Anda di halaman 1dari 22

Hukum Operasi Plastik

Pendahuluan

Hukum Operasi Plastik
yr asal segala sesuatu itu dibolehkan sampai adanya dalil yang mengharamkannya.
Berdasarkan kaidah tersebut, maka apapun yang kita lakukan sebenarnya boleh kita lakukan, dan
selamanya boleh kita lakukan, hingga adanya dalil atau petunjuk yang menyatakan haramnya
melakukan sesuatu itu.

Oleh karena itu, operasi plastik tampaknya mesti dilihat dari tujuannya. Ada yang melakukan operasi
karena ingin lebih cantik bagi perempuan atau lebih tampan bagi laki-laki, ada pula yang melakukan
operasi plastik karena menghilangkan bekas-bekas akibat kecelakaan, cacat seperti bibir sumbing
dan sebagainya.

Permasalahan yang sering kita dapati, tidak sedikit di antara para muslimah dan termasuk juga para
muslim yang melakukan operasi dengan tujuan agar lebih cantik atau lebih tampan.

Hukum melakukan Operasi Plastik dengan Tujuan untuk Kecantikan.

Allah menyukai yang indah-indah dan Islam juga membolehkan seseorang untuk berhias atau
mempercantik diri selama tidak berlebih-lebihan, apalagi sampai mengubah ciptaan Allah.. Kalau kita
pikir secara logika, apa ruginya Allah apabila ada yang melakukan operasi kecantikan, sebab sesuatu
yang telah baik diberikan Allah kemudian dilakukan lagi upaya lain agar pemberian tersebut menjadi
super lebih baik, tentunya kalau dipikir-pikir Allah pasti senang, terlebih Allah juga menyukai hal-hal
yang indah-indah.

Persoalan inilah yang perlu kita sadari bahwa tidak semua yang dilakukan manusia yang menurut
manusia baik adalah baik pula dalam pandangan Allah. Merubah bentuk salah satu anggota tubuh
yang berbeda dari apa yang diberikan Allah, dalam logika manusia dipandang baik, karena akan lebih
cantik, tampan dan menarik. Asalnya kulit yang diberikan Allah hitam kemudian dirubah menjadi putih
atau warna lainnya. Asalnya hidung yang diberikan Allah pesek kemudian dirubah menjadi mancung
dan sebagainya. Namun demikian, apa yang dilakukan sebenarnya merupakan tindakan yang tidak
percaya dengan pemberian Allah dan dapat dikatakan sebagai bentuk penghinaan terhadap Allah.

Oleh karena itu merubah ciptaan atau pemberian Allah sebagaimana dideskripsikan di atas
sebenarnya bertentangan dengan kodrat dan iradat Allah. Seharusnya manusia menyadari bahwa
apapun yang diciptakan Allah di dunia ini bukan merupakan hal yang sia-sia (lihat Q.S. al-Baqarah
ayat 26) atau tidak pula berpikir bahwa Allah gegabah dalam menciptakan sesuatu. Semua yang
diciptakan Allah memiliki fungsi dan manfaat serta hikmah yang barangkali di antaranya tidak dapat
dicerna dan dipahami oleh akal.

Menurut pandangan manusia atau seseorang yang melakukan operasi bahwa salah satu anggota
tubuhnya kurang menarik, sehingga ia pun berkeinginan untuk merubahnya melalui operasi. Padahal
dalam pandangan Allah pemberian-Nya itu yang dipandang manusia kurang menarik, sebenarnya
memiliki manfaat yang luar biasa, hanya saja ia tidak mengetahui dan menyadarinya. Mestinya
manusia dapat bersyukur terhadap apa yang diberikan Allah dan memberdayakan pemberian
tersebut dengan baik.

Selain itu, apabila persoalan di atas dikembalikan kepada sumber hukum Islam yaitu Alquran, maka
Alquran telah secara jelas menyatakan orang yang merubah ciptaan-Nya adalah orang yang
mengikuti jalan dan ajakan syaithan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. an-Nisa ayat 119
yang artinya :

Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong
pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-
benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar
mereka merubahnya. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka
Sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.

Dari ayat tersebut dapat dipahami, bahwa melakukan operasi plastik, yang hanya bertujuan
mempercantik diri termasuk perbuatan syetan yang dilaknat Allah. Contohnya, operasi untuk
memperindah bentuk hidung, dagu, buah dada, atau operasi untuk menghilangkan kerutan-kerutan
tanda tua di wajah, dan sebagainya. Persoalan ini apabila dilihat dari kaidah yang disebutkan
sebelumnya bahwa operasi plastik dengan tujuan untuk mempercantik [jirahah at-tajmil], maka
hukumnya adalah haram.

Operasi Plastik untuk Memperbaiki Cacat atau Akibat Kecelakaan

Hukum melakukan operasi plastik dengan tujuan untuk memperbaiki cacat yang dibawa sejak lahir
(al-uyub al-khalqiyyah) seperti bibir sumbing, atau cacat yang datang kemudian (al-uyub at-thari`ah)
akibat kecelakaan, kebakaran, atau semisalnya, seperti wajah yang rusak akibat
kebakaran/kecelakaan, maka dapat dikategorikan sebagai mubah atau dibolehkan melakukan
operasi tersebut.

Dalam ushul fikih, cacat atau akibat kecelakaan dapat dikategorikan sebagai mudharat atau disebut
kemudaratan. Kemudaratan mengakibatkan ketidakbaikan yang akhirnya membuat orang yang
mengalami kemudaratan ini tidak merasa nyaman beragama. Oleh karena itu, Islam memang bukan
agama yang memudah-mudahkan sesuatu, tetapi bukan pula agama yang mempersulit.
Kemudaratan mesti dihilangkan atau setidaknya menguranginya melalui operasi plastik.

Bolehnya menghilangkan kemudaratan berupa cacat sejak lahir atau cacat akibat kecelakaan adalah
rr yg ry kemudaratan itu mesti dihilangkan, gg
operasi plastik pun legal dilakukan dengan ketentuan sesuai dengan tujuan yang disebutkan.

Selain itu, bolehnya melakukan operasi plastik adalah berdasarkan keumuman (amm) dalil yang
menganjurkan untuk berobat (at-tadawiy) N SAW r, Tidaklah
Allah menurunkan suatu penyakit, kecuali Allah menurunkan pula obatnya (HR Br, No5246
Progr )

Dalam hadis yang lain Nabi SAW bersabda pula, Wahai
hamba-hamba Allah berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan satu penyakit,
kecuali menurunkan pula obatnya (HR Trz, o1961 Progr )

Dalam ushul fikih disebutkan bahwa selama tidak ada dalil yang mengkhususkan dalil umum, maka
selama itu pula dalil umum dapat diamalkan. Hadis di atas dipandang sebagai hadis yang umum, dan
dapat diamalkan atau dapat dijadikan hujjah, karena tidak ditemukan adanya dalil yang
mengkhususkannya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa operasi plastik dengan tujuan untuk kecantikan
hukumnya haram dan apabila dilakukan untuk memperbaiki cacat yang dibawa sejak lahir seperti
bibit sumbing, kaki pincang dan sebagainya atau memperbaiki cacat akibat kecelakaan, maka
hukumnya mubah (boleh) sepanjang tidak ada ketentuan agama yang dilanggar.


Read more: http://www.abdulhelim.com/2013/01/hukum-operasi-plastik.html#ixzz3GloUYREs
Apabila tubuh seorang wanita berubah drastis akibat kehamilan sehingga ia malu
dilihat oleh sang suami dalam keadaan demikian, apakah ia boleh melakukan
operasi kecantikan?


Alhamdulillah, pertanyaan Anda -saudariku yang mulia- seputar hukum melakukan
operasi kecantikan (operasi plastik dan sejenisnya), simaklah dengan seksama
intisari masalah tersebut sebagai berikut:
Para ahli medis mendefinisikan operasi kecantikan sebagai operasi yang dilakukan
untuk mempercantik bentuk dan rupa bagian-bagian tubuh lahiriyah seseorang.
Kadang kala dilakukan atas kemauan yang bersangkutan sendiri, dan kadang kala
karena darurat (terpaksa).
Operasi kecantikan yang dilakukan karena darurat atau semi darurat adalah operasi
yang terpaksa dilakukan, seperti menghilangkan cacat, menambah atau mengurangi
organ tubuh tertentu yang rusak dan jelek. Melihat pengaruh dan hasilnya, operasi
tersebut sekaligus memperindah bentuk dan rupa tubuh.
Cacat ada dua jenis:
Cacat yang merupakan pembawaan dari lahir. Cacat yang timbul akibat sakit yang
diderita.
Cacat pembawaan dari lahir misalnya, bibir sumbing, bentuk jari-jemari yang
bengkok dan lain-lain. Cacat akibat sakit misalnya cacat yang timbul akibat penyakit
kusta (lepra), akibat kecelakaan dan luka bakar serta lain sebagainya. Sudah barang
tentu cacat tersebut sangat mengganggu penderita secara fisik maupun psikis.
Dalam kondisi demikian syariat membolehkan si penderita menghilangkan cacat,
memperbaiki atau mengurangi gangguan akibat cacat tersebut melalui operasi.
Sebab cacat tersebut mengganggu si penderita secara fisik maupun psikis sehingga
ia boleh mengambil dispensasi melakukan operasi. Dan juga karena hal itu sangat
dibutuhkan si penderita. Kebutuhan mendesak kadang kala termasuk darurat
sebagai salah satu alasan keluarnya dispensasi hukum. Setiap operasi yang
tergolong sebagai operasi kecantikan yang memang dibutuhkan guna
menghilangkan gangguan, hukumnya boleh dilakukan dan tidak termasuk merubah
ciptaan Allah.
Dibawah ini kami akan membawakan penjelasan Imam An-Nawawi untuk
membedakan antara operasi kecantikan yang dibolehkan dan yang diharamkan:
Dalam menjelaskan hadits Rasulullah yang berbunyi:
"Allah melaknat wanita-wanita yang mentato dan yang meminta untuk ditatokan,
yang mencukur (menipiskan) alis dan yang meminta dicukur, yang mengikir gigi
supaya kelihatan cantik dan merubah ciptaan Allah." (H.R Muslim No:3966.)
Imam An-Nawawi menjelaskan sebagai berikut:
"Al-Wasyimah" adalah wanita yang mentato. Yaitu melukis punggung telapak
tangan, pergelangan tangan, bibir atau anggota tubuh lainnya dengan jarum atau
sejenisnya hingga mengeluarkan darah lalu dibubuhi dengan tinta untuk diwarnai.
Perbuatan tersebut haram hukumnya bagi yang mentato ataupun yang minta
ditatokan. Sementara an-naamishah adalah wanita yang menghilangkan atau
mencukur bulu wajah. Adapun al-mutanammishah adalah wanita yang meminta
dicukurkan. Perbuatan ini juga haram hukumnya, kecuali jika tumbuh jenggot atau
kumis pada wajah wanita tersebut, dalam kasus ini ia boleh mencukurnya.
Sementara al-mutafallijat adalah wanita yang menjarangkan giginya, biasa dilakukan
oleh wanita-wanita tua atau dewasa supaya kelihatan muda dan lebih indah. Karena
jarak renggang antara gigi-gigi tersebut biasa terdapat pada gadis-gadis kecil.
Apabila seorang wanita sudah beranjak tua giginya akan membesar, sehingga ia
menggunakan kikir untuk mengecilkan bentuk giginya supaya lebih indah dan agar
kelihatan masih muda.
Perbuatan tersebut jelas haram hukumnya baik yang mengikir ataupun yang
dikikirkan giginya berdasarkan hadits tersebut di atas. Dan tindakan itu juga
termasuk merubah ciptaan Allah, pemalsuan dan penipuan. Adapun sabda nabi:
"Yang mengikir giginya supaya kelihatan cantik" maknanya adalah yang melakukan
hal itu untuk mempercantik diri. Sabda nabi tersebut secara implisit menunjukkan
bahwa yang diharamkan adalah yang meminta hal itu dilakukan atas dirinya dengan
tujuan untuk mempercantik diri. Adapun bila hal itu perlu dilakukan untuk tujuan
pengobatan atau karena cacat pada gigi atau sejenisnya maka hal itu dibolehkan,
wallahu a'lam. (Syarh Shahih Muslim karangan Imam An-Nawawi XIII/107).
Suatu permasalahan yang perlu disinggung di sini ialah para ahli medis operasi
kecantikan tersebut biasanya tidak membedakan antara kebutuhan yang
menimbulkan bahaya dengan kebutuhan yang tidak menimbulkan bahaya. Yang
menjadi interest mereka hanyalah mencari keuntungan materi, dan memberi
kepuasan kepada pasien dan pengikut hawa nafsu, materialis dan penyeru
kebebasan. Mereka beranggapan setiap orang bebas melakukan apa saja terhadap
tubuhnya sendiri. Ini jelas sebuah penyimpangan. Karena pada hakikatnya jasad ini
adalah milik Allah, Dia-lah yang menetapkan ketentuan-ketentuan berkenaan
dengannya sekehendak-Nya. Allah telah menjelaskan kepada kita metoda-metoda
yang telah diikrarkan Iblis untuk menyesatkan bani Adam, di antaranya adalah
firman Allah:
"Dan aku akan suruh mereka (merobah ciptaan Allah), lalu mereka benar-benar
merobahnya." (Q:S 4:119)
Ada beberapa pelaksanaan operasi kecantikan yang diharamkan karena tidak
memenuhi ketentuan-ketentuan dispensasi syar'i yang disepakati dan karena
termasuk mempermainkan ciptaan Allah serta hanya bertujuan mencari keindahan
dan kecantikan semata, misalnya memperindah payu dara dengan mengecilkan
atau membesarkannya atau operasi untuk menghilangkan kesan ketuaan, misalnya
mengeritingkan rambut atau sejenisnya. Dalam hal ini syariat tidak
membolehkannya. Karena tidak ada kebutuhan yang darurat untuk melakukan hal
itu. Hal itu dilakukan semata-mata untuk merobah dan mempermainkan ciptaan
Allah sesuai dengan hawa nafsu dan syahwat manusia. Hal itu jelas haram dan
terlaknat pelakunya. Dan juga karena termasuk dalam dua perkara yang disebutkan
dalam hadits di atas, yaitu hanya ingin mempercantik diri dan merubah ciptaan Allah.
Ditambah lagi operasi kecantikan semacam itu banyak mengandung unsur penipuan
dan pemalsuan. Demikian pula injeksi dengan zat-zat yang diambil secara haram
dari janin yang gugur, yang mana perbuatan tersebut merupakan kejahatan serius,
dan efek samping serta mudharat lainnya yang timbul akibat operasi kecantikan
sebagaimana dijelaskan oleh pakar-pakar kedokteran.
(Silakan baca buku Ahkamul Jirahah karangan Dr.Muhammad Muhammad Al-
Mukhtar Asy-Syinqiithi).
Berdasarkan uraian di atas -saudariku penanya yang terhormat- dapat kita
simpulkan: Apabila cacat atau kekurangan yang ada pada diri saudari termasuk
kategori darurat (seperti karena kecelakaan dan sakit) yang menyulitkan diri saudari
atau menyebabkan suami menjauhkan diri misalnya, bukan dilakukan untuk
mempercantik diri dan hanya untuk menghilangkan kecacatan semata dan untuk
menghilangkan atau menekan kesulitan, maka operasi kecantikan tersebut boleh
saudari lakukan inysa Allah, Wallahu a'lam.
Hukum Operasi Plastik dalam Islam
6 Comments
wanita muslimah
Hukum Operasi Plastik dalam Islam - Menjadi tampan dan cantik tentu dambaan setiap orang.
Terutama bagi kaum hawa, kecantikan adalah sesuatu yang sangat diinginkan. Betapa
berbahagianya seorang wanita bila ia memiliki alis berbukit, bulu mata lentik, hidung mancung, muka
tirus, bibir merekah dan tubuh yang mempesona.

Hukum operasi plastik dalam Islam. Fenomena besar yang terjadi sekarang ini, yaitu semakin
banyaknya atau berbondong-bondong orang untuk melakukan operasi plastik adalah sebuah
permasalahan yang harus disikapi. Disikapi dalam artian, tahu apa faktanya dan bagaimana
sebenarnya syara' atau Islam dalam membahas hal yang seperti ini. Apakah operasi plastik dalam
Islam diperbolehkan atau malah dilarang,haram.

Hukum Operasi plastik dalam Islam ini adalah artikel yang saya ringkas dari postingan situs
republika.co.id yang juga membahas mengenai permasalahan yang sama dalam salah satu
artikelnya. Bedah plastik adalah bedah yang dilakukan untuk memperbaiki bagian badan (terutama
kulit) yang rusak atau cacat, atau untuk mempercantik dari. Dalam fikih modern, bedah plastik disebut
al-jirahah (amaliyyah) at-tajmiyiah.

Pembahasan bedah plastik yang muncul dalam literatur fikih modern merupakan ijtihad ulama fikih
modern. Ulama fikih modern meninjau persoalan bedah plastik dari sisi tujuan dilakukannya bedah
tersebut. Abdus Salam Abdur Rahim As-Sr, org r Mr, y A-Ada'
Al-Adamiyyah min Manzur Al-I (Aggo T M Pg I), g
bedah plastik menjadi dua, yaitu bedah plastik dengan tujuan pengobatan dan bedah plastik dengan
tujuan mempercantik diri.

Bedah plastik dengan tujuan pengobatan dibagi lagi menjadi dua. yaitu bedah plastik yang bersifat
daruri (vital atau penting) dan bedah plastik yang bersifat dibutuhkan. Bedah plastik dengan tujuan
pengobatan secara hukum dibolehkan, baik yang bersifat daruri maupun yang bersifat dibutuhkan.
Bedah plastik dalam kasus yang bersifat daruri, seperti terjadi penyumbatan pada saluran keluarnya
air seni, dibolehkan secara hukum.

Apabila bedah plastik dilakukan untuk mempercantik diri, seperti menghilangkan tanda-tanda ketuaan
di wajah dan badan dengan mengencangkan kulit dan payudara, melangsingkan pinggang, dan
memperbesar pinggul, maka bedah plastik demikian tidak dapat dibenarkan oleh syariat lslam.
Alasan keharaman bedah plastik untuk tujuan kecantikan, menurut Abdus Salam, diantaranya adalah
firman Allah SWT dalam Surah An-Nisa' (4) ayat 119:

"Dan Aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong
pada mereka dan akan menyuruh mereka memotong (telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka
benar- benar memotongnya, dan akan Aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar
mereka mengubahnya. Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka
sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata."

Dalam pemahaman Abdus Salam, ayat tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan "mengubah ciptaan
Allah SWT" merupakan pekerjaan setan dan umat Islam dilarang untuk mengikuti pekerjaan setan
karena tidak sesuai dengan syariat Islam. Imam Al-Qurtubi (ahli tafsir) berpendapat bahwa
melakukan perubahan terhadap fitrah Allah SWT yang sifatnya mengubah bentuk, seperti membuat
o, oog (pgr) gg, gr , oo, rp ringkah laku
seperti manusia lawan jenisnya, termasuk tindakan yang mengubah ciptaan Allah SWT sebagaimana
yang dinyatakan pada Surah An-Nisa' di atas.

Dalam riwayat lain Rasulullah SAW ditanya oleh seorang wanita yang setelah menikah rambutnya
rontok sehingga suaminya menyuruhnya agar memakai rambut palsu. Ketika itu Rasulullah SAW
r, "A g org yg r p yg y r p
(HR. Bukhari).

Dalam hadis lain Rasulullah SAW juga bersabda, "Penyakit yang tidak bisa diobati adalah penyakit
ketuaan." (HR. Abu Dawud).

Jadi menurut Abdus Salam, upaya menghindari ketuaan merupakan upaya yang mengandung unsur
penipuan yang dilarang oleh syariat Islam. Dalam hadis-hadis di atas, Rasulullah SAW secara tegas
memakai kata "la'ana " yang berarti mengutuk. Suatu Pekerjaan yang terkutuk merupakan pekerjaan
yang tidak dapat dibenarkan syarak.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. A. Operasi Plastik
Operasi plastik (plastic surgery) atau dalam bahasa Arab disebut jirahah at-
tajmiladalah operasi bedah untuk memperbaiki penampilan satu anggota tubuh yang
nampak, atau untuk memperbaiki fungsinya, ketika anggota tubuh itu berkurang,
hilang/lepas, atau rusak. (Al-Mausuah at-Thibbiyah al-Haditsah, 3/454).
Bedah Plastik merupakan suatu cabang Ilmu Bedah yang mengerjakan operasi
Rekonstruksi dan Estetik. Istilah Plastik sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu
plasticos yang berarti dapat diubah/dibentuk, bukan dengan menggunakan bahan
dari plastik, tetapi dengan menggunakan bahan dari tubuh sendiri (lemak, tulang
rawan, kulit, dll) atau bahan artificial (implant) seperti silikon padat untuk
memancungkan hidung atau silikon gel untuk membesarkan payudara.
Tindakan pembedahan ini dilakukan berdasarkan ilmu pengetahuan kedokteran
khususnya di bidang bedah plastik , sehingga pembedahan ini harus dilakukan oleh
seorang dokter spesialis bedah plastik.
Operasi plastik ini dapat dilakukan untuk mempercantik atau memperbaiki anggota
badan. Selain itu operasi plastik juga dilakukan dengan tujuan kesehatan, misalnya
pada kasus luka bakar, sehingga ada bagian tubuh yang rusak. Maka untuk
memperbaiki kerusakan tersebut dianjurkan melakukan operasi plastik.
1. B. Jenis-jenis Operasi Plastik
Dari pengertian di atas dapai diambil jenis-jenis operasi plastik.
1. Jenis-jenis bedah plastik berdasarkan tujuan dan prosedur.
1. Operasi rekonstruksi
Pada operasi rekonstruksi diusahakan mengembalikan bentuk/ penampilan serta
fungsi menjadi lebih baik atau lebih manusiawi setidaknya mendekati kondisi normal.
Jenis-jenis pembedahan rekonstruksi :
1. Rekonstruksi kelainan bawaan seperti sumbing bibir dan langitan, hipospadi
(alat kelamin pria melengkung), hemangioma (kelainan pembuluh darah pada
kulit).
2. Cacat akibat trauma/kecelakaan seperti luka bakar, kontraktur akibat luka
bakar, pengangkatan tumor, ablati payudara.
3. Cacat karena Infeksi seperti noma, dimana penderita mengalami disfigurasi
yang memprihatinkan.
4. Bedah Kraniofasial dan bedah maksilofasial, khusus menangani kelainan
bawaan bentuk kepala dan muka (patah tulang muka akibat kecelakaan).
5. Bedah mikro (seperti traumatik amputasi jari yang memerlukan
penyambungan pembuluh darah).
6. Transexual.
7. Bedah estetika
Pada operasi estetik, pembedahan dilakukan pada pasien-pasien normal (sehat),
namun menurut norma bentuk tubuh kurang harmonik (misalnya, hidung pesek),
maka diharapkan melalui operasi bedah plastik estetik didapatkan bentuk tubuh
yang mendekati sempurna.
Pembedahan Estetika dibedakan dalam 2 kategori yaitu :
1. Pembedahan yang disebabkan proses penuaan, bertujuan memperbaiki
struktur otot maupun kulit yang sedang mengalami proses degenerasi
(kehilangan elastisitas sehingga kendur), seperti facelift (pengencangan muka)
atau blepharoplasti (perbaikan kelopak mata).
2. Tindakan bedah estetik yang bukan karena proses penuaan tetapi untuk
kelainan bentuk anatomi tubuh yang kurang harmonis seperti pembuatan
kelopak mata, bedah estetik hidung, dagu, payudara. Tindakan bedah estetik
lainnya antara lain body contouring/reshaping dengan membuang lemak yang
berlebihan (liposuction) atau tummy tuck (operasi pada dinding perut) dan
bedah kraniomaksilofasial untuk tujuan estetik (operasi rahang dan dagu).
3. Jenis-jenis bedah plastik berdasarkan tempat pembedahan.
1. Cosmetic surgery / bedah kosmetik
2. Face lift/ mengencangkan kulit
3. Rhinoplasty/ memperbaiki hidung
4. Eyelid surgery/ mengangkat lemak serta mengencangkan kulit dan otot sekitar
mata
5. Cheek implant/ untuk menambah tinggi tulang pipi
6. Liposuction/ menghilangkan lemak tubuh
7. Breast augmentation/ merubah ukuran payudara dengan menggunakan
silikon
8. Lip augmentation/ merekonstruksi bibir
9. Botox/ mengurangi kerutan pada dahi
10. Real Beauty/bedah keseluruhan



1.
BAB III
PEMBAHASAN
1. A. Operasi Plastik
Menurut pakar kedokteran, operasi plastik ialah operasi yang berlangsung untuk
memperindah bentuk bagian tubuh atau menambahnya jika terdapat kekuranga.
Sedangkan yang lain ada juga yang memberi defenisi lain tentang itu seperti
pengklasifikasian operasi plastik kepada:
Mengobati cacat fisik, seperti disebabkan perang atau kecelakaan lainnya
yang bertujuan untuk mengobati
Memperindah apa yang telah ada. Sebagai usaha mencari kepuasan tersendiri
dan menambah apa yang telah dikodratkan dan tujuannya adalah agar
Nampak keren.
Defenisi kedua ini lebih umum daripada definisi yang pertama, karena defenisi ini
mengandung berbagai jenis operasi sekaligus tujuannya. Semua jenis operasi yang
dilakukan dibagian tubuh tidak disebut operasi plastik walapun operasi plastik itu
bagian dari operasi. Operasi plastik adalah bagian dari operasi lainnya. Dan operasi
yang kebanyakan dilakukan di dalam ilmu kedokteran adalah operasi medis saja. Dan
operasi plasik ini juga hanya terjadi sebelum meninggal. Pembedahan pada jasad
yang sudah meninggal itu sendiri dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian
Yang pertama, pembedahan karena tindak kriminal atau lebih dikenal dengan nama
otopsi. Yang dilakukan pada tubuh seseorang yang sudah meninggal dan tidak
mungkin mengetahui sebab sebab meninggalnya kecuali melalui proses otopsi
tersebut.
Yang kedua pembedahan yang dilakukan sebagai proses pembelajaran. Yaitu yang
berlangsung di fakultas fakultas kedokteran dan bertujuan untuk memberi
pemahaman terhadap mahasiswa tentang organ manusia dan lainnya yang berkaitan
dengan tubuh manusia.
Yang ketiga, pembedahan yang dilakukan untuk mengetahui penyakit yang diderita
seorang pasien dimana penyakit tersebut adalah penyakit yang baru dan belum
diketahui sebab sebabnya maka dilakukaknlah operasi seperti ini. Jadi defenisi yang
pertama kami anggap merupaka defenisi yang lebih utama karena mencakup segala
jenis defenisi dan sesuai dengan kaidah jaami maani.
1. B. Hukum Operasi Plastik
Sebagian Ulama hadits yang lain berpendapat bahwa yang dimaksud dengan operasi
plastik itu hanya ada dua:
1. Untuk mengobati aib yang ada dibadan, atau dikarenakan kejadian yang
menimpanya seperti kecelakaan, kebakaran atau yang lainya. Maka operasi ini
dimaksudkan untuk pengobatan.
2. Untuk mempercantik diri, dengan mencari bagian badan yang dianggap
mengganggu atau tidak nyaman untuk dilihat orang, istilah yang kedua ini
adalah untuk kecantikan dan keindahan.
Hukum operasi plastik ada yang mubah dan ada yang haram.
1. Mubah
Operasi plastik mubah dengan tujuan memperbaiki cacat sejak lahir, seperti bibir
sumbing, atau cacat yang datang kemudian, seperti akibat kecelakaan, kebakaran,
atau semisalnya seperti wajah yang rusak akibat kebakaran/kecelakaan.
Operasi plastik untuk memperbaiki cacat yang demikian ini hukumnya adalah mubah,
berdasarkan keumuman dalil yang menganjurkan untuk berobat (al-tadawiy). Nabi
SAW bersabda,Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, kecuali Allah
menurunkan pula obatnya.(HR Bukhari, no.5246).
Nabi SAW bersabda pula,Wahai hamba-hamba Allah berobatlah kalian, karena
sesungguhnya Allah tidak menurunkan satu penyakit, kecuali menurunkan pula
obatnya. (HR Tirmidzi, no.1961).
Maksud dari hadits diatas adalah, bahwa setiap penyakit itu pasti ada obatnya, maka
dianjurkan kepada orang yang sakit agar mengobati sakitnya, jangan hanya dibiarkan
saja, bahkan hadits itu menekankan agar berobat kepada seorang dokter yang
profesional dibidangnya.
Imam Abu hanifah dalam kitabnya berpendapat, Bahwa tidak mengapa jika kita
berobat menggunakan jarum suntik (yang berhubungan dengan operasi), dengan
alasan untuk berobat, karena berobat itu dibolehkan hukumnya, Sesuai dengan ijma
ulama, dan tidak ada pembeda antara laki-laki dan perempuan.Akan tetapi
disebutkan (pendapat lemah) bahwa tidak diperbolehkan berobat menggunakan
bahan yang diharamkan, seperti khamar, bir dan sejenis. tapi jika ia tidak mengetahui
kandungan obat itu, maka tidak mengapa menggunakannya, namun jika tidak
memungkinkan lagi (yakin bahwa tidak ada obat) untuk mencari obat selain yang
diharamkan itu, maka bolehlah menggunakan sekedarnya.
Ibn Masud Ra, mengatakan bahwa sesungguhnya Allah SWT. tidak menciptakan
sembuhnya kalian dengan barang yang diharamkan-Nya.makna dari pendapat
beliau adalah walau bagaimanapun Allah SWT menurunkan penawar yang halal,
karena secara akal pikir, tidak mungkin Allah mengharamkan yang telah diharamkan
kemudian diciptakan untuk dijadikan obat, pasti masih ada jalan lain yang lebih halal.
Operasi semacam ini terkadang bisa menjadi wajib hukumnya, jika menyebabkan
kematian, maka wajib baginya untuk berobat.
Allah SWT berfirman yang artinya (wallahu alam), dan janganlah kamu
menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan dan di ayat lain disebutkan, Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu
dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka
sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya
Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
Larangan membunuh diri sendiri ini menunjukkan bahwa Allah SWT melarang
hamba-Nya merusak jiwanya.

1. Haram
Adapun operasi plastik yang diharamkan, adalah yang bertujuan semata untuk
mempercantik atau memperindah wajah atau tubuh, tanpa ada hajat untuk
pengobatan atau memperbaiki suatu cacat. Contohnya, operasi untuk memperindah
bentuk hidung, dagu, buah dada, atau operasi untuk menghilangkan kerutan-kerutan
tanda tua di wajah, dan sebagainya. Firman Allah dalam surat An-Nisa : dan aku
benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan
kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang
ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya[351], dan akan aku suruh mereka
(mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka meubahnya[352]. Barangsiapa
yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, Maka Sesungguhnya ia
menderita kerugian yang nyata
Ayat ini datang sebagai kecaman (dzamm) atas perbuatan syaitan yang selalu
mengajak manusia untuk melakukan berbagai perbuatan maksiat, di antaranya
adalah mengubah ciptaan Allah (taghyir khalqillah). Operasi plastik untuk
mempercantik diri termasuk dalam pengertian mengubah ciptaan Allah, maka
hukumnya haram. (M. Al-Mukhtar asy-Syinqithi, Ahkam Jirahah Al-Thibbiyyah, hal.
194).
Diriwayatkan dari Imam Bukhari dan Muslim Ra. dari Abdullah ibn Masud Ra.beliau
pernah berkata Allah melaknat wanita-wanita yang mentato dan yang meminta
untuk ditatokan, yang mencukur (menipiskan) alis dan yang meminta dicukur, yang
mengikir gigi supaya kelihatan cantik dan merubah ciptaan Allah. (H.R Bukhari) dari
hadits ini, dapat diambil sebuah dalil bahwa Allah Swt. melaknat mereka yang
melakukan perkara ini dan mengubah ciptaan-Nya.
Riwayat dari Ashabis Sunah : Dari Asmaa, bahwa ada seorang perempuan yang
mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, Wahai Rasululllah, dua orang anak
perempuan ku akan menjadi pengantin, akan tetapi ia mengadu kepadaku bahwa
rambutnya rontok, apakah berdosa jika aku sambung rambutnya?, maka Rasulullah
pun menjawab, Sesungguhnya Allah melaknat perempuan yang menyambung atau
minta disambungkan (rambutnya)
Hadits ini dengan jelas mengatakan bahwa haram hukumnya bagi orang yang
menyambung rambutnya atau istilah sekrang dikenal dengan konde atau wig dan
jauh dari rahmat Allah SWT.
Untuk melengkapi pendapat ini,maka akan saya coba menggunakan qias dan akal.
Operasi plastik semacam ini tidak dibolehkan dengan meng-qias larangan Nabi SAW
terhadap orang yang menyambung rambutnya, tattoo, mengikir (menjarangkan) gigi
atau apa saja yang berhubungan dengan perubahan terhadap apa yang telah
diciptakan Allah SWT.
Dari segi secara akal kita akan menyangka bahwa orang itu kelihatannya indah dan
cantik akan tetapi, ia telah melakukan operasi plastik pada dirinya, perbuatan ini
sama dengan pemalsuan atau penipuan terhadap dirinya sendiri bahkan orang lain,
adapun hukumnya orang yang menipu adalah haram menurut syara.
Begitu juga dengan bahaya yang akan terjadi jika operasi itu gagal, bisa menambah
kerusakan didalam tubuhnya dan sedikit sekali berhasilnya, apapun caranya tetap
membahayakan dirinya dan ini tidak sesuai dengan hukum syara, sesuai dengan
firman Allah yang berbunyi (wallahu alam)Jangan bawa diri kalian dalam
kerusakan.
Setelah kita perhatikan dalil-dalil diatas dengan seksama, maka jelaslah bahwa
operasi plastik itu diharamkan menurut syara dengan keinginan untuk
mempercantik dan memperindah diri dengan kesimpulan sebagai berikut:
1. Operasi plastik merubah ciptaan Allah Swt
2. Adanya unsur pemalsuan dan penipuan.
3. Dari sisi lain, bahwa negatifnya lebih banyak dari manfaatnya, karena bahaya
yang akan terjadi sangat besar apabila operasi itu gagal, bisa menyebabkan
kerusakan anggota badan bahkan kematian.
4. Syarat pembedahan yang dibenarkan Islam; memiliki keperluan untuk tujuan
kesehatan semata-mata dan tiada niat lain, diakui doktor profesional yang ahli
dalam bidang itu bahwa pembedahan akan berhasil dilakukan tanpa risiko,
bahaya dan mudarat.
5. Untuk pemakaian kosmetik, disyaratkan kandungannya halal, tidak dari najis
(kolagen / plasenta) dan tidak berlebihan (tabarruj) akan tetapi behias ini
sangat di tekankan bagi mereka yang ingin menyenangkan suaminya.


1. C. Jenis Operasi Plastik Menurut Islam
Operasi pada tubuh manusia ada yang terjadi sebelum meninggalnya seorang
manusia atau terjadi setelah meninggalnya. Maka yang akan menjadi pembahasan
kita di dalam maslah ini ialah operasi yang terjadi sebelum meninggalnya manusia
yaitu berbagai operasi yang dilakukan ketika hidup. Melihat keinginan dan tujuan
untuk melakukannya operasi tersebut dapat dibagi kepada dua pembagian.
1. Operasi Ghairu Ikhtiyariyah( tidak dikehendaki)
Yaitu suatu operasi yang bertujuan untuk mengobati penyakit yang terjadi tanpa
kekuasaan seseorang di dalam penyakit tersebut. apakah penyakit yang telah ada
ketika sesorang baru lahir seperti bergabungnya jari tangan atau kaki, bibir
sumbing,tertutupnya lubang yang tebuka( hidung/ telinga dll) dan berbagai jenis
penyakit lainnya yang terjadi tanpa dikehendaki.
Operasi jenis ini hanya bertujuan untuk mengobati penyakit dan pada nantinya akan
menghasilkan keindahan pada orang yang telah diobati. Dan keindahan itu hanya
sebagai efek dari operasi dan ini dibolehkan di dalam syariat. Alasan operasi ini
dibolehkan adalah sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah
bahwasannya Nabi Saw bersabda, Allah tidak menurunkan penyakit kecuali
menurunkan pula obatnya (shahih bukhari halamn 204 jilid 2, bab pengobatan).
Selain itu juga terdapat hadits dari Usamah bin Syaiik berkata, seorang orang Arab
Badui bertanya pada raulullah, Wahai rasulullah apakah kami harus berobat dari
suatu penyakit? rasulullah berkata, Benar,wahai hamba Allah berobatlah karena
Allah tidak menciptakan suatu penyakit melainkan ada obatnya, dan kecuali satu
penyakit. Lalu orang badui itu bertanya penyakit apa wahai rasulullah? Rasul berkata,
tua(sunan tirmidzy halam 383 jilid 4 hadits ke 2038).
Dua hadits diatas menunjuki bahwa setiap penyakit yang diberikan Allah memiliki
obatnya maka hendaknya seorang yang sakit berobat dari segala penyakit yang
menimpa agar bisa sehat seperti sedia kala dan dapat melakukan berbagai aktivitas.
Dan agar tidak menular kepada orang lain. Sehingga ulama Hanafi mengatakan
bahwa pengobatan melalui suntikan itu dibolehkan. Dan tiada beda antara lelaki dan
perempuan (Syarah Fathul Qadir halaman 500 jilid 8). Juga dikatakan bahwa tidaklah
diperbolehkan menggunakan benda yang haram untuk berobat seperti khamar
(miras) dan sejenisnya kecuali jika setelah diusahakan tidak ada lagi obat lain yang
lebih sesuai dan hanya pada khamar itu saja obatnya. Sedangkan makna perkataan
Ibnu Masud bahwa Allah SWT tidak menjadikan obat bagi sekalian penyakit pada
apa yang diharamkan memiliki kemungkinan lain. Diantaranya mungkin saja Ibnu
Masud mengatakan hal tersebut pada penyakit yang sudah sering terjadi dan
diketahui obat yang halal bagi penyakit tersebut.
Bahkan dalam kondisi tertentu dibolehkan bagi seseorang untuk mengobati
penyakitnya walaupun harus memindahkan bagian tubuhnya kepada bagian yang
lain jika bagian yang cacat tersebut akan membawa kepada penyakit yang lebih
membahayakan, baik itu amputasi atau pemindahan bagian tubuh. Karena
ditakutkan jika itu tidak dilakukan maka akan membahayakan nyawa seseorang dan
Allah sendiri mengingatkan manusia agar jangan mencampakkan dirinya ke dalam
jurang kehancuran bahkan kematian (Al-Baqarah ayat 195; An-Nisa ayat 29).
Para ahli fikih membolehkan seseorang memasang gigi palsu. Namun mereka
berbeda pendapat pada hal menggunakan gigi palsu yang terbuat dari emas.
Sebagaimana para ulama juga sepakat bahwa boleh mengobati fisik hidung juga
menindik telinga anak perempuan agar terlihat cantik dan indah.
Di dalam kitab hidayah halaman 61 jilid 4 disebutkan, bahwa dilarang menggunakan
gigi palsu dari emas. Namun boleh dengan perak. Ini adalah pendapat imam Hanafi
dan Muhammad bahkan berkata bahwa tidak apa apa menggunakan gigi emas.
Nabi SAW membolehkan menggunakan emas jika itu adalah suatu keharusan karena
kritis dan darurat. Dan menindik telinga anak perempuan dibolehkan (kitab ikhtiyar
maushuly halaman 122 jilid 30) karena dengan menindik telinga tersebut dapat
menambah keindahan.
Selain itu dibolehkannya operasi model pertama ini karena diqiyaskan dengan
bolehnya memotong sebagian anggota tubuh jika terdapat kemudaratan sebagimana
disebutkan para ulama. Di dalam kitab qawaaid ahkam, jika suatu keadaan
mengharuskan seseorang memotong anggota tubuhnya(amputasi) karena
ditakutkan akan menyebar penyakitnya ke bagian tubuh lain maka hendaknya dia
memotong bagian tersebut. Dan pengarang kitab ini adalah Syekh iz bin Abdus
Salam dari madzhab Hanafi. Namun jika penyakit tersebut hanya di bagian tertentu
saja dan tidak menyebar maka dilarang memotongnya kecuali memotong gigi atau
menumpulkannya.
Selanjutnya disebutkan bahwa operasi di dalam model ini tidak menyebabkan
merobah ciptaan Allah dengan semena-mena dimana merobah ciptaan itu
diharamkan oleh Allah. Karena operasi ini sangat perlu dilakukan dengan kondisi
yang mendesak, maka diperbolehkan. Imam Nawawi dari madzhab Syafii ketika
mensyarah hadits Ibnu Masud tentang perkataan orang yang merenggangkan gigi
untuk keindahan maknanya adalah dia merenggangkan gigi itu tidak karena sakit
namun hanya untuk mempercantik diri dan ini menunjuki bahwa operasi untuk
mengobati cacat tentu dibolehkan. Dan operasi yang demikian itu tidak menjadikan
alasan mempercantik diri sebagai landasan pertama namun kecantikan yang
dihasilkan dari operasi tersebut hanya sebagai hasil luar saja. Kemudian operasi
model ini juga tidak bermaksud merobah ciptaan Allah dengan sengaja. Namun
sebagai sarana berobat saja. Maka oleh karena itu berdasarkan dalil dalil yang telah
kami sebutkan maka operasi semacam ini dibolehkan oleh syariat
2. Operasi Ikhtiyariyah( yang sengaja dilakukan)
Yaitu operasi yang dilakukan bukan karena alasan medis, namun mutlak hanya hasrat
seseorang dalam meperindah diri dan berlebih lebihan di dalam menafsirkan kata
kata indah itu. Operasi model ini terbagi kepada dua bagian yaitu, bagian yang
merobah bentuk dan bagian yang mengawetkan umur.
Bagian tersama tersebut memiliki banyak jenis seperti
1. Memperindah hidung, seperti membuatnya lebih mancung dll
2. Memperindah dagu, dengan meruncingkannya dll
3. Memperindah payudara dengan mengecilkannya jika terlalu besar atau
membesarkannya dengan suntik silicon atau dengan menambah hormon
untuk memontokkan payudara dengan berbagai cara yang telah ditemukan.
4. Memperindah kuping
5. Memperindah perut dengan menghilangkan lemak atau bagian yang lebih dari
tubuh
Sedangkan operasi yang bertujuan untuk menampakkan diri seolah olah awet ialah
1. Memperindah wajah dengan menghilangkan kerutan yang ada dengan skaler
atau alat lainnya
2. Memperindah kulit dengan mengangkat lemak yang ada dan membentuk
wajah dengan apa yang dikehendaki.
3. Memperindah lengan bawah sehingga tidak kelihatan bongkok dengan
berbagai cara
4. Memperindah kulit tangan dengan menghilangkan kerut seolah kulit masih
padat dan muda
5. Memperindah alis baik dengan mencukurnya agar Nampak lebih muda.
Demikianlah beberapa jenis operasi yang hanya berdasarkan kesenangan seseorang
saja. Maka di sini kita akan membahas pendapat ulama tentang operasi jenis ke dua
ini.
Pertama, mayoritas ulama fiqih dan ulama hadits berpendapat bahwa tidak boleh
melakukan operasi jenis kedua ini. Mereka berpegang kepada argument di bawah ini.
Firman Allah SWT Pada surat An-Nisa ayat 119, dimana dijelaskan bahwa kita tidak
boleh merubah ciptaan Allah. Padahal Allah telah melarang dan membenci manusia
yang merubah ciptaannya dan ini juga merupakan tanda seseorang tidak mensyukuri
nikmat Allah.
Selain itu di dalam sebuah hadits, dari Abdullah Bin Masud, yang diriwayatkan oleh
Bukhari dan Muslim Rasulullah bersabda, Allah SWT melaknat orang yang
membuat tato dan orang yang meminta dibuatkan tato, orang yang mencabut alis
dan merenggangkan gigi agar terlihat cantik/ganteng. Maka ketika itu seorang
wanita dari bani Asad berkata, kamu mengatakan bahwa kamu melaknat orang yang
bertato dan membuat tato, orang yang mencabut alis dan orang yang
merenggangkan gigi karena merubah ciptaan Allah? Maka Abdullah berkata, aku
tidak melaknat kecuali apa yang telah dilaknat oleh Rasulullah dan itu ada di dalam
Alquran. Lalu perempuan itu berkata, Aku telah membaca di dalam mushaf maka
aku tidak menemukan hal yang kamu ucapkan. Maka Abdullah berkata,Jika kau
memahaminya sungguh akan kau dapati. Allah berfirman, dan apa yang
diperintahkan oleh Rasul maka kamu taati dan apa yang dilarang maka
tinggalkanlah (Al-Hasyir ayat 7). Lalu perempuan tersebut berkata lagi, namun itu
ada pada isterimu sekarang!. Maka Abdullah berkata,lihatlah kalau memang ada!.
Maka pergilah perempuan tersebut kepada isteri Abdullah dan dia tidak melihat
suatu apapun. Maka dia berkata kepada Abdullah, Aku tidak melihat apa-apa.
Abdullah berkata, aku tidak akan berhubungan dengannya jika itu ada pada dia.
Maka dari hadits tersebut kita melihat bahwasannya Nabi SAW melaknat orang yang
merubah ciptaan Allah dan suatu laknat itu tidak ada kecuali atas hal yang haram.
Membuat tato yaitu menusuk dengan jarum di lengannya atau bagian tubuhnya
sehingga mengalir darah (luka) kemudian dilukis bagian tersebut dengan celak dan
bunga kembang muncul apa yang dibuat.
Ada juga hadits yang diriwayatkan oleh pengarang kitab sunah, dari Asma
bahwasannya seorang perempuan datang kepada Rasulullah, maka dia berkata,
Wahai Rasulullah sesungguhnya punya dua anak yang sudah menikah dan dia
mengadu bahwa rambutnya sudah tercerai berai, apakah aku bersalah jika
menyambung rambutnya? Maka Rasul bersabda,Allah melaknat orang yang
menyambung rambut dan meminta disambungkan.
Sedangkan secara Qiyas dapat dilihat dari tidak bolehnya kita bertujuan untuk
melakukan sesuatu untuk merubah cipataan Allah.
Secara logika kita bisa mengatakan bahwa operasi model ini adalah menipu dan
menutupi kekurangan inndividu dan ini diharamkan dan tidak dibolehkan jika bukan
pada keadaan yang kritis. Sedangkan dalam hal yang telah kami sebutkan tidak
didapati keadaan kritis pada seseorang yang membuat dia harus melakukan operasi
kedua ini. Maka otomatis yang melakukannya mengerjakan pekerjaan yang haram
demikian juga diharamkan karena yang melakukan operasi ini biasanya dokter lelaki
maka jika pasiennya adalah perempuan dengan sendirinya ia akan melihat bahkan
memegang bagian tubuh lawan jenis dan ini diharamkan oleh syariat. Juga dapat
membuat seseorang kehilangan wibawa bahkan meusak diri. Maka setelah
mengetahui berbagai dalil yang telah kami paparkan maka kita melihat bahwasannya
para ulama sepakat utuk melarang operasi jenis ini, disebabkan
1. Operasi ini adalah salah satu bentuk usaha untuk merubah ciptaan Allah.
Maka sebagaimana dalil yang telah kami paparkan ini sangatlah tidak sesuai
dengan sifat seorang manusia.
2. Operasi ini adalah salah satu bentuk penyamaran dan berlebih lebihan. Hal ini
juga dilarang di dalam agama.
3. Operasi ini juga turut memberikan kemudaratan kepada manusia dimana
kemudaratan itulah yang lebih banyak dirasakan.
Maka oleh karena itu kita sepakat bahwa hal ini sangatlah dilarang oleh agama. Dan
ini dapat kita teliti kembali, karena ayat dan hadits yang telah kami sebutkan
menurut konteksnya dapat kita telusuri lagi agar kita bisa menetapkan point point
penting dari proses operasi itu sendiri.
Sesuai dengan perkataan bahwa operasi model ini dapat merubah ciptaan Allah,
maka ulama tafsir mengatakan bukan merubah ciptaan yang sebagaiman telah kami
sebutkan yang dimaksud ayat tersebut, namun merubah ciptaan Allah menurut
pendapat pakar tafsir ialah sebuah janji iblis yang akan megerogoti anak cucu adam
agar agar selalu melenceng dari jalan Allah. Imam Qurthuby di dalam tafsir jami li
ahkaamil Quranmenyebutkan para ulama berbeda pendapat di dalam menentukan
ayat ini, sebagian berkata bahwa merubah ciptaan pada ayat tersebut adalah seperti
memotong telinga, dan membuat rabun mata, juga menyiksa hewan dan
menyembelihnya dengan sewenang-wenang. Karena telinga bagi hewan memiliki
faidah serta keindahan tersendiri demikian juga organ lainnya. Maka syaitan selalu
berusaha kita merubah ciptaan Allah tersebut.
Kelompok yang lain berkata bahwa yang dimaksud dengan merubah ciptaan Allah
adalah bahwa Allah menciptakan matahari, bulan, batu dan makhluk ciptaan yang
lain agar manusia dapat mengambil manfaat daripadanya. Maka dalam hal ini orang
kafir merubah ciptaan Allah tersebut dari posisinya sebagai ciptaan menjadi Tuhan.
Imam Zujaj berkata,Sesungguhnya Allah SWT menciptakan hewan hewan untuk kita
jadikan alat transportasi, kita makan, lalu manusia mengharamkan hal tersebut atas
dirinya, maka mereka menjadikannya sebagai sesembahan maka sama saja ia telah
merubah ciptaan Allah dari fungsi sebenarnya. Demikianlah menurut beberapa
ulama tafsir termasuk Mujahid, Dhahhak, Said bin Jabir da Qatadah.
Sementara itu Imam Qurthuby juga menyebutkan bahwa makna merubah ciptaan
Allah sangatlah luas dan banyak pengerian yang dapat diambil, seperti mereka yang
mengatakan bahwa jika ada seorang yang hitam kawin dengan orang putih, ini
merupakan perubahan terhadap ciptaan Allah. Namun Imam Qurthuby membantah
perkataan ini.
Sementara menurut Ibnu Katsir ayat tersebut juga mengisyaratkan kepada agama
Allah. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Atha, Dhahhak dan khurasany.
Sedangkan di dalam kitab Tanwiirul Miqbaas karangan Ibnu Abbas disebutkan bahwa
ciptaan Allah pada ayat 119 surat An-Nisa ialah agama Allah. Sedangkan di dalam
tafsir jalalain bahwa merubah ciptaan Allah yang dimaksud adalah merubah agama
Allah dan merubah hukumnya, seperti menghalalkan apa yang telah diharamkan
atau sebaliknya.
Di dalam kitab Asybah Wan Nadhhaair karya Imam Muqatil Bin Sulaiman Albalkhy
disebutkan bahwa makna ciptaan yang dimaksud di dalam ayat tersebut ada tujuh
makna diantaranya yaitu agama. Sesuai dengan perkataan Iblis.
Ayat tersebut (An-Nisa 119) mencakup seluruh makna tersebut.
Penciptaan Allah pada ayat tersebut, yaitu diciptakannya manusia dengan bentuk
yang paling sempurna dan kita harus mengetahui bagaiman kesempurnaan yang
Allah berikan kepada manusia dengan penciptaan itu. Sehingga kita dapat
memastikan bahwa operasi semacam ini adalah merubah cipataan Allah
sebagaimana pertama sekali Allah ciptakan.
Allah menyebutkan bahwa Dia telah menciptakan kita (manusia) secara seimbang
dan dengan bentuk terbaik (Infithar ayat 7) dan juga Allah telah menciptakan kita
dengan apa saja bentuk yang Allah suka (Infithar ayat 8). Mujahid berkata ini pada
persoalan miripnya antara anak dan ibu atau ayah dan firman Allah bahwa Allah
telah menciptakan kita pada sebaik bentuk (At-Tin ayat 4) dan ini adalah bagian dari
janji Allah SWT. Allah telah menciptakan kita dalam sebaik baik rupa dan bentuk. Dari
ayat di atas jelaslah bahwa Allah SWT menciptakan manusia dengan seimbang dan
bentuk yang ideal. Jika terjadi pebedaan dalam bentuk atau rupa manusia itu adalah
sesuatu hal yang wajar, dan ciptaan manakah yang lebih baik dari ciptaan Allah? Jadi
kejadian penciptaan pertama sekali itu semuanya sama dan jika pada saat pertama
itu terdapat kekurangan maka diperbolehkan berobat dan itu adalah bagian dari
usaha dan kekurangan itu sendiri adalah cobaan dari Allah SWT. Maka pada keadaan
seperti inilah yang dibolehkan adanya operasi (ghairu ikhtiyariya).
Oleh karena itu jelaslah bahwasannya Allah SWT telah menciptakan manusia dengan
seimbang dan ideal dan jika ketika lahir terdapat kekurangan maka boleh ketika itu
mengobatinya walaupun dengan operasi dan tidak dianggap sebagai usaha merubah
ciptaan Allah. Karena itu hanya bertujuan untuk memulihkan fisik yang kurang
bahkan berobat dalam hal ini sangat dianjurkan.
Segala perbedaan yang terjadi antara manusia baik dari segi bentuk atau rupa adalah
hal yang wajar dan dapat dimaklumi, bahkan dengan demikian bertambah pula
keagungan Allah. Betapa kita lihat seorang pemahat tidak dianggap hebat jika hanya
mampu membuat pahatan di dalam satu bentuk saja. Selain itu berbedanya bentuk
dan rupa manusia juga memiliki hikmah tersendiri. Jika kita berupaya merubah
bentuk tersebut maka inilah namanya merubah ciptaan Allah.
Orang yang berusaha untuk merubah ciptaan Allah adalah mereka para pendosa
yang tidak pandai mensyukuiri nikmat Allah yang telah diberikan. Segala kekurangn
dan kelebihan itu kita ketahui manfaatnya ketika kita sadar bahwa itu telah tiada
pada diri kita. Tidaklah kita merasa bahwa seseorang yang diberikan segenap
kelebihan oleh Allah namun ia hanya memiliki setitik kekurangan dan dengan
kekurangan itulah ia merendah di depan makhluk Allah yang lain, dengan serta merta
Allah telah menyelamatkan kita dari kesombongan. Bayangkan jika kesempurnaan itu
datang, adakah kita dapat menjamin bahwa kita akan terbebas dari sifat takabbur,
sombong? Bahkan bisa jadi kita akan terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan.
Demikianlah Allah telah menjadikan bentuk tubuh itu sebagai fasilitas dan sarana
untuk bersyukur padanya.
Larangan dan perinah yang telah Allah berikan juga merupakan ujian bagi kita dan
sebagai tanda apakah kita tergolong hambanya yang bersyukur atau malah kufur.
Maka selagi kesempatan itu masih ada marilah kita pergunakan dengan sebaiknya
agar kita tidak menyesal nantinya. Penyesalan itu selalu datang terlambat dan hanya
orang beriman saja yang dapat meesapi makna penyesalan. Sangat banyak jalan yang
Allah ciptakan bagi kita untuk beribadah kepadanya, namun kenapa kita tidak mau
memilih jalan itu? Semuanya kembali kepada kita.
Demikianlah risalah singkat ini, penulis mengharap ridha Allah atas apa yang telah
penulis paparkan dan hanya kepada Allah kita kembali dan semoga risalah ini
membawa manfaat bagi mereka yang ingin mengetahui seluk beluk agama.
Amin.Wallahu alam bish Shawab









BAB IV
PENUTUP
1. A. Kesimpulan
Operasi plastik adalah suatu tindakan untuk memperbaiki atau merekonstruksi
bagian tubuh. Dalam agama islam operasi plastik boleh dilakukan dengan alasan
memperbaiki bagian tubuh tetapi menggunakan prosedur yang telah di tentukan dan
menggunakan alat dan bahan yang dihalalkan.
Operasi plastik bisa diharamkan karena dengan tujuan merekonstruksi atau
mempercantik diri karena dikhawatirkan tidak mau mensyukuri apa yang telah diberi
oleh Allah SWT.
Sebagaimana konteks nyata dari ayat yang melarang merubah bentuk ciptaan
anggota tubuh hewan seperti telinga dan matanya. Maka jika hewan saja sudah
dilarang, konon lagi manusia. Dilarang menjadikan sekalian ciptaan Allah sebagai
sesembahan. Dilarang merubah agama Allah atau hukum hukum di dalamnya yang
sudah pasti, seperti halal atau haram.

1. B. Saran
Sebaiknya operasi plastik dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki fungsi tubuh
yang terjadi gangguan sehingga harus dilakukan operasi plastik. Dan mencoba untuk
mensyukuri pemberian Tuhan.