Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH MANAJEMEN TERNAK PERAH

Penanganan Penyakit Mastitis pada Sapi Perah


Diajukan sebagai tugas dengan tujuan memenuhi nilai mata kuliah praktikum
Manajemen Ternak Perah

Oleh :
Kelas B
Kelompok 8

DIMAS SATRIO PUTRO 200110100256
RISKY OCTAVIANI H 200110110277
SALMALAILA SHABARIYAH 200110110288
EVAN PRADITYAN D 200110120072
KALEB NIGER 200110120078
IYAN NUGRAHA 200110120087
FARISI ABDUSSALAM 200110120201




FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2014
I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Sapi perah merupakan salah satu ternak penghasil susu yang cukup tinggi,
untuk mendapatkan produk susu yang tinggi perlu diperhatikan manajemen
pemeliharaan dari sapi perah. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi
keberhasilan usaha beternak sapi perah yaitu paktor kebersihan, terutama kebersihan
lingkungan baik itu kebersihan kandang maupun kebersihan ternak itu sendiri.
Lingkungan yang tidak bersih dan kotor dapat mengganggu aktivitas ternak dan juga
dapat menimbulkan bibit penyakit terutama pada saat pemerahan susu pada Sapi
perah. Salah satu penyakit yang dapat menyerang sapi perah adalah penyakit mastitis.
Mastitis adalah penyakit dari ambing yang disebabkan oleh peradangan
kelenjar susu. Mastitis merupakan penyakit yang banyak sekali menimbulkan
kerugian pada peternakan sapi perah. Kerugian tersebut disebabkan oleh penurunan
produksi air susu, ongkos perawatan dan pengobatan, air susu yang harus dibuang
karena tidak memenuhi persyaratan dan kenaikan biaya penggantian sapi untuk
kelangsungan produksi. Hal-hal tersebutlah yang melatarbelakangi dibuatnya
makalah mengenai bagaimana penanganan mastitis pada sapi perah.

1.2. Identifikasi Masalah
1. Faktor apa saja yang mempengaruhi Mastitis.
2. Bagaimana Mekanisme terjadinya Mastitis.
3. Bagaimana Pengendalian Mastitis pada Sapi Perah.
4. Bagaimana Persentase kejadian Mastitis Pada Sapi Perah di Indonesia.
5. Apa saja kerugian akibat Mastitis Pada Sapi Perah di Indonesia.

1.3. Maksud dan Tujuan
1. Mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi Mastitis.
2. Mengetahui Mekanisme terjadinya Mastitis.
3. Mengetahui Pengendalian Mastitis pada Sapi Perah.
4. Mengetahui Persentase kejadian Mastitis pada Sapi Perah di Indonesia.
5. Mengetahui kerugian akibat Mastitis pada Sapi Perah di Indonesia.





















II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Deskripsi Mastitis
Mastitis berasal dari bahasa Yunani yaitu Matos yang berarti infeksi dan Itis
berarti radang. Jadi, Mastitis adalah infeksi yang menyebabkan peradangan ambing
pada sapi perah. Biasanya penyakit ini berlangsung secara akut, sub-akut maupun
kronis. Mastitis ditandai dengan peningkatan jumlah sel di dalam air susu, perubahan
fisik maupun susunan air susu dan disertai atau tanpa disertai perubahan patologis
atau kelenjarnya sendiri. Hal tersebut diatas menyebabkan penurunan produksi susu.
Perubahan fisik (susu) biasanya meliputi perubahan warna, bau, rasa dan konsistensi.
(Subronto, 2003).
Proses mastitis hampir selalu dimulai dengan masuknya mikroorganisme ke
dalam kelenjar melalui lubang puting (sphincter puting). Sphincter puting berfungsi
untuk menahan infeksi kuman. Pada dasarnya, kelenjar mammae sudah dilengkapi
perangkat pertahanan, sehingga air susu tetap steril. Perangkat pertahanan yang
dimiliki oleh kelenjar mammae, antara lain : perangkat pertahanan mekanis, seluler
dan perangkat pertahanan yang tidak tersifat (non-spesifik). Tingkat pertahanan
kelenjar mammae mencapai titik terendah saat sesudah pemerahan, karena
sphincter masih terbuka beberapa saat, sel darah putih, antibodi serta enzim juga
habis, ikut terperah (Hidayat, 2008).
Sapi yang terkena mastitis akut masih bisa diobati dengan memberi antibiotik,
sedangkan yang kronis dapat disembuhkan namun kelenjar ambing sudah rusak dan
terbentuk jaringan ikat sehingga tidak dapat memproduksi susu. Oleh karena itu, sapi
yang terkena mastitis kronis secara ekonomi sangat merugikan dan lebih baik dijual.


2.2. Jenis-jenis Mastitis
2.2.1. Menurut Bentuknya
1. Mastitis catarralis adalah mastitis yang paling ringan. Disini ditemukan
radang dan degenerasi pada parenchym (epitel) saluran-saluran air susu besar.
2. Mastitis parenchymatosa adalah radang yang meluas hingga asinus
pembentuk air susu, jadi hingga parenchym yang mementuk air susu.
3. Mastistis interstitialis, Radang terutama ditemukan di dalam interstisium
(jaringan ikat).
2.2.2. Menurut pembagian patologik anatomik mastitis
1. Mastitis catarrhalis, yakni radang pada saluran susu yang halus.
2. Mastitis parenchymatosa, radang parenchym pembentuk air susu.
3. Mastitis Phlegmonosa , dimaa radang ini meluas dalam jaringan ikat. Oleh
karena itu dinamakan jg mastitis interstitialias. Terlihat pada perlukaan dan
infesi ambing .
4. Mastitis purulenta (apestomatosa) , disertai pembentukkan abses-abses.
5. Mastitis necriticans memperlihatkan regresi luar biasa dengan nekrosa kering
(necrosa koagulasi)
6. Mastitis indurativa , dimana kelenjar digantikan oleh jaringan ikat. Sekresi air
susu berhenti ambingnya akan terasa keras, lingkarannya bertambah atau
berkurang. Mastitis ini dapat terjadi pada 3 kuartir.
7. Mastitis specifica disebabkan oleh tuberculosis dan aktimikosis
(Ressang,1984)

Mastitis klinis ditandai dengan kebengkakkan, panas, rasa sakit, warna
ambing kemerahan dan tergantung fungsinya. Mastitis sub-akut perubahan radang
ambing tersamar tetapi susunya mengalami perubahan. Kelainan bisa berupa
asimetris, bengkak, lesi pada puting susu dan warna merah pada radang hebat.
Mastitis kronis terjadi bila infeksi pada ambing berjalan lama dan ditandai dengan
adanya atropi ambing.
Mastitis sub-klinis tidak ditemukan gejala klinis namun tersifat pada sekresi
susunya, deteksi terhadap mastitis sub-akut dengan uji sekresi susunya yang
menunjukkan produk infiltrasi seperti leukosit, fibrin dan serum serta perubahan
komposisi kimiawi. Ditransferkan sodium klorat dan bikarbonat dari darah ke dalam
susu menjadi alkalis. Perubahan susu secara fisis meliputi warna, bau, konsistensi dan
rasanya. Warna menjadi putih pucat atau kebiruan, rasa menjadi getir atau agak asin.
Bau yang agak harum darisusu menjadi asam, sedangkan konsistensinya menjadi cair
dan kadang disertai dengan adanya jonjot atau endapan fibrin dan protein (Damarjati,
2008).


















III
PEMBAHASAN

2.1. Faktor-faktor Penyebab Mastitis
2.1.1. Faktor Genetik
Resistensi atau kepekaan terhadap mastitis pada sapi, kambing atau domba
bersifat menurun. Gen-gen yang menurun akan menentukan ukuran dan struktur
puting (Swart, et al., 1984). Tuasikal (2003) menyatakan bahwa saat periode kering
adalah saat awal kuman penyebab mastitis menginfeksi, karena pada saat itu terjadi
hambatan aksi fagositosis dari neutrofil pada ambing.
2.1.2. Faktor Mikroorganisme
Menurut Mellenbenger (1997) bahwa berbagai jenis bakteri telah diketahui
sebagai agen penyebab penyakit mastitis, antara lain: Streptococcus agalactiae, Str.
Disgalactiae, Str. Uberis, Str.zooepidemicus, Staphylococcus aureus, Escherichia
coli, Enterobacter aerogenees dan Pseudomonas aeroginosa. Swart (1984),
menyatakan bahwa Staphylococcus adalah bakteri gram positif, bentuk kokus dengan
susunan berpasangan atau bergerombol, seperti anggur. Bersifat aerobik atau
anaerobik fakultatif, katalase positif, oksidase negatif, bersifat non-motil, tidak
membentuk spora. Staphylococcus tumbuh dengan cepat pada beberapa tipe media
dan aktif melakukan metabolisme serta melakukan fermentasi karbohidrat.
1. Staphylococcus
Staphylococcus merupakan bakteri Gram positif, berbentuk kokus, diameter 1
m, tidak motil, facultative anaerob, catalase positif, dapat tumbuh pada media yang
kurang menguntungkan, dapat menyebabkan infeksi pyogenic.
Habitat staphylococcus, hidup normal pada kulit hewan dan manusia. Mereka
sering ditemukan pada membrane mukosa traktus respiratorius dan sedikit di saluran
urogenital serta saluran pencernaan.
Staphylococcus aureus merupakan salah satu penyebab utama mastitis pada
sapi perah yang menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar akibat turunnya
produksi susu.
Patogenisitas dan virulensi Staphylococcus sp. ditentukan oleh substansi-
substansi yang diproduksi oleh organisme ini antara lain adalah enzim ekstraseluler
yang dikenal dengan eksoprotein. Staphylococcus aureus memproduksi eksoprotein
yang dibagi menjadi 2 kelompok utama yaitu, kelompok enzim antara lain koagulase,
lipase, hialuronidase, stafilokinase (fibrinolisin) dan nuklease serta kelompok
eksotoksin misalnya leukosidin, eksfoliatif toksin, enterotoksin dan toxic schock
syndrome toxin-1 (TSST-1).
Hemolisin merupakan eksoprotein yang mempunyai aktivitas baik enzimatis
maupun toksin sehingga tidak termasuk dalam klasifikasi ini (Williams et al., 2000).
Sitolitiktoksin yang dihasilkan oleh S. aureus adalah , , , dan -hemolisin.
Eksoprotein enzimatis ini kemungkinan mempunyai fungsi utama dalam menyokong
nutrisi untuk pertumbuhan bakteri, sedangkan eksotoksin berperan dalam
menimbulkan berbagai penyakit.
2. Streptococcus
Streptococcus agalactiae termasuk dalam genus Streptococcus golongan B.
Bakteri ini merupakan bakteri Gram positif. Streptococcus agalactiae merupakan
sebagian dari flora normal pada vagina dan mulut wanita pada 5-25 %. Bakteri ini
secara khas merupakan -hemolitik dan membentuk daerah hemolisis yang hanya
sedikit lebih besar dari koloni (bergaris tengah 1-2 mm). Streptococcus golongan B
menghidrolisis natrium hipurat dan memberi respons positif pada tes CAMP
(Christie, Atkins, Munch-Peterson), peka terhadap basitrasin.
Streptococcus agalactiae mampu bertahan pada inang dalam temperatur
tinggi, tergantung dari kemampuannya untuk melawan fagositosis. Isolat dari
Streptococcus agalactiae memproduksi kapsul polisakarida. Kapsul polisakarida
tersebut tersusun atas galaktosa dan glukosa, berkombinasi dengan 2-acetamido-2-
deoxyglucose, N-acetylglucosamine dan pada ujungnya terdapat asam sialik, yang
memberikan muatan negatif. Kapsul polisakarida tersebut merupakan faktor virulensi
yang penting. Kapsul-kapsul tersebut menghalangi fagositosis dan sebagai
komplemen saat tidak ada antibodi. Hasil selanjutnya dihilangkan bersama dengan
pengeluaran residu asam sialik, dan kekurangan serum antibodi untuk melengkapi
antigen tidaklah opsonik. Meskipun infeksi atau penyerangan bisa saja dihubungkan
dengan semua serotype, namun golongan dengan kapsul serotype III mendominasi
isolat dari infeksi neonatal (Carter,2004 ; Quinn,2002)
2.1.3. Bentuk puting
Ada dan tidaknya lesi pada puting mempengaruhi kejadian mastitis. Hasil
penelitian Hidayat (2008) menunjukkan bahwa prevalensi mastitis pada puting
pendulous mencapai 77,78%, sedangkan pada puting non pendulous mencapai 50%.
Puting yang lesi memungkinkan prevalensi mastitis sebesar 84%, sedangkan pada
puting normal sebesar 47,74%. Letak kuartir juga mempengaruhi kejadian mastitis.
Kuartir kiri, belakang dan kanan, depan lebih sering mengalami mastitis daripada
kedua puting lainnya. Pada kiri belakang, mastitis mencapai 34,3%, sedangkan kanan,
depan mencapai 30,06% (Lestari, 2006).
2.1.4. Faktor Umur dan Tingkat Produksi Susu
Faktor umur dan tingkat produksi susu sapi juga mempengaruhi kejadian
mastitis. Semakin tua umur sapi dan semakin tinggi produksi susu, maka semakin
mengendur pula spinchter putingnya. Puting dengan spinchter yang kendor
memungkinkan sapi mudah terinfekesi oleh mikroorganisme, karena fungsi spinchter
adalah menahan infeksi mikroorganisme. Semakin tinggi produksi susu seekor sapi
betina, maka semakin lama waktu yang diperlukan spinchter untuk menutup
sempurna (Subronto, 2003).

2.1.5. Bangsa sapi
Faktor bangsa sapi bisa mempengaruhi kejadian mastitis. Dilaporkan oleh
(Lestari, 2006) bahwa kejadian mastitis pada sapi persilangan (Crossbreed) lebih
besar dari pada sapi lokal
2.1.6. Manajemen dan lingkungan
Faktor lingkungan dan pengelolaan peternakan yang banyak mempengaruhi
terjadinya radang ambing meliputi: pakan, perkandangan, banyaknya sapi dalam satu
kandang, ventilasi, sanitasi kandang dan cara pemerahan susu. Pada ventilasi jelek,
mastitis mencapai 87,5%, ventilasi yang baik mencapai 49,39% (Hidayat, 2008)

2.2. Mekanisme terjadinya Mastitis
Luthvin (2007) menjelaskan bahwa proses infeksi pada
mastitis terjadi melalui beberapa tahap, yaitu adanya kontak dengan mikroorganisme
dimana sejumlah mikroorganisme mengalami multiplikasi di sekitar lubang puting
(sphincter), kemudian dilanjutkan dengan masuknya mikroorganisme akibat lubang
puting yang terbuka ataupun karena adanya luka. Gejala klinisnya berupa
pembengkakkan ambing dan jika ambing diraba terasa panas. Tahap
berikutnya, terjadi respon imun pada induk semang. Respon pertahanan pertama
ditandai dengan berkumpulnya leukosit-leukosit untuk mengeliminasi
mikroorganisme yang telah menempel pada sel-sel ambing. Apabila
respon ini gagal, maka mikroorganisme akan mengalami multiplikasi dan sapi dapat
memperlihatkan respon yang lain, misalnya demam, dan apabila infeksi terus
berlanjut akan terbentuk jaringan ikat sehingga ambing mengeras dan produksi susu
terhenti.
Masuknya organisme ke dalam puting kebanyakan terjadi karena terbukanya
lubang saluran puting, terutama setelah diperah. Infasi ini dipermudah dengan adanya
lingkungan yang jelek, opulasi terlalu tinggi, adanya lesi pada puting susu atau karena
daya tahan sapi menurun. Fase Infeksi, Terjadinya pembentukan koloni oleh
mikroorganisme yang dalam waktu singkat menyebar ke lobuli da alveoli. Fase
Infiltrasi, ditandai saat mikroorganisme sampai ke mukosa kelenjar, tubuh akan
bereaksi dengan memobilisasi leukosit dan terjadi radang. Adanya radang
menyebabkan sel darah dicurahkan ke dalam susu, sehingga sifat fisik serta susunan
susu mengalami perubahan. Secara klinis proses radang ambing dapat berlangsung
secara akut, sub-akut, kronis (Poeloengan, 2005).
Sphincter puting berfungsi untuk menahan infeksi mikroorganisme yang akan
masuk ke dalam kelenjar mammae. Kelenjar mammae sebenarnya telah dilengkapi
dengan perangkat pertahanan, seperti pertahanan mekanis, seluler dan pertahanan
non-spesifik, sehingga air susu tetap steril. Namun, hal itu tidak terjadi pada sapi
yang terserang mastitis dan ditempatkan dalam kandang yang kotor dan kekurangan
pakan. Selain faktor mikroorganisme, seperti jenis, jumlah dan virulensinya, faktor
ternak dan lingkungan juga menentukan mudah tidaknya infeksi ambing pada sapi
dalam suatu peternakan. Umur sapi dan tingkat produksi susu juga memengaruhi
kejadian mastitis. Semakin tua umur sapi dan semakin tinggi produksi susu, semakin
mengendur pula sphincter putingnya. Puting dengan sphincter yang kendur
memungkinkan sapi mudah terinfeksi mikroorganisme karena sphincter berfungsi
menahan infeksi mikroorganisme. Semakin tinggi produksi susu, semakin lama
waktu yang diperlukan sphincter untuk menutup secara sempurna. Hal ini lebih parah
jika kondisi kandang sangat kotor. Lingkungan dan pengelolaan peternakan juga
memengaruhi terjadinya infeksi ambing, seperti pakan, kandang, jumlah sapi dalam
satu kandang, ventilasi, sanitasi kandang, dan cara pemerahan susu.





2.3. Pengendalian Mastitis
2.3.1 Cara penularan
Penularan mastitis dari seekor sapi ke sapi lain dan dari kuarter terinfeksi ke
kuarter normal bisa melalui tangan pemerah, kain pembersih, mesin pemerah dan
lalat (Nurdin,2006).
Penyakit mastitis menular dari satu sapi ke sapi yang lain atau dari kuarter
terinfeksi ke kuarter normal melalui tangan pemerah. Oleh karena itu, sapi yang
terkena mastitis hendaknya ditempatkan tersendiri dan diperah paling akhir, dimulai
dari kuarter yang sehat kemudian dilanjutkan ke kuarter yang terkena mastitis.
2.3.2. Diagnosis
Pengamatan secara klinis adanya peradangan ambing dan puting susu,
perubahan warna air susu yang dihasilkan. Uji lapang dapat dilakukan dengan
menggunakan California Mastitis Test (CMT), yaitu dengan suatu reagen khusus
(Wahyuni, 2005). Subronto (2003) menambahkan diagnosis mastitis bisa dilakukan
dengan Whiteside Test.
Radang dikatakan subklinis bila gejala klinis radang tidak ditemukan saat
pemeriksaan ambing. Pada radang yang bersifat akut, tanda-tanda radang jelas
ditemukan, seperti ambing bengkak, panas jika diraba, sakit, warna kemerahan, dan
fungsi ambing terganggu.
2.3.3. Kontrol
Salasia (2005) mengemukakan bahwa guna mencegah infeksi baru oleh
bakteri penyebab mastitis, maka perlu beberapa upaya, antara lain :
Meminimalisasi kondisi-kondisi yang mendukung penyebaran infeksi dari
satu sapi ke sapi lain dan kondisi-kondisi yang memudahkan kontaminasi
bakteri dan penetrasi bakteri ke saluran puting.
Air susu pancaran pertama saat pemerahan ditampung di strip cup dan diamati
terhadap ada tidaknya mastitis. Pencelupan atau diping puting dalam biosid
3000 IU (3,3 mililiter/liter air). Penggunaan lap yang berbeda untuk setiap
ekor sapi, dan pastikan lap tersebut telah dicuci dan didesinfektan sebelum
digunakan (Hidayat,2008).
Pemberian nutrisi yang berkualitas, sehingga meningkatkan resistensi ternak
terhadap infeksi bakteri penyebab mastitis. Suplementasi vitamin E, A dan -
karoten serta imbangan antara Co (Cobalt) dan Zn (Seng) perlu diupayakan
untuk menekan kejadian mastitis.
Mengobati luka bakar dan ambing sapi dengan antibiotik agar tidak terjadi
mastitis kronis.
Menjaga kebersihan kandang dan tetap memerah sapi di tempat penampungan
ternak dan menciptakan kondisi lingkungan yang memungkinkan sapi tidak
stres.
2.3.4. Pengobatan
Subroto (2003) menyatakan bahwa sebelum menjalankan pengobatan
sebaiknya dilakukan uji sensitifitas. Resistensi Staphylococcus aureus terhadap
penicillin disebabkan oleh adanya -laktamase yang akan menguraikan cincin -
laktam yang ditemukan pada kelompok penicillin. Pengobatan mastitis sebaiknya
menggunakan: Lincomycin, Erytromycin dan Chloramphenicol. Disinfeksi puting
dengan alkohol dan infusi antibiotik intra mamaria bisa mengatasi mastitis. Injeksi
kombinasi penicillin, dihydrostreptomycin, dexamethasone dan antihistamin
dianjurkan juga. Antibiotik akan menekan pertumbuhan bakteri penyebab mastitis,
sedangkan dexamethasone dan antihistamin akan menurunkan peradangan (Swartz,
2006)
Mastitis yang disebabkan oleh Streptococcus sp masih bisa diatasi dengan
penicillin, karena streptococcus sp masih peka terhadap penicillin (Subroto,
2003) Dinyatakan oleh Swart (1984) bahwa strategi efektif untuk mencegah dan
mengatasi mastitis yang disebabkan oleh Staphilococcus aureus masih sukar
dipahami. Dilaporkan oleh Sudarwanto (1999), bahwa bakteri Staphylococcus sp dan
Streptococcus sp yang diisolasi dari kasus mastitis sapi telah banyak yang multi
resisten terhadap beberapa antibakterial. Penggunaan antibiotik untuk mengatasi
mastitis juga telah banyak merugikan masyarakat konsumen, karena susu
mengandung residu antibiotik bisa menimbulkan gangguan kesehatan.
Dilaporkan oleh Wahyuni dkk (2005), bahwa akibat penggunaan antibiotik
pada setiap kasus mastitis yang mungkin tidak selalu tepat, maka timbul masalah baru
yaitu adanya residu antibiotika dalam susu, alergi, resistensi serta mempengaruhi
pengolahan susu. Mastitis sub-klinis yang disebabkan oleh bakteri gram positif juga
makin sulit ditangani dengan antibiotik, karena bakteri ini sudah banyak yang resisten
terhadap berbagai jenis antibiotik. Diperlukan upaya pencegahan dengan melakukan
blocking tahap awal terjadinya infeksi bakteri.
Nurdin (2006) melaporkan bahwa penggunaan infus intramammaria
dengan 120 ml, 5% Povidone-Iodine (0,5% Iodine) setelah susu diperah habis pada
7 ekor penderita mastitis akibat Staphylococcus aureus menunjukkan hasil yang
sangat memuaskan, karena 100% (7 ekor) penderita bisa memproduksi susu kembali
pada laktasi berikutnya. Sedangkan terapi mastitis dengan infus Chlorhexidine, hanya
menghasilkan 71% (5 ekor). Mean milk Weight (kg) pada terapi Iodine lebih besar
daripada terapi dengan Chlorhexidine. Sekresi susu dari kuartir yang diberi Iodine
tidak mengandung residu pada pemeriksaan 35 hari post infusi, sedangkan pada infusi
dengan Chlorhexidine ternyata mengandung residu antibiotik. Lay dan Hastowo
(2000) menyatakan bahwa sebelum menjalankan pengobatan sebaiknya dilakukan uji
sensitifitas.


2.4. Persentase kejadian Mastitis Pada Sapi Perah Di Indonesia
Kejadian mastitis 9598% merupakan mastitis sub-klinis, sedangkan 23%
merupakan mastitis klinis yang terdeteksi (Sudarwanto, 1999). Mastitis merupakan
salah satu penyakit penting yang terjadi pada sapi perah yang dapat mengakibatkan
penurunan roduksi susu hingga 20% (Bannerman et all ,2005). Mastitis sub-klinis
merupakan kasus yang paling banyak dan sering terjadi di lapangan pada peternakan
sapi perah Sudarwanto (1999). Kejadian mastitis subklinis pada sapi perah di
Indonesia sangat tinggi (95-98%) dan menimbulkan banyak kerugian. Streptococcus
agalactiae dan Staphylococcus aureus merupakan 2 bakteri utama penyebab mastitis
sub-klinis. Dari beberapa hasil penelitian diketahui bahwa S. agalactiae dan S. aureus
yang mempunyai hemaglutinin, mempunyai kemampuan adesi pada sel epitel ambing
jauh lebih besar dari pada yang tidak mempunyai hemaglutinin. Hemaglutinin diduga
sebagai faktor virulen yang penting (sebagai adesin).

2.5. Kerugian akibat Mastitis Pada Sapi Perah Di Indonesia
Mastitis merupakan penyakit yang sering terjadi pada sapi perah dan
menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi peternakan sapi perah di
seluruh dunia (Bannerman and Wall, 2005). Kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh
mastitis, terutama mastitis sub-klinis, meliputi penurunan produksi dan mutu susu,
peningkatan biaya perawatan dan pengobatan, pengafkiran ternak lebih awal serta
pembelian sapi perah baru (Subronto, 2003).
Mastitis sub-klinis menjadi masalah yang sangat serius bagi para peternak,
karena sapi tidak menunjukkan gejala sakit tetapi produksi susu dapat turun dan
kualitas susu menjadi berkurang karena adanya kuman tersebut (Salasia et al., 2005).
Mastitis sangat merugikan karena mengakibatkan; Produksi susu menjadi turun 25-
30% atau berhenti sama sekali, kualitas susu menjadi turun sehingga tidak dapat
dijual atau tidak dapat dikonsumsi, biaya perawatan menjadi meningkat, dan ternak
perah diafkir lebih awal (Hidayat, 2008).
Produksi susu dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor
lingkungan yang berpengaruh diantaranya adalah penyakit dan makanan.
Permasalahan yang sering menimpa peternaksapi perah adalah penyakit mastitis,
dimana 60-90 % sapi perah di Indonesia terserang mastitis. Penyakit ini sangat
merugikan karena berdampak pada penurunan produksi susu, penurunan kualitas dan
kehadirannya sering kali tidak disadari oleh peternak sehingga peternak baru
menyadari kondisi ternaknya setelah penyakit ini parah (Nurdin, 2006). Pengaruh
penyakit mastitis terhadap komponen dan pH susu bovine dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Pengaruh Mastitis terhadap Komponen dan PH Susu Bovine
Komponen Susu Normal Susu Mastitis
Lemak (%)
Laktosa (%)
Casein (mg/ml)
Whey Protein
(mg/ml)
Na (mg/100 ml)
K (mg/100 ml)
Cl (mg/100 ml)
Ca (mg/100 ml)
PH
3,45
4,85
27,9
8,2
57
172,5
80 130
136
6,65
3,2
4,4
22,5
13,1
104,6
157,3
>250
49
6,9 7.0
(Eniza, 2004)

Pada tabel 1 terlihat bahwa susu mastitis kandungan lemak, laktosa dan casein
menurun dan kandungan whey protein meningkat. Kandungan mineral Natrium dan
Chlorida terlihat meningkat sedangkan Kalium dan Kalsium menurun (Eniza, 2004).
Menurut Salasia. (2005), Penyakit mastitis tidak dapat diberantas tetapi dapat
diturunkan angka kejadiannya dengan manajemen yang baik pada peternakan sapi
perah. Mastitis menyebabkan kerugian ekonomi pada petani dengan beberapa jalan;
hasil susu yang menurun, kualitas susu menjadi jelek atau terkontaminasi dengan
antibiotika yang mengakibatkan produknya tidak dapat dijual, adanya biaya
pengobatan, tingginya angka pengafkiran dan kadang-kadang mengakibatkan
kematian. Susu yang diproses dalam home industri juga merugi disebabkan oleh
masalah kandungan antibiotika dalam susu yang dapat menurunkan kandungan
kimiawi susu dan kualitas susu dari sapi perah penderita mastitis.


























IV
KESIMPULAN


1. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya mastitis terdiri dari faktor
genetik faktor mikroorganisme, bentuk putting, faktor umur dan tingkat produksi
susu, bangsa sapi, manajemen dan lingkungan.
2. Mekanisme terjadinya infeksi pada mastitis terjadi melalui beberapa tahap,
yaitu adanya kontak dengan mikroorganisme dimana sejumlah mikroorganisme
mengalami multiplikasi di sekitar lubang puting (sphincter), kemudian dilanjutkan
dengan masuknya mikroorganisme akibat lubang puting yang terbuka ataupun karena
adanya luka.
3. Pengendalian mastitis bisa dilakukan dengan cara mengetahui cara penularan
penyakit terlebih dahulu, mendiagnosis pada bagian ambing maupun air susu,
kontroling dan pengobatan.
4. Kejadian mastitis 9598% merupakan mastitis sub-klinis, sedangkan 23%
merupakan mastitis klinis yang terdeteksi. Mastitis sub-klinis merupakan kasus yang
paling banyak dan sering terjadi di lapangan pada peternakan sapi perah. Kejadian
mastitis subklinis pada sapi perah di Indonesia sangat tinggi (95-98%) dan
menimbulkan banyak kerugian.
5. Kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh mastitis, terutama mastitis sub-
klinis, meliputi penurunan produksi dan mutu susu, peningkatan biaya perawatan dan
pengobatan, pengafkiran ternak lebih awal serta pembelian sapi perah baru.








DAFTAR PUSTAKA


Bannerman, D. D. and R. J. Wall. 2005. A Novel Strategy for the Prevention of
Staphylococcus aureus-Induced Mastitis in Dairy Cows. Information
Systems for Biotechnology News Report. Virginia Tech University. USA.
1 - 4.

Damarjati. 2008. Pengaruh Mastitis Terhadap Susu yang Dihasilkan. http://mikrobia
.files.wordpress.com. Diakses pada 14 Oktober 2014 pukul 20:07

Hidayat A., drh., 2008. Buku Petunjuk Praktis untuk Peternak Sapi Perah tentang,
Manajemen Kesehatan Pemerahan. Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat.

Lestari D. T., 2006. Laktasi Pada Sapi Perah Sebagai Lanjutan Proses Reproduksi.
Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran.

Luthvin, 2007. Identifikasi Staphylococcus aureus Penyebab Mastitis Dengan Uji
Fermentasi Mannitol Dan Deteksi Produksi Asetoin Pada Sapi Perah Di
Wilayah Kerja Koperasi Usaha Tani Ternak Suka Makmur Grati Pasuruan.
Jurnal Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Air Langga,
Jawa Timur.

Mellenbenger, R.W. 1997. Vaccination against mastitis. Jurnal.Dairy Sci. 60(6):
1016 1021.

Nurdin E. dan Mihrani, 2006. Pengaruh Pemberian Bunga Matahari Dan Bioplus
Terhadap Produksi Susu Dan Efisiensi Ransum Sapi Perah Freis Holland
Penderita Mastiti., Jurnal Agrisistem Vol 2 No 2, Dosen Fakultas
Peternakan Universitas Andalas, Padang.

Poeloengan M., 2005. Efektivitas Ekstrak Daun Sirih (Piper betle Linn) Terhadap
Mastitis Subklinis. Jurnal Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan
Veteriner, Balai Penelitian Veteriner, Bogor.

Salasia O.I.S., Wibowo H.M., Khusnan, 2005, Karakterisasi Fenotipe Isolat
Staphylococcus aureus Dari Sampel Susu Sapi Perah Mastitis Subklinis.
Bagian Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Jurnal Sain
Veteriner. Vol. 23 No. 2, Yogyakarta.

Tuasikal; Sugoro B.J.I.; Tjiptosumirat ; Lina M., 2003, Pengaruh Iradiasi Sinar
Gamma pada Pertumbuhan Streptococcus agalactiae sebagai Bahan Vaksin
Penyakit Mastitis pada Sapi Perah. Jurnal. Sains dan Teknologi
Nuklir Indonesia, Vol IV. ed-2. P3TIR- Batan. Jakarta.

Swart, R., Jooste, P.J. and Novello, J.C., 1984. Prevalence andtypes of bacteria
associated subclinical mastitis in Bloem Fonte in dairy herds. Vet. Assoc.
51, 61.

Sudarwanto M. 1999. Mastitis subklinis dan cara diagnosa. Makalah dalam Kursus
Kesehatan Ambing dan Program Pengendalian Mastitis. IKA-IPB (tidak
dipublikasikan), Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Subronto. 2003. Ilmu Penyakit Ternak (Mamalia) I. Edisi Kedua. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta. 309 351.

Wahyuni A.E.T.H., Wibawan I.W.T., Wibowo M.H, 2005. Karakterisasi
Hemaglutinin Streptococcus agalactiae dan Staphylococcus aureus
Penyebab Mastitis Subklinis Pada Sapi Perah. Jurnal Sain Veteteriner Vol.
23 No. 2, Bagian Mikrobiologi FKH-UGM, Yogyakarta.