Anda di halaman 1dari 24

24

KONSEPSI PENYELENGGARAAN KOMSOS UNTUK MENYIAPKAN ALAT JUANG YANG TANGGUH DALAM RANGKA MENCEGAH TERORISME DI DAERAH

DI SUSUN OLEH :

RAMSES L. TOBING, S.T. LETNAN KOLONEL ARH NRP 32763

KONSEPSI PENYELENGGARAAN KOMSOS UNTUK MENYIAPKAN ALAT JUANG YANG TANGGUH DALAM RANGKA MENCEGAH TERORISME DI DAERAH

TNI Angkatan Darat sebagai bagian dari TNI memiliki tugas Pokok menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara1 di wilayah daratan. Sedangkan untuk tugas-tugas sesuai kematraan antara lain ; melaksanakan tugas TNI matra darat di bidang pertahanan yaitu dengan melakukan OMP dan OMSP; melaksanakan tugas TNI dalam menjaga keamanan wilayah perbatasan darat dengan negara lain; melaksankan tugas TNI dalam pembangunan dan pengembangan kekuatan matra darat; serta melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan di darat. Dalam rangka melaksanakan tugas pokok dan tugas-tugas sesuai kematraan diatas, maka TNI Angkatan Darat menyelenggarakan fungsi utama, fungsi organik militer, fungsi organik pembinaan, fungsi teknis militer umum, fungsi teknis militer khusus serta fungsi khusus. Binter TNI Angkatan Darat pada hakekatnya adalah kegiatan penyiapan

wilayah pertahanan dan kekuatan pendukungnya secara dini sesuai Sishanta serta upaya untuk membangun, memelihara, meningkatkan dan memantapkan Kemanunggalan TNI-Rakyat melalui kegiatan bantuan untuk mengatasi kesulitan rakyat2. Binter sebagai fungsi utama pada hakekatnya merupakan tugas TNI Angkatan Darat dalam membantu pemerintah secara dini dengan menyelenggarakan perencanaan, pengembangan,

pengerahan, dan pengendalian potensi wilayah pertahanan dengan segenap aspeknya menjadi kekuatan sebagai Ruang, Alat dan Kondisi juang yang tangguh bagi kepentingan

1 2

Keputusan Kasad Nomor Kep/23/IV/2007, Naskah Sementara Doktrin TNI AD KEP Ibid. pasal 22.

2 pertahanan negara di darat 3. Binter dalam rangka pembinaan (perspektif kegiatan) merupakan upaya pekerjaan dan tindakan, baik secara berdiri sendiri maupun bersama dengan aparat terkait dan komponen bangsa lainnya untuk membantu pemerintah dalam menyiapkan kekuatan pertahanan aspek darat yang meliputi wilayah pertahanan dan kekuatan pendukungnya serta terwujudnya Kemanunggalan TNI Rakyat, yang

dilaksanakan sesuai kewenangan dan peraturan perundang-undangan dalam rangka tercapainya tugas pokok TNI Angkatan Darat4. Sedangkan Binter dalam rangka penggunaan diarahkan untuk membantu pemerintah dalam menyiapkan kekuatan pertahanan aspek darat yang meliputi wilayah pertahanan dan kekuatan pendukungnya secara dini melalui kegiatan bantuan untuk mengatasi kesulitan masyarakat yang dilaksanakan sesuai kewenangan dan peraturan perundang-undangan dalam rangka tercapainya tugas pokok TNI Angkatan Darat. Keberhasilan pelaksanaan tugas pokok TNI Angkatan Darat sangat ditentukan oleh sejauh mana efektivitas pelaksanaan pembinaan fungsi utama TNI Angkatan Darat yang diarahkan untuk mewujudkan penampilan fungsi pertempuran, pembinaan kekuatan, dan pembinaan teritorial (Binter). Keselarasan antara Binter dengan Pembinaan kekuatan (Binkuat) adalah kemampuan pembinaan teritorial yang pada hakikatnya diarahkan untuk mewujudkan profesionalitas keprajuritan baik secara perseorangan maupun satuan, dengan sasaran adalah terwujudnya kemampuan prajurit, baik perseorangan maupun satuan dalam menyiapkan potensi wilayah menjadi kekuatan pertahanan negara di darat5. Sedangkan keselarasan antara Binter dengan pertempuran adalah Pembinaan ruang pertempuran dengan sasaran adalah tersusun dan disiapkannya ruang

pertempuran matra darat yang meliputi seluruh wilayah kompartemen strategis untuk digunakan dalam penyelenggaraan pertempuran di darat, baik dalam rangka Operasi Militer untuk Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP)6.

3 4 5 6

Ibid.pasal 14. Kep Kasad Nomor : Kep /98/IV/2007, Bujukin tentang Binter. Kep Kasad Nomor : Kep /23/IV/2007, Nasem tentang Doktrin TNI AD KEP, pasal 21 ayat b Ibid. pasal 20 ayat a, point 2)

3 Salah satu tugas TNI dalam OMSP adalah operasi dalam rangka memberantas aksi terorisme7. Terorisme digunakan sebagai senjata psikologis untuk menciptakan suasana panik, tidak menentu serta menciptakan ketidak percayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dan memaksa masyarakat atau kelompok tertentu untuk mentaati kehendak pelaku teror. Terorisme tidak ditujukan langsung kepada lawan, akan tetapi perbuatan teror justru dilakukan dimana saja dan terhadap siapa saja. Dan yang lebih utama, maksud yang ingin disampaikan oleh pelaku teror adalah agar perbuatan teror tersebut mendapat perhatian yang khusus atau dapat dikatakan lebih sebagai psywar. Sifat tindakan, pelaku, tujuan strategis, motivasi, hasil yang diharapkan serta dicapai, target-target serta metode Terorisme kini semakin luas dan bervariasi. Sehingga semakin jelas bahwa teror bukan merupakan bentuk kejahatan kekerasan destruktif biasa, melainkan sudah merupakan kejahatan terhadap perdamaian dan keamanan umat manusia (crimes against peace and security of mankind). Terorisme tidak bisa hanya dengan penindakan terhadap kejahatan tersebut telah terjadi namun perlu diambil langkah- langkah integratif yang melibatkan seluruh komponen masyarakat. Pembinaan Teritorial dilaksanakan oleh TNI-AD dengan menggunakan beberapa metoda yaitu Bintahwil, Bakti TNI dan Komunikasi Sosial namun dalam pembahasan tulisan ini lebih mengedepankan Komunikasi Sosial sebagai metoda karena setiap kegiatan yang dilaksanakan dimulai dari komunikasi yang benar, dapat dilaksanakan kapan saja, dimana saja dan lebih fleksibel situasinya. Namun banyak permasalahan-permasalahan yang harus dibenahi agar Komunikasi sosial yang dilakukan oleh aparat Kowil dapat dilaksanakan efektif, sesuai sasaran, dampak yang diharapkan dari pelaksanaannya

langsung bisa dirasakan, dan bisa dilaksanakan oleh seluruh tingkatan dan jenjang satuan Kowil antara lain organisasi yang disebut dalam pelaksanaan Komsos baru mengatur dalam struktur TNI-AD tidak melibatkan komponen lain, pesan yang disampaikan tidak berkesinambungan hanya bersifat temporer, tugas dan tanggung jawab tiap strata satuan tidak detail dan aplikatif sehingga hasil Komsos selama ini tidak dapat terukur dan tidak dapat ditindak lanjuti secara berkesinambungan.

Undang Undang Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, pasal 7 ayat (2), point b angka 3.

4 Agar komponen masyarakat yang menjadi sasaran penyampaian pesan melalui Komsos tersebut dapat dijadikan sebagai alat juang yang tangguh dalam mencegah aksi Terorisme maka masyarakat tersebut harus dihindarkan dari situasi atau keadaan yang membuat aksi teroris tersebut tumbuh subur dilingkungan masyarakat tersebut antara lain : masyarakat tersebut harus sejahtera, mengerti hukum, tahu hak dan kewajibannya sebagai warga negara, mau secara sadar bekerjasama/ bergotong royong dan mengerti dampak dari aksi terorisme tersebut. Berangkat dari permasalahan yang telah di deskripsikan diatas penulis mencoba untuk menawarkan Konsep penyelenggaraan komsos untuk menyiapkan alat juang yang tangguh dalam mencegah aksi terorisme di daerah melibatkan aparat Komando Kewilayahan setingkat Kodim kebawah dan komponen masyarakat. BAGAIMANA TERORIS DAPAT BERKEMBANG DAN KEGAMANGAN DALAM MENANGANINYA. Sejarah tentang Terorisme8 berkembang sejak berabad lampau, ditandai dengan bentuk kejahatan murni berupa pembunuhan dan ancaman yang bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Perkembangannya bermula dalam bentuk fanatisme aliran kepercayaan yang kemudian berubah menjadi pembunuhan, baik yang dilakukan secara perorangan maupun oleh suatu kelompok terhadap penguasa yang dianggap sebagai tiran. Pembunuhan terhadap individu ini sudah dapat dikatakan sebagai bentuk murni dari Terorisme dengan mengacu pada sejarah Terorisme modern. Meski istilah Teror dan Terorisme baru mulai populer abad ke-18, namun fenomena yang ditujukannya bukanlah baru. Menurut Grant Wardlaw dalam buku Political Terrorism (1982), manifestasi Terorisme sistematis muncul sebelum Revolusi Perancis, tetapi baru mencolok sejak paruh kedua abad ke-19. Dalam suplemen kamus yang dikeluarkan Akademi Perancis tahun 1798, terorisme lebih diartikan sebagai sistem rezim teror. Kata Terorisme berasal dari Bahasa Perancis le terreur yang semula dipergunakan untuk menyebut tindakan pemerintah hasil Revolusi Perancis yang mempergunakan kekerasan
8

Loudewijk F. Paulus,Terorisme

5 secara brutal dan berlebihan dengan cara memenggal 40.000 orang yang dituduh melakukan kegiatan anti pemerintah. Selanjutnya kata Terorisme dipergunakan untuk menyebut gerakan kekerasan anti pemerintah di Rusia. Dengan demikian kata Terorisme sejak awal dipergunakan untuk menyebut tindakan kekerasan oleh pemerintah maupun kegiatan yang anti pemerintah. Terorisme muncul pada akhir abad 19 dan menjelang terjadinya Perang Dunia-I, terjadi hampir di seluruh belahan dunia. Pada pertengahan abad ke-19, Terorisme mulai banyak dilakukan di Eropa Barat, Rusia dan Amerika. Mereka percaya bahwa Terorisme adalah cara yang paling efektif untuk melakukan revolusi politik maupun sosial, dengan cara membunuh orang-orang yang berpengaruh. Sejarah mencatat pada tahun 1890-an aksi terorisme Armenia melawan pemerintah Turki, yang berakhir dengan bencana

pembunuhan masal terhadap warga Armenia pada Perang Dunia I. Pada dekade tersebut, aksi Terorisme diidentikkan sebagai bagian dari gerakan sayap kiri yang berbasiskan ideologi. Bentuk pertama Terorisme, terjadi sebelum Perang Dunia II, Terorisme dilakukan dengan cara pembunuhan politik terhadap pejabat pemerintah. Bentuk kedua Terorisme dimulai di Aljazair di tahun 50an, dilakukan oleh FLN yang memopulerkan serangan yang bersifat acak terhadap masyarakat sipil yang tidak berdosa. Hal ini dilakukan untuk melawan apa yang disebut sebagai Terorisme negara oleh Algerian Nationalist. Pembunuhan dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan keadilan. Bentuk ketiga Terorisme muncul pada tahun 60an dan terkenal dengan istilah Terorisme Media, berupa serangan acak terhadap siapa saja untuk tujuan publisitas. Bentuk ketiga ini berkembang melalui tiga sumber, yaitu: 1. Kecenderungan sejarah yang semakin menentang kolonialisme dan tumbuhnya gerakan-gerakan demokrasi serta HAM. 2. Pergeseran ideologis yang mencakup kebangkitan fundamentalis agama, radikalis setelah era perang Vietnam dan munculnya ide perang gerilya kota. 3. Kemajuan teknologi, penemuan senjata canggih dan peningkatan lalu lintas. Namun Terorisme bentuk ini dianggap kurang efektif dalam masyarakat yang ketika itu sebagian besar buta huruf dan apatis. Seruan atau perjuangan melalui tulisan mempunyai

6 dampak yang sangat kecil. Akan lebih efektif menerapkan the philosophy of the bomb yang bersifat eksplosif dan sulit diabaikan. Pasca Perang Dunia II, dunia tidak pernah mengenal damai. Berbagai pergolakan berkembang dan berlangsung secara

berkelanjutan. Konfrontasi negara adikuasa yang meluas menjadi konflik Timur Barat dan menyeret beberapa negara Dunia Ketiga ke dalamnya menyebabkan timbulnya konflik Utara Selatan. Perjuangan melawan penjajah, pergolakan rasial, konflik regional yang menarik campur tangan pihak ketiga, pergolakan dalam negeri di sekian banyak negara Dunia Ketiga, membuat dunia labil dan bergejolak. Ketidakstabilan dunia dan rasa frustasi dari banyak Negara Berkembang dalam perjuangan menuntut hak-hak yang dianggap fundamental dan sah, membuka peluang muncul dan meluasnya Terorisme. Fenomena Terorisme meningkat sejak permulaan dasa warsa 70-an. Terorisme dan Teror telah berkembang dalam sengketa ideologi, fanatisme agama, perjuangan kemerdekaan, pemberontakan, gerilya, bahkan juga oleh pemerintah sebagai cara dan sarana menegakkan kekuasaannya. Terorisme gaya baru mengandung beberapa karakteristik 9: 1. Ada maksimalisasi korban secara sangat mengerikan. 2. Keinginan untuk mendapatkan liputan di media massa secara internasional secepat mungkin. 3. Tidak pernah ada yang membuat klaim terhadap Terorisme yang sudah dilakukan.4. serangan Terorisme itu tidak pernah bisa diduga karena sasarannya sama dengan luasnya seluruh permukaan bumi. Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil. Istilah teroris oleh para ahli kontraterorisme dikatakan merujuk kepada para pelaku yang tidak tergabung dalam angkatan bersenjata yang dikenal atau tidak menuruti peraturan angkatan bersenjata tersebut. Aksi terorisme juga mengandung makna bahwa serangserangan teroris yang dilakukan tidak berperikemanusiaan

Amien Rais ,Hadapi Terorisme dengan cerdas

7 Kegiatan Terorisme mempunyai tujuan untuk membuat orang lain merasa ketakutan sehingga dengan demikian dapat menarik perhatian orang, kelompok atau suatu bangsa. Biasanya perbuatan teror digunakan apabila tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh untuk melaksanakan kehendaknya. Terorisme digunakan sebagai senjata psikologis untuk menciptakan suasana panik, tidak menentu serta menciptakan ketidak percayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dan memaksa masyarakat atau kelompok tertentu untuk mentaati kehendak pelaku teror. Terorisme tidak ditujukan langsung kepada lawan, akan tetapi perbuatan teror justru dilakukan dimana saja dan terhadap siapa saja. Dan yang lebih utama, maksud yang ingin disampaikan oleh pelaku teror adalah agar perbuatan teror tersebut mendapat perhatian yang khusus atau dapat dikatakan lebih sebagai psy-war. Sejauh ini belum ada batasan yang baku untuk mendefinisikan apa yang dimaksud dengan Terorisme. Menurut Prof. M. Cherif Bassiouni, ahli Hukum Pidana Internasional, bahwa tidak mudah untuk mengadakan suatu pengertian yang identik yang dapat diterima secara universal sehingga sulit mengadakan pengawasan atas makna Terorisme tersebut. Sedangkan menurut Prof. Brian Jenkins, Phd., Terorisme merupakan pandangan yang subjektif, hal mana didasarkan atas siapa yang memberi batasan pada saat dan kondisi tertentu. Belum tercapainya kesepakatan mengenai apa pengertian terorisme tersebut, tidak menjadikan terorisme dibiarkan lepas dari jangkauan hukum. Usaha memberantas Terorisme tersebut telah dilakukan sejak menjelang pertengahan abad ke-20. Pada tahun 1937 lahir Konvensi Pencegahan dan Penghukuman Terorisme (Convention for The Prevention and Suppression of Terrorism), dimana Konvensi ini mengartikan terorisme sebagai Crimes against State. Melalui European Convention on The Supression of Terrorism (ECST) tahun 1977 di Eropa, makna Terorisme mengalami suatu pergeseran dan perluasan paradigma, yaitu sebagai suatu perbuatan yang semula dikategorikan sebagai Crimes against State (termasuk pembunuhan dan percobaan pembunuhan Kepala Negara atau anggota keluarganya), menjadi Crimes against Humanity, dimana yang menjadi korban adalah masyarakat sipil. Crimes against Humanity masuk kategori Gross

8 Violation of Human Rights (Pelanggaran HAM Berat) yang dilakukan sebagai bagian yang meluas/sistematik yang diketahui bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil, lebih diarahkan pada jiwa-jiwa orang tidak bersalah (Public by innocent), sebagaimana terjadi di Bali. Terorisme kian jelas menjadi momok bagi peradaban modern. Sifat tindakan, pelaku, tujuan strategis, motivasi, hasil yang diharapkan serta dicapai, target-target serta metode Terorisme kini semakin luas dan bervariasi. Sehingga semakin jelas bahwa teror bukan merupakan bentuk kejahatan kekerasan destruktif biasa, melainkan sudah merupakan kejahatan terhadap perdamaian dan keamanan umat manusia (crimes against peace and security of mankind). Tindak Pidana Terorisme10 dapat dikategorikan sebagai mala per se atau mala in se , tergolong kejahatan terhadap hati nurani (Crimes against conscience), menjadi sesuatu yang jahat bukan karena diatur atau dilarang oleh Undang-Undang, melainkan karena pada dasarnya tergolong sebagai natural wrong atau acts wrong in themselves bukan mala prohibita yang tergolong kejahatan karena diatur demikian oleh Undang-Undang. Dalam rangka mencegah dan memerangi Terorisme tersebut, sejak jauh sebelum maraknya kejadian-kejadian yang digolongkan sebagai bentuk Terorisme terjadi di dunia, masyarakat internasional maupun regional serta pelbagai negara telah berusaha melakukan kebijakan kriminal (criminal policy) disertai kriminalisasi secara sistematik dan komprehensif terhadap perbuatan yang dikategorikan sebagai Terorisme.dan tidak memiliki justifikasi, dan oleh karena itu para pelakunya (teroris) layak mendapatkan pembalasan yang berat sesuai dengan tindakan mereka yang kejam. Permasalahannya adalah masih terdapat kesimpang siuran tentang pengertian Bukti Permulaan itu sendiri, sehingga sulit menentukan apakah yang dapat dikategorikan sebagai Bukti Permulaan, termasuk pula Laporan Intelijen, apakah dapat dijadikan Bukti Permulaan. Selanjutnya Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme11. Penetapan suatu

10 11

Prof. DR Muladi SH, Tindak Pidana Terorisme.

Undang Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, pasal 26 ayat 2,3,4

9 Laporan Intelijen sebagai Bukti Permulaan dilakukan oleh Ketua/Wakil Ketua Pengadilan Negeri melalui suatu proses/mekanisme pemeriksaan (Hearing) secara tertutup. Hal itu mengakibatkan pihak intelijen mempunyai dasar hukum yang kuat untuk melakukan penangkapan terhadap seseorang yang dianggap melakukan suatu Tindak Pidana Terorisme, tanpa adanya pengawasan masyarakat atau pihak lain mana pun. Padahal kontrol sosial sangat dibutuhkan terutama dalam hal-hal yang sangat sensitif seperti perlindungan terhadap hak-hak setiap orang sebagai manusia yang sifatnya asasi, tidak dapat diganggu gugat. Oleh karena itu, untuk mencegah kesewenang-wenangan dan ketidakpastian hukum, diperlukan adanya ketentuan yang pasti mengenai pengertian Bukti Permulaan dan batasan mengenai Laporan Intelijen, apa saja yang dapat dimasukkan ke dalam kategori Laporan Intelijen, serta bagaimana sebenarnya hakekat Laporan Intelijen, sehingga dapat digunakan sebagai Bukti Permulaan. Terutama karena ketentuan pasal 26 ayat (1)
12

tersebut memberikan wewenang yang begitu luas kepada penyidik untuk melakukan perampasan kemerdekaan yaitu penangkapan, terhadap orang yang dicurigai telah melakukan Tindak Pidana Terorisme, maka kejelasan mengenai hal tersebut sangatlah diperlukan agar tidak terjadi pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia dengan dilakukannya penangkapan secara sewenang-wenang oleh aparat, dalam hal ini penyidik. Demikian pula perlu dirumuskan tentang pengaturan, cara mengajukan tuntutan terhadap petugas yang telah salah dalam melakukan tugasnya, oleh orang-orang yang menderita akibat kesalahan itu dan hak asasinya telah terlanggar, karena banyak Pemerintah suatu negara dalam melakukan pencegahan maupun penindakan terhadap perbuatan teror melalui suatu pengaturan khusus yang bersifat darurat, dimana aturan darurat itu dianggap telah jauh melanggar bukan saja hak seseorang terdakwa, akan tetapi juga terhadap Hak Asasi Manusia. Aturan darurat sedemikian itu telah memberikan wewenang yang berlebih kepada penguasa di dalam melakukan penindakan terhadap perbuatan teror.

12

Undang Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, pasal 26 ayat 1.

10 Teroris telah menyentuh masyarakat bawah. Terungkapnya jaringan teroris yang telah merasuk ke masyarakat tingkat bawah atau akar rumput dengan memanfaatkan rakyat jelata seperti kaum petani, mengindikasikan pengaruh pengawasan aparat keamanan belum menyentuh hingga ke tataran paling bawah. Gerakan teroris itu telah merasuk ke akar rumput, itu jelas dengan kasus di Yogya dan beberapa kawasan di Jawa Tengah, pekan lalu. Dari terungkapnya kasus itu, terlihat petani yang polos, lugu dan tulus pun dipakai atau diperalat untuk tujuan-tujuan kerusuhan serta terror,. Perlu ada tindakan segera yang lebih maksimal untuk mengamankan negara dan rakyat dari gangguan berbagai teror, termasuk aneka kejahatan lainnya. Realitas di lapangan tersebut, dengan jelas mengindikasikan, pengaruh pengawasan aparat keamanan belum menyentuh sampai dengan akar rumput. Dan ini akan menjadi celah untuk aktivitas terorisme yang masih terus melebarkan sayapnya melalui jaringan rakyat paling bawah yang tidak terawasi,. Kondisi seperti ini, akan sangat mempengaruhi stabilitas negara, otomatis memberi gangguan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan

pembangunan di segala bisang demi meningkatkan kesejahteraan rakyat. Jadi, wajar saja dan bahkan sudah seharusnya bila aparat agar lebih tanggap dalam memberantas terorisme hingga ke akar-akarnya atau bangsa ini semakin terpuruk. Gerakan

penangkalan, pencegahan serta pemberantasan berbagai kejahatan, terutama terorisme berupa gerakan pengamanan dan penertiban harus terus berlangsung secara maksimal, demi memberi kenyamanan serta ketenteraman kepada semua warga. Tak hanya dijawab dengan langkah-langkah konvensional semata, tetapi juga harus ada upaya tambahan, dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat dalam mencegahnya termasuk program deradikalisasi. Sehingga tindakan pencegahan penanganan terhadap aksi terorisme. menjadi sangat penting dalam

11 KOMSOS BAGAIMANA YANG DIBUTUHKAN. Bila kita mengacu pada Bujuknik tentang Komsos yang dikeluarkan oleh angkatan darat ada beberapa pedoman bagus yang dapat dijadikan acuan dalam penyelenggaraan Komsos di tingkat Kodim kebawah antara lain : 1. Tujuan13. Tujuan dalam menyelenggarakan Komunikasi Sosial adalah :

a. Membantu lembaga fungsional dalam membina kesadaran masyarakat dalam bela negara. b. Memberikan masukan kepada instansi fungsional dalam rangka penyiapan dan penyusunan kekuatan pertahanan wilayah. c. Menumbuhkan keterpaduan dalam menyusun rencana dan struktur pertahanan nasional di daerah. 2. Sasaran14. Sasaran yang ingin dicapai dalam penyelenggaraan Komunikasi Sosial

adalah : a. Sasaran ke dalam. 1) Menunjang pelaksanaan Fungsi Teritorial dalam upaya membangun kesadaran pertahanan aspek darat. 2) Mengurangi timbulnya sikap mental aparat kewilayahan yang dapat merugikan citra TNI AD. 3) Meningkatnya keterampilan dalam memahami permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan tugas dan fungsi teritorial. b. Sasaran ke luar. 1) Terwujudnya kesamaan visi, misi dan interpretasi dari segenap komponen bangsa terhadap sistem pertahanan semesta khususnya aspek darat. 2) Terwujudnya ketahanan wilayah yang kondusif guna

mendukung pelaksanaan pembangunan wilayah khususnya aspek darat. 3) Terwujudnya kesadaran bela negara serta meningkatnya Kemanunggalan TNI Rakyat. 3. Sifat Komunikasi Sosial15. Komunikasi sosial sebagai salah satu metode Binter

memiliki sifat-sifat sebagai berikut : a. Persuasif. Artinya bahwa Komunikasi Sosial TNI AD bersifat mengajak komponen masyarakat lainnya agar memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara serta bela negara dalam rangka meningkatkan ketahanan wilayah.

13 14 15

Komsos Sebagai Metode, hal 3. Ibid, hal 3,4. Ibid, hal 4.

12 b. Terkoordinir dan Terencana. Artinya bahwa pelaksanaan Komunikasi Sosial TNI AD perlu direncanakan terlebih dahulu dan dikoordinir dengan baik sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan. 4. Peranan16. Komunikasi Sosial sebagai salah satu metode Pembinaan Teritorial : a. Media Sosialisasi. Bahwa Komunikasi

memiliki beberapa peran sebagai berikut

Sosial dapat digunakan sebagai media untuk mensosialisasikan sikap dan kebijaksanaan TNI AD yang berkaitan dengan komponen kekuatan bangsa lainnya. b. Media Penyaman Visi, Misi dan Interpretasi. Bahwa Komunikasi Sosial TNI AD dapat digunakan sebagai sarana untuk penyamaan visi, misi dan interpretasi antar berbagai komponen kekuatan bangsa tehadap tugas-tugas yang dihadapi. c. Media Integrasi, Sinkronisasi dan Simplikasi (KISS). Koodinasi,

Bahwa Komunikasi Sosial TNI AD

dapat digunakan sebagai sarana KISS antar kewilayahan maupun unsur masyarakat dalam pelaksanaan Binter. d. Meningkatkan Kemanunggalan TNI Rakyat. Bahwa

Komunikasi Sosial dapat digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan Kemanunggalan TNI Rakyat. 5. Tugas dan tanggungjawab17. Ditingkat Kodim. a. Menyelenggarakan kegiatan

Komunikasi Sosial di daerah tanggung jawabnya sesuai misi yang dibebankan kepadanya. b. Melaksanakan pengawasan dan evaluasi terhadap kegiatan Komunikasi Sosial di daerahnya. c. Bertanggung jawab kepada Danrem atas kelancaran kegiatan Komunikasi Sosial yang dilakukan oleh institusi TNI AD dibawah Komandonya. Ditingkat Koramil. a. Melaksanakan Komunikasi Sosial di daerah tanggung jawabnya sesuai misi yang dibebankan kepadanya. b. Bertanggung jawab kepada Dandim atas kelancaran pelaksanaan Komunikasi Sosial yang dilakukan oleh Aparat kewilayahan di bawah Komandonya. 6. Subyek dan Obyek18 kegiatan Komunikasi Sosial TNI AD. 1. Subyek. Subyek

dalam Komunikasi Sosial meliputi segenap institusi di lingkungan TNI AD khususnya Komando Kewilayahan sebagai pelaksana tugas dan fungsi Teritorial TNI AD.

16 17 18

Ibid, hal 4,5 Ibid, hal 6. Ibid, hal 9.

13 2. Obyek. Obyek Komunikasi Sosial meliputi segenap komponen kekuatan bangsa di luar TNI AD antara lain Pemda, Kepolisian, Ormas, OKP, LSM, Tokoh masyarakat dan sebagainya yang memiliki tanggung jawab sama dalam upaya pembinaan potensi sumber daya nasional menjadi komponen cadangan dan komponen pendukung dalam sistem pertahanan negara. 7. Materi dan sumber isi pesan19. 1. Materi. Materi yang perlu mendapatkan

perhatian selain dari limpahan tugas Komando Atas dalam kegiatan Komunikasi Sosial adalah tentang pemahaman kebijakan-kebijakan politik negara yang menyangkut peran TNI AD antara lain : a. Menegakkan kedaulatan negara di wilayah daratan. b. Menegakkan keutuhan wilayah negara di daratan. c. Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia di wilayah daratan. d. Melaksanakan tugas negara dalam menyelenggarakan pendidikan dan latihan wajib militer bala darat bagi warga negara yang diatur dengan Undang-undang. e. Ikut aktif dalam kegiatan kemanusiaan (civic mission). f. Membantu Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam rangka tugas keamanan atas permintaan yang di atur dalam undang-undang. g. Ikut aktif dalam tugas pemeliharaan perdamaian dunia (peace keeping operatian) di bawah bendera PBB. 2. Sumber isi pesan. Isi pesan diperoleh dari : a. Tugas limpahan dari Komando Atas yang menyangkut permasalahan Binter maupun Civic Mission. b. Atas permintaan dari komponen bangsa, dalam rangka mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan daerah. c. Mencari sendiri atas dasar perkembangan keadaan yang berkaitan dengan peningkatan kesadaran bela negara dan membantu memasyarakatkan UU / peraturan yang berkaitan dengan lingkup jabaran tugas dan peran TNI AD. 8. Metode melaksanakan Komunikasi Sosial TNI AD20. Dalam melaksanakan

Komunikasi Sosial disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan serta obyek sasaran yang telah ditentukan, metode yang dapat digunakan antara lain panel. : a. Diskusi / Diskusi

Dilaksanakan dengan menghadirkan para pakar ilmuwan sesuai bidangnya,

tokoh-tokoh masyarakat, agama, pemuda, mahasiswa, instansi pemerintah, kepolisian,

19 20

Ibid, hal 9,10. Ibid, hal 10,11.

14 dan TNI AD untuk menyamakan visi, misi, dan interpretasi tentang masalah-masalah sosial kemasyarakatan. b. Dialog interaktif. Dialog interaktif dilaksanakan dengan

menghadirkan tokoh masyarakat, agama, pemuda, mahasiswa, instansi pemerintah, kepolisian dan TNI AD untuk melaksanakan tanya jawab secara langsung tentang berbagai permasalahan yang terjadi guna mendapat masukan dari berbagai komponen masyarakat tentang suatu masalah. c. Seminar. Dilaksanakan dengan membacakan karya tulis/gagasan/pemikiran tentang suatu permasalahan, untuk ditanggapi oleh para peserta seminar. d. Ceramah. Dilaksanakan oleh pejabat di lingkungan TNI AD sesuai dengan tugas dan kewenangannya memberikan ceramah di depan forum tertentu dalam rangka menyampaikan visi dan misi TNI AD. e. Pidato. Dilaksanakan oleh pejabat di lingkungan TNI AD sesuai dengan tugas dan kewenangannya untuk berpidato di depan forum

tertentu untuk menyampaikan visi dan misi TNI AD. f. Penyampaian pesan melalui media massa. Dilaksanakan dengan pemuatan pesan-pesan tertulis di media cetak, maupun

penayangan pesan-pesan di media TV dan Film. g. Penyampaian pesan melalui pentas olah raga dan seni. Dilaksanakan dengan menggelar kegiatan olah raga dan pentas

kesenian yang diselingi dengan penyampaian pesan-pesan sesuai dengan visi dan misi TNI AD. Bagaimana agar komunikasi berhasil21 . Komunikasi yang efektif menjadi keinginan semua orang. Dengan komunikasi efektif tersebut, pihak-pihak yang terlibat di dalamnya memperoleh manfaat sesuai dengan yang diinginkan. Ada beberapa faktor yang sangat menentukan keberhasilan komunkasi apabila di pandang dari sudut komunikator, komunikan, dan pesan.

1.

Faktor

keberhasilan

komunikasi

dilihat

dari

sudut

komunikator.

a. kredibilitas:

ialah kewibawaan seorang komunikator di hadapkan komunikan. Pesan

yang di sampaikan oleh seorang komunikatoe yang kredibilitasnya tinggi akan lebih banyak memberi pengaruh terhadap penerima pesan. b. daya tarik : ialah daya tarik fisik maupun non fisik. Adanya daya tarik ini akan mengundang simpati para penerima pesan

21

Suranto Aw, M.Pd., M.Si. Komunikasi Sosial Budaya, hal 15.

15 komunikasi. Pada akhirnya penerima pesan akan dengan mudah menerima pesan-pesan yang di sampaikan oleh komunikator. c. Kemampuan intelektual : ialah tingkat

kecakapan, kecerdasan dan keahlian seorang komunikator. Kemampuan intelektual itu di perlukan seorang komunikator, terutama dalam hal menganalisis suatu kondisi sehingga bisa mewujudkan cara komunikasi yag sesuai. d. integritas atau keterpaduan sikap dan prilaku dalam aktivitas tempat kerja sehari-hari. Komunikator yang memiliki keterpaduan, kesesuaian antara ucapan dan tindakannya akan lebih disegani oleh komunikan. e. Keterpercayaan, kalau komunikator dipercaya oleh komunikan maka akan lebih mudah menyampaikan pesan dan mempengaruhi sikap orang lain. f. Kepekaan sosial, yaitu suatu kemampuan komunikator untuk memahami situasi dilingkungan tempat kerjanya. Apabila situasi tempat kerja sedang sibuk, maka komunikator perlu mencari waktu lain yang lebih tepat untuk menyampaikan suatu informasi kepada orang lain. g. Kematangan tingkat emosional , ialah kemampuan komunikator untuk mengendalikan emosinya, sehingga tetap dapat melaksanakan komunikasi dalam suasana yang menyenangkan di kedua belah pihak. h. Berorientasi kepada kondisi psikologis komunikan, artinya seorang komunikator perlu memahami kondisi psikologis orang yang diajak bicara. Diharapkan

komunikator dapat memilih saat yang paling tepat untuk menyampaikan suatu pesan kepada komunikan. i. Komunikator harus bersikap supel, ramah dan tegas.

j. Komunikator harus mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat dimana dia bicara. 2. Faktor keberhasilan komunikasi dilihat dari sudut komunikan.

a. Komunikan yang cakap akan mudah menerima dan mencerna materi yang diberikan oleh komunikator. b. Komunikan yang mempunyai pengetahuan yang luas akan cepat menerima informasi yang diberikan komunikator. c. Komunikan harus bersikap ramah, supel dan pandai bergaul agar tercipta proses komunikasi yang lancar.

d. Komunikanharus memahami dengan siapa ia bicara. e. Komunikan bersikap bersahabat dengan komunikator. 3. Faktor keberhasilan komunikasi dilihat dari sudut pesan. perlu dirancang dan disampaikan sedemikian yang rupa a. Pesan dapat harus

komunikasi

sehingga

menumbuhkan perhatian komunikan. b. Lambang-lambang

dipergunakan

16 benar-benar dapat dipahami oleh kedua belah pihak, yaitu komunikator dan komunikan. c. Pesan-pesan tersebut disampaikan secara jelas dan sesuai dengan kondisi maupun situasi setempat. d. Tidak menimbulkan multi interpretasi atau penafsiran yang berlainan. Faktor penghambat komunikasi22. Faktor-faktor yang menghambat efektivitas

komunikasi dapat disebutkan dibawah ini : 1. Kredibilitas komunikator rendah. Komunikator yang tidak berwibawa dihadapan komunikan, menyebabkan berkurangnya perhatian komunikan terhadap komunikator. 2. Kurang memahami latar belakang sosial dan budaya. Nilai-nilai sosial budaya yang berlaku disuatu komunitas atau di masyarakat harus diperhatikan, sehingga komunikator dapat menyampaikan pesan dengan baik, tidak bertentangan dengan nilai-nilai sosial budaya yang berlaku. Sebaliknya, antara pihak-

pihak yang berkomunikasi perlu menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang berlaku. 3. Kurang memahami karakteristik komunikan. Karakteristik komunikan meliputi tingkat pendidikan, usia, jenis kelamin, dan sebagainya perlu dipahami oleh komunikator. Apabila komunikator kurang memahami, cara komunikasi yang dipilih mungkin tidak sesuai dengan karakteristik komunikan dan hal ini dapat menghambat komunikasi karena dapat menimbulkan kesalah pahaman. 4. Prasangka buruk. Prasangka negatif antara pihak-pihak yang terlibat komunikasi harus dihindari, karena dapat mendorong kearah sikap apatis dan penolakan. 5. Verbalistis. Komunikasi yang hanya berupa penjelasan verbal berupa kata-kata saja yang akan membosankan dan mengaburkan komunikan dalam memahami makna pesan. 6. Komunikasi satu arah. Komunikasi berjalan satu arah, dari komunikator kepada komunikan terus menerus dari awal sampai akhir, menyebabkan hilangnya kesempatan komunikan untuk meminta penjelasan terhadap hal-hal yang belum di mengerti. 7. Tidak digunakan media yang tepat Pilihan penggunaan media yang tidak tepat menyebabkan pesan yang disampaikan sukar dipahami oleh komunikan.

8. Perbedaan bahasa. Perbedaan bahasa menyebabkan terjadinya perbedaan penafsiran terhadap simbol-simbol tertentu.

22

Ibid, hal 17.

17 BAGAIMANA MEMBERDAYAKAN KOMPONEN MASYARAKAT UNTUK MENCEGAH TERORISME MELALUI KOMSOS. Berangkat dari pengetahuan tentang teroris dan Komunikasi sosial diatas maka penulis akan mencoba menggambarkan bagaimana mengedepankan Komsos sebagai sarana untuk mewujudkan Komponen masyarakat menjadi alat juang yang tangguh untuk mencegah terorisme di daerah, dengan mengunakan kerangka berfikir sebagai berikut: bentuknya seperti apa, siapa yang melakukan Komsos? ( Dandim dan Danramil ), kepada siapa Komsos dilakukan ? ( Bupati, DPR dan Polri), KBTNI, Tokoh masyarakat/tokoh adat, Tokoh agama, Tokoh pemuda ), dengan cara apa ( sesuaikan dengan metoda Komsos yang tepat dengan materi dan sasarannya), materi dan isi Komsos ( sesuaikan dengan siapa akan berkomunikasi dan trend issue saat itu), dampak apa yang diharapkan (jangka pendek, sedang, panjang), Bagaimana menjamin kesinambungannya. Untuk tahap-tahap pelaksanaan Komsos itu sendiri telah tertuang dengan jelas pada Bujuknik tentang Komsos mulai dari tahap perencanaan sampai dengan tahap pengahiran. Bentuk Komsos yang dilakukan. Dalam mencegah aksi terorisme banyak kendala

yang dihadapi karena sangat terkait dengan issue HAM yang sangat sensitif, dampaknya apabila sudah terjadi kerugian yang ditimbulkan baik jiwa maupun harta benda akan sangat besar, sehingga sangat baik apabila Terorisme dapat dicegah masih jauh sebelum terorganisir atau menjadi idiologi bagi pelakunya, pencegahan ini akan menjadi sangat efektif apabila penanganannya melibatkan seluruh komponen masyarakat dan pelibatan seluruh komponen masyarakat dapat terwujud secara sadar dan bertanggungjawab, apabila terjadi kesamaan visi, misi dan inteprestasi diantara seluruh komponen masyarakat, tetapi perwujudannya dapat tercapai apabila ada forum komunikasi sosial yang terlembaga, terintegrasi, terkoordinasi di daerah yang mampu membahas semua kejadian-kejadian dan mampu mencari jalan keluar yang bersifat persuasif, manusiawi dan mendidik, untuk itu dibutuhkan tokoh yang mampu memotori, mendinamisator dan mengintegrasi semua komponen masyarakat tersebut. Penulis sangat berharap bahwa tokoh tersebut adalah Apkowil dalam hal ini Dandim dan Danramil walau perlu diingat untuk menjadi tokoh itu tidak mudah, dan kita sepakat bahwa TNI-AD

18 menempatkan pejabat tersebut adalah untuk menjadi tokoh di daerah sesuai dengan tugas yang diembannya dan tatarannya, untuk mencapai kondisi tersebut maka perlu ketulusan, kepedulian, kejujuran sehingga inisiatif Apkowil tersebut tidak diduga oleh masyarakat ada udang di balik batu tetapi sebagai bagian dari keinginan TNI AD agar masyarakat mendapatkan kenyamanan, keamanan dan kedamaian dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari, sesuai amanat undang-undang.

Bagaimana Dandim melaksanakan Komsos.

Dandim melaksanakan komsos dengan Bupati melalui forum Kemuspidaan, acara-acara resmi dan tidak resmi dengan menyediakan informasi yang aktual dan jujur tentang keadaan wilayah yang sebenarnya yang didapat dari babinsa dan anggota intel sehingga pembangunan yang sedang berjalan sesuai dengan program pembangunan didaerah dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga masyarakat semakin pintar, berpikiran maju dan tidak mudah terpengaruh oleh faham-faham radikal yang mengarah kepada aksi teror. Selain itu Bupati mendapat masukan yang riil tentang situasi dan hasil-hasil pembangunan yang dilaksanakan selama ini, sehingga dalam pelaksanaan program pembangunan selanjutnya lebih baik dan dapat lebih dirasakan oleh masyarakat sampai paling bawah, kita yakin apabila semua kepentingan rakyat dapat terpenuhi maka aksi yang bersifat teror dapat dicegah sedini mungkin.

Dandim

melaksanakan komsos dengan DPR melalui forum Kemuspidaan, anjangsana

dengan memberikan masukan dan ajakan kepada anggota dewan maupun fraksi-fraksi yang ada di DPR untuk sering turun ke daerah dan memberikan infomasi yang lengkap kepada seluruh kontestan masing-masing sehingga kontestan mau berperan aktif dalam menjalankan hak dan kewajibannya sebagai warga negara, bila perlu mendorong DPR untuk mengeluarkan perda mencegah tumbuhnya paham yang bertentangan dengan jati diri bangsa Indonesia dengan demikian setiap masyarakat punya ketahanan secara idiologi.

19

Dandim

melaksanakan komsos dengan Kapolres melalui forum Kemuspidaan,ceramah,

penugasan bersama, diskusi, acara-acara olah raga, forum resmi dan tidak resmi sehingga terjadi tukar menukar informasi, saling dukung dan saling melengkapi dalam penanganan setiap ada gejala atau indikasi akan terjadinya aksi teroris dibuat suatu rule of engagement tingkat pelaksana untuk memperjelas siapa dan bagaimana pencegahan yang dilakukan apabila ada indikasi terjadinya aksi terorisme di daerah, yang tentunya untuk menghindari kegamangan dan kesalahan dalam penanganannya dalam hal ini

egoisme antar lembaga harus dihindarkan. Melibatkan personil dari kepolisian dalam setiap kegiatan Kodim dengan masyarakat untuk menghindarkan jarak antara Aparat TNI/Polri dengan masyarakat dan disela-sela kegiatan tersebut disisipkan acara penyuluhan hukum agar masyarakat mengerti tentang kegiatan yang melanggar hukum serta menghindarkannya. Dandim melaksanakan komsos dengan KBTNI melalui acara tatap muka dan anjangsana sehingga terjadi kesamaan langkah, satu suara dan saling dukung terhadap langkah dan tindakan yang dilakukan oleh Aparat Teritorial diperjelas dan diperkuat oleh seluruh KBTNI yang ada di daerah tersebut. Khusus bagi veteran dan purnawirawan yang telah bergabung dengan masyarakat agar menjadi corong Kowil untuk menyampaikan informasi secara informal demikian juga sebaliknya dapat menjadi mata dan telinga bagi Kodim apabila ada informasi yang berkembang di masyarakat. Dandim melaksanakan komsos dengan Tomas/Todat melalui anjangsana, undangan dan kegiatan kebudayaan di lingkungan masyarakat, Tomas/Todat punya peranan penting dalam melestarikan kearifan lokal dan memberdayakan masyarakat secara ikhlas dan sadar, sehingga Dandim perlu secara ekstra untuk mempengaruhi dan mengajak agar Tomas/Todat ini betul-betul dapat direbut dan dimenangkan hati dan pengaruhnya karena mereka adalah tokoh sentral yang terbentuk melalui dinamika kehidupan di masyarakat, sehingga apapun yang akan dan sudah terjadi dapat mempengaruhi masyarakat apabila tokoh ini sudah terpangaruh. Dalam pelaksanaan Komsos terhadap tokoh ini perlu pemahaman adat istiadat dan bahan kontak untuk memberikan kesan pertama yang menyentuh dengan demikian kita lebih mudah untuk mengenal warnanya dan tahu cara

20 bagaimana mewarnai pikiran dan pengaruhnya, berikan mereka pemahaman akan hukum dan dampak dari apabila terjadi aksi teroris di lingkungannya sehingga mereka menjadi penangkal pertama dan sumber informasi cepat yang dapat didayagunakan oleh Apkowil. Dandim melaksanakan komsos dengan Toga melalui anjangsana, undangan dan kegiatan keagamaan, masyarakat Indonesia pada umumnya adalah masyarakat yang religius dan peranan Tokoh agama di lingkungan masyarakat sangat dihormati, apabila Dandim mampu mendekatkan diri dan mempengaruhi Toga ini banyak nilai tambah yang akan didapat dalam pelaksanaan tugas, dalam melaksanakan komsos terhadap Toga ada beberapa cara yang dapat ditempuh yaitu ikut secara aktif dalam setiap acara keagaaman, belajar menimba ilmu keagaamaan terhadap Toga yang paling berpengaruh di lingkungan tersebut sambil melaksanakan kegiatan tersebut sambil mempengaruhi dan bertukar informasi sehingga apabila ada ada aliran agama yang bersifat radikal dan berpotensi menjadi aksi teror Tokoh ini dapat mencegah melalui pengaruhnya, sering aksi teror terjadi akibat Toga tidak ikut campur tangan bahkan memberikan keterangan yang membingungkan masyarakat. Maka perlu kreatifitas dan kelihaian seorang Dandim dalam meraih tokoh ini. Dandim melaksanakan komsos dengan Pemuda melalui berorganisasi, ceramah ,pentas seni, kegiatan agama dan olah raga. Pemuda mempunyai ciri khas idealis, semangat berapi-api dan mudah untuk dipengaruhi karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman, lahan yang baik bagi tumbuhnya paham positif maupun negatif, jadi Toda menjadi sasaran yang paling strategis dari Komsos untuk mencegah mereka terpengaruh faham negatif, Dandim harus menyediakan dan membina organisasi untuk menyalurkan potensi yang terdapat pada pemuda tersebut melalui karang taruna, pramuka, kegiatan seni, olahraga dan libatkan dalam kegiatan pembangunan dan apkowil ikut serta dalam kegiatan tersebut sehingga tahu pribadi kebiasaan dari pemuda tersebut, dan apabila ada indikasi penyimpangan dapat dengan segera dicegah dan diarahkan, teroris banyak memanfaatkan pemuda dalam melancarkan aksinya ini dapat terjadi karena mereka tidak dapat menyalurkan bakat dan potensi mereka melalui kegiatan positif di lingkungannya. Apabila mereka diberi kegiatan dan potensi mereka disalurkan mereka akan menunjukkan eksistensi mereka kepada kegiatan yang positif dan faham negatif dapat dicegah.

21

Bagaimana Danramil melaksanakan Komsos. Danramil melaksakan komsos terhadap tokoh yang ada di daerahnya dalam lingkup yang lebih kecil, lebih merakyat dengan berpedoman kepada kegiatan komsos yang telah dilakukan oleh Dandim dengan cara catat tokoh-tokoh yang telah diajak berkomunikasi oleh Dandim , pelajari isi dan materi yang disampaikan kembangkan menjadi sesuatu yang lebih aplikatif sederhana dan terapkan melalui kegiatan-kegiatan formal dan informal yang dilaksanakan oleh masyarakat . Peranan yang paling penting dari Danramil adalah intensitas kegiatan yang dilaksanakan harus lebih banyak dilakukan oleh Danramil sendiri atau dengan memberdayakan Babinsa untuk menjamin kesinambungan dari pelaksanaan komsos tersebut dan yang tidak kalah penting Danramil harus mampu memblow up kegiatan komsos yang dilakukan Dandim serta melaporkan apakah materi dan isi komsos yang telah disampaikan oleh Dandim mendapat respon dari tokoh-tokoh tersebut, apabila tidak Dandim dapat mencari kegiatan lain atau melibatkan tokoh lain dalam

penyampaiannya, apabila respon yang didapat sudah sesuai maka kewajiban dari Danramil untuk memeliharanya dan meningkatkannya Efektifitas kegiatan komsos yang dilakukan oleh Dandim dan Danramil terhadap tokoh-tokoh tersebut diatas dapat dicapai apabila pertama dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan, kedua dapat diukur dengan menetapkan variabel- variabel ukuran yang dapat menggambarkan sejauh mana komsos yang dilakukan berhasil salah satunya mungkin bisa dilaksanakan dengan test case, dengan cara melempar permasalahan tertentu kemudian kita melihat reaksi dari tokoh-tokoh komponen masyarakat tersebut untuk menentukan tingkat keberhasilan dan kegagalannya sehingga dapat dilakukan evalusi terhadap komsos yang dilakukan dan perbaikan terhadap komsos yang akan dilakukan selanjutnya. Ketiga muatannya akan berpengaruh apabila dalam

menyampaikan materi dan isi Komsos memanfaatkan trend issue yang berkembang secara nasional dan lokal apabila ada data-data intelijen dari staf intel juga dapat digunakan sebagai bahan untuk mempengaruhi mind set dari komunikan yang kita harapkan dan menambah informasi dalam berkomukasi, dan keempat yang sangat

penting untuk dapat mempengaruhi tokoh-tokoh tersebut di atas Dandim harus memiliki

22 data-data pribadi dari tokoh tersebut seperti tanggal lahir, data keluarga, kebiasaan, kesalahan yang pernah diperbuat, hobby dan sesuatu yang tidak disenangi dan disenangi sehingga bisa masuk dengan cara yang tepat dengan menghindari hal-hal yang sensitif. Penulis berkeyakinan apabila Komsos yang dilakukan oleh Dandim dan Danramil berhasil tidak hanya Aksi teroris yang dapat dicegah tetapi aksi-aksi negatif yang lain juga dapat dicegah, tujuan dari Komsos yang dilakukan oleh Apkowil adalah agar semua Komponen masyarakat dapat dilibatkan sebagai alat juang yang tangguh dan menangkal semua

ATHG yang timbul yang mengancam NKRI, semua kita sependapat dengan nasihat leluhur kita yaitu bersatu kita teguh bercerai kita runtuh dan seribu lidi bila sendiri-sendiri akan mudah dipatahkan tetapi kalau diikat menjadi satu dapat membersihkan semua kotoran yang ada dihalaman. KESIMPULAN. Komsos sangat tepat didayagunakan dalam mewujudkan alat juang yang tangguh dalam mencegah aksi terorisme di daerah karena bersifat persuasif dan penyadaran terhadap masyarakat sehingga resistensi masyarakat terhadap terorisme dapat tumbuh secara alami di daerah, hanya apakah Dandim dan Danramil memiliki kemampuan dan kemauan untuk melaksanakannya secara tepat dan benar, karena Komsos dapat berhasil sangat tergantung kepada pribadi yang melaksanakannya apakah kreatif atau tidak karena pendekatan terhadap orang tidak bisa kita teorikan secara mutlak tergantung kepada situasi, kondisi, toleransi, pandangan dan jangkauan. Terutama terhadap pelaku teroris karena ini menyangkut faham dan kepercayaan dari yang dilakukannya memang sangat sulit tetapi mencegah tentu lebih mudah dari pada menanggulangi. SARAN. Agar Dandim dan Danramil paling tidak dalam melaksanakan Komsos ini tidak canggung maka perlu pematangan dalam setiap jenjang pendidikan yang mengarahkan Perwira menduduki jabatan Dandim dan Danramil, tidak hanya secara teori tetapi praktek yang lebih banyak dan aplikatif, karena di daerah mereka harus menjadi tokoh dan ujung tombak dalam Binter dan metoda yang lain akan sukses dan mencapai sasaran apabila penyelenggaraan Komsosnya benar.

23

PENUTUP. Demikian tulisan ini dipersembahkan kepada pembaca semoga dapat menjadi tambahan informasi, penulis sangat sadar banyak kelemahan dan kekurangannya dan penulis terbuka terhadap koreksi dan masukan untuk kesempurnaan tulisan ini dan kelak dapat dijadikan acuan bersama, terimakasih

Padalarang, Maret 2011 Penulis

Ramses L.Tobing, S.T. Letnan Kolonel Arh NRP 32763