Anda di halaman 1dari 40

BAHASA HUKUM

Gugun El Guyanie., SHI.,LL.M

Semantik Hukum
Adl ilmu pengetahuan hukum yg menyelidiki

makna atau arti kata-kata hukum,


perhubungan dan perubahan arti kata-kata itu
dari zaman ke zaman menurut waktu, tempat,
keadaan.
Misalnya istilah hukum perdata yang
sekarang kita pakai sbg terjemahan dari
istilah hukum Belanda privaatrecht, berasal
dari kata hukum (bhs Arab), dan istilah Jawa
(Hindu) yaitu pradata.
Jika kita sekarang mengartikan perkara
perdata, yg dimaksud adl perkara yg
mengatur hub hukum antara orang seorang,
orang yg satu dg yg lain, baik dlm arti
manusia maupun dlm arti badan (hukum).

Lanjutan
Hal itu berbeda dengan ketika di zaman

kerajaan Mataram, misalnya di zaman


pemerintahan Amangkurat.
Pada zaman Mataram, yg dinamakan
perkara pradata pada umumnya adl perkara
yang membahayakan mahkota, yg sifatnya
mengganggu keamanan dan ketertiban
negara.
Perkara ini masuk domain perdailan raja, yg
sekarang masuk domain hukum publik.
Sedangkan domain hukum privat ketika itu adl
perkara padu dan tdk mjd urusan raja

Lanjutan
Peradilan pradata menggunakan hukum

hindu, kemudian hukum Islam dan hakim adl


raja sendiri atau penghulu agama.
Sedangkan peradilan padu menggunakan
hukum rakyat dg hakimnya adl pejabat negara
yg disebut jaksa.
Di daerah2 yang jauh, hakim peradilan padu
adl kepala adat, misalnya di Lampung dikenal
Punyimbang Pepadun yg maksudnya adl
pemimpin peradilan adat.

Lanjutan
Menggunakan istilah2 hukum dg makna yang

terang dan monosemantik (tidak multitafsir),


bergantung pada pembentuk hukum
perundang-undangan.
Pembentuk hukum yg dimaksud: pejabat tata
usaha negara yg berwenang melahirkan
keputusan2 tata usaha negara, anggota
legislatif (pembentuk undang). Hakim dengan
putusan2nya.

Lanjutan
Dlm susunan peraturan perundang2an,

biasanya strukturnya terdiri dari: konsiderans


(pertimbangan), pasal-pasal, penjelasan,
semuanya satu kesatuan.
Dlm hal itu, pembentuk perundang2an
berusaha menguraikan alasan2 mengapa
peraturan itu dibuat, maksud dan tujuan
peraturan tsb,, sampai dijelaskan dlm
pejelasan.
Walaupun demikian, bukan berati suatu
undang2 itu sdh cukup jelas, oleh krn itu
kedudukan peraturan per-uu-an tesusun

PENAFSIRAN HUKUM
Tidak semua kata, istilah dan kalimat yang

menunjukkan suatu kaidah hukum, baik yang


dikemukakan dengan lisan atau dinyatakan
dengan tertulis dalam bentuk perundangan itu
sudah jelas dan mudah di pahami.
Oleh kaena itu, di dalam ilmu pengetahuan
hukum dikenal beberapa cara penafsiran
hukum: (1) penafsiran menurut tata bahasa;
(2) penafsiran menurut sistem; (3) penafsiran
menurut sejarah; (4) penafsiran menurut
sosiologi; (5) penafsiran secara otentik.

Penafsiran Menurut Tata Bahasa


Merupakan penafsiran yg utama dalam

mencari arti, maksud dan tujuan dari kata2


atau istilah yang digunakan dlm suatu
kaidah hukum.
Dengan cara menentuka apakah sebagai
kata kerja, kata benda, kata sifat atau
keadaan, kata ganti, ataukah kata dasar,
kata jadian, kata ulang, sisipan kata awalan
atau akhiran dsb.

Lanjutan
Contoh: pasal 1338 KUHPerdata yang

menyatakan Semua persetujuan yang dibuat


dengan sah berlaku sbg undang2 terhadap
mereka yang membuatnya.
Kata persetujuan dlm pasal tersebut, adl
kata kerja berimbuhan per-, kata dasarnya
setuju, dan mendapat akhiran an.
Mengandung arti : apa yg telah disetujui, apa
yg telah disepakati.
Tetapi untuk menasirkan kata sah dlm pasal
tersebut, tdk cukup dengan penafsiran mnrt
tata bahasa, tetapi masih perlu dilihat

Penafsiran menurut sistem


Sistem artinya satu kesatuan pengertian dari

unsur-unsur yang saling bertautan antara yang


satu dengan yang lain.
Contohnya, pasal 1338 KUHPerdata diatas adalah
satu kesatuan pasal-pasal dalam buku ketiga
tentang perikatan, jadi pasal itu tidak berdiri sendiri.
Maka, untuk mencari pengertian kata sah, atau
lengkapnya arti kalimat persetujuan yang dibuat
dengan sah, maka harus dilihat pada pasal
sebelumnya, yaitu pasal 1320 KUHPerdata yang
menyatakan untuk sahnya persetujuan diperlukan
empat syarat, yaitu: (1) kesepakatan dari mereka
yang mengikatkan dirinya; (2) kecakapan untuk
membuat suatu perikatan; (3) suatu hal tertentu; (4)
suatu sebab yang halal
Kemudian di dalam pasal 1321 KUHPerdata

Penafsiran menurut sejarah


Sejarah yang dimaksud adalah sejarah

terjadinya peraturan tertentu, latar belakang


dan tujuan dari lahirnya pasal-pasal tertentu
dalam sebuah peraturan.
Dalam praktek peradilan, para hakim, jaksa
dan advokat atau penasehat hukum pertama
kali akan berhadapan dg ketentuan peraturan
perundang2an yang memerlukan penafsiran
dari sisi sejarahnya.
Maka dibutuhkan penelusuran sebuah
undang-undang, melalui risalah-risalah rapat,
risalah sidang, memorie van toelechting, nota

Lanjutan
Jika ingin mengetahui penafsiran yg terbatas

tentang latar belakang penetapan sebuah


undang2, maka dapat diperluas lagi dengan
melacak latar belakang sejarah hukumnya,
yaitu asal-usul dan sistem hukumnya.
Apakah memakai sistem hukum asing, dari
sistem hukum Belanda yang dipengaruhi
sistem hukum Perancis, apakah sistem itu
sesuai dengan sistem hukum Indonesia
dengan falsafah Pancasila, dsb.
misalnya sistem hukum pidana yg berlaku
sekarang di Indonesia, masih menganut

Lanjutan
Misalnya mengenai kejahatan melanggar

kesusilaan, tentang zina (overspel) yang


diatur dlm pasal 284 KUHP.
Dlm pasal tsb yang dikategorikan zina adl
perbuatan yang dilakukan oleh orang yg
sudah kawin dengan orang yg sudah kawin/yg
blm kawin.
Jadi perbuatan zina yg dilakukan oleh bujang
dan gadis yg blm kawin bukan perbuatan
zina.
Inilah materi hukum yang menganut sistem
hukum Barat yang sekuler.

Penafsiran menurut sosiologi


Sosiologi itu ilmu tentang kemasyarakatan,

sedangkan peraturan hukum itu memiliki tujuan


sosial (kemasyarakatan).
Jadi hukum itu harus berkembang sesuai
perkembangan sosiologis, mengikuti zaman,
menjadi hukum yg hidup (living law).
Maka suatu peraturan tidak semata-mata
ditafsirkan menurut tata bahasa, sistem dan
sejarahnya, tetapi juga harus ditafsirkan mnrt
kenyataan yg hidup dlm masyarakat.
Misalnya, pasal 284 KUHP ttg zina dapat
ditafsirkan secara sosiologis dg
mengkategorikan zina antara gadis dan bujang
sbg bentuk perbuatan melanggar kesusilaan,
dengan hukuman setinggi-tingginya sembilan

Penafsiran secara otentik


Otentik dari kata asing authentiek, yg dlm

bahasa Belanda dijelaskan sbg volledig


bewijs opleverend maksudnya memberikan
keterangan atau pembuktian yg sempurna, yg
sah atau yg resmi.
Penafsiran otentik ini biasanya dilakukan oleh
pembuat undang2 sendiri dg mencantumkan
arti beberapa kata2 yg digunakan dlm suatu
peraturan.

Lanjutan
Misalnya dlm Kitab Undang-undang Hukum

Acara Pidana (KUHAP) No 8/1981 pada Bab I


Ketentuan Umum.
Pasal 1.1: penyidik adalah pejabat polisi negara
republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri
sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh
undang2 utk melakukan penyidikan.
Pasal 1.2: penyidikan adalah serangkaian
tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara
yang diatur dalam undang2 ini untuk mencari
serta mengumpulkan alat bukti yang dg bukti itu
membuat terang tentang tindak pidana yang

Garis besar pokok2 bahasa


hukum
Menurut Bahder Johan Nasution dan Sr

iWarjiyati, bahasa hukum dikelompokkan menjadi


3:
1) bahasa hukum yang bersumber dari aturan2
hukum yang dibuat oleh negara.
2) bahasa hukum yang bersumber pada hukum
yang berlaku di tengah masyarakat (hukum adat),
sepanjang tdk bertentangan dg hukum negara.
3) bahasa hukum yg bersumber dari kalangan
ahli hukum, kelompok2 profesi hukum.

Bahasa hukum perundang-undangan


Prinsip utama sistem hukum: hukum dpt

dikomunikasikan terhadap masyarakat.


Undang-undang yg tdk dapat dikomunikasikan dg
bahasa yg dapat ditangkap oleh masyarakat,
berarti undang2 tsb gagal merubah masyarakat.
Penegakan hukum baik di dalam pengadilan/luar
pengadilan bisa efektif jika masyarakat mampu
memahami bahasa hukum yg komunikatif.

Sifat Undang-undang: normatif


Setiap aturan hukum yg dirumuskan dalam

undang-undang mempunyai sifat normatif sebab


suatu aturan bukan merupakan pernyataan
tentang fakta-fakta saja.
Sifat normatif: memuat norma larangan, perintah,
dsb.
Namun adakalanya suatu peraturan hanya
memuat peraturan atau penetapan saja. Artinya
undang2 tsb tdk memuat ketentuan normatif.
Misal: UU No 5 Tahun 1964 tentang Pokok2
Pemerintahan di Daerah, UU No 5 Tahun 1979 ttg
Pemerintahan Desa.

Faktor2 yg mempengaruhi bahasa


perundang-undangan
1) Adanya norma yang disusun dlm bentuk

pernyataan yg bersifat faktual.


2) ada norma yg disusun di balik perumusan hukum
(tersirat larangan, perintah, sanksi dsb).
3) ada norma yg dimuat dalam pasal secara eksplisit,
sebaliknya ada norma yang mengacu pada pasal lain.
4) ada norma yg bersifat prosedural, maksudnya dlm
hal2 tertentu yg bersifat prosedural norma2 yg diatur
dlm undang2 tsb hanya bersifat insidental.
-Artinya norma itu muncul ketika ketentuan2
hukum yg bersifat abstrak itu diwujudkan dlm hukum
yg konkret.
-Hal ini disebabkan krn ada pasal2 tertentu dlm
UU yg tdk mempunyai makna tersendiri . Misalnya
pasal 165 KUHAP.

lanjutan
5) ada perluasan pengertian terhadap subyek

hukum, artinya ada aturan2 tertentu dlm UU yg


menunjuk subyek hukum tertentu dg perluasan
pengertian.
-untuk mengetahui makna dari pengertian yg
diperluas harus memperhatikan dlm konteks apa
UU tsb bicara.
-contoh: UU No 8 Tahun 1974 tentang Pokok2
Kepegawaian

kesimpulan
Dari sudut pandang bahasa hukum, aturan2 yg

dirumuskan dlm perundang2an merupakan


perwujudan dari ide2 yg hidup dalam masyarakat.
Yaitu ide tentang sesuatu yg baik/buruk, ide
tentang keadilan, ide tentang persamaan di
depan hukum dsb.
Proses transformasi ide ke dlm perundang2an
menggunakan alat komunikasi: bahasa hukum.
Contoh; ide tentang asas praduga tak bersalah
(pasal 8 UU No 14 Tahun 1970).

lanjutan
Proses transformasi ide ke dlm perundang2an

disebabkan oleh;
-Pembentuk UU tidak mampu
mentransformasikan ide2 keadilan,
keseimbangan hak dan kwjiban, persamaan
kedudukan dlm hukum melalui bahasa hukum yg
jelas dan mudah dimengerti.
-Pembentuk UU tdk mampu merumuskan hasil
transformasi idenya melalui bhs hukum ke dalam
suatu sistematika yg teratur.
-Kelemahan bahasa hukum sendiri, ketika
dirumuskan dlm perundang2an maka dia akan
kaku.

Bahasa hukum putusan pengadilan

Fungsi Bahasa Hukum


Fungsi simbolik:

-fungsi simbolik artinya berfungsi untuk


mengkomunikasikan ide/gagasan hukum, karena
bahasa itu sendiri merupakan simbol.
-hukum itu bersifat abstrak, baru tampak ketika di
personifikasikan ke dalam bentuk bahasa.
-sehingga menuangkan gagasan/ide-ide hukum ke
dalam peraturan perundang-undangan adl hal yg tdk
mudah
-artinya mengkomunikasikan hukum menjadi
keterampilan penting untuk orang yg belajar bahasa
hukum.
Tdk setiap penegak hukum, ahli hukum, bisa

Lanjutan
Fungsi simbolik sangat dominan dalam

komunikasi ilmiah hukum, krn manusia sendiri adl


makhluk simbolik.
Komunikasi ilmiah hukum harus bebas dari sifat
emotif, tetapi harus bersifat reproduktif.
Fungsi simbolik dapat berupa bahasa isyarat.
Misalnya: rambu-rambu lalu lintas, tanda di larang
parkir dsb.
Bahas isyarat /simbol bukan bahasa tertulis juga
bukan bhs lisan, tetapi memiliki fungsi simbolik
sbg ungkapan pembuat undang-undang dalam
rangka menciptakan ketertiban.

Fungsi emotif
Gustav Radbruch (1979): karakteristik bahasa

hukum atau peraturan perundang2an harus


bebas emosi, tanpa perasaan, bebas dan kering,
semuanya ditujukan untuk kepastian dan
menghindari dwimakna.
Fungsi emotif bermakna bahasa hukum harus
terhindar dari bahasa komunikasi yg
membangkitkan sifat emosional (marah, senang,
kecewa dsb).
Ciri bahasa hukum sbg ilmiah adalah otoritatif.

Fungsi afektif
Fungsi afektif dlm bahasa hukum berkaitan dg

afeksi/sikap.
Fungsi afektif dlm bahasa hukum sangat
berperan dalam mengembangkan budaya
hukum, budaya kepatuhan terhadap hukum.

Bahasa keilmuan hukum


Bahasa keilmuan tentang hukum adalah bahasa

hukum teoritis.
Yaitu bahasa hukum yg bersifat ilmiah yg
digunakan dlm mempelajari hukum sbg ilmu
pengetahuan.
Bahasa keilmuan hukum meliputi; berbagai istilah
yg dipakai oleh para pengajar ilmu hukum, di dlm
berbagai pearturan perundangan dan keputusan2
hukum yg dipelajari secara ilmiah.

lanjutan
Bahasa keilmuan hukum dapat dibedakan mjd 2;

1) bahasa keilmuan hukum yg bersifat ilmiah;

istilah2 hukum ygmemberikan pengertian hukum


scr teoritis. Bahasa hukum teoritis dipelajari
dalam pengantar ilmu hukum. Contoh: istilah
kebiasaan dan adat terjemahan dari bahasa
Belanda gewoonte. Istilah subyek hukum dan
obyek hukum, dsb.
2) bahasa hukum praktis; terdiri dari kaidah2
hukum yg mengatur masyarakat, misalnya aturan
dlm pasal2 peraturan perundang2an.

Bahasa hukum menurut Prof. Hilman


Hadikusuma
Bahasa hukum ketatanegaraan

Bahasa hukum ketatanegaraan adat


Bahasa hukum keperdataan
Bahasa hukum pidana
Bahasa hukum acara

Bahasa hukum ketatanegaraan


Istilah ketatanegaraan berasal dari istilah Hindu-

Jawa.
Tata berarti susun, negara berarti susunan
negara atau susunan pemerintahan.
Ketatanegaraan berarti segala sesuatu
mengenai susunan negara.
bahasa hukum ketatanegaraan berarti bahasa yg
dipakai dlm memberikan pengertian tentang
hukum ketatanegaraan, baik yg bersifat tertulis
ataupun tidak tertulis.

Konstitusi
Constitution (bhs Inggris): hukum dasar.
Undang-undang yg martabatnya lbh tinggi dari

undang2 biasa disebut undang-undang dasar


(UUD) , dlm bahasa Belanda (grondwet), dlm
bahasa Jerman (Grundgesetz).
Jika hukum dasar itu tertulis dalam suatu naskah
maka disebut UUD atau konstitusi formal.
Jika hukum dasar itu bersandar pada hukum tdk
tertulis (konvensi) maka disebut konstitusi atau
konstitusi material.
Suatu UUD memuat ketentuan2: pembagian
kekuasaan, hak2 asasi, cara mengubah undangundang dasar, bentuk negara, ideologi negara.

Perubahan konstitusi/UUD menurut


G. Jellineck
Verfassungsanderung: perubahan Undang-

Undang Dasar yang dilakukan dengan sengaja


dan dengan cara yang disebut dalam UndangUndang Dasar yang bersangkutan.
Verfassungwandlung: perubahan UndangUndang Dasar dengan cara yang tidak terdapat
dalam Undang-Undang Dasar, tetapi melalui
cara-cara yang istimewa seperti revolusi, coup
detat, convention, dan sebagainya.

Konvensi
Dari bahasa Perancis convention:

kebiasaan/kelaziman.
Orang Inggris menyebut sesuatu yg berlaku
menurut contoh yg lazim disebut konvensional.

Bentuk ketatanegaraan
Negara kesatuan

Negara serikat
Koloni dan protektorat
Konfederasi dan persemakmuran
Uni
Kerajaan
Republik
Demokrasi

Ideologi negara

Kedaulatan

Trias Politica

HAM