Anda di halaman 1dari 16

BENTUK-BENTUK PERLAWANAN RAKYAT DALAM MENENTANG KOLONIALISME BARAT DI BERBAGAI DAERAH

DISUSUN OLEH : Nama : Nurul Asyfiah Amalia NISS :15636 Kelas : VIII B

SMP NEGERI 2 WATAMPONE TAHUN PELAJARAN 2013 / 2014

Bentuk-bentuk Perlawanan Rakyat Dalam Menentang Kolonialisme Barat Di Berbagai Daerah


I. PERLAWANAN PATTIMURA (1817) A. Latar Belakang Terjadinya Perlawanan Maluku termasuk daerah yang paling awal didatangi oleh Belanda yang kemudian berhasil memaksakan monopoli perdagangan. Rempah-rempah Maluku hanya boleh dijual kepada Belanda. Kalau tidak dijual kepada Belanda, maka mereka dicap sebagai penyelundup dan pembangkang. Maka latar belakang terjadinya perlawanan rakyat Maluku di bawah pimpinan Thomas Matulessi yang lebih dikenal dengan nama Kapiten Pattimura, adalah sebagai berikut. 1. Kembalinya pemerintahan kolonial Belanda di Maluku dari tangan Inggris. Perubahan penguasa dengan sendirinya membawa perubahan kebijaksanaan dan peraturan. Apabila perubahan itu menimbulkan banyak kerugian atau penghargaan yang kurang, sudah barang tentu akan menimbulkan rasa tak puas dan kegelisahan. 2. Pemerintah kolonial Belanda memberlakukan kembali penyerahan wajib dan kerja wajib. Pada zaman pemerintahan Inggris penyerahan wajib dan kerja wajib (verplichte leverantien, herendiensten) dihapus, tetapi pemerintah Belanda mengharuskannya lagi. Tambahan pula tarif berbagai barang yang disetor diturunkan, sedang pembayarannya ditunda-tunda. 3. Pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan uang kertas sebagai pengganti uang logam yang sudah berlaku di Maluku, menambah kegelisahan rakyat. 4. Belanda juga mulai menggerakkan tenaga dari kepulauan Maluku untuk menjadi Serdadu (Tentara) Belanda.

B. Jalannya Perlawanan Protes rakyat di bawah pimpinan Thomas Matulessi diawali dengan penyerahan daftar keluhan-keluhan kepada Belanda. Daftar itu ditandatangani oleh 21 penguasa orang kaya, patih, raja dari Saparua dan Nusa Laut. Namun tidak mendapat tanggapan dari Belanda. Pada tanggal 3 Mei 1817 kira-kira seratus orang, di antaranya Thomas Matulessi berkumpul di hutan Warlutun dan memutuskan untuk menghancurkan benteng di Saparua dan membunuh semua penghuninya. Pada tanggal 9 Mei berkerumunlah lagi sejumlah orang yang sama di tempat tersebut. Dipilihnya Thomas Matulessi sebagai kapten. Serangan dimulai pada tanggal 15 Mei 1817 dengan menyerbu pos Belanda di Porto. Residen Van den Berg dapat ditawan, namun kemudian dilepas lagi. Keesokan harinya rakyat mengepung benteng Duurstede dan direbut dengan penuh semangat. Seluruh isi benteng itu dibunuh termasuk residen Van den Berg beserta keluarga dan para perwira lainnya. Rakyat Maluku berhasil menduduki benteng Duurstede. Setelah kejadian itu, Belanda mengirimkan pasukan yang kuat dari Ambon lengkap dengan persenjataan di bawah pimpinan Mayor Beetjes. Ekspedisi ini berangkat tanggal 17 Mei 1817. Dengan perjalanan yang melelahkan, pada tanggal 20 Mei 1817 pasukan itu tiba di Saparua dan terjadilah pertempuran dengan pasukan Pattimura. Pasukan Belanda dapat dihancurkan dan Mayor Beetjes mati tertembak. Belanda berusaha mengadakan perundingan dengan Pattimura namun tidak berhasil sehingga peperangan terus berkobar. Belanda terus-menerus menembaki daerah pertahanan Pattimura dengan meriam, sehingga benteng Duurstede terpaksa dikosongkan. Pattimura mundur, benteng diduduki Belanda, tetapi kedudukan Belanda dalam benteng menjadi sulit karena terputus dengan daerah lain. Belanda minta bantuan dari Ambon. Setelah bantuan Belanda dari

Ambon yang dipimpin oleh Kapten Lisnet dan Mayer datang, Belanda mengadakan serangan besarbesaran (November 1817).

C. Akhir Perlawanan Serangan Belanda tersebut, menyebabkan pasukan Pattimura semakin terdesak. Banyak daerah yang jatuh ke tangan Belanda. Para pemimpinnya juga banyak yang tertangkap yaitu Rhebok, Thomas Pattiwael, Pattimura, Raja Tiow, Lukas Latumahina, dan Johanes Mattulessi. Pattimura sendiri akhirnya tertangkap di Siri Seri yang kemudian dibawa ke Saparua. Belanda membujuk Pattimura untuk diajak kerja sama, namun Pattimura menolak. Oleh karena itu, pada tanggal 16 Desember 1817 Pattimura dihukum gantung di depan benteng Victoria Ambon. Sebelum digantung, Pattimura berkata Pattimura-Pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi sekali waktu kelak Pattimura-Pattimura muda akan bangkit. Tertangkapnya para pemimpin rakyat Maluku yang gagah berani tersebut menyebabkan perjuangan rakyat Maluku melawan Belanda melemah dan akhirnya Maluku dapat dikuasai oleh Belanda. PERLAWANAN KAUM PADRI (1821 1837) A. Latar Belakang Terjadinya Perlawanan Kaum Adat di Minangkabau mempunyai kebiasaan yang kurang baik yaitu minum-minuman keras, berjudi, dan menyabung ayam. Kebiasaan itu dipandang oleh kaum Padri sangat bertentangan dengan agama Islam. Kaum Padri berusaha menghentikan kebiasaan itu, tetapi Kaum Adat menolaknya maka kemudian terjadilah pertentangan antara kedua golongan tersebut. Gerakan Padri di Sumatera Barat, bermula dengan kedatangan tiga orang haji asal Minangkabau dari Mekkah tahun 1803. Ketiga haji tersebut adalah Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piabang. Ketiga haji itu membawa perubahan baru dalam masyarakat Minangkabau dan sekaligus ingin menghentikan kebiasaan yang dianggapnya menyimpang dari ajaran agama Islam.

II.

Tujuan gerakan Padri adalah untuk membersihkan kehidupan agama Islam dari pengaruh-pengaruh kebudayaan dan adat istiadat setempat yang dianggap menyalahi ajaran agama Islam. Diberantasnya perjudian, adu ayam, pesta-pesta dengan hiburan yang dianggap merusak kehidupan beragama. Gerakan ini kemudian terkenal dengan nama Gerakan Wahabi. Kaum adat tidak tinggal diam, tetapi mengadakan perlawanan yang dipimpin oleh Datuk Sati, maka terjadilah perang saudara. Perang saudara mulai meletus di Kota Lawas, kemudian menjalar ke kota-kota lain, seperti Bonjol, Tanah Datar, dan Alahan Panjang. Tokoh-tokoh kaum Padri yang terkenal adalah Tuanku Imam Bonjol, Tuanku nan Cerdik, Tuanku Pasaman, dan Tuanku Hitam. Kaum adat mulai terdesak. Ketika Belanda menerima penyerahan kembali daerah Sumatera Barat dari Inggris, kaum adat meminta bantuan kepada Belanda menghadapi kaum Padri. Oleh karena itu, kaum Padri juga memusuhi Belanda.

B. Jalannya Perlawanan Musuh kaum Padri selain kaum adat adalah Belanda. Perlawanan dimulai tahun 1821 dengan serbuan ke berbagai pos Belanda dan pencegatan terhadap patroli Belanda. Pasukan Padri bersenjatakan senjata tradisional, sedangkan pihak musuh menggunakan meriam dan jenis senjata lainnya. Pertempuran berlangsung seru sehingga banyak menimbulkan korban kedua belah pihak. Pasukan Belanda mendirikan benteng pertahanan di Batusangkar diberi nama Fort Van Der Capellen. Benteng pertahanan kaum Padri dibangun di berbagai tempat, antara lain Agam dan Bonjol yang diperkuat dengan pasukan yang banyak jumlahnya. Tanggal 22 Januari 1824 diadakan perjanjian Mosang dengan kaum Padri, namun kemudian dilanggar oleh Belanda. Pada April 1824 Raaf meninggal digantikan oleh Kolonel De Stuers. Dia membangun Benteng Fort De Kock, di Bukit Tinggi. Tanggal 15 November 1825 diadakan perjanjian Padang. Kaum

Padri diwakili oleh Tuanku Nan Renceh dan Tuanku Pasaman. Seorang Arab, Said Salimuljafrid bertindak sebagai perantara. Pada hakikatnya berulang-ulang Belanda mengadakan perjanjian itu dilatarbelakangi kekuatannya yang tidak mampu menghadapi serangan kaum Padri, di samping itu bantuan dari Jawa tidak dapat diharapkan, karena di Jawa sedang pecah Perang Diponegoro. Tahun 1829 daerah kekuasaan kaum Padri telah meluas sampai ke Batak Mandailing, Tapanuli. Di Natal, Tapanuli Baginda Marah Husein minta bantuan kepada kaum Padri mengusir Gubernur Belanda di sana. Maka setelah selesai perang Diponegoro, Natal di bawah pimpinan Tuanku Nan Cerdik dapat mempertahankan serangan Belanda di sana. Tahun 1829 De Stuers digantikan oleh Letnan Kolonel Elout, yang datang di Padang Maret 1931. Dengan bantuan Mayor Michiels, Natal dapat direbut, sehingga Tuanku Nan Cerdik menyingkir ke Bonjol. Sejak itu kampung demi kampung dapat direbut Belanda. Tahun 1932 datang bantuan dari Jawa, di bawah Sentot Prawirodirjo. Dengan cepat Lintau, Bukit, Komang, Bonjol, dan hampir seluruh daerah Agam dapat dikuasai oleh Belanda. Melihat kenyataan ini baik kaum Adat maupun kaum Padri menyadari arti pentingnya pertahanan. Maka bersatulah mereka bersama-sama menghadapi penjajah Belanda.

C. Akhir Perlawanan Setelah daerah-daerah sekitar Bonjol dapat dikuasai oleh Belanda, serangan ditujukan langsung ke benteng Bonjol. Membaca situasi yang gawat ini, Tuanku Imam Bonjol menyatakan bersedia untuk berdamai. Belanda mengharapkan, bahwa perdamaian ini disertai dengan penyerahan. Tetapi Imam Bonjol berpendirian lain. Perundingan perdamaian ini adalah siasat mengulur waktu, agar dapat mengatur pertahanan lebih baik, yaitu membuat lubang yang menghubungkan pertahanan dalam benteng dengan luar benteng, di samping untuk mengetahui

kekuatan musuh di luar benteng. Kegagalan perundingan ini menyebabkan berkobarnya kembali pertempuran pada tanggal 12 Agustus 1837. Belanda memerlukan waktu dua bulan untuk dapat menduduki benteng Bonjol, yang didahului dengan pertempuran yang sengit. Meriam-meriam Benteng Bonjol tidak banyak menolong, karena musuh berada dalam jarak dekat. Perkelahian satu lawan satu tidak dapat dihindarkan lagi. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Pasukan Padri terdesak dan benteng Bonjol dapat dimasuki oleh pasukan Belanda menyebabkan Tuanku Imam Bonjol beserta sisa pasukannya menyerah pada tanggal 25 Oktober 1937. Walaupun Tuanku Imam Bonjol telah menyerah tidak berarti perlawanan kaum Padri telah dapat dipadamkan. Perlawanan masih terus berlangsung dipimpin oleh Tuanku Tambusi pada tahun 1838. Setelah itu berakhirlah perang Padri dan daerah Minangkabau dikuasai oleh Belanda.

III.

PERLAWANAN DIPONEGORO (1825-1830) A. Latar Belakang Terjadinya Perlawanan Setelah kekalahannya dalam Peperangan era Napoleon di Eropa, pemerintah Belanda yang berada dalam kesulitan ekonomi berusaha menutup kekosongan kas mereka dengan memberlakukan berbagai pajak di wilayah jajahannya, termasuk di Hindia Belanda. Selain itu, mereka juga melakukan monopoli usaha dan perdagangan untuk memaksimalkan keuntungan. Pajakpajak dan praktek monopoli tersebut amat mencekik rakyat Indonesia yang ketika itu sudah sangat menderita.Banyak hasil bumi diambil oleh Belanda. Untuk semakin memperkuat kekuasaan dan perekonomiannya, Belanda mulai berusaha menguasai kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, salah satu di antaranya adalah Kerajaan Yogyakarta. Ketika Sultan Hamengku Buwono IV wafat, kemenakannya, Sultan Hamengku Buwono V yang baru berusia 3 tahun, diangkat menjadi penguasa. Akan tetapi pada prakteknya, pemerintahan kerajaan dilaksanakan oleh Patih Danuredjo, seseorang yang mudah dipengaruhi dan

tunduk kepada Belanda. Belanda dianggap mengangkat seseorang yang tidak sesuai dengan pilihan/adat keraton. Pada pertengahan bulan Mei 1825, pemerintah Belanda yang awalnya memerintahkan pembangunan jalan dari Yogyakarta ke Magelang lewat Muntilan, mengubah rencananya dan membelokan jalan itu melewati Tegalrejo. Rupanya di salah satu sektor, Belanda tepat melintasi makam dari leluhur Pangeran Diponegoro. Hal inilah yang membuat Pangeran Diponegoro tersinggung dan memutuskan untuk mengangkat senjata melawan Belanda. Ia kemudian memerintahkan bawahannya untuk mencabut patok-patok yang melewati makam tersebut. Namun Belanda tetap memasang patok-patok tersebut bahkan yang sudah jatuh sekalipun. Karena kesal, Pangeran Diponegoro mengganti patok-patok tersebut dengan tombak. Belanda yang mempunyai alasan untuk menangkap Pangeran Diponegoro karena dinilai telah memberontak, pada 20 Juli 1825 mengepung kediaman beliau. Terdesak, Pangeran beserta keluarga dan pasukannya menyelamatkan diri menuju barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo, dan meneruskan ke arah selatan hingga tiba di Goa Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul. Sementara itu, Belanda yang tidak berhasil menangkap Pangeran Diponegoro membakar habis kediaman Pangeran. Pangeran Diponegoro kemudian menjadikan Goa Selarong, sebuah goa yang terletak di Dusun Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul, sebagai basisnya. Pangeran menempati goa sebelah Barat yang disebut Goa Kakung, yang juga menjadi tempat pertapaan beliau. Sedangkan Raden Ayu Retnaningsih (selir yang paling setia menemani Pangeran setelah dua istrinya wafat) dan pengiringnya menempati Goa Putri di sebelah Timur. Setelah penyerangan itu, dimulailah sebuah perang besar yang akan berlangsung 5 tahun lamanya. Di bawah kepemimpinan Diponegoro, rakyat pribumi bersatu dalam semangat "Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati"; sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati. Selama perang, sebanyak

15 dari 19 pangeran bergabung dengan Diponegoro. Perjuangan Diponegoro dibantu Kyai Maja yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan. Dalam perang jawa ini Pangeran Diponegoro juga berkoordinasi dengan I.S.K.S. Pakubowono VI serta Raden Tumenggung Prawirodigdoyo Bupati Gagatan. Perlawanan rakyat Jawa di bawah pimpinan Diponogoro merupakan pengelompokan terbesar yang dihadapi pemerintah colonial Belanda di Jawa. Adapun sebab terjadinya Perang Diponogoro dapat dibagi menjadi 2 yaitu sebab khusus dan sebab umum. 1. Sebab-Sebab Umum a. b. c. d. e. 2. Wilayah Mataram semakin dipersempit dan terpecah Masuknya adat Barat ke dalam kraton Belanda ikut campur tangan dalam urusan kraton Hak-hak para bangsawan dan abdi dalem dikurangi Rakyat menderita akibat dibebani berbagai pajak

Sebab-Sebab khusus Sebab Belanda yang meledakkan perang provokasi yang dilakukan penguasa

B. Jalannya Perlawanan Pada waktu Belanda menyerang pangeran Diponogoro, beliau lebih menyingkir ke Goa Salorong dan mendirikan markas di tempat itu. Dalam perlawanannya Pangeran Diponogoro dibantu oleh Kyai Nojo, Sentot Prawirodirjo dan didukung oleh kaum ulama sehingga pada tahun 1825 memperoleh kemenangan. Pada tahun 1827 jendral De Cock menerapkan benteng stelsel untuk mempersempit ruang gerak Diponogoro C. Akhir Perlawanan Belanda mengajak pangeran Diponogoro untu berunding di Magelang, Perundingan ini baru dilaksanakan pada tanggal 28 maret 1830 dalam

perundingan ini Pangeran Diponogoro ternyata ditangkap. Dan pada akhirnya Pangeran Diponogoro wafat pada tanggal 3 mei 1885 dalam usia 70 tahun. PERANG JAGARAGA / PERLAWANAN RAKYAT BALI (1846 1849) A. Latar Belakang Terjadinya Perlawanaan Di Bali terdapat hukum tawan karang. Yaitu hukum yang memberikan hak kepada kerajaan di Bali untuk merampas kapal-kapal yang terdampar di perairan Bali dan seluruh isinya termasuk anak buah kapal sebagai asset mereka. Hukum Tawan Karang tetap saja dilakukan oleh rakyat Buleleng sepanjang pesisir. Bahkan sering mengganggu pelayaran Belanda. Pada tahun 1841, Belanda mengdakan suatu perjanjian dengan raja Buleleng dimana hukum Tawan Karang tersebut tidak berlaku kepada kapalkapal Belanda. Pada tahun 1844 perjanjian tersebut dijalankan. Pada tahun itu juga, ketika sebuah kapal milik Belanda terdampar di Bali, kapal itu dirompak dan protes atas perlakuan itu diabaikan, yang berarti penguasa Bali melanggar kesepakatan, sehingga pemerintah colonial Belanda di Jawa tak bisa lagi mentoleransi dan melancarkan ekspedisi. Latar belakang dari kerajaan Buleleng adalah Patih Jelantik tetap pada pendiriannya semula yaitu bertekad mengusir Belanda dari wilayah kerajaan Buleleng. Untuk mewujudkan keinginan ini, Patih Jelantik mempersiapkan Desa Jagaraga sebagai pusat kegiatan untuk mencapai maksudnya. Namun tindakantindakan serdadu Belanda merampas ibukotanya merampok rumah-rumah rakyat menimbulkan dendam pada rakyat Buleleng. Maka Patih Jelantik secara rahasia telah mengirimkan mata-mata untuk mengetahui kegiatan serdadu Belanda di Pabean dan kemudian mengambil kesimpulan bahwa Belanda telah

IV.

mempersiapkan suatu penyerangan besar-besaran terhadap Jagaraga. Karena itu Patih Jelantik memutuskan memperkuat Jagaraga dalam system perbentengan, kekuatan lascar, dan persenjataan.

B. Jalannya Perlawanaan Pada tahun 1846 Belanda mendaratkan 1700 pasukan di Buleleng sehingga pertempuran tidak dapat dihindari. Menggalang persatuan dengan raja Karangasem, Klungkung, dan Badung sepakat untuk bersatu melawan Belanda. Pos-pos Belanda mulai di serang dan senjata mereka di rampas.

C. Akhir Perlawanan Dengan gugurnya Patih Jelantik maka berhenti pulalah perlawanan Jagaraga terhadap pasukan Belanda. Dalam serangan ini, dengan mengadakan pertempuran selama sehari, Belanda telah berhasil memukul hancur pusat pertahanan dari laskar Jagaraga, sehingga secara politis benteng Jagaraga secara keseluruhan telah jatuh ke tangan pemerintah Kolonial Belanda pada tanggal 19 April 1849, dengan jumlah korban di pihak Jagaraga kurang lebih sekitar 2200 orang, termasuk 38 orang pedanda dan pemangku, lebih 80 orang Gusti, serta 83 pemekel, sedang di pihak Belanda menderita korban sebanyak kurang lebih 264 orang serdadu bawahan maupun tingkat yang lebih tinggi. V. PERLAWANAN RAKYAT BANJAR (1859 1862) Perlawanan di Kalimantan Selatan (Banjarmasin) terjadi karena persaingan anggota keluarga kerajaan untuk naik tahta pada tahun 1859. Banyak anggota kerajaan yang ingin naik tahta bekerjasama dengan Belanda. Keadaan di atas ditentang salah seorang Pangeran yaitu Pangeran Antasari. A. Latar Belakang Terjadinya Perlawanan 1 2 3 Belanda memaksa monopoli perdagangan di Kerajaan Banjar Pemerintah colonial Belanda ikut campur urusan kraton Pemerintah colonial Belanda mengumumkan bahwa Kesultanan

Banjarmasin akan dihapuskan

B. Jalannya Perlawanan Pangeran Antasari seorang pemimpin perlawanan yang sangat anti Belanda. Pertempuran hebat terjadi di salah satu kekuatan Pangeran Antasari, yaitu benteng Gunung Lawak (27 September1859). Pada tanggal 2 Oktober 1861 Kyai Demang menyerahkan diri. C. Akhir Perlawanan Pada tanggal 3 Februari 1862 Pangeran Hidayat ditangkap dan diasingkan ke Jawa. Pada tanggal 14 Maret 1862 Pangeran Antasari diangkat sebagai pemimpin tertinggi agama. Pangeran Antasari meninggal dunia tanggal 11 Oktober 1862.

VI.

PERLAWANAN RAKYAT ACEH (1873-1904) A. Latar Belakang Terjadinya Perlawanaan 1. Aceh adalah Negara merdeka dan kedaulatannya masih diakui penuh oleh negara-negara barat 2. Berdasarkan Traktat Sumatra, 2 November 1871, pihak Belanda oleh Inggris diberi kebebasan memperluas daerah kekuasaannya di Aceh 3. 4. Semakin pentingnya posisiAceh, dengan dibukanya zeus pada tahun 1869 Aceh menolak mengakui kedaulatan Hindia Belanda atas kesultanan Aceh

B. Jalannya Perlawanaan Penyerangan pertama terhadap Aceh dipimpin oleh Jendral Kohrel, pejuang Aceh bertahan di Masjid Raya Aceh. Jendral PCL mengadakan penyerangan gencar kedaerah-daerah dan dalam pertempuran di Tungga Jendral PCL tewas. Siasat adu domba dimanfaatkan oleh Teungku Umar dengan menyerahkan diri dan mau bekerja sama dengan Belanda. Sebelumnya ia mengadakan penyelidikan terhadap masyarakat Aceh dengan menyamar sebagai ulama dengan nama samara Abdul Gafar.

C. Akhir Perlawanaan Pada tanggal 26 November 1902, Belanda berhasil menemukan persembunyian rombongan Sultan dan menawan Sultan Mihamad Daud Syah pada tahun 1903. Pada tahun 1891 Teungku Cit Di Tiro meninggal dan digantikan putranya, yaitu Teungku Mak Amin Di Tiro. VII. PERLAWANAN RAKYAT MAKASAR (1633 1668) Diantara kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan adalah Gowa dan Talo. Kerajaan Gowa bergabung dengan keajaan tallo dan menjadi kerajaan Gowa-Tallo atau Makasar. Kerajaan Makasar anti dengan Belanda karena politik monopolinya, serta selalu ikut campur urusan politik kerajaan dan membatasi pelayaran orangorang Makassar. A. Latar Belakang Terjadinya Perlawanan Sejak abad ke-16, Makasar dengan Kelsultanan Gowa telah muncul sebagai pelabuhan dagang yang ramai di Nusantara. Para pedagang dari wilayah Barat (Selat Malaka) yang menuju wilayah Timur (Perairan Maluku) dan sebaliknya selalu singgah di Makasar. Kemajuan Makasar sebagai bandar pelabuhan yang strategis menarik perhatian VOC untuk menguasainya. Sikap politik perdagangan terbuka Makasar yang menerima kedatangan para pedagang asing dianggap merugikan VOC yang ingin menjadi penyalur tunggal perdagangan rempah-rempah di Nusantara. VOC berusaha mempengaruhi para pedagang Maluku agar tidak memenuhi permintaan barang-barang yang dipesan pedagang Makasar. Kebetulan pada waktu itu Kesultanan Gowa sedang berada dalam konflik intern karena perebutan kekuasaan. Hal tersebut dijadikan kesempatan bagi VOC untuk ikut campur di dalamnya. Selain itu, kapal-kapal dagang Makasar yang biasa hilir mudik antara Gowa dan Maluku sering diganggu oleh kapal VOC. Akibatnya timbul ketegangan yang meningkat menjadi bentrokan bersenjata antara kedua belah pihak.

B. Jalannya Perlawanan Pada waktu itu yang menjadi penguasa di Kesultanan Gowa adalah Sultan Hasanuddin yang digelari VOC sebagai Ayam Jantan dari Timur tidak tahan melihat rakyatnya yang selalu diganggu oleh VOC dan melakukan monopoli perdagangan. Pada tahun 1633, Sultan Hasanuddin mengobarkan perang terhadap VOC yang disusul dengan penyerangan terhadap pasukan-pasukan VOC. Pada tahun 1634, VOC balik menyerang Makasar, maka meletuslah perang terbuka yang dahsyat. Peperangan berlangsung dari tahun 1633 sampai dengan tahun 1668. Rakyat Makasar yang terkenal dengan pelaut-pelaut ulung berani mendobrak blokade-blokade laut yang dilancarkan VOC, sehingga VOC kewalahan. C. Akhir Perlawanan Perlawanan rakyat Makasar akhirnya mengalami kekalahan setelah digempur habis-habisan oleh pasukan VOC yang dibantu oleh pasukan Bone dengan rajanya Aru Palaka. Sultan Hasanuddin akhirnya menyerah kepada VOC dan dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada tahun 1668, yang berisi : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Kesultanan Gowa harus mengakui monopoli perdagangan VOC; Wilayah Kesultanan Gowa hanya meliputi daerah Gowa saja; Daerah-daerah taklukkan Gowa harus diserahkan kepada VOC; Gowa harus mengganti kerugian perang yang dialami VOC; Kesultanan Gowa tertutup bagi pedagang-pedagang asing, kecuali VOC; Benteng-benteng Gowa harus dihancurkan; VOC akan menempatkan gubernur dan pasukan yang kuat untuk mengawasi pelaksanaan Perjanjian Bongaya. Isi Perjanjian Bongaya tersebut jelas sangat merugikan rakyat dan kesultanan Gowa. Karena itu, banyak para pejuang Makasar yang tidak mau mengakui isi perjanjian tersebut. Mereka terus berjuang menentang dominasi VOC di Makasar. Beberpa pejuang Makasar banyak yang meninggalkan

daerahnya menuju daerah-daerah yang aman di Nusantara, terutama di Pulau Jawa. Misalnya Bontomarannu dan Kraeng Galesung ikut berjuang membantu Trunojoyo dari Madura melawan VOC. VIII. PERLAWANAN RAKYAT BATAK (1878 1907) Perlawanan mengusir Belanda terus terjadi di berbagai daerah. Perlawanan dilakukan oleh raja, sultan, pangeran maupun oleh rakyat. Perlawanan rakyat Tapanuli yang dilakukan dilingkungan kerajaan Batak dipimpin oleh raja Sisingamangaraja XII. A. Latar Belakang Terjadinya Perlawanan Pada tahun 1878 Belanda mulai dengan gerakan militernya menyerang daerah Tapanuli, sehingga meletus perang Tapanuli dari tahun 1878 sampai tahun 1907. Kerajaan batak terletak di wilayah tapanuli dengan pusat pemerintahannya di Bakkara, sebelah barat daya danau Toba. Sebab-sebab terjadinya Perang batak atau Perang tapanuli antara lain sebagai berikut : 1. Raja Sisingamangaraja XII menentang dan menolak dimana daerah kekuasaanya seperti kota Natal, Mandailing, Angkola, Sipirok di Tapanuli Selatan dikuasai Belanda. 2. Belanda ingin mewujudkan Pax Netherlandica ( Menguasai seluruh Hindia Belanda ). Tindak lanjut untuk mewujudkan Pax Netherlandica, Belanda menguasai Tapanuli Utara sebagai lanjutan pendudukannya atas Tapanuli Selatan dan Sumatera Timur. Belanda menempatkan pasukannya di Tarutung dengan dalih melindungi para penyebar agama Kristen. B. Jalannya Perlawanan Menghadapi perluasan wilayah pendudukan yang dilakukan oleh Belanda, pada tahun 1878, Sisingamangaraja XII, menyerang kedudukan Belanda di daerah Tapanuli Utara dengan kekuatan 700 orang. Pertempuranpun

merebak sampai ke daerah Buntar, Bahal Batu, Balige, Siborong-Borong, Lumban Julu dan Laguboti. Dengan gigih rakyat setempat berjuang saling bahumembahu berlangsung sampai sekitar 7 tahun, walau akhirnya kewalahan menghadapi kekuatan Belanda. C. Akhir Perlawanan Pada tahun 1907, Pasukan Marsose di bawah pimpinan Kapten Hans Christoffel berhasil menangkap Boru Sagala, istri Sisingamangaraja XII serta dua orang anaknya, sementara itu Sisingamangaraja XII dan para pengikutnya berhasil melarikan diri ke hutan Simsim. Ia menolak tawaran untuk menyerah, dan dalam pertempuran tanggal 17 Juni 1907, Sisingamangaraja XII gugur bersama dengan putrinya Lopian dan dua orang putranya Sutan Nagari dan Patuan Anggi. Gugurnya Sisingamangaraja XII menandai berakhirnya Perang Tapanuli.