Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN
A. Dasar Pembuatan SOP Peralatan Keamanan Penerbangan
1. Undang undang Nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 1, tambahan lembaran Negara republik
Indonesia Nomor 4956);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2001 tentang Keamanan dan Keselamatan
Penerbangan
3. Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2001 Tentang Kebandarudaraan
4. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : PM. 69 Tahun 2013 tentang Tatanan
Kebandarudaraan Nasional
5. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : KP. 502 Tahun 2011 tentang
Pengoperasian Bandar Udara Abdulrachman Saleh Malang untuk Penerbangan
Sipil
6. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor : PM. 31 Tahun 2013 tentang Program
Keamanan penerbangan Nasional;
7. Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor : KP. 241 Tahun 2014
tentang Pedoman Pengoperasian, Pemeliharaan dan Pelaporan Fasilitas Keamanan
Penerbangan
8. Peraturan Direktur Jendral Perhubungan Udara Nomor : KP. 260 Tahun 2012
tentang Sertifikasi Peralatan Keamanan Penerbangan
9. Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor : KP. 262 Tahun 2013
tentang Tata Cara Pemeriksaan dan Pengujian Kinerja Peralatan Keamanan
Penerbangan
10. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor : 9 Tahun 2011 tantang Organisasi dan
Tata Kerja UPT Dinas Perhubungan dan Lalu Lintas Angkutan Jalan Provinsi
Jawa Timur
B. Ruang Lingkup
Pelaksanaan pemeliharaan terhadap peralatan keamanan penerbangan difungsikan
agar alat dapat berkerja secara normal dalam melakukan pemeriksaan keamaan.
Adapun alat yang diperlukan dalam membantu proses keamanan Bandara,
diantaranya:
1. Alat pendeteksi bahan organik dan non organik
1) Berupa mesin X ray
2. Alat pendeteksi metal atau non metal
Pelatan yang berfungsi sebagai pendeteksi bahan metal atau non metal yaitu:
1) Mesin X ray;
2) Gawang pendeteksi metal (walk through metal detector/ WTMD);
3) Pendeteksi metal genggam (hand held metal detector/ HHMD).
3. Alat pemadam kebakaran
1) Alat pemadam api ringan (APAR)
4. Alat pemantau lalu lintas orang, kargo, pos, kendaraan :
1) System kamera pemantau (closed circuit television / CCTV)
2) Kendaraan patrol
C. Maksud dan Tujuan
Maksud
Sebagai acuan dalam melaksanakan kegitan pengoperasian, pemeliharaan dan
pelaporan sehingga tercipta standar/ prosedur yang sama dalam melaksakanan
kegiatan tersebut
Tujuan
Untuk mempertahankan keandala kinerja dan kemampuan dalam melakukan
pengoperasian alat demi terwujudnya keamanan penerbangan
D. Definisi
1. Pemeriksaan adalah rangkaian kegiatan pemantauan dan penilaian terhadap
keandalan kinerja fasilitas keamanan penerbangan
2. Kalibrasi adalah proses pemeriksaan, penyesuaian keluaran/ indikasi dan
pengujian peralatan keamanan untuk memenuhi standar kelaikan operasi yang
ditetapkan
3. Fasilitas keamanan penerbangan adalah peralatan peralatan yang digunakan
dalam upaya mewujudkan keamanan penerbangan
4. Peralatan keamanan penerbangan adalah peralatan yang digunakan untuk
mengenali atau mendeteksi orang, kendaraan atau barang/bahan yang berpotensi
melakukan atau digunakan untuk tindakan melawan hukum dalam penerbangan




BAB II
STANDAR PENGOPERASIAN PERALATAN KEAMANAN PENERBANGAN
A. Standart Operational Procedure Handheld Metal Detector
1. Pendahuluan
Hand-Held Metal Detector berguna untuk mendeteksi posisi/letak barang bawaan
yang terdapat di pakaian atau dibadan calon penumpang yang berbahan dasar metal
ataupun logam.
a. Spesifikasi
Operating
Temperatures
-35F (-37C) to 158F (70C)
Humidity To 95% non-condensing
Operating
Frequency
95 kHz
Audio Frequency 2kHz Warble
Tuning Automatic
Indicators : - Silent / Vibrate
- Speaker
- LED Alert Lights
- Green : Power ON
- Amber : Battery LOW
- Red : ALARM condition
Controls : - 3 way switch ON (Speaker / LED Light)
- ON (Vibrating / LED Light)
- OFF
Battery Single 9 volt battery provides up to 60 hours of normal
operation. Optional NiMH rechargeable battery provides up
to 20 hours on each 12-hour recharge
Dimensions : Width : 3.25" (8.3 cm)
- Thickness : 1.625" (4.13 cm)
- Length : 16.5" (42 cm)
- Weight : 17.6 oz. (500 g)
Warranty 1 year parts and labor






2. Prosedur Pengoperasian
a. Persiapan Pengoerasian
Hal yang perlu diperhatikan, Sebelum melakukan penggunaan alat pendeteksi
metal genggam (HHMD) yaitu:
1) Periksa kondisi visual tidak ada kerusakan pada alat HHMD (Hand Held
Metal Detector)
2) Periksa Kondisi baterei pada lampu indicator Baterei
3) Pastikan setelah kondisi ON di uji coba dahulu sebelum digunakan pada
penumpang

b. Pengoperasian
1) Prosedur menghidupkan HHMD
a) Posisikan switch pada posisi ON
b) Lihat lampu indicator, jika warna hijau HHMD siap dioperasikan
c) Dan jika lampu indicator warna kuning (lampu indicator pada posisi
tengah) menyala maka menandakan baterei low
d) Jika pada saat lampu indicator warna merah menyala maka menandakan
terdeteksinya bahan logam pada benda yang di deteksi alat HHMD

2) Prosedur operasional
a) Pemeriksaan menurut arah jarum jam
b) Pemeriksaan dengan detector logam genggam harus dilakukan dengan
gerak melingkar menurut jarum jam sambil pemeriksa bergerak keliling
tubuh penumpang.

Sebelum melakukan pemeriksaan dengan detector logam genggam,pemeriksa
harus :
Meminta dan memperoleh izin penumpang untuk melakukan pemeriksaan.
Meminta penumpang untuk membuka pakaian luar yang gembung yang
mengganggu pemeriksaan. Pakaian ini harus di sinar-x atau diperiksa manual.
Mengontrol barang yang dibuka dan/atau barang jinjingan yang telah lolos
pemeriksaan sinar x.
Memastikan bahwa barang jinjingan yang dibuka dan diperiksa tetap bisa
dilihat oleh penumpang selama pemeriksaan.
Memastikan bahwa pemeriksaan dilakukan di lokasi yang tidak akan
mengganggu lalu lintas orang yang lewat dari gawang detector logam.
Menguji detector logam genggam untuk memastikan bahwa kerjanya baik
(yaitu lewatkan detector di atas sebuah benda logam untuk memastikan
bunyinya).

Bila melakukan pemeriksaan dengan detector logam genggam,peneriksa
harus :
Mengarahkan penumpang agar menghadap ke depan dan merentangkan
lengannya dan membuka kakinya.
Gunakan petunjuk detector logam genggam seperti dijelaskan oleh pabriknya
JANGAN SEKALI-KALI menyentuh tubuh penumpang dengan detector
logam genggam.
Gunakanlah alur pemeriksaan dan prosedur yang sama setiap kali.
Mulai dari ujung kepala ,bergerak ke bawah dan keliling tubuh penumpang
dengan arah jarum jam sampai tubuh penumpang keseluruhannya diliputi.
Gunakan daerah aktifnya detector logam genggam sejajar dengantubuh
penumpang ke bawah, gerakkan detektornya dari bahu penumpang ke
bawah,kemudian ke atas ,dengan jarak 1-2 inci sampai bagian depan dari
tubuh penumpang selengkapnya diperiksa.
Bergeraklah kebelakang penumpang dan ulangi prosedurnya di bagian
belakang penumpang.
Bila detector logam genggam berbunyi,pemeriksa harus :
Memastikan bahwa daerah yang menyebabkan setiap kali bunyi diketahui
dengan positif
Meminta penumpang untuk menyingkirkan semua benda logam di daerah
bunyi alarm.
Memeriksa dan memastikan bahwa benda penyebab alarm bukan benda yang
berbahaya atau terlarang.
Mulai lagi di titik pertemuan bunyi alarm.
Lanjutkan prosedur sampai penumpang telah diperiksa secara keseluruhan
dan sumber alarm telah diketahui dan diperiksa

3) Prosedur mematikan peralatan
Cek kembali kondisi visual dari alat HHMD
Tekan switch pada posisi off alat HHMD

3. Pemeriksaan akhir
1) Periksa visual alat HHMD kondisi ON atau OFF, apabila alat tidak digunakan
2) Periksa kondisi battery , apabila menggunakan isi ulang segera charging kembali
baterrey nya.






















4. Daftar rincian kegiatan pemeliharaan pencegahan peralatan pendeteksi metal
genggam atau HHMD

No Kegiatan Kriteria
H
a
r
i
a
n

M
i
n
g
g
u
a
n

B
u
l
a
n
a
n

T
r
i
w
u
l
a
n

S
e
m
e
s
t
e
r
a
n

T
a
h
u
n
a
n

Tindakan
1
Pembersihan main
unit
Bersih


Bersihkan dari debu
dan kotoran yang
menempel
2
Pemeriksaan Battery
voltage
Sesuai


Pastikan voltage
battery masih
mencukupi untuk
mengoperasikan
peralatan
3
Pemeriksaan fungsi
switch / tombol On/
Off
Berfungsi



Pastiakn tombol on/
off dapat
difungsikan
4
Pemeriksaan alert
system:
a. Audible

b. Visible
Berfungsi

Berfungsi
dan
menyala












Pastikan alarm
dapat
mengeluarkan
bunyi



Pastikan zone light
dalam kondisi
menyala
5
Pemeriksaan
sensitivitas
Berfungsi



Pastikan funsi
sensitivitas dapat
difungsikan
6
Pengujian kinerja
secara berkala
dengan menggunakan
OTP
Terdeteksi



Pastikan peralatan
HHMD dapat
mendeteksi OTP
7
Pemeriksaan
peralatan dari
kerusakan fisik
Tidak
rusak



Pastikan tidak
terdapat kerusakan
fisik pada peralatan
8 line up seluruh sistem Berfungsi


Pastikan seluruh
sistem berfungsi
dengan normal






B. Standart Operational Procedure Walk Through Metal Detector (WTMD)
1. Pendahuluan
Fungsi dari gawang pendeteksi metal digunakan untuk mendeteksi adanya benda
logam yang dibawah penumpang

Gambar 1. Blok diagram metal detector

Kelebihan Walk- Through Metal Detector HI PE Multi Zone
a. Mampu mendeteksi berbagai macam benda terdiri dari magnetic, logam non
magnet dan paduan keduanya
b. Tingkat akurasi skrining pada jalur gawang metal detector sangat akurat dan
cepat. Dari ujung bawah sampai atas mistar gawang metal detector
c. Tipe HI-PE memungkinkan tingkat tinggi diskriminasi antara massa signifikan
logam, seperti senjata yang harus dideteksi, dan efek logam pribadi. Kekebalan
yang luar biasa untuk gangguan lingkungan membuatnya mudah digunakan
bahkan ketika gangguan listrik ditemui. Kemampuan deteksi independen dari
kecepatan perjalanan.
d. Walk-Through Metal Detector Tipe HI PE dapat membedakan masa logam,
yang terdapat pada benda benda logam, senjata yang harus dideteksi
e. Tidak mudah rusak ketika terjadi gangguan listrik
f. Kemampuan deteksi tidak terpengaruh oleh kecepatan jalan orang yang di
skrining
g. Perawatan pemeliharaan dan kalibrasi tidak secara periodik dilakukan
Jenis sinyal
Visual: Tetap atau sebanding dengan massa transit - terlihat dari 6m di bawah
pencahayaan 4000 lux.
Indikasi visual: 2, 4, 8 atau 20 zona dapat dipilih sesuai kebutuhan

2. Pemeriksaan kondisi awal alat Walk through Metal Detector
Sebelum mengoperasikan WTMD, harus mengecek hal-hal berikut :
a. pastikan secara visual tidak terdapat kerusakan fisik pada housing panel, control
unit, kabel-kabel yang terlihat dan UPS
b. tidak terdapat benda-benda pada jalur pemeriksaan yang dapat mengganggu
pemeriksaan keamanan;
c. pastikan benda-benda yang mempunyai kandungan logam cukup besar (seperti :
trolley, pintu besi, jendela besi, tempat sampah besi, dll.), serta peralatan-
peralatan elektrik/elektronik yang dapat menimbulkan interferensi (seperti :
generator/genset, trafo besar, panel listrik, dll.) tidak berada dekat WTMD;
d. pastikan photocells beserta reflectors yang terletak dibagian tengah panel
transmitter dan receiver tidak terhalangi; dan
e. peralatan telah terhubung ke sumber tegangan/listrik/UPS, dengan tegangan yang
cukup.

3. Pengoperasian
a. Memastikan WTDM dapat bekerja sesuai permintaan
b. Ketika kodisi tes kalibrasi dan atau operasi setiap hari WTMD harus:
1) Penumpang wajib melepaskan bahan atau aksesoris yang terbuat dari metal,
termasuk koin, perhiasan, ikat pinggang, jam tangan, dan sepatu (jika
mengandung unsur metal atau besi). Jika didalam tubuh penumpang terdapat
implan bedah maka tidak harus untuk dites.
2) Penumpang diharuskan melewati WTMD untuk memastikan bahwa sudah
terpisahkan dari bahan metal pada tubuh penumpang sehingga alarm tidak
berbunyi.
3) Selalu melewati Walk Through dengan berjalan normal (jalan tidak tergesah
gesah), posisi tubuh tegak saat melewati Walk through sebelum masuk ruang
steril
4) Pastikan alarm Walk through clearly, dan bila terdapat bunyi stop penumpang dan
skrining kembali.

4. Kalibrasi WTMD
Hanya petugas berwenang, vendor, dan kontraktor saja yang boleh melakukan uji
kalibrasi.
a. Uji kalibrasi WTMD dilakukan apabila:
1) Terdapat instalasi WTMD baru
2) Terjadi pemindahan WTMD ke lokasi lain (baru)
3) Ketika teknisi melakukan pemeliharaan atau perawatan rutin WTMD
4) Setelah 90 hari sejak uji kalibrasi terakhir ( uji kalibrasi dilakukan 3 bulan
sekali)

5. Standart penempatan WTMD pada Security Check Point
a. Peletakan perangkat
Reicever (RX) perangkat harus sejauh mungkin dari gangguan gelombang
elektromagnetik sehingga idealnya harus sejauh mungkin dengan Monitor dan
Conveyor belt dari x -ray

Gambar 2. Proses penataan Walk through metal detector pada SCP


b. Meyediakan jalur khusus untuk staf atau petugas bandara
Memberikan jalur khusus bagi Angkutan personil (AP) karena tidak perlu petugas
atau staf melalui jalur metal detektor

Gambar 3. Penyediaan jalur untuk AP


c. Jalur skrining bagasi ( barang)
Untuk menghindari alarm palsu dari arah gerakan bagasi maka perlu penentuan
jarak awal dan akhir penempatan bagasi( barang) pada kovenyor, dimana barang
barang tersebut akan dibawah kembali oleh penumpang. Hal ini juga perlu
mengatur penumpang agar tidak berdesakan saat mengatur penumpang yang bisa
menjadikan kendala pada control sistem

Gambar 4. Penempatan bagasi

d. Perlu penataan celah antara WTMD dengan dinding atau sekat
Disarankan bahwa hambatan terbuat dari bahan isolasi (kayu, kaca, Lexan, plastik
panel, cordons, hiasan arsitektur dalam bahan isolasi), sehingga setiap gerakan
karena Benturan tidak mempengaruhi antena dari detektor logam.
Untuk alasan yang sama, hindari kontak langsung antara hambatan dan probe
logam detector.

Gambar 5. Jarak penataan WTMD dengan dinding

6. Daftar rincian kegiatan pemeliharaan pencegahan peralatan gawang pendeteksi
metal
No
Kegiatan yang
dilaksanakan
Kriteria
H
a
r
i
a
n

M
i
n
g
g
u
a
n

B
u
l
a
n
a
n

T
r
i
w
u
l
a
n

S
e
m
e
s
t
e
r
a
n

T
a
h
u
n
a
n

Tindakan
1
Pembersihan :
a. Main Unit
b. UPS
c. Lokasi
sekitar
penempatan
peralatan

Bersih
Bersih
Bersih






Bersih dari debu dan kotaran
yang menepel

2
Pemeriksaan
supply voltage:

a. Main
supply
voltage

b. Output
voltage
UPS



Sesuai


sesuai












Pastikan main voltage sesuai
yang dipersyaratkan
Pastikan output voltage sesuai
yang dipersyaratkan



No
Kegiatan yang
dilaksanakan
Kriteria
H
a
r
i
a
n

M
i
n
g
g
u
a
n

B
u
l
a
n
a
n

T
r
i
w
u
l
a
n

S
e
m
e
s
t
e
r
a
n

T
a
h
u
n
a
n

Tindakan
3 Pemeriksaan kabel
kabel dan konektor
yang terlihat
Tidak
terkelupas



Pastikan kabel kabel dan
konektor yang terlihat
dalam kondisi baik

4 Pemeriksaan
interferensi:

a. Mekanikal



b. Elektrikal



Tidak
terdapat
inteferensi


Tidak
terdapat
interferensi























Pastikan benda benda
mekanikal disekitar
penempatan WTMD tidak
menyebabkan timbulnya
intefenrensi


Pastikan peralatan
elektronik disekitar
penempatan WTDM tidak
menyebabkan inteferensi

5 Pemeriksaan alert


system :
a. Audible
b. Visible

Berfungsi
Berfungsi
dan
menyala



Pastikan alarm dapat
berbunyi
Pastikan zona light dapat
menyala

6
Pemeriksaan control
unit
berfungsi




Periksa kondisi tombol
tombol pada main unit
dapat bekerja

7 Pemeriksaan display
indicator
a. Ready light


Menyala











Pastikan benda benda
mekanikal disekitar
penempatan WTMD tidak
menyebabkan timbulnya
intefenrensi

No
kegiatan yang
dilaksanakan
Kriteria
H
a
r
i
a
n

M
i
n
g
g
u
a
n

B
u
l
a
n
a
n

T
r
i
w
u
l
a
n

S
e
m
e
s
t
e
r
a
n

T
a
h
u
n
a
n

Tindakan

b. Alarm
light

c. LCD
panel
Menyala

Menyala

Menyala





Pastikan alarm light menyala
Pastikan LCD panel
menunjukan kondisi operasi
peralatan
Cek kondisi LED bar graph























C. STANDART OPERATIONAL PROCEDURE X RAY
1. Pendahuluan

d. LED bar
graph
kondisi menyala
8 Pemeriksaan
system
programming
Berfungsi




Pastikan system alat dapat
mendeteksi benda yang diuji
9 Pemeriksaan
tingkat
sensitivitas
Berfungsi





Pastikan sensitivitas alat
sesuai dengan benda yang
akan di uji
10 Line up seluruh
sistem
Berfungsi





Pastikan seluruh system pada
WTMD bekerja normal
Mesin x ray yang dijelaskan pada pembahasan ini menggunakan tipe PX 6.4.
Checkpoint Sistem X-ray pada tipe PX 6.4 memberikan kualitas gambar yang sangat
baik. Pengaturan PX 6.4 memungkinkan operator untuk secara efisien dan akurat
menskrining tas, ransel, paket dan paket, surat, dan
sebagainya dari objek terkecil sampai menengah.
Kemampuan imaging yang luar biasa memfasilitasi
deteksi cepat beberapa ancaman, termasuk senjata,
narkotika, bahan peledak dan barang selundupan
lainnya.

2. Spesifikasi X ray PX 6.4
a. Umum
Lorong pembuka :
Lebar : 640 mm (25.2")
Tinggi : 430 mm (16.9")
Tinggi Conveyor: 812 mm (32")
Daya : 100-240 VAC 10%
50/60 Hz 1% 1.0 KVA max
Kecepatan Conveyor: 0.22 m per sec +2/-8% @ 50 Hz
0.26 m per sec +2/-8% @ 60 Hz
Kapasitas konveyor: 100 kg (220 lbs)

b. Spesifikasi fisik
tinggi: 1346 mm (53")
lebar : 862 mm (34")
panjang : konveyor pendek : 1700 mm (67")
konveyor menengah: 2236 mm (88")
konveyor panjang: 3030 mm (119.3")
Berat : 522 kg (1150 lbs)
Suhu operasi : 0 to 40 C (32 to 104 F)



3. Prosedur pengoperasian
a. Persiapan pengoperasian
Persiapan pengoperasian dilakukan sebelum pengoperasian alat, diantaranya:
1) Pastikan secara visual tidak terjadi kerusakan fisik pada housing panel,
monitor, contlor unit (keyboard, mouse, mouse pad), dan kabel kabel pada X
ray serta UPS
2) Jangan menghubungkan USB memory device/ flash disk dengan computer
system yang berpotensi/ memiliki resiko menyebabkan terinfeksinya computer
oleh virus.
3) Pastikan semua housing panel dalam keadaan tertutup dan terkunci
4) Pastikan lead curtain dalam kondisi baik dan tidak ada yang terbuka
5) Pastikan konveyor belt tidak mengalami kerusakan
6) Pastikan emergency stop tidak dalam kondisi ditekan
7) Tidak ada benda pada lorong pemeriksaan
8) Peralatan telah terhubung dengan sumber tegangan/ UPS

b. Pengoperasian
1) Semua barang dari penumpang harus melawati mesin X ray
2) Barang atau bagasi di tempatkan pada konveyor belt mesin X ray pada posisi
yang tepat untuk pemeriksaan dan memastikan jarak antara dua bagasi atau
barang bawaan
3) Mantel, jaket, topi, ikat pinggan, ponsel, jam tangan, kunci dan barang
barang yang mengandung unsur logam diperiksa melalui X - ray
4) Operator X ray wajib melihat dengan teliti isi dari barang penumpang lewat
monitor X- ray
5) Bila pada saat pemeriksaan pada monitor tampil benda yang mencurigakan,
maka operator mesin x ray menginformasikan kepada pemeriksa bagasi
mengenai keterangan detail dari benda yang mencurigakan untuk dilakukan
pemeriksaan secara manual.


No
Kegiatan yang
dilakasanan
kriteria
H
a
r
i
a
n


M
i
n
g
g
u
a
n


B
u
l
a
n
a
n


T
r
i
w
u
l
a
n


s
m
e
s
t
e
r
a
n

T
a
h
u
n
a
n


Tindakan
1
Safety check:
a. Pemeriharaan lead
curtain

b. Pemeriksaan lead
shielding

c. Pemeriksaan
konveyor belt

d. Pemeriksaan
conveyor roller
e. Pemeriksaan housing
panel

f. Pemeriksaan kabel
kabel dan konektor
yang terlihat

g. Leakage radiation
test

Tidak
sobek

Tertutup
rapat

Tidak
Sobek

Tidak
macet
Tertutup
rapat

Tidak
rusak
Max.

1Sv/jam
pada jarak
10cm dari
permukaan
mesin X
ray


c. Ganti bila sobek

d. Kencangkan baut- baut
bila ditemukan lead
shielding tidak rapat

e. Ganti bila sobek

f. Lubrikasi konveyor
roller secara rutin

g. Kencangkan baut baut
pada housing panel bila
tidak rapat
h. Pastikan kabel kabel
pada konektor dalam
kondisi baik

i. Jangan operasikan
perlatan bilan radiasi
melebihi 1Sv/jam
2
Pembersihan:
a. Unit bagian luar

b. Unit bagiat dalam





c. Monitor
d. UPS
e. Lokasi penempatan
X - ray

Bersih

Bersih





Bersih
Bersih
Bersih


Bersih dari debu dan
kotoran yang menempel
Bersih dari debu dan
kotoran yang menempel
serta pastikan secara
visual tidak terdapat
kerusakan kabel ataupun
modulnya
Bersihkan bilah kotor
Bersihkan bila kotor
Bersihkan bilah kotor
3
Pembersihan dan
pemeriksaan light
barriers
Bersih

Pastikan tidak ada benda
yang menghalangi light
barriers
4
Pemeriksaan control
elements:
a. Key switch
b. Power on/off key
c. Emergency stop key
d. Tuts key/ keyboard
e. Mouse pad/ mouse
roller
f. Forward/ reverse


Berfungis
Berfungis
Berfungis
Berfungis
Berfungis

Berfungis




Ganti bila rusak
Ganti bila rusak
Ganti bila rusak
Ganti bila rusak
Ganti bila rusak
Pastikan tombol
forward/ reverse dapat
difungsikan
5
Pemeriksaan PE
((proctective earth)
wiring
Terhubung
dengan
ground

Pastikan kabel PE
terhubung dengan
ground
6
Pemeriksaan supply
voltage
a. Main input voltage




b. Output voltage UPS


Sesuai




Sesuai



Pastikan main voltage
sesuai dengan yang
dipersyaratkan
Pastikan output UPS
sesuai dengan yang
dipersyaratkan
7
Pemeriksaan
emergency stop switch
berfungsi

Emergency stop dapat
berfungsi
8
Pemeriksaan interlock
system
Berfungsi

Pastikan interlock
system dapat
difungsikan
9
Pemeriksaan indicator
lamp:
a. Power on lamp


b. X ray generator on
lamp


hidup


hidup



Pastikan power on
lamp dalam kondisi
hidup
Pastikan generator on
lamp lamp dalam
kondisi hidup
10
Pemeriksaan safety
roller (spring roller)
pada sisi input dan
output
Dapat
dilepaskan

Pastikan safety rollers
pada sisi input dan
output dapat dilepaskan
11
Pemeriksaan monitor:
a. Tombol
pengendali
monitor
b. Brightness
c. Sharpness
d. Contrast

Berfungsi


Berfungsi
Berfungsi
Berfungsi

Pastikan tombol
pengendali monitor
dapat difungsikan
Pastikan tombol
Brightness, sharpness,
contrast dapat
difungsikan

12
Pemeriksaan drum
motor dapat
difungsikan
Tidak
terdapat
bunyi dan
kebocoran
oli

Pastikan tidak terdapat
bunyi dan kebocoran oli
pada drum motor
13
Pemeriksaan generator
kontlor
Sesuaikan
dengan
masing
masing
tipe x ray
yang
digunakan

Pastikan pengaturan
generator sesuai dengan
yang dipersyaratkan
14
Pemeriksaan seluruh
functional test, antara
lain:
a. Organic&
inorganic
stripping
b. Zoom in/
zoom out
c. Black & white
image



Berfungsi



Berfungsi

Berfungsi




Pastikan fungsi
pendukung untuk
megatur image/ gambar
dapat berfungsi
d. Image density/
high
resolution
e. Automatic
threat
detection
system
f. Threat image
protection
g. Image
archives/
image recall

Berfungsi

Berfungsi


Berfungsi

Berfungsi

15
Pemeriksaan kapasitas
hardisk
Masih
dapat
digunakan
untuk
menyimpa
n gambar

Pastikan kondisi hardisk
masih cukup untuk
menyimpan hasil
gambar dari pedeteksian




















D. Standart Operasional Prosedur Mobil Patroli (Suzuki Escudo 2006)
1. PENDAHULUAN
Fungsi mobil patroli adalah sebagai sarana untuk memastikan bahwa tidak ada
pihak yang tidak berkepentingan untuk masuk ke dalam area private bandara.
Serta mencegah kerugian harta benda dan menemukan pengerusakan setelah jam
kerja.
a. Spesifikasi Unit
Type : G 16 A, SOHC
Displacement : 4 in Line
Piston Displacement : 1.590 cc
Seating : 5 persons
Fuel Tank : 66 liters
Oil Tank : 4,5 liters

b. Pengenalan Bagian



2. Langkah sebelum Pengoperasian Kendaraan Patroli
a. Melihat situasi sekitar/sekeliling mobil bahwa tidak ada hambatan saat
mengoperasikan, dengan cara memutari mobil.
b. Check level oil engine deepstick.




c. Check level air radiator pada reservoir tank.

d. Check fuel level/Fuel indicator gauge




e. Check level electrolit battery
f. Check washer fluid
g. Check ketegangan timing belt dan belt alternator tingkat toleransi kekencangan
6 - 88 mm apabila diberi tekanan sebesar 100N/10kg.
h. Periksa tekanan udara seluruh ban
i. Posisikan tuas pemindah transmisi pada posisi netral N



j. Posisikan tempat duduk operator/pengemudi dalam keadaan nyaman untuk
berkendara






k. Check fungsi lampu, lampu depan, lampu belakang, lampu kabin dan lampu
hazard
l. Atur posisi kaca spion untuk membantu pandangan kita saat berkendara

3. Langkah Pengoperasian Kendaraan Patroli
a. Dalam pemanasan pertama pastikan handle transmisi dalam posisi netral N
dan parking brake dalam posisi on (brake)
b. Putar kunci kontak ke posisi ON. Jangan nyalakan engine lebih dari 15
menit jika dalam pertama mencoba tidak menyala, tunggulah 15 menit lagi.
c. Lakukan pemanasan mesin antara 3 - 5 menit.
d. Pasang sabuk pengaman
e. Release lever parking brake
f. Injak pedal kopling, masukkan transmisi 1 untuk mengawali pengoperasian
unit serta lepas pedal kopling secara perlahan (hindari perpindahan transmisi
ke lebih tinggi saat mengendarai dengan pelan).
g. Mobil patroli siap dioperasikan.






4. Daftar rincian kegiatan pemeliharaan dan pencegahan (preventive
maintenance) mobil patroli.
No Kegiatan Kriteria
H
a
r
i
a
n

M
i
n
g
g
u
a
n

B
u
l
a
n
a
n

T
r
i
w
u
l
a
n

S
e
m
e
s
t
e
r
a
n

T
a
h
u
n
a
n

Tindakan
1
Pembersihan
bagian luar dan
dalam unit
Bersih


Bersihkan dari debu
dan kotoran yang
menempel pada bagian
dalam maupun luar
2
Pemeriksaan air
radiator dan air
pembasuh kaca
Cukup


Pastikan batas air
radiator dan air
pembasuh kaca dalam
kondisi level, apabila
kurang segera tambah
3
Pemeriksaan/
pengecekan bahan
bakar
Cukup

Pastikan bahan bakar
terisi
4
Pemeriksaan oli
mesin, minyak
rem dan oli power
steering
Cukup dan
Baik



Pastikan oli mesin,
minyak rem dan oli
power steering dalam
keadaan level, apabila
kurang segera tambah
5

Pemeriksaan
battery, cairan
elektrolit dan
clamp battery
Baik dan
cukup












Pastikan kondisi cairan
elektrolit level/cukup




Pastikan clamp battery
terpasang dengan
rapat/kencang
No Kegiatan Kriteria
H
a
r
i
a
n

M
i
n
g
g
u
a
n

B
u
l
a
n
a
n

T
r
i
w
u
l
a
n

S
e
m
e
s
t
e
r
a
n

T
a
h
u
n
a
n

Tindakan
6
Pemeriksaan
lampu lampu
Fungsi

Pastikan seluruh lampu
unit menyala dengan
normal, baik fungsi
lampu seign, fungsi
lampu hazzard, lampu
dim, lampu rem dll.
7
Pemeriksaan
tekanan ban
kendaraan
Tepenuhi



Pastikan tekanan udara
ban kendaraan sesuai
dengan standar operasi
8
Pemeriksaan
kekencangan
drive belt unit
Sesuai
Pastikan kekencangan
belt sesuai standar
kekencangan
9
Pemeriksaan
fungsi pada
bagian kendaraan
Berfungsi



Pastikan pintu
kendaraan dapat
dibuka/tutup dan fungsi
lockdoor berfungsi
normal, serta kaca dapat
terbuka dan tertutup
dengan normal
10 Service berkala Terpenuhi


Pastikan service berkala
dilakukan sesuai
ketentuan
11
Pengujian kinerja
secara berkala
Memenuhi
Standar
kelaikan

Pastikan peralatan
dalam kondisi layak
untuk dioperasikan



E. Alat Pemadam Api Ringan (Apar)
1. Pendahuluan
APAR atau alat pemadam api ringan yaitu peralatan portabel yang dapat dibawa dan
dioperasikan dengan tangan, berisi bahan pemadam bertekanann yang dapat
disemprotkan dengan tujuan memadamkan api. Tabung dan isinya antara Kg s/d 16
Kg. Serta memiliki tekanan standart antara 11 16,8 bar. Dalam hal ini akan di bahas
mengenai APAR yang berjenis powder atau serbuk kimia kering yang bertipe stored
pressure.









Gambar Unit Gambar Bagan

Cara kerja apar jenis stored pressure adalah saat menekan pengatup / handle
pengoperasian, gas CO2 / N2 mendorong tepung kimia kering keluar melalui pipa
keluar, selang dan pemancar.
2. Keunggulan Serbuk Kimia Kering
a. Serbuk kimia kering tidak berbahaya agi manusia
b. Sebagai pemisah udara ( O2 ) dari api benda yang terbakar
c. Bukan penghantar arus listrik
d. Efektif digunakan di ruangan terbuka asalkan angin tidak terlalu kuat
e. Dapat menyerap panas sekaligus dapat mendinginkan

3. Persyaratan Teknis APAR :
a. Tabung harus dalam keadaan baik ( tidak berkarat )
b. Dilengkapi dengan etiket cara cara penggunaan yang memuat urutan singkat
dan jelas tetang cara penggunaannya
c. Segel harus dalam keadaan baik
d. Tidak ada kebocoran pada membran tabung gas tekanan tinggi ( Cartridge )
e. Slang harus dalam keadaan baik dan tahan tekanan tinggi
f. APAR jenis busa / foam, tabung dalamnya tidak bocor serta lubang pengeluaran
tidak tersumbat
g. Bahan baku pemadaman harus selalu dalam keadaan baik
h. Tutup tabung harus baik dan tertutup rapat
i. Warna tabung harus mudah dilihat
4. Standart pemasanganan penempatan APAR :
a. Setiap APAR dipasang pada posisi yang mudah dilihat dan dijangkau
b. Pemasangan APAR harus sesuai dengan jenis benda / tempat yang dilindungi
c. Setiap APAR harus dipasang menggantung
d. Pemasangan APAR dengan ketinggian max. 1,2 mtr
e. Pemasangan APAR tidak boleh diruangan yang mempunyai suhu lebih dari 49
C dan di bawah 4 C
5. Cara Penggunaan APAR :
a. Ambil APAR dari tempatnya
b. Bebaskan selang dari jepitannya
c. Cabut pin pengaman
d. Pegang nozzle dengan tangan kiri arahkan keatas
e. Tekan katup/handle (untuk tes alat)
f. Ambil jarak ideal 4 meter dibelakang arah angin
g. Arahkan nozzle ke sumber api
h. padamkan dari api yang terkecil

6. HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN :
a. Dilakukan pengecekan berkala per-6 bulan.
b. Untuk menghindari pembekuan media pada tabung pemadam api, harap
dilakukan 1 kali pembolak-balikan tabung per-bulan.
c. Dilakukan pengecekan tekanan dalam tabung dengan mengecek
pressure/indikator yang berada pada handle atau katup penekan.
d. Dilakukan pengecekan selang pada tabung pemadam api.
e. Dilakukan pembersihan tabung untuk menghindari karat dan korosi.
f. Diletakkan pada jalur jalan keluar.
g. Penempatan APAR harus berada pada area yang bebas hambatan, sehingga
mudah untuk dijangkau pada saat dibutuhkan dengan cepat
h. Dekat dengan pintu dan diberi label yang mudah dibaca serta terlihat dengan
dengan jelas.
i. Cukup dekat dengan daerah yang berbahaya.
j. Bila diletakkan pada gantungan ( hanger) , tinggi handle ( pegangan) dari lantai =
120 cm
k. Pada gedung bertingkat usahakan posisi diletakkannya APAR adalah pada posisi
yang sama, diletakkan pada sudut-sudut gang ( koridor) atau dekat pintu tangga.















7. Daftar rincian kegiatan pemeliharaan (preventive maintenance) APAR
No Kegiatan Kriteria
H
a
r
i
a
n

M
i
n
g
g
u
a
n

B
u
l
a
n
a
n

T
r
i
w
u
l
a
n

S
e
m
e
s
t
e
r
a
n

T
a
h
u
n
a
n

Tindakan
1
Pembersihan main
unit
Bersih



Bersihkan dari
debu dan kotoran
yang menempel
2
Pemeriksaan
tekanan/pressure dari
tabung
Sesuai

Pastikan pressure
gauge pada posisi
aman/standart
(jarum berada
pada warna hijau)
3
Pemeriksaan segel
penututp
Sesuai





Pastikan lock
handle tabung
tersegel
4



Pemeriksaan
bracket/gantungan
APAR
Sesuai













Pastikan
bracket/gantungan
kuat untuk
menopang tabung,
pastikan baut/paku
terpasang dengan
kencang


5
Pemeriksaan
hose/selang tabung
Tidak
rusak




Pastikan selang
tabung tidak
retak/crack, tidak
kaku
6
Periksa tanggal
kadaluarsa tabung
Sesuai



Pastikan tanggal
kadaluarsa tabung
masih berlaku
7
Pemeriksaan
peralatan dari
kerusakan fisik
Tidak
rusak



Pastikan tidak
terdapat kerusakan
fisik pada
peralatan
8
Pengujian fungsi
tabung APAR
Berfungsi


Pastikan kinerja
tabung berfungsi
dengan normal





F. CCTV (CLOSED CIRCUIT TELEVISION)
1. Pendahuluan

Secara umumnya adalah beberapa rangkaian Kamera yang melakukan proses
perekaman gambar/visual, biasa berupa gambar saja ada juga yang sebagian lagi yang
juga langsung memakai perekam suara (audio video),
secara online
maupun
nirkabel.




Fungsi CCTV adalah sebagai kamera pengintai dalam segi keamanan. Hasil
perekaman CCTV akan tersimpan dalam harddisk DVR (Digital Video Recorder).
Secara umum bentuk kamera CCTV ada dua jenis yaitu kamera IR dan kamera Dome,
keunggulan kamera IR adalah kamera dapat melihat di area yang minim cahaya atau
tidak terdapat cahaya. Sedangkan kamera dome digunakan pada area yang
pencahayaannya baik dan juga memiliki bentuk yang sederhana, ada juga kamera
dome yang dilengkapi dengan infra merah.
2. Spesifikasi CCTV Tipe Dome Camera

Pick-up Element
1/3" HR color CCD image sensor
Number of Pixels
976(H) x 494(V) <NTSC> / 976(H) x 582(V) <PAL>
Resolution
700 TVL
Min. Illumination 0.1 Lux / F2.0
S/N Ratio
More than 48dB (AGC OFF)
Electronic Shutter
1/60 (1/50) to 1/100,000 sec.
Lens
f3.6 / F2.0
Lens Angle
98.3 (Diagonal) / 76.3 (Horizontal) / 56.2 (Vertical)
IRIS Mode
AES
White Balance ATW
Video Output
1.0 Vp-p composite, 75
Operating Temperature 0~40
Power Source (10%) DC12V
Current Consumption (10%)
70mA
Dimensions (mm)**
100() 60(H)


3. Spesifikasi CCTV Tipe IR Camera
MODEL Model 1 Model 2
Pick-up Element 1/3" Color CCD 1/3" H.R. Color
CCD
Number of Pixels
512(H) x 492(V)
<NTSC> /

512(H) x 582(V)
<PAL>
768(H) x 494(V)
<NTSC> /

752(H) x 582(V))
<PAL>
Resolution Standard 600TVL
Min. Illumination 0.1 Lux / F2.0, 0 Lux (IR ON)
IR LED 5
6
u
n
it
s
IR Effective Range Up to 40
meters
S/N Ratio More than 48dB (AGC off)
Electronic Shutter 1/60 (1/50) to 1/100,000 sec.
Lens f6.0m
m /
F2.0
Lens Angle 5
4

White Balance A
T
W
AGC A
u
t
o
IRIS Mode AES
IP Rating IP67
Video Output 1.0Vp-p composite, 75
Operating Temperature
-
20
~40

Power Source (10%) DC12V
Current Consumption (10%) 70mA (IR OFF), 590mA (IR ON)



4. Peralatan dan bahan yang digunakan dalam pemasangan kamera
a. BNC (Bayonet Neill Concelman) connector adalah tipe konektor RF yang
pada umumnya dipasang pada ujung kabel coaxial, sebagai penghubung
dengan kamera CCTV dan alat perekam (DVR) maupun secara langsung ke
monitor CCTV.
Konektor BNC

b. Kabel Coaxial merupakan sebuah jenis kabel yang biasa digunakan untuk
mengirimkan sinyal video dari kamera CCTV ke monitor. Ada beberapa
tipe kabel coaxial yaitu : RG-59, RG-6 dan RG-11. Penggolongannya
berdasarkan diameter kabel dan jarak maksimum yang direkomendasikan
untuk instalasi kabel tersebut. Lihat tabel dibawah


Gambar Penampang kabel Coaxial
c. Peralatan untuk Crimp kabel coaxial digunakan sebagai alat bantu untuk
memasang konektor BNC pada kabel coaxial.
Tang Crimping

d. Kabel Power digunakan untuk memasok tegangan AC (searah) 220 V ke
adaptor atau power supply kamera CCTV. Biasanya tipe kabel power yang
digunakan adalah NYA (21,5mm) maupun NYM (32,5mm). Instalasi kabel
power ini sebaiknya juga menggunakan pipa high impact conduit.

e. Adaptor dan power supply merupakan perangkat yang menyuplai tegangan
kerja ke kamera CCTV, pada umumnya tegangan yang digunakan yaitu 12
Volt DC. Namun adapula yang menggunakan tegangan 24 Volt (AC) maupun
24 Volt (DC). Hal ini tergantung pada jenis atau tipe kamera yang digunakan.

f. Kamera CCTV dapat dibedakan menjadi beberapa type yaitu kamera Fixed
Dome, kamera IP, kamera wireless dan kamera PTZ (Pan/Tilt/zoom).
Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran anda. Jika anda
membutuhkan sebuah kamera yang perlu diperhatikan adalah mempelajari
spesifikasi kamera CCTV sebelum membeli. Biasanya spesifikasi yang
diberikan berupa format lensa CCD (Charge Coupled Device) yang memiliki
ukuran tipikal (1/2, 1/3dan 1/4), TV Lines yang berkaitan dengan resolusi
gambar, LUX yang berkaitan dengan kesensitifan kamera terhadap cahaya,
Varifocal lens yang berkaitan dengan pegaturan sudut/jarak pandang kamera
dan bisa diatur secara manual, indoor, outdoor, dan lain-lain.

Jenis Kamera CCTV
g. DVR (Digital Video Recorder) adalah sebuah media penyimpan hasil rekaman
video yang telah terpantau oleh kamera CCTV. Besar kecilnya
kapasitas penyimpanan hasil rekaman tergantung pada harddisk yang
terpasang (pada umumnya 160 Gygabyte, namun adapula yang diupgrade
hingga 1 Terabyte). Hasil rekaman video tersebut ada yang berformat QCIF,
MPEG-4 dan avi. Dan biasanya input DVR terdiri dari 4, 8, 16 dan 32 channel
kamera.

Gambar DVR

h. Monitor CCTV ada yang masih menggunakan tabung CRT dan adapula yang
menggunakan LCD. Monitor tersebut dapat menampilkan keseluruhan
gambar dari kamera sesuai inputan ke DVR maupun Multiplexser. Tampilan
kamera-kamera dapat dilihat pada monitor dengan pembagian yang berbeda
(satu tampilan kamera, matrik 22, matrik 33 dan matrik 44).

Gambar Monitor CCTV

i. Setelah anda mengetahui peralatan atau material yang telah disebutkan, di
bawah ini merupakan gambaran sistemnya.

Gambar Rangkaian CCTV
5. Persiapan pengoperasian
Sebelum melakukan pengoperasian sistem kamera pemantau perlu diperhatikan hal-
hal berikut ini :
a. Pastikan titik dimana kamera pemantau dipasang, gunakan kamera tipe IR
(Infra Red) jika area kurang pencahayaan. Gunakan kamera tipe dome jika
area cukup pencahayaan.
b. Pilih titik yang dapat melihat objek yang dipantau dalam memasang cctv.
c. Pasang bracket ke tempat yang kuat sebagai stand cctv.
d. Kabel instalasi cctv menggunakan kabel coaxial 75, hindari kabel yang
tertekuk/terbentur. Pasang connector BNC (Bayonet Neill Concelman) pada
kabel coaxial
e. Pasang eksternal adapter cctv 12V.
f. Gunakan UPS saat pemasangan power DVR dan power kamera.
g. Pastikan secara fisual tidak terdapat kerusakan fisik pada monitor, DVR dan
UPS.
h. Jangan menggunakan penyimpan eksternal yang terdapat virus saat
pengambilan data rekaman pada DVR.

6. Prosedur pemeliharaan dan perawatan CCTV
Berikut ini adalah tata cara dan langkah dalam proses pemeliharaan dan perawatan
CCTV :
a. Inspeksi kabel dan connector yang terhubung ke cctv maupun ke DVR,
hindarkan kabel yang tertekuk. Cek kekencangan connector output kamera
maupun input ke DVR.
b. Inspeksi bracket cctv serta kekencangan baut bracket, serta inspeksi bracket
dari keretakan dan beri cairan anti korosi untuk menghindari korosi pada
bracket cctv.
c. Bersihkan bagian luar dan dalam cover dome (pada tipe kamera dome).
d. Bersihkan kaca retina kamera dengan menggunakan cairan pembersih khusus.
e. Pastikan secara visual tidak terdapat kerusakan visik pada monitor dan DVR.


7. Daftara rincian kegiatan pemeliharaan dan perawatan cctv
No Kegiatan Kriteria
H
a
r
i
a
n

M
i
n
g
g
u
a
n

B
u
l
a
n
a
n

T
r
i
w
u
l
a
n

S
e
m
e
s
t
e
r
a
n

T
a
h
u
n
a
n

Tindakan
1
Pembersihan :
a. DVR
b. Monitor
c. UPS
d. Pembersihan
ruangan
Bersih


Bersihkan dari
debu dan kotoran
yang menempel
2
Pemeriksaan supply
power input
Sesuai

Pastikan input
power sesuai
dengan standar
3
Pemeriksaan kabel dan
konektor
Tidak
Terkelupas
Dan
kendor






Pastikan kabel
dan konektor
dalam kondisi
baik
4
Pemeriksaan bracket
CCTV
Sesuai dan
Tidak ada
korosi














Pastikan bracket/
gantungan kuat
untuk menopang
CCTV, pastikan
baut/paku
terpasang dengan
kencang, beri
semprot dengan
cairan anti
korosi.



5
Pemeriksaan fungsi
perekam
Berfungsi




Pastikan auto dan
manual recording
berfungsi
6
Periksaan fungsi
pengendali multiscreen
display dan monitor
select area
Berfungsi





Pastikan layar
monitor dapat
menampilkan
beberapa
gambar hasil
pendektesian
Pastikan
peralatan dapat
menampilkan
gambar dari
kamera
tertentu pada
layar monitor.
7 Pemeriksaan jaringan Berfungsi



Pastikan
peralatan
terhubung
dengan jaringan
No Kegiatan Kriteria
H
a
r
i
a
n

M
i
n
g
g
u
a
n

B
u
l
a
n
a
n

T
r
i
w
u
l
a
n

S
e
m
e
s
t
e
r
a
n

T
a
h
u
n
a
n

Tindakan
8
Pemeriksaan monitor
fungsi contrast,
brighnest, dan
sharpness.
Berfungsi

Pastikan fungsi
contrast,
brighnest, dan
sharpness dapat
dioperasikan.
9
Pemeriksaan kamera
dari kerusakan fisik
Tidak
rusak




Pastikan tidak
ada kerusakan
fisik pada kamera
10
Pemeriksaan kapasitas
penyimpanan rekaman
Dilakukan
setiap
300 jam



Pastikan
kapasitas media
penyimpanan
dapat
menyimpan data
selama minimal
300 jam
11
Pengaturan system
setting
Sesuaikan
dengan
kebutuhan













Pastikan system
setting dalam
kondisi default
setting atau
sesuaikan dengan
kebutuhan
operasional
12
Pengujian kinerja
secara berkala
Sesuai
standar
kelayakan



Pastikan
peralatan dalam
kondisi layak
untuk
dioperasikan
13
Line up/inspeksi
seluruh instalasi CCTV
Berfungsi




Pastikan seluruh
sistem berfungsi
dengan normal











BAB III
PENUTUP

Setiap pekerjaan yang telah dilaksanakan perlu adanya pengujian / test yang
dituangkan dalam bentuk laporan sebagai catatan sejarah peralatan dan sebagai
informasi tambahan bagi yang membutuhkan.
Sebagai suatu standar pelaksanaan perbaikan maupun perawatan yang baku, maka
setiap selesai dilaksanakan pekerjaan perbaikan dan atau perawatan perlu
dilakukan pemeriksaan ulang terhadap hasil kerja dimaksud oleh petugas yang
memiliki rating yang sesuai peralatan tersebut.