Anda di halaman 1dari 10

KWASHIORKOR

Jessica Wangke

Secara umum, Depkes (2000) membagi klasifikasi status gizi sebagai berikut:
Index Status Gizi
BB/U
> +2 SD Gizi Lebih
≥ -2 SD s/d +2 SD Gizi Baik
≥ -3 SD s/d < -2 SD Gizi Kurang
< -3 SD Gizi Buruk

KKP/KEP (Protein-Energy Malnutrition/PEM) adalah penyakit yang disebabkan karena


kekurangan energi dan protein, umumnya disertai oleh defisiensi nutrient lain, sehingga tidak
memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG)4,7,9.
Pada keadaan ringan, gejala klinis dan kelainan mungkin belum ditemukan/jelas, akan tetapi
pada keadaan berat, terdapat beberapa tipe gizi buruk2,3, antara lain:
1. Kwashiorkor kurang protein

2. Marasmus  kurang kalori

3. Marasmik-Kwashiorkor (Kwashiorkor-Marasmik)  kurang protein dan kalori


- merupakan campuran gejala klinik Kwashiorkor
dan Marasmus dengan BB/TB-PB ≤ 3 SD
disertai edema yang tidak mencolok3
- terdapat gangguan pertumbuhan5
- ada CPD5
- oedema pada anggota gerak bawah5
- BB/U di bawah 60% dari BB baku menurut umurnya7

Gambar 1: Marasmik-Kwashiorkor
Tabel 1: Status Gizi menurut % BB7

10 Prinsip dasar pelayanan rutin yang harus dilakukan pada AGB (Depkes)9:
1. Atasi/cegah hipoglikemia
2. Atasi/cegah hipotermia
3. Atasi/cegah dehidrasi
4. Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit
5. Obati/cegah infeksi
6. Mulai pemberian makanan
7. Fasilitasi tumbuh-kejar (catch up growth)
8. Koreksi defisiensi nutrien mikro
9. Lakukan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental
10. Siapkan dan rencanakan tindak lanjut setelah sembuh.

KASUS
Seorang anak lelaki umur 1 tahun 11 bulan masuk rawat inap di RSAJ karena demam dan batuk
berulang 6 bulan terakhir. Sekarang dengan sesak napas. Nafsu makan sangat kurang. Kaki,
tungkai serta perut membengkak secara berangsur 1 bulan ini. Anak mencret berulang dan
berlanjut, kadang tinja disertai darah dan lendir. Kondisi sosio-ekonomi kurang. Kontak dengan
penderita TBC paru tidak jelas.
Pemeriksaan Fisik : Anak nampak sakit berat, gizi buruk, apati. BB 8,1 kg, PB 76 cm. Nampak
sesak, pernapasan cuping hidung, takipnea, retraksi, sianosis. Paru ronkhi basah halus namun
tidak jelas. Jantung dalam batas normal. Nampak muka, telapak tangan dan kaki pucat. Hati 3 cm
b.a.c. dan limpa SI. Edema dorsum pedis dan pretibial serta tungkai atas dan asites. Skor
dehidrasi 10.

DEFINISI
Kwashiorkor atau “Edematous PEM” adalah bentuk malnutrisi protein yang berat atau intake
protein yang inadekuat, umumnya disertai dengan intake kalori yang adekuat8.

EPIDEMIOLOGI
- biasanya pada balita, namun bisa juga terjadi pada bayi atau orang dewasa akibat
komplikasi parasit/infeksi10
- masih merupakan masalah utama di Indonesia (tidak hanya Kwashiorkor, namun
KEP secara keseluruhan)6
- Prevalensi di Indonesia masih lebih sedikit daripada Marasmus6
- Pada penduduk berpenghasilan rendah8

ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO5


- Faktor diet (asupan sehari-hari kurang, anak anoreksia/sulit makan, kurang
pengaturan makanan oleh keluarga, makan cukup namun kualitas makanan jelek)
- Malabsorbsi, penggunaan berlebihan oleh tubuh, kehilangan zat gizi lewat diare
- Pemberian ASI tidak adekuat
- Infeksi (dapat memperburuk keadaan gizi)
- Faktor sekunder:
+ faktor sosio-ekonomi (kemiskinan, kepadatan penduduk)
+ pendidikan rendah (pengetahuan tentang gizi <<< )
+ cakupan pelayanan kesehatan rendah

PATOFISIOLOGI11
Edema pada kasus Kwashiorkor disebabkan oleh katabolisme jaringan yang berlebihan,
karena persediaan energi dapat dipenuhi oleh jumlah kalori yang cukup dalam dietnya. Namun,
kekurangan protein dalam dietnya akan menimbulkan kekurangan berbagai asam amino esensial
yang dibutuhkan untuk sintesis. Oleh karena dalam diet terdapat cukup karbohidrat, maka
produksi insulin akan meningkat dan sebagian asam amino dalam serum yang jumlahnya sudah
kurang tersebut akan disalurkan ke otot. Berkurangnya asam amino dalam serum merupakan
penyebabnya kurang pembentukan albumin oleh hepar, sehingga kemudian timbul edema.
Edema terjadi bisa disebabkan hipoalbuminemia, gangguan dinding kapiler, dan hormonal akibat
dari gangguan eliminasi ADH.
Perlemakan hati disebabkan gangguan pembentukan lipoprotein beta sehingga
transportasi lemak dari hati ke depot lemak juga terganggu dan akibatnya terjadi akumulasi
lemak dalam hepar.
Rambut mudah dicabut karena pada Kwashiorkor, keratin yang seharusnya digunakan
untuk pertumbuhan rambut berkurang.
Crazy Pavement Dermatosis (CPD) yang merupakan bercak-bercak putih atau merah
muda dengan tepi hitam ditemukan pada bagian tubuh yang sering mendapat tekanan. Terutama
bila tekanan itu terus-menerus dan disertai kelembapan oleh keringat atau ekskreta, seperti pada
bokong, fosa politea, lutut, buku kaki, paha, lipat paha, dan sebagainya. Perubahan kulit
demikian dimulai dengan bercak-bercak kecil merah yang dalam waktu singkat bertambah dan
berpadu untuk menjadi hitam. Pada suatu saat mengelupas dan memperlihatkan bagian-bagian
yang tidak mengandung pigmen, dibatasi oleh tepi yang masih hitam oleh hiperpigmentasi.
Anemia disebabkan oleh kurangnya nutrien yang penting untuk pembentukan darah
seperti Ferum, vitamin B kompleks (B12, folat, B6).

MANIFESTASI KLINIS3
1. Edema
- Berikut ini adalah derajat edema pada Kwashiorkor:
+ : tungkai dan kaki
++ : tungkai dan lengan
+++ : seluruh tubuh
- Edema pada Kwashiorkor bersifat pitting edema (apabila ditekan, lama untuk kembali
seperti semula)
2. “Moon Face” (wajah membulat) dan sembab
3. Pandangan mata sayu
4. Rambut tipis dan kemerahan seperti warna jagung; rontok; mudah dicabut tanpa sakit
5. Apatis dan iritabel (rewel)
6. Hepatomegali
7. Hipotrofi, bahkan atrofi otot
8. Crazy Pavement Dermatosis (perubahan warna kulit sejak merah muda menjadi cokelat
kehitaman dan terkelupas)
9. Sering disertai penyakit infeksi akut, anemia (bibir tampak pucat), dan diare
10. Nafsu makan yang jelek
11. Tumbuh-kembang jelek/gagal tumbuh

Gambar 3 : Crazy Pavement Dermatosis


Gambar 2 : Tanda Klinis Umum Anak Kwashiorkor

Secara umum, berikut ini perbedaan Marasmus dan Kwashiorkor:


Marasmus Kwashiorkor
 Anak tampak sangat kurus, tinggal tulang  Edema di beberapa bagian tubuh
terbungkus kulit
 Wajah seperti orang tua  Moon face
 Cengeng, rewel  Pandangan mata sayu
 Perubahan status mental: cengeng, rewel,
kadang apatis
 Perut cekung  Perut cembung dan hepatomegali
 Kulit keriput  CPD
 Otot atrofi/hipotrofi

 Sering disertai diare kronik atau sembelit  Rambut berwarna kepirangan, kusam, dan
mudah dicabut
 menolak segala jenis makanan (anoreksia)
 Sering disertai anemia, diare, dan infeksi
 Napsu makan biasanya baik
 Napsu makan biasanya buruk

DIAGNOSIS
a. Anamnesis
- riwayat BBL4
- riwayat terpapar penyakit infeksi4
- riwayat pemberian ASI4
- status Imunisasi4
- riwayat asupan makanan sebelum sakit
- riwayat perkembangan psikomotor
b. PF
- Antropometri (BB, TB/PB)
- TTV (Suhu: hipotermia/demam, nadi)
- Anemia & Pucat?
- Kesadaran Menurun?
- Tangan/kaki dingin?
- Ada edema atau tidak? Atrofi otot?
- Hepatomegali? Bising Usus? Ikterik?
- Frekuensi dan tipe pernapasan?
c. PP
- Gula darah (apakah hipoglikemi?)
- Hb/Ht (apakah anemia berat?)
- Protein serum, albumin
- Biopsi hati
- Feses (kultur, apakah disebabkan oleh infeksi?)
- Radiologi untuk pemeriksaan adanya kelainan paru

DIAGNOSIS BANDING8
a. Marasmik-Kwashiorkor (walaupun ada GK Kwashiorkor, namun disertai juga GK
Marasmus, dan ditandai oleh defisiensi protein dan kalori)
b. Marasmus (sama-sama malnutrisi, namun apabila dilihat dari asupan gizi, marasmus
akibat kekurangan kalori)
c. Sistik Fibrosis

TATA LAKSANA
a. Dietik
- Makanan TKTP = 1½ x kebutuhan normal (0-3 tahun : 150 – 175 kkal/kg/hari),
diberikan bertahap.
- Minggu I : Fase stabilisasi (75 % - 80 % dari kebutuhan normal)  Protein: 1 – 1.5
gram/kgBB/hari
- Minggu II : Fase transisi (150 % dari kebutuhan normal)  Protein: 2 - 3
gram/kgBB/hari
- Minggu III : Fase rehabilitasi (150 – 200 % dari kebutuhan normal)  Protein : 4 – 6
gram/kgBB/hari
b. Penambahan Suplemen Vitamin
- Vitamin A → 1 tahun : 200.000 SI (1 kali dalam 6 bulan)
- Vitamin D + B kompleks + C
c. Penambahan mineral
- Jumlah cairan : 130 – 200 ml/kg/BB/hari (per oral/NGT)
- Kalau edema, dikurangi (100 ml/Kg bb/hari)
d. Penatalaksaan hipotermia (dekap dengan selimut tebal, dsb)
e. Penatalaksaan hipoglikemia
- berikan makanan saring/cair 2-3 jam sekali
- berikan air gula dengan sendok
f. Penatalaksaan dehidrasi
- Teruskan pemberian ASI
- Rehidrasi oral 50 ml / 30 menit
g. Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit
h. Pengobatan terhadap infeksi dengan antibiotik spektrum luas
(amoksisilin/kotrimoksasol), karena tanda-tanda yang menunjukkan infeksi seperti
demam seringkali tidak muncul9

PROGNOSIS
Penanganan yang cepat dan tepat pada kasus-kasus gizi seperti kwashiorkor, umumnya dapat
memberikan prognosis yang cukup baik. Penanganan pada stadium yang lanjut, walaupun dapat
meningkatkan kesehatan anak secara umum, namun ada kemungkinannya untuk memperoleh
gangguan fisik permanen dan gangguan intelektual. Sedangkan bila penanganan terlambat atau
tidak memperoleh penanganan sama sekali, dapat berakibat fatal.12

KOMPLIKASI12
1. Pertumbuhan dan perkembangan terhambat (“stunting”  postur tubuh kecil)
2. Rentan terhadap berbagai penyakit infeksi (sistem imunitas menurun)
3. Perkembangan kecerdasan terhambat (IQ ↓, perkembangan otak dan mental juga
terganggu)
4. Apatis, gangguan bicara, dan gangguan percaya diri
5. Koma
6. Mengancam jiwa karena menimbulkan disfungsi organ, hipotermia, hipoglikemia, serta
kekurangan elektrolit dan cairan tubuh

PENCEGAHAN10
a. Promosi ASI ditingkatkan
b. Ketersediaan makanan bergizi seimbang dan adekuat. Untuk mendapatkan sumber
protein yang bernilai tinggi bisa didapatkan dari protein hewani seperti susu, keju,
daging, telur dan ikan. Bisa juga mendapatkan protein dari protein nabati seperti kacang
hijau dan kacang kedelai.
c. Pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan terhadap penyakit infeksi, serta memperbaiki
sanitasi lingkungan.
d. Edukasi kepada orang tua
e. Promosi ASI ditingkatkan
f. Imunisasi/vaksinasi
g. Program KB
h. Surveillance BB tiap bulan pada anak balita, terutama di daerah endemis

PENYELESAIAN KASUS
Diagnosis kasus di atas adalah: Kwashiorkor disertai TBC dan disentri, bukan Marasmus
maupun Marasmik-Kwashiorkor. Alasannya:
a. Marasmik tidak ada edema, sedangkan pada kasus edema terlihat pada kaki, tungkai, dan
perut.
b. Marasmik-Kwashiorkor termasuk PEM berat dimana BB anak < 60% BB baku,
sedangkan pada kasus: usia 2 tahun dengan BB 8.1 kg (normal 2 tahun, BB ±10 kg)
adalah > 60 % BB baku.
Adapun penatalaksanaannya dengan memperbaiki keadaan gizi dan KU anak untuk menangani
Kwashiorkornya, sedangkan untuk infeksi diberikan antibiotik spektrum luas. Untuk TBC
diberikan pengobatan spesifik untuk penyakit tersebut.

Bahan Rujukan:
1. Anonim. Nutritional Pathology: Kwashiorkor. Available at:
http://www.surgical-pathology.com/kwashiorkor.htm (diakses pada 13 April 2011)
2. Pudjiadi, Solihin. Penyakit KKP. Ilmu Gizi Klinis pada Anak. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
3. Diktat Kuliah Blok Endokrin - Metab. dr. Elvira, Sp.A : “Tanda & Gejala Klinis AGB; Tatalaksana AGB”
4. Karch, Robert. Kwashiorkor: Excerpt from The 5-Minute Pediatric Consult. USA: Lippincott Williams &
Wilkins. 2008
5. Siregar, Arifin. Pengaruh Pengetahuan Ibu Terhadap Kurang Kalori Protein pada Balita. Universitas
Sumatera Utara. 2004
6. Lubis, Nuchsan U. dan A.Y. Marsida. Penatalaksanaan Busung Lapar pada Balita. Cermin Kedokteran 134:
Masalah Anak. Jakarta: Kalbe Farma. 2002
7. Diktat Kuliah Blok IKM – dr. Hendra Budiman, MSc : “KKP”
8. Kliegman, RM, etc. Nelson Textbook of Pediatrics . 18th ed. USA: Philadelphia. 2007
9. Depkes. Pedoman Tatalaksana Kurang Energi Protein.
10. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. Buku Kuliah ilmu Kesehatan Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: FKUI.
11. Scheinfeld, NS. Protein Energy Malnutrition. Available at: http://www.emedicine.com/derm/topic797.htm
12. Van Voorhees, BW. Kwashiorkor. Available at : http://pennhealth.com/ency/article/001604.htm