Anda di halaman 1dari 19

[STRUKTUR-KINERJA-PERILAKU INDUSTRI

OPERATOR TELEPON SELULER DI INDONESIA ;


December 22, 2009 ANALISIS DENGAN PENDEKATAN PANEL]

BAB 1
Pendahuluan
1.1. Latar Belakang Masalah
Industri operator telepon seluler di Indonesia telah menjadi salah satu
aspek yang penting dalam kehidupan masyarakat. Semakin meningkatnya
kebutuhan masyarakat akan kebutuhan pada sektor telekomunikasi seluler dapat
dilihat dari terus meningkatnya jumlah pelanggan perusahaan operator seluler.
Gambar 1.

Sumber : diolah dari data statistik POSTEL


Dari hasil pengolahan data diatas kita dapat melihat semakin
meningkatnya jumlah pelanggan operator seluler dari tahun 2002 hingga tahun
2008. Setiap tahun presentase pelanggan operator telepon seluler terus meningkat
hingga pada tahun 2008 peningkatan tersebut mencapai 47.191.362 pelanggan
atau hingga 51% kenaikannya dari tahun 2007 dimana saat itu jumlah pelanggan
operatot telepon seluler masih berjumlah 93.386.881.
Pasar telepon seluler di Indonesia diperkirakan memiliki tingkat
perputaran pelanggan bulanan tertinggi di dunia (Tempo, 2007). Pelanggan
telepon seluler di Indonesia begitu mudah untuk berganti nomor telepon ke
operator lain. Hal ini tidak terlepas dari persaingan antar operator telekomunikasi
di Indonesia. Angka perputaran pelanggan telepon seluler di Indonesia
diperkirakan mencapai 8,6 persen dalam sebulan (Tempo, 2007). Menurut

University Of Airlangga | Departemen Ilmu Ekonomi 1


[STRUKTUR-KINERJA-PERILAKU INDUSTRI
OPERATOR TELEPON SELULER DI INDONESIA ;
December 22, 2009 ANALISIS DENGAN PENDEKATAN PANEL]

penelitian yang dilakukan lembaga ROA (Research On Asia), pada tahun 2010
angka pengguna ponsel di Indonesia pun diprediksikan mencapai angka 133 juta.
Dengan kata lain, sekitar separuh dari seluruh populasi negeri ini yang
diperkirakan mencapai 250 juta jiwa, merupakan pengguna ponsel. Dengan
demikian, Indonesia pun akan menempati peringkat ketiga pasar ponsel terbesar
di Asia setelah Cina dan India (Kristo, 2007).
Salah satu kerangka dasar dalam analisis ekonomi industri adalah
hubungan antara Struktur-Perilaku-Kinerja atau Structure-Conduct-Performance
(S-C-P). Hubungan paling sederhana dari ketiga variabel tersebut adalah
hubungan linier di mana struktur mempengaruhi perilaku kemudian perilaku
mempengaruhi kinerja. Dalam perkembangannya hubungan tersebut menjadi
suatu kerangka yang timbal balik dan saling mempengaruhi, termasuk masuknya
variabel-variabel baru dalam interaksi tersebut antara lain teknologi, progresivitas,
strategi dan usaha-usaha untuk mendorong penjualan (Martin, 1993: 2).
Hubungan linier Struktur-Perilaku-Kinerja tersebut dijelaskan dalam Gambar 1 di
bawah ini;
Gambar 2. Bagan Sederhana Struktur-Perilaku-Kinerja

Sumber : (Martin, 1993:3)


Berdasarkan pada kerangka hubungan Struktur-Perilaku-Kinerja tersebut
di atas, kinerja perusahaan selanjutnya sangat dipengaruhi atau ditentukan oleh
variabel perilaku. Perilaku perusahaan menjadi satu bahasan yang menarik jika
persaingan yang terjadi adalah persaingan tidak sempurna. Dalam persaingan
sempurna perusahaan akan menjual produk pada harga pasar dengan status hanya
mengikuti harga pasar, tetapi tidak mempunyai insentif lebih jauh untuk
melakukan strategi lain seperti melakukan advertensi atau reaksi terhadap perilaku
pesaing untuk menciptakan hambatan masuk. Perilaku yang dilakukan oleh
perusahaan antara lain adalah kolusi, perilaku stratejik, advertensi, penelitian dan
pengembangan (R&D) (Martin, 1993: 5-6). Dalam interaksi antara Struktur
Perilaku-Kinerja yang lebih luas, variabel-variabel yang digunakan untuk
merepresentasikan perilaku perusahaan juga semakin luas.

University Of Airlangga | Departemen Ilmu Ekonomi 2


[STRUKTUR-KINERJA-PERILAKU INDUSTRI
OPERATOR TELEPON SELULER DI INDONESIA ;
December 22, 2009 ANALISIS DENGAN PENDEKATAN PANEL]

1.2. Tujuan dan Permasalahan


Penelitian mengenai struktur-perilaku dan kinerja Industri operator telepon
seluler adalah hal yang menarik untuk dilakukan. Pertanyaan yang coba untuk
dijawab oleh penulis dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimanakah struktur, perilaku, dan kinerja industri operator telepon
seluler di Indonesia?
2. Bagaimanakah struktur pasar dan perilaku perusahaan dapat
mempengaruhi kinerja industri operator telepon seluler di Indonesia?
3. Bagaimanakah Alternatif solusi yang mungkin diterapkan baik oleh
pemerintah maupun perusahaan dalam industri operator telepon seluler di
Indonesia?
Tulisan ini terdiri dari pendahuluan yang berisi latar belakang masalah dan
tujuan penelitian, selanjutnya uraian singkat teori, dilanjutkan dengan gambaran
umum industri operator telepon seluler di Indonesia. Hal terpenting selnjutnya
adalah bagian pembahasan mengenai struktur, perilaku, dan kinerja industri
operator telepon seluler di Indonesia dilanjutkan pembahasan mengenai pengujian
kuantitatif mengenai perilaku apa saja yang paling mempengaruhi kinerja indutri
operator telepon seluler di Indonesia dan bagaimanakah alternatif solusi yang
mungkin diterapkan baik oleh pemerintah maupun perusahaan dalam industri
operator telepon seluler di Indonesia.

University Of Airlangga | Departemen Ilmu Ekonomi 3


[STRUKTUR-KINERJA-PERILAKU INDUSTRI
OPERATOR TELEPON SELULER DI INDONESIA ;
December 22, 2009 ANALISIS DENGAN PENDEKATAN PANEL]

Bab 2
Tinjauan Teori
2.1. Structure-Conduct-Performance
Dalam peneliian ini digunakan dasar teori organisasi industri dari Stephen
Martin sebagai Grand Theory, yang diback-up dengan dasar teori organisasi
industri dari Chris Britton dan William G. Sheperd. Adapun, teori organisasi
industri mengenai hubungan structure-conduct-performance dari Martin yang
dimaksud sebagai grand theory dalam penelitian dapat dilihat pada gambar 3.
Argumentasi digunakannya model teori Martin adalah bahwa teori ini cukup
sederhana namun, cukup representatif untuk dapat menjelaskan fenomena industri
operator telepon seluler di Indonesia. Selanjutnya, implikasi dasar teori dari
sheperd yang dimaksud dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 1.
Sedangkan, implikasi dasar teori dari sheperd yang dimaksud dalam penelitian ini
dapat dilihat seperti pada gambar 4. Argumentasi digunakann dasar teori Britton
dan Sheperd ini sebagai pelengkap penjelasan teori dasar dari Martin adalah agar
penjabaran dalam variabel pokok tersebut lebih nampak jelas, sehingga masih
diperlukan penjelasan tambahan yang dimaksud.
Gambar 3. The interactive Structure-Conduct-Performance market framework

Sumber: (Stephen Martin, 1994:7)

University Of Airlangga | Departemen Ilmu Ekonomi 4


[STRUKTUR-KINERJA-PERILAKU INDUSTRI
OPERATOR TELEPON SELULER DI INDONESIA ;
December 22, 2009 ANALISIS DENGAN PENDEKATAN PANEL]

Gambar 4. Industri Organization Structure-Conduct-Market Performance


Approach

Sumber: (Wiliam G. Shepherd, 1990:6)


Berkaitan dengan penelitian sebelumnya tentang strategi harga sebagai
salah satu tindakan perilaku pasar, maka dasar teori Britton dapat dimanfaatkan
sebagai dasar teori untuk menjelaskan implikasi dari hubungan antara struktur
pasar, perilaku pasar dengan kinerja pasar seperti yang dimaksud dalam penelitian
ini. Britton, (1994) mengemukakan hubungan struktur-perilaku dan kinerja seperti
Tabel 1 berikut ini.

University Of Airlangga | Departemen Ilmu Ekonomi 5


[STRUKTUR-KINERJA-PERILAKU INDUSTRI
OPERATOR TELEPON SELULER DI INDONESIA ;
December 22, 2009 ANALISIS DENGAN PENDEKATAN PANEL]

Tabel 1. The implication of the theory of market structures for the


beviour and performance of firm.

Sumber: Ian Worthington and Chris Britton, 1994:284


2.2. Rasio Konsentrasi dan Indeks Herfindahl Sebagai Ukuran Struktur
Pasar
Dalam studi empiris mengenai struktur industri, dua indikator konsentrasi
perusahaan umumnya digunakan, yaitu: rasio konsentrasi dan Indeks Herfindahl-
Hirschman (IHH) (Church & Ware, 2000: 428-30; Blair & Kaserman, 1985: 235-
7). Rasio konsentrasi perusahaan n menunjukkan pangsa penjualan n perusahaan
terbesar terhadap total penjualan industri. Rasio konsentrasi yang umum
digunakan adalah CR4 dan CR8, yang masing-masing menunjukkan pangsa 4
perusahaan terbesar dan pangsa 8 perusahaan terbesar dalam industri. Struktur
pasar suatu industri dapat juga dianalisis dengan menggunakan IHH, yang
merupakan hasil penjumlahan kuadrat pangsa pasar tiap-tiap perusahaan dalam
suatu industri. Indeks ini bernilai antara lebih dari 0 hingga 1. Jika IHH mendekati
nilai 0, berarti struktur industri yang bersangkutan cenderung ke pasar persaingan,
sementara jika indeks bernilai mendekati 1 maka struktur industri tersebut
cenderung bersifat monopoli. Struktur industri operator telepon seluler yang
diamati dari indikator konsentrasi industri dengan menggunakan metode CR4,
CR8, maupun Indeks Herfindahl (lihat Tabel 6). Berdasarkan analisis standar
dalam ekonomi industri, struktur industri dikatakan berbentuk oligopoli bila 4
perusahaan terbesar menguasai minimal 40% pangsa pasar penjualan dari industri
yang bersangkutan (CR4 = 40%) (Kuncoro, et al., 1997: bab 22). Apabila
kekuatan keempat perusahaan tersebut dianggap sama, maka pangsa
penjualan/produksi masing-masing perusahaan adalah 10% dari nilai

University Of Airlangga | Departemen Ilmu Ekonomi 6


[STRUKTUR-KINERJA-PERILAKU INDUSTRI
OPERATOR TELEPON SELULER DI INDONESIA ;
December 22, 2009 ANALISIS DENGAN PENDEKATAN PANEL]

penjualan/produksi suatu industri. Sedangkan, menurut Stigler, suatu industri


dikatakan berstruktur oligopoli bila mempunyai konsentrasi industri lebih dari
60% (Hasibuan,1993).

University Of Airlangga | Departemen Ilmu Ekonomi 7


[STRUKTUR-KINERJA-PERILAKU INDUSTRI
OPERATOR TELEPON SELULER DI INDONESIA ;
December 22, 2009 ANALISIS DENGAN PENDEKATAN PANEL]

Bab 3
Metodologi Penelitian
Penelitian mengenai struktur-perilaku dan kinerja Industri telekomunikasi
seluler ini menggunakan dua metode. Metode pertama adalah metode deskriptif-
analitis yang akan menguraikan struktur-perilaku dan kinerja Industri
telekomunikasi di Indonsia. Metode kedua adalah metode kuantitatif dengan
menggunakan metode regresi linear menggunakan panel random effect.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dengan
jenis data panel. Data tersebut terdiri dari kinerja 10 perusahaan operator telepon
seluler di Indonesia dari tahun 2002 hingga tahun 2008 sebagai sampel penelitian
ini. Adapun variabel penelitian dalam metode kuantitatif penelitian ini terdiri dari
EBITDA, marketshare, ARPU, biaya pemasaran dan investasi. Sumber data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah berasal dari data statistik POSTEL 2009.
Penelitian ini ditujukan untuk ; 1) mengetahui struktur, perilaku, dan
kinerja industri operator telepon seluler di Indonesia; 2) menganalisis bagaimana
struktur pasar dan perilaku perusahaan mempengaruhi kinerja industri operator
seluler di Indonesia; 3 Melakukan analisis deskriptif atas temuan-temuan dalam
analisis kuantitatif, sehingga diaharapakan diperoleh alternatif solusi pada akhir
penelitian ini.
Model yang akan diestimasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
EBITDA = β 0 + β 1 Marketshare + β 2 ARPU + β 3 BiayaPemasaran + β 4 Investasi + ε

Dimana ;
EBITDA ; Pendekatan pendapatan yang dihitung dari penerimaan
operator telepon seluler sebelum dikurangi dengan bunga, pajak, penyusutan
(depresiasi) dan amortisasi.
Marketshare ; Presentase pelanggan suatu perusahaan dibandingkan
seluruh pelanggan di industri.
ARPU ; Pendapatan rata-rata operator dari suatu pelanggan yang
menggunakan produknya.
BiayaPemasaran ; Biaya yang dikeluarkan oleh tiap perusahaan untuk
memasarkan produknya.

University Of Airlangga | Departemen Ilmu Ekonomi 8


[STRUKTUR-KINERJA-PERILAKU INDUSTRI
OPERATOR TELEPON SELULER DI INDONESIA ;
December 22, 2009 ANALISIS DENGAN PENDEKATAN PANEL]

Investasi ; Biaya yang dikeluarkan oleh tiap perusahaan untuk


menambah kapasitas perusahaan.
β0=β1=β2 ; koefisien hasil estimasi
ε ; Koefisien variabel penganggu

University Of Airlangga | Departemen Ilmu Ekonomi 9


[STRUKTUR-KINERJA-PERILAKU INDUSTRI
OPERATOR TELEPON SELULER DI INDONESIA ;
December 22, 2009 ANALISIS DENGAN PENDEKATAN PANEL]

Bab 4
Hasil dan Pembahasan
4.1. Deskripsi Obyek Penelitian
4.1.1. Structure
Dari hasil perhitungan ternyata rata-rata konsentrasi industri operator
telepon seluler di Indonesia di atas 40% yaitu 90% untuk perhitungan konsentrasi
industri menurut metode CR3. Dengan demikian, struktur industri operator
telepon seluler di Indonesia dapat digolongkan berstruktur oligopoli. Dari hasil
perhitungan IHH ternyata rata-rata nilainya adalah sebesar 0,37 yang berarti
struktur dari industri operator telepon seluler di Indonesia tidak berstruktur
monopoli karena nilai rata-rata IHH tidak mendekati satu. Dari nilai rata-rata CR3
ternyata industri operator telepon seluler di Indonesia mempunyai nilai
konsentrasi sebesar 90%. Maka berdasarkan klasifikasi struktur industri yang
ditetapkan oleh Bain (1956), struktur industri operator telepon seluler di
Indonesia masuk dalam tipe III yaitu oligopoli dengan tingkat konsentrasi moderat
tinggi. Artinya 3 perusahaan terbesar menguasai sekitar 90% dari total penawaran
suatu barang ke pasar.
Gambar 5.

Sumber: Diolah dari data statistic POSTEL


Pada tahun 2003-2008 ada pertambahan jumlah perusahaan sebanyak 7 buah
sehingga menjadi 10 perusahaan operator telepon seluler. Nilai konsentrasi

University Of Airlangga | Departemen Ilmu Ekonomi 10


[STRUKTUR-KINERJA-PERILAKU INDUSTRI
OPERATOR TELEPON SELULER DI INDONESIA ;
December 22, 2009 ANALISIS DENGAN PENDEKATAN PANEL]

industri mengalami penurunan yang tajam (CR3 mengalami penurunan sebesar


21%).
Adapun 3 perusahaan terbesar dalam industri operator telepon seluler
hingga saat ini adalah PT Telkomsel, PT Indosat dan PT Excelcomindo. Pada
tahun 2008 PT Telkomsel berada di posisi pertama dengan menguasai 40,4%
pasar diikuti secara berturut-turut oleh PT Indosat dan PT Excelcomindo dengan
pangsa pasar sebesar 23% dan 16%.

4.1.2. Conduct
4.1.2.1. Harga
Harga dalam industry operator telepon seluler tiap tahunnya semakin
kompetitif. Semakin kompetitifnya harga dalam industry ini bisa jadi dikarenakan
masuknya teknologi CDMA dan tumbuhnya perusahaan operator telepon seluler
yang pada tahun 2002 masih berjumlah 3 perusahaan dan saat ini telah menjadi 10
perusahaan. 7 perusahaan yang masuk ke dalam industry ini pada rentang waktu
tahun 2003 hingga 2008 antara lain adalah PT Natrindo Telepon Seluler, PT
Hutchison CP Telecommunication, PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia, PT
Smart Telecom, PT Telkom (Flexi), PT Bakrie Telecom, dan PT Mobile-8.

Gambar 6.

Sumber: Diolah dari data statistic POSTEL

University Of Airlangga | Departemen Ilmu Ekonomi 11


[STRUKTUR-KINERJA-PERILAKU INDUSTRI
OPERATOR TELEPON SELULER DI INDONESIA ;
December 22, 2009 ANALISIS DENGAN PENDEKATAN PANEL]

Pada gambar 6 kita dapat melihat penurunan rata-rata ARPU dari tahun ke
tahun. ARPU Sendiri adalah Pendapatan rata-rata operator dari suatu pelanggan
yang menggunakan produknya. Dengan asumsi bahwa intensitas penggunaan
telepon seluler oleh setiap pelanggan adalah tetap, maka harga dari tahun ke tahun
turun seiring dengan tumbuhnya jumlah perusahaan dalam industry tersebut. Pada
tahun 2002 rata-arpu masih mencapai Rp 106.909,00 untuk setiap pelanggan,
sedangkan pada tahun 2008 ARPU tersebut turun hingga 71% menjadi Rp
31.152,00 untuk setiap[ pelanggan. Hal ini sejalan dengan teori keseimbangan
pasar yang pertama kali dikemukan oleh Adam Smith dimana penawaran yang
naik pada suatu komoditi dapat menyebabkan turunnya harga komoditi tersebut
Gambar 7. Scatter plot jumlah pelanggan operator telepon seluler dan ARPU

Sumber: Diolah dari data statistic POSTEL


Sementara pada gambar 7 kita dapat melihat korelasi negative antara
jumlah pelanggan operator telepon seluler dan ARPU. Dalam gambar tersebut
ketika ARPU turun terjadi penurunan jumlah pelanggan operator telepon seluler.
gambar juga memperlihatkan bahwa permintaan sangat elastic terhadap perubahan
harga dari trendline yang memiliki R Squared sebesar 0,914.
4.1.2.2. Diferensiasi produk
Produk yang ditawarkan oleh setiap perusahaan dalam industry ini cukup
terdiferensiasi. Setiap perusahaan memiliki keunggulan tersendiri. Ada pun
keunggulan yang ditawarkan kepada konsumen antara lain adalah jangkauan,

University Of Airlangga | Departemen Ilmu Ekonomi 12


[STRUKTUR-KINERJA-PERILAKU INDUSTRI
OPERATOR TELEPON SELULER DI INDONESIA ;
December 22, 2009 ANALISIS DENGAN PENDEKATAN PANEL]

kejernihan suara, paket harga, dan value added service. Produk yang
terdiferensiasi tersebut membuat setiap perusahaan dalam industry operator
telepon seluler memiliki konsumen tersendiri sesuai dengan kebutuhan masing-
masing konsumen
4.1.2.3 Iklan
Gambar 8.

Sumber: Diolah dari data statistic POSTEL


Pada gambar 8 kita dapat melihat rata-rata biaya pemasaran setiap
perusahaan pada industry operator telepon seluler yang fluktuatif dari tahun ke
tahun namun meninngkat secara garis besar. Pada tahun 2002 rata-rata biaya
pemasaran hanya Rp 171,1667 milyar dan pada tahun 2008 biaya pemasaran
tersebut naik hingga 352% dengan nilai Rp 773,2 milyar. Naiknya biaya
pemasaran tersebut dimungkinkan karena berkembangnya pasar dan
meningkatnya persaingan pada industry operator telepon seluler.

University Of Airlangga | Departemen Ilmu Ekonomi 13


[STRUKTUR-KINERJA-PERILAKU INDUSTRI
OPERATOR TELEPON SELULER DI INDONESIA ;
December 22, 2009 ANALISIS DENGAN PENDEKATAN PANEL]

4.1.2.4. Investasi Modal


Gambar 9.

Sumber : diolah dari data statistik POSTEL


Pada gambar 9 kita dapat melihat rata-rata Investasi setiap perusahaan
pada industry operator telepon seluler yang fluktuatif dari tahun ke tahun namun
meninngkat secara garis besar. Naiknya investasi tersebut terutama pada tahun
2006 dimungkinkan karena berkembangnya pasar dan meningkatnya persaingan
pada industry operator telepon seluler dan masuknya teknologi 3G.

4.1.3. Performance
4.1.3.1. EBITDA
Tingat profitabilitas kami ukur dengan EBITDA yang merupakan
Pendekatan pendapatan yang dihitung dari penerimaan operator telepon seluler
sebelum dikurangi dengan bunga, pajak, penyusutan (depresiasi) dan amortisasi.
Pada gambar 10 kita dapat melihat EBITDA 6 perusahaan dalam industry
operator telepon seluler di Indonesia. Rata-rata EBITDA yang paling tinggi
adalah Telkom dengan nilai Rp 25,892 milyar kemudian Telkomsel pada urutan

University Of Airlangga | Departemen Ilmu Ekonomi 14


[STRUKTUR-KINERJA-PERILAKU INDUSTRI
OPERATOR TELEPON SELULER DI INDONESIA ;
December 22, 2009 ANALISIS DENGAN PENDEKATAN PANEL]

kedua dan Indosat pada urutan ketiga dengan nilai Rp 15,660 milyar dan Rp 6,555
milyar.
Gambar 10.

Sumber : diolah dari data statistik POSTEL


Sementara pada pada gambar 11 kita dapat melihat Rata-rata EBITDA
yang meningkat secara keseluruhan walaupun mengalami penurunan pada tahun
2008.
Gambar 11.

Sumber : diolah dari data statistik POSTEL

University Of Airlangga | Departemen Ilmu Ekonomi 15


[STRUKTUR-KINERJA-PERILAKU INDUSTRI
OPERATOR TELEPON SELULER DI INDONESIA ;
December 22, 2009 ANALISIS DENGAN PENDEKATAN PANEL]

4.2. Analisis Hasil Regresi


Dalam setiap Industri, diharapakan terdapat pengaruh positif antara
peningkatan input dan kapasitas terhadap profitabilitas. Sesuai dengan hal
tersebut, dalam penelitian ini di asumsikan bahwa tingkatan kinerja Industri yang
diukur dengan EBITDA secara relatif dipengaruhi oleh struktur industri yang
diukur dengan market share dan perilaku yang diukur dengan ARPU, Biaya
pemasaran dan Investasi. Sesuai dengan dasar tersebut, disusun sebuah model
ekonometrika sederhana untuk mengetahui bagaimana struktur pasar dan perilaku
perusahaan mempengaruhi kinerja industri operator seluler. Adapun model regresi
ekonometrika sederhana tersebut adalah sebagi berikut :
EBITDA = β 0 + β 1 Marketshare + β 2 ARPU + β 3 BiayaPemasaran + β 4 Investasi + ε

Dimana ;
EBITDA ; Pendekatan pendapatan yang dihitung dari penerimaan
operator telepon seluler sebelum dikurangi dengan bunga, pajak, penyusutan
(depresiasi) dan amortisasi.
Marketshare ; Presentase pelanggan suatu perusahaan dibandingkan
seluruh pelanggan di industri.
ARPU ; Pendapatan rata-rata operator dari suatu pelanggan yang
menggunakan produknya.
BiayaPemasaran ; Biaya yang dikeluarkan oleh tiap perusahaan untuk
memasarkan produknya.
Investasi ; Biaya yang dikeluarkan oleh tiap perusahaan untuk
menambah kapasitas perusahaan.
β0=β1=β2 ; koefisien hasil estimasi
ε ; Koefisien variabel penganggu
Tabel 2. Hasil Regresi

Dependent Variable: EBITDA


Method: Panel EGLS (Cross-section random effects)
Date: 12/31/09 Time: 20:23
Sample: 2002 2008
Periods included: 7
Cross-sections included: 6
Total panel (unbalanced) observations: 23
Swamy and Arora estimator of component variances

University Of Airlangga | Departemen Ilmu Ekonomi 16


[STRUKTUR-KINERJA-PERILAKU INDUSTRI
OPERATOR TELEPON SELULER DI INDONESIA ;
December 22, 2009 ANALISIS DENGAN PENDEKATAN PANEL]

Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

INVESTASI -0.802382 0.266521 -3.010579 0.0075


MARKETSHARE 22666.91 8318.528 2.724870 0.0139
BIAYAPEMASARAN 12.56420 1.629512 7.710409 0.0000
ARPU 0.069543 0.032872 2.115575 0.0486
C -628.1415 3322.505 -0.189057 0.8522

Effects Specification
S.D. Rho

Cross-section random 4419.795 0.8685


Idiosyncratic random 1719.830 0.1315

Weighted Statistics

R-squared 0.708861 Mean dependent var 2078.149


Adjusted R-squared 0.644164 S.D. dependent var 3771.990
S.E. of regression 2253.952 Sum squared resid 91445356
F-statistic 10.95654 Durbin-Watson stat 1.077380
Prob(F-statistic) 0.000111

Unweighted Statistics

R-squared 0.613625 Mean dependent var 11036.57


Sum squared resid 1.44E+09 Durbin-Watson stat 0.068346

Sumber : Output data menggunakan Eviews 6.0


Secara umum, dilihat dari hasil regresi dengan data panel dan
menggunakan random effect diperoleh hasil sesuai dengan teori yamg berlaku.
Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa struktur pasar dan perilaku perusahaan
memiliki penganruh yang signifikan terhadap kinerja industri operator telepon
seluler di Indonesia . Hal ini dapat diartikan bahwa : 1) Semakin meningkat
Investasi modal yang dikeluarkan setiap perusahaan, semakin turun profitabilitas
perusahaan tersebut. Jika pendapatan investasi naik sebesar Rp 1,00 , maka
profitabilitas perusahaan tersebut akan turun sebesar Rp 0,8; 2) Semakin
meningkat market share sebuah perusahaan, membawa perusahaan tersebut untuk
memiliki tingkat profitabilitas tinggi. Jika market share naik sebesar 1%, maka
ada kemungkinan bahwa perusahaan akan mengalami peningkatan profitabilitas
sebesar Rp 22.666,91; 3) Semakin besar biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh
sebuah perusahaan, membawa perusahaan tersebut untuk memiliki tingkat

University Of Airlangga | Departemen Ilmu Ekonomi 17


[STRUKTUR-KINERJA-PERILAKU INDUSTRI
OPERATOR TELEPON SELULER DI INDONESIA ;
December 22, 2009 ANALISIS DENGAN PENDEKATAN PANEL]

profitabilitas tinggi. Jika biaya pemasaran naik sebesar Rp 1,00 maka ada
kemungkinan bahwa perusahaan akan mengalami peningkatan profitabilitas
sebesar Rp 12,56; 4) ARPU sebuah perusahaan, akan membawa perusahaan
tersebut untuk memiliki tingkat profitabilitas lebih tinggi. Jika ARPU naik sebesar
Rp 1,00 ada kemungkinan bahwa perusahaan akan mengalami peningkatan
profitabilitas sebesar Rp 0,07.

University Of Airlangga | Departemen Ilmu Ekonomi 18


[STRUKTUR-KINERJA-PERILAKU INDUSTRI
OPERATOR TELEPON SELULER DI INDONESIA ;
December 22, 2009 ANALISIS DENGAN PENDEKATAN PANEL]

Bab 5
Kesimpulan dan Implikasi Kebijakan
5.1. Kesimpulan
1. Industri operator telepon seluler di Indonesia memiliki struktur pasar
oligopoli dengan tingkat konsentrasi moderat tinggi dengan perilaku yang
bersaing dalam memperebutkan pelanggan untuk memperbesar market
share dengan mengeluarkan biaya pemasaran yang tinggi diferensiasi
produk dan berbagai tindakan strategis untuk memaksimalkan
profitabilitas. Sedangkan secara keseluruhan kinerja Industri terus
meningkat kecuali pada tahun 2008 mengalami penrunan ketika terjadi
pembubaran kartel pada industri ini.
2. Dari tahun 2002 hingga tahun 2008 terdapat pengaruh yang kuat dari
peningkatan biaya pemasaran dan market share terhadap EBITDA.
Pengaruh yang kuat tersebut menunjukkan peningkatan biaya pemasaran
oleh perusahaan dalam industri operator telepon seluler sebagai tindakan
strategis berhasil meningkatkan kuantitas pasar yang akhirnya juga
meningkatkan profitabilitas.
5.2. Implikasi Kebijakan
1. Selain peningkaatan biaya pemasaran, diferensiasi produk bisa dijadikan
senjata ampuh untuk meningkatkan market share dan tingkat profitabilitas.
Diferensiasi produk dapat membantu konsumen untuk menentukan
pilihannya sesuai dengan kebutuhan masing-masing konsumen.
2. Pemerintah dapat memberikan kebijakan pemakaian infrastruktur secara
bersama untuk meningkatkan efisiensi biaya investasi dan meningkatkan
persaingan secara sehat sekaligus meningkatkan kinerja industri operator
telepon seluler di Indonesia.

University Of Airlangga | Departemen Ilmu Ekonomi 19