Metode Analisa Mesh (Loop)
{1 Comment}
in Analisa dan Teorema
Bagikan
Metode Arus Mesh
Metode Arus Mesh, atau juga disebut dengan Metode Arus Loop, hampir sama dengan metode
Arus Cabang dalam penggunaan persamaan KVL dan hukum Ohm untuk menghitung arus
pada rangkaian. Yang membedakannya dengan metode Arus Cabang adalah metode ini tidak
menggunakan KCL, dan biasanya memiliki variabel yang tidak diketahuinya lebih sedikit dari
pada metode arus cabang.
Arus Mesh, metode konvensional
Kita llihat bagaimana metode ini menyelesaikan contoh rangkaian yang sama seperti contoh
sebelumnya
Langkah pertama pada metode arus mesh adalah mengidentifikasi loop-loop pada rangkaian
yang mencakup semua komponen. Pada rangkaian contoh di atas, loop yang pertama
terbentuk dari B1, R1, dan R2, dan loop yang kedua terbentuk dari B2, R2, dan R3. Bagian yang
tampak aneh dari metode arus mesh adalah kita mengumpamakan arusnya bergerak mengitari
masing-masing loop. Pada kenyataannya, nama metode ini didapatkan dari caranya
menghubungkan (meshing) arus bersama-sama seperti menghubungkan gear.
Arah arus ini dipilih sembarang, sama seperti metode arus cabang, tetapi persamaan yang
didapatkan lebih mudah untuk diselesaikan bila ada arus-arusnya memiliki arah yang sama
melewati komponen interseksinya (perhatikan bagaimana arus I1 dan I2 keduanya sama-sama
menuju ke bagian bawah dari R2, dimana R2 ini merupakan komponen interseksinya). Bila arah
yang kita asumsikan salah, maka akan menghasilkan nilai arus yang negatif.
Langkah selanjutnya adalah memberi tanda polaritas tegangan pada resistor-resistor sesuai
dengan arah arus mesh. Ingat bahwa terminal resistor yang dimasuki arus adalah terminal
bertanda positif, dan terminal lainnya bertanda negatif. Polaritas baterai tentu saja mengalirkan
arus dari teminal positif menuju terminal negatif, kebetulan pada contoh ini arah arus yang
dihasilkan baterai sama dengan arah arus perumpamaannya.
Dengan menggunakan hukum
tegangan kirchhoff (KVL), kita dapat menerapkannya pada masing-masing loop, sehingga
menghasilkan persamaan yang berisikan tegangan drop dan polaritasnya. Sama seperti
metode arus cabang, kita akan mengganti tegangan drop pada resistor diganti dengan
perkalian antara arus mesh dengan resistansi (dalam ohm) . Sedangkan untuk komponen
dimana kedua arusnya bertemu bersama, kita akan menuliiskannya dalam bentuk persamaan
dengan arus resistor adalah jumlah dari kedua arus mesh.
Penjejakan pada loop sebelah kiri dimulai dari titik pojok kiri atas dan bergerak berlawanan
dengan arah jarum jam (titik awal bebas dipilih dari mana saja), mengukur polaritas masing-
masing komponen menggunakan voltmeter, kita mendapatkan persamaan berikut ini:
-28 + 2 (I1 + I2) + 4I1 = 0
Perhatikan bahwa bagian suku tengah dari persamaan itu merupakan jumlahan dari arus mesh
(I1 + I2) adalah arus yang mengalir pada resistor R2. Hal ini dikarenakan arus mesh I1 dan
I2 mempunyai arah yang sama (sama-sama masuk termminal yang bertanda positif) melewati
R2 sehingga mempunyai tanda yang sama. Dengan melakukan beberapa operasi matematika
diperoleh
- 28 + 2(I1 + I2) + 4I1 = 0 bentuk persamaan yang asli
- 28 + 2I1 + 2I2 + 4I1 = 0
- 28 + 6I1 + 2I2 = 0 adalah betuk persamaan yang paling sederhana
Kita sudah mendapatkan satu persamaan dari dua variabel yang tidak diketahui (I1 dan I2).
Untuk mendapatkan dua variabel yang tidak diketahui ini, kita harus mempunyai minimal dua
persamaan. Bila kita menjejaki loop yang lainnya pada rangkaian itu, kita akan mendapatkan
persamaan KVL lainnya sehingga cukup untuk memeperoleh solusinya (nilai I1 dan I2). Kita
mulai dari pojok atas kiri dari loop sebelah kanan dan bergerak berlawanan arah jarum jam:
-2(I1 + I2) + 7 1I2 = 0
Disederhanakan menjadi
-2I1 3I2 + 7 = 0
Sekarang, dengan dua persamaan ini, kita bisa menggunakannya untuk mendapatkan nilai
I1 dan I2:
-28 + 6I1 + 2I2 = 0 persamaan KVL 1
-2I1 3I2 + 7 = 0 persamaan KVL 2
Persamaan disusun ulang agar memepermudah perhitungan
6I1 + 2I2 = 28
-2I1 + -3I2 = -7
Anda bisa menyelesaikannya dengan banyak cara. Bisa cara eliminasi, subsitusi, atau
menggunakan metode determinan matriks. Maka solusinya adalah
I1 = 5 A
I2 = -1A
Setelah mendapat solusinya kita kembalikan ke rangkaian awal:
Nilai negatif 1 ampere untuk I2 menunjukkan bahwa arah arus I2 yang kita umpamakan tadi
adalah arah yang salah, karena arah yang sebenarnya merupakan kebalikan dari arah yang kita
asumsikan tadi. Maka, dengan mengubah arah arus I2, nilainya menjadi positif 1 ampere:
Setelah arah arus I2 diubah,maka polaritas tegangan R2 dan R3 juga berubah. Kita dapat
menghitung drop tegangan pada masing-masing resistor. Dari gambar di atas, kita dapat
menghitung.
VR1 = (4 ) (5 A) = 20 V (tanda positifnya berada di terminal sebelah kanan)
VR3 = (1 ) (1 A) = 1 V (tanda positif berada di terminal sebelah kiri)
Nilai VR1 dan VR3 sudah kita dapatkan, namun apa yang terjadi dengan resistor R3?
Arus mesh I1 arahnya menuju kebawah R2, sedangkan arah arus mesh I2 arahnya ke atas R2.
Untuk mendapatkan nilai arus yang mengaliri R2, kita harus melihat bagaimana arus mesh
I1 dan I2berinteraksi (pada kasus ini I1 dan I2 mempunyai arah yang berlawanan), maka kita
harus menjumlahkannya secara aljabar. Karena arah arus I1 ke bawah sebesar 5 ampere, dan
I2 ke atassebesar 1 ampere, maka arah arus yang mengalir pada R2 adalah 4 ampere ke
arah bawah.
Berarti, drop tegangan pada
R2 dapat dihitung
VR2 = (2 ) (4 A) = 8 V (tanda positifnya berada di terminal sebelah atas)
Keuntungan utama dari analisa Mesh ini adalah kita akan mendapatkan persamaan yang lebih
sedikit dari pada analisa cabang. Keuntungan ini akan lebih terasa bila kita mempunyai
rangkaian seperti pada gambar berikut ini:
Bila kita menggunakan analisa arus
cabang, kita akan mempunyai lima variabel yang tidak diketahui yaitu I1, I2, I3, I4, dan I5. Berarti
sekurang-kurangnya anda harus memiliki lima persamaan untuk mendapatkan solusinya. Lima
persamaan ini diperoleh dari dua persamaan KCL dan tiga persamaan KVL (dua persamaan
KCL pada node, dan tiga persamaan KVl pada tiap loop):
I1 + I2 + I3 = 0 KCL pada node 1
-I3 + I4 I5 = 0 KCL pada node 2
EB1 + I2R2 + IR1 = 0 KVL loop kiri
-I2R2 + I4R4 + I3R3 = 0 KVL loop tengah
-I4R4 + VB2 I5R5 = 0 KVL loop kanan
Lebih baik anda tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk menyelesaikan persamaan-
persamaan ini. Persamaan ini terlalu banyak dan memakan terlalu banyak waktu untuk
diselesaikan. Namun, apabila anda menggunakan analisa mesh, anda akan memperoleh
persamaan yang lebih sedikit.
- EB1 + R2(I1 + I2) + I1R1 = 0 KVL loop kiri
- R2(I2 + I1) R4(I2 + I3) I2R3 = 0 KVL loop tengah
R4(I3 + I2) + EB2 + I3R5 = 0 KVL loop kanan
Dengan persamaan yang lebih sedikit ini, maka anda dapat menghitungnya lebih mudah,
nyaman, dan lebih cepat.
Rangkaian lain yang bisa diselesaikan dengan analisa mesh adalah jembatan Wheatstone yang
tidak seimbang. Seperti contoh berikut ini:
Karena rasio dari R1/R4 dan R2/R5 adalah
tidak sama, maka jembatan ini tidak seimbang. Sehingga resistor R3 akan dialiri arus dan ada
drop tegangan pada R3. Seperti pada pembahasan sebelumnya, rangkaian ini tidak bisa
dianalisa menggunakan metode seri-paralel.
Kita dapat menggunakan metode arus cabang pada rangkaian ini, tetapi dengan menggunakan
metode arus cabang maka akan dihasilkan enam variabel arus yang tidak diketahui (yaitu
I1 sampai I6) sehingga persamaan yang dihasilkan pun terlalu banyak dan membutuhkan waktu
yang lama untuk mendapatkan solusinya. Maka kita dapat menggunakan analisa mesh yang
menghasilkan variabel dan persamaan yang lebih sedikit.
Langkah pertama analisa mesh adalah menentukan arus mesh pada semua bagian rangkaian.
Perhatikan gambar rangkaiannya, ada dua tempat (loop) yang berisi arus mesh:
Arah arusnya bisa dipilih sembarang.
Namun, dua arus mesh saja tidak cukup, karena I1 ataupun I2tidak/belum menjangkau baterai.
Berarti kita harus menambah arus mesh yang ketiga, yaitu I3:
Disini, kita memilih loop arus I3 bergerak dari bagian bawah baterai, melalui R4, melalui R1, dan
kembali ke bagian atas baterai. Sebenarnya jalur ini bukan satu-satunya jalur yang bisa dipilih
untuk I3, tetapi jalur ini dipilih karena sepertinya jalur ini adalah yang sederhana. (Sebagai
contoh: jalur lain yang bisa anda pilih untuk I3 adalah dari terminal negatif baterai menuju R5,
lalu keR2, dan kembali ke terminal positif baterai)
Selanjutnya kita harus menetukan polaritas dari drop tegangan pada resistor-resistor,
berdasarkan arah arus yang telah kita umpamakan tadi.
Perhatikan gambar, ada hal penting
disini: pada resistor R4, polaritas tegangan akibat arus-arus yang melewatinya tidaklah sama. Ini
dikarenakan arus mesh (I2 dan I3) melewati R4 tidak dalam arah yang sama. Namun, masalah ini
bukanlah penghalang penggunaan analisa mesh, tetapi ini akan menimbulkan sedikit
kerumitan. Lanjut ke tahap berikutnya.
Persamaan KVL untuk loop bagian atas sebelah kanan, bergerak searah jarum jam, diperoleh:
50I1 + 100(I1 + I2) + 150(I1 + I3) = 0
Lalu kita keluarkan variabel yang berada dalam kurung menjadi
50I1 + 100I1 + 100I2 + 150I1 + 150I3 = 0
Disederhanakan menjadi
300I1 + 100I2 + 150I3 = 0 ini adalah bentuk paling sederhana
Persamaan KVL untuk loop kanan bagian bawah tidak mudah ditentukan, karena ada dua arus
yang arahnya saling berlawanan, yaitu pada R4. Karena arahnya yang berlawanan, maka tanda
I2dan I3 juga berlawanan. Bergerak berlawanan arah jarum jam:
100(I1 + I2) + 300(I2 - I3) + 250I2 = 0 ini adalah bentuk aslinya,
Keluarkan variabel yang berada dalam kurung, menjadi
100I1 + 100I2 + 300I2 300I3 + 250I2 = 0
Lalu disederhanakan menjadi
100I1 + 650I2 300I3 = 0
Coba perhatikan persamaan bentuk aslinya. Kita lihat nilai R4 yaitu 300 dikalikan dengan
perbedaan antara I2 dan I3 yaitu (I2 I3). Ini menunjukkan bagaimana merepresentasikan efek
dari dua arus mesh yang memiliki arah yang berlainan, melewati suatu komponen. Tetapi anda
bebas menentukan, anda ingin menulis 300(I2-I3) atau ingin menulis 300(I3-I2) tergantung arah
arus mesh yang anda ambil (sama atau berlawanan arah jarum jam), yang pasti tanda I2 dan
I3 adalah berlawanan. Analogi ini juga berlaku untuk R1 (pada persamaan KVL bagian kanan
atas), dimana drop tegangannya adalah 150(I1+I3), karena I1 dan I3 keduanya sama-sama
mempunyai arah dari bawah menuju atas R1, sehingga drop tegangan yang dihasilkan adalah
bersama (tanda yang sama).
Jadi, kita sudah mempunyai dua persamaan. Kita masih membutuhkan satu persamaan lagi
untuk memperoleh solusinya. Persamaan ketiga ini sudah tentu diperoleh dari loop yang
sebelah kiri. Untuk mendapatkan persamaannya kita mulai penjajakan dari baterai lalu bergerak
searah jarum jam(tidak sama dengan arah arus mesh nya tidak apa-apa), menghasilkan:
24 150(I3 + I1) 300(I3 I2) = 0
Keluarkan variabel dari dalam kurung
24 150I3 150I1 300I3 + 300I2 = 0
Disederhanakan
-150I1 + 300I2 450I3 = -24
Karena kita sudah mempunyai tiga buah persamaan, kita bisa mendapatkan nilai I1, I2,dan I3.
300I1 + 100I2 + 150I3 = 0
100I1 + 650I2 300I3 = 0
-150I1 + 300I2 450I3 = -24
Solusinya adalah:
I1 = -93.793 mA
I2 = 77.241 mA
I3 = 136.092 mA
Tanda negatif pada I1, ini berati arah arus yang kita asumsikan tadi salah. Jadi, arah arus yang
sebenarnya pada rangkaian adalah :
IR1 = I3 I1 = 136.092 mA 93.793 mA = 42.299 mA
IR3 = I1 I2 = 93.793 mA 77.241 mA = 16.552 mA
IR4 = I3 I2 = 136.092 mA 77.241 mA = 58.851 mA
I3 > I1 > I2
IR5 = I2 = 77.241 mA
Hitung drop tegangan pada masing-masing resistor
VR1 = IR1R1 = (42.299 mA)(150 ) = 6.3448 V
VR2 = IR2R2 = (93.793 mA)(50 ) = 4.6897 V
VR3 = IR3R3 = (16.552 mA)(100 ) = 1.6552 V
VR4 = IR4R4 = (58.851 mA)(300 ) = 17.6552 V
VR5 = IR5R5 = (77.241 mA)(250 ) = 19.3103 V
Contoh yang lain:
Temukan jalur baru untuk arus I3 sehingga arah arus I3 tidak berlawanan dengan arah I1 dan
I2(sehingga arus I3 tidak bertabrakan dengan arus I2 di resisitor R4). Lalu tentukan nilai I1, I2,
dan I3. Hitung arus yang melewati masing-masing resistor lalu Bandingkan hasilnya dengan
contoh sebelumnya.
Solusi:
Buat jalur I3 melewati R5, R3, dan R1 seperti ditunjukkan pada gambar:
Maka diperoleh bentuk asli persamaannya :
50I1 + 100(I1 +I2 + I3) + 150(I1 + I3) = 0
300I2 + 250(I2 + I3) + 100(I1 + I2 + I3) = 0
24 250(I2+I3) 100(I1+I2+I3) 150(I1+I3)=0
Dengan menyederhanakan persamaan diatas,diperoleh persamaan:
300I1 + 100I2 + 250I3 = 0
100I1 + 650I2 + 350I3 = 0
-250I1 350I2 500I3 = -24
Perhatikan bahwa polaritas yang berlawanan pada R4 berhasil dihindari.
Setelah dihitung diperoleh
I1 = -93.793 mA
I2 = -58.851 mA
I3 = 136.092 mA
Arus yang melewati masing-masing resistor adalah
IR1 = I1 + I3 = -93.793 mA + 136.092 mA = 42.299 mA
IR2 = I1 = -93.793 mA
IR3 = I1 + I2 + I3 = -93.793 mA -58.851 mA + 136.092 mA = -16.552 mA
IR4 = I2 = -58.851 mA
IR5 = I2 + I3 = -58.851 mA + 136.092 mA = 77.241 mA
Ternyata meskipun jalur I3 yang kita ambil berbeda dengan contoh sebelumnya, nilai arus yang
melewati masing-masing resistor adalah sama dengan hasil pada contoh sebelumnya. Karena
arus yang melewati masing-masing resistor adalah sama, maka tegangan dan polaritasnya juga
akan sama.
Analisa Rangkaian menggunakan KCL
dan KVL
{0 Comments}
in Analisa dan Teorema
Bagikan
Analisa rangkaian DC
Apa itu analisa rangkaian?
Secara umum, analisa rangkaian adalah suatu teknik analisa rangkaian secara matematis
(rangkaian adalah komponen-komponen yang saling terhubung). Sering sekali para teknisi dan
insinyur menemukan rangkaian yang berisi sumber yang berjumlah lebih dari satu atau suatu
rangkaian yang susunan komponenya sangat sulit untuk diselesaikan menggunakan aturan
rangkaian seri-paralel. Karena itulah, digunakan analisa rangkaian.
Untuk mengilustrasikan bagaimana suatu rangkaian sederhana dapat dianalisa dengan
memecah menjadi bagian seri dan bagian paralel, kita mulai dari rangkaian ini:
Untuk menganalisa rangkaian di
atas, pertama-tama harus dicari rangkaian ekivalen dari R2 dan R3yang disusun paralel, lalu
menambahkan dengan R1 yang disusun seri hingga mendapatkan resistansi totalnya. Lalu, kita
dapat memperoleh nilai arus total dengan menggunakan hukum Ohm dengan cara I = E/R, lalu
arus yang didapat ini digunakan untuk mendapatkan tegangan pada masing-masing resistor.
Semuanya dalam prosedur yang sederhana.
Namun, apabila rangkaian tersebut ditambah sebuah baterai lagi maka akan berubah menjadi:
Resistor R2 dan R3 tidak lagi tersusun
paralel satu sama lain, karena baterai B2 telah dimasukkan ke dalam cabang dari resistor
R3 pada rangkaian. Bila kita cari-cari lagi, kita tidak mungkin bisa menemukan dua resistor yang
saling terhubung seri atau paralel secara langsung. Oleh karena itu, analisa seri-paralel tidak
bisa digunakan untuk menganalisa rangkaian seperti ini. Kalau sudah tidak ada lagi resistor
yang bisa disederhanakan dengan cara seri-paralel, maka apa yang bisa kita lakukan?
Bukan hanya rangkaian ini yang tidak bisa diselesaikan dengan cara seri-paralel, perhatikan
juga rangkaian ini:
Ini adalah rangkaian jembatan, apabila rangkaian
tidak berada dalam kondisi seimbangnya (rasio R1/R4 tidak sama dengan R2/R5). Bila jembatan
itu seimbnag, maka arus yang melewati R3 adalah nol, dan jembatan itu bisa diselesaikan
dengan cara seri-paralel (R1 - R4 || R2 - R5). Namun, apabila rangkaian tidak seimbang, maka
arus yang melewati R3 membuat analisa seri-paralel tidak memungkinkan. R1 tidaklah seri
dengan R4 karena ada jalur lain bagi elektron untuk lewat melalui R3. Begitu juga dengan
R2 dengan R5 tidak bisa dianalisa secara seri-paralel karena alasan yang sama. Begitu pula
dengan R1 tidaklah paralel dengan R2 karena R3 memisahkan titik bawahnya.
Meskipun saat ini tidak tampak, inti permasalahan yang sebenarnya adalah adanya banyak nilai
yang tidak diketahui. Paling tidak pada analisa seri-paralel, kita bisa menemukan arus total
dengan cara menyederhanakan rangkaian dari resistor.
Jadi bagaimana kita menyelesaikan suatu rangkaian dimana nilai yang tidak diketahuinya ada
banyak? Jawabannya adalah dengan menggunakan proses matematika yang disebut sistem
persamaan (simultaneous equations atau systems of equations,) dimana, nilai-nilai yang tidak
diketahui ini dibuat dalam bentuk variabel-variabel yang dimasukkan ke dalam suatu
persamaan-persamaan matematis.
Metode Arus Cabang
Teknik analisa rangkaian yang pertama adalah metode arus cabang (atau analisa mesh).
Dalam metode ini, kita mengumpamakan arah arus pada rangkaian itu, lalu menulis
persamaan-persamaan yang mendiskripsikan hubungan-hubungan dari hukum Kirchhoff dan
Ohm. Setelah kita mendapatkan semua persamaan dari semua nilai arus yang tidak diketahui,
kita dapat menyelesaikan persamaan serempak (simultaneous equation) dan menemukan nilai
semua arus, sehingga nilai tegangan pada semua rangkaian dapat dihitung.
Mari kita lihat ilustrasi dari metode ini:
Langkah pertama adalah memilih sebuah
node (atau titik sambungan) pada rangkaian yang digunakan sebagai titik referensi dari arus-
arus yang tidak diketahui. Kita akan memilih node yang menghubungkan R1 dengan R2 dan juga
R3.
Pada node ini, ada tiga nilai arus yang tidak
diketahui yang dinamakan I1, I2, dan I3. Anggap saja arah yang dipilih seperti ditunjukkan pada
gambar. Arah dari arus ini dipilih secara sembarang, anda tidak perlu kawatir apabila arah arus
perumpamaan ini salah, karena dari hasil perhitungan matematis nanti akan diketahui salah
tidaknya arah perumpamaan yang kita ambil, indikasinya apabila arah yang kita ambil salah
yaitu hasil perhitungannya arusnya adalah negatif.
Hukum arus Kirchhoff (Kirchhoffs
Current Law atau disingkat KCL) menyatakan bahwa jumlah aljabar arus yang masuk dan
keluar pada suatu titik adalah nol, atau jumlah arus yang masuk sama dengan jumlah arus yang
sama. Jadi dari sini, ketiga arus (I1, I2, I3) dapat dituliskan dalam suatu persamaan. Untuk
mempermudah, kita akan menyatakan arus yang masuk node sebagai tanda positif, dan arus
yang keluar bertanda negatif:
KCL diterapkan pada node yang dipilih menghasilkan persamaan :
I1 I2 + I3 = 0
Langkah selanjutnya adalah menentukan polaritas tegangan dari resistor-resistor berdasarkan
arah arus yang kita asumsikan tadi. Ingat bahwa terminal resistor yang dimasuki arus (arah
konvensional) merupakan terminal tegangan yang bertanda positif. Polaritas baterai, terminal
yang lebih panjang berarti positif sedangkan yang pendek negatif. Arus konvensional mengalir
dari terminal positif menuju negatif. Apabila arah arus yang kita umpamakan tadi tidak sesuai
dengan arah arus yang ditimbulkan baterai tidak apa-apa, dihiraukan saja dankita tetap
konsisten menggunakan arah arus yang kita umpamakan tadi karena tanda yang sebenarnya
ditentukan dari hasil perhitungan nantinya.
Hukum tegangan Kirchhoff (Kirchhoffs Voltage Law atau disingkat KVL) menyatakan bahwa
jumlah aljabar semua tegangan pada loop tertutup haruslah sama dengan nol, jadi kita dapat
membuat persamaan lagi (dalam bentuk arus I1, I2, dan I3). Untuk mendapatkan persamaan dari
KVL, kita harus menghitung drop-drop tegangan yang terjadi dalam loop, untuk contoh kali ini,
kita akan menggunakan voltmeter. Kita akan memulainya dari pojok kiri atas dan bergerak
berlawanan arah jarum jam seperti ditunjukkan pada gambar-gambar ini:
Voltmeter menunjukkan -28 V
Voltmeter menunjukkan 0 V
Voltmeter menunjukkan sebuah tegangan positif.
Voltmeter menunjukkan sebuah tegangan positif
Setelah meyelesaikan penjejakan mengitari loop
yang sebelah kiri, kita menambahkan tegangan-tegangan ini menghasilkan nilai nol:
KVL untuk tegangan-tegangan drop pada loop sebelah kiri
-28 + 0 + VR2+ VR1 = 0
Tentu saja, kita belum tahu tegangan pada R1 dan R2, sehingga kita tidak bisa memasukkan
nilai ke dalam persamaan. Namun, kita pasti tahu bahwa jumlah ketiga tegangan ini adalah nol,
jadi persamaan tersebut adalah benar.Kita melangkah pada tahap berikutnya dan menyatakan
tegangan VR2 dan VR1 ini dalam ekspresi arus, I. Menggunakan hukum Ohm, V = IR, kita dapat
merubah persamaan di atas menjadi
-28 + VR2 + VR1 = 0
Hukum Ohm : V = IR, subsitusikan persamaan ini kedalam persamaan KVL menjadi,
-28 + I2R2 + I1R1 = 0
Karena kita tahu nilai resistansi dari resistor R1 dan R2, maka kita dapat memasukkannya ke
dalam persamaan, sehingga didapatkan
-28 + 2I2 + 4I1 = 0
Anda pasti bingung mengapa kita memulai manipulasi persamaan ini dengan -28 + VR2 + VR1.
Apalagi, kedua variabel ini belum diketahui nilainya (VR2 dan VR1), jadi apakah keuntungan
mengekspresikan nilai tegangan yang tidak diketahui ini dengan menyatakannya dalam arus
(dikalikan dengan resistansi)? Tujuannya adalah untuk mendapatkan persamaan KVL yang
mempunyai ekspresi/variabel yang sama dengan variabel yang tidak diketahui dari persamaan
yangg diperoleh dari KCL yaitu variabel I. Karena persamaan-persamaan ini dibutuhkan untuk
mendapatkan nilai-nilai dari I1, I2, dan I3. Karena ada tiga variabel yang tidak diketahui, maka kita
harus mempunyai sekurang-kurangnya tiga persamaan (dalam variabel arus) untuk
mendaptkan solusinya (bukan dalam variabel tegangan).
Dengan menggunakan cara yang sama, kita analisa loop yang sebelah kanan dari rangkaian
tersebut. Kita mulai dari node yang dipilih dan bergerak berlawanan arah jarum jam, kita
dapatkan persamaan KVL yang lainnya:
Voltmeter menunjukkan sebuah tegangan negatif
Voltmeter menunjukkan 0 V
Voltmeter menunjukkan + 7 V
Voltmeter menunjukkan sebuah tegangan
negatif
KVL dipakai pada tegangan-tegangan drop dari loop yang sebelah kanan menghasilkan
persamaan
-VR2 + 0 + 7 VR3 = 0
Kita ingin menyatakan drop tegangan pada resistor (VR2 dan VR3) dalam bentuk arus dikalikan
resistansi (menggunakan hukum Ohm), maka kita dapat persamaan
-2I2 + 7 1I3 = 0
Sekarang kita mendapatkan tiga buah sistem persamaan matematika (satu persamaan KCL
dan dua persamaan KVL) dan tiga variabel yang tidak diketahui nilainya:
I1 + I2 I3 = 0 KCL
-28 + 2I2 + 4I1 = 0 KVL
-2I2 + 7 1I3 = 0 KVL
Salah satu metode untuk mendapatkan solusinya mungkin kita bisa menggunakan
softwere/program komputer, karena alasan inilah sehingga akan lebih memudahkan apabila
ditulis dalam bentuk:
1I1 1I2 + 1I3 = 0
4I1 + 2I2 + 0I3 = 28
0I1 2I2 -1I3 = -7
Anda dapat menyelesaikan persamaan diatas ini dengan berbagai metode, seperti metode
subsitusi, eliminasi, atau metode determinan. Bila anda telah menghitungnya, anda akan
mendapatkan solusi:
I1 = 5 A
I2 = 4 A
I3 = -1 A
Jadi, I1 adalah 5 ampere, I2 adalah 4 ampere, dan I3 adalah negatif 1 ampere. Tetapi apa yang
dimaksud arusnya bernilai negatif? Pada kasus ini berarti arah perumpamaan kita di
awal analisa tadi adalah berkebalikan dari arah yang sebenarnya. Kembali lagi pada
rangkaian yang asli, kita dapat menggambar ulang dan untuk I3, arah arusnya harus dibuat
ulang dan arahhnya dibalik sehingga nilai dari I3 sekarang adalah positif.
Coba perhatikan bagaimana arus ditekan menuju baterai B2. Bisa dianalogikan baterai
B2 mencoba menekan tetapi kalah karena nilai baterai B1 lebihh besar. Apakah Ini berarti baterai
yang lebih kuat akan selalu menang dan mengalirkan arus ke baterai yang lebih lemah? Tidak,
ini tergantung dari tegangan relatif dari baterai dan nilai resistansi resistor pada rangkaian itu.
Untuk memastikannya secara pasti kita harus menganalisa rangkaiannya secara matematis.
Jadi, sekarang kita bisa memperoleh drop tegangan pada masing-masing resistor dengan
menggunakan hukum Ohm (V = IR)
VR1 = I1R1 = (5 A) (4 ) = 20 V
VR2 = I2R2 = (4 A) (2 ) = 8 V
VR3 = I3R3 = (1 A) (1 ) = 1 V
Review:
Berikut ini langkah-langkah analisa metode arus cabang:
1. Pilih node/titik dan asumsikan arah arus secara sembarang.
2. Tuliskan persamaan KCL berdasarkan arus masuk atau keluar pada node yang dipilih.
3. Tuliskan polaritas dari tegangan drop pada masing-masing resistor berdasarkan arah arus
yang kita umpamakan tadi.
4. Tulis persamaan KVL untuk masing-masing loop pada rangkaian, lalu subsitusikan V = IR
pada masing-masing drop tegangan pada resistor.
5. Selesaikan arus cabang yang tidak diketahui itu dari persamaan-persamaan yang didapat.
6. Bila ada solusi (nilai arus) yang negatif, berarti arah arus yang kita asumsikan pada
langkah 1 tadi adalah salah atau arahnya terbalik dengan arah arus yang sebenarnya.
7. Hitung drop tegangan pada masing-masing resistor menggunakan hukum Ohm , V = IR.