Anda di halaman 1dari 90

BAB I KOMUNIKASI

1.PENGERTIAN KOMUNIKASI Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan (ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi diantara keduanya. Pada umumnya, komunikasi dilakukan dengan menggunakan katakata (lisan) yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi dengan bahasa nonverbal. Pengertian Komunikasi Menurut Dokter Phill Astrid Susanto Komunikasi adalah proses pengoperasian lambang-lambang yang mengandung arti. Keith Dafis Komunikasi adalah proses lewatnya informasi dan pengertian seseorang ke orang lain Oxford Dictionary 1956 Komunikasi adalah pengiriman / tukar menukar informasi, ide dan sebagainya. Drs. Onong Uchjana Effendy. MA Komunikasi adalah mencakup ekpresi wajah, sikap dan gerak gerik suara kata-kata tertulis, percetakan, kereta api, telegraf dan lain-lain. Manusia berkomunikasi untuk membagi pengetahuan dan pengalaman .Bentuk umum komunikasi manusia termasuk bahasa sinyal, bicara, tulisan, gesture, dan broadcasting. Komunikasi dapat berupa interaktif, transaktif, bertujuan, atau tak bertujuan. Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut.2 . Sejarah komunikasi Pada awal kehidupan di dunia, komunikasi digunakan untuk mengungkapkan kebutuhan organis. Sinyal-sinyal kimiawi pada organisme awal digunakan untuk reproduksi. Seiring dengan evolusi kehidupan, maka sinyalsinyal kimiawi primitif yang digunakan dalam berkomunikasi juga ikut berevolusi

dan membuka peluang terjadinya perilaku yang lebih rumit seperti tarian kawin pada ikan. Pada binatang, selain untuk seks, komunikasi juga dilakukan untuk menunjukkan keunggulan, biasanya dengan sikap menyerang. Munurut sejarah evolusi sekitar 250 juta tahun yang lalu munculnya "otak reptil" menjadi penting karena otak memungkinkan reaksi-reaksi fisiologis terhadap kejadian di dunia luar yang kita kenal sebagai emosi. Pada manusia modern, otak reptil ini masih terdapat pada sistem limbik otak manusia, dan hanya dilapisi oleh otak lain "tingkat tinggi".

Fungsi Komunikasi Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa lepas dari kegiatan komunikasi. Kenyataannya komunikasi secara mutlak merupakan bagian integral dari kehidupan kita. Fungsi komunikasi bagi bidan sangat besar sekali untuk lebih mengembangkan kepribadian serta untuk kelancarannya pelaksanaan tugas sehari-hari. 1.3.Komponen komunikasi Komponen komunikasi adalah hal-hal yang harus ada agar komunikasi bisa berlangsung dengan baik. Menurut Laswell komponen-komponen komunikasi adalah: 1. Pengirim atau komunikator (sender) adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada pihak lain. 2. Pesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain. 3. Saluran (channel) adalah media dimana pesan disampaikan kepada komunikan. dalam komunikasi antar-pribadi (tatap muka) saluran dapat berupa udara yang mengalirkan getaran nada/suara. Penerima atau komunikate (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain . 4 .Umpan balik (feedback) adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disampaikannya 1.4.Proses komunikasi Proses Komunikasi Sender Chanel

Meaning Encode Message Receiver Decode Meaning

berikut.

Noise (dilihat) Freed Back Secara ringkas, proses berlangsungnya komunikasi bisa digambarkan seperti

1. Komunikator (sender) yang mempunyai maksud berkomunikasi dengan orang lain mengirimkan suatu pesan kepada orang yang dimaksud. Pesan yang disampaikan itu bisa berupa informasi dalam bentuk bahasa ataupun lewat simbol-simbol yang bisa dimengerti kedua pihak. 2. Pesan (message) itu disampaikan atau dibawa melalui suatu media atau saluran baik secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya berbicara langsung melalui telepon, surat, e-mail, atau media lainnya. 3. Komunikan kedua pihak. 4. Komunikan (receiver) memberikan umpan balik (feedback) atau tanggapan atas pesan yang dikirimkan kepadanya, apakah dia mengerti atau memahami pesan yang dimaksud oleh si pengirim. 1.5.Teknologi komunikasi Dalam telekomunikasi, komunikasi radio dua-arah melewati Atlantik pertama erjadi pada 25 Juli 1920.Dengan berkembangnya teknologi, protokol komunikasi juga turut berkembang, contohnya, Thomas Edison telah menemukan bahwa "halo" merupakan kata sambutan yang paling tidak berambiguasi melalaui suara dari kejauhan; kata sambutan lain seperti hail dapat mudah hilang atau terganggu dalam transmisi. Batasan dalam komunikasi Batasan dalam komunikasi termasuk: a) Bahasa b) Penundaan waktu c) Politik 5 Hukum Komunikasi Yang Efektif (The 5 Inevitable Laws of Efffective Communication) yang kami kembangkan dan rangkum dalam satu kata yang mencerminkan esensi dari komunikasi itu sendiri yaitu REACH, yang berarti merengkuh atau meraih. Karena sesungguhnya komunikasi itu pada dasarnya adalah upaya bagaimana kita meraih perhatian, cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respon positif dari orang lain 1.Respect Hukum pertama dalam mengembangkan komunikasi yang efektif adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan. Rasa hormat dan saling menghargai merupakan hukum yang pertama dalam kita berkomunikasi dengan orang lain. Ingatlah bahwa pada prinsipnya manusia ingin (receiver) menerima pesan yang disampaikan dan menerjemahkan isi pesan yang diterimanya ke dalam bahasa yang dimengerti

dihargai dan dianggap penting. Jika kita bahkan harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaaan seseorang. Jika kita membangun komunikasi dengan rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati, maka kita dapat membangun kerjasama yang menghasilkan sinergi yang akan meningkatkan efektifitas kinerja kita baik sebagai individu maupun secara keseluruhan sebagai sebuah tim. 2.Empathy Empati adalah kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Salah satu prasyarat utama dalam memiliki sikap empati adalah kemampuan kita untuk mendengarkan atau mengerti terlebih dulu sebelum didengarkan atau dimengerti oleh orang lain. Secara khusus Covey menaruh kemampuan untuk mendengarkan sebagai salah satu dari 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif, yaitu kebiasaan untuk mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti (Seek First to Understand understand then be understood to build the skills of empathetic listening that inspires openness and trust). Inilah yang disebutnya dengan Komunikasi Empatik. Dengan memahami dan mendengar orang lain terlebih dahulu, kita dapat membangun keterbukaan dan kepercayaan yang kita perlukan dalam membangun kerjasama atau sinergi dengan orang lain. 3.Audible Makna dari audible antara lain: dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Jika empati berarti kita harus mendengar terlebih dahulu ataupun mampu menerima umpan balik dengan baik, maka audible berarti pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh penerima pesan. Hukum ini mengatakan bahwa pesan harus disampaikan melalui media atau delivery channel sedemikian hingga dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan. Hukum ini mengacu pada kemampuan kita untuk menggunakan berbagai media maupun perlengkapan atau alat bantu audio visual yang akan membantu kita agar pesan yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik. Dalam komunikasi personal hal ini berarti bahwa pesan disampaikan dengan cara atau sikap yang dapat diterima oleh penerima pesan. 4.Clarity Selain bahwa pesan harus dapat dimengerti dengan baik, maka hukum keempat yang terkait dengan itu adalah kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Ketika saya bekerja di Sekretariat Negara, hal ini merupakan hukum yang paling utama dalam menyiapkan korespondensi tingkat tinggi. Karena kesalahan penafsiran atau pesan yang dapat menimbulkan berbagai penafsiran akan menimbulkan dampak yang tidak sederhana. Clarity dapat pula berarti keterbukaan dan transparansi. Dalam berkomunikasi

kita perlu mengembangkan sikap terbuka (tidak ada yang ditutupi atau disembunyikan), sehingga dapat menimbulkan rasa percaya (trust) dari penerima pesan atau anggota tim kita. Karena tanpa keterbukaan akan timbul sikap saling curiga dan pada gilirannya akan menurunkan semangat dan antusiasme kelompok atau tim kita. 5.Humble Hukum kelima dalam membangun komunikasi yang efektif adalah sikap rendah hati. Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah hati yang kita miliki. Dalam edisi Mandiri 32 Sikap Rendah Hati pernah kita bahas, yang pada intinya antara lain: sikap yang penuh melayani (dalam bahasa pemasaran Customer First Attitude), sikap menghargai, mau mendengar dan menerima kritik, tidak sombong dan memandang rendah orang lain, berani mengakui kesalahan, rela memaafkan, lemah lembut dan penuh pengendalian diri, serta mengutamakan kepentingan yang lebih besar. 1.6. KONSEP KOMUNIKASI Jenis-jenis Komunikasi Komunikasi Verbal Komunikasi verbal menggunakan kata-kata mencakup komunikasi bahasa lisan. Kata-kata yang digunakan dipengaruhi oleh : Latar belakang sosial budaya Ekonomi Umur Pendidikan Dalam menggunakan suara ada 7 pokok tentang suara yang perlu diperhatikan adalah : Gema Suara Irama Kecepatan Ketinggian Besar / Volume Naik turunnya Kejelasan Suara tersebut dapat menggambarkan semangat, antusias, kesedihan, kejengkelan atau kegirangan Komunikasi Nonverbal Yakni mencakup : Gerak gerik

Sikap Ekspresi wajah Penampilan Komunikasi nonverbal tanpa menggunakan kata-kata dan disebut juga bahasa tubuh (body language) Model Komunikasi Ada 3 macam model komunikasi : Komunikasi Searah Komunikator mengirim pesannya melalui saluran / media dan diterima oleh komunikan, sedangkan komunikan tersebut memberiakn umpan balik ( prit back) Komunikasi Dua Arah Komunikator mengirim pesan (berita) diterima oleh komunikan setelah disimpulkan kemudian komunikan mengirimkan umpan balik kepada sumber berita atau komunikator. Komunikasi berantai Komunikan menerima pesan / berita dari komunikator kemudian disalurkan kepada komunikan kedua, dari komunikan kedua disampaikan kepada komunikan ketiga dan seterusnya Elemen Komunikasi Ada 5 elemen yang berperan dalam komunikasi : 1. Komunikator Bisa individu, keluarga maupun kelompok yang mengambil inisiatif dalam menyelenggarakan komunikasi dengan individu atau kelompok lain yang menjadi sasarnnya. 2.Massage (pesan / berita) Adalah berita yang disampaikan oleh komunikator yang melalui : Lambang-lambang Pembicaraan Gerakan ( lambaian tangan, sinar, kibaran bendera dan lain-lain) Gerakan ( lambaian tangan, sinar, kibaran bendera dan lain-lain) 3.Channel (Saluran) Adalah sarana tempat berlakunya lambang-lambang. Saluran tersebut meliputi: Pendengaran (lambang berupa suara) Penglihatan (lambang berupa sinar, pantulan sinar / gambar) Penciuman (lambang yang berupa bau-bauan)

Rabaan (lambang berupa rangsang rabaan) 4.Komunikan adalah objek sasaran dari kegiatan komuniksi / orang yang menerima lambang / berita. 5.Freed Back adalah arus umpan balik dalam rangka proses berlangsungnya komunikasi Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi Ditinjau dari komunikator : Kecakapan komunikator Menguasi cara-cara menyampikan buah pikiran, mudah di mengerti dan sederhana. Cakap dalam memilih lambang / simbol yang tepat untuk mengungkapkan buah pikiran. Bisa membangkitkan minat para pendengarnya. Pandai menarik perhatian. Dapat memancing lawan bicara untuk dapat mengemukakan pendapatnya. Tak ber belit-belit dalam menyampaikan pesannya. Sikap komunikator

beberapa sikap yang dapat mendukung berhasilnya komunikasi. Sikap terbuka. Muka manis. Saling percaya. Rendah hati. Dapat menjadi pendengar yang baik. INTERAKSI SOSIAL Pengertian Suatu hubungan antara dua / lebih individu manusia dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah dan memperbaiki kelakuan individu yang lain / sebaliknya. Faktor-faktor yang mendasari interaksi sosial Faktor imitasi Pada mulanya seluruh kehidupan sosial berawal dari proses imitasi Syarat terjadinya imitasi Minat perhatian yang cukup besar akan hal tersebut. sikap menjunjung tinggi atau mengagumi hal-hal yang di imitasi Dapat juga orang-orang mengimitasi suatu pandangan / tingkah laku karena, hal itu mempunyai penghargaan sosial yang tinggi.

KOMUNIKASI EFEKTIF Adalah Komunikasi yang mampu menghasilkan perubahan sikap (attitude change) pada orang yang terlihat pada komunikasi. Tujuan komunikasi efektif adalah : Memberi kemudahan dalam memahami pesan yang di sampaikan antara pemberi dan penerima sehingga bahasa lebih jelas, lengkap, pengirim dan umpan balik seimbang dan melatih pengguna bahasa non verbal secara baik. Bentuk karakteristik komunikasi efektif. Komunikasi verbal efektif Jelas dan ringkas Komunikasi berlangsung efektif, sederhana, pendek dan langsung. Makin sedikit kata-kata yang di gunakan kecil kemungkinan terjadi keracunan. Perbendaharaan kata Penggunaan kata-kata yang mudah di mengerti oleh klien. Komunikasi tidak akan berhasil jka pengirim pesan tidak mampu menerjemahkan kata-kata dan ucapan yang di sampaikan Contoh bahasa kedokteran / kebidanan. Arti Denotatif dan Konotatif Dalam komunikasi dengan klien dan keluarganya, bidan harus memilih katakata yang tidak banyak di salah tafsirkan, terutama sangat penting menjelaskan tujuan terapi, terapi dan kondisi pasien. Intonasi Suara komunikator mampu mempengarih arti pesan. Nada suara pembicaraan mempunyai dampak yang besar terhadap arti pesan. Kecakapan berbicara Keberhasilan komunikasi verbal di pengaruhi oleh kecakapan bicara dan tempo bicara yang tepat. Komunikasi Non verbal Komunikasi non verbal dapat di sampaikan melalui beberapa cara, yaitu penampilan fisik, sikap tubuh dan cara berjalan, Ekspresi wajah dan sentuhan. Penampilan fisik Penampilan fisik bidan mempengaruhi persepsi klien terhadap pelayanan kebidanan yang di terima. Sikap Tubuh dan Cara Berjalan. Sikap tubuh dan cara berjalan mencerminkan konsep diri alam perasaan (mood) dan kesehatan Ekspresi Wajah

Merupakan bagian tubuh yang paling ekspresif. hasil penelitian menunjukan enam keadaan emosi utama yang tampak melalui ekspresi wajah. Yaitu : Terkejut, Takut, Marah, Sisik, Bahagia dan Sedih. Orang yang memepertahankan kontak mata selama pembicaraan dipersepsikan sebagai orang yang dapat dipercaya dan memeungkinkan untuk menjadi pengamat yang baik. Sentuhan Kasih sayang, Dukungan emosional dan perhatian di berikan melalui sentuhan. Sentuhan merupakan bagian penting dalam hubungan bidanklien namun harus memeperhatikan norma sosial. Komunikasi mempunyai arti pembicaraan, percakapan, pertukaran pikiran atau hubungan. Kelompok merupakan sekumpulan manusia yang berinteraksi antar nggotanya, mempumyai tujuan dan organisasi (tidak selalu formal) serta di perlukan kesadaran anggotanya akan ikatan yang sama memepersatukan mereka. Jadi kelompok mempunyai 2 tanda psikologis yaitu: Anggota-anggota kelompok merasa terikat dengan kelompok, yang tidak memiliki orang yang bukan anggota. Nasib anggota-anggota kelompok saling bergantung sehingga hasil setiap orang terkait dengan hasil yang lain. Bagaimana mengendalikan kelompok dengan baik Tidak membiarkan peserta berbicara bersamaan. Pertahankan spontanitas peserta dengan tidak memotong pembicaraan peserta dan setiap peserta di beri kesempatan yang sama untuk berbicrara. Pembicaraan ttetap duduk pokok bahasan dengan cara memingatkan peserta untuk kembali pada topik yang di bicarakan. Tidak menyalahkan, mencemooh pendapat peserta. Mendorong peserta yamg diam untuk berbicara dengan cara meminta orang tersebut untuk menceritakan masalah atau menceritakan masalah yang di hadapi.Beri perhatian terhadap apa yang dikatakannya. Strategi menghadapi kelompok peserta yang kurang mendukung kelancaran kegiatan. Strateginya : Tipe Pasif

Ajukan pertanyaan lansung pada peserta bersangkutan. Mintalah mereka berbagi rasa berpasang-pasang. Mintalah untuk menulis komentar atau jawaban pertanyaan. Berikan inisiatif kecil. Merubah metode penyampaian dengan kegiatan yang lebih menarik. Strateginya : Ajukan pertanyaan tentang sebab sikap agresifnya. Beri kesempatan dan curahkan perasaan tentang keadaan. Jangan menganggap orang tersebut mewakili kelompok, cek dengan kelompok. Persentasikan data. Tipe Banyak Bicara Strateginya : Beri tanggung jawab sebagai pemimpin kelompok. Hindarkan pandangan terhadap peserta yang banyak bicara/hadapkan tubuh ke peserta lain. Jika perlu beri tahu peserta yang banyak bicara secara halus bahwa pendapatnya menarik tapi kta membutuhkan pendapat yang lain.

HAMBATAN KOMUNIKASI -* Ahli sosiologi, negarawan, penasehat pernikahan, banyak golongan

yang berbeda-beda, sependapat bahwa dewasa ini kebutuhan terutama adalah komunikasi yang sunguguh-sungguh. Teknologi semakin meningkat, buku-buku bertambah banyak disegala bidang. Tetapi komunikasi orang dengan lainnya mungkin tidak pernah sedangkal seperi sekarang ini. Komunikasi manusia tidak lagi berdasarkan kebenaran. Jurang pemisah bukan hanya pada politik, pada usaha periklanan, tetapi juga di dalam gereja Yesus Kristus. Semua persoalan komunikasi berakar di Taman Eden. Allah memilih untuk mengadakan hubungan yang sangat intim dengan manusia yang Ia ciptakan menurut gambar-Nya sendiri sebagai mahluk yang dapat berkomunikasi. Adam berkomunikasi secara pribadi dengan menggunakan MENUMBUHKAN HUBUNGAN INTERPERSONAL DALAM KOMUNIKASI INTERPERSONAL

10

Untuk menumbuhkan dan meningkatkan hubungan interpersonal, kita perlu meningkatkan kualitas komunikasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal adalah:

1. Percaya/trust. Bila seseorang punya perasaan bahwa dirinya tidak akan dirugikan, tidak akan dikhianati, maka orang itu pasti akan lebih mudah membuka dirinya. Percaya pada orang lain akan tumbuh bila ada faktor-faktor sebagai berikut:

a. Karakteristik dan maksud orang lain, artinya orang tersebut memiliki kemampuan, ketrampilan, pengalaman dalam bidang tertentu. orang itu memiliki sifat-sifat bisa diduga, diandalkan, jujur dan konsisten.

b. Hubungan kekuasaan, artinya apabila seseorang mempunyai kekuasaan terhadap orang lain, maka orang itu patuh dan tunduk. c. Kualitas komunikasi dan sifatnya menggambarkan adanya keterbukaan. Bila maksud dan tujuan sudah jelas, harapan sudah dinyatakan, maka sikap percaya akan tumbuh.

2. Prilaku suportif akan meningkatkan komunikasi. Beberapa ciri prilaku suportif yaitu: a. Deskripsi: penyampaian pesan, perasaan dan persepsi tanpa menilai atau mengecam kelemahan dan kekurangannya. b. Orientasi masalah: mengkomunikasikan keinginan untuk kerja sama, mencari pemecahan masalah. Mengajak orang lain bersama- sama menetapkan tujuan dan menentukan cara mencapai tujuan.

c. Spontanitas: sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang terpendam. d. Empati: menganggap orang lain sebagai persona. e. Persamaan: tidak mempertegas perbedaan, komunikasi tidak melihat perbedaan walaupun status berbeda, penghargaan dan rasa hormat terhadap perbedaan-perbedaan pandangan dan keyakinan. f. Profesionalisme: kesediaan untuk meninjau kembali pendapat sendiri.

3. Sikap terbuka, kemampuan menilai secara objektif, kemampuan membedakan dengan mudah, kemampuan melihat nuansa, orientasi ke isi, pencarian informasi dari berbagai dan lain sumber, kesediaan Agar mengubah komunikasi keyakinannya, profesional sebagainya.

interpersonal yang dilakukan menghasilkan hubungan interpersonal yang efektif dan kerja sama bisa ditingkatkan, kita perlu bersikap terbuka dan menggantikan sikap dogmatis. Kita perlu juga memiliki sikap percaya, sikap mendukung, dan terbuka yang mendorong timbulnya sikap saling memahami, menghargai dan saling mengembangkan kualitas. Hubungan interpersonal perlu ditumbuhkan dan ditingkatkan dengan memperbaiki hubungan dan

11

kerjasama antara berbagai pihak, tidak terkecuali dalam lembaga pendidikan. Sumber Komunikasi telah menjadi suatu bidang yang amat luas cakupannya. Hampir semua aktivitas manusia tidak terlepas dari komunikasi dalam berbagai cara apakah itu secara verbal, tulisan, gestural, dan bentuk komunikasi lainnya. Sebagai suatu proses, komunikasi mempunyai asumsi dasar bahwa dengan berkomunikasi, seseorang depat ditingkatkan kemampuan dasarnya untuk kemudia dapat mengatasi segala persoalan komunikasi yang dihadapinya berbicara tentang komunikasi seseorang, dua orang atau sebuah kerjasama International. Unsur-unsur tersebut tidak dapat berdiri sendiri karena merupakan sebuah proses. Semua unsur itu mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Dalam komunikasl, sumber dan penerima harus dalam sistem yang sama. Jika tidak, komunikasi tidak akan terjadi. Ketepatan Komunikasi Dalam membahas ketepatan komunikasi eletronik, Shannon den Weaver memperkenalkan konsep "noise" yang diartikan mereka sebagai faktor-fektor yang mengganggu kualitas sebuah signal. Merujuk konsep tersebut, Berlo mendefinisikan "noise" dalam proses komunikasi sebagai faktor-faktor dalam unsur-unsur komunikasi yang dapat mengurangi keefektifan komunikasi. Menurut Berlo, "noise" dan "fidelty" merupakan dua sisi dari mata uang yang sama. Mengurangl "noise" (keributan) berarti meningkatkan "fidelity" (ketepatan), demikian sebaliknya. Adapun faktorfaktor yang menentukan efektif tidaknya komunikasi tersebut meliputi : 1. The Source-Encoder. Dalam hal ini terdapat empat faktor yang meleket dalam diri sumber, yang dapat meningkatkan ketepatan komunikasi, yakni a). keterampilan berkomunikasi b). sikap mental c). tingkat pengetahuan dan

12

d). posisinya dalam sistem sosial kultural. Tingkat keterampilan berkomunikasi sumber menentukan ketepatan komunikasi dalam dua cara. Pertama, mempengaruhi kemampuan dalam berbicara, dan yang kedua mempengaruhi kemampuan menyampaikan pessn seperti yang kita maksudkan. Mengenai sikap mental, ada tiga tipe sikap sumber yang dapat mempengaruhi proses komunikasi, yakni terhadap: a). diri sumber sendiri b).Subject c) matter d) terhadap penerima pesan (receiver). Tingkat pengetahuan sumber juga akan menentukan seberapa jauh dia memahami sikap mentalnya sendiri, kerakteristik receiver, dengan cara bagaimana dia menyampaikan pesannya, jenis-jenis saluran yang dipilihnya, dan sebagainya. Faktor yang keempat adalah sistem sosial budaya yang melatar belakangi sumber. Faktor ini sangat mempengaruhi perilaku komunksil sumber.

2. The Decoder-Receiver. Pada prinsipnya, faktor-faktor yang melekat dalam diri penerima pesan sama dengan sumber. Dengan kata lain, receiver juga harus mempunyai keterampilanberkomunikasi, sehingga dapat menerima pesan. Begitu pula dengan sikap mental,tingkat pengetahuan dan sistem sosial budaya receiver, mempengaruhinya dalam menerima pesan yang disampaikan sumber.

3. Pesan. Ada tiga faktor yang perlu diperhatikan dalam pesan: 1). Kode pesan, 2). Isi pesan, 3). Perlakuan terhadap pesan. Kode pesan adalah setiap kelompok simbol yang dapat disusun sedemikian rupa, yang mempunyai arti bagi sebagian orang. Isi pesan dapat didefinisikan sebagai meteri yang dipilih sumber untuk menyampaikan ujuannya. Sedangkan perlakuan terhadap pesan adalah keputusan-keputusan yang diambil sumber dalam memilih dan menyusun kode isi pesan.

4. Saluran

13

Faktor ini menyangkut cara-cara penyampaian dan penerimaan pesan, pembawa pesan (vehicle carriers) yang mempengaruhi efisiensi dan efektifnya komunikasi.

Komunikasi Sebagai Proses Belajar Berbicara tentang komunikasi dalam konteks perorangan pada dasarnya berbicara tentang bagaimana orang belajar. Dalam hal ini belajar menggunakan istilah "stimulus" den "respon".Stimulus diartikan sebagai segala kejadian yang dapat dirasakan olehseseorang, dengan kata lain segala sesuatu yang dapat diterima orang melalui salah satu alat penginderaanya(penglihatan, pendengaran dan lainnya). Sedangkan respon diartikan sebagai reaksi seseorang terhadap stimulus, atau perilaku yang timbul karena adanya stimulus. Respon dapat dibedakan atas: respon yang terbuka (overt responses) yakni yang dapat diamati, dirasakan, dieteksi, dan respon yang tertutup (covert responses) yakniRespon yangterdapat di dalam diri seseorang; tidak dapat diamati, bersifat pribadi.

Belajar didefinisikan sebagai suatu perubahan dalam hubungan yang stabilantara: a). suatu stimulus yang dirasakan seseorang dan b). respon yang dilakukan,baik tertutup maupun terbuka. Suatu proses belajar terjadi jika seseorang: 1).Melakukan respon yang sama secara terus menerus terhadap stimulus yang berbeda, 2). Melakukan respon yang berbeda terhadap stimulus yang sama. Proses belajar meliputi adanya stimulus (segala sesuatu yang dapat dirasakan oleh organisme). Selanjutnya, organisme harus merasakan objek yang menjadi stimulus, menginterpretasikannya, untuk selanjutnya melahirkan respon. Meskipun demikian, seseorang belum bisa dikatakan belajar hanya disebabkan dia membuat sekali atau duakali respon . Belajar terjadi jika merespon stimulus tersebut menjadi kebiasaan belasan atas respon (reward)

(habit). Untuk membentuk kebiasaan ini,

merupakan faktor yang mempengaruhi. Seseorang akan mengulangi responnya jika medapat balasan Berlo menyebut lima faktor yang dapat memperkuat kebiasaan. kebiasaan. Kedua, mengisolasi hubungan S (stimulus) R (Respon): organisme tldak memberikan respon yang sama terhadap stimulus yang berbeda. Pertama frekuensi pengulangan balasan: adanya stimulus menimbulkan respon, dan jika respon ini mendapat balasan, akan memperkuat

14

merasakan dilakukan.

Ketiga, banyaknya balasan : lebih banyak balasan, akan lebih Keempat, selang waktu antara respon-balasan: lebih cepat seseorang balasan responnya, lebih besar kemungkinan dirinya

memperkuat kebiasaan.

mempertahankan respon. Kelima, usaha yang diperlukan untuk merespon:respon yang dapat dilakukan dengan mudah akan lebih bertahan dibanding respon yang sulit untuk Komunikasi dan belajar : Proses yang Memiliki Kesamaan. Komunikasi dan belajar mempunyai unsur-unsur yang sama dengan unsurunsur yang dimiliki belajar. Perbedaan hanya terjadi dalam memulai prosesnya.Belajar selalu dimulai dengan mempersepsikan suatu stimulus (decodea message),sedangkan komunikasi dimulai tujuan sumber berkomunikasi (interpretation) . Interaksi Dalam semua situasi komunikasi, sumber dan penerima pesan mempunyai ketergantungan satu sama lain. Tingkat ketergantungan yang paling tinggi terdapat dalam konsep dyadic, yang memperlihatkan adanya hubungan antara berbagai kejadian yang tidak dapat berdiri sendiri.Berlo membedakan empat tingkat ketergantungan komunikasi, yakni: 1.Ketergantungan: fisik, 2). Ketergantungan aksi-reaksi, 3). Empathy dan, 4).Interaksi. 1. Ketergantungan fisik (Definitional-Physical interdependence). Pada tingkatan ini, sumber dan penerimaan berada dalam ketergantungan yang bersifat fisik. Meskipun terjadi komunikasi, namun antara sumber dan penerimaan tidak bereaksi terhadap masing-masing pesan. 2. Ketergantungan Aksi-Reaksi (Action-Reaction Interdependence). Komunikasi umumnya meliputi tingkat ketergantungan ini. Aksi dari sumber mempengaruhi reaksi penerima; reaksi dari penerima kemudian mempengaruhi reaksi sumber lagi dan seterusnya Dalam hal ini antara

sumber dan penerima dapat menggunakan reaksi masing-masing. Reaksi yang merupakan umpan balik tersebut digunakan sumber ataupun penerima untuk memeriksa, menentukan bagaimana sebaiknya mereka menyempurnakan tujuannya. Jika umpan balik dimaksud mendapat balasan dengan balk, maka sumber/penerima akan meneruskan cara-caranya yangsama. Namun jika tidak, sumber/penerima akan mengganti pesan mereka dengan cara-cara yang lain.

15

3. Empathy. Komunikasi Umumnya meliputi gambaran pengertian atas tanggapan pesan yang dalam disampaikan. Dalam hal ini terdapat harapan yang digunakan

mengkode, menerima code, dan merespon pesan. Harapan yang diberikan pihak-pihak yang berkomunikasi dipengaruhi oleh keterampilan komunikasi, sikap, pengetahuan dan sistem sosial kultural. Untuk mengetahui harapan penerima pesan, kita harus mempunyai keterampilan yang dalam ilmu psikologi disebut empathy, yakni kemampuan untuk memproyeksikandiri kita kepada kepribadian orang lain. Sehubungan ini ada dua teori empathy: 1). Inference Theory of Empathy 2).Role-Taking Theory of Empathy. 4. Interaksi. Tingkat terakhir dari ketergantungan yang kompleks adalah interaksi, yang merupakan istilah dari proses saling berperan, perwujudan dari perilaku yang empathic. Jika dua individu membuat kesimpulan tentang masing-masing peran mereka pada saat yang sama, dan jika tingkah laku komunikasi mereka tergantung pada saling memberi peran, maka mereka berkomunikasi dengan berinteraksi satu dengan yang lain. Konsep Interaksi merupakan inti untuk memahami konsep proses komunikasi. Dalam komunikasi, kita harus mempredikasi bagaimana orang lain berperilaku. Seperti diketahui bahwa saling memberi peran (role taking), empathy,dan interaksi digunakan sebagai alat untuk meningkatkan komunikasi yang efektif, Namun ketiga aspek tersebut paling tidak memillki dua kelemahan: 1) role taking dan interaksi dalam prosesnya memerlukan energi yang cukup besar, 2) prediksi yang emphatic memerlukan beberapa prasyarat yang terkadang tidak dapat ditemukan. Keberhasilan dalam membuat prediksi dari role taking bersandar pada asumsi: 1) kita tidak berbicara dengan banyak orang, 2) sebelumnya kita memiliki pengalaman dengan orang-orang tersebut, dengan demikian kita mempunyai dasar untuk membuat prediksi tentang mereka 3) kita sensitif dengan perilaku manusia, 4) kita termotivasi untuk berinteraksi. Komunikasi dan Sistem Sosial Sistem sosial adalah kumpulan dari peran-peran ketergantungan. Dalam membicarakan sistem sosial, kita membentuk perilaku peran (role behavior) yang menempati suatu kedudukan (role position) dalam struktur sosial. Role behavior dapat dibagi atas dua kelompok: the must's (yang

16

seharusnya)dan the may's (yang boleh). Perilaku seseorang yang menempati peran apapun dapat dianalisa dengan konsep "the must's" den "the may's" Ini. Kita dapat menentukan keseluruhan sistem perilaku peran secara eksplisit. Dalam setiap kelompok, terdapat tekanan group untuk meyakinkan bahwa anggota group menyesuaikan peran-peran mereka. jika anggota merespon tekanan ini, yakni melakukan the must's, anggota tersebut diberi sesuatu (reward). Namun jika mereka menyimpang dari perilaku yang telah ditentukan, mereka dihukum, bahkan boleh group, perlu dibedakan antara jadi dikeluarkan dari group. atau tugas untuk anggota. Tekanan group inilah yang disebut norma. Dalam membicarakan tujuan produktivitas menyempurnakan tujuan, dengan upah atau pencapaian kepuasan cara. Pertama, sistem sosial diproduksi melalui komunikasi. Kedua, pembangunan sebuah sistem sosial ditentukan oleh komunikasi anggotanya. Ketiga, komunikasi mempengaruhi sosial sistem dan sebaliknya, sistem sosial mempengaruhi komunikasi. Pengetahuan tentang suatu sistem sosial dapat membantu kita untuk membuat ramalan yang akurat tentang orang, tanpa memerlukan emphaty atau interaksi, tanpa mengetahui segala sesuatu tentang orang tersebut, kecuali hanya peran-peran yang mereka miliki dalam sistem. Kegagalan komunlkasi dapat disebabkan kesalahan dalam: peramalan role behavior, role position, multiple roles, konflik peran dan norma, dan komunikasi lintas sistem sosial. Makna dalam Komunikasi Makna (meaning) adalah inti dari komunikasi. Dalam komunikasi, sumbermaupun penerimaan berusaha memilih kata-kata yang menjelaskan pengertian masing-masing. Kata-kata tersebut merupakan pesan (message), Ide yang diekspresikan dengan cara-cara tertentu (perlakuan) melalui penggunaan kode. Dalam artikelnya "The Origins of Language", Thorndike menyatakan ada empat hipotesa tentang dasar kegunaan suara-suara manusia yang mengekspresikan maksudnya. Empat kelompok itu adalah "ding-dong", "bow- bow","pooh-pooh, dan "yum-yum". bahwa suara memberi arti pada sesuatu di Teori "Ding-dong" menyatakan mana setiap orang memberikan meniru bunyi-bunyi

Komunikasi dengan organisasi sosial paling tidak berhubungan dalam tiga

arjti yang sama. Menurut teori "Bow-Bow", manusia

(suara) yang dihasilkan binatang. Teori "Pooh-Pooh" menyebutkan, manusia membuat suara-suara instinctive tertentu dan kita telah mempunyai arti untuk suara ini karena kita membuatnya. Sedangkan teori "YumYum" mengatakan manusia memberi respon fisik pada setiap stimulus.Sebagian dari respon fisik

17

ini dilakukan mulut. Berlo membuat asumsi yang terbaik tentang asal bahasa dalam pernyataan berikut : 1) bahasa sendiri atas suatu perangkat simbol-simbol yang berarti plus caracara yang bermakna untuk mengkombinasikannya, 2) simbol dari suatu bahasa dipilih melalui kesempatan, bukan pemberian Tuhan, 3). menusia membangun bahasanya sendlri dengan prinsip yang sama tentang interprestasi, respon dan balasan yang dilakukan melalui belajar, 4). manusia lambat laun membentuk bahasanya dalam upaya mengekspresikan pengertian pada dirinya dan orang lain, membuat orang lain mempunyai pengertian yang sama, dan untuk menimbulkan respon yang akan menambah kemampuannya untuk mempengaruhi. Fungsi bahasa adalah untuk mengekspresikan makna. Makna itu sendiri melekat pada semua definisi bahasa. Makna tidak terdapat di dalam pesan (message), tetapi berada pada orang. Makna pribadi sifatnya, yang berbeda dari satu orang dengan orang lainnya. Makna adalah sesuatu yang dipelajari.

Komunikasi intrapersonal
Komunikasi intrapribadi atau Komunikasi intrapersonal adalah penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri. Komunikasi intrapersonal merupakan keterlibatan internal secara aktif dari individu dalam pemrosesan simbolik dari pesan-pesan. Seorang individu menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan. Komunikasi intrapersonal dapat menjadi pemicu bentuk komunikasi yang lainnya. Pengetahuan mengenai diri pribadi melalui proses-proses psikologis seperti persepsi dan kesadaran (awareness) terjadi saat berlangsungnya komunikasi intrapribadi oleh komunikator. Untuk memahami apa yang terjadi ketika orang saling berkomunikasi, maka seseorang perlu untuk mengenal diri mereka sendiri dan orang lain. Karena pemahaman ini diperoleh melalui proses persepsi. Maka pada dasarnya letak persepsi adalah pada orang yang mempersepsikan, bukan pada suatu ungkapan ataupun obyek. Aktifitas dari komunikasi intrapribadi yang kita lakukan sehari-hari dalam upaya memahami diri pribadi diantaranya adalah; berdo'a, bersyukur, instrospeksi diri dengan meninjau perbuatan kita dan reaksi hati nurani kita, mendayagunakan kehendak bebas, dan berimajinasi secara kreatif

18

Pemahaman diri pribadi ini berkembang sejalan dengan perubahan perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Kita tidak terlahir dengan pemahaman akan siapa diri kita, tetapi prilaku kita selama ini memainkan peranan penting bagaimana kita membangun pemahaman diri pribadi ini Kesadaran pribadi (self awareness) memiliki beberapa elemen yang mengacu pada identitas spesifik dari individu (Fisher 1987:134). Elemen dari kesadaran diri adalah konsep diri, proses menghargai diri sendiri (self esteem), dan identitas diri kita yang berbeda beda (multiple selves). Kesimpulan : Komunikasi adalah penyampaian dari seseorang kepada orang lain dengan menyertakan kode atau lambang penyampaiannya itu sendiri melalui suatu proses. Analisis Pengertian Komunikasi Dan 5 (Lima) Unsur Komunikasi Menurut Harold Lasswell Analisis Definisi Komunikasi Menurut Harold Lasswell Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa? mengatakan apa? dengan saluran apa? kepada siapa? dengan akibat atau hasil apa? (who? says what? in which channel? to whom? with what effect?). (Lasswell 1960). Analisis 5 unsur menurut Lasswell (1960): 1. Who? (siapa/sumber). Sumber/komunikator adalah pelaku utama/pihak yang mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi atau yang memulai suatu komunikasi,bisa seorang individu,kelompok,organisasi,maupun suatu negara sebagai komunikator. 2. Says What? (pesan). Apa yang akan disampaikan/dikomunikasikan verbal/non verbal kepada yang penerima mewakili (komunikan),dari sumber (komunikator)a tau isi informasi.Merupakan seperangkat symbol perasaan,nilai,gagasan/maksud sumber tadi. Ada 3 komponen pesan yaitu makna,symbol untuk menyampaikan makna,dan bentuk/organisasi pesaN

3. In Which Channel? (saluran/media). Wahana /alat untuk menyampaikan pesan dari komunikator(sumber) kepada komunikan(penerima) baik secara langsung (tatap muka), maupun tidak langsung (melalui media cetak/elektronik dll).

4. To Whom? (untuk siapa/penerima).

19

Orang/kelompok/organisasi/suatu sumber.Disebut tujuan

negara

yang

menerima

pesan

dari

(destination)

/pendengar

(listener)/

khalayak

(audience)/ komunikan/penafsir/penyandi balik (decoder). 5. With What Effect? (dampak/efek). Dampak/efek yang terjadi pada komunikan(penerima) setelah menerima pesan dari sumber,seperti perubahan sikap,bertambahnya pengetahuan, dll. Contoh: Komunikasi antara guru dengan muridnya. Guru sebagai komunikator harus memiliki pesan yang jelas yang akan disampaikan kepada murid atau komunikan.Setelah itu guru juga harus menentukan saluran untuk berkomunikasi baik secara langsung(tatap muka) atau tidak langsung(media).Setelah itu guru harus menyesuaikan topic/diri/tema yang sesuai dengan umur si komunikan,juga harus menentukan tujuan komunikasi/maksud dari pesan agar terjadi dampak/effect pada diri komunikan sesuai dengan yang diinginkan. Kesimpulan: Komunikasi adalah pesan yang disampaikan kepada komunikan(penerima) dari komunikator(sumber) melalui saluran-saluran tertentu baik secara langsung/tidak langsung dengan maksud memberikan dampak/effect kepada komunikan sesuai dengan yang diingikan komunikator.Yang memenuhi 5 unsur who, says what, in which channel, to whom, with what effect. GAYA KOMUNIKASI Ada orang-orang tertentu yang seolah-olah dilahirkan untuk menjadi orang yang sukses dalam pergaulan. Dengan mudahnya mereka dapat menjalin persahabatan setiap bertemu dengan teman yang baru. Bukan itu saja, persahabatan mereka pun biasanya bertahan sampai kekal. Sebaliknya, ada pula orang-orang yang justru mengalami kesukaran dalam pergaulan. Tema "disalah mengerti" merupakan tema pokok hidup mereka meski mereka tak henti-hentinya berusaha mengoreksi diri. Banyak faktor yang terlibat yang menyebabkan keberhasilan atau kegagalan kita dalam pergaulan, salah satunya adalah gaya kita berkomunikasi. Gaya 1: Si Penganggap adalah, "Saudara seharusnya sudah mengerti maksud saya." Si Penganggap umumnya melakukan satu kesalahan yang cukup serius dalam komunikasi, yakni menganggap orang lain pasti memahami isi hatinya. Sebelum kita menganggap orang lain sudah menangkap maksud kita, kita perlu mengecek ulang, apakah benar ia sudah memahami pembicaraan kita. Gaya komunikasi seperti ini acap kali membuahkan kekecewaan dan bahkan kemarahan. Gaya 2: Si Sepenggal

20

Orang ini berpikir, "Bukankah sudah saya katakan semuanya itu?!" namun sesungguhnya yang terjadi adalah ia memang belum mengemukakan seluruh pikirannya -- baru sepenggal saja. Sewaktu kita berbicara, kecepatan pikiran kita bergerak dari satu topik ke topik yang lainnya tidaklah sama dengan kecepatan lidah kita mengungkapkan isi pikiran itu sendiri. Bagi Si Sepenggal, pikirannya bergerak telalu cepat atau lidahnya terlalu lamban sehingga maksud hatinya tidak tertuang sepenuhnya melalui bahasa ucapan. Masalahnya ialah, ia tidak menyadari hal ini, sehingga dalam benaknya, ia sudah mengatakan semua yang ingin ia sampaikan. Si Sepenggal rentan terhadap frustasi karena komunikasinya menjadi terpotong-potong dan sudah tentu, membuka pintu terhadap kesalah pahaman

Gaya 3: Si Peremeh Ucapan Si Peremeh pada umumnya ditandai dengan kalimat sejenis ini, "Kenapa tidak mengerti-mengerti?" atau "Memang bodoh kamu!" Si Peremeh memiliki satu masalah yang lumayan serius yakni ia memperlakukan semua orang sama seperti dirinya. Alhasil, apabila orang lain tidak bisa mengikuti kemauan atau pikirannya, ia pun marah. Sewaktu marah, bukannya ia melihat bahwa memang orang lain berbeda dengannya, ia justru memandang perbedaan sebagai kekurangan di pihak orang lain. Gaya komunikasi ini cenderung merusakkan hubungan dengan orang lain. Siapa saja yang pernah disakitinya akan menjaga jarak karena tidak mau terluka lagi.

Gaya 4: Si Penyenang Si Penyenang mempunyai satu misi dalam hidupnya, yakni menyenangkan hati semua orang. Akibatnya, tema seperti ini sering keluar dari bibirnya, "Saya akan lakukan apa saja bagimu asal kamu bahagia." Bicara dengan Si Penyenang memang bisa menyenangkan karena ia akan mengangguk-angguk saja, namun biasanya gaya komunikasi ini dapat mendangkalkan relasi pribadi. Sukar sekali untuk mengetahui hati Si Penyenang karena ia tidak terbuka. Ketidakterbukaannya itu juga cenderung membuatnya menumpuk semua perasaan dalam hati. Kalau tidak tertahankan, ia mudah menjadi orang tertekan dan tidak bahagia.

Gaya 5: Si Pelupa Kita bisa lupa dan adakalanya sengaja melupakan peristiwa tertentu. Malangnya, Si Pelupa lupa dan melupakan terlalu banyak hal dan frekuensinya terlalu sering. Ia acap kali berujar, "Tidak, saya tidak mengatakan hal itu." Namun kenyataannya ialah ia mengatakan hal tersebut. Baik lupa atau melupakan informasi yang akhirnya dibutuhkan oleh orang lain cenderung melemahkan kepercayaan orang pada dirinya sendiri. Orang lain dapat membentuk anggapan bahwa Si Pelupa meremehkan atau bisa juga,

21

orang lain menilai bahwa Si Pelupa tidak tulus. Ini bahaya! Komunikasi sangat bergantung pada kepercayaan; tanpa itu, yang mendengar adalah suara belaka. Gaya 6: Si Pendebat Repot juga berkomunikasi dengan Si Pendebat karena pembicaraan dengannya cenderung menjadi arena balapan kebenaran. Perhatikan kata- kata yang biasanya keluar dari mulutnya, "Apa benar saya berkata demikian? Apa kamu yakin? Bagaimana dengan dirimu sendiri?" Si Pendebat kaya dengan kata-kata dan gaya berkomunikasinya mirip dengan taktik menyerbu orang lain dengan bombardemen kata-kata. Si Pendebat cenderung melemparkan fokus masalah ke pihak lawannya sehingga ia bebas dari kesulitan. Gaya komunikasi ini bisa menimbulkan rasa tidak suka dan jenuh pada orang lain karena bicara dengannya membuat diri merasa diserang. Lebih jauh lagi, Si Pendebat akhirnya membuat orang beranggapan bahwa ia senantiasa mengelak dari tanggung jawabnya. Gaya 7: Si Talenan Rasa iba, kasihan, simpati adalah beberapa kata yang sering diasosiasikan dengan Si Talenan karena perasaan-perasaan seperti itulah yang timbul tatkala melihatnya. Si Talenan selalu menyediakan dirinya menjadi sasaran tudingan orang lain tanpa benar-benar menyadari di mana letak kesalahannya (kalau memang ada). Ucapan seperti ini cenderung muncul dari bibirnya, "Betul, memang saya yang salah dan sudah sepantasnya dimarahi." Masalahnya ialah, ia melakukan itu karena tidak berani atau berkekuatan memperhadapkan orang lain dengan kebenaran. Ia tidak suka keributan dan baginya silang pendapat tidaklah bijaksana, jadi, harus dihindarkan. Gaya komunikasi ini sangat merugikan dirinya dan bisa mengundang penghinaan dari orang lain. Orang lain semakin berani berbuat sekehendak hatinya tanpa mempedulikan perasaannya. Namun, bukankah ia jugalah yang memulainya? Dari penjelasan di atas kita melihat bahwa gaya komunikasi dapat memancarkan kepribadian kita yang sesungguhnya, namun bisa pula merupakan gaya yang dipelajari. Adakalanya untuk mendapatkan penerimaan dari orang lain, kita terpaksa mengikuti gaya komunikasi yang tertentu. Atau kita belajar dari keluarga kita sendiri sehingga kita menganggap gaya komunikasi kita dipahami semua orang, alias universal. Jika gaya komunikasi kita memang merupakan buah kepribadian sendiri, sudah tentu perlu koreksi. Obat penawarnya ada beberapa, misalnya meminta tanggapan orang lain. Mungkin kita dapat memeriksa ucapan-ucapan kita dengan lebih teliti dan menanyakan, apa kira-kira yang orang lain rasakan (bukan kita, sebab kalau kita, mungkin sekali kita tak merasa apa-apa karena sudah terbiasa) tatkala

22

mendengar kata-kata kita. Kita rela membayar mahal dan menanamkan waktu yang panjang untuk pendidikan kita; ironisnya, kita sering tidak bersedia membayar mahal untuk belajar menyehatkan gaya komunikasi kita. Memang, adakalanya hal yang penting tampaknya sederhana. Tujuan Komunikasi Menciptakan hubungan yang baik antara komunikator dengan komunikasi guna mendorong komunikan agar mampu meredakan segala ketegangan, emosinya dan memahami dirinya. 1

Elemen-elemen konsep diri


Konsep diri
Konsep diri adalah bagaimana kita memandang diri kita sendiri, biasanya hal ini kita lakukan dengan penggolongan karakteristik sifat pribadi, karakteristik sifat sosial, dan peran sosial. Karakteristik pribadi adalah sifat-sifat yang kita miliki, paling tidak dalam persepsi kita mengenai diri kita sendiri. Karakteristik ini dapat bersifat fisik (laki-laiki, perempuan, tinggi, rendah, cantik, tampan, gemuk, dsb) atau dapat juga mengacu pada kemampuan tertentu (pandai, pendiam, cakap, dungu, terpelajar, dsb.) konsep diri sangat erat kaitannya dengan pengetahuan. Apabila pengetahuan seseorang itu baik/tinggi maka, konsep diri seseorang itu baik pula. Sebaliknya apabila pengetahuan seseorang itu rendah maka, konsep diri seseorang itu tidak baik pula.

Karakteristik sosial
Karakteristik sosial adalah sifat-sifat yang kita tamplikan dalam hubungan kita dengan orang lain (ramah atau ketus, ekstrovert atau introvert, banyak bicara atau pendiam, penuh perhatian atau tidak pedulian, dsb). Hal hal ini mempengaruhi peran sosial kita, yaitu segala sesuatu yang mencakup hubungan dengan orang lain dan dalam masyarakat tertentu.

Peran sosial
Ketika peran sosial merupakan bagian dari konsep diri, maka kita mendefinisikan hubungan sosial kita dengan orang lain, seperti: ayah, istri, atau guru. Peran sosial ini juga dapat terkait dengan budaya, etnik, atau agama. Meskipun pembahasan kita mengenai 'diri' sejauh ini mengacu pada

23

diri sebagai identitas tunggal, namun sebenarnya masing-masing dari kita memiliki berbagai identitas diri yang berbeda (mutiple selves).

Identitas diri yang berbeda


Identitas berbeda atatu multiple selves adalah seseorang kala ia melakukan erbagai aktifitas, kepentingan, dan hubungan sosial. Ketika kita terlibat dalam komunikasi antar pribadi, kita memiliki dua diri dalam konsep diri kita.

Pertama persepsi mengenai diri kita, dan persepsi kita tentang persepsi orang lain terhadap kita (meta persepsi). Identitas berbeda juga bisa dilihat kala kita memandang 'diri ideal' kita, yaitu saat bagian kala konsep diri memperlihatkan siapa diri kita 'sebenarnya' dan bagian lain memperlihatkan kita ingin 'menjadi apa' (idealisasi diri) Contohnya saat orang gemuk berusaha untuk menjadi langsing untuk mencapai gambaran tentang dirinya yang ia idealkan.

Proses pengembangan kesadaran diri


Proses pengembangan kesadaran diri ini diperoleh melalui tiga cara, yaitu;

Cermin diri (reflective self) terjadi saat kita menjadi subyek dan obyek diwaktu yang bersamaan, sebagai contoh orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi biasanya lebih mandiri.

Pribadi sosial (social self) adalah saat kita menggunakan orang lain sebagai kriteria untuk menilai konsep diri kita, hal ini terjadi saat kita berinteraksi. Dalam interaksi, reakasi orang lain merupakan informasi mengenai diri kita, dan kemudian kita menggunakan informasi tersebut untuk menyimpulkan, mengartikan, dan mengevaluasi konsep diri kita. Menurut pakar psikologi Jane Piaglet, konstruksi pribadi sosial terjadi saat seseorang beraktifitas pada lingkungannya dan menyadari apa yang bisa dan apa yang tidak bisa ia lakukan Contoh: Seseorang yang optimis tidak melihat kekalahan sebagai salahnya, bila ia mengalami kekalahan, ia akan berpikir bahwa ia mengalami nasib sial saja saat itu, atau kekalahan itu adalah kesalahan orang lain. Sementara seseorang yang pesimis akan melihat sebuah kekalahan itu sebagai salahnya, menyalahkan diri sendiri dalam waktu yang lama dan akan mempengaruhi apapun yang mereka lakukan selanjutnya, karena itulah seseorang yang pesimis akan menyerah lebih mudah.

24

Perwujudan diri (becoming self). Dalam perwujudan diri (becoming self) perubahan konsep diri tidak terjadi secara mendadak atau drastis, melainkan terjadi tahap demi tahap melalui aktifitas serhari hari kita. Walaupun hidup kita senantiasa mengalami perubahan, tetapi begitu konsep diri kita terbentuk, teori akan siapa kita akan menjadi lebih stabil dan sulit untuk dirubah secara drastis. Contoh, bila kita mencoba merubah pendapat orang tua kita dengan memberi tahu bahwa penilaian mereka itu harus dirubah - biasanya ini merupakan usaha yang sulit. Pendapat pribadi kita akan 'siapa saya' tumbuh menjadi lebih kuat dan lebih sulit untuk diubah sejalan dengan waktu dengan anggapan bertambahnya umur maka bertambah bijak pula kita.

Johari Window Johari Window atau Jendela Johari merupakan salah satu cara untuk melihat dinamika dari self-awareness, yang berkaitan dengan perilaku, perasaan, dan motif kita. Model yang diciptakan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham di tahun 1955 ini berguna untuk mengamati cara kita memahami diri kita sendiri sebagai bagian dari proses komunikasi. Johari Awareness Model terdiri dari sebuah persegi yang terbagi menjadi empat kuadran, yaitu OPEN, BLIND, HIDDEN, dan UNKNOWN. - Kuadran 1 (Open) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri kita sendiri dan orang lain. (Quadrant 1, the open quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known to self and others) - Kuadran 2 (Blind) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh orang lain, tetapi tidak diketahui oleh diri kita sendiri. (Quadrant 2, the blind quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known to others but not to self) Kuadran 3 (Hidden) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri kita sendiri, tetapi tidak diketahui oleh orang lain. (Quadrant 3, the hidden quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known to self but not to others - Kuadran 4 (Unknown) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang tidak diketahui, baik oleh diri kita sendiri ataupun oleh orang lain. (Quadrant 4, the unknown quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known neither to self nor others)

25

Tes Jendela Johari dilakukan dengan memberi daftar berisi 55 kata sifat kepada subyek tes. Dari 55 kata sifat tersebut, subyek tes akan diminta untuk memilih lima atau enam kata sifat yang paling mencerminkan diri mereka. Anggota peer dari subyek tes ini kemudian akan diberikan daftar yang sama dan diminta untuk memilih lima atau enam kata sifat yang menurut mereka paling menggambarkan pribadi sang subyek tes. Hasil tersebut akan dicek silang dan dimasukkan dalam kuadran-kuadran yang tersedia.

Kelimapuluhlima kata sifat tersebut adalah: able, accepting, adaptable, bold, brave, calm, caring, cheerful, clever, complex, confident, dependable, dignified, energetic, extroverted, friendly, giving, happy, helpful, idealistic, independent, ingenious, intelligent, introverted, kind, knowledgeable, logical, loving, mature, modest, nervous, observant, organized, patient, powerful, proud, quiet, reflective, relaxed, religious, responsive, searching, self-assertive, self-conscious, sensible, sentimental, shy, silly, spontaneous, sympathetic, tense, dan trustworthy Dalam pembahasan model ini, Joseph Luft berpendapat bahwa kita harus terus meningkatkan self-awareness kita dengan mengurangi ukuran dari Kuadran 2area Blind kita. Kuadran 2 merupakan area rapuh yang berisikan apa yang orang lain ketahui tentang kita, tapi tidak kita ketahui, atau lebih kita anggap tidak ada dan tidak kita pedulikan. Mengurangi are Blind kita juga berarti bahwa kita memberbesar Kuadran 1 kita-area Open, yang dapat berarti bahwa self-awareness serta hubungan interpersonal kita mungkin akan mengalami peningkatan Luft menawarkan beberapa saran untuk meningkatkan self-awareness kita: - Threat tends to decrease awareness; mutual trust tends to increase awareness - Forced awareness (exposure) is undesirable and usually innefective - Interpersonal learning means a change has taken place so that Quadrant 1 is larger, and one or more of the other quadrants has grown smaller - Sensitivity means appreciating the covert aspects of behavior, in Quadrants 2, 3, and 4 and respecting the desire of others to keep them so (Joseph Luft, Of Human Interaction (Palo Alto, CA: Mayfield, 1969) Siapakah aku

Mengenali dan Memahami Diri Dalam bidang psikologi terdapat suatu teori yang boleh membantu kita memahami siapa diri kita. Teori itu disebut Jendela Johari. Nama Johari adalah gabungan nama dua orang pakar yang mencipta teori itu, Joseph Luft dan Harry Ingham.

26

Jendela Johari: Siapakah Aku? Jendela Diri Yang Terbuka Jendela ini melambangkan semua informasi, sikap, perasaan, keinginan, dorongan dan ide-ide kita yang kita sendiri ketahui dan diketahui juga oleh orang-orang lain. Antara maklumat itu adalah nama kita, rupa paras kita, agama kita, bangsa, pendidikan, kegemaran, agama dan pendirian politik kita.Ada kalanya jendela ini kita buka luas oleh itu kita dengan sukarela mendedahkan banyak maklumat tentang siapa diri kita. Ada kalanya kita tidak mau membuka jendela ini dengan luas, jadi kita banyak merahsiakan perihal pribadi kita. Sejauh mana kita sanggup membuka jendela ini ada kesannya pada sejauh mana orang lain sanggup menerima kita. Semakin banyak kita membuka perihal diri kita, semakin mudah bagi orang lain menerima kehadiran diri kita. Jendela Diri Yang Buta

Jendela ini melambangkan segala macam perihal tentang diri kita yang diketahui oleh orang-orang lain tetapi kita sendiri tidak tahu. Antara perihal diri kita yang kita tidak ketahui adalah perangai-perangai ganjil kita, bau badan kita yang busuk, sifat kita yang gagap apabila gugup dan lain-lain.Orang lain mungkin tahu tabiat dan sifat kita yang baik ataupun buruk yang kita tidak sedari ada pada kita. Sesetengah orang sangat buta tentang dirinya sendiri. Ada kalanya kita takut hendak mendengar pendapat orang lain berkenaan diri kita, kecuali yang baikbaik saja. Sesetengah orang sangat ingin tahu siapa diri mereka yang sebenarnya dan sentiasa maklum atas pendapat orang di sekeliling mereka.Ada kalanya kita dapat menerima kenyataan apabila menerima kritikan pribadi daripada orang lain. Ada orang tidak dapat menerima kritikan seperti itu dan mereka mengalami kejutan dahsyat. Oleh karena itu, walaupun kita tahu banyak berkenaan orangorang lain, kita tidak boleh mengumbar kepada mereka segala apa yang kita tahu. Mereka mungkin akan mengalami kesan negatif atas apa yang kita beritahukan Jendela Diri Yang Tersembunyi Jendela ini adalah lambang segala perihal tentang diri kita yang kita sendiri tahu tapi kita tidak ingin orang lain tahu. Ia adalah diri kita yang kita rahasiakan. Ada orang yang suka memberitahu segala macam perihal berkenaan diri mereka kepada orang lain. Ada orang, kalau boleh, langsung tidak mau siapa pun tahu apa-apa berkenaan diri mereka. Mereka akan bercakap-cakap berkenaan bermacam-macam perkara di dunia ini, kecuali

27

berkenaan diri mereka sendiri.Ada orang yang tidak segan untuk selalu menceritakan segala hal berkenaan diri mereka termasuk masalah rumah tangga, anak-anak, pekerjaan, uang dan apa-apa saja. Lazimnya kita memilihmilih perihal peribadi yang sanggup kita buka kepada orang-orang lain, dan kita juga memilih-milih kepada siapa hal itu sanggup kita utarakan. Jendela Diri Yang Tak Diketahui Jendela ini adalah lambang siapa sebenarnya diri kita, tetapi kita tidak tahu dan orang-orang lain pun tidak tahu. Kalau kita tidak tahu dan orang-orang lain pun tidak tahu, bagaimanakah kita tahu bahawa diri kita itu ada? Kita tahu ia ada dari beberapa sumber. Pertama, dari saat apabila kita akan menyedari beberapa perkara baru tentang diri kita yang tidak pernah kita katakan sebelumnya.Sumber kedua adalah mimpi-mimpi yang kita alami. Sumber ketiga adalah melalui ujian-ujian projektif yang boleh kita ambil di bawah pengawasan pakar-pakar psikologi.Anggapan kita terhadap diri kita sendiri sentiasa berubah-ubah daripada masa ke masa. Ada kalanya perubahan itu berlaku perlahan-lahan, ada kalanya ia berlaku dengan mendadak dan drastik sekali. Cara Mengenali Diri Sendiri Mengetahui siapa diri kita sebenarnya mempunyai kesan ke atas kesuksesan di tempat kerja dan dalam kehidupan. Individu-individu yang memahami sifat-sifat, kekuatan dan kelemahan dirinya didapati lebih sukses dalam kerjanya dan kehidupan mereka. Semakin betul kefahaman seseorang itu tentang dirinya, semakin tinggi kesuksesan yang dapat dicapainya. Ini adalah salah satu daripada ciri-ciri psikologi yang membedakan para eksekutif yang sukses. Individu-individu yang gagal dalam kehidupannya mempunyai konsep diri yang negatif ataupun di mana konsep dirinya tidak selaras dengan kenyataan disebabkan mereka tidak bersikap terbuka untuk memaklumi feedback dari orang-orang yang berinteraksi dengan mereka, terutamanya apabila feedback itu berupa kritikan. Itulah sebabnya mereka yang tidak dapat menerima kritikan dan teguran tidak dapat mencapai peringkat tinggi dalam jawatannya. Ada beberapa cara yang boleh kita lakukan supaya kita lebih kenal diri kita sendiri. Cara yang pertama adalah dengan mendengar apa yang orang-orang lain kata berkenaan diri kita. Dengan cara ini kita dapat melihat diri kita daripada sudut pandangan orang lain. Kita dapat melihat diri kita sebagaimana yang orang lain melihatnya, yaitu sebagaimana yang mereka nampak dan kenali diri kita. Biasanya kita mau orang lain melihat diri kita seperti yang kita sendiri mahu lihat, yaitu yang positif saja.

28

Apa saja yang kita buat dan katakan sentiasa dinilai oleh orang lain. Ada kalanya mereka menyatakan pendapat mereka berkenaan diri kita. Kadangkadang mereka mengatakan dengan jelas dan berterus terang, tetapi ada kalanya mereka menyatakannya dengan cara yang halus dan tersirat. Dengan memberi perhatian dan bersikap terbuka terhadap segala pendapat orang lain berkenaan diri dan segala perbuatan kita, kita dapat mengenal diri kita sendiri dengan lebih baik lagi.

Cara kedua adalah dengan sengaja mencari hal-hal tambahan berkenaan diri sendiri. Kita boleh meminta pendapat orang-orang di sekeliling kita berkenaan apa yang kita perbuat.

LATAR BELAKANG MASALAH Komunikasi antar pribadi merupakan aspek yang sangat penting dalam teori komunikasi, oleh sebab itu perlu diadakan studi lebih lanjut tentang cara yang terbaik untuk memanfaatkannya, penulis mencoba menganalisa salah satu teori tentang konsep diri diri yang berkaitan dengan komunikasi antar pribadi untuk menciptakan komunikasi yang lebih baik. Konsep diri merupakan Faktor yang sangat penting dan menentukan dalam komunikasi antar pribadi. Kunci keberhasilan hidup adalah konsep diri positip. Konsep diri memainkan peran yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan hidup seseorang, karena konsep diri dapat dianalogikan sebagai suatu operating system yang menjalankan suatu komputer. Terlepas dari sebaik apapun perangkat keras komputer dan program yang di-install, apabila sistem operasinya tidak baik dan banyak kesalahan maka komputer tidak dapat bekerja dengan maksimal. Hal yang sama berlaku bagi manusia.

Konsep diri adalah sistem operasi yang menjalankan komputer mental, yang mempengaruhi kemampuan berpikir seseorang. Konsep diri ini setelah terinstall akan masuk di pikiran bawah sadar dan mempunyai bobot pengaruh sebesar 88% terhadap level kesadaran seseorang dalam suatu saat. Semakin baik konsep diri maka akan semakin mudah seseorang untuk berhasil. Demikian pula sebaliknya. Kita dapat melihat konsep diri seseorang dari sikap mereka. Konsep diri yang jelek akan mengakibatkan rasa tidak percaya diri, tidak berani mencoba halhal baru, tidak berani mencoba hal yang menantang, takut gagal, takut sukses, merasa diri bodoh, rendah diri, merasa diri tidak berharga, merasa tidak layak untuk sukses, pesimis, dan masih banyak perilaku inferior lainnya. Sebaliknya orang yang konsep dirinya baik akan selalu optimis, berani mencoba hal-hal baru, berani sukses, berani gagal, percaya diri, antusias, merasa diri berharga, berani menetapkan tujuan hidup, bersikap dan berpikir positip, dan dapat menjadi seorang pemimpin yang handal.

29

PERMASALAHAN Diatas kita agak banyak membicarakan konsep diri Positif, karena dari konsep diri positif lahir pula pola perilaku komunikasi antar pribadi yang positip pula yakni melakukan persepsi yg lebih cermat dan mengungkapkan petunjukpetunjuk yang membuat orang-lain menafsirkan kita dengan cermat pula. Komunikan yang berkonsep diri positip adalah Komunikan yg Tembus Pandang1 ( transparent ).Dengan bersikap Tembus Pandang berarti kita membuka diri, kita menjadi lebih terbuka terhadap pengalaman-pengalaman gagasan-gagasan baru, lebih cenderung menghindari sikap defensif serta lebih cermat dalam memandang dan menilai diri kita sendiri juga orang lain. Hubungan antara Konsep diri dan membuka diri dapat dijelaskan dengan Johari Window. Dalam Johari Window tingkat keterbukaan dan tingkat kesadaran tentang diri kita.

JOHARI WINDOW ( JENDELA JOHARI ) Joseph Luft dan Harrington Ingham , mengembangkan konsep Johari Window sebagai perwujudan bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain yang digambarkan sebagai sebuah jendela. Jendela tersebut terdiri dari matrik 4 sel, masing-masing sel menunjukkan daerah self (diri) baik yang terbuka maupun yang disembunyikan. Keempat sel tersebut adalah daerah publik, daerah buta, daerah tersembunyi, dan daerah yang tidak disadari. Berikut ini disajikan gambar ke 4 sel tersebut.

Open area adalah informasi tentang diri kita yang diketahui oleh orang lain seperti nama, jabatan, pangkat, status perkawinan, lulusan mana, dll. Ketika memulai sebuah hubungan, kita akan menginformasikan sesuatu yang ringan tentang diri kita. Makin lama maka informasi tentang diri kita akan terus

30

bertambah secara vertical sehingga mengurangi hidden area. Makin besar open area, makin produktif dan menguntungkan hubungan interpersonal kita. Hidden area berisi informasi yang kita tahu tentang diri kita tapi tertutup bagi orang lain. Informasi ini meliputi perhatian kita mengenai atasan, pekerjaan, keuangan, keluarga, kesehatan, dll. Dengan tidak berbagi mengenai hidden area, biasanya akan menjadi penghambat dalam berhubungan. Hal ini akan membuat orang lain miskomunikasi tentang kita, yang kalau dalam hubungan kerja akan mengurangi tingkat kepercayaan orang Blind area yang menentukan bahwa orang lain sadar akan sesuatu tapi kita tidak. Misalnya bagaimana cara mengurangi grogi, bagaimana caranya menghadapi dosen A, dll. Sehingga dengan mendapatkan masukan dari orang lain, blind area akan berkurang. Makin kita memahami kekuatan dan kelemahan diri kita yang diketahui orang lain, maka akan bagus dalam bekerja tim. Unknown area adalah informasi yang orang lain dan juga kita tidak mengetahuinya. Sampai kita dapat pengalaman tentang sesuatu hal atau orang lain melihat sesuatu akan diri kita bagaimana kita bertingkah laku atau berperasaan. Misalnya ketika pertama kali seneng sama orang lain selain anggota keluarga kita. Kita tidak pernah bisa mengatakan perasaan cinta. Jendela ini akan mengecil sehubungan kita tumbuh dewasa, mulai mengembangkan diri atau belajar dari pengalaman Yang dimaksud dengan daerah publik adalah daerah yang memuat hal-hal yang diketahui oleh dirinya dan orang lain. Daerah buta adalah daerah yang memuat hal-hal yang diketahui oleh orang lain tetapi tidak diketahui oleh dirinya. Dalam berhubungan interpersonal, orang ini lebih memahami orang lain tetapi tidak mampu memahami tentang diri, sehingga orang ini seringkali menyinggung perasaan orang lain dengan tidak sengaja. Daerah tersembunyi adalah daerah yang memuat hal-hal yang diketahui oleh diri sendiri tetapi tidak diketahui oleh orang lain. Dalam daerah ini, orang menyembunyikan/menutup dirinya. Informasi tentang dirinya disimpan rapatrapat. Daerah yang tidak disadari membuat bagian kepribadian yang direpres dalam ketidaksadaran, yang tidak diketahui baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Dalam daerah ini, orang menyembunyikan/menutup dirinya. Informasi tentang dirinya disimpan rapat-rapat. Daerah yang tidak disadari membuat bagian kepribadian yang direpres dalam ketidaksadaran, yang tidak diketahui baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Namun demikian ketidaksadaran ini kemungkinan bisa muncul. Oleh karena adanya perbedaan individual, maka besarnya masing-masing daerah pada seseorang berbeda dengan orang lain.

31

Gambaran kepribadian di bawah ini dapat memberikan contoh mengenai daerah-daerah dalam Jendela Johari.

Pengenalan diri dapat dilakukan melalui 2 tahap, tahap yang pertama pengungkapan diri (self-disclosure) dan tahap yang kedua menerima umpan balik ( Feedback ). Tahap pengungkapan diri, orang memperluas daerah C (lihat gambar 2), sedangkan untuk memperluas daerah B dibutuhkan umpan balik dari orang lain (lihat gambar 3). Akhirnya, ia akan mempunyai daerah publik (A) yang semakin luas (lihat gambar

KASUS Dian, gadis pemalu, ia selalu sulit menjalin pergaulan. Sangat jarang ia dapat menceritakan perasaan, keinginan, dan fikiran-fikiran yang ada pada dirinya. Akibatnya, ia kurang dikenal oleh teman sepergaulannya. Kemungkinan besar, Dian mempunyai daerah publik (A) yang kecil, sedangkan daerah yang tersembunyi lebih besar (C) atau Siti mempunyai daerah buta yang lebih besar (B), sebab kelebihan yang merupakan aset bagi dirinya tidak disadarinya atau dilihat orang lain.Semakin luas daerah A dapat dikatakan seseorang mempunyai konsep diri yang positif. Ia telah tahu, baik dalam kuantitas maupun kualitas, kekuatan dan kelemahan dirinya. Orang semakin bebas untuk menentukan langkahnya, topeng-topeng yang dipakainya semakin terkuak dan ditinggalkannya. Ia menjadi pribadi yang matang, percaya diri, tidak takut menghadapi kegagalan, dan siap mengahadapi tantangan. KESIMPULAN Setelah seseorang melakukan upaya mengenali kekuatan dan kelemahan diri, orang lain akan menyadari siapa saya? Mengenal diri bukanlah tujuan. Pengenalan diri adalah sebagai wahana (sarana) untuk mencapai tujuan hidup.

32

Oleh karenanya, setelah seseorang dapat menjawab pertanyaan siapa saya? maka pertanyaan selanjutnya adalah saya ingin menjadi siapa? dimainkannya. Manusia memiliki kemampuan untuk Jawaban atas atau pertanyaan tersebut tentunya beragam, sesuai dengan peran-peran yang mengubah mengembangkan diri KOMUNIKASI TERAPEUTIK Dasar-dasar Komunikasi Teraupetik A. Pengertian Komunikasi Terapeutik Komunikasi Adalah Proses penyampaian pesan atau berita dari seseorang keorang lain sehingga antara kedua belah pihak terjadi adanya saling pengertian.Terapi Adalah Suatu penyembuhan.
Komunikasi Terapeutik Adalah suatu untuk upaya penyembuhan. olehnya. proses penyampaian nasehat kepada pasien

Seorang bidan / perawat terlebih dahulu menyampaikan ide

dan pikirannya, sehingga orang yang dirawatnya itu memahami apa yang dilakukan

Komunikasi Terapeutik biasanya dilakukan dengan Lisan (dialog antara perawat dan pasien) atau dengan gerak (gerak tangan, ekspresi wajah dan sebagainya. Melalui komunikasi ini, perawat dapat menyampaikan ide dan pikirannya kepada pasien dan kemudian ia dapat mengetahui pikiran dan perasaan pasien terhadap penyakit yang diderita dan juga sikap prilaku pasien terhadap dirinya sendirinya.Dengan demikian segala tindakan perawat disepakati oleh pasien, dan pasien itu sendiri ikut membantu segala upaya penyembuhan yang dilakukan terhadapnya Bila dilakukan tindakan terhadap pasien tanpa diberi penjelasan lebih dahulu, pendapat pasien tidak diminta atau sebaliknya pasien menyembunyikan perasaannya maka upaya penyem.buhan akan kurang berhasil. B. Tujuan Komunikasi Teraupetik. Komunikasi teraupetik bertujuan untuk menciptakan hubungan yang baik antara perawat dengan pasien guna mendorong pasien agar mampu meredakan segala ketegangan emosi dan memahami dirinya serta mendukung tindakan konstruktif (membangun) terhadap kesehatannya dalam rangka mencapai kesembuhan Didalam upaya perawatan dan penyembuhan, hubungan erat antara perawat dengan pasien diperlukan agar tindakan yang dilakukan terhadap pasien

33

didasarkan atas kesepakatan bersama.Hubungan batin antara perawat dan pasien perlu
dikembangkan dengan baik. Pada hakikatnya Komunikasi Teraupetik mengutamakan hubungan batin.Upaya yang dilakukan oleh perawat sebaiknya tidak hanya diakhiri oleh penyembuhan saja, akan tetapi diikuti rasa kepercayaan diantara kedua belah pihak atas tindakan pelayanan yang dilakukan

Jenis jenis Komunikasi Secara umum komunikasi dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu Verbal dan Non Verbal. Komunikasi Verbal menggunakan kata-kata dalam bentuk lisan atau tulisan. Sedangkan komunikasi Non Verbal menggunakan bentuk lain seperti sikap dan gerakan atau ekspresi wajah. Didalam praktek, kedua jenis komunikasi ini selalu timbul bersama. Misalnya, bila perawat memberi penjelasan kepada pasiennya tidak hanya dilakukan dengan kata-kata akan tetapi juga diikuti oleh gerak tangan dan ekspresi wajah. Sehubungan dengan pmbahasan diatas, Jenis Komunikasi dapat dibedakan menjadi 1. Komunikasi Verbal Komunikasi ini sangat tergantung dengan kata-kata yang dipergunakan, sehingga perawat dengan pasien keduanya akan dapat memahami informasi apabila kata-kata yang dipergunakan dapat dipahami

Kata-kata atau bahasa yang digunakan dipengaruhi oleh latar belakang sosial budaya, ekonomi, umur dan pendidikan.

Dalam menggunakan suara ada tujuh pokok tentang suara yang perlu diperhatikan :
a. Gema suara b. Irama c. Kecepatan d. Ketinggian

34

e. Besar / Volume f. Naik Turunnya g . Kejelasan

Suara tersebut dapat menggambarkan semangat, antusias, kesedihan, kejengkelan atau kegirangan. Misalnya : Ucapan Selamat pagi dalam bentuk irama yang menunjukan perasaan dari pengucapknya. 2. Komunikasi Non Verbal Komunikasi Non Verbal tanpa mempergunakan bahasa kata-kata. Komunikasi non verbal ini disebut juga bahasa tubuh. Dalam kehidupan sehari-hari komunikasi non verbal lebih banyak dilakukan. Bila dibandingkan dengan komunikasi verbal, komunikasi non verbal kurang terkontrol sehingga dapat timbul tanpa disadari. Observassi terhadap prilaku non verbal pasien perlu dilakukan, karena hal ini sangat berguna untuk mengetahui sikap pasien dan memudahkan mengambil tindakan perawatan dan pengobatan. Hendaklah kita memperhatikan prilaku nonverbal kita sendiri dalam berkomunikasi dengan pasien, karena pasien akan selalu memperhatikannya. Komunikasi nonverbal mempergunakan hal-hal sebagai berikut : a. Ekspresi wajah b. Gerak mata c. Gerak tubuh, tangan, lengan dan kaki
d. Sikap tubuh waktu duduk atau berjalan

berbeda

e. Sentuhan tangan f. Isyarat-isyarat g. Gabungan-gabungan dari gerak gerik tubuh

Dalam praktek sehari-hari komunikasi verbal dan non verbal dilaksanakan secara bersama-sama dan saling mendukung. Misalnya Seorang pasien mengatakan

35

Saya cukup senang disini. Ditambah dengan ekspresi wajah gembira.kedua jenis komunikasi itu dapat juga berlawanan. Misalnnya Si pasien mengatakan Saya tidak memikirkan apa-apa. Ekspresi wajahnya menunjukan kesedihan dan bibirnya bergetar. . Komponen-komponen Komunikasi
Komunikasi teraupetik seperti komunikasi pada umumnya dibagi atas 4 komponen yaitu : - Pemberi pesan - Pesan - Penerima pesan - Umpan balik / Feed back Dalam bentuk yang sederhana didalam komunikasi terjadi proses dua arah. Pengirim menyampaikan pesannya Kepenerima kemudian Sipenerima memberikan respon kepada pengirim.

Komponen-komponen komunikasi sebagai berikut : 1. Pemberi pesan ( Komunikator ) Dalam menyampaikan pesan hendaknya diperhatikan hal-hal a. Pesan yang akan disampaikan sesuai dengan kebutuhan sebagai berikut : pasien. yang

b. Pesan yang disampaikan harus mempergunakan bahasa dapat dimengerti dengan mudah oleh pasien. c. Diusahakan supaya pesan yang disampaikan dapat menarik minat pasien.
2. Pesan yang disampaikan

Komponen kedua dari komunikasi adalah pesan. Didalam komunikasi teraupetik pesan yang disampaikan berupa : nasehat, dorongan, bimbingan, informasi pearwatan, petunjuk dan sebagainya. Pesan dapat disampaikan dalam bentuk lisan atau nonverbal (bahasa tubuh) yang mengikuti bentuk lisan. Pesan dapat disampaikan melalui media seperti tulisan, telepon, radio atau televisi. Komunikasi tatap muka lebih efektif didalam komunikasi teraupetik bila dibandingkan

36

dengan menggunakan media.tidak langsung. Perawat yang langsung memberi

informasi atau pesan kepada pasien disebut Komunikasi langsung.

3. Penerima Pesan Penerima pesan disebut juga sebagai Komunikan.Penerima pesan dalam komunikasi teraupetik adalah Pasien. Pasien (sebagai penerima pesan) menerima nasehat (pesan) dari perawat (pemberi pesan). Nasehat tersebut dianalisa oleh pasien, kemudian diinterprestasinya berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki pasien itu sendiri. Kadar penerima nasehat yang disampaikan tergantung kepada pengalaman dan pengetahuan pasien itu sendiri. Misalnya seorang perawat memberikan nasehat kepada pasien untuk menelan pil vitamin, nasehat itu akan diterima sepenuhnya oleh pasien bila ia berpengalaman menelan pil vitamin atau ia tahu akan manfaatnya. 4. Umpan balik ( Feed back ) Umpan balik dalam komunikasi teraupetik adalah respon yang diberikan oleh pasien terhadap pesan yang diterimanya.Umpan balik ini berguna untuk mengukur besar informasi yang diserap oleh komunikasi dibandingkan dengan yang diberikan. Respon yang diberikan oleh pasien dapat positif atau negatif. Dalam komunikasi nonverbal pasien menunjukan respon positif bila ia sungguhsungguh mendengar nasehat perawat. Dan sebaliknya mungkin tidak tertarik akan nasehat itu yang ditunjukkan dengan menguap. Kekacauan kekacauan yang terjadi dalam komunikasi Proses komunikasi antara perawat dengan pasien, tidak selamanya berjalan dengan mulus dan berfungsi secara optimal, tetapi mungkin akan terjadi kekacauan yang disebut dengan istilah distorsi. Terjadinya distorsi dalam proses komunikasi antara perawat dengan pasien dapat disebabkan karena : 1. Pasien kurang tepat mempersepsinkan pesan, bimbingan, dorongan yang diberikan oleh pasien. Hal ini disebabkan karena hal-hal sebagai berikut : . Pasien merasa cemas karena penyakit yang dideritanya.

37

. Pikiran pasien dipengaruhi oleh faktor luar misalnya memikirkan keadaan keluarga, rumah dll . Hubungan antara perawat dengan pasien kurang bersahabat 2. Kekurangan yang dimiliki oleh perawat dalam mengadakan komunikasi dengan pasien yang disebabkan karena : a. Kurang pandai mengemukakan buah pikirannya b. Bicaranya kurang jelas, atau terlalu cepat. c. Bahasa yang digunakan tidak dapat dimengerti oleh pasien 3. Kebisingan ( Noise) Kebisingan dapat menganggu komunikasi. Kebisingan mungkin muncul pada saat seorang perawat berkomunikasi dengan pasien dalam bentuk : a. Rintihan atau tangis pasien b. Suara air gemericik di wastafel atau di kamar mandi c. Suara brankar untuk mendorong passien d. Suara antar pasien yang sedang bergurau, dll. Upaya meningkatkan kadar komunikatifnya komunikasi Komunikatif tidaknya komunikasi teraupetik itu amat tergantung dari dua pihak yaitu : Pihak Komunikator (perawat) dan pihak Komunikan (pasie). Beberapa usah dilakukan untuk meningkatkan komunikatifnya komunikasi seperti berikut : 1. Komunikator a. Amat tergantung dari kecakapan Komunikator dalam melaksanakan komunikasi, yaitu komunikator harus menguasai metode/cara menyampaikan pesan, baik secara dan non verbal. verbal

38

Perawat sebagai komunikatoor, harus bersikap tegas, penuh penuh penghargaan dan jangan menunjukann menunjukan ketidakk percayaan kesombongan, dihadapan pasien. kondisi

penerimaan, ragu dan

bPerawat harus dapat menyesuaikan diri dengan situasi dan melakukan komunikasi. d. Jangan melaksanakan budaya sendiri dalam mengadakan pasien. e. Pesan yang disampaikan supaya diulang agar dapat dengan cara : - Mungulang pengertianpengertian pokok - Mengemukakan ide-ide yang sulit dengan kalimat-kalimat - Memberikan alasan atau penjelasaan yang lebih luas bila menunjukkan kurang mengerti.

selama

komuniaksi dengan

ditangkap oleh komunikan

yang berbeda sikap pasien

2. Komunikasi Terhadap komunikasi atau pasien upaya-upaya yang dilakukan adalah sebagai berikut : a. Pasien atau komunikan diupayakan seluruh pesan yang perawat baik secara verbal maupun nonverbal. terhadap disampaikan oleh

b. Sikap/rasa curiga, rasa acuh tak acuh, rasa tidak senang komunikator harus dihilangkan.

c. Pengalaman pasien berpengaruh terhapad proses komikasi, oleh perlu diperlihatkan. d.

karena

itu

Pasien mempunyai kelainan pancaindra terutama panca indra mata, telinga dan perasaan, mendapat hambatan dalam berkomunikasi oleh karena itu harus dicara tehnik yang dapat mengurangi hambatan tersebut.

e.

Jarak antara perawat dengan pasien pada waktu berkomunikasi harus tidak terlalu jauh atau terlalu dekat (jarak 0,4 1,2 meter).

f.

Pasien diupayakan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan perawatan.

Fase dan Tehnik Komunikai Terapeutik

39

A. Fase-fase yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan efektifitas komunikasi terapeutik Untuk meningkatkan efektifitas komunikasi teraupetik, perawat harus

memperhatikan beberapa fase guna mencapai kesuksesan dalam mengadakan komukasi teraupetik. Fase-fase yang dimaksud adalah sebagai berikut : 1. Fase sebelum interaksi Sebelum berlangsungnya interaksi, seorang perawat harus memiliki lengkap tentang pasien. Fase-fasenya adalah : a. Nama Pasien b. Alamat Pasien c. Umur Pasien d. Pendidikannya data

e. Riwayat Pasien khususnya riwayat penyakit dan pernah didapatkan f. Riwayat Sosialnya g. Riwayat Keluarganya

pengobatannya

yang

2. Fase Pendahuluan Fase ini merupakan fase orientasi, dan dalam fase ini terdiri dari 3 kegiatan yaitu :

a. Persiapan membuka hubungan dengan pasien Memulai atau membuka hubungan dengan pasien penting dan amat menentukan selanjutnya. dilakukan secara hati-hati. kelangsungan dan merupakan hal yang sangat keberhasilan pembicaraan

Oleh karena itu, membuka wawancara dengan pasien harus

40

Jika yang memulai pembicaraan adalah perawat, maka ia harus memberikan penjelasan sejelas-jelasnya mengenai apa yang akan dibicarakan dan apa maksuddnya. Apabila yang memulai adalah pasien sendiri perawat harus mampu membantu pasien mengungkapkan apa yang dirasakan, dan perawat harus menunjukan sikap rela membantu, kesabaran yang tulus, rileks, sikap menerima secara sungguhsungguh, membuka hati pasien dengan menuntunnya mengorganisasikan perasaan serta pikirannya sehingga pasien tidak menaruh prasangka yang negatif kepada perawat. Contoh : Pasien : Maaf Ibu perawat, saya kurang mengerti, apakah ada

kelainan didalam diri saya ? Perawat : Pertanyaan ibu bagus sekali. Sebenarnya sayapun Nah agar lebih jelas

ingin menyampaikan hal itu kepada ibu. ini. b. Menjelaskan masalahnya

dapatkah ibu menceritakan kembali kepada saya, apa yang ibu rasakan selama

Pasien kadang-kadang tidak mempunyai inisiatif menjelaskan masalah yang dihadapinya. Untuk membantu menjelaskan masalahnya, perawat harus menggunakan tehnik yang tepat, seperti mendengarkan dengan baik, mengulang kembali kata-kata yang diucapkan pasien, menjelaskan perasaan pasien.

Contoh : Perawat : Seperti apa yang telah ibu sampaikan kepada saya, bahwa mulai kemarin frekuensi kencing ibu tidak perlu takut. Itu disebabkan pembengkakan (udim) pada kaki ibu. c. Menjelaskan prosedur wawancara dan merumuskan perjanjian meningkat. Ibu oleh pengaruh obat untuk mengurangi

41

Dalam hal ini perawat perlu menjelaskan, kapan ia akan menyediakan waktu untuk berbincang-bincang dengan pasien atau kapan pasien berbincang-bincang dengan perawat.

Contoh : Pasien : Ibu perawat, dapatkah ibu membantu saya dan penyakit saya ? ibu suami

saya untuk memberi penjelasan mengenai

Perawat : Bu, dengan senang hati kapankah ibu dan suami bersedia untuk membicarakannya? 3. Fase Pelaksanaan Dalam fase pelaksanaan ini ada 3 kegiatan yaitu : a. Menanggapi dan menjelajahi hati pasien Dalam fase ini empati perlu dipertahankan dan dikembangkan selama wawancara dengan pasien masih berlangsung. Perawat harus aktiif untuk berusaha membantu pasien membangkitkan atau memunculkan perasaan, pikiran dan tindakannya.

Perawat dalam memberikan tanggapan dan menjelajahi hati pasien, diharapkan dapat menunjukan : 1. Empati: Dalam berkomunikasi, memberi tanggapan, mendengarkan apa yang pasien katakan, dan dirasakan pasien

2. Rasa Hormat dan keinginan/hasrat yang tinggi untuk membantu pasien 3. Keahlian/kemampuan sebagai pasien yang harus mampu baik menjelaskan maupun memberikan petunjuk secara teoriitis 4. Menunjukan kejelasan/konkrit Contoh :

42

Pasien

: Maaf bu perawat saya selalu mengganggu kesibukan Ibu perasaan saya

perawat dan saya ini bodoh tidak bisa mengemukakan yang sehubungan dengan penyakit saya.

Perawat : Tidak apa-apa bu, itu memang tugas dan tanggungjawab saya sebagai perawat untuk membantu ibu, Adakah yang diucapkan kurang tepat sewaktu ibu menjelaskan kepada saya. b. Mengintegrasikan dan mendinamiskan pemahaman pasien terhadap dirinya. Dalam kegiatan ini perawat harus mampu membangkitkan semangat pasien agar ia dapat meningkatkan pemahaman terhadap dirinya, mampu dan mau mengungkapkan perasaan-perasaan yang selama ini terpendam. Perawat membantu pasien menerima keadaan dirinya, merubah pikiran dan tindakannya, serta membimbing-nya untuk mengambil jalan pemecahan masalahh yang dideritanya sesuai dengan kemampuannya.
C.Sebagai fasilitator dan membantu menentukan tindakan

ingin ibu

tanyakan kepada saya ? Silahkan! Ibu sebenarnya tidak bodoh, hanya yang

Setelah pasien mengungkapkan segala masalah yang dia alami dan segala perasaan dan pikirannya yang mengganggu,maka pada akhirnya pasen harus mampu membuat keputusan sendiri untuk menyelesaikannya.Disamping itu pasien harus mampu pula menyusun rencana tindakan yang paling sesuai dengan kemampuan pasien. Contoh : Perawat : Bu tadi dokter dan saya telah menjelaskan tentang dan pengobatan tergantung dari keputusan Ibu. tidak berani melakukan jika mendapat dari ibu. Sudakah ibu mempetimbangkan hal itu sedalam-dalamnya? Pasien : Terima kasih Bu Perawat. Saya telah upaya dokter dan kesembuhan saya. Saya

kondisi ibu dan kemungkinan tindakan perawatan yang akan dilakukan. Itupun Dokter dan perawat persetujuan

mempertimbangkan sedalam-dalamnya, bahwa segala ibu perawat adalah untuk kebaikan dan menerimanya dengan baik.

4. Fase Pengakhiran

43

Kadang-kadang setelah terjadinya interaksi yang harmonis antara pasien dengan perawat, sering diketemukan kesulitan dan penuh kebingungan akan memutuskannya. Tetapi kadang-kadang, setelah terjadi pembicaraan yang amat serius antara pasien dan perawat, akhirnya pembicaraan itu berhenti seketika karena adanya situasi diam dari pihak pasien. Dalam situasi demikian, perawat harus mampu mempergunakan cara-cara untuk mengakhiri pembicaraan tersebut : Contoh : Perawat : Bu, kita sudah banyak membicarakan tentang masalah apa yang harus kita lakukan agar ibu dapat sembuh. menyimpulkan hasil-hasil yang telah kita B. Tehnik-tehnik komunikasi terapeutik secara verbal Beberapa tehnik komunikasi terapeutik secara verbal yang dapat dipergunakan oleh perawat dalam memberikan pelayanan perawatan keperawatan antara lain : 1. Mendengarkan secara aktif Mendengarkan secara aktif mencakup hal-hal sebagai berikut : Dapatkan ibu sepakati tadi?

a. Pada saat mendengarkan, perawat harus menutup diri dari stimulus atau rangsangan yang datang dari luar, selain apa yang dikemukakan oleh pasien. mendengarkan

b. Perawat harus memperhatikan pesan, ungkapan, baik yang diungkapkan secara verbal atau secara non verbal oleh pasien tersebut.

c. Perawat harus dapat menarik kesimpulan terhadap perasaan yang telah diungkapkan

pasien

Beberapa cara mendengarkan yang baik yang dapat dilaksanakan oleh perawat yaitu : a. Perhatian sepenuhnya dan terpusat kepada pasien, pandangan perawat sekali-kali melihat wajah pasien, tetapi

44

tatapan mata itu tetap dalam batas-batas sopan dan wajar. b. Mendengarkan segala sesuatu yang dikemukakan oleh pasien, memperhatikan perasaan dan perilakunya. Perawat dapat mengungkapkan kata-kata selama pasien mengemukakan perasaan, pengalaman seperti : Bagus Bu; aduh kasihan juga; lalu apa lagi yang ibu 2. Memulai Pembicaraan Perawat harus hati-hati dalam melakukannya, utamakan sikap yang bersahabat serta penerimaan yang baik dan jangan langsung ke permasalahannya. contoh : Perawat : Selamat pagi bu, apakah ibu dapat menikmati tidur nyenyak semalam di Rumah sakit ini ? Pasien : Rasanya saya belum bisa menyesuaikan diri angin ini saya saja. rasakan ?

dengan lingkungan disini, tetapi dengan bantuan kipas dapat tidur walaupun hanya beberapa jam

Perawat : Hampir semua pasien mengalami hal seperti itu ibu, tetapi lama-kelamaan ibu dapat mengatasi perbedaan ini baik. Saya doakan semoga ibu merasa senang kembali kerumah. Pasien saya. Perawat : Saya yakin ibu pati tabah menghadapinya, karena saya : Terima kasih bu perawat, itulah harapan saya dan keluarga dengan dirawat dan cepat

keluarga saya, saya ingin cepat sembuh dan kembali ke

yakin ibu telah memiliki banyak pengalaman sebelum ini. Bisakah ibu menceritakan pengalaman ibu sebelum masuk rumah sakit ini. 3. Mengulang Pembicaran

45

Yaitu mengulang kata-kata pasien dengan menggunakan kata-kata perawat sendiri Tehnik ini memberi gambaran kepada pasien bahwa perawat telah mendengarkan apa yang telah diungkapkan, baik yang menyangkut perasan atau persepsi pasien terhdap sesuatu.

Contoh : Pasien : Sebenarnya saya menginginkan untuk dirawat disini, rasanya saya

banyak permasalahan yang saya hadapi sekarang, sulit mengungkapkan seluruhnya. Perawat

: Jadi ibu menyatakan, sebenarnya tidak ingin dirawat diini menyulitkan ibu

karena banyak masalah yang sedang ibu hadapi, yang untuk mengungkapkannya disini .. 4. Memantulkan Perasaan Pasien

Seeorang perawat harus mampu memantulkan apa yang dirasakan oleh pasien, sikap pasien yang terungkap melalui kata-kata pasien dengan kata-kata perawat. Contoh Pasien : : Bu Perawat mungkin hanya kepada bu perawat yang Pada kehamilan seperti ini. Sekarang kesembuhan. ibu

perlu saya beritahukan apa yang muncul dihati saya. yang lalu saya menderita penyakit sulit rasanya saya akan memperoleh Perawat

: Ya kelihatannya ibu amat pesimis tentang kesembuha

. Membagi Pengalaman Pasien Dalam situasi ini, perawat hendaknya menyatukan diri dengan pasien, seakanakan apa yang dirasakan pasien juga dirasakan oleh perawat. Contoh : Pasien : Apa yang telah saya lakukan bersama-sama dengan Saya

suami dan keluarga saya sama sekali tidak ada hasilnya.

46

sudah pasrah dan sedih, lebih-lebih jika melihat kecil, pasien menangis.

anak-anak maih

Perawat : Ibu, saya merasakan sedih sekali apa yang ibu sedihkan, tetapi marilah kita sama-sama mengatasinya. 6. Persetujuan Pernyataan perawat yang menyetujui anggapan atau gagasan pasien dapat memberikan bantuan emosional kepada pasien. Contoh: Pasien : Tetapi dengan melihat anak-anak masih kecil yang perlawanan dari dan juga selalu berdoa, semoga

memerlukan kasih sayang dari orang tuanya, tumbuh diri saya untuk berjuang sekuat tenaga lekas sembuh.

Perawat : Bagus sekali bu, itu merupakan suatu sikap yang amat baik, semogalah berhasil. 7. Dukungan Maksudnya pernyataan perawat guna memberikan dukungan serta dorongan kepada pasien agar timbul rasa kepercayaan kepada dirinya sendiri, atau untuk menimbulkan rasa simpati.

Contoh Pasien

: : Bu Perawat, beginilah keadaan / nasib saya, saya mohon

janganlah dibiarkan saya lebih menderita lagi.

Perawat

: Saya memahami apa yang sedang ibu rasakan. Ketahuilah Bu, saya akan merasa bergembira sekali,

apabila saya dapat menolong Ibu. 8. Pembatasan

47

Pembatasan disini dimaksudkan, bahwa perawat perlu membatasi gerak/tindakan pasien agar tidak melampaui batas sehingga merugikan dirinya sendiri. Contoh Pasien : : Saya jengkel dengan keadaan diri saya, dan saya semua orang perawat, apalagi yang

menyesali diri saya. Kadang-kadang jengkel dengan dirumah saya. Ah. Tidak tahulah Bu muncul di hati saya. Perawat : Bu, Ibu bebas mengutarakan segala kekesalan ibu, kejengkelan Ibu, tetapi satu hal yang tidak boleh ibu yaitu melalaikan makan, makan obat dan latihan sarankan kepada Ibu. . Mengajukan Pertanyaan

lakukan, yang telah saya

Perawat mengajukan beberapa pertanyaan, apakah pertanyaan untuk meminta penjelasan tentang keluhannya ataukah pertanyaan yang menyangkut keadaan lingkungan dan lain-lainnya. Contoh :

Perawat : Coba Ibu ceritakan tentang usaha-usaha pengobatan yang telah ibu laksanakan. 10. Memberi Saran Perawat memberikan keterangan atau saran kepada pasien. Pemberian saran ini hendaknya dikemukakan pada akhir pembicaraan. Contoh :

Perawat : Saya melihat sudah banyak kemajuan yang telah ibu peroleh, seperti ibu sudah dapat berjalan, kadar darah ibu meningkat. Saya minta untuk terus minum obatteratur dan tingkatkan frekuensi latihan 11. Menolak Penolakan disini maksudnya, melarang pasien secara langsung ataukah secara terselubung untuk melanjutkan rencana/tindakannya yang merugikan dirinya. jalan sudah obat dengan

48

Contoh Pasien

: : Bu Perawat, sedikitpun tidak ada kemajuan yang sekolah anak-anak saya. saya

rasakan, banyak biaya yang telah saya bisa dipakai untuk biaya

habiskan yang mungkin

Perawat : Bu, perlu Ibu pertimbangan sebaik-baiknya sebelum ibu memutuskan hal itu. Rundingkanlah dengan keluarga ibu. Contoh: Perawat : Bu, kita telah berbicara banyak mengenai perawatan dan pengobatan ibu, kalau tidak salah kita telah beberapa hal : Ibu akan berusaha untuk mentaati petunjuk perawatan. Ibu bersedia untuk menjalani yang akan kami laksanakan. KOMUNIKASI PADA BAYI DAN ANAK. Perkembangan Komunikasi Bayi dan Anak Balita Bahasa dan fase-fase perkembangan bahasa dari bayi dan anak 1. Fase Prelinguistic ( Fase sebelum berbicara ) Sampai umur 1 tahun bayi hanya dapat mengkomunikasikan tuanya akan dapat pemeriksaan menyepakati suami dan

kebutuhannya lewat tangisan. Pada usia 2-3 mingu orang membedakan tangisan sang bayi.

Bayi akan menangis apabila ia lapar, pantatnya basah BAK /BAB, atau minta perhatian orang lain. Tangisan lapar dimulai dengan suara mendatar dan menjadi sesuai kebutuhannya. Tangisan kesakitan biasanya berupa suatu teriakan yang bayi terkejut medadak

kesakitan

meningkat

karena

Tangisan rasa nyaman atau tangisan minta perhatian, dimana tangisan bayi akan berlangsung terus menerus.

49

Bayi pada minggu kedua mengeluarkan suara yang enak, dimulai terlihat senyum. Ini akan terlihat apabila bayi merasakan kepuasan. Contoh, Bila bayi diajak bercanda atau diajak berbicara. Senyum yang mempunyai arti sosial diperlihatkannya setelah berusia tiga minggu, hanya disini bayi tersebut belum bisa membedakan wajah yang dilihatnya. Perkembangan bahasa anak bayi itu mulai berlangsung pada usia 2 6 bulan. Pada usia 4-5 bulan bayi sering mengeluarkan suara rasa-rasa puas dengan nada suara rendah, suara demikian ini sering diucapkannya pada saat-saat ia bangun tidur. Sekitar umur 5-6 bulan, bayi mulai berbicara dengan mengeluarkan macam-macam bunyi, dengan nada-nada keras, perlahan dan tinggi rendah, sesuai dengan nada kehidupan perasaanya. Pada usia 9-10 bulan, bayi mulai menggunakan suku kata yang diulang, seperti mama, papa, mam-mam, wa-wa, uk-uk dll. Jika bayi ditanya, dimana mama?. Maka ia akan menoleh dan mencari ibunya, sekalipun dia belum mampu mengucapkan kalimat untuk exspresi tersebut. Untuk membuat hurufbmati sepertib, atau k, bayi memerlukan pertumbuhan motorik yang cukup untuk bibir, lidah, tenggorokan dan suara pada saat yang sama. Juga sewaktu-waktu mengkombinasikan antara huruf hidup dengan huruf mati. Contoh: da,da dan ge,ge Fase Prelinguistic termasuk bunyi refleksi (berupa reflek vocal) meliputi : a. Babbling (meraban) Ia suka mengeluarkan suara yang berulang ketika merasa senang sendiri dan berbicara sendiri dengan dirinya sendiri Meraban sering terjadi setelah bayi bangun tidur atau menjelang tidur. Sampai berumur 7 bulan, bayi berusaha meniru suara yang didengar disekitarnya dan kemudian sekitarnya. b. Echolalia timbul Lalling yaitu mengulang suara yang didengar dari

50

Yaitu mengulang gema suara dari suara yang diucapkan oleh orang lain. Bayi sudah bisa sadar mendengar. Bayi mulai belajar memanifulasi lidah, bibir, tenggorokan dan meniru suara yang dikeluarkan oleh orang lain. Pertumbuhan bicara dan bahasa anak akan cepat bila orang tua mengulang suara bayi dan bayi membalasnya dengan meniru.
. Kata Pertama Bayi memberi reaksi yang berbeda pada satu kata yang diucapkan dengan perbedaan intonasi pada umum 4-5 bulan. Bicara yang sesungguhnya dimulai pada umum 12-18 bulan. 3. Kalimat Pertama Umur 2 tahun anak mulai belajar menyusun beberapa kata. Periode ini dikenal sebagai permulaan dari pembicaraan komplit, yaitu menggunakan kombinasi beberapa kata dalam susunan tata bahas Contoh : perahu, dikatakan pelahu

. Kemampuan Berbicara Egosentris dan Memasyarakat Psikolog Perancis Jean Peeget mengkategorikan anak dari umur 4 sampai 11 tahun keatas berbicara egosentris dan memasyarakat. a. Kemampuan berbicara egosentris (berpusat pada diri sendiri) 1) Repentitif (pengulangan) Bila seorang anak berbicara., kata-kata yang diucapkan itu diulang oleh anak lain. Kemudian anak itu dan kemudian diucapkan kembali oleh 2) Monolog (berbicara satu arah) Kemampuan berbicara seperti ini biasanya pada anak-anak sekolah. Ia berbicara sendiri dan panjang. 3) Monolog kolektif pra anak yang lain anak

mengulanginya lagi,

51

Ketika seorang anak sedang berbicara dan ada kehadiran anak yang lain, maka mereka masingakan berbicara tetapi pembicaran mereka berbeda. masing

Menurut Lev Vygotsky Kemampaun berbicara egisentris merupakan bentuk petunjuk dan bantuan bagi anak dalam menyelesaikan masalahnya sendiri. b. Kemampuan berbicara memasyarakat Hal ini menunjukan adanya tukar pikiran dengan orang lain termasuk pertanyaan, jawaban perintah, kritik terhadap orang lain. Pada anak prasekolah kemampuan berbicara egosentris semakin berkurang dan kemampuan berbicara memasyarakat menjadi lebih menonjol. 5. Perkembangan Semantik Sematik adalah pengetahuan mempelajari arti dari kata pada bahasa yang diajarkan. Anak pertama kali belajar memahami arti kongkrit dan jenis kata kongkrit. Kemudian lambat laun ia memahami arti dan jenis kata abstrak. Contoh :

Anak pertama kali mengetahui kata meja dan kursi, selnjutnya menyebutkan sebagai kategori perabot. Atau kata jeruk dan apel selanjutnya menyebutkan buah6. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa 1. Intelegensi (kecerdasan) 2. Jenis kelamin 3. Bilingual (dua bahasa) 4. Status tunggal atau anak kembar 5. Ransangan / dorongan orang tua buahan.

52

6. Sosial ekonomi Proses Komunikasi Pada Bayi dan Anak Melihat perkembangan dan kemajuan kata dan kalimat seirama perkembangan umur, maka dalam melakukan komunikasi dengan bayi dan anak sudah sepatutnya kita mengikuti Psikologi anak. Seorang perawat dapat mendorong, membantu ibu serta pihak lain yang terkait dengan pemeliharaan bayi dan anak dalam memberikan dukungan, rangsangan aktif dalam perkembangan bahasa dan emosional bayi dan anak dengan cara-cara sebagai berikut : a. Memperbaiki model orang tua Orang tua didorong untuk melengkapi diri dan berkomunikasi model yang baik. b. Mendorong kemampuan komunikasi, baiksecara verbal maupun nonverbal Anak memerlukan pengalaman verbal seperti bersajak, membaca dengan keras dan memberikan kesempatan pada anak untuk mengatakan pendapatnya. c. Berikanlah anak pengalaman untuk berbicara Bila ada kesempatan perawat atau orang tua harus menyediakan mainan, bukubuku bergambar dsb yang memberikan kesempatan kepada anak untuk berkomunikasi. d. Mendorong anak untuk mendengar Doronglah anak untuk mendengar dan mengulang sajak atau nyanyian dan bertanya tentang bunyi-bunyian. e. Mendorong ana untuk berbicara sebagai pengganti tindakan /aksi Kemampuan anak untuk mengekspresikan dirinya sendiri secara verbal bisa ditingkatkan oleh orang tua dengan car langsung menanyakan apa yang mereka inginkan.
f. Gunakanlah kata (istilah) yang pasti dan benar

menjadi

53

Anak-anak belajar membedakan warna, ukuran, bentuk, posisi dan hak milik suatu benda apabila istilah yang digunakan pasti benar. Komunikasi Terapeutik Kepada IBU

Komunikasi Terapeutik kepada Calon Ibu 1. Kondisi Psikologis Yang dimaksud diini adalah anak gadis sebagai calon ibu. Pada anak gadis fungsi seksualnya telah mulai nampak yaitu erotis. 2. Komikasi Terapeutik Calon Ibu Hal ini menitik beratkan kepada : a. Memberikan penjelasan secara fisiologis peristiwa yang menstruasi. b. Memberikan bimbingan tentang perawatan diri sehubngan peristiwa menstruasi. c. Memberikan bimbingan tentang persiapan perkawinan, dengan NKKBS (norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera) menentukan dihubungkan dengan disebut fungsi reproduksi dan fungsi

d. Persyaratan-persyaratan kesehatan yang sangat sebagai calon ibu Komunikasi Terapeutik pada Ibu Hamil 1. Perubahan Fisiologis Ditandai dengan : - Rasa mual - Paningkatan suhu tubuh - Peningkatan denyut nadi - Paningkatan tekanan darah/tensi - Pada orang-orang tertentu terjadi perubahan warna kulit dll.

54

2. Perubahan Psikologis Peristiwa-peristiwa kejiwaan yang menyertai ibu hamil, mulai peristiwa ngidam yang umumnya dibarengi oleh emosidari

emosi yang kuat

karena dorongan hormonal, ibu menjadi lebih peka, mudah tersinggung.

3.

Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik Perawat yang akan senantiasa berhubungan dengan ibu yang sedang hamil, diharapkan mampu melalui tindakan pemeriksaan, penyuluhan, dan segala bentuk kontak langsung pada ibu hamil melalui berbagai metode maupun bentuk hubungan dapat mengadakan komunikasi terapeutik.

Komunikasi yang dimaksud diharapkan dapat meredam pemunculan faktor psiko sosial yang berdampak negatif terhadap kehamilannya. Contoh : Pasien : Bu perawat pada umur kehamilan saya yang kedua muntah-muntah,

bulan ini, saya merasa tidak enak makan, pusing, tidak bisa tidur. Perawat : Bu, apa yang ibu rasakan ini dirasakan pula oleh ibuibu yang lain. Hal ini akibat dari pengaruh hormon badan ibu.

yang ada pada

Pengaruh ini bisa ibu atasi dengan usaha penyesuaian, makan yang cukup, teratur dan menjaga pikiran yang sehat, meningkatkan kesadaran untuk menrima dan memelihara kehamilan ini bersama-sama keluarga lain khususnya suami. Komunikasi Terapeutik Dengan Ibu Masa Kelahiran 1. Perubahan Fisiologis Semakin meningkat umur kehamilan, ibu semakin merasakan

pergerakan-pergerakan bayi jalan lahir mengalami

Kondisi otot-otot panggul dan otot-otot

pemekaran. kekuatan

Keluarnya bayi itu sebagian besar disebabkan oleh kekuatankontraksi otot-otot dan sebagian lagi oleh tekanan dari perut.

55

Kontraksi drai otot-otot uterus dan pelontaran bayi keluar amat dipengaruhi oleh : sistem syaraf simpatis, parasympathis dan lokal pada otot uterus. 2. Perubahan Psikologis Pada minggu-minggu terakhir menjelang kelahiran bayinya, ibu banak dipengaruhi oleh perasaan-perasaan/ emosi-emosi dan ketegangan. 3. Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik Pada Ibu Melahirkan Perawat : Bu, ibu sudah ada kemajuan dalam proses peralinan pasien). ini Perlu syaraf

(sambil menepuk nepuk/mengelus-ngelus tangan saya jelaskan bahwa fase-fase adalah (jelaskan serta berusaha berama-ama proses ini akan semakin lancar kalau ibu dengan singkat).

peralinan sampai bayi ibu lahir Tetapi, berusaha dan keyakinan,

kita mempercepat kelahiran.

Sampai detik ini keadaan bayi ibu cukup sehat dan ibu juga kondisinya bai. Suami ibu telah menunggu diluar sambil bedoa dan menanyakan keadaan ibu. Lakukanlah apa yang tidak lama lagi bayi ibu akan lahir, saya saya selalu membantu ibu. selalu sarankan,

Ibu dituntun untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang menunjang proses pelontaran/kelahiran bayi. Sang suami juga dibesarkan hatinya, dijelaskan apa yang terjadi pada istrinya. Contoh Pasien : : Aduh bu perawat, saya tidak tahan menahan sakit, masih

lamakah ini Komunikasi Terapeutik Dengan Ibu Masa Nifas 1. Perubahan Fisiologis Setelah persalinan maka akan terjadi proses Involusi yaitu pemulihan fungsifungsi alat kandungan secara perlahan-lahan ke kondisi semula.
lochia dari vagina

Setelah melahirkan, perut ibu masih kelihatan besar. Keluar sampai beberapa hari (42 hari).

56

2. Perubahan Psikologis Peristiwa persalinan merupakan peristiwa yang sangat seorang ibu, oleh karena : a. Ibu merasa bangga karena mampu mengatasi kesulitan, kesakitan, penderitaan dengan tenaganya Ibu merasa bahagia karena telah mendapatkan relasi dengan bayinya , dan ia ingin cepat-cepat mengetahui jeis kelamin bayinya, bentuk bayinya. Namun disamping itu ada pemunculan gejala-gejala psikis yang tidak bahagia pada ibu yang telah melewati masa perjuangannya. Hal ini disebabkan oleh karena : a. Ibu mengalami kesenduhan, kepedihan hati, kekecewan dan penderitaan kecemasan, sendiri. mengesankan bagi

bathin, misalnya anak yang dilahirkan merupakan hasil diluar pernikahan. b. Kesedihan serat kesenduhan yang muncul diakibatkan oleh karena jenis kemin bainya tidak sesuai dengan idamannya ataupun idaman suami/mertuanya. c. Bagi ibu-ibu yang telah bercerai, peristiwa yang tidak menyenangkan 3. Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik Pada Ibu Nifas Setelah ibu melahirkan bayinya, maka pearwat harus secara hati-hati melakukan komunikasi terapeutik, karena kestabilan emosi belum puli seperti semula. Orientasi pembicaraan lebih berkisar penerimaan terhadap bayi, serta kondisi fisik dan psikis ibu Nifas. Contoh : Perawat : Bu, saya ucapkan selamat, karena bayi ibu telah dengan selamat atas perjuangan ibu yang semangat (sambil Pasien memegang tangan ibu). lahir maka kelahiran anaknya merupakan

begitu tabah dan penuh

: Terima kasih bu perawat, bolehkah saya memeluk

dan mencium bayi saya. Aduh bahadia saya.

57

Perawat : Tentu saja bu, silahkan, selamat untuk ibu dan bai teruskan untuk memberitahukan tenang)
Komunikasi Terapeutik dengan Ibu Meneteki 1. Perubahan Fisiologis Setelah masa kelahiran bayi, mulailah masa inovasi. Uterus menggelmbung besar serta mendesak organ mengecil kembali, begitu yang

ibu (dan

perawatannya setelah ibu

semula

internal, secara berangsur-angsur

pula organ-organ yang lainnya kembali ke letak semula. kelenjar hormon-hormon, susu. maka

Organ yang lain juga mulai produktif khususnya kelenjarKelenjar susu mulai bekerja yang dipengaruhi mulailah masa menyusui oleh

2. Perubahan Psikologis Setelah bayi lahir, ibu merasakan terpisah dengan bayinya. Namun bayi itu kini dijadikan objek kasih sayang yang tadinya menyatu sekarang terpisah dengan jasmaninya. dengan dirinya,

Gejolak emosional yang muncul misalnya : Ibu merasa cemas dengan keselamatan bayinya selanjutnya, ia cemas anaknya tidak dapat mendapatkan ASI dan perawatan cukup. 3. Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik Komunikasi terapeutik dengan Ibu menyusui lebih ditekankan kepada peranan Ibu untuk memberikan air susunya kepada bayinya sebagai wujud pertalian kasih sayang yang tiada taranya. Contoh :

Perawat : Selamat pagi Bu, sekarang sudah jam untuk memberikan ASI kepada bayi ibu. Lihatlah, buah hati Ibu memerlukan curahan kasih ibunya yaitu ingin menyusui. Pasien : Ah, Bu perawat bisa saja. Terima kasih Bu Perawat. Tapi . sayang

Perawat : Ada apa lagi bu, adakah yang saya perlu bantu ?

58

Pasien

: Saya belum tahu bu perawat, cara-cara meneteki supaya

yang dapat

benar, cara-cara merawat buah dada saya mengahasilkan ASI yang banyak. Perawat : Bagus sekali bu, memang itulah yang akan kita

bicarakan sambil ibu meneteki bayi ibu. (Bidan dan pasien berinteraksi sambil melihat caracara meneteki, dan langsung memberikan Konseling . Pengertian konseling (KIP/K) Konseling adalah proses komunikasi antara seseorang (konselor) dengan orang lain. (Depkes RI, 2000:32). Konseling adalah proses pemberian informasi obyektif dan lengkap, dilakukan secara sistematik dengan paduan ketrampilan komunikasi interpersonal, teknik bimbingan dan penguasaan pengetahuan klinik bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini, masalah yang sedang dihadapi dan menentukan jalan keluar/ upaya untuk mengatasi masalah tersebut. (Saifudin, Abdul Bari dkk, 2001:39 ) Konseling adalah proses pemberi bantuan seseorang kepada orang lain dalam membuat suatu keputusan atau memecahkan suatu masalah melalui pemahaman terhadap fakta, harapan, kebutuhan, dan perasaan klien. ( Saraswati, Lukman, 2002:15) 2. TUJUAN KONSELING ( KIP/K) Membantu klien melihat permasalahannya supaya lebih jelas sehingga klien dapat memilih sendiri jalan keluarnya. 3. KETRAMPILAN KETRAMPILAN YANG HARUS DIMILIKI OLEH KONSELOR a) Ketrampilan Observasi Hal hal yang ada dalam ketrampilan observasi yaitu : Apa yang diobservasi/diamati ? Tingkah laku non verbal klien Cara menatap, bahasa tubuh, kualitas suara, merupakan indicator penting yang mengungkapkan apa yang sedang terjadi pada klien. Tingkah laku verbal klien pendidikan)

59

Kapan klien beralih topic, apa saja kata-kata kunci, penjelasan-penjelasan yang disampaikan dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Kesenjangan tingkah laku verbal dan non verbal www.akbidypsdmi.net Seorang bidan yang tajam pengamatannya akn memperhatikan bahwa ada beberapa konflik/ketidaksesuaian antara tingkah laku verbal dan non verbal, antara dua buah pernyataan, antara apa yang diucapkan dan apa yang dikerjakan. Dalam mengobservasi sesuatu ada 2 hal penting yang perlu diperhatikan : Pengamatan Obyektif Adalah berbagai tingkah laku yang kita lihat dan dengar. Misalkan : jalan mondar-mandir, tangan dikepal, dsbnya. Interpretasi/penafsiran Adalah kesan yang kita berikan terhadap apa yang kita lihat (amati) dan kita dengar. b) Ketrampilan Mendengar Aktif Terdapat empat bentuk mendengarkan yang bisa digunakan sesuai dengan situasi yang dihadapi, yaitu : Mendengar Pasif (Diam) Dilakukan antara lain bila klien sedang menceritakan masalahnya : berbicara tanpa henti, menggebu-gebu dengan ekspresi perasaan kesal atau sedih. Selain itu bila berhenti sejenak, konselor dapat mendengar pasif untuk memberi kesempatan menenangkan diri. Memberi tanda perhatian verbal dan non verbal Seperti : Hmm, yaa, lalu, oh begitu, terus.. atau sesekali mengangguk. Dilakukan antara lain sewaktu klien berbicara panjang tentang peristiwa yang terjadi pada dirinya. Mengajukan pertanyaan untuk mendalami dan klarifikasi Dilakukan bila konselor ingin mendalami apa yang diucapkan/diceritakan klien. Misalnya : Bagaimana hubungan ibu dengan saudara-saudara suami ? Apakah maksud ibu dengan perbuatan tidak layak itu? Mendengar Aktif Yaitu dengan memberikan umpan balik/merefleksikan isi ucapan dan perasaan klien. - Refleksi Isi atau Parahasing www.akbidypsdmi.net Adalah menyatakan kembali ucapan klien dengan menggunakan kata-kata lain, memberi masukan kepada klien tentang inti ucapan yang baru

60

dikatakan klien dengan cara meringkas dan memperjelas ucapan klien. - Refleksi Perasaan Adalah mengungkapkan perasaan klien yang teramati oleh konselor dari intonasi suara, raut wajah dan bahasa tubuh klien maupun dari hal-hal yang tersirat dari kata-kata verbal klien. c). Ketrampilan Bertanya Semua jenis pertanyaan dapat dikelompokkan menjadi pertanyaan tertutup dan terbuka. Pertanyaan Tertutup - Menghasilkan jawaban ya atau tidak yang berguna untuk mengumpulkan informasi yang factual. - Tidak menciptakan suasana yang nyaman dalam berkomunikasi dan prose pengambilan keputusan - Bidan mengontrol jalannya percakapan, klien hanya memberikan informasi yang bersangkutan dengan pertanyaan saja. Pertanyaan Terbuka Jenis pertanyaan biasanya memakai kata tanya bagaimana atau apa - Memberi kebebasan atau kesempatan kepada klien dalam menjawab yang memungkinkan partisipasi aktif dalam percakapan. - Merupakan cara yang efektif untuk menggali informasi dengan menggunakan intonasi suara yang menunjukkan minat dan perhatian. Activity : 1. Sebutkan pengertian dari konseling ! 2. Jelaskan tujuan konseling ! 3. Sebutkan ketrampilan yang harus dimiliki konselor ! Summary : 1. Konseling adalah proses pemberi bantuan seseorang kepada orang lain dalam membuat suatu keputusan atau memecahkan suatu masalah melalui pemahaman terhadap fakta, harapan, kebutuhan, dan perasaan klien. 2. Tujuan konseling membantu klien agar mampu memecahkan masalah. www.akbidypsdmi.net 3. Tiga ketrampilan yang harus dimiliki konselor adalah Ketrampilan observasi, ketrampilan mendengar aktif dan ketrampilan bertanya. 4. PEMAHAMAN DIRI Komunikasi yang dilakukan tanpa mengena sasaran, maka yang disalahkan adalah komunikatornya. Komunikator adalah pengambil inisiatif terjadinya suatu proses

61

komunikasi . Dia harus mengenal dirinya, sebab dengan mengenal diri kita dapat mengetahui kelebihan dan kelemahan yang ada pada diri kita. Untuk memahami diri sendiri Joseph Luft dan Harrington Ingham memperperkenalkan konsep yang dikenal dengan nama Johari Window * JOHARI WINDOW ( JENDELA JOHARI ) * Diri Terbuka ( diketahui diri sendiri dan orang lain ) Diri Buta (tidak diketahui diri sendiri, tapi diketahui orang lain ) Diri Tersembunyi /Rahasia (diketahui diri sendiri, tapi tidak diketahui orang lain ) Diri Gelap (tidak diketahui diri sendiri maupun orang lain ) Diri Terbuka Pada wilayah ini kepribadian, kelebihan dan kekurangan yang terdapat pada diri kita selain diketahui oleh diri sendiri juga diketahui oleh orang lain. Oleh karena itu jika wilayah terbuka ini makin melebar dalam arti kita dapat memahami orang lain dan juga orang lain dapat memahami diri kita maka akan terjadi komunikasi yang mengena. Misal : terbuka terhadap dunia sekelilingnya, potensi diri disadari, perasaan dan pikirannya terbuka untuk pengalaman- pengalaman hidup yang menyedihkan, menyenangkan, pekerjaan, dan sebagainya. Diri Buta Pada wilayah buta, orang tidak mengetahui kekurangan yang dimilikinya tetapi sebaliknya kekurangan itu justru diketahui oleh orang lain bahkan ia berusaha menyangkal kalau hal itu ada pada dirinya.Oleh karena itu, kalau www.akbidypsdmi.net wilayah buta makin melebar dan mendesak wilayah lain maka akan terjadi kesulitan komunikasi. Misal : perasaannya kurang terbuka, kurang luas cara pandang dan variasi hidupnya dan sebagainya. Diri Tersembunyi Pada wilayah tersembunyi, kemampuan yang kita miliki tersembunyi tersembunyi sehingga tidak diketahui oleh orang lain. Ada dua konsep yang

62

erat hubungannya dengan wilayah ini : - Over disclose, yaitu sikap yang terlalu banyak mengungkapkan sesuatu sehingga hal-hal yang seharusnya disembunyikan juga diutarakan. Misalnya : Konflik dalam rumah tangga, hutang-hutangnya dan sebagainya. Under disclose, yaitu sikap yang terlalu menyembunyikan sesuatu yang seharusnya dikemukakan. Misalnya : Dalam pengobatan kejiwaan sikap under disclose dapat menyulitkan psikiater karena pasien sulit menyampaikan informasi yang diperlukan untuk pengobatannya. Diri Gelap Wilayah ini merupakan wilayah yang paling kritis dalam komunikasi. Karena selain diri kita yang tidak mengenal diri, juga orang lain tidak mengetahui siapa kita. Dalam kehidupan sehari-hari sering terjadai kesalahan persepsi maupun kesalahan perlakuan kepada orang lain karena tidak saling mengenal baik kelebihan, kekurangan dan juga statusnya, siapa dia? Bila : A 1 2 3 B.

4 Maka : A : adalah individu yang kurang memahami diri sendiri, tingkah lakunya terbatas, perasaannya kurang terbuka, kurang luas cara pandang dan variasi hidupnya. B : adalah individu yang terbuka terhadap dunia sekelilingnya, potensi diri disadari, perasaan dan pikirannya terbuka untuk pengalaman- pengalaman hidup yang 1 www.akbidypsdmi.net menyedihkan, menyenangkan, pekerjaan, dan sebagainya. Ia lebih spontan dan bersikap jujur dan apa adanya pada orang lain. 5. PENGETAHUAN, KETRAMPILAN DAN SIKAP YANG HARUS DIMILIKI OLEH KONSELOR Perilaku bidan dalam melaksanakan tugas sebagai komunikator maupun konselor dipengaruhi oleh 3 hal, yaitu : Aspek Kognitif, Psikomotorik, dan Afektif. Pengetahuan (Kognitif)

63

Meliputi pengetahuan tentang : - Kesehatan - Ilmu kebidanan dan kandungan - Masalah yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan dan pasca persalinan dan upaya pencegahan serta penatalaksanaanya. - Keyakinan akan adat isitiadat, norma tertentu - Alat / metode kontrasepsi - Hubungan antar manusia - Komunikasi interpersonal dan konseling - Psikologi - Dan sebagainya Ketrampilan (Psikomotorik) Harus terampil dalam : - Membantu proses persalinan dan berbagai masalah kesehatan - Menggunakan alat-alat pemeriksaan tubuh klien - Melakukan komunikasi interpersonal dan konseling - Menggunakan alat bantu visual untuk membantu pemberian informasi kepada klien - Mengatasi situasi genting yang dihadapi klien - Membuat keputusan - Dan sebagainya Sikap (Afektif) - Mempunyai motivasi tinggi untuk menolong orang lain - Bersikap ramah, sopan , dan santun - Menerima klien apa adanya - Berempati terhadap klien www.akbidypsdmi.net - Membantu dengan tulus - Terbuka terhadap pendapat orang lain 6. FAKTOR FAKTOR PENGHAMBAT KIP/K A. Faktor Individual Orientasi cultural (keterikatan budaya) merupakan factor individual yang dibawa seseorang dalam melakukan interaksi. Orientasi ini merupakan gabungan dari : a. Faktor fisik kepekaan panca indera (kemampuan untuk melihat, mendengar), usia, gender (jenis kelamin) b. Sudut pandang nilai nilai c. Faktor social- sejarah keluarga dan relasi, jaringan social, peran dalam masyarakat, status social, peran social. d. Bahasa

64

B. Faktor-faktor yang berkaitan dengan interaksi a. Tujuan dan harapan terhadap komunikasi b. Sikap terhadap interaksi c. Pembawaan diri seseorang terhadap orang lain (seperti kehangatan, perhatian, dukungan) d. Sejarah hubungan C. Faktor Situasional Percakapan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, situasi percakapan kesehatan antara bidan dan klien akan berbeda dengan situasi percakapan antara polisi dengan pelanggar lalu lintas. D. Kompetensi dalam melakukan percakapan Agar efektif, suatu interaksi harus menunjukkan perilaku kompeten dari kedua pihak. Keadaan yang dapat menyebabkan putusnya komunikasi adalah : - kegagalan menyampaikan informasi penting - perpindahan topic bicara yang tidak lancar - salah Pengertian 1. Pemahaman diri menurut Johari Window ada empat yaitu diri terbuka, diri buta, diri tersembunyi/rahasia dan diri gelap. 2. Proses konseling terdiri dari 4 unsur kegiatan : a. Pembinaan hubungan baik (Rapport) b. Penggalian informasi (identifikasi masalah klien, kebutuhan, perasaan, kekuatan diri dsb) dan pemberian informasi sesuai kebutuhan c. Pengambilan keputusan, pemecahan masalah,perencanaan d. Menindak lanjut pertemuan

Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Frank Parsons di tahun 1908 saat ia melakukan konseling karier. Selanjutnya juga diadopsi oleh Carl Rogers yang kemudian mengembangkan pendekatan terapi yang berpusat pada klien (client centered Perbandingan dengan Psikoterapi Dibanding dengan psikoterapi, konseling lebih berurusan dengan

klien(konseli) yang mengalami masalah yang tidak terlalu berat sebagaimana halnya yang mengalami psikopatologi, skizofrenia, maupun kelainan kepribadian.

65

Umumnya konseling berasal dari pendekatan humanistik dan client centered. Konselor juga berhubungan dengan permasalahan sosial, budaya, dan perkembangan selain permasalahan yang berkaitan dengan fisik, emosi, dan kelainan mental. Dalam hal ini, konseling melihat kliennya sebagai seseorang yang tidak mempunyai kelainan secara patologis. Konseling merupakan pertemuan antara konselor dengan kliennya yang memungkinkan terjadinya dialog dan bukannya pemberian terapi atau treatment. Konseling juga mendorong terjadinya penyelesaian masalah oleh diri klien sendiri. Bidang Layanan

Konseling bisa dilakukan dalam berbagai bidang kehidupan, seperti di masyarakat, di dunia industri, membantu korban bencana alam, maupun di lingkungan pendidikan. Khusus di dunia pendidikan, layanan ini biasa disebut bimbingan konseling dan dilakukan oleh seorang konselor pendidikan

Kaunseling merupakan suatu konsep yang telah di ketahui umum khususnya di kalangan masyarakat maju. Semakin majunya kehidupan ahli dalam sesebuah masyarakat, semakin meningkat pula masalah-masalah yang harus di tempuhi oleh ahli-ahlinya.

Kebanyakan individu apabila diminta untuk mentakrifkan tentang kaunseling akan menyatakan bahawa kaunseling adalah satu proses pertemuan di antara seorang kaunselor dengan individu yang ingin diberikan bantuan. Dengan lain perkataan, kaunselor ialah individu yang khusus bertugas secara terarah atau sukarela untuk memberikan pertolongan kepada orang lain untuk menyelesaikan sesuatu masalah yang dihadapi oleh klien (orang yang datang berjumpa denga kaunselor). Definasi yang di berikan ini terlalu umum.

Untuk pemahaman dengan lebih jelas lagi tentang definisi kunseling, dipetik tiga definisi yang telah dibuat oleh tiga tokoh iaitu Blocher (1974); Corey (1977) dan James (1982). Blocher (1974) mendefinasikan kaunseling sebagai suatu proses untuk menolong individu supaya ia menjadi lebih sedar tentang dirinya dan bagaimana ia dapat bertindak balas dalam alam persekitarannya. Corey (1977) sepertimana dengan Blocher menekankan tentang proses di mana seorang klien diberi peluang untuk menerokai aspek diri dan kehidupannya yang menimbulkan masalah pada dirinya. Akhir sekali James (1982) pula mendefinasikan kaunseling

66

sebagai suatu proses pembelajaran yang lebih menekankan kepada proses membantu individu untuk mencapai kehendaknya, membimbing dan menilai potensi yang ada pada diri individu Ketiga-tiga definisi yang di pilih ini memberikan penekanan kepada proses untuk menolong, menyedarkan individu tentang dirinya dan suatu proses pembelajaran individu untuk mencapai tingkat kesejahteraan dalam kehidupan yang dilalui. Konsep atau definasi kaunseling mengikut perspektif Islam didapati lebih luas dan lebih komprehensif. Aziz Salleh (1996) misalnya menyatakan bahawa kaunseling merupakan suatu khidmat perhubungan di antara seorang klien yang mempunyai masalah psikologikal dengan seorang kaunselor terlatih untuk membantu klien bagi mengatasi masalah yang dihadapi. Kaunseling Islam mempunyai liputan skop masalah yang lebih besar iaitu yang berkaitan dengan keimanan seseorang seperti aspek ketuhanan, alam akhirat, dosa, pahala, neraka, hari kiamat dan sebagainya Mengikuti ajaran Islam, kaedah kaunseling ini adalah suatu amalan asas yang perlu dipergunakan dalam perhubungan sesama manusia. Amalan nasihat-manasihati dan menjauhi tindakan yang bertentangan dengan ajaran Islam merupakan asas dalam didikan Islam. Walau apapun definasinya, pertemuan antara kaunselor dan klien dalam beberapa sesi kaunseling talah dapat mencapai alternatif terbaik untuk individu mengatasi masalah yang dihadapi agar dirinya dapat berfungsi dengan lebih berkesan di alam persekitarannya Kaedah-kaedah Kaunseling Sejak kemunculan bidang ilmu kaunseling, terdapat kira-kira 200 pendekatan yang boleh digunakan untuk memberi kaunseling pada individu yang memerlukannya. Kaunselor yang luas pengalamannya akan memilih teoriteori yang dapat disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi oleh klien agar bidang masalah yang dihadapi oleh klien dapat diatasi dengan berkesan. Daripada banyaknya bidang pendekatan itu, dapat dikumpulkan ke dalam empat kategori pendekatan iaitu: 1. Pendekatan psikoanalitik 2. Pendekatan kognitif 3. Pendekatan afektif

67

4. Pendekatan tingkah laku Pendekatan Psikoanalitik Diperkenalkan oleh Sigmund Freud yang berlatar belakangkan kehidupan Yahudi. Beliau telah memperkenalkan konsep assosiasi-bebas (free-assosiation) selepas berjaya dalam amalan hipnotisa (hypnosis). Freud menggunakan kaedah assosiasi untuk menerokai minda tidak sedar manusia. Dalam pendekatan psikoanalitiknya, Freud memberikan penegasan dan percaya bahawa personaliti individu dapat diketahui melalui kajian minda tidak sedar yang dipunyai. Pada pandangan Freud, manusia secara fitrahnya bersifat dinamik iaitu terdapat perpindahan atau transformasi dan pertukaran tenaga dalam pembentukan personaliti manusia. Pendapat-pendapat yang diutarakan oleh Freud terbukti secara saintifik kini. Kaunselor profesional yang mengamalkan pendekatan psikoanalitik akan menggalakkan klien mereka memerihalkan dan bercakap apa sahaja yang datang dalam ingatan, terutama sekali peristiwa-peristiwa yang dilalui semasa berada di tahap kanak-kanak. Melalui pendekatan ini kaunselor cuma membentuk persekitaran atau atmosfera di mana klien akan merasai bebas untuk melahirkan isi hatinya. Pendekatan inu mempunyai pelbagai komplikasi dan kompleksiti. Arlow (1984) menyatakan bahawa pendekatan psikoanalitik berjaya digunakan untuk mengatasi mereka yang mempunyai pelbagai kecelaruan termasuklah gangguan histeria, narcissism, reaksi obsessif-kompulsif, kecelaruan peribadi, ketakutan, phobia dan kecelaruan seksual. Pendekatan Kognitif Ahli kaunseling menggunakan pendekatan kognitif dengan memberikan tumpuan kepada pemikiran manusia (thinking). Ahli teori kognitif percaya bahawa pemikiran mempengaruhi perasaan dan tingkahlaku manusia. Jika individu mengubah cara berfikir, perasaan dan tingkah lakunya juga akan mengalami perubahan melalui modifikasi tingkah laku. Salah satu pendekatan kognitif yang popular telah dikembangkan oleh Albert Ellis (1962) yang dikenali sebagai terapi emotif-rasional atau RET (Rational-Emotive Therapy). Albert membesar dalam keluarga Yahudi di Pittsburg, Amerika Syarikat. Di usia remajanya, beliau menjadi atheist disebabkan perceraian kedua ibu bapanya.

68

Terapi emotif-rasional mengandaikan bahawa manusia secara lahiriah adalah rasional dan tidak rasional, logikal dan gila (crazy). Ellis juga percaya bahawa sifat duaan (duality) secara semulajadi ini diwarisi dan akan terus dipunyai andainya tiada apa-apa pembelajaran berlaku yang akan mengubah cara pemikiran baru pada individu. Ellis telah menggariskan sebelas kepercayaan tidak rasional yang seringkali dipunyai oleh manusia yang menyusahkan dan boleh menimbulkan pelbagai gangguan emosi. Kaunselor dalam pendekatan RET ini mengambil peranan yang aktif dan terus

(direct). Kaunselor berfungsi untuk menunjuk arah, mengajar dan membetulkan kognisi klien. Ellis telah mengenal pasti beberapa ciri peribadi yang perlu dipunyai oleh kaunselor yang akan menggunakan RET. Mereka haruslah cerdik, berpengetahuan luas, empathetik, tekal, berfikiran saintifik, berminat untuk menolong orang dan merupakan pengguna teknik RET. Terapi emotif-rasional didapati mudah dilaksanakan dan berkesan. Kaedah ini berkesan untuk digunakan ke atas klien remaja. RET berkesan untuk mengatasi masalah kecelaruan affektif, kecelaruan ketakutan dan penyesuaian. Di samping RET, analisis transaksional (transactional analysis) merupakan juga suatu kaedah dalam pendekatan kognitif. Pendekatan Afektif Antara kaedah kaunseling dalam pendekatan affektif yang popular ialah kaunseling pemusatan-insan (person-centered counseling) diikuti dengan kaunseling existential dan terapi gestalt. Antara kaedah kaunseling dalam pendekatan affektif yang popular ialah kaunseling pemusatan-insan (person-centered counseling) diikuti dengan kaunseling existential dan terapi gestalt. Pendekatan kaunseling pemusatan-insan diperkenalkan oleh Carl Rogers yang dibesarkan di Illinois, Amerika Syarikat dalam keluarga Kristian. Ahli dalam pendekatan ini mempercayai bahawa manusia adalah untuk yang baik. Manusia mempunyai ciri-ciri peribadi positif, konstruktif, sentiasa bertindak maju ke hadapan, realistik dan boleh dipercayai. Setiap insan sedar dan mempunyai daya gerakan untuk mencapai penghakikian kendiri (self-actualization). Pada pendapat Rogers, penghakikian kendiri merupakan arah motivasi yang mengarahkan tingkahlaku manusia yang mempengaruhi dirinya sebagai manusia keseluruhannya. Setiap insan mempunyai kecenderungan asa

69

Pendekatan Tingkah Laku Ahli teori dengan menggunakan pendekatan tingkah laku memberikan tumpuan kepada pelbagai bentuk tingkah laku klien. Ahli-ahli dalam pendekatan ini percaya manusia mempunyai masalah disebabkan ketidakupayaan untuk mengubah tingkah laku sesuai dengan kehendak persekitaran. Kaunselor yang menggunakan kaedah tingkah laku berusaha untuk menolong kliennya sama ada menpelajari sesuatu yang baru, bertingkah laku secara diterima atau cuba untuk memodifikasi atau menghapuskan tingkah laku yang keterlaluan. Pendekatan tingkah laku selalu digunakan ke atas individu yang mempunyai masalah yang spesifik seperti kecelaruan makan, penyalahgunaan dadah, ketidakfungsian seksual dan beberapa kecelaruan lain termasuklah masalah ketakutan, tekanan, assertif, keibubapaan dan interaksi sosial. untuk berusaha mencapai penghakikian diri sebenar. Ahli teori pemusatan-insan percaya setiap insan berupaya untuk mencari makna peribadi diri dan tujuan kehidupan di muka bumi ini. Peranan kaunselor dalam pendekatan ini dikatakan bersifat holistik atau keseluruhan. Kaunselor akan menentukan dan membentuk suasana di mana klien merasai bebas untuk menerokai keseluruh aspek dirinya. Kaunseling dalam pendekatan ini memberikan tumpuan kepada hubungan kaunselor dan klien. Kaunselor sentiasa berhati-hati dan sedar dengan bahasa, perkataan dan gerakbalas klien. Pendekatan pemusatan-insan ini berjaya untuk mengatasi pelbagai masalah upaya umpamanya masalah kepimpinan. Penyesuaian psikologikal, masalah pembelajaran, frustrasi dan berjaya menolong mengurangi sifat-sifat B.F Skinner merupakan tokoh terkemuka yang menggunakan pendekatan tingkah laku. Beliau dilahirkan di Pensylvania, Amerika Serikat. Kebanyakan teori yang dibentuk oleh Skinner berpunca daripada kajian ke atas binatang. Skinner percaya pembelajaran merupakan penentuan paling asas berhubung dengan tingkah laku manusia. Ahli kaunseling dengan pendekatan tingkah laku percaya bahawa semua tingkah laku yang diperhatikan oleh individu sama ada yang sesuai atau tidak adalah dipelajari. Peranan kaunselor dalam pendekatan tingkah laku adalah aktif sepanjang sesi kaunseling. Klien akan belajar, kadang kala tidak belajar atau belajar semula tatacara yang khusus untuk tingkah laku.

70

KESIMPULAN 1. Konseling adalah proses pemberi bantuan seseorang kepada orang lain dalam membuat suatu keputusan atau memecahkan suatu masalah melalui pemahaman terhadap fakta, harapan, kebutuhan, dan perasaan klien. 2. Tujuan konseling membantu klien agar mampu memecahkan masalah. 3. Tiga ketrampilan yang harus dimiliki konselor adalah Ketrampilan observasi, ketrampilan mendengar aktif dan ketrampilan bertanya. 4. Pemahaman diri menurut Johari Window ada empat yaitu diri terbuka, diri buta, diri tersembunyi/rahasia dan diri gelap. 5. Proses konseling terdiri dari 4 unsur kegiatan : a. Pembinaan hubungan baik (Rapport) b. Penggalian informasi (identifikasi masalah klien, kebutuhan, perasaan, kekuatan diri dsb) dan pemberian informasi sesuai kebutuhan c. Pengambilan keputusan, pemecahan masalah,perencanaan d. Menindak lanjut pertemuan 6. Tiga aspek yang harus dimiliki oleh konselor : pengetahuan (kognitif), ketrampilan (psikomotorik) dan sikap (afektif). 7. Faktor-faktor penghambat konseling : Faktor individu Faktor-faktor yang berkaitan dengan interaksi Faktor situasional Auto Konseling Ruang Lingkup Dan Defenisi Konseling: menurut Carl Rogers, adalah hubungan terapi antara konselor dengan klien yang bertujuan untuk melakukan perubahan diri pada pihak klien. Menurut pengertian di atas syarat terjadinya konseling adalah: adanya Klien dan konselor. Keduanya melakukan proses dialog, omong-omong (O2) yang menjadikannya sebagai suatu hubungan terapi untuk memecahkan masalah atau merubah prilaku klien. Konseling juga merupakan suatu seni, yakni bagaimana konselor membuat seolaholah klien dapat mengidentifikasi permasalalahan dirinya dan memecahkan atau mencari jalan keluarnya. Seolah-olah dari klien dan untuk klien. Sedangkan Auto berarti: otomatis/dengan sendirinya. Misal: auto biograpfi mengandung pengertian biography yang dibuat sendiri oleh dirinya. Mobil

71

otomatis: mobil yang melaju sendiri dengan percepatan tanpa bantuan perseneling. Jadi dengan pertimbangan dan pemikiran di atas, auto konseling merupakan suatu proses atau seni mengidentifikasi diri dan permasalahan (stressor) untuk mencari jalan keluarnya secara mendiri (automatically). Dikatakan otomatis atau mandiri karena peran konselor dan klien seolah-olah melebur menjadi satu kesatuan individu. Kenapa Butuh Auto Konseling

Sebagai manusia kita hidup tidak bisa lepas dari masalah atau stressor. Mulai dari stressor dari dalam diri sendiri, keluarga, dan lingkungan. Apalagi kita sebagai pekerja social-kemanusiaan atau konselor di Kanaivasu. Stressor yang datang akan menyebabkan kita menjadi stress, yakni suatu reaksi normal terhadap stressor yang kita terima. Namun bila kondisi ini menimbulkan reaksi negative (tidak teratasi) dan terjadi dalam jangka waktu panjang akan menyebabkan beberapa masalah (Gangguan stress atau distress). Diantaranya adalah:
1. Burn out, yakni suatu kondisi dimana kita/pekerja social mengalami kelelahan

fisik, emosional dan mental yang disebabkan oleh adanya keterlibatan dalam waktu yang lama dengan situasi yang menuntut secara emosional. Ciri-cirinya adalah: kelelahan yang sangat, sedih, depresi, sinis, cepat marah, tersinggung, lelah untuk peduli. 2. Psikosomatis, misalnya sakit perut atau pusing karena banyak pikiran, ganguan lambung, dan pencernaan, terganggunya periode menstruasi. 3. Trauma sekunder, yakni trauma yang dialami seseorang yang tidak menghadapi

secara langsung peristiwa traumatic, namun menunjukkan gejala-gejala seperti mengalami secara langsung karena mendengar keluhan hati seorang klien. 4. Kelelahan kepedulian. Kelelahan emosional yang disebabkan oleh empati dan

keterpaparan terus-menerus dengan kondisi masyarakat yang buruk yang merupakan bagian dari pekerjaan, seperti menjadi pendamping korban tsunami atau korban konflik.

Konseling dan Buku

72

Seperti dalam penjelasan mengenai auto konseling di atas, maka kita dan buku-pun bisa melakukan seni konseling. Status yang terjadi dalam autokonseling ini adalah kita seolah-olah sebagai klien dan buku seolah-olah sebagai konselor. Itulah mengapa konseling-buku disebut autokonseling. Konseling ini menjadi seni adalah bagaimana diri kita yang bermasalah bisa mengidetifikasikannya, mencurahkannya dan mencari jalan keluarnya.

Buku yang dimaksud adalah buku tulis/catatan atau harian. Kita bercerita

tentang semua masalah yang dialami (stressor) melalaui tulisan. Dan buku yang kita coret-coret itu seolah-olah mendengarkan dengan aktif dan berempati dengan menyediakan ruang atau kertas kosong kepada klien. Sehingga antara klien (kita) dan konselor (buku) terjadi suatu dialog. Ada tiga tahapan dialog diantaranya yang terjadi. Pertama adalah curahan emosi dan hati klien. Saat itu kita (klien) mengeluarkan segala uneg-unegnya dengan mengoreskan penanya ke lembaran kosong kertas buku itu. Kita bisa menagis, marah atau bersedih melalui cermin tulisan yang kita buat. Si buku (konselor) akan tetap setia mendampingi kita, mendengarkan segala keluhan kita. Dan bahkan memberikan ruang kosong untuk mita bisa menulis lagi dan lagi. Dia seolah-olah memberikan rasa empatinya kepada kita. Setelah melepaskan dan menggoreskan segala uneg-uneg (stressor) ke dalam ruang kertas yang kosong, maka dibuatnyalah kita menjadi lega dan plong rasanya hati kita. Proses supportive telah terjadi dalam konseling-buku ini. Kedua proses identifikasi klien terhadap permasalahan yang terjadi. Setelah kita menulis segala uneg-uneg kita. Lambat laun kita akan mengerti apa yang telah terjadi pada diri kita. Akan timbul pertanyaan-pertanya, seperti mengapa saya begini? mengapa saya begitu? yang pada akhirnya akan keluar segala keluhan dan gejala-gejala yang membuat kita dalam kondisi stress. Setelah kita mengetahui apa yang telah terjadi dan apa penyebab kita stress, maka langkah selanjutnya adalah bagaimana memecahkan jalan keluarnya. Buku sebagai konselor bisa memerankan tugasnya untuk memfasilitasi kita mencari jalan keluarnya. Melalui proses fasilitasi pemecahan masalah ini kita bisa menjabarkan jalan keluarnya dan menulisnya di selembar kertas buku itu. Lagi-lagi kita diberi ruang olehnya untuk menulis. Di saat itu seolah-olah kita berdiskusi dengan buku/konselor guna mencari jalan keluarnya. Berat memang. Tahapan konseling ini seolah-olah memposisikan kita sebagai klien dan buku sebagai seorang konselor. Padahal keduanya melebur menjadi satu keasatuan individu, yakni diri kita. Kita bisa

73

terasa lega, kita bisa mengidentifikasi diri, dan kita bisa mencari jalan keluarnnya. Itulah mengapa proses itu disebut sebagai auto konseling.
Konseling dan Sholat Disetiap brosur beberapa lembaga yang memiliki program intervensi psikososial biasanya dijelaskan bahwa untuk mengatasi stressor bisa dilakukan dengan pendekatan spiritual, misalnya sholat atau sembahyang. Yang menjadi pertanyaan yang menarik untuk dikaji adalah, bagaimanakah esensi hubungan sholat dan konseling. Dalam konseling harus terjadi proses dialog antara konselor dan klien. Nah bagaimanakah dalam sholat.Ya, esensinya adalah harus terjadi dialog antara klien (kita sebagai orang yang memiliki masalah) dan konselor (dalam hal ini adalah Allah). Ya dalam sholat-konseling Allah berperan sebagai konselor. Dia mendengar dengan aktif, tidak menggurui atau menasehati dalam proses sholat-konseling. Dia bisa memberikan empati kepada kita dalam proses itu. Seolah-olah Dia ada di dekat kita, berhadapan dengan kita dan memberikan sugesti positive dalam memecahkan permasalahan yang kita hadapi.

Sama seperti dalam konseling dengan buku atau konseling lainnya, tahapan yang dialaui dalam konseling-sholat yakni proses pencurahan emosi, identifikasi dan fasilitasi pemecahan masalah. Dalam proses pencurah emosi kita bisa lakukan pada sujud terakhir sebelum duduk tahiyad akhir atau setelah salam dan masuk proses berdoa. Di sana kita bisa menangis, mengadu kepada Allah (konselor) perihal permasalahan yang kita hadapi. Maka keluarlah segala uneg-uneg yang kita pendam dan menjadi stressor kita selama ini. Di sana Allah memainkan perannya sebagai konselor. Dia seolah-olah mendengarkan dengan seksama penderitaan kita. Dia berempati dengan memberikan pelukan yang hangat dan bersahabat. Dia seolah-olah ada di dekat kita atau dihadapan kita, dibalik suatu meja konseling yang memberi batas pemisah antara konselor dan klien. Setelah proses curahan emosi itu selesai. Air suci telah keluar dari mata kita yang lentik, maka kita akan merasakan sensasi kelegaan dan kenyamanan. Dalam sholat kita juga diberikan kesempatan untuk merenung. Dalam merenung kita dapat mengidentifikasi permasalahan yang kita hadapi. Saat itu Kita bisa melakukan perenungan dan identifikasi masalah ini setelah sholat dan memasuki proses berdoa. Mengapa kita juga diajarkan sholat Istikhoroh di saat kita mengalami kebingungan dan kebuntuan untuk menentukan pilihan. Media inilah merupakan media dialog antara kita dengan Allah. Media kita berkonseling

74

dengan Allah. Kita mengadu, kita mengeluh, kita merenung hingga akhirnya tahu permasalahan yang kita hadapai dan berdoa meminta petunjuknya. Dan Allah seolah-olah memberikan petunjuknya. Padahal Dia hanya memberikan sugesti positif kepada kita sehingga kita mantap dan yakin dalam menentukan pilihan. Pilihan yang sebenarnya telah kita jabarkan dan kita pikirkan akibat baik dan buruk yang ditimbulkannya. Proses seolah-olah kita berdialog dengan Allah inilah mengapa disebut auto konseling.

PANDUAN KONSELOR SEBAYA

DEFINISI KONSELING Apakah konseling kesehatan reproduksi (KR) itu ?

Konseling KR adalah suatu proses tatap muka di mana seorang konselor membantu kliennya untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan kesehatan reproduksinya. Di dalam proses konseling, harus terjadi: Hubungan saling percaya; Komunikasi yang terbuka; Pemberdayaan klien agar mampu mengambil keputusannya sendiri. PERSYARATAN KONSELOR Apa saja persyaratan menjadi konselor KR ? Berpengalaman sebagai pendidik sebaya. Mempunyai minat yang sungguh-sungguh untuk membantu klien.

75

Terbuka untuk pendapat orang lain. Menghargai dan menghormati klien. Peka terhadap perasaan orang dan mampu berempati. Dapat dipercaya dan mampu memegang rahasia. Pendidikan minimal Setingkat SLTA. Pengetahuan dan keterampilan apa yang harus dimiliki seorang konselor KR ?

a. Seorang konselor KR harus memiliki pengetahuan mengenai:

Organ-organ reproduksi dan fungsinya masing-masing.

Proses terjadinya kehamilan

Bahaya aborsi yang tidak aman. Jenis-jenis kontrasepsi beserta cara pakai/kerja dan efek sampingnya. Jenis-jenis penyakit menular seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS, dan infeksi saluran reproduksi (ISR). Hak-hak klien. Program dan kebijakan pemerintah berkaitan dengan kesehatan reproduksi misalnya aborsi. Di samping itu, seorang konselor KR perlu menggali informasi mengenai latar belakang kehidupan klien dan alasan klien memerlukan konseling. Konselor juga harus mampu memahami perasaan dan kebutuhan klien.

76

b. Seorang konselor harus memiliki keterampilan dalam: Membina suasana yang aman, nyaman dan menimbulkan rasa percaya klien terhadap konselor Melakukan komunikasi interpersonal, yaitu hubungan timbal balik yang bercirikan: Komunikasi dua arah; Perhatian pada aspek verbal dan non-verbal; Penggunaan pertanyaan untuk menggali informasi, perasaan dan pikiran; Sikap mendengar yang efektif. Keterangan Komunikasi duaarah Berbeda dengan komunikasi satu arah di mana hanya satu pihak yang berbicara, dalam tempo singkat namun hasilnya kurang memuaskan; komunikasi dua arah memungkinkan kedua belah pihak sama-sama berkesempatan untuk mengajukan pertanyaan, pendapat dan perasaan. Waktu yang digunakan memang lebih lama, namun hasil yang dicapai memuaskan kedua belah pihak. Komunikasi Verbal dan Non-Verbal Komunikasi verbal adalah bentuk komunikasi dengan menggunakan kata-kata. Konselor KR hendaknya: Menggunakan kata-kata yang sederhana dan mudah dipahami kelompok.

Menghindari istilah yang sulit dimengerti. Menghindari kata-kata yang bisa menyinggung perasaan orang lain. Komunikasi non-verbal adalah komunikasi yang tampil dalam bentuk nada suara, ekspresi wajah-wajah dan gerakan anggota tubuh tertentu. Dalam menyampaikan informasi, Konselor KR perlu mempertahankan kontak mata dengan lawan bicara, menggunakan nada suara yang ramah dan bersahabat. Cara Bertanya Ada dua macam cara bertanya, yaitu pertanyaan tertutup dan pertanyaan terbuka.

77

Pertanyaan Tertutup: Adalah pertanyaan yang memerlukan jawaban yang singkat. Bisa dijawab dengan "Ya " dan "Tidak ."

Biasanya digunakan di awal pembicaraan untuk menggali informasi dasar. Tidak memberi kesempatan klien untuk menjelaskan perasaan/ pendapatnya. contoh:

"Berapa usiamu?" "Dimana tempat tingga lmu ?"


Pertanyaan Terbuka: Mampu mendorong klien untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran. Bisa memancing jawaban yang panjang. Memungkinkan klien mengungkapkan diri apa adanya. contoh: Mendengar efektif Untuk melakukan konseling KR yang baik, mendengar efektif dapat dilakukan dengan cara: Jaga kontak mata dengan lawan bicara/klien (sesuaikan dengan budaya setempat). Tunjukkan minat mendengar. Jangan melakukan kegiatan lain atau memotong pembicaraan. Ajukan pertanyaan yang relevan. Tunjukkan empati. Lakukan refleksi dengan cara mengulang kata-kata klien dengan kata-kata sendiri. Mendorong klien untuk terus bicara baik dengan memberikan komentar kecil (misal: mm..., ya...), atau ekspresi wajah tertentu (misalnya menganggukan kepala). "Apa yang kau ketahui tentang PMS?" "Bagaimana rasanya waktu mengalami haid pertama?"

78

TEMPAT KONSELING DAN KLIEN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA

Dimana konseling KR bisa dilakukan ? Sebenarnya konseling dapat dilakukan dimana saja asalkan syarat-syarat berikut terpenuhi:

Terjamin "privacy"; Nyaman, tidak bising; Tenang.

Siapa saja yang membutuhkan konseling KR ? Semua orang, tidak terbatas dengan usia dan jenis kelamin yang ingin bertanya atau mengalami masalah sehubungan kesehatan reproduksinya. Kelompok-kelompok berikut memerlukan perhatian dan bantuan khusus, misalnya :

Kelompok remaja; Klien dengan kehamilan yang tidak diinginkan; Orang dengan HIV/AIDS (ODHA); Kelompok lansia.

79

Apa

kiat-kiat

untuk

melaksanakan

konseling

pada

Kelompok

Khusus?

a. Remaja Remaja seringkali menghadapi masalah kesehatan reproduksi yang lebih banyak dan beragam dibandingkan klien yang lebih tua. Konseling untuk remaja membutuhkan sikap dan pemahaman yang lebih khusus serta pengetahuan yang lebih banyak. Dengan demikian, menghadapi klien remaja, seorang konselor KR harus: Terbuka, membiarkan remaja untuk bertanya tanpa membatasi topik pertanyaan termasuk topik yang tabu untuk dibicarakan Fleksibel, membicarakan berbagai isu KR yang ingin diketahui remaja, termasuk isu pubertas dan seks tanpa rasa canggung. Konselor memberikan jawaban yang sederhana dengan kata-kata yang mudah dimengerti

Dapat dipercaya. Pertahankan kejujuran, bila tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan klien remaja, katakan dengan jujur. Katakan pada klien bahwa anda akan berusaha mencari jawabannya.

Menjaga kerahasiaan. Katakan kepada klien remaja bahwa anda tidak akan menceritakan kunjungan, pembicaraan atau keputusan yang diambil klien kepada orang lain. Mudah didekati. Jangan panik atau marah, tunjukkan sikap tenang. Menghargai. Jangan memandang rendah klien remaja. Memahami. Jangan memberi penilaian kepada klien remaja. Bersabar. Jangan memaksa klien untuk segera mengambil keputusan karena mungkin saja klien remaja memerlukan waktu yang lama untuk mencapai satu keputusan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan bila klien dari kelompok remaja. Memberikan keterampilan kepada remaja untuk mengatakan "tidak," bernegosiasi (dengan lawan jenis) dan mengambil keputusan. Membantu klien membedakan hubungan sosial dan hubungan seksual. Membimbing remaja membuat jangka panjang atau menyiapkan masa depan Membimbing remaja dalam memahami ide tentang risiko atau perilaku beresiko

80

Menyadari bahwa remaja yang aktif seksual seringkali beresiko terkena PMS dibandingkan klien dewasa.

Perilaku seksual anak muda biasanya diperkuat atau dihambat oleh orang yang lebih tua

Remaja biasanya hanya sekali-kali melakukan hubungan seksual

Remaja mungkin saja berencana tak akan melakukan hubungan seks lagi, tapi
kenyataannya mengulangi lagi.

Para remaja dengan rentang usianya yang sama dapat mempunyai tingkat pengetahuan yang sangat berbeda-beda, ataupun sikap, perilaku dan pengalaman yang berbeda pula.

b. Klien dengan Kehamilan Tidak diinginkan Menghadapi klien dengan Kehamilan Yang Tidak Diinginkan, Konselor perlu: Memperhatikan dan antisipasi adanya perasaan-perasaan khusus seperti: tertekan, konflik, bingung Membantu klien menata dan mengarahkan perasaan yang dialami, agar kemudian mampu mengambil keputusan tanpa rasa sesal Memiliki informasi rujukan yang luas, misalnya dokter spesialis kandungan, psikolog, ahli agama, tempat penampungan bayi untuk adopsi dan sebagainya. Menyiapkan diri untuk menjadi perantara untuk berkomunikasi dengan pasangan atau orang tua klien.

c.

Klien

dengan

HIV/AIDS

(ODHA)

Menghadapi klien yang terinfeksi HIV/AIDS, konselor perlu: Menjaga kerahasiaan secara lebih ketat. Para ODHA umumnya sangat takut bila keadaan mereka diketahui oleh orang lain, takut dikucilkan, mudah terancam harga diri, takut dicerai oleh pasangannya dan sebagainya.

81

Menunjukkan empati tanpa rasa kasihan. Jika konselor menunjukkan perhatian berlebihan dan cenderung mengasihani, para ODHA justru bisa tersinggung. Memperhatikan dan mengantisipasi adanya perasaan-perasaan khusus yang dialami para ODHA, seperti: kesedihan mendalam, kemarahan, mengingkari kenyataan, dendam, malu, ingin bunuh diri. Mengupayakan agar klien yang aktif secara seksual, berbeda menghindari penularan pada orang lain dengan menggunakan kondom.
d. Klien Lanjut Usia (LANSIA)

Menghadapi klien lanjut usia, konselor perlu menunjukkan: Penghargaan. Kelebihan LANSIA adalah banyaknya pengalaman hidup yang perlu dihargai. Sikap sabar. Umumnya LANSIA senang membicarakan hal-hal yang menyangkut masa lalu, sehingga bisa menimbulkan kebosanan bagi yang mendengar. Keterbatasan lain berupa

penurunan fungsi penginderaan seperti pendengaran atau penglihatan

Sikap hormat. Di Indonesia menghormati orang yang lebih tua dianggap penting, karenanya cara berbicara dan nada suara konselor harus mencerminkan sikap hormat tersebut. LANGKAH-LANGKAH KONSELING DAN MENGHADAPI SAAT SULIT Persiapan apa yang harus dilakukan oleh konselor KR sebelum pertemuan ? Menyiapkan mental dan psikologis dalam arti konselor tidak dalam kondisi terbawa oleh emosi atau masalahnya sendiri; Mengatur dan menata tempat konseling sesuai dengan persyaratan; Menyiapkan alat bantu untuk mempermudah pemberian penjelasan, bisa berupa brosur, alat peraga, gambar, contoh alat kontrasepsi, leaflet, dsb.

82

Apa saja langkah-langkah/tahapan konseling? Mengucapkan salam. Mempersilahkan klien duduk. Menciptakan situasi yang membuat klien merasa nyaman. Mengajukan pertanyaan tentang maksud dan tujuan klien mendatangi konselor (pertanyaan bisa berlanjut ke hal-hal yang diperlukan ).

Berikan informasi setepat dan sejelas mungkin sesuai dengan persoalan yang diajukan, termasuk berbagai alternatif jalan keluar. Hindari memberikan informasi yang tidak dibutuhkan klien.

Mendorong dan membantu klien untuk menentukan jalan keluar atas persoalan yang dihadapinya.

Bila klien terlihat puas, ucapkan salam penutup. Bila diskusi dengan klien belum selesai dan klien belum mampu mengambil keputusan, tawarkan klien untuk mengatur pertemuan selanjutnya.

Apa

saja

yang

termasuk

situasi

sulit

dalam

konseling

KR

Dalam melakukan konseling, terkadang tidak bisa dihindarkan ditemuinya situasi-situasi yang sulit sehingga membutuhkan pendekatan yang hati-hati, antara lain : Bila klien pasif dan diam; Klien menangis; Klien menanyakan hal yang bersifat pribadi; Klien minta konselor untuk mengambil keputusan; Konselor tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan;

83

Konselor tidak menemukan solusi masalah; Konselor dan klien saling mengenal. Bagaimana Klien yang diam Jika klien berdiam diri diawal pertemuan, tataplah klien dan gunakan bahasa tubuh yang memperlihatkan simpati dan minat sambil mengatakan: "saya melihat ada kesulitan pada anda untuk berbicara. Hal ini sering dialami oleh klien yang baru. Saya rasa anda kuatir." Tunggulah jawaban klien. Jika klien diam selama pembicaraan berlangsung, bisa merupakan sesuatu yang wajar karena mungkin klien sedang berpikir atau memutuskan bagaimana mengutarakan perasaan atau pikiran-pikirannya. Berikan waktu pada klien untuk berpikir. Klien sok pintar Mengembalikan masalah kepada klien. Memberikan contoh yang konkret (seperti buku/gambar) & pengertian yang sebenarnya. Mendorong agar klien bisa memutuskan jalan keluar yang terbaik bagi masalahnya sendiri. mengatasi situasi sulit?

Klien menangis Jangan membuat asumsi/menduga-duga mengapa klien anda menangis. Tunggulah beberapa saat. Bila berlanjut, katakan bahwa menangis itu tidak apa-apa. Menangis adalah reaksi yang wajar, hal ini membuat klien merasa dibolehkan untuk mengutarakan alasan-alasannya menangis. Tanyakan alasannya dengan hati-hati. Konselor berusaha untuk tetap tenang. Apabila klien terus menangis, maka konselor memberi kesempatan kepada klien untuk menumpahkan emosinya, mengeluarkan beban dan ganjalanganjalan lain dalam tangisnya.

84

Konselor tak dapat menemukan solusi bagi masalah klien Perlihatkan pengertian dengan cara memberitahu seseorang lain yang dapat membantunya. Menunda pertemuan untuk mencari jawaban yang tepat. Konselor tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan klien Katakan dengan jujur dan terbuka bahwa anda tidak tahu jawabannya, tetapi dapat bersama klien mencari jalan keluarnya. Cek pada supervisi atau sumbersumber referensi

Konselor melakukan suatu kesalahan

Perbaiki kesalahan dan minta maaf. Mengakui kesalahan menunjukkan penghargaan pada klien.

Bersikapjujur. Konselor dan klien sudah saling mengenal

Tekankan soal kerahasiaan klien dan privasinya. Bila klien menginginkan, aturlah pertemuan dengan konselor lain.

Bersikap profesional (melihat/menganggap klien seperti klien yang lainnya, dan berikan

jawabannya yang tepat pada klien. Pengetahuan konselor yang terbatas A. Jika konselor tidak dapat menjawab pertanyaan: Berkata jujur akan ketidaktahuan konselor berkaitan dengan pengetahuan khusus (medis, agama).

Menunda jawaban untuk dicarikan jawaban kepada ahli.

Rujuk klien pada ahlinya.

B. Konselor tidak menemukan solusi Konselor cukup menerima keluhan masalah klien. Mendiskusikan dengan pihak yang mampu menemukan/ membantu memberi solusi.

85

Menunda pertemuan untuk mencari jawaban yang tepat.

Klien menanyakan hal yang bersifat pribadi Usahakan untuk tidak membicarakan pribadi anda. Bila klien menanyakan hal yang bersifat pribadi, anda tidak perlu menjawab.

86

87

88

89

90