Anda di halaman 1dari 12

Obat-Obat Antelmintik

Antelmintika atau obat cacing (Yunani anti = lawan, helmintes = cacing) adalah obat yang dapat memusnahkan cacing dalam tubuh manusia dan hewan. Dalam istilah ini termasuk semua zat yang bekerja lokal menghalau cacing dari saluran cerna maupun obat-obat sistemik yang membasmi cacing serta larvanya, yang menghinggapi organ dan jaringan tubuh (Tjay, 2007) Kebanyakan antelmintik efektif terhadap satu macam cacing, sehingga diperlukan diagnosis tepat sebelum menggunakan obat tertentu. Kebanyakan antelmintik diberikan secara oral, pada saat makan atau sesudah makan. Beberapa senyawa antelmintik yang lama, sudah tergeser oleh obat baru seperti

Mebendazole, Piperazin, Levamisol, Albendazole, Tiabendazole, dan sebagainya. Karena obat tersebut kurang dimanfaatkan. (Gunawan, 2009) Infeksi cacing merupakan salah satu penyakit yang paling umum tersebar dan menjangkiti lebih dari 2 miliar manusia diseluruh dunia. Walaupun tersedia obat-obat baru yang lebih spesifik dangan kerja lebih efektif, pembasmian penyakit ini masih tetap merupakan salah satu masalah antara lain disebabkan oleh kondisi sosial ekonomi di beberapa bagian dunia. Jumlah manusia yang dihinggapinya juga semakin bertambah akibat migrasi, lalu-lintas dan kepariwisataan udara dapat menyebabkan perluasan kemungkinan infeksi. (Tjay, 2007) Terdapat tiga golongan cacing yang menyerang manusia yaitu matoda, trematoda, dan cestoda. Sebagaimana penggunaan antibiotika, antelmintik ditujukan pada target metabolic yang terdapat dalam parasite tetapi tidak mempengaruhi atau berfungsi lain untuk pejamu. (Mycek,2001)

A. Obat-Obat Untuk Pengobatan Nematoda 1. Mebendazol Mebendazol merupakan obat cacing yang paling luas spektrumnya. Obat ini tidak larut dalam air, tidak bersifat higroskopis sehingga stabil dalam keadaan terbuka (Ganirwarna, 1995). Mebendazol adalah obat cacing yang efektif terhadap cacing Toxocara canis, Toxocara cati, Toxascaris leonina. Trichuris vulpis, Uncinaria stenocephala, Ancylostoma caninum, Taenia pisiformis, Taenia hydatigena,

Echinococcus granulosus dan aeniaformis hydatigena (Tennant, 2002). Senyawa ini merupakan turunan benzimidazol, obat ini berefek pada hambatan pemasukan glukosa ke dalam cacing secara ireversibel sehingga terjadi pengosongan glikogen dalam cacing. Mebendazol juga dapat menyebabkan kerusakan struktur subseluler dan menghambat sekresi asetilkolinesterase cacing (Ganirwarna, 1995). Nama kimia mebendazole yaitu methyl [(5-benzoyl-3H-benzoimidazol-2-yl)amino]formate. Rumus kimia : C16H13N3O3 farmakokinetika Mebendazol tidak larut dalam iar dan rasanya enak. Pada pemberian oral absorbsinya buruk. Obat ini memiliki bioavailabilitas sistemik yang rendah yang disebabkan oleh absorbsinya yang rendah dan mengalami first pass hepatic metabolisme yang cepat. Diekskresikan lewat urin dalam bentuk yang utuh dan metabolit sebagai hasil dekarboksilasi dalam waktu 48 jam. Absorbsi mebendazol akan lebih cepat jika diberikan bersama lemak (Ganirwarna, 1995).

Efek Nonterapi dan Kontraindikasi

Mebendazol

tidak

menyebabkan

efek

toksik

sistemik

mungkin

karena

absorbsinya yang buruk sehingga aman diberikan pada penderita dengan anemia maupun malnutrisi. Efek samping yang kadang-kadang timbul berupa diare dan sakit perut ringan yang bersifat sementara. Dari studi toksikologi obat ini memiliki batas keamanan yang lebar. Tetapi pemberian dosis tunggal sebesar 10 mg/kg BB pada tikus hamil memperlihatkan efek embriotoksik dan teratogenik (Ganirwarna, 1995). 2. Pirantel Pamoat Pirantel pamoat adalah obat cacing yang banyak digunakan saat ini. Mungkin karena cara penggunaannya yang praktis, yaitu dosis tunggal, sehingga disukai banyak orang. Selain itu khasiatnya pun cukup baik.Pirantel pamoat dapat membasmi berbagai jenis cacing di usus. Beberapa diantaranya adalah cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale), cacing gelang (Ascaris

lumbrocoides), dan cacing kremi (Enterobius vermicularis) (MIMS,1998). Cara kerja pirantel pamoat adalah dengan melumpuhkan cacing. Cacing yang lumpuh akan mudah terbawa keluar bersama tinja. Setelah keluar dari tubuh, cacing akan segera mati.Pirantel pamoat dapat diminum dengan keadaan perut kosong, atau diminum bersama makanan, susu atau jus. (Drugs.Com, 2007). Pemakaiannya berupa dosis tunggal, yaitu hanya satu kali diminum.Dosis biasanya dihitung per berat badan (BB), yaitu 10 mg / kgBB. Walaupun demikian, dosis tidak boleh melebihi 1 gr. Sediaan biasanya berupa sirup (250 mg/ml) atau tablet (125 mg /tablet). Bagi orang yang mempunyai berat badan 50 kg misalnya, membutuhkan 500 mg pirantel. Jadi jangan heran jika orang tersebut diresepkan 4 tablet pirantel (125 mg) sekali minum.Nama dagang pirantel pamoat yang beredar di

Indonesia bermacam-macam, ada Combantrin, Pantrin, Omegpantrin, dan lain-lain (MIMS,1998) . 3. Tiabendazol Tiabendazol adalah suatu benzimidazol sintetik yang berbeda, efektif terhadap strongilodiasis yang disebabkan Strongyloides stercoralis (cacing benang), larva migrans pada kuliat (atau erupsi menjalar) dan tahap awal trikinosis (disebabkan Trichinella spinalis). Obat juga menganggu agregasi mikrotubular. Meskipun hamper tidak larut dalam air, obat mudah diabsorbsi pada pemberian per oral. Obar dihidroksilasi dalam hati dan dikeluarkan dalam urine. Efek samping yang dijum[pai ialah pusing, tidak mau makan, mual dan muntah. Terrdapat beberapa laporan tentang gejala SSP. Diantara kasus eritema multiforme dan sindrom Stevens Johnson yang dilaporkan akibat tiabendazol, terdapat beberapa kematian. (Mycek, 2001)

4. Invermektin Invermektin adalah obat pilihan untuk pengobatan onkoserkiasis (buta sungai) disebabkan Onchocerca volvulus dan terbukti pula efektif untuk scabies. Ivermektin bekerja pada reseptor GABA (asam -amionobutirat) parasite. Aliran klorida dipacu keluar dan terjadi hiperpolarisasi, menyebabkan paralisis cacing. Obat diberikan oral. Tidak menembus sawar darah otak dan tidak memberikan efek farmakologik. Namun, tidak boleh diberikan pada pasien meningitis karena sawar tak darah lebih permiabel dan terjadi pengaruh SSP. Ivermektin juga tidak boleh untuk orang hamil. Tidak boleh untuk pasien yangmenggunakan benzodiasepin atau barbiturate obat bekerja pada reseptor GABA. Pembunuhan mikrofilia dapat menyebabkan reaksi

seperti Mozatti (demam, sakit kepala, pusing, somnolen, hipotensi dan sebagainya) (Mycek, 2001) B. Obat Untuk Pengobatan Trematoda Trematoda merupakan cacing pipih berdaun, digolongkan sesuai jaringan yang diinfeksi. Misalnya sebagai cacing isap hati, paru, usus atau darah. 1. Prazikuantel Infeksi trematoda umumnya diobati dengan prazikuantel. Obat ini merupakan obat pilihan untuk pengobatan semua bentuk skistosomiasis dan infeksi cestoda seperti sistisercosis. Permeabilitas membrane sel terhadap kalsium meningkat

menyebabkan parasite mengalami kontraktur dan paralisis. Prazikuantel mudah diabsorbsi pada pemberian oral dan tersebar sampai ke cairan serebrospinal. Kadar yang tinggi dapat dijumpai dalam empedu. Obat dimetabolisme secara oksidatif dengan sempurna, meyebabkan waktu paruh menjadi pendek. Metabolit tidak aktif dan dikeluarkan melalui urin dan empedu (Mycek, 2001) Efek samping yang biasa termasuk mengantuk, pusing, lesu, tidak mau makan dan gangguan pencernaan. Obat ini tidak boleh diberikan pada wanita hamil atau menyusui. Interaksi obat yangterjadi akibat peningkatan metabolisme telah dilaporkan jika diberikan bersamaan deksametason, fenitoin, dan karbamazepin, simetidin yang dikenal menghambat isozim sitokrom P-450, menyebabkan peningkatan kadar prazikuantel. Prazikuantel tidak boleh diberikan untuk mengobati sistiserkosis mata karena penghancuran organisme mata (Mycek, 2001). C. Obat Untuk Pengobatan Cestoda dalam mata dapat merusak

Cestoda atau cacing pita, bertubuh pipih, bersegmen dan melekat pada usus pejamu. Sama dengan trematoda, cacing pita tidak mempunyai mulut dan usus selama siklusnya. 1. Niklosamid Niklosamid adalah obat pilihan untuk infeksi cestoda (cacing pita) pada umumnya. Kerjanya menghambat fosforilasi anaerob mitokondria parasite terhadap ADP yang menghasilkan energy untuk pembentukan ATP. Obat membunuh skoleks dan segmen cestoda tetapi tidak telur-telurnya. Laksan diberikan sebelum pemberian niklosamid oral. Ini berguna untuk membersihkan usus dari segmen-segmen cacing yang mati agar tidak terjadi digesti dan pelepasan telur yang dapat menjadi sistiserkosisi. Alcohol harus dilarang selama satu hari ketika niklosamid diberikan (Mycek, 2001)

DAFTAR PUSTAKA Ganiswara, S.G., Setiabudi, R., Suyatna, F.D., Purwantyastuti, Nafrialdi (Editor).1995. Farmakologi dan Terapi. Edisi 4.. Bagian Farmakologi FK UI: Jakarta Hoan Tan Tjay,drs & Kirana Rahardja. 2003. Obat-obat penting, Khasiat, penggunaan dan efek sampingnya : Elexmedia Computindo Katzung.1989.Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 3.EGC: Jakarta Mycek.2001.Farmakologi Ulasan Bergambar.Widya Medika : Jakarta MIMS Annual (1998) : Combantrin. Edisi 8. Singapore. Drugs.Com (2007). Pyrantel Pamoate. Dikutip 25 Nop 2007. Combantrin Product Inf http://biologi-news.blogspot.com/2011/02/mebendazole-hexamine-adidryl.html

Anthelmintik (Obat Cacing)

Antelmintik atau obat cacing adalah obat yang digunakan untuk memberantas atau mengurangi cacing dalam lumen usus atau jaringan tubuh. Sebagian besar obat cacing efektif terhadap satu macam kelompok cacing, sehingga diperlukan diagnosis yang tepat sebelum menggunakan obat tertentu. Diagnosis dilakukan dengan menemukan cacing, telur cacing dan larva dalam tinja, urin, sputum, darah atau jaringan lain penderita. Sebagian besar obat cacing diberikan secara oral yaitu pada saat makan atau sesudah makan dan beberapa obat cacing perlu diberikan bersama pencahar. Obat-obat penyakit cacing diantaranya : 1.Mebendazol, Tiabendazol, Albendazol 2.Piperazin, Dietilkarbamazin 3.Pirantel, Oksantel 4.Levamisol 5.Praziquantel 6.Niklosamida 7.Ivermectin Banyak obat cacing memiliki khasiat yang efektif terhadap satu atau dua jenis cacing saja. Hanya beberapa obat saja yang memiliki khasiat terhadap lebih banyak jenis cacing (broad spectrum) seperti mebendazol. Mekanisme kerja obat cacing yaitu dengan menghambat proses penerusan impuls neuromuskuler sehingga cacing dilumpuhkan. Mekanisme lainnya dengan menghambat masuknya glukosa dan mempercepat penggunaan (glikogen) pada cacing. Di negara berkembang seperti Indonesia, penyakit cacing merupakan penyakit rakyat umum. Infeksinya pun dapat terjadi secara simultan oleh beberapa cacing sekaligus. Infeksi cacing umumnya terjadi melalui mulut, kadang langsung melalui luka di kulit (cacing tambang, dan benang) atau lewat telur (kista) atau larva cacing, yang ada dimana-dimana di atas tanah. Cacing yang merupakan parasit manusia dapat dibagi dalam 2 kelompok, yakni cacing pipih dan cacing bundar. 1.Platyhelminthes. Ciri-cirinya bentuk pipih, tidak memiliki rongga tubuh dan berkelamin ganda (hemafrodit). Cacing yang termasuk golongan ini adalah cacing pita (Cestoda) dan cacing pipih (Trematoda).

2.Nematoda (roundworms). Ciri-cirinya bertubuh bulat, tidak bersegmen, memiliki rongga tubuh dengan saluran cerna dan kelamin terpisah. Infeksi cacing ini disebut ancylostomiasis (cacing tambang), trongyloidiasis, oxyuriasis (cacing kremi), ascariasis (cacing gelang) dan trichuriasis (cacing cambuk). Cacing golongan nematoda tersebut menyebabkan infeksi cacing usus (soil-transmitted helminthasis). Hidupnya berkaitan dengan perilaku bersih dan kondisi sanitasi lingkungan. Bila terdapat anemia, penderita harus diobati dengan sediaan yang mengandung besi. Selain itu, wanita hamil tidak boleh minum obat cacing karena memiliki sifat teratogen (merusak janin) yang potensial. Di medicastore anda dapat mencari informasi obat cacing seperti ; kegunaan atau indikasi obat, generik atau kandungan obat, efek samping obat, kontra indikasi obat, hal apa yang harus menjadi perhatian sewaktu konsumsi obat, gambar obat yang anda pilih hingga harga obat dengan berbagai sediaan yang dibuat oleh pabrik obat. Sehingga anda dapat memilih dan beli obat cacing sesuai dengan resep dokter anda.

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Obat Cacing / Antelmentik


Share on facebook Share on twitter Share on email More Sharing Services

Obat-obat antelmintik digunakan untuk membasmi (mengeradikasi) atau mengurangi jumlah parasit-parasit cacing (helminth) dalam saluran atau jaringan intestinal dalam tubuh. Sebagian besar antelmintik yang digunakan saat ini aktif terhadap parasit-parasit tertentu dan sebagian bersifat toksik. Oleh karenanya, parasit harus terlebih dahulu diidentifikasi sebelum pengobatan dimulai, umumnya dengan jalan menemukan parasit, telur, atau larva dalam kotoran, urine, darah, air liur, atau jaringan-jaringan tubuh inang (pasien). (Katzung, 2004) Berbagai jenis obat cacing yang telah dikenal seperti Albendazol, Pirantel Pamoate, Mebendazol, Thiabendazol, dan lain-lain. Pada prinsipnya obat cacing yang baik adalah obat yang dapat bekerja terhadap berbagai stadium cacing (yaitu telur, larva, dan dewasa), mempunyai efikasi yang baik untuk semua jenis nematoda usus dan efek samping minimal. Obat-obat oral harus diminum dengan air pada saat sedang atau sesudah makan dalam keadaan perut kosong, kecuali jika diindikasikan lain. Dalam tindak lanjut pasca pengobatan untuk infeksi-infeksi nematoda usus, feses harus diperiksa ulang sekitar dua minggu setelah berakhirnya pengobatan. (Kementerian Kesehatan RI, 2006)

Albendazole
Albendazole, suatu antelmintik oral berspektrum luas, merupakan obat pilihan dan telah diakui di Amerika Serikat untuk pengobatan penyakit hydatid dan cysticercosis. Obat ini juga merupakan obat utama untuk pengobatan infeksi Pinworm, Ascariasis, Trichuriasis, Strongyloidiasis, dan infeksi-infeksi yang disebabkan oleh kedua spesies cacing tambang (hookworm). Namun, Albendazole tidak dikategorikan untuk kondisi-kondisi ini. (Katzung, 2004)

Kerja Antelmintik dan Efek farmakologis

Albendazole dan metabolitnya, Albendazole Sulfoxide, diperkirakan bekerja dengan jalan menghambat sintesis mikrotubulus dalam nematoda, dan dengan demikian mengurangi ambilan glukosa secara irreversibel. Akibatnya, parasit-parasit usus dilumpuhkan atau mati perlahan-lahan. Pembersihan mereka dari saluran cerna belum dapat menyeluruh hingga beberapa hari setelah pengobatan. Obat ini juga memiliki efek larvicid (membunuh larva) pada penyakit hydatid, cysticercosis, ascariasis, dan infeksi cacing tambang serta efek ovocid (membunuh telur) pada ascariasis, ancylostomiasis, dan trichuriasis. (Katzung, 2004). Albendazole tidak mempunyai efek farmakologis pada manusia. Obat ini (yang bersifat teratogenik dan embriotoksik pada beberapa spesies hewan) tidak diketahui tingkat keamanannya pada wanita hamil. (Katzung, 2004)

Penggunaan Klinis

Albendazole diberikan pada saat perut kosong untuk penanganan parasit-parasit intraluminal. Namun untuk penanganan terhadap parasit-parasit jaringan, obat ini harus diberikan bersama dengan makanan berlemak. (Katzung, 2004)

Ascariasis, trichuriasis, serta infeksi-infeksi cacing tambang dan pinworm Untuk infeksi-infeksi pinworm, ancylostomiasis, dan ascariasis ringan, necatoriasis, atau trichuriasis, pengobatan untuk orang dewasa dan anak-anak di atas usia 2 tahun adalah dosis tunggal 400 mg secara oral. Untuk infeksi pinworm, dosis harus diulang dalam dua minggu. Tindakan ini menghasilkan tercapainya angka kesembuhan 100% dalam infeksi pinworm dan angka kesembuhan tinggi untuk infeksi-infeksi lain, atau pengurangan besar terhadap jumlah telur bagi yang tidak tersembuhkan. Untuk mencapai angka kesembuhan tinggi dalam ascariasis atau untuk mengurangi jumlah cacing secara memuaskan untuk meringankan necatoriasis atau trichuriasis berat, ulangi pemberian 400 mg/hari dalam 2-3 hari. (Katzung, 2004)

Mebendazole
Mebendazole merupakan benzimidazole sintetis yang memiliki aktifitas antelmintik brspektrum luas dan mempunyai tingkat kemunculan efek yang tidak diinginkan yang rendah. (Katzung, 2004)

Kerja Antelmintik dan Efek-Efek Farmakologis

Mebendazole menghalangi sintesis-mikrotubulus dalam nematoda, dan dengan demikian menghentikan ambilan glukosa secara irreversible. Parasit-parasit intestinal dilumpuhkan atau mati perlahan-lahan, dan pembersihannya dari saluran gastrointestinal belum dapat terpenuhi hingga beberapa hari setelah pengobatan. Kemanjuran obat berbeda-beda, tergantung masa transit gastrointestinal, intensitas infeksi, dikunyah/tidaknya obat, dan kemungkinan juga dengan rantai parasit. Mebendazole membasmi cacing tambang, ascaris, dan telur-telur trichuris. Pada manusia, mebendazole cenderung tidak giat. Tidak ditemukan bukti adanya teratogenesitas atau karsinogenisitas. Sekalipun demikian, pada tikus-tikus hamil telah dijumpai aktivitas embriotoksik dan teratogenik pada dosis oral tunggal serendah 10 mg/kg. (Katzung, 2004)

Penggunaan Klinis

Di Amerika Serikat, penggunaan mebendazole telah diakui untuk penanganan ascariasis, trichuriasis, serta infeksi cacing tambang dan pinworm. Kegunaan lain obat ini masih diselidiki. Obat ini dapat dikonsumsi sebelum dan sesudah makan; tablet harus dikunyah sebelum ditelan. Tidak diperlukan pembersihan sebelum ataupun sesudah pengobatan. Angka kesembuhan menurun pada pasien pengidap hipermotilitas gastrointestinal. Untuk penanganan trichinosis dan dracontiasis, obat harus dikonsumsi dengan makanan berlemak untuk meningkatkan absorbsi. (Katzung, 2004)
1. Pinworm

Berikan 10 mg sekaligus dan ulangi dosis dalam 2-4 minggu. Dosis yang diberikan pada anak sama dengan orang dewasa. Angka kesembuhan berkisar antara 90-100%. (Katzung, 2004)
1. B. Ascaris lumbricoides, Trichura trichiura, Cacing tambang, dan Trichostrongylus

Satu dosis 100 mg dua kali sehari selama tiga hari diberikan bagi orang dewasa dan anak diatas usia dua tahun. Pengobatan dapat diulang dalam 2-3 minggu. Angka kesembuhan

untuk ascaris dan trichuriasis adalah 90-100%. Sekalipun angka kesembuhan dari kedua spesies cacing tambang lebih rendah (70-95%), namun terdapat penurunan drastis pada muatan cacing pada mereka yang tidak sembuh. Mebendazole secara khusus bermanfaat untuk infeksi gabungan yang ditimbulkan oleh ketiga parasit tersebut. (Katzung, 2004)

Pirantel Pamoate
Pirantel Pamoate merupakan anthelmentik berspektrum luas yang sangat efektif untuk penanganan infeksi-infeksi pinworm dan ascaris. Obat ini cukup efektif terhadap kedua spesies cacing tambang, namun tidak seberapa untuk N. americanus. Obat ini tidak efektif dalam trichuriasis atau strongyloidiasis. Oxantel pamoate, suatu analog dari pirantel, telah berhasil digunakan dalam pengobatan trichuriasis, kedua obat tersebut telah dikombinasikan atas dasar aktivitas antelmentik mereka yang berspektrum luas. (Katzung, 2004)

Kerja Antelmentik dan Efek-Efek Farmakologis

Pirantel efektif terhadap wujud dewasa ataupun imatur dari helminth yang rentan dalam saluran intestinalObat ini merupakan agen penyekat neuromuscular yang sifatnya mendepolarisasi, sehingga menimbulkan rilis acetylcholine dan penghambatan cholinesterase, hal ini menyebabkan stimulasi reseptor-reseptor ganglionik dan pelumpuhan cacing-cacing yang diikuti dengan pembuangan dari saluran intestinal manusia. (Katzung, 2004)

Penggunaan Klinis

Dosis standar adalah 11 mg (base)/kg (maksimum 1 g), diberikan dengan atau tanpa makanan.
1. Enterobius vermicularis

Pirantel diberikan sebagai dosis tunggal dan diulang dalam 2 dan 4 minggu. (Katzung, 2004)
1. Ascaris lumbricoides

Pirantel diberikan sebagai dosis tunggal. Pengobatan harus dilanjutkan apabila masih dijumpai telur-telur dua minggu sesudahnya. (Katzung, 2004)

Thiabendazole
Thiabendazole merupakan obat alternatif untuk pengobatan strongyloidiasis dan cutaneous larva migrans. Boleh juga dicoba untuk trichinosis dan visceral larva migrans apabila tidak tersedia obat yang efektif. Obat ini tidak seharusnya digunakan untuk mengobati infeksiinfeksi pinworm, ascaris, trichuris, atau cacing tambang, kecuali apabila tidak tersedia obat pilihan yang lebih aman. (Katzung, 2004)

Kerja antelmintik dan efek-efek farmakologis

Sifat antiperadangan thiabendazole bisa jadi penting menyangkut kemampuannya menyembuhkan gejala-gejala dalam beberapa penyakit parasit, khususnya dracontiasis. Obat ini juga memiliki efek-efek imunomodulasi yang menunjukkan pada fungsi sel T

tampaknya, thiabendazole merupakan agen imunorestoratif yang menunjukkan imunopotensiasi maksimum pada individu yang tersupresi imunnya. Thiabendazole juga mempunyai kerja skabisid, antijamur ringan, dan antipiretik. Obat ini tampaknya bebas efekefek karsinogenik dan mutagenik. Kerja vermisid thiabendazole kemungkinan merupakan hasil pengaruh terhadap agregasi mikrotubulus yang bekerja melalui penghambatan enzim fumarate reductase. Obat ini mempunyai efek-efek ovisid terhadap beberapa parasit. (Katzung, 2004).

Penggunaan klinis

Dosis standar 25 mg/kg (maksimum 1,5 g) dua kali sehari harus diberikan sesudah makan. Jika digunakan formulasi tablet, maka harus dikunyah baik-baik. (Katzung, 2004)

Tribendimidine ( L-type Levamisole dan Pirantel)


Tribendimidini merupakan obat antelmintik baru yang adalah L-type (levamisole dan Pirantel) dimana bekerja pada reseptor agonis asetilkolin nikotinik. Dalam penelitian dinyatakan bahwa tribendimidine aman dan memiliki aktivitas klinik yang baik terhadap Ascaris dan hookworm. Tribendimidine tidak dapat digunakan sebagai antelmintik dimana pasien telah resisten terhadap levamisol atau pirantel dengan mekanisme aksi yang sama. Namun, pribendimidine dapat produktif untuk digunakan dimana pasien resisten terhadap benzimidazole. Tribendimidine dapat dikombinasi dengan antelmintik yang lain (Yan, 2009)