Anda di halaman 1dari 22

DASAR TEORI

IMUNISASI BCG

A. PENGERTIAN

Vaksin BCG adalah vaksin hidup yang berasal dari bakteri. Vaksin
BCG adalah vaksin beku kering seperti campak berbentuk bubuk. Vaksin
BCG melindungi anak terhadap penyakit tuberculosis (TBC). Vaksin dibuat
dari bibit penyakit hidup yang telah dilemahkan, ditemukan oleh Calmett
Guerint ( 1996 ). Sebelum menyuntikkan BCG, vaksin harus lebih dulu
dilarutkan dengan 4 cc cairan pelarut (NaCl 0,9%). Vaksin yang sudah
dilarutkan harus digunakan dalam waktu 3 jam. Vaksin akan mudah rusak
bila kena sinar matahari langsung.

B. TUJUAN

Untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit tubercolosis ( TBC
). Ketahanan terhadap penyakit TB (Tuberkulosis) berkaitan dengan
keberadaan virus tubercel bacili yang hidup di dalam darah. Itulah mengapa,
agar memiliki kekebalan aktif, dimasukkanlah jenis basil tak berbahaya ke
dalam tubuh, alias vaksinasi BCG (Bacillus Calmette Guerin).

C. KEKEBALAN

Memberikan daya proteksi imunisasi BCG yaitu 85 %.

D. USIA DAN JUMLAH PEMBERIAN

Pemberian vaksin BCG cukup 1 kali, karena vaksin BCG berisi kuman
hidup sehingga antibodi yang terbentuk akan memiliki kualitas yang sama
dengan yang terinfeksi secara alami. Oleh karena itu, antibodi yang
dihasilkan melalui vaksinasi sudah tinggi. Berbeda dari vaksin yang berisi
kuman mati, umumnya memerlukan booster atau pengulangan.Kelompok
umur yang rentan terserang TB adalah usia balita, terutama usia kurang dari 1
tahun. Hal ini disebabkan anak umumnya punya hubungan erat dengan
penderita TB dewasa, seperti dengan ibu, bapak, nenek, kakek, dan orang lain
yang serumah. Karena itulah, vaksin BCG sudah diberikan kepada anak sejak
berusia kurang dari 1 tahun, yaitu usia 2 bulan. Di usia ini sistem imun tubuh
anak sudah cukup matang untuk mendapat vaksin BCG. Namun, bila ada
anggota keluarga yang tinggal serumah atau kerabat yang sering berkunjung
ke rumah menderita TB, maka ada baiknya bayi segera diimunisasi BCG
setelah lahir.
Bila umur bayi sudah terlewat dari 2 bulan, sebelum dilakukan vaksinasi
hendaknya jalani dulu tes Mantoux (tuberkulin). Gunanya untuk mengetahui,
apakah tubuh si anak sudah kemasukan kuman Mycobacterium tuberculosis
atau belum. Vaksinasi BCG dilakukan apabila tes Mantoux negatif.

E. LOKASI PENYUNTIKAN

Yang dianjurkan oleh WHO adalah di lengan kanan atas. Cara
menyuntikkannya pun membutuhkan keahlian khusus karena vaksin harus
masuk ke dalam kulit. Bila dilakukan di paha, proses menyuntikkannya lebih
sulit karena lapisan lemak di bawah kulit paha umumnya lebih tebal. Para
orangtua juga tak perlu khawatir dengan luka parut yang bakal timbul di
lengan, karena umumnya luka parut tersebut tidaklah besar. Jadi tidak akan
merusak estetika keindahan lengan anak kelak.

F. PERSIAPAN ALAT

1. Persiapan Alat
Spuit dan jarum
Kapas hangat
KMS / Kartu Imunisasi
Bubuk kering dan pelarut
2. Persiapan vaksin BCG
Pastikan terlebih dahulu labelnya
Ambilkan pelarut BCG dengan spuit dn larutkan BCG
Ambil spuit omega, ambilkan vaksin sebanyak 0,05 ml
3. Persiapan Klien
Bayi digendong atau di pangku ibunya

G. PELAKSANAAN

1. Tempat yang akan disuntik lengan atas diotot deltoid
2. Disenfeksi daerah tempat penyuntikan dengan kapas DTT
3. Regangkan kulit dengan ibu jari dan jari telunjuk dengan jari atau lengan
yang tidak dominan,
4. Tusukkan jarum kedalam kulit dengan lubang jarum menghadap keatas
dan jarum dengan permukaan kulit membentuk sudut 15-20
o
.
5. Kulit agak diangkat ke atas sampai muncul gelembung di tempat
penyuntikkan.
6. Hapus darah didaerah bekas penyuntikkan dengan kapas jering tanpa
melakukan massase.

H. EFEK SAMPING

1. Reaksi normal
Bakteri BCG ditubuh bekerja dengan sangat lambat. Setelah 2 minggu
akan terjadi pembengkakan kecil merah di tempat penyuntikan dengan
garis tengah 10 mm.
Setelah 2 3 minggu kemudian, pembengkakan menjadi abses kecil yang
kemudian menjadi luka dengan garis tengah 10 mm, jangan berikan obat
apapun pada luka dan biarkan terbuka atau bila akan ditutup gunakan kasa
kering. Luka tersebut akan sembuh dan meninggalkan jaringan parut
tengah 3-7 mm.
2. Reaksi berat
Kadang terjadi peradangan setempat yang agak berat atau abses yang lebih
dalam, kadang juga terjadi pembengkakan di kelenjar limfe pada leher /
ketiak, hal ini disebabkan kesalahan penyuntikan yang terlalu dalam dan
dosis yang terlalu tinggi.
3. Reaksi yang lebih cepat
Jika anak sudah mempunyai kekebalan terhadap TBC, proses
pembengkakan mungkin terjadi lebih cepat dari 2 minggu, ini berarti anak
tersebut sudah mendapat imunisasi BCG atau kemungkinan anak tersebut
telah terinfeksi BCG.

I. KONTRA INDIKASI

1. Praktis tidak ada
2. Kurunkulosis
3. Eksim berat
4. Gangguan kekebalan

J. DAFTAR PUSTAKA

Otck, George. 1995. Imunisasi dalam Praktek. Jakarta : Hipokrates.
Stace, John dan bidduliph. 1999. Kesehatan anak untuk perawat. Petugas
penyuluhan kesehatan dan bidan didesa. Jogjakarta : Yayasan Essentia
Medica.





DASAR TEORI
IMUNISASI DPT-HB

A. PENGERTIAN

Imunisasi DPT combo adalah gabungan antara imunisasi DPT dan Hepetitis
B sedangkan pengertian dari masing-masing imunisasi antara lain :
a. DPT adalah imunisasi sebagai usaha mendapatkan kekebalan terhadap
penyakit difteri, pertusis ( batuk rejan ) dan tetanus yang merupakan
kekebalan aktif yang diperoleh dalam waktu bersamaan. Difteri adalah
suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat
menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal.
Pertusis (batuk rejan) adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang
ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang
melengking. Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat
menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas,
makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius,
seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak. Tetanus adalah infeksi
bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang.
b. Hepatits B; menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit hepatits B,
diberikan sedini mungkin setelah bayi lahir. Bibit penyakit yang
menyebabkan hepatitis B adalah virus. Vaksin hepatitis B dibuat dari
bagian virus yaitu lapisan paling luar (mantel virus) yang telah mengalami
proses pemurnian. Vaksin hepatitis B akan rusak karena pembekuan dan
pemanasan. Vaksin hepatitis B paling baik disimpan pada temperatur
2,8C.

B. INDIKASI
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, tetanus dan
pertusis dan hepatitis B.

C. CARA PEMBERIAN
1. Pemberian dengan cara IM 0,5 ml sebanyak 3 dosis
2. Dosis pertama pada usia 2 bulan, dosis selanjutnya dengan interval 4
minggu
3. Di unit pelayanan, vaksin DPT-HB yang telah dibuka hanya boleh
digunakan selama 4 minggu dengan ketentuan :
Vaksin belum kadaluarsa
Vaksin disimpan dalam suhu 2
o
C 8
o
C.
Tidak terendam air
Sterilisasinya terjaga
4. Diposyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk
hari berikutnya.

D. USIA DAN JUMLAH PEMBERIAN

Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2
bulan (DPT I), 3 bulan (DPT II) dan 4 bulan (DPT III); selang waktu tidak
kurang dari 4 minggu. Imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun setelah DPT III
dan pada usia prasekolah (5-6 tahun). Jika anak mengalami reaksi alergi
terhadap vaksin pertusis, maka sebaiknya diberikan DT, bukan DPT. Setelah
mendapatkan serangkaian imunisasi awal, sebaiknya diberikan booster vaksin
td pada usia 14-16 tahun kemudian setiap 10 tahun (karena vaksin hanya
memberikan perlindungan selama 10 tahun, setelah 10 tahun perlu diberikan
booster). Hampir 85% anak yang mendapatkan minimal 3 kali suntikan yang
mengandung vaksin difteri, akan memperoleh perlindungan terhadap difteri
selama 10 tahun.

E. PERSIAPAN
1. Persiapan alat :
Spuit dan jarum
Kapas air hangat DTT
KMS / Kartu Imunisasi
Tempat sampah
2. Persiapan vaksin DPT
Pastikan terlebih dahulu labelnya, kocok endapan sampai homogeny
Cara mengisi spuit DPT-HB
a. Buka tutup label. Usap karet penutup dengan kapas basah
b. Ambil spuit 2 cc / spuit khusus DPT combo, ambil vaksin 0,5 cc
c. Cabut jarum dari flakon, spuit ditegakkan, luruskan untuk melihat
gelembung udara, gelembung dibuang.
d. Gunakan spuit dan jarum disposable.
3. Persiapan Klien
Bayi dipangku ibu
Tangan kiri ibu merangkul bayi, menyangga bahu dan memegang
paha kiri bayi

F. PELAKSANAAN
1. Tempat penyuntikkan yang baik adalah dip aha bagian sebelah luar
2. Letakkan ibu jari dan telunjuk pada posisi yang akan disuntik
3. Pegang lah otot paha diantara jari-jari telunjuk dan ibu jari
4. Disenfeksi lokasi penyuntikkan dengan kapas DTT
5. Tusukkan jarum secara IM 90
o

6. Lakukan aspirasi, pastikkan tidak menganai pembuluh darah
7. Dorong pangkal plakon dangan ibu jari untuk memasukkan vaksin
8. Cabut jarum
9. Tekan bekas penyuntikkan denga kapas DTT

G. EFEK SAMPING
1. Panas
Kebanyakan anak akan menderita panas pada sore hari setelah mendapat
imunisasi DPT, tapi panas ini akan sembuh dalam 1 2 hari. Anjurkan
agar jangan dibungkus dengan baju tebal dan dimandikan dengan cara
melap dengan air yang dicelupkan ke air hangat.
2. Rasa sakit di daerah suntikan
Sebagian anak merasa nyeri, sakit, kemerahan, bengkak.
3. Peradangan
Bila pembengkakan terjadi seminggu atau lebih, maka hal ini mungkin
disebabkan peradangan, mungkin disebabkan oleh jarum suntik yang
tidak steril karena:
Telah tersentuh,
Sebelum dipakai menyuntik jarum diletakkan diatas tempat yang
tidak steril,
Sterilisasi kurang lama,
Pencemaran oleh kuman.
4. Kejang-kejang
Reaksi yang jarang terjadi sebaliknya diketahui petugas, reaksi
disebabkan oleh komponen dari vaksin DPT.

H. HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN

1. Pemberian vaksin 3 kali dengn dosis 0,5 cc dengan interval 4 minggu
secara IM
2. Vaksisn yang digunakan tidak beku
3. Jika vaksin tersisa harus dibuang

I. DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer, Arip. 2010. Kapita Selekta Kedokteran 2. Jakarta : Medika
Aesculapius.
Wahab, Semik. 2002. Sistem Imun, Imunisasi dan Penyakit Imun. Jakarta :
Widya Medika


IMUNISASI POLIO

A. PENGERTIAN

Imunisasi polio dapat diberikan secara oral ( OPV ) maupun suntikan ( IPV ).
Vaksin rutin digunakan sejak bayi lahir sebagai dosis awal. Bibit penyakit
yang menyebabkan polio adalah virus, vaksin yang digunakan oleh banyak
negara termasuk Indonesia adalah vaksin hidup, berbentuk cairan. Penyakit
poliomyelitis adalah penyakit yang disebabkan oleh virus polio. Virus polio
sangat menular, disebarkan melalui makanan atau dari mulut ke mulut.
Penyakit polio menimbulkan kelumpuhan anggota badan bagian bawah pada
anak. Polio juga bisa menyebabkan peradangan pada selaput otak. Dan
imunisasi polio dapat mencegah penyakit poliomyelitis.

B. TUJUAN

Memicu antibody dalam darah sehingga menghasilkan pertahanan lokal
terhadap virus polio liar.

C. USIA DAN JUMLAH PEMBERIAN

Imunisasi polio wajib diberikan yaitu pada saat anak lahir dan selanjutnya
diberikan tiga dosis berturut-turut dengan jarak 6-8 minggu. Jenis vaksinasi
polio dibagi menjadi dua polio hidup yang diberikan lewat mulut (OPV) dan
vaksin polio mati yang disuntikkan (IPV). Tetapi vaksin polio yang
dianjurkan adalah polio hidup yang diberikan melalui mulut dengan dosis 2
tetes ( 0,1 ml ), bila dalam 10 menit di muntahkan, maka dosis tersebut perlu
di ulang. Imunisasi polio yang disuntikkan diberikan 0,5 ml subkutan dalam
tiga kali pemberian berturut-turut dalam jarak 2 bulan masing-masing dosis.
Perlindungan mukosa selaput usus yang ditimbulkan IPV lebih rendah
daripada OPV.

D. PERSIAPAN
1. Persiapan alat
Handscoon
Vaksin polio
Pipet plastic
Pinset
Bengkok

E. PELAKSANAAN
1. Mengucapkan salam
2. Mencuci tangan
3. Membuka tutup karet plakon vaksin polio
4. Memasang pipet plastic pada plakon
5. Mengatur posisi bayi
6. Membuka mulut bayi dengan menggunakan 2 jari
7. Meneteskan vaksin polio langsung dari pipet kedalam mulut sebanyak 2
tetes.
8. Merapikan bayi
9. Memberikan penjelasan sehubungan dengan hasil imunisasi dan efek
samping imunisasi.
10. Memberi tahu jadwal imunisasi selanjutnya
11. Merapikan alat
12. Mencuci tangan
13. Melakukan dokumentasi

F. EFEK SAMPING
Seperti sediaan obat lainnya, vaksin polio berisiko menimbulkan efek
samping baik ringan maupun berat, namun resiko ini sangat kecil
dibandingkan dengan jika menderita poliomyelitis. Setelah pemberian vaksin
dapat mengalami gejala pusing, diare ringan, dan nyeri otot, namun sangat
jarang. Bila anak sedang diare ada kemungkinan vaksin tidak bekerja dengan
baik karena ada gangguan penyerapan vaksin oleh usus akibat diare berat.
Selain itu efek samping yang mungkin terjadi adalah dapat berupa kejang-
kejang, tetapi kemungkinan tersebut sangat kecil untuk terjadi. Pada kasus
poliomyelitis yang berkaitan dengan vaksin pernah dilaporkan 1 dari 2,5 juta
vaksin. Lumpuh layu setelah vaksin ini terjadi 4-30 hari setelah pemberian
OPV dan 4-75 hari setelah kontak dengan penerima OPV. Hubungi dokter
jika ada keluhan yang berat seperti demam tinggi dan gangguan prilaku atau
tanda reaksi berat seperti sesak nafas, dan pusing sampai pingsan.

G. KONTRA INDIKASI

Vaksin polio oral tidak boleh diberikan dalam keadaaan :
1. Ineksi HIV atau kontak dengan HIV serumah
2. Keadaan kekebalan tubuh yang rendah atau tinggal serumah dengan
pasien yang memiliki kekebalan tubuh rendah seperti : terapi steroid
jangka panjang, penyakit kanker, dakam kemoterapi.
3. Muntah atau diare berat, pemberian vaksin ditunda.

Vaksin polio suntik tidak boleh diberikan dalam keadaan :
1. Adanya alergi terhadap neomisin, streptomisin dan polimiksin-B

H. DAFTAR PUSTAKA

Muslihatun, Wafi Nur. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta :
Fitramaya.





DASAR TEORI
IMUNISASI HEPATITIS B

A. PENGERTIAN

Vaksin hepatitis B adalah vaksin virus recombinant yang telah dimatikan dan
bersifat reninfactorie / non-infecious, berasal dari HBsAg yang dihasilkan
dalam sel ragi (Hansenula polymorpha) menggunakan teknologi DNA
rekombinan. (vademecum Bio Farma Jan 2002). Hepatitis B (penyakit
kuning) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis B yang merusak
hati. Penyakit ini bisa menjadi kronis dan menimbulkan pengerasan hati
(Cirrhosis Hepatis), kanker hati (Hepato Cellular Carsinoma) dan
menimbulkan kematian. Infeksi pada anak biasanya tidak menimbulkan
gejala.
Kemasan:
Vaksin hepatitis B adalah vaksin yang berbentuk cairan.
Vaksin hepatitis B terdiri dari dua kemasan:
- kemasan dalam prefiil injection device (PID)
- kemasan dalam vial
Satu box vaksin hepatitis B PID terdiri dari 100 HB PID.
Satu box vaksin hepatitis B vial terdiri dari 10 vial @ 5 dosis masing-
masing

B. TUJUAN
Untuk mendapatkan kekebalan aktif terhadap penyakit hepatitis B. Pemberian
vaksin bagi bayi pada awal masa kehidupannya sangat penting untuk
mencegah berbagai penyakit berbahaya. Salah satu yang paling penting
untuk diberikan adalah vaksinasi hepatitis B. Dari pengidap hepatitis kronik
yang berada di masyarakat, sekitar 90 persen di antaranya mengalami infeksi
mereka masih bayi. Infeksi dari ibu yang mengidap virus hepatitis bisa
terjadi sejak masa persalinan hingga bayi mencapai usia balita Penularan
virus Hepatitis B pada bayi bukan didapat dari darah bayi yang terhubung
kepada ibu melalui plasenta bayi atau dari air susu ibu . Tapi bisa terjadi saat
persalian atau juga ketika menyusui di mana terjadi kontak antara luka kecil
pada puting susu ibu dengan mulut bayi. Untuk mencegah penularan ini,
setiap bayi diwajibkan mendapat vaksin hepatitis B pada usia 0-7 hari.

C. EFEKTIVITAS VAKSIN
Pemberian 3 dosis vaksin Hepatitis B secara intramuskluar menginduksi
respon antibodi protektif pada lebih dari 90% dewasa sehat yang berusia
kurang dari 40 tahun. Setelah berusia 40 tahun, imunitas berkurang dibawah
90%, dan saat berusia 60 tahun hanya 65-76% vaksin yang mempunyai efek
proteksi terhadap infeksi virus Hepatitis B. Meskipun faktor pejamu lainnya
seperti merokok, obesitas, infeksi HIV, dan penyakit kronik menyebabkan
imunogenisitas vaksin yang rendah, tetapi usia merupakan factor determinan
terpenting.

D. JADWAL PEMBERIAN
o Saat lahir :
HB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada
umur 1 dan 6 bulan. Apabila status HbsAg-B ibu positif, dalam waktu 12
jam setelah lahir diberikan HBlg 0,5 ml bersamaan dengan vaksin HB-1.
Apabila semula status HbsAg ibu tidak diketahui dan ternyata dalam
perjalanan selanjutnya diketahui bahwa ibu HbsAg positif maka masih
dapat diberikan HBlg 0,5 ml sebelum bayi berumur 7 hari.
o 1 bulan :
Hb-2 diberikan pada umur 1 bulan, interval HB-1 dan HB-2 adalah 1
bulan.
o 6 bulan :
HB-3 diberikan umur 6 bulan. Untuk mendapatkan respons imun
optimal, interval HB-2 dan HB-3 minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan

E. CARA PENULARAN
1. Vertikal
Penularannya langsung dari ibu ke anak pada kehamilan/persalinan
dan pasca persalinan.
2. Horizontal
Penularannya dari orang sakit ke orang yang sehat. Virus Hepatitis B
dapat ditransmisikan dengan efektif melalui cairan tubuh, perkutan,
dan melalui membran mukosa. Penularan yang lebih rendah dapat
terjadi melalui kontak dengan karier Hepatitis B, hemodialisis,
paparan terhadap pekerja kesehatan yang terinfeksi, alat tato, alat
tindik, hubungan seksual, dan inseminasi buatan. Selain itu penularan
juga dapat terjadi melalui transfusi darah dan donor organ. Hepatitis B
dapat menular melalui pasien dengan HBsAg yang negatif tetapi anti-
HBc positif, karena adanya kemungkinan DNA virus Hepatitis B yang
bersirkulasi, yang dapat dideteksi dengan PCR (10-20% kasus).Virus
Hepatitis B 100 kali lebih infeksius pada pasien dengan infeksi HIV
dan 10 kali lebih infeksius pada pasien Hepatitis C. Adanya HBeAg
yang positif mengindikasikan risiko transmisi virus yang tinggi.

F. DOSIS DAN CARA PEMBERIAN
1. Pemberian sebanyak 3 dosis
2. Dosis pertama diberikan pada usia 0-7 hari, dosis berikutnya dengan
interval minimal 4 minggu ( 1 bulan )
3. Vaksin disuntikkandengan dosis 0,5 ml, pemberian secara IM, sebaiknya
pada antero lateral / paha.
4. Sebelum digunakan vaksin harus dikocok dengan memegang botol
terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen. Buka kantong aluminium
/ plastic dan keluarkan alat suntik PID.
5. Pegang alat suntik PID pada leher dan tutup jarum dengan memegang
keduanya diantara jari telunjuk dan jempol dengan gerakan cepat dorong
tutup jarum kearah leher. Dorong sampai tidak ada jarak antara tutup
jarum dan leher.
6. Buka tutup jarum, tetap pasang alat suntik pada bagian leher dan tusukkan
jarum pada antero lateral paha secara IM ( tidak perlu aspirasi ).
7. Pijat reserrior dengan kuat untuk menyuntik setelah reservoir kempis,
cabut alat suntik.

G. KONTRA INDIKASI
Hipersensitif terhadap komponen vaksin. Sama halnya seperti vaksin-vaksin
lain, vaksin ini tidak boleh diberikan kepada penderita infeksi berat disertai
kejang.

H. EFEK SAMPING
Reaksi lokal seperti rasa sakit, kemerahan dan pembengkakan di sekitar
tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan biasanya hilang
setelah 2 hari. Imunisasi hepatitis B juga dapat menggunakan vaksin DPT-HB
atau biasa disebut dengan combo.

I. DAFTAR PUSTAKA
Depkes, RI . 1993. Asuhan Kesehatan Anak dalam Konsep Keluarga,
Cetakan II. Jakarta
Muslihatun, Wafi Nur. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta :
Fitramaya
Achmadi, Umar Fahmi. 2006. Imunisasi Mengapa Perlu?. Jakarta: PT
Kompas Media Indonesia.




DASAR TEORI
IMUNISASI CAMPAK

A. PENGERTIAN

Imunisasi yang diberikan untuk kekebalan aktif terhadap penyakit campak.
Vaksin ini mengandung virus campak hidup yang dilemahkan. Freeze Died
adalah sediaan dalam bentuk serbuk kering yang kemudian dilarutkan. Nama
paten dari vaksin campak adalah virus trimbax dan vaksin MMR ( Measles.
Mumps, Rubella, Vaceint ). Kemasan dalam flacon berbentuk gumpalan yang
beku dan kering untuk dilarutkan dalam 5 cc pelarut. Sebelum menyuntikkan
vaksin ini, harus terlebih dahulu dilarutkan dengan pelarut vaksin (aqua
bidest). Disebut beku kering oleh karena pabrik pembuatan vaksin ini pertama
kali membekukan vaksin tersebut kemudian mengeringkannya. Vaksin yang
telah dilarutkan potensinya cepat menurun dan hanya bertahan selama 8 jam.

B. TUJUAN

Mendapatkan kekebalan terhadap penyakit campak secara aktif dan
sebaiknya diberikan pada usia 9-11 bulan. Sebenarnya bayi sudah
mendapatkan kekebalan campak dari ibunya. Namun seiring bertambahnya
usia, antibodi dari ibunya semakin menurun sehingga butuh antibodi
tambahan lewat pemberian vaksin campak. Apalagi penyakit campak mudah
menular, dan mereka yang daya tahan tubuhnya lemah gampang sekali
terserang penyakit yang disebabkan virus Morbili ini. Untungnya campak
hanya diderita sekali seumur hidup. Jadi, sekali terkena campak, setelah itu
biasanya tak akan terkena lagi.

C. PERSIAPAN

1. Persiapan Vaksin
Cek label plakon kasian
Buka ampul / plakon yang diperlukan, sedot dalam pelarut spuit 1 cc.
Masukkan pelarut dalam vaksin campak kocok sampai homogeny.
Spuit untuk aplus vaksin, tidak digunakan untuk menyuntik
2. Persiapan Bayi
Dudukan bayi di pangkuan ibu
Lengan kanan bayi dilipat diketiak ibu
Ibu menopang kepala bayi
Tangan kiri ibu memegang tangan kiri bayi
3. Mengisi Spuit
Ambil spuit 1 cc yang telah tersedia
Bersihkan tutup karet yang akan digunakan dengan kapas lembab
Isap 0,5 cc vaksin kedalam spuit
Spuit ditegakluruskan untuk melihat adanya gelembung udara, vaksin
segera diberikan

D. KEKEBALAN

Memberikan daya proteksi imunisasi campak sangat tinggi yaitu 96 % - 99 %.

E. USIA DAN JUMLAH PEMBERIAN

Sebanyak 2 kali; 1 kali di usia 9 bulan, 1 kali di usia 6 tahun. Dianjurkan,
pemberian campak ke-1 sesuai jadwal. Selain karena antibodi dari ibu sudah
menurun di usia 9 bulan, penyakit campak umumnya menyerang anak usia
balita. Jika sampai 12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak, maka
pada usia 12 bulan harus diimunisasi MMR (Measles Mump Rubella).

F. PELAKSANAAN

1. Tempat yang akan disuntikkan adalah lengan atas
2. Disenfeksi daerah tempat penyuntikkan
3. Jepitlah lengan yang akan disuntikkan dengan jari-jari
4. Masukkan jarum kedalam kulit dengan sudut 45
o

5. Tekan pistonnya. Perlahan-lahan dengan vaksin sebanyak 0,5 cc
6. Cabut jarum dengan segera setelah vaksin habis dan tekan bekas
suntikkan.

G. PENULARAN

Penularan campak terjadi lewat udara atau butiran halus air ludah (droplet)
penderita yang terhirup melalui hidung atau mulut. Pada masa inkubasi yang
berlangsung sekitar 10-12 hari, gejalanya sulit dideteksi. Setelah itu barulah
muncul gejala flu (batuk, pilek, demam), mata kemerahabn dan berair, si
kecilpun merasa silau saat melihat cahaya. Kemudian, disebelah dalam mulut
muncul bintik-bintik putih yang akan bertahan 3-4 hari. Beberapa anak juga
mengalami diare. satu-dua hari kemudian timbul demam tinggi yang turun
naik, berkisar 38-40,5 derajat celcius.
Seiring dengan itu barulah muncul bercak-bercak merah yang merupakan
ciri khas penyakit ini. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu
kecil. Awalnya haya muncul di beberapa bagian tubuh saja seperti kuping,
leher, dada, muka, tangan dan kaki. Dalam waktu 1 minggu, bercak-bercak
merah ini hanya di beberapa bagian tibih saja dan tidak banyak.
Jika bercak merah sudah keluar, umumnya demam akan turun dengan
sendirinya. Bercak merah pun akan berubah menjadi kehitaman dan bersisik,
disebut hiperpigmentasi. Pada akhirnya bercak akan mengelupas atau rontok
atau sembuh dengan sendirinya. Umumnya dibutuhkan waktu hingga 2
minggu sampai anak sembuh benar dari sisa-sisa campak.

H. EFEK SAMPING

Sangat jarang terjadi kejang kemungkinan kejang ringan dan tidak
berbahaya pada hari ke 10-12 setelah penyuntikkan
SPC ( subuole silencing panechepatitis )

I. KONTRA INDIKASI

Anak yang sakit parah
Anak yang menderita TBC tanpa pengobatan
Difesiensi gizi gangguan kekebalan
Penderitaan penyakit atau sedang dalam pengobatan

J. DAFTAR PUSTAKA

Buku Panduan Imunisasi Indonesia, Jilid II. 2005
Departement Kesehatan RI. 1993. Asuhan Kesehatan Anak dalam
Konsep keluarga.
Maslam. 1997. Imunisasi Edisi II. Jakarta : Ficus

















DASAR TEORI
IMUNISASI TT

A. PENGERTIAN

Imunisasi TT adalah proses untuk membangun kekebalan sebagai upaya
pencegahan terhadap infeksi tetanus. Vaksin tetanus yaitu toksin kuman
tetanus yang dilemahkan dan kemudian di murnikan.

B. TUJUAN

Untuk mencegah penyakit tetanus pada ibu dan bayi serta melindungi bayi
baru lahir dan kemungkinan terkena kejang akibat tetanus neonatorum.

C. MANFAAT

1. Melindungi bayi baru lahir dan tetanus neonatorum yang disebabkan oleh
clostridium tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin dan menyerang
sistem saraf pusat.
2. Melindungi ibu terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka
3. Meminimalkan angka kesakitandan kematian bayi.

D. JADWAL PEMBERIAN

Antigen
Selang Waktu
Maksimal
Lama
Perlindungan
Presentase
Perlindungan
TT
1
Saat pertama periksa Tidak ada Tidak ada
TT
2
4 mgg setelah TT
1
3 tahun 80 %
TT
3
6 bulan setelah TT
2
5 tahun 85 %
TT
4
1 tahun setelah TT
3
10 tahun 99 %
TT
5
5 tahun setelah TT
4

25 thn/seumur
hdp
99 %

Imunisasi TT sebaiknya diberikan sebelum 8 bulan untuk mendapatkan
imunisasi TT lengkap ( BkkBN ) 2005. TT dapat diberikan sejak diketahui
positif hamil dimana biasanya diberikan pada kunjungan pertama ibu hamil
kesarana kesehatan ( Depkes RI, 2000 ).

E. PERSIAPAN

1. Persiapan Alat :
Spuit dan jarum
Kapas DTT hangat
Kartu Imunisasi TT
Tempat sampah
2. Persiapan Vaksin
Pastikan vaksin dalam keadaan baik
3. Persiapan Klien
Klien duduk dan diberitahu tujuan dan tindakan yang akan di lakukan.

F. PELAKSANAAN

1. Mencuci tangan
2. Tempat penyuntikan yang baik adalah lengan atas pada tangan yang lebih
sedikit bekerja.
3. Letakkan ibu jari dan telunjuk pada posisi lokasi penyuntikkan
4. Peganglah otot lengan diantara jari-jari telunjuk dan ibu jari
5. Disenfeksi lokasi penyuntikkan dengan kapas DTT hangat
6. Tusukkan jarum secara IM 90
o
dengan dosis 0,5 cc
7. Lakukan aspirasi, pastikan tidak mengenai pembuluh darah
8. Dorong pangkal spuit dengan ibu jari dan memasukkan vaksin
9. Jarum dicabut, tekan bekas suntikkan dengan kapas
10. Mencuci tangan

G. EFEK SAMPING

Biasanya hanya gejala-gejala ringan saja yaitu reaksi lokal pada tempat
penyuntikkan berupa rasa nyeri, kemerahan dan pembengkakan. Efek
samping tersebut berlangsung 1-2 hari akan sembuh dengan sendirinya tanpa
tindakan / pengobatan.

H. DAFTAR PUSTAKA

BKKBN. 2005. Kartu Informasi KHIBA ( Kelangsungan Hidup Ibu Bayi dan
Anak Balita )
Ditjen PPN, PL, Depkes RI. 2000. Modul Latihan Petugas Imunisasi Edisi 7
Idanati Rukna. 2005. TT. Pregnancy.
Syaifuddin, dkk. 2011. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal. Jakarta : JNPKKR. POET.