Anda di halaman 1dari 18

DEFINISI

1. Pemeriksaan Luar

Pemeriksaan luar adalah pemeriksaan jenazah dengan mengamati


sangat hati hati atas kelainan yang ditimbulkan oleh tindak kekerasan
pada tubuh korban dan kemudian dicatat dan dibuat deskripsi secara
sistematis dengan memggunakan titik titik anatomis yang tetap pada
tubuh korban.Khusus pada korban wanita tidak boleh digunakan puting
susu sebagai titik anatomis, karena puting susu merupakan titik anatomis
yang mobile ( tidak tetap ). Selain itu dianjurkan agar dapat menggunakan
titik anatomis yang lebih dekat dengan luka atau jejas.
Pemeriksaan forensik meliputi pemeriksaan dalam dan luar atas jenazah
yang dimintakan oleh polisi penyidik yang menangani kasus sesuai
dengan KUHAP Pasal 133 ayat 1 yang berbunyi Dalam hal penyidik
untuk kepentingan pengadilan menangani seorang korban baik luka,
keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan
tindak pidana,ia berwenang mengajukan permintaan keterangan kepada
ahli Kedokteran Kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
EPIDEMIOLOGI
Kasus luka luka merupakan hal yang biasa dijumpai dalam kasus
forensik. Agen penyebab luka tersebut bisa diakibatkan oleh akibat
kekerasan tumpul dan akibat kekerasan tajam. Seiring dengan
perkembangan kemajuan dunia danm bertambahnya jumlah penduduk,
kasus kasus perlukaan juga mengalami peningkatan. Kasus perlukaan
ini akan berkaitan dengan angka kasus kematian yang terjadi yang bisa
terjadi akibat kecelakaan, bunuh diri, dan juga akibat dari pembunuhan.
Berdasarkan data dari mabes POLRI pada tahun 2006
menyebutkan bahwa kasus kasus pembunuhan lima tahun terakhir
malah mengalami penurunan. Pada tahun 2001 terdapat 2.163 kasus
pembunuhan, tahun 2003 terdapat 1.635 kasus, dan pada tahun 2005
terdapat 1.461 kasus. Hal ini belum termasuk kasus pembunuhan dalam
praktek aborsi yang menurut BKKBN setiap tahunnya ada sekitar 2 juta
kasus aborsi yang terjadi di Indonesia. Angka ini jauh melebihi angka
kematian yang terjadi dalam perang manapun dalam sejarah dunia.

Berbeda dengan yang terjadi di Amerika Serikat, angka pembunuhan


mencapai sekitar 25.000 kasus setiap tahunnya.
Secara nasional, angka kematian yang disebabkan oleh
kecelakaan terus meningkat. Rata rata 30.000 orang tewas akibat
kecelakaan dijalan raya per tahun atau 82 orang per hari. Diperinci lagi,
rata rata 2 orang tewas per jamnya akibat kecelakaan. Sebagian besar
melibatkan pengendara sepeda motor yang memiliki resiko 20 kali lebih
besar dari pengendara mobil. Tingginya angka kecelakaan transportasi
darat di Indonesia bukanlah suatu hal baru, mengingat masih rendahnya
kedisiplinan masyarakat dalam berlalu lintas dijalan raya.
Kasus kasus bunuh diri juga mengalami peningkatan setiap
tahunnya. WHO melaporkan bahwa di Indonesia sejak 2005 2007 ada
sekita 50. 000 kasus bunuh diri yang diperkirakan penyebabnya sebagian
besar adalah himpitan ekonomi yang semakin berat dari tahun ketahun.
Dari semua kasus tersebut, sebanyak 41% mengakhiri hidupnya dengan
gantung diri dan 23% dengan meneguk racun serangga. Angka berbeda
dari negara negara lainnya seperti di Amerika Serikat dan Jepang terjadi
sekitar 30.000 kasus bunuh diri setiap tahunnya dan China sekitar
250.000 kasus.
SISTEMATIKA PEMERIKSAAN LUAR
Identitas korban
Identitas korban yang dimintakan visum termasuk dalam bagian
pendahuluan dari Visum et Repertum.Kata pendahuluan sendiri tidak
ditulis didalam Visum et Repertum, melainkan langsung dituliskan berupa
kalimat kalimat dibawah judul.
Dokter tidak dibebani pemastian identitas korban, maka uraian identitas
korban sesuai dengan uraian identitas yang ditulis dalam surat
permintaan Visum et Repertum ( SPV ). Bila terdapat ketidak sesuaian
identitas korban antara SPV dengan catatan medis atau pasien yang
diperiksa, dokter dapat meminta penjelasan kepada penyidik.
Pasal 133 KUHAP menyatakan bahwa pejabat peminta visum et
repertum adalah penyidik. Selanjutnya, oleh karena visum et repertum
dibuat dalam rangka pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia yang

termasuk ke dalam pidana umum, maka penyidik yang dimaksud adalah


penyidik POLRI (dan Polisi Militer).
Penyidik Pegawai Negeri Sipil hanya mempunyai wewenang yang sesuai
dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing
sebagaimana pasal 7 (2) KUHAP.
PASAL 7 (2) KUHAP
(1) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf b
mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi
dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya
berada di bawah koordinasi dan pengawasan penyidik tersebut dalam
pasal 6 ayat (1) huruf a.
Selanjutnya pasal 7 jo pasal 11 KUHAP menunjukkan bahwa penyidik
pembantu juga mempunyai kewenangan meminta visum et repertum.
Penyidik pembantu mempunyai kewenangan yang sama dengan
kewenangan penyidik, kecuali dalam hal penahanan.
PASAL 7 KUHAP
(1) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf a
karena kewajibannya mempunyai wewenang :
(1)a. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya
tindak pidana;
(1)b. Melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian;
(1)c. Menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda
pengenal diri tersangka;
(1)d. Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan
penyitaan;
(1)e. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat;
(1)f. Mengambil sidik jari dan memotret seorang;
(1)g. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka
atau saksi;
(1)h. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya
dengan pemeriksaan perkara;
(1)i. Mengadakan penghentian penyidikan;
(1)j. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung- jawab.
(2) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf b
mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi

dasar hukumnya masing-masing, dan dalam pelaksanaan tugasnya


berada di bawah koordinasi dan pengawasan penyidik tersebut dalam
Pasal 6 ayat (1) huruf a.
(3) Dalam melakukan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dan ayat (2), penyidik wajib menjunjung tinggi hukum yang berlaku.
PASAL 11 KUHAP
Penyidik pembantu mempunyai wewenang seperti tersebut dalam pasal 7
ayat (1), kecuali mengenai penahanan yang wajib diberikan dengan
pelimpahan wewenang dari penyidik.
Selanjutnya, pengaturan tentang syarat kepangkatan menjadi penyidik
dan penyidik pembantu diundangkan di dalam Peraturan Pemerintah N0
27 tahun 1983.
PASAL 2 PP No 27 TAHUN 1983
(2) Penyidik adalah :
(2)a. Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia tertentu yang sekurangkurangnya berpangkat Pembantu Letnan Dua polisi [1];
b. Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang sekurang-kurangnya
berpangkat Pengatur Muda Tingkat I (golongan II/b) atau yang disamakan
dengan itu.
PASAL 3 PP No 27 TAHUN 1983
(2) Penyidik pembantu adalah :
(2)a. Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia tertentu yang sekurangkurangnya berpangkat Sersan Dua [2] polisi;
(2)b. Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang sekurang-kurangnya
berpangkat Pengatur Muda (golongan II/a) atau yang disamakan dengan
itu.
Dalam praktek sehari-hari tidaklah mungkin dokter dapat mengetahui
apakah pejabat yang menandatangani surat tersebut termasuk penyidik /
penyidik pembantu ataukah bukan penyidik / bukan penyidik pembantu
hanya dengan melihat kepangkatannya saja. Hal ini akibat adanya
ketentuan bahwa hanya pejabat polisi RI tertentu yang diangkat sebagai
penyidik atau penyidik pembantu, dengan syarat kepangkatan yang diatur
dalam PP no 27 tahun 1983. Umumnya mereka yang dapat diangkat

sebagai penyidik / penyidik pembantu adalah pejabat kepolisian yang


bekerja di bidang reserse dan penyidikan kecelakaan lalu-lintas. Selain itu
pejabat kepolisian dengan jabatan struktural tertentu dapat
mengakibatkannya menjadi penyidik.
PASAL 2 (2) PP No 27 TAHUN 1983
(2) Dalam hal di suatu Sektor Kepolisian tidak ada pejabat penyidik
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a, maka Komandan
Kepolisian yang berpangkat bintara di bawah Pembantu Letnan Dua
Polisi, karena jabatannya adalah penyidik.
Untuk memudahkan pengenalan keabsahan surat permintaan visum et
repertum dari polisi, pembuatan surat permintaan visum et repertum oleh
POLRI selalu dengan mengatasnamakan Kepala Kepolisian setempat,
yang menurut PP no 27 tahun 1983 di atas adalah selalu penyidik.
Dengan mengatasnamakan komandan pada surat permintaan visum et
repertum maka yang bertanggung-jawab atas surat tersebut adalah
pejabat atributifnya yaitu komandan (selaku penyidik), sedangkan pejabat
yang menandatangani surat tersebut atau pejabat mandat hanya
bertanggungjawab kepada atasan (pejabat atributif)nya saja.
Dengan demikian dokter tidak perlu lagi melihat kepangkatan
penandatangan surat tersebut. Dokter cukup meneliti keabsahan surat
tersebut dari sudut kelengkapan administratif surat, yaitu adanya kepalasurat instansi penyidik tersebut; nomor surat; tanggal surat; identitas
yang akan diperiksa; tempat dan waktu kejadian perkara atau
ditemukannya; tanda-tangan, nama lengkap dan NRP petugas yang
menandatangani, dan stempel jabatan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pejabat yang dapat meminta visum
et repertum atas seseorang korban tindak pidana kejahatan terhadap
kesehatan dan nyawa manusia adalah penyidik dan penyidik pembantu
polisi, baik POLRI maupun POM.
Pengecualian diberikan kepada penyidik PNS, yaitu kejaksaan agung,
pada kasus pelanggaran HAM berat, sebagaimana diatur dalam UU
Peradilan HAM.
Pasal 27 UU No 5 tahun 1991 tentang kejaksaan masih memberikan

kemungkinan bagi penuntut umum untuk meminta keterangan ahli bila ia


menganggap terdapat kekurangan dalam berkas yang diajukan penyidik.
Ketarangan ahli yang dimaksud disini adalah keterangan ahli
sebagaimana diuraikan dalam pasal 186 KUHAP.
Sementara itu, oleh karena pembatasan jenis perkara dan sempitnya
waktu yang dimiliki penuntut umum, apabila ia menganggap berkas
tersebut kurang lengkap oleh karena tidak adanya visum et repertum,
maka ia akan mengembalikan berkas tersebut kepada penyidik disertai
permintaan agar penyidik melengkapi berkas dengan visum et repertum
yang dimaksud.
PENJELASAN PASAL 27 UU No 5 TAHUN 1991
Huruf d : Untuk melengkapi berkas perkara, pemeriksaan tambahan
dilakukan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. tidak dilakukan terhadap tersangka.
b. hanya terhadap perkara-perkara yang sulit pembuktiannya, dan atau
dapat meresahkan masyarakat, dan atau yang dapat membahayakan
keselamatan negara.
c. harus dapat diselesaikan dalam waktu 14 hari setelah dilaksanakan
ketentuan pasal 110 dan pasal 118 ayat (2) Kitab Undang-undang Hukum
Acara Pidana.
d. prinsip koordinasi dan kerjasama dengan penyidik.
Hakim dapat meminta keterangan ahli kepada dokter sebagaimana
tercantum di dalam pasal 180 KUHAP jo pasal 186 KUHAP. Hakim juga
dapat meminta visum et repertum (psikiatrik) sesuai dengan pasal 180 jo
pasal 187 KUHAP.
Permenkes No 1993 tahun 1970 pasal 15 ayat (3) dan (4) menyebutkan
bahwa visum et repertum psikiatrik dibuat atas permintaan hakim ketua
pengadilan, sedangkan bila diminta oleh polisi dan jaksa selama masa
pemeriksaan sebelum pengadilan disebut Keterangan Dokter.
Penasehat hukum tersangka tidak diberi kewenangan untuk meminta
visum et repertum kepada dokter, demikian pula tidak boleh meminta
salinan visum et repertum langsung dari dokter. Penasehat hukum
tersangka dapat meminta salinan visum et repertum dari penyidik atau
dari pengadilan pada masa menjelang persidangan.
Contoh pembuatan identitas korban hidup :

Saya yang bertanda tangan dibawah ini, ( nama dokter yang


memeriksa ), dokter pada Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang
menerangkan bahwa berdasarkan permintaan tertulis dari Kepala
Kepolisian Resort Padang Timur Sektor Padang tertanggal 2 April 2009
no: 19/VER/IV/2009, maka pada tanggal delapan april dua ribu sembilan,
pukul sebelas Waktu Indonesia Barat, bertempat di Rumah Sakit Dr. M.
Djamil Padang telah dilakukan pemeriksaan terhadap korban dengan
nomor registrasi 54321, yang menurut surat tersebut adalah :
Nama
: Fulan xxxxx
Umur
: 22 tahun
Jenis Kelamin
: Laki laki
Bangsa
: Indonesia
Pekerjaan
: Mahasiswa
Alamat
:Perum Baiti Janati A 9 Jln. Sirotol Mustaqim
padang
Khusus untuk mayat ( korban mati ), prosedur permintaan visum telah
diatur didalam pasal 133 dan 134 KUHAP, yaitu dimintakan secara
tertulis, mayatnya harus diperlakukan dengan baik dengan penuh
penghormatan, disebutkan dengan jelas pemeriksaan yang diminta, dan
mayat diberi label yang memuat identitas yang dilak dan diberi cap
jabatan dan dilekatkan kebagian tubuh mayat tersebut. Pemberian label
pada mayat tersebut dimaksudkan selain untuk memberi identitas pada
mayat juga untuk menegaskan bahwa mayat tersebut adalah barang bukti
yang menjadi milik negara.
Contoh pembuatan identitas korban mati :
Berdasarkan, surat permintaan penyidik, nama : Mr.A, NRP : 01120099,
pangkat : IPDA, jabatan : Kepala Kepolisian Sektor X, nomor surat :
B/175/IV/2009/sek.x, tanggal surat : 8 april 2009, maka Tim Kedokteran
Forensik dibawah pimpinan : dr.XXX,SpF, dibantu dokter muda forensik ,
beserta staf dari Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Dr. M. Djamil
Padang pada hari : Rabu , tanggal : 8 april 2009 mulai pukul 08.00
sampai pukul 09.00 melakukan pemeriksaan ( luar/dalam/identifikasi ) di
ruang otopsi RSUP Dr. M. Djamil Padang, terhadap
almarhum/almarhumah, Nama : Fulanah, Umur : 20 tahun, Jenis

Kelamin : perempuan, Agama : Islam, Pekerjaan : IRT, Pendidikan : SMU,


Status nikah : nikah, Alamat :........,Perkiraan kematian oleh polisi :.......
Hasil Pemeriksaan :
1. Label
Pada pemeriksaan luar harus dijelaskan label pada mayat terletak atau
terikat pada bagian tubuh yang mana, terbuat dari apa, berwarna apa,
ada atau tidak materai / cap, bertuliskan apa.
Contoh pembuatan label :
Label terikat pada : jempol kaki kanan korban, terbuat dari : kertas
manila, berwarna : merah muda, dengan / tanpa materai, bertuliskan :
No.456/I/SekDg.
2. Tutup / bungkus mayat
Dijelaskan dengan rinci apa yang digunakan untuk menutup/
membungkus mayat lapis demi lapis, bahannya apa, bertuliskan apa,
ukurannya berapa, bila ditutup koran sebutkan koran apa, terbitan tanggal
berapa, bila mayat diikat sebutkan diikat dengan apa, bila ditutup dengan
kain sebutkan jenis kainnya, warnanya, corak/motifnya, merknya bila ada.
Contoh deskripsi tutup mayat :
Jenazah dibungkus kardus warna coklat, bertuliskan mesrania 2T
super pertamina dengan ukuran 53x43x16 cm tertutup tanpa diplester.
Bungkus dibuka tanpa alas kardus berupa koran Padang Ekspress,
terbitan 14 november 2007, 4 lembar. Jenazah dibungkus plastik
transparan, kedua ujungnya diikat tali rafia warna biru, plastik dibuka,
jenazah dibungkus kain batik warna coklat tua dan coklat muda, motif
bunga bunga.
3. Perhiasan mayat :
Dijelaskan jenis perhiasan, jumlahnya, dari bahan apa, bentuknya,
warnanya, bila bermata jelaskan.
Contoh deskripsi perhiasan :
Jenazah memakai sepasang anting berbahan logam berwarna
kuning keemasan berbentuk bunga bermata batu berwarna putih.
4. Pakaian Mayat.
Dijelaskan secara lengkap, jenis pakaian, merk, warna dasar,
corak dan warnanya, tulisan, saku saku dijelaskan jumlahnya, letaknya,

isi saku dirinci satu persatu.Selain itu juga dicatat apabila terdapat
robekan, robekan ini diukur dari tepi jahitan atas dan samping, tepi sobek
bagaimana. Kancing hilang atau adanya tanda tanda kerusakan pada
pakaian karena usaha perlawanan. Bercak pada pakaian berupa darah,
cairan sperma, minyak, racun, bekas muntah, faeces, dll harus disimpan
untuk dianalisa. Pakaian yang basah diletakkan ditempat terbuka agar
mengering. Pada kasus kasus yang diduga pembunuhan pakaian tidak
boleh disobek, tapi dilepas satu persatu, tetapi pada kasus kecelakaan
lalu lintas baju boleh disobek.
Contoh deskripsi pakaian :
Jenazah memakai kaos ketat lengan pendek merk Adidas, warna
merah jambu, motif bunga bunga mawar warna merah pada bagian
depan, dan celana jeans selutut warna biru pudar, tanpa merk bertuliskan
girls warna merah tua pada bagian depan, bersaku dua pada bagian
belakang, saku berisi hand phone merk NOKIA tipa 3200 warna merah,
pada baju jenazah terdapat bercak darah pada bagian bahu dan dada.
.5. Benda samping mayat :
Dijelaskan secar rinci benda apapun yang terdapat didekat mayat
pada waktu mayat ditemukan atau diantar oleh pihak yang berwajib.
Contoh deskripsi benda samping mayat :
Disamping mayat terdapat kantong plastik berwarna hitam berisi
pasir.
6. Kaku mayat dan Lebam mayat :
Kaku mayat ( rigor mortis )
Kelenturan otot setelah kematian masih dipertahankan karena
metabolisme tingkat seluler masih berjalan berupa pemecahan cadangan
glikogen otot yang menghasilkan energi. Energi ini digunakan untuk
mengubah ADP menjadi ATP. Selama masih terdapat ATP maka serabut
aktin dan miosin tetap lentur. Bila cadangan dalam otot habis, maka
energi tidak terbentuk lagi, aktin dan miosin menggumpal dan otot
menjadi kaku.
Tingkat kaku mayat ( rigor mortis ) dinilai dengan memfleksikan
lengan dan kaki untuk mengetes tahanan. Kaku mayat mulai tampak kira

kira 2 jam setelah mati klinis, dimulai dari bagian luar tubuh ( otot otot
kecil )kearah dalam ( sentripetal ). Teori lama menyebutkan bahwa kaku
mayat ini menjalar kranio kaudal. Setelah mati klinis 12 jam kaku mayat
menjadi lengkap, dipertahankan selam 12 jam dan kemudian menghilang
dalam urutan yang sama. Kaku mayat umumnya tidak disertai
pemendekan serabut otot, tetapi jika sebelum terjadi kaku mayat, otot
berada dalam posisi teregang, maka saat kaku mayat terbentuk akan
terjadi pemendekan otot.
Faktor faktor yang mempercepat terjadinya kaku mayat adalah
aktivitas fisik sebelum mati, suhu tubuh yang tinggi, bentuk tubuh kurus
dengan otot- otot kecil dan suhu lingkungan yang tinggi.
Kaku mayat dapat dipergunakan untuk menunjukkan tanda pasti
kematian dan memperkirakan saat kematian. Terdapat beberapa
kekakuan pada mayat yang menyerupai kaku mayat;
Cadaveric Spasme ( Instantaneous rigor )
Adalah bentuk kekakuan otot yang terjadi pada saat kematian dan
menetap. Cadaveric Spasm sesungguhnya merupakan kaku mayat yang
timbul dengan itensitas yang sangat kuat tanpa didahului oleh relaksasi
primer. Penyebabnya adalah akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP
yang bersifat setempat pada saat mati klinis karena kelelahan atau emosi
yang hebat sesaat sebelum meninggal. Cadaveric Spasme ini jarang
dijumpai, tetapi sering terjadi pada masa perang.
Kepentingan mediko legalnya adalah menunjukkan sikap terakhir masa
hidupnya misalnya, tangan yang menggenggam erat banda yang
diraihnya pada kasus mati akibat tenggelam, tangan yang menggenggam
senjata pada kasus bunuh diri.
Heat Stiffening
Yaitu kekauan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas. Otot otot
berwarna merah muda, kaku tetapi rapuh ( mudah robek ). Keadaan ini
dapat dijumpai pada korban meti terbakar. Pada heat stiffening serabut
serabut ototnya memendek sehingga menimbulkan fleksi leher, siku,
paha, lutut, membentuk sikap ini tidak memberikan arti tertentu bagi sikap
semasa hidup, intravitalitas, penyebab atau cara kematian.
Cold Stiffening

Yaitu kekakuan tubuh akibat lingkungan dingin, sehingga terjadi


pembekuan cairan tubuh, termasuk cairan sendi, pemadatan jaringan
lemak subkutan dan otot, sehingga bila sendi ditekuk akan terdengar
bunyi pecahnya es dalam rongga sendi.
Lebam mayat ( livor mortis )
Setelah kematian klinis, maka eritrosit akan menempati tempat
terbawah akibat gaya tarik bumi ( gravitasi ), mengisi vena dan venula,
membentuk bercak warna merah ungu ( livide ) pada bagian terbawah
tubuh, kecuali pada bagian tubuh yang tertekan alas keras.
Dara tetap cair karena adanya aktivitas fibrinolisin yang berasal
dari endotel pembuluh darah. Lebam mayat biasanya mulai tampak 20-30
menit paska mati, makin lama intensitasnya bertambah dan menjadi
lengkap dan menetap setelah 8 12 jam. Sebelum waktu ini, lebam
mayat masih hilang ( memucat pada penekanan dan dapat berpindah jika
posisi mayat diubah. Memucatnya lebam akan lebih cepat dan lebih
sempurna apabila penekanan atau perubahan posisi tersebut dilakukan
dalam 6 jam pertama setelah mati klinis. Tetapi walaupun setelah 24 jam,
darah masih tetap cukup air sehingga sejumlah darah masih dapat
mengalir dan membentuk lebam mayat ditempat terendah yang baru.
Kadang kadang dijumpai bercak perdarahan berwarna biru kehitaman
akibat pecahnya pembuluh darah. Menetapnya lebam mayat disebabkan
oleh tertimbunnya sel sel darah dalam jumlah yang cukup banyak,
sehingga sulit berpindah lagi. Selain itu kekakuan otot ototdinding
pembuluh darah ikut mempersulit perpindahan tersebut.
Lebam mayat dapat digunakan untuk tanda pasti kematian,
memperkirakan sebab kematian, misalnya lebam berwarna merah terang
pada keracunan CO atau CN, warna kecoklatan pada keracunan anilin,
nitrit, nitrat, mengetahui perubahan posisi pada mayat yang dilakukan
setelah terjadinya lebam mayat yang menetap; dan memeperkirakan
sebab kematian.
Apabila pada mayat terlentang yang telah timbul lebam mayat
belum menetap dilakukan perubahan posisi menjadi telungkup, maka
setelah beberapa saat akan terbentuk lebam mayat baru didaerah dada
dan perut.
Lebam mayat yang belum menetap atau masih hilang pada

penekanan, menunjukkan saat kematian kurang dari 8 12 jam sebelum


saat pemeriksaan. Mengingat pada lebam mayat darah terdapat didalam
pembuluh darah, maka keadaan ini digunakan untuk membedakan
dengan resapan darah akibat trauma ( ekstravasasi ). Bila pada daerah
tersebut dilakukan irisan dan kemudian disiram dengan air, maka warna
merah darah akan hilang atau pudar pada lebam mayat, sedangkan pada
resapan darah tidak menghilang.
7. Identifikasi umum jenazah :
Setelah identifikasi dan pengeluaran beberapa pakaian, ras dan
seks dilaporkan. Umur secar nyata dinilai pada anak anak dengan
ukuran dan pada dewasa dengan perubahan pada kulit dan mata, seperti
kehilangan elastisitas kulit, hiperkeratosis senilis, bintik Campbell de
Morgan, purpura senilis dan arkus senilis. Warna rambut, kehilangan gigi
dan perubahan arthritik juga merupakan tanda yang jelas dari penuaan.
Umur yang jelas harus dibandingkan dengan umur yang diperkirakan dan
penyelidikan dibuat tentang ketidak sesuaian yang nyata, hal ini dapat
ditemui pada kematian masal dimana terdapat mayat yang tertukar.
Panjang tubuh diukur dari tumit sampai puncak kepala. Pada bayi
juga diukur lingkar kepala, fronto occipitale, Mento Occipitale, dan
lingkkar dada. Panjang tubuh harus diukur karena panjang post mortem
mungkin berbeda beberapa cm dari tinggi yang diketahui semasa hidup.
Ada beberapa variasi penyebab yang berlawanan, yang tidak perlu
dibtalkan satu swama lain. Contohnya, kelemahan otot memerlukan sendi
yang relaks, kecuali bila kaku sudah ada, tetapi diskus intervertebralis
tampak menyusut, sehingga mengalami pemendekan.
Berat badan dalam kilogram diukur bila tersedia fasilitas, jika tidak
ada sebaiknya ditaksir. Berat badan bayi harus selalu diukur. Bentuk
badan dan status gizi harus dinilai pada obesitas, kurus, dehidrasi,
udema, pengurusan, dsb
Keadaan kebersihan, hygiene, panjang rambut dan jenggot,
keadaan jari kaki dan tangan, urin dan feses dicatat. Beberapa infestasi
parasit seperti kuku atau tuma, pada laki laki dilihat apakah zakar
disunat atau tidak.
Warna kulit secara umum dicatat, terutama hipostasis. Cari
kongesti atau sianosis dari wajah, tangan dan kaki. Perubahan warna

yang terlokalisasi khususnya anggota badan unilateral, merngarah pada


emboli arteri atau gangren yang baru mulai. Cetakan merah atau merah
kecoklatan diatas sendi sendi besar mengindikasikan hipotermia. Warna
abnormal yang lain termasuk warna coklat dari methemoglobinemia pada
beberapa keracunan, bintik perunggu dari clostridial septicaemia dan
merah gelap dari sianida mirip dengan warna cherry pink dari
carboxyhemoglobin. Pigmentasi ras secara alami akan bermodifikasi
dengan warna kulit abnormal yang dapat dilihat.
8. Identifikasi khusus :
Kelainan kongenital dari beberapa tipe dilaporkan dari talipes
equinovarus sampai spina bifida, dari nevus sampai kaki tambahan.
Tanda luar bawaan mungkin penting untuk maksud identifikasi atau dalam
hubungannya dengan luka lama dan penyakit. Tattoo, sirkumsisi,
amputasi, luka bekas operasi, deformitas fraktur lama dan bekas luka,
luka bakar atau percobaan bunuh diri pada pergelangan tangan dan
kerongkongan dicatat. Sebagai tambahan, artefak baik yang diluar
maupun didalam tubuh, muncul dari percobaan resusitasi dan harus
dibedakan dengan hati hati dari trauma yang sebenarnya.

9. Rambut :
Dijelaskan secara rinci seluruh keadaan rambut. Yang dimaksud rambut
disini mencakup seluruh rambut yang terdapat pada bagian kepala, yakni
meliputi rambut kepala, alis mata, bulu mata, kumis, dan jenggot.
Rambut dijelaskan warnanya, jenisnya, tumbuhnya, panjangnya,
sukar dicabut atau tidak. Termasuk disini keadaan bagian yang tertutup
rambut, apakah tampak pengelupasan atau tidak, pada bayi dijelaskan
keadaan ubun ubun, apakah masih terbuka, terdapat luka atau
hematom, warnanya, dan konsistensinya lunak atau tidak.
10. Mata :
Mata harus diperiksa dengan cermat, terutama untuk mendeteksi
petekie pada sisi luar dari kelopak mata, konjungtiva dan sklera. Petekie
juga dicari dibelakang telinga dan pada kulit dari wajah, terutama
sekeliling mulut, dagu dan dahi. Disamping itu sangat penting untuk dilihat

apakah mata mayat dalam keadaan tertutup atau terbuka, dilihat


keadaan kekeruhanselaput bening mata ( kornea ) dan lensa, teleng
mata ( pupil ), warna tirai mata ( iris ) termasuk kemungkinan pemakaian
lensa kontak, selaput bola mata ( konjungtiva bulbi ), selaput kelopak
mata ( konjungtiva palpebra ) dan kemungkinan mata palsu.
11. Hidung, Telinga, dan Mulut :
Hidung
Dianalisa dengan teliti bentuk hidung, ada kelainan anatomis atau
kelainan akibat trauma, warna, cairan yang keluar, dan adanya krepitasi
Telinga
Dilihat bentuk telinga, apakah ada kelainan atau tidak dan apakah
telinga masih utuh atau tidak.
Mulut
Mulut mungkin terdapat benda asing, obat obatan, gigi yang
rusak, gusi dan bibir yang luka ( terutama frenulum yang ruptur pada
kekerasan terhadap anak anak), dan lidah yang tergigit pada epilepsi
atau pukulan pada rahang ataupun karena menahan sakit sesaat
sebelum kematian. Gigi palsu sebaiknya diidentifikasi dan dipindahkan
sebelum otopsi. Isi lambung dan mulut mungkin tidak mengidentifikasikan
regurgitasi ante mortem, tetapi sebaiknya dicatat. Bubuk kering pada bibir
mungkin bisa didapat obat obatan atau racun; korosi dari mulut, bibir
dan dagu mungkin dapat dilihat pada racun yang mengiritasi. Perdarahan
dari mulut, lubang hidung atau telinga harus dicatat, dan kemudian diteliti
sebagai sumber dari pemeriksaan dalam.
12. Gigi geligi :
Pemeriksaan gigi geligi ini apabila dilakukan secara terperinci
dapat melibatkan pemeriksaan yang rumit, mulai dari pemeriksaan yang
sederhana sampai pemeriksaan yang modern. Pemeriksaan ini meliputi
pencatatan data gigi ( odontogram ) dan rahang yang dapat dilakukan
dengan menggunakan pemeriksaan manua, sinar X, dan pencetakan gigi
serta rahang. Odontogram memaut data tentang jumlah, bentuk, susunan,
tambalan, protesa gigi dan sebagainya.
Seperti halnya dengan sidik jari, maka setiap individu memiliki
susunan gigi yang khas. Dengan demikian dapat dilakukan identifikasi
dengan cara membandingkan data temuan dengan data pembanding

ante mortem.
Pada tempat tempat dimana tidak tersedia pemeriksaan gigi
geligi yang canggih, pemeriksaan manual harus dipertajam, periksa gigi
geligi dengan meraba dan menhitung gigi satu persatu dengan tangan,
dilihat apakah gigi masih utuh atau sudah ada yang hilang, apabila sudah
ada yang hilang sebutkan bagian gigi mana yang hilang dan digambarkan
pada skema gigi geligi, juga dilihat apakah gigi yang hilang tersebut
secara alamiah atau akibat trauma, dan apabila memungkinkan dilihat
juga apakah gigi korban ada tambalan atau bentuk bentuk perawatan
lainnya.
13. Rongga rongga tubuh :
Muntahan, busa, atau darah mungkin terdapat pada mulut atau
lubang hidung, dan feses serta urin tidak terdapat lagi. Ini harus
dihubungkan dengan tingkat dekomposisi post mortem, yang sering
mengarah pada pembersihan cairan dari orifisium; kebanyakan ahli
patologi forensik mempinyai pengalaman sehingga dipanggil oleh polisi
untuk melihat perdarahan yang fatal, hanya untuk menemukan cairan
seperti darah untuk dibersihkan oleh gas dari mayat yang membusuk.
Sekret vagina atau perdarahan dicatat dan pemeriksaan telinga untuk
kebocoran darah atau cairan otak. Ejakulasi semen post mortem dari
meatus eksterna tidak ada artinya dan dapat dilihat pada tiap tipe
kematian serta tidak berhubungan dengan aktifitas seksual segera
sebelum mati dan terutama tidak dihubungkan dengan kematian akibat
asfiksia.
Genitalia eksterna memerlukan pemeriksaan yang cermat, seperti
pada anus. Patulous anus sering terlihat pada post mortem, mengarah
pada kelemahan sfingter. Mukosa dalam sering tampak melalui orifisium.
Ini juga pada kasus bayi dan anak anak, diagnosis dari kejahatan
seksual tidak harus diambil tanpa bukti jelas yang lain seperti sediaan
apus mukosa atau swab yang positif untuk semen. Pemeriksaan rutin
pada genitalia pria biasanya hanya menyampaikan inspeksi umum dari
penis, glans dan skrotum, dengan palpsi dari testis.
14. Luka luka :
Pengukuran jarak luka dengan titik titik anatomis dibuat secara proyeksi,
untuk kekerasan tumpul pada badan dan kepala dua ordinat. Satu dari

garis pertengahan depan ( GPD ) / garis pertengahan belakang ( GPB )


dan lainnya dari titik anatomis terdekat.
Pada kasus pembunuhan biasanya akibat kekerasan tajam, dibuat tiga
koordinat dimana satu lagi diukur dari tumit, sedangkan pada luka
anggota gerak atas / bawah hanya dibuat satu koordinat.
Contoh Pelaporan Koordinat tubuh manusia / deskripsi luka
1. Akibat kekerasan tumpul :
Pada dada kiri 6 cm dari GPD, 3 cm diatas puting susu terdapat luka
lecet tekan seluas 3 x4 cm dikelilingi luka memar seluas 8 x 7 cm.
Pada lengan atas kiri bagian depan 4 cm diatas lipat siku ditemukan
luka terbuka pinggir tidak rata, sudut tumpul, terdapat jembatan jaringan
dengan luas 5x 2 cm.
Pada dahi kiri 6 cm dari GPD, 2 cm diatas sudut mata luar ditemukan
luka memar seluas 4 x 6 cm.
2. Akibat kekerasan tajam :
Pada lengan bawah kiri bagian depan, 7 cm diatas pergelangan
tangan ditemukan luka terbuka sudut lancip, pinggir rata, jika dirapatkan
membentuk garis lurus sepanjang 4 cm, yang membentuk sudut 30
derajat dengan garis mendatar.
Pada dada kiri 5 cm dari GPD, 2 cm dibawah puting susu, 145 cm
diatas tumit, ditemukan luka terbuka, pinggir rata, sudut lancip, jika
dirapatkan membentuk garis lurus sepanjang 3 cm, sejajar dengan garis
mendatar.
TITIK ANATOMIS

1
2
3
4
5
6
7

Titik antomis yang dapat dipakai untuk menentukan


koordinat pada tubuh manusia :
Garis pertengahan depan ( GPD )
Batas rambut
Sudut mata
Sudut bibir
Puncak bahu
Puting susu
Pusar
Taju tulang usus depan

8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Lipat ketiak depan


Lipat siku / siku
Pergelangan tangan
Lutut / lipat lutut
Pergelangan kaki
Garis pertengahan belakang ( GPB )
Batas rambut
Lipat bokong
Lipat lutut
Mata kaki

15. Fraktur :
Diperiksa secara teliti apakah terdapat fraktur pada mayat akibat
trauma. Fraktur disini bisa terbuka atau tertutup, pada fraktur tertutup
bagian tulang yang dicurigai fraktur harus diraba untuk menentukan
adanya krepitasi, termasuk disini juga diperiksa apakah juga terdapat
dislokasi.

REFERENSI
1. Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Binarupa Aksara.
2. Bagian Kedokteran Forensik FKUI. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta:
Forensik FKUI.
3. Sampurna B, Syamsu Z.Peranan Ilmu Kedokteran Forensik Dalam

Penegakan Hukum; sebuah pengantar.Jakarta: Forensik FKUI.


4. Di Maio D,Di Maio VJM. Forensic Pathology, New York.
5. Hamzah A, KUHP. Cetakan kesembilan, PT Rineka Cipta, Jakarta.
6. Knight B, Forensic Pathology,Second Edition.New York.Oxford University.

7. Gani, MH Tanatologi dalam Ilmu Kedokteran Forensik, FK UNAND


Padang 2007
8. Data Kriminal Mabes Polri tahun 2000 2005
9. FK Unair 99. Visum et Repertum dalam www.wikipedia.com