Anda di halaman 1dari 2

STUDI EPIDEMIOLOGI KEJADIAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE DENGAN

PENDEKATAN SPASIAL SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KECAMATAN PALU


SELATAN KOTA PALU

Oleh: Oslan Daud 19143/PS/IKM/06


Program Pascasarjana Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Yogyakarta 2008

ABSTRAK

Latar belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi. Jumlah kasus yang dilaporkan
cenderung meningkat dan daerah penyebarannya bertambah luas. Pada tahun 2004 di kota
Palu, penderita DBD berjumlah 210 orang dengan 10 kematian. Tahun 2005 jumlah penderita
DBD sebanyak 627 orang dan 12 diantaranya meninggal, dan tahun 2006 dengan jumlah
penderita DBD sebanyak 334 orang dan 5 diantaranya meninggal. Sedangkan pada tahun 2007
sampai dengan bulan April jumlah penderita DBD sebanyak 593 orang dan 2 diantaranya
meninggal.

Tujuan: Untuk mengetahui distribusi epidemiologi kejadian kasus DBD di Kecamatan Kota
Palu Selatan berdasarkan karakteristik orang, tempat, dan waktu tahun 2004-2006, serta
melakukan pemetaan distribusi spasial kejadian kasus DBD dengan pendekatan sistem
informasi geografi (SIG) di Kecamatan Palu Selatan tahun 2004 s/d 2006.

Metode penelitian: Jenis penelitian ini adalah survey deskriptif analitik dengan rancangan
penelitian cross sectional, yang bermaksud untuk memperoleh gambaran tentang distribusi
kejadian DBD dengan pendekatan spasial SIG di kecamatan Palu Selatan tahun 2004 s/d 2006.
Alamat penderita diambil titik koordinat dengan menggunakan Global Positioning System
(GPS). Proses selanjutnya, data diolah dan akan disajikan dalam bentuk tabel, grafik, dan peta.

Hasil: Distribusi penderita DBD terbanyak laki-laki (52,48%), umur penderita terbanyak <15
tahun (46,60%), wilayah yang terbanyak penderita kelurahan Lolu Selatan (15,41%), waktu
kejadian tertinggi terjadi pada bulan Mei s/d September. Terdapat 9 cluster kejadian DBD di
kelurahan Tatura Utara dan kelurahan Tanamodindi. Diperoleh hubungan kepadatan penduduk
dengan kejadian DBD (p = 0,0049881), diperoleh hubungan Angka Bebas Jentik (ABJ) degan
kejadian DBD di kecamatan Palu Selatan (p = 0,4623282).
Kesimpulan: Laki-laki lebih banyak beraktifitas dari pada perempuan, penderita DBD lebih
banyak pada usia anak sekolah, kelurahan Lolu Selatan memiliki kepadatan penduduk dan
mobilisasi penduduk yang tinggi, peningkatan kasus terjadi pada waktu musim penghujan yaitu
bulan April s/d Oktober, adanya pengelompokan kasus penderita DBD di kelurahan Tatura
Utara dan kelurahan Tanamodindi, kepadatan penduduk sangat berhubungan positif dengan
kejadian DBD, suhu dan kelembaban sangat mendukung dalam perkembangbiakan vektor
penular penyakit DBD yang menyebabkan peningkatan penderita DBD dari tahun ke tahun, ABJ
tidak mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian penyakit DBD.

Kata kunci: Kasus DBD, karakteristik epidemiologi, distribusi spasial, SIG, Palu Selatan.