisor Operation dengan tembusan kepada Administrasi, Penjualan dan Drum dan Penyerahan Ready Drum kepada OH BPG. OH BPG mengkaji dan mengesahkan laporan-laporan produksi. Keuangan. Administrasi, Penjualan dan Keuangan merekap dan melaporkan Hasil Produksi Ready pembantu

BAB IV Teknik Fisika ITB 30

PENERIMAAN DAN PENIMBUNAN 4.1 Umum Saat ini PT. Pertamina (Persero) Bitumen Plant Gresik (BPG( memperoleh supply aspal sebagian besar dari impor, dan sekitar 10-20 % dari RU IV Cilacap. Aspal disupply ke BPG melalui kapal tanker (jetty) yang dilabuhkan di dermaga BPG. Kapal tanker supplier aspal memiliki fasilitas heating system dan pump station di dalamnya. BPG menerima aspal dari supplier dan menimbunnya di storage tank. Proses penerimaan dan penimbunan aspal dilakukan berdasarkan TKO B-001/F10214/2012-S0 Penerimaan dan Penimbunan Aspal dan TKI C-001/F10214/2012-S0 Pelaksanaan Penerimaan dan Penimbunan Aspal. 4.2 Fasilitas-Fasilitas Untuk Proses Penerimaan dan Penimbunan Aspal Dermaga merupakan tempat berlabuhnya kapal tanker ( jetty) dari pihak supplier aspal. Terdapat 1 buah dermaga di BPG. Di dermaga dilengkapi dengan marine loading arm untuk inlet masuk supply aspal dari kapal tanker (jetty). Di dermaga juga dilengkapi dengan flexible hose yang berfungsi seperti marine loading arm. Jika marine loading arm sedang tidak dapat beroperasi, maka digunakan flexible hose. Instruksi kerja pengoperasian flexible hose dilakukan berdasarkan TKPA Pengoperasian Flexible Hose, yaitu sebagai berikut: A. Memasang Flexible Hose: 1. Arahkan satu sisi manifold Flexible Hose ke manifold pipa penerimaan darat, pasang packing dan sambung manifold Flexible Hose dengan manifold pipa penerimaan darat dengan menggunakan mur baut dan kunci rapat. 2. Arahkan satu sisi lain manifold Flexible Hose ke manifold tanker dengan menggunakan crane milik tanker, pasang packing dan sambung manifold Flexible Hose dengan manifold tanker dengan menggunakan mur baut dan kunci rapat.

4.2.1 Dermaga

B.

Melepas Flexible Hose: 31

Teknik Fisika ITB

1. Lepas mur, baut, dan packing penyambung manifold Flexible Hose dari manifold tanker. 2. Lepas mur, baut, dan packing penyambung manifold Flexible Hose dengan pipa darat. 3. Posisikan satu sisi Flexible Hose lebih tinggi agar sisa aspal bisa turun dan bersih. 4.2.2 Pump Station Pompa-pompa di pump station BPG ialah seperti ditunjukkan pada gambar 4 sebagai berikut:

Gambar 4. Pump Station di BPG Pump Station merupakan tempat lokasi pompa-pompa di BPG. Pompa digunakan untuk mengalirkan aspal dari storage tank untuk proses pengisian (filling) aspal, baik pengisian aspal curah (bulk) ke dalam tangki pada mobil tangki maupun pengisian aspal ke dalam kemasan drum. Saat ini terdapat 5 buah pompa di BPG (31P1A, 31P1B, 31P1C, 32P1A, 32P1B) yang masing-masing dioperasikan secara bergiliran setiap hari. Start-up pompa dilakukan setiap pagi jam 07.00 WIB.

Sebelum dilakukan start-up pompa, dipastikan terlebih dulu bahwa aspal dari storage tank Teknik Fisika ITB 32

telah mengalir ke jalur pipa inlet dan outlet pompa. Untuk mengetahui apakah aspal dari storage tank sudah sampai ke pompa atau belum, digunakan checkpoint sebagai indikator, yaitu sebuah pipa eksternal yang dibypass ke saluran inlet pompa. Melalui checkpoint ini akan dapat terlihat apakah aspal sudah sampai inlet pompa atau belum, jika sudah sampai maka dari checkpoint ini akan keluar aspal, di mana aspal keluarannya ditampung di sebuah drum penampung. Jika aspal sudah sampai ke inlet pompa, maka valve checkpoint ditutup, kemudian dilaksanakan start-up pompa. Instruksi kerja untuk pengoperasian pompa aspal dilaksanakan berdasarkan TKPA D002/F10214/2012-S0 Pengoperasian Pompa Aspal, yaitu sebagai berikut: 1. A. Kondisi normal: 1. Buka kerangan outlet dan inlet di tangki timbun. 2. Buka kerangan outlet dan inlet di pompa aspal. 3. Buka kerangan sirkulasi. 4. Periksa dan tambahkan pelumas di Gear Box bila pelumas berada pada garis minimum. 5. Jalankan kompresor untuk menggerakkan Pressure Control Valve pada pompa. B. Pengoperasian 1. Setting Pressure Indicator Control pada kondisi normal. 2. Tekan tombol on pada Pressure Indicator Control. 3. Tekan tombol on pada kotak panel untuk start mengoperasikan pompa aspal. 4. Perhatikan amperemeter dan tekanan pada pompa aspal. 5. Setting Pressure Indicator Control pada kondisi yang diinginkan. Persiapan

C. Teknik Fisika ITB

Mematikan 33

1. Tekan tombol off pada kotak panel untuk mematikan pompa produk. 2. Tutup kerangan outlet pada tangki timbun. 3. Tutup kerangan outlet pada pompa produk. 4. Tekan tombol off pada Pressure Indicator Control. 5. Matikan kompresor puma. 6. Flushing pompa produk dan jalur pipa inlet ke tangki timbun dengan udara tekan. 7. Tutup semua kerangan pipa inlet dan kerangan sirkulasi. 2. Kondisi Darurat: Bila terjadi trouble, segera matikan aliran listrik, dan pastikan tidak ada pencemaran. 4.2.3 Heating System Aspal bersifat adhesive dan membeku pada suhu ruang. Agar dapat disalurkan, maka suhu aspal dijaga di atas 125oC menggunakan electric heater. Heating system dipasang di setiap storage tank dan jalur pipa yang akan dialiri aspal, baik jalur jetty-storage tank maupun jalur dari storage tank ke pengisian aspal curah dan pengisian aspal dalam kemasan drum. Instruksi kerja heating system dilakukan berdasarkan TKPA D-001/F10214/2012-S0 Pengoperasian Heating System, yaitu sebagai berikut: A. Pengoperasian Heating System: 1. Putar handle main isolator pada posisi on di sub station II. 2. Putar handle main isolator pada posisi on di control room. 3. Putar handle main isolator pada posisi on di zone yang akan dioperasikan. B. Mematikan Heating System 1. Putar handle main isolator pada posisi off di zone yang telah dioperasikan. 2. Putar handle main isolator pada posisi off di control room. 3. Putar handle main isolator pada posisi off di sub station II.

4.2.4 Flushing System Teknik Fisika ITB 34

Flushing dilakukan untuk membersihkan jalur pipa dari aspal-aspal sisa proses. Flushing ialah pengaliran udara tekan bertekanan 7-10 kg/cm 2 dengan menggunakan instrument air compressor. 4.2.4.1 Flushing Jalur Discharge (Jetty-Storage Tank) Flushing jalur discharge dilakukan 2 kali, yaitu sebelum dan sesudah proses discharge, masing-masing selama 1 jam. Udara tekan jalur ini diperoleh dari Sub Station. 4.2.4.2 Flushing Jalur Inlet-Outlet Pompa Jalur flushing salah satu pompa di pump station BPG ialah seperti ditunjukkan pada gambar 5 sebagai berikut:

Gambar 5. Salah Satu Jalur Flushing Untuk Pompa di Pump Station BPG Flushing jalur inlet-outlet pompa dilakukan 1 kali, yaitu setelah pompa dimatikan. Udara tekan untuk flushing jalur ini diperoleh dari instrument air compresor yang letaknya berada di dekat pump station. Flushing ini dilakukan untuk membersihkan pompa agar lebih awet.

4.2.5 Storage Tank Teknik Fisika ITB 35

Saat ini PT. Pertamina (Persero) Bitumen Plant Gresik memiliki 7 buah storage tank, di antaranya ialah 5 buah receiving tank (31T1, 31T2, 31T3, 31T4, 31T5) dan 2 buah blending tank (32T1 dan 32T2). Aspal yang disupply dari kapal tanker (jetty) akan ditimbun di receiving tank. Blending tank digunakan untuk tempat mencampur aspal penetrasi 60/70 dengan zat aditif tertentu sehingga diperoleh aspal super yang memiliki kwalitas lebih baik namun juga lebih mahal. Setiap storage tank dilengkapi dengan electric heater. 4.3 Proses Penerimaan dan Penimbunan Aspal Prosedur 1. 2. penerimaan dan penimbunan aspal dilakukan berdasarkan TKO B001/F10214/2012-S0 Penerimaan dan Penimbunan Aspal, yaitu sebagai berikut: PP menerima informasi nominasi kedatangan kapal, memeriksa dan menyiapkan volume ruang kosong (ulleage) dalam tangki timbun. PP memeriksa dokumen kargo dan jumlah kargo dengan cara sounding di setiap kompartemen kapal, apabila hasil pemeriksaan: a. b. 3. 4. Sesuai, maka PP bersama Chief Officer menandatangani SFBD (Ship Figure Before Discharge). Tidak sesuai, maka PP membuat Letter of Protest yang ditujukan kepada Kapten Kapal. PP mengambil sampel aspal di kompartemen kapal tanker, memberi label sampel, menyerahkan ke laboratorium untuk pemeriksaan mutu. Laboratorium a. b. melakukan pemeriksaan sampel dan memberitahukan hasil pemeriksaannya kepada PP, jika hasil pemeriksaan: Sesuai, maka PP melakukan pembongkaran sesuai TKI dan prosedur dalam TKO ini. Tidak sesuai, maka PP melapor kepada Pengawas Utama Operasi untuk penanganan lebih lanjut dengan mengacu kepada TKO B-005/F10214/2012S0 Pengendalian Ketidaksesuaian Produk Aspal. 5. 6. PP menyiapkan jalur penerimaan dan melaksanakakn penerimaan sesuai dengan TKI Penerimaan dan Penimbunan Aspal. Selama pembongkaran, PP memastikan tidak ada kebocoran PP dan produk sampai kepada tangki timbun yang sudah ditentukan sampai menerima informasi dari kapal bahwa pemompaan sudah selesai. 7. Setelah pembongkaran, PP (Petugas darat) memeriksa semua kompartemen untuk 36 dan

Teknik Fisika ITB

memastikan bahwa semua aspal telah dipompa habis. 8. 9. PP menandatangani Dry Certificate sambil menunggu waktu settling. Setelah settling, PP mengukur dan menghitung jumlah penerimaan sementara menggunakan density sebelum pembongkaran, apabila terjadi ketidaksesuaian jumlah maka dibuat Letter of Protest yang ditujukan kepada Kapten Kapal. 10. PP mengirim sampel ke laboratorium dan melakukan perhitungan ulang volume penerimaan menggunakan density baru dari hasil pemeriksaan laboratorium. 11. PP melakukan entry data ke My SAP dan membuat laporan ke pihak-pihak terkait.

Instruksi kerja pelaksanaan penerimaan dan penimbunan aspal dilakukan berdasarkan TKI C-001/F10214/2012-S0 Pelaksanaan Penerimaan dan Penimbunan Aspal, yaitu sebagai berikut: A. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. sampai 9. Kapal. II. Selama Pembongkaran 1. Periksa jalur pipa, bila terjadi kebocoran, segera perbaiki dan laporkan kepada atasan. 37 Di lapangan: I. Sebelum Pembongkaran Yakinkan ada ruang kosong (Ulleage) di tangki timbun. Operasikan heating system jalur pipa discharge untuk penerimaan Siapkan jalur pipa discharge dari loading arm sampai tangki timbun Arahkan manipol kapal supaya lurus dengan loading arm sehingga Minta Asisten PP untuk memeriksa cargo document dan Chief Officer Lakukan sounding compartment untuk mengetahui jumlah cargo tanker. Ambil sampel pada tiap compartment tanker untuk dikirim ke Laboratorium. (Ship Figure Hitung muatan tanker, Ast. PP dan Chief Officer menandatangani SFBD terjadi kesesuaian. Bila terjadi ketidaksesuaian, maka buatkan letter of protest yang ditujukan kepada Kapten aspal dari loading dan melaksanakan memudahkan menandatangani

arm sampai tangki timbun yang telah ditentukan. flushing pipa dengan udara tekan. waktu pemasangan dan pelepasan loading arm. Discharging Order, Shift Movement, Discharging Report, dan Discharging Plan.

Before Discharge), tetapi bila ada

ketidaksesuaian, dilakukan sounding dan perhitungan ulang

Teknik Fisika ITB

2. 3. 4.

Periksa apakah produk sudah mengalir sampai ke tangki timbun yang Jangan meninggalkan tempat selama proses pembongkaran Bila ditemukan / terjadi ketidaksesuaian, laporkan kepada pimpinan. III. Setelah Pembongkaran

sudah ditentukan.

berlangsung.

1. 2.

Terima pemberitahuan dari kapal tentang selesainya pemompaan. Tutup kerangan di loading arm dan Ast. PP melaksanakan inspeksi ke compartment selanjutnya Ast. PP menandatangani Dry

untuk melihat bahwa semua cargo telah dipompa habis, Certificate. 3. 4. Lepas loading arm.

Setelah settling time, ukur dan hitung data jumlah penerimaan

sementara

karena

pada

perhitungan ini temperatur mengacu pada

temperatur tangki untuk density memakai hasil dari penerimaan ketidaksesuaian maka masih terjadi

Laboratorium sebelum kapal bongkar, bila terjadi ketidaksesuaian jumlah diadakan pengukuran dan perhitungan ulang, apabila dibuatkan letter of protest yang 5. ditujukan ke pihak Kapal (Kapten Kapal).

Ambil sampel untuk diperiksa di Laboratorium, apabila pemeriksaan

telah selesai maka

petugas penimbunan menghitung ulang jumlah yang baru. 6.

penerimaannya dengan menggunakan density ke dalam program

Lapor kepada Ast. PP untuk dapat memasukkan data-data penerimaan

My SAP.

B.

Penyelesaian Administrasi Sebelum sesi My SAP R/3: 1. Hitung / kalkulasi jumlah aspal yang diterima di tangki timbun dan membandingkan dengan BL, After Loading, Before Discharge, dan Actual Receipt. 2. Membuat laporan penerimaan produk ke:

4.4

Fungsi Finance M&T Offsite Support Reg. V Fungsi Marine Reg. III Proses Pengukuran Level Aspal di Tangki Timbun 38

Teknik Fisika ITB

PT. Pertamina (Persero) Bitumen Plant Gresik memiliki instrumen level indicator dengan teknologi ATG (Automatic Tank Gauge). Selain itu juga dilakukan pengukuran level secara manual. Namun level indicator menggunakan ATG ini sudah tidak dapat beroperasi lagi, sehingga saat ini monitoring pengukuran level bergantung sepenuhnya pada pengukuran level secara manual. ATG menggunakan pelampung sebagai sensor level, spring motor sebagai tenaga penggerak (driving force), dan indikator level berupa pita berskala ukur. ATG merupakan dipping yang otomatis. Oleh karena prinsip kerjanya yang bersifat mekanis dan langsung kontak dengan fluida proses, maka ATG sangat rentan rusak. Namun di sejumlah industri di dunia masih ditemui penggunaan ATG untuk pengukuran level oleh karena harganya yang relatif sangat murah. Instruksi kerja pengukuran level tangki secara manual dilaksanakan berdasarkan TKI C003/F10214/2012-S0 Pengukuran Aspal di Tangki Timbun, yaitu sebagai berikut: A. Di Lapangan Gunakan peralatan safety yang telah titentukan. 1. Periksa kelengkapan alat-alat ukur sebelum naik tangki timbun, antara lain Dip Tape, masker, buku, tank ticket, grease, dan lap majun. 2. Periksa kerangan-kerangan dan pastikan dalam posisi tertutup dengan baik dan rapat. 3. Pada waktu naik tangga, posisi salah satu tangan harus berpegangan pada hand rail tangki timbun untuk menghindari listrik statis dan menimbulkan rasa aman. 4. Tentukan arah angin sebelum membuka lubang ukur / reference point. 5. Oleskan grease pada bandul ukur dip tape. 6. Letakkan pita dip tape pada bibir lubang ukur, turunkan perlahan, dan tarik dengan mantap, pita harus tetap bersinggungan dengan bibir lubang. 7. Apabila hasil pengukuran sudah benar, catat pada formulir tank ticket. (Catat tinggi cairan, tinggi ruang kosong, density & temperatur pada tank ticket). 8. Laporkan data-data tersebut kepada pengawas. B. Penyelesaian Administrasi Sebelum sesi My SAP: 1. Hitung / kalkulasi jumlah minyak yang ada di tangki timbun. 2. Periksa / teliti data angka tank ticket dan menandatangani dokumen-dokumen Teknik Fisika ITB 39

terkait. 4.5 Proses Pengukuran Volume Aspal di Tangki Timbun Pengukuran volume aspal dilakukan dengan menggunakan tabel volume tangki, di mana untuk setiap tangki memiliki tabel volume tangkinya masing-masing. Untuk memahami proses pengukuran volume aspal di dalam tangki timbun, di laporan ini ditunjukkan salah satu tabel volume tangki, yaitu tabel volume tangki untuk tangki 32T1 sebagai berikut: Tabel Volume Tangki (No.: 2444/13/MET/IX/98) No. Tangki Jenis Atap Diameter Volume Bersih Pemilik Lokasi : : : : : : 32-T-1 Tetap 10653 785153 Gresik mm liter

PERTAMINA UPPDN V PABRIK ASPAL GRESIK

A B C

D E

Gambar 6. Gambar Tangki Timbun Elevasi: Teknik Fisika ITB Tinggi lubang ukur A = 9490 mm 40

Tinggi tangki Tinggi maks. Vol. bersih Tinggi meja ukur Tinggi dasar tangki Ditera Ulang: Tanggal Oleh : :

B C D E

= = = =

9138 mm 8840 mm + 50 0 mm mm

13 September 1998 1. Tony Endro Soewastono 2. M. Fauzi 3. Sunaryo 4. Djoko Wijono

Catatan: 1. Tabel volume tangki ini dibuat untuk suhu 125 oC massa jenis cairan pada 15 oC = 1.010 g/ml 2. Selain suhu 125 oC, penunjukan tabel volume tangki harus dikalikan faktor { 1 + a ( t 125 oC ) } t a = = suhu tangki koefisien muai ruang bahan dinding tangki per oC 3. Tabel volume tangki ini berlaku 6 (enam) tahun. 4. Tangki ukur ini agar ditera ulang bulan September 2004. 5. Penyerahan / penerimaan isi tangki diizinkan minimum sampai perubahan tinggi cairan 2 meter. [Disahkah Berdasarkan Undang Undang RI Nomor 2 Tahun 1981 Tentang Metrologi Legal Dengan Membubuhkan Tanda Tera Sah Pada Lemping Volume Normal.] Surabaya, 15 September 1998 Contoh Pemakaian Tabel Volume Tangki (Nomor: 2444/13/MET/IX/98) Umpama menghitung volume tangki No. 32-T-1 dalam transaksi penyerahan suhu dinding tangki selama penyerahan rata-rata 126 oC. Tinggi cairan dari meja ukur menurut alat ukur tinggi Teknik Fisika ITB 41

(dip tape) sebelum cairan diserahkan (d1) Maka tinggi cairan dari dasar tangki (d1 + meja ukur 50 mm)

= =

7126 7176 636762.2

mm mm liter

Volume cairan pada suhu 125 oC dibaca pada tabel volume tangki =

{636227 liter + 6/10 x (637119 636227)} --> Halaman 6 (dari tabel volume tangki) Tinggi cairan dari meja ukur menurut alat ukur tinggi (dip tape) setelah cairan diserahkan (d2) Maka tinggi cairan dari dasar tangki (d2 + meja ukur 50 mm) = = 4512 4562 403829 mm mm liter

Volume cairan pada suhu 125 oC dibaca pada tabel volume tangki =

{403651 liter + 2/10 x (404541 403651)} --> Halaman 5 (dari tabel volume tangki) Volume yang diserahkan pada suhu 125 oC: 636762.2 liter 403829 liter Faktor koreksi volume tangki akibat perubahan suhu dari 125 oC menjadi 126 oC adalah: 1 + 0.0000348 (126 125) Jadi, volume cairan yang diserahkan pada suhu 126 oC: 1.0000348 x 232933.2 = 232941.31 liter = 1.0000348 = 232933.2 liter

4.6

Proses Pengujian Kwalitas Aspal Terdapat beberapa pengujian standar yang digunakan untuk merepresentasikan spesifikasi aspal, di antaranya ialah pemeriksaan specific gravity aspal, penetrasi aspal, ductility aspal, softening point aspal, flash point aspal, dan loss on heating. Di antara uji-uji tersebut terdapat 3 pengujian utama yang dapat merepresentasikan spesifikasi aspal, yaitu uji penetrasi, uji titik lembek (softening point), dan uji daktilitas (ductility).

4.6.1 Pengambilan Contoh Aspal Dari Tangki dan Kapal Untuk memperoleh hasil pemeriksaan dan memastikan mutu aspal dari suatu persediaan produk serta mengetahui berat jenisnya, diperlukan pengambilan contoh aspal yang terdiri dari: Teknik Fisika ITB 42

Contoh Atas (Upper Sample) Contoh Tengah (Middle Sample) Contoh Bawah (Lower Sample) Contoh Kesatuan (Average Sample)

Untuk penerimaan aspal dari kapal diperlukan pengambilan contoh yang terdiri dari: Contoh Compartment (Tangki Kapal) Contoh Composite (diambil dari tiap-tiap compartment)

Untuk memperoleh contoh yang representatif, pengambilan contoh hendaknya: Harus dilakukan oleh petugas yang telah benar-benar paham mengenai prosedur sampling. Dilaksanakan dengan cara yang benar. Contoh hendaknya betul-betul mewakili seluruh produk yang ada di tangki. Mempergunakan peralatan-peralatan yang sesuai standar, bersih, dan khusus untuk tiaptiap contoh. Hasil pengambilan contoh harus dikemas dengan baik, rapat, dan aman. Jika contoh yang akan diambil mempunyai temperatur yang tinggi, pakailah sarung tangan serta sarana yang aman.

Peralatan pengambilan contoh: Sampling Can dari tembaga. Ember / gelas dari besi untuk tadahan. Rantai. Kaleng contoh tutup lebar, kapasitas isi 1 liter. Kaleng contoh tutup lebar, kapasitas isi 5 liter. Sarung tangan kulit. Lampu senter. Lap / majun bersih. Kotak dari besi untuk membawa / mengangkut peralatan sampling. 43

Teknik Fisika ITB

Prosedur pengambilan contoh: 1. Klasifikasi contoh aspal dari tangki a. Upper Sample Masukkan sampling can tertutup ke dalam tangki. Setelah sampling can berada pada posisi titik tengah dari 1/3 bagian atas tangki yang terisi aspal, buka tutup sampling can agar terisi sampai penuh, kemudian tarik ke atas. b. Middle Sample Masukkan sampling can tertutup ke dalam tangki. Setelah sampling can berada pada posisi titik tengah tangki yang terisi aspal, buka tutup sampling can agar terisi sampai penuh, kemudian tarik ke atas. c. Lower Sample Masukkan sampling can tertutup ke dalam tangki. Setelah sampling can berada pada posisi titik tengah dari 1/3 bagian bawah tangki yang terisi aspal, buka tutup sampling can agar terisi sampai penuh, kemudian tarik ke atas. d. Average Sample Ambil dari masing-masing sample (upper sample, middle sample, dan lower sample) sebanyak 20% volume, kumpulkan menjadi satu dan aduk agar merata sebagai average sample. 2. Pengambilan contoh aspal di kapal Seperti diketahui bahwa kapal tanker terdiri dari beberapa compartment / tangki kapal dan tiap-tiap compartment diambil sample aspal dengan cara sebagai berikut: Masukkan sampling can tertutup ke dalam compartment. Setelah sampling can berada pada posisi titik tengah dari isi aspal yang ada dalam compartment tersebut (middle), buka tutup sampling can supaya sampling can terisi aspal sampai penuh (isi sampling can sekitar 1 liter), kemudian tarik sampling can ke atas. Dari sample aspal untuk tiap compartment, masing-masing diambil 20% volume sample, kemudian dikumpulkan menjadi satu contoh yang disebut 'composite sample'. Sementara sisanya, yaitu 80% volume disebut 'compartment sample'.

Teknik Fisika ITB

44

4.6.2 Pemeriksaan Penetrasi Aspal Penetrasi adalah ukuran bilangan atau angka yang menunjukkan keras-lunaknya suatu bahan plastis (bahan dalam bentuk semi solid, seperti aspal dan gemuk pelumas). Angka penetrasi rendah akan menunjukkan sifat yang mudah mengalir dan sifat kohesi yang baik. Oleh karena itu pada pemakaian aspal sebagai bahan perekat dibutuhkan pentrasi yang lebih tingi daripada pemakaian aspal sebagai bahan pengisi, atau dengan kata lain untuk mendapatkan suatu konstruksi pengaspalan yang baik maka jika di dalam konstruksi tersebut aspal banyak berfungsi sebagai bahan perekat haruslah digunakan aspal dengan penetrasi tinggi. Sebaliknya jika aspalnya banyak berfungsi sebagai bahan pengisi, dibutuhkan aspal dengan penetrasi yang rendah. Langkah-langkah uji penetrasi ialah seperti ditunjukkan oleh gambar 7 sebagai berikut:

biarkan jam suhu ruang Gambar 7. Langkah-Langkah Percobaan Untuk Uji Penetrasi Aspal

4.6.3 Pemeriksaan Softening Point Aspal Karena susunan aspal terdiri dari bermacam-macam campuran / persenyawaan, maka aspal tidak mempunyai satu titik leleh tertentu. Untuk produk yang demikian hanyalah dapat ditentukan titik lembeknya. Penentuan titik lembek aspal diperlukan untuk menetapkan kegunaan aspal pada iklim tertentu, bersama dengan angka penetrasi, dapat dipakai untuk menetapkan hubungan aspal terhadap perubahan suhu. Langkah-langkah uji titik lembek (softening point) ialah seperti ditunjukkan oleh gambar 8 sebagai berikut:

Teknik Fisika ITB

biarkan jam suhu ruang

biarkan jam suhu 0oC

45

Gambar 8. Langkah-Langkah Percobaan Untuk Uji Titik Lembek (Softening Point) Aspal 4.6.4 Pemeriksaan Ductility Aspal Daktilitas aspal ditentukan untuk mengetahui apakah aspal tersebut homogen, dan tidak mengandung butiran. Daktilitas berhubungan dengan sifat kohesi aspal. Makin tinggi daktilitasnya, maka makin baik sifat kohesinya. Bila aspal terutama berfungsi sebagai bahan pengisi, maka daktilitasnya harus tinggi. Langkah-langkah uji daktilitas (ductility) ialah seperti ditunjukkan oleh gambar 9 sebagai berikut:

biarkan jam suhu ruang Gambar 9. Langkah-Langkah Percobaan Untuk Uji Daktilitas (Ductility) Aspal

BAB V PENYALURAN 5.1 Umum Bagian Penyaluran bertugas menyalurkan aspal kepada konsumen baik aspal dalam bentuk curah (bulk) maupun aspal dalam kemasan drum. 5.2 Proses Pengisian Aspal Curah Prosedur pengisian aspal curah dilakukan berdasarkan TKO B-002/F10214/2012-S0 Pengisian Aspal Curah, yaitu sebagai berikut: 1. PP membuat laporan stok harian aspal curah dan ketahanan stok setiap hari secara 46

Teknik Fisika ITB

manual maupun dengan My SAP. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Penyaluran menerima SO (Sales Order) dari Penjualan UPms V lalu mengecek SO tersebut dapat diproses atau tidak dan memeriksa ketersediaan stok. Sebelum pengisian, Sekuriti membuat Surat Ijin Masuk dan mencatatnya dalam Buku Log Harian Sekuriti untuk setiap mobil tangki kosong yang datang. Gate Keeper memeriksa kembali mobil tangki dan surat ijin masuknya serta melaksanakan penimbangan untuk mengetahui berat kosong mobil tangki. Penyaluran mencatat berat kosong mobil tangki dalam Surat Jalan. Penyaluran melaksanakan pengisian mobil tangki sesuai dengan Sales Order. Sesudah pengisian, Penyaluran melaksanakan penimbangan mobil tangki dan menghitung jumlah netto aspal yang diserahkan. Penyaluran mengisi dan menandatangani Surat Jalan. Gate Keeper memeriksa mobil tangki dan surat jalan serta menyegel Manhole. Penyaluran membuat surat pengantar pengiriman via My SAP. Sekuriti memeriksa kelengkapan dokumen mobil tangki yang keluar. 12. Penyaluran membuat laporan harian pengisian aspal curah kepada Senior Supervisor Operation.

Lokasi weighing facility berada di gate keeper seperti ditunjukkan pada gambar 10 sebagai berikut:

Teknik Fisika ITB

47

Gambar 10. Gate Keeper BPG 5.3 Proses Pengisian Aspal Dalam Kemasan Drum Prosedur pengisian aspal dalam kemasan drum dilakukan berdasarkan TKO B003/F10214/2012-S0 Pengisian Aspal Drum, yaitu sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. PP membuat laporan stok harian aspal curah dan ketahanan stok setiap hari secara manual maupun dengan My SAP. Pengawas Utama Operasi menyusun Program Produksi BPG berdasarkan program yang sudah disetujui oleh Kantor Pusat. Penyaluran menerima dan melaksanakan Program Produksi BPG, dimulai dengan menyerahkan Formulir Bon Permintaan Ready Drum kepada Fabrikasi Drum. Fabrikasi Drum menyerahkan drum sesuai permintaan. Penyaluran menerima dan mengisi drum, mencantumkan nomor batch, menentukan lokasi penyimpanan di stock yard, mencatat dan melaporkkan hasil produksi harian kepada Pengawas Utama Operasi. 6. PP dan Penyaluran menyusun laporan harian, 10 harian (FD 235) dan laporan bulanan.

BAB VI SARAN OPTIMASI UNTUK BPG 6.1 Optimasi Pengukuran Level Tangki Timbun (Storage Tank) Terdapat 2 tipe pengukuran menggunakan radar, yaitu sistem invasive / contact dan sistem non-invasive / non-contact. Metode pengukuran radar secara invasive / contact disebut juga dengan metoda GWR (Guided Wave Radar), di mana digunakan sebuah pemandu gelombang berupa batang (rod) dengan spesifikasi design tertentu (bermacam-macam jenisnya) untuk memandu gelombang radar hingga sampai ke permukaan level fluida proses. Namun metode ini tidak dipilih karena fluida proses aspal bersifat sangat panas dan Teknik Fisika ITB 48

6.1.1 Prinsip Kerja Radar Tank Gauge (RTG)

adhesive, sehingga tidak dibahas lebih lanjut pada laporan ini. Sistem pengukuran dengan radar secara non-invasive / non-contact menggunakan sebuah perangkat antenna untuk memancarkan dan menerima gelombang pantul secara kontinu secara non-invasive / noncontact. Sistem ini lebih disarankan karena tidak kontak langsung dengna fluida proses dan telah teruji di beberapa industri yang menggunakan teknologi radar untuk sistem instrumentasi pengukuran level. Salah satu instrumen RTG (non-invasive / non-contact) yang digunakan untuk pengukuran level aspal dapat dilihat seperti pada gambar 11 sebagai berikut:

Gambar 11. Radar Tank Gauge Untuk Pengukuran Level Aspal RTG menggunakan gelombang radar sebagai media untuk pengukuran level dengan cara mentransmisikannya ke fluida proses kemudian menerima gelombang pantulannya.

Fenomena ini dapat diilustrasikan seperti pada gambar 12 sebagai berikut.

Gambar 12. Ilustrasi Proses Transmisi dan Refleksi Gelombang Radar Terdapat 2 buah teknik modulasi untuk pengukuran level menggunakan teknologi radar, Teknik Fisika ITB 49

yaitu sistem pulsed radar dan sistem FMCW (Frequency Modulated Continuous Wave). Metode pengukuran dengan sistem pulsed radar mirip seperti prinsip pengukuran level menggunakan teknologi gelombang ultrasonik, yaitu dengan menghitung waktu tempuh gelombang. Dari waktu tempuh tersebut dapat dikalkulasi jarak tempuh, yang kemudian dapat dikalkulasi lebih lanjut hingga menjadi representasi level aktual fluida proses di dalam tangki. Sistem FMCW merupakan teknologi modulasi yang mengukur selisih frekuensi gelombang transmisi dan gelombang pantul, di mana selisih frekuensi ini sebanding dengan jarak tempuh, sehingga dapat diperoleh pengukuran level aktual fluida proses di dalam tangki. Sistem FMCW memberikan hasil yang lebih akurat. Sistem FMCW dapat diilustrasikan seperti pada gambar 13 sebagai berikut.

Gambar 13. Ilustrasi Sistem Modulasi FMCW

Pengembangan lebih lanjut dari teknologi pengukuran tangki menggunakan gelombang radar ialah dengan mengintegrasikannya dengan sensor temperatur dan sensor tekanan, sehingga dapat dilakukan pula pengukuran besaran-besaran proses lain, misalnya densitas. Pengintegrasian tank gauge dengan sensor temperatur dan sensor tekanan dapat diilustrasikan seperti pada gambar 14 sebagai berikut.

Teknik Fisika ITB

50

Gambar 14. Ilustrasi Pengintegrasian RTG dengan Sensor Temperatur dan Sensor Tekanan 6.1.2 Instalasi Radar Tank Gauge pada Storage Tank BPG Instrumen ATG yang sudah tidak beroperasi masih terpasang di tiap storage tank BPG. Lubang dari instalasi instrumen ini dapat digunakan untuk pemasangan instrumen RTG.

Salah satu sistem instalasi RTG untuk tangki timbun BPG dapat dilakukan seperti pada gambar 15 sebagai berikut.

Gambar 15. Instalasi RTG Teknik Fisika ITB 51

Instalasi lebih detail tidak dibahas di laporan ini, melainkan hanya ide secara garis besarnya saja. Untuk optimasi lebih lanjut dapat pula digunakan pengintegrasian RTG dengan sensor temperatur dan sensor tekanan untuk pengukuran besaran-besaran lain. Namun perlu pula untuk dipertimbangkan seberapa perlu dilakukan pengukuran-pengukuran besaran-besaran lain, serta berapa biaya instalasi dan bagaimana potensi jangka panjangnya, dll. Di mana hal tersebut diserahkan sepenuhnya pada pihak management internal BPG. 6.2 Optimasi Pengintegrasian Sistem Weighing dengan Sistem Pengisian Aspal Curah Untuk pengisian aspal curah, digunakan weighing facility sebagai media untuk mengukur jumlah aspal yang didistribusikan dalam bentuk curah (bulk) dalam besaran massa. Weighing facility terletak di Gate Keeper. Mobil tangki kosong yang baru datang akan diukur terlebih dahulu berat kosongnya di Gate Keeper, baru kemudian dilanjutkan ke proses filling di bagian Filling Aspal Curah. Namun lokasi Filling Aspal Curah dan Gate Keeper relatif cukup jauh. Jika terjadi kelebihan pengisian aspal, maka di Gate Keeper dapat di tapping sebagian aspal di dalam mobil tangki yang kemudian ditampung di sebuah drum penampung untuk mengurangi jumlah aspal di dalam mobil tangki. Namun jika terjadi kekurangan pengisian aspal, maka mobil tangki kembali lagi ke bagian Filling Aspal Curah untuk diisi aspal lagi.

Efisiensi dapat dilakukan dengan mengintegrasikan sistem weighing dengan sistem pengisian aspal curah, yaitu proses weighing dan proses pengisian aspal curah dilakukan di satu lokasi yang sama. Salah satu instalasi yang relatif lebih simple ialah dengan memindahkan weighing facility ke Filling Aspal Curah, sehingga diperoleh kepastian pengukuran penampungan aspal ke dalam mobil tangki. Solusi ini cukup menekan biaya karena tidak perlu biaya tambahan untuk pengadaan barang. Untuk peningkatan efisiensi waktu pendistribusian aspal curah, dapat pula digunakan driver operated weighbridge system (unmanned weighbridge system). Dengan sistem ini, pengemudi mobil tangki dapat melayani sendiri untuk kegiatan penimbangan (weighing) dengan menggunakan suatu perangkat interface yang user-friendly, dan sistem pengaksesan Teknik Fisika ITB 52

menggunakan swipe card, key, atau bar code. Ilustrasi penggunaan sistem driver operated dapat diilustrasikan seperti pada gambar 16 sebagai berikut.

Gambar 16. Driver Operated Weighbridge System (Unmanned Weighbridge System) Selain itu terdapat pula solusi peningkatan efisiensi waktu pengisian aspal curah, yaitu dengan bagaimana caranya mobil tangki dapat langsung diisi aspal curah di lokasi Gate Keeper. Hal ini dapat dimungkinkan dengan mendesign saluran pipa dari lokasi tangkitangki timbun ke Gate Keeper, yang di dilengkapi pula dengan heating system. Namun laporan ini tidak dibahas lebih jauh hingga instalasi jalur pipa dan heating system dari lokasi tangki-tangki timbun ke Gate Keeper, melainkan hanya dipaparkan ide optimasi secara garis besar. Untuk proses lebih lanjut diserahkan sepenuhnya kepada pihak management internal BPG. Optimasi di bidang ini dapat menjadi cukup vital mengingat potensi peningkatan permintaan aspal untuk tahun-tahun ke depan.

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Pengukuran level menggunakan ATG tidak cocok untuk fluida proses berupa aspal. Optimasi pengukuran level menggunakan RTG dapat menjadi solusi peningkatan efisiensi sistem pengukuran level tangki di BPG. Pengintegrasian sistem weighing dan filling untuk pengisian aspal curah dapat meningkatkan efisiensi waktu pendistribusian aspal curah.

Teknik Fisika ITB

53

7.2

Saran Jika akan dilakukan optimasi peningkatan efisiensi waktu dengan membuat jalur pipa dari lokasi tangki-tangki timbun ke Gate Keeper, maka instalasi design pipa beserta dengan heating systemnya perlu dilakukan dengan hati-hati dengan mempertimbangkan keselamatan kerja. Selain itu juga perlu dipertimbangkan apakah pompa saat ini cukup kuat untuk menopang sistem filling yang baru, di mana lintasannya lebih panjang, sehingga beban pompa menjadi meningkat. Sebaiknya dilakukan studi banding dengan sistem filling dari Production Unit Gresik (PUG) Lubricants yang sudah mengintegrasikan dengan sistem weighin, apalagi mengingat lokasi PUG yang berada di satu daerah yang sama dengan BPG dan saling bersebelahan.

DAFTAR PUSTAKA

Teknik Fisika ITB

54