Anda di halaman 1dari 4

KURANG ENERGI PROTEIN

Definisi Kurang energi protein (KEP) adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak mampu mencukupi angka kebutuhan gizi (AKG).2

Etiologi Spektrum penyebab KEP adalah intake makanan yang kurang (kemiskinan, ketidaktahuan, dan penyakit) dan penyakit sistemik.5

Patogenesis Siklus infeksi, diare dan kurang gizi yang diperberat oleh adanya immunodefisiensi, atrofi/disfungsi organ, malabsopsi/maldigesti, kehilangan/defisiensi meningkat, katabolisme meningkat defisiensi makro/mikro nutrien gangguan pertumbuhan KEP

Diagnosis Diagnosis KEP dilakukan dengan melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang baik. Anamnesis yang dilakukan adalah mengenai hal berikut:3 Diet yang lazim sebelum sakit Riwayat pemberian ASI Pangan dan cairan yang disantap beberapa hari sebelum sakit Riwayat pencekungan mata Lama dan frekuensi muntah atau diare Saat terjadi berkemih Kontak dengan penderita campak dan TBC Riwayat kematian saudara kandung Berat badan lahir Riwayat perkembangan fsik Riwayat imunisasi

Pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah sebagai berikut:3 Berat dan panjang (tinggi) badan Edema Pembesaran dan kenyerian hati, jaundice

Ketegangan perut dan bunyi usus Tanda kolaps sirkulasi Suhu tubuh Mata: lensi kornea menandakan KVA THT: adakah tanda infeksi Kulit: adakah tanda infeksi dan purpura Frekuensi dan jenis pernafasan Tampilan tinja

Klasifikasi Orang pertama yang melakukan klasifikasi KEP adalah Gomez pada tahun 1956. Klasifikasinya didasarkan atas berat badan terhadap usia (BB/U). Berat anak yang diperiksa dinyatakan sebagai persentase dari berat anak seusia yang diharapkan pada baku acuan dengan menggunakan persentil ke-50 baku acuan Harvard. Dengan cara ini, marasmus dan kwashiorkor tidak dapat dibedakan. Akibatnya, anak dengan BB/U sangat rendah tidak terkategori KEP karena anak dengan BB/U sangat rendah ini memiliki tinggi badan yang rendah juga. Tabel XX. Klasifikasi KEP menurut Gomez3 Kategori I (ringan) II (sedang) III (berat) BB/U (%) 90-76 75-61 < 60

Pada tahun 1966, Jellife manyusun klasifikasi berat badan terhadap usia, sama seperti Gomez. Bedanya, Jellife membagi KEP menjadi 4 tingkatan. Tabel XX. Klasifikasi KEP menurut Jellife3 Kategori KEP I KEP II KEP III KEP IV BB/U (%) 90-80 80-70 70-80 < 60

Dengan klasifikasi Jellife, marasmus dan kwashiorkor belum dapat dibedakan sehingga Bengoa (1970) memasukkan tanda edema, tanpa memandang defisit berat badan. Sama dengan Gomez dan Jellife, Bengoa masih menggunakan baku Harvard sebagai acuan. Menurut Bengoa, KEP dapat diklasifikasikan menjadi 3, yaitu:

Tabel XX. Klasifikasi KEP menurut Bengoa3 BB/U (%) 90-76 74-61 Semua penderita dengan edema Selain itu, ada juga klasifikasi lain KEP yang dilakukan oleh Wellcome (1970), Waterlow (1973), dan Depkes RI (2000). Klasifikasi yang digunakan di Indonesia adalah klasifikasi yang dibuat oleh Depkes RI yang didasarkan temu pakar gizi di Bogor tanggal 19-21 Januari dan di Semarang tanggal 24-26 Mei tahun 2000. Depkes merekomendsikan baku WHO-NCHS sebagai baku antropometris di Indonesia. Indikator yang digunakan adalah tinggi badan dan berat badan.3 Tabel XXX Klasifikasi KEP menurut Depkes 20003 Indeks BB/U Simpangan Baku 2 SD -2 SD sampai + 2 SD < -2 SD sampai -3 SD < -3 SD Normal Pendek 2 SD -2 SD sampai + 2 SD < -2 SD sampai -3 SD < -3 SD Status Gizi Gizi lebih Gizi baik Gizi kurang Gizi buruk -2 SD sampai + 2 SD < -2 SD Gemuk Normal Kurus Sangat kurus Kategori KEP I KEP II KEP III

TB/U BB/TB

Manifestasi Klinis Secara klinis terdapat 3 tipe KEP yaitu kwashiorkor, marasmus, dan marasmikkwashiorkor. KEP ringan atau sedang disertai edema yang bukan karena penyakit lain disebut KEP berat tipe kwashiorkor. Sementara itu, manifestasi klinis KEP berat adalah sebagai berikut:3 KEP berat tipe kwashiorkor o Edema, umumnya seluruh tubuh dan terutama pada kaki (dorsum pedis) o Wajah membulat dan sembab o Pandangan mata sayu o Rambut tipis, kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah dicabut tanpa rasa sakit, rontok o Perubahan status mental: cengeng, rewel, kadang apatis o Pembesaran hati o Otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk o Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkupas (crazy pavement dermatosis)

o Sering disertai: infeksi, anemia, diare. KEP berat tipe marasmus o Tampak sangat kurus, hingga tulang terbungkus kulit o Wajah seperti orang tua

o Cengeng, rewel o Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada o Perut cekung o Sering disertai: penyakit kronik, diare kronik. KEP berat tipe marasmik-kwashiorkor o Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwashiorkor dan marasmus, dengan BB/U < 60% baku median WHO-NCHS disertai edema yang tidak mencolok. Pada setiap penderita KEP berat, selalu periksa adanya gejala defisiensi nutrien mikro yang sering menyertai seperti xerophthalmia (defisiensi vitamin A), anemia (defisiensi Fe, Cu, vitamin B12, asam folat), stomatitis (vitamin B, C), dll.3