Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH PRESENTASI KASUS GASTROINTESTINAL

BIDANG RESEPTIR

01 MARET 2013





Oleh

Kelompok: II
Kadek Dwi Setiawan B04080015
Fitria Apriliani B04080082
GPC Sarai Silaban B04080089
Ambar Hanum Melati R. B04080131
Andrio B04080167
Yohana Paula Prihatmi P. B04080182
Kholis Afidatunisa B04080192





PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2013



KASUS GASTRITIS PADA ANJING

Mahasiswa Program PPDH (Presenter) : Kadek Dwi Setiawan
Kelompok dan Angkatan : II PPDH Angkatan II

Pendahuluan
Seiring dengan meningkatnya populasi anjing di dunia, maka terjadi
peningkatan permasalahan kesehatan yang berkaitan dengan hewan ini. Salah satu
sistem tubuh yang sering mengalami gangguan adalah saluran pencernaan.
Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan saluran
pencernaan, yaitu pola pemberian pakan, infeksi bakteri maupun kelainan pada
hewan yang suka memakan benda asing. Beberapa penyakit yang bisa terjadi pada
saluran pencernaan diantaranya adalah esofagitis, ulkus lambung, gastritis, tumor
lambung, inflammatory bowel disease, dan tumor usus.
Gastritis merupakan penyakit saluran pencernaan yang umum menyerang
anjing. Secara umum manifestasi gejala klinis yang ditunjukkan adalah terjadinya
inflamasi pada lambung yang diikuti dengan gejala muntah. Gastritis juga
merupakan penyebab umum dari kejadian muntah pada anjing. Anjing akan
terlihat mengalami anoreksia dan penurunan berat badan dengan cepat. Dalam
keadaan normal, lambung merupakan tempat yang steril dan tidak dapat didiami
oleh bakteri, sehingga gastritis dapat dianggap sebagai faktor non infeksi. Namun,
berdasarkan hasil penelitian memperlihatkan bahwa beberapa bakteri dapat
berkembang dan bertahan pada lambung. Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa bakteri sejenis Helicobacter ssp. yang bersifat patogen berperan penting
pada beberapa penyakit gastrointestinal (Silitonga 2007). Penyebab umum dari
kejadian gastritis pada anjing dapat terjadi karena alergi makanan dan infeksi
bakteri. Penyebab lainnya yaitu mengkonsumsi obat secara berulang-ulang, agen
kimia (racun), atau memakan benda asing. Gastritis dapat terjadi pada semua usia
namun usia muda yang lebih dominan. Kasus gastritis yang terjadi secara terus
menerus dapat menyebabkan terjadinya ulser lambung hingga berdampak
terhadap adanya cekungan pada lapisan lambung, sehingga diperlukan tindakan
penanganan yang tepat untuk mengatasi gastritis (Steiner et al. 2008).
Tinjauan Pustaka
Gastritis adalah kondisi inflamasi pada mukosa lambung (Webb dan Twedt
2003). Gastritis dapat terjadi secara akut atau kronis. Gejala klinis gastritis adalah
muntah, anoreksia, dehidrasi, lethargi, depresi, rasa haus yang tinggi, melena,
hematemesis, dan nyeri abdomen. Gastritis akut terjadi kurang dari 24 jam.
Gastritis dapat terjadi karena makanan, benda asing, tumbuhan, paparan toksin,
jamur, bakteri, ataupun virus (Ward 2013).
Gastritis pada kasus ini terjadi akibat infeksi Helicobacter ssp. Bakteri ini
merupakan bakteri gram negatif, mikroaerofilik, bentuknya bisa spiral, batang
kecil, atau cocoid, motil, ukurannya 0,5 x 5-10 m, memiliki 16S rRNA, 23S
rRNA, DNA hibridasi, dan tidak bisa dilihat menggunakan mikroskop cahaya
tetapi dapat dilihat menggunakan mikroskop elektron. Bakteri jenis ini ditemukan
di dalam abdomen, saluran pencernaan dan hati pada beberapa spesies hewan
(Neiger dan Simpson 2000). Di dalam saluran pencernaan, bakteri ini berada di
antara lapisan mukus bawah, tepatnya di antara mukus dengan epitel mukosa
lambung (Webb dan Twedt 2003). Infeksi Helicobacter ssp. merupakan salah satu
jenis infeksi bakteri yang sering ditemukan di seluruh dunia, terutama di negara-
negara berkembang dimana prevalensi kejadian meningkat secara cepat karena
faktor lingkungan. Secara umum bakteri ini bukan merupakan organisme
komensal, melainkan berhubungan dengan reaksi inflamasi kronik pada lambung.
Helicobacter ssp. merupakan organisme yang sangat tinggi keberadaannya
di anjing dan kucing, sekitar 86% di kucing dan 100% di anjing. Bakteri dapat
ditularkan melalui satu hewan ke hewan lainnya melalui feses dan pakan yang
terkontaminasi sehingga jumlah kasus ini tinggi pada anjing dan kucing yang
berada di shelter/koloni (Silitonga 2007). Pemberian antibiotik pada hewan yang
sakit atau respon imun yang protektif dapat menurunkan terjadinya gastritis.
Helicobacter ssp. yang sering ditemukan pada saluran pencernaan anjing
yaitu H. felis, H. bizzozeronii, H. salomonis, H. bilis, H. Heilmannii, dan H. canis
(Webb dan Twedt 2003), sedangkan pada saluran pencernaan kucing ditemukan
H. felis, H. pametensis, H pylori, H heilmannii, dan H. Colifelis. H. colifelis
biasanya disertai dengan diare sedangkan pada anjing yaitu H. canis, tidak disertai
dengan gejala diare namun di hati anjing dapat menyebabkan multifocal nekrosis
hepatitis (Neiger dan Simpson 2000).
Tes diagnosa meliputi tes invasif (tes urease rapid, sitologi, kultur, PCR,
mikroskop elektron), dengan endoskopi untuk mendapatkan sampel biopsi, dan
tes non-invasif (urea breath, tes darah, serologi), urinalisis, x-rays, dan USG
(Neiger dan Simpson 2000; Ward 2013).

Anamnesis
Anjing yang dilakukan pemeriksaan merupakan anjing yang mengalami
muntah kronis dan anoreksia atau tidak mau makan. Gejala muntah yang terjadi
berlangsung secara terus-menerus dengan kandungan makanan yang tidak
tercerna, campuran cairan/lendir, dan busa. Gejala tersebut dilaporkan
berlangsung selama 1-3 bulan. Anjing terlihat mengalami ketidaknyamanan pada
bagian abdominal, seperti adanya rasa nyeri pada bagian abdomennya. Selain itu
anjing tersebut juga mengalami depresi dan dehidrasi yang dibuktikan dengan uji
lipatan kulit. Penurunan berat badan dan diare juga terlihat pada anjing yang
dilakukan pemeriksaan.

Signalement
Nama hewan : Leki
Jenis hewan : Anjing
Bangsa atau ras : Doberman
Jenis kelamin : Jantan
Umur : 5 tahun
Warna rambut : Hitam campur coklat
Berat badan : 25 kg
Ciri-ciri khusus : Ada spot coklat pada perutnya

Temuan Klinis
- Muntah (gastritis akut dan kronis)
- Nyeri epigastrium
- Anoreksia
- Dehidrasi
- Penurunan berat badan
- Diare
- Diffuse mucosal hyperemia
- Ulserasi pada sphincter duodenum
- Cairan empedu kehijauan di perut
- Suhu tubuh sedikit meningkat (104 2,25F)
- Denyut jantung sedikit meningkat (160 1.24 per menit)
- Hipovolemia
- Hipokalemia dan hiponatremia ditemukan pada anjing yang muntah dan
enteritis, kondisi hipokalemia ini dapat juga berpengaruh terhadap
keterlambatan pengosongan lambung.
- Ditemukan adanya urease.

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk menunjang diagnosis yang
telah dibuat. Pada kasus ini dilakukan gastroscopy examination untuk melihat
gambaran permukaan saluran pencernaan mulai dari esophagus sampai dengan
lipatan duodenum. Hasilnya terlihat adanya hiperemi yang tersebar di mukosa
lambung, ulser di sphincter duodenum dan cairan empedu berwarna hijau yang
berregurgitasi ke esophagus. Adanya cairan empedu dan pankreas di dalam
lambung dapat merusak barrier mukosa lambung sehingga mukosa lambung
menjadi mudah rusak. Pada pengamatan tidak ditemukan adanya benda asing
ataupun tumor.
Gastroscopy ini juga diikuti dengan pengambilan biopsi mukosa lambung
menggunakan biopsi forceps. Sampel biopsi ini dilanjutkan dengan pengujian
Rapid Ureas Test (RUT) untuk melihat ada atau tidaknya Helicobacter ssp. pada
mukosa lambung melalui aktivitas enzim urease. Helicobacter ssp. dapat
menghasilkan enzim urease yang dapat menghidrolisis urea menjadi amoniak.
Hasil RUT menunjukkan positif adanya Helicobacter ssp. yang ditandai dengan
perubahan warna reaksi RUT dari kuning menjadi merah muda.

Diagnosis
Berdasarkan gejala klinis yang terlihat seperti muntah yang sudah
lama/kronis, penurunan bobot badan dan nafsu makan, dehidrasi dan rasa sakit di
bagian epigastrikum mengindikasikan anjing ini menderita gastritis kronis yang di
sebabkan Helicobacter ssp. Menurut Marcial et al. (2011) muntah, mual, rasa
sakit atau tidak nyaman di bagian abdominal, dan hilangnya nafsu makan
merupakan gejala klinis dari gastritis kronis. Hal ini juga didukung oleh hasil
gastroscopy yang menemukan adanya hiperemi dan ulkus yang ada pada mukosa
lambung dan sphingter duodenum serta hasil RUT yang menunjukkan positif
adanya Helicobacter ssp.

Diferensial Diagnosis
Diagnosis banding dari gastritis adalah ulkus peptikum, GERD, gastric
lymphoma, gastric carsinoma, penyakit traktus biliaris, dan keracunan makanan.

Terapi
Tatalaksana terapi:
1. Antibiotik : Amoxicillin (Amoxan) 20 mg/kgBB s8j PO
Dtd : 20 mg/kg x 25 kg = 500 mg
Non-dtd : 500 mg x 3 x 14 = 21.000 mg

2. Antibakteri : Metronidazole (Flagyl) 25-65 mg/kgBB s24j PO
Dtd : 25 mg/kg x 25 kg = 625 mg
Non-dtd : 625 mg x 14 = 8.750 mg

3. Penghambat sekresi as. Lambung : Famotidine (Pecid) 0,5 mg/kgBB s12j PO
Dtd : 0,5 mg/kg x 25 kg = 12,5 mg
Non-dtd : 12,5 mg x 2 x 14 = 350 mg

4. Antiemetik : Domperidon (Vomitas) 0,05-0,1 mg/kgBB s12j PO
Dtd : 0,1 mg/kg x 25 kg = 2,5 mg
Non-dtd : 2,5 mg x 2 x 14 = 70 mg

5. Terapi cairan : NaCl 0,45% solutio No. I fls. IV

6. Imunomodulator : Ekstrak Echinaceae (Imboost Syr) I c.th. 2x1 PO





Penulisan Resep

Nama drh : drh. Kadek
Alamat/Telp : Jl. Bara III/021987332
SIP. : 0321/SIP/JB/09
Nama drh : drh. Kadek
Alamat/Telp : Jl. Bara III/021987332
SIP. : 0321/SIP/JB/09
Bogor, 25 Februari 2013

Iter 1x R/ Amoxicilin tab 500 mg No. XXI
s.t.d.d. I tab.
-------------------------------- ttd
R/ Metronidazole tab 625 mg
m.f. pulv. d.t.d. da in caps No. XIV
s.s.d.d. I caps.
-------------------------------------------- ttd
R/ Famotidin tab 12,5 mg
m.f. pulv. d.t.d. da in caps No. XXVIII
s.b.d.d. I caps.
-------------------------------------------- ttd
R/ Domperidon tab 2,5 mg
m.f. pulv. d.t.d. da in caps No. XXVIII
s.b.d.d. I caps.
-------------------------------------------- ttd
R/ NaCl 0,45% sol No. I fls
s.proinjectio IV
-------------------------------------------- ttd
R/ Ekstrak Echinaceae syr No. I fls
s.b.d.d. I c.th.
-------------------------------------------- ttd

Nama pasien : Leki (Anjing 25 kg)
Nama pemilik : Lela
Alamat : Jl. Kembang Kol
Bogor, 25 Februari 2013

Iter 1x R/ Amoxan tab 500 mg No. XXI
s.t.d.d. I tab.
-------------------------- ttd
R/ Flagyl tab 8.750 mg
m.f. pulv. divide in part aequalis No. XIV
s.s.d.d. I caps.
-------------------------------------- ttd
R/ Pecid tab 350 mg
m.f. pulv. divide in part aequalis No. XXVIII
s.b.d.d. I caps.
-------------------------------------- ttd
R/ Vomitas tab 70 mg
m.f. pulv. divide in part aequalis No. XXVIII
s.b.d.d. I caps.
-------------------------------------- ttd
R/ NaCl 0,45% sol No. I fls
s.proinjectio IV
-------------------------------------- ttd
R/ Imboost syr No. I fls
s.b.d.d. I c.th.
-------------------------------------- ttd

Nama pasien : Leki (Anjing 25 kg)
Nama pemilik : Lela
Alamat : Jl. Kembang Kol

Pembahasan

Terapi yang digunakan untuk mengobati gastritis dan ulser pada anjing ini
dilakukan selama dua minggu dengan tiga obat utama yaitu Amoxicillin,
Metronidazole, dan Famotidin (Neiger dan Simpson 2000). Selain itu, digunakan
beberapa obat tambahan untuk mengembalikan anjing ke kondisi normal yaitu
Domperidon sebagai antiemetik, ekstrak Echinacea sebagai imunomodulator, dan
Natrium Klorida 0,45% untuk terapi cairan.
Amoxicillin merupakan antibiotik golongan penisilin yang digunakan untuk
terapi infeksi saluran pernapasan, infeksi kemih, infeksi kelamin, infeksi saluran
cerna dan infeksi jaringan lunak. Amoxicillin juga merupakan antibiotik golongan
betalaktam yang memiliki spektrum luas baik untuk bakteri gram positif maupun
gram negatif (Jung 2012). H. pylori merupakan bakteri gram negatif, sehingga
dosis yang digunakan merupakan dosis Amoxicillin untuk bakteri gram negatif.
Amoxicillin memiliki spektrum antibakteri yang sama seperti Ampicillin namun
Amoxicillin dapat diserap lebih baik di GIT (gastrointestinal tract) dan memiliki
aktivitas bakterisidal yang cepat dan durasi yang lama. Dosis Amoxicillin pada
anjing 20 mg/kgBB tiga kali sehari secara per oral. Amoxicillin bekerja dengan
menghambat pembentukan dinding sel bakteri. Golongan penisilin merupakan
antibiotik tahan asam.
Metronidazole merupakan antibakteri sintetik yang sering digunakan untuk
terapi Giardiasis, Trichomoniasis, Amoebiasis, Balantidiasis, dan
Tripanosomiasis. Obat ini juga sering digunakan untuk septicemia, meningitis,
peritonitis, infeksi saluran empedu, cholitis, dan ginggivoostomatitis. Dosis
Metronidazole pada anjing adalah 25-65 mg/kgBB satu kali sehari per oral.
Famotidin merupakan antagonis reseptor histamin. Obat ini lebih potensial
dibandingkan ranitidin. Obat ini bekerja dengan memblokade stimulasi histamin
pada sel parietal untuk menurunkan sekresi asam lambung, digunakan untuk
terapi gastritis dan ulser. Dosis Famotidin pada anjing adalah 0,5 mg/kgBB dua
kali sehari secara per oral.
Domperidon merupakan antiemetik dan stimulan prokinetik saluran
pencernaan bagian atas. Obat ini dapat mengatur sphincter esofagus bawah dan
membantu mengosongkan lambung. Domperidon baik untuk mengatasi muntah,
refluks gastroesophageal, dan gangguan motilitas lambung. Dosis Domperidon
untuk anjing 0,05-0,1 mg/kgBB dua kali sehari secara per oral.
Natrium klorida (NaCl) merupakan terapi cairan yang berguna untuk
mengatasi hiponatremia, metabolik alkalosis, mengembalikan normovolemia, dan
membantu ekskresi Ca pada sistem urinaria. Setelah pemberian NaCl 0,45%,
sepertiga bagian akan menuju intraseluler dan duapertiga menuju ekstraseluler.
Ekstrak echinaceae (Imboost) merupakan suatu preparat herbal yang dapat
digunakan sebagai imunomodulator. Ekstraks echinaceae mampu menstimulasi
aktivitas makrofag in-vivo dan in-vitro yang merupakan bagian dari respon imun.
Makrofag yang distimulasi oleh ekstrak echinaceae mampu meningkatkan
sitotoksisitas dan aktivitas microbicidal melawan bakteri intraseluler. Bukti lain
menunjukkan bahwa ekstrak echinaceae mampu menstimulasi sekresi sitokinin
makrofag. Oleh karena itu ekstrak echinaceae mampu meningkatkan aktivitas
mikrobicidal dan fagositosis dari makrofag untuk melawan bakteri intraseluler
(Mustika 2004). Ekstraks echinaceae biasanya diminum dua kali sehari satu
sendok teh. Terapi yang digunakan dalam kasus ini memberikan efek yang cukup
baik walaupun pada beberapa jurnal disebutkan bahwa eradikasi infeksi H. pylori
sulit.

Daftar Pustaka
Jung YJ, Kim WG, Yoon Y, Kang JW, Kim HW. 2011. Removal of
Amoxicillin by UV and UV/H2O2 processes. J scitotenv. Vol. 420 (2012):
160-167.
Marcial G, Rodriguez C, Medici M, Valdez GF. 2011. New Approaches in
Gastritis Treatment, Gastritis and Gastric Cancer - New Insights in
Gastroprotection, Diagnosis and Treatments. Shanghai: InTech. Hlm 153.
Mustika A. 2004. Pemakaian ekstraks Echinacea purpurea sp. Sebagai
imunomodulator makrofag untuk eliminasi bakteri Salamonella Thypi. J
Kedokteran Yarsi. Vol. 12 (3): 088-093.
Neiger R, Simpson KW. 2000. Helicobacter Infection in dogs and cats: Facts
and Fiction. J Vet Intern Med. Vol. 14: 125-133.
Silitonga MM. 2007. Infeksi saluran gastroduodenal oleh bakteri Helicobacter
pylori. J. Biologic. Vol. 6 (3): 10-21.
Steiner JM, Allennspach K, Batt RM, Bilzer T, Boari A et al. 2008. Small
Animal Gastroenterology.Hannover: Schlutersche verlagsgesenllschaft.
Ward E. 2013. Gastritis in Dogs. [internet] 20 Februari 2013.
http://www.pcvh.com/ downloads/Gastritis_in_Dogs.pdf.
Webb C dan Twedt DC. 2003. Canine gastritis. Vet Clin Small Anim 33: 969-
985. http://www.eadveterinaria.com.br/material/270/1972/gastrite.pdf