Anda di halaman 1dari 21

Prosedur Audit Kas dan Setara Kas

PENGERTIAN KAS DAN SETARA KAS


Menurut PSAK No.2 (2009), Kas terdiri atas saldo kas (cash on hand) dan rekening giro (demand
deposits), sedangkan setara kas (cash equivalent) adalah investasi yang sifatnya sangat likuid, berjangka
pendek, dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah yang dapat ditentukan dan memiliki
risiko perubahan nilai yang tidak signifikan. Kas merupakan harta lancar entitas atau perusahaan yang
sangat menarik dan mudah untuk diselewengkan. karena menyangkut dengan penerimaan dan
pengeluaran kas maka perlu pengendalian internal (internal control) yang baik atas kas dan bank.

TUJUAN AUDIT ATAS KAS DAN SETARA KAS
Menurut Sukrisno Agoes (2009), audit atas kas dan setara kas dilakukan untuk meyakinkan bahwa :
1. Posisi kas dan setara kas pada tanggal neraca benar-benar ada dan merupakan milik
perusahaan (existence and ownership).
2. Semua transaksi kas dan setara kas telah dicatat dengan lengkap dan merupakan transaksi yang
sah (completeness)
3. Kas di bank seperti yang dinyatakan dalam rekonsiliasi telah dijumlahkan dengan benar dan
sesuai dengan buku besar (mathematical accuracy)
4. Kas di bank seperti dinyatakan dalam rekonsiliasi adalah absah dan benar (validity and
valuation)
5. Transaksi penerimaan dan pengeluaran kas dicatat dalam periode yang tepat (cut-off).
6. Kas dan setara kas telah diungkapkan dengan benar (disclosure).

PROSEDUR AUDIT KAS
1. Siapkan skedul utama dari kas dan setara kas
2. Lakukan perhitungan kas (cash count) secara mendadak dan serentak untuk semua jenis kas
yang ada di perusahaan serta dibuatkan berita acara pemeriksaan.
3. Yakinkan bahwa buku kas telah ditutup per tanggal pemeriksaan dan semua bukti pengeluaran
dan penerimaan telah dibukukan.
4. Bandingkan saldo kas menurut perhitungan kas dengan saldo buku kas.
5. Apabila perhitungan kas dilakukan sesudah tanggal neraca, lakukan prosedur penarikan mundur
(trace back) ke tanggal neraca dan bila dilakukan sebelum tanggal neraca lakukan penarikan
maju (trace forward) ke tanggal neraca.
6. Bandingkan saldo buku besar dengan saldo perhitungan kas setelah prosedur penarikan per
tanggal neraca.
7. Periksa penjumlahan (footing/cross footing) lembaran-lembaran buku kas, perhatikan
pemindahan saldo pada lembaran tersebut ke lembaran berikutnya.
8. Jika kas kecil menggunakan sistem dana tetap (Imprest fund), teliti apakah sudah ada
petanggungjawaban dari dana tetap sebelum diadakan pengisian kembali.
9. Pastikan bila ada kas yang dalam mata uang asing telah dikonversikan ke dalam kurs yang benar
per tanggal neraca.
10. Buat daftar koreksi yang diperlukan
11. Buat kesimpulan dan komentar hasil pemeriksaan kas yang perlu diketahui oleh para partner
serta saran perbaikan kepada pihak manajemen yang juga merupakan salah satu penilaian
terhadap mutu audit.


PROSEDUR AUDIT BANK
1. Lakukan prosedur konfirmasi untuk semua akun bank, baik yang masih aktif maupun yang sudah
tidak aktif.
2. Minta dari klien hasil rekonsiliasi bank dan periksa kebenaran rekonsiliasi tersebut (meliputi
pencocokan saldo R/K dengan saldo buku besar bank, pemeriksaan cek/giro yang masih beredar
(outstanding check) dan setoran dalam perjalanan (deposit in transit) ).
3. Yakinkan bahwa saldo bank dalam mata uang asing telah dikonversikan ke dalam kurs yang
benar per tanggal neraca.
4. Yakinkan bahwa setiap pembukuan dan penutupan rekening bank mendapat persetujuan dari
pejabat yang berwenang. Mintalan informasi mengapa perlu dibuka rekening baru maupun alas
an dari penutupan rekening.
5. Yakinkan bahwa tidak ada lapping/window dressing dengan memeriksa bukti-bukti penerimaan
dan pengeluaran akhir tanggal neraca.
6. Untuk rekening yang sudah tidak aktif, mintalah penjelasan dari klien dan sarankan untuk
ditutup saja
7. Yakinkan bahwa semua rekening di bank atas nama perusahaan, bukan perorangan.
8. Perhatikan apakah ada kelebihan saldo di bank yang tidak digunakan dalam waktu singkat dan
sarankan untuk didepositokan untuk mendapat tingkat bunga yang lebih tinggi.
9. Periksa pendebitan dan pengkeditan yang ada dalam jurnal dan dibukukan kedalam buku besar.
10. Catat hal-hal yang perlu diberikan saran kepada manajemen dalam surat manajemen
(Management Letter).
11. Buat kesimpulan dan komentar hasil pemeriksaan bank yang perlu diketahui oleh partner.


PROSEDUR AUDIT INVESTASI JANGKA PENDEK

1. Siapkan skedul utama investasi jangka pendek
2. Lakukan konfirmasi atas investasi yang dipegang oleh pihak lain, apabila digunakan sebagai
jaminan oleh pihak bank atau dikuasai oleh pihak broker/pialang.
3. Mintalah catatan kurs harga pasar pada tanggal neraca untuk saham dan bandingkan dengan
harga belinya.
4. Periksa transaksi mutasi penambahan dan pengurangan dengan melihat bukti pembelian dan
penjualan serta apakah telah mendapat persetujuan dari pejabat yang berwenang.
5. Lakukan verifikasi atas dividen tunai/saham dan penerimaan bunga deposito.
6. Lakukan pengecekan pencatatan investasi apakah sudah sesuai dengan ketentuan standar
akuntansi berlaku umum.
7. Perhatikan klasifikasi dari setara kas bahwa investasi tersebut segera akan jatuh tempo dalam
tiga bulan atau kurang dari tanggal perolehannya termasuk sebagai kelompok kas dan setara kas
dan tidak digunakan sebagai jaminan ( jika lebih dari tiga bulan termasuk investasi jangka
pendek ).




Audit atas Piutang usaha

Pengertian Audit
Untuk mengetahui dengan jelas pengertian auditing, maka berikut ini akan dikemukakan definisi-definisi
pengauditan yang di ambil dari beberapa sumber:
1. Konrath (2002:5) dalam Sukrisno Agoes (2004:1) mendefinisikan audit sebagai
suatu proses sistematis untuk secara objektif mendapatkan dan mengevaluasi bukti mengenai asersi
tentang kegiatan-kegiatan dan kejadian-kejadian ekonomi untuk meyakinkan tingkat keterkaitan antara
asersi tersebut dan kriteria yang telah ditetapkan dan mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak
yang berkepentingan.
2. Menurut Sukrisno Agoes (2004:3), audit adalah
Suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis oleh pihak yang independen, terhadap
laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-
bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan
keuangan tersebut.
3. Menurut Mulyadi (2002: 9), audit merupakan:
Suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai
pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi dengan tujuan untuk menetapkan
tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta
penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan.
Menurut Mulyadi, (2002:9), berdasarkan pengertian audit di atas maka audit mengandung unsur-unsur:
1. suatu proses sistematis, artinya audit merupakan suatu langkah atau prosedur yang logis,
berkerangka dan terorganisasi. Auditing dilakukan dengan suatu urutan langkah yang direncanakan,
terorganisasi dan bertujuan.
2. untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif, artinya proses sistematik ditujukan untuk
memperoleh bukti yang mendasari pernyataan yang dibuat oleh individu atau badan usaha serta untuk
mengevaluasi tanpa memihak atau berprasangka terhadap bukti-bukti tersebut.
3. pernyataan mengenai kegiatan dan kejadian ekonomi, artinya pernyataan mengenai kegiatan dan
kejadian ekonomi merupakan hasil proses akuntansi.
4. menetapkan tingkat kesesuaian, artinya pengumpulan bukti mengenai pernyataan dan evaluasi
terhadap hasil pengumpulan bukti tersebut dimaksudkan untuk menetapkan kesesuaian pernyataan
tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan. Tingkat kesesuaian antara pernyataan dengan kriteria
tersebut kemungkinan dapat dikuantifikasikan, kemungkinan pula bersifat kualitatif.
5. kriteria yang telah ditetapkan, artinya kriteria atau standar yang dipakai sebagai dasar untuk
menilai pernyataan (berupa hasil akuntansi) dapat berupa:
1) peraturan yang ditetapkan oleh suatu badan legislatif
2) anggaran atau ukuran prestasi yang ditetapkan oleh manajemen
3) prinsip akuntansi berterima umum (PABU) di Indonesia
6. Penyampaian hasil (atestasi), dimana penyampaian hasil dilakukan secara tertulis dalam bentuk
laporan audit (audit report).
7. Pemakai yang berkepentingan, pemakai yang berkepentingan terhadap laporan audit adalah para
pemakai informasi keuangan, misalnya pemegang saham, manajemen, kreditur, calon investor,
organisasi buruh dan kantor pelayanan pajak.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahw dengan perusahaan) dengan tujuan dapat
memberikan pendapat/opini mengenai kewajaran laporan keuangan.
2.1.2 Jenis-Jenis Audit
Audit memiliki bermacam-macam jenis. Berikut jenis-jenis audit menurut beberapa pakar akuntansi.a
audit mencakup suatu proses sistematis dan terarah dalam prosesnya untuk menguji laporan keuangan
perusahaan yang telah disusun manajemen oleh seorang yang kompeten (memiliki keahlian sebagai
seorang akuntan) dan independen (tidak memiliki hubungan apapun
Menurut Sukrisno Agoes (2004:9) ditinjau dari luasnya pemeriksaan, audit dibagi menjadi :
1. General Audit (Pemeriksaan umum)
Suatu pemeriksaan umum atas laporan keuangan yang dilakukan kantor akuntan publik (KAP)
independen dengan tujuan untuk bisa memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan
secara keseluruhan. Pemeriksaan tersebut harus dilakukan sesuai dengan Standar Profesional Akuntan
Publik dan memperhatikan Kode Etik Akuntan Indonesia, Aturan Etika KAP yang telah disahkan oleh
Ikatan Akuntan Indonesia serta Standar Pengendalian Mutu.
2. Special Audit (Pemeriksaan Khusus)
Suatu pemeriksaan terbatas (sesuai permintaan klien) yang dilakukan oleh KAP Independen, dan pada
akhir pemeriksaannya auditor tidak perlu memberikan pendapat terhadap kewajaran laporan keuangan
secara keseluruhan. Pendapat yang diberikan terbatas pada pos atau masalah tertentu yang diperiksa,
karena prosedur audit yang dilakukan juga terbatas. Misalnya KAP diminta untuk memeriksa apakah
terdapat kecurangan terhadap penagihan piutang usaha diperusahaan klien.
Sedangkan menurut Mulyadi (2002:30) membagi jenis-jenis audit menjadi 3 kelompok yaitu:
1. Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audit)
Audit laporan keuangan adalah audit yang dilakukan oleh auditor independen terhadap laporan
keuangan yang disajikan oleh kliennya untuk menyatakan pendapat mengenai kewajran laporan
keuangan tersebut.
2. Audit Kepatuhan (Compliance Audit)
Audit kepatuhan ialah audit yang tujuannya untuk menentukan apakah yang diaudit sesuai dengan
kondisi atau peraturan tertentu. Hasil audit kepatuhan umumnya dilaporkan kepada pihak yang
berwenang membuat kriteria. Audit kepatuhan banyak dijumpai dalam pemerintahan.
3. Audit Operasional (Operational Audit)
Auditor operasional merupakan review secara sistematik kegiatan organasasi, atau laporan bagian
daripadanya, dalam hubungannya dengan tujuan tertentu. Tujuan audit operasional adalah untuk :
1) Mengevaluasi kinerja
2) Mengidentifikasi kesempatan untuk peningkatan
3) Membuat rekomendasi untuk perbaikan atau tindakan lebih lanjut
Jenis-Jenis Auditor
Jenis-jenis auditor dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan yaitu auditor independen, auditor
pemerintah, dan auditor intern.
1. Auditor Independen
Auditor independen adalah auditor profesional yang menyediakan jasanya kepada masyarakat umum,
terutama dalam bidang audit atas laporan keuangan yang dibuat oleh klien. Audit tersebut terutama
ditujukan untuk memenuhi kebutuhan para pemakai informasi keuangan seperti kreditur, investor,
calon kreditur, calon investor, dan instansi pemerintah ( terutama instansi pajak).
2. Auditor Pemerintah
Auditor pemerintah ialah auditor profesional yang bekerja di instansi pemerintah yang tugas pokoknya
melakukan audit atas pertanggungjawaban keuangan yang disajikan oleh unit-unit organisasi atau
entitas pemerintah atau pertanggungjawaban keuangan yang ditujukan kepada pemerintah.
3. Audit Intern
Audit Intern adalah auditor yang bekerja dalam perusahaan (perusahaan negara ataupun perusahaan
swasta) yang tugas pokoknya ialah menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang diterapkan oleh
manajemen puncak telah dipatuhi, menentukan baik atau tidaknya penjagaan kekayaan organisasi,
menentukan efisiensi dan efektifitas prosedur kegiatan organisasi, serta menentukan keandalan
informasi yang dihasilkan oleh berbagai bagian organisasi.
Menurut Wiliam, et.al (2006:65) mengklasifikasi jenis auditor menjadi empat kelompok yaitu:
1. Auditor Eksternal
2. Auditor Internal
3. Auditor Pemerintah
4. Auditor Forensik
2.1.4 Standar Audit
Standar audit berbeda dengan prosedur auditing. Prosedur berkaitan dengan tindakan yang harus
dilaksanakan, sedangkan standar berkenaan dengan kriteria atau ukuran mutu kinerja tindakan
tersebut dan berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai melalui penggunaan prosedur tersebut.
Standar auditing yang telah ditetapkan dan disahkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (2001:150) terdiri
dari sepuluh standar yang dikelompokkan menjadi 3 kelompok besar yaitu:
1. Standar Umum
1) Audit harus dilakukan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang
cukup sebagai auditor.
2) Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus
dipertahankan oleh auditor.
3) Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran
profesionalnya dengan cermat dan seksama.
Sukrisno Agoes (2004:30) menjelaskan bahwa :
Standar umum bersifat pribadi dan berkaitan dengan persyaratan auditor dan mutu pekerjaannya dan
berbeda dengan standar yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan lapangan dan pelaporan.
Standar pribadi atau standar umum ini berlaku sama dalam bidang pelaksanaan pekerjaan lapangan dan
pelaporan.
2. Standar Pekerjaan Lapangan
1) Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi
sebagaimana mestinya.
2) Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan
menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.
3) Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan
keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan
yang diaudit.
Menurut Sukrisno Agoes (2004:35) bahwa standar pekerjaan lapangan berkaitan dengan pelaksanaan
audit dan sepervisi, pemahaman dan evaluasi pengendalian intern, pengumpulan bukti-bukti audit
melalui compliance test, substantive test, analytical review, sampai selesainya audit field work.
3. Standar Pelaporan
1) Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
2) Laporan auditor harus menunjukkan, jika ada, ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi
dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip
akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.
3) Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan
lain dalam laporan audit
4) Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara
keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak diberikan. Jika pendapat secara
keseluruhan tidak diberika, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan
laporan keuangan, maka laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifart pekerjaan
audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggungjawab yang dipikul oleh auditor.
2.1.5 Tahap-Tahap Pelaksanaan Audit
Mulyadi (2002:122) membagi tahapan pelaksanaan audit menjadi empat tahap yaitu:
1. Penerimaan perikatan audit
Perikatan (engagement) adalah kesepakatan dua pihak untuk mengadakan suatu ikatan perjanjian.
Dalam perikatan audit, klien yang memerlukan jasa auditing mengadakan suatu ikatan perjanjian
dengan auditor. Dalam ikatan perjajian tersebut, klien menyerahkan pekerjaan audit atas laporan
keuangan kepada auditor dan auditor sanggup untuk melaksanakan pekerjaan audit tersebut
berdasarkan kompetensi profesionalnya.
2. Perencanaan Audit
Langkah berikutnya setelah perikatan audit diterima oleh auditor adalah perencanaan audit.
Keberhasilan penyelesaian perikatan audit sangat ditentukan oleh kualitas perencanaan audit yang
dibuat oleh auditor.
3. Pelaksanaan Pengujian Audit
Tujuan utama pelaksanaan pekerjaan lapangan ini adalah untuk memperoleh bukti audit tentang
efektifitas pengendalian intern klien dan kewajaran laporan keuangan klien.
4. Pelaporan Audit
Pelaksanaan tahap ini harus mengacu ke standar pelaporan. Ada dua langkah penting yang
dilaksanakan oleh auditor dalam pelaporan audit. 1) menyelesaikan audit dengan meringkas semua hasil
pengujian dan menarik kesimpulan. 2) menerbitkan laporan audit.

2.2 Kantor Akuntan Publik
2.2.1 Pengertian Kantor Akuntan Publik
Dalam Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik per 1 Januari 2001 (2001:1) disebutkan bahwa KAP
adalah suatu bentuk organisasi akuntan publik yang memperoleh izin sesuai dengan peraturan
pernudang-undangan, yang berusaha di bidang pemberian jasa profesional dalam praktik akuntan
publik.
Dengan kata lain KAP merupakan tempat penyediaan berbagai jasa oleh profesi akuntan publik bagi
masyarakat. Suatu kantor akuntan yang sudah cukup besar dapat dibagi-bagi menurut jenis jasa yang
diberikan, misalnya : bagian audit, jasa manajemen, perpajakan, serta penelitian dan latihan. Pembagian
ini dimaksudkan untuk memungkinkan pegawai mengembangkan keahlian mereka ke bagian yang
sesuai dengan pengetahuan preferensi mereka sehingga memungkinkan pemberian jasa yang lebih baik
bagi klien.
2.2.2 Syarat Pendirian Kantor Akuntan Publik
Sesuai pasal 3 Keputusan Menteri Keuangan RI No.423/KMK.06/2002 tentang jasa akuntan publik untuk
memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1), akuntan yang bersangkutan wajib
mengajukan permohonan tertulis kepada Direktur Jenderal Lembaga Keuangan u.p Direktur Pembinaan
Akuntan dan Jasa Penilai dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Berdomisili di wilayah Republik Indonesia yang dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau
bukti lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Tidak pernah dikenakan sanksi pencabutan izin Akuntan Publik.
3. Memilik nomor Register Negara untuk Akuntan.
4. Lulus Ujian Sertifikasi Akuntan Publik yang diselenggarakan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).
5. Menjadi anggota IAI dan IAI-Kompartemen Akuntan Publik yang dibuktikan dengan kartu anggota
atau surat keterangna dari organisasi yang bersangkutan.
6. Memiliki pengalaman kerja di bidang audit umum atas laporan keuangan sekurang-kurangnya 1.000
(seribu) jam dalam 5 (lima) tahun terakhir dan sekurang-kurangnya 5 (lima ratus) jam diantaranya
memimpin dan menspervisi perikatan audit umum, yang disahkan oleh Pemimpin KAP tempat bekerja
atau pejabat setingkat eselon I instansi pemerintah keuangan yang berwenagn di bidang audit umum,
dan pengalaman audit umum sekurang-kurangnya 3.000 (tiga ribu) jam dengan reputasi baik di bidang
audit.
7. Melengkapi formulir AP-1 sebagaimana terlampir dalam Keputusan Menteri Keuangan.
2.2.3 Struktur Organisasi Kantor Akuntan Publik
Suatu KAP yang sudah cukup besar dapat dibagi-bagi menurut jenis jasa yang diberkan. Jadi, misalnya
kita dapat melihat kantor akuntan yang dibagi menjadi bagian pemeriksaan (audit), bagian
konsultasi (management service), dan bagian sistem (system analysist). Pembagian ini dimaksudkan
untuk memungkinkan pegawai profesional mengembangkan keahlian mereka ke jurusan yang sesuai
dengan pengerahuan dan preferensi mereka sehingga memungkinkan pemberian jasa yang lebih baik
bagi pelanggan.
Mulyadi (2002:33) menjelaskan struktur auditor dibagi menjadi parner (rekan), manajer, auditor senior,
dan auditor junior
1. Partner
Partner menduduki jabatan tinggi dalam perikatan audit. Bertanggungjawab atas hubungan dengan
klien. Bertanggungjawab secara menyeluruh mengenai auditing. Parner menandatangani laporan audit
dan management letter, dan bertanggungjawab terhadap penagihan fee audit dari klien.
2. Manajer
Manajer bertindak sebagai pengawas audit, bertugas untuk membantu auditor senior dalam
merencanakan program audit dan waktu audit. Me-review kertas kerja, laporan audit danmanagement
letter. Biasanya manajer melakukan pengawasan terhadap pekerjaan beberapa auditor
3. Auditor senior
Auditor senior bertugas untuk melaksanakan audit. Bertanggungjawab untuk mengusahakan biaya audit
dan waktu audit sesuai dengan rencana. Bertugas untuk mengarahkan dan me-reviewpekerjaan auditor
junior. Auditor senior biasanya akan menetap di kantor klien sepanjang prosedur audit dilaksanakan.
4. Auditor junior
Auditor junior melaksanakan audit secara rinci. Membuat kertas kerja untuk mendokumentasikan
pekerjaan audit yang telah dilaksanakan. Pekerjaan ini biasanya dipegang oleh auditor baru saja
menyelesaikan pendidikan formalnya di sekolah. Dalam melaksanakan pekerjaannya sebagai auditor
junior, seorang auditor harus belajar secara rinci mengenai pekerjaan audit.
2.2.4 Jasa Yang Diberikan Kantor Akuntan Publik
Menurut Mulyadi (2002:4) jasa yang diberikan akuntan publik dapat digolongkan ke dalam tiga
kelompok yaitu jasa assurance, jasa atestasi dan jasa nonassurance.
1. Jasa assurance
Jasa assurance adalah jasa profesional independen yang meningkatkan mutu informasi bagi
pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan memerlukan informasi yang handal dan relevan
sebagai basis untuk mengambil keputusan.
2. Jasa atestasi
Jasa atestasi adalah suatu pernyataan pendapat atau pertimbangan orang yang independen dan
kompeten tentang apakah asersi entitas sesuai, dalam semua hal yang material, dengan kriteria yang
telah ditetapkan. Asersi adalah pernyataan yang dibuat oleh satu pihak yang secara implisit
dimaksudkan untuk digunakan oleh pihak lain (pihak ketiga).
3. Jasa nonassurance
Jasa nonassurance adalah jasa yang dihasilkan oleh akuntan publik yang di dalamnya ia tidak
memberikan suatu pendapat, keyakinan negatif, ringkasan temuan, atau bentuk lain keyakinan. Jenis
jasa nonassurance yang dihasilkan oleh akuntan publik adalah jasa kompilasi, jasa perpajakan, jasa
konsultasi.
2.2.5 Standar Profesional Akuntan Publik
Kualitas jasa yang dihasilkan oleh profesi akuntan publik diatur dan dikendalikan melalui berbagai
standar yang diterbitkan oleh organisasi profesi tersebut. Organisasi Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yang
merupakan wadah untuk menampung berbagai tipe akuntan Indonesia memiliki empat kompartemen
yaitu kompartemen Akuntan Publik, kompartemen Akuntan Manajemen, Kompartemen Sektor Publik,
Kompartemen Akuntan Pendidik.
Kompartemen Akuntan Publik merupakan wadah untuk menampung para akuntan yang berpraktik
dalam profesi akuntan publik. Di dalam Kompartemen Akuntan Publik ini dibentuk badan yang
bertanggungjawab untuk menyusun berbagai standar yang digunakan oleh akuntan publik di dalam
penyediaan berbagai jasa bagi masyarakat. Badan penyusun standar (standard setting body) yang
bertanggung jawab untuk menyusun standar penyediaan berbagai jasa akuntan publik adalah Dewan
Standar Profesional Akuntan Publik.
Menurut Mulyadi (2002:35) ada lima macam standar profesioanal yang diterbitkan oleh Dewan Standar
Profesional Akuntan Publik sebagai aturan mutu pekerjaan akuntan publik yaitu:
1. Standar Auditing
2. Standar Atestasi
3. Standar Jasa Akuntansi dan Review
4. Standar Jasa Konsultasi
5. Standar Pengendalian Mutu

2.3 Audit Piutang Usaha
2.3.1 Pengertian Piutang Usaha
Piutang timbul dari beberapa jenis transaksi, di mana yang paling umum ialah dari penjualan barang
atau jasa secara kredit. Kredit dapat diberikan dalam bentuk perkiraan terbuka atau berdasarkan
instrumen kredit yang sahih, yang disebut surat promes (wesel). Surat promes (promissory note), yang
sering disebut wesel (nota), adalah janji tertulis untuk membayar sejumlah uang tertentu atas
permintaan atau pada suatu tanggal yang telah ditetapkan.
Menurut Donald E. Keiso (2004:386) piutang adalah klaim uang, barang, jasa kepada pelanggan atau
pihak pihak lainnya.
Menurut Sukrisno Agoes, (2004:173) piutang usaha adalah piutang yang berasal dari penjualan barang
dagangan atau jasa secara kredit.

Menurut Jhon J Wild (2005:260) Piutang merupakan semua klaim dalam bentuk uang terhadap entitas
lainnya, termasuk individu, perusahaan, atau organisasi-organisasi lainnya.
Menurut Mulyadi (2001:257) dalam akuntansi piutang, secara periodik dihasilkan pernyataan piutang
yang dikirimkan kepada setiap debitur. Mutasi penjualan adalah disebabkan oleh transaksi penjualan
kredit, penerimaan kas dari debitur, retur penjualan, dan penghapusan piutang.
Contoh dari piutang usaha menurut Sukrisno Agoes (2004:713) ialah :
1. Piutang Usaha
2. Wesel Tagih
3. Piutang Pegawai.
4. Piutang Bunga
5. Uang Muka
6. Refundable deposit (uang jaminan)
7. Piutang lain-lain
8. Allowance for bad debts (penyisihan piutang tak tertagih)
2.3.2 Tujuan Audit Piutang Usaha
Menurut Sukrisno Agoes (2004:173) tujuan pemeriksaan perkiraan piutang usaha yaitu:
1. Untuk mengetahui apakah terdapat pengendalian intern (internal control) yang baik atas piutang dan
transaksi penjualan, piutang dan penerimaan kas.
2. Untuk memeriksa validity (keabsahan) dan authenticity (ke otentikan) dari pada piutang.
3. Untuk memeriksa collectibility (kemungkinan tertagihnya) piutang dan cukup tidaknya
perkiraanallowance for bad debts (penyisihan piutang tak tertagih)
4. Untuk mengetahui apakah ada kewajiban bersyarat (contingent liability) yang timbul karena
pendiskontoan wesel tagih (notes receivable)
5. Untuk memeriksa apakah penyajian piutang di neraca sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia/Standar Akuntansi Keuangan.

2.3.3 Prosedur Audit Piutang Usaha
Menurut Sukrisno Agoes (2004:125) Prosedur audit ialah langkah-langkah yang harus dijalankan
auditor dalam melaksanakan pemeriksaaannya dan sangat diperlukan oleh asisten agar tidak melakukan
penyimpangan dan dapat bekerja secara efisien dan efektif. Prosedur audit dilalukan dalam rangka
mendapatkan bahan-bahan bukti (audit evidence) yang cukup untuk mendukung pendapat auditor atas
kewajaran laporan keuangan.
Sukrisno Agoes (2004:176) menyarankan prosedur audit piutang usaha sebagai berikut:
1. Pelajari dan evaluasi internal control atas piutang dan transaksi penjualan, piutang dan penerimaan.
2. Buat Top Schedule dan Supporting Schedule piutang pertanggal neraca.
3. Minta aging shedule dari piutang usaha pertanggal neraca yang antara lain menunjukkan nama
pelanggan (customer), saldo piutang, umur piutang dan kalau bisa subsequent collections-nya.
4. Periksa mathematical accuracy-nya dan check individual balance ke subledger lalu totalnya kegeneral
ledger.
5. Test check umur piutang dari beberapa customer ke subledger piutang dan sales invoice.
6. Kirimkan konfirmasi piutang:
1) Tentukan dan tuliskan dasar pemilihan pelanggan yang akan dikirim surat konfirmasi.
2) Tentukan apakah akan digunakan konfirmasi positif atau konfirmasi negatif.
3) Cantumkan nomor konfirmasi baik di schedule piutang maupun di surat konfirmasi.
4) Jawaban konfirmasi yang berbeda harus diberitahukan kepada klien untuk dicari perbedaannya.
5) Buat ikhtisar (summary) dari hasil konfirmasi
7. Periksa subsequent collections dengan memeriksa buku kas dan bukti penerimaan kas untuk periode
sesudah tanggal neraca sampai mendekati tanggal penyelesaian pemeriksaan lapangan(audit field
work). Perhatikan bahwa yang dicatat sebagai subsequent collections hanyalah yang berhubungan
dengan penjualan dari periode yang sedang diperiksa.
8. Periksa apakah ada wesel tagih (notes receivable) yang didiskontokan untuk mengetahui kemungkinan
adanya contingent liability.
9. Periksa dasar penentuan allowance for bad debts dan periksa apakah jumlah yang disediakan oleh
klien sudah cukup, dalam arti tidak terlalu besar dan terlalu kecil.
10. Test sales cut-of dengan jalan memeriksa sales invoice, credit note dan lain-lain, lebih kurang 2 (dua)
minggu sebelum dan sesudah tanggal neraca. Periksa apakah barang-barang yang dijual
melalui invoice sebelum tanggal neraca, sudah dikirim per tanggal neraca. Kalau belum cari tahu
alasannya. Periksa apakah ada faktur penjualan dari tahun yang diperiksa, yang dibatalkan dalam
periode berikutnya.
11. Periksa notulen rapat, surat-surat perjanjian, jawaban konfirmasi bank, dan correspondence
fileuntuk mengetahi apakah ada piutang yang dijadikan sebagai jaminan.
12. Periksa apakah penyajian piutang di neraca dilakukan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia/SAK
13. Tarik kesimpulan mengenai kewajaran saldo piutang yang diperiksa.


Laporan audit independen
Laporan Auditor Independen

No. 120304 JCC FR SA
Pemegang Saham, Dewan Komisaris dan Direksi
P.T. Jembo Cable Company Tbk


Kami telah mengaudit neraca konsolidasi P.T. Jembo Cable Company Tbk dan anak perusahaan tanggal
31 Desember 2003 dan 2002, serta laporan laba rugi, perubahan ekuitas, dan arus kas konsolidasi untuk
tahun-tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung jawab
manajemen Perusahaan. Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas laporan
keuangan berdasarkan audit kami.

Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia.
Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh
keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu audit meliputi
pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan
dalam laporan keuangan. Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan
estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan
secara keseluruhan. Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar memadai untuk menyatakan
pendapat.

Menurut pendapat kami, laporan keuangan konsolidasi yang kami sebut di atas menyajikan secara
wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan P.T. Jembo Cable Company Tbk dan anak
perusahaan tanggal 31 Desember 2003 dan 2002, serta hasil usaha, perubahan ekuitas dan arus kas
konsolidasi untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi
yang berlaku umum di Indonesia.

Catatan 37 atas laporan keuangan konsolidasi berisi pengungkapan dampak kondisi ekonomi Indonesia
terhadap Perusahaan dan anak perusahaan dimana pada tahun 2003 dan 2002 Perusahaan tidak dapat
memenuhi beberapa kewajibannya atas pinjaman yang jatuh tempo sesuai ketentuan. Saat ini
Perusahaan sedang melakukan negosiasi untuk menyelesaikan tunggakan tersebut. Rencana dan
langkah manajemen Perusahaan dan anak perusahaan untuk mengatasi kondisi tersebut juga
diungkapkan dalam Catatan 37. Laporan keuangan konsolidasi terlampir mencakup dampak kondisi
ekonomi tersebut, sepanjang hal itu dapat ditentukan dan diperkirakan.





AUDIT ATAS SIKLUS PEROLEHAN DAN PEMBAYARAN KEMBALI MODAL

1. tujuan utama audit atas akun ekuitas pemilik
Tujuan audit ekuitas pemilik :
a. Pengendalian intern atas modal saham dan deviden terkait mencukupi
b. Transaksi ekuitas pemilik dibukukan dengan semestinya, sebagaimana yang didefinisikan oleh enam
tujuan terkait transaksi
c. Saldo ekuitas pemilik disajikan dan diungkapkan dengan semestinya, sebagaimana didefinisikan oleh
tujuan audit terkait saldo untuk akun ekuitas pemilik (hak/kewajiban dan nilai yang dapat direalisir
tidak diaplikasikan.

2. Pengendalian intern yang terpenting atas ekuitas pemilik
a. Otorisasi Transaksi yang Memadai
b.Penerbitan Modal Saham Pembelian Kembali Modal Saham
c. Penyelenggaraan Pembukuan dan
d. Pemisahan Tugas yang Memadai.
Prosedur yang terpenting untuk pencegahan salah saji dalam ekuitas pemilik adalah :
1. yang jelas untuk penyiapan sertifikat saham dan pembukuan transaksi modal saham.
2. Verifikasi internal yang independen mengenai informasi di dalam catatan.

3. audit berikut ini sering digunakan oleh auditor dalam melakukan verifikasi modal :
a. Telaah akte pendirian perusahaan dan anggaran rumah tangga serta anggaran dasar yang terkait
modal
b. Telaah notulen rapat dewan komisaris untuk tahun yang bersangkutan apakah transaksi-transaksi
ekuitas pemilik telah disetujui pejabat berwenang
c.Analisis seluruh akun ekuitas pemilik untuk tahun yang bersangkutan dan catat sifat perubahan yang
terjadi pada setiap akun
d.Teliti seluruh no sertifikat dalam buku modal untuk seluruh saham yang beredar
e. Periksa buku sertifikasi saham, apakah ada sertifikat yang dibatalkan atau dibeli kembali
f. Hitung kembali laba per lembar saham
g. Telaah persyaratan-persyaratan hutang mengenai preferensi dalam likuidasi, dividen yang tertunggak
dan pembatasan-pembatasan terhadap pembayaran dividen dan penerbitan saham
Diminta :
1. Sebutkan tujuan masing-masing prosedur audit diatas
2. sebutkan jenis kesalahan yang dapat ditemukan oleh auditor dengan menggunakan masing-
masing prosedur audit diatas
No. Prosedur Audit Tujuan Audit Jenis Kesalahan yang
dapat Ditemukan
a. Telaah akte pendirian
perusahaan dan
anggaran rumah
tangga serta anggaran
dasar yang terkait
modal
Keberadaan dan
keterjadiaan
Perusahaan ilegal
b. Telaah notulen rapat
dewan komisaris
untuk tahun yang
bersangkutan apakah
transaksi-transaksi
ekuitas pemilik telah
disetujui pejabat
berwenang
Keberadaan dan
keterjadian
Mengungkapkan
saham yang
dikeluarkan sesuai
yang diotorisasi direksi
c. Analisis seluruh akun
ekuitas pemilik untuk
tahun yang
bersangkutan dan
catat sifat perubahan
yang terjadi pada
setiap akun
Keberadaan,
keterjadian, dan
akurasi
Mengungkapkan
perubahan akuntansi
d. Teliti seluruh no
sertifikat dalam buku
modal untuk seluruh
saham yang beredar
Kelengkapan Mengungkapkan
saham yang
dikeluarkan sesuai
dengan akte pendirian
e. Periksa buku sertifikasi
saham, apakah ada
sertifikat yang
dibatalkan atau dibeli
Kelengkapan Mengungkapkan
saham yang
dikeluarkan sesuai
dengan akte pendirian
kembali
f. Hitung kembali laba
per lembar saham
Akurasi Salah saji perhitungan
eps
g. Telaah persyaratan-
persyaratan hutang
mengenai preferensi
dalam likuidasi,
dividen yang
tertunggak dan
pembatasan-
pembatasan terhadap
pembayaran dividen
dan penerbitan
saham
Penilaian dan alokasi Salah saji dalam
perhitungan
berdasarkan syarat
yang berlaku





AUDIT ATAS INVESTASI




Investasi merupakan penanaman uang di luar perusahaan, yang dapat berupa surat berharga
atauasset lain yang tidak digunakan secara langsung dalam kegiatan produktif perusahaan. Investasi
dapat dibagi menjadi dua kelompok :
1. Investasi Jangka Pendek
Umumnya investasi ini berupa surat berharga (seperti saham, obligasi, atau surat berharga lain) yang
harga pasarnya relatif stabil. Tujuan pokok pembelian surat berharga ini adalah untuk menanamkan kas
yang untuk sementara waktu tidak terpakai dalam kegiatan bisnis perusahaan. Investasi ini disajikan
dalam kelompok asset lancar.
2. Investasi jangka panjang
Tujuan pokok investasi dalam surat berharga ini adalah untuk memperoleh pendapatan bunga atau
dividen dalam jangka panjang, untuk membentuk dana khusus, atau untuk mengendalikan perusahaan
lain melalui pemilikan saham. Investasi ini disajikan dalam kelompok asset tidak lancar. Investai jangka
panjang dapat berupa surat berharga (seperti saham, obligasi, piutang hipotek, wesel panjang) atau
berupa persekot kepada perusahaan afiliasi, dana khusus dan asset tetap yang tidak digunakan secara
langsung dalam kegiatan perusahaan (seperti tanah untuk ekspansi pabrik).


TUJUAN PENGUJIAN SUBTANTIF TERHADAP INVESTASI
1. Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dgn investasi.
2. Membuktikan bahwa saldo investasi mencerminkan kepentingan klien yang ada pada tgl neraca dan
mencerminkan keterjadian transaksi yang berkaitandengan investasi selama tahun yang diaudit.
3. Membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat selama tahun yang diaudit dan kelengkapan saldo
investasi yang disajikan di neraca.
4. Membuktikan bahwa saldo investasi yang dicantumkan di lap. Posisi Keuangan merupakan milik klien.
5. Membuktikan kewajaran penilaian investasi yang dicantumkan dalam lap. Posisi Keuangan.
6. Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan investasi di lap. Posisi Keuangan.
Sebelum membuktikan apakah saldo investasi yang dicantumkan oleh klien di dalam lap. Posisi
keuangannya sesuai dengan investasi yang benar-benar ada pada tanggal neraca, auditor melakukan
rekonsiliasi antara informasi investasi yang dicantumkan di lap. Posisi keuangan dengan catatan
akuntansi yang mendukungnya. Oleh karena itu, auditor melakukan enam prosedur audit berikut ini di
dalam melakukan rekonsiliasi informasiinvestasi di lap. Posisi keuangan dengan catatan akuntansi yang
bersangkutan :
1. Lakukan prosedur audit awal atas saldo akun investasi yang akan diuji lebih lanjut.
a. Usut saldo investasi yang tercantum di lap. Posisi keuangan ke saldo akun investasi yang bersangkutan
dalam buku besar.
b. Hitung kembali saldo akun investasi di dalam buku besar.
c. Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan sumber posting dalam akun investasi.
d. Usut saldo awal akun investasi ke kertas kerja tahun yang lalu.
e. Usut posting pengkreditan dan pendebitan akun investasi ke dalam jurnal yang bersangkutan.
f. Lakukan rekonsiliasi akun kontrol investasi dalam buku besar ke buku pembantu investasi.
PROSEDUR AWAL
a. Hitung ratio-ratio :
Ratio investasi sementara dengan aktiva lancar. ( Investasi Sementara / Total Aktiva Lancar )
Ratio investasi jangka panjang dengan aktiva lancar (Investasi Jk. Panjang / Tot. Akt. Lancar)
Rate of returns tiap-tiap golongan investasi (Pendapatan bunga / Rata-rata investasi golongan investasi
tertentu)
b. Lakukan analisis hasil prosedur analitik dengan harapan yang didasarkan pada data masa lalu, data
industri, jumlah yang dianggarkan atau data lain.
Prosedur analitik
1. Periksa dokumen yang mendukung transaksi pemerolehan dan penjualan investasi.
2. Hitung kembali pendapatan bunga dan deviden tahun yang diaudit.
3. Hitung kembali laba dan rugi yang timbul dari transaksi penjualan surat berharga.
4. Hitung kembali laba atau rugi yang timbul dari transaksi penjualan investasi.
5. Periksa dokumen yang mendukung transaksi pembelian surat berharga dalam periode sekitar tanggal
neraca.
6. Periksa dokumen yang mendukung transaksi penjualan surat berharga dalam periode sekitar tanggal
neraca.
7. Periksa dokumen yang mendukung perolehan investasi yang dimiliki oleh klien pada tanggal neraca.
PENGUJIAN TERHADAP TRANSAKSI RINCI
PENGUJIAN TERHADAP AKUN RINCI
1. Pelajari notulen rapat pemegang saham dan direksi
2. Minta daftar surat berharga yang ada ditangan klien dan lakukan penghitungan dan inspeksi terhadap
sertifikat surat berharga tersebut.
3. Kirimkan konfirmasi tentang surat berharga milik klien yang berada di tangan pihak lain.
4. Lakukan rekonsiliasi antara surat berharga yang dihitung dengan hasil konfirmasi dan jumlah yang
disajikan di neraca.
5. Lakukan inspeksi dan pemeriksaan terhadap polis asuransi surat berharga.
6. Minta informasi mengenai surat berharga yang dijadikan jaminan penarikan utang.
7. Bandingkan metode penilaian investasi yang digunakan oleh klien dengan prinsip akuntansi yang
diterima umum (SAK)
8. Bandingkan nilai investasi dnegan harga pasar surat berharga.
.

VERIFIKASI PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN
1. Periksa klasifikasi surat berharga sebagai investasisementara dan investasi jangka panjang.
2. Periksa investasi jangka panjang mengenai kemungkinan sebagai alat pengendalian perusahaan lain.

PRINSIP AKUNTANSI YANG LAZIM (SAK) DALAM PENYAJIAN INVESTASI
1.Investasi dicantumkan dalam neraca sesuai dengan jenis dan tujuannya (Jangka Pendek/Jangka
Panjang)
2.Investasi jangka pendek dicantumkan dalam neraca : sesuai dengan harga kosnya (harga pasarnya),
mana harga yang terendah.
3.Investasi jangka panjang dicantumkan dalam neraca sesuai dengan harga kosnya ( apabila nilai pasar
turun secara permanen maka harus di akui sebagai kerugian)
4.Investasi yang digadaikan harus ada penjelasanya.
5.Investasi dalam perusahaan afiliasi dicantumkan terpisah dan diberi penjelasannya tujuannya untuk
apa ?
6. Saham/Obligasi yang di beli kembali, disajikan sebagai pengurang utang obligasi/modal saham.
7.Investasi yang bukan merupakan sumber perdanaan harus dimasukkan sebagai Penghasilan di luar
usaha
8.Penghasilan dari investasi (bunga , deviden) dengan jumlah yang material harus dipisahkan .
9.Laba/Rugi dari penjualan investasi jk pendek harus dicantumkan dalam Laporan laba/rugi sebagai
Penghasilan di luar usaha.Angka yang disajikan laba/rugi penjualan-pajak.
10.Laba atau Rugi yang timbul dari transaksi antar perusahaan yang belum direalisasikan dalam
hubungan antara induk dan anak perusahaan harus dieliminasikan jika investasi dicatat dengan equity
method.
11.Laba atau Rugi yang timbul dari transaksi yang bersangkutan dgn saham yang dikeluarkan sendiri
oleh perusahaan, tidak boleh diperhitungkan dalam penentuan laba atau rugi perusahaan.