Anda di halaman 1dari 57

0

Perpustakaan Unika

PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL, KECERDASAN SPIRITUAL DAN KECERDASAN INTELEKTUAL TERHADAP KINERJA AUDITOR DALAM KANTOR AKUNTAN PUBLIK

SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi syarat guna mencapai gelar Sarjana Akuntansi di Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Disusun Oleh : Isabella 06.60.0120

FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG 2011

1
Perpustakaan Unika

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Profesi sebagai akuntan publik memainkan peranan sosial yang sangat penting berhubungan dengan tugas dan tanggungjawab yang diemban oleh auditor. Auditor independen adalah auditor profesional yang menyediakan jasanya kepada masyarakat umum terutama dalam bidang audit atas laporan keuangan yang dibuat oleh kliennya. Tugas seorang akuntan publik adalah memeriksa dan memberikan opini terhadap kewajaran laporan keuangan suatu entitas usaha berdasarkan standar yang telah ditentukan IAI. Hal ini menunjukkan bahwa auditor bertanggung jawab atas opini yang diberikan terhadap laporan keuangan yang diterbitkan. Dalam melaksanakan audit, profesi akuntan publik memperoleh kepercayaan dari pihak klien dan pihak ketiga untuk mmembuktikan laporan keuangan yang disajiakan oleh pihak klien. Pihak ketiga tersebut diantaranya manajemen, pemegang saham, kreditur, pemerintah dan masyarakat yang mempunyai kepentingan terhadap laporan keuangan klien yang diaudit. Sehubungan dengan kepercayaan yang telah diberikan kepada akuntan publik, maka auditor dituntut untuk dapat memberikan kepercayaan tersebut. Kepercayaan ini harus senantiasa ditingkatkan dengan menunjukkan suatu kinerja yang profesional. Guna menunjang profesionalismenya sebagai akuntan publik,

2
Perpustakaan Unika

maka auditor dalam melaksanakan tugas auditnya harus berpedoman pada standar audit yang ditetapkan oleh IAI. Menurut Mulyadi dan Kanaka dalam Surya dan Hananto (2004:34), ada dua tanggung jawab yang harus dipikul oleh auditor dalam menjalankan pekerjaan profesionalnya, yaitu pertama, menjaga kerahasiaan informasi yang diperolah dalam melaksanakan tugasnya. Informasi yang diperoleh auditor selama ia menjalankan pekerjaannya tidak boleh diungkapkan oleh pihak ketiga, kecuali atas ijin kliennya. Namun jika hukum atau negara menghendaki akuntan publik mengungkapkan informasi yang diperolehnya selama penugasannya, akuntan publik berkewajiban untuk mengungkapkan informasi tersebut tanpa harus mendapatkan persetujuan dari kliennya. Tanggung jawab yang kedua yaitu menjaga mutu profesionalnya. Setiap auditor harus bisa

mempertanggungjawabkan mutu pekerjaan atau pekerjaan lain pada saat yang bersamaan, yang bisa menyebabkan penyimpangan obyektivitas atau ketidak konsistenan dalam pekerjaannya. Kinerja auditor juga tengah mendapat sorotan dari masyarakat banyak. Seperti kasus penyuapan yang telah dilakukan oleh pejabat KPU yaitu Mulyana W Kusuma kepada Khairiansah yang merupakan salah satu pimpinan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Mulyana tertangkap basah oleh seorang petugas KPK membawa sejumlah uang yang diduga akan digunakan untuk menyuap Khaeriansah yang menjadi auditor dalam pemeriksaan keuangan di KPU. Dengan adanya kejadian tersebut Khaeriansah mendapat penghargaan Integrity Aword dari Berlin Jerman. Namun disatu sisi ternyata oleh penyidik kasus korupsi Dana

3
Perpustakaan Unika

Abadi Umaat (DAU) di Departeman Agama, Khaeriansah dinyatakan ikut menikmati Dana Abadi Umat (DAU). Dengan fenomena kinerja tersebut dapat dikatakan lembaga-lembaga fungsional pemeriksa keuangan Negara seperti BPK dan BPKP sudah tidak memadai lagi untuk menjalankan fungsinya sebagi Control And Audit Buggetting. Pamor lembaga ini akan kian memudar sebagai lembaga yang bertugas mengamankan dan menyelamatkan keuangan negara dari penyalahgunaan. Aturan bekerja sekarang ini tengah berubah, seseorang dinilai tidak hanya berdasarkan tingkat kepribadian atau berdasarkan tingkat penilaian dan pengalaman tetapi juga berdasarkan seberapa baik seseorang mengelola diri sendiri dan orang lain Goleman dalam Sayogya (2004:2). Sebagai seorang auditor, pendidikan dan pengalaman dapat meningkatkan kompetensinya, namun dalam berhubungan dengan pihak lain (auditee) seorang auditor selain harus memiliki kemampuan intelektual juga harus memiliki kemampuan organisasional, interpersonal dan sikap dalam berkarir dilingkungan yang selalu berubah. Dalam meningkatkan profesionalisme seorang auditor harus terlebih dahulu memahami dirinya sendiri dan tugas yang akan dilaksanakan serta selalu meningkatkan dan mengendalikan dirinya dalam berhubungan dengan auditee, (Tantina 2003:2). McClelland dalam (Golemen 2001:25) menyatakan bahwa kemampuan akademik bawaan, nilai rapor, dan prediksi kelulusan pendidikan tinggi tidak memprediksi seberapa baik kinerja seseorang sudah bekerja atau seberapa tinggi sukses yang dicapainya dalam hidup. Sebaliknya McClelland menyatakan bahwa

4
Perpustakaan Unika

seperangkat kecakapan khusus seperti empati, disiplin diri, dan inisiatif mampu membedakan orang sukses dari mereka yang berprestasi biasa-biasa saja. Goleman (2001) menyatakan bahwa peran IQ dalam keberhasilan didunia kerja hanya menempati posisi kedua setelah kecerdasan emosi dalam menentukan prestasi puncak dalam perkerjaannya. Goleman (2001:513) membagi kecerdasan emosional yang dapat mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam bekerja kedalam 5 bagiaan utama yaitu kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati dan keterampilan sosial. Seseorang dengan kecerdasan emosional yang berkembang dengan baik, kemungkinan besar akan berhasil dalam kehidupannya karena mampu menguasai kebiasaan berfikir yang mendorong produktivitas (Widagdo, 2001:15). Dalam lingkungan dunia usaha yang kompetitif, kecerdasan emosional dapat berpengaruh terhadap kesuksesan perusahaan secara keseluruhan. Kecerdasan emosional sebagai salah satu faktor penting yang membentuk tercapainya tujuan perusahaan, merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan penyerapan tenaga kerja yang profesional (Sayogya, 2004:3). EQ berarti menggunakan emosi secara efektif untuk mencapai tujuan, membangun hubungan kerja yaang produktif dan meraih keberhasilan ditempat kerja. Karena bukan IQ saja yang membuat orang berhasil, maka perlu menelusuri kecerdasan emosional karyawan suatu organisasi. Bulo (2002) dan Afufah dkk (2004) meneliti tentang pengaruh pendidikan dalam jurusan akuntansi terhadap pembentukan kecerdasan emosional (EQ) mahasiswa akuntansi. Suryaningrum dkk (2003) meneliti tentang pengaruh

5
Perpustakaan Unika

kecerdasan emosional (EQ) terhadap prestasi belajar mahasiswa ekonomi jurusan akuntansi di universitas negeri dan swasta. Sedangkan beberapa penelitian dan karya ilmiah terkait dengan

kecerdasan spiritual antara lain, di awali oleh Zohar dan Marshal (2000) meneliti secara ilmiah dan membahas tentang adanya kecerdasan spiritual yang dimiliki oleh setiap manusia, yang berpengaruh terhadap segala aspek

kehidupannya. Beberapa karya ilmiah penulis dan peneliti dari luar negeri yang senada yang membahas tentang kecerdasan spiritual antara lain: Hendrick dan Ludeman (1998), Edward (1999), Khavari (2000), Sinetar (2000), Wild (2000). Dalam sudut pandang atau konsep psikologis, auditor sebagai manusia yang memiliki ego, akal, budi dan emosi serta akal. Menurut Bacolod et.al. (2009) pendekatan psikologis yaitu ketrampilan, IQ, pendidikan juga penting bagi profesi auditor. Penelitian yang dilakukan oleh Napitupulu (2009) mengemukakan bahwa kecerdasan intelektual dan emosional berpengaruh terhadap tingkat pemahaman akuntansi mahasiswa, yang nantinya akan berdampak kepada pada saat mereka bekerja. Dengan adanya kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan intelektual yang semakin tinggi, maka seseorang akan memiliki kinerja yang lebih baik, hal ini juga berlaku pada seorang auditor. Penelitian ini berbeda dengan penelitian terdahulu (Susilo, 2009) dengan menambahkan kecerdasan intelektual sebagai variabel independen yang mempengaruhi kinerja auditor. Alasan dipilihnya IQ, SQ dan EQ sebagai variabel independen yang mempengaruhi kinerja auditor adalah karena ketiganya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan

6
Perpustakaan Unika

merupakan konsep manusia dalam sudut pandang psikologis dimana manusia memiliki akal (IQ), budi (SQ) dan emosi (EQ). Maka berdasarkan pada uraian tersebut penelitian ini berjudul: Pengaruh Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spritual, dan Kecerdasan Intelektual Terhadap Kinerja Auditor Dalam Kantor Akuntan Publik.

1.2. PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang yang ada, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Apakah kecerdasan emosional (EQ) berpengaruh positif terhadap kinerja auditor dalam KAP? 2. Apakah kecerdasan spiritual (SQ) berpengaruh positif terhadap kinerja auditor dalam KAP? 3. Apakah kecerdasan intelektual (IQ) berpengaruh positif terhadap kinerja auditor dalam KAP?

1.3. TUJUAN PENELITIAN Sedangkan tujuan dalam penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui pengaruh kecerdasan emosional (EQ) kinerja auditor dalam KAP. 2. Untuk mengetahui pengaruh kecerdasan spiritual (SQ) berpengaruh positif terhadap kinerja auditor dalam KAP.

7
Perpustakaan Unika

3. Untuk mengetahui pengaruh kecerdasan intelektual (IQ) berpengaruh positif terhadap kinerja auditor dalam KAP.

1.4. MANFAAT PENELITIAN Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut: a) Bagi pihak KAP: Sebagai bahan masukan dalam mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja auditornya, khusunya yang terkait dengan kecerdasan emosional, spiritual, dan kecerdasan intelektual sehingga di kemudian hari dapat dijadikan masukan untuk meningkatkan kinerjanya. b) Bagi penelitian berikutnya: Sebagai referensi dan bahan masukan bagi penelitian serupa di masa mendatang.

1.5. SISTEMATIKA PENULISAN BAB I. PENDAHULUAN Bab ini berisi latar belakang, perumusan masalah tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan dalam penelitian ini. BAB II. LANDASAN TEORI Bab ini berisi tentang landasan teori, penelitian terdahulu, pengembangan dan perumusan hipotesis, serta definisi dan pengukuran variabel

8
Perpustakaan Unika

BAB III. METODE PENELITIAN Bab ini berisi populasi dan sampel, sumber dan jenis data, metode pengumpulan dan teknik analisa data, serta metode penelitian yang digunakan dalam penelitian BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi tentang hasil analisis data dan pembahasannya.

BAB V. PENUTUP Pada bab ini berisi tentang kesimpulan, keterbatasan dan saran.

9
Perpustakaan Unika

BAB II LANDASAN TEORI

2.1. Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient/EQ) Ada berbagai definisi yang diberikan oteh para ahli perihal kecerdasan emosional. Definisi tersebut antara lain disajikan oleh: Goleman (2000), kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenal perasaan diri sendiri dan orang lain untuk memotivasi diri sendiri dan mengelola emosi dengan baik didalam diri kita dan hubungan kita. Kemampuan ini saling berbeda dan melengkapi dengan kemampuan akademik murni yaitu kemampuan kognitif murni yang diukur dengan IQ. Coopper dan Sawaf (1998) dalam Trisnawati dan Surtaningsum (2003), kecerdasan emosional adalah kemampuan mengindra, memahami, dan dengan efektif menerapkan kekuatan dan ketajaman emosional sebagai sumber energi, informasi dan pengaruh. Salovey dan Mayer (1990) mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan memantau dan mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain, serta menggunakan perasaan itu untuk memadukan pikiran dan tindakan. Wechsler (1958) dalam Cherniss dan Adler (2000) mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai keseluruhan kemampuan seseorang untuk bertindak bertujuan, untuk berfikir rasional, dan untuk berhubungan dengan lingkungannya secara efektif. Menurut Steiner (1997) dalam Trisnawati dan Suryaningsum (2003) kecerdasan emosional mencakup 5 komponen, yaitu mengetahui perasaan sendiri,

10
Perpustakaan Unika

memiliki empati, belajar mengatur emosi, memperbaiki kerusakan sosial dan interaktivitas emosional. Goleman dalam William Bulo (2002) secara garis besar membagi kecerdasan emosional ke dalam dua kategori yaitu kompetensi personal (kecakapan pribadi) dan kompetensi sosial (kecakapan sosial). Kecakapan pribadi meliputi kesadaran diri, pengendalian diri, dan motivasi diri, sedangkan kompetensi sosial meliputi empati dan ketrampilan sosial. Goleman mengadaptasi lima hal yang tercakup dalam kecerdasan emosional dari model Salovely dan Mayer, yang kemudian diadaptasi lagi oleh Bulo (2002 yaitu pengenalan diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan kemampuan sosial. (Trisnawati dan Suryaningrum, 2003: 1075)

2.2. Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient/SQ) Kecerdasan spiritual atau SQ tidak selalu berhubungan dengan agama. SQ mendahului seluruh nilai spesifik dan budaya manapun, serta mendahului bentuk ekspresi agama manapun yang pernah ada. Namun bagi sebagian orang mungkin menemukan cara pengungkapan SQ melalui agama formal sehingga membuat agama menjadi perlu (Zohar & Marshall, 2002:8-9). SQ memungkinkan seseorang untuk menyatukan hal-hal yang bersifat intrapersonal dan interpersonal, serta menjembatani kesenjangan antara diri dan orang lain. (Zohar & Marshall, 2002:12). Wujud dari kecerdaan spiritual ini adalah sikap moral yang dipandang luhur oleh pelaku (Ummah dkk, 2003:43). Matinya etika lama dan seluruh kerangkan pikiran yang mendasarinya, memberi

11
Perpustakaan Unika

kesempatan yang berharga untuk menciptakan ajaran etika baru berdasarkan SQ (Zohar & Marshall, 2002:175).

2.3. Kecerdasan Intelektual (Intelectual Quotient/IQ) Sedangkan Intellectual Skill merupakan kemampuan mahasiswa dalam membaca, memahami dan menginteprestasikan setiap informasi khususnya yang berkaitan dengan mata kuliah dan tidak menutup kemungkinan informasi yang berkaitan dengan akuntansi secara keseluruhan. (Faridah, 2003: 82) Kecerdasan intelektual ini berhubungan dengan IQ seseorang. Untuk menunjang mahasiswa agar memiliki ability dan effort, serta intellectual skill yang baik maka harus dilihat dari kemampuan mahasiswa sejak High School Grades atau prestasi mahasiswa sejak belajar di SMU dan juga sesuai dengan Perguruan Tinggi yang bersangkutan. Kecerdasan intelektual atau intelectual quotient (IQ) adalah kemampuan mahasiswa dalam membaca, memahami dan penginterpretasikan setiap informasi khususnya yang berkaitan dengan pelajaran yang diterimanya. Sedangkan kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai yang menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks yang lebih luas dan kaya (Zohar dan Marshall, 2002: 4) yang memungkinkan seseorang untuk menyatukan hal-hal yang bersifat intrapersonal dan interpersonal, serta menjembatani kesenjangan antara diri sendiri dan orang lain (Zohar dan Marshall, 2002: 12).

12
Perpustakaan Unika

2.4. Konsep-konsep Psikologis Manusia adalah satu-satunya makhluk yang bisa menjadi subyek dan obyek sekaligus. Menusia berfikir dan merenung, kemudian menjadikan dirinya sebagai obyek fikiran dan renungan. Manusia sangat menarik di mata manusia itu sendiri. Terkadang manusia dipuja, tetapi di kala yang lain ia dihujat. Scara internal manusia sering merasa bangga dan bahagia menjadi manusia, tetapi di mata orang lain atau di waktu yang lain, ia terkadang menyesali diri sendiri, menyesali keberadaannya sebagai manusia (Syafii, 2007). Dalam sejarah keilmuan, lahirnya filsafat, antropologi, psikologi, ekonomi dan politik sesungguhnya juga merupakan upaya mencari jawaban tentang manusia, tetapi khusus tentang jiwa manusia, ia dibahas oleh filsafat, psikologi dan agama. Psikologi sebagai disiplin ilmu baru lahir pada akhir abad 18 Masehi, tetapi akarnya telah menghunjam jauh ke dalam kehidupan primitip ummat manusia. Plato sudah mengatakan bahwa manusia adalah jiwanya, tubuhnya hanya sekedar alat saja. Aristoteles mengatakan bahwa jiwa adalah fungsi dari badan sebagaimana penglihatan adalah fungsi dari mata. Hinga kini sekurang-kurangnya ada empat mazhab psikologi, yakni (1) Psikoanalisa, (2) Behaviorisme, (3) Kognitip dan (4) Humanisme. Empat mazhab itu menggambarkan adanya dinamika pemahaman terhadap manusia yang sifatnya trial and error (Syafii, 2007). Freud dengan teori psikoanalisanya memandang manusia sebagai homo volens, yakni makhluk yang perilakunya dikendlikan oleh alam bawah sadarnya. Menurut teori ini, perilaku manusia merupakan hasil interaksi dari tiga pilar

13
Perpustakaan Unika

kepribadian; id, ego dan super ego, yakni komponen biologis, psikologis dan social, atau komponen hewani, intelek dan moral (Syafii, 2007). Teori ini dibantah oleh Behaviorisme yang memandang perilaku manusia bukan dikendalikan oleh factor dalam (alam bawah sadar) tetapi sepenuhnya dipengaruhi oleh lingkungan yang nampak,y ang terukur, dapat diramal dan dapat dilukiskan. Menurut teori ini manusia disebut sebagai homo mechanicus, manusia mesin. Mesin adalah benda yang bekerja tanpa ada motiv di belakangnya, sepenuhnya ditentukan oleh faktor obyektif (bahan bakar, kondisi mesin dan sebagainya). Manusia tidak dipersoalkan apakah baik atau tidak, tetapi ia sangat elastis, bisa dibentuk menjadi apa dan siapa sesuai dengan lingkungan yang dialami atau yang dipersiapkan untuknya. Teori ini dibantah lagi oleh teori Kognitip yang menyatakan bahwa manusia tidak tunduk begitu saja kepada lingkungan, tetapi ia bisa aktip bereaksi secara aktip terhadap lingkungan dengan cara berfikir. Manusia berusaha memahami lingkungan yang dihadapi dan merespond dengan fikiran yang dimiliki. Oleh karena itu menurut teori Kognitip, manusia disebut sebagai homo sapiens, makhluk yang berfikir (Syafii, 2007). Teori Kognitip dilanjutkan oleh teori Humanisme. Psikologi Humanistik memandang manusia sebagai eksistensi yang positip dan menentukan. Manusia adalah makhluk yang unik, memiliki cinta, krestifitas, nilai dan makna serta pertumbuhan pribadi. Oleh karena itu teori Humanisme menyebut manusia sebagai homo ludens, yakni manusia yang mengerti makna kehidupan.

14
Perpustakaan Unika

2.5. Standar Auditing Standar Auditing adalah sepuluh standar yang ditetapkan dan disahkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI), yang terdiri dari standar umum, standar pekerjaan lapangan, dan standar pelaporan beserta interpretasinya. Standar auditing merupakan pedoman audit atas laporan keuangan historis. Standar auditing terdiri atas sepuluh standar dan dirinci dalam bentuk Pernyataan Standar Auditing (PSA). Dengan demikian PSA merupakan penjabaran lebih lanjut masing-masing standar yang tercantum di dalam standar auditing. Di Amerika Serikat, standar auditing semacam ini disebut Generally Accepted Auditing Standards (GAAS) yang dikeluarkan oleh the American Institute of Certified Public Accountants (AICPA). PSA merupakan penjabaran lebih lanjut dari masing-masing standar yang tercantum didalam standar auditing. PSA berisi ketentuan-ketentuan dan pedoman utama yang harus diikuti oleh Akuntan Publik dalam melaksanakan penugasan audit. Kepatuhan terhadap PSA yang diterbitkan oleh IAPI ini bersifat wajib bagi seluruh anggota IAPI. Termasuk didalam PSA adalah Interpretasi Pernyataan Standar Auditng (IPSA), yang merupakan interpretasi resmi yang dikeluarkan oleh IAPI terhadap ketentuan-ketentuan yang diterbitkan oleh IAPI dalam PSA. Dengan demikian, IPSA memberikan jawaban atas pernyataan atau keraguan dalam penafsiran ketentuan-ketentuan yang dimuat dalam PSA sehingga merupakan perlausan lebih lanjut berbagai ketentuan dalam PSA. Tafsiran resmi ini bersifat mengikat bagi seluruh anggota IAPI, sehingga pelaksanaannya bersifat wajib.

15
Perpustakaan Unika

1. Standar umum a. Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor. b. Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor. c. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama. 2. Standar pekerjaan lapangan a. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya. b. Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh unutk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan. c. Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keungan yang diaudit. 3. Standar pelaporan a. Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. b. Laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan, jika ada, ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan

16
Perpustakaan Unika

laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya. c. Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor. d. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, maka laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh auditor.

2.6. Tuntutan Kerja Seorang auditor dalam bekerja selalu dituntut untuk profesional dan tuntutan kerja tersebut tidak terlepas dari berbagai keputusan yang harus diambilnya. Seorang auditor atau akuntan secara terus menerus berhadapan dengan dilema etika yang melibatkan pilihan antara nilai-nilai yang bertentangan. Dalam keadaan ini, klien bisa mempengaruhi proses pemeriksaan yang dilakukan oleh auditor. Klien bisa menekan auditor untuk mengambil tindakan yang melanggar standar pemeriksaan. Auditor secara umum dianggap termotivasi oleh etika profesi dan standar pemeriksaan, maka auditor akan berada dalam situasi konflik. Memenuhi tuntutan klien berarti melanggar standar (Jamilah dkk., 2007).

17
Perpustakaan Unika

Namun dengan tidak memenuhi tuntutan klien, bisa mendapatkan sanksi oleh klien berupa kemungkinan penghentian penugasan. Karena pertimbangan profesional berlandaskan pada nilai dan keyakinan individu, kesadaran moral memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan akhir. Maka dengan demikian tekanan terhadap ketaatan antara kepentingan klien dengan peraturan tentunya akan mempengaruhi penilaian auditor dalam memberikan audit judgement. Auditor secara sosial juga bertanggung jawab kepada masyarakat dan profesinya daripada mengutamakan kepentingan dan pertimbangan pragmatis pribadi atau kepentingan ekonomis semata. Situasi seperti hal tersebut di atas sangat sering dihadapi oleh auditor. Auditor seringkali dihadapkan kepada situasi dilema etika dalam pengambilan keputusannya (Jamilah dkk, 2007).

2.7. Karakteristik Kerja Auditor Spilker (1995) mengungkapkan bahwa karakteristik sebuah pekerjaan seperti tingkat kerumitan dan jumlah informasi yang disajikan/tersedia mempengaruhi hubungan pengetahuan, akuntabilitas dan kualitas hasil kerja. Pada pekerjaan yang lebih sederhana faktor usaha dapat menggantikan tingkat pengetahuan yang dimiliki seseorang (bersifat subsitusi) dan pengetahuan memiliki hubungan yang positif terhadap kualitas hasil kerja. Sedangkan untuk pekerjaan yang lebih rumit, akuntabilitas tidak lagi bersifat subsitusi dengan pengetahuan yang dimiliki seseorang.

18
Perpustakaan Unika

Penelitian Cloyd (1997) juga membuktikan bahwa akuntabilitas dapat meningkatkan kualitas hasil kerja auditor jika didukung oleh pengetahuan audit yang tinggi. Tan dan Alison (1999) melakukan penelitian yang sama dengan Cloyd (1997) dan membutikan bahwa pengetahuan dapat memperkuat hubungan akuntabilitas dengan kualitas hasil kerja jika kompleksitas pekerjaan yang dihadapi sedang/menengah. Untuk pekerjaan dengan kompleksitas rendah akuntabilitas dan pengetahuan serta interaksinya tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kualitas hasil kerja. Sedangkan untuk kompleksitas pekerjaan tinggi, akuntabilitas dapat meningkatkan kualitas hasil kerja jika didukung oleh pengetahuan dan kemampuan pemecahan masalah yang tinggi.

2.8. Kinerja Auditor Kinerja merupakan seperangkat hasil yang dicapai serta merujuk pada tindakan pencapaian serta pelaksanaan sesuatu pekerjaan yang diminta Stolovic dan Keeps dalam Veithzal (2002:87). Menurut Seymour dalam Yetti, (2005:18) kinerja merupakan tindakantindakan atau pelaksanaan-pelaksanaan tugas yang dapat diukur. Kinerja diukur dengan instrumen yang dapat dikembangkan dalam studi yang tergabung dalam ukuran kinerja secara umum, selanjutnya diterjemahkan kedalam penilaian perilaku secara mendasar, meliputi : (1) kualitas kerja, (2) kuantitas kerja, (3) pengetahuan tentang pekerjaan, (4) pendapat atau pernyataan yang disimpulkan, (5) perencanaan kerja. Menurut Muekijat dalam Yetti (2004), kinerja

19
Perpustakaan Unika

adalah hasil kerja yang dicapai oleh seseorang kariawan dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya. Menurut Irving dalam Surya dan Hananto (2004:35), komponen penting untuk melakukan penaksiran kinerja adalah kuantitas dan kualitas kinerja individu. Ia dinilai berdasarkan pencapaian kuantitas dan kulaitas output yang dihasilkan dari serangkaian tugas yang harus dilakukannya. Kinerja pada dasarnya merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Dalam hal ini kariawan bisa belajar seberapa besar kinerja mereka melalui sarana informa, seperti komentar yang baik dari mitra kerja. Namun demikian penilaian kinerja mengacu pada suatu sistem formal dan tersetruktur yang mengukur, menilai dan mempengaruhi sifat-sifat yang berkaitan dengan pekerjaan, prilaku dan hasil termasuk tingkat kehadiran (Schuler dalam Nugroho, 2005:18). Fokus penilaian kerja adalah untuk mengetahui seberapa produktif seorang karyawan dan apakah ia bisa berkinerja sama atau lebih efektif pada masa yang akan datang.

2.9. HIPOTESIS EQ berupa kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial akan menuntun pikiran dan perilaku seseorang. Seseorang yang memiliki EQ yang memadai akan memiliki pertimbangan yang lebih komprehensif dalam bersikap dan berperilaku sehingga akan bersikap dan berkinerja lebih baik.

20
Perpustakaan Unika

Tanpa adanya pengendalian atau kematangan emosi (EQ) dan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (keimanan dan ketakwaan) (SQ), sangat sulit bagi seorang auditor untuk dapat bertahan dalam menghadapi tekanan frustasi, stress, menyelesaikan konflik yang sudah menjadi bagian atau resiko profesi, dan memikul tanggung jawab seperti apa yang disebutkan dalam Pedoman Kode Etik Akuntan Indonesia, serta untuk tidak menyalahgunakan kemampuan dan keahlian yang merupakan amanah yang dimilikinya kepada jalan yang tidak dibenarkan. Sehingga akan berpengaruh terhadap hasil kinerja mereka (mutu dan kualitas audit) atau terjadinya penyimpangan-

penyimpangan, kecurangan dan manipulasi terhadap tugas 3 Integritas mengharuskan auditor jujur dan terus terang dalam batasan kerahasiaan obyek pemeriksaan Kode Etik Akuntan Indonesia.Prinsip objektivitas menetapkan suatu kewajiban bagi auditor untuk tidak memihak, jujur secara intelektual dan bebas dari konflik kepentingan. Goleman menjelaskan (1998) tentang penggunaan kecerdasan emosional terhadap pendorong kinerja, dengan sampel manajer yang dikelompokkan kedalam 3 (tiga) bagian keahlian: tekhnikal, koognitif dan kemampuan kecerdasan emosi murni seperti kemampuan memimpin dan berhubungan dengan orang lain. Cooper dan Sawaf (1998) meneliti tentang pemetaan kecerdasan emosional (EQ Map) dan pengaruhnya terhadap gaya kepemimpinan dan kinerja sejumlah eksekutif manajer pada perusahan multinasional. Surya dan Hananto (2004) meneliti tentang kinerja auditor dalam Kantor Akuntan Publik dengan kecerdasan emosional auditor. Bulo (2002) dan Afufah

21
Perpustakaan Unika

dkk (2004) meneliti tentang pengaruh pendidikan dalam jurusan akuntansi terhadap pembentukan kecerdasan emosional (EQ) mahasiswa akuntansi. Serta Suryaningsum dkk (2003) dan Wijayanto (2005) meneliti tentang pengaruh kecerdasan emosional (EQ) terhadap prestasi belajar mahasiswa ekonomi jurusan akuntansi di universitas negeri dan swasta. Penelitian yang dilakukan oleh Susilo (2007) membuktikan bahwa terdapat pengaruh positif antara EQ terhadap kinerja auditor. Semakin tinggi tingkat kesadaran diri atau EQ seseorang tentunya ia semakin memiliki tingkat motivasi, empati dan ketrampilan sosial yang lebih baik sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kinerja auditor, dengan demikian pengaruhnya positif. Maka berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: H1: Kecerdasan Emosional (EQ) berpengaruh positif terhadap kinerja auditor

SQ menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya (Zohar & Marshall, 2002:4), memungkinkan seseorang untuk menyatukan hal-hal yang bersifat intrapersonal dan interpersonal, serta menjembatani kesenjangan antara diri dan orang lain (Zohar & Marshall, 2002:12). Wujud dari SQ ini adalah sikap moral yang dipandang luhur oleh pelaku (Ummah dkk, 2003:43). Hal ini berarti orang yang memiliki SQ akan mewujudkanya dalam perilaku yang luhur (etis). Bagi sebagian orang, SQ mungkin diungkapkan melalui agama formal sehingga membuat agama menjadi perlu (Zohar & Marshall 2002:9). Hal ini berarti SQ memiliki hubungan dengan

22
Perpustakaan Unika

keberagamaan seseorang. Sementara keberagamaan (religiusitas) menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku etis seseorang (Clark & Dawson, 1996; Maryani & Ludigdo, 2001; Weaver & Agle, 2002). Agustian (2001) membahas tentang pengaruh kombinasi kecerdasan emosional dan spiritual (ESQ) yang dilandaskan pada nilai-nilai keislaman dalam membentuk kepribadian dan kinerja yang sukses. Senada dengan Agustian, Tasmara (2002) juga membahas tentang pengaruh dan penerapan nilai spiritual agama (SQ) terhadap pembentukan etos kerja yang positif dalam tempat kerja. Sukidi (2002) membahas tentang pentingnya kecerdasan spiritual (SQ) dalam mengatasi problema psikologi dalam kehidupan termasuk juga di antaranya dalam tempat kerja. Serta Syahdani (2005) yang membahas tentang

pendekatan unsur etika dan psikologi dengan kematangan emosional dan spiritual (ESQ) dalam strategi mengelola perusahaan atau organisasi dan untuk mencapai perestasi kerja yang optimal. Ludigdo dan Maryani (2001) meneliti atas faktor -faktor yang mempengaruhi akuntan dalam berperilaku etis yang sebagian besar dipengaruhi oleh faktor religiuistas. Serta Ludigdo (2004) membahas adanya pergeseran paradigma sistem pendidikan dan profesi akuntansi mulai dari yang berbasis kecerdasan intelektual menjadi berbasis kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual (IESQ). Penelitian Susilo (2007) membuktikan bahwa terdapat pengaruh positif antara SQ terhadap kinerja auditor. Jadi semakin tinggi kecerdasan spiritual (SQ) maka akan semakin baik atau semakin meningkatkan kinerja auditor, sehingga

23
Perpustakaan Unika

dengan demikian pengaruhnya positif. Maka berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: H2: Kecerdasan Spiritual (SQ) berpengaruh positif terhadap kinerja auditor

Dalam pandangan kelompok yang menekankan IQ sebagai kemampuan adaptasi, orang yang inteligen (cerdas) akan memiliki kemampuan untuk mengorganisasi pola-pola tingkah lakunya sehingga dapat bertindak lebih efektif dan lebih tepat (Fudyartanta, 2004:12). Ini berarti bahwa makin tinggi inteligensi seseorang maka akan semakin terdorong untuk memiliki kinerja lebih baik. Artinya dengan adanya IQ yang dimiliki oleh seseorang yang lebih tinggi, secara intrinsik ia akan semakin terdorong untuk memiliki kinerja lebih baik dalam profesinya. Penelitian yang dilakukan oleh Susilo (2007) menyatakan bahwa memang IQ akan berpengaruh terhadap kinerja auditor. Yacub (2001) berpendapat dan juga menekankan akan pentingnya reformasi dan perubahan sistem pendidikan nasional yang mensinergikan IQ, EQ, CQ dan SQ dalam segala bidang mulai dari filsafat/tujuan pendidikan sampai ke pemerintahan dan manajemen pendidikan, kurikulum, metode pembelajaran, dan substansi pengajaran secara nasional, regional dan lokal. McClleland (1973) dalam Goleman (2000) meneliti tentang pengaruh kecerdasan intelektual (IQ) dengan parameter prestasi akademis yang dicapai, terhadap kesuksesan seseorang di tempat kerja.

24
Perpustakaan Unika

Penelitian yang dilakukan oleh Napitupulu (2009) menyatakan bahwa kecerdasan intelektual akan berpengaruh terhadap tingkat pemahaman akuntansi mahasiswa, sehingga setelah bekerja menjadi auditor akan semakin baik kinerjanya. Sedangkan Bacolod etl.al. (2009) mengemukakan bahwa IQ mempengaruhi kinerja seorang professional termasuk auditor. Hal ini juga didukung oleh penelitian Trihandini (2005). Artinya semakin tinggi kecerdasan intelektual seseorang maka akan semakin baik kinerjanya karena berarti ia memiliki akal yang lebih baik dalam bekerja, dengan demikian antara kecerdasan intelektual dengan kinerja adalah memiliki pengaruh positif. Maka berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: H3: Kecerdasan Intelektual (IQ) berpengaruh positif terhadap kinerja auditor

25
Perpustakaan Unika

2.10. KERANGKA PIKIR

Manusia: Sudut Pandang Psikologis

Manusia memiliki akal, budi, dan emosi

H1 (+) EQ

H2 (+) SQ

H3 (+) IQ

Kinerja Auditor

Gambar 2.1. Kerangka Pikir Penelitian

Ditinjau dari sudut pandang psikologis, manusia memiliki ego, akal, budi dan emosi serta akal yang membedakannya dengan makhluk lain. Ini yang membuatnya untuk menggeluti berbagai profesi, termasuk auditor. Maka dari itu, kinerja auditor menjadi sorotan dan ada berbagai faktor yang mempengaruhinya. Maka penelitian ini ingin menguji apakah terdapat pengaruh antara kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ) dan kecerdasan intelektual (IQ) terhadap kinerja auditor.

26
Perpustakaan Unika

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Populasi dan Sampel Populasi penelitian ini adalah seluruh auditor yang berdomosili di Semarang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian adalah dengan purposive sampling dimana teknik pengambilan sampel dilakukan berdasarkan

pertimbangan tertentu peneliti. Adapun kriterianya adalah sebagai berikut: 1. Merupakan staf akuntan yang bekerja sebagai tenaga profesional (auditor). 2. Berdomisili di Semarang.

27
Perpustakaan Unika

Tabel 3.1. Penyebaran Kuesioner


No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Nama KAP KAP Hananta Budianto & Rekan KAP Bayudi Watu & Rekan KAP Darsono & Budi Cahyo Santoso KAP Yulianti SE BAP Kantor Akuntan Sugeng Pamudji Drs Aji Multi Consultant PT KAP Drs Tahrir Hidayat KAP Erwan, Sugadhi & Jajat Marjat KAP Irawati Kusumadi KAP Ngurah Arya & Rekan KAP Benny Gunawan KAP Suhartati & Rekan KAP Rohendi.Mardjito dan Roshadi KAP Leonard Mulia & Richard Alamat Jl. Sisingamangaraja 20-22 Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo 85 Jl. Mugas Dalam 65 Jl. Letjen MT Haryono 548 Jl. Bukit Agung Bl AA/1 (Perum Pondok Bukit Agung) Jl. Medoho Asri Raya 40 Jl. Pusponjolo Tengah I/2-A Jl. Tegalsari Barat V/24 Puri Anjasmoro Bl B-5/16 Jl. Pamularsih Raya 16 Jl. Puri Anjasmoro Bl DD-1/3 Jl. Citarum Tengah 22 Jl. Beruang Raya 48 Jl. Marina 8 Jumlah Kuesioner yang dibagikan: No. tlp 8412000 8444183 8417530 3547668 70798706 6747263 7607969 8505830 7613578 7601329 7606011 3583238 6710185 7600690 Jumlah auditor 8 7 20 5 15 5 5 4 Tidak Diketahui 20 20 14 11 60 Kuesioner Menolak 6 Menolak 4 Menolak 5 5 Menolak Menolak 7 5 Menolak Menolak Menolak 32

Berdasarkan pada tabel di atas diketahui bahwa kuesioner pada penelitian ini yang dapat disebarkan sebanyak 32 kuesioner dan terdiri dari 6 KAP.

3.2. Metode Pengumpulan Data 3.2.1. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yaitu data pertama yang diperoleh dari sumber obyek penelitian melalui pengisian kuesioner.

28
Perpustakaan Unika

3.2.2. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode survei dengan cara membagikan kuesioner secara personal yaitu dengan menyebarkan kuesioner secara langsung kepada responden.

3.3. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel 3.3.1. Kecerdasan Emosional (EQ) Kecerdasan emosional adalah kemampuan auditor untuk mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri, serta mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain (Goleman, 2005:512). Variabel ini diperoleh dengan kuesioner EQ yang terdiri dari 30 pertanyaan yang diadaptasi dari Bulo (2002). Pengukuran variabel ini menggunakan Skala Likert dengan skala 1 (Sangat Tidak Setuju) hingga 5 (Sangat Setuju). Semakin banyak responden yang menjawab SS artinya semakin tinggi kecerdasan emosionalnya.

3.3.2. Kecerdasan Spiritual (SQ) Kecerdasan spiritual (SQ) adalah auditor untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai dengan menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks yang lebih luas dan kaya (Zohar & Marshall, 2002:4). Variabel ini diperoleh dengan kuesioner yang terdiri dari 20 item yang dikembangkan oleh Daly Planet Communications dan dipublikasikan oleh International Institute for Reformation (2001) sebagaimana digunakan oleh

29
Perpustakaan Unika

Darwis (2004). Pengukuran variabel ini menggunakan Skala Likert dengan skala 1 (Sangat Tidak Setuju) hingga 5 (Sangat Setuju). Semakin banyak responden yang menjawab SS artinya semakin tinggi kecerdasan spiritualnya. Kuesioner nomor 28 direcording.

3.3.3. Kecerdasan Intelektual (IQ) Kecerdasan intelektual (IQ) adalah tingkat intelegensi yang dimiliki auditor. Variabel ini diperoleh dengan Tes Intelegensi yang dikutip dari Truste Certified Privacy (2010). Pengukuran variabel ini menggunakan jawaban dari a hingga d. Semakin banyak responden yang menjawab jawaban benar artinya semakin tinggi kecerdasan intelektualnya.

3.3.4. Kinerja Auditor Kinerja merupakan tindakan-tindakan atau pelaksanaan-pelaksanaan tugas yang dapat diukur. Kinerja pada penelitian ini diukur dengan instrumen yang dikembangkan oleh Seymour dalam Yetti (2005). Pengukuran variabel ini menggunakan Skala Likert dengan skala 1 (Sangat Tidak Setuju) hingga 5 (Sangat Setuju). Semakin banyak responden yang menjawab SS artinya semakin baik kinerjanya.

3.4. Uji Instrumen Instrumen yang baik adalah instrumen yang memenuhi syarat validitas dan reliabilitas data.

30
Perpustakaan Unika

1. Uji Validitas Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu unutuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut (Ghozali, 2004: 45). Uji validitas digunakan untuk menunjukkan sejauh mana alat pengukur itu dapat mengukur apa yang ingin diukur. Pengujian validitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan perhitungan korelasi Product Moment dari Karl Pearson (Santoso, 2002), yaitu dengan menggunakan rumus: r Dimana: r X Y n = koefisien korelasi ( r hitung). = tingkat skor indicator yang diuji. = total skor indikator. = jumlah sampel. = n(XY ) (X Y ) n(X ) (X ) n(Y ) (Y )
2 2 2 2

Kriteria pengujian validitas penelitian: 1. jika r hitung > r tabel, maka memenuhi persyaratan validitas. 2. jika r hitung < r tabel, maka tidak memenuhi persyaratan validitas.

2. Uji Reliabilitas Reliabilitas sebenarnya adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk.

31
Perpustakaan Unika

Reliabilitas menunjukkan konsistensi dan stabilitas suatu skor dari suatu instrumen pengukur. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Ghozali, 2004:41). Uji reliabilitas dalam penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan uji statistik Cronbach Alpha ( ) dimana suatu variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,60 (Nunally, 1969 dalam Ghozali, 2004:42). Pengujian terhadap reliabilitas data hanya dilakukan pada item-item yang valid dengan menggunakan rumus sebagai berikut: (Ghozali, 2004)

Kr 1(K 1)r

Dimana:

= koefisien reliabilitas. = jumlah item reliabilitas. = rata-rata korelasi antar item.

K r

3.5. Uji Asumsi Klasik 1. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel dependen dan independent keduanya memiliki distribusi normal ataukah tidak normal (Ghozali, 2004). Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov, dimana data dikatakan

32
Perpustakaan Unika

berdistribusi normal jika memiliki nilai probabilitas pengujian yang lebih besar dari 0,05 (Ghozali, 2004).

2. Uji Multikolinieritas Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen (Ghozali, 2006:91). Pengujian multikolinieritas dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan lawannya. Suatu model regresi dikatakan bebas dari multikolinieritas jika nilai tolerance > 0,1 dan VIF < 10 (Ghozali, 2004).

3. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. (Ghozali, 2004:105). Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Pengujian ini dilakukan dengan uji Glejser, dengan kriteria data yang bebas dari heteroskedastisitas memiliki probabilitas signifikansi > (0,05) (Ghozali, 2004).

3.6. Teknik Analisis Data Alat pengujian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda. Untuk itu diformulasikan model regresi berganda sebagai berikut: Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e

33
Perpustakaan Unika

Di mana: Y = Kinerja Auditor a = Nilai intersep (konstan) b1b3 =Koefisien arah regresi X1 = EQ X2 = SQ X3 = IQ e = error

3.6.1. Uji Model Fit Untuk mengetahui pengujian model fit data dilakukan dengan menggunakan uji F untuk mengetahui sejauh mana variabel X (independen) dapat mempengaruhi variabel dependen (Y). Jika nilai signifikansi F lebih besar daripada 0,05 maka model tidak fit artinya tidak dapat digunakan untuk memprediksi pengaruh variabel X terhadap Y, sedangkan jika nilai signifikansi F lebih kecil daripada 0,05 maka model fit artinya dapat digunakan untuk memprediksi pengaruh variabel X terhadap Y.

3.6.2. Uji t Pengujian hipotesis pada penelitian ini menggunakan uji t. Untuk menganalisis pengaruh variabel X1-X3 terhadap Y digunakan metoda statistik dengan tingkat taraf signifikansi = 0,05 artinya derajad kesalahan sebesar 5 %. Kriteria penerimaan hipotesis adalah sebagai berikut:

34
Perpustakaan Unika

1. Jika nilai P-value (sig.t) < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. 2. Jika nilai P-value (sig.t) > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak.

3.6.3. Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R ) Pengujian koefisien determinasi dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh atau berapa persen variabel X mempengaruhi variabel Y. Ini dilakukan dengan melihat pada nilai Adjusted R .
2

35
Perpustakaan Unika

BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Responden Sebelum melakukan pembahasan lebih lanjut mengenai hasil penelitian ini, terlebih dahulu akan dibahas mengenai gambaran umum responden yang menjadi sampel pada penelitian ini: Tabel 4.1. Gambaran Umum Responden Usia: - < 25 tahun - 25 30 tahun - >30 tahun Jenis Kelamin: - Laki-laki - Perempuan Pendidikan: - D3 - S1 Masa Kerja: - < 3 tahun - 3 5 tahun - > 5 tahun Total: Sumber: Data Primer yang Diolah Keterangan Jumlah 15 orang 13 orang 4 orang 19 orang 13 orang 5 orang 27 orang 28 orang 3 orang 1 orang 32 orang Presentase 46,9% 40,6% 12,5% 59,4% 40,6% 15,6% 84,4% 87,5% 9,4% 3,1% 100%

Dilihat dari tabel gambaran umum responden di atas diketahui bahwa sebagian besar responden pada penelitian ini telah berusia kurang dari 25 tahun (46,9%). Jenis kelamin mayoritas responden adalah laki-laki (59,4%) dan sisanya sebesar 40,6% adalah perempuan. Masa kerja kurang dari tiga tahun (87,5%) dengan tingkat pendidikan S1 (84,4%).

36
Perpustakaan Unika

Tabel 4.2.
Jenis_kelamin * Pendidikan Crosstabulation Pendidikan D3 Jenis_ kelamin L P Total Count % of Total Count % of Total Count % of Total 5 15,6% 0 ,0% 5 15,6% S1 15 46,9% 12 37,5% 27 84,4% Total 20 62,5% 12 37,5% 32 100,0%

Sumber: Data Primer yang Diolah Dilihat dari tabel tabulasi silang tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar responden pada penelitian ini berjenis kelamin laki-laki dengan pendidikan S1 yaitu 15 orang atau 46,9%. Tabel 4.3.
Masa_kerja * Usia Crosstabulation Usia Masa_kerja <3 th 3-5 th >5 th Total Count % of Total Count % of Total Count % of Total Count % of Total <25 th 14 43,8% 1 3,1% 0 ,0% 15 46,9% 25-30 th 11 34,4% 2 6,3% 0 ,0% 13 40,6% >30 th 3 9,4% 0 ,0% 1 3,1% 4 12,5% Total 28 87,5% 3 9,4% 1 3,1% 32 100,0%

Sumber: Data Primer yang Diolah Dilihat dari tabel tabulasi silang tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar responden pada penelitian ini berusia kurang dari 25 tahun dengan masa kerja kurang dari 3 tahun yaitu ada 14 orang atau 43,8%.

37
Perpustakaan Unika

Tabel 4.4.
Pendidikan * Usia Crosstabulation Usia <25 th Pendidikan D3 S1 Total Count % of Total Count % of Total Count % of Total 3 9,4% 12 37,5% 15 46,9% 25-30 th 2 6,3% 11 34,4% 13 40,6% >30 th 0 ,0% 4 12,5% 4 12,5% Total 5 15,6% 27 84,4% 32 100,0%

Sumber: Data Primer yang Diolah Dilihat dari tabel tabulasi silang tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar responden pada penelitian ini berusia kurang dari 25 tahun dengan pendidikan S1 yaitu 12 orang atau 37,5%. Tabel 4.5.
Pendidikan * Masa_kerja Crosstabulation Masa_kerja <3 th Pendidikan D3 S1 Total Count % of Total Count % of Total Count % of Total 5 15,6% 23 71,9% 28 87,5% 3-5 th 0 ,0% 3 9,4% 3 9,4% >5 th 0 ,0% 1 3,1% 1 3,1% Total 5 15,6% 27 84,4% 32 100,0%

Sumber: Data Primer yang Diolah Dilihat dari tabel tabulasi silang tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar responden pada penelitian ini berpendidikan S1 dengan masa kerja kurang dari 3 tahun yaitu 23 orang atau 71,9%.

38
Perpustakaan Unika

4.2. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas 4.2.1. Hasil Uji Validitas Pengujian validitas menunjukkan sejauh mana alat pengukur yang dapat digunakan untuk mengukur apa yang ingin diukur. Untuk pengujian validitas dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung dengan r tabel. Pengujian pertama untuk uji validitas dilakukan untuk menguji variabel kecerdasan emosional (EQ):
Pertanyaan X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12 X13 X14 X15 X16 X17 X18 X19 X20 X21 X22 X23 X24 X25 X26 X27 X28 X29 X30

Tabel 4.6. Hasil Pengujian Validitas EQ


r hitung 0,536 0,670 0,643 0,688 0,743 0,795 0,579 0,625 0,733 0,631 0,838 0,380 0,646 0,581 0,695 0,700 0,658 0,503 0,573 0,716 0,576 0,731 0,696 0,746 0,631 0,563 0,559 0,677 0,48 0,582 r tabel 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349

Sumber: Data Primer yang Diolah

Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

39
Perpustakaan Unika

Dilihat dari tabel di atas diketahui bahwa nilai r hitung > r tabel sehingga semua item pertanyaan untuk variabel EQ ini dapat dikatakan valid. Kemudian berikutnya adalah hasil pengujian validitas untuk variabel kecerdasan spiritual (SQ): Tabel 4.7. Hasil Pengujian Validitas SQ Pertanyaan r hitung X1 0,392 X2 0,423 X3 0,729 X4 0,532 X5 0,631 X6 0,486 X7 0,658 X8 0,734 X9 0,543 X10 0,459 X11 0,504 X12 0,631 X13 0,604 X14 0,635 X15 0,634 X16 0,654 X17 0,343 X18 0,695 X19 0,430 X20 0,351 X21 0,446 X22 0,609 X23 0,661 X24 0,434 X25 0,375 X26 0,567 X27 0,657 X28 0,714 X29 0,773 X30 0,561 Sumber: Data Primer yang Diolah r tabel 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

40
Perpustakaan Unika

Dilihat dari tabel tersebut diketahui bahwa nilai r hitung > r tabel sehingga semua item pertanyaan untuk variabel SQ adalah valid. Tabel berikut ini menunjukkan hasil pengujian validitas untuk variabel kecerdasan intelektual (IQ): Tabel 4.8. Hasil Pengujian Validitas IQ Pertanyaan r hitung X1 0,435 X2 0,388 X3 0,386 X4 0,392 X5 0,365 X6 0,418 Sumber: Data Primer yang Diolah r tabel 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid

Dari tabel di atas diketahui bahwa nilai r hitung > r tabel sehingga untuk item pertanyaan IQ ini dapat dikatakan valid. Tabel berikut ini menunjukkan hasil pengujian validitas untuk variabel kinerja auditor: Tabel 4.9. Hasil Pengujian Validitas Kinerja Auditor Pertanyaan r hitung X1 0,477 X2 0,723 X3 0,728 X4 0,631 X5 0,749 X6 0,654 X7 0,856 X8 0,613 X9 0,753 X10 0,428 Sumber: Data Primer yang Diolah r tabel 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 0,349 Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

Dari tabel tersebut diketahui bahwa nilai r hitung > r tabel sehingga untuk item pertanyaan IQ ini dapat dikatakan valid.

41
Perpustakaan Unika

4.2.2. Hasil Uji Reliabilitas Untuk pengujian reliabilitas dilakukan untuk mengetahui apakah hasil dari kuesioner ini dapat dipercaya atau reliabel. Berikut ini adalah hasilnya: Tabel 4.10. Hasil Pengujian Reliabilitas Penelitian Alpha Cronbach EQ 0,951 SQ 0,914 IQ 0,684 Kinerja Auditor 0,899 Sumber: Data Primer yang Diolah Pertanyaan Keterangan Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel

Dilihat dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa untuk masingmasing variabel pada penelitian ini yaitu EQ, SQ, IQ dan kinerja auditor memiliki nilai yang lebih besar daripada 0,6 sehingga dikatakan reliabel.

4.3. Deskriptif Variabel Penelitian Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan hasil statistik deskriptif pada penelitian ini: Tabel 4.11. Statistik Deskriptif
Descriptive Statistics N Kec_Emosional Kec_Spiritual Kec_Intelektual Kinerja_Auditor Valid N (listwise) 32 32 32 32 32 Minimum 80,00 84,00 2,00 25,00 Maximum 150,00 146,00 5,00 50,00 Mean 112,4688 109,4063 4,2813 36,2500 Std. Deviation 17,45960 15,51037 ,85135 6,37029

Sumber: Data Primer yang Diolah

42
Perpustakaan Unika

Jika kategori dalam 3 rentang kategori maka dari variabel EQ dibagi menjadi kategori sebagai berikut: Skor minimum: 150 Skor maksimum: 80 Jumlah kategori: 3 Rentang: Skor Maksimum Skor Minimum = 150-80 = 23,3 Jumlah Kategori 3 Rendah: 80 103,3 Sedang: 103,4 126,6 Tinggi: 126,7 150 Skor rata-rata jawaban responden dari variabel EQ (kecerdasan emosional adalah 112,4688 dan nilainya berada di kisaran sedang, artinya sampel responden pada penelitian ini memiliki kecerdasan emosional yang biasa saja. Artinya auditor mampu mengenali perasaan dirinya sendiri dan perasaan orang lain, cukup mampu memotivasi diri sendiri dan mampu mengelola emosi cukup baik. Jika kategori dalam 3 rentang kategori maka dari variabel SQ dibagi menjadi kategori sebagai berikut: Skor minimum: 146 Skor maksimum: 84 Jumlah kategori: 3 Rentang: Skor Maksimum Skor Minimum = 146-84 = 20,6 Jumlah Kategori 3

43
Perpustakaan Unika

Rendah: 84 104,6 Sedang: 104,7 125,2 Tinggi: 125,3 146 Skor rata-rata jawaban responden dari variabel SQ (kecerdasan spiritual adalah 109,4063 dan nilainya berada di kisaran sedang, artinya sampel responden pada penelitian ini memiliki kecerdasan spiritual yang biasa saja. Artinya auditor cukup mampu dalam menghadapi dan memecahkan persoalan yang dihadapi selama ini. Jika kategori dalam 3 rentang kategori maka dari variabel IQ dibagi menjadi kategori sebagai berikut: Skor minimum: 5 Skor maksimum: 2 Jumlah kategori: 3 Rentang: Skor Maksimum Skor Minimum = 5-2 = 1 Jumlah Kategori 3 Rendah: 2 3 Sedang: 3,1 4 Tinggi: 4,1 5 Skor rata-rata jawaban responden dari variabel IQ (kecerdasan intelektual adalah 4,2813 dan nilainya berada di kisaran tinggi, artinya sampel responden pada penelitian ini memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi. Artinya auditor mamiliki tingkat intelegensi yang tinggi.

44
Perpustakaan Unika

Jika kategori dalam 3 rentang kategori maka dari variabel kinerja auditor dibagi menjadi kategori sebagai berikut: Skor minimum: 50 Skor maksimum: 25 Jumlah kategori: 3 Rentang: Skor Maksimum Skor Minimum = 50-25 = 8,3 Jumlah Kategori 3 Rendah: 25 33,3 Sedang: 33,4 41,6 Tinggi: 41,7 50 Skor rata-rata jawaban responden dari variabel kinerja auditor adalah 36,2500 dan nilainya berada di kisaran sedang, artinya auditor dapat melaksanakan tugas dengan cukup baik selama ini, misalnya memiliki pengetahuan cukup, dapat menjalankan pekerjaa tepat waktu, memiliki mutu atau kualitas kerja yang cukup baik.

4.4. Hasil Pengujian Asumsi Klasik 4.4.1. Uji Normalitas Pengujian normalitas dilakukan dengan melihat pada nilai Kolmogorof-Smirnov. Berikut ini adalah hasilnya:

45
Perpustakaan Unika

Tabel 4.12. Hasil Pengujian Kolmogorov-Smirnov


One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardiz ed Residual 32 ,0000000 3,07985714 ,081 ,079 -,081 ,457 ,985

N Normal Parametersa,b Most Extreme Differences Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed)

Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Dilihat dari tabel tersebut diketahui bahwa nilai Asymp. Sig. untuk unstandardized residual pada penelitian ini adalah 0,985 > 0,05 sehingga dapat dikatakan data pada penelitian ini normal.

4.4.2. Uji Multikolinearitas Sedangkan untuk hasil pengujian multikolinearitas dilakukan dengan melihat pada angka VIF dan Tolerance, dengan hasil sebagai beirkut: Tabel 4.13. Hasil Pengujian Multikolinearitas
Coefficientsa Unstandardized Coefficients B Std. Error -4,665 4,996 ,200 ,060 ,146 ,064 ,158 ,078 Standardized Coefficients Beta ,549 ,357 ,299

Model 1

(Constant) Kec_Emosional Kec_Spiritual Kec_Intelektual

t -,934 3,334 2,303 2,026

Sig. ,358 ,002 ,029 ,049

Collinearity Statistics Tolerance VIF ,308 ,348 ,763 3,245 2,870 1,311

a. Dependent Variable: Kinerja_Auditor

Sumber: Data Primer yang Diolah

46
Perpustakaan Unika

Dilihat dari persamaan regresi tersebut di atas, nilai untuk Tolerance > 0,1 dan VIF < 10. Jadi dapat dikatakan bahwa data pada penelitian ini bebas dari multikolinearitas.

4.4.3. Uji Heteroskedastisitas Sedangkan untuk hasil pengujian heteroskedastisitas juga dilakukan untuk model regresi pada penelitian ini dengan uji Glejser dengan hasil sebagai berikut: Tabel 4.14. Hasil Uji Heteroskedastisitas
Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model 1 (Constant) Kec_Emosional Kec_Spiritual Kec_Intelektual B 2,881 -,048 ,023 ,507 Std. Error 3,206 ,039 ,041 ,502 Standardized Coefficients Beta -,405 ,177 ,210 t ,898 -1,235 ,573 1,010 Sig. ,377 ,227 ,571 ,321

a. Dependent Variable: ABS_RES

Sumber: Data Primer yang Diolah Dilihat dari tabel tersebut diketahui bahwa nilai masing-masing variabel independen memiliki nilai signifikansi > 0,05 sehingga dapat dikatakan bahwa data pada penelitian ini telah bebas dari heteroskedastisitas.

47
Perpustakaan Unika

4.5. Analisis Regresi Pada penelitian ini dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis regresi berganda dengan menggunakan bantuan program SPSS 13.0. Berikut ini adalah hasilnya: Tabel 4.15. Analisis Regresi
Coefficientsa Unstandardized Coefficients B Std. Error -4,665 4,996 ,200 ,146 ,158 ,060 ,064 ,078 Standardized Coefficients Beta ,549 ,357 ,299

Model 1

(Constant) Kec_Emosional Kec_Spiritual Kec_Intelektual

t -,934 3,334 2,303 2,026

Sig. ,358 ,002 ,029 ,049

Collinearity St ToleranceSig./2 ,179 ,001,308 ,0145,348 ,0245,763

a. Dependent Variable: Kinerja_Auditor

Sumber: Data Primer yang Diolah

4.5.1. Pengujian Hipotesis Pertama Berdasarkan pada tabel 4.15. diperoleh nilai signifikansi t untuk variabel kecerdasan emosional sebesar 0,002/2=0,001 yang nilainya < 0,05. Nilai koefisien regresi sebesar +0,200 menunjukkan pengaruhnya positif. Artinya kecerdasan emosional (EQ) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja auditor. Dengan demikian maka hipotesis pertama pada penelitian ini diterima. Artinya kecerdasan emosional berpengaruh positif terhadap kinerja auditor.

48
Perpustakaan Unika

4.5.2. Pengujian Hipotesis Kedua Berdasarkan pada tabel 4.15. diperoleh nilai signifikansi t untuk kecerdasan spiritual adalah sebesar 0,029/2=0,0145 yang nilainya < 0,05. Nilai koefisien regresi sebesar +0,146 menunjukkan pengaruhnya positif. Artinya kecerdasan spiritual (SQ) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja auditor. Dengan demikian maka hipotesis kedua pada penelitian ini diterima. Artinya kecerdasan spiritual berpengaruh positif terhadap kinerja auditor.

4.5.3. Pengujian Hipotesis Ketiga Berdasarkan pada tabel 4.15. diperoleh nilai signifikansi t untuk kecerdasan intelektual adalah sebesar 0,049/2=0,0245 yang nilainya < 0,05. Nilai koefisien regresi sebesar +0,158 menunjukkan pengaruhnya positif. Artinya kecerdasan intelektual (IQ) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja auditor. Dengan demikian maka hipotesis ketiga pada penelitian ini diterima. Artinya kecerdasan intelektual berpengaruh positif terhadap kinerja auditor.

49
Perpustakaan Unika

4.6. Uji Model Fit Tabel 4.16. Uji Model Fit


ANOVAb Sum of Squares 965,798 292,202 1258,000

Model 1

df 3 28 31

Regression Residual Total

Mean Square 321,933 10,436

F 30,849

Sig. ,000a

a. Predictors: (Constant), Kec_Intelektual, Kec_Spiritual, Kec_Emosional b. Dependent Variable: Kinerja_Auditor

Berdasarkan pada tabel di atas dketahui bahwa nilai signifikansi F sebesar 0,000 < 0,05 artinya model fit dan dapat digunakan. Jadi variabel kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual dapat digunakan untuk memprediksi kinerja auditor.

4.7. Pembahasan Berdasarkan pada hasil analisis dan pengujian hipotesis diketahui bahwa hipotesis pertama diterima jadi terdapat pengaruh positif antara kecerdasan emosional terhadap kinerja auditor. Artinya semakin tinggi kecerdasan emosional maka kinerja auditor akan semakin meningkat. EQ berupa kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial akan menuntun pikiran dan perilaku seseorang. Seseorang yang memiliki EQ yang memadai akan memiliki pertimbangan yang lebih komprehensif dalam bersikap dan berperilaku sehingga akan bersikap dan berkinerja lebih baik. Hal ini disebabkan karena adanya pengelolaan emosi yang lebih baik dalam berperilaku sehingga berdampak pada hasil kerja

50
Perpustakaan Unika

yang lebih baik. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Surya dan Hananto (2004), Susilo (2007) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif antara kecerdasan emosional terhadap kinerja auditor. Hasil pengujian hipotesis kedua menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif antara kecerdasan spiritual terhadap kinerja auditor. Artinya semakin tinggi kecerdasan spiritual seorang auditor maka kinerjanya akan semakin meningkat. SQ menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya (Zohar & Marshall, 2002:4), memungkinkan seseorang untuk menyatukan hal-hal yang bersifat intrapersonal dan interpersonal, serta menjembatani kesenjangan antara diri dan orang lain (Zohar & Marshall, 2002:12). Wujud dari SQ ini adalah sikap moral yang dipandang luhur oleh pelaku (Ummah dkk, 2003:43). Semakin tinggi tingkat kecerdasan spiritual seorang auditor, maka ia akan memiliki konteks dan pandangan luas terhadap semua permasalahan dan memiliki moral yang baik, sehingga akan semakin baik kinerjanya. Hal ini disebabkan karena berarti individu tersebut memiliki moral yang baik dan berdampak pada perilaku baik sehingga meningkatkan hasil kerjanya. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Susilo (2007) yang menyatakan terdapat pengaruh positif dan signifikan antara kecerdasan spiritual terhadap kinerja auditor.

51
Perpustakaan Unika

Untuk pengujian hipotesis ketiga berhasil membuktikan bahwa hipotesis diterima. Artinya terdapat pengaruh positif antara kecerdasan intelektual terhadap kinerja auditor. Artinya dengan adanya IQ yang dimiliki oleh seseorang yang lebih tinggi, secara intrinsik ia akan semakin terdorong untuk memiliki kinerja lebih baik dalam profesinya. Artinya semakin tinggi kecerdasan intelektual seseorang maka akan semakin baik kinerjanya karena berarti ia memiliki akal yang lebih baik dalam bekerja, dengan demikian antara kecerdasan intelektual dengan kinerja adalah memiliki pengaruh positif. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Susilo (2007), Trihandini (2005), dan Bacolod etl.al. (2009) yang menyatakan terdapat pengaruh positif antara kecerdasan intelektual terhadap kinerja auditor.

52
Perpustakaan Unika

BAB V PENUTUP

5.1. Kesimpulan Berdasarkan pada hasil analisis dan pembahasan pada bagian sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Kecerdasan emosional (EQ) berpengaruh positif terhadap kinerja auditor dalam KAP. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Surya dan Hananto (2004), Susilo (2007). 2. Kecerdasan spiritual (SQ) berpengaruh positif terhadap kinerja auditor dalam KAP. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Susilo (2007). 3. Kecerdasan intelektual (IQ) berpengaruh positif terhadap kinerja auditor dalam KAP. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Susilo (2007), Trihandini (2005), dan Bacolod etl.al. (2009).

5.2. Saran Sedangkan saran yang dapat dikemukakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Sebaiknya pihak KAP dalam melakukan pembagian tugas memperhatikan kecerdasan emosional, spiritual dan

intelektual para auditornya sehingga bisa memaksimalkan

53
Perpustakaan Unika

kinerjanya di kemudian hari. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengadakan seminar, melatih kesabaran dan mental untuk mengendalikan emosi. Untuk meningkatkan kecerdasan spiritual dapat dilakukan dengan mengadakan rekoleksi atau retret bersama untuk mempertebal iman. 2. Pada penelitian berikutnya dengan topik yang sama dapat ditambahkan variabel lain yang mempengaruhi kinerja auditor, misalnya saja tingkat pendidikan, tingkat pengendalian diri, stress kerja. Hal ini disebabkan karena dengan adanya tingkat pendidikan, tingkat pengendalian diri yang baik, serta stress kerja yang rendah kemungkinan akan mempengaruhi kinerja auditor.

54
Perpustakaan Unika

DAFTAR PUSTAKA Afufah, A., Suryaningrum, dan Heriningsih Sucahyo, 2004, Pengaruh. Pendidikan Tinggi Akuntansi Terhadap Kecerdasan Emosional. Simposium Nasional Akuntansi VII, Denpasar. Bacolod, M., Bernardo S.Blum, William C. Strange. 2009. Elemen of Skill: Traits, Intelligences, Education, and Agglomeration. University of California. Bulo, William Efrayim Lata, 2002, Pengaruh Pendidikan Tinggi Akuntansi Terhadap Kecerdasan Emosional Mahasiswa, Fakultas Ekonomi UGM. Buku Super Tes IQ (Redaksi Tangga Pustaka). 2008. Penyunting: Agustin Leoni, Cetakan I. Jakarta: Tangga Pustaka. Cloyd. 1997. An Analysis of Coping Strategies and Emotional Intelligence. Accounting, Finance, and Management, March 1997. Cherniss, C. and Adler, M., 2000. Promoting Emotional Intelligence in Organizations: make Training in Emotional Intelligence Effective, Alexandra, Vol.186. Cooper, R.K. and Sawaf, A. 1999. Executive EQ. Kecerdasan Emosional Dalam Kepemimpinan dan Organisasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Faridah, 2003, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Dlaam Mata Kuliah Akuntansi Keuangan Menengah (Studi Empiris Pada Mahasiswa Akuntansi PTS di Jawa Tengah), Jurnal Maksi, Vol. 3, Agustus 2003, hal. 78-97. Fudyartanta, Ki. 2004. Tes Bakat dan Perskalaan Kecerdasan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ghozali, Imam. 2004. Analisis Multivariate Dengan Program SPSS . Semarang: Badan Penerbit UNDIP. Goleman, Aniel, 2000, Working with Emotional Intelligence (terjemahan Alex Tri Kantjono W), Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Hendrick dan Ludeman. 1998. The Corporate Mystic (terjemahan), Bandung: Kaifa. Jamilah, S., Zaenal Fanani dan Grahita Chandrarin, 2007, Pengaruh Gender, Tekanan Ketaatan dan Kompleksitas Tugas Terhadap Audit Judgement. SNA X, Makasar, 26-28 Juli 2007.

55
Perpustakaan Unika

Khavari. 2000. Emotional Intelligence (terj. Oleh T. Hermaya). Jakarta: Gramedia. Ludigdo. 2004. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spritual . Gramedia. Jakarta. McClelland, D. C. 1973. Testing for competence rather than for "intelligence." American Psychologist, 28, 1-14. Napitupulu, I.H. 2009. Pengaruh Kecerdasan Intelektual dan Kecerdasan Emosional terhadap Tingkat Pemahaman Pelajaran Akuntansi dengan Minat sebagai Variabel Moderating (Studi Pada Siswa AMK Bisnis dan Manajemen di Kota Sibolga Kelas XII Jurusan Akuntansi). USU Repository. Salovey, P. and Mayer, J. D. 1990 . Emotional intelligence. Imagination, Cognition, and Personality, 9, 185-211. Santoso, S. 2002. Metode Penelitian. Jakarta: Erlangga. Sayogya, Nataline. 2004: Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Prestasi Kerja Auditor. Skripsi Jurusan Akuntansi UKSW (tidak dipublikasikan). Sinetar, E. 2000. Spiritual intelligence: what we can learn from the early. Surya R, dan Hananto S T. 2004 : Pengaruh Emotioanal Quotient Auditor terhadap kinerja Auditor di Kantor Akuntan Publik. Persepektif, Vol. 9, No. 1, Juni 2004: hal 33 40. Susilo, 2009. Pengaruh Kecerdasan Emosional dan piritual Auditor Terhadap Kinerja Auditor dalam Kantor Akuntan Publik. Syafii, Agus. 2007. Konsep Psikologis Manusia. WorldPress.com. Tan dan Alison. 1999 . Relating Emotional Intelligence to Other Psychological Variables. Tantina, Yetti. 2004. Pengaruh Kepuasan Kerja, Kemampuan Auditor dan Komitmen Organisasional Terhadap Kinerja Auditor di Semarang . Skripsi Jurusan Akuntansi UKSW (tidak dipublikasikan). Trisnawati, Eka Indah dan Suryaningrum Sri, 2003, Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Tingkat Pemahaman Akuntansi, Simposium Nasional Akuntansi VI, Surabaya.

56
Perpustakaan Unika

Trihandini, R.A.F.M. 2005. Analisis Pengaruh Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosi dan Spiritual terhadap Kinerja Karyawan (Studi Kasus pada Hotel Horison Semarang). Masters thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. Veithzal. 2002. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasional. Jakarta: Erlangga. Wild . 2000. Emotional Intelligence: A Review . New Jersey: Prentice Hall. Widagdo, 2001. Rahasia Membangun Kecerdasan Emosi . Jakarta: Persada Grafika. Yacub. 2001. Emotional intelligence and interpersonal relations. J Soc Phychol 2001; 141: 523-536. Zohar, D. dan Marshal, I. 2000. SQ - Spiritual Intelligence, the ultimate intelligence. Bloomsbury, London.