Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

Pegawai Negeri sebagai salah satu factor pendorong perkembangan bangsa dituntut
untuk selalu professional dan memiliki daya saing yang tinggi agar mampu bertahan dalam
era globalisasi dewasa ini. Daya saing yang tinggi dan berkelanjutan yang harus dimiliki
dalam Instansi Pemerintah adalah sumber daya manusia yang dalam hal ini adalah Pegawai
Negeri yang berkualitas.

Untuk mendukung dan memajukan kinerja pemerintahan saat ini maka perlu
diketahui factor-faktor pemicu keberhasilan dari sistem pemerintahan negara lain dalam
mengelola pegawai negerinya. Factor yang akan dibandingkan adalah hukum kedisiplinan,
Sistem Jenjang Pegawai Negeri dan Struktur Gaji dari Negara Jerman, Indonesia serta
Malaysia. Diharapakan dengan adanya perbandingan ini dapat dijadikan tolak ukur sehingga
dapat diketahui sisi baik dan sisi buruk dari sistem yang telah berjalan baik di Indonesia,
Jerman maupun Malaysia. Berbagai masukan yang telah ada dijadikan bahan masukan dalam
rangkan penyusunan sistem pengelolaan Pegawai Negeri yang lebih baik di Indonesia.

Namun kita menyadari bahwa penerapan suatu sistem yang berhasil di negara lain
belum tentu dapat berhasil di Indonesia, hal ini terkait dengan budaya dan watak setiap
bangsa yang berbeda-beda. Untuk itu diperlukan pengkajian yang lebih mendalam terhadap
sistem yang dinilai berhasil dan kemudian disesuaikan dengan budaya serta watak Indonesia
sehingga dapat berjalan dengan baik. Hal diperlukan adalah mengetahui kelebihan serta
kelemahan dari sistem negara lain kemudian disesuaikan dengan iklim Indonesia sekarang
juga agar dapat memperbaiki kinerja pegawai negeri Indonesia.
BAB II

GAMBARAN UMUM

I. Jerman

Nama bangsa Jerman (bahasa Indonesia mengambil dari nama yang dipakai
dalam bahasa Inggris) dikenal dengan nama-nama yang berbeda: German (dengan
variasinya, contohnya dipakai dalam bahasa Indonesia dan Inggris), Allemania (dengan
variasinya, dipakai misalnya oleh bahasa Perancis, Spanyol, dan Arab), Saksa (dipakai
oleh bahasa Finlandia) dan juga Deutsch (dengan variasinya, dipakai misalnya oleh
bahasa Jerman, Swedia, dan Belanda). Nama-nama itu sebetulnya mengacu pada puak-
puak bangsa Germanik yang berbeda-beda, sekaligus menunjukkan beragamnya
masyarakat Jerman. Deutsch (baca /doitʃ/) merupakan satu puak suku Germanik di yang
tinggal di bagian utara, Alleman adalah tinggal di bagian selatan, serta Sachsen adalah
puak yang tinggal di bagian timur Jerman sekarang. Nama German merupakan nama dari
dewi pelindung bangsa-bangsa Germanik (Dewi Germania).
Republik Federal Jerman (bahasa Jerman: Bundesrepublik Deutschland) adalah
sebuah negara di Eropa Tengah. Negara dengan sejarah panjang ini di sebelah barat
berbatasan dengan Belanda, Belgia, Luxemburg, dan Perancis. Di sebelah selatan
berbatasan dengan Swiss dan Austria. Di sebelah timur berbatasan dengan Ceko dan
Polandia. Di sebelah utara berbatasan dengan Denmark. Negara ini pernah memiliki
wilayah yang jauh lebih luas daripada yang sekarang dan pernah pula terpecah secara
politik sejak berakhirnya Perang Dunia II tepatnya pada tanggal 7 Oktober 1949 hingga
tanggal 3 Oktober 1990, di saat bagian timur negara ini dikuasai oleh rezim komunis dan
bernama Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur, atau Deutsche Demokratische
Republik disingkat DDR).
Jerman juga merupakan negara penting dalam Uni Eropa dan adalah negara
anggota dengan penduduk terbanyak. Selain itu, Jerman juga adalah anggota NATO dan
G8.
II. Malaysia
Malaysia ialah sebuah negara yang terletak di Asia Tenggara. Malaysia
mempunyai dua kawasan utama yang terpisah oleh Laut China Selatan, yaitu
1. Semenanjung Malaysia (Malaysia Barat), berbatasan dengan Thailand di utara dan
Singapura di selatan
2. Malaysia Timur, di bagian utara Pulau Borneo/Kalimantan yang berbatasan dengan
Indonesia di selatan dan Brunei di utara.
Malaysia merupakan sebuah negara berpendapatan sederhana, berubah dari
sebuah negara penghasil bahan mentah seperti getah, bijih timah dan sebagainya pada
1971 menjadi negara multisektor melalui Kebijakan Ekonomi Baru. Pada dasarnya,
pertumbuhan Malaysia bergantung pada ekspor bahan elektronik seperti chip komputer
dan sebagainya. Akibatnya, Malaysia merasakan tekanan hebat semasa krisis ekonomi
pada tahun 1998 dan kemerosotan dalam sektor teknologi informasi pada tahun 2001.
KDNK pada tahun 2001 hanya meningkat sebanyak 0,3% disebabkan pengurangan 11%
dalam bilangan ekspor tetapi paket perangsang fiskal yang besar telah mengurangi
dampak gawat tersebut.
Malaysia mempunyai sejumlah elemen makroekonomi yang stabil (di mana
tingkat inflasi dan tingkat pengangguran tetap di bawah 3%), simpanan pertukaran uang
asing yang sehat, dan utang luar negeri yang rendah. Ini memungkinkan Malaysia untuk
tidak lagi mengalami krisis yang sama seperti Krisis finansial Asia pada tahun 1997.
Walau bagaimanapun, prospek jangka panjang kelihatan agak kabur disebabkan
kurangnya perubahan dalam sektor badan hukum terutama sekali sektor yang berurusan
dengan utang korporat yang tinggi dan kompetitif.
Selain getah dan kelapa sawit yang banyak di Semenanjung Malaysia, Sabah
dan Sarawak juga kaya dengan sumber alam seperti kayu balak, minyak bumi dan gas
alam.

III.Indonesia

Negara Kesatuan Republik Indonesia ialah negara kepulauan terbesar di dunia


yang terletak di Asia Tenggara, melintang di khatulistiwa antara benua Asia dan
Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Karena letaknya yang berada
di antara dua benua, dan dua samudra, ia disebut juga sebagai Nusantara (Kepulauan
Antara). Indonesia berbatasan dengan Malaysia di pulau Kalimantan, berbatasan dengan
Papua Nugini di pulau Papua dan berbatasan dengan Timor Leste di pulau Timor.

Kata "Indonesia" berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu Indos yang berarti
"India" dan nesos yang berarti "pulau". Jadi kata Indonesia berarti kepulauan India, atau
kepulauan yang berada di wilayah India.
Seperti juga di negara-negara demokrasi lainnya, sistem politik di Indonesia
didasarkan pada Trias Politika yaitu kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif.
Kekuasaan legislatif dipegang oleh sebuah lembaga bernama Majelis Permusyawatan
Rakyat (MPR) yang terdiri dari dua badan yaitu DPR yang anggota-anggotanya terdiri
dari wakil-wakil Partai Politik dan DPD yang anggota-anggotanya mewakili provinsi
yang ada di Indonesia. Setiap daerah diwakili oleh 4 orang yang dipilih langsung oleh
rakyat di daerahnya masing-masing.
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) adalah lembaga tertinggi negara.
Namun setelah amandemen ke-4 MPR bukanlah lembaga tertinggi lagi. Keanggotaan
MPR berubah setelah Amandeman UUD 1945 pada periode 1999-2004. Seluruh anggota
MPR adalah anggota DPR ditambah anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah).
Sebelumnya, anggota MPR adalah seluruh anggota DPR ditambah utusan golongan.
MPR saat ini diketuai oleh Hidayat Nur Wahid. Anggota MPR saat terdiri dari 550
anggota DPR dan 128 anggota DPD. DPR saat ini diketuai oleh Agung Laksono,
sedangkan DPD saat ini diketuai oleh Ginandjar Kartasasmita. Anggota DPR dan DPD
dipilih melalui pemilu dan dilantik dalam masa jabatan lima tahun. Sejak 2004, MPR
adalah sebuah parlemen bikameral, setelah terciptanya DPD sebagai kamar kedua.
Lembaga eksekutif berpusat pada presiden, wakil presiden, dan kabinet.
Kabinet di Indonesia adalah Kabinet Presidensiil sehingga para menteri bertanggung
jawab kepada presiden dan tidak mewakili partai politik yang ada di parlemen. Meskipun
demikian, Presiden saat ini yakni Susilo Bambang Yudhoyono yang diusung oleh Partai
Demokrat juga menunjuk sejumlah pemimpin Partai Politik untuk duduk di kabinetnya.
Tujuannya untuk menjaga stabilitas pemerintahan mengingat kuatnya posisi lembaga
legislatif di Indonesia. Namun pos-pos penting dan strategis umumnya diisi oleh Menteri
tanpa portofolio partai (berasal dari seseorang yang dianggap Ahli dalam bidangnya).
Lembaga Yudikatif sejak masa reformasi dan adanya amandemen UUD 1945
dijalankan oleh Mahkamah Agung,Komisi Yudisial dan Mahkamah Konstitusi termasuk
pengaturan administrasi para Hakim. Meskipun demikian keberadaan Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia tetap dipertahankan. Ketua MA saat ini Prof Dr Bagir Manan
mendapat banyak kritik dari berbagai pihak sehubungan dengan kelemahan MA dalam
menegakkan hukum dan keadilan di Indonesia. Namun dalam Pemilihan Ketua MA
baru-baru ini, Bagir tetap mendapat suara mayoritas dari para hakim Agung.
BAB III

PERBANDINGAN SISTEM PEGAWAI NEGERI

I. JERMAN
A. HUKUM KEDISPLINAN
Setiap pelanggaran PNS atas kewajiban loyalitas, kewajiban menjalankan
tugas, kewajiban mengendalikan diri, kewajiban untuk menjaga kerahasiaan,
kewajiban untuk patuh, kewajiban unutk bersikap hormat, dan kewajiban berdomisili
dapat dianggap sebagai pelanggaran kedinasan dan dapat diberikan sanksi oleh
instansinya. Untuk itu instansinya menerapkan proses disiplin sesuai yang dituangkan
oleh undang-undang.
Hukum kedisiplinan dapat diterapkan pada PNS aktif maupun PNS dalam
pensiun. Tindakan hukum kedisplinan oleh instansi dapat dilakukan bersamaan
dengan hukum pidana oleh negra terhadap PNS. Tetapi tidak boleh dilakukan hukum
berganda yang terlalu keras. Kedua proses ini harus disesuaikan sehingga
mendapatkan satu buah hukuman bersama. Bilamana PNS didalam hukum pidana
dijatuhi denda yang tinggi maka hukuman oleh instansinya harus mempertimbangkan
hal tersebut.
Sebagai langkah disiplin untuk menghukum PNS atas pelanggaran
kewajiban dinasnya maka undang-undang menentukan, yaitu:
a. Teguran sebagai sanksi paling rendah. Disini PNS ditegur secar tertulis dan resmi,
ini misalnya bilamana PNS terlalu lamban dan kerja tidak rapih tanpa
mengakibatkan kerugian.
b. Denda. Hal ini dipertimbangkan bilamana PNS sudah terlalu lama bekerja tidak
rapih. Maksimal dendanya adalah satu bulan gaji.
c. Pengurangan gaji. PNS dapat untuk maksimal selama 5 tahun gajinya dikurangi
20%. Selama masa pemotongan gaji tidak boleh dinaikkan pangkatnya. Sanski ini
berlak bilamana berkali-kali mabuk dalam tugas.
d. Pemindahan tugas ke dalam dinas dengan gaji yang lebih kecil. Didalam karir
seorang PNS dapat diturunkan pangkatnya. Sanksi demikian dapat digunakan
bilamana PNS misalnya karena dalam memenuhi kewajiban mengakibatkan
kerugian pada instansinya. Kenaikan pangkat hanya bisa dilakukan setelah 5
tahun.
e. Dipecat dari tugas merupakan tindakan disiplin yang paling keras. Misalnya :
karena menerima uang suap atau meneruskan informasi kedinasan. Terhadap
tindakan dalam proses disiplin maka PNS dapat menggugat pada pengadilan dan
mendatangi instansi disiplin yang didirikan secara khusus. Terhadap keputusan
pengadailan PNS yang bersangkutan masih dapat naik banding kepada pengadilan
yang lebih tinggi.

B. SISTEM JENJANG PEGAWAI NEGERI


Sistem jenjang menuntut bahwa semua jabatan yang ada dalam negara dan
diberikan kepada PNS, harus disusun menurut tugas dan status hirarki. Melalui
susunan ini dibentuk golongan-golongan, yang selanjutnya dirangkum dalam jenjang.
Sistem karir adalah prinsip tradisional dalam kepegawaian negeri di Jerman.
Sejak abad ke-18 telah dikenal bahwa orang yang tidak memenuhi syarat harus
dijauhkan dari pelayanan negara. Dengan demikian diterapkan jenjang sebagai upaya
untuk menghindari jualbeli jabatan, diturunkan jabatan kepada anak, ataupun
diserahkan kepada suami atau istri. Maksud dari jejang adalah agar kebijaksanaan
personalia menjadi jelas.
Hukum kepegawaian negeri di Jerman mengenal 4 golongan jenjang, yaitu:
• Dinas Sederhana
• Dinas Menengah
• Dinas Tinggi
• Dinas Tertinggi

Syarat untuk diterima dalam suatu jenjang adalah


• Pendidikan sekolah atau pendidikan profesi minimal, yang memberikan
kemampuan PNS untuk mengikuti sebuah dapat lulus diterima menjadi PNS.
• Selesai dan lulus sebuah dinas persiapan.
• Lulus ujian masuk untuk tugas Negara sesuai golongan jenjang.

Penentuan tingakt sebuah jabatan dalam jenjang berkaitan dengan besarnya


gaji untuk jabatan tersebut. Pembuat hukum telah menentukan setiap tugas yang
dilakukan oleh PNS sesuai kualifikasi dan tugas yang diemban, diberikan tingkat gaji.
Tingkatan gaji dituangkan dalam peraturan gaji.
PNS akan masuk jenjang dasar pada tingkat terendah. Dalam masa karirnya
di dalam golongan jenjang ia akan dinaikkan dalam jabatan yang lebih tinggi. Akhir
dari golonganjenjang tidak harus akhir dari karir profesi seorang PNS. Sangat
dimungkinkan bahwa melalui kualifikasi yang sesuai, dinaikkan dalam golongan
jenjang yang lebih tinggi sehingga karir profesi dapat diteruskan. Penurunan ke
golongan jenjang yanglebih rendah tidak dimungkinkan. Juga dengan proses disiplin,
maka penurunan pangkata hanya dapat dilakukan dalam golongan jenjang. Ini
berhubungan dengan dasar bahwa setiap PNS berhak untuk mendapat jabatanyang
layak dan sesuai. Ini berarti bahwa tugas pekerjaan seorang PNS tidak boleh lebih
rendah dari pendidikan dan kualifikasi.
Negara akan menerima calon pegawai sesuai sistem jenjang, menurut
pendidikan sekolah, profesi atau pendidikan akademik. Seleksi untuk dapat diterima
dalam dinas persiapan dilakukan berdasarkan criteria tersebut di atas. Ini berarti
bahwa hanya atas dasar kemampuan pribadi, keahlian dan keberhasilan, seseorang
dapat diterima untuk tugas Negara. Selain criteria tersebut harus dibuktikan dengan
ijazah, maka biasanya juga harus ditempuh melalui ujian masuk. Gender, suku, asal
usul atau koneksi tidak akan berperan untuk seseorang menuju kepada dinas negara.
Selama waktu persiapan, calon PNS akan secara intensif dipersiapkan untuk
tugas-tugas yang khusus diperuntukkan negara. Setelah itu calon tersebut harus
menempuh ujian untuk dan mengambil alih tugas-tugas dalam negara. Hanya dengan
hasil ujian yang baik, maka calon tersebut akan diterima. Meskipun demikian calon
tersebut belum diangkat sebagai pegawai seumur hidup. Masih ada masa percobaan
untuk membuktikan kemampuan, keahlian dan keberhasilannya. Saat ini calon PNS
harus menunjukkan selain keahlian dan kemapuan teoritik, juga kemamapuan praktis
untuk dapat menangani tugas-tugas dalam jenjangnya.
Masa percobaan bagi PNS dinas sederhana adalah 1 tahun, dinas menengah
2 tahun, dinas tinggi 2,5 tahun dan dinas tertinggi 3 tahun. Dalam pengecualian maka
masa percobaan dapat diperhitungkan tugas-tugas public (misalnya : dinas
kemiliteran), atau karena kemampuan luar biasa jga dapat dipersingkat. Sebaliknya
masa percobaan PNS yang dianggap tidak cukup bisa diperpanjang hingga 5 tahun.
Bila setelah masa percobaan itu masih juga belum membuktikan kemampuannya,
maka calon PNS tersebut harus diberhentikan.
C. STRUKTUR GAJI
Prinsip gaji yang digunakan adalah prinsip alimentasi. Ini berarti bahwa
instansi memberikan PNS dan keluarganya penghasilan yang sesua kedudukannya.
Pembayaran gaji terdiri atas gaji dasar ditambah dengan tunjangan. Gaji dibayar setiap
bulan dimuka. Besarnya gaji disesuaikan dengan jabtanyang dipegang. Setiap jabatan
PNS dan setiap tugas PNS diatur oleh undang-undang atau peraturan penggajian.
Kriteria lainnya untuk menentukan gaji adalah senioritas dinas. Terhadap
senioritas terdapat tingkatan, yang diatur berdasarkan jumlah tahun kerja yang secara
akumulatif terkumpul. Kenaikan senioritas dilakukanpada awal dinas setiap dua
tahun, lalu kemudian setiap tiga tahun, dan terakhir setiap empat tahun. Peningkatan
ini tidak terus menerus hingga akhir dinas. Ini akan berjalan sesuai jenjang selama 25-
30 tahun. Setelah itu PNS sudah mencapai gaji dasartertinggi dan hanya dapat
ditingkatkan oleh kenaikan pangkat itu sendiri.
Kenaikan tingakt senioritas juga ditentukan oleh keberhasilan kerja PNS.
Dengan hasil yang sangat bai, maka PNS dapat lebih awal masuk dalam golongan gaji
yang lebih tinggi. Ini berarti kenaikan tidak terjadi setelah tiga tahun tetapi dalam dua
tahun. Sebaliknya bila PNS memberikan hasil yang kurang baik maka kenaikan
golongan gaji bukannya terjadi setelah 3 tahun tetapi setelah 4 tahun.
Dalam jabatan-jabatan tertinggi, maka kenaikan gaji tidak lagi ditentukan
oleh senioritas. Jabatan-jabatan tertinggi ini sudah pada dasarnya memberikan gaji
yang lebih tinggi yang biasanya hanya dapat tercapai oleh senioritas.
Secara keseluruhan sistem ini memberikan struktur gaji dimana PNS dalam
kehidupannya senantiasa mengalami kenaikan gaji. Gaji dasar senantiasa naik setiap
2-4 tahun. Selain itu juga ada kenaikan karena kenaikan pangkat. Turun pangkat
tingkat tidak mungkin kecuali karena proses disiplinair.
Gaji dasar didukung oleh tunjangan khusus, yang juga dibayarkan setiap
bulan. Jumlah ini disesuaikan oleh alimentasi PNS sesuai kondisi pribadi dan beban
khusus atau tuntutan pekerjaan yang dilakukan.
Tunjangan praktis dan penting adalah tunjangan keluarga untuk PNS yang
telah menikah dan tunjangan tambahan untuk setiap anak. Alas an tunjangan ini
adalah bahwa PNS dengan keluarga akan memerlukan biaya hidup yang lebih tinggi
daripada PNS yang belum bekeluarga.
Selain itu ada tunjangan lainnya bila pekerjaan yang dialkukan itu berat.
Semua ini diatur oleh undang-undang, termasuk pengecualian-pengecualianyang
diterapkan. Misalnya Polisi dalam pekerjaan penuh atau petugas kebakaran
mendapatkan tunjangan bahaya.
Selain penghasilan teratur tiap bulan diberikan kepada PNS, maka juga
diberikan bonus khusus. Ini diberikan satu kali setiap tahun, berupa uang cuti yang
diberikan pada bulan Juli dan juga uang natal pada akhir tahun sebesar 90% gaji dasar,
sehingga dapat dianggap sebagai gaji ke-13.

II. MALAYSIA
A. HUKUM KEDISPLINAN
Pemerintahan Malaysia telah menciptakan suatu sistem kontrol terhadap
pelayanan sipil yang meliputi beberapa lingkup seperti latihan-latihan, pelaksanaan,
etika dan lain sebagainya. Tujuan dari sistem kontrol ini adalah untuk meningkatkan
kualitas unggulan pada pelayanan sipil, sehingga diharapkan dapat mencapai efisiensi,
kualitas dan produktivitas dilevel tertinggi.
Sistem kedisiplinan pada pelayanan sipil dibuat berdasarkan komponen-
komponen yaitu perilaku, larangan, otoritas kedisiplinan, prosedur dalam
memanajemen disiplin dan jenis hukuman bagi pelanggar disiplin.
1. Perilaku
Pada Peraturan Pegawai Public Tahun 1993 (The Public Officers Regulations
1993) terdapat beberapa jenis perialku tidak baik yang merupakan pelangaran
disiplin adalah :
• Tidak loyal kepada raja, negara dan pemerintah;
• Mendahulukan kepentingan pribadi diatas kepentingan umum;
• Tidak efisien, tidak dapat dipercaya, dan tidak bertanggung jawab
terhadap pelaksanaan tugas;
• Membawa pengaruh luar;
• Tidak patuh; dan
• Menunjukkan kelalaian dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

2. Larangan
• Pembantu sipil dilarang meminta hadiah/souvenir berkaitan dengan
pelaksanaan tugasnya;
• Pembantu sipil dilarang menyimpan/membawa atau mengkonsumsi obat-
obatan terlarang;
• Para pegawai yang termasuk dalam Top manajemen dan Kelompok
Manajerial dan Profesional dilarang aktif dalam kegiatan politik;
• Pembantu sipil boleh melakukan pekerjaan luar apabila mereka telah
mendapatkan ijin dari Pimpinan Departemen;
• Pembantu sipil diharuskan mendapatkan ijin dari Dewan Pengurus
Kedisiplinan untuk membeli property melebihi kekayaan mereka.

3. Otoritas Kedisiplinan
Pembentukan, hukum dan prosedur dari Otoritas Kedisiplinan (The
Disciplinary Authority) dalam pelayanan public diserahkan kepada Public Service
Disciplinary Board Regulations 1993. Anggota Dewan Kedisiplinan terdiri dari
seorang ketua dan tiga anggota lainnya.

4. Prosedur Dalam Memanajemen Disiplin


Ada 6 jenis kasus kedisiplinan yang diatur, yaitu:
a. Kasus normal;
b. Ketidak hadiran yang tidak dapat dipertanggung jawabkan;
c. Kasus pengadilan dan kasus criminal;
d. Kasus pegawai yang penangannannya ditunda, dihilangkan, dll;
e. Penghentian layanan-layanan dalam interest pelayanan public;
f. Biaya tambahan.

5. Jenis Hukuman Disiplin


a. Peringatan;
b. Denda;
c. Pemotongan honor;
d. Penundaan kenaikan gaji;
e. Penurunan gaji;
f. Penurunan pangkat;
g. Pemecatan;

B. SISTEM JENJANG PEGAWAI NEGERI


Departemen Pelayanan Public adalah lembaga pusat, bertanggung jawab
dalam perumusan dan implementasi kebijakan-kebijakan dalam manajemen
kepegawian untuk seluruh PNS. Fungsinya mencakup semua aspek dari masa jabatan
para pegawai di kantor pemerintah.
Dalam pengklasifikasian sistem kepegawaian Malaysia dibagi menjadi tiga
tingkatan kelompok, yaitu:
a. Kelompok Top Management
Kelompok ini terdiri dari pegawai-pegawai kantor tingkat tinggi/level tertentu.
b. Kelompok Management dan Profesional
Kelompok ini terdiri dari manajer professional.
c. Kelompok Penunjang
Semua tingkatan dari mulai pegawai yang mempunyai gaji B, C, dan D
termasuk bagian Industri dan Group Manual dibawah Grup penunjang.
Kelompok ini ada 13 tingkatan, masing-masing memberikan dan
membutuhkan jenis pelayanan yang diberikan.

C. STRUKTUR GAJI
a. Pemberian Imbalan
Pemberian imbalan kepada PNS terdiri dari Gaji, Upah tetap dan biaya-
biaya lain seperti rumah dan penggantian biaya-biaya yang dikeluarkan karena
keadaaan kritis. PNS juga diberikan keuntungan-keuntungan lain seperti biaya
perawatan medis/rumah sakit dan pertiga bulan sekali diberikan layanan tertentu
yang dianggap penting seperti The Fire Service dan Police Force. Objektivitas dari
penggajian ini adalah memberikan keyakinan bahwa semua anggotan PNS
menerima perlakuan yang terbuka, beralasan dan kompensasi diberikan sesuai
dengan tugas mereka masing-masing.

b. Jenis-jenis Insentif dan Uang Saku lainnya


Uang intensif diberikan kepada:
• Mereka yang mempunyai keahlian seperti pekerja Medis dan Ahli Gigi
yang termasuk dalam kelompok The Management & Professional Group;
• Mereka yang mempunyai keahlian yang mempunyai persyaratan dalam
pelaksaan tugas seperti ”Bilingual Skills Incentive Payment” (Pembayaran
Insentif untuk Keahlian Dua Bahasa) untuk stenographer;
• Mereka yang mempunyai tugas beresiko tinggi seperti Angkatan
Bersenjata;
• Mereka yang dipindahakan ke negara asing atau diluar territorial termasuk
kepada pegawai yang mempunyai resiko tinggi dalam pelaksaan tugas dan
tanggung jawabnya.
III. INDONESIA
A. HUKUM KEDISPLINAN
Peraturan yang mengatur tentang pelanggaran disiplin pada Pegawai Negeri
Sipil serta tindakan disiplin terdapat pada Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian pasal 23 ayat (3) dan (4)
serta Pasal 24.
Pegawai Negeri Sipil dapat diberhentikan tidak dengan hormat, karena:
a. Melanggar Sumpah/Janji Pegawai negeri Sipil, Sumpah/Janji Jabatan Negeri atau
Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil;
b. Dihukum penjara, berdasarkan keputusan pengadilan yang sudah mempunyai
kekuatan hukum yang tetap karena dengan sengaja melakukan sesuatu tindak
pidana kejahatan yang diancam setinggi-tingginya 4 (empat) tahun atau diancam
dengan hukuman yang lebih berat;
c. Dihukum penjara atau kurungan, berdasarkan keputusan pengadilan yang sudah
mempunyai kekuatan hukum yang tetap karena melakukan sesuatu tindak pidana
kejahatan jabatan atau tindak pidana kejahatan yang ada hubungannya dengan
jabatan;
d. Ternyata melakukan penyelewengan terhadap Ideologi Negara Pancasila, Undang-
undang Dasar 1945, atau terlibat dalam kegiatan yang menentang Negara dan atau
Pemerintah.
Peraturan yang mengatur tentang disiplin dalam pegawai negeri sipil adalah
peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan
disiplin Pegawai Negeri Sipil. Pasal yang mengatur tentang tindakan disiplin adalah :
a. Hukum Disiplin Ringan, yaitu:
1. teguran lisan;
2. teguran tertulis;
3. pernyataan tidak puas secara tertulis.
b. Hukuman Disiplin Sedang, yaitu:
1. penundaan kenaikan gaji berkala untuk paling lama 1 (satu) tahun;
2. penurunan gaji sebesar satu kali kenaikan gaji berkala untuk paling lama 1
(satu) tahun;
3. penundaan kenaikan pangkat untuk paling lama 1 (satu) tahun.
c. Hukuman Disiplin Berat, yaitu:
1. Penurunan pangkat pada pangkat yang setingkat lebih rendah untuk paling
lama 1 (satu) tahun;
2. Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai
Pegawai Negeri Sipil;
3. Pemberhentian tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil.

B. SISTEM JENJANG PEGAWAI NEGERI


Sistem jenjang pada Pegawai Negeri Sipil di Indonesia terdiri dari :
1. Jabatan Fungsional Umum
2. Jabatan Fungsional
3. Jabatan Struktural

C. STRUKTUR GAJI
Sistem penggajian pada Pegawai Negeri Sipil di Indonesia diatur melalui
beberapa Peraturan. Untuk gaji utama atau gaji pokok diatur pada PP No. 9 Tahun
2007 tentang Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil. Kemudian untuk tunjangan jabatan
struktural diatur dengan Peraturan Presiden No. 3 Tahun 2006 tentang Tunjangan
Jabatan Struktural. Tunjangan yang diberikan pada pemegang jabatan fungsional
diatur pada peraturan tersendiri yang disusun oleh Instansi Pembina Jabatan
Fungsional. Sedangkan bagi pegawai yang tidak menduduki jabatan struktural
maupun fungsional maka diatur pada Peraturan Presiden No. 12 Tahun 2006 tentang
Tunjangan Umum Bagi Pegawai Negeri Sipil. Tetapi ada elemen lain yang diberikan
pemerintah pada Bulan Juni berupa Bonus senilai kompensasi yang diterima setiap
bulannya.
Jadi sistem penggajian di Indonesia terdiri dari:
1. Gaji Pokok
2. Tunjangan Jabatan (Fungsional atau Struktural atau Umum)
3. Bonus
NEGARA
JERMAN INDONESIA MALAYSIA
KRITERIA
HUKUM KEDISIPLINAN Jenis-jenis hukuman Jenis-jenis hukuman Jenis-jenis hukuman
Disiplin: Disiplin: Disiplin:
a. Teguran sebagai a. Hukum Disiplin Ringan a. Peringatan;
sanksi paling b. Hukum Disiplin Sedang b. Denda;
rendah. c. Hukum Disiplin Berat c. Pemotongan
honor;
b. Denda.
d. Penundaan
c. Pengurangan gaji.
kenaikan
d. Dipecat dari tugas
gaji;
merupakan e. Penurunan
tindakan disiplin gaji;
yang paling keras. f. Penurunan
pangkat;
g. Pemecatan;
SISTEM JENJANG Jerman mengenal 4 Jenjang jabatan di Sistem kepegawaian
PEGAWAI golongan jenjang, yaitu: Indonesia: Malaysia dibagi menjadi tiga
• Dinas Sederhana 1. Jabatan tingkatan kelompok, yaitu:
• Dinas Menengah Fungsional a. Kelompok Top
• Dinas Tinggi Umum Management
• Dinas Tertinggi 2. Jabatan b. Kelompok
Fungsional Management dan
3. Jabatan Profesional
Struktural c. Kelompok Penunjang
STRUKTUR GAJI Komponen Penggajian: Komponen Penggajian: Komponen Penggajian:
1. Gaji Pokok
a. Gaji Pokok (berdasarkan a. Gaji
2. Tunjangan Jabatan
posisi dan senioritas) b. Upah Tetap
(Fungsional,
b. Tunjangan (Sifatnya c. Perawatan Medis
Struktural atau
bulanan :keluarga, bahaya d. Insentif bagi bidang-
Umum)
dan stress) bidang yang
3. Bonus
c. Bonus (Sifatnya tahunan: memerlukan keahlian
Liburan dan Natal) khusus, atau berbahaya
dan di luar negara
Malaysia
BAB IV

PEMBAHASAN

Perbandingan penerapan hukuman kedisiplinan dari negara Jerman, Indonesia


dan Malaysia secara garis besar memiliki persamaan konsep. Sifat hukumannya bertingkat
berdasarkan kepada tingkat kesalahan dimulai dari hukuman ringan, sedang hingga berat
berupa pemecatan. Namun yang menjadi permasalahan dalam tahapan penerapan hukuman
disiplin adalah kesulitan dalam pembuktian kesalahan.

Permasalahan utama dalam penerapan hukuman disiplin di Indonesia adalah


sulitnya proses pemecatan pegawai walaupun hal tersebut telah dijabarkan pada peraturan.
Kemudian watak orang Indonesia yang tidak memberikan hukuman sesuai dengan ketentuan
tetapi lebih kepada titik tengah. Yang harus dicontoh dalam penerapan peraturan
kedisiplinan adalah komitmen penegak disiplin dalam penerapan hukuman terhadap para
pelanggar kedisiplinan.

Jenjang jabatan pada Pegawai Negeri Sipil di Indonesia hampir serupa dengan
Malaysia walaupun terdapat perbedaan dalam penamaannya. Dimana Jabatan Fungsional
Umum sama dengan Kelompok Penunjang, kemudian Jabatan Fungsional sama dengan
Kelompok Manajemen dan Profesional sedangkan pada level pimpinan di Indonesia disebut
dengan Jabatan Struktural sedangkan di Malaysia disebut Kelompok Top Management.
Penjenjangan tersebut juga tidak terlalu berbeda dengan di negara Jerman. Yang menjadi
catatan penting dalam kebijakan negara Jerman dan Malaysia adalah adanya
pengkualifikasiaan suatu jabatan berdasarkan tingkat pengetahuan dan kemampuan.
Sedangkan di Indonesia lebih didasarkan kepada tingkat senioritas yang mempengaruhi
jenjang kepangkatan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pembatasan dalam proses
kenaikan Jenjang yang ada di Jerman dimana perubahan tersebut sangat sulit jika tidak
memenuhi kualifikasi awal.

Permasalahan di Indonesia dalam proses penjenjangan jabatan lainnya adalah


sikap profesionalisme dalam bidang tugas yang terlihat dalam penempatan seseorang di
dalam suatu bidang tugas yang lebih berdasarkan kepada unsur kedekatan kepada Pimpinan
dan senioritas dan bukan unsur profesionalisme dan keahlian. Pada jenjang kepegawaian di
Indonesia sangat sulit untuk terjadi kenaikan jenjang yang sangat drastic walaupun telah
melakukan perbuatan yang istimewa dan member pengaruh yang cukup besar pada
organisasi.
Sistem penggajian yang ada di Indonesia telah memenuhi persyaratan dan konsep
yang ada, tetapi yang harus menjadi catatan adalah jumlahnya yang masih belum sesuai
dengan kebutuhan. Pada negara Jerman perbedaan antara gaji di Swasta dengan Pegawai
Negeri tidak terlalu jauh berbeda sedangkan di Indonesia perbedaan ini cukup jauh. Standar
gaji yang cukup rendah inilah yang membuat SDM yang memilih untuk masuk ke lingkup
Pegawai Negeri tidak terlalu baik berbeda dengan Jerman dimana standar gaji yang cukup
tinggi sehingga bisa memperoleh SDM yang cukup baik.

Untuk meningkatkan kinerja Pegawai Negeri maka nantinya sistem penggajian di


Indonesia harus disesuaikan dengan penggajian di Swasta sehingga akansemakin banyak
SDM yang berkualitas baik tertarik untuk menjadi Pegawai Negeri.