Anda di halaman 1dari 103

BUDIDAYA TEMBAKAU

Materi Kuliah Tahun 2012/2013 Oleh : Dr. Ir. I. Hartana

SEJARAH TEMBAKAU (1)


Tanaman tembakau dikenal pertama kali waktu Columbus mendarat di San Salvador pada bulan Oktober 1492.

Saat itu Columbus melihat penduduk aseli mengisap daun kering yang digulung dan dibakar, yang ternyata daun tembakau.
Dalam perkembangan selanjutnya pada tahun 1559 Jean Nicot de Villemain, Duta Perancis di Lisabon melaporkan kepada rajanya bahwa tembakau dapat digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, antara lain sakit kepala. Karena itu tembakau kemudian ditanam di Eropa untuk maksud pengobatan tersebut. Kebiasaan merokok para pelaut Portugis dibawa dalam pelayaran ke Asia. Tembakau masuk ke Indonesia sekitar tahun 1600, diduga dibawa orang Portugis melalui Filipina. Waktu Rhumphius keliling Indonesia tahun 1650 tembakau sudah terlihat ditanam petani di mana-mana, juga di tempat yang tidak pernah dikunjungi orang Portugis.
2

SEJARAH TEMBAKAU (2)


Penanaman tembakau yang pertama kalinya di Amerika Utara (Virginia) dilakukan pada tahun 1612, sedangkan orang-orang Spanyol menanam di kepulauan Karibia dan Amerika Selatan. Di Eropa pada masa itu kebiasaan merokok dengan pipa makin populer, untuk ini tembakau diimpor dari Amerika. Tembakau menjadi komoditas dagang yang menguntungkan. Dengan makin meluasnya penanaman tembakau di Eropa pada akhir abad ke18 impor dari Amerika berkurang. Di Asia awalnya tembakau diintroduksikan ke Filipina dari Amerika Selatan. Dari situ meluas ke negara-negara Asia seperti Cina, Jepang, Indonesia, dan India pada awal abad ke 17. Kebiasaan merokok sigaret di Eropa diperkenalkan oleh para tentara yang pulang dari perang Krim sesudah tahun 1855. Selanjutnya sigaret makin meluas ke seluruh dunia, terutama sesudah Perang Dunia Pertama.

SEJARAH TEMBAKAU (3)


PERKEMBANGAN PENGUSAHAAN TEMBAKAU DI INDONESIA Pada tahun 1830 pemerintah kolonial Belanda di bawah Gubernur Jenderal J. Van den Bosch memberlakukan sistem tanam paksa untuk mengatasi krisis ekonomi yang parah. Pada awalnya tembakau hanya ditanam secara kecil-kecilan oleh petani, terutama untuk kepentingan sendiri. Tanaman yang masuk dalam ketentuan tanam paksa yaitu kopi, tebu, indigo, tembakau, kayu manis, teh, dan merica. Produk yang dihasilkan diekspor ke Eropa. Kualitas tembakau yang dihasilkan kurang baik, padahal peluang pasar di Eropa bagus. Untuk meningkatkan kualitas tembakau, tahun 1834 pemerintah Belanda mengirim petugas (N. G. de Voogt) ke Kuba untuk mempelajari teknik penanaman tembakau. Meskipun upaya telah dilakukan dengan menerapkan pengetahuan yang diperoleh dari Kuba, ternyata hasilnya kurang menguntungkan. Akhirnya pada tahun 1866 tanam paksa untuk tembakau dihapus.

SEJARAH TEMBAKAU (4)


PENGUSAHAAN TEMBAKAU DALAM SKALA PERKEBUNAN (1) Pengusahaan tembakau skala perkebunan untuk memenuhi pasar ekspor ke Eropa pertama kali di Indonesia dilakukan di daerah Besuki. Perkebunan tembakau pertama di daerah Besuki didirikan oleh Franssen v.d. Putte di Sukowono pada tahun 1856, yang mengusahakan tembakau cerutu. Pada tahun 1859 George Birnie mendirikan perkebunan tembakau di Jember yang diberi nama LMOD (Landbouw Maatschappij Oud Djember). Pada tahun 1860 an telah terdapat empat perkebunan tembakau cerutu Besuki, yaitu Sukowono, LMOD, Djelbuk, dan Sukokerto Ajung. Produknya berupa tembakau bahan cerutu diekspor ke Eropa, dengan nama tembakau Besuki Naoogst (Besuki NO). Pada masa selanjutnya LMOD di bawah pengelolaan keluarga Birnie makin berkembang menjadi yang terbesar. Pada masa Perang Dunia II Indonesia diduduki Jepang yang merupakan musuh negara-negara Eropa. Kegiatan tembakau berhenti, diganti tanaman pangan. Pada pasca kemerdekaan perkebunan Belanda a.l. LMOD bekerja kembali, tetapi pada tahun 1958 diambil alih menjadi Perkebunan Negara. Perkebunan negara itu sekarang bernama PT Perkebunan Nusantara X.
5

SEJARAH TEMBAKAU (5)


PENGUSAHAAN TEMBAKAU DALAM SKALA PERKEBUNAN (2) Pengusahaan tembakau untuk ekspor di Jawa Tengah dirintis oleh Mendez da Costa tahun 1858 di desa Jetis, Klaten. Percobaan itu berhasil sehingga penanaman meluas sampai desa-desa lain seperti Kebon Arum dan Wedi-Birit. Tembakau cerutu yang diusahakan di daerah Klaten itu selanjutnya dikenal dalam perdagangan internasional dengan nama tembakau Vorstenland. Pengusahaan tembakau untuk ekspor di Sumatera Utara (Deli) dirintis oleh J. Nienhuys pada tahun 1863. Kondisi cuaca di Deli yang kelembapannya tinggi dan banyak awan menghasilkan bahan pembalut cerutu yang kualitasnya prima, paling baik di dunia. Tembakau ini di pasar internasional dikenal dengan nama tembakau Sumatera. Mengingat bahwa tembakau Sumatera menghasilkan kualitas yang prima, di beberapa negara a.l. USA (Connecticut) dilakukan penanaman tembakau Sumatera, tetapi ternyata hasilnya tidak memuaskan. Untuk mendekati pada kondisi cuaca di Deli, penanaman di Connecticut dilakukan di bawah naungan waring plastik. Meskipun dalam hal ketipisan daun dan ukuran daun dapat disamai, tetapi dalam hal rasa masih kalah dengan tembakau Deli. Kini di Brazil dan Kolombia juga ditanam jenis tembakau Sumatera di bawah naungan. 6

SEJARAH TEMBAKAU (6)


PENGUSAHAAN TEMBAKAU VIRGINIA Tembakau Virginia mulai diusahakan di Indonesia sejak tahun 1928 di Bojonegoro oleh PT BAT (British American Tobacco).Tembakau ini merupakan bahan baku rokok putih, dan sebagian untuk campuran rokok kretek. Karena PT BAT merupakan perusahaan multi nasional, maka sebagai bahan tanam didatangkan varietas tembakau Virginia dari Amerika Serikat. Tembakau Virginia hampir seluruhnya merupakan tanaman petani, baik yang bermitra dengan fabrikan maupun petani bebas. Selanjutnya penanaman Virginia meluas di berbagai tempat di Jawa, a.l. di Bondowoso, DIY, dan di daerah Sala. Pada awal tahun 1970 mulai dikembangkan di luar Jawa, yaitu di Bali, Lombok, dan Sulawesi Selatan. Dewasa ini Lombok merupakan daerah utama penghasil tembakau Virginia. Perusahaan yang berkiprah di Lombok yaitu PT BAT, Philip Morris, PT H.M. Sampurna, Sadhana Arif Nusa.
7

ARTI EKONOMI TEMBAKAU


1. SUMBER PENDAPATAN - Cukai tembakau selama setahun pada tahun 2008 : Rp 42 trilyun, 75% dari jumlah tsb. atau Rp 31,5 dihasilkan dari Jawa Timur. Cukai tahun 2010 sudah lebih dari Rp 50 trilyun, tahun 2011 mencapai Rp 77 trilyun. - Produksi rokok tahun 2005 mencapai nilai > Rp 50 trilyun. - Nilai ekspor tembakau Indonesia tahun 2005 US $ 111,8 juta atau + Rp 1 trilyun, dan tahun 2010 US $ 192,5 juta atau + Rp 1,70 trilyun. 2. PENYERAPAN TENAGA KERJA - Dengan luas areal 232.000 ha untuk seluruh Indonesia jumlah tenaga kerja yang terserap di lapangan + 928.000 orang, sedangkan industri rokok menyerap +239.000 orang. Hal ini belum terhitung dengan tenaga kerja di gudang fermentasi dan sortasi tembakau cerutu. 3. DAMPAK TERHADAP SEKTOR PEREKONOMIAN LAIN - Dalam sektor formal berdampak positif terhadap perbankan, transportasi, periklanan, industri kertas, telekomunikasi,, perusahaan penghasil saprodi, industri kertas dan percetakan. Dalam sektor non formal melibatkan banyak pedagang perantara, pengrajin bahan/sarana produksi, pedagang eceran dan warung makan..

PERAN TEMBAKAU DALAM PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN


Tembakau banyak dipakai sebagai model dalam penelitian ilmiah yang berhasil mengungkapkan hal-hal baru yang bermanfaat. Dalam bidang kesehatan penemuan virus yang pertama terjadi akibat penelitian intensif terhadap penyebab penyakit mosaik tembakau. Mayer meneliti sejak tahun 1880, Iwanowski (1892) menemukan penyebab penyakit mosaik dapat lolos saringan bakteri, Beijerinck (1898) memperkuat hasil pendahulunya dan menyebut penyebab penyakit sebagai contagium vivum fluidum yang berarti jasat hidup cair penular penyakit, dan kemudian disebut Virus, yang berarti racun. Stanley (1935) berhasil mengkristalkan virus mosaik tembakau (TMV), dan virus tetap aktif. Baru kemudian diketahui bahwa penyakit manusia ada yang disebabkan oleh virus. Dalam fisiologi tanaman Garner & Allard (1920) menggunakan tembakau untuk mengungkap fotoperiodisitas, yaitu bahwa lama penyinaran merupakan faktor penentu pembungaan. Dalam penelitian tentang kultur jaringan, tanaman tembakau sering digunakan. Di Balai Penelitian Karet Malaysia (RRIM) tembakau dipakai sebagai bahan studi.
9

KENDALA YANG DIHADAPI PENGUSAHAAN TEMBAKAU (1)


1. KAMPANYE ANTI TEMBAKAU. Kalangan medis dan beberapa LSM makin gencar meningkatkan kampanye negatif terhadap tembakau. Dalam PP No. 81/1999 kadar nikotin rokok dibatasi maksimum 1,5 mg dan tar (polinuklir hidrokarbon aromatika) 20 mg. Yang memenuhi hanya rokok putih, sedangkan rokok kretek hanya Sampurna A Mild filter. Sementara itu rokok dari LN yang masuk a.l. dari Korea kadarnya sangat rendah. Akhirnya atas keberatan berbagai fihak PP itu diganti dengan PP No. 19/2003 yang hanya wajib mencantumkan kandungan kedua zat kimia itu tanpa batas maksimum. WHO pada tahun 2003 mengeluarkan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) dan menghimbau negara-negara anggotanya meratifikasi konvensi pengendalian tembakau tersebut. Dengan cara itu WHO bermaksud terus menerus mengurangi penggunaan tembakau, a.l. melalui pelarangan iklan rokok dan pembebanan pajak (cukai) yang tinggi terhadap rokok. 2. CUKAI YANG MAKIN MENINGKAT. Pemerintah melalui Menteri Keuangan mengharapkan peningkatan sumber pendapatan negara, a.l. dari cukai dan pajak. Tarif cukai dari waktu ke waktu meningkat, sehingga dirasa memberatkan produsen rokok.

10

KENDALA YANG DIHADAPI PENGUSAHAAN TEMBAKAU (2)


3. PERUBAHAN SELERA KONSUMEN TEMBAKAU. Tembakau cerutu terkendala perubahan selera konsumen di luar negeri yang makin ketat memilih produk. Perubahan dari cerutu besar ke cerutu kecil mengurangi kebutuhan bahan. Pembatasan kandungan zat berbahaya mulai dimasalahkan, a.l. residu pestisida dibatasi ketat, tiap negara mempunyai ketentuan sendiri. Juga kandungan TSNA (Tobacco Specific Nitrosamine) yang makin tinggi bila pemupukan N makin berat dapat menjadi kendala, demikian pula B(A)P (Benzo A Pyrene) yang terdapat dalam asap bahan bakar, residunya dibatasi. 4. BIAYA YANG MAKIN MENINGKAT. Biaya produksi selalu meningkat karena meningkatnya harga sarana produksi dan UMR, sementara itu harga pembelian tembakau relatif tetap. 5. PERMODALAN. Petani mengalami kesulitan untuk mendapatkan pinjaman dari Bank. Pengalaman pahit Bank pada masa KMKP di Jember yaitu tunggakan kredit dari tahun 1978 s/d 1983 sebesar Rp 5,2 milyar menjadi alasan kekhawatiran fihak Bank untuk menyalurkan kreditnya.
11

KENDALA YANG DIHADAPI PENGUSAHAAN TEMBAKAU (3)


6. LAHAN CENDERUNG MAKIN MENURUN KESUBURANNYA. Erosi yang melarutkan lapisan tanah atas yang subur terus menerus terjadi. Lahan di kawasan yang dulu potensial di daerah tradisional sekarang menurun. Pertanaman tembakau Besuki NO banyak bergeser ke wilayah selatan, tetapi di berbagai tempat ada kendala kandungan Cl (khlor) dalam tanah yang terlalu tinggi, yang berpengaruh negatif terhadap daya bakar tembakau. 7. KEPEMILIKAN LAHAN YANG SEMPIT. Umumnya lahan tembakau milik petani luasnya rata-rata 0,35 ha. Sewa lahan biayanya makin meningkat, dapat mencapai Rp 10 juta/ha di Jember Selatan. Jumlah petani yang terlibat dalam penanaman tembakau sangat banyak. Di Jember diperkirakan sekitar 30.000 orang. 8. PENYIMPANGAN CUACA. Cuaca sangat mempengaruhi keberhasilan tembakau baik dalam kuantitas maupun kualitasnya. Banyak kasus kegagalan terutama pada petani akibat penyimpangan cuaca, baik terlalu basah maupun terlalu kering 9. SUMBER DAYA MANUSIA. Terbatasnya jumlah penyuluh tembakau yang handal menyulitkan sosialisasi masalah teknis dan non teknis ke petani.
12

BERMACAM-MACAM TIPE TEMBAKAU (1)


Klasifikasi tipe tembakau umumnya didasarkan atas cara pengeringannya. Selama proses pengeringan selain terjadi penguapan air juga terjadi perubahan kimiawi yang mematangkan, karena itu disebut Curing dan bukan Drying.

1. AIR CURING (Pengeringan Udara) Daun tembakau dikeringkan di bangsal dengan udara yang mengalir secara alamiah. Pengeringan relatif lama, sekitar 2 minggu sampai satu bulan. Bila kelembaban dalam bangsal terlalu tinggi, terutama di malam hari, terpaksa digunakan pemanasan agar terjadi aliran udara akibat perbedaan berat jenis udara. Gerakan udara akan menyingkirkan uap air dari daun tembakau. Termasuk kelompok ini yaitu tembakau cerutu yang disebut Dark Air Cured, dan tembakau Burley yang disebut Light Air Cured.
2. SUN CURING (Pengeringan Sinar Matahari) Daun tembakau dikeringkan dengan menjemur di sinar matahari. Tembakau Oriental di Turki termasuk yang terpenting dari kelompok ini. Tembakau berdaun kecil-kecil ditanam di tanah gersang di daerah kering, Aroma berasal dari minyak eteris menonjol, sehingga dipakai sebagai bahan campuran (blending) sigaret. Di Indonesia tembakau Kasturi masuk juga dalam grup ini
13

BERMACAM-MACAM TIPE TEMBAKAU (2)


Tembakau rajangan juga termasuk yang dikeringkan dengan dijemur. Sebelum dijemur disimpan dahulu sampai warna daun menguning, selanjutnya dijemur selama + 2 hari sampai kering.

3. FLUE CURING (Pengeringan dengan Pipa Pemanas) Daun tembakau dikeringkan dalam gudang pengering (omprongan) dengan pemanasan udara melalui pipa-pipa pemanas (flue). Panas yang dipancarkan dari pipa memanasi udara di sekitar daun tembakau yang dikeringkan. Tungku dengan bahan bakar kayu, solar, atau batubara dibangun di luar gudang, panas mengalir lewat pipa. Tembakau Virginia termasuk kelompok ini, kegunaan untuk sigaret putih. Pengeringan berlangsung sekitar 5 hari. Tembakau disebut sebagai Flue Cured. Daerah utama tembakau Virginia di Indonesia yaitu di Lombok (NTB).

4. FIRE CURING (Pengeringan dengan Api) Daun tembakau dikeringkan dalam bangsal yang diberi pengapian langsung, dengan membakar kayu. Asap yang keluar dari kayu yang dibakar diserap daun yang dikeringkan, warna tembakau menjadi gelap dengan rasa yang berat. Tembakau Boyolali asepan termasuk kelompok ini. Di luar negeri a.l. diusahakan di Malawi (Afrika).
14

BERMACAM-MACAM TIPE TEMBAKAU (3)


BERDASAR KEGUNAAN DIBEDAKAN ATAS : 1. TEMBAKAU CERUTU. Tembakau bahan pembuatan cerutu dibedakan atas : a. Bahan pembalut (Dekblad = Wrapper). Merupakan bagian cerutu yang terluar dan termahal, membutuhkan syarat mutu yang tinggi a.l. warna cerah dan rata, bebas dari cacat fisik, tipis, elastis, urat daun halus, panjang dan lebar cukup, daya bakar baik, aroma dan rasa netral. Tembakau Deli dan Tembakau Bawah Naungan (TBN) merupakan penghasil bahan pembalut. b. Bahan pembungkus (Omblad = Binder). Merupakan bagian di bawah pembalut yang membungkus isi, persyaratan lebih lunak daripada pembalut, tetapi ukuran panjang dan lebar juga diperlukan, demikian pula daya bakar. Sekarang pembungkus sering diganti HTL (Homogenized Tobacco Leaf) yaitu kertas terbuat dari hancuran tembakau. c. Bahan isi (Filler). Merupakan bagian paling dalam cerutu, terutama perlu aroma dan rasa yang baik, demikian pula daya bakar. Untuk ini dibutuhkan daun yang tebal, umumnya daun-daun di bagian atas cocok untuk bahan isi. Dengan adanya perubahan selera dari cerutu besar ke cerutu kecil, relatif kebutuhan filler sekarang menjadi berkurang. 15

BERMACAM-MACAM TIPE TEMBAKAU (4)


2. TEMBAKAU SIGARET. Tembakau bahan pembuatan sigaret dibedakan atas : a. Sigaret Putih. Merupakan sigaret atau rokok yang isinya melulu terdiri atas tembakau. Bahan pokok rokok putih adalah tembakau Virginia, dan sebagai campuran yaitu tembakau Burley dan tembakau Oriental. b. Sigaret Kretek. Merupakan sigaret yang bahan isinya kecuali tembakau juga digunakan cengkeh. Berat cengkeh yang digunakan dalam rokok dapat mencapai 40%. Tembakau yang digunakan merupakan campuran berbagai macam tembakau lokal seperti tembakau Madura, Temanggung, Paiton, Kasturi, dll. Disamping itu juga digunakan tembakau Virginia dan tembakau Burley. Pangsa pasar sigaret kretek di Indonesia mencapai + 90%, sisanya rokok putih. Sigaret kretek dibedakan menjadi dua kelompok :

1). Sigaret Kretek Tangan (SKT). Pembuatannya menggunakan tenaga kerja secara manual. Ini menyerap banyak tenaga kerja, sehingga pemerintah memungut cukai dengan persentase yang relatif rendah. 2). Sigaret Kretek Mesin (SKM). Pembuatannya menggunakan mesin sehingga jumlah tenaga kerja yang terserap relatif sedikit. Pemerintah memungut persentase cukai yang lebih besar daripada SKT. 16

BERMACAM-MACAM TIPE TEMBAKAU (5)

3. TEMBAKAU PIPA. Tembakau pipa perlu mempunyai daya isi (filling power) yang besar, sehingga sedikit tembakau cukup untuk mengisi lubang pipa. Di Indonesia dihasilkan dari tembakau VO Lumajang. Tembakau VO Lumajang justru menghendaki banyak bercak patik putih akibat infeksi Cercospora nicotianae, yang pada tembakau cerutu dihindari. Perkembangan tembakau VO Lumajang terkendala sedikitnya konsumen.

4. TEMBAKAU KUNYAHAN (Chewing tobacco). Tembakau ini dikonsumsi dengan dikunyah, tidak dibakar, sehingga di luar negeri dapat dikonsumsi di tempat dimana merokok dilarang. Tembakau berbentuk seperti permen. Di Indonesia generasi tua dahulu juga mengunyah tembakau dalam bentuk susur. Tembakau yang digunakan adalah tembakau lokal.

17

BERMACAM-MACAM TIPE TEMBAKAU (6)


TEMBAKAU DI DAERAH JEMBER 1. TEMBAKAU Na-oogst (NO). Tembakau Besuki NO ditanam di sawah sesudah musim padi, dan dipanen pada awal musim hujan. Tembakau digunakan sebagai bahan cerutu, hampir semuanya diekspor ke Eropa, Amerika, dan Afrika. Sekarang tembakau Besuki NO dibedakan dalam dua macam sbb. : a. Tembakau Besuki NO Tanaman Awal (Besnota). Tembakau ini ditanam di daerah Jember Selatan meliputi Ambulu, Wuluhan, Balung, dan Puger. Tembakau ditanam pada bulan Mei - Juni dan dipanen bulan Juli - Agustus. Bila produknya baik dapat menghasilkan bahan pembalut cerutu yang warnanya cerah, tipis, dan panjang. Sebagai bahan filler tembakau ini masih kalah dengan tembakau NO tradisional di daerah Jember Utara. b. Tembakau Besuki NO Tradisional. Tembakau ini ditanam di sekitar kota Jember, ke selatan sampai Ajung yang merupakan daerah penanaman sejak jaman penjajahan Belanda. Tembakau umumnya ditanam pada akhir Juli - Agustus dan dipanen bulan Oktober - November saat permulaan musim hujan. Tembakau digunakan sebagai bahan pembungkus dan isi cerutu yang rasa dan aromanya baik.
18

BERMACAM-MACAM TIPE TEMBAKAU (7)


2. TEMBAKAU Voor-oogst (VO). Tembakau Besuki VO ditanam sekitar bulan Mei - Juni dan dipanen bulan Juli Agustus, saat kondisi cuaca kering. Tembakau ini perlu sinar matahari untuk pengeringannya. Hujan yang turun saat panen merusak kualitas tembakau. Jenis tembakau VO terdiri atas tembakau Kasturi dan tembakau rajangan. Tembakau ini perlu daun yang relatif tebal, dan kadar nikotin relatif tinggi. Karena itu dipangkas pucuk agar daun tersisa lebih tebal sehingga mengandung bahan kimia yang lebih banyak (termasuk nikotin). Kegunaan untuk rokok kretek yang diproduksi pabrik rokok dalam negeri. Kecuali itu tembakau Kasturi juga diekspor ke luar negeri, Tembakau yang diekspor adalah yang kualitasnya relatif rendah a.l. karena terlalu tipis. 3. TEMBAKAU BAWAH NAUNGAN (TBN). Tembakau ini merupakan jenis tembakau cerutu yang ditanam di bawah naungan waring dengan tujuan mengurangi sinar matahari menjadi + 70% (sebagai pengganti efek awan), menaikkan kelembaban relatif, dan menghalangi masuknya hama perusak daun. Teknologi ini diintroduksi dari Connecticut (USA) pada tahun 1984 untuk menaikkan persentase bahan pembalut. Dengan cara ini hasil bahan pembalut dapat mencapai 70% atau lebih, yang pada cara konvensional hanya sekitar 25%.
19

PERANAN IKLIM TERHADAP TEMBAKAU


1. SUHU. Suhu optimum + 18 - 27C, tembakau masak petik umur + 50 - 60 hari. Pada suhu rendah pertumbuhan lambat, masak umur 90 hari ke atas. 2. KELEMBABAN NISBI. Kelembaban yang rendah menyebabkan daun tebal untuk mengurangi transpirasi. Kelembaban yang tinggi menyebabkan daun tipis, cocok untuk pembalut cerutu. 3. PENYINARAN. Penyinaran yang intensif meningkatkan berat kering dan kadar gula, yang penting untuk tembakau sigaret. Penyinaran yang kurang karena adanya awan merangsang pertumbuhan daun ke arah tipis dan luas, yang penting untuk bahan pembalut cerutu. Maka TBN ditanam di bawah waring dengan intensitas penyinaran 70%. Umumnya pembungaan tembakau di Indonesia tidak terpengaruh panjang hari. 4. CURAH HUJAN. Penting untuk memenuhi kebutuhan air tanaman, dan mengurangi dampak panas terhadap pertumbuhan daun. Tembakau cerutu perlu hujan menjelang petik untuk kualitas yang baik. Tembakau sigaret (Virginia, Kasturi, Rajangan) justru butuh cuaca kering menjelang panen. Pada cuaca basah perlu diwaspadai penyakit jamur, bakteri, dan kelebihan air (lengger), pada cuaca kering perlu diwaspadai penyakit virus yang ditularkan kutu seperti penyakit krupuk dan mosaik ketimun (CMV= Cucumber Mosaic Virus).
20

PERANAN TANAH TERHADAP TEMBAKAU


1. SIFAT FISIK TANAH. Tembakau membutuhkan tanah yang mudah meluluskan air sehingga tersedia udara yang cukup di dalam tanah. Tanah perlu mempunyai daya menahan air (water holding capacity) yang cukup. Tersedianya bahan organik yang cukup sangat dikehendaki untuk pertumbuhan akar yang luas. Lapisan padas yang dangkal kurang sesuai karena sulit ditembus akar. Permukaan air tanah (PAT) yang dangkal kurang baik, dapat menyebabkan daya bakar tembakau yang kurang baik. Tanah ringan umumnya sesuai untuk tembakau Virginia dan tembakau cerutu penghasil pembalut dan pembungkus. Tanah yang lebih berat sesuai untuk tembakau penghasil filler. 2. SIFAT KIMIA TANAH. Kandungan unsur hara makro (N, P, K, Ca, Mg) yang cukup diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Defisiensi unsur hara mobil (N,P, K, Mg) terlihat pada daun-daun bawah, sedangkan defisiensi Ca terlihat pada daun atas yang tumbuhnya terhambat. Nilai pH tanah yang sesuai berkisar antara 5 - 6. Unsur hara yang paling diwaspadai yaitu Cl, karena berpengaruh negatif terhadap daya bakar. Tanah dengan kandungan Cl > 40 ppm berisiko menghasilkan tembakau yang daya bakarnya kurang baik. Pengaruh negatif Cl dapat diimbangi oleh kadar K yang tinggi, yang berpengaruh positif terhadap daya bakar.
21

SAPTA USAHA INTENSIFIKASI TEMBAKAU


1. Benih Varietas Unggul. 2. Pengolahan lahan sesuai dengan baku teknis. 3, Pengaturan air dan waktu tanam yang tepat.

4. Penggunaan pupuk tepat dosis, jenis, waktu, dan cara.


5. Perlindungan tanaman terhadap hama, penyakit, dan gulma.

6. Pemungutan hasil berdasar tingkat kemasakan dan letak daun.


7. Pengolahan hasil dari daun basah menjadi krosok.
22

BENIH TEMBAKAU
- Untuk tembakau yang diekspor, benih varietas hasil rekayasa genetik (transgenik) atau GMO (Genetic Modified Organism) ditolak konsumen. - Benih yang mendapat sertifikat dari lembaga berwenang lebih disukai oleh pembeli luar negeri. Untuk tembakau Besuki NO sertifikasi oleh Lembaga Tembakau. - Benih diseleksi berdasar beratnya, makin berat cadangan makanan lebih banyak. Dalam benih yang normal tiap gram berisi + 12.000 butir. - Benih yang baik daya kecambahnya minimum 80% setelah 5 hari perkecambahan. - Benih yang lembab mudah ditumbuhi jamur seperti Alternaria sp. dan Cercospora nicotianae. Benih juga disukai oleh kumbang Lasioderma serricorne. - Benih yang sudah disimpan > 1 tahun bebas patogen benih yang menginfeksi pada saat panen. - Benih yang disimpan dalam keadaan kering (kadar air maks 7%) dapat tahan bertahun-tahun. - Benih tembakau tidak menularkan penyakit-penyakit virus, berbeda dengan benih lombok yang dapat menularkan TMV (virus mosaik tembakau) 23

PEMBIBITAN TEMBAKAU
1. SISTEM KONVENSIONAL Bibit ditanam di tanah bedengan, setelah berumur + 40 hari, bibit dipindah ke pertanaman dengan cara dicabut. Kelemahannya : akar sebagian putus, sehingga menghambat pertumbuhan awal di lapangan. Volume akar kurang besar (perakaran kurang luas). 2. SISTEM INKONVENSIONAL Bibit ditanam pada media tanam(campuran tanah dengan kompos) yang dikemas dalam polibag atau nampan plastik (seed tray). Perakaran berkembang baik, setelah + 35 - 40 hari sudah dapat dipindah ke pertanaman. Pada saat pemindahan akar tidak terputus, sehingga tidak mengalami hambatan pertumbuhan. Volume akar relatif besar, perakaran lebih luas sehingga penyerapan hara lebih intensif.
24

PEMBIBITAN TEMBAKAU
PELAKSANAAN PEMBIBITAN Pemupukan. Dilakukan 3 hari sebelum penyebaran benih (H -3). Unsur hara yang perlu ditambahkan N dan P. Bila dipakai Ammophos 16.20 dosisnya 25 g/m2. Dapat juga campuran SP 36 (10-20 g/m2) dengan ZA (10-20 g/m2). Dosis dapat bervariasi tergantung kesuburan tanah. Penyebaran benih. Kebutuhan benih + 0.1 g/m2 bedengan. Benih dikecambahkan pada kain basah. Setelah 3 hari benih mulai berkecambah, lalu disebarkan di bedengan. Kebutuhan benih untuk tiap ha pertanaman +10 gram. Untuk menghindari semut bedengan disemprot dengan pestisida. Penyiraman. Setelah benih disebar tanah dijaga tetap basah dengan penyiraman. Penyiraman juga berfungsi meningkatkan kelembaban udara dan menurunkan suhu tanah. Frekuensi penyiraman tergantung pertumbuhan bibit. Waktu bibit masih kecil tanah dijaga tetap basah. Makin besar bibit kebutuhan air meningkat, tetapi menjelang pemindahan bibit penyiraman dikurangi untuk menguatkan bibit (hardening). Tujuan hardening untuk menyiapkan bibit dengan kondisi kering nantinya di pertanaman.
25

BEDENGAN PADA TEMBAKAU DELI

PEMILIHAN LAHAN UNTUK PERTANAMAN


BEBERAPA FAKTOR YANG PERLU DIPERTIMBANGKAN :
1. KESEHATAN TANAH . Sebaiknya lahan bebas patogen tular tanah seperti Phytophthora nicotianae, Erwinia carotovora atau Ralstonia solanacearum. 2. PERMUKAAN AIR TANAH. Sebaiknya permukaan air tanah tidak terlalu tinggi, karena kurang O2 sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman. Daya bakar kurang baik karena air membawa ion Cl yang menghambat daya bakar. 3. LAPISAN PADAS. Padas yang dangkal tidak baik, sebab akar kurang berkembang, bila hujan lebat tanaman layu, bila angin kencang dapat tumbang. 4. KEMIRINGAN TANAH. Hal ini berpengaruh terhadap irigasi dan drainasi, mekanisasi pengolahan tanah, ketersediaan air, dan erosi. Sebaiknya kemiringan lahan tidak lebih daripada 8%. 5. TEKSTUR DAN STRUKTUR TANAH. Tanah pasir dan tanah liat (clay) kurang baik, yang baik lempung berpasir - lempung berdebu dan berstruktur remah. Untuk daun pembalut yang baik pada tanah ringan, untuk bahan isi (filler) tanah sedang - berat.

27

PENGOLAHAN LAHAN PERTANAMAN

Tembakau Besuki NO ditanam sesudah panen padi. Kondisi fisik tanah yang mampat dan kurang udara (oksigen) tidak cocok untuk tembakau. Lahan bekas padi perlu diolah dalam waktu yang cukup untuk : - Membuang senyawa beracun dengan oksidasi. - Memutus kapiler air dalam tanah, sehingga mencegah mengeringnya tanah. - Mencegah naiknya chlor (Cl) yang terbawa oleh air yang bergerak ke atas. Chlor berpengaruh jelek pada daya bakar dan aroma tembakau.

28

PEMBUATAN GOT (SALURAN AIR)


Tanaman tembakau tidak tahan kelebihan air. Untuk kepentingan drainasi perlu dibuat got keliling dan got kecil (got cacing). Got kecil juga berfungsi untuk mengairi tanaman bila kondisi tanah kering. Jarak antar got kecil umumnya + 10 m, lebar + 20 cm, dan dalam + 30 cm. Got besar yang dibuat sesuai dengan miringnya tanah berjarak tiap + 50 m. Ukuran got 40 X 40 cm sampai 50 X 50 cm. Got dapat berfungsi menurunkan permukaan air tanah (PAT).

29

PENANAMAN
DUA MACAM TATA TANAM : 1. TUNGGAL. Tanaman ditanam pada larikan tunggal. Umumnya dilaksanakan pada tanah berat, untuk memperlancar drainasi. Kedua sisi tanaman pertumbuhannya sama. Umumnya jarak tanam 45 - 50 cm dalam baris tanaman, dan 90 - 100 cm antar baris tanaman. 2. RANGKAP. Tanaman ditanam pada guludan yang tiap unitnya terdiri atas dua baris (larik) tanaman. Umumnya digunakan pada tanah ringan. Daun-daun cenderung tipis, terutama yang tumbuh di bagian dalam barisan (larikan). Umumnya jarak tanam antar larikan di dalam satu guludan 50 60 cm, jarak tanam dalam larikan 45 cm, sedang jarak antar guludan 90 110 cm. Dengan demikian jarak tanam menjadi 45 x 50 x 90 cm atau 50 x 60 x 100cm. Jumlah tanaman tiap ha lebih banyak pada tata tanam rangkap.

30

PERTANAMAN PADA TEMBAKAU DELI

PENGAIRAN DI PERTANAMAN
Untuk menghasilkan daun yang relatif tipis dan lebar sesuai dengan kegunaannya tanaman tembakau membutuhkan air yang cukup. Pada saat awal penanaman tanaman diairi dengan cara menyiram pada tiap hari sampai tidak menunjukkan gejala layu (kira-kira seminggu), sesudah itu dibiarkan kering, tidak disiram. Tanaman baru diairi lagi pada umur + sebulan. Tanaman yang sudah butuh air pada siang hari mulai layu, yang menunjukkan neraca air mulai minus. Dalam pengairan diusahakan kadar air di zone akar sedalam + 20 - 30 cm mencapai kapasitas lapangan. Air pengairan sebaiknya dipilih yang tidak mengandung Cl > 25 ppm. Kebutuhan air tergantung fase pertumbuhan tanaman dan sifat fisik tanah. Tanah berpasir lebih cepat menyerap air daripada tanah berat, tetapi daya menahan air lebih rendah. Tanah itu membutuhkan pengairan lebih sering, tetapi jumlah yang diberikan tiap kali < daripada tanah berat. Kebutuhan air tanaman tembakau secara kasar sekitar 90 - 100 mm tiap bulan.

32

PERTANAMAN TEMBAKAU SIAP DIAIRI

PEMELIHARAAN TANAH
Tanah di sekitar tanaman perlu diolah untuk : Menggemburkan tanah dan memudahkan aerasi. Memutus kapiler tanah untuk mengurangi penguapan air. Merangsang pembentukan akar baru. Mematikan gulma. Memudahkan drainasi tanah sesudah turun hujan lebat.

Pengguludan ke 1 dilakukan sejak tanaman umur sekitar 10 hari. Pengguludan kedua dan selanjutnya dilakukan selang 15 hari. Umumnya pengguludan dilakukan sebanyak tiga kali. Tanaman berdiri di atas guludan. Lembah di antara larikan tanaman itu dimanfaatkan sebagai saluran air waktu mengairi (menorap). Oleh petani juga digunakan untuk menaburkan pupuk urea, yang kemudian diairi. Menurut petani hal ini dilakukan untuk menghemat biaya tenaga kerja. Tetapi risikonya sebagian pupuk terbuang bersama aliran air, bahkan kadang-kadang kalau dosis pupuk berlebihan dapat meracun tanaman (karena urea mengandung biuret).
34

TUJUAN PEMUPUKAN PADA TEMBAKAU


1. MENINGKATKAN HASIL TEMBAKAU TIAP HA 2. MENINGKATKAN KUALITAS TEMBAKAU

Karena produksi berupa daun, pupuk yang paling penting adalah pupuk nitrogen (N). Pada tembakau cerutu kecuali unsur N unsur hara lain yang banyak diserap tanaman yaitu unsur-unsur K dan Ca. Unsur K diperlukan untuk daya bakar dan keteguhan abu, Ca untuk elastisitas dan putihnya abu. Abu yang putih mencerminkan pembakaran yang baik. Defisiensi N, P, dan K terlihat pada daun bawah, karena unsur-unsur itu termasuk unsur hara yang mobil. Defisiensi Ca terlihat pada daun atas yang ujungnya melengkung dan pertumbuhannya terhambat (Unsur hara yang tidak mobil). Tembakau sigaret perlu unsur P untuk memperoleh kadar gula yang lebih tinggi. Kadar gula merupakan unsur kualitas utama pada tembakau sigaret.
35

PUPUK UNTUK TEMBAKAU (1)


Tanaman tembakau produksinya dalam bentuk daun, karena itu perlu pupuk nitrogen (N). Tanaman tembakau menyukai pupuk nitrat. Pupuk nitrat mudah larut dalam air dan mudah diserap akar. Merupakan pupuk utama tembakau cerutu. Pupuk kalsium nitrat (kalksalpeter =KS) mengandung unsur kalsium (Ca) yang penting untuk elastisitas tembakau. Pupuk urea hanya mengandung nitrogen saja. Pada dosis tinggi dapat meracun karena kandungan biuret. Pupuk urea dengan dosis tinggi dapat menyebabkan kandungan TSNA (Tobacco Specific Nitrosamine) yang tinggi. TSNA dapat menyebabkan kanker sehingga pembeli tembakau di luar negeri tidak menghendakinya.

36

PUPUK UNTUK TEMBAKAU (2)


Pupuk kalsium nitrat (KS) di pasaran dijual dengan nama dagang KS cap Pak Tani dan Hidro-Karate. Kandungan N kedua pupuk itu sama (+ 15%). Kedua pupuk tersebut di atas sama-sama dapat dipakai. Pupuk urea dipakai sebagai starter, untuk mempercepat pertumbuhan awal. Dosis pupuk tergantung kondisi tanah, umumnya 100 kg urea dan 300 kg KS per ha. Di lahan yang tembakaunya memunyai daya bakar yang kurang baik dapat ditambah kalium nitrat (KNO3) 100 kg per ha. Unsur kalium memperbaiki daya bakar Tanaman padi sebelum tembakau sebaiknya tidak dipupuk dengan KCL atau Phonska (yang mengandung KCL) agar daya bakar tembakaunya baik.

37

PUPUK UREA UNTUK TEMBAKAU


KEUNTUNGAN :
Murah dan mudah tersedia (merupakan pupuk bersubsidi buatan dalam negeri). Tidak mempengaruhi kemasaman tanah, berbeda dengan pupuk ZA. Lebih cepat mengalami nitrifikasi daripada pupuk ammonium. Dibanding nitrat lebih tahan pencucian pada kondisi cuaca basah

KELEMAHAN Hanya menambah N, tidak menambah unsur hara yang lain. Bila kelebihan meningkatkan warna hijau (sukar dirombak menjadi kuning atau cokelat saat pengeringan ) Meningkatkan kadar protein, dan meningkatkan persentase tembakau Minyak (cacat pada krosok berupa garis-garis atau noda kehitaman seperti terkena minyak). Kelebihan dosis dapat meracun tanaman karena mengandung biuret.

38

PUPUK AMMONIUM UNTUK TEMBAKAU


KEUNTUNGAN :
Tidak mudah tercuci di dalam tanah. Melepaskan hara N secara perlahan-lahan (tidak cepat habis).

KELEMAHAN :
Lambat tersedia, perlu nitrifikasi terlebih dahulu menjadi nitrat. Dapat mengasamkan tanah karena sulfat, dan dapat berpengaruh negatif terhadap daya bakar. Dapat menghambat penyerapan kalium. Penyerapan berlebihan dapat menyebabkan keracunan tanaman.

39

PUPUK NITRAT UNTUK TEMBAKAU


KEUNTUNGAN : Mudah larut dalam air, cepat dapat diserap akar tanaman. Kecuali N menambah hara lain (sebagai bonus) : Ca dari kalsium nitrat menambah elastisitas daun, warna abu cenderung putih. K dari KNO3 : memperbaiki daya bakar krosok. KELEMAHAN : Pada kondisi basah mudah tercuci (mengalami leaching) di dalam tanah. Merupakan pupuk impor dan tidak disubsidi, sehingga harganya lebih mahal.

40

DAMPAK KELEBIHAN NITROGEN (KARENA PEMUPUKAN DOSIS TINGGI)


Warna daun hijau tua, menyebabkan warna krosok kehijauan. Kadar protein terlalu tinggi : aroma dan rasa jelek. Tembakau lebih higroskopis (mudah menyerap air), sesudah fermentasi pada tembakau cerutu menghasilkan persentase tembakau minyak yang lebih besar. Tembakau minyak yaitu tembakau yang sesudah fermentasi ada bercak atau garis-garis kehitaman, yang terbentuk dari hasil kondensasi antara protein/asam amino dengan polifenol yang menimbulkan warna gelap. Reaksi kondensasi itu butuh air dan enzim PPO (Poliphenol Oksidase). Tembakau minyak tidak disukai konsumen karena rasanya tidak enak.
41

PEMUPUKAN NPK PADA TEMBAKAU


Tembakau sigaret umumnya perlu pupuk NPK karena perlu kadar gula yang relatif tinggi. Dosis pupuk tergantung kondisi tanah dan varietas/jenis tembakau, serta kondisi cuaca (pada cuaca kering dapat ditambah, pada cuaca basah dapat dikurangi). Pada tembakau Virginia di Jawa Timur BALITTAS (BALAI PENELITIAN TANAMAN TEMBAKAU DAN SERAT) menyarankan : Nitrogen : 2 gr/tanaman (+ 10 gr ZA) P2O5 : 4 gr/tanaman (+ 11 gr SP 36) K2O : 2 gr/tanaman (+ 8 gr ZK)

Pada tembakau WHITE BURLEY di Jember : Nitrogen : 12 gr/tanaman P2O5 : 6 - 9 gr/tanaman K2O : 7 - 18 gr/tanaman
42

HAMA DAN PENYAKIT TEMBAKAU


ULAT DAUN (Spodoptera litura) Bersifat polifag, tanaman inang a.l. kedelai, kacang tanah, lombok, kangkung. Telur berkelompok, tiap kelompok 200 - 300 butir telur. Musuh alami : kepik pengisap Rhinocoris fuscipes, tabuhan parasit ulat Brachymeria sp., Helonus sp.

PENGENDALIAN : 1. Mekanis : menangkap/membunuh ulat, mengambil kelompok telur dengan cellotape. 2. Memasang perangkap sex feromon untuk kupu-kupu jantan, untuk memantau populasi dan mengurangi telur yang dibuahi. 3. Menggunakan bioinsektisida : Bacillus thuringiensis (Bt) dengan nama dagang Dipel, virus NPV, dan serbuk biji mimba (SBM) serta ekstrak daun mimba (Azadirachta indica). 4. Memakai insektisida kimia : Decis (deltametrin), atau Buldok (betasiflutrin). Penggunaannya perlu dibatasi agar tidak membunuh musuh alami dan tidak menghasilkan residu yang melebihi ketentuan.

43

ULAT DAUN Spodoptera YANG MATI KARENA DIPERLAKUKAN DENGAN SERBUK BIJI MIMBA (Azadirachta indica)

Kontrol tidak diperlakukan dengan SBM (Hasil penelitian Balittas)


44

ULAT DAUN DIINFEKSI JAMUR Beauveria bassiana

Ulat ditumbuhi miselia jamur dan mati mengeras seperti mumi


45

ULAT PUPUS TEMBAKAU (Helicoverpa spp.)


Ada dua jenis (spesies), yaitu : H. assulta : Menyukai daun, populasi dominan pada stadium vegetatif (sebelum tanaman berbunga). H. armigera : Menyukai bunga, populasinya dominan pada masa pembungaan. Lebih tahan terhadap insektisida daripada H. assulta. Jenis ini lebih menyukai tanaman jagung Bersifat polifag seperti Spodoptera litura. Musuh alami seperti pada Spodoptera litura. Telur diletakkan tersebar di daun / bunga. PENGENDALIAN 1. Mekanis : menangkap ulat untuk dibunuh. 2. Memantau populasi dengan perangkap sex ( feromon). 3. Biopestisida (Bt, NPV, serbuk biji mimba atau yang cair Organeem). 4. Pestisida kimiawi : Decis (deltametrin), Buldok (Betasiflutrin).

46

HAMA ULAT TANAH (Agrotis ipsilon)


Bersifat polifag. Inang a.l. kubis, jagung, kentang, bibit kopi. Ulat hitam kecokelatan, panjang dapat sampai 5 cm. Ulat aktif cari makan malam hari, senang mengerat pangkal batang bibit. Siang hari bersembunyi dalam tanah. Telur diletakkan pada pangkal batang, berkepompong di dalam tanah. Musuh alami : parasit Apanteles rufricus, jamur parasit Botrytis sp. & Metarhizium sp. Jamur berkembang pada cuaca basah.

PENGENDALIAN 1. Penggenangan lahan sebelum tanam membunuh larva & kepompong 2. Mencari ulat di sekitar bibit yg terserang, yg sembunyi dalam tanah. 3. Penyemprotan insektisida menjelang malam, saat ulat keluar.
47

KUTU-KUTU PENGISAP DAUN (Myzus persicae dan Thrips tabaci)


Merupakan jenis kutu polifag yang penting pada tembakau, baik sebagai hama langsung maupun sebagai vektor virus CMV (mosaik ketimun) dan TEV (virus etch). Berkembang baik pada cuaca kering. Kotoran Myzus atau rok-kerok yang berasa manis ditumbuhi jamur jelaga, sehingga daun tembakau menjadi hitam kotor. Thrips mengisap cairan tembakau di sekitar tulang daun sehingga menimbulkan gejala urat putih (white vein) pada krosok. Mempunyai musuh alami, a.l. lalat Syrpid (Ischidion scutellaris), dan kumbang Menochilus sp. PENGENDALIAN 1. Sanitasi : membersihkan gulma di sekitar pertanaman tembakau (radius + 50 m). Gulma itu merupakan tanaman inang hama. 2. Penyemprotan dini dengan insektisida sistemik seperti Confidor (imidakloprid) atau Regent (fipronil) saat populasi di bawah 10 koloni per 20 tanaman.
48

Koloni kutu Myzus persicae pada permukaan bawah daun

Myzus dewasa bersayap

Thrips tabaci yang menyebabkan cacat urat putih pada tembakau krosok
49

PENYAKIT PENTING TANAMAN TEMBAKAU


BAKTERI : 1. Ralstonia solanacearum (layu, atau lendir). 2. Erwinia carotovora (batang berlubang). VIRUS : 1. Mosaik tembakau (TMV). 2. Mosaik ketimun (CMV). 3. Krupuk

JAMUR : 1. Phytophthora nicotianae (lanas = blackshank). 2. Cercospora nicotianae (patik atau tol-tol = spikkel).
50

PENYAKIT LAYU ATAU LENDIR (Ralstonia solanacearum)


ARTI EKONOMI : Pada tembakau Deli (yang ditanam di tanah kering) kerugian rata-rata 25 - 35%. PENYEBAB : bakteri R. solanacearum, yang dahulu disebut Pseudomonas solanacearum. Bakteri bersifat aerob (butuh oksigen), sehingga tidak tahan hidup pada sawah yang diairi. GEJALA : Tanaman layu, awalnya sefihak, setelah parah seluruh daun layu. Berkas pembuluh di bagian sakit berwarna cokelat, bila dipijit keluar lendir putih kotor. TANAMAN INANG : Solanaceae, kacang-kacangan, wijen. PENULARAN : Bakteri bertahan bertahun-tahun dalam tanah tegal, apalagi bila kadar air cukup. Dapat menginfeksi akar lewat luka akar, a.l. akibat gigitan nematoda parasit (Meloydogine sp). Bakteri juga dapat melarutkan dinding sel akar rambut.
51

Gejala layu pada tembakau yang terserang bakteri layu (Ralstonia solanacearum). Layu sefihak merupakan gejala spesifik penyakit ini. Bagian yang sakit bila dipijit keluar lendir

52

PENYAKIT LAYU ATAU LENDIR (Lanjutan)


PENGENDALIAN :
1. ROTASI TANAMAN. Di Deli rotasi 5 tahun sekali, setelah 3 tahun ditanami tebu, lalu tanah diolah, setahun sebelum tanam tembakau ditanami Mimosa invisa yang akarnya mengandung bakteri antagonis. Di Jawa rotasi tanaman dengan padi sawah selama 2 musim, dapat membunuh patogen yang berada di dalam tanah. 2. SANITASI LAHAN. Lahan dibersihkan dari gulma, tanaman sakit dicabut, dibawa keluar areal, setelah kering dibakar. 3. STERILISASI MEDIA BIBITAN. Media disterilkan dengan dijemur di bawah sinar matahari atau dengan uap air panas. 4. PENGENDALIAN HAYATI. Bakteri antagonis yg diisolasi dari akar Mimosa digunakan sebagai biopestisida. Bakteri itu termasuk species Pseudomonas putida. Penyiraman dengan suspensi bakteri pada bibit yang akan ditanam dapat menekan serangan.
53

PENYAKIT BATANG BERLUBANG (HOLLOW STALK)


ARTI EKONOMI : Penyakit ini menimbulkan kerugian pada semua jenis tembakau di Indonesia. PENYEBAB PENYAKIT : Bakteri Erwinia carotovora yg bersifat fakultatif aerob, dapat hidup pada tanah sawah. Bakteri hanya menginfeksi lewat luka pada jaringan tanaman. GEJALA : Tanaman layu mirip layu bakteri atau lanas (lihat gambar). Gejala spesifik empulur kosong, sehingga batang tanaman dapat patah di tengah. Infeksi biasanya lewat luka bekas petikan daun bawah. Jaringan batang di sekitarnya busuk hitam. Daun terinfeksi yang terpetik & disujen di gudang pengering ibu tulang daunnya busuk (busuk gagang), daun rontok dan berbau. PENULARAN : Lewat luka akar, bekas petikan daun di batang, lewat sujen yang tercemar. PENGENDALIAN : Sesudah petik higienis luka dibiarkan kering sebelum digulud. Pada kondisi lembab (rawan infeksi) luka dapat dioles streptomycin sulfat 200-500 ppm. Sujen juga didesinfeksi.
54

GEJALA SERANGAN BAKTERI Erwinia PADA TEMBAKAU

Daun-daun layu, batang busuk hitam, bila dibelah empulurnya kosong. Bila terkena angin batang dapat patah

55

PENYAKIT MOSAIK TEMBAKAU


ARTI EKONOMI : Penyakit menimbulkan kerugian di hampir semua daerah penanaman tembakau. PENYEBAB PENYAKIT : Penyakit disebabkan oleh virus mosaik tembakau (TMV). Virus berbentuk batang dengan poros RNA yang dibungkus protein pelindung. Virus tahan panas, dapat diinaktifkan pada suhu 93 C selama 10 menit. Virus tak tahan pH tinggi. Pada pH > 8,5 protein pelindung rusak dan virus dapat dihancurkan. Konsentrasi terendah yang mampu menginfeksi yaitu 1 ppm (1 mg/l). GEJALA : Daun sakit warnanya belang hijau tua dan hijau muda seperti gambaran mosaik. Daun menyempit, tepi daun menggulung ke bawah. Daun yang terserang adalah daun yg masih muda, yg masih sedang tumbuh. Tanaman terhambat pertumbuhannya. TANAMAN INANG : Solanaceae (lombok, tomat, terong dsb.), gulma ceplukan (Physalis angulata).
56

GEJALA PENYAKIT MOSAIK TEMBAKAU (TMV)

Daun berwarna belang - belang hijau muda dengan hijau tua. Virus menular melalui kontak tangan dengan daun tanaman yang sakit, tidak ditularkan melalui biji
57

PENYAKIT MOSAIK TEMBAKAU


(Lanjutan)
PENULARAN : TMV ditularkan secara mekanis lewat singgungan dengan tangan yang tercemar virus. Sisa tanaman sakit di dalam tanah dapat menularkan virus juga. PENGENDALIAN :

1. Sanitasi . Sisa tanaman dibersihkan, tanaman sakit yang masih muda


dicabut. Sebelum bekerja di kebun tangan dicuci dengan deterjen seperti Rinso, konsentrasi 0,6% untuk merusak protein pelindung virus. Kompleks yg terserang cukup berat tetapi hampir panen diisolasi dengan tanda tali (seperti garis polisi), pemeliharaan ditangani tenaga khusus, untuk mencegah penularan ke pertanaman yg masih sehat.

2. Menanam varietas tahan. Pada tembakau Burley varietas tahan


a.l. Burley 21, Burley 49. Burley 64, Ky 34, Ky 35, Ky 48, Ky 56, Ky 57. Tembakau rajangan belum ada yang tahan. Tembakau Besuki NO yang tahan yaitu H 877 dan H 894 (di Kebun Sukowono dikenal sebagai H 6).
58

PENYAKIT MOSAIK KETIMUN (Cucumber Mosaic Virus = CMV)


PENYEBAB PENYAKIT : Virus Mosaik Ketimun (CMV). Berbeda dengan TMV, CMV di luar tanaman tidak tahan penyimpanan. CMV dapat diinaktifkan pada suhu 60 - 75 C selama 10 menit. Konsentrasi terendah yang masih mampu menginfeksi yaitu 10 ppm. GEJALA : Daun yg sakit berwarna belang tidak teratur, mirip seperti warna kulit ketimun. Daun yg sakit parah menyempit & mengalami distorsi, selanjutnya tanaman terhambat tumbuhnya. Terdapat beberapa strain CMV yg menunjukkan variasi gejala yg berbeda. TANAMAN INANG : Fam. Cucurbitaceae (ketimun, melon, semangka), kubis, pisang, jagung, ceplukan. PENULARAN : Terutama melalui gigitan serangga pengisap cairan daun (Myzus persicae, Aphis gossypii). Juga menular secara mekanis.

59

PENYAKIT MOSAIK KETIMUN


(LANJUTAN) PENGENDALIAN : 1. Sanitasi lingkungan dengan membersihkan gulma inang virus dan serangga vektornya. 2. Mengendalikan serangga vektor dengan insektisida sistemik, a.l. Confidor (berbahan aktif imidakloprid) pada konsentrasi 0,0125-0,02%. Pengendalian dilakukan sejak dini, karena bila terlambat akan terbentuk populasi yg bersayap dari Myzus persicae, yg dapat terbang ke tanaman di sekitarnya.

60

PENYAKIT MOSAIK KETIMUN (CMV)

Tanaman tembakau yang terserang oleh virus mosaik ketimun (CMV = Cucumber Mosaic Virus). Warna belang mirip seperti kulit ketimun, disertai perubahan bentuk.

61

PENYAKIT KRUPUK
PENYEBAB PENYAKIT : Virus krupuk atau Tobacco Leaf Curl Virus (TLCV) GEJALA : Daun berkerut, urat daun menebal, tulang daun melengkung-lengkung, mengesankan seperti krupuk yang digoreng. Di bagian bawah daun ada tonjolan-tonjolan kecil seperti anak daun (Enasi). TANAMAN INANG : Gulma wedusan (Ageratum conyzoides), legetan (Synedrella nodiflora), nyawon (Vernonia cinerea). PENULARAN : Virus hanya ditularkan lewat kutu kebul (Bemisia tabaci), tidak menular lewat benih atau lewat singgungan dengan tanaman sakit. Virus jarang menular dari tembakau ke tembakau, lebih mudah dari gulma ke tembakau. PENGENDALIAN : 1. Sanitasi lingkungan : membersihkan gulma dari lahan sampai sejauh + 20 m dari areal tembakau. Hal ini untuk menghilangkan tempat persembunyian serangga vektornya. 2. Penggunaan insektisida : bilamana populasi vektor sangat banyak, dapat disemprot dengan insektisida sistemik seperti Confidor (imidakloprid), Regent (fipronil) atau Actara (Tiametoksam). 62

PENYAKIT KRUPUK PADA TEMBAKAU

Serangga penular virus krupuk, lalat putih (Bemisia tabaci)

Daun-daun melengkung-lengkung seperti krupuk yang digoreng


63

PENYAKIT LANAS ATAU KOLOT BASAH


PENYEBAB PENYAKIT : Jamur Phytophthora nicotianae. Jamur menghasilkan zoospora yg berbulu cambuk, sehingga dapat bergerak aktif dalam air. Jamur dapat bertahan dalam tanah tegal (soil borne), bersifat aerob (tak tahan penggenangan). GEJALA : Akar membusuk, pangkal batang menghitam. Tanaman layu seperti disiram air panas. Bila pangkal batang dibelah empulurnya bersekat-sekat (tanda spesifik penyakit ini). Pada daun menimbulkan lanas bercak, berupa lingkaran konsentris berwarna cokelat tua berseling cokelat kuning (gelap dan terang). TANAMAN INANG : Familia Solanaceae, seperti tomat, terong, lombok, kentang. PENULARAN : Air hujan & pengairan menyebarkan spora. Tanah basah yg ada patogennya dapat menempel di kaki orang atau ternak, dan menularkan.
64

PENYAKIT LANAS ATAU KOLOT BASAH (Lanjutan)


Luka akar oleh gigitan nematoda parasit memudahkan infeksi. Pupuk kandang yg kurang masak (pemanasan kurang) dapat mengandung spora jamur yg masih aktif. Tanaman sakit menularkan penyakit ke tanaman lainnya. PENGENDALIAN : 1. Varietas tahan. Pada tembakau rajangan varietas Sumoris relatif tahan. Tembakau Virginia yg tahan a.l. DB 101, NC 95, NC 2514, Coker 139, Coker 298, dan Coker 316. DB 101 juga ditanam sebagai tembakau rajangan. 2. Rotasi tanam. Di tanah sawah disarankan rotasi 2 tahun sekali. 3. Sanitasi. Tanaman sakit dicabut & dibakar. Bekas lubang tanam didesinfeksi cara Raciborski (diberi campuran ZA + kapur tohor 1 : 10), disiram air sampai bau amoniak, atau diberi larutan terusi (Cu SO4) 1% (10 g terusi per liter air). 4. Secara hayati. Lubang tanam diberi jamur Trichoderma sp. 5. Kimiawi. Menjelang tanam (H -1) lubang tanam diberi larutan Ridomil 0,3% (bahan aktif metalaxyl, sistemik). 65

Tembakau yang layu karena terserang jamur lanas (Phytophthora nicotianae). Gejala layu seperti disiram air panas. Kiri : tembakau cerutu, tengah : tembakau Burley

Batang tanaman tembakau yang terserang lanas. Bila dibelah empulurnya bersekat

66

SANITASI UNTUK MEMBUANG TANAMAN TEMBAKAU YANG SAKIT

67

PENYAKIT PATIK ATAU TOL-TOL (SPIKKEL)


PENYEBAB PENYAKIT : Jamur Cercospora nicotianae. Jamur tergolong parasit lemah, yg masuk melalui mulut kulit (stomata), terutama pada daun tua yg fisiologis sudah lemah. GEJALA : Daun yg hampir masak menampakkan bercak putih, di tengahnya berwarna hitam karena adanya konidia jamur. Setelah daun kering (krosok) bercak tetap putih, mudah robek. Ada juga yg bercaknya berwarna hitam bila kondisi gudang pengering terlalu lembab. Infeksi yg lambat belum terlihat di daun yg dipanen, tetapi dalam gudang pengering tumbuh jadi bercak hijau (greenspot). TANAMAN INANG : Famili Solanaceae (a.l. terong, cabai, kecubung). PENULARAN : Spora atau konidia disebarkan oleh angin siang hari, terutama bila cuaca lembab. Untuk berkecambah spora perlu tetesan air.
68

GEJALA PENYAKIT PATIK (Cercospora nicotianae) PADA DAUN TEMBAKAU

Daun tembakau masak yang terserang jamur patik. Gambar kanan dilihat pada perbesaran kuat. Bercak patik yang berwarna putih, yang berwarna cokelat terinfeksi oleh jamur Alternaria longipes
69

PENYAKIT PATIK ATAU TOL-TOL


(Lanjutan)
Spora juga dapat menular lewat benih yg baru (kurang dari setahun). Diduga spora bertahan dalam tanah ringan yg berbahan organik. PENGENDALIAN : 1. Sanitasi. Daun bawah yg terinfeksi dibuang (petik higienis), sisa tanaman atau bibit yg sudah tidak terpakai dibinasakan. 2. Benih yg sehat. Dianjurkan petani menggunakan benih yg dihasilkan oleh lembaga yg berwenang. 3. Pemetikan awal. Bila tanda-tanda infeksi akan berat, daun dipetik agak awal, di gudang pengering segera diberi asap. 4. Kimiawi. Penyemprotan dengan fungisida sistemik. Dulu dipakai a.l. karbendazim (Derosal), tiofanat metil (Topsin), benomyl (Benlate) berselang-seling dengan fungisida kontak mankozeb (Dithane M 45) atau propineb (Antracol). Saat sekarang fungisida sistemik karbendazim tidak disukai pembeli luar negeri, sebaiknya diganti Bayleton (Triadimefon).
70

Tabel 1. Daftar fungisida untuk mengendalikan penyakit tembakau


Nama dagang Ridomil 35 SD Previcur N Kasumin 20 AS Dithane M 45 Antracol 70 WP Melody duo 66.8 WP Bayleton 250 EC Anvil 50 EC Score 250 EC Bahan aktif Metalaxil (sistemik) Propamocarb (sistemik) Kasugamicin (sistemik) Mancozeb (kontak) Propineb (kontak) Propineb dan Iprovalicab (sistemik) Triadimefon (sistemik) Heksakonazol (sistemik) Difenokonazol Konsentrasi 2 gr/l air 2 gr/l air 2 cc/l air 2 gr/l air 2 gr/l air 2 gr/l air Penyakit sasaran Lanas (Phytophthora), Pythium Lanas dan Pythium Lanas dan Pythium Patik (Cercospora) dan Bercak cokelat (Alternaria) idem idem Residu max (mg/kg) 2,0 5,0 5,0 5,0

0,5 cc/l air 1 cc/l air 0,5 1 cc/l

idem idem idem

0,5 -

Tabel 2. Daftar bakterisida untuk mengendalikan penyakit tembakau


Nama dagang Agrept 20 WP Bahan aktif Streptomicin sulfat (sistemik) Konsentrasi 1 1,5 gr/l Penyakit sasaran Layu Ralstonia dan Erwinia Residu max (ppm) -

Kasumin 5/75 WP

Kasugamicin (sistemik)

2 gr/l

idem

Catatan : - Bakterisida dituangkan ke dalam lubang tanam pada H 1 sebanyak 50 cc/lubang tanam, atau 1 liter larutan untuk 20 lubang tanam. - Residu max menurut CORESTA Guide No. 1, Juni 2008

Tabel 3. Daftar insektisida untuk mengendalikan hama tembakau


Nama dagang Confidor 200SL Regent 50 EC Actara 25 WG Decis 2,5 EC Bahan aktif Imidakloprid (sistemik) Fipronil (sistemik) Tiametoksam (sistemik) Deltametrin (kontak+ perut) Konsentrasi 0,5-1 cc/l 1 cc/l 0,2-0,3 gr/l 0,5- 1 cc/l Hama sasaran Kutu daun Myzus, Thrips, Bemisia tabaci idem idem Ulat daun Spodoptera dan ulat pupus Helicoverpa Residu max (mg/kg) 5,0 1,0

Buldok 25 EC
Agrimec 18 EC Kanon 400 EC Organeem Amcothene 75 SP

Betasiflutrin (kontak+ perut)


Abamectin (kontak+ perut) Dimetoat (kontak & sistemik) Azadirachtin Acephate (kontak & sistemik)

1 cc/l
0,5 1 cc/l 1 cc/l 4 gr/l 0,5-1cc/l

idem
idem Ulat daun dan ulat pupus, serta kutu-kutu daun Ulat daun dan ulat pupus Ulat daun dan ulat pupus

0,5
0,5 0,2

REFERENSI HAMA & PENYAKIT


Arwiyanto, T. dan I. Hartana (2001). Percobaan lapangan pengendalian hayati layu bakteri tembakau. Mediagama III (2), 7-14. Gothama, A.A.A, IG.A.A. Indrayani, dan D, Winarno (1998). Pemanfaatan NPV dan Bacillus thuringiensis untuk pengendalian ulat daun Helicoverpa armigera dan Spodoptera litura pada tembakau deli. Laporan Penelitian Kerjasama APPI dengan Puslitbangtri (tidak dipublikasi). Lucas, G.B. (1975). Diseases of tobacco. Biol. Consult. Ass., Raleigh, N.C. Semangun, H. (2000). Penyakit-penyakit tanaman perkebunan di Indonesia. Gadjah Mada Univ. Press, Yogyakarta. Suripno dan T. Yulianti (2006). Budidaya dan pasca panen tembakau besuki na-oogst dan prospek aplikasi teknologi ramah lingkungan. Prosiding Diskusi Teknologi Ramah Lingkungan Untuk Tembakau Ekspor Besuki, Jember, 19 Juli 2005, p.23-31. ===========
74

PASCA PANEN TEMBAKAU BESUKI NO


DARI PANEN SAMPAI SIAP EKSPOR

75

KLASIFIKASI DAUN TEMBAKAU BESUKI NO BERDASAR POSISI DAUN PADA BATANG


Dimulai dari bawah ke atas : 1. DAUN KOSERAN (KOS) 2. DAUN KAKI (KAK) 3. DAUN TENGAHAN (TNG) 4. DAUN PUCUK (PUT) : 4 - 6 lembar. : 6 - 8 lembar : 6 - 8 lembar : 4 - 6 lembar

KOS dan KAK yang baik (tidak cacat, ukuran lebar cukup, warna cerah) dipakai sebagai pembalut cerutu (Dekblad = Wrapper), KAK yang masih cukup baik dan TNG dapat dipakai sebagai pembungkus cerutu (Omblad = Binder). TNG dan PUT sebagai bahan isi cerutu (Filler).

76

BEBERAPA FAKTOR YANG MENENTUKAN DALAM PEMETIKAN (1)


1. DERAJAT KEMASAKAN DAUN. Perlu kemasakan optimal, yg tergantung tipe tembakau. Tembakau sigaret dipetik pada derajat kemasakan lebih tua daripada tembakau cerutu, agar kadar N lebih rendah. Tembakau cerutu setelah dikeringkan masih akan mengalami fermentasi, sehingga toleransi terhadap kadar N masih lebih besar daripada tembakau sigaret (yang tidak difermentasi). Tembakau cerutu bahan pembalut dipetik pada kemasakan lebih muda daripada yg untuk filler, agar warna krosok cerah. Tembakau cerutu bahan isi perlu dipetik pada kondisi yg lebih masak, agar rasa & aroma lebih kuat. 2. SAAT PEMETIKAN. Petik pagi menghasilkan warna lebih cerah dan rata dibanding petik siang atau sore, karena kadar zat tepung dalam daun lebih rendah (asimilasi masih kurang). Yang dipetik siang warna kurang rata, karena perbedaan menerima sinar matahari, sinar lebih banyak warna cokelat 77 (gelap).

BEBERAPA FAKTOR YANG MENENTUKAN PEMETIKAN (2)


3. JUMLAH DAUN YANG DIPETIK. Teoritis kemasakan sempurna bila pemetikan dilakukan hanya satu daun tiap kali panen. Di lapangan ada variasi antar tanaman, sehingga pemetikan satu daun tidak menjamin sempurnanya kemasakan daun, padahal biaya petik mahal. Dalam praktek umumnya dilakukan petik dua daun tiap kali panen. 4. SELANG WAKTU PEMETIKAN. Ini tergantung derajat kemasakan daun berikutnya. Umumnya petik dua hari sekali (selang waktu tidak petik sehari).

5. POSISI DAUN PADA BATANG. Letak daun mempengaruhi susunan kimiawi. Makin ke atas ada peningkatan kadar N total, protein, dan nikotin. Kadar abu total, Ca, Mg dan pH makin ke atas makin meningkat. Kadar karbohidrat tertinggi pada daun-daun tengah. Tebal daun makin ke atas meningkat, sehingga daun atas lebih cocok untuk filler.
78

PANEN DENGAN CARA TEBANG TANAMAN (STALK CUTTING)


Pada tembakau White Burley dilakukan panen dengan tebang tanaman. Daun-daun masih melekat pada potongan batang digantung di bangsal pengering. Selama pelayuan akan terjadi arus balik masa dari daun ke batang,a.l. khlor (Cl-). Hal ini menguntungkan ditinjau dari aspek sifat pembakaran. Akibat arus balik itu daun cenderung lebih ringan daripada daun yang diproses dengan pemetikan berkala. Dibanding pemetikan berkala, pengangkutan hasil ke bangsal pengering lebih sukar.

79

TRANSPOR HASIL PETIKAN

DAUN DIPETIK PAGI, SEBELUM MATAHARI TERBIT. Umumnya dilakukan jam 5.00 - 8.00 WIB. Sehabis hujan lebat petikan ditunda, agar daun agak kesap (tidak basah). DAUN YG DIPETIK MASUK KRANJANG. Kranjang ditutup karung plastik, agar tidak kena sinar matahari yg menimbulkan warna tua (gelap) karena zat tepung hasil asimilasi. DAUN DIPERLAKUKAN HATI-HATI. Hal ini agar daun tidak memar dan robek. Bila memar, setelah pengeringan & fermentasi menunjukkan noda-noda minyak berwarna gelap, menyebabkan rasa tembakau yg pahit. Pupuk urea berlebihan juga cenderung meningkatkan tembakau minyak.
80

PENGERINGAN (CURING) (1)


Dalam proses pengeringan, daun tembakau kecuali menjadi kering juga mengalami perubahan biokimiawi yang menyebabkan tembakau lebih matang. Karena itu tidak disebut Drying, tetapi Curing.

Macam-macam tipe pengeringan : 1. Pengeringan udara (Air Curing) : berlangsung secara alami dengan aliran udara, bila perlu dilakukan pengasapan dengan kayu bakar. Contoh : tembakau White Burley, dan tembakau cerutu. 2. Pengeringan matahari (Sun Curing) : berlangsung di bawah sinar matahari dengan penjemuran. Contoh : tembakau Kasturi, tembakau Oriental, dan tembakau rajangan. 3. Pengeringan dengan pipa pemanas (Flue Curing) : berlangsung dalam gudang pengering dengan pemanasan tidak langsung melalui pipa pemanas (flue). Contoh : tembakau Virginia untuk sigaret. 4. Pengeringan dengan api (Fire Curing) : berlangsung di atas nyala api. Contoh : tembakau Boyolali asepan.

81

PENGERINGAN (CURING) (2)


Pengeringan tembakau cerutu seperti tembakau Besuki NO berlangsung dengan Air Curing. Pada prinsipnya berlangsung alamiah. Jumlah uap air yang harus dibuang sekitar 88% berat tembakau. Pada kondisi udara lembab (terutama malam hari), kadang-kadang perlu dilakukan pemanasan dengan pembakaran kayu. Tujuan pemanasan atau pengasapan : untuk mengalirkan udara dalam bangsal pengering, sehingga udara yg jenuh uap air dapat diganti udara segar yang masih kering. Pengeringan relatif lama, a.l. tergantung ukuran daun, dapat berlangsung selama 2 - 4 minggu. Daun yang memar waktu pemetikan menyebabkan dinding sel pecah, maka polifenol dalam vakuola dan enzim polifenol oksidase (PPO) dalam sitoplasma akan bercampur dengan oksigen dari udara, membentuk senyawa berwarna gelap, yg menghasilkan tembakau minyak. Tembakau yg mempunyai cacat minyak mutunya rendah.
82

TEMBAKAU HASIL PANEN DISUJEN DALAM BANGSAL PENGERING

PENGERINGAN (CURING) (3)


TAHAPAN PROSES 1. PELAYUAN (WILTING). Dimulai sejak daun masuk bangsal pengering sampai dengan daun berubah warna menjadi kuning. Khlorofil terombak, sehingga zat warna kuning karotin dan xanthofil menjadi tampak. Selama tahap ini umumnya belum diberi asap. Berlangsung 3 - 4 hari. 2. PEMBENTUKAN WARNA (COLOUR FIXING). Dimulai dari perubahan warna sampai permukaan daun kering. Jaringan daun mulai mati, dinding sel pecah & isi sel saling campur, terjadi oksidasi polifenol. Intensitas oksidasi menentukan warna tembakau. Warna juga ditentukan oleh kelembaban udara dan lamanya proses pengeringan. Bila warna yg diinginkan sudah terbentuk, pengeringan ditingkatkan agar warna tak berubah. Tahap ini paling kritis, berlangsung + 8 hari. 3. PENGERINGAN IBU TULANG DAUN (STEM DRYING). Helaian daun sudah kering, tetapi ibu tulang daun masih basah. Tahap ini berlangsung kira-kira 7 - 10 hari, tergantung antara lain dari kondisi cuaca. Tembakau ditunkan (dirompos) bila tulang daun sudah 84 kering.

TEMBAKAU CERUTU VORSTENLAND (KLATEN) SEDANG DIKERINGKAN DI BANGSAL PENGERING

PENGERINGAN (4)
CONTOH PENGERINGAN DAUN KAKI TEMBAKAU BESUKI NO

Hari ke Pengapian
1-3 4-6 Tanpa api Asap (kukus)

Lembap nisbi Kondisi daun


90 95% 85 90% 75 85% 65 70% 60 65% 60 65% Segar mulai layu dan mulai menguning Mulai mengering dari tepi, hari ke 6 separuh helaian daun telah kering Seluruh helaian daun telah kering, urat daun mulai mengering Seluruh urat daun telah kering, tangkai daun mulai mengering Tangkai daun diharapkan telah kering Menyempurnakan pengeringan untuk mempersiapkan rompos
86

7-9

Api kecil

10 -12

Api sedang

13 -15 16 -18

Api sedang Api kecil

FERMENTASI TEMBAKAU CERUTU (1)


Tembakau cerutu sesudah pengeringan belum dapat dikonsumsi, karena beberapa unsur kualitas belum terbentuk. Diperlukan proses pengolahan lebih lanjut untuk menghasilkan tembakau yang berkualitas. Fermentasi merupakan proses biokimiawi yang melibatkan sejumlah enzim yg diperlukan untuk memecah polisakarida dan protein menjadi senyawa yg lebih sederhana, dengan pembebasan panas. Panas tersebut diperlukan dalam reaksi biokimiawi untuk membentuk aroma, rasa, daya bakar, dan tekstur yg lebih baik, serta warna yg lebih merata.

Tembakau sigaret (Virginia, rajangan) tidak perlu mengalami fermentasi, tetapi selama penyimpanan terjadi proses pematangan (aging) secara alami yg meningkatkan kualitas, antara lain aroma menjadi lebih baik. Tembakau sigaret sering kali perlu mengalami pengeringan ulang (redrying) sebelum diproses untuk pembuatan rokok.

87

TEMBAKAU CERUTU DITUMPUK DALAM GUDANG UNTUK DIFERMENTASI

FERMENTASI TEMBAKAU CERUTU (2)


SYARAT-SYARAT UNTUK BERLANGSUNGNYA FERMENTASI : 1. BAHAN DASAR (SUBSTRAT). Polisakarida dan protein yg akan dirombak cukup tersedia dalam tembakau yg akan difermentasi. 2. ENZIM. Enzim yg masih aktif sebagai katalisator proses biokimiawi dalam fermentasi tersedia. 3. SUHU. Untuk optimalnya reaksi enzimatis diperlukan suhu relatif tinggi (+ 45 - 55 C). 4. KADAR AIR. Reaksi enzimatis tak dapat berlangsung bila tembakau terlalu kering. Diperlukan kadar air sekitar 18 - 25%. 5. OKSIGEN. Oksigen diperlukan untuk dapat berlangsungnya reaksi oksidasi enzimatik. 6. WAKTU. Reaksi biokimiawi berjalan dalam waktu yg relatif lambat, sehingga tidak dapat dipercepat. Pada umumnya proses fermentasi berlangsung dalam waktu sekitar 70 - 100 hari.
89

FERMENTASI TEMBAKAU CERUTU (3)


PELAKSANAAN FERMENTASI : 1. Tembakau ditumpuk dengan massa tertentu, dengan tujuan : a. Menghimpun panas yg berasal dari perombakan senyawa bermolekul besar ke senyawa bermolekul lebih kecil (polisakarida jadi monosakarida, protein menjadi asam amino). b. Mengusahakan agar kehilangan panas dari dalam tumpukan tembakau (stapelan) sekecil mungkin. 2. Pengendalian suhu : a. Setelah suhu optimum dalam stapelan tercapai, tumpukan dibongkar agar suhu tidak meningkat terus. b. Penyusunan tumpukan baru. Tumpukan baru disusun dari dua tumpukan sebelumnya. Dalam menyusun tumpukan baru posisi tembakau diubah, yg tadinya di bagian dalam yg panas dipindah di bagian luar yg dingin. Bongkar susun tumpukan berlangsung 4 - 5 kali, mulai dari tumpukan A, B, C, D, dan E.
90

FERMENTASI TEMBAKAU CERUTU (4)


Semakin lanjut fermentasi substrat penghasil panas makin berkurang, akibatnya kenaikan suhu makin lambat. Agar kehilangan panas dari dalam tumpukan tembakau makin kurang, rongga antar untingan tembakau yg ditumpuk perlu diperkecil dengan meningkatkan tekanan dalam tumpukan tembakau. Contoh untuk tembakau Besuki NO sbb : Stapel (hari) A B C D Berat (ton) Tekanan (pon/dm2) Suhu max (oC) Waktu

2,5 5 10 20

4,5 6 8 10

50 - 52 50 - 54 52 - 54 52 - 54

+ 8 + 12 + 21 + 30
91

FERMENTASI TEMBAKAU CERUTU (5)


PERBAIKAN KUALITAS AKIBAT FERMENTASI : 1. AROMA. Fermentasi meningkatkan aroma. Hilangnya protein akibat fermentasi memperbaiki aroma. 2. RASA. Tembakau yg tadinya rasanya mentah dan pahit akan diganti dengan rasa yg dikehendaki. 3. WARNA. Sesudah fermentasi warna cenderung lebih merata dan lebih tua. Warna yg agak kehijauan hilang. 4. TEKSTUR. Setelah fermentasi tekstur lebih baik, lapisan zat perekat hilang. 5. DAYA BAKAR. Setelah fermentasi daya bakar meningkat, karena zat-zat yg menghambat pembakaran seperti protein hilang. 6. KEASAMAN. Akibat fermentasi reaksi asap meningkat ke arah alkalis, karena hidrolisis protein dan asam amino menjadi amonia. 7. HIGROSKOPISITAS. Sifat higroskopis menjadi berkurang.
92

KUALITAS TEMBAKAU (1)


KUALITAS adalah : Gabungan antara sifat-sifat fisik, organoleptik, ekonomis, dan kimiawi, yg menyebabkan tembakau itu sesuai atau tidak sesuai bila digunakan untuk tujuan tertentu (menurut Padilla). Kualitas merupakan pengertian relatif, yg dapat berubah tergantung orang, waktu, dan tempat. Karena itu standar kualitas di berbagai daerah dapat berubah tergantung selera orang, dan dalam kurun waktu tertentu dapat berubah (menurut Tso). Sejak dipublikasikannya bahaya merokok bagi kesehatan, pengertian kualitas perlu disempurnakan, dengan mempertimbangkan kandungan zat berbahaya dalam asap, seperti misalnya tar. Tujuannya adalah memperoleh tembakau yg memenuhi persyaratan kualitas yang diharapkan konsumen, tetapi juga seminimum mungkin kandungan zat berbahaya (termasuk juga residu pestisida).
93

KUALITAS TEMBAKAU (2) UNSUR-UNSUR KUALITAS :


1. BENTUK & UKURAN DAUN. Untuk tembakau bahan pembalut & pembungkus cerutu penting, karena menentukan banyaknya irisan yg dapat dibuat. 2. TULANG-TULANG DAUN. Dalam pembuatan cerutu ibu tulang daun dibuang, karena itu fabrikan menghendaki ibu tulang daun yg relatif kecil. Tulang-tulang daun yg halus memudahkan penggulungan dalam pembuatan cerutu. 3. TEBAL DAUN. Bahan pembalut & pembungkus cerutu menghendaki daun yg tipis. Tetapi daun yg mengaca (glassy) dan terlalu tipis mudah robek dalam pengerjaan di mesin bobbin. 4. KERAPATAN STRUKTUR & TEKSTUR. Struktur = susunan dan kerapatan sel-sel daun, sedangkan tekstur adalah gabungan sifat-sifat fisik yg ditentukan lewat rabaan. Kekeringan menyebabkan jaringan daun dengan sel-sel yg mampat, dan teksturnya mampat (close grained).
94

KUALITAS TEMBAKAU (3)


5. ELASTISITAS. Sifat elastis penting untuk pembalut & pembungkus, karena dalam proses pembuatan cerutu daun mengalami perentangan. Unsur Fe dan Mn cenderung memperlemah kekuatan jaringan terhadap gaya tarik, sedangkan unsur Ca memperkuat. 6. WARNA. Merupakan indikator untuk sifat kimiawi & fisik yg menentukan kualitas tetapi tidak terlihat dari luar. Kesalahan teknis yg menurunkan kualitas seringkali tercermin dari tampilan warna krosok. Untuk pembalut cerutu dikehendaki warna cerah dan merata. Kelebihan Fe dapat mengakibatkan bercak-bercak hitam yg terlihat sesudah fermentasi. Pada tanah ringan warna krosok cenderung lebih cerah daripada pada tanah berat. 7. SIFAT-SIFAT PEMBAKARAN. Meliputi daya pijar (daya bakar), kecepatan & kerataan membara, warna abu, dan keteguhan abu. Daya pijar dipengaruhi oleh faktor kimiawi dan fisik. Kadar Cl yg tinggi berpengaruh negatif terhadap daya pijar. Kadar Cl dalam air pengairan sebaiknya < 25 ppm, sedangkan dalam tanah sebaiknya < 40 ppm. Kadar Cl di daun sebaiknya < 1%.
95

KUALITAS TEMBAKAU (4)


Kebalikan dari Cl, unsur K berpengaruh positif terhadap daya bakar. Ca dan Mg berpengaruh baik terhadap terbentuknya warna abu yg putih, yg mencerminkan sempurnanya pembakaran, tetapi kurang baik terhadap daya bakar. Kelebihan Ca berpengaruh kurang baik terhadap keteguhan abu. Abu yg teguh lebih disukai karena tidak mudah rontok selama cerutu diisap. Faktor fisik yg berpengaruh terhadap daya bakar yaitu kerapatan sel dalam jaringan. Pada cuaca kering pertumbuhan daun tertekan, struktur jaringan lebih mampat (close grained), sehingga menyulitkan penetrasi udara ke dalam jaringan yg sedang terbakar. Daun yg dipetik muda daya bakarnya cenderung kurang karena kadar N yg lebih tinggi. Daya bakar berbanding terbalik dengan kadar N total. Kadar N yg tinggi dapat mengakibatkan kandungan TSNA (Tobacco Specific Nitrosamine) yg tinggi, yg bersifat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker).
96

SORTASI TEMBAKAU CERUTU BESUKI


SORTASI ialah pekerjaan memisah-misahkan tembakau ke dalam kelompok yang mempunyai persamaan dalam sifat-sifat tertentu. Tujuannya adalah memudahkan konsumen dalam memilih tembakau yang sesuai dengan kebutuhannya. PARAMETER YANG DIPAKAI DALAM SORTASI : 1. Letak daun pada batang : koseran, kaki, tengahan, pucuk. 2. Ketebalan / kehalusan daun : tipis (I), dan tebal (II). 3. Adanya cacat : bercak patik (S), minyak (O), robek (R), nemor (N) (warna kuning mencolok, akibat kurang hujan atau salah pengeringan). 4. Warna krosok : Kuning kecokelatan (K), Merah (M) =cokelat, Biru (B) = cokelat kehijauan. 5. Panjang krosok : Umumnya dipisahkan dalam 5 kategori, yaitu panjang 1, panjang 2, panjang 3, panjang 4, dan panjang 5. Panjang 1 atau yg terpanjang 40 cm ke atas, yg terpendek (panjang 5) untuk KOS 22 - 24 cm, dan untuk KAK 24 - 28 cm.
97

PENGEBALAN
Setelah selesai diproses sortasi tembakau dimampatkan dengan mesin press, dan dikemas dalam bentuk bal. Untuk tembakau Deli setiap bal seberat 80 kg, demikian pula tembakau Vorstenland di Klaten, dengan tikar sebagai pembungkus. Untuk tembakau Besuki NO setiap bal beratnya 100 kg, dengan tikar sebagai pembungkus. Tembakau TBN dikemas dalam karton, setiap karton seberat 60 kg. Setiap bal atau karton diberi kode huruf yang menunjukkan kualitasnya. Sebelum diekspor tembakau perlu difumigasi untuk mengendalikan hama bubuk tembakau (Lasioderma serricorne, Coleoptera). Hama ini larvanya makan krosok sehingga menimbulkan lubang-lubang, serta menghasilkan kotoran, karena itu fumigasi wajib dilakukan oleh eksportir dengan bimbingan Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB) dan Lembaga Tembakau

98

LASIODERMA
Hama Lasioderma serricorne merusak tembakau kering dan produknya. Hama ini bersifat polifag, dapat makan pada hasil-hasil pertanian yang lain. Siklus hidupnya adalah sbb : Stadium telur 10 19 hari (rata-rata 15 hari), Stadium larva 10 18 hari (rata-rata 13 hari). Imago 16 19 hari (rata-rata 17 hari). Pupa 4 12 hari (rata-rata 8 hari). Keseluruhan dari telur sampai imago 42 45 hari. Pembiakan berlangsung sangat cepat. Sepasang imago dapat menghasilkan + 2000 keturunan dalam 4 bulan. Telur berkembang dan menetas pada suhu 20 28o C dan kelembaban relatif 70% dengan makanan campuran tepung dengan yeast (20 : 1) Aktivitas larva terhenti pada suhu < 15 o C. Imago sudah tidak makan. Imago betina bertelur pada tembakau kering (krosok), larva yang lahir makan krosok. Benih tembakau juga dimakan. Imago tertarik pada cahaya lampu merah. Untuk memantau Lasioderma dalam gudang digunakan lampu merah.
99

FUMIGASI
FUMIGASI yaitu perlakuan dengan insektisida dalam bentuk gas di dalam ruangan yg tertutup rapat untuk membunuh hama. Insektisida yg digunakan disebut fumigan. Untuk pencegahan / pengendalian hama Lasioderma digunakan fumigan berbahan aktif phosphin (PH3). Fumigan berupa Aluminium phosphide yg bila dihidrolisis menghasilkan PH3 berdasar reaksi : 2 AlP + 3 H2O Al2O3 + 2 PH3 Dalam praktek yg banyak digunakan ialah fumigan dengan nama dagang Phostoxin, berupa tablet dengan berat 3 gr, yg menghasilkan gas phosphin seberat 1 gr. Untuk menghasilkan gas diperlukan air yg diambil dari uap air di udara. Dosis fumigasi sebesar 1 gr phosphin / m3 ruangan selama 72 jam telah dapat membunuh semua stadium Lasioderma. Selanjutnya perlu diangin-anginkan selama 48 jam (untuk membuang sisa-sisa gas yg beracun).
100

Fumigasi tembakau di gudang dengan Phosphin di bawah selubung plastik

101

TEMBAKAU YANG SUDAH SELESAI DISORTASI DIPOTONG UNTUK MEMPEROLEH POTONGAN BAHAN PEMBALUT DAN PEMBUNGKUS CERUTU

Mesin bobbin untuk memotong tembakau krosok sesuai pola yang ada untuk pembalut dan pembungkus cerutu

REFERENSI PASCA PANEN


Abdallah, F. (1970). Can tobacco quality be measured ? Lockwood Pub.Co., New York. Akehurst, B.C. (1981). Tobacco. Longman, New York. Frankenburg, W.G. (1946). Chemical changes in the harvested tobacco leaf. I. Adv. Enzymol. 6, 309-387. Frankenburg, W.G. (1950). Chemical changes in the harvested tobaccoA leaf. II. Adv. Enzymol. 10, 325-441. Hartana, I. (1999). Beberapa aspek pasca panen dan kaitannya terhadap kualitas tembakau cerutu. Makalah Penyegaran Peneliti & Praktisi Tembakau di PTP Nusantara II , Medan, 27-29 Juli 1999. Hartana, I. & H. Vermeulen (2000). Nicotiana tabacum L. Stimulants. Plant Resources of South East Asia No. 16. H.A.M. Van der Vossen & M. Wessel (Ed.). Backhuys Publishers, Leiden, 2000. Ryan, L.(editor) (1995). Post harvest tobacco infestation control. Chapman & Hall, London, 1 st ed. Tso, T.C. & G.B. Gori (1975). Leaf quality and usability. Theoritical Model I. Beitr. Zur Tabakforschung 8 (4), 167-173. =============
103