Anda di halaman 1dari 32

RINGKASAN AL QAWAID AL FIQHIYAH AL KHASAH

(KAIDAH-KAIDAH FIQH YANG KHUSUS)


Oleh:
Alfi, Anis, Reza

A. KAIDAH-KAIDAH KHUSUS DI BIDANG IBADAH MAHDHAH

1.


"Hukum asal dalam ibadah adalah menunggu dan mengikuti tuntunan syariah"
Maksud kaidah ini adalah dalam melaksanakan ibadah mahdhah, harus ada dalil dan mengikuti
tuntunan. kaidah ini juga mengandung subtansi yang sama, yaitu apabila kita melaksanakan ibadah
mahdhah harus jelas dalilnya, baik dari Al-Qur'an maupun Al-Hadits Nabi. Sebab, ibadah
mahdhah itu tidak sah apabila tanpa dalil yang memerintahkannya atau menganjurkannya.

2.


"Suci dari hadats tidak ada batas waktu"
Maksud kaidah ini adalah apabila seseorang telah suci dari hadas besar dan atau kecil, maka dia
tetap dalam keadaan suci sampai ia yakin batalnya baik dari hadas besar atau kecil.

3.


"Percampuran dalam ibadah mewajibkan menyempurnakannya"
Yang dimaksud percampuran (al-talabus) adalah ada dua macam kemungkinan, yaitu
menyempurnakan ibadah dan berpindah kepada keringanan (rukhshah). Al-talabus ini
menyebabkan keserupaan, kebingungan, dan kesulitan. Kaidah diatas menjelaskan bahwa dalam
keadaan demikian wajib menyempurnakannya.

4.


"Tidak bisa digunakan analogi (qiyas) dalam ibadah yang tidak bisa dipahami maksudnya"
Sudah barang tentu kaidah tersebut tidak akan disepakati oleh seluruh ulama, karena masalah
penggunaan qiyas sendiri tidak disepakati. Yang menyepakati adanya qiyas pun, dalam
menggunakannya ada yang menerapkannya secara luas, seperti pada umumnya mazhab Hanafi.
ada pula yang seperlunya. Kaidah tersebut di atas membatasi penggunaan analogi dalam ibadah,
hanya kasus-kasus yang bisa dipahami maknanya atau illat hukumnya. untuk kasus-kasus yang
tidak bisa dipahami 'illat hukumnya, tidak bisa dianalogikan.

5.


"Tidaklah sah mendahulukan ibadah sebelum ada sebabnya"
Contoh kaidah ini adalah tidak sah shalat, haji, shaum Ramadlan sebelum datang waktunya.
kekecualiannya apabila ada cara-cara lain yang ditentukan karena ada kesulitan atau keadaan
darurat, seperti jama taqdim, misalnya melakukan shalat ashar pada waktu dzuhur.

6.


Setiap tempat yang sah digunakan untuk shalat sunnah secara mutlak, sah pula digunakan
shalat fardu
Contohnya, sah shalat sunnah di Kabbah,di Hijir Ismail, atau di Makam Ibrahim, maka sah pula
untuk digunakan shalat fardu.

7.



Mengutamakan orang lain pada urusan ibadah adalah makruh dan dalam urusan selainnya
adalah disenangi.
Kaidah ini banyak digunakan di kalangan ulama-ulama Syafiiyah. Contohnya, mengutamakan
orang lain pada shaf pertama dalam shalat adalah makruh. Mendahulukan orang lain dalam
bersedekah daripada dirinya. Akan tetapi, dalam masalah-masalah keduniaan, mendahulukan

1
orang lain daripada dirinya sendiri adalah disenangi. Misalnya, mendahulukan orang lain dalam
membeli dagangan daripada dirinya sendiri.

8.


Keutamaan yang dikaitkan dengan ibadah sendiri adalah lebih utama daripada yang dikaitkan
dengan tempatnya
Contohnya, shalat sendirian di lingkungan Kabah adalah lebih utama daripada di luar lingkungan
Kabah. Akan tetapi, apabila shalat di luar lingkungan Kabah ini berjamaah, maka lebih utama
daripada shalat sendirian di lingkungan Kabah.

9.


Bumi ini seluruhnya adalah masjid kecuali kuburan dan kamar mandi
Maksud kaidah ini adalah boleh melakukan shalat dimana saja di muka bumi ini, sebab bumi ini
suci kecuali apabila ada najis, seperti di kuburan atau kamar mandi.

10.



Kekhawatiran membolehkan qasar shalat

11.



Ibadah yang kedatangannya (ketentuannya) dalam bentuk yang berbeda-beda, boleh
melakukannya dengan cara keseluruhannya dengan cara keseluruhannya bentuk-bentuk
tersebut.
Maksud kaidah ini adalah dalam beribadah sering ditemukan tidak hanya satu cara. Dalam hal ini,
boleh memilih salah satu cara yang didawakannya (konsisten melakukannya). Boleh pula dalam
satu waktu dengan cara tertentu dan pada waktu lain dengan cara yang lain. Boleh pula
menggabungkan cara-cara tersebut karena keseluruhannya mencontoh dari hadits Nabi.

2
12.



Bagian yang terpisah dari binatang yang hidup hukumnya seperti bangkai binatang tersebut
Contohnya seperti telinga yang terpotong dan terpisah atau gigi yang lepas, hukumnya sama
dengan bangkai yang najis dan haram untuk dimakan.

13.


Dalam satu jenis benda tidak wajib dua kali zakat
Kaidah ini berhubungan dengan prinsip keadilan. Apabila seorang pedagang telah memenuhi
syarat-syarat wajib zakat, maka yang dizakatinya adalah dari harta perdagangan. Demikian pula
seorang petani yang telah memenuhi syarat zakat, maka zakatnya dari harta pertanian.

14.


Barangsiapa yang diwajibkan kepadanya zakat fitrah, maka wajib pula baginya mengeluarkan
zakat fitrah bagi orang yang dia wajib menafkahkannya.
Kaidah ini mengaitkan kewajiban zakat fitrah kepada seseorang yang juga wajib baginya
mengeluarkan zakat fitrah bagi orang-orang yang ada dalam tanggungannya, seperti anak-anak
atau istrinya.

B. KAIDAH-KAIDAH FIKIH KHUSUS DI BIDANG AHWAL ASY-SYAKHSHIYYAH


Kaidah yang khusus di bidang ahwal asy-syakhshiyyah (hukum keluarga) menjadi penting
karena perhatian sumber hukum Islam yaitu Al-Quran dan Al-Hadis kepada masalah-masalah
keluarga sangat besar. Hal ini terbukti jumlah ayat yang berhubungan dengan hukum keluarga
menempati nomor dua setelah ibadah mahdhah. Artinya, Al-Quran dan Al-Hadis setelah memberi
tuntunan yang cukup untuk pembinaan pribadi muslim dengan ajaran ibadah mahdhah, kemudian
beralih kepada pembinaan kehidupan keluarga muslim yang menjadi unsur terkecil dalam
pembinaan masyarakat dan komunitas muslim.

3
Dalam hukum Islam, hukum keluarga ini meliputi : pernikahan, waris, wasiat,
wakaf dzurri (keluarga), dan hibah di kalangan keluarga. Kaidah-kaidah yang khusus di bidang ini
antara lain:
1.



Hukum asal pada masalah seks adalah haram
Maksud kaidah ini adalah dalam hubungan seks, pada asalnya haram sampai datang sebab-sebab
yang jelas dan tanpa meragukan lagi yang menghalalkannya, yaitu dengan adanya akad
pernikahan. Contohnya, pemuda dan pemudi haram melakukan seks di luar nikah, akan tetapi
berbeda halnya apabila pemuda dan pemudi tersebut telah melakukan akad nikah, maka menjadi
halal apabila melakukan seks.

2.

Tidak ada hak bagi suami terhadap isterinya kecuali dalam batas-batas pernikahan dan tidak
ada hak bagi isteri terhadap suaminya kecuali dalam batas-batas perintah syariah yang
berhubungan dengan pernikahan
Kaidah di atas menggambarkan kedudukan yang seimbang antara suami dan isteri yang sama
sebagai subjek hukum yang penuh. Apabila suami memberikan sesuatu sebagai hibah kepada
isterinya atau isteri memberikan sesuatu kepada suaminya, maka seorang pun tidak dapat
mencampurinya. Masing-masing pihak, suami atau isteri tidak boleh menarik kembali hibahnya
setelah penyerahan atau ijab kabul terjadi. Contohnya juga seperti harta isteri yang didapat dari
orang tuanya, maka suami tidak boleh mengambilnya, kecuali atas izin isterinya.

3.



Setiap dua orang wanita apabila salah satunya ditakdirkan (dianggap) sebagai laki-laki dan
diharamkan untuk nikah di antara keduanya, maka kedua wanita haram untuk dimadu

4
Contohnya, haram memadu seorang wanita dengan bibinya, karena apabila bibi itu kita anggap
laki-laki, maka haram dia menikahi keponakannya. Demikian pula memadu seorang wanita
dengan anak perempuan saudara wanita tersebut. Haram pula memadu seorang wanita dengan
perempuan dari anaknya. Haram memadu seorang perempuan dengan saudaranya, karena apabila
salah seorangnya dianggap laki-laki, dia haramkan nikah dengan saudarannya.

4.



Akad nikah tidak rusak dengan rusaknya mahar
Contohnya, Anton mewakilkan dalam akad nikah dengan menyebut maharnya kemudian si wakil
menambah mahar tadi, misalnya dari 100 gram emas menjadi 150 gram emas, maka nikahnya
tetap sah dan kepada wanita tadi diberikan mahar mitsli.

5.





Setiap anggota tubuh yang haram dilihat, maka lebih-lebih haram pula dirabanya

6.

Wali yang muslim tidak boleh menikahkan wanita yang kafir
Contohnya, Abu Bakar adalah seorang muslim yang memiliki anak beragama kafir, maka ia tidak
boleh atau tidak sah menjadi wali anaknya yang kafir tadi. Wanita yang kafir tidak memilki wali
nasab, tetapi dapat diwakilkan oleh wali hakim.

7.



Barangsiapa yang menggantungkan talak kepada suatu sifat, maka talak tidak jatuh tanpa
terwujudnya sifat tadi
Di Indonesia sudah umum menggantungkan talak kepada sesuatu hal, yaitu yang disebut
dengan taliq talak. Talak menjadi jatuh apabila taliq talaknya terwujud dengan syarat si isteri

5
tidak rela dan mengajukan gugatan ke pengadilan. Contohnya, Qadir sewaktu akad nikah
menyebut taliq talak, maka apabila dilanggar, talak tersebut jatuh dengan terwujudnya sifat
tersebut, umpamanya tidak memberi nafkah isteri selama tiga bulan.

8.





Setiap perceraian karena talak atau fasakh sesudah campur, maka wajib iddah

9.




Setiap orang yang dihubungkan kepada yang meninggal melalui perantaraan, maka dia tidak
mewarisi selama perantara itu ada
Contohnya, antara kakek dan bapak. Kakek tidak dapat waris selama bapak orang yang
meninggal masih hidup, karena kakek dihubungkan dengan orang yang meninggal melalui
bapak. Demikian juga anak laki-laki dengan cucu laki-laki. Cucu laki-laki tidak dapat waris
selama ada anak laki-laki dari orang yang meninggal, karena cucu laki-laki dihubungkan dengan
orang yang meninggal melalui anak laki-laki.

10.



Setiap orang yang mewarisi sesuatu, maka dia mewarisi pula hak-haknya (yang bersifat harta)
Contohnya, hak terhadap utang atau gadai atau juga hak cipta yang diwariskan. Maka kedudukan
ahli waris dalam hal ini menduduki kedudukan orang yang meninggal.

11.




Kekerabatan yang lebih kuat menghalangi kekerabatan yang lebih lemah
Contohnya saudara laki-laki sekandung menghalangi saudara laki-laki sebapak dalam
mendapatkan warisan. Artinya, apabila ahli waris terdiri dari saudara laki-laki sekandung dan
saudara laki-laki sebapak, maka yang mendapat harta warisan hanya saudara laki-laki sekandung,

6
karena kekerabatannya lebih kuat yaitu melalui garis ibu dan bapak. Sedangkan saudara laki-laki
sebapak kekerabatannya lebih lemah karena hanya melalui garis bapak.

12.



Tidak ada harta peninggalan kecuali setelah dibayar lunas utang (orang yang meninggal)
Artinya sebelum utang-utang orang yang meninggal dibayar lunas, maka tidak ada harta
warisan. Seperti diketahui bahwa dalam hukum waris Islam, harta peninggalan tidak dibagi dahulu
sebelum diambil pembiayaan kematian kemudian untuk utang. Kalau masih ada sisanya dipotong
lagi untuk wasiat maksimal sepertiga. Sisanya dibagi di antara para ahli waris sesuai dengan
ketentuan hukum waris Islam.

13.




Tidak sah wasiat dengan keseluruhan harta
Dhabith ini kemudian dipertegas oleh hadis nabi yang menyebutkan bahwa maksimal wasiat
adalah sepertiga dari harta warisan dan sepertiga itu sudah banyak. Contohnya, Usman yang
memiliki harta 10 Trilliun, maka tidak boleh mewasiatkan harta tersebut semuanya, karena
maksimalnya hanya 1/3, jadi batasannya yang dapat diwasiatkan 3 Trilliun.

14.




Setiap orang Islam yang meninggal tanpa meninggalkan ahli waris, maka hartanya diserahkan
kepada Bait al-Mal. Contohnya, Saiful Unus yang tidak memiliki keluarga satupun, beliau juga
memiliki harta berlimpah, maka harta tersebut diserahkan kepada Bait al-Mal.

C. KAIDAH FIKIH KHUSUS DI BIDANG MUAMALAH ATAU TRANSAKSI


Secara etimologis, Muamalah berasal dari kata amala - yuamilu - muamalatan, yang
bermakna saling bertindak, saling berbuat, saling mengamalkan. Secara terminologis, muamalah
mempunyai dua arti, yakni arti luas dan arti sempit. Dalam arti luas muamalah berarti aturan-

7
aturan hukum Allah untuk mengatur manusia dalam kaitannya dengan urusan duniawi/pergaulan
sosial. Dan dalam arti sempit, muamalah berarti aturan Allah yang wajib ditaati, yang mengatur
hubungan manusia dengan manusia dalam kaitannya dengan cara memperoleh dan
mengembangkan harta benda. Jadi muamalah adalah menyangkut afal (perbuatan) seorang
hamba.
Sumber hukum fiqih muamalah terdapat dalam alquran pada surat An nisa, yaitu:





Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan
yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara
kamu.. (Q.S An nisa [4]: 29)
Di bidang ibadah mahdhah dan hukum keluarga Islam, aturan aturan di dalam Al-Quran
dan Al-Hadis lebih rinci dibandingkan dengan fikih-fikih lainnya, yang pada umummnya hanya
menentukan garis-garis besarnya saja yang tercermin dalam dalil-dalil kulli (bersifat umum),
maqashid al-syariah (tujuan hukum), semangat ajaran, dan kaidah-kaidah kulliyah. Sehingga di
bidang fikih selain ibadah mahdhah dan hukum keluarga Islam, ruang lingkup ijtihad menjadi
sangat luas dan materi-materi fikih sebagai hasil ijtihad menjadi sangat banyak. Hal tersebut juga
erat kaitannya dengan fungsi manusia sebagai hamba Allah dan juga sebagai khalifah fi al-ardh.
Sebagai hamba Allah, manusia diberi tuntutan agar hidupnya tidak menyimpang dan selalu
diingatkan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah hanya kepada-Nya, sebagaimana
disebutkan dalam Al-Quran




Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (QS.
Adz-Dzaariyaat : 56)
Sebagai khalifah fi al-ardh manusia diberi tugas untuk memakmurkan kehidupan ini,
sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran,
...
...
.... Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya..... (Q.S Huud
: 61)

8
Kedua fungsi ini sebagai amanah dari Allah (QS. Al-Ahzab:72) harus ditunaikan dalam
kehidupannya di dunia agar tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat (QS. Al-Baqarah:201), yang
tujuan akhirnya meraih keridhaan Allah SWT (QS. Al-Baqarah:207 dan 265; an-nisaa:114; al-
Fil:20; dan al-Fajr:28).
Oleh karena itu, manusia diberi kebebasan untuk berusaha dimuka bumi ini., memakmurkan
kehidupan dunia. Manusia sebagai khalifah fi al-ardh harus kreatif, inovatif, kerja keras, dan
berjuang. Bukan berjuang untuk hidup, tapi hidup ini adalah perjuangan untuk melaksanakan
amanah Allah tersebut yang hakikatnya demi kemaslahatan manusia itu sendiri.
Sudah takdir Allah, bahwa manusia tidak dapat lepas dari menjalin hubungan dengan orang
lain dalam memenuhi kebutuhannya. Dalam transaksi saja, para ulama menyebutkan tidak kurang
dari 25 macam jenis transaksi. Dan seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta tuntutan
masyarakat yang makin meningkat, akan selalu melahirkan model-model transakBudiaru yang
membutuhkan penyelesainnya dari sisi hukum Islam. Penyelesaian yang pada satu sisi tetap seusai
dengan syariat dan di sisi lain dapat menyelesaikan masalah kehidupan yang nyata. Sudah tentu
caranya adalah dengan menggunakan kaidah-kaidah fikih.
Kaidah-kaidah fikih di bidang muamalah mulai dari kaidah asasi dan cabangnya, kaidah
umum dan kaidah khusus yang kemudian dihimpun oleh ulama-ulama Turki zaman kekhalifahan
Turki Utsmani tidak kurang dari 99 kaidah, yang termuat dalam majalah al-Ahkam al-adliyah.
Kesembilan puluh sembilan kaidah tadi menjadi acuan dan menjadi jiwa dari1851 pasal tentang
transaksi yang tercantum dalam majalah al-ahkam al-adliyah. Kaidah Kaidah Cabang Di Bidang
Fikih Muamalah yaitu:
1.




Hukum asal dalam semua bentuk muamalah adalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang
mengharamkannya
Maksud kaidah ini adalah bahwa dalam setiap muamalah dan transaksi, pada dasarnya boleh,
seperti jual beli, sewa menyewa, gadai, kerjasama (mudharabah dan musyarakah) perwakilan, dan
lain-lain, kecuali yang tegas-tegas diharamkan seperti mengakibatkan kemudaratan, tipuan, judi,
dan riba.
Ibnu Taimiyah menggunakan ungkapan lain:



9
Hukum asal dalam muamalah adalah pemaafan, tidak ada yang diharamkan kecuali apa yang
diharamkan Allah SWT

2.



Hukum asal dalam transaksi adalah keridhaan kedua belah pihak yang berakad, hasilnya adalah
berlaku sahnya yang diakadkan
Keridhaan dalam transaksi adalah merupakan prinsip. Oleh karena itu, transaksi barulah sah
apabila didasarkan kepada keridhaan kedua belah pihak. Artinya, tidak sah suatu akad apabila
salah satu pihak dalam keadaan terpaksa atau dipaksa atau juga merasa tertipu. Bisa terjadi pada
waktu akad sudah saling meridhai, tetapi kemudian salah satu pihak merasa tertipu, artinya hilang
keridhaannya, maka akad tersebut bisa batal. Contohnya seperti pembeli yang merasa tertipu
karena dirugikan oleh penjual karena barangnya terdapat cacat.
Ungkapan yang lebih singkat dari Ibnu Taimiyah:




dasar dari akad adalah keridhaan kedua belah pihak
2.




Tiada seorangpun boleh melakukan tindakan hukum atas milik orang lain tanpa izin si pemilik
harta
Atas dasar kaidah ini, maka si penjual haruslah pemilik barang yang dijual atau wakil dari pemilik
barang atau yang diberi wasiat atau wakilnya. Tidak ada hak orang lain pada barang yang dijual.

4.



Akad yang batal tidak menjadi sah karena dibolehkan
Akad yang batal dalam hukum Islam dianggap tidak ada atau tidak pernaha terjadi. Oleh karena
itu, akad yang batal tetap tidak sah walaupun diterima salah satu pihak. Contohnya, Bank syariah
tidak boleh melakukan akad dengan lembaga keuangan lain yang menggunakan sistem bunga,
meskipun sistem bunga dibolehkan oleh pihak lain, karena sistem bunga sudah dinyatakan haram

10
oleh Dewan Syariah Nasional. Akad baru sah apabila lembaga keuangan lain itu mau
menggunakan akad-akad yang diberlakukan pada perbankan syariah, yaitu akad-akad atau
transaksi tanpa menggunakan sistem bunga.

5.




Izin yang datang kemudian sama kedudukannya dengan perwakilan yang telah dilakukan lebih
dahulu
Seperti telah dikemukakan pada kaidah no.3 bahwa pada dasaranya seseorang tidak boleh
bertindak hukum terhadap harta milik orang lain tanpa seizin pemiliknya. Tetapi, berdasarkan
kaidah di atas, apabila seseorang bertindak hukum pada harta milik orang lain, dan kemudian si
pemilik harta mengizinkannya, maka tindakan hukum itu menjadi sah, dan orang tadi dianggap
sebagai perwakilan dari si pemilik harta.

6.




pemberian upah dan tanggung jawab untuk mengganti kerugian tidak berjalan bersamaan
Yang disebut dengan dhaman atau ganti rugi dalam kaidah tersebut adalah mengganti dengan
barang yang sama. Apabila barang tersebut ada di pasaran atau membayar seharga barang tersebut
apabila barangnya tidak ada di pasaran (Majalah Ahkam al-Adliyah pasal 416).
Contoh, seseorang menyewa kendaraan penumpang untuk membawa keluarganya, tetapi si
penyewa menggunakannya untuk membawa barang-barang yang berat yang mengakibatkan
kendaraan tersebut rusak berat. Maka, si penyewa harus mengganti kerusakan tersebut dan tidak
perlu membawa sewaannya. (Majalah Ahkam al-adliyah pasal 550)

7.


Manfaat suatu benda merupakan fakor pengganti kerugian
Arti asal al-kharaj adalah sesuatu yang dikeluarkan baik manfaat benda maupun pekerjaan, seperti
pohon mengeluarkan buah atau binatang mengeluarkan susu. Sedangkan al-dhaman adalah ganti

11
rugi. Contohnya, seekor binatang dikembalikan oleh pembelinya dengan alasan cacat. Si penjual
tidak boleh meminta bayaran atas penggunaan binatang tadi. Sebab, penggunaan binatang tadi
sudah menjadi hak pembeli. Contoh lainnya lihat pasal 891 dan 903 Majalah al-Ahkam al-Adliyah.

8.


Risiko itu menyertai manfaat
Maksudnya adalah bahwa seseorang yang memanfaatkan sesuatu harus menanggung risiko. Biaya
notaris adalah tanggung jawab pembeli kecuali ada keridhaan dari penjual atau ditanggung
bersama. Demikian pula halnya, seseorang yang meminjam barang, maka dia wajib
mengembalikan barang dan risiko ongkos-ongkos pengembaliannya. Berbeda dengan ongkos
mengangkut dan memelihara barang, dibebankan pada pemilik barang. Contoh lainnya dapat
dilihat MAA pasal 292 dan 1308.

9.




Apabila sesuatu akad batal, maka batal pula yang ada dalam tanggungannya
Contohnya, penjual dan pembeli telah melaksanakan akad jual beli. Si pembeli telah menerima
barang dan si penjual telah menerima uang. Kemudian kedua belah pihak membatalkan jual beli
tadi. Maka, hak pembeli terhadap barang menjadi batal dan hak penjual terhadap harga barang
menjadi batal. Artinya, si pembeli harus mengembalikan barangnya dan si penjual harus
mengembalikan harga barangnya.

10.



Akad yang objeknya suatu benda tertentu adalah seperti akad terhadap manfaat benda tersebut
Objek suatu akad bisa berupa barang tertentu, misalnya jual beli, dan nnisa pula berupa manfaat
suatu barang seperti sewa menyewa. Bahkan sekaran, objeknya bisa berupa jasa seperti jasa
broker. Maka, pengaruh hukum dari akad yang objeknya barang atau manfaat dari barang adalah
sama, dalam arti rukun dan syaratnya sama.

12
11.




Setiap akad muawadhah yang sah diberlakukan selamanya, maka tidak sah diberlakukan
sementara
Akad muawadhah adalah akad yang dilakukan oleh dua pihak yang masing-masing memiliki hak
dan kewajiban, seperti jual beli. Satu pihak (penjual) berkewajiban menyerahkan barang dan
berhak terhadap harga barang. Di pihak lain yaitu pembeli berkewajiban menyerahkan harga
barang dan berhak terhadap barang yang dibelinnya. Dalam akad yang semacam ini tidak sah
apabila dibatasi waktunya, sebab akad jual beli tidak dibatasi waktunya. Apabila waktuya dibatasi,
maka bukan jual beli tapi sewa menyewa.

12.




Setiap perintah untuk bertindak hukum terhadap hak milikorang lain adalah batal
Maksud kaidah ini adalah apabila seseorang memerintahkan untuk bertransaksi terhadap milik
orang lain yang dilakukannya seperti terhadap miliknya sendiri, maka hukumnya batal.
Contohnya, seorang kepala penjaga keamanan memerintahkan kepada bawahannya untuk menjual
barang yang dititipkan kepadanya, maka perintah tersebut adalah batal. Kaidah ini juga bisa masuk
dalam fikih siyasah, apabila dilihat dari sisi kewenangan memerintah dari atasan kepada
bawahannya.
13.



Tidak sempurna akad tabarru kecuali dengan penyerahan barang
Akad tabarru adalah akad yang dilakukan demi untuk kebajikan semata seperti hibah atau hadiah.
Hibah tersebut belum mengikat sampai penyerahan barangnya dilaksanakan.

14.





Suatu hal yang dibolehkan oleh syara tidak dapat dijadikan objek tuntutan ganti rugi

13
Maksud kaidah ini adalah sesuatu yang dibolehkan oleh syariah baik melakukan atau
menninggalkannya, tidak dapat dijadikan tuntutan ganti rugi. Contohnya, Arimenggali sumur di
tempat miliknya sendiri. Kemudian binatang tetangganya jatuh kedalam sumur tersebut dan mati.
Maka, tetangga tadi tidak bisa menuntut ganti rugi kepada si A, sebab menggali sumur ditempatnya
sendiri dibolehkan oleh syariah. Contoh lainnya dapat dilihat MAA pasal 605 dan 882.

15.




Sesuatu benda tidak bisa dicabut dari tangan seseorang kecuali atas dasar ketentuan hukum
yang telah tetap

16.

Setiap kabul/penerimaan boleh dengan ungkapan saya telah terima
Sesungguhnya berdasarkan kaidah ini, adalah sah dalam setiap akad jual beli, sewa menyewa dan
lain-lainnya, akad untuk menyebut qabiltu (saya telah terima) dengan tidak mengulangi rincian
dari ijab. Rincian ijab itu, seperti saya jual barang ini dengan harga sekian dibayar tunai, cukup
dijawab dengan saya terima.

17.




Setiap syarat untuk kemaslahatan akad atau diperlukan oleh akad tersebut, maka syarat tersebut
dibolehkan
Contohnya seperti dalam hal gadai emas kemudian ada syarat bahwa apabila barang gadai tidak
ditebus dalam waktu sekian bulan, maka penerima gadai berhak untuk menjualnya. Atau syarat
kebolehan memilih, syarat tercatat di notaris.

18.




Setiap yang sah digadaikan, sah pula dijadikan jaminan

14
Kaidah no. 17 dan 18 ini sering pula disebut dhabith karena merupakan bab tertentu dari satu
bidang hukum. Tetapi ada pula yang menyebutnya kaidah seperti dalam al-Subki. Tampaknya
lebih tepat disebut kaidah tafshiliyah atau kaidah yang detail.

19.


Apa yang boleh dijual boleh pula digadaikan
Sudah barang tentu ada kekecualiannya, seperti manfaat barang boleh disewakan tapi tidak boleh
digadaikan karena tidak bisa diserah terimakan.

20.



setiap pinjaman dengan menarik manfaat (oleh kreditor) adalah sama dengan riba
Kadi Abd al-Wahab al-Maliki dalam kitabnya, al-Isyraf, mengungkapkannya dengan:



Setiap pinjaman dengan menaarik manfaat (oleh kredior) adalah haram

D. KAIDAH FIKIH KHUSUS DI BIDANG JINAYAH


Fikih jinayah adalah hukum islam yang membahas tentang aturan berbagai kejahatan dan
sanksinya, membahas tentang pelaku kejahatan dan perbuatannya. Dalam fikih jinayah
dibicarakan pula upaya upaya preventif, rehabilitatif, edukatif, serta upaya upaya represif
dalam menanggulangi kejahatan disertai tentang teori teori tentang hukuman. Kaidah kaidah
fikih di bidang jinayah yaitu

1.



tidak ada jarimah dan tidak ada hukuman tanpa nash
Dalam hukum islam, suatu perbuatan tidak akan dianggap sebagai sebuah tindak pidana dan tidak
dijatuhi hukuman selama tidak terdapat dalam Al-Quran maupun Al-Hadits. Hal ini berlaku sejak

15
Rosulullah pindah ke Madinah sekitar 14 abad yang lalu atau pada abad ke-7 M. Sedangkan dunia
barat baru menrapkan hal ini pada abad ke-18 M. Sekarang kaidah ini diterapkan di sumua negara
termasuk Indonesia (lihat Pasal 1 ayat (1) KUHP)
Semakna dengan kaidah diatas adalah:



Tidak ada hukuman bagi oarng berakal sebelum datangnya nash.

2.




Hukuman-hukuman itu gugur karena syubhat.
Kaidah ini berasal dari sabda Nabi:




Hindarkanlah hukuman-hukuman karena adanya syubhat".





) (


Hindarkanlah hukunan-hukuman dari kaum muslimin sedapat-dapatmu, apabila kamu sekalian
mendapatkan jalan keluar bagi orang-orang muslim (agar terhindar dari had) maka berikanlah
jalannya, karena sesungguhnya imam (hakim) salah dalam rangka memberi maaf itu lebih baik
dari pada salah dalam rangka memberi hukuman"
Suatu kasus yang belum bisa dibuktikan secara faktual sebagai suatu tindak pelanggaran,
tersangka tidak bisa dijatuhi hukuman. Karena untuk memvonis pelaku tindak kriminalitas
(jarimah) seorang hakim memerlukan bukti-bukti obyektif yang meyakinkan.Berarti dari hadis di
atas dapat diambil kesimpulan bahwa suatu perkara jika terdapat suatu ketidakjelasan, maka bisa
menggugurkan suatu had. Had adalah tuntutan hukum yang ada pada al-Quran dan Hadis, seperti:
pencurian, perzinahan dan sebagainya. Jadi berbeda dengan Tazir yang mempunyai pengertian
Tuntutan hukum yang tidak ada ketentuannya dalam nash, seperti: memasuki rumah lain tanpa
izin, mencium isteri orang, memaki orang dan sebagainya.
Syubhat artinya tidak terang atau tidak jelas. Jadi masih dalam keadaan samar yaitu perkara-
perkara yang kurang atau tidak jelas hukumnya, apakah halal atau haram. Syubhat itu tidak dapat

16
menggugurkan tazir, tetapi dapat menggugurkan kaffarat, misalnya: Bila ada sepasang suami
isteri yang sedang puasa ramadlan lupa bermain kuda-kudaan (jima') di siang hari, maka ia tidak
wajib membayar kaffarat. Tetapi menurut Imam Khafal mereka tetap harus membayar
fidyah.Syubhat yang bisa menggugurkan had atau kaffarat itu disyaratkan harus kuat. Jika syubhat
lemah, maka tidak dapat menggugurkan had atau kaffarat. Ada tiga macam syubhat yang dapat
menggugurkan sanksi had, yaitu:
a. syubhat yang berhubungan denagn pelaku (al-fail) yang disebabkan oleh salah sangkaan
si pelaku, seperti mengambil harta orang lain yang dikira harta miliknya.
b. syubhat karena perbedaan ulama (fi al-jihah) seperti imam malik membolehkan nikah
tanpa saksi tapi harus ada wali. Abu Hanifah membolehkan nikah tanpa wali tapi harus
ada saksi
c. syubhat karena tempat (fi al-mahal) seperti me-wathi istri saat haidl.
Untuk menghindari syubhat tersebut diatas, maka penggunaan qiyas tidak diperkenankan
dalam hudud, seperti kaidah berikut




tidak boleh penetapan jarimah hudud dengan cara analogi, penerapannya harus dengan nash.
Menurut kaidah ini tidak boleh menyamakan tindak pidana homoseksual atau lesbian dengan zina,
meskipun keduanya diharamkan oleh hukum islam.

3.




Barangsiapa merampas (ghasab) sesuatu, dia harus mengembalikannya atau mengembalikan
senialai harganya.
Ghasab adalah mengambil dan menguasai hak orang lain dengan maksud jahat. Maka orang
tersebut harus mengembalikan hak orang lain yang dirampasnya atau mengganti dengan harganya.

4.



Sanksi tazir (berat ringannya) tergantung kepada maslahah.

17
Sanksi tazir erat kaitannya dengan tindak pidana. Tindak pidana tazir terbagi menjadi 3 macam,
yaitu:
a. Tindak pidana hudud atau qisas yang dikukuhkan oleh Al-Quran dan Al-Hadits tetapi
tidak memenuhi syarat unutk dijatuhi hukuman had atau qisas. Seperti percobaan
pencurian, perampokan, perzinaan, atau pembunuhan
b. Kejahatan kejahatan yang dikukuhkan oleh Al-Quran dan Al-Hadits tetapi tidak
disebutkan sanksinya. Sanksinya diserahkan kepada pemerintah (ulil amri), seperti
penipuan, saksi palsu, perjudian, penghinaan, dan lain sebaginya
c. Kejahatan yang ditentukan oleh pemerintah demi kemaslahatan rakyat seperti aturan lalu
linta, perlindungna hutan, dan lain sebagainya
Sanksi tazir terberat adalah hukuman mati, sedangkan yang teringan berupa peringatan. Berat
ringannya ditentukan dengan pertimbangan maslahat, menimbang perbuatannya baik kualitas
maupun kuantitasnya, pelakunya, orang atau masyarakat yang jadi korbannya, tempat kejadian dan
waktunya, mengapa dan bagaimana si pelaku melakukan kejahatan.

5.





berat ringannya sanksi tazir diserahkan kepada imam (hakim) sesuai dengan besar kecilnya
kejahatan yang dilakukan.
Kaidah ini memberi kewenangan kepada hakim dalam menjatuhkan berat ringannya hukuman.
Dengan mempertimbangkan daya preventif dan represif (al radd wa al jazr) dari hukuman
tersebut serta dipertimbangkan pula day edukatif dan rehabilitatif bagi yang bersangkutan.

6.


yang dijadikan pegangan dalam menentukan tindak pidanaa hudud adalah pada waktu
dilakukannya tindak pidana tersebut bukan pada waktu sempurnanya tindak pidana tersebut.
Apabila seseorang melakukan kejahatan, maka yang dinilai adalah pada waktu dilakukannya,
bukan setelah sempurna diproses kejahatannya atau setelah diproses di pengadilan. Contoh,
seseorang mencuri (pencurian termasuk jarimah hudud), kemudian tertangkap tangan. Harta yang

18
dicuri saat tertangkap tangan belum mencapai nisab, maka tidak dikenakan sanksi potong tangan.
Meskipun hartanya bertambah setelah melakukan pencurian hingga sampai batas nisab, si pencuri
hanya dikenai sanksi tazir. Demikian juga dengan seorang yang akan melakukan pemberontakan
dengan mengumpulkan kawan-kawannya dan merencanakannya tetapi belum sempat mengangkat
senjata. Maka mereka dikenakan sanksi tazir.

7.




suatu perbuatan itu dipertanggungjawabkan oleh pelaku bukan kepada yang memerintahkan
selama perintahnya tidak bersifat paksaan.
Kaidah diatas dalam kasus pidana seperti seseorang yang turut berbuat tidak langsung, dalam
kasus tersebut pelaku yang langsung berbuat harus bertanggung jawab apabila perintah itu tidak
bersifat memaksa. Contoh, Ari menyuruh Budi untuk membunuh Cici, selama Ari tidak memaksa
Budi, Budi lah yang harus bertanggung jawab terhadap pembunuhan Cici. Sanksinya adalah
hukuman mati selama tidak ada pemaafan dari pihak keluarga korban. Namun Ari tetap dikenai
sanksi tazir karena telah menyuruh orang lain untuk berbuat kejahatan. Kaidah ini diterapkan
sepenuhnya dalam mazhab Hanafi. Sedangkan dalam mazhab Maliki, Syafii, dan Hanbali justru
yang memrintahkan perbuatan tersebutlah yang harus bertanggung jawab penuh, karena
sebenarnya si pelaku langsung (Budi) hanyalah merupakan alat dari yang memerintahkan (Ari).
Namun dalam hal ini haruslah mempertimbangkan unsur keterpaksaan, mengenai kebebasan
si pelaku memilih untuk melakukan pembunuhan atau tidak. Jika si pelaku tidak dapat memilih,
maka ia termasuk unsur keterpaksaan dan masuk dalam kategori darurat. Tetapi jika si pelaku
memiliki pilihan lain dan dapat menghindar dari melakukan kejahatan maka dialah yang
bertanggung jawab atas perbuatannya.
Dalam hal ini ada kaidah lain, yaitu:



Yang berbuat langsung bertanggung jawab meskipun tidak disengaja.
Contohnya seperti orang yang tergelincir kemudian orang lain tertimpa olehnya sehingga
menyebabkan luka. Orang yang tergelincir kemudian orang lain tertimpa olehnya sehingga
menyebabkan luka. Orang yang tergelincir itu harus betanggung jawab karena kelalaian atau
ketidakhati-hatiannya. Contoh lainnya seperti supir menabrak seseorang karena tidak hati-hati.

19



Pelaku tidak langsung tidak bertanggung jawab kecuali disertai kesengajaan
Contohnya,
a. Ahmad mengejar Budi, kemudian Budi menabrak Ciko, Ahmad tidak bertanggung jawab
atas luka Ciko, kecuali Ahmad sengaja mengarahkan Budi agar menabrak Ciko.
b. Ari meminjam pisau kepada Bedu, kemudian pisau tersebut digunakan oleh Bedu untuk
membunuh Cici. Maka Ari tidak bertanggung jawab apabila dia tidak tahu bahwa pisaunya
akan dipakai untuk membunuh. Tetapi jika Ari tahu bahwa pisaunya akan dipakai untuk
membunuh dan ia tetap meminjamkannya, maka Ari juga bertanggung jawab karena
kesengajaannya tersebut.

8.



Tindakan jahat binatang tidak dikenai sanksi.
Kaidah ini terdapat dalam hadits nabi,


Pelukaan karena binatang tidak ada sanksinya. (H.R. Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah)
Dalam hukum islam yang dapat dikenai sanksi hanyalah manusia sebagai subjek hukum. Binatang
diperlakukan seperti benda. Adapun pemilik binatang yang binatangnya melukai orang lain,
apabila ia mengetahuinya dan tidak berusaha mencegahnya, maka pemilik binatang bertanggung
jawab, dengan cara mengganti kerugian atau sanksi lainnya. Contohnya, anjing yang suka
menggigit, dibiarkan saja oleh pemiliknya tanpa dirantai.

9.




Melaksanakan sanksi hudud (pidana) dan menyelesaikan persengketaan tentang hak (perdata),
diserhakan kepada pemerintah (pengadilan).
Maksud kaidah ini adalah tidak bisa seseorang yang tidak memiliki kekuasaan untuk
melaksanakan hudud atau menyelesaikan pertengkaran, kecuali melalui petugas khusus dari
penguasa.

20
10.



aturan pidana tidak berlaku surut.
Kaidah ini muncul erat hubungannya dengan Kaidah No. 1, karena tidak adanya tindak pidana
dan tidak ada hukumannya sebelum adanya nash, maka baru ada tindak pidana dan hukumannya
setelah adanya aturan. Oleh karena itu, hukum pidana tidak berlaku surut. Namun sebagian ulama
berpendapat, jika terdapat tindak pidana yang berbahaya bagi masyarakat dan keamanan, maka
aturan pidana boleh berlaku surut. Selain itu juga, aturan pidana dapat berlaku surut jika
menguntungkan bagi pelaku.

11.



Kesengajaan anak kecil dianggap sebagai kesalahan.
Oleh karena itu, anak kecil atau orang yang belum dewasa apabila melakukan kejahatan, tidak
boleh dijatuhi hukuman had, tetapi boleh diberi hukuman tazir, yang bersifat mendidik, karena
kesengajaan anak kecil dianggap sebagai kesalahan

12.




Tidak boleh bagi seseorang mengambil harta orang lain tanpa dibenarkan oleh syariah.
Pengambilan harta orang lain tanpa dibenarkan oleh syariah adalah pencurian atau perampasan
yang ada sanksinya. Tetapi jika dibenarka oleh syariah, maka diperbolehkan.
Contoh kasus:
a. Petugas zakat dibolehkan mengambil harta zakat dari muzakki yang sudah wajib
mengeluarkan zakat, yang ditunggak membayarnya
b. Seorang istri yang tidak diberi nafkah oleh suaminya, boleh mengambil harta suaminya
sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti pangan dan sandang

13.



21
Setiap pelaku kejahatan, maka tanggung jawab itu kembali kepada dirinya sendiri.
Kaidah ini berhubungan dengan sanksi pidana itu bersifat individual, artinya hanya pelaku
kejahatan sajalah yang kena sanksi, bukan keluarga atau yang lainnya.

E. KAIDAH-KAIDAH FIQH KHUSUS DI BIDANG SIYASIYAH

Fiqh siyasiyah meliputi hukum tata negara, administrasi negara, hokum internsional dan
hukum ekonomi. Membahas tentang hubungan rakyat dengan pimpinan selaku pengusa dan
kebijakan yang diambilnya.

1.

Kebijakan seorang pemimpin kepada rakyatnya tergantung kepada kemaslahatan

Kaidah ini menegaskan bahwa seorang pemimpin harus berorientasi kepada kemaslahatan rakyat,
bukan mengikuti keinginan hawa nafsunya atau keluarga dan kelompoknya. Contoh dalah hal-hal
yang berkaitang dengan kebijakan. Misal dalam uaya pembangunan, membuat irigasi untuk petani
dan membuka lapangan kerja yang padat karya.

2.

Perbuatan khianat tidak terbagi-bagi

Apabila seseorang tidak melaksanakan atau khianat terhadap satu amanah yang dibebankan
kepadanya, maka ia harus dipecat dari keseluruhan amanah yang dibebankan kepadanya.
Contohnya: Seorang pejabat memiliki banyak amanah yang dibebankan kepadanya. Apabila ia
melakukan kesalahan misalnya korupsi, maka ia dipecat dari jabatannya dan semua amanah yang
dibebankan kepadanya lepas. Sebab melanggar salah satu dari amanat yang dibebankan yang
berarti melanggar keseluruhan amanah.

22
3.

Seorang pemimpin itu, salah dalam memberi maaf lebih baik daripada salah dalam
menghukum

Kehati-hatian dalam mengambil keputusan sangatlah penting. Jangan sampai keputusan


pemimpin membawa kemudharatan kepada rakyatnya. Jika masih ragu karena belum adal bukti
yang menyakiknkan apakah memberi maaf aau menjatuhkan hukuman, maka memberi maaf jauh
lebih baik. Contohnya: Seorang hakim membebaskan seorang terdakwa yang belum ada bukti
bahwa dia bersalah. Dari pada menjatuhkan hukuman dengan keraguan.

4.

Kekuasaan yang khusus lebih kuat kedudukannya daripada kekuasaan yang umum

Dalam fikih siyasah, ada pembagian kekuasaan sejak zaman ke khalifahan. Pembagian kekuasaan
itu terus berkembang, maka muncul berbagai lembaga kekuasaan dalam suatu Negara (eksekuitif,
legislative, yudikatif). Maksud kaidah di atas adalah bahwa kekuasaan lembaga-lembaga yang
khusus lebih kuat kekuasaannya dari pada lembaga umum. Contohnya: Ketua RT lebih kuat
kekuasaannya dalam wilayahnya dari pada kepala desa, wali kelas lebih kuat kekuasaannya dalam
kelasnya dari pada kepala sekolah atau wali nasab lebih kuat kekuasaannya terhadap anaknya dari
pada wali hakim (dalam masalah pernikahan).

5.



Tidak diterima di negeri muslim, pernytaan tidak tahu hokum

Maksud dari tidak tahu hukum di sini adalah hukum yang bersifat umum karena masyarakat
semestinya mengetahui, seperti hukum mentaati ulil amri adalah wajib, zakat itu wajib, dan lain

23
sebagainya. Contohnya: Tidak ada alasan bagi para pengendara sepeda motor tidak mempunyai
SIM dengan alasan tidak mengetahui kewajiban memilikinya, karena kewajiban memiliki SIM
adalah hal yang pasti diketahui secara umum.

6.

Hukum asal dalam hubungan antarnegara adalah perdamaian

Ajaran Islam baik dalam hubungan antar manusia, maupun antar negara adalah perdamaian.
Perang hanya dilakukan untuk mempertahankan diri dari aggressor, bersifat temporer dan
dilakukan ketika satu-satunya penyelesaiannya adalah perang (darurat). Oleh karena itu, harus
memenuhi persyaratan darurat. Apabila terpaksa terjadi perang, harus diupayakan untuk kembali
kepada perdamaian baik dengan cara penghentian sementara, perjanjian, atau dengan melalui
lembaga arbitrase. Contohnya: Apabila terjadi perselisihan antara pemimpin, maka alangkah
baiknya ambil jalan damai dengan dibicarakan baik-baik.

7.




Setiap barang yang tidak sah diperjualbelikan di negeri Islam maka tidak sah pula dilakukan di
negeri harbi

Negeri harbi adalah negara yang sedang berperang dengan negara Islam. Kaidah ini dipegang oleh
mazhab Maliki dan Syafii. Kaidah ini berkaitan dengan teori Nasionalitas. Artinya, di mana pun
berada, barang-barang haram tetap haram hukumnya. Contonya: Dimana pun seorang muslim
berada, yang namanya berjualan babi haram hukumnya untuk diperjualbelikan

8.

Setiap perjanjian dengan orang non-muslim harus dihormati seperti dihormatinya perjanjian
sesame muslim

24
Kaidah ini berlaku dalam akad, perjanjian, atau transaksi antara individu muslim dan nonmuslim
dan antara negeri muslim dan negeri nonmuslim secara bilateral atau unilateral. Contohnya:
Apabiala seorang muslim berjanji kepada yang nonmuslim, maka ia wajib menepati janjinya,
meskipun dia nonmuslim.

9.



Pungutan harus disertai dengan perlindungan

Kaidah ini menegaskan bahwa setiap pungutan berupa harta dari rakyat, baik berupa zakat, fee,
rikaz, madun, kharaj (pajak tanah bagi nonmuslim), wajib disertai dengan perlindungan dari
pemerintah kepada warga yang sudah mengeluarkan apa yang dipungut tadi. Yang dimaksud
dengan perlindungan disini adalah rakyat harus dilindungi hartanya, darahnya, dan
kehormatannya, termasuk didalamnya menciptakan kondisi keamanan yang menyeluruh agar bisa
berusaha, bekerja dalam lapangan kerja yang halal, serta membangun sarana dan prasarana untuk
kesejahteraan rakyatnya. Contohnya: Di suatu komplek perumahan dialkukan pungutan uang
keamanan untuk menjaga komplek tersebut, maka penjaga keamanan itu wajib menjalankan
tugasnya untuk menjaga komplek tersebut, karena itu sebuah amanah dari warga komplek.

10.

Keluar dari perbedaan pendapat adalah disenangi

Perbedaan pendapat penting dalam memberi alternatif pemecahan masalah. Tetapi, berupaya
untuk mencari jalan agar dapat diperoleh kesepakatan adalah disenangi yang awalnya terjadi
perbedaan pendapat. Hal ini tidak lain adalah agar kehidupan masyarakat menjadi tenang kembali.
Contohnya: Dalam suatu permusyawarahan terdapat perbedaan pendapat, maka alangkah
bagusnya berupaya untuk menemukan kesamaan sehingga tidak terjadi perbedaan pendapat.

25
11.

Apa yang tidak bias dilaksanakan seluruhnya, jangan ditinggalkan seluruhnya

Kaidah ini menyatakan bahwa apabila suatu keputusan yang baik sudah diambil, tetapi dalam
pelaksanaannya banyak hambatan, maka tidak berarti harus meninggalkan seluruhnya. Akan
tetapi, apa yang dapat dilaksanakan itulah yang dikerjakan sesuai dengan kesempatan dan
kemampuan yang ada. Contohnya: Pemberantasan tindak pidana pencurian oleh aparat kepolisian,
tentu saja kepolisian, tidak bisa memberantas pencurian semuanya, namun kepolisian harus tetap
menjalankan tugasnya semaksimal mungkin.

12.

Bagi mereka ada hak seperti hak-hak yang ada pada kita dan terhadap mereka dibebani
kewajiban seperti beban kewajibn terhadap kita

Kaidah di atas menegaskan adanya persamaan hak dan kewajiban di antara sesama warga,
meskipun mereka berbeda warna kulit, bahasa, dan budaya serta kekayaannya. Ulama
menggunakan kaidah di atas dalam konteks hubungan antar warga Negara muslim dan dzimmi
(kafir dzimmi). Mereka berkedudukan sama di hadapan penguasa dan hukum. Contohnya: Mau
dia kaya, miskin, atau pun pejabat yang bertempat tinggal di Indonesia apabila dia melakukan
pencurian atau pembunuhan maka dia dikenai hukuman yang berlaku.

F. KAIDAH-KAIDAH FIQH YANG KHUSUS DI BIDANG FIQH QADHA (PERADILAN


DAN HUKUM ACARA)

Lembaga peradilan pada masa Umar bin Khatab dibagi menjadi peradilan perdata yang
dipegang oleh petugas khusus dan pidana yang tetap dipegang oleh khalifah atau penguasa daerah.
Masa khalifah Abasiyah dibentuk wilayah al mazhalim yang bertugas mengadili pejabat yang
zalim, saat ini disebut Peradilan Tata Usaha Negara. Kemudian lahir dewan hisbah yang saat ini

26
dikenal dengan peradilan pidana. Berkaitan dengan hal tersebut terdapat pembidangan fiqh yang
dibedakan sebagai berikut:

1. Fiqh ahwal al-syakhsiyah dan muamalah yang ditangani peradilan perdata.


2. Fiqh ahwal al-syakhsiyah dan waqaf yang ditangani peradilan agama.
3. Fiqh Jinayah yang ditangani peradilan pidana.
4. Fiqh Siyasah yang ditangani oleh peradilan tata usaha negara.

Kaidah-kaidah fiqh pada bidang ini:

1.

Hukum yang diputuskan oleh hakim dalam masalah-masalah ijtihad menghilangkan perbedaan
pendapat

Kaidah ini sesungguhnya berlaku untuk semu pemegang kekuasaan, tetapi menurut al-Qurafi ini
hanya berlaku di bidang peradilan. Maksud kaidah ini adalah jika seorang hakim mengalmi
perbedaan pendapat di kalangan ulama, kemudian dia mentarjih salah satu pendapat, maka
keputusannya harus diterima. Tidak boleh ada yang menolak karena alasan perbedaan pendapat,
dengan syarat bahwa keputusan tersebut sesuai dengan syariat.

2.





Membelanjakan harta atas perintah hakim seperti membelanjakan harta atas perintah pemilik

Maksud dari kaidah ini adalah bahwa keputusan hakim dalam pengadilan wajib ditaati. Termasuk
dalam hal menyita harta. Contoh: keputusan hakim untuk menyuruh koruptor mengembalikan
harta yang diambilnnya sama dengan perintah negara selaku pemilik harta tersebut.

3.

27
Kesalahan seorang hakim ditanggung oleh Bait al-mal

Seorang hakim yang dengan tidak sengaja melakukan kesalah dalam mengambil keputusan
sehingga menyebabkan dia menanggung kerugian harta, maka kerugian tersebut ditanggung oleh
bait al mal (negara). Karena hakim disini merupakan wakil negara. Contoh: hakim memutus A
bersalah kemudian ternyata terbukti A tidak bersalah, kemudian A menuntuk hakim membayar
kerugian maka jumlah yang harus dibayarkkan tersebut ditanggung negara.

Kaidah ini juga menunjukkan bahwa hakim harus berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Macam-macam kesalahan hakim:

a. Salah dalam hokum, yaitu bertentangan dengan nash.


b. Salah dalam sebabnya hokum, seperti mengambil dari pembuktian palsu.
c. Salah dalam prosedur, seperti sesuatu yang seharusnya diputuskan dalam majelis tetapi
kemudian diputuskan sendiri.

Apabila kesalahan seperti diatas yang dilakukan oleh hakim maka kerugian yang diderita hakim
tidak ditanggung oleh negara.

4.

Bukti wajib diberikan oleh yang menggugat dan sumpah wajib diberikan oleh yang
mengingkari

Maksud dari kaidah ini bahwa seseorang yang menggugat orang lain maka wajib abginya
menyertakan bukti. Orang yang digugat dapat menolak atau mengingkarinya tetapi diwajibkan
untuk bersumpah, hal ini untuk menghindari adanya dusta dari si tergugat.

5,

Bukti adalah hujjah (alasan hukum) berdampak kepada orang lain, sedangkan pengakuan
adalah hujjah yang hanya berlaku kepada orang yang mengakuinya saja.

28
Pengakuan adalah pernyataan dari sesorang yang menyatakan tentang adanya ha orang lain pada
dirinya. Sedangkan bukti adalah sesuatu yang menjelaskan kebenaran. Maksud kaidah ini adalah
bahwa suatu kasus yang dibuktikan dengan alat bukti maka alat bukti itu dapat melibatkan orang
lain seperti saksi atau keterangan ahli. Sedangkan pengakuan hanya melibatkan dirinya sendiri.
Contoh; seseorang yang mengaku berzina, maka pengakuan itu hanya berlaku untukya. Sesorang
yang diakuinya berzina tidak dapat dilibatkan ketika dia menyangkal dan tidak ada bukti lain yang
mendukung.

6.

Pertanyaan itu terulang dalam jawaban

Maksudnya adalah bahwa hokum dari jawaban itu terletak pada soalnya. Contoh: hakim bertanya
pada seseorang apakah kamu telah menalak istrimu? dan dia menjawab iya. Maka bagi istrinya
telah berlaku hokum talak.

7.

orang yang dipercaya perkataannya dibenarkan dengan sumpah

Orang yang ingin melepaskan diri dari tuduhan maka agar dapat dipercaya ia harus bersumpah.
Contoh: orang yang meminjaman barang menggungat peminjam belum mengembalikan.
Sedangkan si peminjam mengatakan sudah mengembalikan. Maka untuk membenarkan
perkataannya, dia harus bersumpah.

8.

tidak bias dijadikan hujjah keterangan yang bertentangan, akan tetapi keputusan hakim tetap
berlaku

29
Hal ini berkaitang dengan keternagann saksi yang saling bertentangan di pengadilan. Tetapi dalam
hal ini keputusan hakim tetap berlaku dan tidak dapat dirusak dengan keterangan saksi-saksi yang
bertentangan.

9.

Seseorang dituntut karena pengakuannya

Pengakuan yang diucapkan sesorang maka akan mengikat padanya dan harus
dipertanggungjawabkan. Contoh: sesorang yang menjual rumah dengan kredit maka wajib
menyerahkan rumah tersebut pada pembelinya meskipun belum dibayar lunas.

10.

tidak dapat dijadikan hujjah (alasan) dengan adanya kemungkinan yang timbul dari suatu
petunjuk

Dalil merupakan pegangan pokok dalam mengambil keputusan. Tetapi ketika dalil mengandung
kemungkinan penyimpangan dari maksudnya maka dalail tersebut tidak dapat dijadikan sebagai
dasar keputusan. Contoh: keluarga tergugat tidak dapat dijadikan saksi karena ada kemungkinan
memberikan keterangan palsu.

11.

perdamaian di antara kaum muslimin adlaah boleh kecuali perdamaian yang mengharamkan
yang halal dan menghalalkan yang haram

Kaidah inilah yang digunakan hakim untuk mendamaikan penggungat dan tergugat.

30
12.

apa yang diucapkan dengan bukti-bukti yang adil seperti yang ditetapkan berdasarkan
kenyataan

13.

dari mana kamu dapatkan itu

Hal ini berarti tersangka harus dapat membuktikan asal hartanya bukan dari kegiatan haram seperti
mencuri.

REFERENSI

Djazuli, A. 2014. Kaidah-kaidah fikih kaidah-kaidah hokum Islam dalam menyelesaikan masalah-
masalah yang praktis. Kencana

Helim, Abdul. 2012. Kumpulan Kaidah Fikih tentang Siyasah/Politik/Kekuasaan..


(http://ushulfikih.blogspot.co.id/2012/09/kumpulan-kaidah-ikih-tentang-siyasah-politik-
kekuasaan.html diakses 7 Mei 2015)

Permana, Sidiq. 2016. Kaidah-kaidah Khusus Di Bidang Ibadah Mahdhah (http://kaidah-


fiqiyah.blogspot.co.id/2016/01/kaidah-kaidah-khusus-di-bidang-ibadah.html diakses
tanggal 19 April 2016 pukul 20.17)

Zarkasi, Ahmad. 2013. Kaidah-Kaidah Fikih Tentang Ahwal Asy-Syakhshiyyah.


(http://ahmadzarkasyi-blog.blogspot.co.id/2014/07/kaidah-kaidah-fikih-tentang-ahwal-
asy.html diakses tanggal 19 April 2016 pukul 20.17)

http://www.stainkerinci.ac.id/sites/default/files/Kaidah-kaidah%20fikih.pdf

31