0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
327 tayangan19 halaman

Metodologi Ijtihad dalam Mazhab

Metode ijtihad dalam perspektif madzhab meliputi metode-metode seperti qiyas, istihsan, dan maslahah. Qiyas adalah menetapkan hukum suatu peristiwa baru dengan membandingkannya ke peristiwa lama yang sudah ada hukumnya karena keduanya memiliki illat yang sama. Ijtihad dilakukan berdasarkan pengetahuan tentang kaidah bahasa, tujuan syariat, dan penyelesaian pertentangan dalil.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
327 tayangan19 halaman

Metodologi Ijtihad dalam Mazhab

Metode ijtihad dalam perspektif madzhab meliputi metode-metode seperti qiyas, istihsan, dan maslahah. Qiyas adalah menetapkan hukum suatu peristiwa baru dengan membandingkannya ke peristiwa lama yang sudah ada hukumnya karena keduanya memiliki illat yang sama. Ijtihad dilakukan berdasarkan pengetahuan tentang kaidah bahasa, tujuan syariat, dan penyelesaian pertentangan dalil.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

METODOLOGI IJTIHAD DALAM PERSPEKTIF MADZHAB

Amin Muchtar
Pengertian Ijtihad

"

&

'

'
*
+
,
-

Ijtihad ialah mencurahkan segala kemampuan dalam mencapai hukum syara dengan cara
istinbath (menyelidiki dan mengambil kesimpulan hukum yang terkandung) pada Alquran dan
sunah.
Orang-orang yang mampu berijtihad disebut mujtahid. Agar ijtihadnya dapat
dipertanggungjawabkan, seorang mujtahid harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain;
(a) bersiat adil dan takwa, (b) menguasai bahasa Arab dan cabang-cabangnya, ilmu tasir,
ushul i!ih, dan "ulumul hadits. #lmu-ilmu tersebut diperlukan untuk meneliti dan memahami
makna-makna laal dan maksud-maksud ungkapan dalam Al!uran dan sunah.
Ruang Lingku ijtihad
$ermasalahan yang dapat diijtihadi ialah
a) masalah-masalah yang ditunjuk oleh nash yang zhanniyatul wurud (kemunculannya perlu
penelitian lebih lanjut) dan zhanniyatud dilalah (makna dan ketetapan hukumnya tidak jelas
dan tegas).
b) masalah-masalah yang tidak ada nashnya sama sekali.
%edangkan bagi masalah yang telah ditetapkan oleh dalil sharih (jelas dan tegas) yang
qatiyyatud wurud (kemunculannya tidak perlu penelitian lebih lanjut) dan qathiyyatud dilalah
(makna dan ketetapan hukumnya sudah jelas dan tegas), maka tidak ada jalan untuk diijtihadi.
&ita berkewajiban melaksanakan petunjuk nash tersebut. Misalnya jumlah hukum cambuk
seratus kali dalam irman Allah
)

.
*
.
*
-

-/

* 1

'

) 4

$erempuan dan laki-laki yang ber'ina cambuklah masing-masing dari keduanya seratus kali.
(.s. An-)ur*+
Met!de"#et!de Ijtihad dan Perangkatn$a
,alam mengistinbath hukum, seorang mujtahid harus dilandasi dengan pengetahuan
tentang qawaid lughawiyyah (kaidah-kaidah bahasa), maqashidu tasyriiyyah (tujuan umum
perundang-undangan), serta cara-cara menuntaskan taarudul adillah (dalil-dalil yang nampak
bertentangan).
%a&aid a'"'ugha&i$$ah a'"u(hu'i$$ah (kaidah-kaidah ushul ikih yang dipetik dari bahasa).
)ash-nash Al!uran dan %unah adalah berbahasa Arab. -ntuk memahami hukum-hukum
dari kedua nash tersebut secara sempurna lagi benar, haruslah memperhatikan uslub-uslub
(gaya bahasa) bahasa Arab dan kaiiyat dilalah (cara penunjukkan) laal nash itu kepada artinya.
&arena itu, para ahli ushul ikih mengarahkan penelitian mereka terhadap uslub-uslub dan
ibarah-ibarah bahasa Arab yang la'im dipergunakan oleh sastrawan-sastrawan Arab dalam
menggubah sya.ir dan prosa. ,ari penelitian ini mereka menyusun kaidah-kaidah yang dapat
dipergunakan untuk memahami nash-nash Al!uran dan %unah secara benar sesuai dengan
1
pemahaman orang Arab sendiri. &aidah-kaidah tersebut kemudian dikenal dengan istilah
qawaid al-lughawiyyah al-ushuliyyah (kaidah-kaidah ushul ikih yang dipetik dari bahasa).
$ada umumnya ulama ushul ikih memulai pembahasan tentang maudhu (topik) ini
dengan membicarakan makna-makna dari suatu laal yang diciptakan untuk menyatakan
makna-makna tertentu.
-lama ushul ikih menetapkan bahwa perhubungan laal dengan makna memiliki
berbagai aspek yang harus dibahas. Mereka membagi laal dalam hubungannya dengan makna
kepada beberapa bagian sebagai berikut*
Pertama, ditinjau dari segi makna yang diciptakan untuk laal, laal itu dibagi menjadi /
bagian, yakni
)*+ a'"Kha(h, yaitu laal yang diciptakan untuk memberi pengertian satuan-satuan tertentu.
&hash mencakup laal
(a) mutla! (yang tidak diterangkan pembatasnya), seperti laal dam (darah) dalam Al!uran, surat
al-Maidah*0.
(b) mu!ayyad (yang diterangkan pembatasnya), seperti laal dam masuhan (darah yang
mengalir) dalam Al!uran, surat al-An.am*1/2.
(c) amr (laal yang menunjukkan makna perintah), seperti laal a!imu (dirikanlah) dalam Al!uran,
surat al-3a!arah*/0
(d) nahyu (laal yang menunjukkan makna larangan), seperti laal la ta!rabu (jangan mendekati)
dalam Al!uran, surat an-)isa*/0.
),+ a'"A##, yaitu suatu laal yang sengaja diciptakan oleh bahasa untuk menunjukkan satu
makna yang dapat mencakup seluruh satuan tanpa dibatasi jumlah tertentu, seperti laal
jami.an (seluruh) pada Al!uran, surat al-3a!arah*+4.
)-+ a'"#u($tarak, yaitu laal yang memiliki makna lebih dari satu yang berbeda-beda, seperti
kata quru dalam Al!uran surat al-3a!arah*++5, mempunyai arti suci dan haid.
).+ a'"#ua&&a', yaitu 6..
Kedua, ditinjau dari segi makna yang dipergunakan untuk laal, maka laal itu dibagi
menjadi / bagian, yakni
)*+ a'"ha/i/ah0 yaitu laal yang digunakan untuk arti hakiki atau sebenarnya. 7ika pemakaian arti
itu sesuai dengan istilah bahasa dinamai ha!i!ah lughawiyyah, seperti laal insan yang arti
haikinya secara bahasa adalah hayawanun nati!un (binatang yang berakal). 7ika
pemakiannya itu sesuai dengan istilah syara. dinamai ha!i!ah syari.iyyah, seperti laal
shalat yang arti hakikinya menurut syara. adalah ucapan-ucapan dan perbuatan yang
diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. 7ika pemakainnya itu sesuai dengan
istilah adat atau kebiasaan umum disebut ha!i!ah "uriyyah "ammah, seperti laal dabbah
yang dipakai untuk semua binatang yang berkaki empat.
),+ a'"#aja10 yaitu laal yang digunakan untuk arti kiasan (pinjaman, bukan sebenarnya).
%ebagaimana halnya laal ha!i!i, laal maja'i terbagi pula kepada (a) maja' lughawi, seperti
laal asad (singa) yang arti maja'inya adalah seorang pemberani, (b) maja' syar.i, seperti
laal la mastum dalam surat al-Maidah*8 yang arti maja'inya adalah bersetubuh, dan (c)
maja' "uri, seperti laal dabbah yang arti maja'inya adalah setiap binatang yang melata di
atas permukaan bumi.
2
)-+ (harih0 yaitu laal yang jelas maksudnya karena sudah termasyhur dalam penggunaannya,
baik secara ha!i!i maupun maja'i. %eperti laal isytara (membeli) dan ba.a (menjual) adalah
laal sharih, karena jelas sekali maksudnya.
).+ a'"kina$ah0 yaitu laal yang tersembunyi maksudnya karena tidak termasyhur dalam
penggunaannya, baik secara ha!i!i maupun maja'i. ,an untuk memahaminya diperlukan
!arinah (keterangan pendukung)
Ketiga0 ditinjau dari segi kaiiyat atau cara-cara penunjukkan laal kepada makna
menurut kehendak pembicara, maka laal itu dibagi menjadi / bagian, yakni
)*+ di'a'ah i2arah, yaitu petunjuk yang diperoleh dari apa yang tersurat dalam nash. ,isebut
pula ibaratun nash.
),+ di'a'ah i($arah, yaitu petunjuk yang diperoleh dari apa yang tersirat dalam nash.
)-+ di'a'ah ad"di'a'ah, yaitu penunjukkan suatu laal bahwa hukum yang diambil dari nash yang
disebutkan berlaku pula bagi perbuatan yang tidak disebutkan dalam nash, karena adanya
persamaan illat antara kedua macam perbuatan tersebut. ,ilalah ad-dilalah disebut pula
dilalatun nash, ahwal khitab atau lahnal khitab. %edangkan ulama syai.iyyah menamainya
mahum muwaa!ah, karena adanya persamaan hukum antara yang tidak disebutkan
dengan yang disebutkan dalam nash. Misalnya kata u dalam irman Allah
6

78

9 :

9Maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan u..(.s. Al-
#sra*+0
:ukum yang dipahamkan dari ayat ini menurut dilalatun nash ialah larangan menyebut u
(ah) kepada kedua orang tua. %etiap ahli bahasa mengetahui bahwa "illat larangan tersebut
ialah karena perkataan 9ah; itu menyakitkan hati kedua orang tua. &arena itu pemikiran
manusia berkembang kepada setiap perbuatan atau perkataan yang menyakiti hati orang
tua, karena illatnya adalah sama.
).+ di'a'ah i/tidha0 yaitu penunjukkan laal kepada sesuatu yang tidak disebut oleh nash.
)amun pengertian nash itu baru dapat dibenarkan jika yang tidak disebut itu dinyatakan
dalam perkiraan yang tepat. Misalnya irman Allah
; <

) "


*
'
*
1

9,an tanyalah negeri yang kami tadi berada di situ..; (.s. <usu*5+.
Ayat ini tidak benar maknanya apabila tidak dibubuhkan laal ahlu (penduduk) sebelum
!aryah (negeri). ,engan demikian ayat itu dapat dipahami demikian* 9,an tanyakanlah
kepada enduduk negeri..;
,i samping berlandaskan qawaid lughawiyyah (kaidah-kaidah bahasa) seperti di atas,
para ukaha membuat metode-metode yang dipergunakan oleh mereka dalam istinbathul
ahkam. Metode-metode yang umum dipergunakan adalah qiyas, ishtihsan, al-maslahah al-
mursalah, istishhab, dan "ur, syaru man qablana, saddu dzariah, dan madzhab shahabah.
A3 %i$a(
(iyas menurut bahasa Arab berarti menyamakan, membandingkan atau mengukur,
seperti menyamakan si A dengan si 3, karena kedua orang itu mempunyai tinggi yang sama,
bentuk tubuh yang sama, wajah yang sama dan sebagainya. (iyas juga berarti mengukur,
seperti mengukur tanah dengan meter atau alat pengukur yang lain. ,emikian pula
membandingkan sesuatu dengan yang lain dengan mencari persamaan-persamaannya.
3
Menurut para ulama ushul i!h, (iyas ialah menetapkan hukum suatu kejadian atau
peristiwa yang tidak ada dasar nashnya dengan cara membandingkannya kepada suatu
kejadian atau peristiwa yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasarkan nash karena ada
persamaan =illat antara kedua kejadian atau peristiwa itu. Misalnya hukum minum bir (disebut
ar.un) sama dengan hukum minum khamar (disebut aslun), yaitu haram (disebut hukum asal),
karena keduanya sama-sama memabukan (disebut ilat hukum). Masalah-masalah yang boleh
dilakukan dengan cara ini adalah masalah-masalah atau kejadian-kejadian yang tidak ada
ketentuan hukumnya di dalam Al!uran dan sunah.
-ntuk menetapkan hukum dengan metode !iyas harus memenuhi rukun dan syaratnya,
yaitu
A. >ukun-rukun !iyas.
1. Asal (yang hendak dijadikan tempat !iyas)
+. ar.un (yang hendak di!iyaskan)
0. :ukum asal (ketetapan yang ada pada asal).
/. #llat ( yaitu sebab atau siat yang sama antara asal dan ar.un).
3. %yarat-syarat !iyas
1. Asal dan hukum asal harus ditetapkan berdasarkan Al!uran dan %unnah.
+. Asal merupakan perkara keduniaan atau dapat dipikirkan sebab-sebabnya. ,an tidak ada
!iyas dalam urusan ibadah.
0. #llat itu ma qulul mana (dapat diketahui sebab-sebabnya).
/. #llat ditetapkan berdasarkan syariat.
>ukun dan syarat tersebut menunjukkan bahwa !iyas bukan sumber hukum yang mandiri.
Da(ar Huku# %i$a(
%ebagian besar para ulama i!h dan para pengikut mad'hab yang empat sependapat
bahwa !iyas dapat dijadikan salah satu dalil atau dasar hujjah dalam menetapkan hukum dalam
ajaran #slam. :anya mereka berbeda pendapat tentang kadar penggunaan !iyas atau macam-
macam !iyas yang boleh digunakan dalam mengistinbathkan hukum. Ada yang membatasinya
dan ada pula yang tidak membatasinya, namun mereka semua akan mempergunakan !iyas
apabila ada kejadian atau peristiwa tetapi tidak diperoleh satu nashpun yang dapat dijadikan
dasar.
Meskipun demikian ada sebagian kecil para ulama yang tidak membolehkan pemakaian
!iyas sebagai dasar hujjah, diantaranya salah satu aliran dari Mad'hab ?hahiri dan Mad'hab
%yi=ah.
B3 I(tih(an
#stihsan menurut bahasa berarti menganggap baik atau mencari yang baik. Menurut
ulama ushul i!h, ialah meninggalkan hukum yang telah ditetapkan pada suatu peristiwa atau
kejadian yang ditetapkan berdasar dalil syara=, menuju (menetapkan) hukum lain dari peristiwa
atau kejadian itu juga, karena ada suatu dalil syara= yang mengharuskan untuk
meninggalkannya. ,alil yang terakhir disebut sandaran istihsan. Mujtahid yang dikenal banyak
memakai ishtihsan dalam meng-istinbath-kan hukum adalah #mam Abu :aniah (#mam :anai).
#stihsan berbeda dengan !iyas. $ada !iyas ada dua peristiwa atau kejadian. $eristiwa
atau kejadian pertama belum ditetapkan hukumnya karena tidak ada nash yang dapat dijadikan
dasarnya. -ntuk menetapkan hukumnya dicari peristiwa atau kejadian yang lain yang telah
4
ditetapkan hukumnya berdasarkan nash dan mempunyai persamaan =illat dengan peristiwa
pertama. 3erdasarkan persamaan =illat itu ditetapkanlah hukum peristiwa pertama sama dengan
hukum peristiwa kedua. %edang pada istihsan hanya ada satu peristiwa atau kejadian. Mula-
mula peristiwa atau kejadian itu telah ditetapkan hukumnya berdasar nash. &emudian
ditemukan nash yang lain yang mengharuskan untuk meninggalkan hukum dari peristiwa atau
kejadian yang telah ditetapkan itu, pindah kepada hukum lain, sekalipun dalil pertama dianggap
kuat, tetapi kepentingan menghendaki perpindahan hukum itu. ,engan perkataan lain bahwa
pada !iyas yang dicari seorang mujtahid ialah persamaan =illat dari dua peristiwa atau kejadian,
sedang pada istihsan yang dicari ialah dalil mana yang paling tepat digunakan untuk
menetapkan hukum dari satu peristiwa.
Da(ar Huku# I(tih(an
<ang berpegang dengan dalil istihsan ialah Mad'hab :anai, menurut mereka istihsan
sebenarnya semacam !iyas, yaitu memenangkan !iyas khai atas !iyas jali atau mengubah
hukum yang telah ditetapkan pada suatu peristiwa atau kejadian yang ditetapkan berdasar
ketentuan umum kepada ketentuan khusus karena ada suatu kepentingan yang
membolehkannya. Menurut mereka jika dibolehkan menetapkan hukum berdasarkan !iyas jali
atau maslahat mursalah, tentulah melakukan istihsan itu dibolehkan pula karena kedua hal itu
pada hakekatnya adalah sama, hanya namanya saja yang berlainan. ,isamping Mad'hab
:anai, golongan lain yang menggunakan istihsan ialah sebagian Mad'hab Maliki dan sebagian
Mad'hab :anbali.
%edangkan yang menentang istihsan dan tidak menjadikannya sebagai dasar hujjah
ialah Mad'hab %yai=i. #stihsan menurut mereka adalah menetapkan hukum syara= berdasarkan
keinginan hawa nasu. #mam %yai=i berkata* @%iapa yang berhujjah dengan istihsan berarti ia
telah menetapkan sendiri hukum syara= berdasarkan keinginan hawa nasunya, sedang yang
berhak menetapkan hukum syara= hanyalah Allah swt.@
7ika diperhatikan alasan-alasan yang dikemukakan kedua pendapat itu serta pengertian
istihsan menurut mereka masing-masing, akan jelas bahwa istihsan menurut pendapat Mad'hab
:anai berbeda dari istihsan menurut pendapat Mad'hab %yai=i. Menurut Mad'hab :anai
istihsan itu semacam !iyas, dilakukan karena ada suatu kepentingan, bukan berdasarkan hawa
nasu, sedang menurut Mad'hab %yai=i, istihsan itu timbul karena rasa kurang enak, kemudian
pindah kepada rasa yang lebih enak. %eandainya istihsan itu diperbincangkan dengan baik,
kemudian ditetapkan pengertian yang disepakati, tentulah perbedaan pendapat itu dapat
dikurangi. &arena itu asy-%yathibi dalam kitabnya Al-!uw"aq"t menyatakan* @orang yang
menetapkan hukum berdasarkan istihsan tidak boleh berdasarkan rasa dan keinginannyya
semata, akan tetapi haruslah berdasarkan hal-hal yang diketahui bahwa hukum itu sesuai
dengan tujuan Allah %AB menciptakan syara= dan sesuai pula dengan kaidah-kaidah syara=
yang umum@.
Ma4a#"#a4a# i(tih(an
,itinjau dari segi pengertian istihsan menurut ulama ushul i!h di atas, maka istihsan itu terbagi
atas dua macam, yaitu*
(1) $indah dari !iyas jali kepada !iyas khai, karena ada dalil yang mengharuskan pemindahan
itu. Contoh istihsan macam pertama*
5
DaE Menurut Mad'hab :anai* bila seorang mewa!akan sebidang tanah pertanian, maka
termasuk yang diwa!akannya itu hak pengairan, hak membuat saluran air di atas
tanah itu dan sebagainya. :al ini ditetapkan berdasar istihsan. Menurut !iyas jali hak-
hak tersebut tidak mungkin diperoleh, karena meng!iyaskan wa!a itu dengan jual beli.
$ada jual beli yang penting ialah pemindahan hak milik dari penjual kepada pembeli.
3ila wa!a di!iyaskan kepada jual beli, berarti yang penting ialah hak milik itu. %edang
menurut istihsan hak tersebut diperoleh dengan meng!iyaskan wa!a itu kepada sewa-
menyewa. $ada sewa-menyewa yang penting ialah pemindahan hak memperoleh
manaat dari pemilik barang kepada penyewa barang. ,emikian pula halnya dengan
wa!a. <ang penting pada wa!a ialah agar barang yang diwa!akan itu dapat
dimanaatkan. %ebidang sawah hanya dapat dimanaatkan jika memperoleh pengairan
yang baik. 7ika wa!a itu di!iyaskan kepada jual beli (!iyas jali), maka tujuan wa!a
tidak akan tercapai, karena pada jual beli yang diutamakan pemindahan hak milik.
&arena itu perlu dicari ashalnya yang lain, yaitu sewa-menyewa. &edua peristiwa ini
ada persamaan =illatnya yaitu mengutamakan manaat barang atau harta, tetapi
!iyasnya adalah !iyas khai. &arena ada suatu kepentingan, yaitu tercapainya tujuan
wa!a, maka dilakukanlah perpindahan dari !iyas jali kepada !iyas khai, yang disebut
istihsan.
DbE Menurut Mad'hab :anai* sisa minuman burung buas, seperti sisa burung elang, burung
gagak dan sebagainya adalah suci dan halal diminum. :al ini ditetapkan dengan
istihsan. Menurut !iyas jali sisa minuman binatang buas, seperti anjing dan burung-
burung buas adalah haram diminum karena sisa minuman yang telah bercampur
dengan air liur binatang itu di!iyaskan kepada dagingnya. 3inatang buas itu langsung
minum dengan mulutnya, sehingga air liurnya masuk ke tempat minumnya. Menurut
!iyas khai bahwa burung buas itu berbeda mulutnya dengan mulut binatang buas.
Mulut binatang buas terdiri dari daging yang haram dimakan, sedang mulut burung
buas merupakan paruh yang terdiri atas tulang atau 'at tanduk dan tulang atau 'at
tanduk bukan merupakan najis. &arena itu sisa minum burung buas itu tidak bertemu
dengan dagingnya yang haram dimakan, sebab diantara oleh paruhnya, demikian pula
air liurnya. ,alam hal ini keadaan yang tertentu yang ada pada burung buas yang
membedakannya dengan binatang buas. 3erdasar keadaan inilah ditetapkan
perpindahan dari !iyas jali kepada !iyas khai, yang disebut istihsan.
(+) $indah dari hukum kulli kepada hukum ju'-i, karena ada dalil yang mengharuskannya.
#stihsan macam ini oleh Mad'hab :anai disebut istihsan darurat, karena penyimpangan itu
dilakukan karena suatu kepentingan atau karena darurat. Contoh istihsan macam kedua
DaE %yara= melarang seseorang memperjualbelikan atau mengadakan perjanjian tentang
sesuatu barang yang belum ada wujudnya, pada saat jual beli dilakukan. :al ini
berlaku untuk seluruh macam jual beli dan perjanjian yang disebut hukum ku##i. Betapi
syara= memberikan rukhshah (keringanan) kepada pembelian barang dengan kontan
tetapi barangnya itu akan dikirim kemudian, sesuai dengan waktu yang telah
dijanjikan, atau dengan pembelian secara pesanan (salam). &eringanan yang
demikian diperlukan untuk memudahkan lalu-lintas perdagangan dan perjanjian.
$emberian rukhshah kepada salam itu merupakan pengecualian (istitsna) dari hukum
6
kulli dengan menggunakan hukum ju'-i, karena keadaan memerlukan dan telah
merupakan adat kebiasaan dalam masyarakat.
DbE Menurut hukum kulli, seorang pemboros yang memiliki harta berada di bawah
perwalian seseorang, karena itu ia tidak dapat melakukan transaksi hartanya tanpa
i'in walinya. ,alam hal ini dikecualian transaksi yang berupa wa!a. Orang pemboros
itu dapat melakukan atas namanya sendiri, karena dengan wa!a itu hartanya
terpelihara dari kehancuran dan sesuai dengan tujuan diadakannya perwalian, yaitu
untuk memelihara hartanya (hukum ju'-i).
,ari contoh di atas nampak jelas bahwa karena adanya suatu kepentingan atau keadaan
maka dilaksanakanlah hukum ju'-i dan meninggalkan hukum kulli. ,itinjau dari segi
sandarannya, maka istihsan terbagi kepada*
i. #stihsan dengan sandaran !iyas khai;
ii. #stihsan dengan sandaran nash;
iii. #stihsan dengan sandaran =ur; dan
iF. #stihsan dengan sandaran keadaan darurat.
53 a'"Ma('ahatu' Mur(a'ah
Al-mashlahatul mursalah adalah suatu kemaslahatan yang tidak disinggung oleh syara=
dan tidak pula terdapat dalil-dalil yang menyuruh untuk mengerjakan atau meninggalkannya,
sedang jika dikerjakan akan mendatangkan kebaikan yang besar atau kemaslahatan. Mashlahat
mursalah disebut juga mashlahat yang mutlak karena tidak ada dalil yang mengakui kesahan
atau kebatalannya. 7adi pembentuk hukum dengan cara mashlahat mursalah semata-mata
untuk mewujudkan kemaslahatan manusia dengan arti untuk mendatangkan manaat dan
menolak kemudharatan dan kerusakan bagi manusia. Mujtahid yang dikenal banyak
menggunakan metode al-maslahah al-mursalah adalah #mam :anbali dan #mam Malik.
$ara ulama ikih yang mendukung konsep ini membagi jenis mashlahah kepada dua macam,
yaitu*
A. ,ilihat dari segi tingkat kebutuhan manusia, mashlahah yang diakui syari=ah terdiri dari
tiga, macam yaitu*
(1) ,haruriyyah (bersiat mutlak), yaitu kemaslahatan yang menyangkut komponen
kehidupannya sendiri sebagai manusia, yakni hal-hal yang menyangkut terpelihara
DaE agama, DbE diri (jiwa, raga dan kehormatannya), DcE akal pikiran, DdE harta benda,
dan DdE nasab keturunan. &elima komponen tersebut biasanya disebut al-kulliyyat
al-khams atau al-dharuriyyat al-khams, yang menjadi dasar mashlahah
(kepentingan dan kebutuhan manusia).
(+) haajiyyah (kebutuhan pokok), yaitu kemaslahatan yang berhubungan dengan hal-hal
yang sangat dibutuhkan oleh manusia untuk menghilangkan kesulitan-kesulitan dan
menolak halangan-halangan. ,an apabila hal-hal tersebut tidak terwujud, maka tidak
sampai menjadikan aturan hidup manusia berantakan atau kacau, melainkan hanya
membawa kesulitan-kesulitan saja.
(0) Bahsiniyyah (kebutuhan pelengkap) dalam rangka memelihara sopan santun dan
tata krama dalam kehidupan.
$enempatan masalah ini sebagai suatu sumber hukum sekunder, menjadikan hukum
#slam itu luwes dan dapat diterapkan pada setiap kurun waktu di segala lingkungan sosial.
7
)amun perlu dicatat ruang lingkup penerapan hukum mashlahah ini adalah bidang
mu=amalat, dan tidak menjangkau bidang ibadat, karena ibadat itu adalah hak prerogati Allah
sendiri. %edangkan objek kajiannya adalah kejadian atau peristiwa yang perlu ditetapkan
hukumnya, tetapi tidak ada satupun nash (Al!uran dan :adis) yang dapat dijadikan dasarnya.
$rinsip ini disepakati oleh kebanyakan pengikut mad'hab ikih, demikian pernyataan #mam al-
(arai ath-Bhui dalam kitabnya !ashalihul !ursalah yang menerangkan bahwa mashlahat
mursalah itu sebagai dasar untuk menetapkan hukum dalam bidang mu=amalah dan
semacamnya. %edang dalam soal-soal ibadah adalah Allah untuk menetapkan hukumnya,
karena manusia tidak sanggup mengetahui dengan lengkap hikmah ibadat itu. Oleh sebab itu
hendaklah kaum muslimin beribadat sesuai dengan ketentuan-)ya yang terdapat dalam Al!uran
dan :adis.
Menurut #mam al-:aramain* Menurut pendapat #mam asy-%yai=i dan sebagian besar pengikut
Mad'hab :anai, menetapkan hukum dengan mashlahat mursalah harus dengan syarat, harus
ada persesuaian dengan mashlahat yang diyakini, diakui dan disetujui oleh para ulama.
$ara ulama ikih yang mendukung konsep ini mencatat tiga persyaratan dalam
penerapan hukum mashlahah ini, yaitu,
1. Mashlahah itu harus bersiat pasti, bukan sekadar anggapan atau rekaan, bahwa ia
memang mewujudkan suatu manaat atau mencegah terjadinya madharrah (bahaya
atau kemelaratan).
+. Mashlahah itu tidak merupakan kepentingan pribadi atau segolongan kecil masyarakat,
tapi harus bersiat umum dan menjadi kebutuhan umum.
0. :asil penalaran mashlahah itu tidak berujung pada terabaikannya sesuatu prinsip yang
ditetapkan oleh nash syari=ah atau ketetapan yang dipersamakan (ijma=).
3. ,ilihat dari segi wilayah kebutuhan, maslahah yang diakui syari=ah terdiri atas dua macam,
yaitu
D1E mashlahah =ainiyah (kepentingan perorangan) dari setiap manusia, yang siatnya umum
yakni yang merupakan kepentingan setiap manusia dalam hidupnya, seperti yang
digambarkan dalam uraian terdahulu tentang al-kulliyyat al-khams. :al-hal ini
terkait dengan takli yang berbentuk ardhu =ain. %eperti misalnya yang menyangkut
mashlahah harta bendaGkepentingan seorang manusia memiliki harta benda (untuk
makan, pakaian dan tempat tinggalnya) hal ini bersangkutan dengan ardhu =ain yang
dijelaskan dalam tuntunan >asulullah saw. (thalab-u =l-halal aridhatun =ala kulli
muslim) yaitu kewajiban bekerja mencari ri'ki memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-
hari. %eterusnya yang menyangkut mashlahah akal pikiran, bersangkutan dengan
ardhu =ain yang dijelaskan dalam hadits lain yang berbunyi (thalb-u =l-=ilmi aridhatun
=ala kulli muslim). 3egitu seterusnya menyangkut tiap mashlahah yang siatnya
dharuriyyah, jelas memperlihatkan keterkaitannya dengan kewajiban perorangan
sebagai imbalan adanya pengakuan atas mashlahah dharuriyyah yang
menimbulkan hak-hak mutlak perorangan bagi setiap manusia.
D+E mashlahah =ammah yang menjadi kepentingan bersama masyarakat atau
kepentingan umum. #ni menyangkut hak publik dan berkaitan dengan ardhu kiayah.
8
#mam >ai=i menjelaskan, ardhu kiayah itu adalah urusan umum yang menyangkut
kepentingan-kepentingan (mashalih) tegaknya urusan agama dan dunia dalam
kehidupan kita, di antaranya adalah
DaE mencegah madarat kekacauan, seperti persengketaan dan peperangan, kekacauan dan
pertumpahan darah, serta kondisi anarkis, sehingga al-hajah ad-dharuriyyah kehidupan
menjadi terancam, bahkan hancur.
DbE merealisasikan kewajiban agama, baik untuk indiFidu maupun kelompok sosial.
DcE mewujudkan keadilan yang sempurna
,iantara contoh mashlahat mursalah ialah usaha &haliah Abu 3akar mengumpulkan
Al!uran yang terkenal dengan jam=ul Al!uran. $engumpulan Al!uran ini tidak disinggung
sedikitpun oleh syara=, tidak ada nash yang memerintahkan dan tidak ada nash yang
melarangnya. %etelah terjadi peperangan <amamah banyak para penghaal Al!uran yang mati
syahid (H IJ orang). -mar bin &hattab melihat kemaslahatan yang sangat besar pengumpulan
Al!uran itu, bahkan menyangkut kepentingan agama (dhurari). %eandainya tidak dikumpulkan,
dikhawatirkan a#-Al!uran akan hilang dari permukaan dunia nanti. &arena itu &haliah Abu 3akar
menerima anjuran -mar dan melaksanakannya.
,emikian pula tidak disebut oleh syara= tentang keperluan mendirikan rumah penjara,
menggunakan mikroon di waktu ad'an atau shalat jama=ah, menjadikan tempat melempar
jumrah menjadi dua tingkat, tempat sa=i dua tingkat, tetapi semuanya itu dilakukan semata-mata
untuk kemashlahatan agama, manusia dan harta.
,alam mengistinbatkan hukum, sering kurang dibedakan antara !iyas, istihsan dan
mashlahat mursalah. $ada !iyas ada dua peristiwa atau kejadian, yang pertama tidak ada
nashnya, karena itu belum ditetapkan hukumnya, sedang yang kedua ada nashnya dan telah
ditetapkan hukumnya. $ada istihsan hanya ada satu peristiwa, tetapi ada dua dalil yang dapat
dijadikan sebagai dasarnya. ,alil yang pertama lebih kuat dari yang kedua. tetapi karena ada
sesuatu kepentingan dipakailah dalil yang kedua. %edang pada mashlahat mursalah hanya ada
satu peristiwa dan tidak ada dalil yang dapat dijadikan dasar untuk menetapkan hukum dari
peristiwa itu, tetapi ada suatu kepentingan yang sangat besar jika peristiwa itu ditetapkan
hukumnya. &arena itu ditetapkanlah hukum berdasar kepentingan itu.
D3 I(ti(hha2
#Istishhab menurut bahasa berarti $mencari sesuatu yang ada hubungannya.$ Menurut
istilah ulama ushul i!h, ialah tetap berpegang kepada hukum yang telah ada dari suatu
peristiwa atau kejadian sampai ada dalil yang mengubah hukum tersebut. Atau dengan
perkataan lain, ialah menyatakan tetapnya hukum pada masa yang lalu hingga ada dalil yang
mengubah ketetapan hukum itu.
Menurut #bnu (ayyim, istishhab ialah menyatakan tetap berlakunya hukum yang telah
ada dari suatu peristiwa, atau menyatakan belum adanya hukum suatu peristiwa yang belum
pernah ditetapkan hukumnya. %edang menurut asy-%yathibi, istishhab ialah segala ketetapan
yang telah ditetapkan pada masa lampau dan dinyatakan tetap berlaku hukumnya pada masa
sekarang.
,ari pengertian istishhab yang dikemukakan #bnu (ayyim di atas, dipahami bahwa
istishhab itu terbagai kepada dua macam;
9
i. %egala hukum yang telah ditetapkan pada masa lalu, dinyatakan tetap berlaku pada masa
sekarang, kecuali kalau ada yang mengubahnya. 3erdasarkan pengertian ini, istishhab
merupakan salah satu produk hukum.
ii. Menetapkan segala hukum yang ada pada masa sekarang, berdasarkan ketetapan hukum
pada masa yang lalu. 3erdasarkan pengertian ini, istishhab merupakan proses penetapan
hukum.
Contoh istishhab
1. Belah terjadi perkawinan antara laki-laki A dengan perempuan 3, kemudian mereka berpisah
dan berada di tempat yang berjauhan selama 12 tahun. &arena telah lama berpisah itu
maka 3 ingin kawin dengan laki-laki C. ,alam hal ini 3 belum dapat kawin dengan C karena
ia telah terikat tali perkawinan dengan A dan belum ada perubahan hukum perkawinan
mereka walaupun mereka telah lama berpisah. 3erpegang dengan hukum yang telah
ditetapkan, yaitu tetap sahnya perkawinan antara A dan 3, adalah hukum yang ditetapkan
dengan istishhab.
+. Menurut irman Allah %AB*

=>

*
!

C
D
2

...
$%ia (Allah)lah yang menjadikan semua yang ada di bumi untukmu (manusia).$ (al-3a!arah* +4)
,ihalalkan bagi manusia memakan apa saja yang ada di muka bumi untuk kemanaatan
dirinya, kecuali kalau ada yang mengubah atau mengecualikan hukum itu. &arena itu
ditetapkanlah kehalalan memakan sayur-sayuran dan binatang-binatang selama tidak ada yang
mengubah atau mengecualikannya.
Da(ar huku# i(ti(hha2
,ari keterangan dan contoh-contoh di atas dapat diambil kesimpulan bahwa sebenarnya
istishhab itu bukanlah suatu cara menetapkan hukum (thuru!ul isthinbath), tetapi ia pada
hakikatnya adalah menguatkan atau menyatakan tetap berlaku suatu hukum yang pernah
ditetapkan karena tidak ada yang mengubah atau yang mengecualikannya. $ernyataan ini
sangat diperlukan, untuk menjaga jangan sampai terjadi penetapan hukum yang berlawanan
antara yang satu dengan yang lain, seperti dipahami dari contoh-contoh di atas. %eandainya si
3 boleh kawin dengan si C, tentulah akan terjadi perselisihan antara A dan C atau akan terjadi
suatu keadaan pengaburan batas antara yang sah dengan yang tidak sah (batal) dan antara
yang halal dengan yang haram.
&arena itulah ulama :anaiyah menyatakan bahwa sebenarnya istishhab itu tidak lain
hanyalah untuk mempertahankan hukum yang telah ada, bukan untuk menetapkan hukum yang
baru. #stishhab bukanlah merupakan dasar atau dalil untuk menetapkan hukum yang belum
tetap, tetapi ia hanyalah menyatakan bahwa telah pernah ditetapkan suatu hukum dan belum
ada yang mengubahnya. 7ika demikian halnya istishhab dapat dijadikan dasar hujjah.
%ebagian besar pengikut Mad'hab :anai, Mad'hab Maliki, Mad'hab %yai=i, Mad'hab
:anbali dan Mad'hab ,'ahiri berhujjah dengan istishhab, hanya terdapat perbedaan pendapat
dalam pelaksanaannya, seperti pernyataan Abu ?aid, salah seorang ulama Mad'hab :anai
istishhab itu hanya dapat dijadikan dasar hujjah untuk menolak ketetapan yang mengubah
ketetapan yang telah ada, bukan untuk menetapkan hukum baru.
10
7ika diperhatikan proses terjadi atau perubahan undang-undang dalam suatu negara
atau keputusan pemerintah, maka istishhab ini adalah kaidah yang selalu diperhatikan oleh
setiap pembuat undang-undang atau peraturan.
,ari istishhab itu dibuat kaidah-kaidah i!hiyah yang dapat dijadikan dasar untuk
mengisthimbathkan hukum antara lain
E


$!enurut hukum asal segala sesuatu itu mubah (b&leh dikerjakan).$
E

5 F

3
*
> G
$!enurut hukum asal bebas dari tanggungan'
H

; .

"

J
G
K* $

$((ukum yang ditetapkan dengan) yakin itu tidak akan hilang (hapus) &leh (hukum yang
ditetapkan dengan) ragu-ragu.$
E

F7$

M0

$!enurut hukum asal keadaan semula berlaku atas keadaan yang sekarang'
#alah menjadikan hukum suatu peristiwa yang telah ada sejak semula tetap berlaku hingga
peristiwa berikutnya, kecuali ada dalil yang mengubah ketentuan hukum itu.
,engan demikian dapat disimpulkan bahwa istishhab itu bukan untuk menetapkan suatu
hukum yang baru, tetapi melanjutkan berlakunya hukum yang telah ada dan bukan untuk
menetapkan yang belum ada.
E3 67r8
=-r ialah sesuatu yang telah dikenal oleh masyarakat dan merupakan kebiasaan di
kalangan mereka baik berupa perkataan maupun perbuatan. Oleh sebagian ulama ushul i!h,
=ur disebut adat (adat kebiasaan). %ekalipun dalam pengertian istilah hampir tidak ada
perbedaan pengertian antara =ur dengan adat, namun dalam pemahaman biasa diartikan
bahwa pengertian =ur lebih umum dibanding dengan pengertian adat, karena adat disamping
telah dikenal oleh masyarakat, juga telah biasa dikerjakan di kalangan mereka, seakan-akan
telah merupakan hukum tertulis, sehingga ada sanksi-sanksi terhadap orang yang
melanggarnya.
%eperti dalam salam (jual beli dengan pesanan) yang tidak memenuhi syarat jual beli.
Menurut syarat jual beli ialah pada saat jual beli dilangsungkan pihak pembeli telah menerima
barang yang dibeli dan pihak penjual telah menerima uang penjualan barangnya. %edang pada
salam barang yang akan dibeli itu belum ada wujudnya pada saat akad jual beli dilakukan, baru
ada dalam bentuk gambaran saja. Betapi karena telah menjadi adat kebiasaan dalam
masyarakat, bahkan dapat memperlancar arus jual beli, maka salam itu dibolehkan. ,ilihat
sepintas lalu, seakan-akan ada persamaan antara ijma= dengan =ur, karena keduanya sama-
sama ditetapkan secara kesepakatan dan tidak ada yang menyalahinya. $erbedaannya ialah
pada ijma= ada suatu peristiwa atau kejadian yang perlu ditetapkan hukumnya. &arena itu para
mujtahid membahas dan menyatakan kepadanya, kemudian ternyata pendapatnya sama.
%edang pada =ur bahwa telah terjadi suatu peristiwa atau kejadian, kemudian seseorang atau
beberapa anggota masyarakat sependapat dan melaksanakannya. :al ini dipandang baik pula
oleh anggota masyarakat yang lain, lalu mereka mengerjakan pula. Kama-kelamaan mereka
terbiasa mengerjakannya sehingga merupakan hukum tidak tertulis yang telah berlaku diantara
mereka. $ada ijma= masyarakat melaksanakan suatu pendapat karena para mujtahid telah
11
menyepakatinya, sedang pada =ur, masyarakat mengerjakannya karena mereka telah biasa
mengerjakannya dan memandangnya baik.
Da(ar huku# 9ur8
$ara ulama sepakat bahwa =ur shahih (tidak bertentangan dengan syara=) dapat
dijadikan dasar hujjah. -lama Malikiyah terkenal dengan pernyataan mereka bahwa amal ulama
Madinah dapat dijadikan hujjah, demikian pula ulama :anaiyah menyatakan bahwa pendapat
ulama &uah dapat dijadikan dasar hujjah. #mam %yai=i terkenal dengan !aul !adim dan !aul
jadidnya. Ada suatu kejadian tetapi beliau menetapkan hukum yang berbeda pada waktu beliau
masih berada di Mekkah (!aul !adim) dengan setelah beliau berada di Mesir (!aul jadid). :al ini
menunjukkan bahwa ketiga mad'hab itu berhujjah dengan =ur. Bentu saja =ur asid (tidak
bertentangan dengan syara=) tidak mereka jadikan sebagai dasar hujjah.
,ari "ur itu dibuat kaidah-kaidah i!hiyah yang dapat dijadikan dasar untuk
mengisthimbathkan hukum antara lain*
5

)N 2

*
O

$Adat kebiasaan itu dapat ditetapkan sebagai hukum.$

,
P 8

,
P

'


$ perubahan hukum (berhuhungan) dengan perubahan masa.$
F3 S$ar:un Man %a2'ana
<ang dimaksud dengan syar=un man !ablana ialah syari=at yang dibawa para rasul
dahulu, sebelum diutus )abi Muhammad saw. yang menjadi petunjuk bagi kaum yang mereka
diutus kepadanya, seperti syari=at )abi #brahim as, )abi Musa as, )abi ,aud as, )abi #sa as,
dan sebagainya.
$ada asas syari=at yang diperuntukkan Allah %AB bagi umat-umat dahulu mempunyai
asas yang sama dengan syari=at yang diperuntukkan bagi umat )abi Muhammad %AA,
sebagaimana dinyatakan pada irman Allah %AB*
S

"/
G
3

ME
*
-

=>

*
-

'

'

E
*
-

M+

"/
G
I

...
$%ia (Allah) telah menerangkan kepadamu sebagian (urusan) agama, apa yang Ia wajibkan
kepada )uh dan yang *ami wajibkan kepadamu dan apa yang *ami wajibkan kepada Ibrahim,
!usa dan lsa, (yaitu) hendaklah kamu tetap menegakkan (urusan) agama itu dan janganlah
kamu bercerai berai padanya+@ (.s. asy-%yLra* 10
,iantara asas yang sama itu ialah yang berhubungan dengan konsepsi ketuhanan,
tentang hari akhirat, tentang !adla dan !adar, tentang janji dan ancaman Allah dan sebagainya.
Mengenai perinciannya atau detailnya ada yang sama dan ada yang berbeda, hal ini
disesuaikan dengan keadaan, masa dan tempat.
,i samping ada pula syari=at umat yang dahulu itu sama namanya, tetapi berbeda
pelaksanaannya dengan syari=at )abi Muhammad %AA, seperti puasa (lihat surat al-3a!arah*
150), hukuman !ishash (lihat surat al-MMidah* 0+) dan sebagainya.
Ma4a#"#a4a# S$ar9un Man %a2'ana
%esuai dengan ayat di atas, kemudian dihubungkan antara syari=at )abi Muhammad
%AA dengan syari=at umat-umat sebelum kita, maka ada tiga macam bentuknya, yaitu*
12
a. %yari=at yang diperuntukkan bagi umat-umat yang sebelum kita; tetapi a#-(ur=an dan :adis
tidak menyinggungnya, baik membatalkannya atau menyatakan berlaku pula bagi umat
)abi Muhammad saw.
b. %yari=at yang diperuntukkan bagi umat-umat yang sebelum kita, kemudian dinyatakan tidak
berlaku bagi umat )abi Muhammad saw.
c. %yari=at yang diperuntukkan bagi umat-umat yang sebelum kita, kemudian Al!uran dan :adis
menerangkannya kepada kita.
Mengenai bentuk ketiga, yaitu syari=at yang diperuntukkan bagi umat-umat yang sebelum
kita, kemudian diterangkan kepada kita Al!uran dan :adis, para ulama berbeda pendapat.
%ebagian ulama :anaiyah, sebagian ulama Malikiyah, sebagian ulama %yai=iyah dan sebagian
ulama :anabilah berpendapat bahwa syari=at itu berlaku pula bagi umat )abi Muhammad saw.
3erdasarkan inilah golongan )aiiyah berpendapat bahwa membunuh orang d'immi sama
hukumnya dengan membunuh orang #slam. Mereka menetapkan hukum itu berdasar ayat /2
%urat a#-MMidah. Mengenai pendapat golongan lain ialah menurut mereka dengan adanya
syari=at )abi Muhammad %AA, maka syari=at yang sebelumnya dinyatakan mansukhGtidak
berlaku lagi hukumnya.
Mengenai bentuk kedua, para ulama tidak menjadikannya sebagai dasar hujjah, sedang
bentuk pertama ada ulama yang menjadikannya sebagai dasar hujjah, selama tidak
bertentangan dengan syari=at )abi Muhammad saw.
G3 Saddud1 D1ari:ah
%ecara bahasa %addud' d'arN=ah tersusun dari dua kata, yaitu saddu dan d'arN=ah.
%addu berarti penghalang, hambatan atau sumbatan, sedang d'arN=ah berarti jalan. %edangkan
secara istilah berarti
menghambat atau menghalangi atau menyumbat semua jalan yang menuju kepada kerusakan
atau maksiat.
Bujuan penetapan hukum secara saddud' d'arN=ah ini ialah untuk memudahkan
tercapainya kemaslahatan atau jauhnya kemungkinan terjadinya kerusakan, atau terhindarnya
diri dari kemungkinan perbuatan maksiat. :al ini sesuai dengan tujuan ditetapkan hukum atas
mukalla, yaitu untuk mencapai kemaslahatan dan menjauhkan diri dari kerusakan. -ntuk
mencapai tujuan ini syari=at menetapkan perintah-perintah dan larangan-larangan. ,alam
memenuhi perintah dan menghentikan larangan itu, ada yang dapat dikerjakan secara langsung
dan ada pula yang tidak dapat dilaksanakan secara langsung, perlu ada hal yang harus
dikerjakan sebelumnya. #nilah yang dimaksud dengan kaidah*
3

,
"

I
*

V
N

,-etiap sesuatu yang dapat menyempurnakan terlaksananya kewajiban, maka sesuatu itu
hukumnya wajib pula.$
%ebagai contoh ialah kewajiban mengerjakan shalat yang lima waktu. %eseorang baru
dapat mengerjakan shalat itu bila telah belajar shalat terlebih dahulu, tanpa belajar ia tidak akan
dapat mengerjakannya. ,alam hal ini tampak bahwa belajar shalat itu tidak wajib. Betapi karena
ia menentukan apakah kewajiban itu dapat dikerjakan atau tidak, sangat tergantung kepadanya.
3erdasarkan hal ini ditetapkanlah hukum wajib belajar shalat, sebagaimana halnya hukum
shalat itu sendiri.
13
,emikian pula halnya dengan larangan. Ada perbuatan itu yang dilarang secara
langsung dan ada yang dilarang secara tidak langsung. <ang dilarang secara langsung, ialah
seperti minum khamar, ber'ina dan sebagainya. <ang dilarang secara tidak langsung seperti
membuka warung yang menjual minum khamar, berkhalwat antara laki-laki dan perempuan
yang tidak ada hubungan mahram. Menjual khamar pada hakikatnnya tidak dilarang, tetapi
perbuatan itu membuka pintu yang menuju pada minum khamar, maka perbuatan itu dilarang.
,emikian pula halnya dengan berkhalwat yang dapat membuka jalan kepada perbuatan 'ina,
maka iapun dilarang. ,engan menetapkan hukumnya sama dengan perbuatan yang
sebenarnya, maka tertutuplah pintu atau jalan yang menuju kearah perbuatan-perbuatan
maksiat.
Da(ar huku# (addud1 d1ar;9ah
,asar hukum dari saddud' d'arN=ah ialah Al!uran dan hadis, yaitu
a. Oirman Allah %AB*
I

&
,
+

">

*
L

"

0
*
&
,
+

0
*
-
D
/

P $

...
$%an janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena
mereka akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.$ (.s. al-An=Mm* 1J5
$ada dasarnya mencaci berhala tidak dilarang Allah swt, tetapi ayat ini melarang kaum
muslimin mencaci dan menghina berhala, karena larangan ini dapat menutup pintu ke arah
tindakan orang-orang musyrik mencaci dan memaki Allah secara melampaui batas.
b. ,an irman Allah %AB*
... I

"

H
*

<

X "

...H
*

'

"R

$+%an janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka
sembunyikan+$ (.s. an-)Lr* 01
Aanita menghentakkan kakinya sehingga terdengar gemerincing gelang kakinya tidaklah
dilarang, tetapi karena perbuatan itu akan menarik hati laki-#aki lain untuk mengajaknya berbuat
'ina, maka perbuatan itu dilarang pula sebagai usaha untuk menutup pintu yang menuju kearah
perbuatan 'ina.
c. )abi Muhammad saw. bersabda*
; 6

H
N

G
$

H
N

G
$

'

Y
N

&
*
K 3

"

N
Z 1

'
*

M78
*
Y

&
*
K 2

&

' "/

&

K,
S

"

M2

"

"

...
$.erkara yang halal itu jelas, yang haram pun jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-
perkara yang syubhat, yang tidak diketahui &leh &rang banyak. /leh karena itu, barang siapa
dapat menjauhi syubhat, maka bersihlah agama dan keh&rmatannya. %an barang siapa
terjerumus di dalam perkara syubhat dimisalkan bagaikan se&rang penggembala yang
mengembala di sekitar daerah larangan yang hampir-hampir saja masuk di dalam daerah itu.$
:.r. Al-3ukhari dan Muslim
:adis ini menerangkan bahwa mengerjakan perbuatan yang dapat mengarah kepada
perbuatan maksiat lebih besar kemungkinan akan terjerumus mengerjakan kemaksiatan itu
daripada kemungkinan dapat memelihara diri dari perbuatan itu. Bindakan yang paling selamat
ialah melarang perbuatan yang mengarah kepada perbuatan maksiat itu.
O2$ek Saddud1 D1ar;9ah
$erbuatan yang mengarah kepada perbuatan terlarang ada kalanya*
14
i. $erbuatan itu pasti menyebabkan dikerjakannya perbuatan terlarang.
ii. $erbuatan itu besar kemungkinan menyebabkan dikerjakannya perbuatan terlarang.
3entuk pertama tidak ada persoalan dan perbuatan ini jelas dilarang mengerjakannya
sebagaimana perbuatan itu sendiri dilarang. 3entuk kedua inilah yang merupakan obyek
saddud' d'arN=ah, karena perbuatan tersebut sering mengarah kepada perbuatan dosa. ,alam
hal ini para ulama harus meneliti seberapa jauh perbuatan itu mendorong orang yang
melakukannya untuk rnengerjakan perbuatan dosa.
,alam hal ini ada tiga kemungkinan, yaitu*
1. &emungkinan besar perbuatan itu menyebabkan dikerjakannya perbuatan terlarang.
+. &emungkinan kecil perbuatan itu menyebabkan dikerjakannya perbuatan terlarang.
0. %ama kemungkinan dikerjakannya atau tidak dikerjakannya perbuatan terlarang.
<ang no. 1 disebut d'arN=ah !awiyah (jalan yang kuat), sedang no. + dan 0 disebut d'arN=ah
dha=iah (jalan yang lemah).
H3 Mad1ha2 Saha2at
%emasa >asulul#ah saw. masih hidup semua masalah yang muncul atau timbul dalam
masyarakat langsung ditanyakan para sahabat kepada >asulul#ah saw., dan >asulul#ah saw.
memberikan jawaban dan penyelesaiannya. %etelah >asulul#ah saw. meninggal dunia, maka
kelompok sahabat yang tergolong ahli dalam mengistinbathkan hukum telah berusaha sungguh-
sungguh memecahkan persoalan tersebut, sehingga kaum muslimin dapat beramal sesuai
dengan atwa-atwa sahabat itu. &emudian atwa-atwa sahabat ini diriwayatkan oleh tabi=in,
tabi=ut tabi=in dan orang-orang yang sesudahnya, seperti meriwayatkan hadis. &arena itu timbul
persoalan, apakah pendapat sahabat itu dapat dijadikan hujjah atau tidakP
%ebagian ulama menyatakan bahwa ada dua macam pendapat sahabat yang dapat
dijadikan hujjah, yaitu*
a. $endapat para sahabat yang diduga keras bahwa pendapat tersebut sebenarnya berasal dari
>asulullah saw., karena pikiran tidak atau belum dapat menjangkaunya, seperti ucapan
Aisyiah ra
I

"

3
G
:

Z 1

'

;
*
O

"

, ^

-
_-A '#UA/ -
$*andungan itu tidak akan lebih dari dua tahun dalam perut ibunya, (yaitu tidak akan) lebih
dari sepanjang bayang-bayang benda yang ditancapkannya.$ :.r. Ad-,ara!uthni
b. $endapat sahabat yang tidak bertentangan dengan sahabat lainnya, seperti pendapat
tentang bahwa nenek mendapat seperenam (1G8) bagian waris, yang dikemukakan oleh
Abu 3akar, dan tidak ada sahabat yang tidak sependapat dengannya.
%edang pendapat sahabat yang tidak disetujui oleh sahabat yang lain tidak dapat dijadikan
hujjah. $endapat ini dianut oleh golongan :anaiyah, Malikiyah dan hanabilah, dan sebagian
%yai=iyah, namun didahulukan dari !iyas. 3ahkan Ahmad bin :anbal mendahulukannya dari
hadis mursal dan hadis dha=i. As-%yaukani menganggap pendapat sahabat itu seperti pendapat
para mujtahid yang lain, tidak ada kemestian untuk diikuti.
Ta:arudhu' Adi''ah <da'i'"da'i' $ang na#ak 2ertentangan=3
Ba.arudhul adillah ialah kontradiksi antara dua dalil secara tekstual yang sama
derajatnya, dan ada kemungkinan keduanya dapat diterima bahkan sampai diamalkan setelah
melalui proses penggabungan dan penyaringan dengan syarat-syarat yang sudah ditentukan.
15
$ara ulama sepakat bahwa dalil-dalil yang tampak bertentangan itu harus 9diselesaikan;,
sehingga hilanglah kontradisksi itu, tetapi mereka berbeda pendapat dalam melakukan
penyelesaian itu. #bnu :a'm secara tegas menyatakan bahwa matan-matan hadis yang
bertentangan, masing-masing hadis harus diamalkan. -ntuk itu, ia menekankan perlunya
penggunaan metode istitsna (pengecualian atau eQception) dalam penyelesaian itu (Kihat, al-
Ihkam i 0shulil Ahkam Ibnu (azm, ju' ##, h. 121-182) %yihabud ,in al-(arai (w. 85/ :)
menempuh cara at-tarjih (penelitian untuk mencari yang memiliki argumen yang terkuat).
,engan cara al-tarjih itu, mungkin penyelesaian yang dihasilkan berupa penerapan al-nasikh wa
al-mansukh (yakni hadis yang satu menghapuskan petunjuk hadis yang lainnya) ataupun al-
1amu (yakni mengkompromikan hadis-hadis yang tampak bertentangan itu sehingga sama-
sama diamalkan dengan melihat aspek atau segi masing-masing). (Kihat, -yarh 2anqih al-
3ushul, hal. /+J-/+2) 3erbeda dengan kedua ulama di atas, as-%yai.i memberi gambaran
bahwa mungkin saja matan-matan hadis yang tampak bertentangan itu mengandung petunjuk
bahwa matan yang satu bersiat global (mujmal) dan yang satunya bersiat rinci (muassar);
mungkin yang satu bersiat 4amm (umum) dan yang lainnya bersiat khass (khusus); mungkin
yang satu sebagai pengahapus (an-nasikh) dan yang lainnya sebagai yang dihapus (al-
mansukh); atau mungkin kedua-duanya menunjukkan kebolehan untuk diamalkan (Kihat, *itab
Ikhtila al-(adits, h. 245-244) ,alam menyelesaikan matan-matan hadis seperti ini #mam al-
%yai.i menempuh cara al-jamu, lalu al-nasikh wa al-mansukh, kemudian al-tarjih (Kihat, (awa.id
i -lm al-:adits, h. +55 dan seterusnya) %halahud ,in Ahmad al-Adhabi menempuh cara al-
jamu, kemudian al-tarjih (Kihat, !anhajun )aqdil !atni, h. +I0 ) #bnu al-%halah (w. 8/0:), al-
:arawi (w. 50I :), dan lain-lain menempuh cara (1) al-jamu; (+) al-nasikh wa al-mansukh; dan
(0) al-tarjih (Kihat, !uqaddimah Ibnis -halah, h. +2I-+25 dan 1awahir al-0shul, h. /J)
Muhammad Adib %halih menempuh cara (1) al-jamu; (+) al-tarjih kemudian (0) al-nasikh wa al-
mansukh (Kihat, Kamahat i -shulil :adits, h. 5J-51) #bnu :ajar dan lain-lain menempuh empat
tahap, yakni, (1) al-jamu; (+) al-nasikh wa al-mansukh; (0) al-tarjih; dan (/) al-tawaqqu
(menunggu sampai ada petunjuk atau dalil lain yang dapat menyelesaikannya atau
menjernihkannya) (Kihat, )uzhatun )azahr, h. +/-+2).
tampaknya tahap-tahap penyelesaian yang dikemukakan #bnu :ajar lebih akomodati.
,inyatakan demikian karena dalam praktik penelitian matan, keempat tahap atau cara itu
memang lebih dapat memberikan alternati yang lebih hati-hati dan releFan. Adapun penjelasan
berikut contoh penggunaan istilah-istilah di atas adalah sebagai berikut*
A. al-1amu adalah metode penelitian untuk mengkompromikan atau menghimpun hadis-hadis
yang tampak bertentangan sehingga semuanya dapat dipergunakan karena sebenarnya tidak
bertentangan setelah didudukkan sesuai dengan maksud masing-masing. Contoh, di dalam
riwayat al-3ukhari diterangkan
6
*
` ; U

0
*
M0
*
E

T0
*
T

0
*

; U

C
D
$

6
6&emudian ia (-rwah) bertanya kepadanya (#bnu -mar), 93erapa kali )abi umrahP; #a
menjawab, 9Rmpat kali6;
%edangkan dalam riwayat Ahmad, Abdullah bin Amr menerangkan
L
*
:

*
&

'
*
M0
*
E

T0
*
T

0
*

a 6


9%esungguhnya )abi saw. umrah tiga kali;.
16
&eterangan #bnu -mar dan Abdullah bin Amr tampaknya seperti bertentangan, namun setelah
dikaji secara cermat ternyata keterangan keduanya tidak bertentangan, karena empat kali
umrah yang dimaksud oleh #bnu -mar adalah tiga kali di bulan ,'ul!a.dah, dan satu kali di
bulan ,'ulhijjah pada waji wadha (haji !iran). %edangkan tiga kali umrah yang dimaksud oleh
Abdullah bin Amr hanya pada bulan ,'ul!a.dah
3. an-)asakh adalah penelitian untuk mengetahui tarikh wurudil hadits (waktu datangnya
hadis-hadis yang tampak bertentangan itu). Apabila diketahui, maka yang dipergunakan adalah
hadis yang terakhir datangnya, dan hadis ini disebut sebagai nasikh (yang menghapus).
%edangkan hadis yang terlebih dahulu datangnya tidak dipergunakan, dan hadis ini disebut
mansukh (yang dihapus).Contoh, dalam riwayat at-Birmid'i, Abu ,aud, dan #bnu Majah, >ai.
bin &hadij menerangkan bahwa )abi bersabda*

9<ang membekam dan yang dibekam batal shaumnya;


)amun dalam riwayat al-3ukhari #bnu Abas menerangkan bahwa )abi saw. pernah
berbekam dalam keadaan shaum. 3erdasarkan tarikh, hadis >ai. disabdakan pada tahun 5
:. sedangkan amaliah )abi pada hadis #bnu Abbas dilakukan pada tahun 1J :.
C. at-tarjih adalah penelitian untuk mencari mana yang memiliki argumen terkuat di antara
hadis-hadis yang tampak bertentangan itu dilihat dari berbagai aspek, antara lain jumlah
orang yang menyampaikan hadis itu lebih banyak. Contoh, hadis tentang doa setelah ad'an
dalam riwayat al-3ukhari dan lainnya tanpa kalimat innaka la tukhliul miad. %edangkan
dalam riwayat al-3aiha!i diterangkan adanya kalimat itu. ,ilihat dari jumlah rawi yang
menyampaikannya maka yang dipergunakan adalah riwayat al-3ukhari tanpa kalimat innaka
la tukhliul miad.
Apabila ketiga cara di atas tidak dapat dilakukan, maka diambil cara terakhir, yaitu at-
tawaqqu. Artinya hadis-hadis yang bertentangan itu didiamkan sementara waktu hingga
ditemukan maksud yang lebih tepat dari hadis-hadis itu. )amun sampai hari ini belum
ditemukan contoh hadis-hadis yang ditawa!!ukan.
3erbagai metode yang dipergunakan oleh ulama di atas pada dasarnya guna
mengantisipasi kesalahan dalam pengamatan dan pemahaman terhadap dalil-dalil yang tampak
kontradikti itu, karena tidak mungkin hadis )abi bertentangan dengan hadis )abi ataupun dalil-
dalil Al!uran, sebab apa yang dikemukakan oleh )abi, baik berupa hadis maupun ayat Al!uran
sama-sama berasal dari Allah (lihat, misalnya (.s. al-)ajmG20*0-/).
17
MA>A7#. (>ROR>R)%#)
&:R. Abdurrahman. !enempatkan (ukum %alam Agama. 3andung, %inar 3aru. 144J.
SSSSSSSSS .erbandingan !adzhab. 3andung, %inar 3aru. 144J
Abu ?ahrah, Muhammad. 0shul 3iqh. 3eirut, ,ar Rl-Oikr. t.t.
SSSSSSSSSS, 2arikh al-!adzahib al-Islamiyyah. 3eirut, ,ar Rl-Oikr. t.t.
Al-Amidi, Ali bin Muhamad. Al-Ihkam i 0shul al-Ahkam. 3eirut, ,ar al-&utub al-Arabi, 1/J/ :.
Al-Andalusi, Ali bin Ahmad bin :a'm. Al-Ihkam i 0shul al-Ahkam. &airo, ,ar al-:adits, 1/J/ :
Al-(aththan, Mana. khalil. !abahits i 40lumil 5uran. Mansyurat Al-Ashr Al-Arabi. 14I0
A. (adir :asan, -shul Oi!ih. 3angil, <ayasan al-Muslimun, 144+.
Ash-%habuni, Muhammad Ali. -haawatu 2aasir, 3eirut, ,ar Rl-Oikr, t.t.
Asy-%yathibi, #brahim bin Musa. Al-!uwaaqat i 0shul al-Ahkam. 3eirut, ,ar el-Oikr, t.t.
Ath-Bhahan, ,r. Mahmud, 2aisir !ushthalah (adits, %urabaya, %yirkah 3engkulu #ndah, t.t.
A'-?uhaili, ,r. Auhbah. 0shul 3iqh Al-Islami. 3eirut, ,ar Rl-Oikr, 1458
#bnu &atsir, Abul Oida #smail. 2asir al-5uranul 4Azhim. 3eirut, ,ar Rl-Ma.riah, 144+
#tr, )uruddin, ,r. !anhajun )aqd i 40lumil (adits. 3eirut, ,ar Rl-Oikr, 1451
&hala, Abdul Aahab. 4Ilmu 0shul 3iqh. Mesir, Maktabah Ad-,a.wah Al-#slamiyyah, 1485
&urkhi, A. ?akariya. Al-(idayah. Tarut, $esantren $ersis Tarut, 1/J5 :
%yamsul :a!, Abu Bhayyib Muhammad. 4Aunul !abud -yarh -unan Abi %aud. 3eirut, ,ar Rl-
&utub Rl-#lmiyyah, 1442.
<ahya, Mukhtar, $ro. ,r. %asar-dasar .embinaan (ukum 3iqh Islami. 3andung, al-Ma.ari,
1448.
?aidan, Abdul &arim, $ro. ,r. Al-6ajiz i 0shul al-3iqh. 3aghdad, )asyr #hsan, t.t.
18
3-&--3-&- <A)T $R>K- ,#3AAA &R TO>O)BAKO
1. >isalah %halat ,ewan :isbah
+. >isalah %haum ,ewan :isbah
0. >isalah :aji ,ewan :isbah
19

Anda mungkin juga menyukai