Anda di halaman 1dari 35

BAB I: PENDAHULUAN

Terdapat hubungan yang erat antara ilmu kedokteran dengan ilmu hukum.
Hubungan ini bahkan telah ada sejak 1700 tahun SM, yang ditulis oleh Raja
Hammurabi, Kerajaan Babylonia. Pada Konstitusi Criminales Carolina dari Charles
V pada tahun 1532, terdapat hak-hak yang diberikan dalam melakukan penyidikan
terhadap kasus luka-luka. Pada tahun 1720, Bohn merupakan orang yang pertama kali
membedakan luka antemortem dengan postmortem. Kini, penelitian dan penulisan
medikolegal dari luka semakin dikenal di sentra-sentra pendidikan kedokteran
maupun hukun, sesuai perkembangan ilmu kedokteran kehakiman itu sendiri.(1)
Sekitar 50-70% kasus yang datang ke rumah sakit, terutama di instalasi gawat
darurat, adalah kasus perlukaan atau trauma. Luka-luka ini dapat terjadi akibat dari
kecelakaan, penganiayaan, bunuh diri, bencana, maupun terorisme. Seorang dokter,
dalam tugas sehari-harinya, selain melakukan pemeriksaan diagnostik serta
memberikan pengobatan dan perawatan kepada pasien, juga mempunyai tugas
melakukan pemeriksaan medik untuk membantu penegakan hukum, baik untuk
korban hidup, maupun korban mati, antara lain adalah dengan pembuatan Visum et
Repertum (VeR).(1)
Dari segi medikolegal, orientasi dan paradigma yang digunakan dalam merinci
luka dan kecederaan adalah untuk dapat membantu merekonstruksi peristiwa
penyebab terjadinya luka dan memperkirakan derajat keparahan luka (severity of
injury). Dengan demikian, pada pemeriksaan suatu luka bisa saja ada beberapa hal
yang dianggap penting dari segi medikolegal, tidak dianggap perlu untuk tujuan
pengobatan, seperti misalnya lokasi luka, tepi luka, dan sebagainya. Berdasarkan
uraian di atas, sama-sama disadari bahwa pembuatan VeR memiliki aspek
medikolegal yang harus diperhatikan, terutama penilaian klinis untuk menentukan
derajat luka.(1)

Visum et Repertum (VeR) merupakan salah satu barang bukti sah menurut
KUHAP yang sering diminta oleh pihak penyidik (polisi) kepada dokter menyangkut
kejahatan terhadap tubuh manusia. (1)
Visum et Repertum (VeR) merupakan alat bukti dalam proses peradilan yang
tidak hanya memenuhi standar penulisan rekam medis, tetapi juga harus memenuhi
hal-hal yang disyaratkan dalam sistem peradilan. Menurut penelitian yang dilakukan
di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading Jakarta pada tahun 2004, data yang
diperoleh menunjukkan bahwa jumlah kasus perlukaan dan keracunan yang
memerlukan VeR pada unit gawat darurat mencapai 50-70%. Dibandingkan dengan
kasus pembunuhan dan perkosaan, kasus penganiayaan yang mengakibatkan luka
merupakan jenis yang paling sering terjadi, dan oleh karenanya penyidik perlu
meminta VeR kepada dokter sebagai alat bukti di depan pengadilan.(2)
Dalam praktik sehari-hari seorang dokter tidak hanya melakukan pemeriksaan
medis untuk kepentingan diagnostik dan pengobatan penyakit saja, tetapi dokter juga
harus siap mengenali tanda-tanda adanya tindak pidana terhadap tubuh manusia.
Seorang pasien yang datang ke instalasi gawat darurat tujuan utama yang
bersangkutan umumnya adalah untuk mendapatkan pertolongan medis agar
penyakitnya sembuh. Namun bila dokter mendapati adanya tanda-tanda tindak
pidana, maka dokter harus memeriksa pasien secara detail dengan memberikan
penanganan awal.Karena kasus yang dialami pasien merupakan suatu tindak pidana,
dokter menjelaskan kepada pasien ataupun keluarga untuk melaporkepada pihak
kepolisian agar keluarga mengajukan permintaan untuk dibuatkan VeR.(2)
Menurut pasal 165 KUHP ayat (1) Barang siapa mengetahui ada niat untuk
melakukan salah satu kejahatan berdasarkan pasal-pasal 104, 106, 107, dan 108,
110-113, dan 115-129 dan 131 atau niat untuk lari dan tentara dalam masa perang,
untuk desersi, untuk membunuh dengan rencana, untuk menculik atau memperkosa
atau mengetahui adanya niat untuk melakukan kejahatan tersebutdalam bab VII
dalam kitab undang-undang ini, sepanjang kejahatan itu membahayakan nyawa
orang atau untuk melakukan salah satu kejahatan berdasarkan pasal-pasal 224-228,
250 atau salah satu kejahatan berdasarkan pasal-pasal 264 dan 275 sepanjang
mengenai surat kredit yang diperuntukkan bagi peredaran, sedang masih ada waktu
2

untuk mencegah kejahatan itu, dan dengan sengaja tidak segera memberitahukan hal
itu kepada pejabat kehakiman atau kepolisian atau kepada orang yang terancam oleh
kejahatan itu, dipidana jika kejahatan itu jadi dilakukan, dengan pidana penjara
paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah. (1)
Sebuah VeR yang baik harus mampu membuat terang perkara tindak pidana
yang terjadi dengan melibatkan bukti-bukti forensik yang cukup. Namun, kenyataan
di lapangan, nilai kualitas bagian pemberitaan yang seharusnya merupakan bagian
yang terpenting justru seringkali menjadi nilai yang terendah dari ketiga bagian VeR.
Unsur yang tidak dicantumkan oleh hampir semua dokter adalah anamnesis, tanda
vital, dan pengobatan perawatan. Hal tersebut mungkin disebabkan masih adanya
anggapan bahwa anamnesis, tanda vital dan pengobatan tidak penting dituliskan
dalam VeR, atau juga dapat disebabkan karena dokter pembuat VeR tidak
mengetahui bahwa unsur tersebut perlu dicantumkan dalam pembuatan VeR.Pada
kesimpulan setiap visum et repertum untuk orang hidup harus dilengkapi dengan
kualifikasi lukamenurut rumusan pasal 351, 352, dan 90 Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana (KUHP).(1)
Rumusan ketiga pasal tersebut secara implisit membedakan derajat perlukaan
yang dialami korban menjadi luka ringan, luka sedang, dan luka berat. Secara hukum,
ketiga keadaan luka tersebut menimbulkan konsekuensi pemidanaan yang berbeda
bagi pelakunya. Dengan demikian kekeliruan penyimpulan kualifikasi luka dapat
menimbulkan ketidakadilan bagi korban maupun pelaku tindak pidana. Hal tersebut
dapat mengakibatkan fungsi VeR sebagai alat bukti sah dalam suatu proses peradilan
menjadi berkurang. Berdasarkan tujuannya, paradigma yang digunakan dalam
pemeriksaan medikolegal sangat berbeda dibandingkandengan pemeriksaan klinis
untuk kepentingan pengobatan. Tujuan pemeriksaan medikolegal pada seorang
korban adalah untuk mencari adanya tanda-tanda tindak pidana terhadap tubuh
manusia untuk kepentingan penegakkan hukum. (1)

Tujuan pemeriksaan klinis pada peristiwa perlukaan adalah untuk mendeteksi


adanya kelainan, agar kemudian dapat memulihkan kesehatan pasien melalui
pemeriksaan, pengobatan, dan tindakan medis lainnya. Menurut Dedi Afandi dalam
penelitiannya yang berjudul Visum et Repertum perlukaan: Aspek Medikolegal dan
Penentuan Derajat Luka, mengatakan bahwa apabila seorang dokter yang ditugaskan
untuk melakukan pemeriksaan medikolegal menggunakan orientasi dan paradigma
pemeriksaan klinis, penyusunan VeR dapat tidak mencapai sasaran sebagaimana yang
seharusnya. (1)
Dari segi medikolegal, orientasi dan paradigma yang digunakan dalam
merinci luka dan kecederaan adalah untuk dapat membantu merekonstruksi peristiwa
penyebab terjadinya luka dan memperkirakan derajat keparahan luka (severity of
injury). Dengan demikian pada pemeriksaan suatu luka, bisa saja ada beberapa hal
yang dianggap pentingdari segi medikolegal, tidak dianggap perlu untuk tujuan
pengobatan, seperti misalnya lokasi luka yang mendetail dengan absis dan ordinat,
karakteristik luka, dan sebagainya.(1)

Berdasarkan uraian di atas, perlu disadari bahwa pembuatan VeR memiliki


aspek medikolegal yang harus diperhatikan terutama penilaian klinis untuk
menentukan derajat luka.

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA


Dalam ilmu perlukaan dikenal trauma tumpul dan trauma tajam. Luka
merupakan kerusakan atau hilangnya bubungan antar jaringan (discontinuous tissue)
seperti jaringan kulit, jaringan lunak, jaringan otot, jaringan pembuluh darah, jaringan
saraf dan tulang. (3)
Trauma tumpul ialah suatu roda paksa yang mengakibatkan luka pada
permukaan tubuh oleh benda-benda tumpul. Hal ini disebabkan oleh benda-benda
yang mempunyai permukaan tumpul, seperti batu, kayu, martil, terkena bola, ditinju,
jatuh dari tempat tinggi, kecelakaan lalu lintas dan lain-lain sebagainya.Trauma
tumpul dapat menyebabkan tiga macam luka yaitu luka memar (contusion), luka lecet
(abrasion) dan luka robek (vulnus laceratum). (3)
Trauma tajam ialah suatu ruda paksa yang mengakibatkan luka pada
permukaan tubuh oleh benda-benda tajam. Trauma tajam dikenal dalam tiga bentuk
pola yaitu luka iris atau luka sayat (vulnus scissum), luka tusuk (vulnus punctum)
atau luka bacok (vulnus caecum).
Perbedaan antara trauma tumpul dan trauma tajam, tercantum dalam
table di bawah ini: (3)
Trauma

Tumpul

Tajam

Bentuk Luka

Tidak Teratur

Teratur

Tepi Luka

Tidak Rata

Rata

Jembatan Jaringan

Ada

Tidak ada

Rambut

Tidak ikut terpotong

Ikut terpotong

Dasar Luka

Tidak teratur

Berupa garis atau titik

Sekitar Luka

Ada luka lecet atau memar

Tidak ada luka lain

Sebagai seorang dokter, hendaknya dapat membantu pihak penegak hukum


dalam melakukan pemeriksaan terhadap pasien atau korban perlukaan. Dokter
sebaiknya dapat menyelesaikan permasalahan mengenai: (1)
-

Jenis luka apa yang ditemui

Jenis kekerasan/senjata apakah yang menyebabkan luka

Bagaimana kualifikasi dari luka itu

Sebagai seorang dokter, ia tidak mengenal istiah penganiayaan. Jadi istilah


penganiayaan tidak boleh dimunculkan dalam Visum et Repertum. Akan tetapi
sebaiknya dokter tidak boleh mengabaikan luka sekecil apapun. Misalnya luka lecet
yang stau dua hari akan sembuh sendiri secara sempurna dan tidak mempunyai arti
medis, tetapi sebaliknya dari kaca mata hukum.

1. Klasifikasi Perlukaan
Dalam ilmu perlukaan dikenal trauma tumpul dan trauma tajam. Trauma
diklasifikasikan menjadi:
a. Trauma mekanik
1. Luka akibat benda tajam (2,3)
Luka akibat benda tajam ialah suatu ruda paksa yang mengakibatkan luka
pada permukaan tubuh oleh benda-benda tajam. Ciri-ciri umum dari luka
benda tajam adalah sebagai berikut :
1) Garis batas luka biasanya teratur, tepinya rata dan salah satu sudutnya
runcing
2) Bila ditautkan akan menjadi rapat (karena benda tersebut hanya
memisahkan tidak menghancurkan jaringan) dan membentuk garis.
3) Tebing luka rata dan tidak ada jembatan jaringan.
4) Daerah di sekitar garis batas luka biasanya tidak ada memar

Trauma tajam dibagi menjadi tiga bentuk lagi yaitu luka iris atau
luka sayat (vulnus scissum), luka tusuk (vulnus punctum) dan luka bacok
(vulnus caesum). (3)
6

Luka sayat
Luka sayat ialah luka karena alat yang tepinya tajam dan timbulnya luka
oleh karena alat ditekan pada kulit dengan kekuatan relatif ringan
kemudian digeserkan sepanjang kulit. Ciri-ciri luka sayat yaitu pinggir
luka rata, sudut luka tajam, rambut ikut terpotong, jembatan jaringan
tidak ada, biasanya mengenai kulit, otot, pembuluh darah, tidak sampai
tulang, dan panjang luka umumnya lebih besar daripada dalam luka. (4,5)

Gambar1.1: Luka Sayat(6)

Sumber: Dix J. Color Atlas of Forensic Pathology. New York. 2000

Luka tusuk (2)


Luka tusuk ialah luka akibat alat yang berujung runcing dan bermata tajam
atau tumpul yang terjadi dengan suatu tekanan tegak lurus atau serong pada
permukaan tubuh.Ciri ciri luka tusuk yaitu tepi luka rata, dalam luka lebih
besar dari panjang luka, sudut luka tajam, sering ada memar di sekitar luka.
Kulit di sekitar luka akibat kekerasan benda tajam biasanya tidak
menunjukkan adanya luka lecet atau luka memar, kecuali bila gagang turut
membentur

kulit.

Pada luka tusuk, panjang luka biasanya tidak

mencerminkan lebar benda tajam penyebabnya, demikian pula panjang


saluran luka biasanya tidak menunjukkan panjang benda tajam tersebut. Hal
ini disebabkan oleh faktor elastisitas jaringan dan gerakan korban.

Gambar1.2 :Luka Tusuk(6)

Sumber: Dix J. Color Atlas of Forensic Pathology. New York. 2000

Gambar1.3 :Luka Tusuk(6)

Sumber: Dix J. Color Atlas of Forensic Pathology. New York. 2000

Luka bacok
Luka bacok ialah luka akibat benda atau alat yang berat dengan mata
tajam atau agak tumpul yang terjadi dengan suatu ayunan disertai tenaga yang
cukup besar. Ciri luka bacok yaitu luka biasanya besar, pinggir luka rata,
sudut luka tajam, hampir selalu menimbulkan kerusakan pada tulang, dapat
memutuskan bagian tubuh yang terkena bacokan, kadang-kadang pada tepi
luka terdapat memar, abrasi. Contoh alat yang biasa digunakan adalah pedang,
clurit, kapak, baling-baling kapal dan Machete. (6)

Gambar2.1 :Luka Bacok (6)

Sumber: Dix J. Color Atlas of Forensic Pathology. New York. 2000

2.

Luka akibat benda tumpul (2,4,5,7)


Benda- benda yang dapat menyebabkan luka dengan sifat luka seperti ini
adalah benda yang memiliki permukaan tumpul. Luka yang terjadi dapat berupa
memar

(kontusio,

hematom),

luka

lecet

(ekskoriasi,abrasi)

dan

luka

terbuka/robek (vulnus laseratum) dan bila kekerasan benda tumpul tersebut


sedemikian hebatnya dapat menyebabkan patah tulang.
Luka memar
Memar adalah suatu perdarahan dalam jaringan bawah kulit akibat
pecahnya kapiler dan vena yang disebabkan oleh kekerasan benda tumpul. Luka
memar kadangkala memberi petunjuk tentang penyebabnya, misalnya jejas ban
yang sebenarnya adalah suatu perdarahan tepi (marginal haemorrhage). Umur
luka memar secara kasar dapat diperkirakan melalui perubahan warna. Pada saat
timbul, memar berwarna merah kemudian berubah menjadi ungu atau hitam,
setelah 4 atau 5 hari akan berwarna hijau yang kemudian berubah menjadi
kuning dalam 7 sampai 10 hari dan akhirnya menghilang dalam 14 sampai 15
hari. Bila kekerasan benda tumpul yang mengakibatkan luka memar terjadi pada
daerah dimana jaringan longgar, seperti didaerah mata, leher, atau pada orang
yang lanjut usia, maka luka memar yang tampak seringkali tidak sebanding
dengan kekerasan, dalam arti seringkali lebih luas, dan adanya jaringan longgar
tersebut memungkinkan berpindahnya memar ke daerah yang lebih rendah,
berdasarkan gravitasi. (6)
Dari sudut pandang medikolegal, interpretasi luka memar dapat
merupakan hal yang penting, apalagi bila luka memar tersebut disertai luka lecet
atau laserasi. Dengan perjalanan waktu, baik pada orang hidup maupun orang
mati, luka memar akn memnerikan gambaran yang lebih jelas. (4)
Hematom ante mortem yang timbul beberapa saat sebelum kematian
biasanya akan menunjukkan pengbengkakan dan ilfiltrasi darah ke dalam
jaringan sehingga dapat dibedakan dari lebam mayat dengan melakukan
penyayatan kulit. Pada lebam mayat, darah akan mengalir keluar, dari pembuluh
10

darah yang tersayat sehingga dialiri air, penampang sayatan akan tampak bersih,
sedangkan pada hematom penampang sayatan tetap berwarna kehitaman. Tetapi
harus diingat bahwa pada pembusukan juga terjadi ekstravasasi darah yang dapat
megacaukan pemeriksaan ini. (3)

Gambar2.2 : Luka Memar(6)

Sumber: Dix J. Color Atlas of Forensic Pathology. New York. 2000

Luka lecet (5,6)


Luka lecet adalah luka yang superfisial, kerusakan tubuh terbatas
hanya pada lapisan kulit yang paling luar, terjadi akibat cedera epidermis yang
bersentuhan dengan benda yang memiliki permukaan kasar. Manfaat
interpretasi luka lecet adalah:
a.

Petunjuk kemungkinan adanya kerusakan yang hebat pada alat-alat


dalam tubuh, misalnya jaringan hati, ginjal atau limpa yang dari
pemeriksaan luar hanya tampak adanya luka lecet di daerah yang sesuai
dengan alat-alat dalam tersebut.

b.

Petunjuk perihal jenis dan bentuk permukaan dari benda tumpul yang
menyebabkan luka

c.

Petunjuk dari arah kekerasan, yang diketahui dari tempat dimana kulit
ari yang terkelupas banyak terkumpul pada tepi luka (pada luka lecet
geser).

11

Gambar 2.3 : Luka Lecet (6)

Sumber: Dix J. Color Atlas of Forensic Pathology. New York. 2000


Luka terbuka/luka robek
Luka robek merupakan luka terbuka akibat trauma benda tumpul yang
mengakibatkan kulit teregang ke satu arah dan bila batas elastisitas kulit
terlampaui maka akan terjadi robekan pada kulit. Luka ini mempunyai ciri
bentuk luka yang umumnya tidak beraturan, tepi atau dinding tidak rata, kadang
tampak jembatan pada ujung luka, bentuk dasar luka tidak beraturan, sering
tampak luka lecet atau luka memar di sisi luka.

Gambar 2.4 : Luka Robek(6)

Sumber: Dix J. Color Atlas of Forensic Pathology. New York. 2000

12

Gambar 2.5 : Luka Robek

Sumber: Dix J. Color Atlas of Forensic Pathology. New York. 2000

3.

Luka Tembak (2,5)


Luka tembak adalah luka yang disebabkan oleh penetrasi anak peluru kedalam
tubuh yang diproyeksikan lewat senjata api atau persentuhan peluru dengan
tubuh. Yang termasuk dalam luka tembak adalah luka tembak masuk dan luka
tembak keluar. Luka tembak masuk terjadi apabila peluru menghantam atau
mengenai kulit dan mendorong kulit sedemikian sehingga melampaui daya
renggang kulit dan kulit menjadi robek, sedangkan luka tembak keluar terjadinya
samaseperti luka tembak masuk, hanya saja kekuatan yang meregangkan kulit
arahnya dari dalam keluar.Pada tempat anak peluru meninggalkan tubuh korban
akan ditemukan luka tembak keluar.Umumnya luka tembak ditandai dengan luka
masuk yang kecil dan luka keluar yang lebih besar akibat terjadinya deformitas
anak peluru, bergoyangnya anak peluru dan terikutnya jaringan tulang yang
pecah keluar dari luka tembak masuk. Luka ini biasanya juga disertai dengan
kerusakan pada pembuluh darah, tulang, dan jaringan yang ditembus oleh peluru.
Pada anak peluru yang menembus tulang pipih, seperti tulang atap tengkorak,
akan terbentuk corong yang membuka searah dengan gerak anak peluru.

13

Di sekitar luka tembak keluar mungkin pula dijumpai daerah lecet bila pada
tempat keluar tersebut terdapat benda yang keras, misalnya ikat pinggang atau
korban sedang bersandar pada dinding.

Luka tembak keluar mungkin lebih kecil dari luka tembak amsuk bila terjadi
pada luka tembak temple atau kontak, atau pada anak peluru yang telah
kehabisan tenaga pada saat akan keluar meninggalkan tubuh. Bentuk luka
tembak keluar tidak khas dan sering tidak beraturan.

Luka tembak masuk jarak jauh hanya dibentuk oleh komponen anak peluru,
sedangkan luka tembak masuk jarak dekat dibentuk oleh komponen anak peluru
dan butir-butir mesiu yang tidak habis terbakar. Luka tembak masuk jarak dekat
dibentuk oleh komponen anak peluru, butir mesiu, jelaga dan panas atau api.

Luka tembak masuk tempel atau kontak dibentuk oleh seluruh komponen
tersebut diatas (yang akan masuk ke dalam saluran luka) dan jejas laras. Saluran
luka akan berwarna hitam dan jejas laras akan tampak mengelilingi luka tembak
masuk sebagai luka lecet jenis tekan, yang terjadi sebagai akibat tekanan
berbalik dari udara hasil ledakan mesiu.

Gambaran luka tembak masuk jarak jauh dapat juga ditemukan pada korban
yang tertembak pada jarak dekat atau sangat dekat, apabila diatas permukaan
kulit terdapat penghalang misalnya pakaian yang tebal, ikat pinggang, helm dan
sebagainya sehingga komponen-komponen buir mesiu yang tidak habis terbakar,
jelaga dan api tertahan oleh penghalang tersebut.

Jarak

penembakan

yang

tepat

hanya

dapat

diperkirakan

dengan

membandingkan luka tembak masuk yang ditemukan dengan luka tembak amsuk
yang diperoleh dari uji coba tembakan yang menggunakan senjata dan peluru
yang sejenis.

14

Gambar3.1 : Luka Tembak Jarak Jauh

Sumber: Dix J. Color Atlas of Forensic Pathology. New York. 2000

Gambar3.2 : Luka Tembak Jarak Dekat

Sumber: Dix J. Color Atlas of Forensic Pathology. New York. 2000


b.

Trauma Fisik
1.

Luka akibat suhu atau temperature (2,5,8)


Suhu tinggi dapat mengakibatkan terjadinya heat exhaustion primer.

Temperatur kulit yang tinggi dan rendahnya pelepasan panas dapat menimbulkan
kolaps pada seseorang karena ketidakseimbangan antara darah sirkulasi dengan
lumen pembuluh darah. Hal ini sering terjadi pada pemaparan terhadap panas,
kerja jasmani berlebihan dan pakaian yang terlalu tebal. Dapat pula terjadi heat
exhaustion sekunder akibat kehilangan cairan tubuh yang berlebihan (dehidrasi).
Heat stroke adalah kegagalan kerja pusat pengatur suhu akibat terlalu tingginya
temperatur pusat tubuh.

15

Sun stroke dapat terjadi akibat panas sinar matahari yang menyebabkan
hipertermi. Sedangkan heat cramps terjadi akibat menghilangnya NaCl darah
dengan cepat akibat suhu tinggi. Luka bakar terjadi akibat kontak kulit dengan
benda bersuhu tinggi. Kerusakan kulit yang terjadi tergantung pada tinggi suhu
dan lama kontak.
Luka bakar pada kasus bukan kecelakaan/disengajakan biasanya
didapatkan pada anak-anak umur dibawah 3 tahun. Selain dari luka-luka lain,
patogenesis terjadinya luka dan letak luka bisa menimbulkan keraguan
kesahihannya. Tidak hanya pada anak-anak, malah orang dewasa juga. Antara
letak luka pada luka bakar bukan karena kecelakaan adalah,
Tanda pada cedera luka bakar yang sengaja dilakukan.
a. Terlihat tanda dari bekas rokok , korek api , besi
b. Luka bakar telapak kaki, telapak tangan, alat kelamin , bokong, perineum
c. Luka bakar simetris dan kedalaman yang sama
d. Tidak ada tanda percikan di cedera melepuh.
e. Apakah ada bagian yang tidak cedera pada daerah fleksi
f. " tanda donat , " area kulit terhindar dikelilingi oleh melepuh . Jika
g. Anak secara paksa ditekan dalam bak air panas , bagian dalam kontak
dengan bagian bawah bak mandi tidak akan terbakar , tapi jaringan di sekitar
akan terbakar.
h. Tanda-tanda lain dari kekerasan fisikusia memar yang bervariasi.
i. Kurangnya kepatuhan terhadap perawatan kesehatan

Pemaparan terhadap suhu rendah misalnya di puncak gunung yang tinggi,


dapat menyebabkan kematian mendadak. Mekanisme kematian dapat diakibatkan
oleh kegagalan pusat pengatur suhu maupun akibat rendahnya disosiasi oxy-Hb.

16

2.

Luka akibat trauma listrik (2,5,9)


Faktor yang berperan pada cedera listrik ialah tegangan(volt), kuat arus

(amper), tahanan kulit (ohm), luas dan lama kontak. Tegangan rendah (<65 V)
biasanya tidak berbahaya bagi manusia, tetapi tegangan sedang (65-1000 V) dapat
mematikan. Selain faktor-faktor kuat arus, tahanan dan lama kontak, hal lain yang
penting diperhatikan adalah luas permukaan kontak. Satu permukaan kontak
seluas 50 cm persegi (kurang lebih selebar telapak tangan) dapat mematikan tanpa
menimbulkan jejas listrik karena pada kuat arus letal (100 mA), kepadatan arus
pada daerah selebar telapak tangan tersebut hanya 2 mA/cm persegi, yang tidak
cukup besar untuk menimbulkan jejas listrik. Kematian dapat terjadi karena
fibrilasi ventrikel, kelumpuhan otot pernapasan dan kelumpuhan pusat
pernapasan.

Gambar 2.1 Luka akibat trauma listrik (7)


Sumber: Management Guidelines: Initial management of the patient with severe
Burns (cited online)
Gambaran makroskopis jejas listrik pada daerah kontak berupa kerusakan
lapisan tanduk kulit sebagai luka bakar dengan tepi yang menonjol, di sekitarnya
terdapat daerah pucat yang dikelilingi oleh kulit yang hiperemi. Bentuknya sering
sesuai dengan benda penyebabnya. Metalisasi dapat ditemukan jejas pada jejas
listrik.Sesuai dengan mekanisme terjadinya, gambaran serupa jejas listrik secara
makroskopik juga timbul akibat persentuhan kulit dengan benda/logam panas
(membara). Walau demikian kedua-nya dapat dibedakan dengan pemeriksaan

17

makroskopis. Jejas listrik bukanlah tanda intravital karena juga ditimbulkan pada
kulit mayat/pasca mati (namum tanpa daerah hiperemi).
Luka bakar akibat listrik bisa terjadi apabila seseorang menempelkan
elektroda pada badan seseorang dan mengalirkan arus listrik. Luka bakar yang
timbul biasanya berupa lesi berbentuk bulat dan kecil yang meninggalkan
jaringan parut yang jelas, akan tetapi kebanyakan luka tergantung jenis arus listrik
yang digunakan. Salah satu contoh kasus penyiksaan dengan menggunakan listrik
adalah seperti kasus di Peru dan beberapa daerah di Afrika Selatan yaitu picana
menggunakan tongkat yang mengalirkan arus bervoltan tinggi tetapi aliran listrik
yang rendah, yang meninggalkan beberapa kumpulan lesi yang ditutupi oleh
krusta berwarna kecoklatan dan kadang-kadang dikelilingi cincin eritem yang
kecil. Pada kasus luka bakar akibat listrik, kerusakan pada kulit menunjukkan
adanya deposit garam kalsium pada struktur sel yang mendapatkan arus elektrik
berdasarkan pemeriksaan biopsi dan pemeriksaan histologi.

(6)

3. Luka akibat petir (7)


Petir adalah loncatan arus listrik tegangan tinggi antara awan dengan tanah.
Tegangan dapat mencapai 10 mega Volt dengan kuat arus mencapai 100.000 A.
Kematian dapat terjadi karena efek arus listrik (kelumpuhan susunan saraf pusat,
fibrilasi ventrikel), panas dan ledakan gas panas yang timbul.Ciri khas dari luka
akibat sambaran petir adalah pada kulit korban didapatkan gambaran pohon
gundul yang disebut arborescent marking. Gambaran ini disebabkan oleh karena
terjadinya vasodilatasi pembuluh darah balik (vena) kecil yang tersentuh oleh
petir. (7)

18

Gambar 1.1 Luka akibat trauma petir (6)


Sumber: Dix J. Color Atlas of Forensic Pathology. New York. 2000
4.

Luka akibat trauma bahan kimia (2,5)


Trauma kimia sebenarnya hanya merupakan efek korosi dari asam kuat dan

basa kuat. Asam kuat sifatnya mengkoagulasikan protein sehingga menimbulkan


luka korosi yang kering, keras seperti kertas perkamen, sedangkan basa kuat
bersifat membentuk reaksi penyabunan intrasel sehingga menimbulkan luka yang
basah, licin dan kerusakan akan terus berlanjut sampai dalam.

Gambar 2.1: Luka akibat trauma kimia disebabkan semen


Sumber: Management Guidelines:Initial management of the patient with
severe Burns (cited online)

Dokter harus bisa mengenali ciri khas dari setiap perlukaan tersebut, sehingga dapat
menentukan apakah adanya unsur tindak pidana.

19

2.

Kualifikasi Luka
Pada kesimpulan visum et repertum untuk orang hidup harus dilengkapi
dengan kualifikasi luka. Kualifikasi luka ini dapat berdasarkan pada:(10)
1. KUHP pasal 351
1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua
tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu
lima ratus rupiah,
2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah
diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.
3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling
lama tujuh tahun.
4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.
5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana. KUHP
pasal 351 ayat 1

2. KUHP pasal 352


1) Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka
2) penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan
untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian, diancam,
sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama
tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah. Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang
melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya,
atau menjadi bawahannya.
3) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

20

3.

Kualifikasi luka dibagi mejadi: (5,11)

i.

Luka ringan / luka derajat I / luka golongan C


Luka yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk
menjalankan pekerjaan, jabatan atau mata pencaharian. Hukuman bagi
pelakunya menurut KUHP pasal 352 ayat 1 adalah selama 3 bulan.
Bila luka pada seorang korban diharapkan dapat sembuh sempurna
dan tidak menimbulkan penyakit dan/atau komplikasinya, maka luka tersebut
dimasukkan ke dalam kategori ini.
Contoh : Pada dahi orang tersebut ditemukan memar akibat
persentuhan benda tumpul yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan
menjalankan pekerjaan mata pencahariannya sebagai petani.Hukuman bagi
pelakunya sesuai dengan KUHP pasal 352 ayat 1, yaitu: Kecuali yang
tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang tidak
menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan
atau pencarian, diancam, sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana
penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu
lima ratus rupiah. Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang
melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya, atau menjadi
bawahannya.(1)

ii.

Luka sedang / luka derajat II / luka golongan B


Luka yang menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan
pekerjaan, jabatan atau mata pencaharian untuk sementara waktu. Sehingga
bila kita memeriksa seorang korban dan didapati penyakit akibat kekerasan
tersebut, maka korban dimasukkan ke dalam kategori ini. Hukuman bagi
pelakunya menurut KUHP pasal 351 ayat 1 adalah selama 2 tahun 8 bulan.

21

Contoh : Pada orang tersebut ditemukan luka tusuk di bahu kiri akibat
persentuhan dengan benda tajam yang mengakibatkan korban menderita
penyakit tetanus selama satu bulan.
Hukuman bagi pelakunya sesuai dengan KUHP pasal 351 ayat 1, yaitu :
Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun
delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah.(1)

iii.

Luka berat / luka derajat III / luka golongan A

Luka berat menurut KUHP pasal 90 yaitu:


Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan
sembuh sama sekali atau menimbulkan bahaya maut
Tidak mampu secara terus menerus untuk menjalankan tugas
jabatan atau pekerjaan pencaharian
Kehilangan salah satu panca indera
Mendapat cacat berat
Menderita sakit lumpuh
Terganggunya daya pikir selama 4 minggu lebih
Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan

Hukuman bagi pelakunya menurut KUHP pasal 351 ayat 2 adalah selama 5
tahun.

22

4. Aspek Medikolegal Visum et Repertum (1)


Visum et Repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis
dalam pasal 184 KUHAP. Visum et Repertum turut berperan dalam proses
pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. VeR
menguraikan segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medic yang terulang di dalam
bagian pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap sebagai pengganti barang bukti.
Visum et Repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter mengenai
hasil pemeriksaan medic tersebut yang tertuang di dalam bagian kesimpulan.
Dengan demikian Visum et Repertum secara utuh telah menjembatani ilmu
kedokteran dengan ilmu hukum sehingga dengan membaca Visum et Repertum,
dapat diketahui dengan jelas apa yang telah terjadi pada seseorng, dan para praktisi
hukum dapat menerapkan norma-norma hukum pada perkara pidana yang
menyangkut tubuh dan jiwa manusia.
Apabila VeR belum dapat menjernihkan duduk persoalan di sidang
pengadilan, maka hakim dapat meminta keterangan ahli atau diajukannya bahan
baru, seperti yang tercantum dalam KUHP, yang memungkinkan dilakukannya
pemeriksaan atau penelitian ulang atas barang bukti, apabila timbul keberatan yang
beralasan dari terdakwa atau penasehat hukumnya terhadap suatu hasil pemeriksaan.
Hal itu sesuai dengan pasal 180 KUHAP.
Bagi penyidik (polisi/polisi militer) VeR berguna untuk mengungkapkan
perkara. Bagi Penuntut Umum (Jaksa) keterangan itu berguna untuk menentukan
pasal yang didakwakan, sedangkan bagi hakim sebagai alat bukti formal untuk
menjatuhkan pidana atau membebaskan seseorang dari tuntutan hukum. Untuk itu
perlu dibuat suatu Standar Prosedur Operasional (SPO) di suatu Rumh Sakit tentang
tatalaksana pengadaan VeR.

23

5.

Dasar Permintaan Visum (12)


Secara harafiah visum et repertum adalah apa yang dilihat dan apa yang

diketemukan. Tetapi pengertian peristilahan, keterangan dokter tentang apa yang


dilihat dan apa yang diketemukan dalam melakukan pemeriksaan terhadap seseorang
yang luka atau meninggal dunia (mayat).
Prosedur permintaan visum ini, sebagai berikut:
1.

Permohonan harus dilakukan secara tertulis, oleh pihak-pihak yang


diperkenankan untuk itu. Alasannya karena permohonan visum ini
berdimensi hukum, artinya dokter tidak boleh dengan serta merta
melakukan pemeriksaan terhadap seseorang yang luka, yang terganggu
kesehatannya ataupun seseorang yang mati karena tindak pidana atau
tersangka sebagai korban tindak pidana.

2. Permohonan ini harus diserahkan oleh penyidik bersamaan dengan korban,


tersangka, dan juga barang bukti kepada dokter sebagai saksi ahli.
Alasannya untuk dapat menyimpulkan hasil pemeriksaannya,dokter tidak
dapat melepaskan diri dari dengan yang lain. Artinya peranan alat bukti
yang lain selain korban mutlak diperlukan.
KUHAP tidak mengatur prosedur rinci apakah korban harus diantar oleh
petugas kepolisian atau tidak. Padahal petugas pengantar tersebut sebenarnya
dimaksudkan untuk memastikan kesesuaian antara identitas orang yang akan
diperiksa dengan identitas korban yang dimintakan visum et repertum nya seperti
yang tertulis di dalam surat permintaan visum et repertum. Situasi tersebut membawa
dokter turut berperan dan bertanggung jawab atas pemastian kesesuaian antara
identitas yang tertera di dalam surat permintaan visum et repertum denganidentitas
korban yang diperiksa. (9)
Dalam praktek sehari-hari, korban perlukaan akan langsung ke dokter dahulu
kemudian dilaporkan ke penyidik. Hal ini membawa kemungkinan bahwa surat
permintaan visum et repertum korban luka akan datang terlambat dibandingkan

24

dengan pemeriksaan korbannya. Sepanjang keterlambatan ini masih cukup beralasan


dan dapat diterima maka keterlambatan ini tidak boleh dianggap sebagai hambatan
pembuatan visum et repertum. Sebagai contoh, adanya kesulitan komunikasi dan
sarana perhubungan, overmacht (berat lawan) dan noodtoestand (darurat).
Adanya keharusan membuat visum et repertum pada korban hidup tidak berarti
bahwa korban tersebut, dalam hal ini adalah pasien, untuk tidak dapat menolak
sesuatu pemeriksaan. Korban hidup juga merupakan pasien sehingga mempunyai hak
sebagai pasien. Apabila pemeriksaan ini sebenarnya perlu menurut dokter pemeriksa
sedangkan pasien menolaknya, maka hendaknya dokter meminta pernyataan tertulis
singkat penolakan tersebut dari pasien disertai alasannya atau bila hal itu tidak
mungkin dilakukan, agar mencatatnya di dalam catatan medis.
Pihak-pihak yang berwenang meminta bantuan ahli kedokteran kehakiman dalam
kaitannya dengan persoalan hukum yang hanya dapat dipecahkan dengan bantuan
ilmu kedokteran kehakiman:
1. Hakim pidana, melalui jaksa dan dilaksanakan oleh penyidik;
2. Hakim perdata, meminta langsung kepada ahli kedokteran;
3. Hakim pada Pengadilan Agama;
4. Jaksa penuntut umum;
5. Penyidik
Visum et Repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas
permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap
manusia, baik hidup atau mati, bagian atau diduga bagian dari tubuh manusia
berdasarkan keilmuannya dan dibawah sumpah untuk kepentingan peradilan.

25

6.

Struktur Visum et Repertum (12)


Unsur penting dalam VeR yang diusulkan oleh banyak ahli adalah sebagai

berikut:
1. Pro Justitia
Kata tersebut harus dicantumkan di kiri atas, dengan demikian VeR
tidak perlu bermeterai.
2. Pendahuluan
Pendahuluan memuat: identitas pemohon visum et repertum, tanggal dan
pukul diterimanya permohonan VeR, identitas dokter yang melakukan
pemeriksaan, identitas subjek yang diperiksa: nama, jenis kelamin,
umur, bangsa, alamat, pekerjaan, kapan dilakukan pemeriksaan, dan
tempat dilakukan pemeriksaan.
3. Pemberitaan (Hasil Pemeriksaan)
Memuat hasil pemeriksaan yang objektif sesuai dengan apa yang
diamati, terutama di lihat dan ditemukan pada korban atau benda yang
diperiksa. Pemeriksaan dilakukan dengan sistematis dari atas kebawah
sehingga tidak ada yang tertinggal. Deskripsinya juga tertentu yaitu
mulai dari letak anatomisnya, koordinatnya (absis adalah jarak antara
luka dengan garis tengah badan, ordinat adalah jarak antara luka dengan
titik anatomis permanen yang terdekat), jenis luka atau cedera,
karakteristik serta ukurannya. Rincian tersebut terutama penting pada
pemeriksaan korban mati yang pada saat persidangan tidak dapat
dihadirkan kembali.
Pada pemeriksaan korban hidup, bagian pemberitaan terdiri dari:
a. Pemeriksaan anamnesis atau wawancara mengenai apayang
dikeluhkan dan apa yang diriwayatkan yangmenyangkut tentang
penyakit yang diderita korbansebagai hasil dari kekerasan/tindak
pidana/diduga kekerasan.

26

b. Hasil pemeriksaan yang memuat seluruh hasil pemeriksaan,baik


pemeriksaan fisik maupun pemeriksaanlaboratorium dan pemeriksaan
penunjang lainnya.Uraian hasil pemeriksaan korban hidup berbeda
denganpada korban mati, yaitu hanya uraian tentang keadaanumum dan
perlukaan serta hal-hal lain yang berkaitandengan tindak pidananya
(status lokalis).
c. Tindakan dan perawatan berikut indikasinya, atau padakeadaan
sebaliknya, alasan tidak dilakukannya suatutindakan yang seharusnya
dilakukan. Uraian meliputijuga semua temuan pada saat dilakukannya
tindakandan perawatan tersebut. Hal tersebut perlu diuraikanuntuk
menghindari kesalahpahaman tentang tepat/tidaknya penanganan dokter
dan tepat/tidaknyakesimpulan yang diambil.
d. Keadaan akhir korban, terutama tentang gejala sisadan cacat badan
merupakan hal penting untuk pembuatankesimpulan sehingga harus
diuraikan denganjelas.
Pada bagian pemberitaan memuat 6 unsur yaitu anamnesis, tanda vital,
lokasi luka pada tubuh, karakteristik luka, ukuran luka, dan tindakan
pengobatan atau perawatan yang diberikan.
4. Ringkasan
Menyusun temuan yang telah didapat dan ditemukan dalam satu
rangkaian mekanisme dan patobiologik. Disarankan menggunakan
bahasa yang paling mudah difahami oleh semua orang. Ringkasan
merupakan satu subjektivitas saintifik seorang dokter yang melakukan
pemeriksaan.
5. Kesimpulan
Memuat hasil interpretasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara
ilmiah dari fakta yang ditemukan sendiri oleh dokter pembuat VeR,
dikaitkan dengan maksud dan tujuan dimintakannya VeR tersebut. Pada
bagian ini harus memuat minimal 2 unsur yaitu jenis luka dan kekerasan
dan derajat kualifikasi luka.

27

Hasil pemeriksaan anamnesis yang tidak didukung oleh hasil


pemeriksaan lainnya, sebaiknya tidak digunakan dalam menarik
kesimpulan. Pengambilan kesimpulan hasil anamnesis hanya boleh
dilakukan dengan penuh hati-hati. Kesimpulan VeR adalah pendapat
dokter pembuatnya yang bebas, tidak terikat oleh pengaruh suatu pihak
tertentu.

Tetapi di dalam kebebasannya tersebut juga terdapat pembatasan, yaitu


pembatasan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi, standar profesi dan
ketentuan hukum yang berlaku. Kesimpulan VeR harus dapat
menjembatani antara temuan ilmiah dengan manfaatnya dalam
mendukung penegakan hukum. Kesimpulan bukanlah hanya resume
hasil pemeriksaan,
melainkan lebih ke arah interpretasi hasil temuan dalam kerangka
ketentuan-ketentuan hokum yang berlaku.

6. Penutup
Memuat pernyataan bahwa keterangan tertulis dokter tersebut dibuat
dengan mengingat sumpah atau janji ketika menerima jabatan atau
dibuat dengan mengucapkan sumpah atau janji lebih dahulu sebelum
melakukan pemeriksaan serta dibubuhi tanda tangan dokter pembuat
VeR.

7. Peranan Dokter Sebagai Saksi Ahli


Kewajiban dokter untuk membuat keterangan ahli telah diatur dalam
pasal 133 KUHAP. Keterangan ahli ini akan dijadikan sebagai alat bukti
yang sah di depan sidang pengadilan (Pasal 184 KUHAP) dan dapat
diberikan secara lisan di depan sidang pengadilan (Pasal 186 KUHAP).
Bila dokter atau tenaga kesehatan dengan sengaja tidak memenuhi
kewajiban saat dipanggil sebagai saksi, atau sebagai ahli dalam suatu

28

kasus yang diduga terkait dengan suatu kejahatan, maka dalam perkara
pidana diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan dan
dalam perkara lain, diancam dengan pidana paling lama enam bulan (Pasal
224 KUHP).

Pada kasus yang terkait dengan pelanggaran, maka dokter atau tenaga
kesehatan dapat didenda sesuai kepantasan menurut persidangan (Pasal
522 KUHP). Pada pasal 170 KUHAP dinyatakan bahwa dokter karena
pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya dapat menggunakan hak undur
diri untuk diminta dibebaskan dari kewajiban untuk memberi keterangan
sebagai saksi, mengenai rahasia kedokteran yang dipercayakan kepadanya
dengan memberikan alasan pada hakim. Hakim akan menentukan sah atau
tidaknya segala alasan untuk permintaan tersebut. Namun, pada pasal 179
KUHAP dinyatakan bahwa permintaan bantuan pengadilan pada dokter
sebagai ahli sesuai prosedur hukum, wajib dipenuhi. Sehingga permintaan
memberikan

keterangan

ahli

atau

permintaan

keterangan

dalam

pemeriksaan pada tahap sebelum pemeriksaan sidang dipengadilan, tidak


dapat diabaikan dengan mengasumsikan seorang dokter atau tenaga
kesehatan memiliki hak undur diri.
Asosiasi Kedokteran Australia dalam Ethical Guidelines for Doctors
Acting as Medical Witnesses juga mengutarakan kewajiban etika yang
dimiliki dokter untuk membantu pengadilan dan proses penyelesaian
sengketa alternatif dengan memberikan bukti ahli apabila dipanggil
persidangan. Dokter harus memberikan bukti ahli untuk membantu
pengadilan yang sifatnya tidak memihak, jujur, objektif dan membatasi
pendapat mereka hanya dalam ruang lingkup keahliannya. Dokter juga
memiliki kewajiban untuk melindungi privasi dan kerahasiaan dari semua
pembuktian relevan yang dimilikinya.
Dari segi yuridis, setiap dokter adalah ahli, baik dokter itu ahli ilmu
kedokteran kehakiman ataupun bukan, Oleh sebab itu setiap dokter dapat
dimintai bantuannya untuk membantu membuat terang perkara pidana
29

oleh pihak yang berwenang. Akan tetapi supaya dapat diperoleh suatu
bantuan yang maksimal, permintaan bantuan itu perlu diajukan pada
dokter yang memiliki keahlian yang sesuai dengan objek yang akan
diperiksa, misalnya:

1. Untuk objek korban mati, sebaiknya diminta kepada ahli ilmu


kedokteran kehakiman.
2. Untuk objek korban hidup yang menderita luka-luka sebaiknya
dimintakan kepada dokter ahli bedah.
3. Untuk objek korban hidup akibat tindakan pidana seksual sebaiknya
dimintakan kepada dokter ahli kandungan.
4. Untuk objek yang berkatan dengan gigi (untuk kepentingan
identifikasi) sebaiknya dimintakan bantuan kepada dokter gigi.
8. Peranan Dokter dalam Proses Peradilan (16)

Kedudukan visum et repertum dalam suatu proses peradilan adalah


sebagai salah satu alat bukti yang sah sebagaimana yang tertulis di pasal
184 KUHAP ayat (1). Visum et repertum turut berperan dalam proses
pembuktian perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia artinya
dokter bukan lagi memeriksa pasien tetapi memeriksa saksi/korban tindak
pidana. Pemeriksaan tersebut dilakukan secara rinci dan diuraikan
kemudian dituang kedalam tulisan dalam bentuk visum et repertum.
Keterangan dan pendapat dokter setelah melakukan pemeriksaan
ditulis di bagian kesimpulan. Dengan demikian visum et repertumtelah
menjadi penghubung antara ilmu kedokteran dan ilmu hukum,sehingga
dengan membaca visum et repertum bisa dipertimbangkan dan diterapkan
sesuai dengan norma hukum menyangkut tubuh atau jiwa seseorang.
Visum et repertum berbeda dengan catatan medik dan surat
keterangan medik lainnya karena visum et repertum dibuat atas kehendak
undang-undang yang berlaku, maka dokter tidak dapat dituntut karena
30

membuka rahasia pekerjaan sebagaimana diatur dalam pasal 322


KUHP,meskipun dokter membuatnya tanpa seizin pasien dan selama visum
et repertum dibuat untuk dipergunakan dalam proses peradilan.
Dalam pasal 170 KUHAP di jelaskan bahwa dokter dapat membuka
rahasia pasien jika keterangan mereka diperlukan sebagai saksi ahli.
Namun rahasia kedokteran tidak bersifat absolut dan dapat dibuka tanpa
dianggap melanggar etika maupun hokum, salah satunya pada keadaan
memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan
hukum.

31

PENUTUP

Kesimpulan

Visum et repertum merupakan salah satu bentuk bantuan dokter dalam


penegakan hukum dan proses peradilan. Visumet repertummerupakan alat bukti
yang sah dalam prosesperadilan sehingga harus memenuhi hal-hal yang
disyaratkandalam sistem peradilan. Sebuah VeR yang baik harus mampumembuat
terang perkara tindak pidana yang terjadi denganmelibatkan bukti-bukti forensik
yang cukup.
Berdasarkan deskripsi luka yang ada, kita sebagai dokter dapat membantu
pihak hukum untuk menentukan kualifikasi luka sesuai dengan KUHP Bab XX
pasal 351 dan 352 serta Bab IX pasal 90 dimana pada kasus-kasus tindak pidana
dapat digunakan untuk menentukan hukuman kepada para pelaku kekerasan.

32

DAFTAR PUSTAKA

1. Affandi D. Visum et Repertum Perlukaan: Aspek Medikolegal dan Penentuan


Derajat Luka. Majalah Kedokteran Indonesia, Volum: 60, Nomor: 4. 2010
2. Arif B, Wibisana W, Siswandi S,dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian
Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1994
3. Apuranto H. Luka Akibat Benda Tajam. Dalam Hoediyanto, Hariadi A. Buku
Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Edisi ketujuh. Departemen
Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga. Surabaya. hal 30-35
4. Knight B. Simpsons Forensik Medicine. Eleventh edition. University of Wales
College of Medicine. Great Britain. 2001. p. 45-52
5. Aflanie I, Abdi M, Setiawan R. Romans Forensic. The text book of forensic.
25th edition. Departement of forensic medicine University of Lambung
Mangkurat. www.medhacklab. Com
6. Dix J. Color Atlas of Forensic Pathology. New York. 2000. p 32-42
7. Apuranto H. Luka Akibat Benda Tumpul. Dalam Hoediyanto, Hariadi A. Buku
Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Edisi ketujuh. Departemen
Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga. Surabaya. hal 36-46
8. Hoediyanto. Trauma Thermik.Dalam Hoediyanto, Hariadi A. Buku Ajar Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Edisi ketujuh. Departemen Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga. Surabaya. hal 47-58
9. Hoediyanto. Trauma Listrik.Dalam Hoediyanto, Hariadi A. Buku Ajar Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Edisi ketujuh. Departemen Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga. Surabaya. hal 59-68
10. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Buku Kesatu-Aturan Umum. 2009

33

11. Hoediyanto. Visum et Repertum.Dalam Hoediyanto, Hariadi A. Buku Ajar Ilmu


Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Edisi ketujuh. Departemen Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga. Surabaya. hal 255-258
12. Visum et Repertum. http://sangrisang.wordpress.com/2010/04/12/visum/ diakses
tanggal 29 Juli 2014
13. Susanti R. Peran Dokter sebagai Saksi Ahli di persidangan. http: // jurnal. fk
unand.ac.id
14. Afandi Dedi. Visum et Repertum Pada Korban Hidup. Bagian Ilmu Kedokteran
Forensik Dan Medikolegal. 2008.
15. Barama Michael. Kedudukan Visum et Repertum Dalam Hukum Pembuktian.
Departemen Pendidikan Republik Indonesia Universitas Sam Ratulangi Fakultas
Hukum Manado. 2011.
16. Nuraga A. Rizqi. Perbedaan Pengetahuan Dokter Umum Tentang Visum et
Repertum. Laporan Hasil Karya Tulis Ilmiah. Program Pendidikan Sarjana
Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Dipenogoro. 2012. h: 5-17

34

DAFTAR ISI

Halaman judul ..................................................................................................................... i


Lembar Pengesahan ............................................................................................................ ii
Daftar Isi............................................................................................................................. iii
BAB 1 Pendahuluan ............................................................................................................ 1
BAB 2 Tinjauan Pustaka ..................................................................................................... 5
2.1 Klasifikasi Perlukaan .............................................................................................. 6
2.2 Kualifikasi Luka .................................................................................................... 17
2.4 Peranan Dokter Sebagai Saksi Ahli ...................................................................... 24
2.5 Peranan Dokter dalam Proses Peradilan ............................................................... 27
BAB 3 Penutup ................................................................................................................. 28
3.1 Kesimpulan ........................................................................................................... 28
Daftar Pustaka ................................................................................................................... 30

35