Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

JAMINAN ATAS KUALITAS


Makalah Ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Audit Internal

Disusun Oleh:
Kelompok 1
Tina Noviana
Alfi Ratnasih
N A M I R A
Dian Sagita N.
Siti Hopipah
43211010022
43211010049
43211010180
43211010193
43211010200


Akuntansi S1
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Mercu Buana
Jakarta
2014
Audit Internal Jaminan Atas Kualitas Kelompok 1 2

BAB 24
JAMINAN ATAS KUALITAS
Pendekatan Makro dan Mikro
Pada umumnya, proses evaluasi kualitas diterapkan pada tingkat operasi audit internal
berskala luas. Sebuah penelaahan dilakukan atas metode organisasi entitas tersebut, metode
penempatan staf, persyaratan pengembangan profesional, adanya independensi di dalam
keseluruhan struktur operasi, perencanaan fungsi audit, penggunaan teknologi terbaru,
penerapan metode-metode baru, pelaporan yang efektif, kontrol proyek-proyek audit, usaha-
usaha untuk meningkatkan hubungan dengan klien, komunikasi umum, metode tindak
lanjutan audit, dan kepatuhan terhadap standar audit internal. Evaluasi jenis ini, dilihat
melalui kacamata makro, memang akan memberikan banyak informasi yang berharga
mengenai organisasi audit internal itu dilihat sebagai sebuah unit. Kemungkinan besar, jika
evaluasi di atas menghasilkan sebuah gambaran yang positif mengenai sebuah unit audit yang
patuh dan efektif, manajemen akan merasa dapat memercayai dan mendapatkan keuntungan
dari operasi unit audit tersebut.
Namun, evaluasi di atas sebaiknya maju selangkah lagi; satu langkah panjang yang lebih jauh
lagi. Pemeriksaan dan penelaahan hendaknya dilakukan terhadap setiap individu proses audit.
Quality Assurance
Direktur audit hendaknya menetapkan dan memelihara pelaksanaan program quality
assurance untuk mengevaluasi jalannya operasi dari aktivitas audit internal.
Tujuan dari program ini adalah untuk memberikan keyakinan memadai bahwa pekerjaan
audit yang dilaksanakan telah sesuai dengan standar yang ada, piagam audit aktivitas audit
internal, dan standar lain yang berlaku. Sebuah program quality assurance sebaiknya
mencakup unsur-unsur di bawah ini :
1. Supervisi.
2. Penelaahan internal.
3. Penelaahan eksternal.
Supervisi atas pekerjaan auditor internal sebaiknya dilaksanakan secara terus-menerus untuk
menjamin adanya kesesuaian dengan standar audit internal, kebijakan-kebijakan aktivitas,
dan program audit.
Audit Internal Jaminan Atas Kualitas Kelompok 1 3

Penelaahan internal hendaknya dilaksanakan secara berkala oleh para anggota dari staf audit
internal untuk menilai kualitas pelaksanaan audit internal. Penelaahan ini sebaiknya
dilaksanakan dengan cara yang sama dengan audit internal yang lain.
Penelaahan eksternal atas aktivitas audit internal hendaknya dilaksanakan untuk menilai
kualitas operasinya. Penelaahan ini sebaiknya dilakukan oleh seseorang yang memenuhi
persyaratan dan independen terhadap organisasi dan tidak memiliki konflik kepentingan.
Practice Advisory secara khusus menganjurkan agar para pihak yang berkepentingan
menerima peran audit internal yang memberikan nilai tambah dan mampu meningkatkan
operasi perusahaan. Proses penilaian program kualitas hendaknya, jika ada, meliputi
rekomendasi-rekomendasi yang berhubungan dengan :
1. Kepatuhan terhadap Standar dan Kode Etik.
2. Kecukupan piagam audit, sasaran, tujuan, kebijakan, dan prosedur aktivitas.
3. Kontribusi terhadap manajemen risiko, penyelenggaraan, dan proses kontrol.
4. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan pemerintah serta standar industri.
5. Efektivitas operasi.
6. Penambahan nilai dan peningkatan operasi.
Evolusi Penelaahan Quality Assurance
Ketika audit internal mendapatkan peran yang lebih besar dalam menilai operasi perusahaan
serta manajer senior dan komite audit juga semakin bergantung kepada staf audit internal
mereka untuk memberikan proteksi dan informasi yang diinginkan untuk pengambilan
keputusan manajemen, maka timbul kebutuhan terhadap assurance yang semakin tinggi
bahwa manajemen dan dewan komisaris telah dilayani secara baik oleh staf audit yang
profesional. Hal ini tentu tideak dapat dipenuhi oleh pernyataan yang dikeluarkan oleh staf
audit itu sendiri. Dibutuhkan sebuah assurance yang objektif dan dapat dipercaya, yang
hanya dapat dipenuhi melalui peer review atau penelaahan quality assurance. Penelaahan
seperti ini dirancang untuk dapat memberikan analisis yang independen mengenai apakah :
1. Audit telah memenuhi kebutuhan dari pihak-pihak yang bergantung kepadanya.
2. Operasi audit telah dilaksanakan dengan benar.
3. Apakah audit dapat dilakukan dengan lebih baik. Adakah pekerjaan-pekerjaan lain yang
dapat ditambahkan lagi.
4. Diperoleh nilai maksimal untuk setiap dolar biaya yang dikeluarkan oleh audit internal.
5. Audit internal telah memenuhi standar profesional yang berlaku saat ini.
Audit Internal Jaminan Atas Kualitas Kelompok 1 4

Kontrol Kualitas Saat Ini dalam Audit Internal
Sebuah survei dilakukan oleh Gupta dan Ray pada 482 perusahaan industri berdasarkan
peringkat perusahaan pada tahun 1990 yang diterbitkan dalam majalah Fortune edisi 22 April
1991. Survei tersebut menerima jawaban dari 145 perusahaan yang dapat digunakan, yaitu
sekitar 30%, yang berarti tingkat pengembalian yang cukup memuaskan. Kuesioner yang
diberikan mencakup berbagai aspek dari pekerjaan audit yang berhubungan dengan kontrol
kualitas di sebuah perusahaan. Akan tetapi, Bagian IV dari formulir kuesioner tersebut
berhubungan dengan organisasi audit internal itu sendiri.
Penulis menyatakan bahwa, Sebagian besar ukuran berkisar pada perbandingan antara aktual
vs anggaran, umpan balik dari pelanggan, dan lain-lain.
Produktivitas dalam Audit Internal
Artikel-artikel yang terbit belakangan ini mengenai produktivitas audit internal kebanyakan
menekankan pada aspek-aspek seperti :
1. Jumlah nilai uang yang dapat diselamatkan atau diperoleh sebagai hasil dari jumlah
aktivitas audit;
2. Jumlah audit yang dapat diselesaikan;
3. Jumlah temuan audit;
4. Jumlah audit yang dapat diselesaikan dengan biaya 5% dari anggaran; dan lain-lain.
Meskipun angka-angka statistik seperti itu memang memiliki kegunaan, akan tetapi tetap
tidak mencerminkan suatu pengukuran penuh atas produktivitas audit yang hendak dinilai.
Kita juga harus ingat bahwa produktivitas adalah suatu hubungan antara input dari sumber
daya, dana, tenaga kerja, materi dan waktu, terhadap output, yang diidentifikasikan sebagai
efisiensi, dan terhadap hasilnya, yang diidentifikasikan sebagai efektivitas. Jadi, sebuah
output yang dilaporkan dalam jumlah besar tidak akan berarti apa-apa kecuali jika
dihubungkan dengan hasil akhir dan input sumber dayanya.
Tema yang sebaiknya digunakan dalam keseluruhan proses pengukuran produktivitas adalah
kualitas. Seluruh penelaahan kualitas, tidak peduli siapa yang melakukannya, hendaknya
mengacu pada aspek produktivitas.


Audit Internal Jaminan Atas Kualitas Kelompok 1 5

Mengevaluasi Produktivitas Audit
Produktivitas di dalam operasi jasa seperti audit internal memiliki kesulitan di dalam
pengukurannya dikarenakan oleh :
1. Mungkin tidak mudah bagi seseorang untuk dapat mengidentifikasi dan menguantifikasi
output dan hasil akhir.
2. Auditor internal yang memberikan hasil pekerjaan mereka secara internal akan sulit
untuk dinilai.
3. Audit internal sering kali merupakan hasil kerja sama tim sehingga tanggung jawab
outputnya berada di tangan tim.
4. Pada umumnya, auditor internal memiliki banyak pertimbangan di dalam memilih tugas
yang hendak dikerjakan serta kapan dan bagaimana pekerjaan tersebut diselesaikan.
Siapa yang Dapat Mengaudit Auditor?
Setiap unsur dari tiga unsur program quality assurance yang telah disebutkan di dalam
Standar awal dan terakhir di atas, memiliki tujuan dan metode yang berbeda. Yaitu :
1. Supervisi merupakan sebuah proses yang berkelanjutan. Supervisi memfokuskan diri
pada tiap individu audit dan/atau bagian dari audit.
2. Penelaahan internal memberikan keyakinan kepada direktur audit bahwa seluruh staf,
termasuk para supervisor, telah melaksanakan pekerjaan tradisionalnya dengan benar.
3. Penelaahan eksternal merupakan evaluasi atas keseluruhan aktivitas audit internal.
Penelaahan ini harus dilaksanakan oleh pihak-pihak di luar aktivitas audit.
4. Kelompok sejawat (peer) perusahaan. Kelompok ini mungkin saja para auditor dari
kantor pusat yang menilai aktivitas audit internal anak perusahaan atau kantor cabang.
Para penilai ini dapat dianggap independen terhadap klien-klien mereka.
5. Auditor eksternal perusahaan. Auditor eksternal memberikan tingkat objektivitas yang
lebih tinggi daripada auditor internal milik perusahaan.
6. Konsultan yang memenuhi persyaratan. Para pengevaluasi ini hendaknya adalah orang-
orang yang telah memiliki pengalaman nyata dalam melakukan audit internal dan
umumnya berada di tingkat manajemen.
7. Jasa audit kualitas IIA. IIA memberikan pelayanan untuk jenis jasa seperti ini. IIA
memiliki posisi Direktur Jasa Audit Kualitas, yang beranggotakan auditor-auditor
internal yang berpengalaman.

Audit Internal Jaminan Atas Kualitas Kelompok 1 6

Supervisi
Supervisor harus meyakinkan bahwa pekerjaan audit telah direncanakan dengan baik, lingkup
auditnya telah memadai, sumber daya audit telah digunakan secara ekonomis, teknologi telah
digunakan dengan tepat, tidak terlewatkannya kelemahan-kelemahan yang serius, masalah-
masalah yang kecil tidak dibesar-besarkan, pernyataan audit telah didukung dengan kuat dan
logis, kelemahan-kelemahan signifikan telah didokumentasikan secara menyeluruh, opini
audit telah dilengkapi dengan bukti yang tidak tergoyahkan, pekerjaan audit tidak dikurangi
oleh penelaahan-penelaahan pada permasalahan yang tidak relevan atau tidak signifikan, dan
para staf auditor telah dilatih dan dievaluasi dengan benar. Di bawah ini disajikan beberapa
unsur dari sebuah supervisi audit yang baik :
1. Supervisor hendaknya melakukan diskusi mengenai tujuan dan lingkup audit yang
dilakukan sebelum melakukan survei pendahuluan.
2. Supervisor hendaknya menyetujui secara tertulis program audit yang diajukan dan setiap
perubahan yang terjadi di dalamnya.
3. Supervisor hendaknya selalu siap selama audit untuk berdiskusi dengan staf mengenai
sasaran, prosedur, pelaporan, dan setiap masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan audit.
4. Supervisor hendaknya melakukan penelaahan secara rutin.
5. Supervisor hendaknya menelaah kertas kerja dan menampilkan bukti dari penelaahan
tersebut.
6. Penelaahan supervisor hendaknya memberikan keyakinan bahwa para staf auditor telah
sesuai dengan standar aktivitas, bahwa tujuan audit telah terpenuhi, bahwa kertas kerja
yang ada telah mendukung temuan dan kesimpulan logis yang diambil, serta memberikan
informasi yang layak untuk mendukung sebuah laporan audit yang bermanfaat.
7. Dll.
Penelaahan Internal
Sebuah penelaahan internal dapat memberikan quality assurance kepada direktur audit
sekaligus pelatihan bagi staf audit. Penelaahan ini dapat mengambil bentuk berupa verifikasi,
penelaahan internal, dan evaluasi oleh klien. Penelaahan internal dapat dilakukan secara
berkala atau sekali waktu.


Audit Internal Jaminan Atas Kualitas Kelompok 1 7

Verifikasi
Untuk berlindung dari kecenderungan melakukan kesalahan dan untuk menjamin tingginya
tingkat laporan audit yang tidak dapat dipersalahkan, para manajer dan direktur audit
sebaiknya menerapkan sebuah sistem verifikasi yang dirancang untuk dapat mendeteksi
kesalahan-kesalahan mekanis dan buruknya pertimbangan di mana mereka tidak berada
dalam posisi untuk dapat mendeteksinya sendiri.
Program Penelaahan Internal
Penelaahan internal dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Pertama, tentu adalah
informasi yang diberikan kepada direktur audit, yaitu informasi mengenai seberapa baik
prosedur yang ada telah diikuti dan seberapa baik dokumentasi pekerjaan audit dan
laporannya. Kedua, adalah nilai yang diberikan bagi auditor eksternal. Pengujian atas proyek
audit di dalam penelaahan eksternal dapat dikurangi jika para penilai telah melihat adanya
bukti yang kredibel dilakukannya penelaahan internal pada proyek tersebut.
Sebuah Contoh Peer Review
Contoh laporan yang terdapat dalam Manual memberikan beberapa indikasi mengenai
beberapa jenis temuan yang dapat diidentifikasikan oleh peer review. Contohnya :
1. Auditor internal melaksanakan beberapa fungsi lini operasional.
2. Dibutuhkan sebuah program pelatihan dan pendidikan berkelanjutan yang formal.
3. Tiga puluh persen waktu audit dihabiskan di bagian akuntansi. Wawancara dengan klien,
ditambah dengan observasi independen, mendukung kesimpulan mengenai perlunya
penambahan waktu pada area-area operasional di luar fungsi akuntansi.
4. Tidak adanya sistem pelaporan proyek formal yang digunakan untuk mencatat waktu
yang dianggarkan dan digunakan dalam setiap audit.
5. Pada beberapa kasus, terdapat kurangnya pekerjaan yang dilakukan dalam melakukan
analisis atas kontrol keuangan pada saat audit aktivitas keuangan.
6. Dalam 20 persen proyek audit yang ditelaah, terdapat perbedaan yang signifikan antara
pekerjaan yang diprogramkan dengan yang dicapai. Tidak terdapat tanda tangan
persetujuan oleh supervisor untuk pendokumentasian perubahan program yang terjadi.
7. Kertas kerja yang ada tidak menunjukkan bukti penelaahan oleh supervisor.
8. Manual kebijakan audit tidak memuat instruksi mengenai perencanaan audit, supervisi,
penilaian kinerja, kontrol poyek, dan pendidikan berkelanjutan.

Audit Internal Jaminan Atas Kualitas Kelompok 1 8

Peer Review atas Operasi Multilokasi
Di samping melakukan penelaahan kepatuhan yang biasanya dilakukan terhadap standar audit
internal, pembentukan tim kontrol kualitas hendaknya memiliki sasaran-sasaran lain seperti :
1. Memonitor independensi.
2. Menjadi tenaga cadangan yang berpindah-pindah untuk mengatasi keadaan-keadaan
darurat, audit akuisisi, dan situasi berisiko tinggi lainnya.
3. Analisis bencana yang membantu pelaksanaan analisis dan penyusunan rencana-rencana
tindakan.
4. Memberikan dukungan teknis di bidang-bidang khusus.
Penelaahan oleh Organisasi Profesional Lain
Sebuah organisasi mungkin menginginkan evaluasi kualitasnya dilakukan oleh sebuah
organisasi profesional seperti kantor akuntan publik atau perusahaan konsultan manajemen
yang mempunyai spesialisasi dalam audit internal. Perlu untuk diingat, bahwa pemilihan
organisasi eksternal seperti ini dibuat dengan memperhitungkan adanya eliminasi
keuntungan-keuntungan yang mungkin diperoleh dari kantor atau konsultan tersebut sebagai
akibat dari adanya pelaporan yang ia lakukan sebelumnya.
Program TQM dari Southern California Edison Company
Perusahaan fasilitas umum yang memiliki sekitar 17.000 pegawai dan pendapatan sebesar
lebih dari $7miliar setahunnya ini memiliki staf audit lebih kurang sekitar 80 orang. Pada
tahun 1993, perusahaan ini memutuskan untuk mengembangkan sebuah program TQM dan
setelah beberapa aktivitas yang evolusioner pada tahun 1995 akhirnya menetapkan dua
kelompok tim audit. Kelompok pertama berhubungan dengan Pekerjaan Alami. Contoh
dari bidang-bidang yang menjadi perhatian kelompok ini adalah :
1. Administrasi audit.
2. Kontak dan program.
3. Organisasi perusahaan.
4. Pelayanan pelanggan.
5. Teknologi informasi.
6. Bisnis-bisnis baru.
7. Produksi pembangkit tenaga dan nuklir.
8. Kontrak tenaga dan proyek-proyek kerja sama.

Audit Internal Jaminan Atas Kualitas Kelompok 1 9

Kelompok kedua, tim-tim sukarela TQM meliputi :
1. Komite steering TQM.
2. Pendidikan dan keahlian tim.
3. Proyek-proyek khusus.
4. Pengukuran dan pelaporan TQM.
Organisasi audit selanjutnya mengembangkan sebuah matriks yang menetapkan :
1. Klien-klien utama.
2. Ekspektasi klien dan perusahaan.
3. Strategi TQM departemen audit.
Kepentingan Kualitas dari Manajemen dan Dewan Komisaris
Di luar persyaratan yang diminta oleh Standar, terdapat kepentingan nyata yang dimiliki oleh
manajemen eksekutif dan komite audit dari dewan komisaris. Mereka membutuhkan suatu
keyakinan bahwa mereka benar-benar dapat bergantung pada pengawas yang bernama audit
internal ini. Mereka sedang berada di bawah bayang-bayang U.S Foreign Corrupt Practices
Act-FCPA (Undang-undang Praktik Korupsi Amerika Serikat) tahun 1977-sebuah hukum
yang mengatur lebih dari sekadar praktik penyuapan.
ISO 9000-Sebuah Tantangan
Standar kontrol internal seri ISO 9000, terdiri atas lima standar individu mengenai
manajemen kualitas yang saling berhubungan dan dua standar mengenai audit dan
pengukuran (seri ISO 10.000). Seri ini terdiri atas :
1. ISO 901 - meliputi sistem perancangan, manufaktur, instalasi, dan pelayanan.
2. ISO 9002 - meliputi produksi dan instalasi.
3. ISO 9003 - meliputi inspeksi dan pengujian produk akhir.
4. ISO 9004 - memberikan pedoman dalam memproduksi sistem kualitas perusahaan
itu sendiri.
5. ISO 10011 - berisi pedoman untuk mengaudit sistem kualitas.
6. ISO 10012 - berisi persyaratan quality assurance untuk perlengkapan pengukuran.