Anda di halaman 1dari 80

Panduan Memprakirakan

Dampak Lingkungan:

Kualitas Air Permukaan

Panduan Memprakirakan

Dampak Lingkungan:

Kualitas Air Permukaan

Juni 2010

Diterbitkan oleh

Deputi Bidang Tata Lingkungan - Kementerian Lingkungan Hidup


dengan dukungan

Danish International Development Agency (DANIDA) melalui Environmental Sector Programme Phase 2

Pengantar
Penyelenggaraan sistem Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)
di Indonesia masih membutuhkan berbagai penyempurnaan. Baik itu
penyempurnaan pada aspek peraturan, aspek kelembagaan, maupun aspek
sumber daya manusia pelaksana AMDAL. Selain aspek-aspek tersebut, KLH juga
masih menjumpai berbagai kekurangan pada aspek teknik pengerjaan AMDAL.
Sorotan khusus diberikan banyak pihak terhadap lemahnya proses prakiraan
dampak lingkungan dalam kajian ANDAL. Banyak konsultan penyusun AMDAL
mengerjakannya dengan menggunakan metodologi prakiraan dampak yang
kurang tepat.
Buku Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan ini
diterbitkan sebagai salah satu wujud upaya KLH untuk meningkatkan kualitas
proses prakiraan dampak. Sebagaimana tercermin dari judulnya, buku ini
memang khusus membahas prakiraan dampak terhadap kualitas air permukaan.
Penekanan khusu diberikan pada urutan langkah kerja dan output yang sebaiknya
dihasilkan dari proses prakiraan dampak kualitas air permukaan.
Sebagai edisi pertama, buku ini tentunya masih ada kekurangan. Tanggapan
dan masukan dari para pembaca sangat diharapkan agar KLH dapat terus
menyempurkana buku ini di edisi-edisi selanjutnya. Buku-buku sejenis akan
segera diterbitkan meyusul buku panduan ini.
Sebagai penutup, KLH mengucapkan rasa penghargaan dan terima kasih kepada
Pemerintah Kerajaan Denmark (melalui Danish International Development atau
DANIDA) atas dukungannya dalam penyusunan, pencetakan, dan penyebarluasan
buku ini.
Jakarta, Juni 2010

Deputi Menteri Lingkungan Hidup Bidang Tata Lingkungan


Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia
Ir. Hermien Roosita, MM

Foto: E Sunandar

Daftar Isi
MEMAHAMI PRAKIRAAN DAMPAK KUALITAS AIR PERMUKAAN
Perubahan Kualitas Air Permukaan
Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan
Tahapan Prakiraan Dampak Kualitas Air
TAHAP 1: MEMPELAJARI SUMBER DAMPAK
Identifikasi Sumber Dampak
Karakterisasi Polutan
TAHAP 2: MENGENALI OBYEK PENERIMA DAMPAK
Mengenali Badan Air
Membatasi Wilayah Studi
Identifikasi Obyek Penerima Dampak
TAHAP 3: MEMPERTAJAM LINGKUP PRAKIRAAN DAMPAK
Menseleksi Polutan Penting
Menentukan Waktu & Skenario Prakiraan
TAHAP 4: MENCERMATI WILAYAH STUDI
Mempelajari Badan Air
Mengukur Rona Awal
Mencermati Kondisi Wilayah
TAHAP 5: MENSIMULASI PENYEBARAN PENCEMAR
Memilih Teknik Simulasi
Menghitung Konsentrasi Sebaran Polutan
TAHAP 6: MENGEVALUASI HASIL PRAKIRAAN DAMPAK
Menentukan Sifat Penting Dampak
Mengetahui Pengaruh Dampak
Mengevaluasi Secara Holistik

1
2
10
14
17
18
21
27
28
30
31
35
36
39
41
42
44
46
49
50
53
63
64
66
67

Pengarah
Hermien Roosita, Ary Sudijanto, M. Askary, Shinta
Saptarina, Laksmi Widiajayanti, Sena Pradipta (Kantor
Asisten Deputi Kajian Dampak Lingkungan, Deputi
Bidang Tata Lingkungan, KLH).

Penyusun
Qipra Galang Kualita, yang terdiri dari: Rudy Yuwono,
Riza Oktavianus (konsep & tulisan), M. Taufik Sugandi,
E. Sunandar (tata letak & desain grafis), Isna marifa
(dukungan editorial).

Apresiasi
Untuk Pendanaan: Danish International Development
Agency (DANIDA) melalui Environmental Sector Progam
(ESP) Phase 2.
Untuk Foto: Riza Oktavianus, Badruddin Machbub, E.
Sunandar.

Nara Sumber
Badruddin Machbub, Arie Herlambang, Taufik Afiff.

Diterbitkan Oleh
Deputi Bidang Tata Lingkungan
Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia
Gedung A Lantai 6
Jl. D. I. Panjaitan Kav. 24, Kebon Nanas, Jakarta 13410
Telp./Faks. (021) 85904925
PO BOX 7777 JAT 13000
email: amdal@menlh.go.id
website: http:\\www.menlh.go.id

Disclaimer
Panduan ini adalah panduan lepas mengenai
metodologi prakiraan dampak lingkungan terhadap
kualitas air permukaan. Isi dari panduan ini bukan
merupakan satu-satunya metodologi yang harus
dipakai. Panduan ini tidak memiliki kekuatan hukum
yang sama sebagaimana produk hukum Kementerian
Lingkungan Hidup
Foto: Riza

Tentang Buku Ini


Buku ini berisi uraian dari langkah-langkah kerja yang
dibutuhkan dalam melakukan prakiraan dampak lingkungan
terhadap kualitas air permukaan. Langkah-langkah kerja
disusun sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan kajian AMDAL.
Termasuk di dalamnya adalah langkah-langkah kerja dalam
tahap pelingkupan, khususnya penyusunan dampak penting
hipotetik untuk kebutuhan prakiraan dampak kualitas air
permukaan.
Buku ini tidak ditujukan untuk menguraikan aspek ke-ilmiahan
dari penyebaran polutan di badan air secara mendalam. Untuk
uraian tersebut, pembaca disarankan untuk mencarinya dari
referensi lain yang banyak tesedia.
Sasaran pembaca buku ini adalah para ahli (konsultan)
pencemaran air yang akan membantu pemrakarsa dalam
memprakirakan dampak kualitas air permukaan sebagai
bagian dari kajian ANDAL. Para anggota Komisi Penilai
AMDAL juga dapat memanfaatkan informasi dari buku ini saat
memeriksa kelayakan dokumen ANDAL yang dinilainya.
KLH tidak membatasi pemrakarsa dan para tenaga ahlinya
utuk menggunakan metode-metode yang disebutkan dalam
buku ini. Selama pemrakarsa memiliki alasan yang dapat
diterima oleh Komisi Penilai AMDAL, KLH mempersilahkan
pemrakarsa untuk menggunakan metode prakiraan dampak
yang diinginkannya.

About This Book


This book presents a step-by-step approach to impact prediction of
surface water quality particularly in the context of implementing
environmental impact analysis (EIA or AMDAL). Included in this
book is the scoping process, where hypothetical impacts are
defined to guide the impact prediction process.
This guidebook does not discuss in-depth the scientific aspects
of pollutant distribution. For this purpose, readers are advised
to obtain information from other references that are widely
available.
The target readers of this guidebook are water pollution experts
(consultants) who assist project proponents in predicting water
quality impacts from proposed activities as part of the ANDAL
analysis. AMDAL review commission members can also make use
of the information in this guidebook during ANDAL documents
review.
The Ministry of Environment require the use of these methods
by project proponents and their experts, Project proponents are
free to choose and utilize other scientifically-accepted prediction
methods, as long as their reasons are acceptable to the AMDAL
review commission.

Susunan Buku
Buku ini diawali dengan Memahami Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan yang memuat
deskripsi air permukaan penyebab perubahan kualitas air, dasar-dasar prakiraan dampak, output
prakiraan, kegiatan wajib prakiraan dampak, dan evaluasi dampak. Setelah membaca bagian ini,
pembaca diharapkan memiliki kesamaan pemahaman mengenai proses prakiraan dampak sebelum
melangkah ke tahapan selanjutnya. Pada bagian terakhir, disajikan tahapan dalam prakiraan dampak
kualitas air permukaan.
Bagian selanjutnya Tahap1: Mempelajari Sumber Dampak mengulas langkah paling pertama
dalam proses prakiraan dampak. Di bagian ini dibahas cara mengidentifikasi sumber dampak dan
mengkarakterisasi polutan yang mungkin ditimbulkan oleh suatu rencana kegiatan.
Tahap 2: Mengenali Obyek Penerima Dampak merupakan langkah selanjutnya yang membahas
perihal karakteristik badan air, bagaimana membatasi wilayah studi, dan bagaimana mengidentifikasi
obyek-obyek yang berpotensi menerima dampak.
Selanjutnya adalah Tahap 3: Mempertajam Lingkup Prakiraan Dampak. Tahap ini merupakan sesuatu
yang dilakukan untuk membuat prakiraan dampak yang akan dilakukan lebih fokus terutama dalam
hal menseleksi polutan penting, menentukan waktu & skenario prakiraan, dan bagaimana memperjelas
kriteria sifat penting tersebut.
Pada Tahap 4: Mencermati Wilayah Studi dibahas mengenai permasalahan identifikasi rona awal
lingkungan air, kondisi wilayah studi, dan karakterisasi aliran dari suatu badan air.
Pemilihan teknik pemodelan, perhitungan, dan simulasi dari data-data yang telah terkumpul pada 4
(empat) sebelumnya dibahas pada Tahap 5: Mensimulasi Penyebaran Pencemar.
Langkah terakhir yaitu Tahap 6: Mengevaluasi Hasil Prakiraan Dampak memberikan penjelasan
kepada pembaca tentang sifat penting dampak, pembobotan dampak, dan permasalahan evaluasi
secara holistik.

Book Content
The first chapter of this guidebook, entitled Understand the Surface Water Quality Impact Prediction,
describes factors that cause changes in surface water quality, basics of impact prediction, prediction outputs,
activities that are subject to impact predictions, and impact evaluation. After reading this chapter, readers
are expected to understand the process of impact prediction before proceeding to further stages. At the end
of this chapter, proper steps that need to be taken in surface water quality impact prediction are presented.
The next chapter describes Step 1: Study the Impacts Sources. This chapter discusses the very first step of
impact prediction process. Methods on how to identify impacts sources and pollutant characterization are
also discussed.
Step 2: Identify the Impacts Receivers is the next step. This chapter that discusses characteristics of
surface water, how to determine the study area boundaries, and how to identify objects that are potentially
impacted.
The next chapter is Step 3: Focus on Impact Prediction Scope. This step describes actions to focus the
impact prediction process, particularly with regard to selection of significant pollutants, prediction timeframe
and scenario, and how to set clearer criteria for significant impacts.
Step 4: Determine the Study Area, discusses following issues: baseline study of water environment, study
area condition, and flow characteristics of the water body.
Modeling techniques, mathematical calculations, and simulation from available data are discussed in Step
5: Pollutant Distribution Simulation.
Lastly, Step 6: Impact Prediction Result Evaluation, provides explanation of the impact significant
characteristics, impact weighting, and holistic impact evaluation.

Foto : E Sunandar

vi

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Memahami Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan

MEMAHAMI
PRAKIRAAN DAMPAK
KUALITAS AIR PERMUKAAN
PERUBAHAN KUALITAS AIR PERMUKAAN
SUNGAI
DANAU
KUALITAS AIR PERMUKAAN
PENYEBAB PERUBAHAN KUALITAS AIR
DAMPAK PERUBAHAN KUALITAS AIR PERMUKAAN
PRAKIRAAN DAMPAK KUALITAS AIR PERMUKAAN
PRAKIRAAN DAMPAK DALAM AMDAL
Besaran Dampak
Dampak Penting Hipotetik
Output Prakiraan Dampak
KEGIATAN WAJIB PRAKIRAAN DAMPAK
EVALUASI DAMPAK
TAHAPAN PRAKIRAAN DAMPAK KUALITAS AIR

2
2
4
5
5
8
10
10
11
12
12
13
13
14

Bagian ini membahas makna dari prakiraan dampak lingkungan dari suatu
kegiatan terhadap kualitas air permukaan. Khususnya pemahaman prakiraan
dampak dalam konteks pengerjaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Hidup (AMDAL). Bagian ini diawali dengan bahasan singkat mengenai sungai
dan danau berikut kemungkinan perubahan kualitas airnya. Parameter kualitas air
permukaan akan diperkenalkan dalam uraian selanjutnya. Di akhir bagian ini, kita
akan menguraikan langkah-langkah yang harus dijalani dalam suatu prakiraan
dampak kualitas air permukaan. Informasi pada bagian ini perlu dipahami
sepenuhnya sebelum kita melanjutkan ke uraian-uraian lain dalam buku ini.
Foto: Riza

PERUBAHAN KUALITAS AIR PERMUKAAN


Air permukaan dapat dibedakan menjadi air permukaan
laut dan air permukaan darat. Sungai dan danau merupakan
dua contoh air permukaan darat yang akan dicakup
dalam buku panduan ini. Air yang dijumpai di dalam
sungai dan danau merupakan bagian dari daur hidrologis
yang kompleks (lihat Gambar). Selama perjalanan dari
hulu ke hilir, air sungai akan bersinggungan dengan
beragam kondisi lingkungan, sehingga dapat dipastikan
karakteristik aliran dan kualitas air akan berubah. Demikian
juga dengan air danau yang akan bersinggungan dengan
beragam kondisi lingkungan, termasuk karakteristik air
yang masuk ke dalamnya.

SUNGAI
Sungai terdiri dari beberapa bagian, yaitu bagian hulu,
badan sungai, dan bagian muara. Badan sungai dapat
bercabang membentuk anak-anak sungai (lihat Foto).
Sungai merupakan tempat hidup biota air dalam berbagai
jenis dan ukuran. Bagi manusia, sungai memiliki fungsi
yang sangat penting. Sungai dapat berfungsi sebagai
sumber air baku, irigasi pertanian, transportasi, saluran
pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan objek
wisata. Di banyak tempat di Indonesia, sungai masih
banyak digunakan sebagai tempat mandi, cuci, dan kakus.

presipitasi

kondensasi

transpirasi

ff

-o

presipitasi

un

evaporasi

su

er
fac

infiltrasi

Ilustrasi : Taufik S

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Keberadaan air permukaan merupakan hasil dari


adanya siklus hidrologis. Air yang dijumpai dalam
badan air permukaan merupakan gabungan dari air
yang jatuh langsung sebagai presipitasi, air limpasan
(run-off) permukaan tanah, dan air infiltrasi yang
keluar kembali. Sebagian air permukaan kemudian
akan kembali mengalami evaporasi akibat panas
matahari. Uap air kemudian akan ter-kondensasi
akibat suhu yang sangat rendah di lapisan udara
bagian atas. Lalu, jatuh kembali sebagai presipitasi,
baik dalam bentuk hujan air atau kabut. Sebagian
air permukaan lainnya, baik yang mengalir melalui
sungai maupun yang terkumpul di danau, waduk,
atau rawa pada akhirnya akan mengalir ke laut.

Memahami Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan

Sungai memiliki debit dan kualitas air yang bervariasi, baik


terhadap waktu maupun ruang. Variasi debit biasanya
diakibatkan adanya perbedaan musim. Sementara itu,
variasi kualitas air biasanya diakibatkan adanya asupanasupan materi sepanjang aliran sungai. Variasi kualitas
air juga dapat diakibatkan oleh adanya variasi debit.
Demikian juga akibat variasi komposisi batuan di dasar
sungai dan tingkat pelapukan batuan tersebut (berkaitan
dengan umur sungai).

tingginya kandungan logam nikel dan tembaga. Warna


air sungai yang hitam menandakan tingginya kandungan
senyawa organik humus terutama pada sungai-sungai
di daerah gambut. Air sungai yang hitam dan berbau
busuk menandakan terjadinya proses pembusukan bahan
organik secara anaerobik sehingga menghasilkan gas
H2S dan metan. Air sungai yang bewarna coklat keruh
menandakan kandungan suspended solids-nya yang tinggi
yang merupakan hasil dari proses erosi tanah.

Kualitas air dapat diperkirakan melalui penampakan


warna dan baunya. Air sungai yang baik (tidak tercemar)
umumnya jernih dan tidak berbau. Air dengan kualitas
demikian biasanya dapat anda jumpai di daerah hulu
sungai dimana sungai belum banyak bersinggungan
dengan kegiatan manusia.

Walau tampak jernih, air sungai dapat saja memiliki


kandungan kimiawi yang berbahaya. Contohnya adalah
air sungai dengan kandungan logam arsenik yang tinggi
di beberapa sungai di Kalimantan. Hal ini terjadi karena
adanya batuan lempung dengan kandungan arsenik yang
tinggi di mata airnya. Aliran air sungai di daerah batuan
kapur juga terlihat jernih namun memiliki kandungan
padatan terlarut (TDS) dan kalsium yang tinggi.

Foto: www.fsw.gov

Warna air dapat terjadi akibat batuan di dasar sungai atau


di sekelilingnya. Misalnya, warna air yang kehijauan akibat

sungai utama

anak sungai

Sungai-sungai bergabung satu sama lain dan membentuk sungai


utama yang membawa seluruh air permukaan di sekitar daerah
aliran sungai menuju laut. Interaksi sungai dengan lingkungan
sekitarnya akan menentukan kualitas air di dalamnya.

Perbedaan penampang geometris sungai menyebabkan


timbulnya variasi kecepatan air di sepanjang aliran sungai
tersebut. Variasi kecepatan air juga terjadi terhadap
kedalaman aliran. Umumnya, kecepatan air terendah
terjadi di bagian aliran yang bersinggungan dengan dasar
sungai.
Dua proses penting dalam sungai adalah erosi dan
pengendapan, yang dipengaruhi oleh kecepatan aliran air
dan tingkat turbulensinya, yaitu:

Aliran laminer: jika air mengalir dengan lambat,


partikel akan bergerak ke dalam arah paralel terhadap
saluran.

Aliran turbulen: jika kecepatan aliran berbeda pada


bagian atas, tengah, bawah, depan dan belakang
dalam saluran, sebagai akibat adanya perubahan
friksi, yang mengakibatkan perubahan gradien
kecepatan. Kecepatan maksimum pada aliran
turbulen umunya terjadi pada kedalaman 1/3 dari
permukaan air terhadap kedalaman sungai.

Menurut ekosistem dan tingkat daya


tembus sinar matahari ke dalam air,
danau dapat dibagi menjadi tiga
mintakat (zona) yakni 1) mintakat
litoral, 2) mintakat limnetik, dan 3)
mintakat profundal (lihat Gambar di
samping). Di tiap mintakat di atas,
jenis flora dan fauna air tentunya akan
berbeda. Tumbuhan apung, terutama
fitoplankton, dan tumbuhan berakar
banyak dijumpai di mintakat litoral.
Fitoplankton, zooplankton, ganggang
hijau dan biru, copepoda, dan
cladocera dapat dijumpai di mintakat
limnetik. Sebagian besar ikan hidup
di mintakat limnetik. Pada mintakat
profundal hidup bakteri anaerobik
dan fungsi, cacing, nematoda, keong
dan beberapa jenis ikan.

MINTAKAT LIMNETIK
Bagian perairan terbuka
yang terlalu dalam untuk
pertumbuhan tumbuhtumbuhan berakar, tetapi
masih memungkinkan
sinar matahari menembus
lapisan ini untuk
digunakan fotosintetis
tumbuh-tumbuhan air

MINTAKAT LITORAL
Bagian dangkal di mana sinar
matahari dapat menembus
sampai ke dasar perairan.

MINTAKAT PROFUNDAL
Lapisan di bawah mintakat
limnetik di mana sinar
matahari tidak tidak dapat
menembus.
Ilustrasi : Taufik S

Erosi terjadi pada dinding ataupun dasar sungai pada


kondisi aliran yang bersifat turbulen. Pengendapan akan
terjadi jika material yang dipindahkan jauh lebih berat
untuk digerakkan oleh kecepatan dan kondisi aliran.
Pada kondisi aliran turbulen, erosi akan terjadi akibat
terbawanya material dan pengendapan terjadi ketika hasil
erosi tersebut menuju ke arah bawah tidak terpindahkan
lagi oleh aliran.

sebagai bahan baku air minum, irigasi pertanian, wadah


pembuangan air hujan dan air limbah, dan objek wisata.
Selain itu, danau banyak digunakan untuk budidaya ikan
yang umumnya menggunakan karamba.
Karakteristik danau dapat dibedakan berdasarkan ukuran
dan kedalamannya. Perbedaan karakteristik danau ini
tentu sangat mempengaruhi waktu tinggal air di dalamnya
berikut tingkat pencampuran dan tingkat tropiknya.

DANAU
Danau adalah cekungan besar di permukaan bumi yang
digenangi air dimana seluruh bagiannya dikelilingi
daratan. Selain yang terbentuk secara alamiah, banyak
danau merupakan buatan manusia. Danau buatan atau
waduk sengaja dibangun antara lain untuk pengendalian
banjir, irigasi, penyediaan tenaga listrik-hidro, perikanan
darat, rekreasi, dan persediaan air. Contoh waduk
misalnya, Waduk Jatiluhur, Waduk Kedungombo, Waduk
Riam Kanan, dan sebagainya.
Sama dengan sungai, danau merupakan tempat hidup
biota air. Fungsi ekologisnya juga hampir serupa, yaitu

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

TABEL 1. Hubungan Antara Tipe Danau dan Karakeristik


Pencampuran
Karakteristik

Arus air
Cepat

Sedang

Lambat

Waktu tinggal
(R, hari)

R 20

20 < R 300

R > 300

Tingkat
Pencampuran

Tercampur
sempurna

Ada
stratifikasi

Stratifikasi
sempurna

Tingkat trofik

Pertumbuhan
plankton
terhambat

Tingkat trofik
mulai terjadi

Tingkat trofik
terjadi.

Danau dapat diklasifikasikan sesuai status trofiknya, yaitu:


Oligotrofik: Status trofik dengan kandungan nutrien

Memahami Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan

yang rendah. Status ini menunjukkan kualitas air masih


alamiah dan belum tercemar nitrogen dan fosfor.
Mesotrofik: Status trofik dengan kandungan nutrien
yang sedang. Status ini menunjukkan adanya
peningkatan kadar nitrogen dan fosfor namun masih
dalam batas toleransi (belum menunjukkan adanya
indikasi pencemaran).
Eutrofik: Status trofik dengan kandungan nutrien
yang yang tinggi. Status ini menunjukkan air telah
tercemar oleh peningkatan kadar nitrogen dan fosfor.
Hipereutrofik/Hipertrofik: Status
trofik dengan
kandungan nutrien yang sangat tinggi. Status ini
menunjukkan air telah tercemar berat oleh senyawa
nitrogen dan fosfor.

Cara penetapan status trofik danau atau waduk sudah


diatur pemerintah melalui Keputusan Menteri Lingkungan
Hidup No. 28 tahun 2009 tentang Daya Tampung Beban
Pencemaran Air Danau dan/atau Waduk.

KUALITAS AIR PERMUKAAN


Kualitas air permukaan dapat dinilai dari kandungan materi,
energi, dan makhluk hidup di dalamnya. Berbagai parameter
kimiawi, fisik, dan biologis umum digunakan sebagai
acuan dalam menilai kualitas air permukaan. Dalam aturan
mengenai kriteria mutu air, PP No. 82 tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran
Air, setidaknya ada 46 parameter yang digunakan untuk
menentukan kelas air dari suatu badan air. Aturan tersebut
juga mengklasifikasikan danau dan sungai sesuai kelas
peruntukan airnya. Tiap kelas air memiliki kriteria mutu airnya
masing-masing, sebagaimana dapat dilihat dalam boks
Kriteria Mutu Air. Baku Mutu Air (BMA) kemudian ditentukan
dengan memperhatikan kriteria mutu air tersebut.
Seperti disebutkan sebelumnya, kualitas air di sungai dan
danau bervariasi sesuai waktu dan tempat. Suatu nilai ratarata dibutuhkan untuk menunjukkan kualitas air di suatu

saat. Nilai rata-rata dapat ditentukan berdasarkan waktu (tiap


jam, harian, mingguan, bulanan, tahunan, atau musiman)
atau tempat (horizontal, vertikal). Nilai rata-rata mana
yang digunakan nantinya perlu disepakati sesuai dengan
kebutuhannya.

PENYEBAB PERUBAHAN KUALITAS AIR


Kualitas air permukaan dapat berubah sesuai interaksinya
dengan kondisi lingkungan dan kegiatan di sekitarnya.
Beberapa penyebab perubahan kualitas air adalah:
1. Asupan materi; biasanya terbawa bersama aliran air
limbah dari sumber proses produksi atau sumber rumah
tangga. Jenis materi tergantung kepada karakteristik
sumber limbah tersebut. Asupan materi juga dapat
berasal dari air limpasan permukaan tanah.
2. Asupan panas atau dingin; biasanya disebabkan oleh
aliran buangan air limbah dari proses pendinginan
(cooling process). Asupan panas akan meningkatkan
suhu air. Walau demikian, peningkatan suhu air belum
tentu akan menimbulkan gangguan berarti.
3. Pengambilan air; biasanya untuk kepentingan
pengolahan air bersih. Pengambilan air akan
mengakibatkan jumlah air berkurang sehingga
kemampuan pengenceran dari suatu badan air akan
berkurang. Konsekuensinya, polutan akan lebih
terakumulasi dalam air yang lebih sedikit.
4. Perubahan kontinyuitas aliran; misalnya akibat
pembuatan bendungan, penambahan alat dan
bangunan air, pembangunan kanal, dan sebagainya.
Perubahan kontinyuitas aliran dapat berupa perubahan
fluktuasi debit atau kecepatan aliran air. Aliran air yang
melambat akan menimbulkan akumulasi sedangkan
aliran yang bertambah cepat akan menimbulkan
penggelontoran pencemar yang dikandungnya.
5. Perubahan morfologi badan air; misalnya akibat
normalisasi tepi sungai, pengerukan dasar sungai,
pengerasan dasar sungai, dan sebagainya. Seperti
halnya perubahan kontinyuitas aliran, berubahnya

pH

Boks:

TEMPERATUR

Kriteria Mutu air


Pemerintah Republik Indonesia,
dalam Peraturan Pemerintah
No. 82 tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air,
telah menetapkan Klasifikasi
Mutu Air menjadi 4 (empat) kelas
sesuai dengan peruntukkannya.
Pengklasifikasian tersebut
adalah:
Kelas 1: mutu air untuk
penggunaan air baku air minum,
Kelas 2: mutu air untuk
penggunaan rekreasi air,
pembudidayaan ikan air tawar,
peternakan, dan pertanaman,
Kelas 3: mutu air untuk
penggunaan budidaya ikan air
tawar, peternakan, pertanaman,
Kelas 4: mutu air untuk
penggunaan pertanaman.
Tiap-tiap kelas memiliki kriteria
mutu/parameter tersendiri yang
kadarnya dinyatakan dalam
satuan tertentu. Satuan yang
dipakai umumnya adalah massa
senyawa
pencemar
(dalam
mg) per volume air (liter atau
mililiter). Penetapan kelas air
untuk tiap sumber air ditetapkan
oleh pemerintah pusat (Presiden
RI) atau pemerintah daerah
(Gubernur Propinsi atau Bupati),
tergantung dari lokasi dimana
sumber air tersebut berada.

CHEMICAL OXYGEN
DEMAND

Parameter fisika yang


menunjukkan suhu air.
Parameter T (temperatur)
umumnya ditampilkan
dalam satuan derajat
Celsius (OC). Batasan
deviasi 3 dapat diartikan
sebagai 3OC dari suhu
normal air alamiah.
Artinya, jika T normal
air 25OC, maka kriteria
kelas 1 sampai kelas
3 membatasi T air di
kisaran 22OC - 28OC.

Parameter kimia yang


menunjukkan derajat
keasaman air. Parameter
pH mengindikasikan
konsentrasi ion hidrogen
dalam air. Semakin
banyak ion hidrogen
dalam air, semakin tinggi
derajat keasamannya,
namun nilai pH semakin
rendah. Air dikatakan
asam jika memiliki
pH < 6, sedangkan air
dikatakan basa jika
memiliki pH > 8.

Parameter kimia yang


mengindikasikan jumlah
senyawa organik total
dalam air. Selisih antara
nilai COD (Chemical
Oxygen Demand)
dengan nilai BOD
mengindikasikan jumlah
senyawa organik-takterurai dalam air. Jika
BOD/COD < 30%, limbah
digolongkan sulit terurai
oleh mikroba air.

pH

COD

Kelas 1

50 mg/L

69

2 mg/L

10 mg/L

Kelas 2

50 mg/L

69

3 mg/L

25 mg/L

Kelas 3

400 mg/L

69

6 mg/L

50 mg/L

Kelas 4

400 mg/L

59

12 mg/L

100 mg/L

SS
SUSPENDED SOLIDS
Parameter fisika yang
menunjukkan jumlah
residu padatan yang
tersuspensi dalam air.
Sesuai cara analisanya,
parameter SS (suspended
solids) didefinisikan
sebagai padatan yang
lolos saringan berukuran
2 mikrometer. Tingginya
nilai SS di dalam air
biasanya membuat
air menjadi keruh.
Parameter SS tidak
membedakan padatan
organik dengan padatan
anorganik.

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

BOD5

DO

Parameter kimia yang


mengindikasikan jumlah
senyawa organik-terurai
dalam air. Parameter
BOD5 (Biochemical
Oxygen Demand)
menunjukkan laju
penggunaan oksigen
terlarut (DO) yang
dipakai mikroba untuk
menguraikan senyawa
organik-terurai selama 5
hari. Banyaknya DO yang
digunakan dianggap
sebanding dengan
banyaknya organikterurai. Semakin tinggi
nilai BOD5, semakin
tinggi jumlah senyawa
organik-terurai .

Parameter kimia
yang menunjukkan
konsentrasi
oksigen terlarut
(DO atau dissolved
oxygen) dalam air.
Konsentrasi DO sangat
dipengaruhi antara
lain oleh temperatur
air, keberadaan
senyawa organik, dan
populasi makhluk
hidup air. Umumnya
biota air tidak senang
hidup dalam air
dengan DO rendah.
Jika DO terlalu rendah,
biota air akan menjadi
lemah atau bahkan
mati karena tidak
dapat bernafas.

BIOCHEMICAL OXYGEN
DEMAND 5 DAY

DISSOLVED OXYGEN

Memahami Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan

FOSFAT
ARSEN

Parameter kimia yang


mengindikasikan
banyaknya senyawa
fosfat (PO4) dalam air.
Fosfat adalah salah
satu unsur nutrien
utama pertumbuhan
sel makhluk hidup.
Nilai dalam parameter
PO4 menunjukkan
konsentrasi ion fosfor
(P). Tatacara analisanya
memastikan bahwa nilai
yang terukur merupakan
nilai konsentrasi P yang
berada dalam ikatan
senyawa fosfat.

Parameter kimia
yang menunjukkan
konsentrasi arsen (As)
dalam air. Arsen, atau
arsenik, merupakan
salah satu jenis semilogam (metalloid) yang
beracun. Senyawa
arsenik digunakan
sebagai bahan
pestisida, herbisida,
dan insektisida.
Asupan As sebesar
100 mg merupakan
dosis mematikan pada
seorang manusia.

Parameter kimia
yang menunjukkan
konsentrasi ion khrom
ber-valensi 6 (Cr6+)
di dalam air. Khrom
adalah jenis logam
transisi, bersifat
keras, berwarna abu
gelap dan mengkilap
sehingga sering dipakai
sebagai bahan pelapis.
Dibandingkan khrom
valensi-3, Cr6+ bersifat
tidak stabil dan sangat
beracun.

PO4

As

Cr (VI)

OIL AND GREASE

KHROMIUM
HIDROGEN SULFIDA
Parameter kimia
yang menunjukkan
konsentrasi senyawa
hidrogen sulfida (H2S)
dalam air. Senyawa sulfur
merupakan salah satu
unsur pembentuk sel
tubuh makhluk hidup.
H2S merupakan gas tak
berwarna dan reduktor
yang sangat kuat.
Kehadirannya terdeteksi
oleh adanya bau seperti
telur busuk.

Parameter kimia
yang menunjukkan
konsentrasi minyak
(oil) dan lemak (grease).
Minyak biasanya
berwujud cair normal
sedangkan lemak
berwujud semi-solid.
Pengukuran O&G
umumnya dilakukan
dengan ekstraksi
senyawa alkohol dan
pengukuran berat
senyawa terekstrak
(metode gravimetri).

H2S

O&G

0,2 mg/L

10 mg/L

0,05 mg/L

0,01 mg/L

0,05 mg/L

0,001 mg/L

0,002 mg/L

100 /100 mL

1.000 g/L

200 g/L

0,2 mg/L

10 mg/L

1 mg/L

0,01 mg/L

0,05 mg/L

0,002 mg/L

0,002 mg/L

1.000/100 mL

1.000 g/L

200 g/L

1 mg/L

20 mg/L

1 mg/L

0,01 mg/L

0,05 mg/L

0,002 mg/L

0,002 mg/L

2.000/100 mL

1.000 g/L

200 g/L

5 mg/L

20 mg/L

1 mg/L

0,01 mg/L

0,1 mg/L

0,005 mg/L

2.000/100 mL

NO3

Cd

Hg

Coliform MBAS

NITRAT

KADMIUM

RAKSA

FECAL COLIFORM

DETERJEN

Parameter kimia yang


mengindikasikan
banyaknya senyawa
nitrat (NO3) dalam air.
Nitrat merupakan salah
satu unsur nutrien utama
pembentukan protein
dalam tubuh makhluk
hidup. Nilai parameter
NO3 sebenarnya
menunjukkan
konsentrasi ion nitrogen
(N). Walau demikian, cara
analisanya memastikan
bahwa nilai yang
terukur merupakan
nilai konsentrasi N yang
berada dalam ikatan
senyawa nitrat.

Parameter kimia
yang menunjukkan
konsentrasi logam
cadmium (Cd) dalam
air. Kadmium termasuk
logam berat dan seperti
logam berat lainnya,
pengukuran kadmium
dapat dilakukan
dengan metode
atomic-absorption
spectrophotometry (AAS).
Kadmium saat ini sangat
banyak dipakai sebagai
bahan pembuat baterai
kering.

Parameter kimia
yang menunjukkan
konsentrasi raksa (Hg)
di dalam air. Raksa
merupakan logam berat
bersifat racun terutama
bila terikat dengan
senyawa lain (ethyl dan
methyl) dan terkenal
dapat menumpuk pada
jaringan tubuh makhluk
hidup.

Parameter mikrobiologi
yang mengindikasikan
besarnya populasi
bakteri coliform yang
berasal dari tinja
manusia (fecal) dan
kotoran hewan lainnya
dalam air. Nilai besarnya
populasi yang didapat
(jumlah/100 mL)
merupakan hasil estimasi
statistik dari pembiakan
bakteri dalam tabung
reaksi dan sering disebut
dengan most probable
number (MPN).

Parameter kimia yang


mengindikasikan
kandungan deterjen
dan sabun dalam
air. Deterjen dan
sabun mengandung
senyawa surfaktan
yang merupakan
agen muka-aktif
(surface-active
agents). Besarnya
kandungan surfaktan
tersebut didapat
dengan mengukur
kadar methylene
blue active substance
(MBAS) dalam air.

6.

morfologi badan air akan menimbulkan penyesuaian


aliran air yang kemudian akan menimbulkan akumulasi
atau penggelontoran pencemar yang dikandungnya.
Interaksi kehidupan flora-fauna; misalnya akibat
pertumbuhan atau pembusukan alga dalam jumlah
yang sangat besar. Pertumbuhan ini disebabkan oleh
asupan materi berupa nutrien yang tinggi. Tingginya
pertumbuhan alga akan membuat oksigen di dalam
air menipis (septik) yang berakibat matinya ikan dan
makhluk air lain. Hal ini kerap terjadi pada danau-danau
Indonesia yang tercemar limbah pertanian, kegiatan
perikanan, dan kegiatan domestik (lihat Gambar di
bawah).

Perubahan kualitas air tidak selalu dapat diartikan air


sebagai pencemaran air. Pencemaran air baru dianggap
terjadi jika masukan polutan menyebabkan mutu
air turun sampai ke tingkatan yang menyebabkan
fungsinya terganggu. Misalnya, sampai ke tingkatan yang
mengganggu budidaya ikan air tawar, atau menghalangi

pemanfaatannya sebagai air baku. Untuk mempermudah


penilaian atas tercemar-tidaknya air, anda dapat
membandingkan kualitas air dengan BMA. Jika konsentrasi
polutan sudah melampaui nilai baku mutunya, kita dapat
menyatakan bahwa air sudah tercemar.

DAMPAK PERUBAHAN KUALITAS AIR


Berubahnya kualitas air akan menyebabkan timbulnya
dampak lanjutan yang dapat digolongkan sebagai:
Gangguan Terhadap Kesehatan Manusia; berbagai
penyakit dan iritasi dapat ditimbulkan akibat adanya
asupan materi atau panas ke dalam badan air. Dampak
kesehatan dapat bersifat akut maupun kronis. Misalnya,
masuknya senyawa asam ke dalam air sehingga dapat
menimbulkan gangguan pada kulit manusia yang
bersentuhan dengan air tersebut.
Gangguan Terhadap Keseimbangan Ekosistem
Air; perubahan komposisi kandungan materi dan
energi dalam air dapat mengganggu keseimbangan

Rangkaian terjadinya eutrofikasi di air danau. Fenomena ini diawali


dengan masuknya materi nutrien ke dalam badan air. Pada akhirnya,
eutrofikasi dapat mengakibatkan matinya ekosistem air danau.

4. Tumbuhnya bakteri pembusuk:


bangkai alga dan tanaman memicu
pertumbuhan bakteri pembusuk yang
mengurangi kadar oksigen. Hal ini
membuat menimbulkan bau busuk,
zat racun, nyamuk dan serangga
pengganggu,

su

Sinar matahari

1. Asupan nutrien: berasal dari limpasan air


hujan yang melewati daerah pertanian (pupuk,
dedaunan), dan kotoran ikan kegiatan jaring ikan;

Serangga

au

bu

Alga

2. Suburnya
tanaman air:
senyawa nutrien
yang masuk ini
menyuburkan
alga, teratai,
eceng gondok
dan lainnya;

3. Marak Alga (Algae blooms) dan penipisan kadar


oksigen: tanaman air menghalangi sinar matahari
menyebabkan fotosintesis terganggu sehingga kadar
oksigen di dalam air juga menipis,
Hewan dan tanaman

waktu

Bakteri Pembusuk

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Tumpukan Bahan
Nutrien

5. Matinya ekosistem:
hilangya oksigen
dari dalam air
menyebabkan
matinya makhluk air.
Hal ini memperburuk
kualitas danau dan
membuat danau
menjadi semakin
dangkal.

Memahami Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan

ekosistem kehidupan makhluk hidup air. Misalnya,


naiknya kandungan nutrien akan menyebabkan
terjadinya eutrofikasi yang kemudian akan
mengganggu kehidupan makhluk hidup air lainnya.
Gangguan Terhadap Peruntukan Air; perubahan
kualitas air dapat mengganggu peruntukannya,
misalnya sebagai air untuk penggunaan air baku,
rekreasi air, budidaya ikan, pertanaman, atau
transportasi. Demikian juga pemanfaatan air untuk
menunjang aktivitas rumah tangga, seperti mandi dan
cuci dapat terganggu akibat air yang sudah tercemar.

kesehatan manusia dan peruntukan air. Hubungan


antar dampak ini mengakibatkan adanya penggolongan
dampak sebagai:
1. Dampak primer: perubahan kualitas air akibat adanya
interaksi antara sumber dampak (komponen kegiatan)
dengan air danau atau sungai (komponen lingkungan).
2. Dampak sekunder: dampak lanjutan yang
ditimbulkan oleh perubahan kualitas air danau atau
sungai (dampak primer).
3. Dampak tersier: dampak lanjutan yang ditimbulkan
oleh dampak sekunder.

Dampak-dampak di atas dapat berhubungan satu dengan


yang lainnya. Misalnya, dampak terhadap keseimbangan
ekosistem dapat menimbulkan dampak terhadap

Selanjutnya, dampak tersier mungkin saja akan


menimbulkan dampak untuk tingkat-tingkat selanjutnya.

Komponen Kegiatan
(Sumber Dampak)

Dampak
Primer

Pembukaan
lahan

Erosi permukaan
tanah meningkat

Peningkatan
konsentrasi SS
di air sungai

Dampak
Sekunder

Dampak
Tersier

Peningkatan
sedimen
di dasar sungai

Lalu lintas
transportasi air
terganggu

Pengolahan air
bersih terganggu

Biaya pengolahan
air meningkat

Kehidupan
ikan terganggu

Produktivitas
perikanan
menurun

Suatu sumber dampak dapat menimbulkan dampak primer, dampak sekunder, dampak tersier, dan selanjutnya. Dalam pengerjaan AMDAL,
prakiraan dampak sekunder dan tersier sangat sulit dilakukan secara akurat dan kuantitatif. Kesulitan ini terkait dengan 1) kesepakatan
terhadap penentuan skenario/urutan objek penerima dampak yang akan terjadi; dan 2) penentuan rentang waktu lamanya kejadian dampak
terutama untuk fenomena bioakumulasi senyawa pencemar pada rantai makanan. Penggunaan referensi terdahulu dapat mengurangi tingkat
ketidak-akuratan tersebut.

PRAKIRAAN DAMPAK
KUALITAS AIR PERMUKAAN
Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) merupakan
salah satu tahap dalam pengerjaan AMDAL. Dalam ANDAL,
anda akan mengkaji berbagai dampak lingkungan
penting yang diprakirakan akan timbul saat suatu
komponen kegiatan diimplementasikan. Hasil-hasil kajian
akan digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk
memutuskan kelayakan lingkungan dari suatu rencana
kegiatan. Dan pada akhirnya, hasil prakiraan dampak
turut menentukan dapat diterbitkannya berbagai jenis
ijin terkait.

harus menggunakan data dan metodologi prakiraan


yang secara ilmiah dapat dipertanggung-jawabkan.
Ahli yang terlibat juga harus memiliki kompetensi
kelimuan yang memadai dan sesuai dengan jenis
dampak yang diprakirakan. Sesuai tatalaksana AMDAL
(lihat Diagram berikut) yang berlaku saat ini, langkah
prakiraan dampak dilakukan dalam tahap analisis. Uraian
pengerjaan prakiraan dampak dan hasilnya kemudian
didokumentasikan dalam dokumen Analisis Dampak
Lingkungan Hidup (ANDAL).

PRAKIRAAN DAMPAK DALAM AMDAL

Prakiraan dampak harus dilakukan sesuai dengan lingkup


dugaan-dugaan dampak penting yang sudah disepakati
sebelumnya atau dampak penting hipotetik (lihat
bahasan khusus mengenai Dampak Penting Hipotetik).
Adanya lingkup dugaan dampak tersebut akan membuat

Proses prakiraan dampak dapat diartikan sebagai


upaya pendugaan ilmiah guna mendapatkan informasi
mengenai besaran dan karakteristik dampak yang
mungkin terjadi akibat adanya suatu komponen kegiatan.
Prakiraan dampak perlu dilakukan dengan sebaik mungkin.
Hasil prakiraan dampak menentukan layak tidaknya
suatu komponen kegiatan untuk dilaksanakan. Suatu
komponen kegiatan hanya dapat dinyatakan layak untuk
dilaksanakan jika dampaknya diprakirakan tidak akan
menyebabkan daya dukung dan daya tampung badan air
terlampaui. Untuk beberapa jenis komponen kegiatan,
hasil prakiraan dampak menentukan dapat diterbitkan
atau tidaknya suatu ijin terkait. Jika hasil prakiraan dampak
keliru, maka ijin yang diterbitkan dapat dipermasalahkan
di kemudian hari. Bukannya tidak mungkin, sesuai
ketentuan UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup No. 32 tahun 2009, pemberi ijin yang bermasalah
juga dapat dikenakan sanksi.
Untuk menjamin hasil yang baik, suatu prakiraan dampak

10

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

KA - ANDAL

Lingkup prakiraan:
- Dampak penting hipotetik
- Wilayah studi
- Waktu kajian

Prakiraan besaran
dampak dan
evaluasi sifat
penting dampak

ANDAL

RKL
Rencana pencegahan
dan pengendalian
dampak penting

RPL
Rencana pemantauan
komponen lingkungan
terkena dampak

Bagian pengerjaan AMDAL sesuai dengan dokumentasi yang


dihasilkannya. Proses prekiraan dampak dilakukan dalam
pelaksanaan ANDAL.

Memahami Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan

proses prakiraan dampak dapat berlangsung dengan


efisien berdasarkan sasarannya yang jelas. Sesuai
tatalaksana AMDAL (lihat diagram), dampak penting
hipotetik ditentukan dalam tahap pelingkupan (scoping).
Uraian pengerjaan pelingkupan dan hasilnya kemudian
didokumentasikan dalam dokumen Kerangka Acuan
Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL).

Besaran Dampak
Besaran dampak yang diperoleh dari proses prakiraan
dampak bukan diperoleh dengan membandingkan
karakteristik lingkungan di saat sebelum (before) dengan
saat sesudah (after) keberadaan suatu komponen
kegiatan. Dalam terminologi AMDAL, besaran dampak
lebih diartikan sebagai perbedaan antara perubahan
karakteristik lingkungan akibat keberadaan suatu
komponen kegiatan dengan perubahan karakteristik
lingkungan yang terjadi tanpa adanya komponen kegiatan
tersebut. Proses prakiraan dampak terdiri dari 3 (tiga)
langkah berikut (lihat Diagram).

1. Prakiraan karakteristik lingkungan di suatu saat


akibat adanya suatu komponen kegiatan (XI,T );
merupakan karakteristik lingkungan di suatu saat (T)
yang terbentuk akibat pengaruh komponen kegiatan.
2. Prakiraan karakteristik lingkungan di suatu saat
tanpa adanya suatu komponen kegiatan (X0,T );
merupakan karakteristik lingkungan di suatu saat
(T) yang terbentuk dengan sendirinya tanpa adanya
komponen kegiatan (nir-kegiatan).
3. Prakiraan besaran dampak di suatu saat akibat
adanya suatu komponen kegiatan (XT ); merupakan
perbedaan antara karakteristik lingkungan akibat
suatu komponen kegiatan (XI,T ) dengan karakteristik
lingkungan nir-kegiatan (XO,T ). Singkatnya,
(XT ) ~ (XI,T ) - (XO,T ).
Selain secara kuantitatif (terukur), besaran dampak juga
dapat dinyatakan secara deskriptif.

konsentrasi padatan
n
(dengan kegiatan)

konsentrasi padata
padatan
(nir-kegiatan)
g

3. Prakiraan
besaran dampak
terhadap
kualitas air
sungai (XT )

kkonsentrasi
onsentrasi padatan
ssaat
aaat ini

2010

2012

1. Prakiraan kualitas air sungai dengan


adanya komponen kegiatan (XI,T )

2010

2012

2. Prakiraan kualitas air sungai tanpa


adanya komponen kegiatan (X0,T )

Besarnya suatu dampak didapat dengan membandingkan karakteristik lingkungan jika kegiatan terlaksana (XI,T ) dengan karakteristik
lingkungan jika kegiatannya tidak terlaksana (XO,T ). Untuk mendapatkan besaran dampak yang sesuai dengan definisinya, kedua kondisi
tersebut memang harus diprakirakan.

11

Dampak Penting Hipotetik


Suatu prakiraan dampak, seperti sudah disinggung
sebelumnya, perlu dilakukan berdasarkan dampak
penting hipotetik yang telah disepakati. Untuk membuat
suatu proses prakiraan dapat berlangsung efisien, suatu
dampak penting hipotetik setidaknya harus menyebutkan
kedua komponen berikut secara spesifik:
a) Komponen kegiatan penyebab dampak; Disebut
juga sumber dampak. Untuk prakiraan dampak
kualitas air permukaan, beberapa sumber dampak
antara lain adalah pembuangan air limbah (liquid waste
discharge), limpasan air, dan erosi dinding sungai.
b) Komponen lingkungan terkena dampak; Untuk
dampak primer, komponen lingkungan terkena
dampaknya pasti adalah kualitas air sungai atau danau.
Untuk dampak selanjutnya, komponen lingkungan
terkena dampak dapat berupa kesehatan manusia,
keseimbangan ekosistem air, dan peruntukan air.
Prakiraan dampak perlu dilakukan untuk berbagai skenario
kasus berbeda. Dengan demikian, pengambilan keputusan
dalam AMDAL dapat didasarkan pada pertimbangan yang

lengkap. Skenario yang umum dilakukan adalah skenario


kondisi tersering (most-likely case scenario) dan skenario
kondisi terburuk (worst-case scenario).

Output Prakiraan Dampak


Hasil prakiraan dampak sedapat mungkin ditampilkan
secara kuantitatif. Untuk memperjelas penyajiannya,
output besaran dampak sebaiknya ditampilkan sebagai
Tabel Output Hasil Prakiraan. Tabel ini menampilkan
serangkaian nilai konsentrasi (atau unit lainnya) dari suatu
parameter kualitas air di lokasi obyek terkena dampak
pada waktu prakiraan tertentu (lihat Tabel berikut).
Jika dibutuhkan, output prakiraan dampak dapat
ditampilkan dalam bentuk Peta Isokonsentrasi Pencemar.
yang menghubungkan lokasi-lokasi yang diprakirakan
akan memiliki nilai konsentrasi polutan yang sama.
Pembuatan peta ini umumnya hanya dibutuhkan untuk
output prakiraan dampak pada danau yang luas.
Output prakiraan dampak juga perlu disertai dengan
informasi mengenai frekuensi, durasi, dan ke-kontinuitas-

KOMPONEN KEGIATAN (SUMBER DAMPAK):


Limpasan air kawasan permukiman
KOMPONEN LINGKUNGAN TERKENA DAMPAK:
- Primer: kualitas air sungai
- Sekunder : kualitas pertumbuhan ikan

Ilustrasi : Taufik S

12

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Dalam suatu dampak penting hipotetik,


baik komponen kegiatan sumber dampak
maupun komponen lingkungan terkena dampak
perlu disampaikan secara spesifik. Informasi kedua jenis
komponen tersebut perlu juga dilengkapi dengan waktu
prakiraan, lokasi, dan sebagainya.

Memahami Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan

Output Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan


Polutan
Sumber Dampak
Rencana Kegiatan
Tahun Prakiraan

: Kandungan Organik (BOD)


: Efluen IPAL
: Pabrik Pulp dan Kertas
: 2012

Obyek Terkena Dampak

Jarak (km)

BOD (mg/L)
Prakiraan

Rona Awal

Desa Pertiwi

42

38

Jembatan Letkom-1

40

34

Pelabuhan Pelita Pantai

15

36

26

Teluk Meranti

24

25

16

an dari dampak yang akan terjadi. Informasi tersebut


dibutuhkan agar pihak-pihak berkepentingan mengetahui
bahwa suatu output prakiraan dampak hanya terjadi
dalam rentang waktu dan kondisi tertentu saja.

akan memenuhi Baku Mutu Efluen (BME). Walau


konsentrasinya kecil, komponen kegiatan itu mungkin
saja akan membuang polutan dalam jumlah yang besar.
Dengan debit yang tinggi, buangan polutan tersebut
tetap mungkin mempengaruhi kualitas air secara
signifikan. Atau karena sungai atau danau memiliki daya
dukung yang sudah sangat terbatas.

EVALUASI DAMPAK
Hasil prakiraan dampak perlu dievaluasi untuk mengetahui
karakteristik dari dampak tersebut. Beberapa sifat dampak
yang perlu diketahui adalah:

KEGIATAN WAJIB PRAKIRAAN DAMPAK


Prakiraan dampak kualitas air permukaan perlu dilakukan
jika suatu rencana kegiatan Wajib AMDAL memiliki satu
atau lebih komponen kegiatan yang akan menyebabkan
berubahnya kualitas air secara signifikan (lihat bahasan
mengenai Penyebab Perubahan Kualitas Air). Beberapa
jenis komponen kegiatan tersebut antara lain adalah:
1. Pengambilan air baku dari sungai atau danau.
2. Pembuangan air limbah (efluen IPAL) ke sungai atau
danau.
3. Pengerukan dasar sungai atau danau.
4. Reklamasi daerah aliran sungai atau sekitar danau.
5. Normalisasi tepi sungai atau danau.
6. Penambangan permukaan.
7. Pembangunan struktur sipil di atas sungai atau danau.
8. Pembukaan lahan atau pemanfaatan lahan.
9. Pembangunan kawasan wisata di sekitar badan air.
Prakiraan dampak juga seringkali tetap perlu dilakukan
untuk suatu sumber dampak yang
buangannya

Sifat penting dampak; untuk menentukan apakah


suatu dampak tergolong dampak penting atau tidak.
Evaluasinya dilakukan dengan membandingkan
kualitas air akibat keberadaan komponen kegiatan
(XI,T ) dengan kriteria penilaian yang disepakati
sebelumnya, seperti baku mutu air, alokasi tambahan
polutan sesuai daya dukung badan air, jumlah manusia
terkena dampak, dan sebagainya.
Pengaruh dampak; untuk menentukan apakah
suatu dampak tergolong dampak negatif atau positif.
Pengaruh dampak dinilai dengan melihat hasil
perhitungan besaran dampak dari suatu parameter
kualitas air (XT ) yang merupakan perbandingan
antara kualitas air akibat keberadaan komponen
kegiatan (XI,T ) dengan kualitas air tanpa keberadaan
komponen kegiatan (XO,T ). Dampak dianggap negatif
jika sumber dampak akan membuat kualitas air
menjadi lebih buruk dibandingkan dengan kualitas air
nir-kegiatan di waktu yang sama.

Banyak penyusun AMDAL saat ini tidak melakukan


prakiraan kualitas air nir-kegiatan. Jadi, penilaian besarkecilnya dampak dinilai dengan mengacu kepada kualitas
air saat ini (rona lingkungan awal). Hal ini dapat dibenarkan
selama kita yakin bahwa kualitas air nir-kegiatan akan
tetap sama (statis) untuk tahun prakiraan yang kita pilih.

13

TAHAPAN PRAKIRAAN DAMPAK KUALITAS AIR


Berikut ini adalah tahapan lengkap dari proses prakiraan
dampak kualitas air. Mengacu ke tatalaksana pengerjaan
AMDAL, ketiga tahap awal dalam diagram berikut
merupakan bagian dari proses pelingkupan. Hasilnya

dituangkan dalam dokumen KA-ANDAL. Tahap-tahap


selanjutnya merupakan bagian dari proses prakiraan
dampak yang, baik proses maupun hasilnya, dituangkan
dalam dokumen ANDAL.

Identifikasi Sumber Dampak

Mengenali Badan Air

Karakterisasi Polutan

Membatasi Wilayah Studi

Tahap 1:
Mempelajari Sumber Dampak
Tahap pelingkupan diawali dengan pengenalan sumber
dampak dan obyek-obyek yang berpotensi menerima
dampak. Kedua tahap diharapkan dapat mengidentifikasi
dampak-dampak potensial yang mungkin timbul dari
rencana kegiatan. Seluruh dampak potensial tersebut
kemudian dievaluasi dan dipertajam. Penajaman
dilakukan berdasarkan pada sifat penting polutan, batasan
waktu dan skenario prakiraan, dan juga pada beberapa
kriteria sifat penting dampak. Setelah melewati 3 (tiga)
tahapan ini, maka akan terbentuk suatu daftar dampak
penting hipotetik yang akan dianalisis pada tahap ANDAL.

Identifikasi Obyek Penerima


Dampak
Tahap 2:
Mengenali Obyek Penerima
Dampak

Seleksi Polutan Penting


Menentukan Waktu &
Skenario Prakiraan
Memperjelas Kriteria Sifat
Penting Dampak

KA-ANDAL

14

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Tahap 3:
Mempertajam Lingkup
Prakiraan Dampak

Memahami Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan

Mempelajari Badan Air

Mengukur Rona Awal

Mencermati Kondisi Sekitar


Tahap 4:
Mencermati Wilayah Studi

Studi ANDAL didahului dengan perihal bagaimana


mendapatkan informasi pelengkap mengenai wilayah
yang dipelajari baik perihal umum mengenai badan air itu
sendiri, rona awal sungai/danau, maupun hal lain di sekitar
wilayah studi yang perlu dicermati. Dengan informasi
yang di dapat dan dilengkapi dengan informasi yang
terkumpul dari 3 (tiga) tahapan penyusunan KA-ANDAL,
kemudian dilakukan simulasi penyebaran pencemar.
Hasil pemodelan penyebaran pencemar tersebut akan
dievaluasi berdasarkan sifat penting dampak dan
pengaruh positif atau negatif dari dampak.

Menentukan
Sifat
Penting
Menentukan
Ukuran
Dampak
Dampak
Penting

Memilih Teknik Simulasi


Menghitung Konsentrasi
Sebaran Polutan

Mengetahui Pengaruh
Dampak

Tahap 5:
Mensimulasi Penyebaran
Pencemar

Mengevaluasi Secara Holistik

ANDAL

Tahap 6:
Mengevaluasi Hasil
Prakiraan Dampak

15

16

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Mempelajari Sumber Dampak

Tahap 1

MEMPELAJARI
SUMBER DAMPAK
IDENTIFIKASI SUMBER DAMPAK
JENIS SUMBER DAMPAK
SKALA SUMBER DAMPAK
LOKASI SUMBER DAMPAK
WAKTU KEBERADAAN SUMBER DAMPAK
KARAKTERISASI POLUTAN
IDENTIFIKASI JENIS POLUTAN
ESTIMASI JUMLAH POLUTAN
Estimasi Dengan Data Sumber Sejenis
Estimasi Dengan Data Tipikal
Estimasi Dengan Baku Mutu Limbah Cair
Estimasi Dengan Keseimbangan Masa
POLA PEMUNCULAN POLUTAN

18
18
19
20
20
21
21
22
22
23
23
25
25

Bagian ini akan menguraikan tahap pertama dari proses prakiraan dampak kualitas
air permukaan, yaitu Mempelajari Sumber Dampak. Tahap ini terdiri dari 2 (dua)
langkah kerja, yaitu 1) identifikasi sumber dampak dan 2) karakterisasi sumber
dampak. Dari dokumen perencanaan yang ada, anda dapat mengidentifikasi
seluruh sumber dampak yang mungkin ada. Tiap sumber dampak harus dikenali
karakteristiknya. Perdalam informasinya sampai anda mendapatkan gambaran
mengenai parameter kualitas air yang akan terpengaruh. Dalam pengerjaan
AMDAL, tahap ini dapat dianggap sebagai bagian awal dari proses pelingkupan
(scoping) yang hasilnya dicantumkan dalam dokumen Kerangka Acuan ANDAL
(KA-ANDAL).

Foto: Koleksi QIPRA

17

IDENTIFIKASI SUMBER DAMPAK


Dalam konteks buku ini, sumber dampak adalah
komponen atau bagian dari suatu rencana kegiatan yang
dapat menyebabkan perubahan kualitas air permukaan.
Sumber dampak tidak selalu berupa komponen kegiatan
yang menimbulkan air limbah, tetapi dapat juga
komponen kegiatan yang merubah volume air, pola aliran,
maupun morfologi badan air (lihat bahasan mengenai
Penyebab Perubahan Kualitas Air). Tidak jarang suatu
rencana kegiatan memiliki lebih dari satu sumber dampak
yang jenisnya berbeda.
Dalam proses prakiraan dampak, langkah pertama yang
perlu anda lakukan adalah mengidentifikasi seluruh
komponen kegiatan yang dapat menjadi sumber dampak.
Baik itu komponen-komponen kegiatan di tahap prakonstruksi, konstruksi, operasi, maupun pasca-operasi.
Jenisnya bermacam-macam, demikian juga dengan sifat

pemunculannya (lihat bahasan berikut mengenai Jenis


Sumber Dampak).
Informasi dari suatu sumber dampak perlu dilengkapi
dengan informasi mengenai skala, lokasi, dan waktu
keberadaan sumber dampak (lihat bahasan berikut
mengenai Skala Sumber Dampak, Lokasi Sumber
Dampak, dan Waktu Keberadaan Sumber Dampak).
Informasi tersebut nantinya sangat dibutuhkan dalam
pemodelan penyebaran pencemar.

JENIS SUMBER DAMPAK


Banyak jenis komponen kegiatan yang dapat menjadi
sumber dampak (lihat bahasan mengenai Penyebab
Perubahan Kualitas Air). Seperti dibahas sebelumnya,
sumber dampak dapat terdiri dari komponen kegiatan

Perkebunan sawit memiliki


beberapa komponen kegiatan
yang
dapat
menimbulkan
gangguan terhadap badan
air di sekitarnya. Dalam tahap
konstruksi, pembukaan lahan
yang
dilakukannya
akan
merubah volume limpasan air
hujan ke badan air. Dalam tahap
operasi, kegiatan pemupukan
akan memberikan asupan sisa
nutrien bersamaan dengan
limpasan air hujan yang masuk
ke badan air.

Foto: Koleksi Qopra

18

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Mempelajari Sumber Dampak

yang menyebabkan adanya asupan materi, asupan panas,


pengambilan air, perubahan pola aliran, dan perubahan
morfologi badan air. Demikian juga dengan komponen
kegiatan yang dapat meningkatkan atau menurunkan
interaksi kehidupan flora-fauna.
Sumber dampak dapat berupa sumber terpusat (point
source) maupun sumber menyebar (non-point source).
Sumber terpusat merupakan sumber dampak terpusat
yang lokasinya mudah diketahui secara pasti. Contohnya
antara lain adalah efluen IPAL, titik pengambilan air
baku, outlet saluran drainase, dan sebagainya. Dalam
sumber terpusat, pencemar akan masuk ke badan air dari
suatu titik terpusat. Sementara itu, sumber menyebar
merupakan sumber dampak yang berbentuk bidang luas.

Pencemar akan masuk ke badan air dari suatu bidang yang


lebar. Contohnya, limpasan (run off ) air hujan dari lahan
pertanian.
Identifikasi sumber dampak dapat dilakukan dengan
mempelajari dokumen rancangan teknis dan jadwal
pelaksanaannya. Adanya denah (layout) rencana kegiatan
dapat mempermudah pengidentifikasian sumber dampak.
Selain itu, sumber dampak dapat juga diidentifikasi
dengan mempelajari kegiatan lain yang sejenis.

SKALA SUMBER DAMPAK


Skala sumber dampak menunjukkan besaran (magnitude)
dari komponen kegiatan yang akan menimbulkan polutan

Ilustrasi: Toppeak

Suatu rencana kegiatan dapat saja memiliki banyak komponen kegiatan yang dapat menimbulkan dampak terhadap kualitas air permukaan
di sekitarnya. Ilustrasi berikut menunjukkan suatu rencana kegiatan yang memiliki setidaknya 3 (tiga) sumber dampak, yaitu 1) outlet limpasan
air dari area parkir, 2) efluen IPAL. dan 3) outlet saluran drainase stockpile area. Secara bersamaan, ketiga sumber dampak itu akan mengalirkan
air limbahnya ke sungai terdekat sehingga dapat menimbulkan dampak akumulatif terhadap sungai tersebut.

Sungai
outlet drainase stockpile area

efluen IPAL
outlet limpasan area parkir
IPAL

Stock pile area

19
1
9

ke badan air. Informasi skala sumber dampak dibutuhkan


nantinya untuk menghitung jumlah polutan yang
ditimbulkan sumber tersebut (lihat bahasan mengenai
Estimasi Jumlah Polutan). Informasi skala sumber
dampak biasanya diperoleh dari dokumen rancangan
teknis suatu kegiatan.

nantinya saat anda ingin menentukan waktu prakiraan.


Waktu keberadaan sumber dampak perlu disampaikan
sespesifik mungkin, misalnya menyebutkan bulan dan
tahun dari keberadaannya. Jadi tidak hanya sekedar
menyebutkan bahwa sumber pencemar akan ada di tahap
prakonstruksi, konstruksi, operasi dan pasca-operasi.

Satuan dari skala sumber dampak sangat ditentukan


oleh jenis sumber dampak. Untuk kegiatan pembuangan
limbah cair, satuannya dapat berupa m3/hari. Untuk
kegiatan pengerukan dasar sungai, satuannya dapat
berupa hektar. Untuk kegiatan normalisasi sungai,
satuannya dapat berupa meter atau kilometer.

Waktu keberadaan tiap sumber dampak dapat diperoleh


dari jadwal pelaksanaan rencana kegiatan. Dari jadwal
tersebut, anda dapat mengetahui durasi kelangsungan
sumber dampak. Perlu diingat bahwa mungkin saja
beberapa sumber dampak akan dilaksanakan dalam
rentang waktu yang sama. Jika waktu keberadaannya
bersamaan, ada kemungkinan dampak dari sumbersumber itu nantinya perlu diakumulasikan.

LOKASI SUMBER DAMPAK


Lokasi sumber dampak sedapat mungkin perlu diketahui
sespesifik mungkin. Informasi ini dibutuhkan nantinya
untuk menghitung jarak antara sumber dampak dengan
obyek-obyek penerima dampak. Demikian juga dalam
penentuan batas wilayah kajian studi ANDAL.
Lokasi sumber dampak khususnya sumber terpusat
terkadang perlu dinyatakan dalam sistem koordinat
Cartesian. Untuk sumber dampak menyebar, anda perlu
menyebutkan koordinat dari bagian sumber dampak yang
letaknya paling dekat dengan obyek penerima dampak.
Koordinat titik terdekat itu nantinya digunakan dalam
perhitungan jarak dengan obyek penerima dampak.

Perkebunan 2

Perkebunan 1

Perkebunan 3

Akumulasi
limpasan area
perkebunan

Informasi wilayah administratif dari suatu sumber dampak


juga perlu untuk disampaikan khususnya untuk sumbersumber dampak dari suatu rencana kegiatan yang tapak
proyeknya sangat luas.

WAKTU KEBERADAAN SUMBER DAMPAK


Ilustrasi: Toppeak

Informasi mengenai kapan suatu sumber dampak akan


dilaksanakan, dibangun atau dioperasikan sangat berguna

20

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Ilustrasi dari dampak kumulatif yang terjadi pada suatu badan air
akibat limpasan air dari 3 lokasi perkebunan yang muncul pada
waktu yang sama.

Mempelajari Sumber Dampak

KARAKTERISASI POLUTAN
Setelah seluruh sumber dampak teridentifikasi, anda
perlu mengenali karakteristik dari polutan yang dapat
ditimbulkan sumber-sumber dampak tersebut. Ada 2 (dua)
hal yang setidaknya perlu dilakukan dalam karakterisasi
polutan, yaitu 1) identifikasi jenis polutan dan 2) estimasi
jumlah polutan. Selain ke-2 hal itu, informasi mengenai
karakteristik polutan juga perlu dilengkapi dengan
keterangan mengenai sifat-sifat pemunculannya.
Jenis polutan dapat diidentifikasi jika anda memahami
karakteristik dari komponen-komponen kegiatan yang
menjadi sumber dampak (lihat bahasan berikut mengenai
Identifikasi Jenis Polutan). Sementara itu, jumlah
polutan dapat diestimasi jika anda mengetahui skala atau
besaran sumber dampak (lihat bahasan berikut mengenai
Estimasi Jumlah Polutan).

IDENTIFIKASI JENIS POLUTAN


Jenis polutan yang akan ditimbulkan suatu sumber
dampak dapat diidentifikasi dengan mempelajari

karakteristik dari komponen kegiatan sumber dampak


tersebut. Misalnya, dengan mengkaji keseimbangan
massa (mass balance) dari berbagai bahan dan proses
yang digunakan komponen kegiatan.
Pengalaman pihak lain dalam melaksanakan komponen
kegiatan serupa dapat membantu anda untuk
mengidentifikasi jenis polutan yang mungkin ada. Banyak
literatur juga tersedia untuk memberikan anda informasi
mengenai jenis polutan yang biasanya ditimbulkan oleh
suatu komponen kegiatan.
Jenis polutan yang dapat ditimbulkan oleh suatu
komponen kegiatan juga dapat diidentifikasi dari aturan
baku mutu limbah cair yang berhubungan dengan
kegiatan tersebut. Beberapa kegiatan memiliki baku
mutu limbah cair yang spesifik membatasi konsentrasi
dari polutan-polutan yang umum ditimbulkan kegiatankegiatan tersebut. Walau demikian, anda tetap perlu
mewaspadai adanya polutan lain yang mungkin muncul
namun tidak tercantum dalam baku mutu tersebut.

Baku mutu limbah cair suatu kegiatan dapat memberikan indikasi dari parameter-parameter kualitas yang perlu diperhatikan dalam proses
prakiraan dampak. Secara tidak langsung, parameter-parameter di baku mutu itu akan mengindikasikan jenis dampak yang dapat ditimbulkan
oleh suatu jenis kegiatan. NIlai konsentrasi maksimal tiap parameter dan kuantitas air limbah maksimal yang tercantum dalam baku mutu
tersebut nantinya dapat digunakan untuk perhitungan estimasi jumlah polutan.

21

Tabel 1. Kelompok Polutan dan Hubungannya dengan Parameter Polutan dan Sumber Dampak.
KELOMPOK POLUTAN

PARAMETER POLUTAN

SUMBER DAMPAK

Padatan

Residu (Padatan) Terlarut, Residu


(Padatan) Tersuspensi

Limpasan air dari lahan terbuka, efluen proses produksi, lepasan materi
tanah dari dinding badan air, buangan limbah domestik, penggalian
atau pengurukan tanah.

Senyawa Organik

BOD, COD, Minyak dan Lemak, Fenol,


Pestisida

Efluen proses produksi yang menggunakan bahan organik, limpasan air


dari lahan pertanian, buangan limbah domestik, pencucian bahan baku
organik, budidaya peternakan.

Senyawa Anorganik

Klorida, Belerang

Efluen proses produksi yang menggunakan bahan anorganik, buangan


limbah domestik, limpasan air dari lahan penambangan mineral, lindi
sampah.

Senyawa Nutrien

Total Fosfat, Nitrat, Amonium

Limpasan air dari lahan yang menggunakan pupuk, efluen proses


produksi yang menggunakan senyawa nutrien, buangan limbah
domestik.

Senyawa AsamBasa

pH

Efluen proses produksi yang menggunakan senyawa asam basa,


limpasan air dari lahan penambangan mineral.

Senyawa Logam
Berat

Arsen, Kobalt, Barium, Boron, Selenium,


Kadmium, Kromium, Tembaga, Besi,
Timbal, Mangan, Raksa, Seng

Proses produksi yang menggunakan bahan anorganik, buangan limbah


domestik, lindi sampah, efluen kilang minyak dan gas.

Panas atau dingin

Temperatur

Buangan limbah bahang dari alat-alat pertukaran panas (cooling


tower), limpasan air hujan dari area jalan dan parkir.

Mikrobiologi

Fecal Coli , Total Coliform

Lindi sampah, buangan limbah domestik, proses penyiapan bahan


makanan, budidaya peternakan.

Secara umum, polutan yang ditimbulkan oleh berbagai


jenis komponen kegiatan dapat dibagi ke dalam 8
(delapan) kelompok polutan (lihat Tabel 1), yaitu 1)
padatan, 2) senyawa organik, 3) senyawa anorganik, 4)
senyawa nutrien, 5) senyawa asam-basa, 6) senyawa
logam berat, 7) panas, dan 8) mikrobiologi. Tiap polutan
memiliki parameter-parameter yang umum digunakan
untuk menunjukkan jumlah atau konsentrasinya secara
kuantitatif.

ESTIMASI JUMLAH POLUTAN


Jumlah polutan perlu diestimasi secara kuantitatif agar
output prakiraan dampak nantinya dapat dinyatakan
secara kuantitatif pula (lihat bahasan Output Prakiraan
Dampak di bab sebelumnya). Nilai kuantitatif tersebut
akan menyebabkan terciptanya konsentrasi polutan di
dalam sungai atau danau. Konsentrasi ini akan berubah

22

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

karena polutan akan berinteraksi dengan komponen


badan air (lihat Boks Perilaku Polutan di Badan Air pada
Tahap 5 Mensimulasi Penyebaran Pencemar).
Estimasi kuantitatif jenis polutan sebaiknya memberikan
hasil dalam satuan beban limbah cair (loading), yaitu berat
atau volume polutan per-satuan waktu (misalnya: 300
kilogram suspended solids/hari, 5 ton BOD5/tahun). Berikut
ini adalah beberapa pendekatan yang dapat anda lakukan
untuk mengestimasi jumlah polutan yang ditimbulkan
sumber dampak.

Estimasi Dengan Data Sumber Sejenis


Jumlah polutan dapat diestimasi berdasarkan data dari
sumber dampak sejenis yang sudah ada. Misalnya, untuk
mengestimasi jumlah polutan air limbah dari rencana
pabrik pulp and paper berdasarkan data efluen air limbah

Mempelajari Sumber Dampak

dari pabrik pulp and paper yang sudah ada. Pendekatan


ini sangat layak diterapkan untuk rencana kegiatan yang
merupakan perluasan atau peningkatan dari kegiatan
itu sendiri. Misalnya, estimasi jumlah polutan dari suatu
industri yang akan meningkatkan kapasitasnya.
Agar valid, data harus berasal dari sumber dampak yang
menggunakan teknologi dan bahan yang sama. Data
dapat diperoleh dari laporan pemantauan lingkungan
kegiatan sejenis. Misalnya, dari laporan pelaksanaan
Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana
Pemantauan Lingkungan (RPL) kegiatan tersebut.

Estimasi Dengan Data Tipikal


Saat ini sudah banyak tersedia data tipikal yang
menghubungkan satuan skala kegiatan dengan (a) debit
air limbah atau (b) jumlah polutan. Sebagai contoh:
produksi 1 barel minyak bumi 3 barel limbah cair,
produksi 1 ton kertas 160 m3 limbah cair.
Selain itu ada juga data tipikal yang dinyatakan dalam
satuan population equivalen (PE). Artinya, 1 PE limbah cair
ekivalen dengan limbah cair dometik yang dihasilkan oleh
1 manusia dalam sehari (54 gram BOD5/hari atau 90 gram
SS/hari). Selain PE yang berhubungan dengan BOD dan
SS, tersedia juga PE yang berhubungan dengan nutrien
dan senyawa pencemar lain.

Estimasi Dengan Baku Mutu Limbah Cair


Baku mutu limbah cair (BMLC) mencantumkan nilai
konsentrasi maksimum dari beberapa polutan dan debit
maksimal yang masih diperbolehkan untuk dibuang ke
badan air. Estimasi dengan BMLC hanya dapat digunakan
untuk sumber dampak yang menimbulkan asupan limbah
cair ke badan air. Diasumsikan, pemrakarsa kegiatan tentu
tidak akan membuang limbah cair yang karakterisitiknya
masih melampaui BMLC.
Setelah mengetahui konsentrasi polutan dalam limbah
cair (Cp) dan debit limbah cair (Q), maka jumlah polutan
(M) dapat dihitung dengan persamaan:
M = Q x CP
Besarnya debit limbah cair (Q) tentu dapat diketahui hanya
jika anda memiliki informasi mengenai skala kegiatan dari
sumber dampak (lihat bahasan Skala Sumber Dampak).
Saat ini sudah tersedia BMLC untuk beragam jenis kegiatan
spesifik. Baik itu untuk industri, kegiatan domestik,
perminyakan, dan sebagainya. Selain itu juga tersedia
BMLC yang bersifat umum.

Energi listrik
Produk jadi

Dengan mengetahui data debit dan konsentrasi tipikal,


anda dapat mengestimasi jumlah polutan yang akan
dihasilkan suatu rencana kegiatan.
Perlu diingat,
penggunaan data debit atau jumlah polutan tipikal
merupakan estimasi kasar yang masih perlu dikaji
kesamaan teknologi atau bahan yang digunakan.
Teknologi baru terkadang memiliki nilai debit tipikal yang
lebih efisien atau jumlah polutan tipikal yang lebih rendah.

Bahan baku
Panas dan
limbah lain

Material
pembantu
Air bersih

Proses
produksi

Air limbah

Ilustrasi keseimbangan massa kegiatan industri yang menggunakan


air bersih dan membuang air limbah. Jumlah dan karakteristik air
limbah dapat diprakirakan menggunakan diagram ini.

23

Contoh Kasus

KARAKTERISASI SUMBER DAMPAK


Suatu kegiatan wajib AMDAL, yaitu industri pulp berkapasitas 3.000 ton per hari akan dibangun di tepi sungai Kumering.
Industri ini direncanakan akan memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Efluen IPAL akan dibuang ke sungai
Kumering sesuai Baku Mutu Limbah Cair (BMLC) yang diberlakukan pemerintah setempat (lihat tabel berikut).
Baku Mutu Limbah Cair Industri Pulp
KELOMPOK POLUTAN

KONSENTRASI MAKSIMAL

BEBAN MAKSIMAL

BOD

100 mg/L

8,5 kg/ton produk

COD

350 mg/L

29,75 kg/ton produk

TSS

100 mg/L

8,5 kg/ton produk


3

Debit Maks.

85 m /ton

Dari identifikasi sumber dampak disepakati bahwa pengaliran efluen IPAL ke Sungai Kumering merupakan suatu jenis
sumber dampak yang perlu dikaji dalam ANDAL. Untuk Karakterisasi Sumber Dampak, ditetapkan hal-hal berikut:
60.000 m3/hari

Skala komponen kegiatan:

Debit limbah cair (Q) dihitung berdasarkan debit tipikal yang diperoleh dari industri sejenis (dipakai nilai 20 m3/ton).
Perhitungannya:
Q (debit limbah cair) = kapasitas produksi x debit maksimum
= 3.000 ton pulp/hari x 20 m3/ton pulp
= 60.000 m3/hari
Jenis polutan:

Organik (BOD dan COD) dan padatan (TSS)

Ditentukan berdasarkan parameter yang tercantum di BMLC Industri Pulp


Jumlah polutan (M) dihitung dengan persamaan:
M = Q x CP
Contoh:
Jumlah polutan BOD (berdasarkan BMLC) = Q x CBOD
= 60.000 m3/hari x 100 mg/L x (10-9 ton/mg x 103 L/m3)
= 6 ton BOD/hari
Jumlah polutan berdasarkan konsentrasi efluen IPAL industri BOD = 3,9 ton/hari
sejenis (BOD: 65 mg/L; COD : 215 mg/L; SS: 90 mg/L): COD = 12,9 ton/hari
TSS = 5,4 ton/ hari
Jumlah polutan berdasarkan BMLC:

IPAL

Ilustrasi: Toppeak Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

24

BOD = 6 ton/hari
COD = 21 ton/hari
TSS = 6 ton/ hari

Denah dari Industri Pulp yang digunakan dalam contoh


kasus di buku ini. Pengolahan air limbah ditetapkan
sebagai suatu sumber dampak yang efluennya dapat
mempengaruhi kualitas air sungai Kumering di dekatnya.

Mempelajari Sumber Dampak

Estimasi Dengan Kesetimbangan Massa


Pendekatan estimasi dengan keseimbangan massa
merupakan pendekatan yang secara ilmiah sangat dapat
dipertanggungjawabkan. Hubungan antara jenis dan
sekala kegiatan dengan jenis dan jumlah polutan akan
ditampilkan secara jelas. Oleh karena itu, pendekatan ini
membutuhkan informasi yang sangat lengkap tentang
karakteristik kegiatan.
Uraian mengenai teknologi,
proses, bahan, durasi, dan output kegiatan harus anda
ketahui dengan lengkap termasuk pembuatan neraca
air. Perlu diwaspadai bahwa pendekatan estimasi dengan
keseimbangan massa ini dapat saja menghasilkan polutan
yang konsentrasinya ternyata melebihi BME.

POLA PEMUNCULAN POLUTAN


Pola pemunculan polutan ditunjukkan oleh a) waktu
pemunculannya, b) durasi pemunculannya, dan c)
kontinuitas pemunculannya. Ketiga hal tersebut akan
sangat berpengaruh terhadap pola penyebaran polutan
dan sifat dampak yang ditimbulkannya.

Durasi pemunculan polutan; atau lamanya rentang


waktu suatu polutan akan timbul. Durasi pemunculan
polutan sudah tentu akan mempengaruhi jumlah polutan.
Semakin lama durasi sumber dampak, semakin banyak
juga polutan yang dihasilkan. Durasi pemunculan polutan
juga hampir selalu mengikuti durasi keberadaan sumber
dampak. Informasi durasi pemunculan polutan juga
dibutuhkan sebagai salah satu bahan pertimbangan
saat anda melakukan penilaian penting tidaknya suatu
dampak.
Kontinuitas pemunculan polutan; atau kontinyu tidaknya
suatu polutan akan timbul. Kontinuitas pemunculan
polutan akan mempengaruhi pola penyebaran polutan.
Sebagai contoh, polutan organik dari sumber kawasan
permukiman akan memiliki pola penyebaran yang
berbeda dengan polutan organik dari sumber pabrik
yang beroperasi secara kontinyu. Kontinuitas pemunculan
sumber dampak tentunya juga mempengaruhi potensi
dampak yang dapat ditimbulkannya. Buangan polutan
yang tidak kontinyu seringkali dianggap memiliki potensi
dampak yang lebih kecil dibandingkan buangan polutan
yang kontinyu.

Foto: Riza

Waktu pemunculan polutan; atau saat suatu polutan


akan timbul. Waktu pemunculan ini akan mempengaruhi
pola penyebaran polutan. Polutan yang timbul di musim
hujan umumnya akan tersebar lebih cepat dan lebih jauh
dibandingkan polutan yang timbul di musim kering.
Munculnya polutan hampir selalu mengikuti waktu
keberadaan sumber dampak. Saat sumber dampak

berhenti, tidak lama kemudian biasanya polutan juga


terhenti. Informasi mengenai waktu pemunculan polutan
juga sangat dibutuhkan dalam memastikan apakah
sumber-sumber dampak yang ada di suatu rencana
kegiatan dapat dianggap sebagai sumber majemuk
(multiple source).

Untuk sumber dampak berupa run-off


permukaan (misalnya limpasan stockpile area, area parkir), polutan akan
muncul tidak kontinyu. Polutan hanya
akan muncul saat hujan turun. Informasi
mengenai pemunculan polutan sangat
penting untuk diperoleh agar semua pihak
dapat memahami karakteristik dampak
yang akan terjadi dan merencanakan
pengelolaan dampak yang efektif.

25

26

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Mengenali Obyek Penerima Dampak

Tahap 2

MENGENALI OBYEK
PENERIMA DAMPAK
MENGENALI BADAN AIR
KONDISI GEOGRAFIS
KARAKTERISTIK AIR
PEMANFAATAN AIR
PERMASALAHAN SPESIFIK
MEMBATASI WILAYAH STUDI
PENDEKATAN LOGIS
KESEPAKATAN UMUM
IDENTIFIKASI OBYEK PENERIMA DAMPAK
SUMBER INFORMASI
LOKASI OBYEK PENERIMA DAMPAK
INFORMASI PELENGKAP

28
28
28
29
29
30
30
30
31
32
32
32

Bagian ini akan menguraikan tahap kedua dari proses prakiraan dampak kualitas
air permukaan, yaitu Mengenali Obyek Penerima Dampak. Tahap ini terdiri dari
3 (tiga) langkah kerja, yaitu 1) mengenali badan air, 2) membatasi wilayah studi,
dan 3) identifikasi obyek penerima dampak. Setelah sumber-sumber dampak
teridentifikasi di tahap sebelumnya, anda akan mengidentifikasi obyek-obyek
penerima dampak di wilayah studi yang sudah disepakati. Tahap ini juga masih
merupakan bagian dari proses pelingkupan (scoping) yang hasilnya dicantumkan
dalam dokumen Kerangka Acuan ANDAL (KA-ANDAL).
Foto: Riza

27

MENGENALI BADAN AIR


Pengenalan badan air di tahap ini biasanya tidak
perlu dilakukan secara mendalam. Anda hanya perlu
mendapatkan informasi awal yang akan membantu anda
dalam mengidentifikasi obyek-obyek yang diduga akan
terkena dampak. Data sekunderpun seringkali cukup
memadai. Hal-hal yang perlu anda kenali dari badan air
di tahap ini hanyalah kondisi geografis, pemanfaatan dan
mutu air, dan permasalahan spesifik yang dialami badan
air tersebut. Berikut ini adalah uraiannya.

KONDISI GEOGRAFIS
Dari peta atau foto udara, anda dapat mengenali kondisi
geografis dari sungai atau danau. Untuk suatu sungai,
anda perlu mengenali posisi hulu (mata air), denah sungai,
badan air utama, anak sungai, dan posisi hilir atau muara
sungai tersebut. Untuk danau, anda perlu mengenali posisi
sumber air, bentuk danau, dan posisi saluran keluar dari
danau tersebut. Dimensi sungai atau danau juga dapat
diperkirakan dari peta tersebut, asalkan peta tersebut
menggunakan skala yang tepat.

KARAKTERISTIK AIR
Di dalam tahapan pelingkupan, informasi karakteristik air
sangat dibutuhkan untuk penseleksian polutan penting
(lihat bahasan terkait di bab selanjutnya). Dari kondisi
mutu air saat ini, anda dapat menentukan jenis polutan
mana yang sangat perlu diperhatikan dalam kajian ANDAL.
Selain untuk penseleksian polutan penting, informasi
debit air dibutuhkan juga untuk pembatasan wilayah studi
kajian ANDAL (lihat bahasan terkait). Semakin tinggi debit
air, semakin tinggi kecepatan air, maka semakin jauh juga
batas wilayah studi.
Informasi mengenai kondisi umum mutu air juga dapat
mengindikasikan banyak tidaknya kegiatan yang saat
ini masih memanfaatkan badan air tersebut. Air yang
mutunya baik pasti lebih banyak dimanfaatkan daripada
air yang mutunya buruk.

Informasi karakteristik air dapat anda peroleh dari


laporan-laporan pemantauan yang dilakukan instansi
lingkungan setempat. Anda juga dapat memperoleh
Kondisi geografis sungai seringkali akan lebih informatif
informasi dari beberapa kegiatan di sekitar badan air yang
jika dapat ditampilkan sebagai suatu skema aliran.
juga melakukan pemantauan mutu
dan debit air. Laporan pelaksanaan
Skema aliran sungai dibuat agar
RKL-RPL
dari
kegiatan-kegiatan
lebih mudah mengenali kondisi
suatu sungai. Skema aliran
tersebut biasanya memuat data yang
sebaiknya menunjukkan posisi
hulu (mata air), belokan dan
anda butuhkan. Dari dokumen atau
Muara
Sungai
Hulu
patahan sungai, bentang utama
Segmen
laporan yang ada, anda akan dapat
sungai berikut anak sungai, dan
muara sungai. Skema aliran dapat
memperoleh informasi mengenai
dilengkapi dengan jarak tiap ruas
dan segmen sungai, nama sungai
kedalaman dasar, tinggi muka air, dan
dan anaknya, dimensi sungai, dan
lainnya.
sebagainya. Untuk beberapa DAS,
Ruas
penamaan segmentasi sungai telah
dibuat berdasarkan batas wilayah
adminstratif dimana sungai itu
mengalir.

28

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Foto: Badruddin Machbub

Mengenali Obyek Penerima Dampak

Keberadaan keramba seringkali mendatangkan permasalahan tersendiri di suatu danau atau waduk. Aktivitas di suatu keramba umumnya
akan menghasilkan limbah bangkai hewan air. Dalam jumlah yang banyak, limbah bangkai ini dapat menurunkan tingkat dissolved oxygen
badan air.

PEMANFAATAN AIR
Informasi pemanfaatan badan air dibutuhkan untuk
mengidentifikasi obyek-obyek yang diduga akan terkena
dampak. Termasuk juga untuk mencari obyek-obyek noninstitusional, seperti usaha budidaya ikan skala kecil, sarana
mandi cuci kakus, kegiatan berbasis masyarakat lain yang
memanfaatkan badan air. Informasi pemanfaatan badan
air dapat diperoleh dari dokumen atau laporan kantor
pemerintah setempat. Misalnya, dari dinas pengairan,
instansi lingkungan, atau kantor-kantor kelurahan
setempat. Jika tidak tersedia, anda dapat mengupayakan
perolehan informasi dari masyarakat setempat. Informasi
pemanfaatan badan air juga akan membantu anda
nantinya dalam menentukan batas wilayah studi (lihat
bahasan berikutnya).

PERMASALAHAN SPESIFIK

pemanfaatannya.
Permasalahan
alamiah
dapat
menyangkut fluktuasi debit dan kualitas air yang ekstrim,
ledakan pertumbuhan tanaman air, keberadaan hewan
langka, dan sebagainya. Permasalahan pemanfaatan
dapat menyangkut rusaknya kondisi morfologis badan
air akibat penggalian pasir, buruknya kualitas air akibat
pembuangan air limbah, menurunnya jumlah ikan
akibat kegiatan penangkapan ikan yang berlebihan, dan
sebagainya.
Salah satu sumber informasi mengenai permasalahan
spesifik adalah masyarakat sekitar. Apalagi kelompok
masyarakat yang dalam kesehariannya memang
memanfaatkan keberadaan sungai atau danau tersebut.
Selain untuk kepentingan identifikasi obyek terkena
dampak, informasi mengenai permasalahan spesifik ini
sangat dibutuhkan untuk kepentingan evaluasi dampak.
Khususnya menyangkut evaluasi terhadap dampak
kumulatif.

Tiap sungai atau danau memiliki permasalahan spesifik


yang ditimbulkan akibat kondisi alamiah maupun

29

MEMBATASI WILAYAH STUDI


Wilayah studi perlu dibatasi agar proses prakiraan dampak
dapat berlangsung lebih efisien. Setelah itu, hanya
komponen atau obyek lingkungan yang ada dalam wilayah
tersebut yang perlu anda prakirakan keterpengaruhannya.
Dalam konteks pelingkupan (scoping), wilayah studi
merupakan wilayah dugaan awal dari sebaran dampak.
Wilayah studi prakiraan dampak harus mengikuti 1)
kondisi geografis (bentuk, dimensi, gradien kemiringan/
kelerengan, keberadaan anak sungai) badan air karena
polutan akan bergerak bersama aliran air mengikuti
bentukan geografis badan air, 2) topografi Daerah Aliran
sungai (DAS), dan 3) batas ekologis yang dapat dilihat
dari keberadaan unsur-unsur ekosistemnya dan termasuk
obyek-obyek penerima dampak. Hal lain yang perlu
diperhatikan adalah pertimbangan boundary conditions
yang dibutuhkan oleh software pemodelan pencemaran
jika kita ingin menggunakannya.

Secara umum, jauh dekatnya batas wilayah studi sangat


dipengaruhi oleh karakteristik aliran air. Khususnya
menyangkut kecepatan aliran air. Semakin tinggi
kecepatan aliran maka semakin jauh juga batas wilayah
studi. Demikian juga dengan jumlah polutan. Semakin
tinggi jumlah polutan semakin jauh juga batas wilayah
studi.
Wilayah studi juga harus mencakup kegiatan-kegiatan
penting yang turut memanfaatkan badan air terutama jika
berpengaruh langsung terhadap kesehatan masyarakat.

KESEPAKATAN UMUM

PENDEKATAN LOGIS

Batas terjauh dari suatu wilayah studi akan lebih mudah


ditentukan jika instansi lingkungan sudah memiliki
kesepakatan umum tentang hal tersebut. Ada baiknya
kesepakatan umum batas terjauh ini diberlakukan untuk
suatu sungai yang sangat panjang atau danau yang sangat
besar. Sebagai panduan awal untuk penentuan batas
wilayah studi dapat digunakan angka:
Untuk sungai besar, jarak 5 kilometer arah hilir dari
lokasi sumber dampak.
Untuk danau atau waduk besar, radius 1 kilometer
menjauh dari lokasi sumber dampak.
Untuk danau dan waduk kecil atau sedang, jarak
mencapai ke lokasi outletnya.

Batas terjauh dari suatu wilayah studi ditentukan setelah


anda mempertimbangkan a) kondisi geografis badan air,
b) karakteristik aliran, c) lokasi pemanfaatan badan air, dan
d) jumlah polutan. Selain itu, aspek pembagian wilayah
administratif juga terkadang perlu dipertimbangkan
dalam penentuan batas wilayah studi.

Pembatasan wilayah studi merupakan suatu proses iteratif


(dapat ulang) dan saintifik (berdasarkan sains). Namun
demikian, pada akhirnya, walau ditentukan berdasarkan
kesepakatan umum dan dengan menggunakan
pendekatan logis, suatu wilayah studi prakiraan dampak
harus disetujui oleh Komisi Penilai AMDAL.

Batas terjauh wilayah studi - lokasi dimana sebaran


polutan sudah mencapai jumlah yang dianggap tidak
lagi berpengaruh terhadap lingkungan sekitar dapat
ditentukan dengan beberapa cara. Walau tidak ideal, 2
(dua) cara di antaranya adalah berdasarkan 1) pendekatan
logis, dan 2) kesepakatan umum. Berikut adalah uraianya.

30

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Mengenali Obyek Penerima Dampak

IDENTIFIKASI OBYEK PENERIMA DAMPAK


Langkah ini bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai
komponen lingkungan atau obyek di dalam wilayah studi
yang dapat terkena dampak lanjutan dari berubahnya
kualitas air permukaan. Obyek-obyek penerima dampak
(sensitive receptor) dapat merupakan obyek biotik maupun
obyek abiotik. Obyek-obyek tersebut akan lebih mudah
diidentifikasi jika jenis dampak lanjutan dari keberadaan
suatu polutan juga sudah diketahui.
Identifikasi obyek penerima dampak harus dilakukan
dengan cermat dan lengkap. Beberapa jenis obyek
penerima dampak yang perlu diperhatikan adalah:
Kawasan permukiman dimana banyak aktivitas
domestik yang melibatkan badan air.
Instalasi pengolahan air yang memanfaatkan badan
air sebagai sumber air baku.
Kegiatan budidaya perikanan, baik yang langsung

dilakukan di badan air maupun di daratan.


Kegiatan pertanian atau perkebunan,
Kegiatan rekreasi air, baik yang langsung dilakukan di
badan air maupun tidak.
Pelabuhan atau tempat tambatan kapal.
Fasilitas khusus, seperti rumah ibadah, rumah sakit,
dan sekolah yang berada di sekitar badan air.
Tumbuhan dan hewan air.

Perlu diingat bahwa satu jenis polutan sangat mungkin


akan mempengaruhi beberapa obyek sekaligus. Tidak
hanya mempengaruhi obyek-obyek yang sejenis tetapi
juga obyek yang berbeda. Misalnya, peningkatan
konsentrasi padatan tersuspensi di air kemungkinan besar
dapat mempengaruhi ikan, manusia, dan tanaman yang
berada di sekitarnya.

Foto: Deasy

Instalasi pengolahan air bersih merupakan salah satu jenis obyek penerima dampak yang perlu dicermati. Contoh obyek-obyek penerima
dampak lainnya adalah kawasan permukiman, lahan budidaya (pertanian, perkebunan, perternakan), industri, hotel atau tempat penginapan
lainnya, obyek wisata, rumah sakit, tumbuhan dan hewan air.

31

Prakiraan dampak kualitas air permukaan juga seringkali


dilakukan untuk waktu prakiraan yang jauh ke depan.
Misalnya, untuk waktu 5 tahun dari sekarang di saat suatu
pabrik kertas baru mulai dapat dioperasikan. Obyek-obyek
yang ada 5 tahun mendatang mungkin sekali berbeda
dengan obyek-obyek yang ada saat ini. Mungkin saja
nantinya akan ada kawasan permukiman baru atau rumah
sakit baru di dekat rencana kegiatan kita.

SUMBER INFORMASI
Obyek-obyek penerima dampak dapat teridentifikasi
dengan mengamati peta-peta wilayah yang mencakup
wilayah studi anda. Salah satunya adalah peta tataguna
lahan yang menunjukkan keberadaan kawasan
permukiman, perkebunan, persawahan, kawasan industri,
bandara, pelabuhan laut, tempat wisata, dan lain-lainnya.
Biasanya peta berskala 1:10.000 sudah cukup dapat
diandalkan.
Sumber informasi lain yang cukup baik adalah laporan
status kondisi wilayah yang dibuat oleh kantor kelurahan
atau kecamatan setempat. Laporan-laporan demikian
biasanya bersifat tahunan. Informasi yang ada di dalamnya
cukup lengkap. Selain data demografi, informasi geografis
dan lingkungan biasanya juga tersedia.
Ada baiknya, dalam proses konsultasi masyarakat di tahap
pelingkupan ini, anda juga menanyakan ke masyarakat
sekitar tentang keberadaan suatu jenis obyek yang
dikhawatirkan dapat terpengaruh oleh penurunan kualitas
air nantinya. Masyarakat setempat merupakan sumber
informasi yang dapat diandalkan. Mereka biasanya
memiliki pengetahuan lebih akurat tentang keberadaan
obyek-obyek di sekitar tempat tinggalnya.
Keberadaan rencana obyek-obyek baru di masa datang
dapat diperoleh dari instansi perencanaan pembangunan
atau penanaman modal di suatu daerah. Dokumen

32

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

rencana perkembangan wilayah dan peta rencana umum


tataruang juga dapat membantu.

LOKASI OBYEK PENERIMA DAMPAK


Obyek-obyek penerima dampak yang teridentifikasi
perlu dilengkapi dengan informasi mengenai lokasi dan
elevasi-nya. Sama halnya dengan lokasi sumber dampak,
lokasi obyek penerima dampak dapat dinyatakan dalam
sistem koordinat Cartesian. Kesamaan sistem koordinat
antara lokasi sumber dampak dan obyek penerima
dampak akan mempermudah kita saat ingin menghitung
jarak antara obyek tersebut dengan sumber dampaknya.
Lokasi obyek juga dapat dinyatakan dalam sistem grid jika
obyek tersebut merupakan obyek wilayah seperti lahan
pertanian, danau, atau kawasan permukiman.

INFORMASI PELENGKAP
Informasi lain yang juga dibutuhkan adalah:
Besaran obyek; Misalnya luas lahan untuk obyek
wilayah, jumlah penduduk di suatu permukiman, atau
jumlah bangunan di suatu perkampungan. Informasi
besaran obyek ini seringkali dibutuhkan sebagai
salah satu bahan pertimbangan saat kita melakukan
penilaian sifat penting dampak.
Waktu keberadaan obyek; Biasanya dinyatakan
dalam tahun dimana suatu obyek ada. Hal ini sangat
penting khususnya jika obyek kita merupakan obyek
masa datang. Dengan kata lain, obyek itu belum ada
saat kajian AMDAL dilakukan.
Informasi pelengkap lainnya adalah nama atau identitas
dari suatu obyek penerima dampak. Misalnya, nama
kompleks permukiman, nama bangunan, nama obyek
wisata. Pencantuman identitas ini dibutuhkan guna
mencegah kesalahpahaman dalam proses prakiraan
dampak.

Mengenali Obyek Penerima Dampak

Contoh Kasus

MENGENALI OBYEK PENERIMA DAMPAK


IPAL Industri pulp direncanakan akan membuang efluennya ke sungai Kumering. Setelah batas wilayah studi ditentukan,
beberapa obyek penerima dampak di dalam wilayah studi tersebut diidentifikasi. Dua di antara obyek-obyek tersebut
yang dianggap penting untuk kemudian dikaji dalam ANDAL adalah 1) area pemancingan di dekat kawasan permukiman,
dan 2) titik pengambilan air baku instalasi air bersih.

Ilustrasi ini menunjukkan


kedua obyek obyek penerima
dampak yang ada di hilir
lokasi sumber dampak.

Area Pemancingan

Sumber dampak

Ilustrasi: Toppeak

Pengambilan air baku

Berikut ini adalah denah dari keberadaan sumber dampak dan obyek-obyek penerima dampak yang dibuat untuk
mempermudah kepentingan simulasi penyebaran polutan.

Sungai Kerinci

Area
Pemancingan
Sungai Kumering

Sumber dampak
Pengambilan
air baku

10

15

20

25

30

Km

Informasi lebih lanjut mengenai kedua obyek tersebut dapat dilihat pada tabel berikut
Informasi Obyek Penerima Dampak
Obyek Penerima Dampak

Jarak dari Sumber Dampak

Besaran Obyek

Area Pemancingan

15 km

500 meter

Pengambilan Air Baku

20 km

800 liter per detik

33

34

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Mempertajam Lingkup Prakiraan Dampak

Tahap 3

MEMPERTAJAM LINGKUP
PRAKIRAAN DAMPAK
MENSELEKSI POLUTAN PENTING
PERTIMBANGAN DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN
PERTIMBANGAN PENDAPAT AHLI
ASPEK KEKHAWATIRAN MASYARAKAT
MENENTUKAN WAKTU & SKENARIO PRAKIRAAN
WAKTU PRAKIRAAN
SKENARIO PRAKIRAAN
SIFAT PENTING DAMPAK

36
36
36
38
39
39
39
39

Bagian ini akan menguraikan tahap ketiga dari proses prakiraan dampak kualitas
air permukaan, yaitu Mempertajam Lingkup Dampak. Tahap ini terdiri dari 2
(dua) langkah kerja, yaitu 1) seleksi polutan penting dan 2) menentukan waktu
prakiraan. Sebagian tugas pelingkupan anda sudah selesai saat berbagai sumber
dampak dan obyek sensitif teridentifikasi. Di tahap ini, anda akan melengkapi
pelingkupan anda dengan mempertajam arah (focussing) dari prakiraan dampak
yang akan anda lakukan. Di akhir tahap ini anda akan memiliki dampak penting
hipotetik yang sangat fokus dan arah prakiraan dampak yang spesifik.

Foto: Riza

35

MENSELEKSI POLUTAN
PENTING
Tidak semua polutan yang dibuang ke badan air
permukaan dapat menimbulkan dampak penting. Jika
jumlah polutannya sedikit dan durasi pemunculannya
singkat, suatu polutan kemungkinan besar tidak akan
mempengaruhi kualitas air sampai ke tingkat yang
signifikan.
Misalnya, sampai membuat kualitas air
melampaui nilai Baku Mutu Air. Untuk alasan efisiensi,
prakiraan dampak dari polutan yang jumlahnya sedikit
tidak selalu perlu dilakukan. Lebih baik memusatkan
perhatian pada prakiraan dampak dari polutan yang
jumlahnya banyak dan berpengaruh. Anda dapat
menyebut polutan yang perlu diprakiraan dampaknya
sebagai polutan penting.
Polutan penting diseleksi dengan mempertimbangkan
berbagai hal, yaitu seperti pertimbangan daya tampung
beban pencemaran air, pertimbangan pendapat ahli
(expert judgement), dan juga pertimbangan kekhawatiran
masyarakat. Berikut adalah uraiannya.

PERTIMBANGAN DAYA TAMPUNG BEBAN


PENCEMARAN
Pada prinsipnya, polutan penting (yang perlu
diprakirakan dampaknya) adalah polutan yang jumlahnya
dikhawatirkan dapat menyebabkan daya tampung beban
pencemaran terlampaui. Anda dapat mengetahui polutan
penting setelah membandingkan data hasil pemantauan
sungai dengan nilai kriteria mutu air dari sungai tersebut.
Jika jenis polutan anda sama dengan jenis polutan yang
nilainya sudah kritis (mendekati nilai kriteria mutu air)
maka polutan tersebut harus menjadi polutan penting
atau polutan yang perlu diprakirakan. Sedangkan, jika
ada polutan yang dihasilkan oleh suatu rencana kegiatan

36

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

kondisinya di badan air masih sangat aman (jauh dari


nilai kritis), maka dapat dipertimbangkan untuk tidak
menseleksi polutan tersebut sebagai polutan penting
(lihat boks Seleksi Polutan Penting).
Seleksi polutan penting akan lebih mudah jika pemerintah
setempat sudah mengeluarkan nilai kriteria batas polutan
penting bagi tiap badan air di wilayahnya. Suatu polutan
wajib diprakirakan dampaknya jika jumlah polutannya
melebihi nilai yang ada dalam kriteria tersebut.
Kriteria batas polutan penting ditentukan dengan
mempertimbangkan daya tampung beban pencemaran
air dari suatu badan air terhadap polutan-polutan yang
akan diterimanya.
Sesuai aturan yang berlaku, daya tampung beban
pencemaran air didefinisikan sebagai kemampuan air
pada suatu sumber air untuk menerima masukan beban
pencemaran tanpa mengakibatkan air tersebut menjadi
cemar. Untuk kepentingan pengamanan badan air, nilai
kriteria batas polutan penting sebaiknya lebih kecil dari
nilai daya tampung beban pencemarannya.

PERTIMBANGAN PENDAPAT AHLI


Pendapat ahli (expert judgement) sangat layak untuk
dipertimbangkan dalam penseleksian polutan penting.
Khususnya jika anda tidak memiliki cukup data untuk
melakukan perhitungan matematis sebagaimana yang
dilakukan dalam pertimbangan daya tampung beban
pencemaran. Di awal pengerjaan AMDAL, khususnya saat
pelingkupan (scoping), anda memang seringkali belum
memiliki data yang cukup.

Mempertajam Lingkup Prakiraan Dampak

Contoh Kasus

SELEKSI POLUTAN PENTING


Sungai Kumering merupakan sungai yang ditetapkan sebagai sungai dengan kriteria mutu air kelas 2. Data pemantauan
sungai yang dimiliki instansi lingkungan setempat menunjukkan bahwa sungai Kumering (debit 3.000.000 m3/hari) saat ini
memiliki karakteristik sebagai berikut (tabel kiri):

Parameter

Satuan

Data Hasil
Pemantauan

Nilai Kriteria Mutu


Air Kelas 2

FISIKA
Temperatur

30

deviasi 3

Residu Terlarut

mg/ L

235

1000

Residu Tersuspensi

mg/L

150

50

6-9

BOD

mg/L

2.5

COD

mg/L

20

25

KIMIA ANORGANIK
pH

DO

mg/L

3,4

NO3 sebagai N

mg/L

1,3

10

NH3-N

mg/L

0,03

(-)

Arsen

mg/L

0,137

Barium

mg/L

0,027

(-)

Selenium

mg/L

0,012

0,05

Kadmium

mg/L

0,005

0,01

Khrom (VI)

mg/L

0,01

0,05
0,02

Tembaga

mg/L

0,01

Besi

mg/L

1,26

(-)

Timbal

mg/L

0,12

0,03

Mangan

mg/L

0,08

(-)

Air Raksa

mg/L

0,001

0,002

Seng

mg/L

0,04

0,05

Khlorida

mg/l

76

(-)

Fluorida

mg/L

0,07

1,5

Nitrit sebagai N

mg/L

0,02

0,06

2.000

5.000

120

1.000

Jika dibandingkan dengan nilai-nilai parameter


yang ada di kriteria mutu air kelas 2 (tabel kanan),
maka dapat diidentifikasi bahwa parameter kritis
di sungai Kumering tersebut adalah (lingkaran
merah): BOD, COD, DO, dan Seng.
Sebagaimana tercantum dalam baku mutu
limbah cairnya, rencana industri pulp hanya
perlu memperhatikan 3 jenis parameter saja
(BOD, COD, dan TSS). Oleh karena itu, setelah
membandingkannya dengan jenis parameter
kritis sungai Kumering maka polutan penting dari
rencana industri pulp adalah: BOD dan COD.
TSS tidak perlu diprakirakan mengingat 1)
kandungan TSS di efluen IPAL nantinya masih
memenuhi baku mutu limbah cair, dan 2) kondisi
TSS di sungai Kumering masih jauh lebih baik
dibanding nilai kriterianya.
Tabel di bawah menunjukkan rangkuman
dari polutan penting yang akan diprakirakan
dampaknya.

Rangkuman Polutan Penting


Polutan Penting

Konsentrasi Efluen

Jumlah Polutan

BOD

100 mg/L

6 ton per hari

COD

350 mg/L

21 ton per hari

MIKROBIOLOGI
Total coliform

jml/100 ml

KIMIA ORGANIK
Minyak dan Lemak

ug /L

37

Seorang ahli dalam memberikan pendapatnya biasanya


sudah memperhatikan banyak hal, termasuk di antaranya
aspek ilmu pengetahuan dan teknologi, pengalaman
kegiatan serupa, dan peraturan-perundangan yang
berlaku. Dasar pertimbangan ahli dalam menentukan
polutan penting yang perlu diprakirakan harus
disampaikan kepada Komisi Penilai AMDAL agar dapat
dipahami.

ASPEK KEKHAWATIRAN MASYARAKAT


Kekhawatiran masyarakat terhadap keberadaan suatu
polutan perlu sekali anda perhatikan. Anda sebaiknya
tidak langsung mengabaikan kekhawatiran masyarakat

tersebut walau polutan yang dikhawatirkan sebenarnya


memiliki jumlah yang sangat sedikit. Sesuai aturan
Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi
dalam proses AMDAL (Kepka Bapedal No. 08 Tahun
2000), anda diharuskan memperhatikan tanggapan dan
masukan masyarakat.
Ada baiknya anda selalu membandingkan jenis-jenis
polutan yang dikhawatirkan masyarakat dengan hasil
pertimbangan daya tampung beban pencemaran
atau pendekatan pertimbangan ahli. Bukannya tidak
mungkin, polutan yang dikhawatirkan masyarakat juga
merupakan polutan penting yang ditentukan dengan ke-2
pertimbangan lainnya.

Contoh Kasus

KOMPONEN DAMPAK PENTING HIPOTETIK


Pada contoh kasus Industri Pulp, suatu dampak penting hipotetik perlu menyebutkan informasi sebagaimana
tecantum dalam tabel berikut.
SUMBER DAMPAK

OBYEK PENERIMA DAMPAK 1

Nama sumber dampak

Efluen IPAL

Nama obyek

Area pemancingan

Skala sumber dampak

Debit = 60.000 m3/hari

Lokasi obyek

Jarak 15 km

Lokasi sumber dampak

Tepi sungai Kumering

Besaran obyek

Lebar 500 meter

Waktu keberadaan

Tahap operasi

Waktu keberadaan obyek

Sudah ada

Jenis polutan

Senyawa Organik

Parameter polutan

BOD dan COD

Jumlah polutan

BOD = 6 ton/hari,
COD = 21 ton/hari

OBYEK PENERIMA DAMPAK 2


Nama obyek

Pengambilan air baku


Jarak 20 km

Durasi pemunculan

Selama masa operasi

Lokasi obyek

Kontinuitas pemunculan

Kontinyu

Besaran obyek

800 liter per-detik

Waktu keberadaan obyek

Sudah ada

Sebagai informasi pelengkap,


batasan prakiraan dampak juga
perlu disebutkan sebagai mana
di tabel berikut.

38

PRAKIRAAN DAMPAK
Waktu prakiraan

Pengambilan air baku

Metode prakiraan

Matematis

Skenario prakiraan

Terburuk

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Mempertajam Lingkup Prakiraan Dampak

MENENTUKAN WAKTU
& SKENARIO PRAKIRAAN
Dengan terpilihnya polutan penting dan obyekobyek sensitif yang terpengaruh, anda sekarang dapat
menuliskan komponen-komponen suatu dampak penting
hipotetik dengan lengkap (lihat Boks Komponen Dampak
Penting Hipotetik). Walau demikian, untuk melakukan
prakiraan dampak dengan baik, anda perlu menentukan
waktu prakiraan dan skenario prakiraan dampak. Berikut
adalah uraiannya.

WAKTU PRAKIRAAN
Waktu prakiraan merupakan waktu yang dampak dan
kondisi lingkungannya ingin anda prakirakan. Jika anda
menyebut waktu prakiraan anda adalah tahun 2020,
artinya anda akan melakukan prakiraan dampak dan
kondisi kualitas air yang akan terjadi di tahun 2020. Hasil
prakiraan dampak nantinya hanya berlaku spesifik untuk
waktu-waktu prakiraan tersebut saja.
Waktu prakiraan ditentukan dengan mempertimbangkan:
Waktu keberadaan sumber dampak, atau waktu
dimulainya kelangsungan komponen kegiatan yang
tergolong sebagai sumber dampak (lihat bahasan
Identifikasi Sumber Dampak),
Waktu munculnya obyek sensitif baru yang dapat
terpengaruh oleh sebaran polutan (lihat bahasan
Identifikasi Obyek Penerima Dampak), dan
Waktu diberlakukannya suatu kebijakan baru yang
dapat mempengaruhi penilaian sifat penting dampak,
seperti pemberlakuan baku mutu air baru.
Pola pemunculan polutan juga perlu dipertimbangkan
dalam penentuan waktu prakiraan. Waktu, durasi, dan
kontinuitas pemunculan polutan sangat mempengaruhi
waktu dan sifat dari perubahan kualitas air akan terjadi.

SKENARIO PRAKIRAAN
Skenario prakiraan ditentukan berdasarkan tujuan
pengambilan keputusan dalam AMDAL (lihat bahasan
mengenai Prakiraan Dampak Dalam AMDAL).
Umumnya, prakiraan dampak perlu dilakukan untuk kasus
terburuk (worst-case scenario) dan kasus paling mungkin
terjadi (most-likely case scenario) yang menggunakan data
yang berbeda. Pada kondisi terburuk, skenario didasarkan
pada jenis kegiatan. Misalnya kasus efluen IPAL, worst-case
scenario didasarkan pada 1) debit IPAL dan konsentrasi
polutan maksimal (MMAX) dan 2) debit sungai minimal
(QMIN) atau volume danau minimal (VolMIN). Untuk kasus
pembukaan lahan, worst-case scenario didasarkan pada
1) luas lahan yang dibuka dan 2) debit hujan maksimum.
Pada most-likely case scenario, penentuannya didasarkan
pada 1) jumlah polutan rata-rata (MAVE) dan 2) debit air
sungai rata-rata (QAVE) atau volume air danau rata-rata
(VolAVE). Pilihan skenario prakiraan perlu dicantumkan di
output hasil prakiraan dampak.

SIFAT PENTING DAMPAK


Hasil prakiraan dampak akan dinilai sifat pentingnya
berdasarkan suatu kriteria. Menurut peraturan yang
berlaku, ada 6 (enam) kriteria yang bisa digunakan, yaitu 1)
jumlah manusia yang akan terkena dampak, 2) luas wilayah
persebaran dampak, 3) intensitas dan lamanya dampak
berlangsung, 4) banyaknya komponen lingkungan
lainnya yang terkena dampak, 5) sifat kumulatif dampak,
6) berbalik atau tidak berbaliknya dampak. Walau tidak
diwajibkan dalam tahap pelingkupan, ada baiknya anda
memperjelas ke-enam kriteria sifat penting dampak
tersebut sesuai dengan kebutuhan prakiraan dampak
spesifik anda

39

40

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Mencermati Wilayah Kajian

Tahap 4

MENCERMATI
WILAYAH KAJIAN
MEMPELAJARI BADAN AIR
MORFOLOGI
OBYEK DALAM BADAN AIR
VARIASI ALIRAN
MENGUKUR RONA AWAL
PARAMETER SASARAN
PENGAMBILAN SAMPEL
Lokasi Pengambilan Sampel
Waktu Pengambilan Sampel
MENGATASI KETERBATASAN DATA
MENCERMATI KONDISI SEKITAR
OBYEK BERPENGARUH
KLIMATOLOGI

42
42
42
43
44
44
44
44
44
45
46
46
47

Bagian ini menguraikan tahap keempat dari proses prakiraan dampak kualitas
air permukaan, yaitu Mencermati Wilayah Kajian. Tahap ini terdiri dari 3 (tiga)
langkah kerja, yaitu 1) mempelajari badan air, 2) mengukur rona awal, dan 3)
mencermati kondisi sekitar. Di tahap ini, anda akan mengumpulkan berbagai
informasi rinci yang dibutuhkan untuk pemodelan sebaran polutan, misalnya
kecepatan air dan obyek-obyek yang berpengaruh. Anda seringkali perlu
mengumpulkan data primer untuk mendapatkan informasi tersebut. Tahap ini
sudah merupakan bagian dari proses analisis dampak lingkungan yang hasilnya
dicantumkan dalam dokumen ANDAL.
Foto: Riza

41

MEMPELAJARI BADAN AIR


Simulasi penyebaran polutan membutuhkan informasi
yang aktual dan rinci, khususnya menyangkut kondisi
morfologi badan air dan kecepatan aliran. Demikian juga
dengan informasi mengenai keberadaan obyek-obyek di
dalam badan air yang mungkin berpengaruh terhadap
sebaran polutan. Sebagian informasi mungkin sudah anda
miliki, namun sebagian lainnya mungkin harus diperoleh
melalui upaya pengamatan dan pengukuran langsung di
lapangan.

MORFOLOGI
Informasi kondisi morfologi yang perlu anda pelajari
antara lain adalah:
Bentang badan air; termasuk informasi mengenai
keberadaan tikungan, cabangan yang akan
menghambat atau mempercepat laju aliran.
Dimensi badan air; termasuk informasi mengenai
lebar sungai atau luas permukaan danau.
Penampang badan air; termasuk informasi mengenai
variasi kedalaman sungai atau danau, baik melintang
maupun sejajar arah aliran.

A<
V>

A>
V<

Penampang sungai akan mempengaruhi kecepatan aliran air.


Semakin kecil luas penampang suatu sungai maka semakin cepat
aliran yang akan terjadi. Sebaliknya, semakin luas maka semakin
lambat aliran yang akan terjadi. Variasi penampang di suatu
sungai tentu akan menyebabkan adanya variasi kecepatan aliran
sepanjang sungai tersebut.

42

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Kontur dasar; termasuk informasi mengenai


kemiringan ekstrim, seperti lonjakan dan terjunan,
yang dapat merubah pola aliran.

Selain ke-4 hal di atas, anda juga seringkali membutuhkan


informasi mengenai permukaan dinding badan air.
Kekasaran permukaan dinding akan berpengaruh
terhadap pola aliran air, khususnya terhadap plume aliran.
Informasi kondisi morfologi dapat diperoleh dari laporan
pemantauan badan air atau hasil studi yang sudah ada.
Foto udara dan peta geografis, dengan skala yang lebih
detil, dapat diperoleh dari kantor-kantor pemerintah. Jika
belum tersedia, anda tentunya perlu melakukan observasi
dan pengukuran langsung di lapangan. Agar efisien,
pengukuran dapat dilakukan hanya di tempat-tempat
yang berpengaruh terhadap arah aliran saja. Misalnya,
pengukuran lebar sungai di lokasi-lokasi penyempitan
aliran. Pemetaan bathimetry perlu dilakukan jika anda
ingin memiliki informasi kontur dasar danau atau sungai.

OBYEK DALAM BADAN AIR


Ada beberapa obyek di dalam badan air yang dapat
mempengaruhi sebaran polutan. Misalnya tumbuhan
air yang dapat menyerap padatan, logam berat,
senyawa organik, dan lainnya. Atau, batuan di sungai
yang dapat menambah turbulensi aliran. Selain obyek
alamiah, ada juga obyek-obyek buatan manusia yang
dapat mempengaruhi pola aliran. Misalnya, bendungan
pengendali aliran, tanggul untuk mencegah limpasan
air, dan sejenisnya. Obyek-obyek berpengaruh tersebut
perlu dikenali agar simulasi penyebaran polutan dapat
dilakukan dengan lebih baik.

Mencermati Wilayah Kajian

Keberadaan obyek-obyek dalam badan air dapat dikenali


melalui survei pengamatan langsung. Sebagian obyek
dapat dikenali langsung karena keberadaannya di atas
permukaan air. Sementara itu, obyek-obyek di bawah
permukaan air seringkali perlu diidentifikasi melalui
survey penyelaman atau pemetaan bathimetry.

VARIASI ALIRAN
Debit sungai berubah dari waktu ke waktu sepanjang
tahun. Variasi debit sungai ini dengan sendirinya
menimbulkan variasi a) kecepatan aliran, b) kedalaman air,
dan c) tingkat turbulensi aliran. Informasi pola aliran air,
khususnya debit dan kecepatan aliran, selalu dibutuhkan
oleh simulasi penyebaran polutan secara matematis. Dan
untuk simulasi dengan skenario prakiraan yang berbeda,
anda juga membutuhkan informasi debit dan kecepatan
aliran dalam kondisi maksimal, minimal, dan rata-rata.
Ketinggian muka air danau juga bervariasi dari waktu
ke waktu. Variasi ketinggian muka air sebenarnya
menunjukkan volume air danau atau variasi daya tampung
danau. Untuk simulasi penyebaran polutan di danau secara
matematis, informasi volume air danau sangat penting
untuk dimiliki. Termasuk juga informasi volume air dalam
kondisi maksimal, minimal, dan rata-rata. Berbeda dengan
sungai, air danau memiliki variasi arah aliran yang sangat

dipengaruhi oleh variasi iklim setempat, seperti kecepatan


angin dan suhu udara.
Pemantauan debit di sungai atau volume air danau
seringkali dilakukan melalui pemantauan tinggi muka air.
Guna memperoleh informasi yang lengkap, pemantauan
harus dilakukan secara kontinyu, baik di musim hujan
maupun di musim kemarau. Anda dapat menggunakan
alat perekam tinggi muka air otomatik (AWLR, Automatic
Water Level Recorder) untuk memperoleh data yang lebih
kontinyu. Pengukuran manual dapat dilakukan dengan
menggunakan mistar ukur di tepi badan air.
Tingkat turbulensi air permukaan, baik di sungai maupun
di danau, akan mempengaruhi gerak dan tingkat
pencampuran polutan di dalam air. Aliran laminar - terjadi
jika air mengalir dengan kecepatan rendah - akan membuat
partikel bergerak lurus dan paralel. Pencampuran polutan
tidak akan cepat terjadi. Sementara itu, aliran turbulen
- yang terjadi jika kecepatan aliran berbeda pada bagian
atas, tengah, dan bawah aliran - akan membuat partikel
bergerak ke segala arah. Pencampuran polutan akan cepat
terjadi dalam kondisi aliran turbulen. Pada prinsipnya
memang semakin tinggi tingkat turbulensi aliran air,
polutan akan semakin tercampur. Walau demikian, sebaran
polutan tidak selalu akan semakin jauh bersamaan dengan
meningkatnya turbulensi aliran.

50
40

Debit aliran (m3/dt)

Simulasi penyebaran polutan untuk


berbagai skenario prakiraan dampak
membutuhkan informasi variasi debit yang
lengkap. Dengan informasi tersebut, debit
air maksimal, minimal, dan rata-rata akan
mudah diketahui.

Maksimal

30
Rata-rata

20
Minimal

10
0

Jan Feb Mar Apr Mei Jun

Jul

Ags Sep Okt Nov Des

43

MENGUKUR RONA AWAL


Data rona awal kualitas air sangat dibutuhkan dalam
simulasi penyebaran polutan. Misalnya dalam perhitungan
konsentrasi polutan setelah proses pencampuran di badan
air terjadi. Data rona awal kualitas air juga dibutuhkan
nantinya dalam penentuan positif-negatifnya dampak dan
sifat penting dampak. Jika data belum tersedia, anda perlu
mengukurnya sendiri.

PARAMETER SASARAN
Anda hanya perlu memperoleh data rona awal yang
relevan dengan dampak penting hipotetik anda. Data
parameter kualitas air mana yang perlu diperoleh sangat
ditentukan oleh jenis polutan penting dan obyek dampak.
Jika jenis polutan penting adalah padatan tersuspensi,
maka anda perlu memperoleh data rona awal dari
parameter TSS di air sungai. Parameter kualitas lain yang
tidak relevan, walaupun termasuk dalam BMA, tidak selalu
perlu anda peroleh data rona awalnya.
Kualitas air juga berubah dari waktu ke waktu. Banyak
hal yang mengakibatkan timbulnya variasi tersebut.
Selain dipengaruhi debit sungai atau volume air danau,
kualitas air juga dipengaruhi curah hujan, suhu udara, dan
intensitas kegiatan di sekitar badan air. Simulasi sebaran
polutan secara matematis membutuhkan variasi data rona
awal kualitas air. Nilai maksimal, minimal, dan rata-rata
dari data rona awal parameter kualitas perlu anda ketahui
untuk mendukung prakiraan dampak sesuai skenario
kondisi tersering dan kondisi terburuk.

PENGAMBILAN SAMPEL
Beberapa parameter kualitas air dapat diukur langsung
di tempat. Contohnya antara lain adalah parameter suhu,

44

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

pH, dan kekeruhan. Sementara itu, beberapa parameter


kualitas air lain, seperti BOD, COD, Nitrat, dan Fosfat, hanya
dapat diukur di laboratorium analisa. Peralatan parameterparameter tersebut terlalu kompleks untuk dibawa dan
dioperasikan di lapangan.
Sampel air dibutuhkan untuk memungkinkan
dilakukannya pengukuran parameter kualitas air di
laboratorium. Agar mendapatkan sampel air yang
representatif, pengambilan sampel (sampling) harus
dilakukan di lokasi dan waktu yang tepat. Tata cara
sampling dan pengawetan sampel harus mengacu pada
standar operasi yang benar.

Lokasi Pengambilan Sampel


Sampling perlu dilakukan di lokasi-lokasi objek dampak
yang sudah disebutkan dalam dampak penting hipotetik.
Lokasi sampling harus dapat mewakili (representatif)
kondisi badan air permukaan. Untuk sampel komposit,
sampling harus dilakukan di beberapa lokasi yang
secara kolektif mampu mewakili variasi kondisi badan
air. Dalam menentukan lokasi sampling, anda juga perlu
mempertimbangkan aksesibilitas lokasi sampling.

Waktu Pengambilan Sampel


Sampling perlu dilakukan di waktu yang tepat dan
sesuai dengan tujuan pengukuran rona awal. Untuk
mendapatkan data variasi kualitas air yang sesuai tujuan,
anda perlu memperhatikan rentang waktu dan jeda
waktu sampling. Sampling di saat hujan dan di saat kering
seringkali perlu anda lakukan. Untuk efisiensi biaya dan
waktu analisis, anda dapat melakukan pengambilan
sampel secara komposit-waktu. Di tiap-tiap rentang waktu,

Mencermati Wilayah Kajian

Ilustrasi: Toppeak

Sub-sampel 1
Sub-sampel 2

Sampel Komposit

Sub-sampel 3

Sampel komposit-ruang merupakan gabungan dari sampelsampel yang diambil dari beberapa lokasi sekaligus. Metode
ini digunakan untuk memperoleh hasil pengukuran yang
mencerminkan nilai rata-rata parameter kualitas air dari suatu
bentang badan air.

anda perlu melakukan sampling sesuai volume yang


ditentukan. Gabungan sampel-sampel tersebut nantinya
dianalisa guna mendapatkan suatu nilai rata-rata.

MENGATASI KETERBATASAN DATA


Prakiraan dampak kualitas air yang baik membutuhkan
rekaman data rona awal kualitas air untuk rentang waktu
yang panjang (data time-series). Rekaman data 1 (satu)
tahun dapat dianggap cukup untuk mencerminkan
variasi kualitas air dari suatu badan air. Sayangnya, data
selengkap itu sangat jarang tersedia di Indonesia. Instansi
lingkungan, dinas pengairan, atau kantor pengelola badan
air belum mampu menyediakan data selengkap itu. Untuk
melakukan pengukuran sendiri, anda tentunya dibatasi
oleh ketersediaan waktu dan biaya.
Masalah keterbatasan data dapat diatasi dengan
mengandalkan sumber-sumber data alternatif, seperti:

Instalasi pengolahan air bersih yang mengambil


air dari badan air yang sama. Untuk kepentingan
operasinya, hampir semua instalasi pengolahan air
bersih memantau kualitas air bakunya secara periodik.
Data yang mereka miliki umumnya sangat lengkap,
khususnya untuk parameter-parameter kualitas yang
dibutuhkan untuk pengendalian operasi instalasi.
Beberapa di antaranya adalah kekeruhan, pH, dan
TSS. Ada juga instalasi air bersih yang melakukan
pemantauan kandungan senyawa organik dari air
bakunya.
Kegiatan-kegiatan wajib AMDAL atau UKL-UPL yang
melakukan pembuangan air limbah ke badan air
yang sama. Kegiatan-kegiatan tersebut umumnya
diharuskan untuk melakukan pemantauan kualitas
air dari badan air penerima limbahnya. Data yang
mereka miliki umumnya lebih bervariasi sesuai jenis
kegiatannya.

45

MENCERMATI KONDISI SEKITAR


Kualitas air sungai atau danau sangat dipengaruhi oleh
kondisi wilayah di sekitar badan air tersebut. Banyak obyek
kegiatan di sekitar badan air turut berkontribusi terhadap
keberadaan polutan di badan air tersebut. Kondisi iklim
juga turut mempengaruhi kualitas air di suatu badan air,
misalnya pengaruh curah hujan terhadap variasi debit
aliran sungai atau terhadap variasi volume air danau.
Informasi mengenai keberadaan obyek berpengaruh
dan kondisi iklim perlu anda dapatkan sebelum simulasi
sebaran polutan dilakukan.

OBYEK BERPENGARUH
Obyek kegiatan di sekitar badan air dapat mempengaruhi
kelangsungan penyebaran polutan yang ditimbulkan
oleh kegiatan anda. Khususnya obyek kegiatan yang a)

melepaskan polutan sejenis dengan polutan penting


anda, b) melepaskan polutan yang dapat bereaksi dengan
dengan polutan penting anda, dan c) menambah atau
mengurangi debit aliran di sungai atau volume air di
dalam danau. Sebagai contoh, kegiatan industri sejenis di
sekitar sungai tempat kegiatan anda akan melepaskan air
limbah. Contoh lainnya, keberadaan instalasi pengolahan
air bersih yang mengambil air dari danau yang sama.
Informasi mengenai obyek berpengaruh dapat anda
peroleh dari peta wilayah yang dimiliki kantor pemerintah
setempat. Untuk pengenalan obyek-obyek berpengaruh,
anda perlu menggunakan peta wilayah dengan skala
lebih kecil. Peta-peta yang tersedia di kantor kecamatan
biasanya cukup untuk memenuhi kebutuhan anda.
Informasi juga dapat diperoleh dari instansi pemerintah

Foto: Koleksi Qipra

Area persawahan merupakan obyek berpengaruh karena 2 (dua) sifatnya yaitu 1) mengurangi debit air sungai yang dipakai untuk irigasi dan
sekaligus 2) sebagai sumber polutan yang berasal dari limpasan genangan yang mengandung unsur pupuk yang tinggi

46

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Mencermati Wilayah Kajian

penguapan (evaporasi) air dan suhu air. Naik turunnya


suhu air kemudian akan mempengaruhi gerak vertikal air,
laju reaerasi oksigen ke badan air, dan kecepatan reaksi dari
beberapa jenis polutan. Laju evaporasi juga dipengaruhi
perbedaan tekanan udara. Dalam perhitungan laju
evaporasi, suhu udara biasanya menggunakan satuan
derajat Kelvin (OK) dan tekanan udara menggunakan
satuan Bar.

pengelola badan air atau instansi lingkungan setempat.


Keberadaan obyek-obyek berpengaruh ini juga dapat
diketahui melalui survei penelusuran langsung terhadap
wilayah sekitar badan air.
Dalam suatu prakiraan dampak, anda juga seringkali perlu
mengenali keberadaan obyek-obyek berpengaruh yang
baru akan ada di masa datang. Khususnya obyek-obyek
yang akan muncul akibat keberadaan kegiatan anda.
Misalnya, obyek kampung permukiman yang tercipta
setelah kegiatan anda berlangsung.

Data klimatologis terbaik untuk digunakan adalah data


yang a) diambil dari stasiun meteorologis terdekat, baik
dengan lokasi rencana kegiatan atau dengan obyek
penerima dampak, b) memiliki rentang waktu rekam
(time-series) panjang, dan c) waktu rata-rata (averaging
times) pendek. Sayangnya, data klimatologis seperti
itu tidak selalu tersedia di beberapa wilayah Indonesia.
Keterbatasan data klimatologis umumnya dapat diatasi
dengan mengambil data dari stasiun meteorologis
terdekat atau dari fasilitas-fasilitas lain yang melakukan
pemantauan data klimatologis.

KLIMATOLOGI
Informasi klimatologi yang perlu anda peroleh adalah
curah hujan, suhu udara, dan tekanan udara. Hujan
yang jatuh di sungai atau danau dan sekitarnya akan
meningkatkan volume air di kedua badan air tersebut.
Pada saatnya nanti, meningkatnya volume air akan
mempengaruhi karakteristik pencampuran polutan di
sungai atau danau. Suhu udara akan mempengaruhi laju

Contoh Kasus

OBYEK BERPENGARUH
Di sepanjang sungai Kumering, di antara Industri Pulp dan obyek-obyek penerima dampak, terdapat lahan persawahan
yang membuang sisa air irigasinya ke sungai tersebut. Obyek kegiatan ini diperkirakan dapat mempengaruhi debit air
dan kandungan polutan dalam sungai tersebut. Beberapa metode dapat digunakan untuk menentukan besarnya debit
aliran run-off dan beban organik dan nutrien dari area persawahan tersebut baik dengan pengukuran atau menggunakan
software pemodelan (misalnya: AVSWAT 2000). Keberadaan sawah ini nantinya akan diperhitungkan dalam simulasi
penyebaran polutan di lokasi kedua obyek penerima dampak.
Area
Persawahan

Sungai Kerinci

Area
Pemancingan

Sungai Kumering

Sumber dampak
Pengambilan
air baku

10

15

20

25

30

Km

47

48
4
8

Panduan
Pandua
Pan
Pa
dua
uaan M
Memprakirakan
emp
em
emprak
m rak
mp
rakkira
irr kan
kkan Dampak
D mpa
Da
mppa
m
pak Lingkungan:
Ling
nggkun
kkuuunnggan
gaaan: KKualitas
ua ita
ual
ua
itta
t s AAiririr Per
tas
PPermukaan
Pe
ermu
muukkaaan
muk
aaan
an

Mensimulasi Penyebaran Pencemar

Tahap 5

MENSIMULASI
PENYEBARAN PENCEMAR
MEMILIH TEKNIK SIMULASI
JENIS MODEL
MEMODELKAN PERILAKU POLUTAN
MENGHITUNG JUMLAH SEBARAN POLUTAN
KONSENTRASI PENCAMPURAN
SEBARAN POLUTAN DI SUNGAI
SEBARAN POLUTAN DI DANAU

50
50
51
53
53
55
59

Bagian ini menguraikan tahap kelima dari proses prakiraan dampak kualitas air
permukaan, yaitu Mensimulasi Penyebaran Polutan. Tahap ini terdiri dari 2
(dua) langkah kerja, yaitu 1) memilih teknik simulasi dan 2) menghitung jumlah
sebaran polutan. Informasi mengenai sumber dampak, obyek penerima dampak,
dan kondisi wilayah studi yang telah ditentukan dalam tahap-tahap sebelumnya
akan diterjemahkan menjadi suatu model penyebaran pencemar. Tahap ini dapat
dianggap sebagai salah satu yang penting dalam tahapan penyusunan dokumen
ANDAL.
Foto: NASA

49

MEMILIH TEKNIK SIMULASI

Ada beberapa teknik simulasi atau model yang dapat anda


gunakan untuk mensimulasi penyebaran polutan. Tidak
semuanya didasarkan pada formula matematis yang rumit
atau menggunakan program komputer (software) terkini
yang kompleks. Untuk model matematis, anda perlu
terlebih dahulu mengembangkan formula matematis
untuk merepresentasikan perilaku penyebaran polutan
dari suatu sumber dampak. Berikut adalah uraiannya.

JENIS MODEL

Simulasi penyebaran polutan sangat baik jika dilakukan


melalui percobaan atau eksperimen yang menggunakan
model miniatur dari kondisi lingkungan sesungguhnya.
Walau demikian, simulasi menggunakan model miniatur
tersebut seringkali membutuhkan waktu panjang
dan biaya mahal. Sebagai alternatif lain, anda dapat
menggunakan jenis model lain seperti:

Model narasi; model yang menjelaskan hubungan


sebab-akibat dari penyebaran polutan secara deskriptif
dan kualitatif. Dalam pemodelan naratif, semua
data hasil pengukuran mutu air ditransformasikan
dalam bentuk skala kualitatif. Output hasil prakiraan
dampak juga kemudian disampaikan dalam bentuk
kualitatif. Model ini hanya dapat digunakan jika
data yang dimiliki tidak memadai untuk mewakili
kompleksitas karakteristik polutan dan badan air yang
sesungguhnya.
Model matematis; model yang menggunakan formula
matematis untuk mewakili fenomena penyebaran
polutan. Dalam pemodelan matematis, semua data
perlu ditampilkan secara kuantitatif sehingga output
prakiraan dampak juga dapat disampaikan dalam
bentuk kuantitatif. Beberapa penyederhanaan dan
asumsi dilakukan agar formula matematis tidak terlalu
kompleks dan tidak membutuhkan data yang banyak.

Qi-1

QOxi
E
Dalam suatu model matematis, badan air
dibagi menjadi beberapa segmen aliran.
Suatu segmen aliran akan menerima aliran
polutan dari segmen sebelumnya dan
mengeluarkan aliran polutan ke segmen
sesudahnya. Di dalam segmen aliran tersebut,
polutan akan berinteraksi dengan komponenkomponen lingkungan di dalamnya. Ada
juga kemungkinan segmen aliran tersebut
menerima aliran polutan dari sumber dampak
di sekelilingnya. Dan juga kemungkinan
segmen aliran tersebut mengeluarkan
aliran polutan ke obyek berpengaruh. Model
matematis akan memasukkan semua
fenomena itu di dalam suatu formula
matematis.

QIxi
P

Qi+1

50

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Mensimulasi Penyebaran Pencemar

Software komputer saat ini banyak digunakan untuk


membantu proses simulasi secara matematis. Beberapa
software pemodelan kualitas air permukaan yang tidak
berbayar (public domain) dapat diunduh dari internet
(misalnya WQMCAL dari UNESCO, Qual2K dari United States
Environmental Protection Agency (USEPA), dan sejenisnya).
Pemodelan matematis dapat dilakukan dalam beberapa
dimensi. Pemilihan dimensi model yang akan digunakan
sangat tergantung kepada tingkat kerumitan fenomena
yang ingin disimulasikan. Dimensi model yang dapat
digunakan adalah:
Nol dimensi (0-D); biasa digunakan untuk danau
berukuran kecil atau danau dengan laju penggantian
air yang rendah. Danau dianggap sebagai suatu titik
atau sebagai suatu reaktor yang teraduk sempurna
(Continuous Stirred-Tank Reactor atau CSTR). Model
0-D hanya akan menghasilkan satu nilai konsentrasi
polutan untuk keseluruhan isi danau. Model ini tidak
dapat memprediksi dinamika aliran sistem danau.
Satu dimensi (1-D); biasa digunakan untuk sungai
yang digambarkan sebagai suatu garis. Hasil simulasi
dapat berupa konsentrasi polutan yang bervariasi
menurut arah aliran (sumbu X). Model 1-D tidak bisa
digunakan untuk mencari variasi konsentrasi menurut
kedalaman (sumber Z) atau menurut lebar sungai
(sumbu Y).
Multi dimensi (2-D dan 3-D); Model 2-D horizontal
digunakan untuk danau atau sungai yang sangat
luas, model 2-D vertikal digunakan untuk danau
yang dalam, sedangkan model 3-D digunakan untuk
prediksi kualitas air laut, estuary, atau danau yang
sangat luas.
Dalam buku panduan ini, hanya dimensi pemodelan 0-D
(untuk danau) dan 1-D (untuk sungai) yang akan dibahas.
Pada akhirnya perlu diingat bahwa pemilihan jenis
model harus didasarkan pada kelengkapan informasi,

ketersediaan sumber daya (waktu, tenaga ahli, dana, dan


besarnya skala kegiatan). Tidak selalu prakiraan dampak
kualitas air perlu menggunakan model multi-dimensi jika
anda tidak memiliki informasi dan data yang cukup.

MEMODELKAN PERILAKU POLUTAN


Polutan yang masuk ke dalam badan air akan
berinteraksi dengan komponen di dalamnya, baik itu
dengan komponen biotik maupun abiotik. Interaksi ini
menyebabkan karakteristik polutan dapat berubah, baik
kadar maupun komposisinya. Interaksi-interaksi tersebut
menyebabkan tiap jenis polutan memiliki perilaku yang
spesifik di suatu badan air (lihat boks Perilaku Polutan di
Badan Air).
Di dalam model matematis, segala interaksi dan perubahan
yang terjadi akibat perilaku polutan di badan air tersebut
disederhanakan menjadi sebuah formula matematis.
Salah satu formula matematis yang banyak digunakan
untuk menunjukkan interaksi tersebut dan menghitung
perubahan konsentrasi polutan di suatu rentang waktu
(dC/dt) adalah:
dC
dt

= - KC

Formula model tersebut menggunakan konstanta


atau koefisien (K) yang berbeda untuk tiap jenis
interaksi. Misalnya konstanta deoksigenasi, konstanta
reaerasi, konstanta degradasi mikrobiologis, konstanta
pengendapan, konstanta reaksi kimia, dan sebagainya.
Mungkin saja suatu formula matematis menggunakan
beberapa konstanta sekaligus untuk merepresentasikan
berbagai interaksi atau perilaku polutan. Perlu diingat
bahwa nilai dari suatu konstanta biasanya berlaku spesifik
hanya untuk suatu kondisi tertentu. Beberapa referensi
menyediakan cara perhitungan, daftar atau tabel konstanta
yang dapat digunakan dalam formula matematis.

51

BOKS

Perilaku Polutan di Badan Air


Polutan yang masuk ke dalam badan air akan berinteraksi dengan komponen lingkungan di dalam dam di sekitar badan
air, baik komponen abiotik (misalnya: sinar matahari, angin, kandungan oksigen, sedimen) maupun komponen biotik (alga,
bakteri, nekton). Umumnya interaksi ini berpengaruh pada penurunan jumlah atau kadar polutan di dalam air.
Beberapa interaksi yang dapat mempengaruhi perilaku polutan dalam badan air adalah:

Pengenceran (dilution); turunnya konsentrasi polutan akibat tercampurnya suatu aliran dengan aliran lain yang
memiliki debit lebih besar dan konsentrasi polutan lebih rendah.

Pengendapan (settling); polutan yang bergerak ke dasar badan air karena massa jenisnya yang lebih besar daripada
massa jenis air. Contohnya, padatan tersuspensi. Pengendapan akan mengurangi jumlah polutan di dalam air.

Dispersi (dispersion); tersebarnya polutan akibat adanya pergerakan aliran air. Dispersi akan menurunkan konsentrasi
polutan akibat penyebarannya ke ruang yang lebih besar. Walau demikian jumlah polutan tidak berubah.

Difusi (diffusion); tersebarnya polutan akibat adanya pergerakan molekular polutan tersebut. Umumnya terjadi
karena adanya perbedaan konsentrasi polutan antara suatu tempat dengan tempat lainnya. Sama dengan dispersi,
difusi akan menurunkan konsentrasi polutan walau jumlahnya tidak berubah.

Degradasi mikrobiologis (microbial degradation); terurainya polutan organik karena dikonsumsi oleh mikroba
(alga, bakteri). Mikroba merombak senyawa polutan menjadi senyawa yang lebih sederhana, baik secara aerobik
maupun anaerobik. Degradasi mikrobiologis akan menurunkan jumlah polutan.

Interaksi fisika; terurainya atau menguapnya polutan akibat adanya rambatan panas atau paparan sinar ultraviolet
ke dalam air. Penguraian fisika dapat menurunkan jumlah polutan.

Reaksi kimiawi; terurainya atau berubahnya komposisi kimiawi polutan akibat adanya reaksi kimia dengan senyawa
lain. Interaksi kimiawi dapat menurunkan jumlah polutan. Selain itu, interaksi kimiawi dapat mengubah struktur
senyawa polutan.

Pelekatan (sorpsi); terjadi karena melekatnya senyawa polutan pada permukaan benda lain, baik padat (adsorpsi)
misalnya pada sedimen, pada batuan sungai/danau maupun pada permukaan tidak-padat (absorpsi) misalnya pada
tumbuhan atau hewan air. Kedua mekanisme pelekatan ini akan menurunkan konsentrasi polutan di dalam air.

Distribusi
konsentrasi

Sumber
pencemar titik
Aliran Sungai
Lebar
sungai

Jarak

52

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Plume sebaran polutan

Mensimulasi Penyebaran Pencemar

MENGHITUNG JUMLAH SEBARAN POLUTAN


Ada 2 (dua) langkah yang perlu dilakukan untuk
menghitung jumlah atau konsentrasi polutan yang masuk
dan tersebar di badan air, yaitu 1) saat polutan baru masuk
ke dalam badan air, dan 2) saat polutan sudah tersebar di
lokasi obyek penerima dampak.
Sebelum perhitungan, perlu dipahami sifat degradasi
mikrobiologi polutan di dalam air yang dapat dibedakan
menjadi 1) yang dapat terdegradasi secara mikrobiologis
(polutan non-konservatif ), dan 2) yang tidak dapat/
sulit terdegradasi (polutan konservatif ). Prakiraan
konsentrasi sebaran polutan konservatif dapat dilakukan
dengan pendekatan Model Neraca Massa (lihat infografis
Model Neraca Massa). Sedangkan untuk pencemar
non-konservatif (misalnya BOD), perhitungan dapat
menggunakan persamaan penurunan lain misalnya
persamaan pemodelan orde-1.
Dalam prakiraan dampak kualitas air permukaan, anda
juga seringkali diminta untuk menghitung variasi jumlah
atau konsentrasi polutan di sepanjang alur sebarannya.
Berikut adalah uraiannya.

KONSENTRASI TITIK PENCAMPURAN


Polutan yang baru masuk ke dalam sungai atau danau
pastinya akan mengalami proses pencampuran dengan
polutan yang ada dalam badan air tersebut. Jika jumlah
polutan dalam air sungai lebih kecil, polutan anda tentunya
akan mengalami pengenceran. Untuk menghitung
konsentrasi polutan di titik pencampurannya, model
matematis yang banyak digunakan adalah model Neraca
Massa (lihat gambar berikut). Model ini dapat digunakan
baik untuk sumber terpusat (point source) maupun sumber
garis atau bidang (non-point source).
Model Neraca Massa sangat tepat digunakan untuk
pencemar-pencemar konservatif yaitu yang tidak mudah
terdegradasi, tidak mengendap, atau tidak cepat menguap
(contoh senyawa konservatif ini adalah garam-garam).
Penggunaan model ini untuk pencemar lain seperti DO,
BOD, dan NH3-N hanyalah merupakan pendekatan saja.

Model Neraca Massa


Co=

Aliran pencemar

Cp, Qp
Cs, Qs

Aliran sungai

(Qs + Qp), Co

(Cs x Qs) + (Cp x Qp)

Qs + Qp
dimana:
C0 = konsentrasi pencemar di titik pencampuran
Cs = konsentrasi pencemar di sungai
Qs = debit aliran sungai
Cp = konsentrasi pencemar di aliran limbah
Qp = debit aliran limbah

Aliran pencemar yang masuk ke dalam sungai akan mempengaruhi besar debit dan konsentrasinya. Debit total merupakan penjumlahan
dari debit aliran pencemar dan debit awal sungai. Untuk konsentrasi pencemar rata-rata di sungai setelah pencampuran, nilainya ditentukan
dari besarnya debit dikali dengan konsentrasi. Semakin besar debit dan konsentrasi polutan yang masuk ke dalam sungai maka pengaruhnya
terhadap konsentrasi rata-rata akan semakin besar.

53

SEBARAN POLUTAN DI SUNGAI


Vx
Setelah tercampur dengan aliran sungai, polutan akan
terbawa aliran sampai mencapai obyek-obyek penerima
dampak yang ditentukan. Dalam perjalanannya, polutan
akan mengalami banyak interaksi dengan komponenkomponen lingkungan lainnya. Interaksi tersebut
kemudian disederhanakan menjadi suatu formula
matematis sebagai berikut.

dC
dx

= - KC

Rumus ini menyatakan bahwa perubahan konsentrasi


polutan sesuai jarak alirannya (dC/dx) sebanding dengan
besarnya konsentrasi polutan (C) tersebut di badan air.
Termasuk juga untuk perubahan polutan organik.

CONTOH KASUS:

Perhitungan Pencampuran Polutan dengan Model Neraca Massa


Pada studi kasus rencana Industri Pulp, kita dapat melakukan perhitungan konsentrasi pencampuran untuk 2 jenis
polutan penting yang ditentukan sebelumnya yaitu BOD dn COD (lihat boks Seleksi Polutan Penting).
Karakteristik Sumber Dampak Industri Pulp

Data Rona Awal Sungai

60.000 m3/hari

Debit

BOD

100 mg/L

BOD

2,5 mg/L

COD

350 mg/L

COD

20 mg/L

DO-sungai

3,4 mg/L

Debit Limbah

DO-limbah

0 mg/L

3.000.000 m3/hari

Konsentrasi oksigen terlarut (DO) di titik pencampuran aliran efluen IPAL dan aliran sungai dapat dihitung dengan:
BODO =

(100
BODO =

mg
L

(BODS x QS) + (BODP x QP)


QS + QP
m3

x 60.0000

hari

60.000

)+(

m3
hari

BODO = 4,41

2,5

+ 3.000.000

mg

x 3.000.000

m3
hari

m3
hari

mg
L

Dengan demikian, konsentrasi BOD di titik pencampuran (di hulu rencana titik efluen IPAL) adalah 4,41 mg/L.
Dengan menggunakan metode perhitungan yang sama, kita dapat mengetahui besarnya DO pada titik pencampuran
(DO0) yaitu sebesar: 3,33 mg/L dan COD0 = 26,47 mg/L.

54

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Mensimulasi Penyebaran Pencemar

Senyawa organik dengan


bantuan oksigen yang terlarut
di dalam air, akan didegradasi
oleh mikroorgnisme aerobik.
Akibatnya, konsentrasi oksigen
terlarut akan menurun. Kehidupan
biota air akan terganggu. Setelah
mencapai titik terendahnya,
difusi oksigen dari udara akan
mengakibatkan kandungan DO
air meningkat sampai ke kondisi
semulanya. Pertambahan oksigen
akan semakin besar jika turbulensi
aliran yang terjadi lebih besar.
Model Streeter-Phelps berusaha
menggambarkan fenomena self
purification (swa-pemurnian)
sungai yang tercemar oleh
senyawa organik tersebut secara
matematis.

Titik pencampuran

Konsentrasi oksigen

Titik kritis

Boks:

Model Streeter-Phelps
Model Streeter-Phelps digunakan untuk menghitung kandungan oksigen terlarut (dissolved oxygen atau DO) di air
setelah senyawa organik masuk ke badan air. Sesuai namanya, model ini dikembangkan oleh H. W. Streeter dan Earle
B. Phelps pada tahun 1925. Model ini pada dasarnya mengasumsikan sungai sebagai media satu dimensi dan masih
memiliki kandungan DO yang cukup untuk mendukung degradasi mikrobiologis. Kondisi aliran sungai diasumsikan
dalam kondisi steady state dimana tidak terjadi perubahan kecepatan aliran, temperatur dan tekanan air.
Di dalam model ini, polutan organik akan diuraikan oleh mikroba dalam kondisi aerobik. Akibatnya, semakin lama
degradasi mikrobiologis berlangsung, kandungan DO akan terus berkurang (deoksigenasi). Bersamaan dengan
itu, air akan menerima tambahan kandungan DO (reaerasi) dari udara di atasnya. Kelangsungan deoksigenasi dan
reaerasi akan membentuk kurva gabungan yang menggambarkan sisa DO di dalam badan air (lihat gambar berikut).
Cs

garis DO jenuh

Oksigen terlarut (DO)

kurva reaerasi
kurva oxygen-sag

Co

titik pencampuran

kurva deoksigenasi
to
X0

tc (waktu kritis)
Xc ( jarak kritis)

Kurva deoksigenasi menunjukkan penurunan


DO akibat konsumsi mikroba air selama
mendegradasi senyawa organik. Sementara
itu, kurva reaerasi menunjukkan peningkatan
DO akibat difusi oksigen dari udara. Gabungan
kedua kurva tersebut akan membentuk oxygensag curve yang menggambarkan sisa DO di
sepanjang aliran sungai. Terlihat dalam kurva
tersebut bahwa kandungan DO akan menurun
untuk kemudian menaik setelah mencapai suatu
titik minimum

waktu (t)
Jarak (X)

55

CONTOH KASUS:

PERHITUNGAN SEBARAN POLUTAN DI OBYEK PENERIMA DAMPAK


Dari contoh kasus Industri Pulp, diketahui informasi seperti Tabel di bawah ini.
Kecepatan aliran (v)

600 m/jam

BOD0 (titik pencampuran)

4,41 mg/L

Jarak-x (km)

Waktu Tempuh Aliran Sungai-(x/v)(hari)

Pemancingan Ikan

Obyek Penerima Dampak

15

1,04

Pengambilan Air baku

20

1,38

Untuk perhitungan sebaran polutan, digunakan persamaan degradasi polutan organik seperti di bawah ini

Lt = L0 e - Kt
Karena BOD5 = L0 L5, maka untuk mencari L0, persamaan di atas dapat diubah menjadi:
L0 =

BOD0

[1-e(-5)(K)]
dimana:
L0 = BOD ultimate (BOD total)
K = koefisien deoksigenasi/degradasi (1/hari) [didapat dari buku referensi atau percobaan laboratorium]
t = waktu (hari)
Langkah perhitungannya adalah:
1. Dengan memasukkan nilai-nilai di atas, didapat nilai BOD ultimate pencampuran L = 6,18 mg/L, L1,04 hari = 4,77
mg/L (lokasi pemancingan) dan L1,38hari = 4,38 mg/L (pengambilan air baku).
2. Kedua nilai L tersebut di atas kemudian dianggap sebagai nilai BOD-ultimate (L0) setelah tejadi degradasi selama
air mengalir dari titik sumber ke titik-titik obyek penerima dampak. Dengan demikian nilai L5 hari untuk kedua
titik tersebut dapat dihitung dengan rumus diatas dan akan didapat L5 = 1,37 mg/l (pada lokasi pemancingan)
dan 1,25 mg/L (pengambilan air baku).
3. Dengan demikian besarnya BOD5 pada tiap obyek penerima dampak dapat dihitung seperti tabel di bawah.
Obyek Penerima Dampak

L0

L5

BOD5 = (L0-L5)

Pemancingan Ikan

4,77

1,37

3,40

Pengambilan Air baku

4,38

1,25

3,12

Sungai Kerinci

sungai Kumering
arah aliran sungai

Sumber dampak
BOD5 = 4,41

56

BOD5 = 3,40

10

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

15

BOD5 = 3,12

20

25

30

Km

Mensimulasi Penyebaran Pencemar

Kelangsungan degradasi mikrobiologis aerobik terhadap


sebaran polutan dapat terjadi seandainya air sungai
memiliki kandungan oksigen terlarut (dissolved oxygen
atau DO) yang cukup untuk mendukung degradasi
tersebut. Kecukupan DO kemudian dapat dihitung dengan
menggunakan model matematis khusus yang disebut
model Streeter-Phelps (lihat boks berikut).

konsentrasi sebaran polutan (lihat bahasan mengenai


Pola Pemunculan Polutan). Beberapa jenis polutan akan
mengalami transformasi komposisi kimiawinya, sehingga
dapat mengurangi jumlahnya. Salah satu contohnya
adalah senyawa nitrogen-organik yang dapat teroksidasi
menjadi nitrat. Transformasi ini juga harus anda perhatikan
sebelum menghitung sebaran polutan.

Sebaran polutan untuk sumber dampak yang menerus


akan memiliki karakteristik yang berbeda dengan sebaran
polutan dari sumber yang tidak menerus. Perbedaan pola
pemunculan polutan perlu diperhatikan saat menghitung

Banyak perangkat lunak komputer yang tersedia untuk


mensimulasi penyebaran polutan di suatu sungai.
Salah satunya adalah QUAL2K (lihat boks Penggunaan
QUAL2K).

Boks:

PENGGUNAAN QUAL2K
QUAL2K merupakan sebuah software pemodelan kualitas air permukaan dari USEPA yang merupakan pengembangan
beberapa software sebelumnya (DOSAG, QUAL I, QUAL2E).
Dalam pemodelan suatu ruas sungai, QUAL2K membagi sungai menjadi segmen-segmen sungai. Setiap segmen
yang disebut ruas (reach) dibagi lagi dalam sejumlah elemen yang memperhitungkan kesetimbangan hidrologi,
kesetimbangan panas dan suhu, dan kesetimbangan massa dalam konsentrasi zat pencemar.
9

ruas 2

ruas 2

10

7
8

11
22

12

ruas 1

ruas 1

ruas 3

23

13
14
15

ruas utama
1

ruas 3
24
25

16

17 18 19

20

21 26

27

28

29

ruas utama

Skema sungai

segmentasi sungai

Kesetimbangan massa pada tiap elemen memperhitungkan 1) pengambilan air sungai misalnya untuk keperluan
industri atau air baku air minum, dan 2) penambahan air sungai misalnya dari efluen IPAL atau dari asupan sawah.
Tiap elemen juga memperhitungkan proses internal yang terjadi seperti reaksi penguraian senyawa organik dan
fotosintesis. QUAL2K dapat mensimulasi atau memprediksi perubahan kualitas sungai pada aliran limbah baik dari
sumber terpusat (point source) maupun dari sumber non-titik (non-point source).
Qin,i

i-1

Qi-1

Qout,i

Qi

i+1
(Bersambung ke halaman selanjutnya)

57

Boks: PENGGUNAAN QUAL2K (sambungan dari halaman sebelumnya)


Seperti halnya program pemodelan lainnya, QUAL2K memerlukan input data yang kemudian akan diolah
menghasilkan output pemodelan. Untuk simulasi secara lengkap, model QUAL2K memerlukan data antara lain:
1. Debit dan kualitas aliran sungai di titk awal (pH, temperatur, konduktivitas, padatan inorganik, nitrogen organik,
NH4-N, NO3-N, BOD, COD, DO, organik phosphor, inorganik phosphor, phytoplankton, detritus, patogen, dan
alkalinitas),
2. Karakteristik hidrolis sungai (elevasi dan koordinat setiap ujung ruas sungai, lebar sungai, kelerengan sungai
dan tebing sungai, koefisien hambatan aliran sungai),
3. Karaktersitik cuaca mikro daerah sekitar sungai (temperatur udara; tutupan awan; kecepatan angin),
4. Data lokasi titik pemantauan kualitas dan debit sungai aktual beserta data pemantauannya (optional untuk
pengecekan validitas model)
QUAL2K memungkinkan adanya input data yang bervariasi sesuai waktu kejadiannya, termasuk konsentrasi polutan
pada kondisi puncak.
QUAL2K menampilkan output berupa tabel-tabel yang menunjukkan hasil perhitungan konsentrasi polutan sesuai
jarak aliran. QUAL2K juga dapat menampilkan output berupa grafik yang menghubungkan konsentrasi polutan
sesuai jarak aliran (lihat Gambar di bawah).

58

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Mensimulasi Penyebaran Pencemar

SEBARAN POLUTAN DI DANAU


Hidromorfologi danau, khususnya laju pembilasan/
debit air uang masuk ke danau (Qi) atau waktu tinggal
air (Td) , menjadi satu faktor yang menentukan besarnya
konsentrasi polutan dari suatu sumber dampak. Danaudanau di Indonesia umumnya memiliki waktu tinggal
air yang lama sehingga kemampuan penggelontoran
dan daya tampung polutannya rendah. Danau demikian
berpotensi untuk mengalami eutrofikasi.

Faktor lain yang juga menentukan adalah asupan hujan.


Hujan sangat berperan dalam mengencerkan konsentrasi
polutan. Nilai intensitas hujan yang diterima selama
satu rentang waktu (misalnya dalam 1 bulan), dapat
dimasukkan ke dalam perhitungan pemodelan danau
sebagai faktor pengenceran.
Jika prinsip rumus di atas terapkan pada model danau
0-D dimana suatu danau dianggap sebagai sebuah
model reaktor kotak yang isinya selalu teraduk sempurna

Boks:

Perhitungan Konsentrasi Pencemar di Danau


Dari contoh kasus Industri Pulp, jika efluen IPAL masuk ke sungai Kumering (dengan debit aliran 3.000.000 m3/hari)
dan kemudian masuk ke dalam suatu danau dengan karakteristik danau seperti tertera pada tabel di bawah ini:
20 km2

A (luas)
H (kedalaman rata-rata)

50 m
1.000.000.000 m3

V (volume)

maka estimasi konsentrasi sebaran polutan dapat dilakukan dengan:


1. Menghitung waktu tinggal air di dalam danau
Td = (V/ Qi)
= (1.000.000.000 m3) / (3.000.000 m3/hari)
= 332 hari (0,91 tahun)
2.

Menghitung jumlah pencemar (lihat bagian Estimasi Jumlah Polutan). Dari perhitungan estimasi jumlah
pencemar Industri Pulp, diketahui jumlah BOD (M) yang dibuang = 6 ton/hari.

3.

Menghtung Konsentrasi BOD di dalam air danau setelah tercapai keseimbangan (dengan asumsi K = 0,25)

Ce =

(MQi )
(1+KTd )

6.000 kg/hari

3.000.000 m3/hari

= 0,024 mg/L

0,5
1+

hari

332 hari

Dengan demikian, kontribusi pencemaran yang diberikan oleh Industri Pulp terhadap danau adalah 0,024 mg/L.
Hasil perhitungan ini mungkin akan berbeda jika kita memasukkan faktor berkurangnya konsentrasi BOD selama
mengalir di sungai (sebelum masuk ke danau) dan faktor pengenceran oleh air hujan.

59

CONTOH KASUS:

PENGGUNAAN QUAL2K

Sungai Kerinci

Dari contoh kasus Industri Pulp, diketahui informasi seperti Tabel di bawah ini.
Area
Persawahan
Area
Pemancingan
Sungai Kumering

Sumber dampak

Tahap 1:
Pembuatan skema aliran
sungai (lihat infografis:
Skema Aliran Sungai)

Pengambilan
air baku

Tahap 2:
segmen ke- 1
jarak (km) 0 1

3 4
9 10 11

6
20 21

7
30

Pembuatan segmentasi/
penggalan sungai.

Tahap 3:
Pengisian informasi awal. Data yang dimasukkan antara lain: nama sungai, nama file, tanggal bulan, dan tahun perhitungan
model.

Tahap 4:
Pengisian karakteristik awal air sungai di titik awal (headwater).

Tahap 5:
Pengisian data hidrolis pada tiap penggalan. Informasi yang dimasukkan antara lain debit hulu penggalan (headwater),
penomoron dan penamaan penggalan, elevasi dasar sungai, lebar dasar sungai, kemiringan dan koefisien pengaliran, dan
informasi mengenai keberadaan dam atau terjunan.

Tahap 6:
Pengisian faktor-faktor untuk pemodelan pada tiap penggalan. Data yang dimasukkan antar lain: temperatur udara,
kecepatan angin rata-rata, penutupan awan dan vegetasi, dan koefisien-koefisien kecepatan reaksi.

Tahap 7:
Pengisian data point-source dan diffuse source pada tiap penggalan. Data yang dimasukkan antara lain lokasi (jarak) tiap
source, besarnya debit penambahan atau debit pengambilan, dan karakteristik airnya.

60

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Mensimulasi Penyebaran Pencemar

RUN

Tahap 8:
Jalankan program. Tekan tombol Run.

Tahap 9:

Debit aliran

Tampilkan output simulasi model.

Konsentrasi DO

Penurunan BOD

(Continuous Stirred-Tank Reactor/ CSTR), maka persamaan


tersebut menjadi (Lihat Boks Perhitungan Konsentrasi
Pencemar di Danau):

Ce =

M
(Qi+KV)

(MQi)
(1+KTd)

Keterangan:
Td = waktu tinggal air di dalam danau (hari) Td = V/Qi
Ce = kosentrasi polutan dalam air setelah tercapai
kesetimbangan (mg/L)
M = jumlah polutan yang masuk ke danau (kg/hari)
V
= volume danau (m3)
Qi = debit air masuk danau (volume/waktu; m3/hari)
K
= konstanta penguraian (1/hari)

61

62

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Mengevaluasi Hasil Prakiraan Dampak

Tahap 6

MENGEVALUASI HASIL
PRAKIRAAN DAMPAK
MENENTUKAN SIFAT PENTING DAMPAK
MENGETAHUI PENGARUH DAMPAK
MENGEVALUASI SECARA HOLISTIK

64
66
67

Hasil prakiraan dampak yang sudah diperoleh perlu dievaluasi untuk menentukan
sifat penting dampak dan pengaruh dampak terhadap kualitas air permukaan.
Evaluasi juga perlu dilakukan untuk mempelajari keterkaitannya dengan
hasil prakiraan dampak-dampak lainnya. Bagian ini akan menguraikan ketiga
langkah evaluasi yang diperlukan, yaitu 1) menentukan sifat penting dampak,
2) mengetahui pengaruh dampak, dan 3) mengevaluasi secara holistik. Pada
akhirnya, keseluruhan hasil evaluasi akan dijadikan dasar penyusunan arahan
pengelolaan dan pemantauan dampak.
Foto: Koleksi QIPRA

63

MENENTUKAN SIFAT PENTING DAMPAK


Dalam konteks AMDAL, dampak penting merupakan
dampak yang jika tidak dikelola akan menimbulkan
perubahan kualitas lingkungan secara signifikan. Dampak
penting membutuhkan tindakan pengelolaan khusus
guna mencegah timbulnya dampak, atau mengurangi
intensitas dampak, atau memulihkan dampak yang
mau tidak mau akan terjadi. Jika tidak terkelola, dampak
penting, khususnya yang negatif, dapat menjadi alasan
tidak dikeluarkannya Surat Kelayakan Lingkungan dan
tentunya Ijin Lingkungan bagi suatu rencana kegiatan.
Peraturan secara umum menyebutkan bahwa sifat
penting dampak dinilai dengan memperhatikan 6 (enam)

kriteria berikut, yaitu 1) jumlah manusia yang akan terkena


dampak, 2) luas wilayah persebaran dampak, 3) intensitas
dan lamanya dampak berlangsung, 4) banyaknya
komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak,
5) sifat kumulatif dampak, 6) berbalik (reversible) atau
tidak berbaliknya (irreversible) dampak. Untuk kebutuhan
evaluasi sifat penting dampak kualitas air permukaan,
kriteria-kriteria tersebut dapat diperjelas sebagaimana
contoh berikut.
1. Jumlah manusia yang terpengaruh; Perubahan
kualitas air permukaan dapat dipertimbangkan
sebagai dampak penting jka jumlah manusia yang
akan dirugikannya sangat banyak. Atau setidaknya

Foto: Koleksi Qipra

Pengalaman masyarakat terhadap kasus serupa di wilayahnya tentu akan mempengaruhi persepsi mereka terhadap penting-tidaknya suatu
dampak.

64

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Mengevaluasi Hasil Prakiraan Dampak

2.

3.

4.

5.

6.

sama atau lebih banyak daripada jumlah manusia


yang menerima manfaat.
Luas wilayah yang terpengaruh; Perubahan kualitas air
permukaan dapat dipertimbangkan sebagai dampak
penting jika badan air yang terpengaruh sangat luas.
Bahkan sampai mempengaruhi karakteristik, daya
dukung lingkungan, atau pemanfaatan wilayah di
sekitar badan air.
Baku mutu kualitas air; Perubahan kualitas air
permukaan dapat dianggap sebagai dampak
penting jika konsentrasi atau jumlah polutan yang
ditimbulkannya sama atau melebihi baku mutu
kualitas air yang berlaku untuk suatu sungai atau
danau. Pertimbangan baku mutu kualitas air ini dapat
digolongkan ke dalam kriteria intensitas dan lamanya
dampak berlangsung.
Batas tambahan polutan; Perubahan kualitas air
permukaan dapat dipertimbangkan sebagai dampak
penting jika jumlah polutan yang disebarkannya
melebihi alokasi tambahan polutan maksimal yang
ditetapkan oleh instansi pengelola badan air. Alokasi
tambahan polutan maksimal biasanya ditentukan
berdasarkan perhitungan daya dukung badan air
yang dilakukan pemerintah setempat. Pertimbangan
batas tambahan polutan ini dapat digolongkan
ke dalam kriteria intensitas dan lamanya dampak
berlangsung.
Durasi perubahan kualitas air permukaan; Perubahan
yang berlangsung singkat, misalnya hanya dalam
beberapa hari atau minggu di tahap konstruksi,
seringkali tidak dipertimbangkan sebagai dampak
penting. Sebaliknya, perubahan yang durasinya
lama, misalnya sejak tahap konstruksi sampai pasca
operasi, seringkali dipertimbangkan sebagai dampak
penting.
Jumlah dan jenis komponen lingkungan lain yang
akan terpengaruh; Perubahan kualitas air dari
suatu badan air dapat mempengaruhi kehidupan

7.

8.

atau keutuhan komponen lingkungan hidup lain


yang memanfaatkan air tersebut. Semakin banyak
komponen lingkungan hidup lain yang terpengaruh
maka dampak tersebut dapat dipertimbangkan
sebagai dampak penting. Apalagi jika jenis komponen
lingkungan itu memiliki nilai yang istimewa, misalnya
jenis flora atau fauna yang sangat dilindungi.
Sifat kumulatif dampak; Dampak terhadap kualitas
air permukaan dapat dianggap bersifat kumulatif bila
semakin lama pengaruh atau intensitas dampaknya
akan semakin bertambah. Akumulasi dampak dapat
terjadi akibat suatu sumber polutan yang terus
berlangsung. Atau akibat bergabungnya polutan dari
suatu sumber dampak dengan polutan sejenis dari
sumber dampak yang lain. Perubahan kualitas air
permukaan dapat dipertimbangkan sebagai dampak
penting jika akumulasi dari polutan yang timbul
menyebabkan konsentrasi atau jumlahnya sama atau
melebihi baku mutu kualitas air yang berlaku untuk
suatu sungai atau danau.
Kepulihan perubahan kualitas air permukaan;
Perubahan
kualitas
air
permukaan
dapat
dipertimbangkan sebagai dampak penting jika
perubahan tersebut tidak dapat dipulihkan kembali
walaupun dengan intervensi manusia. Walau
demikian, dampak yang bersifat permanen sudah
selayaknya dianggap sebagai dampak penting.

Penentuan penting tidaknya suatu dampak memang


membutuhkan kesepakatan dari para anggota Komisi
Penilai. Seringkali penting-tidaknya suatu dampak juga
dinilai berdasarkan penilaian ahli (expert judgement).
Khususnya jika kuantifikasi dari dampak perubahan kualitas
air permukaan sulit dilakukan. Misalnya, dampak terhadap
kehidupan flora dan fauna air. Dampak yang dianggap
penting kemudian dicarikan upaya pengelolaannya agar
nantinya potensi dampak ini dapat diredam.

65

MENGETAHUI PENGARUH DAMPAK


Perubahan kualitas air permukaan akan dianggap sebagai
dampak negatif jika kualitas air yang terjadi akibat
keberadaan suatu sumber dampak akan lebih buruk
dibandingkan dengan kualitas air nir-kegiatan di waktu
kajian (tahun prakiraan) yang sama. Sebaliknya, dianggap
sebagai dampak positif jika kualitas air yang terjadi akan
lebih baik dibandingkan dengan kualitas air nir-kegiatan
di waktu kajian (tahun prakiraan) yang sama.
Sebagaimana disinggung di awal buku, pengaruh
dampak diketahui dengan melihat hasil perhitungan

besaran dampak dari suatu parameter kualitas air (XT )


yang merupakan perbandingan antara kualitas air akibat
keberadaan komponen kegiatan (XI,T ) dengan kualitas air
tanpa keberadaan komponen kegiatan (XO,T ).
Jika prakiraan kualitas air nir-kegiatan tidak dilakukan,
maka penilaian bobot dampak dilakukan dengan mengacu
kepada kualitas air saat ini (rona lingkungan awal). Hal ini
dapat dibenarkan selama kita yakin bahwa kualitas air nirkegiatan akan tetap sama (statis) untuk tahun prakiraan
yang kita pilih.

CONTOH KASUS:

Output Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan (Sungai Kumering)


Debit
Polutan
Jumlah Polutan
Sumber Dampak
Rencana Kegiatan
Tahun Prakiraan

: 3.000.000 m3/hari (minimum)


: Senyawa Organik Terurai (BOD)
: 6 ton/hari
: Efluen Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
: Industri Pulp
: 2012
Konsentrasi BOD (mg/L)

Obyek Terkena Dampak

Jarak (km)

Prakiraan

Rona Awal

Mutu Sungai
kelas 2

Area Pemancingan (sepanjang 500 m)

15

3,40

2,80 *)

Pengambilan Air Baku (debit 800 l/detik)

20

3,12

2,70 *)

Tabel di atas menyajikan prediksi kenaikan konsentrasi BOD sungai Kumering akibat rencana kegiatan Industri
Pulp. Dengan mempertimbangkan kriteria sifat penting dampak, terutama 1) jumlah manusia yang terpengaruh
(misalnya jumlah pelanggan air bersih, jumlah wisatawan area pemancingan), 2) baku mutu kualitas air (dengan
mengacu pada mutu sungai kelas dua, dan 3) batas tambahan polutan (dengan mengacu pada konsentrasi BOD
rona awal), maka dapat disimpulkan bahwa sumber dampak efluen IPAL memiliki sifat sebagai dampak penting.
Dampak penting ini jika tidak dikelola akan menimbulkan perubahan kualitas lingkungan yang signifikan.
*) merupakan nilai hasil pengukuran rona awal

66

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Mengevaluasi Hasil Prakiraan Dampak

MENGEVALUASI SECARA HOLISTIK


Evaluasi holistik akan melihat seluruh dampak sebagai
suatu kejadian kumulatif yang saling mempengaruhi.
Mungkin saja suatu dampak secara sendiri tidak dapat
digolongkan sebagai dampak penting namun setelah
penilaiannya digabungkan dengan dampak lain maka
dampak tersebut menjadi suatu dampak penting. Dampakdampak yang berlangsung dalam suatu waktuperlu dikaji
secara holistik.

Hasil evaluasi holistik diharapkan juga dapat menghasilkan


pilihan yang paling rasional atas berbagai alternatif
dari rencana kegiatan. Dengan adanya peninjauan dari
berbagai aspek, suatu alternatif dapat dipilih dengan lebih
baik. Mungkin saja satu alternatif akan memberikan jenis
dan jumlah dampak penting yang lebih sedikit ketimbang
alternatif lainnya. Tanpa adanya kajian multi-dampak, hal
demikian tidak akan dapat dinilai.

CONTOH KASUS:

Evaluasi Hasil Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan


Dari hasil perhitungan sebelumnya, didapat nilai konsentrasi BOD pada dua titik Obyek Terkena Dampak (area
pemancingan dan titik pengambilan air baku) yaitu sebesar 3,4 dan 3,12 mg/L. Kedua nilai ini melebihi mutu
konsentrasi sungai kelas 2 yang besarnya 3 mg/L.
Dengan evaluasi secara holistik, maka beberapa alternatif rekomendasi dari Komisi Penilai AMDAL untuk
mengatasi masalah tersebut adalah sebagai berikut:

Mengganti bahan baku produksi dengan yang lebih ramah lingkungan sehingga karakteristik limbah cair
yang dihasilkan menjadi lebih baik,
Melakukan tindakan manajemen lingkungan yang lebih ketat untuk mengurangi beban pecemaran,
Re-design teknologi pengolahan air limbah dengan efisiensi pengolah lebih tinggi,
Atau yang paling ekstrim, mempertimbangkan dikeluarkannya rekomendasi ketidaklayakan lingkungan
rencana kegiatan jika alternatif-alternatif di atas tidak dapat dipenuhi (melebihi daya dukung dengan tidak
terpenuhinya baku mutu sungai kelas 2).

Salah satu upaya pengendalian dampak lingkungan adalah melalui minimisasi limbah yang akan ditimbulkan. Baik jumlah maupun
konsentrasi limbah tersebut.
Foto: Koleksi Qipra

67

DAFTAR SINGKATAN
AMDAL

= Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup

ANDAL

= Analisis Dampak Lingkungan Hidup

AWLR

= Automatic Water Lever Recorder

As

= Arsenik

BMA

= Baku Mutu Air

BME

= Baku Mutu Efluen

BMLC

= Baku Mutu Limbah Cair

BOD5

= Biochemical Oxygen Demand 5 day (Kebutuhan Oksigen Biokimia 5 hari)

Cd

= Kadmium

COD

= Chemical Oxygen Demand (Kebutuhan Oxygen Kimiawi)

Cr(VI)

= Khromium (valensi 6)

CSTR

= Continuous Stirred-Tank Reactor

DO

= Dissolved Oxygen (oksigen terlarut)

KA

= Kerangka Acuan

KLH

= Kementerian Lingkungan Hidup

H2S

= Hidrogen Sulfida

Hg

= Raksa

MBAS

= Methylene Blue Active Substances

NO3

= Nitrat

pH

= power of Hydrogen (derajat keasaman)

O&G

= Oil and Grease (Minyak dan Lemak)

PO4

= Fosfat

RKL

= Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup

RPL

= Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup

SS

= Suspended Solids (Padatan Tersuspensi)

= Temperatur

TSS

= Total Suspended Solids (Padatan Tersuspensi Total)

UNESCO

= United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization

USEPA

= United States Environmental Protection Agency

68

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

DAFTAR PUSTAKA
BPLHD Jawa Barat. Perhitungan Daya Tampung DAS dan Waduk Prioritas. (http://www.bplhdjabar.go.id/index.php/bidangpengendalian/subid-pemantauan-pencemaran/186-perhitungan-daya-tampung-das-dan-waduk-prioritas).
Canter, L. W. 1996. Environmental Impact Assessment. McGraw-Hill Singapore.
Chapman, Deborah. 1996. Water Quality Assessments - A Guide to Use of Biota, Sediments and Water in Environmental
Monitoring - Second Edition. E&FN Spon Chapman&Hall
George, L. Bowie (et. al.). Rates, Constants, and Kinetics Formulations in Surface Water Quality Modeling (second edition).
(http://www.ecy.wa.gov/programs/eap/models/rates_and_constants/index.html).
Jolankai, Geza. WQMCAL Description of The CAL Programme on Water Quality Modelling Version 2. (http://portal.unesco.
org/en/files/39388/11896110471WQMCALversion2_Description.doc/WQMCALversion2%2BDescription.doc)
Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 2008. Pedoman Pengelolaan Ekosistem Danau.
Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 2009. Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan Kualitas Air Permukaan Draft
Final Text ESP-Danida Project.
Machbub, Badruddin. 2009. Model Kualitas Air Danau. Makalah Seminar: Pengembangan Metodologi Prakiraan Dampak
Kualitas Air Permukaan. Bandung
Marsili-Libeli, Stefano and Giusti, Elisabetta. 2007. Water Quality Modelling for Small River Basins. Science Direct Elsevier.
Nemerow, N.L and Dasgupta, A. 1991. Industrial and Hazardous Waste Treatment. Van Nostrand Reinhold.
Rust, Ashley. Dissolved Oxygen Standard Literature Review (http://www.cdphe.state.co.us/op/wqcc/wqclassandstandards/
regs33-37/33_37RMH2008/ProponentsPHS/33_37phsCRWCDexG.pdf ).
Suratmo, F. Gunarwan. 1993. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Gadjah Mada University Press.
Tchobanoglous, G. and Burton, F.L. 1991. Metcalf & Eddy Wastewater Engineering: Treatment Disposal Reuse Third Ed. McGrawHill International ed. Singapore.
USEPA. 1999. Consideration of Cumulative Impacts In EPA Review of NEPA Documents. Office of Federal Activities (2252A).
USEPA. River and Stream Water Quality Model (QUAL2K). (http://www.epa.gov/athens/wwqtsc/html/qual2k.html).

69

70

Panduan Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan

Kementerian Lingkungan Hidup


Republik Indonesia