Anda di halaman 1dari 31

TEKNOLOGI PROTEIN SEL TUNGGAL

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bioteknologi

Oleh :
Ovi Wilianti

122154040

Dita Rosdiana

122154045

Mida Hartina

122154066

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SILIWANGI
2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah swt. Karena berkat rahmat
dan hidayah Nya penulis telah mampu menyelesaikan makalah berjudul
Teknologi Protein Sel Tunggal. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu
tugas mata kuliah Bioteknologi.
Bioteknologi merupakan manipulasi dan rekayasa genetika terhadap
sistem atau proses biologi berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah dengan bantuan agen
biologi. Didalam kajian mengenai mata kuliah bioteknologi ini salah satunya yang
akan saya bahas yaitu mengenai Teknologi Protein Sel Tunggal.
Protein sel tunggal adalah bahan makanan berkadar protein tinggi yang
berasal dari mikroba. Istilah protein sel tunggal digunakan untuk membedakan
bahwa Protein sel tunggal berasal dari organisme bersel tunggal atau banyak.
Makalah ini bukanlah karya yang sempurna karena masih memiliki banyak
kekurangan, baik dalam hal isi maupun sistematika dan teknik penulisannya. Oleh
sebab itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi
kesempurnaan makalah ini. Akhirnya semoga makalah ini bisa memberikan
manfaat bagi penulis dan bagi pembaca. Amin

Tasikmalaya, September 2014

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Protein sel tunggal adalah bahan makanan berkadar protein tinggi yang
berasal dari mikroba. Istilah protein sel tunggal digunakan untuk membedakan
bahwa Protein sel tunggal berasal dari organisme bersel tunggal atau banyak.
Pemanfaatan mikroorganisme sehingga mengahasilkan makanan berprotein
tinggi secara komersial. Dimulai sejak Perang Dunia I di Jerman dengan
memproduksi khamir torula. Operasi utama dalam produksi protein sel tunggal
adalah fermentasi yang bertujuan mengoptimalkan konversi substrat menjadi
massa mikrobial.
Kecemasan akan kekurangan pangan dan malnutrisi di dunia pada tahun
1970-an telah meningkatkan perhatian pada sel tunggal. Sebagian besar dari
bobot kering sel dari hampir semua spesies memiliki kandungan protein yang
tinggi. Oleh karena itu, bobot kering sel tunggal memiliki nilai gizi yang tinggi.
Mikroorganisme yang dibiakkan untuk protein sel tunggal dan
digunakan sebagai sumber protein untuk hewan atau pangan harus mendapat
perhatian secara khusus. Mikroorganisme yang cocok antara lain memiliki sifat
tidak menyebabkan penyakit terhadap tanaman, hewan, dan manusia. Selain
itu, nilai gizinya baik, dapat digunakan sebagai bahan pangan atau pakan, tidak
mengandung bahan beracun serta biaya produk yang dibutuhkan rendah.
Mikroorganisme yang umum digunakan sebagai protein sel tunggal, antara lain
alga Chlorella, Spirulina, dan Scenedesmus; dari khamirCandida utylis; dari
kapang berfilamen Fusarium gramineaum; maupun dari bakteri.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan materi yang akan dibahas dalam makalah ini mengenai
teknologi protein sel tunggal, maka penulis merumuskan rumusan masalah
sebagai berikut :
1. Pengertian protein sel tunggal?
2. Perkembangan protein sel tunggal sejak tahun 1900?
3. Produksi protein sel tunggal pada mikroba yang berfotosintesis?
4. Produksi protein sel tunggal pada mikroba tanpa fotosintesis?
5. Nilai ekonomi dan hari depan protein sel tunggal?

C. Tujuan Makalah
Sejalan dengan rumusan masalah diatas, makalah ini disusun dengan
tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan tentang :
1. Pengertian protein sel tunggal,
2. Perkembangan protein sel tunggal sejak tahun 1900,
3. Produksi protein sel tunggal pada mikroba yang berfotosintesis,
4. Produksi protein sel tunggal pada mikroba tanpa fotosintesis,
5. Nilai ekonomi dan hari depan protein sel tunggal.
D. Kegunaan Makalah
Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara
teoretis maupun secara praktis. Secara teoretis makalah ini berguna sebagai
pengembangan ilmu mengenai konsep Protein sel tunggal. Secara praktis
makalah ini diharapkan bermanfaat bagi :
1. Penulis, sebagai wahana penambah ilmu pengetahuan dan konsep keilmuan
khususnya tentang Bioteknologi mengenai teknologi protein sel tunggal;
2. Pembaca/dosen, sebagai media nformasi tentang konsep bioteknologi
mengenai teknologi protein sel tunggal baik secara teoretis maupun secara
praktis.

E. Prosedur Makalah
Makalah ini disusun dengan menggunakan metode dengan cara
menguraikan permasalahan yang dibahas secara jelas dan konprehensif. Data
teoretis dalam makalah ini dikumpulkan dengan menggunakan studi pustaka,
artinya penulis mengambil data melalui kegiatan membaca berbagai litelatur
yang relevan sesuai dengan judul makalah.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Protein Sel Tunggal
Protein sel tunggal adalah sel mikroba kering seperti ganggang, bakteri,
ragi, kapang, dan jamur tinggi yang ditumbuhkan dalam kultur skala besar.
Protein ini dipakai untuk konsumsi manusia atau hewan. Produk itu juga berisi
bahan nutrisi lain,seperti karbohidrat,lemak,vitamin,dan mineral. Protein sel
tunggal adalah bahan makanan berkadar protein tinggi yang berasal dari
mikroba. Istilah protein sel tunggal (PST) digunakan untuk membedakan
bahwa PST berasal dari organisme bersel tunggal atau banyak.
Mikroorganisme yang dibiakkan untuk protein sel tunggal dan
digunakan sebagai sumber protein untuk hewan atau pangan harus mendapat
perhatian secara khusus. Mikroorganisme yang cocok antara lain memiliki sifat
tidak menyebabkan penyakit terhadap tanaman, hewan, dan manusia. Selain
itu, nilai gizinya baik, dapat digunakan sebagai bahan pangan atau pakan, tidak
mengandung bahan beracun serta biaya produk yang dibutuhkan rendah.
Mikroorganisme yang umum digunakan sebagai protein sel tunggal, antara lain
alga Chlorella, Spirulina, dan Scenedesmus; dari khamir Candida utylis; dari
kapang berfilamen Fusarium gramineaum; maupun dari bakteri.

B. Perkembangan Protein Sel Tunggal Sejak Tahun 1900


Protein mikroba sebagai sumber pangan untuk manusia mulai
dikembangkan pada awal tahun 1900. Protein mikroba ini kemudian dikenal
dengan sebutan Single Cell Protein (SCP) atau Protein Sel Tunggal.
Mengkonsumsi mikroba sebagai bagian makanan manusia bukan
peristiwa baru. Sejak zaman purba, penduduk telah memakannya dalam bentuk
lain. Misalnya, sel ragi yang merupakan komponen dalam adonan roti; bakteri
asam laktat terkandung dalam keju; susu yang di fermentasi seperti yoghurt;
dan saus yang difermentasi; dan kapang yakni bahan yang digunakan untuk
membuat makanan dari kedelai dan ikan yang diragikan seperti tempe, oncom,
dan pindang.

Teknologi modern untuk membuat protein sel tunggal berasal dari


tahun 1879 di Inggris, diperkenalkannya adonan yang dianginkan untuk
membuat ragi roti ( Saccharomyces cerevisiae ). Semasa Perang Dunia I di
Jerman, ragi roti dihasilkan untuk konsumsi sebagai tambahan protein
penduduk. Molasse ( tetes ) dipakai sebagai sumber karbon dan energi untuk
membiakkan ragi, sedangkan garam amonium dipakai sebagai sumber
nitrogen.
Pada tahun-tahun lebih akhir, kemajuan ilmu pengetahuan dalam
bidang fisiologi, nutrisi dan genetika mikroba telah banyak memperbaiki
metoda untuk menghasilkan protein sel tunggal dari berbagai macam mikroba
dan bahan mentah. Umpamanya, bakteri dengan kandungan protein yang tinggi
sampai 72 persen atau lebih dapat dihasilkan terus menerus dengan
menggunakan metanol sebagai bahan mentah, dan mikrobanya berupa ragi
yang dibiakkan dalam media yang kadar selnya tinggi sekali, sehingga ini
dapat mengurangi biaya energi untuk pengeringan.
Perkembangan produksi protein sel tunggal
sejak masa purba sampai tahun 1900
Periode
2500
Sebelum
Masehi
1781- 1782

Mikroba
Saccharomyces cerevisiae

1860

Saccharomyces cerevisiae

1868

Saccharomyces cerevisiae

1879

Saccharomyces cerevisiae

1900

Saccharomyces cerevisiae

Saccharomyces cerevisiae

Perkembangan Teknik
Mengambil ragi untuk membuat
roti dari permukaan adonan
fermentasi
Mengambil ragi untuk membuat
minuman
dengan
kompresi
(inggris, belanda, jerman)
Menganginkan bubur adonan ragi
cara wina (Austria)
Pembuatan ragi dengan kompresi
dikenalkan di AS (Fleischmann)
Penganginan yang terus
menerus (Inggris)
Pemisahan
ragi
dengan
sentrifugasi (AS)

Perkembangan Produksi Protein Sel Tunggal 1900 1945


Periode

1920

Mikroba
Saccharomyces
cervisiae
Endomyces
vernalis
Aspergillus
fumigantus

1936

Saccharomyces
cervisiae

1936

Saccharomyces
cervisiae

1914 1918
1918 1919

Candida untilis
1941 - 1945

Geotrichum
candidum
(Oidium lactis)

Perkembangan teknik
Menambah-nambahkan tetes, garam
ammonium (Jerman)
Menghasilkan lemak dari cairan sulfit
(Jerman)
Ditumbuhkan pada jerami yang
ditaburi garam N untuk pakan ternak
(Jerman)
Pemrosesan Heiskenskjold dengan
menggunakan cairan sulfit (Finlandia,
Jerman)
Pemrosesan Scholler Tornesch untuk
ragi pakan yang dibuat dari gula kayu
(Jerman)
Produksi ragi makanan dari cairan
sulfit dan gula kayu (Jerman)
Produksi lemak (Jerman)

Perkembangan produksi protein sel tunggal


Sejak tahun 1945 kini
Periode
1946 1954
1943 1953
1959
1954 1963
1958 1964

Organisme
Candida utilis
Chorella sp
Saccharomyces
cervisiae
Morchella sp
Kluyveromyches
fragilis
Chorella liphothyca

1959 1972
1963 1974

Chorella tropicalis

1970 1974

Chorella utilis
Kluyveromyches
fragilis
Metirylophilus
Methylotrophus

1971 1975
1979 1980

1983 1985

Chorella utillis,
Kluyveromyches
fragilis,
Saccharomyces
cervisiae

Perkembangan teknik
Pembuatan ragi terus menerus dari
cairan sulfit - fermentor (AS)
Produksi ganggang dalam system
sirkulasi terbuka (jepang)
produksi ragi roti terus menerus
untuk sekala komersial (inggris)
Kultur terbenam mycelium jamur
(amerika serikat)
Pembuatan ragi fragilis dari air dedih
keju (amerika serikat)
Ragi makanan dari hidrokarbon
nparafin, minyak gas, fermentor
berudara (inggris, prancis, jepang uni
soviet)
Jamur dari cairan sulfit bekas, proses
pekilo (finlandia)
Ragi makanan dari etanol (AS)
Produksi ragi fragilis terus menerus
dan atau etanol dari air didih keju
Produksi terus menerus protein sel
tunggal bakteri dari methanol dalam
skala komersial (Inggris)
Produksi protein sel tunggal dengan
teknik kerapatan sel yang tinggi dan
pengeringan langsung pada etanol
dan karbohidrat (AS)

Semasa perang dunia 1 di Jerman, ragi roti dihasilkan untuk konsumsi


bagi tambahan protein penduduk. Molasses (tetes) di pakai sebagai karbon dan
energi untuk membiakan ragi, sedangkan garam amonium pakai sebagai
sumber nitrogen. Lalu selama perang dunia ll, di jerman terdapat biakan ragi
(candida utilis) sebagai sumber protein untuk manusia dan hewan. Bahan
mentah dalam hal ini ialah air sulfit bekas yang di ambil dari pabrik pulp dan
kertas, dan gula kayu di dapat dengan menghidrolisa kayu dalam suasana asam.

Pada tahun-tahun lebih akhir, kemajuan ilmu dalam bidang


pengetahuan dalam bidang fisiologo, nutrisi, dan genetika mikroba, telah
banyak memperbaiki metoda untuk menghasilkan protein sel tunggal dari
berbagai macam mikroba dan bahan mentah. Umpamanya, bakteri dengan
kandungan protein yang tinggi -72 persen atau lebih dapat di hasilkan terus
menerus dengan menggunakan metanol sebagai bahan mentah, dan mikrobanya
berupa ragi yang di biakan dalam media yang berkadar selnya tinggi sekali,
sehingga ini dapat mengurangi biaya energy untuk pengeringan. Mikroba yang
berfotosintesa dan yang tak berfotosintesa dapat sama-sama dipakai untuk
memproduksi protein sel tunggal. Sekurangnya mikroba ini memerlukan
sumber karbon dan energi, sumber nitrogen, dan suplai unsur nutrisi lain,
seperti fospor, sulfur, besi, kalsium, magnesium, mangan, natrium, kalium, dan
unsur jarang, untuk tumbuh dalam lingkungan air. Beberapa mikroba tak dapat
mensintesa asam amino, vitamin, dan kanduangan seluler lain dari sumber
karbon dan nitrogen sederhana. Dalam hal demikian, bahan-bahan tersbut harus
juga disuplai agar mereka bisa tumbuh.

C. Produksi Protein Sel Tunggal Pada Mikroba yang Berfotosintesa


Ganggang dan bakteri tergolong mikroba berfotosintesa yang
digunakan untuk memproduksi protein sel tunggal. Pertumbuhan berfotosintesa
ganggang yang diingikan, seperti Chlorella, Scenedesmus, dan Spirulina.
Berikut reaksi Mikroba berfotosintesis :
Cahaya
Karbon dioksida + air + ammonia atau nitrat + mineral
(sumber karbon)

(sumber nitrogen

energi

Sel ganggang + Oksigen


(protein sel tunggal)
Konsentrasi karbondioksida diudara sekitar 0,03 %, dan ini tidak cukup
untuk menunjang pertumbuhan ganggang sebesar yang diinginkan untuk
menghasikan protein sel tunggal. Tambahan karbondioksida itu Di dapat dari
karbonat atau bikarbbonat yang terdapat dalam kolam aklalis, gas yang keluar

selama pembakaran, atau dari pembusukan bahan organic dalam air buangan
kota dan limbah industry sebagai contoh, konsentari karbin dioksida dalam gas
pembakaran berkisar anatara 0,5 dan 5 %.
Sumber nitrogen untukk produksi ganggang adalh seperti garam
amonium, nitrat, atau nitrogen organi yang terbentuk oleh oksidasi air buangan
kota dalam kolam fosfor dan bahan mineral lain biasanya terdapat dalam air
alam dan air limbah, daln kontrasinya telah cukup untuk pertumbuhan
ganggang. Masalah ledakan ganggang yang terjadi pada banyak cadangan air
pada pertengahan musim panas merupakan bukti cukupnya konsentrasi bahan
nutrisi ini ditempat demikian.
Intesitas

cahaya

dan

suhu

pertumbuhan ganggang. Menggunakan

merupakan

factor

penting

dalam

cahaya buatan terlalu mahal untuk

memproduksi protein sel tunggal pada ganggang, kalo produk itu ditunjukan
bagai pakan ternak. Untuk pertanaman mikroba berskala besar dan agar
ekonomis, suasana dalam tempat kultur harus cukup jernih dan pariasi
intensitas cahaya harus sekecil mungkin sepanjang tahun. Selain itu suhu
haruslah diatur diatas uhu

pa a hampir epanjang tahun itu.

ki atn a

kolam buatan ditenpat terbuka di daerah semitropik, tropik, kering, merupakan


sistem yang paling cocok untuk pertanaman ganggang. Bahan untuk
membangun kolam adalah seperti semen plastik, atau serat kaca pelapis.
Kolam harus cukup besar, karena pertumbuhan ganggang terjadi
terutama pada daerah permukaan setebal 20 atau 30 cm saja, dan di tempat ini
intensitas cahaya adalah terbesar. Biasanya air kolam harus di aduk ada yang
terus menerus, ada yang sewaktu saja. Pengaduk yang dipakai ialah seperti
pompa,roda dayung, atau kincir. Pengadukan perlu untuk mencegah ganggang
mengendap ke dasar. Dengan demikian semua sel ganggang dapat terpapar
merata ke cahaya dan bahan nutrisi.
Ganggang biasanya di tanam dalam kultur campuran yang tidak perlu
steril. Suasana lingkungan haruslah menguntungkan bagi kehidupan spesies
ganggang yang diinginkan, agar mereka menjadi dominan dalam persaingan
hidup dengan spesies lain. Di Meksiko, ganggang biru spirulina maxima

ternayata dapat hidup subur dalam air alkalis alami danau texcoco yang
memiliki pH antara 9 dan 10. Sel spirulina tertampung di permukaan berupa
gumpalan, lalu di ambil. Fasilitas produksi percontohan di tempat ini
menghasilkan 1 ton protein sel tunggal ganggang kering tiap hari. Hasil ini di
jual sebagai makanan sehat.
Spirulina juga di tumbuhkan secara komersial yang berskala kecil di
Hawai, Tailand, Israel, dan Taiwan. Cyanotech Corporation menggunakan dua
kolam untuk menghasilkan sekitar 625 kilogram produk kering tiap bulan.
Produk ini dijual pada took makanan sehat seharga 18/kilogram. Dengan harga
ini, produk itu dapat dibeli olehkonsumen kelas tinggi, jadi bukan untuk
makanan jutaan penduduk dunia yang kelaparan.
Pemerintah India dan Jerman yang bekerjasama dalam proyek
Indogram Algal Project, telah mendirikan suatu program kerja sama pada
sentral Food Teachnologycal Institute di Mysore, India untuk membiakan
spesies Scenedesmus dalam kolam buatan. Program ini menghasilkan beberapa
proyek di Mesir, India, Peru, dan Thailand. Selain itu, dalam pengamatan di
Israel dan Argentina telah memeperlihatkan, bahwa ganggang dari genus
Dunaliella yang tahan terhadap garam, dapat ditumbuhkan dalam air asin untuk
menghasilkan protein sel tunggal, dan dengan produk tambahan berupa gliserol
dan beta karoten.
Menumbuhkan ganggang pada simpanan air buangan kota, dapat untuk
dua tujuan :
1. Untuk membersihkan lingkungan dari pencemaran.
2. Sekaligus untuk mengahasilkan protein berharga.
Peneliti di Israel Institute Of Tecnology di Haifa umpamanya, telah
melakukan pengamatan yang intensif dalam kota itu untuk menangani air
buangan kota kedalam kolam ganggang, serentak dihasilkan protein sel tunggal
untuk pakan ternak.Haifa ternyata sangat cocok untuk menumbuhkan
ganggang, karena kota ini banyak mendapat pancaran sinar matahari sepanjang
tahun.

Kolam kolam disana terdiri dari kanal berliku yang dangkal,


dilengkapi dengan alat untuk menganduk dan memasukan udara. Yang tumbuh
dalam kolam limbah itu ialah campuran bakteri dan ganggang. Ganggangnya
terutama dari tergolong genera Chlorella, Euglena, Micractinium, dan
Scenedesmus. Sistem dalam kolam itu semacam simbiosa. Disini ganggangnya
menghasilkan oksigen dan ini digunakan oleh bakteri untuk tumbuh.
Pertanaman ganggang ditempat terbuka untuk menghasilkan protein sel
tunggal adalah semacam perkawinan antara teknologi pertanian dan
mikrobiologi industri. Sistem ini tergantung pada, dan dibatasi oleh iklim, dan
cukupnya suplai air, cahaya matahari, karbondioksida dan bahan nutrisi. Sistem
ini dapat dibuat bekerja secara optimum, dengan jalan mengontrol suplai
karbondioksida, aliran air, dan dengan cara pengadukan yang baik.
Produktivitas yang praktis adalah sekitar 35 metrik ton protein ganggang
kering tiap hektar permukaan kolam setahun.
Karena pemusatan sel ganggang dalam cairan kultur hanya sekitar 1 2
gram bahan kering perliter maka ketika panen diperlukan air yang banyak. Hal
ini cukup banyak memakan biaya untuk memproduksi protein sel tunggal itu.
Mula mula sel sel ganggang harus dikumpulkan dengan salah satu metoda
yang

beragam,

seperti

pengapungan,

menyaring,

memusing

dan

menggumpalkan yang diiringi dengan pengendapan, dan kemudian dikeringkan


dengan drum pengering. Pengeringan dengan panas dalam drum pengering itu
juga memakan biaya besar. Namun hal ini mutlak dilakukan, karena
pengolahan dengan panas berguna untuk membunuh mikroba pathogen yang
biasa banyak mencemari pertumbuhan ganggang dalam kolam air buangan
kota.
Bakteri yang berfotosintesa digunakan untuk menghasilkan protein sel
tunggal ialah seperti bakteri dari genus Rhodopseudomnas, dan ini dapat pula
ditumbuhkan dalam air buangan kota atau limbah industri. Di Jepang dan
hasilnya digunakan sebagai pakan ternak. Bakteri ini ditumbuhkan dalam
kultur campuran dengan bakteri nitrogen dan bakteri lain yang hidup aerobis.
Kultur ini harus disuplai dengan bahan organik sebagai sumber karbon dan

energi. Mereka tidak akan dapat tumbuh mengandalkan CO dan cahaya,


seperti dapat dilakuakan oleh ganggang. Kepadatan kultur bakteri adalah
sekitar 1 sampai 2 gram bahan kering tiap liter. Masalah yang terdapat dalam
proses pemisahan dan pemadatan yang harus dikerjakan untuk kultur
ganggang, juga ditemukan dalam sistem ini.

D. Produksi Protein Sel Tunggal Pada Mikroba Tanpa Befotosintesa


Mikroba tidak berfotosintesa yang dibiakkan untuk memproduksi
protein sel tunggal ialah seperti bakteri, kapang, ragi, dan jenis jamur lain.
Mikroba ini hidup aerobosis dan karena itu harus cukup suplai oksigen agar
bisa tumbuh karena termasuk karbon organis dan sumber energi. Selain itu juga
merupakan sumber nitrogen, fosfor, sulfur, dan unsur mineral, yang
sebelumnya disebut-sebut hanya diperlukan untuk pertumbuhan ganggang.
Pengubahan senyawa organik menjadi protein sel tunggal oleh mikroba
yang tidak berfotosintesa dapat dibuat skemanya dengan persamaan reaksi
berikut :
Kar on organik + nitrogen + mineral ahan nutri i + ok igen Protein sel
tunggal + karbon dioksida + air panas
1. Bakteri
Banyak spesies bakteri yang baik untuk memproduksi protein sel
tunggal. Salah satu ciri bakteri yang cocok untuk ini ialah tumbuhnya
cepat, waktu berbiakannya pendek, masa selnya kebanyakan dapat jadi dua
kali lipat dalam waktu 20 menit sampai 2 jam. Sebagai bandingan, waktu
berbiak ragi adalah 2 sampai 3 jam, dan kapang serta jamur tinggi 4 sampai
16 jam.
Bakteri juga dapat tumbuh pada berbagai bahan mentah, mulai dari
karbohidrat seperti pati dan gula, sampai hidrokarbon dalam bentuk gas
atau cairan seperti metan dan fraksi minyak bumi, sampai pada petrokimia
seperti metanol dan etanol. Sumber nitrogen yang baik bagi pertumbuhan
bakteri ialah seperti amonia, garam aminium, urea nitrat, dan nitrogen
organik dalam limbah. Harus ada tambahan bahan mineral ditambahkan ke

dalam pembiakan, agar bahan nutrisi dapat menutupi kekurangan yang


dalam air alami mungkin kadarnya tidak cukup menunjang pertumbuhan.
Spesies bakteri yang tampaknya lebih banyak memproduksi protein
sel tunggal, paling baik tumbuh dalam media yang sedikit asam netral,
dengan pH 5 sampai 7. Bakteri itu juga harus dapat toleran terhadap suhu
dalam rentang 35 sampai 45 C, karena panas dilepaskan selama bakteri itu
tumbuh. Menggunakan strain yang toleran terhadap suhu akan menghemat
banyak sekali biaya untuk mendinginkan air. Pembiakan harus dijaga agar
selalu dingin, karena fermentasi disini perlu suhu rendah. Spesies bakteri
tak dapat digunakan untuk memproduksi protein sel tunggal, jika itu
bersifat patogen bagi tumbuhan, hewan, atau manusia.
Protein sel tunggal dalam bakteri dapat dihasilkan dengan sistem
adonan konvensional. Dalam sistem ini semua bahan nutrisi dimasukan
sekaligus kedalam fermentor. Sel-sel dipanen jika mereka menggunakan
bahan nutrisi dan berhenti tumbuh. Namun dalam metoda produksi yang
lebih maju, bahan nutrisi disuplai dengan sistem kontinyu (terus-menerus),
yang konsentrasinya sesuai dengan yang diperlukan untuk menunjang
pertumbuhan bakteri. Lalu sel-sel pun dipanen terus-menerus dengan
populasinya telah mencapai kerapatan yang diperlukan.
Adonan konsentrasi karbon dan sumber energi biasanya berkisar
antara 2 dan 10 persen. Dalam sistem yang kontinyu suplai sumber karbon
diatur sehingga konsentrasi dalam media tumbuh tidak melebihi yang
diperlukan bagi pertumbuhan selbakteri. Konsentrasi ini biasanya akan
lebih rendah daripada yang digunakan dalam sistem adonan.
Menjaga agar suasana steril selama memproduksi protein sel
tunggal, sangat penting, karena mikroba pencemar akan tumbuh sangat
cepat dalam media kultur. Udara masuk, media bahan nutrisi dan alat
fermentasi, harus disterilkan dalam seluruh proses protein sel tunggal
dalam bakteri. Suasana steril pun harus terus dijaga selama seluruh
kegiatan produksi.

Meskipun selama tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an telah


cukup banyak penelitian dilakukan tentang produksi protein sel tunggal
oleh bakteri, namun Imperial Chemical Industries plc (ICI) di inggris hanya
mengoperasikan proses berskala komersial. Pada proses ICI, bakteri
Methylophilus methyulotrophus, yang waktu tumbuhnya sekitar dua jam,
ditumbuhkan terus -menerus dengan menggunakan methanol sebagai
substrat, dan diberi bahan nutrisi tambahan meliputi amonia, dan mineral
berupa fosfor, kalsium dan kalium.
Pada tahun 1980 di Billingham, inggris, ICI mendirikan pabrik yang
berkapasitas produksi 50.000 metrik ton protein sel tunggal tiap tahun.
Pabrik itu sejak didirikan beroperasi sesewaktu saja, dengan produksi 6.000
metrik ton tiap bulan. Bakteri ditumbuhkan dengan menggunakan methanol
sebagai sumber energi. Dua metric ton methanol menghasilkan sekitar 1
metrik ton protein el tunggal pruteen kering. Pro uk ang ikeringkan
mengandung sekitar 72% protein dan dengan 8% kelembaban, telah dijual
sebagai tambahan pakan ternak dipasar Eropa Barat.
Namun, karena pakan yang terdiri dari kedelai kini harganya hanya
$19

per metrik ton pruteen kalah

er aing

e agai pakan ternak

sehingga pabrik itu kini tidak lagi beroperasi untuk skala komersial. Meski
demikian perkembangan proses ICI untuk membuat protein sel tunggal dari
bakteri menjadi contoh tentang pemanfaatan rekayasa kimia modern dalam
bidang bioteknologi.
Selama mem uat pruteen ilmuan I I mengamati kemungkinan
memperbaiki pengubahan methanol menjadi protein sel tunggal dengan
mengubah

secara

genetis

kemampuan

M.methylotrophus

untuk

menggunakan ammonia. Ke dalam sel bakteri mereka masukan gen yang


menjadi enzim pengasimilasi ammonia. Enzim ini lebih efisien daripada
enzim yang secara alami terdapat dalam sel bakteri. Meskipun gen baru itu
stabil dalam sel bakteri dan berekspresi dengan baik, namun hanya 3
sampai 5% kenaikkan produksi protein sel tunggal didapat dari strain
bakteri yang telah diubah secara genetis itu.

2. Ragi
Ragi dapat ditumbuhkan pada beberapa macam substrat, meliputi
karbohidrat, baik yang kompleks seperti pati, maupun sederhana seperti
gula glukosa, suklrosa, dan laktosa. Dapat pula dipakai bahan mentah yang
mengandung gula seperti sirup gula, tetes, dan air diadih keju. Beberapa
ragi dapat tumbuh pada karbohidrat rantai lurus, yang dapat bersumber dari
minyak bumu; dapat juga tumbuh pada etanol atau metanol.
Selain itu sumber karbon, sumber nitrogen diperlukan pula.
Nitrogen diperoleh dengan menambahkan amonia atau garam amonium ke
media kultur. Bahan mineral juga perlu sebagai tambahan.
Kebutuhan untuk memproduksi protein sel tunggal oleh ragi sama
dengan yang diuraikan untuk memproduksinya oleh bakteri. Ragi harus
memiliki waktu tumbuh sekitar 2 sampai 3 jam. Ia juga harus toleran
terhadap pH dan suhu. Secara genetis juga harus stabil, sehingga hasilnya
memuaskan. Tidak pula menyebabkan penyakit pada tumbuhan, hewan,
atau manusia.
Teknologi untuk memproduksi protein sel tunggal pada ragi juga
sama dengan pada bakteri. Fermentor yang tangkainya dilengkapi dengan
kincir pengaduk merupakan macam wadah yang paling banyak dipakai
untuk menghasilkan protein sel tunggal pada ragi, tapi fermentor
pengapungan udara dapat juga digunakan. Seperti pada kultur bakteri,
panas pun dilepaskan selama pertumbuhan ragi, dan fermentor haruslah
dilengkapi dengan sistem pendingin.
Fermentasi ragi dapat beroperasi dalam sistem adonan atau sistem
kontin u atau

engan cara

ang

i e ut a onan

ang

i uplai

ahan

nutri i. Pa a a onan ang i uplai ahan nutri i makanan u trat an


bahan nutrisi lain ditambahkan secara berangsur, yang jumlahnya cukup
untuk kebutuhan tumbuh ragi. Sementara itu harus dijaga agar konstrasi
bahan nutrisi setiap waktu selalu rendah. Metoda ini menghasilkan 3,5
sampai 4,5 persen produk berat kering, dibandingkan dengan 1,0 sampai
1,5 produk berat kering yang dihasilkan dengan sistem adonan. Sel yang

dihasilkan dengan sistem adonan yang disuplai bahan nutrisi dipanen


dengan cara seperti halnya jika diproduksi dengan adonan biasa.
Meskipun kultur sistem adonan dan sistem adonan yang diberi
bahan nutrisi telah digunakan dalam memproduksi ragi roti selama
bertahun-tahun, namun baru

belakangan dapat dimonitor. Dengan

demikian, pH dan konsentrasi susbtrat disesuaikan dengan operasi sistem


kontinyu. Konsentrasi sel ragi sampai 16 persen (berat kering) diperoleh
dengan kultur sistem kontinyu.
Ragi memiliki keuntungan dibandingkan dengan bakteri untuk
memproduksi protein sel tunggal. Salah satu diantaranya, karena ragi
toleran terhadap lingkungan yang lebih asam, dengan pH berkisar antara
3,5 dan 4,5 bukan agak netral seperti yang diperlukan bakteri. Akibatnya,
proses ragi dapat berlangsung dalam media bersih tanpa harus steril, pada
pH 4,0 sampai 4,5. ini karena kebanyakan bakteri pencemar tak dapat
tumbuh dengan baik dalam media asam ini. Selain itu, diameter sel ragi
adalah sekitar 0,0005cm, dibandingkan dengan bakteri 0,0001 cm. Karena
besarnya, ragi itu dapat dipisahkan dari media tumbuh dengan cara
sentrifugal, tanpa memerlukan tahap penggumpalan.
Produksi protein sel tunggal pada ragi tergantung pada dipenuhinya
kebutuhan oksigen kultur yang sedang tumbuh dengan cara sentrifugal,
tanpa memerlukan tahap penggumpalan. Produksi protein sel tunggal pada
ragi tergantung pada dipenuhinya kebutuhan oksigen kultur yang sedang
tumbuh. Ragi yang tumbuh pada karbohidrat biasanya memerlukan sekitar
1 kilogram berat kering sel dan jika ditumbuhkan pada hidrokarbon
diperlukan sekitar dua kali lebih banyak. Udara, yang disterilkan melalui
suatu filter, dimasukkan ke dalam fermentor melalui layar atau pipa yang
berlobang-lobang pada dasar wadah, atau dengan pemasukan udara lewat
roda berputar, atau juga memalui pengapung udara, seperti digunakan
untuk mengkultur sel bakteri.
Protein sel tunggal pada ragi dapat dihasilkan dalam suasana steril,
maupun dalam suasana bersih tapi tak steril. Pada adonan biasa, atau

adonan yang disuplai bahan nutrisi yang tidak perlu steril, sumber
energinya dipakai karbohidrat. Media disterilkan dengan cara mengalirkan
melalui pertukaran panas, lalu dimasukkan ke dalam fermentor yang bersih.
Pengontrolan pencemaran dilakukan ke dalam fermentor yang bersih.
Pengontrolan pencemaran dilakukan dengan mengatur pH media pada 4,0
sampai 5,0, pemasukan udara yang steril, dan besar populasi mikroba
pencemar yang sedikit. Pada beberapa fermentasi ragi sistem kontinyu yang
menggunakan hodrokarbon atau etanol sebagai substrat, perlu suasana steril
sempurna, agar didapat hasil memuaskan dan bermutu.
Candida utilis, yang dikenal sebagai ragi torula dan digunakan
untuk tambahan pakan ternak dan konsumsi manusia, dibuat dari bahan
mentah yang beraneka macam. Diantaranya adalah etanol, cairan limbah
sulfit dari pabrik kertas, hidrokarbon berupa parafin normal, dan air dadih
keju. Pure Culture Product Division of Hercules,Inc, memiliki pabrik
protein sel tunggal dalam C.utilis di Hutchinson, Mennesote. Pabrik itu
berkapasitas 6.800 ton setahun.
Pabrik itu dioprasikan dengan system kontinyu dan dalam suasana
steril. Sebagai sumber energi dan karbon digunakan etanol. Sel ragi
diangkat terus menerus, dicuci, dan dikeringkan dengan semprotan.
Produk ini dipakai untuk makanan. Selanjutnya dapat diproses untuk
menghasilkan bumbu penyedap. Hasil biasa sekitar 0,7 metrik ton ragi
kering untuk tiap metric ton etanol yang terpakai. Kandungan protein
produk itu berkisar antara 50 dan 55 persen.
Pabrik berskala komersial di Amerika Serikat dan Eropa juga
menghasilkan C. utillis dari cairan limbah sulfit. Dalam proses yang biasa,
cairan sulfit, yang mengandung campuran gula dibubuhi kapur. Lalu
dididihkan secara terbuka untuk membuang sulfur dioksida, sulfit, dan
senyawa dulfur lain yang dapat menghambat pertumbuhan ragi.
Pengoperasian harus dalam suasana bersih tapi tak perlu steril, seperti
diuraikan sebelumnya. Produk diambil dengan sentrifugasi, lalu dicuci dan
dikeringkan.

Dari cairan sulfit dapat diperoleh produk untuk makanan manusia


atau pakan ternak, tergantung pada system proses dan control kualitas
produk yang diberlakukan. Dengan menggunakan cairan limbah sulfit,
didapat hasil sekitar 1 metrik ton berat kering ragi untuk tiap 2 ton gula
dalam cairan itu.
Pada tahun 1960 an Brithish Petroleum Company Ltd dan yang lain,
terutama Kanegefuchi Chemical Industry Company Ltd di jepang,
mengembangkan proses berskala besar untuk membuat protein sel tunggal
pada ragi Candida dengan menggunakan hidrokarbon paraffin rantai lurus
sebagai substrat. Pada awal tahun 1960 an Brithish Petroleum membangun
pabrik berkapasitas 100.000 metrik ton per tahun di Sardinia. Proses yang
digunakan oleh pabrik itu memerlukan hidrokarbon paraffin dengan
kemurnian 95,7 sampai 97 persen, yang dibuat dengan tapisan molekuler.
Fermentor yang diaduk dan dialirkan udara ke dalamnya dirancang untuk
beroperasi menurut system kontinyu dan dalam suasana steril.
Meskipun pabrik itu selesai, namun tak pernah beroperasi dalam
skala komersial, karena timbul perselisihan antara Brithish Petroleum dan
pemerintah Italia tentang kualitas produksi, terutama dengan adanya residu
hidrokarbon. Pada masa ini, All Union Research Institute of Protein
Biosynthesis di Rusia (USSR) merupakan satu satunya yang masih
mengoperasikan pabrik berskala besar untuk memproduksi protein sel
tunggal dari hidrokarbon. Kapasitas operasi dilaporkan berkisar antara
20.000 sampai 40.000 metrik ton per tahun. Produknya digunakan untuk
pakan ternak.
Hasil protein sel tunggal ragi dari hidrokarbon paraffin adalah
dengan perbandingan 2,9 metrik ton ragi kering tiap metrik ton
hidrokarbon. Kandungan protein spesies Candida yang digunakan dalam
proses hidrokarbon berkisar antara 60 65 persen, agak lebih tingggi
sedikit dari pada kandungan protein C.utillis.
Sekitar 14 juta kilogram air didih dihasilkan tiap tahun di pabrik
keju di Amerika Serikat. Air didih keju mengandung sekitar 4 persen

lakotosa, yang bisa segera digunakan sebagai substrat oleh ragi fragilis
(Kluyveromyces fragilis)
Universitas

Food

Corporation

of

Milwaukee,

Wisconsin,

mengoperasikan suatu pabrik di Juneau, Wisconsin, untuk menghasilkan


ragi fragilis dari air didih keju yang yang diambil dari pabrik keju
sekitarnya. Setelah media yang menggunakanair didih itu diinokulasi, maka
ragi pun tumbuh sampai mencapai konsentrasi tetap 1 miliar sel tiap
milliliter dalam waktu 8 sampai 12 jam. Proses itu dikemudian beroperasi
dengan pemberian air didih encer dan bahan nutrisi dan pengambilan
produk raginya menurut sistem kontinyu. Hasilnya adalah sekitar 0,45
sampai 0,55 kilogram berat kering ragi perkilogram laktosa yang
digunakan.
Produk yang digunakan untuk makanan hewan dan manusia dibuat
dengan proses ini. Produk pakan ternak mengandung sekitar 45 % protein
kasar dan 3 % kelembaban, sedangkan produk untuk makanan manusia
mengandung sekiatar 50 persen protein. Bel Fromagerie membuat produk
sel tunggal ragi dengan proses sama pada pabriknya di Vendome, Prancis.
Perusahan Philips Company di Bartlesville, Oklahoma, beru baru
ini telah membuat metoda baru untuk memproduksi protein sel tunggal
ragi, yang member hasil lebih inggi dari pada tahun 1983, fermentor
memiliki pengaduk mekanik yang mendapat sangat banyak pertukaran
panas dan oksigen.
Konsentrasi sel mencapai 12 sampai 16 persen berat kering bahan
jika C.utilis ditumbuhkan pada etanol, sukrosa atau tetes, atau jika K.
fragilis ditumbuhkan pada air didih keju. Dengan system adonan yang
diberi bahan nutrisi yang konvensional, dihasilkan konsentrasi sekitar 4
persen, seperti disebut sebelumnya, karena tingginya konsentrasi sel yang
didapat dengan metode Phillips ini, maka media kultur dapat dimasukan
langsung ke dalam semprotan pengering tanpa harus dipadatkan dulu.
Hasilnya cukup banyak menghemat energi.

3. Kapang dan Jamur Tinggi


Banyak macam jamur tinggi yang dimakan manusia. Cendawan
yang biasa dijual dipasar, Agaricus campestris adalah satu contoh.
Cendawan ini ditumbuhkan pada manur (kotora kandang ternak) atau
kompos. Orang jepang menanam cendawan shiitake, Cortinelhus
berkelyanus pada balok jenis kayu tertentu yang telah diinokulasi dengan
suspense spora jamur. Di Cina, jamur merang Volvaria volvacea dibiakan
pada jerami padi yang dibasahi, setelah diinokulasi dengan spora jamur ini..
Tambahan lagi, banyak bahan makanan yang diragikan, seperti
beras, ikan, kedelai yang dihasilkan di Asia dengan bantuan kapang.
Kapang lain yang berperan dalam menu manusia ialah seperti Trichosporon
pullulans, yang biasa ditanam orang selama perang dunia I. kapang ini
ditanam pada wadah yang berisi media cair yang mengandung gula.
Mycelium, yaitu, jalinan benang yang terbentuk ketika kapang itu tumbuh
dan kaya akan lemak, lalu dipanen, dan dipakai sebagai saus.
Produksi protein sel tunggal pada kapang sekarang ini memakai
metoda yang sama dengan yang dipakai untuk membuat bahan sama pada
ragi. Gula sederhana atau bahan mentah yang mengandungnya cocok
sebagai substrat bagi berbagai macam kapang. Konsentrasi karbohidrat
dalam media biakan biasanya sekitar 10 persen. Sebagai sumber nitrogen
dan tambahan mineral yang dimasukkan kedalam media, biasa dipakai
amonia atau garam amonium.
Angka pertumbuhan kapang dan jamur tinggi. Waktu tumbuh
antara 4 sampai 16 jam, biasanya lebih rendah daripada bakteri dan ragi.
Kapang dan jamur tinggi tumbuh subur pada suhu 25 sampai 360C dan
pada pH 3,0 sampai 7,0. Namun kebanyakan ditanam pada pH dibawah 5,0.
Ini perlu untuk mengurangi sebanyak mungkin pencemaran bakteri.
Sistem adonan atau sistem gabungan adonan yang diberi bahan
nutrisi, atau system kontinyu, dapat diapakai untuk memproduksi protein
sel tunggal. Kebanyakan pada proses dengan system adonan, akan
mendapat hasil paling baik jika fermentornya diberi udara secara

konvensional. Operasinya dilakukan dalam suasana steril jika produk itu


untuk makan manusia. Tapi, jika untuk konsumsi hewan, dapat diproduksi
dalam lingkungan bersih tanpa harus disterilkan. Seperti fermentasi lain,
pendinginan harus dilakukan pula, untuk mengimbangi panas yang
terbentuk selama pertumbuhan kapang.
Kapang dan jamur tinggi, jika dikultur dalam fermentor yang diberi
udara, dapat tumbuh dalam bentuk benang atau pellet, tergantung pada
spesies yang ditanam dan suasana pemberian udara.
Ini dapat menyederhanakan cara pengambilan produknya, karena
mycelium yang berbnetuk beang atau pellet dapat dengan mudah
dipisahkan dari media dengan cara menapis atau dengan menggunakan
saringan vakum yang berputar, atau dengan saringan yang bertekanan biaya
rendah. Namun tangki yang diaduk secara mekanis tidak cocok bagi
pertumbuhan mirkoba, karena benang kapang dapat terkonsentrasi sekitar
pengaduk dan tidak tersebar rata pada seluruh media kultur. Penggunaan
fermentor yang didalamnya pemberian udara juga bertindak sebagai
pengaduk dapat mencegah masalah ini.
Beberapa

perusahaan

telah

mengembangkan

proses

untuk

memproduksi protein sel tunggal pada kapang. Di inggris, Ranks Hovis


McDougall Ltd membuat produk yang disebut Mycoprotein pada kapang
Fusarium graminearum, untuk dipasarkan sebagai makanan manusia.
Sumber energy untuk makanan kapang itu adalah glukosa, dan waktu
tumbuhnya sekitar 5,5 jam. Hasilnya sekitar 0,5 kilogram berat kering sel
untuk tiap kilogram gula yang terpakai.
Bahan perlu diolah lagi untuk menurunkan kadar asam ribonukleat
yang dikandungnya, karena konsumsi bagi orang jika lebih dari 2 gram/hari
dapat menimbulkan sakit batu ginjal atau encok. Setelah disaring,
lempengan mycelium benang dapat ditandai dari baunya yang harum, dan
dibuat menjadi produk yang mirip dengan daging ayam yang putih, dengan
kadar protein 45%. Kapasitas pabrik Ranks Hovis McDougall itu sekitar 50

sampai 100 ton tiap tahun. Namun kini produk ini hanya menghasilkan
sedikit untuk pengamatan uji pasar di inggris.
Pada tahun 1960-an berbagai proses dikembangkan untuk
memproduksi mycelium cendawan yang digunakan sebagai bumbu
pengharum makanan. Banyak diantara pabrik jamur itu, bukan hanya
sebagai sumber protein sel tunggal, tetapi juga untuk membantu
membersihakn ampas dari tempat pemrosesan makanan dan industry
(ICAITI) di Guatemala telah menyelidiki penggunaan jamur Trichoderma
harzianum untuk membersihkan ampas dari limbah pabrik pemrosesan
kopi di El Salvador, sementara itu didapat protein sel tunggal untuk
tambahan hewan. System itu beroperasi dalam suasana non-steril.
Kandungan produk mikroba dalam 24 jam meningkat menjadi 3,2
gram per liter dan mengandung 56% protein berat kering. Proyek
percobaan ini telah beroperasi sebagai unit percontohan.
Di Finlandia, the Finnish pulp and paper research institute dan
Tampela telah

ekerja untuk mengem angkan pro e pekilo

engan

menggunakan jamur Paecilomyses varioti, dengan cairan limbah sulfit


sebagai medianya. Dengan demikian ini juga dapat mengurangi
pencemaran lingkungan. Fermentasi itu menghasilkan hampir 3 gram
mycelium jamur per liter media tumbuh tiap jam. Protein sel tunggal
didapat dengan cara menyaring, lalu dicuci dan dkeringkan. Produk itu
dapat dipakai sebagai makanan hewan, memiliki kandungan protein 55
sampai 60%. Pabrik milik Finlandia itu memiliki kapasitas produk 10.000
ton tiap tahun, suatu kemampuan yang membuat pabrik itu menjadi
produsen terbesar protein sel tunggal pada jamur. Namun, suasana ekonomi
sekarang tidak memungkinkan untuk terus memproduksi protein pekilo itu.
Pemanfaatan limbah pertanian, kehutanan atau pemprosesan
makanan sebagai makanan hewan, dapat uga ditingkatkan dengan
penanganan substrat padat bagi jamur.dalam operasi ini, airnya dkeluarkan
dari substrat limbah. Sehingga terbentuk media setengah padat dengan

kelembaban 50 sampai 80%. Sebagai sumber nitrogen dan fosfor,


dimasukkan pupuk komersial.
Pengamat di Universitas Waterloo di Ontario, kanada, membuat
satu metoda untuk menggunakan jamur Chaetomium cellulolyricum untuk
mengubah karbohidrat dari selulosa yang terdapat dalam limbah pertanian,
kehutanan, atau pabrik kertas, menjadi produk protein sel tunggal.
Envirocon Ltd telah membangun satu pabrik percontohan di Vancouver,
Columbia inggris, berdasarkan proses yang dibuat di Waterloo, dan
memiliki kapasitas untuk memproduksi 1 ton protein sel tunggal tiap hari.
Bubur limbah pabrik pulp yang telah di sterilkan, di inkubasi
dengan C.cellulolyticum. kedalam fermentor dimasukkan pula bahan nutrisi
tambahan secukupnya. Fermentor ini berkapasitas 1.400 liter tiap 24 jam.
Produk dari fermentor ini lalu dipindahkan ke fermentor kedua, dengan
kapasitas 14.000 liter. Setelah 36 jam fermentasi selesai, dan produknya
dipanen secara kontinyu. Untuk tiap fermentor rata rata didapat 0,5
kilogram protein sel tunggal, dan mengandung 42% protein.

E. Nilai Ekonomi Protein Sel Tunggal


Faktor yang mempengaruhi kelayakan produksi protein sel tunggal dari
segi ekonomi meliputi:
1. Biaya mendirikan fasilitas produksi.
2. Biaya menyediakan bahan mentah, energi tenaga kerja, pemeliharaan,
penanggulangan limbah, dan turunnya harga tahunan.
3. Jauhnya letak pabrik dari pemasok bahan mentah serta untuk pemasaran
produk.
Pada pertengahan tahun 1970-an biaya untuk memproduksi protein sel
tunggal untk makanan dengan menggunakan bahan mentah metanol, berkisar
anatara $ 660 sampai $ 1.000 per metrik ton kapasitas tahunan bagi pabrik
yang memproduksi 50.000 sampai 100.000 metrik ton per tahun. Kini biaya
modal ini bisa hampir dua kali lipat. Akibatnya, tidaklah mengherankan bahwa
sejak pertengahan tahun 1970 an sedikit sekali pabrik berskala besar yang

dibangun. Namun telah dilakukan perbaikan dan tambahan fasilitas terhadap


pabrik yang ada sekarang.
Perluasan pasar untuk produk protein sel tunggal sebagai makanan
ternak tergantung pada harga produk dan bagaimana efisiennya meningkatkan
pertumbuhan ayam broiler, banyak ayam dan kalkun bertelur, serta
pertumbuhan babi, dibandingkan dengan yang ditampilkan oleh protein alam
untuk makanan ternak sekarang ini, seperti kedelai dan ikan. Pengamatan yang
luas terhadap makanan ternak yang berasal dari protein sel tunggal, telah
dilakukan oleh British Petroleum dan Imperial Chemical Industries.
Pengamatan ini mencatat kebutuhan yang diperlukan untuk memuaskan para
calon konsumen dan badan pengatur pemerintah tentang nilai produk yang
akan dipakai sebagai pakan ternak, seperti ayam dan babi, dan untuk
meningkatkan penggunaannya sebagai konsumsi manusia.
Kelezatan dan tekstur, sebagai tambahan terhadap nilai nutrisinya
merupakan penentu yang penting untuk dapatnya protein sel tunggal
dijjadikan makana manusia. Pada masa ini, pemasaran utama produk untuk
manusia ialah sebagai bumbu penyedap atau untuk meragikan bahan
makanan. Seperti, derivat protein ragi telah digunakan sebagai penyedap
makana sejak lama. Seperti ragi torula yang ditambahkan ketika mengolah
daging membuatnya jadi labih gurih. Dan ragi roti, tentu saja, dipakai untuk
membuat roti dan produk peragian lain. Selain itu, produk baru protein sel
tunggal lain haruslah memenuhi persyaratan yang disebutkan dalam peraturan
yang dikeluarkan badan pemerintah, sebelum dapat dipasarkan untuk
makanan manusia atau hewan.
Produksi PST dapat berupa isolat protein sel atau semua komponen
sel karena hal-hal sebagai berikut :
a. Produksi protein lebih cepat dan efisien dibandingkan produksi
protein nabati atau hewani.
b. Nilai gizi PST lebih tinggi dibandingkan protein nabati karena
komposisi asam amino lebih lengkap.

c. Produksi PST tidak memerlukan tempat yang luas dibandingkan


produksi protein nabati atau hewani.
d. Produksi PST tidak dipengaruhi kondisi luar karena kondisi
fermentasi dapat diatur.
e. Proses produksi PST fleksibel karena dapat digunakan berrbagai
substrat dan mikroorganisme.
Produksi dan penggunaan PST juga mempunyai kelamahankelemahan sebagai berikut :
a) Kandungan asam nukleat tinggi. Kandungan asam nukleat dalam
tubuh manusia akan diubah menjadi asam urat sebagai produk
akhir. Kandungan asam urat yang terlalu tinggi dalam tubuh
manusia dapat merangsang gejala penyakit tulang (encok).
b) Dinding sel mikroorganisme kadang kadang mengandung
komponen yang tidak dapat dicerna dan bersifat racun atau
menyebabkan

alergi.

Beberapa

mikroorganisme

juga

memproduksi toksin yang berbahaya, misalnya aflatoksin oleh


beberapa kapang.
c) Mikroorganisme mungkin mengadsorbasi komponen beracun atau
karsinogenik

yang

terdapat

didalam

substrat,

misalnya

hidrokarbon rantai ganjil dan bercabang, komponen aromatic dan


sebagainya.
d) Fluktuasi harga dan persediaan sustrat yang tidak tetap, Biaya
penyediaan substrat meliputi 40-50 % dari total biaya produksi
PST.

Beberapa produk bahan makanan


yang terbuat dari Mikroorganisme untuk manusia
Mikroorganisme
Acetobacter xylinum
Monascus purpureus
Agaricus bisporus
Lentinus edodes
Volvariella volvacea
Ragi
Saccharomyces cerevisea
Endomyopsis sp.
Aspergillus wentii
Rhizopus oligosporus
Rhizopus oryzae
Mucor sp
Neurospora sitophila
Penicillium sp.
Thiobacillus sp.
Aspergillus niger
Jamur, bakteri, Actinomycetes
Bakteri, jamur, protozoa
Leuconostoc citrovarum
Saccharomyces kefir
Lactobacillus casei
Aspergillus oryzae

Bahan dasar
Air kelapa
Nasi merah
Jerami, serbuk kayu, kertas
bekas.
idem
idem
Beras ketan, singkong
idem
idem
Kedelai
idem
idem
idem
Ampas kacang tanah
Susu
Bijih logam mutu rendah
Gula, tebu, molase
Bahan organik campuran
Komponen limbah
Susu
Susu
Susu
Kedelai

Produk/hasil
Nata de coco
Angkak
Produksi jamur
Produksi jamur
Produksi jamur
Fermentasi
Fermetasi
Fermentasi
Kecap
Tempe
Tempe
Tempe
Oncom
Keju
Pencucian logam
Asam organik
Pengkomposan
Perlakuan limbah
Mentega
Kefir
Yakult
Tauco

F. Hari Depan Protein Sel Tunggal


Kelayakan teknologis memproduksi protein sel tunggal dalam skala
besar telah banyak diperlihatkan. Beberapa pengoprasian komersial kini
dilakukan untuk perluasan yang terbatas pada berbagai Negara diseluruh dunia.
Memperkenalkan produk baru sel tunggal akan lebih dibatasi oleh faktor
ekonomi pasar dan pertimbangan peraturan yang ada, dari pada oleh kendala
teknologis.
Penggunaan protein sel tunggal yang paling mungkin bagi makanan
mikroba baru bagi usaha komersial. Sangat diperlukan pula mencari strain
mikroba yang disamping dapat menghasilkan produk secara efisien, dapat pula
tahan terhadap tekanan lingkungan, seperti suhu tinggi, garam konsentrasi
tinggi, dan tahan terhadap variasi PH dan pemaparan terhadap pelarut. Sekali

strain mikroba demikian dapat diidentifikasi, masalah yang sering ditemukan


untuk meningkatkan proses dari skala laboratorium ke skala produksi
komersial, haruslah dipecahkan pula. Semua masalah ini bervariasi dari satu
proses ke proses lain, dan sering membutuhkan kecerdikan untuk
menanggulanginya.
Akhirnya penelitian dapat menjurus pada penggantian reaksi kimia
dengan reaksi biologis. Orang jepang telah lama khusus aktif dalam bidang ini.
Pustaka ilmiah jepang banyak memuat laporan yang menunjukkan usaha sangat
giat untuk menggunakan metode mikroba untuk membuat beraneka ragam
senyawa, seperti alcohol, asam lemak, dan gula, yang kini masih dibuat dengan
metode kimia. Potensi mikroba dimasa depan sangat besar. Tinggal bagi para
ahli bioteknologi untuk mengubah mimpi ini menjadi kenyataan.

BAB III
KESIMPULAN
Protein sel tunggal adalah sel mikroba kering seperti daging, bakteri, ragi,
kapang, dan jamur tinggi yang ditumbuhkan dalam kultur skala besar. Protein ini
dipakai untuk konsumsi manusia atau hewan. Produk itu juga berisi bahan nutrisi
lain, sperti karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral.
Teknologi modern untuk membuat protein sel tunggal berasal dari tahun
1879 di Inggris dengan diperkenalkannya adonan yang diinginkan untuk membuat
ragi ropti (saccoramyces cerevisiase). Sekitar tahun 1900, di America Serikat
diperkenalkan oleh pemusing untuk memisahkan sel ragi rotidari adonan
pembiakan.
Produksi protein sel tunggal dapat melalui proses fotosintesis (untuk
mikroorganisme

yang

berklorofil),

dapat

pula

melalui

fermentasi

(mikroorganisme yang tidak berklorofil).


Faktor yang mempengaruhi kelayakan produksi protein sel tunggal dari
segi ekonomi meliputi:
1. Biaya mendirikan fasilitas produksi.
2. Biaya mnyediakan bahan mentah, energi tenaga kerja, pemeliharaan,
penanggulangan limbah, dan turunnya harga tahunan.
3. Jauhnya letak pabrik dari pemasok bahan mentah serta untuk pemasaran
produk.

DAFTAR PUSTAKA
Litchfield, John H (1991). Revolusi Bioteknologi. Jakarta: Yayasan obor Indonesia
Iyoh.
(2012)
Protein
Sel
Tunggal.
[Online].
http://iyohbio.blogspot.com/2012/05/protein-sel-tunggal.html.
[19 September 2014]

Tersedia

Komalasari, ai sri (2011). Protein Sel Tunggal. [Online]. Tersedia : http://askbiosmart.blogspot.com/2011/12/protein-sel-tunggal.html.


[19 September 2014]