Anda di halaman 1dari 16

KONTROL

DISUSUN OLEH: KELOMPOK 1 TINA NOVIANA ALFI RATNASIH NAMIRA DIAN SAGITA N. SITI HOPIPAH 43211010022 43211010049 43211010180 43211010193 43211010200

DOSEN PENGAMPU : ANNA CHRISTIN, SE., AK., MM. MATA KULIAH : AUDIT INTERNAL

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


AKUNTANSI S1 2014

Bab 2

Kontrol
Pentingnya Kontrol Bagi Auditor Internal
Audit yang komprehensif menuntut auditor kedaerah yang tidak di kenal. Mereka akan berhadapan dengan disiplin ilmu dan teknik-teknik diluar keahlian teknis mereka. Mereka tidak mungkin segera menguasai bidang periklanan. Pertanian, bea cukai, perekayasaan. Perdagangan internasional, pensiun, keselamatan, polusi, transportasi atau bidang-bidang lain yang harus diberi penilaian atas tujuan dan aspek usahanya. Sistem kontrol tersebut terdiri atas prosedur, aturan dan instruksi yang di rancang untuk memastikan bahwa tujuan sistem operasi akan tercapai. Kontrol meningkatkan kemungkinan tercapainya tujuan manajemen.

Standar 2120-Kontrol
Kegiatan audit internal haruslah membantu organisasi menerapkan kontrol yang efektif dengan mengevaluasi efektifitas dan efisiensi serta mendorong perbaikan yang terusmenerus. 2120.A1 berdasarkan hasil penentuan risiko,aktivitas audit interenal haruslah mengevaluasi kecukupan dan efektivitas kontrol yang mencakup tata kelola, operasi dan sistem informasi organisasi. Hal ini meliputi : 1. Keandalan dan integritas informasi keuangan dan operasional 2. Efektivitas dan efisiensi operasi 3. Pengamanan aktiva 4. Kepatuhan terhadap hukum, regulasi dan kontrak. 2120.A2 Auditor internal harus memastikan lingkup penetapan tujuan dan sasaran operasi dan program yang harus sesuai dengan tujuan organisasi secara keseluruhan. 2120.A3 Auditor internal harus menelaah operasi dan program untuk memastikan kesesuaian hasil dengan tujuan dan sasaran guna menentukan apakah operasi dan program dilaksanakan sesuai yang diinginkan. 2120. A4 kriteria yang menandai diperlukan untuk mengevaluasi kontrol.audit internal harus memastikan bahwa menejemen telah menetapkan kriteria yang memadai untuk menentukan pencapaian tujuan dan sasaran.

Audit Internal Kontrol

Kelompok 1

2120. A4-1 Practice advisory melengkapi standar ini untuk kriteria-kriteria kontrol dan memberikan lebih banyak ketentuan khusus.

Pemeriksaan dan Pelaporan atas Kontrol


Practice advisory 2120.A1-1, "pemeriksaan dan pelaporan atas proses kontrol". Memberikan lebih banyak rincian dalam ha; penentuan kecukupan dan efektivitas proses kontrol serta tanggung jawab eksekutif audit untuk melaporkan informasi tentang peniaian auditor internal ke manajemen senior dan komite audit, diantaranya : 1. 2. 3. Membuat rencana audit untuk mengumpulkan bahan bukti yang memadai Mempertimbangkan pekerjaan yang relevan yang bisa di lakukan orang lain Mengevaluasi ukuran kinerja dari dua sudut pandang : kecukupan kontrol untuk organisasi secara keseluruhan tercakupnya berbagai transaksi dan jenis proses bisnis. Rencana audit harus mencakup evaluasi efektivitas sistem kontrol. Pertimbangan dalam membuat evaluasi ini adalah : 1. Apakah ditemukan ketidaksamaan atau ketidakonsistenan? 2. Jika ada, apakah telah dilakukan koreksi atau perbaikan? 3. Apakah temuan dan konsekuensinya mengarah pada kesimpulan bahwa tingkat usaha cukup tinggi ? Laporan evaluasi harus menyatakan peran yang diemban proses kontrol dalam mencapai tujuan organisasi dan harus menyatakan bahwa : 1. Tidak ditemukan adanya kelemahan 2. Jika terdapat kelemahan harus di sebutkan, termasuk dampaknya terhadap tingkat risiko dan pencapaian tujuan organisasi

Pendefinisian kontrol
Definisi Awal
Istilah kontrol pertama kali muncul dalam kamus bahasa inggris pada tahun 1600 didefinisikan sebagai " salinan dari sebuah putaran ( untuk akun ), yang kualitas dan isinya sma dengan aslinya ". Samuel Jhonson menyimpulkn bahwa " daftar atau akun yang di pegang oleh seorang pegawai, yang masing-masing di periksa oleh pegawai lain".

Definisi Untuk Akuntan Publik


Kontrol internal di pecah menjadi dua yaitu kontrol administrasi dan kontrol keuangan, hal ini dinyatakan dalam seksi 320.28(1973) standar profesional ACIPA, yang di ambil dari sstatements of auditing standars nomor 1 ( SAS ) : 1. Kontrol administratif mencakup tetapi tidak terbataspada rencana organisasi, prosedur Audit Internal Kontrol Kelompok 1 3

dan catatan yang berkaitan dengan pengmbilan keputusan yang tercermin dalam otorisasi manajemen atas transaksi. 2. Kontrol akuntansi terdiri atas rencana organisasi, prosedur dan catatan yang berkaitan dengan pengamanan aktiva dan keandalan pencatatan keuangan yang di rancang untuk memberikan keyakinan yang wajar.

Perluasan SAS 78 Atas Definisi AICPA Tentang Kontrol Internal


Kontrol internal adalah suatu proses yang dipengaruhi oleh aktivitas dewan komisaris, manajemen atau pegawai lainnya yang dirancang untuk memberikan keyakinan yang wajar mengenai pancapaian tujuan pada hal-hal berikut ini : 1. 2. 3. Keandalan pelaporan keuangan Efektivitas dan efisiensi operasi Ketaatan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku

Ketiga hal tersebut berkaitan dengan jenis audit khusus dengan urutan yang sama : 1. 2. 3. Audit laporan atas laporan keuangan Audit operasional untuk mencapai tujuan dan hasil yang diinginkan Audit ketaatan ( dianggap sebagai audit yang terpisah atau berkaitan dengan audit pada "a"dan "b" diatas. SAS juga mendefinisikan lima komponen kontrol internal yang saling berkaitan pada pernyataan COSO : 1. 2. 3. 4. 5. Lingkungan kontrol Penentuan resiko Aktivitas kontrol Informasi dan komunikasi Pengawasan

Definisi Audit Internal


Audit internal harus berorientasi manajemen dan berorientasi tujuan, membutuhkan definsidefinisi sendiri yang menghubungkan fungsi kontrol dan pengawasan manajemen dengan sasaran yang digunakan untuk melaksanakan fungsi tersebut pada setiap aktivitas organisasi. Jadi audit internal memandang kontrol sebagai berikut : "kontrol adalah penggunaan semua sarana perusahaan untuk meningkatkan, mengarahkan, mengendalikan dan mengawasi berbagai aktivitas dengan tujuan untuk memastikan bahwa tujuan perusahaan tercapai. Sarana kontrol ini meliputi, tetapi tidak terbatas pada bentuk organisasi, kebijakan, sistem, prosedur instruksi, standar ,komite, bagan akun, perkiraan, anggaran, jadwal, laporan, catatan, daftar pemeriksaan,metode, rencana, dan audit internal" Audit Internal Kontrol Kelompok 1 4

Model-model Kontrol Internal


Dulunya auditor menggunakan serangkaian fungsi kontrol internal untuk menentukan kecukupan fungsi kontrol organisasi, kontrol internal memiliki banyak konsep untuk menstandarkan definisi commitee of sponsoring organization mendefinisikan dan

menjelaskan kontrol internal untuk : 1. 2. Menetapkan definisi yang sama untuk kelompok yang berbeda Memberikan definisi yang standar yang bisa digunakan perusahaan sebagai perbandingan dengan sistem kontrolnya. Komite tersebut disingkat COSO, yang kemudian memberikan definisi berikut- kontrol inrenal dirancang untuk memberikan keyakinan yang memadai tentang pencapaian tujuan dalam hal : 1. 2. 3. Efektivitas dan efiensi operasi. Keandalan informasi keuangan. Ketaatan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.

Model COSO
Model COSO terdiri atas lima komponen kontrol internal : 1. 2. 3. 4. 5. Lingkungan kontrol Penentuan Risiko Aktivitas kontrol Informasi dan Komunikasi Pengawasan

Aktivitas audit tradisional yang berkait dengan penentuan efiensi dan efektivitas berada pada komponen ketiga Aktivitas kontrol (pemisahan tegas, wewenang dan

pertanggungjawaban, otorisasi, pendokumentasi, dan lain lain).

Model COCO
Model COCO mencakup empat komponen yang menjadi bagian dari program audit, yaitu: a. Tujuan b. Komitmen c. Kemampuan d. Pengawasan dan Pembelajaran

Audit Internal Kontrol

Kelompok 1

Penggunaan Model Kontrol di Audit Internal


Kedua jenis kontrol memiliki resiko yang dapat dijelaskan dan diukur kemungkinan terjadi dan signifikansinya bila terjadi. Kombinasi kedua hal ini bisa disebut kerawanan. Jadi, bila situasi tersebut dirumuskan maka akan terlihat sebagai berikut: P = Kemungkinan Terjadi (Potential Occurrence) S = Signifikansi (Significance) V = Kerawanan (Vulnerability)

PxS=V

Auditabilitas Sistem dan Studi Kontrol


Audit dan Lingkungan Kontrol ditujukan untuk memberikan kerangka kerja untuk pembahasan risiko, kontrol, dan pertimbangan audit yang terkait dengan teknologi dan sistem informasi. Studi tersebut memamparkan tiga konsep dasar: 1. Keyakinan yang wajar diperoleh jika terdapat kontrol yang efektif dari segi biaya untuk mengurangi resiko bahwa keseluruhan tujuan dan sasaran tidak tercapai sampai pada tingkat tertentu. 2. Tuuuan didefinisikan sebagai sebuah pernyataan pencapaian yang diinginkan organisasi. 3. Sasaran merupakan target-target khusus yang harus bisa diidentifikasikan, diukur, dicapai, dan konsisten dengan tujuan. Komponen-komponen sistem kontrol internal mencakup: 1. Lingkungan kontrol, mencakup struktur organisasi, elemen kerangka kontrol, kebijakankebijakan dan prosedur-prosedur yang didokumentasikan dengan baik, serta pengaruhpengaruh eksternal. 2. Sistem manual dan terotomatisasi, mencakup perangkat lunak sistem, sistem aplikasi, dan pengguna akhir dan sistem departemen. 3. Prosedur-prosedur kontrol, mencakup kontrol sistem informasi umum, kontrol aplikasi, kontrol pengganti.

Kontrol Preventif, Detektif, Dan Korektif


1. Kontrol Preventif, kontrol yang diterapkan untuk mencegah hasil-hasil yang tidak diharapkan sebelum terjadi. 2. Kontrol Detektif, kontrol yang dirancang untuk menemukan hasil-hasil yang tidak

diharapkan pada saat terjadinya. 3. Kontrol Korektif, kontrol yang dirancang untuk memastikan bahwa tindakan korektif diambil untuk memperbaiki hal-hal yang tidak diharapkan atau untuk memastikan bahwa hal-hal tersebut tidak terulang.

Audit Internal Kontrol

Kelompok 1

kontrol preventif lebih efektif dari segi biaya dibandingkan kontrol detektif. Ketika diterapkan ke dalam sebuah sistem, kontrol preventif dapat mencegah kekeliruan dan oleh karena itu mencegah biaya perbaikan. Kontrol detektif biasanya lebih mahal dibandingkan kontrol preventif. Kontrol detektif mengukur efektivitas kontrol preventif, beberapa kekeliruan tidak bisa secara efektif dikendalikan oleh sistem pencegahan. Kontrol korektif dilakukan bila terjadi hal-hal yang tidak semestinya dan telah dideteksi.

Menghilangkan Probabilitas Bukan Kemungkinan Kontrol


Auditor internal harus memahami bahwa tidak ada sistem kontrol yang akan menghilangkan kemungkinan terjadinya kesalahan. Sistem kontrol internal terdiri atas manusia dan prosedur. Orang diharapkan untuk bertindak dan mengikuti prosedur secara normal dan bertanggung jawab. Mereka bisa saja tidak bertindak sesuai yang diinginkan sehingga sistem menjadi rusak.

Manfaat-Manfaat Kontrol
1. Kontrol membantu manajer mencapai tujuan dan sasaran 2. Kontrol sebagai sebuah sarana mengintegritaskan pribadi-pribadiuntuk tujuan dan sasaran perusahaan. 3. Kontrol sarana mengendalikan diri sendiri. 4. Kontrol untuk mendorong individu meningkatkan kinerja perusahaan.

SISTEM KONTROL
Elemen-elemen Sistem Kontrol
1. Sistem Tertutup (Closed System), tidak berinteraksi dengan lingkungan. 2. Sistem Terbuka (Open System), memiliki interaksi dengan lingkungan. Semua sistem operasi memiliki bagian-bagian dasar yang terdiri atas masukan (input), pemrosesan (processing), dan keluaran (output). Pemrosesan

Masukan

Keluaran

Untuk mengendalikan proses sehingga keluaran tetap memenuhi standar yang diinginkan, ada dua elemen yang harus ditambahkan kontrol dan umpan balik:

Audit Internal Kontrol

Kelompok 1

Kontrol

Masukan

Pemrosesan

Keluaran

Umpan Balik Jadi, dalam sistem produksi: Masukan terdiri dari atas karyawan, mesin, bahan mentah. Pemrosesan mengubah bahan mentah menjadi produk. Keluaran adalah produk jadi. Sistem kontrol mencakup kontrol produksi, yang mengatur arus bahan baku dan jasa, serta inpeksi keluaran. Kontrol membandingkan keluaran dengan standar, melalui inpeksi atau pengamatan terkomputerisasi. Umpan balik mengkomunikasikan varians (penyimpangan) ke elemen pemrosesan. Tindakan korektif membuat pemrosesan menjadi lebih baik untuk mencapai standar yang diinginkan.

Pentingnya Kontrol
Merancang sistem kontrol untuk memastikan bahwa tugas diselesaikan dan tujuan dicapai merupakan tanggung jawab manajemen. Manajer bertanggung jawab untuk menetapkan kontrol, mempertahankannya, memodifikasi apa yang harus diubah, dan memerhatikan informasi yang diberikan oleh sistem kontrol.

Standar-standar Operasi
Kontrol umumnya membutuhkan standar-standar operasi. Standar-standar ini dapat berasal dari berbagai sumber, seperti: 1. Standar produksi 2. Standar akuntansi biaya 3. Standar tugas 4. Standar industri 5. Standar historis 6. Standar estimasi terbaik

Standar-standar Kontrol Internal


Selain standar operasi terdapat kerangka standar yang harus diikuti sistem kontrol itu sendiri, yaitu: 1. Standar-standar Umum Keyakinan yang wajar Audit Internal Kontrol Kelompok 1 8

Perilaku yang mendukung Integritas dan kompetensi Tujuan kontrol Pengawasan kontrol 2. Standar-standar Rinci Dokumentasi Pencatatan transaksi dan kejadian dengan layak dan tepat waktu Otorisasi dan pelaksanaan transaksi dan kejadian Pembagian Tugas otorisasi Pengawasan pengawasan harus dilakukan dengan baik dan berkelanjutan Akses dan akuntabilitas ke sumber daya/dan catatan

Karakteristik karakteristik Kontrol


Auditor internal dapat mengevaluasi system kontrol dengan menentukan kesesuaiannya dengan kriteria yang ditetapkan. Cirri-ciri tersebut sebagai berikut : Tepat waktu. Kontrol seharusnya mendeteksi penyimpangan actual atau potensial sejak awal untuk menghindari tindakan perbaikan yang memakan biaya. Ekonomis. Kontrol harus memberikan keyakinan yang wajar dalam mencapai hasil yang diinginkan dengan biaya minimum dan dengan efek samping yang paling rendah. Kontrol harus mengurangi kerugian dan beban-beban potensial melebihi tambahan biaya yang harus ditanggung. Akuntabilitas. Kontrol harus membantu karyawan mempertanggungjawabkan tugas yang diberikan. Oleh karena itu manajer harus memerhatiakn tujuan dan pengoperasian kontrol sampai akhir dan memanfaatkannya. Penerapan. Kontrol harus diterapkan pada saat yang paling efektif. Fleksibilitas. Keadaan bisa berubah sewaktu-waktu. Contoh dari kontrol yang fleksibel adalah system anggaran variabel yang memungkinkan biaya dan kualitas operasi yang berbeda untuk tingkat operasi yang berbeda. Menentukan penyebab. Tindakan korektif yang diambil segera bias dilakukan bila kontrol tidak hanya mengidentifikasi masalah tetapi juga penyebabnya. Kelayakan. Kontrol yang paling efisien dan bermanfaat adalah kontrol berbasis pengecualian, yaitu hanya merespon penyimpangan penyimpangan yang signifikan. Audit Internal Kontrol Kelompok 1 9

Masalah masalah dengan kontrol. Kontrol memang mebawa manfaat tetapi bias juga membawa masalah. Kontrol yang berlebihan dapat menyebabkan kebingungan dan frustasi.

Sarana untuk Mencapai Kontrol


Beberapa sarana operasional yang dapat digunakan manajer untuk mengendalikan fungsi di dalam perusahaan yaitu : a. Organisasi Organisasi sebagai sarana kontrol merupakan struktur peran yang disetujui untuk orang-orang di dalam perusahaan sehingga perusahaan dapat mencapai tujuannya secara efiesien dan ekonomis. b. Kebijakan kebijakan Suatu kebijakan adalah pernyataan prinsip yang membutuhkan, menjadi pedoman, atau membatasi tindakan. c. Prosedur prosedur Prosedur adalah saran yang digunakan untuk melaksanakan aktifitas sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan. d. Personalia Orang orang yang dipekerjakan atau ditugaskan harus memiliki kualifikasi untuk melaksanakan tugas yang diberikan. e. Akuntansi Akuntansi merupakan sarana yang sangat penting untuk kontrol keuangan pada aktivitas dan sumber daya. f. Penganggaran Anggaran adalah sebuah pernyataan hasil-hasil yang diharapkan dalam bentuk numeric. g. Pelaporan Pada kebanyakan organisasi, manajemen berfungsi dan membuat keputusan berdasarkan laporan yang diterima.

Dampak Regulasi terhadap Kontrol


Terjadinya Perubahan Besar
Kontrol internal pernah menjadi hak dan alat prerogative manajemen. Secara umum

dikatakan bahwa kontrol akuntansi internal harus diperiksa dan jika kelemahan material ditemukan, kontrol harus diperkuat atau ditambah. Sogokan atau praktik-praktik tidak pantas lainnya harus dihentikan, dan dana untuk menyogok atau melakukan tindakan-tindakan tercela lainnya tidak boleh disediakan Audit Internal Kontrol Kelompok 1 10

Serangkaian Peraturan Akuntansi yang Dikeluarkan (Accounting Series Release 242 (U.S SEC))
Badan pengawasan pasar modal Amerika Serikat (U.S. Securities and Exchange Commission) mengeluarkan Accounting Series Release No. 242 (ASR 242) pada tanggal 16 Februari 1978

Hukum Kanada
Aturan yang termaktub dalam Foreign Corrupt Practices Act tidak hanya berlaku di Amerika Serikat. Seksi 20 (2) dari Canadian Act menyatakan bahwa, sebuah perusahaan harus menyiapkan dan menjaga catatan akuntansi yang memadai. Peran Auditor Internal Auditor internal bisa sangat membantu manajemen dengan mengevaluasi sistem kontrol dan menunjukkan kelemahan-kelemahan dalam kontrol internal. Dalam mengevaluasi baik kontrol akuntansi internal maupun kontrol internal lainnya, auditor internal harus terus mengingat bahwa kontrol harus dirancang untuk mencapai tujuan manajemen. Laporan Auditor Internal tentang Kontrol Internal Auditor internal diharapkan ahli dalam aspek kontrol. Laporan harus merinci tujuan dan lingkup pemeriksaan dan harus akurat, objektif, jelas, singkat, konstruktif, lengkap dan tepat waktu. Pendekatan Siklus untuk Kontrol Akuntansi Internal Pada tahun 1979 AICPA mengeluarkan Laporan Khusus atas Kontrol Akuntansi Internal. Pendekatan ini terkait dengan siklus transaksi usaha, yaitu transaksi-transaksi yang ada pada sistem kontrol organisasi. Dampak Pengaturan Organisasi Terhadap Kontrol Internal Auditor selalu memerhatikan kejadian kejadian yang menyebabkan kontrol di kurangi atau di ubah demi mencapai efisiensi yang lebih tinggi sehingga meningkatkan kinerja pegawai atau organisasi. Guna menentukan dampak pendekatan baru ini terhadap operasi, institute of internal auditors melakukan penelitian baru. Penelitian tersebut menemukan bahwa : 1. 72,7% perusahaan telah menyelesaikan pengaturan organisasi dalam satu atau lebih tahapan. Audit Internal Kontrol Kelompok 1 11

2.

88,4% perusahaan saat ini sedang melakukan pengaturan organisasi dalam satu atau lebih tahapan.

3.

82,4% perusahaan telah merencanakan pengaturan organisasi ditahun berikutnya.

Aspek operasi yang menjadi target pengaturan mencangkup: utang usaha atau pembelian penutupan akhir bulan penerimaan pesanan piutan usaha pembelanjaan modal 57,3% 36,4% 32,4% 29,1% 24,7%

Penelitan tersebut menemukan bahwa sejumlah responden: Sebanyak 58% menyatakan bahwa pengaturan organisasi menyebabkan hilangnya elemenelemen kontrol tradisional seperti pemisahan tugas, akurasi pemeriksaan silang, otorisasi dan verifikasi. Berikut ini rincian nya masingmasing : 40,8% pemisahan tugas 34,8% akurasi pemeriksaan silang 33,6% verifikasi 30,9% otorisasi

Pengurangan Kontrol Organisasi Virtual


Aspek ini mencangkup utang usaha, persediaan piutang usaha, pengangkutan, dan penjualan. Konsep baru ini, yang disebut organisasi virtual, didasarkan atas rasa saling percaya dan memberikan tanggung jawab dan akuntabilitas ke organisasi paling baik menjalankan fungsi nya. Empat hal yang perlu di pertimbangkan adalah : Integritas: berkaitan dengan ketidak akuratan atau kualitas data yang rendah Pengamanan: berkaitan dengan pengamanan aktiva Ketersedian: mengarah kepada interupsi operasi Pemulihan: kesulitan dalam memulai kembali atau melanjutkan operasi setelah di interupsi. Bila halhal tersebut telah ditentukan, langkah selanjutnya adalah merancang kontrol yang penting secara praktis, menekankan penggunaan kontrol otomatis yang bersifat diskresioner dan berjenis kontrol detektif.

Audit Kontrol
Tujuan audit kontrol untuk menentukan bahwa: (1) kontrol memang diterapkan; (2) kontrol secara structural memang wajar; (3) kontrol dirancang untuk mencapai tujuan manajemen Audit Internal Kontrol Kelompok 1 12

khusus atau untuk mencapai ke taatan dengan persyaratan yang di tentukan; (4) kontrol memang digunakan; (5) kontrol secara efisien melayani tujuan tersebut; (6) kontrol bersifat efektif; (7) manajemen menggunakan keluaran yang dihasilkan system kontrol. Secara lebih rinci auditor harus: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Menelaah elemen resiko kontrol Menentukan tujuan system kontrol Menentukan hasil dari kontrol untuk mencapai tujuan Memeriksa dan menganalisis system kontrol Menelaah operasi system kontrol Menentukan apakah system kontrol memiliki karakteristik karakteristik berikut ini: Fleksibilitas Ketepatan waktu Akuntabilitas Pengidentifikasian penyebab Kelayakan Penempatan

Auditing COSO Mark Simmons mengemukakan serangkaian langkah yang kelihatan cocok untuk melaksanakan audit seperti ini. Prosedur yang ia susun mengakui kebutuhan untuk mengembangkan dan menggunakan pendekatan yang unik untuk mengevaluasi kontrol lunak. Operasi tersebut mencakup prosedur seperti: 1. Apa tujuan dasar dari unit atau organisasi secara keseluruhan (berdasarkan lima komponen kontrol COSO)? 2. 3. 4. 5. 6. 7. Apa sub-sub tujuan dari tujuan-tujuan dasar? Apa risiko-risiko yang berhubungan dengan pencapaian sub-sub tujuan ini? Seberapa besar tingkat kerawanan risiko-risiko ini? Apa saja kekuatan dan kelemahan kontrol ini? Apakah terdapat konsensus mengenai hasil evaluasi tersebut? Bagaimana menyelesaikan masalah jika tidak terdapat konsesus?

Simmons kemudian menyarankan : 1. Konfirmasikan keadaan yang ada dan efektivitas dari kekuatan yang diidentifikasi dalam setiap komponen kontrol. 2. 3. Konfirmasikan kelemahan dalam setiap komponen kontrol. Tentukan apakah kelemahan yang signifikan telah diimbangi atau dikurangi oleh kontrol independen lainnya. Audit Internal Kontrol Kelompok 1 13

4.

Tentukan kekuatan yang belum diketahui dan kelemahan yang belum diimbangi; serta tentukan aakah kondisi yang dilaporkan memang terjadi.

Simmons kemudian menyimpulkan : 1. 2. Jika kondisi yang dilaporkan memang terjadi, maka dibutuhkan pekerjaan selanjutnya. Jika kondisi yang dilaporkan telah diselesaikan, kelihatannya kontrol telah dijalankan dan efektif. 3. Sehingga, tujuan dapat dicapai.

Namun, ia menyatakan bahwa operasi tidak berada di bawah kendali jika kondisi yang dilaporkan : 1. 2. Telah terjadi dan tidak terdeteksi. Terus terjadi baik sekarang maupun pada periode sebelumnya atau di bagian mana pun di organisasi. 3. 4. Bersifat pervasif sehingga membahayakan pengamanan aktiva. Sudah membahayakan secara serius pencapaian tujuan operasi, pelaporan, atau ketaatan.

Aspek Audit Risiko Kontrol


Risiko kontrol adalah kemungkinan bahwa kontrol yang telah ditetapkan tidak bisa mendeteksi adanya penyimpangan. Risiko kontrol haruslah sebuah pertimbangan dalam rancangan metodologi kontrol. Risiko kontrol tersebut juga mencakup pertimbangan atas metode kontrol dan kualitas orang-orang yang memfungsikan proses kontrol.

Kontrol-kontrol Operasi Internal


Kontrol, Kriteria, dan Tujuan
Auditor internal harus memiliki keahlian dalam hal kontrol operasi sebagaimana keahlian yang dimiliki dalam kontrol akuntansi atau keuangan. Kontrol keuangan ditetapkan sesuai prosedur akuntansi yang diterima umum, sementara kontrol nonkeuangan harus ditetapkan sesuai dengan prinsip dan teknik manajemen yang dapat diterima. Jadi, dalam aktivitas nonkeuangan, auditor yang berpikir seperti manajer akan menentukan teknik dan prosedur kontrol yang harus dimiliki manajer untuk membantu merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, dan mengendalikan aktivitas tersebut; semuanya merupakan empat fungsi manajemen.

Audit Internal Kontrol

Kelompok 1

14

Fungsi dan Kontrol Manajemen


Dalam setiap empat fungsi manajemen, kriteria kinerja yang dapat diterima memang dibutuhkan, yang jika dipenuhi, akan memberikan keyakinan yang memadai bahwa tujuan akan tercapai.

Kontrol yang Berlebihan


Jika timbul kesulitan, kadang-kadang kita cenderung menyelesaikannya dengan uang. Kontrol yang mahal dan restriktif dapat melumpuhkan kinerja dan inisiatif. Proteksi didapat melalui tekanan. Laporan kontrol, yang seharusnya membantu manajer mengendalikan aktivitas mereka sendiri, sering kali dipersalahkan karena : 1. 2. 3. 4. 5. Terlalu tebal, Terlalu rumit, Terlalu umum, Terlalu klise, Menyesatkan.

Mengapa Kontrol Tidak Berjalan Meskipun kontrol dirancang untuk membantu manajer melakukan pekerjaannya dengan lebih baik, banyak manajer memandang kontrol sebagai ancaman, sebuah tantangan yang harus diatasi. Aldag dan Stearns mengidentifikasi empat reaksi terhadap sistem kontrol. 1. 2. 3. 4. Dianggap sebagai permainan. Dianggap objek sabotase. Informasi yang tidak akurat. Ilusi kontrol.

Efek yang disfungsional ini merupakan gabungan dari proses teknis, perilaku, dan administratif seperti : 1. 2. 3. 4. 5. Perbedaan pribadi. Kontrol yang berlebihan. Tujuan yang saling bertentangan. Dampak terhadap kekuatan dan status. Penekanan yang salah pada sistem kontrol. Akibatnya kontrol menjadi tujuan, bukan saran untuk mencapainya. Sebagai tambahan, para ahli operasi kontrol telah mengidentifikasi serangkaian penyebab yang lebih sederhana atas kegagalan sistem kontrol untuk beroperasi sebagaimana diinginkan. Penyebab-penyebabnya adalah : 1. Apati, Kelompok 1 15

Audit Internal Kontrol

2. 3. 4. 5. 6.

Keletihan, Penolakan dari eksekutif, Kompleksitas, Komunikasi, Aspek efisiensi.

Auditor internal telah lama diakui memiliki keahlian dalam kontrol. Biasanya mereka memperlihatkan keahlian mereka selama audit yang memfokuskan pemeriksaan pada kontrol dibandingkan pada kinerja teknis.

Hal-hal yang Perlu Diingat


Auditor internal harus ingat bahwa audit yang baik tidak bisa dihafal dan dilakukan di luar kepala. Tidak ada dua organisasi yang benar-benar sama. Juga tidak ada organisasi yang sama baik pada saat ini maupun pada masa yang lalu. Para manajer diganti, supervisor ditugaskan, karyawan baru dipekerjakan, dan prosedur direvisi. Kontrol yang baik bergantung pada orang-orang baik, yang memiliki motivasi dan menjalani pelatihan yang memadai, tetapi motivasi dan pelatihan mereka bisa berubah.

Audit Internal Kontrol

Kelompok 1

16