Anda di halaman 1dari 99

1 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang
melalui pengamatan terhadap perubahan yang terjadi pada tubuh mayat. Perubahan itu
akan tejadi dengan mulai terhentinya suplai oksigen (asfiksia). Manifestasinya akan dapat
dilihat setelah beberapa menit atau beberapa jam. Dalam kasus tertentu, salah satu
kewajiban dokter adalah membantu penyidik menegakan keadilan. Untuk itu dokter
sedapat mungkin membantu menentukan beberapa hal seperti saat kematian dan penyebab
kematian. Tanda tanda kematian tercangkup dalam ilmu tanatologi.
Kejahatan seksual (sexual offences), sebagai salah satu bentuk dari kejahatan yang
menyangkut tubuh, kesehatan, dan nyawa manusia, mempunyai kaitan yang erat dengan
Ilmu Kedokteran Forensik; yaitu di dalam upaya pembuktian bahwasanya kejahatan
tersebut memang telah terjadi. Adanya kaitan antara Ilmu Kedokteran dengan kejahatan
seksual dapat dipandang sebagai konsekuensi dari pasal-pasal di dalam Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana (KUHP) serta Kitab Undang-Undang Acara Hukum Pidana
(KUHAP), yang memuat ancaman hukuman serta tatacara pembuktian pada setiap kasus
yang termasuk di dalam pengertian kasus kejahatan seksual.
2 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Pada pasal 133 ayat (1) KUHAP dan pasal 179 ayat (1) KUHAP dijelaskan
bahwa penyidik berwenang meminta keterangan ahli kepada ahli kedokteran
kehakiman atau dokter atau bahkan ahli lainnya. Keterangan ahli tersebut adalah
Visum et Repertum, dimana didalamnya terdapat penjabaran tentang keadaan korban,
baik korban luka, keracunan, ataupun mati. Seorang dokter perlu menguasai
pengetahuan tentang mendeskripsikan luka. Visum et Repertum harus dibuat
sedemikian rupa, yaitu memenuhi persyaratan formal dan material , sehingga dapat
dipakai sebagai alat bukti yang sah di sidang pengadilan.
Dokter sebaiknya dapat menyelesaikan permasalahan mengenai jenis luka apa
yang ditemui, jenis kekerasan/senjata apakah yang menyebabkan luka dan bagaimana
kualifikasi dari luka itu. Sebagai seorang dokter, ia tidak mengenal istilah
penganiayaan. Jadi istilah penganiayaan tidak boleh dimunculkan dalam Visum et
Repertum. Akan tetapi sebaiknya dokter tidak boleh mengabaikan luka sekecil
apapun. Sebagai misalnya luka lecet yang satu-dua hari akan sembuh sendiri secara
sempurna dan tidak mempunyai arti medis, tetapi sebaliknya dari kaca mata hukum.

B.Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan laporan ini antara lain :
1. Menjelaskan visum et repertum
2. Menjelaskan traumatologi pada bidang forensik
3. Menjelaskan tanatologi
4. Menjelaskan asfiksia
5. Menjelasakan kejahatan susila


3 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. VISUM ET REPERTUM
1. Definisi dan Dasar Hukum VeR
Visum et Repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat dokter atas
permintaan tertulis (resmi) penyidik tentang pemeriksaan medis terhadap seseorang
manusia baik hidup maupun mati ataupun bagian dari tubuh manusia, berupa temuan
dan interpretasinya, di bawah sumpah dan untuk kepentingan peradilan.2
Menurut Budiyanto et al, dasar hukum Visum et Repertum adalah sebagai
berikut:2
Pasal 133 KUHAP menyebutkan:
(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang
korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa
yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan
keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau
ahli lainnya.
(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas
untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan
bedah mayat.

4 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Yang berwenang meminta keterangan ahli adalah penyidik dan penyidik
pembantu sebagaimana bunyi pasal 7(1) butir h dan pasal 11 KUHAP.
Penyidik yang dimaksud di sini adalah penyidik sesuai dengan pasal 6(1) butir
a, yaitu penyidik yang pejabat Polisi Negara RI. Penyidik ini adalah penyidik tunggal
bagi pidana umum, termasuk pidana yang berkaitan dengan kesehatan dan jiwa
manusia. Oleh karena visum et repertum adalah keterangan ahli mengenai pidana
yang berkaitan dengan kesehatan jiwa manusia, maka penyidik pegawai negeri sipil
tidak berwenang meminta visum et repertum, karena mereka hanya mempunyai
wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-
masing (Pasal 7(2) KUHAP).2
Sanksi hukum bila dokter menolak permintaan penyidik, dapat dikenakan sanki
pidana :2
Pasal 216 KUHP :
Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang
dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi
sesuatu,atau oleh pejabat berdasar- kan tugasnya, demikian pula yang diberi
kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula
barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau mengga-
galkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana
penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak
sembilan ribu rupiah.




5 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

2. Peranan dan Fungsi VeR
Visum et repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis
dalam pasal 184 KUHP. Visum et repertum turut berperan dalam proses pembuktian
suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia, dimana VeR
menguraikan segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medik yang tertuang di dalam
bagian pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap sebagai pengganti barang
bukti.2
Visum et repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter mengenai
hasil pemeriksaan medik tersebut yang tertuang di dalam bagian kesimpulan.
Dengan demikian visum et repertum secara utuh telah menjembatani ilmu
kedokteran dengan ilmu hukum sehingga dengan membaca visum et repertum, dapat
diketahui dengan jelas apa yang telah terjadi pada seseorang, dan para praktisi
hukum dapat menerapkan norma-norma hukum pada perkara pidana yang
menyangkut tubuh dan jiwa manusia.2
Apabila visum et repertum belum dapat menjernihkan duduk persoalan di
sidang pengadilan, maka hakim dapat meminta keterangan ahli atau diajukannya
bahan baru, seperti yang tercantum dalam KUHAP, yang memungkinkan
dilakukannya pemeriksaan atau penelitian ulang atas barang bukti, apabila timbul
keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasehat hukumnya terhadap suatu
hasil pemeriksaan. Hal ini sesuai dengan pasal 180 KUHAP.2
Bagi penyidik (Polisi/Polisi Militer) visum et repertum berguna untuk
mengungkapkan perkara. Bagi Penuntut Umum (Jaksa) keterangan itu berguna untuk
menentukan pasal yang akan didakwakan, sedangkan bagi Hakim sebagai alat bukti
formal untuk menjatuhkan pidana atau membebaskan seseorang dari tuntutan
6 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

hukum. Untuk itu perlu dibuat suatu Standar Prosedur Operasional Prosedur (SPO)
pada suatu Rumah Sakit tentang tata laksana pengadaan visum et repertum.3

3. Struktur dan Isi VeR
Setiap visum et repertum harus dibuat memenuhi ketentuan umum sebagai berikut:7
a. Diketik di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa
b. Bernomor dan bertanggal
c. Mencantumkan kata Pro Justitia di bagian atas kiri (kiri atau tengah)
d. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
e. Tidak menggunakan singkatan, terutama pada waktu mendeskripsikan temuan
pemeriksaan
f. Tidak menggunakan istilah asing
g. Ditandatangani dan diberi nama jelas
h. Berstempel instansi pemeriksa tersebut
i. Diperlakukan sebagai surat yang harus dirahasiakan
j. Hanya diberikan kepada penyidik peminta visum et repertum. Apabila ada
lebih dari satu instansi peminta, misalnya penyidik POLRI dan penyidik POM,
dan keduanya berwenang untuk itu, maka kedua instansi tersebut dapat diberi
visum et repertum masing-masing asli
k. Salinannya diarsipkan dengan mengikuti ketentuan arsip pada umumnya, dan
disimpan sebaiknya hingga 20 tahun




7 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

4. Aspek Medikolegal VeR
Berbeda dengan prosedur pemeriksaan korban mati, prosedur permintaan
visum etrepertum korban hidup tidak diatur secara rinci di dalam KUHAP. Tidak ada
ketentuan yang mengatur tentang pemeriksaan apa saja yang harus dan boleh
dilakukan oleh dokter. Hal ini berarti bahwa pemilihan jenis pemeriksaan yang
dilakukan diserahkan sepenuhnya kepada dokter dengan mengandalkan tanggung
jawab profesi kedokteran. KUHAP juga tidak memuat ketentuan tentang bagaimana
menjamin keabsahan korban sebagai barang bukti.
Hal-hal yang merupakan barang bukti pada tubuh korban hidup adalah
perlukaannya beserta akibatnya dan segala sesuatu yang berkaitan dengan perkara
pidananya. Sedangkan orangnya sebagai manusia tetap diakui sebagai subyek hukum
dengan segala hak dan kewajibannya.Dengan demikian, Karena barang bukti
tersebut tidak dapat dipisahkan dari orangnya maka tidak dapat disegel maupun
disita. Yang dapat dilakukan adalah menyalin barang bukti tersebut ke dalam bentuk
visum et repertum.6
KUHAP tidak mengatur prosedur rinci apakah korban harus diantar oleh
petugas kepolisian atau tidak. Padahal petugas pengantar tersebut sebenarnya
dimaksudkan untuk memastikan kesesuaian antara identitas orang yang akan
diperiksa dengan identitas korban yang dimintakan visum et repertumnya seperti
yang tertulis di dalam surat permintaan visum et repertum. Situasi tersebut membawa
dokter turut bertanggung jawab atas pemastian kesesuaian antara identitas yang
tertera di dalam surat permintaan visum et repertum dengan identitas korban yang
diperiksa.6
Dalam praktek sehari-hari, korban perlukaan akan langsung ke dokter baru
kemudian dilaporkan ke penyidik. Hal ini membawa kemungkinan bahwa surat
8 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

permintaan visum etrepertum korban luka akan datang terlambat dibandingkan
dengan pemeriksaan korbannya. Sepanjang keterlambatan ini masih cukup beralasan
dan dapat diterima maka keterlambatan ini tidak boleh dianggap sebagai hambatan
pembuatan visum et repertum. Sebagai contoh, adanya kesulitan komunikasi dan
sarana perhubungan, overmacht (berat lawan) dan noodtoestand (darurat).6
Adanya keharusan membuat visum et repertum pada korban hidup tidak berarti
bahwa korban tersebut, dalam hal ini adalah pasien, untuk tidak dapat menolak
sesuatu pemeriksaan. Korban hidup adalah juga pasien sehingga mempunyai hak
sebagai pasien. Apabila pemeriksaan ini sebenarnya perlu menurut dokter pemeriksa
sedangkan pasien menolaknya, maka hendaknya dokter meminta pernyataan tertulis
singkat penolakan tersebut dari pasien disertai alasannya atau bila hal itu tidak
mungkin dilakukan, agar mencatatnya di dalam catatan medis
Hal penting yang harus diingat adalah bahwa surat permintaan visum et
repertum harus mengacu kepada perlukaan akibat tindak pidana tertentu yang terjadi
pada waktu dan tempat tertentu. Surat permintaan visum et repertum pada korban
hidup bukanlah surat yang meminta pemeriksaan, melainkan surat yang meminta
keterangan ahli tentang hasil pemeriksaan medis.6

5. Tata Laksana VeR pada Korban Hidup
1) Ketentuan standar dalam penyusunan visum et repertum korban hidup
a. Pihak yang berwenang meminta keterangan ahli menurut KUHAP pasal
133 ayat (1) adalah penyidik yang menurut PP 27/1983 adalah Pejabat
Polisi Negara RI. Sedangkan untuk kalangan militer maka Polisi Militer
(POM) dikategorikan sebagai penyidik.
9 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

b. Pihak yang berwenang membuat keterangan ahli menurut KUHAP pasal
133 ayat (1) adalah dokter dan tidak dapat didelegasikan pada pihak lain.
c. Prosedur permintaan keterangan ahli kepada dokter telah ditentukan
bahwa permintaan oleh penyidik harus dilakukan secara tertulis yang
secara tegas telah diatur dalam KUHAP pasal 133 ayat (2).
d. Penyerahan surat keterangan ahli hanya boleh dilakukan pada Penyidik
yang memintanya sesuai dengan identitas pada surat permintaan
keterangan ahli. Pihak lain tidak dapat memintanya.
2) Pihak yang terlibat dalam kegiatan pelayanan forensik klinik
a. Dokter
b. Perawat
c. Petugas Administrasi
3) Tahapan-tahapan dalam pembuatan visum et repertum pada korban hidup
a. Penerimaan korban yang dikirim oleh Penyidik.
Yang berperan dalam kegiatan ini adalah dokter, mulai dokter umum
sampai dokter spesialis yang pengaturannya mengacu pada S.O.P. Rumah
Sakit tersebut. Yang diutamakan pada kegiatan ini adalah penanganan
kesehatannya dulu, bila kondisi telah memungkinkan barulah ditangani aspek
medikolegalnya. Tidak tertutup kemungkinan bahwa terhadap korban dalam
penanganan medis melibatkan berbagai disiplin spesialis.
b. Penerimaan surat permintaan keterangan ahli/visum et revertum
Adanya surat permintaan keterangan ahli/visum et repertum merupakan
hal yang penting untuk dibuatnya visum et repertum tersebut. Dokter sebagai
penanggung jawab pemeriksaan medikolegal harus meneliti adanya surat
permintaan tersebut sesuai ketentuan yang berlaku. Hal ini merupakan aspek
10 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

yuridis yang sering menimbulkan masalah, yaitu pada saat korban akan
diperiksa surat permintaan dari penyidik belum ada atau korban datang sendiri
dengan membawa surat permintaan keterangan ahli/ visum et repertum.
Untuk mengantisipasi masalah tersebut maka perlu dibuat kriteria
tentang pasien/korban yang pada waktu masuk Rumah Sakit/UGD tidak
membawa SpV.
Sebagai berikut :
Setiap pasien dengan trauma
Setiap pasien dengan keracunan/diduga keracunan
Pasien tidak sadar dengan riwayat trauma yang tidak jelas
Pasien dengan kejahatan kesusilaan/perkosaan
Pasien tanpa luka/cedera dengan membawa surat permintaan visum
Kelompok pasien tersebut di atas untuk dilakukan kekhususan dalam
hal pencatatan temuan-temuan medis dalam rekam medis khusus, diberi tanda
pada map rekam medisnya (tanda VER), warna sampul rekam medis serta
penyimpanan rekam medis yang tidak digabung dengan rekam medis pasien
umum.
Ingat ! kemungkinan atas pasien tersebut di atas pada saat yang akan
datang, akan dimintakan visum et repertumnya dengan surat permintaan visum
yang datang menyusul.
c. Pemeriksaan korban secara medis
Tahap ini dikerjakan oleh dokter dengan menggunakan ilmu forensik
yang telah dipelajarinya. Namun tidak tertutup kemungkinan dihadapi
kesulitan yang mengakibatkan beberapa data terlewat dari pemeriksaan.
11 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Ada kemungkinan didapati benda bukti dari tubuh korban misalnya
anak peluru, dan sebagainya. Benda bukti berupa pakaian atau lainnya hanya
diserahkan pada pihak penyidik. Dalam hal pihak penyidik belum
mengambilnya maka pihak petugas sarana kesehatan harus me-nyimpannya
sebaik mungkin agar tidak banyak terjadi perubahan.Status benda bukti itu
adalah milik negara, dan secara yuridis tidak boleh diserahkan pada pihak
keluarga/ahli warisnya tanpa melalui penyidik.
d. Pengetikan surat keterangan ahli/visum et repertum
Pengetikan berkas keterangan ahli/visum et repertum oleh petugas
administrasi memerlukan perhatian dalam bentuk/formatnya karena ditujukan
untuk kepentingan peradilan. Misalnya penutupan setiap akhir alinea dengan
garis, untuk mencegah penambahan kata-kata tertentu oleh pihak yang tidak
bertanggung jawab.
Contoh :
Pada pipi kanan ditemukan luka terbuka, tapi tidak rata sepanjang lima senti
meter
e. Penandatanganan surat keterangan ahli / visum et repertum
Undang-undang menentukan bahwa yang berhak menandatanganinya
adalah dokter. Setiap lembar berkas keterangan ahli harus diberi paraf oleh
dokter. Sering terjadi bahwa surat permintaan visum dari pihak penyidik
datang terlambat, sedangkan dokter yang menangani telah tidak bertugas di
sarana kesehatan itu lagi. Dalam hal ini sering timbul keraguan tentang siapa
yang harus menandatangani visum et repertun korban hidup tersebut. Hal yang
sama juga terjadi bila korban ditangani beberapa dokter sekaligus sesuai
dengan kondisi penyakitnya yang kompleks.
12 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Dalam hal korban ditangani oleh hanya satu orang dokter, maka yang
menandatangani visum yang telah selesai adalah dokter yang menangani
tersebut (dokter pemeriksa). Dalam hal korban ditangani oleh beberapa orang
dokter, maka idealnya yang menandatangani visumnya adalah setiap dokter
yang terlibat langsung dalam penanganan atas korban. Dokter pemeriksa yang
dimaksud adalah dokter pemeriksa yang melakukan pemeriksaan atas korban
yang masih berkaitan dengan luka/cedera/racun/tindak pidana.
Dalam hal dokter pemeriksa sering tidak lagi ada di tempat (di luar
kota) atau sudah tidak bekerja pada Rumah Sakit tersebut, maka visum et
repertum ditandatangani oleh dokter penanggung jawab pelayanan forensik
klinik yang ditunjuk oleh Rumah Sakit atau oleh Direktur Rumah Sakit
tersebut.
f. Penyerahan benda bukti yang telah selesai diperiksa
Benda bukti yang telah selesai diperiksa hanya boleh diserahkan pada
penyidik saja dengan menggunakan berita acara.
g. Penyerahan surat keterangan ahli/visum et repertum.
Surat keterangan ahli/visum et repertum juga hanya boleh diserahkan
pada pihak penyidik yang memintanya saja. Dapat terjadi dua instansi
penyidikan sekaligus meminta surat visum et repertum.






13 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

B. TRAUMATOLOGI
1. Definisi Traumatologi
Traumatologi berasal dari kata trauma dan logos. Trauma berarti kekerasan
atas jaringan tubuh yang masih hidup, sedang logos berarti ilmu. Traumatologi adalah
cabang ilmu kedokteran yang mempelajari tentang trauma atau perlukaan, cedera serta
hubungannya dengan berbagai kekerasan (rudapaksa), yang kelainannya terjadi pada
tubuh karena adanya diskontinuitas jaringan akibat kekerasan yang menimbulkan
jejas.

2. Penyebab Trauma
Kekerasan yang mengenai tubuh seseorang dapat menimbulkan efek pada fisik
maupun psikisnya. Efek fisik berupa luka- luka yang kalau di periksa dengan teliti
akan dapat di ketahui jenis penyebabnya, yaitu:
Benda-benda mekanik
Benda-benda fisik
Kombinasi benda mekanik dan fisik
Zat-zat kimia korosif
Dalam ilmu perlukaan dikenal trauma tumpul dan trauma tajam.

Benda-benda mekanik
a. Trauma benda tajam
Trauma tajam ialah suatu ruda paksa yang mengakibatkan luka pada
permukaan tubuh oleh benda-benda tajam. Ciri-ciri umum dari luka benda
tajam adalah sebagai berikut :
Garis batas luka biasanya teratur, tepinya rata dan sudutnya runcing
14 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Bila ditautkan akan mejadi rapat (karena benda tersebut hanya
memisahkan , tidak menghancurkan jaringan) dan membentuk garis lurus
dari sedikit lengkung.
Tebing luka rata dan tidak ada jembatan jaringan.
Daerah di sekitar garis batas luka tidak ada memar.

Trauma tajam dikenal dalam tiga bentuk pula yaitu luka iris atau luka
sayat (vulnus scissum), luka tusuk (vulnus punctum) dan luka bacok (vulnus
caesum).
1) Luka sayat
Luka sayat ialah luka karena alat yang tepinya tajam dan timbulnya luka
oleh karena alat ditekan pada kulit dengan kekuatan relativ ringan kemudian
digeserkan sepanjang kulit.
Ciri luka sayat :
Pinggir luka rata
Sudut luka tajam
Rambut ikut terpotong
Jembatan jaringan ( - )
Biasanya mengenai kulit, otot, pembuluh darah, tidak sampai tulang
15 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M


2) Luka tusuk
Luka tusuk ialah luka akibat alat yang berujung runcing dan bermata
tajam atau tumpul yang terjadi dengan suatu tekanan tegak lurus atau serong
pada permukaan tubuh. Contoh: belati, bayonet, keris, clurit, kikir, tanduk
kerbau.

Ciri luka tusuk (misalnya senjata pisau / bayonet) :
Tepi luka rata
16 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Dalam luka lebih besar dari panjang luka
Sudut luka tajam
Sisi tumpul pisau menyebabkan sudut luka kurang tajam
Sering ada memar / echymosis di sekitarnya

3) Luka bacok
Luka bacok ialah luka akibat benda atau alat yang berat dengan mata
tajam atau agak tumpul yang terjadi dengan suatu ayunan disertai tenaga yang
cukup besar. Contoh : pedang, clurit, kapak, baling-baling kapal.

Ciri luka bacok :
Luka biasanya besar
Pinggir luka rata
Sudut luka tajam
Hampir selalu menimbulkan kerusakan pada tulang, dapat memutuskan
bagian tubuh yang terkena bacokan
Kadang-kadang pada tepi luka terdapat memar, aberasi


17 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

b. Trauma benda tumpul
Trauma tumpul ialah suatu ruda paksa yang mengakibatkan luka pada
permukaan tubuh oleh benda-benda tumpul. hal ini disebabkan oleh benda-
benda yang mempunyai permukaan tumpul, seperti batu, kayu, martil, terkena
bola, ditinju, jatuh dari tempat ketinggian, kecelakaan lalu-lintas dan lain-lain
sebagainya. Trauma tumpul dapat menyebabkan tiga macam luka yaitu:
1) Luka memar (contusio)
Memar merupakan salah satu bentuk luka yang ditandai oleh kerusakan
jaringan tanpa disertai diskontinuitas permukaan kulit. Kerusakan tersebut
disebabkan oleh pecahnya kapiler sehingga darah keluar dan meresap
kejaringan di sekitarnya.
Mula mula terlihat pembengkakan, berwarna merah kebiruan. Sesudah
4 sampai 5 hari berubah menjadi kuning kehijauan dan sesudah lebih dari
seminggu menjadi kekuningan.
Pada orang yang menderita penyakit defisiiensi atau menderita kelainan
darah, kerusakan yang terjadi akibat trauma tumpul tersebut akan lebih besar di
bandingkan pada orang normal. Oleh sebab itu, besar kecilnya memar tidak
dapat di jadikan ukuran untuk menentukan besar kecilnya benda penyebabnya
atau kekerasan tidaknya pukulan. Pada wanita atau orang orang yang gemuk
juga akan mudah terjadi memar.




18 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Dilihat sepintas lalu luka memar terlihat seperti lebam maya, tetapi jika di
periksa dengan seksama akan dapat dilihat perbedaan perbedaanya, yaitu :
Memar Lebam mayat
Lokasi Bisa dimana saja Pada bagian
terendah
Pembengkakan Positif Negative
Bila di tekan Warna tetap Memucat / hilang
Mikroskopik Reaksi jaringan(
+ )
Reaksi jaringan ( - )


2) Luka lecet (abrasio)
Luka lecet adalah luka yang disebabkan oleh rusaknya atau lepasnya
lapisan luar dari kulit, yang ciri cirinya adalah :
Bentuk luka tak teratur
Batas luka tidak teratur
Tepi luka tidak rata
Kadang kadang di temukan sedikit perdarahan
Permukaannya tertutup oleh krusta ( serum yang telah mongering )
Warna coklat kemerahan
Pada pemeriksan mikroskopik terlihat adanya beberapa bagian yang
masih di tutupi epitel dan reaksi jaringan (inflamasi)
Bentuk luka lecet kadangkadang dapat memberi petunjuk tentang benda
penyebabnya; seperti misalnnya kuku, ban mobil, tali atau ikat pinggang. Luka
lecet juga dapat terjadi sesudah orang meninggal dunia, dengan tanda tanda
sebagai berikut :
Warna kuning mengkilat
19 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Lokasi biasnya didaerah penonjolan tulang
Pemeriksaan mikroskopik tidak di temukan adanya sisa- sia epitel dan
tidak di temukan reaksi jaringan.

3) Luka robek (vulnus laceratum)
Luka terbuka / robek adalah luka yang disebabkan karena persentuhan
dengan benda tumpul dengan kekuatan yang mampu merobek seluruh lapisan
kulit dan jaringan di bawahnya, yang ciricirinya sebagai berikut :
Bentuk garis batas luka tidak teratur dan tepi luka tak rata
Bila ditautkan tidak dapat rapat ( karena sebagaian jaringan hancur )
Tebing luka tak rata serta terdapat jembatan jaringan
Di sekitar garis batas luka di temukan memar
Lokasi luka lebih mudah terjadi pada daerah yang dekat dengan tulang (
misalnya daerah kepala, muaka atau ekstremitas ).
Karena terjadinya luka disebabkan oleh robeknya jaringan maka bentuk
dari luka tersebut tidak menggambarkan bentuk dari benda penyebabnya. Jika
benda tumpul yang mempunyai permukaan bulat atau persegi dipukulkan pada
kepala maka luka robek yang terjadi tidak berbentuk bulat atau persegi.

c. Trauma benda yang mudah pecah (kaca)
Kekerasan oleh benda yang mudah pecah ( missal kaca ), dapat
mengakibatkan luka luka campuran; yang terdiri atas luka iris, luka tusuk dan
luka lecet. Pada daerah luka atau sekitarnya biasanya tertinggal fragmen-
fragmen dari benda yang mudah pecah itu. Jika yang menjadi penyebabnya
adalah kaca mobil maka luka-luka campuran yang terjadi hanya terdiri atas
20 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

luka lecet dan luka iris saja, sebab kaca mobil sengaja dirancang sedemikian
rupa sehingga kalau peah akan terurai menjadi bagian-bagian kecil.

Benda-benda fisik
Kekerasan fisik adalah kekerasan yang disebabkan oleh benda-benda fisik,
antara lain:
a. Benda bersuhu tinggi
Kekerasan oleh benda bersuhu tinggi akan dapat menimbulkan luka bakar yang
cirinya amat tergantung dari jenis bendanya, ketinggian suhunya serta lamanya
kontak dengan kulit. Api, benda padat panas atau membara dapat mengakibatkan
luka bakar derajat I, II, III, atau IV. Zat cair panas dapat mengakibatkan luka bakar
tingkat I, II, atau III. Gas panas dapat mengakibatkan luka bakar tingkat I, II, III,
atau IV.
b. Benda bersuhu rendah
Kekerasan oleh hawa bersuhu dingin biasanya dialami oleh bagian tubuh yang
terbuka; seperti misalnya tangabn, kaki, telinga atau hidung. Mula-mula pada daerah
tersebut akan terjadi vasokonstriksi pembuluh darah superfisial sehingga terlihat
pucat. Selanjutnya akan terjadi paralise dari vasomotor kontrol yang mengakibatkan
daerah tersebut menjadi kemerahan. Pada keadaan yang berat dapat terjadi gangren.
c. Sengatan listrik
Sengatan oleh benda bermuatan listrik dapat menimbulkan luka bakar sebagai
akibat berubahnya energi listrik menjadi panas. Besarnya pengaruh listrik pada
jaringan tubuh tersebut tergantung dari besarnya tegangan (voltase), kuatnya arus
(amper), besarnya tahanan (keadaan kulit kering atau basah), lamanya kontak serta
luasnya daerah terkena kontak.
21 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Bentuk luka pada daerah kontak (tempat masuknya arus) berupa
kerusakan lapisan kulit dengan tepi agak menonjol dan di sekitarnya terdapat
daerah pucat, dikelilingi daerah hyperemis. Sering ditemukan adanya
metalisasi. Pada tempat keluarnya arus dari tubuh juga sering ditemukan luka.
Nahkan kadang-kadang bagian dari baju atau sepatu yang dilalui oleh arus
listrik ketika meninggalkan tubuh juga ikut terbakar.
Tegangan arus kurang dari 65 volt biasanya tidak membahayakan, tetapi
tegangan antara 65-1000 volt dapat mematikan. Sedangkan kuat arus (amper)
yang dapat mematikan adalah 100 mA. Kematian tersebut terjadi akibat
fibrilasi ventrikel, kelumpuhan otot pernafasan atau pusat pernafasan.
Sedangkan faktor yang sering mempengaruhi kefatalan adalah kesadaran
seseorang akan adanya arus listrik pada benda yang dipegangnya. Bagi orang-
orang tidak menyadari adanya arus listrik pada benda yang dipegangya
biasanya pengaruhnya lebih berat dibanding orang-orang yang pekerjaannya
setiap hari berhubungan dengan listrik.
d. Petir
Petir terjadi karena adanya loncatan arus listrik di awan yang
tegangannya dapat mencapai 10 mega volt dengan kuat arus sekitar 100.000 A
ke tanah. Luka-luka karena sambaran petir pada hakekatnya merupakan luka-
luka gabungan akibat listrik, panas dan ledakan udara. Luka akibat panas
berupa luka bakar dan luka akibat ledakan udara berupa luka-luka yang mirip
dengan luka akibat persentuhan dengan benda tumpul.
Dapat terjadi kematian akibat efek arus listrik yang melumpuhkan
susunan saraf pusat, menyebabkan fibrilasi ventrikel. Kematian juga dapat
terjadi karena efek ledakan ataun efek dari gas panas yang ditimbulkannya.
22 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Pada korban mati sering ditemukan adanya arborescent mark (percabangan
pembuluh darah terlihat seperti percabangan pohon), metalisasi benda-benda
dari logam yang dipakai. Pakaian korban terbakar atau robek-robek.
e. Tekanan (barotrauma)
Trauma akibat perubahan tekanan pada medium yang ada di sekitar
tubuh manusia dapat menimbulkan kelainan atau gangguan yang sering disebut
disbarisme yang terdiri atas 2 macam yaitu:
1) Hiperbarik
Sindrom ini disebabkan oleh karena tekanan tinggi, antara lain:
Turun dari ketinggian secara mendadak: saat pesawat mendarat atau
turun gunung
Berada didalam kedalaman air: pada penyelam bebas, scuba diving
(menyelam dengan tangki oksigen), snorkeling (menyelam dengan tube
di mulut) penyelam dengan pakaian khusus.
Gejala yang dapat ditimbulkan oleh perubahan tekanan tersebut dapat berupa:
Barotrauma pulmoner: pneumotoraks, emboli udara atau emfisema
interstisial.
Barotalgia: rasa nyeri, membrana timpani pecah, perdarahan, vertigo atau
dizzines.
Barodontalgia: pengumpulan gas yang menyebabkan rasa nyeri atau
bahkan meletus.
Narkosis Nitrogen: amnesia atau disorientasi



23 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

2) Hipobarik
Sindroma ini disebabkan oleh perubahan tekanan rendah, antara lain:
Naik ke tempat tinggi secara mendadak: saat pesawat mengudara atau
saat pesawat meluncur keluar angkasa.
Berada di dalam ruang bertekanan rendah: misalnya di dalam
decompression chamber.
Gejala yang ditimbulkannya disebabkan oleh pembentukan dan
pengumpulan gelembung-gelembung udara di dalam jaringan lunak, rongga-
rongga atau organ-organ berongga.
Gejala tersebut antara lain:
Sendi-sendi terasa kaku disertai nyeri hebat
Rongga dada dirasakan tercekik, sesak napas dan batuk yang hebat
Gejala pada susunan syaraf tergantung letak emboli dan letak emfisema
subkutan
Rongga perut terasa kembung
Gigi-geligi terasa rasa nyeri (barodontalgia)

Kombinasi benda mekanik dan fisik
Luka akibat tembakan senjata api pada hakekatnya merupakan luka yang
dihasilkan oleh trauma benda mekanik (benda tumbul) dan benda fisik (panas),
yaitu anak peluru yang jalannya giroskopik (berputar/mengebor). Mengingat
lapisan kulit mempunyai elastisitas yang kurang baik dibandingkan lapisan di
bawahnya maka jaringan yang hancur akibat terjangan anak peluru lebih luas.
Akibatnya, bentuk luka tembak masuk terdiri atas lubang, dikelilingi oleh cincin
24 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

lecet yang diameternya lebih besar. Diameter cincin lecet tersebut lebih mendekati
kaliber pelurunya.
Sedangkan luka akibat senjata yang tidak menggunakan mesiu sebagai
tenaga pendorong anak pelurunya (senjata angin), pada hakekatnya merupakan
luka yang disebabkan oleh persentuhan dengan benda tumpul saja. Ciri-ciri luka
tembak amat tergantung dari jenis senjata yang ditembakkan, jarak tembakan, arah
tembakan serta posisinya (sebagai tempat masuk atau keluarnya anak peluru).

Zat-zat kimia korosif
Zat-zat kimia korosif dapat menimbulkan luka-luka apabila mengenai tubuh
manusia. Ciri-ciri lukanya amat tergantung dari golongan zat kimia tersebut, yaitu:
a. golongan asam
Termasuk zat kimia korosif golongan asam antara lain:
Asam mineral, yaitu: H
2
SO
4
, HCL, NO
3

Asam organik, yaitu: asam oksalat, asam formiat dan asam asetat
Garam mineral, yaitu: AgNO
3
, dan Zinc Chlorida
Halogen, yaitu: F, Cl, Ba dan J
Cara kerja zat kimia korosif dari golongan ini sehingga mengakibatkan luka ialah:
Mengekstraksi air dari jaringan
Mengkoagulasi protein menjadsi albuminat
Mengubah hemoglobin menjadi acid hematin
Ciri-ciri dari luka yang terjadi akibat zat-zat asam korosif tersebut di atas ialah:
Terlihat kering
Berwarna coklat kehitaman, kecuali yang disebabkan oleh nitric acid erwarna
kuning kehijauan
25 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Perabaan keras dan kasar
b. Golongan Basa
Zat-zat kimia korosif yang termasuk golongan basa antara lain:
KOH
NaOH
NH4OH
Cara kerja dari zat-zat tersebut sehingga menimbulkan luka ialah:
Mengadakan ikatan dengan protoplasma sehingga membentuk alkaline
albumin dan sabun
Mengubah hemoglobin menjadi alkaline hematin
Ciri-ciri luka yang terjadi sebagai akibat persentuhan dengan zat-zat ini adalah:
Terlihat basah dan edematus
Berwarna merah kecoklatan
Perabaan lunak dan licin

3. Waktu terjadinya kekerasan
Waktu terjadinya kekerasan merupakan hal yang sangat penting bagi keperluan
penuntutan oleh penuntut umum, pembelaan oleh penasehat hukum terdakwa serta
untuk penentuan keputusan oleh hakim. Dalam banyak kasus, informasi tentang
waktu terjadinya kekerasan itu akan dapat digunakan sebagai bahan analisa guna
mengungkapkan banyak hal, terutama yang berkaitan dengan alibi seseorang.
Masalahnya ialah, tidak seharusnya seseorang dituduh atau dihukum jika pada saat
terjadinya tindak pidana ia berada di tempat yang jauh dari tempat kejadian perkara
Dengan melakukan pemeriksaan yang teliti , akan dapat ditentukan :

26 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

1. Luka antemortem dan post mortem
Jika pada tubuh jenazah ditemukan luka maka pertanyaanya ialah luka itu
terjadi sebelum atau sesudah mati. Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu dicari
ada tidaknya tanda tanda intravital. Jika di temukan berarti luka terjadi sebelum
mati dan demikian pula sebaliknya
Tanda intravital itu sendiri pada hakekatnya merupakan tanda yang
menunjukan bahwa

a. Jaringan setempat masih hidup ketika terjadi trauma
Tanda tanda bahwa jaringan yang terkena trauma masih dalam keadaan
hidup ketika terjadi trauma antara lain :
1) Retraksi jaringan
Terjadi karena serabutserabut elastic dibawah kulit terpotong dan kemudian
mengkerut sambil menarik kulit di atasnya. Jika arah luka memotong serabut secara
tegak lurus maka bentuk luka akan menganga, tetapi jika arah luka sejajar dengan
serabut elastic maka bentuk luka tak begitu menganga.
2) Reaksi vaskuler
Bentuk reaksi vaskuler tergantung dari jenis trauma, yaitu :
Pada trauma suhu panas, bentuk reaksi intravitalnya berupa : Eritema ( kulit
berwarna kemerahan ), vesikel atau bulla.
Pada trauma neda keras dan tumpul, bentuk intravitas berupa kontusi atau
memar



27 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

3) Reaksi mikroorganisme ( infeksi )
Jika tubuh dari orang yang masih hidup mendapat trauma dan meninggalkan
luka terbuka maka kuman kuman kan masuk serta menimbulkan infeksi yang ciri
cirinya sebagai berikut :
Warna kemerahan
Terlihat bengkak
Terdapat pus
Bila sudah lama terlihat danya jaringan granulasi
4) Reaksi biokimiawi
Jika jaringan yang masih hidup mendapat trauma maka pada daerah tersebut
akan terjadi aktivitas biokimiawi berupa :
kenaikan kadar serotonin (kadar maksimal terjadi 10 menit sesudah trauma)
Kenaikan kadar histamine ( kadar maksimal terjadi jadi 20-30 menit sesudah
trauma).
Kenaikan kadar enzyme ( ATP, aminopeptidase, acid-phosphatase dan alkali-
phosphatase ) yang terjadi beberapa jam sesudah trauma sebagai akibat dari
mekanisme pertahanan jaringan.

b. Organ dalam masih berfungsi saat terjadi trauma
Jika organ dalam ( jantung atau paru paru )masih dalam keadaan berfungsi
ketika terjadi trauma maka tanda tandanya antara lain :
1) Perdarahan hebat ( profuse bleeding ) :
Trauma yang terjadi pada orang hidup akan menimbulkan perdarahan yang
banyak sebab jantung masih bekerja sehingga terus menerus memomp darah keluar
lewat luka. Berbeda sekali dengan trauma yang terjadi sesudah mati sebab keluarnya
28 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

darah di sini secara pasif karena pengaruh gravitasi sehingga jumlahnya tidak
banyak.
Perdarahan pada luka intravital di bagi menjadi 2 yaitu perdarahan internal dan
eksternal. Perdarahan internal mudah dibuktikan karena darah tertampung di rongga
badan ( rongga perut, rongga dada, rongga panggul, rongga kepala dan kantong
pericardium ) sehingga dapat di ukur pada waktu otopsi.
Sedangkan perdarahan eksternal (darah tumpah di tempat kejadian) hanya
dapat disimpulkan jika pada waktu otopsi di temukan tanda- tanda anemis (muka
dan organ-organ dalam pucat) disertai tandatanda limpa melisut, jantung dan nadi
utama tidak berisi darah.
2) Emboli udara
Terdiri atas emboli udara venosa ( pulmoner ) dan emboli udara arterial (
sistematik). Emboli udara venosa terjadi jika lumen dari vena yang terpotong tidak
mengalami kolap karena terfixir dengan baik, seperti vena jugularis eksterna atau
subclavia. Udara akan masuk ketika tekanan di jantung kanan negative. Gelembung
udara yang terkumpul di jantung kanan dapat terus menuju ke daerah paru paru
sehingga dapat mengganggu fungsinya.
Emboli arterial dapat terjadi sebagai kelanjutan dari emboli udara venosa pada
penderita foramen ovale persisten atau sebagai akibat dari tindakan pneumotoraks
artificial atau karena luka luka yang menembus paru paru. Kematian dapat terjadi
akibat gelembung udara masuk pembuluh darah koroner atau otak.
3) Emboli lemak
Emboli lemak terjadi pada trauma tumpul yang mengenai jaringan berlemaka
atau trauma yang mengakibatkan patah tulang panjang. Akibatnya, jaringan lemak
akan mengalami pencairan dan kemudian masuk kedalam pembuluh darah vena yang
29 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

pecah menuju atrium kanan, ventrikel kanan dan dapat terus menuju daerah paru
paru.
4) Pneumotorak
Jika dinding dada menderita luka tembus atau paru paru menderita luka,
sementara paru paru itu sendiri tetap berfungsi maka luka tersebut dapat berfungsi
sebagai ventil. Akibatnya, udara luar atau udara paru- paru akan masuk ke rongga
pleura setiap inspirasi.
Semakin lama udara yang masuk ke rongga pleura semakin banyak yang pada
akhirnya akan menghalangi pengembangan paru paru sehingga pada akhirnya paru
paru menjadi kolap.
5) Emfisema kulit ( krepitasi kulit ).
Jika trauma pada dada mengakibatkan tulang iga patah dan menusuk apru
paru maka pada setiap ekspirasi udara paru paru dapat masuk kejaringan ikat di
bawah. Pada palpasi akan terasa ada krepitasi di sekitar daerah trauma. Keadaan
seperti ini tidak mungkin terjadi jika trauma terjadi sesudah orang meninggal dunia.
Jika trauma terjadi sesudah orang meninggal dunia maka kelainan kelainan
tersebut di atas tidak mungkin terjadi mengingat pada saat itu jantung dan paru
parunya sudah berhenti bekerja.

Umur Luka
Untuk mengetahui kapan terjadi kekerasan, perlu diketahui umur luka. Hanya
saja, tidak ada satupun metode yang dapat digunakan untuk menilai dengan tepat
kapan suatu kekerasan ( baik pada korban hidup ataupun mati ) dilakukan mengingat
adanya factor individual, penyulit ( misalnya infeksi, kelainan darah atau penyakit
defisiensi ) serta factor kualitas dari kekerasan itu sendiri.
30 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Kendati demikian ada beberapa cara dapat di gunakan untuk memperkirakannya,
yaitu dengan melakukan :
a. Pemeriksaan makroskopik
Pemeriksaan dengan mata telanjang atas luka dapat memperkirakan berapa
umur luka tersebut. Pada korban hidup, perkiraan di hitung dari saat trauma sampai
saat di periksa pada korban mati, mulai dari saat trauma sampai saat kematiaanya.
b. Pemeriksaan mikroskopik ( histology ).
Mengingat hasil makroskopik sangat variatif dan jauh dari ketepatan maka
perlu di lakukan pemeriksaan mikroskopik pada korban mati. Selain berguna bagi
intravitalis luka, pemeriksaan mikroskopik juga untuk menentukan umur luka secara
lebih teliti. Caranya ialah dengan mengamati perubahan perubahan histologiknya
Perubahan peruabahan histologik dari luka ini sangat di pengaruhi ada
tidaknya infeksi. Perlu di ketahui bahwa infeksi akan memperlambat proses
penyembuhan luka. Peningkatan akitfitas adenosine triphosphatase dan
aminopeptidase dapat di lihat lebih dini, yaitu setengah jam setelah trauma.
Peningkatan aktifitas aminopeptidase dapat di lihat sesudah 2 jam, sedangkan
peningkatan acid phosphatase dan alkali phosphatase sesudah 4 jam.

4. Cara Melakukan Kekerasan
Untuk sejata tajam, cara senjata itu digunakan dapat di bedakan, yaitu :
1. Diiriskan
Di iriskan mengandung pengertian bahwa mata tajam dari sejata tersebut di
tekankan lebih dahulu ke suatu bagian dari tubuh dakn kenudian di geser kearah
yang sesuai dari senjata. Luka yang di timbulkannya merupakan luka iris ( incised
wound) yang ciri cirinya :
31 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Sesuai ciri ciri umum luka akibat senjata tajam
Panjang luka lebih besar dari dalamnya luka.
2. Ditusukan
Artinya bagian dari senjata tajam di tembakkan pada suatu bagian dari tubuh
dengan arah tegak lurus atau miring kemudian ditekan kedalam tubuh sesuai arah
tadi. Luka luka yang di timbulkannya merupaka luka tusuk ( stab wound ) yang ciri
cirinya :
Sesuai ciri ciri umum luka akibat senjata tajam
Dalam luka lebih besar dari panjangnya luka.
3. Dibacokan
Mengandung perngertian bahwa senjata tajam yang ukurannya relative besar
dan diayunkan dengan tenaga yang kuat sehingga mata tajam dari senjata tersebut
mengenai sautu bagian dari tubuh. Tulang tulang di bawahnya biasnya berfungsi
sebgai bantalan sehingga ikut menderita luka. Luka yang di timbulkannya
merupakan luka bacok ( chop wound ) yang ciri cirinya :
Sesuai ciri ciri umum luka akibat senjata tajam
Ukuran luka besar dan menganga
Panjang luka kurang lebih sama dengan dalam luka
Biasnya tulang tulang dibawahnya ikut menderita luka
Jika senjata yang di gunakan tidak begitu tajam maka disekitar garis batas luka
terdapat memar.
4. Di tembakan
Untuk senjata api, cara senjata itu di tembakan juga dapat di tentukan, yaitu :
a. Secara tegak lurus atau miring
b. Dengan jarak tembak temple, dekat, sedang atau jauh
32 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Jika di tembakan tegak lurus kearah permukaan tubuh maka ciri cirinya :
1) Letak lubang luka terhadap cincin lecet konsentris luka di tembakan secara
miring kearah permukaan tubuh maka ciri- cirinya :
o Letak lubang luka terhadap cincin lecet episentris
2) Jika di tembakan dengan jarak kontak maka luka yang terjadi mempunyai ciri
ciri :
o Bentuknya seperti bintang (cruriform )
o Terlihat memar berbetuk sirkuler akibat hentakan balik dari moncong
senjata.
3) Jika di tembakan dengan jarak dekat ( 1 inci 2 kaki ) maka ciri ciri dari
luka yang terjadi adalah :
o Berupa lubang berbentuk bulat yang di kelilingi cincin lecet
o Terdapat produk dari mesiu ( tattoo, sisa sisa mesiu atau jelaga )
4) Jika di tembakan dengan jarak jauh ( lebih 2 kaki ) maka luka yang terjadi
mempunyai ciri ciri :
o Berupa lubang berbentuk bulat yang di kelilingi cincin lecet
o Tidak di temukan produk mensiu

5. Akibat Trauma
1. Aspek medik
Konsekuensi dari luka yang di timbulkan oleh trauma dapat berupa :
a. Kelainan fisik / organik
Bentuk dari kelainan fisik atau organic ini dapat berupa :
- Hilangnya jaringan atau bagian dari tubuh
- Hilangnya sebagaian atau seluruh organ tertentu
33 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

b. Gangguan fungsi dari organ tubuh tertentu
Bentuk dari gangguan fungsi tergantung dari organ atau bagaian tubuh yang
terkena trauma. Contoh dari gangguan fungsi antara lain lumpuh, buta, tuli atau
terganggunya fungsi organ organ dalam.
c. Infeksi
Seperti di ketahui bahwa kulit atau membrane mukosa merupakan barier
terhadap infeksi. Bila kulit atau membrane tersebut rusak maka kuman akan masuk
lewat pintu ini. Bahkan kuman dapat masuk lewat daerah memar atau bahkan irritasi
akibat benda yang terkontaminasi oleh koman. Jenis kuman dapat berupa
streptococcus, staphylococcus, echeria coli, proteus vulgaris, clostridium tetani serta
kuman yang menyebabkan gas gangrene.
d. Penyakit
Trauma sering di anggap sebagai precipitating factor terjadinya penyakit
jantung walaupun hubungan kausalnya sulit diterangkan dan masih dalam
kontroversi.
e. Kelainan psikis
Trauma, meskipun tidak menimbulkan kerusakan otak, kemungkinan dapat
menjadi precipitating factor bagi terjadinya kelainan mental yang spketrumnnya
amat luas; yaitu dapat berupa compensational neurosis, anxiety neurosis, dementia
praecox primer ( schizophrenia ), manic depressive atau psikosis. Kepribadian serta
potensi individu untuk terjadinya reaksi mental yang abnormal merupakan factor
utama timbulnya gangguan mental tersebut; meliputi jenis, derajat serta lamanya
gangguan. Oleh sebab itu pada setiap gangguan mental post-trauma perlu dikaji
elemen-elemen dasarnya yang terdiri atas latar belakang mental dan emosi serta nilai
relative bagi yang bersangkutan atas jaringan atau organ yang terkena trauma.
34 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Secara umum dapat diterima bahwa hubungan antara kerusakan jaringan tubuh
atu organ dengan psikosis post trauma di dasarkan atas :
- Keadaan mental benar benar sehat sebelum trauma
- Trauma telah merusak susunan syaraf pusat
- Trauma, tanpa mempersoalkan lokasinya, mengancam kehidupan seseorang.
- Trauma menimbulkan kerusakan pada bagian yang struktur dan fungsinya
dapat mempengaruhi emosi organ genital, payudara, mata, tangan atau wajah.
- Korban cemas akan lamanya waktu penderitaan
- Psikosis terjadi dalam tenggang waktu yang masuk akal
- Korban dihantui oleh kejadian ( kejahatan atau kecelkaan ) yang menimpanya.

2. Aspek yuridis
Jika dari sudut medic, luka merupakan kerusakan jaringan (baik disertai atau
tidak disertai diskontuinitas permukaan kulit) akibat trauma maka dari sudut hukum,
luka merupakan kelainan yang dapat disebabkan oleh suatu tindak pidana, baik yang
bersifat intensional (sengaja), reckless ( ceroboh ) atau negligence (kurang hati
hati). Untuk menentukan berat ringannya hukuman perlu ditentukan lebih dahulu
berat ringannya luka. Kebijakan hokum pidana didalam penentuan berat ringannya
luka tersebut didasarkan atas pengaruhnya terhadap :
- Kesehatan jasmani
- Kesehatan rohani
- Kelangsungan hidup janin di dalam kandungan
- Estetika jasmani
- Pekerjaan jabatan atau pekerjaan mata pencarian
- Fungsi alat indera
35 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

a. Luka ringan
Luka ringan adalah luka yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan
dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencariannya.
b. Luka sedang
Luka sedang adalah luka yang mengakibatkan penyakit atau halangan dalam
menjalankan pekerjaan jabtan atau mata pencariaanya untuk sementara waktu.
c. Luka berat
Luka berat adalah luka yang sebagaiman diuraikan didalam pasal 90KUHP,
yang terdiri atas :
1) Luka atau penyakit yang tidak dapat diharapkan akan sembuh dengan sempurna
lebih ditujukan pada fungsinya. Contohnya trauma pada satu mata yang
menyebabkan kornea robek. Sesudah di jahit sembuh, tetapi mata tersebut tidak
dapat melihat.
2) Luka yang dpat mendatangkan bahaya maut
3) Dapat mendatangkan bahaya maut pengertiannya memeiliki potensial untuk
menimbulkan kematian, tetapi sesudah diobati dapat sembuh.
4) Luka yang menimbulkan rintangan tetap dalam menjalankan pekerjaan jabatan
atau mata pencariaanya. Luka yng dari sudut medic tidak membahayakan jiwa,
dari sudut hokum dapat dikatagorikan sebagai luka berat. Contonya trauma pada
tangan kiri pemain biola atau pada wajah seorang peragawati dapat
dikatagorikan luka berat jika akibatnya mereka tidak dapat lagi menjalankan
pekerjaanya tersebut selamnya.
5) Kehilangan salah satu dari panca indera
36 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

6) Jika trauma menimbulkan kebutaan satu mata atau kehilngan pendengran satu
telinga, tdiak dapat digolongkan kehilangan ondera. Meskipun demikian tetap
digolongkan sebagai luka berat berdasarkan butir (a) di atas.
7) Cacat besar atau kudung
8) Lumpuh
9) Gangguan daya pikir lebih dari 4 minggu lamanya. Gangguan daya pikir tidak
harus berupa kehilangan kesadaran tetapi dapat juga berupa amnesia,
disorientasi, anxietas, depresi atau gangguan jiwa lainnya.
10) Keguguran atau kematian janin seorang perempuan
11) Keguguran ialah keluarnya janin sebelum masa waktunya, yaitu tidak di
dahului oleh proses yang sebagaimana umumnya terjadi seorang wanita ketika
melahirkan. Sedang kematian janin mengandung pengertian bahwa janin tidak
lagi menunjukan tanda tanda hidup. Tidak dipersoalkan bayi keluar atau
tidak dari perut ibunya.

F. Konteks Peristiwa Penyebab Luka
Latar belakang penyebab luka dapat disebabkan oleh peristiwa pembunuhan, bunuh
diri atau kecelakaan .
1. Pembunuhan
Ciri ciri lukanya adalah :
- Lokasi luka di sembarang tempat, yaitu daerah yang mematikan maupun yang
tidak mematikan
- Luka tersebut di daerah yang dapat di jangkau maupun yang tidak dpat di
jangkau oleh tangan korban
- Pakaian yang menutupi daerah luka ikut robek terkena senjata
37 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

- Dapat di temuka luka tangkisan ( defensive wounds ), yaitu pada korban yang
sadar ketika mengalami seranga. Luka tangkisan tersebut terjadi akibat reflek
menahan serangan sehingga letak luka tangkisan biasanya pada lengan bawah
bagian luar.
2. Bunuh diri
Ciri- ciri lukanya adalah :
- Lokasi luka pada daerah yang dapat mematikan secara cepat.
- Lokasi tersebut dapat dijangkau oleh tangan yang bersangkutan
- Pakaian yang menutupi luka tidak ikut robek oleh senjata
- Ditemukan luka luka percobaan ( tentative wounds )
Luka percobaan tersebut terjadi karena yang bersangkutan masih ragu ragu
atau karena sedang memilih letak senjata yang pas sambil mengumpulkan
keberaniaanya, sehingga ciri-ciri luka percobaan adalah :
- Jumlahnya lebih dari satu
- Lokasinya disekitar luka yang mematikan
- Kualitasnya lukanya dangkal
- Tidak mematikan
3. Kecelakaaan
Jika ciri- ciri luka yang ditemukan tidak mengambarkan pembunuhan atau
bunuh diri maka kemungkinannya adalah akibat kecelekaan. Untuk lebih
memastikannya perlu di lakukan pemeriksaan ditemapt kejadian.




38 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

C. TANATOLOGI
1. Definisi
Tanatologi adalah ilmu yang mempelajari kematian dan perubahan yang terjadi
setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. Tanatologi
merupakan ilmu paling dasar dan paling penting dalam ilmu kedokteran kehakiman
terutama dalam hal pemeriksaan jenazah (visum et repertum).
2. Jenis-Jenis Kematian
Jenis kematian ada 5 yaitu :
a. Mati klinis / somatis
- Terjadi akibat terhentinya fungsi ketiga system penunjang kehidupan yaitu
sistem pernafasan, kardiovaskuler, dan persarafan
- Ditandai dengan tidak adanya gerakan, refleks-refleks, EEG mendatar selama 5
menit, serta tidak berfungsinya jantung dan paru-paru.
- Organ organ belum tentu mati, masih bisa dimanfaatkan untuk transplantasi.
b. Mati suri (apparent death)
- keadaan yang mirip dengan kematian somatis, akan tetapi gangguan yang
terdapat pada ketiga sistem bersifat sementara.
- Kasus seperti ini sering ditemukan pada kasus keracunan obat tidur, tersengat
aliran listrik dan tenggelam.
c. Mati seluler / molekuler
- Proses kematian organ/ jaringan setelah mati klinis.
- Waktu kematian tiap jaringan / organ berbeda. Otak merupakan organ yang
paling sensitif yaitu sekitar 3-5 menit. Jaringan otot akan mengalami mati
seluler setelah 4 jam dan kornea masih dapat diambil dalam jangka waktu 6
jam setelah seseorang dinyatakan mati somatis.
39 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

- Penentuan mati seluler ini terutama penting dalam hal transplantasi organ.
d. Mati cerebral
- Yaitu proses kematian yang ditandai dengan kerusakan kedua hemisfer otak
dan serebellum, sedangkan kedua system penunjang lainnya yaitu pernapasan
dan kardiovaskuler masih berfungsi dengan bantuan alat
e. Mati otak
- Bila terjadi kerusakan seluruh isi neuronal intracranial yang ireversibel,
termasuk batang otak dan serebelum
3. Manfaat Tanatologi
Kepentingan mempelajari tanatologi adalah untuk menetapkan :
a. Waktu kematian
b. Sebab kematian pasti
Contoh : keracunan CO akan terdapat kulit merah terang (terjadi perubahan
warna kulit)
c. Cara kematian (homocide, suicide, accident)
d. Transplantasi (donor organ)
Syarat:
- Ada izin dari korban/ keluarganya
- Sudah meninggal
4. Diagnosa Kematian
Untuk mendiagnosa perubahan cepat dari kematian digunakan beberapa alat
antara lain stetoskop, lampu senter, palu reflek, EEG, dan ECG. Prinsipnya adalah
mendeteksi traktus respiratorius dan denyut jantung.
Beberapa tes yang dapat digunakan adalah :
a. Tes kardiovaskuler.
40 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

1. Magnus test.
Karena jantung berhenti maka sirkulasi juga berhenti. Caranya dengan
mengikat/menutup ujung jari korban dengan karet, lalu dilepaskan, maka tidak
tampak adanya perubahan warna dari pucat menjadi merah.
2. Diaphonos test.
Caranya dengan menyinari ibu jari korban dengan lampu senter dan tidak
terlihat ada sirkulasi (warna merah terang).
3. Fluorescin test.
Caranya dengan menyuntikkan zat warna fluorescin maka zat warna
fluorescin akan terlokalisir di tempat suntikan karena tidak ada aliran darah.
4. Tes lilin.
Bagian tubuh korban ditetesi lilin cair maka tidak akan terjadi
vasodilatasi (hiperemi) sebagai reaksi terhadap rangsang panas karena sirkulasi
tidak ada.
5. EKG dan Stetoskop.
b. Tes pernafasan.
1. Kaca.
Tidak tampak uap air ketika kaca diletakkan di depan hidung atau mulut
korban.
2. Bulu-bulu halus.
Tidak terdapat reaksi bersin/ geli ketika bulu-bulu halus diletakkan di
depan hidung korban.
3. Winslow test
Dilakukan pada orang yang pernafasannya agonal (tinggal satu-satu
nafasnya) dengan cara menempatkan cermin di dada korban dan disinari
41 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

dengan lampu senter. Bila bernafas maka sinar lampu senter akan ikut bergerak
dengan syarat pemeriksa tidak boleh bergerak. Atau bisa menggunakan
baskom berisi air yang akan bergerak bila ada pergerakan di dada.
4. Stetoskop.
c. Tes Saraf
1. Memeriksa reflex : reflex kornea
2. EEG
5. Perubahan-Perubahan Yang Terjadi Setelah Kematian
Ada 2 fase perubahan post mortem yaitu fase cepat (early) dan fase lambat (late).
Perubahan cepat (early) :
- Tidak adanya gerakan.
- Jantung tidak berdenyut (henti jantung).
- Paru-paru tidak bergerak (henti nafas).
- Kulit dingin dan turgornya menurun.
- Mata tidak ada reflek pupil dan tidak bergerak.
- Suhu tubuh sama dengan suhu lingkungan lebam mayat (post mortal lividity).
- Lebam mayat.

Perubahan lambat (late) ;
- Kaku mayat (post mortal rigidity).
- Pembusukan (decomposition).
- Penyabunan (adipocera).
- Mummifikasi.


42 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

a. Perubahan Mata
Perubahan mata setelah kematian dapat berupa :
- Hilangnya refleks kornea, refleks konjungtiva, dan refleks cahaya.
- Kornea menjadi pucat / opaque / keruh.
- Kelopak mata biasanya tertutup setelah kematian karena kekakuan primer dari otot
tetapi kekakuan otot biasanya sukar untuk membuat mata menutup menjadi lengkap
sehingga akan tampak sklera, sel debris, mukus dan debu dalam beberapa jam
kematian, menjadi merah kecoklatan dan kemudian menjadi hitam (Taches Noire De
La Sclerotique). Kecepatan kekeruhan dipengaruhi oleh :
Waktu kematian keadaan matanya menutup atau membuka (bila menutup
maka kekeruhan lambat terjadi, tapi bila membuka, maka kekeruhan akan
cepat terjadi akibat kontak dengan luar).
Kelembapan udara (bila lembab maka kekeruhan lambat, bila kering / angin
kencang maka kekeruhan cepat terjadi).
Faktor faktor penyebab kematian lainnya seperti :
Apoplaxia (perdarahan karena hipertensi) akan tampak kornea terang
karena terjadi perdarahan retina.
Keracunan sianida dan CO maka kekeruhan akan cepat terjadi.
Kematian kurang dari 1 jam, otot otot mata masih hidup sehingga bisa
ditetesi atropin akan terjadi midriasis pupil.
- Tekanan intraokuler tidak ada. Tekanan intraokuler menurun dengan cepat setelah
kematian tergantung dari tekanan darah arteri.
- Bola mata menjadi lunak dan cenderung untuk masuk ke dalam fossa orbital. Bila
jantung berhenti berdetak, tekanan menurun sekitar setengah sampai satu jam setelah
kematian dan menjadi nol setelah 2 jam setelah kematian.
43 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

- Kadar kalium yang tinggi karena cairan bola mata keluar (jumlah kalium yang keluar
berhubungan dengan waktu kematian).
- Kedudukan pupil. Refleks cahaya menghilang segera saat nukleus batang otak
mengalami iskemik. Iris mengandung jaringan otot yang banyak sehingga
kehilangan tonus dengan cepat dan iris biasanya relaksasi.
- Perubahan pembuluh darah retina melalui pemeriksaan ophtalmoskop retina akan
dapat menentukan satu tanda pasti kematian awal. Setelah mati, aliran darah
pembuluh darah retina menjadi segmen seiring dengan tekanan darah yang hilang
menyebabkan aliran darah terbagi menjadi beberapa segmen.
b. Perubahan Kulit
Perubahan yang terjadi pada kulit setelah kematian dapat berupa :
- Kulit menjadi pucat. Karena sirkulasi darah berhenti setelah kematian, darah
merembes keluar dari pembuluh darah kecil sehingga kulit tampak pucat.
Kulit menjadi pucat, bewarna putih abu dan kehilangan elastisitasnya.
- Elastisitas (turgor) kulit menurun sampai menghilang.
Sehingga bisa menetapkan apakah luka pada tubuh korban didapat intravital
atau post mortem, yaitu :
Luka pada intravital akan berbekas dengan ukuran lebih kecil daripada ukuran
senjata, dermis berwarna merah, antara epidermis dan dermis masih ada
perekatnya.
Luka post mortem membekas dengan ukuran lebih besar daripada ukuran
senjata, bahkan menganga, dermis pucat, epidermis lebih mudah mengelupas.
Pada kasus tenggelam, kulit tangan keriput (washer woman hand).
Jika terjadi pada ujung jari saja maka kematian 4 jam yang lalu.
44 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Jika terjadi pada telapak tangan dan seluruh jari maka kematian 24 jam yang
lalu.
Jari tangan yang sudah terlepas digunakan untuk sidik jari.
c. Penurunan Suhu Tubuh (Algor Mortis / Post Mortem Cooling)
Terjadi setelah kematian dan berlanjut sampai tercapai keadaan dimana suhu
mayat sama dengan suhu lingkungan. Berdasarkan penelitian, kurva penurunan suhu
mayat akan berbentuk kurva sigmoid, dimana pada jam jam penurunan suhu akan
berlangsung lambat, demikian pula bila suhu tubuh mayat telah mendekati suhu
tubuh lingkungan.
Penentuan suhu rektal kerap kali sangat berguna dalam investigasi kematian
yang mencurigakan, kecuali dimana tampak luar mengindikasikan bahwa tubuh
sudah didinginkan oleh suhu sekitarnya. Penurunan suhu tubuh post mortem dapat
minimal atau bahkan tidak ada pada iklim yang sangat panas sekali, mayat mungkin
dapat menghangat setelah mati.
Faktor yang mempengaruhi penurunan suhu mayat :
- Temperatur dari tubuh saat mati.
Dalam beberapa kasus, seperti kematian karena asfiksia, emboli lemak dan air,
heat stroke, beberapa infeksi, reaksi obat, perdarahan cerebral, atau saat tubuh
ditinggalkan berada di dekat api atau saat tubuh berada dalam bak mandi hangat,
maka temperatur akan meningkat. Sebaliknya penyakit degenerasi seperti cholera,
gagal jantung kongestif, paparan terhadap suhu dingin, perdarahan banyak, maka
temperatur akan menurun.
- Perbedaan temperatur tubuh dan lingkungan.
Pada daerah dingin, penurunan suhu paling sedikit 1,5 derajat Fahrenheit per
jam dan pada daerah tropis, penurunan suhu paling sedikit 0,75 derajat Fahrenheit
45 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

per jam. Selain itu, didalam air, kehilangan suhu melalui konduksi dan konveksi.
Pada kasus udara, kehilangan suhu dapat melalui konduksi (saat bagian dari badan
bersentuhan dengan tanah atau suatu material), konveksi (evaporasi dari cairan
tubuh) dan sebagian radiasi. Flora normal atau belatung dapat meningkatkan
temperatur tubuh.
- Keadaan fisik tubuh serta adanya pakaian atau penutup mayat.
Tebalnya jaringan lemak dan jaringan otot serta ketebalan pakaian yang
menutupi tubuh mayat akan mempengaruhi kecepatan penurunan suhu.
Konduksi dan konveksi secara signifikan diturunkan oleh adanya pakaian.
Pakaian yang terbuat dari sutera, wol, atau serat sintetik berperan dalam menurunkan
suhu. Pakaian basah akan mempercepat pendinginan karena terdapat uptake panas
untuk evaporasi.
- Ukuran tubuh.
Anak anak dan orang dewasa dengan badan kecil akan mengalami
pendinginan yang lebih cepat daripada orang dewasa yang berukuran lebih besar.
Jumlah dari lemak subkutan dan lemak preperitoneal berperan dalam menentukan
cepat lambatnya proses pendinginan. Tubuh seorang yang kurus akan lebih cepat
mendingin karena luas permukaan tubuhnya yang kecil dan kurangnya lemak.
- Aliran udara dan kelembapan.
Udara disekitar tubuh bertindak sebagai medium pemindah suhu. Dalam
beberapa kondisi, udara hangat biasanya menyelimuti permukaan tubuh dengan
demikian akan memblok perubahan temperatur. Udara yang lembab akan
mengalirkan panas lebih cepat dibanding yang kering.
46 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

- Post mortem caloricity.
Adalah kondisi dimana terjadi peningkatan temperatur tubuh sesudah mati
sebagai pengganti akibat pendinginan tubuh tersebut. Walaupun proses
glikogenolisis post mortem yang berlangsung pada kebanyakan tubuh sesudah mati,
dapat memproduksi kira kira 140 kalori yang akan meningkatkan suhu tubuh
temperatur 2 derajat celcius.
Rumus perkiraan saat kematian berdasarkan penurunan suhu mayat pada suhu
lingkungan sebesar 70 derajat Fahrenheit (21 derajat celcius), adalah sebagai berikut
Saat Kematian = 98,6
o
F Suhu Rektal
1,5
Secara umum 1,5
o
F / 1
o
C per jam, teori lain : 0,8
o
F per jam. 1,5
o
F / 1
o
C
per jam 6 jam pertama, 1
o
F jam 6 kedua, 0,6
o
F per jam 6 jam ketiga, setelah 12
jam mencapai suhu sama dengan suhu lingkungan (untuk kulit). Sedangkan untuk
organ organ dalam : 24 jam baru bias sama dengan suhu lingkungan. Bila
tenggelam / dalam air : 6 jam sudah mencapai suhu lingkungan.
d. Lebam Mayat (Livor Mortis / Post Mortem Hypostasis)
Lebam mayat atau livor mortis adalah salah satu tanda postmortem yang cukup
jelas. Biasanya disebut juga post mortem hypostasis, post mortem lividity, post
mortem staining, sugillations, vibices, dan lain lain. Kata hypostasis itu sendiri
mengandung arti kongesti pasif dari sebuah organ atau bagian tubuh.
Lebam terjadi sebagai akibat pengumpulan darah dalam pembuluh pembuluh
darah kecil, kapiler, dan venula, pada bagian tubuh yang terendah. Dengan adanya
penghentian dari sirkulasi darah saat kematian, darah mengikuti hukum gravitasi.
Kumpulan darah ini bertahan sesuai pada area terendah pada tubuh, memberi
47 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

perubahan warna keunguan atau merah keunguan terhadap area tersebut. Darah tetap
cair karena adanya aktivitas fibrinolisin yang berasal endotel pembuluh darah.
Timbulnya livor mortis mulai terlihat dalam 30 menit setelah kematian somatis
atau segera setelah kematian yang timbul sebagai bercak keunguan. Bercak kecil ini
akan semakin bertambah intens dan secara berangsur angsur akan bergabung
selama beberapa jam kedepan untuk membentuk area yang lebih besar dengan
perubahan warna merah keunguan. Kejadian ini akan lengkap dalam 6 -12 jam.
Sehingga setelah melewati waktu tersebut, tidak akan memberikan hilangnya lebam
mayat pada penekanan. Sebaliknya, pembentukan livor mortis ini akan menjadi
lambat jika terdapat anemia, kehilangan darah akut, dan lain lain.
Besarnya lebam mayat bergantung pada jumlah dan keenceran dari darah.
Darah akan mengalami koagulasi spontan pada semua kasus sudden death dimana
otopsi dilakukan antara 1 jam. Koagulasi spontan ini mungkin akan hilang paling
cepat 1,5 jam setelah mati. Tidak adanya fibrinogen pada darah post mortem akan
menyebabkan tidak terjadinya koagulasi spontan. Fibrinolisin didapatkan dari darah
post mortem hanya bertindak pada fibrin, bukan pada fibrinogen. Fibrinolisin
bertindak dengan mengikatkan dirinya pada bekuan yang baru dibentuk dan
kemudian akan lepas menjadi cairan bersama bekuan yang hancur. Fibrinolisin
dibentuk oleh sel endotel dalam pembuluh darah.
Distribusi lebam mayat bergantung pada posisi mayat setelah kematian.
Dengan posisi berbaring terlentang, maka lebam akan jelas pada bagian posterior
bergantung pada areanya seperti daerah lumbal, posterior abdomen, bagian belakang
leher, permukaan ekstensor dari anggota tubuh atas, dan permukaan fleksor dari
anggota tubuh bawah. Area area ini disebut juga areas of contact flattening.
48 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Dalam kasus gantung diri, lebam akan terjadi pada daerah tungkai bawah,
genitalia, bagian distal tangan dan lengan. Jika penggantungan ini lama, akumulasi
dari darah akan membentuk tekanan yang cukup untuk menyebabkan ruptur kapiler
subkutan dan membentuk perdarahan petekiae pada kulit. Dalam kasus tenggelam,
lebam biasa ditemukan pada wajah, bagian atas dada, tangan, lengan bawah, kaki
dan tungkai bawah karena pada saat tubuh mengambang, bagian perut lebih ringan
karena akumulasi gas yang cukup banyak kuat dibanding melawan kepala atau bahu
yang lebih berat. Ekstremitas badan akan menggantung secara pasif. Jika tubuh
mengalami perubahan posisi karena adanya perubahan aliran air, maka lebam tidak
akan terbentuk.
Lebam mayat lama kelamaan akan terfiksasi oleh karena adanya kaku mayat.
Pertama tama karena ketidakmampuan darah untuk mengalir pada pembuluh darah
menyebabkan darah berada dalam posisi tubuh terendah dalam beberapa jam setelah
kematian. Kemudian saat darah sudah mulai terkumpul pada bagian bagian tubuh,
seiring terjadi kaku mayat. Sehingga hal ini menghambat darah kembali atau melalui
pembuluh darahnya karena terfiksasi akibat adanya kontraksi otot yang menekan
pembuluh darah. Selain itu dikarenakan bertimbunnya sel sel darah dalam jumlah
cukupbanyak sehingga sulit berpindah lagi.
Biasanya lebam mayat berwarna merah keunguan. Warna ini bergantung pada
tingkat oksigenisasi sekitar beberapa saat setelah kematian. Perubahan warna lainnya
dapat mencakup:
- Cherry pink atau merah bata (cherry red) terdapat pada keracunan oleh
carbonmonoksida atau hydrocyanic acid.
- Coklat kebiruan atau coklat kehitaman terdapat pada keracunan kalium
chlorate, potassium bichromate atau nitrobenzen, aniline, dan lain lain.
49 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

- Coklat tua terdapat pada keracunan fosfor.
- Tubuh mayat yang sudah didinginkan atau tenggelam maka lebam akan berada
didekat tempat yang bersuhu rendah, akan menunjukkan bercak pink muda
kemungkinan terjadi karena adanya retensi dari oxyhemoglobin pada jaringan.
- Keracunan sianida akan memberikan warna lebam merah terang, karena kadar
oksi hemoglobin (HbO
2
) yang tinggi.

Perbedaan antara lebam mayat dan memar
Saat pembusukan sudah terjadi, perbedaannya akan semakin sulit karena
terjadi hemolisis darah dan difusi pigmen ke dalam jaringan sekitarnya. Saat
pembusukan berlangsung, lebam akan menjadi gelap, berubah menjadi coklat
kemudian hijau sebelum hilang seiring hancurnya sel darah.
Lebam Mayat Memar
Lokasi Bagian tubuh terbawah Dimana saja
Permukaan Tidak menimbul Bisa menimbul
Batas Tegas Tidak tegas
Warna Kebiru biruan atau
merah keunguan, warna
spesifik pada kematian
karena kasus keracunan
Diawali dengan merah
yang lama kelamaan
berubah seiring
bertambahnya waktu
Penyebab Distensi kapiler vena Ekstravasasi darah dari
kapiler
Efek penekanan Bila ditekan akan
memucat
Tidak ada efek penekanan
Bila dipotong Akan terlihat darah yang
terjebak antara pembuluh
darah, tetesan akan
perlahan lahan
Terlihat perdarahan pada
jaringan dengan adanya
koagulasi atau darah cair
yang berasal dari
pembuluh yang ruptur
50 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Mikroskopis Unsur darah ditemukan
diantara pembuluh darah
dan tidak terdapat
peradangan
Unsur darah ditemukan
diluar pembuluh darah
dan tampak bukti
peradangan
Enzimatik Tidak ada perubahan Perubahan level dari
enzim pada daerah yang
terlibat
Kepentingan
medicolegal
Memperkirakan waktu
kematian dan posisi saat
mati
Memperkirakan cedera,
senjata yang digunakan

e. Kaku Mayat (Rigor Mortis / Post Mortem Stiffening)
Kaku mayat atau rigor mortis adalah kekakuan yang terjadi pada otot yang kadang
kadang disertai dengan sedikit pemendekkan serabut otot, yang terjadi setelah periode
pelemasan / relaksasi primer.
Kaku mayat mulai terdapat sekitar 2 jam post mortal dan mencapai puncaknya
setelah 10 12 jam post mortal, keadaan ini akan menetap selama 24 jam, dan setelah 24
jam kaku mayat mulai menghilang sesuai dengan urutan terjadinya, yaitu dimulai dari otot
otot wajah, leher, lengan, dada, perut, dan tungkai.
Kekakuan pertama ditemukan pada otot otot kecil, bukan karena itu terjadi pertama
kali disana, melainkan karena adanya sendi yang tidak luas, seperti contohnya tulang
rahang yang lebih mudah diimobilisasi.
Kelenturan otot setelah kematian masih dipertahankan karena metabolisme tingkat
seluler masih berjalan berupa pemecahan cadangan glikogen otot yang menghasilkan
energi. Energi ini digunakan untuk memecah ADP menjadi ATP. Selama masih terdapat
ATP maka serabut aktin dan miosin tetap lentur. Bila cadangan glikogen dalam otot habis,
maka energi tidak terbentuk lagi, aktin dan miosin menggumpal dan otot menjadi kaku.
Faktor faktor yang mempercepat terjadinya kaku mayat adalah aktifitas fisik sebelum
51 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

mati, suhu tubuh yang tinggi, bentuk tubuh yang kurus dengan otot otot kecil dan suhu
lingkungan yang tinggi. Kaku mayat dibuktikan dengan memeriksa persendian. Kaku
mayat mulai tampak kira kira 2 jam setelah mati klinis, dimulai dari bagian luar tubuh
(otot otot kecil) ke arah dalam (sentripetal). Teori lama menyebutkan bahwa kaku mayat
ini menjalar kraniokaudal. Setelah mati klinis 12 jam, kaku mayat menjadi lengkap,
dipertahankan selama 12 jam dan kemudian menghilang dalam urutan yang sama. Kaku
mayat umumnya tidak disertai pemendekan serabut otot, tetapi jika sebelum terjadi kaku
mayat otot berada dalam posisi teregang, maka saat kaku mayat terbentuk akan terjadi
pemendekan otot.
Proses terjadinya kaku mayat dapat melalui beberapa fase :
- Fase pertama
Sesudah kematian somatik, otot masih dalam bentuk yang normal. Tubuh yang
mati akan mampu menggunakan ATP yang sudah tersedia dan ATP tersebut diresintesa
dari cadangan glikogen. Terbentuknya kaku mayat yang cepat adalah saat dimana
cadangan glikogen dihabiskan oleh latihan yang kuat sebelum mati, seperti mati saat
terjadi serangan epilepsi atau spasme akibat tetanus, tersengat listrik, atau keracunan
strychnine.
- Fase kedua
Saat ATP dalam otot berada dibawah ambang normal, kaku akan dibentuk saat
konsentrasi ATP turun menjadi 85%, dan kaku mayat akan lengkap jika berada dibawah
15%.
- Fase ketiga
Kekakuan menjadi lengkap dan irreversible.
- Fase keempat
52 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Disebut juga fase resolusi. Saat dimana kekakuan hilang dan otot menjadi lemas.
Salah satu pendapat terjadinya hal ini dikarenakan proses denaturasi dari enzim pada otot.
Metode yang sering digunakan untuk mengetahui ada tidaknya rigor mortis adalah
dengan melakukan fleksi atau ekstensi pada persendian tersebut.
Rigor Mortis Pada Jaringan Tubuh
Kekakuan juga terjadi pada seluruh jaringan muskular dan organ sama seperti terjadi
pada otot skelet. Kekakuan dapat terjadi tidak sama pada tiap mata, membuat letak pupil
tidak sama, hal ini memastikan bahwa posisi post mortem menjadi indikator yang tidak
dapat dipercaya pada kondisi toksik atau neurologis selama hidup.
Pada jantung, kekakuan menyebabkan kontraksi ventrikel, yang menyerupai
pembesaran ventrikel kiri, hal ini dapat dihindari dengan pengukuran berat total, menilai
ukuran normal jantung kiri, mengukur ketebalan ventrikel, dan yang paling penting dengan
pembedahan dan membandingkan berat kedua ventrikel.
Kekakuan muskulus dartos pada skrotum dapat menghimpit testes dan epididimis,
dimana akan membuat kontraksi serabut otot vesikula seminalis dan prostat menyebabkan
terjadinya ekstrusi semen dari uretra eksterna pada post mortem.
Kekakuan pada muskulus erector pili yang menempel pada folikel rambut dapat
mengakibatkan gambaran dengan elevasi dari folikel rambut (goose flesh appearence).

Proses Biokimiawi yang Terjadi Pada Rigor Mortis
Szent Gyorgi (1947) menemukan bahwa substansi kontraktil essensial pada otot
adalah protein actin dan miosin. Energi ini didapat dengan membagi kompleks fosfat dari
ADP menjadi ATP (Erdos, 1943). Gugus fosfat yang bebas akan membentuk reaksi
fosforilasi yang mengubah glikogen menjadi asam laktat. ADP dibentuk kembali dengan
meresintesa ATP dengan tambahan kreatin fosfat.
53 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Sebagai tambahan untuk persediaan energi, ATP bertanggung jawab terhadap
kekenyalan otot. Asam laktat disaring kembali masuk kedalam peredaran darah dan
kembali ke hati untuk dikonversikan kembali menjadi glikogen. Semua reaksi ini
anaerob dan dapat berlanjut setelah kematian.
Saat hidup, terdapat konsentrasi ATP yang konstan pada jaringan otot, terdapat
keseimbangan antara penggunaan dan resintesis ATP. Saat mati, bagaimanapun
reaksi perubahan ADP menjadi ATP berhenti dan kadar trifosfat berangsur angsur
berkurang dengan akumulasi asam laktat. Sesudah beberapa waktu, bergantung pada
temperatur dan jumlah ATP yang tersisa, aktin dan miosin berikatan, mengakibatkan
otot menjadi kaku sebagai akibat timbulnya kekakuan pada otot (Bate Smith and
Bendall, 1947)
Resintesis ATP bergantung pada ketersediaan glikogen, dimana akan dikurangi
dengan adanya aktifitas berat sebelum mati. Secara normal, hal ini muncul pada
periode awal setelah kematian dimana tingkat ATP dipertahankan atau bahkan
meningkat sebagai hasil dari pembebasan fosfat oleh proses glikogenolisis.
Kekakuan dimulai saat konsentrasi ATP turun menjadi 85% dari normal, dan
kekakuan otot akan maksimal saat kadar turun menjadi 15%.
Saat sudah sempurna, kekakuan dipatahkan dengan gerakan memaksa dari
anggota badan atau leher, lalu jika tidak kembali, maka hal ini memudahkan
dilakukannya pekerjaan dalam kamar mayat atau memasukkan ke dalam peti mati.
Namun jika kekakuan tetap terbentuk, maka kekakuan tersebut akan berlanjut pada
posisi yang baru sesuai gerakan terakhir.
Kadang, kekakuan dapat membantu memperlihatkan bahwa tubuh telah
dipindahkan antara saat mati dan saat ditemukan.

54 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Faktor yang mempengaruhi kecepatan terjadinya rigor mortis
Sebagai suatu proses kimia, kecepatan dan durasi dari kekakuan dipengaruhi
oleh temperatur. Semakin tinggi suhu lingkungan, akan memperlambat proses ini.
Mayat yang terdapat pada daerah dingin / salju tidak akan mengalami kekakuan
bahkan sampai 1 minggu setelah kematian, namun saat mayat tersebut dipindahkan
ke tempat yang hangat, maka dengan cepat akan mengalami kekakuan. Sebaliknya,
cuaca panas atau tropis dapat mempercepat, sehingga kekakuan akan terjadi dalam
beberapa jam atau bahkan kurang. Kekakuan total terbentuk cepat, kemudian akan
hilang semenjak hari pertama terjadinya pembusukan.
Faktor lainnya adalah aktifitas fisik sebelum mati. Ketersediaan glikogen dan
ATP dalam otot adalah elemen terpenting dalam terbentuknya kekakuan. Kerja otot
mempengaruhi interaksi dari substansi tersebut dan dapat mempercepat onset
terjadinya kekakuan. Cadaveric spasme, merupakan bentuk variasi dari kekakuan
yang dipercepat.
Kondisi rata rata yang sering dialami pada rigor mortis :
- Jika tubuh mayat terasa hangat dan tidak kaku, maka orang itu sudah mati
tidak sampai 3 jam.
- Jika tubuh mayat terasa hangat dan kaku, maka orang itu sudah mati 3 8 jam
lamanya.
- Jika tubuh mayat terasa dingin dan kaku, maka orang itu sudah mati 8 36 jam
lamanya.
- Jika tubuh mayat terasa dingin dan tidak kaku, maka orang itu sudah mati lebih
dari 36 jam.


55 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Bentuk - Bentuk dari Kekakuan yang Menyerupai Rigor Mortis
- Heat Stiffening
Yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas. Protein pada otot
akan terkoagulasi pada temperatur diatas 149 derajat Fahrenheit atau 65 derajat
celcius. Otot-otot berwarna merah muda, kaku, tetapi rapuh (mudah robek). Keadaan
ini dapat dijumpai pada korban mati terbakar. pada heat stiffening serabut-serabut
ototnya memendek sehingga menimbulkan fleksi leher, siku, paha, dan lutut
membentuk sikap petinju (pugilistic attitude). Heat stiffening ini tidak dapat
dipatahkan dengan menggerakan ke arah sikap ekstensi seperti halnya pada rigor
mortis, dan akan menetap sampai timbulnya pembusukan.
- Cold Stiffening
Penurunan temperatur pada mayat dibawah 3,5 derajat celcius atau 40 derajat
Fahrenheit akan menghasilkan memadatnya lemak subkutan dan otot. Saat tubuh
dibawa untuk dihangatkan, akan timbul true rigor mortis. Pada lingkungan bersuhu
dingin ekstrim, cairan tubuh juga akan membeku termasuk persendian, sehingga bila
sendi ditekuk akan terdengar bunyi pecahnya es dalam rongga sendi. Pada
temperatur yang ekstrim, otot akan mengalami kekakuan yang palsu. Pada udara
yang sangat dingin, saat panas tubuh hilang, otot dapat mengeras karena cairan tubuh
menjadi beku dan memadat, seperti pada daging yang disimpan pada freezer.
Membedakan orang mati karena kedinginan dengan orang yang telah mati sebelum
kedinginan :
Bila orang mati di kutub kematian terjadi karena kedinginan. Dingin
membuat suhu tubuhnya menjadi kaku, belum terjadi rigor mortis / kaku
56 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

mayat. Sehingga apabila nanti dihangatkan, tubuh mayat akan lemas dan
kemudian terjadi rigor mortis (kaku mayat).
Bila orang yang mati duluan, kemudian dibuang ditempat yang dingin
tubuh mayat yang dibuang akan tetap kaku karena udara dingin, tetapi setelah
dihangatkan tubuh mayat akan tetap lemas. Tidak akan terjadi rigor mortis.
- Cadaveric Spasm
Cadaveric spasm terjadi pada kematian yang disebabkan jika seseorang berada
ditengah aktifitas fisik atau emosi yang kuat, yang kemudian menuntun pada
kekakuan post mortem instan yang sedikit kurang dapat dipahami. Hal ini harus
diawali dengan aktifitas saraf motorik. Biasanya terjadi hanya pada 1 daerah otot,
contohnya otot fleksor tangan, dibanding seluruh tubuh. sesungguhnya merupakan
kaku mayat yang timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh relaksasi
primer. Penyebabnya adakah akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang
bersifat setempat pada saat mati klinis karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat
sebelum meninggal.
Perbedaan antara rigor mortis dengan cadaveric spasm
Rigor Mortis Cadaveric Spasm
Onset Dikarenakan perubahan
otot sesudah kematian
seluler, didahului dengan
primary flaccidity
Keadaan lanjut dari
kontraksi otot sesudah
mati, dimana otot dalam
kondisi mati seketika
Otot yang
terlibat
Semua otot dalam tubuh Otot tertentu, sesuai
keadaan kontraksi saat
mati
Intensity Moderate Sangat kuat
57 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Durasi 12 24 jam Beberapa jam, sampai
digantikan posisinya oleh
rigor mortis
Faktor
predisposisi
- Rangsangan, ketakutan,
kelelahan
Mekanisme
pembentukan
Penurunan ATP dibawah
level kritis
Tidak diketahui
Hubungan
medikolegal
Mengetahui waktu
kematian
Mengetahui cara
kematian, bisa karena
bunuh diri, kecelakaan,
atau pembunuhan

f. Pembusukan (Decomposition, Putrefaction)
Merupakan tahap akhir pemutusan jaringan tubuh mengakibatkan hancurnya
komponen tubuh organik kompleks menjadi sederhana. Pembusukan terjadi akibat
autolysis dan kerja bakteri.
Autolisis
Merupakan proses melunaknya jaringan bahkan pada keadaan steril yang
diakibatkan oleh kerja enzim digestif yang dikeluarkan sel setelah kematian dan dapat
dihindari dengan membekukan jaringan. Perubahan autolisis awal dapat diketahui pada
organ parenkim dan kelenjar. Pelunakan dan ruptur perut dan ujung akhir esofagus dapat
terjadi karena adanya asam lambung pada bayi baru lahir setelah kematian. Pada dewasa
juga dapat terlihat.


58 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Proses Pembusukan Bakteri.
Merupakan proses dominan pada proses pembusukan dengan adanya
mikroorganisme, baik aerobik maupun anaerobik. Bakteri pada umumnya terdapat dalam
tubuh, akan memasuki jaringan setelah kematian. Kebanyakan bakteri terdapat pada usus,
terutama Clostridium welchii. Bakteri lainnya dapat ditemukan pada saluran nafas dan luka
terbuka. Pada kasus kematian akibat penyakit infeksi, pembusukan berlangsung lebih
cepat. Karena darah merupakan media yang sangat baik untuk perkembangan bakteri maka
organ yang mendapat banyak suplai darah dan dekat dengan sumber bakteri akan terdapat
lebih banyak bakteri dan mengalami pembusukan terlebih dahulu.
Bakteri menghasilkan berbagai macam enzim yang berperan pada karbohidrat,
protein, dan lemak, dan hancurnya jaringan. Salah satu enzim yang paling penting adalah
lecithin yang dihasilkan oleh Clostridium welchii, yang menghidrolisis lecithin yang
terdapat pada seluruh membran sel termasuk sel darah dan berperan pada pembentukan
hemolisis pada darah post mortem. Enzim ini juga berperan dalam hidrolisis post mortem
dan hidrogenasi lemak tubuh.
Aktifitas pembusukan berlangsung optimal pada suhu antara 70 sampai 100 derajat
Fahrenheit dan berkurang pada suhu dibawah 70 derajat Fahrenheit. Oleh sebab itu,
penyebaran awal pembusukan ditentukan oleh dua faktor yaitu sebab kematian dan lama
waktu saat suhu tubuh berada dibawah 70 derajat Fahrenheit.
Tanda awal pembusukan adalah tampak adanya warna hijau pada kulit dan dinding
perut depan, biasanya terletak pada sebelah kanan fossa iliaca, dimana daerah tersebut
merupakan daerah colon yang mengandung banyak bakteri dan cairan. Warna ini terbentuk
karena perubahan hemoglobin menjadi sulpmethaemoglobin karena masuknya H
2
S dari
usus ke jaringan. Warna ini biasanya muncul antara 12 18 jam pada keadaan panas dan 1
2 hari pada keadaan dingin dan lebih tampak pada kulit cerah.
59 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Warna hijau ini akan menyebar ke seluruh dinding perut dan alat kelamin luar,
menyebar ke dada, leher, wajah, lengan, dan kaki. Rangkaian ini disebabkan karena
luasnya distribusi cairan atau darah pada berbagai organ tubuh.
Pada saat yang sama, bakteri yang sebagian besar berasal dari usus, masuk ke
pembuluh darah. Darah didalam pembuluh akan dihemolisis sehingga akan mewarna
pembuluh darah dan jaringan penujang, memberikan gambaran marbled appearence.
Warna ini akan tetap ada sekitar 36 48 jam setelah kematian dan tampak jelas pada vena
superficial perut, bahu dan leher.
Pada saat perubahan warna pada perut, tubuh mulai membentuk gas yang terdiri dari
campuran gas tergantung dari waktu kematian dan lingkungan. Gas ini akan terkumpul
pada usus dalam 12 24 jam setelah kematian dan mengakibatkan perut membengkak.
Dari 24 48 jam setelah kematian, gas terkumpul dalam jaringan, cavitas sehingga tampak
mengubah bentuk dan membengkak. Jaringan subkutan menjadi emphysematous, dada,
skrotum, dan penis, menjadi teregang. Mata dapat keluar dari kantungnya, lidah terjulur
diantara gigi dan bibir menjadi bengkak. Cairan berbusa atau mukus berwarna kemerahan
dapat keluar dari mulut dan hidung. Perut menjadi sangat teregang dan isi perut dapat
keluar dari mulut. Sphincter relaksasi dan urine serta feses dapat keluar. Anus dan uterus
prolaps setelah 2 3 hari.
Gas terkumpul diantara dermis dan epidermis membentuk lepuh. Lepuh tersebuh
dapat mengandung cairan berwarna merah, keluar dari pembuluh darah karena tekanan
dari gas. Biasanya lepuh terbentuk lebih dahulu dibawah permukaan, dimana jaringan
mengandung banyak cairan karena oedema hipostatik. Epidermis menjadi longgar
menghasilkan kantong berisi cairan bening atau merah muda disebut skin slippage yang
terlihat pada hari 2 3.
60 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Antara 3 7 hari setelah kematian, peningkatan tekanan gas pembusukan
dihubungkan dengan perubahan pada jaringan lunak yang akan membuat perut menjadi
lunak. Gigi dapat dicabut dengan mudah atau keropos. Kulit pada tangan dan kaki dapat
menjadi glove and stocking. Rambut dan kuku menjadi longgar dan mudah dicabut.
5 10 hari setelah kematian, pembusukan bersifat tetap. Jaringan lunak menjadi
masa semisolid berwarna hitam yang tebal yang dapat dipisahkan dari tulang dan terlepas.
Kartilogi dan ligament menjadi lunak.
Pembusukan Organ Dalam
Perubahan warna muncul pada jaringan dan organ dalam tubuh walaupun prosesnya
lebih lama dari yang dipermukaan. Jika organ lebih lunak dan banyak vascular maka akan
membusuk lebih cepat. Warna merah kecoklatan pada bagian dalam aorta dan pembuluh
darah lain muncul pada perubahan awal. Adanya hemolisis dan difusi darah akan
mewarnai sekeliling jaringan atau organ dan merubah warna organ tersebut menjadi hitam.
Organ menjadi lunak ,berminyak, empuk dan kemudian menjadi masa semiliquid.
Susunan perubahan pembusukan pada organ dalam
Awal Akhir
Laring dan trakhea Paru paru
Lambung dan usus Jantung
Limpa Ginjal
Omentum dan mesenterium Oesofagus dan diafragma
Hati Kandung kencing
Otak Pembuluh darah
Uterus gravid Prostat dan uterus


61 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Keadaan yang mempengaruhi onset dan lama pembusukan :
Faktor Eksogen
1. Temperatur atmosfer.
Temperatur atmosfer lingkungan yang tinggi akan mempercepat pembusukan. Pada
umumnya, proses pembusukan berlangsung optimal pada suhu 70 sampai 100 derajat
Fahrenheit dan bila temperatur dibawah 70 derajat Fahrenheit, proses menjadi lebih
lambat, walaupun enzim yang diproduksi bakteri terus berlangsung. Tubuh yang sudah
mati dapat diawetkan selama waktu tertentu dalam lemari pendingin, salju, dan
sebagainya. Pada beberapa kondisi (khususnya pada bulan musim hujan), warna hijau
ditemukan pada mayat setelah 6 12 jam post mortem.
2. Adanya udara dan cahaya.
Udara sangat mempengaruhi temperatur dan kelembapan yang mengakibatkan
seperti hal diatas. Secara tidak langsung, lalat dan serangga biasanya menghindari bagian
tubuh yang terekspos sinar, cenderung meletakan telurnya pada kelopak mata, lubang
hidung, dan sebagainya.
3. Terbenam dalam air.
Beberapa faktor dapat mempengaruhi proses dekomposisi. Air yang diam atau
mengalir, air laut atau air berpolusi, suhu air, kedalaman air dan lainnya dapat
mempengaruhi pembusukan.
Pembusukan berlangsung lebih lambat di air dibandingkan di udara. Rumus Casper
menyatakan bahwa waktu pembusukan di udara diberi nilai 1, jika di air bernilai 2, dan
pada mayat yang terkubur bernilai 8.
4. Mengapung diatas air.
Biasanya tergantung dari produksi dan akumulasi gas di jaringan dan rongga tubuh.
Gaya gravitasi cadaver lebih besar dari air maka tubuh akan cenderung tenggelam sampai
62 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

adanya cukup gas sehingga membuat tubuh mengapung. Maka dari itu, pembentukan gas
akan membantu tubuh untuk naik ke permukaan air. Beberapa faktor seperti umur, jenis
kelamin, pakaian, kondisi tubuh, musim, keadaan air dapat mempengaruhi waktu
mengapung yang berperan dalam proses pembusukan dan pembentukan gas.
Penampakan warna dekomposisi pada permukaan tubuh menjadi kacau dimana
tubuh yang terendam dalam air memiliki postur tertentu yaitu kepala dan wajah terletak
lebih rendah dari bagian tubuh lainnya karena kepala lebih berat dan padat. Bagian batang
tubuh berada paling atas dan anggota gerak tergantung secara pasif pada posisi yang lebih
rendah. Posisi ini menyebabkan darah banyak menuju kepala dan mempercepat
pembusukan.
5. Terkubur dalam tanah.
Pada umumnya tubuh yang terkubur dalam tanah yang dalam akan membusuk lebih
lama daripada tubuh yang terkubur dalam tanah yang dangkal. Pada tubuh yang terkubur
pada tempat yang basah, daerah rawa, tanah liat, maka pembusukan akan lebih cepat.
Pembusukan akan berlangsung lebih lama jika dikubur di tanah kering, tanah kuburan pada
dataran tinggi, atau kuburan yang dalam. Adanya zat kimia disekitar tubuh, khususnya
lemon, akan memperlambat pembusukan.
Tubuh yang terkubur tanpa pakaian atau kafan pada tanah berpori yang kaya bahan
organik, akan menunjukkan pembusukan yang lebih lama.
Waktu antara saat kematian dengan saat dikuburkan dan lingkungan sekitar tubuh
pada waktu ini akan mempengaruhi proses pembusukan. Semakin lama tubuh berada di
tanah sebelum dikuburkan, maka akan mempercepat pembusukan khususnya bila tubuh
diletakkan pada udara yang hangat.


63 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Faktor Endogen
1. Sebab kematian.
Jika seseorang meninggal karena kecelakaan, pembusukan akan berlangsung lebih
lama daripada orang yang meninggal karena sakit. Kematian karena gas gangren,
sumbatan usus, bakteriemia / septikemia, aborsi akan menunjukkan proses pembusukan
yang lebih cepat. Racun yang dapat memperlambat pembusukan yaitu potassium sianida,
barbiturat, fosfor, dhatura, strychnine, dan sebagainya. Pada kasus strychnine, terjadi
kejang yang lama dan berulang, proses pembusukan akan dipercepat, dimana terjadi
kejang dengan sedikit kelelahan otot, pembusukan akan menjadi lebih lama. Keracunan
kronis oleh logam akan memperlambat pembusukan karena memperlambat efek jaringan.
Alkoholik kronik umumnya akan mempercepat pembusukan.
Jika tubuh terurai saat kematian, anggota gerak akan menunjukkan pembusukan
yang lambat, batang tubuh akan membusuk seperti biasa.
2. Kondisi tubuh.
Kelembapan pada tubuh akan menunjang pembusukan. Cairan pada tubuh manusia
kira kira dua per tiga dari berat badan. Maka dari itu pada tubuh yang mengandung
sedikit cairan seperti rambut, gigi, tulang akan memperlambat pembusukan. Pada kasus
dehidrasi akan memperlambat pembusukan. Tubuh yang sangat kurus akan lebih lambat
membusuk dibandingkan dengan tubuh yang gemuk karena jumlah cairan pada orang yang
kurus lebih sedikit.
3. Pakaian pada tubuh.
Pada tubuh yang terpapar udara, pakaian dapat mempercepat pembusukan dengan
menjaga suhu tubuh tetap hangat. Pakaian yang ketat dapat memperlambat pembusukan
karena menekan bagian tubuh sehingga darah sedikit yang terkumpul pada daerah yang
tertekan.
64 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

4. Umur dan jenis kelamin.
Tubuh bayi yang baru lahir akan membusuk lebih lambat karena masih steril. Jika
bayi baru lahir tersebut mengalami trauma selama atau setelah lahir atau sudah mendapat
makanan setelah lahir, maka akan membusuk lebih awal. Tubuh anak anak membusuk
lebih cepat daripada orang tua, dimana pada orang tua akan membusuk lebih lama karena
mengandung cairan lebih sedikit.
Jenis kelamin tidak terlalu berpengaruh. Tubuh wanita memiliki lemak yang lebih
banyak yang akan mempertahankan panas lebih lama, yang akan mempercepat proses
pembusukan.

g. Penyabunan (Adipocera)
Dikenal juga sebagai grave wax. Adiposera berasal dari bahasa latin, adipo untuk
lemak dan cera untuk lilin) berwarna utih kelabu setelah meninggal dikarenakan
dekomposisi lemak yang dikarenakan hidrolisis dan hidrogenasi dan lemak (sel lemak)
yang terkumpul di jaringan subkutan yang menyebabkan terbentuknya lechitinase, suatu
enzim yang dihasilkan oleh Clostridium welchii, yang berpengaruh terhadap jaringan
lemak. Dengan demikian akan terbentuk asam asam lemak bebas (asam palmitat, stearat,
oleat), ph tubuh menjadi rendah dan ini akan menghambat bakteri untuk pembusukan
dengan demikian proses pembusukan oleh bakteri akan terhenti. Tubuh yang mengalami
adiposera akan tampak berwarna putih kelabu, perabaan licin dengan bau yang khas,
yaitu campuran bau tanah, keju, amoniak, manis, tengik, mudah mencair, larut dalam
alkohol, panas, eter, dan tidak mudah terbakar, bila terbakar mengeluarkan nyala kuning
dan meleleh pada suhu 200 derajat Fahrenheit.
Faktor faktor yang mempermudah terbentuknya adiposera adalah :
- Kelembapan.
65 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

- Lemak tubuh.
Sedangkan yang menghambat adalah air yang mengalir.
Proses pertama penyabunan terlihat pada lemak subkutan yang berada pada dagu,
buah dada, bokong, dan perut, ini dikarenakan karena area tersebut mempunyai lemak
lebih banyak. Namun proses saponifikasi dapat terjadi di semua bagian tubuh yamg
terdapat lemak. Otot menjadi dehidrasi dan menjadi sangat tipis, berwarna keabu abuan.
Organ organ dalam dan paru paru konsistensinya menjadi seperti perkamen. Secara
histologis, makroskopis organ masih dapat dikenali. Walaupun secara mikroskopis sulit
untuk dikenali.
Walaupun dekomposisi lemak dimulai setelah meninggal, namun seringnya
pembentukan penyabunan bervariasi dari dua minggu atau dua bulan tergantung faktor
faktor yang mendukung seperti temperatur, pembalseman, kondisi penguburan, dan barang
barang sekitar jenazah. Keuntungan adanya adiposera ini :
Tubuh korban akan mudah dikenali dan tetap bertahan untuk waktu yang
sangat lama sekali sampai ratusan tahun.
Dapat pula untuk mengetahui sebab sebab kematian jangka waktu dekat
seperti kecelakaan, namun dapat juga digunakan untuk waktu yang lama.
Tempat untuk pembuangan tubuh dapat diketahui.
Tanda tanda positif dari kematian dapat diketahui dari kematian sampai
beberapa minggu atau mungkin beberapa bulan.
Lemak tubuh pada waktu meninggal mengandung hanya sekitar 0,5% dari asam
lemak bebas namun sekitar empat minggu setelah kematian dapat meningkat sampai 20%
dan setelah 12 minggu dapat meningkat menjadi 70% bahkan lebih. Pada saat ini adiposera
dapat terlihat dengan jelas berwarna putih keabuan menggantikan jaringan lunak. Pada
66 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

awal saponifikasi, dimana belum terlalu jelas terlihat pemeriksaan dapat dengan
menggunakan analisa asam palmitat.
Adiposera dapat diketemukan bercampur dengan dekomposisi yang lain tergantung
dari letak tubuh dan lingkungan yang bervarias, maka salah satu tubuh dapat menjadi
saponifikasi di bagian tubuh yang lain dapat menjadi mumifikasi atau pembusukan.

h. Mumifikasi
Perubahan perubahan yang terjadi pada tubuh akibat dekomposisi dapat dihambat
dan digantikan dengan mumifkasi. Mayat yang mengalami mumifikasi akan tampak
kering, berwarna coklat, kadang disertai bercak warna putih, hijau atau hitam, dengan kulit
yang tampak tertarik terutama pada tonjolan tulang, seperti pada pipi, dagu, tepi iga, dan
panggul. Organ dalam umumnya mengalami dekomposisi menjadi jaringan padat
berwarna coklat kehitaman. Sekali mayat mengalami proses mumifikasi, maka kondisinya
tidak akan berubah, kecuali bila diserang oleh serangga.
Mumifikasi pada orang dewasa umumnya tidak terjadi pada seluruh bagian tubuh.
Pada umumnya mumifikasi terjadi pada sebagian tubuh, dan pada bagian tubuh lain proses
pembusukan terus berjalan. Menurut Knight, mumifikasi dan adiposera kadang terjadi
bersamaan karena hidrolisa lemak membantu proses pengeringan mayat.
Mumi secara alami jarang terbentuk karena dibutuhkannya suatu kondisi yang
spesifik. Mumifikasi umumnya terjadi pada daerah dengan kelembapan yang rendah,
sirkulasi udara yang baik dan suhu yang hangat, namun dapat pula terjadi di daerah dingin
dengan kelembapan rendah. Ditempat yang bersuhu panas, mumifikasi lebih mudah
terjadi, bahkan hanya dengan mengubur dangkal mayat dalam tanah berpasir. Faktor dalam
tubuh mayat yang mendukung terjadinya mumifikasi antara lain adalah dehidrasi
premortal, habitus yang kurus dan umur yang muda, dalam hal ini neonatus.
Mumifikasi sering terjadi pada bayi yang meninggal ketika baru lahir. Permukaan
tubuh yang lebih luas dibanding orang dewasa, sedikitnya bakteri dalam tubuh dibanding
67 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

orang dewasa membantu penundaan pembusukan sampai terjadinya pengeringan jaringan
tubuh. Pada orang dewasa secara lengkap jarang terjadi, kecuali sengaja dibuat oleh
manusia.

6. Yang Dapat Ditemukan Pada Waktu Otopsi
a. Larva lalat
Siklus :
- Telur (8 14 jam)
- Larva (9 12 hari)
- Kepompong ( >12 hari)
- Lalat dewasa
Syarat pemeriksaan :
- Tidak boleh ada kepompong
- Dicari larva lalat yang paling besar
Bila umur larva sudah ditentukan maka dapat ditentukan ,lama korban telah
meninggal.
Misalnya :
- Didapatkan larva yang berumur 3 hari.
- Saat kematian korban adalah : (3 hari + 1 hari) = 4 hari yang lalu
b. Proses pencernaan makanan dalam lambung.
Bila ditemukan :
- Lambung tak berisi makanan , Rectum penuh dengan feces, Kandung
seni penuh Diperkirakan korban meninggal waktu masih pagi sebelum
bangun
68 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

- Bila lambung ditemukan berisi makanan kasar artinya korban meninggal
dalam waktu 2 4 jam setelah makan terakhir.
Bila ditemukan lambung tak terisi makanan, duodenum dan ujung atas usus
halus berisi makanan yang telah tercerna, berarti korban meninggal dalam
waktu > 2 - 4 jam setelah makan terakhir.

7. Perkiraan saat kematian
Selain perubahan pada mayat tersebut diatas, beberapa perubahan lain dapat
digunakan untuk memperkirakan saat kematian.
a. Perubahan pada mata
Terjadi kekeruhan kornea, kekeruhan ini akan akan menetap sejak kira-kira 6
jam pasca mati
Tekanan bola mata menurun,distorsi bola mata pada penekanan
Perubahan pada retina yang menunjukkan saat kematian hingga 15 jam pasca
mati
b. Perubahan dalam lambung
c. Perubahan rambut
Mengingat bahwa kecepatan pertumbuhan rambut rata-rata 0,4 mm/hari,
panjang jenggot dan kumis dapat digunakan untuk memperkirakan saat
kematian. Cara ini hanya dapat digunakan bagi pria yang mempunyai
kebiasaan mencukur kumis atau jenggotnya dan diketahui saat terakhir ia
mencukur



69 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

d. Pertumbuhan kuku
o Kecepatan pertumbuhan kuku rata-rata 0,1 mm/hari, dapat digunakan
untuk memperkirakan saat kematian bila diketahui saat terakhir ia
memotong kuku.
Perubahan dalam cairan serebrospinal
Peningkatan kadar kalium dalam cairan vitreus
Perubahan komponen darah setelah kematian
Reaksi supravital












70 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

D. ASFIKSIA
Asfiksia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran
udara pernapasan, mengakibatkan oksigen darah berkurang (hipoksia) disertai dengan
peningkatan karbondioksida (hiperkapneu). Dengan demikian organ tubuh mengalami
kekurangan oksigen (hipoksia hipoksik) dan terjadi kematian. Secara klinis keadaan
asfiksia sering disebut anoksia atau hipoksia.
Target organ dari asfiksia adalah otak dan didalam otak sel targetnya adalah neuron
yang memperlihatkan kerentanan yang berbeda terhadap defisiensi oksigen. Kerentanan
bergantung pada pembuluh darah dan jenis neuron yang berbeda.

1. Etiologi Asfiksia
Dari segi etiologi, asfiksia dapat disebabkan oleh hal berikut:
a. Penyebab alamiah, misalnya penyakit yang menyumbat saluran pernapasan seperti
laringitis difteri atau menimbulkan gangguan pergerakan paru seperti fibrosis paru.
b. Trauma mekanik yang menyebabkan asfiksia mekanik, misalnya trauma yang
mengakibatkan emboli udara vena, emboli lemak, pneumotoraks bilateral; sumbatan
atau halangan pada saluran napas, penekanan leher atau dada, dan sebagainya.
c. Keracunan bahan kimiawi yang menimbulkan depresi pusat pernapasan, misalnya
karbon monoksida (CO) dan sianida (CN) yang bekerja pada tingkat molekuler dan
seluler dengan menghalangi penghantaran oksigen ke jaringan.
2. Fisiologi Asfiksia
Secara fisiologi dapat dibedakan 4 bentuk anoksia, yaitu:
a. Anoksia Anoksik (Anoxic anoxia)
Pada tipe ini O
2
tidak dapat masuk ke dalam paru-paru karena:
71 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Tidak ada atau tidak cukup O
2
. Bernafas dalam ruangan tertutup, kepala di
tutupi kantong plastik, udara yang kotor atau busuk, udara lembab, bernafas
dalam selokan tetutup atau di pegunungan yang tinggi. Ini di kenal dengan
asfiksia murni atau sufokasi.
Hambatan mekanik dari luar maupun dari dalam jalan nafas seperti
pembekapan, gantung diri, penjeratan, pencekikan, pemitingan atau korpus
alienum dalam tenggorokan. Ini di kenal dengan asfiksia mekanik.
b. Anoksia Anemia (Anemia anoxia)
Di mana tidak cukup hemoglobin untuk membawa oksigen. Ini didapati pada anemia
berat dan perdarahan yang tiba-tiba. Keadaan ini diibaratkan dengan sedikitnya
kendaraan yang membawa bahan bakar ke pabrik.
c. Anoksia Hambatan (Stagnant anoxia)
Tidak lancarnya sirkulasi darah yang membawa oksigen. Ini bisa karena gagal
jantung, syok dan sebagainya. Dalam keadaan ini tekanan oksigen cukup tinggi,
tetapi sirkulasi darah tidak lancar. Keadaan ini diibaratkan lalu lintas macet tersendat
jalannya.
d. Anoksia Jaringan (Hystotoxic anoxia)
Gangguan terjadi di dalam jaringan sendiri, sehingga jaringan atau tubuh tidak dapat
menggunakan oksigen secara efektif. Tipe ini dibedakan atas:
Ekstraseluler
Anoksia yang terjadi karena gangguan di luar sel. Pada keracunan Sianida
terjadi perusakan pada enzim sitokrom oksidase, yang dapat menyebabkan
kematian segera. Pada keracunan Barbiturat dan hipnotik lainnya, sitokrom
dihambat secara parsial sehingga kematian berlangsung perlahan.

72 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Intraselular
Di sini oksigen tidak dapat memasuki sel-sel tubuh karena penurunan
permeabilitas membran sel, misalnya pada keracunan zat anastetik yang larut dalam
lemak seperti kloform, eter dan sebagainya.
e. Metabolik
Di sini asfiksia terjadi karena hasil metabolik yang mengganggu pemakaian O
2
oleh
jaringan seperti pada keadaan uremia.

3. Jenis-jenis Asfiksia
Adapun beberapa jenis kejadian yang dapat digolongkan sebagai asfiksia, yaitu:
1. Strangulasi
a. Gantung (Hanging)
b. Penjeratan (Strangulation by Ligature)
c. Pencekikan (Manual Strangulation)
2. Sufokasi
3. Pembengkapan (Smothering)
4. Tenggelam (Drowning)
5. Crush Asphyxia
6. Keracunan CO dan SN

4. Patofisiologi Asfiksia
Dari pandangan patologi, kematian akibat asfiksia dapat dibagi dalam 2 golongan,
yaitu:


73 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

1. Primer (akibat langsung dari asfiksia)
Kekurangan oksigen ditemukan di seluruh tubuh, tidak tergantung pada tipe
dari asfiksia. Sel-sel otak sangat sensitif terhadap kekurangan oksigen. Bagian-bagian
otak tertentu membutuhkan lebih banyak oksigen, dengan demikian bagian tersebut
lebih rentan terhadap kekurangan oksigen. Perubahan yang karakteristik terlihat pada
sel-sel serebrum, serebellum, dan basal ganglia.
Di sini sel-sel otak yang mati akan digantikan oleh jaringan glial, sedangkan
pada organ tubuh yang lain yakni jantung, paru-paru, hati, ginjal dan yang lainnya
perubahan akibat kekurangan oksigen langsung atau primer tidak jelas.
2. Sekunder (berhubungan dengan penyebab dan usaha kompensasi dari tubuh)
Jantung berusaha mengkompensasi keadaan tekanan oksigen yang rendah
dengan mempertinggi outputnya, akibatnya tekanan arteri dan vena meninggi.
Karena oksigen dalam darah berkurang terus dan tidak cukup untuk kerja jantung,
maka terjadi gagal jantung dan kematian berlangsung dengan cepat. Keadaan ini
didapati pada:
Penutupan mulut dan hidung (pembekapan).
Obstruksi jalan napas seperti pada mati gantung, penjeratan, pencekikan dan
korpus alienum dalam saluran napas atau pada tenggelam karena cairan
menghalangi udara masuk ke paru-paru.
Gangguan gerakan pernafasan karena terhimpit atau berdesakan (Traumatic
asphyxia).
Penghentian primer dari pernafasan akibat kegagalan pada pusat pernafasan,
misalnya pada luka listrik dan beberapa bentuk keracunan.



74 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

5. Gejala Klinis
Pada orang yang mengalami asfiksia akan timbul 4 (empat) Fase gejala klinis, yaitu:
1. Fase Dispnea
Terjadi karena kekurangan O
2
disertai meningkatnya kadar CO
2
dalam plasma akan
merangsang pusat pernafasan di medulla oblongata, sehingga gerakan pernafasan (inspirasi
dan ekspirasi) yang ditandai dengan meningkatnya amplitude dan frekuensi pernapasan
disertai bekerjanya otot-otot pernafasan tambahan. Wajah cemas, bibir mulai kebiruan,
mata menonjol, denyut nadi, tekanan darah meningkat dan mulai tampak tanda-tanda
sianosis terutama pada muka dan tangan. Bila keadaan ini berlanjut, maka masuk ke fase
kejang.
2. Fase Kejang
Akibat kadar CO
2
yang naik maka akan timbul rangsangan susunan saraf pusat
sehingga terjadi kejang (konvulsi), yang mula-mula berupa kejang klonik tetapi kemudian
menjadi kejang tonik dan akhirnya timbul spasme opistotonik. Pupil mengalami dilatasi,
denyut jantung menurun, dan tekanan darah perlahan akan ikut menurun. Efek ini
berkaitan dengan paralisis pusat yang lebih tinggi dalam otak, akibat kekurangan O
2
dan
penderita akan mengalami kejang.
3. Fase Apnea
Korban kehabisan nafas karena depresi pusat pernafasan, otot pernapasan menjadi
lemah, kesadaran menurun, tekanan darah semakin menurun, pernafasan dangkal dan
semakin memanjang, akhirnya berhenti bersamaan dengan lumpuhnya pusat-pusat
kehidupan. Walaupun nafas telah berhenti dan denyut nadi hampir tidak teraba, pada fase
ini bisa dijumpai jantung masih berdenyut beberapa saat lagi. Dan terjadi relaksasi sfingter
yang dapat terjadi pengeluaran cairan sperma, urin dan tinja secara mendadak.


75 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

4. Fase Akhir
Terjadi paralisis pusat pernapasan yang lengkap. Pernapasan berhenti setelah
berkontraksi otomatis otot pernapasan kecil pada leher. Jantung masih berdenyut beberapa
saat setelah pernapasan terhenti. Masa dari saat asfiksia timbul sampai terjadinya kematian
sangat bervariasi.
Masa dari saat asfiksia timbul sampai terjadinya kematian sangat bervariasi.
Umumnya berkisar antara 4-5 menit. Fase 1 dan 2 berlangsun g lebih kurang 3-4 menit,
tergantung dari tingkat penghalangan oksigen, bila tidak 100% maka waktu kematian akan
lebih lama dan tanda-tanda asfiksia akan lebih jelas dan lengkap.

6. Tanda Kardinal (Klasik) Asfiksia
Selama beberapa tahun dilakukan autopsi untuk mendiagnosis kematian akibat
asfiksia, telah ditetapkan beberapa tanda klasik, yaitu:
a. Tardieus spot (Petechial hemorrages)
Tardieus spot terjadi karena peningkatan tekanan vena secara akut yang
menyebabkan overdistensi dan rupturnya dinding perifer vena, terutama pada jaringan
longgar, seperti kelopak mata, dibawah kulit dahi, kulit dibagian belakang telinga,
circumoral skin, konjungtiva dan sklera mata. Selain itu juga bisa terdapat dipermukaan
jantung, paru dan otak. Bisa juga terdapat pada lapisan viseral dari pleura, perikardium,
peritoneum, timus, mukosa laring dan faring, jarang pada mesentrium dan intestinum.







Tardieus spot
Bintik perdarahan pada jantung
76 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

b. Kongesti dan Oedema
Ini merupakan tanda yang lebih tidak spesifik dibandingkan dengan ptekie. Kongesti
adalah terbendungnya pembuluh darah, sehingga terjadi akumulasi darah dalam organ
yang diakibatkan adanya gangguan sirkulasi pada pembuluh darah. Pada kondisi vena
yang terbendung, terjadi peningkatan tekanan hidrostatik intravaskular (tekanan yang
mendorong darah mengalir di dalam vaskular oleh kerja pompa jantung) menimbulkan
perembesan cairan plasma ke dalam ruang interstitium. Cairan plasma ini akan mengisi
pada sela-sela jaringan ikat longgar dan rongga badan (terjadi oedema).
1) Sianosis
Merupakan warna kebiru-biruan yang terdapat pada kulit dan selaput lendir
yang terjadi akibat peningkatan jumlah absolut Hb tereduksi (Hb yang tidak
berikatan dengan O
2
). Ini tidak dapat dinyatakan sebagai anemia, harus ada minimal
5 gram hemoglobin per 100 ml darah yang berkurang sebelum sianosis menjadi
bukti, terlepas dari jumlah total hemoglobin.
Pada kebanyakan kasus forensik dengan konstriksi leher, sianosis hampir
selalu diikuti dengan kongesti pada wajah, seperti darah vena yang kandungan
hemoglobinnya berkurang setelah perfusi kepala dan leher dibendung kembali dan
menjadi lebih biru karena akumulasi darah.
2) Tetap cairnya darah
Terjadi karena peningkatan fibrinolisin paska kematian. Gambaran tentang
tetap cairnya darah yang dapat terlihat pada saat autopsi pada kematian akibat asfiksia
adalah bagian dari mitologi forensik. Pembekuan yang terdapat pada jantung dan
sistem vena setelah kematian adalah sebuah proses yang tidak pasti, seperti akhirnya
pencairan bekuan tersebut diakibatkan oleh enzim fibrinolitik. Hal ini tidak relevan
dalam diagnosis asfiksia
77 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M


7. Gambaran Umum Post Mortem Asfiksia
a. Pemeriksaan Luar
Pada pemeriksaan luar jenazah didapatkan:
1. Sianosis pada bibir, ujung-ujung jari dan kuku.
2. Pembendungan sistemik maupun pulmoner dan dilatasi jantung kanan
merupakan tanda klasik pada kematian akibat asfiksia.
3. Warna lebam mayat merah-kebiruan gelap dan terbentuk lebih cepat.
Distribusi lebam mayat lebih luas akibat kadar karbondioksida yang tinggi dan
aktivitas fibrinolisin dalam darah sehingga darah sukar membeku dan mudah
mengalir.







4. Terdapat busa halus pada hidung dan mulut yang timbul akibat peningkatan
aktivitas pernapasan pada fase dispneu yang disertai sekresi selaput lendir
saluran napas bagian atas. Keluar masuknya udara yang cepat dalam saluran
sempit akan menimbulkan busa yang kadang-kadang bercampur darah akibat
pecahnya kapiler.
Lebam mayat (livor mortis)
78 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

5. Kapiler yang lebih mudah pecah adalah kapiler pada jaringan ikat longgar,
misalnya pada konjungtiva bulbi, palpebra dan subserosa lain. Kadang-kadang
dijumpai pula di kulit wajah.
6. Gambaran pembendungan pada mata berupa pelebaran pembuluh darah
konjungtiva bulbi dan palpebra yang terjadi pada fase kejang. Akibatnya
tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah meningkat terutama dalam vena,
venula dan kapiler. Selain itu, hipoksia dapat merusak endotel kapiler sehingga
dinding kapiler yang terdiri dari selapis sel akan pecah dan timbul bintik-bintik
perdarahan yang dinamakan sebagai Tardieus spot.
b. Pemeriksaan Dalam
Pada pemeriksaan dalam (Autopsi) jenazah didapatkan:
1) Darah berwarna lebih gelap dan lebih encer, karena fibrinolisin darah yang
meningkat paska kematian.
2) Busa halus di dalam saluran pernapasan.
3) Pembendungan sirkulasi pada seluruh organ dalam tubuh sehingga menjadi
lebih berat, berwarna lebih gelap dan pada pengirisan banyak mengeluarkan
darah.
4) Petekie dapat ditemukan pada mukosa usus halus, epikardium pada bagian
belakang jantung belakang daerah aurikuloventrikular, subpleura viseralis paru
terutama di lobus bawah pars diafragmatika dan fisura interlobaris, kulit kepala
sebelah dalam terutama daerah otot temporal, mukosa epiglotis dan daerah
sub-glotis.
5) Edema paru sering terjadi pada kematian yang berhubungan dengan hipoksia.
79 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

6) Kelainan-kelainan yang berhubungan dengan kekerasan, seperti fraktur laring
langsung atau tidak langsung, perdarahan faring terutama bagian belakang
rawan krikoid (pleksus vena submukosa dengan dinding tipis).

8. GANTUNG (HANGING)
Penggantungan adalah keadaan dimana leher dijerat dengan ikatan, daya jerat ikatan
tersebut memanfaatkan berat badan tubuh atau kepala. Penggantungan merupakan suatu
bentuk penjeratan (strangulasi) dengan tali ikat dimana tekanan dihasilkan dari seluruh
atau sebagian berat tubuh. Seluruh atau sebagian tubuh seseorang ditahan di bagian
lehernya oleh sesuatu benda dengan permukaan yang relatif sempit dan panjang (biasanya
tali) sehingga daerah tersebut mengalami tekanan.
a. Mekanisme Kematian
Mekanisme kematian yang disebabkan oleh gantung akibat penumpuan beban
sebagian atau seluruh beban tubuh di leher diantaranya adalah
1. Asfiksia
Terjadi akibat terhambatnya aliran udara pernafasan. Merupakan penyebab kematian
yang paling sering.
2. Apopleksia
Tekanan pada pembuluh darah vena menyebabkan kongesti pada pembuluh
darahotak dan mengakibatkan kegagalan sirkulasi
3. Iskemia Serebral
Iskemia serebral disebabkan oleh penekanan dan hambatan pembuluh darah arteri
(oklusi arteri) yang menyebabkan terhambatnya aliran darah ke otak. Gambar dibawah
menunjukkan gambaran rontgen pada wanita yang berupaya bunuh diri dengan gantung.
4. Syok Vasovagal
80 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Perangsangan pada sinus caroticus menyebabkan refleks vagal yang menyebabkan henti
jantung.
5. Fraktur atau Dislokasi vertebra servikalis.
Fraktur vertebra servikalis sering terjadi pada hukuman gantung. Fraktur atau
dislokasi terjadi pada keadaan dimana tali yang menjerat leher cukup panjang, kemudian
korbannya secara tiba-tiba dijatuhkan dari ketinggian 1,5-2 meter maka akan
mengakibatkan fraktur atau dislokasi vertebra servikalis yang akan menekan medulla
oblongata dan mengakibatkan tehentinya pernafasan. Yang biasa terkena fraktur adalah
vertebra servikalis ke-2 dan ke-3.
b. Gambaran Post Mortem Kasus Gantung
1. Pemeriksaan Luar Pada Jenazah
a. Tanda Penjeratan Pada Leher
Tanda penjeratan jelas dan dalam. Semakin kecil tali maka tanda penjeratan
semakin jelas dan dalam
Bentuk jeratan berjalan miring.
Bentuk jeratan pada kasus gantung diri cenderung berjalan kiring (oblique)
pada bagian depan leher, dimulai pada leher bagian atas antara kartilago tiroid
dengandagu, lalu berjalan miring sejajar dengan garis rahang bawah menuju
belakang telinga Alur jeratan pada leher korban penggantungan (hanging)
berbentuk lingkaran (V shape). Ciri-ciri jejas sebagai berikut :
Alur jeratan pucat.
Tepi alur jerat coklat kemerahan.
Kulit sekitar alur jerat terdapat bendungan.
Tanda penjeratan berwarna coklat gelap dan kulit tampak kering, keras dan
mengkilat
81 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Pada tempat dimana terdapat simpul tali yaitu pada kulit bagian bawah
telinga,tampak daerah segitiga pada kulit dibawah telingae.Pinggiran jejas jerat
berbatas tegas dan tidak terdapat tanda-tanda abrasif.Jumlah tanda
penjeratanTerkadang pada leher terlihat dua buah atau lebih bekas penjeratan.
Hal ini menujukan bahwa tali dijeratkan ke leher sebanyak dua kali
b. Kedalaman Bekas Jeratan
Kedalaman bekas jeratan menujukan lamanya tubuh tergantung.
c. Tanda-tanda Asfiksia
Tanda-tanda umum asfiksia diantaranya adalah sianosis, kongesti vena dan edema.
Sering ditemukan adanya buih halus pada jalan nafas. Pada kasus penggantungan tanda-
tanda asfiksia berupa mata menonjol keluar, perdarahan berupa petekia pada bagian wajah
dan subkonjungtiva. Jika didapatkan lidah terjulur maka menunjukan adanya penekanan
pada bagian bawah leher yaitu bagian bawah kartilago thyroida.






d. Lebam Mayat
Jika penggantungan setelah kematian berlangsung lama maka lebam mayat
terlihat pada bagian tubuh bawah, anggota badan distal serta alat genitalia distal
Tardieu spot pada Gantung diri.
Tardieu spot diakibatkan pecahnya
kapiler-kapiler pada kaki
Source: Color Atlas of Forensic
82 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M













e. Sekresi Urin dan Feses
Sekresi urin dan feses terjadi pada fase apneu pada kejadian asfiksia. Pada stadium
apneu pusat pernapasan mengalami depresi sehingga gerak napas menjadi sangat lemah
dan berhenti. Penderita menjadi tidak sadar dan karena kontrol spingter fungsieksresi
hilang akibat kerusakan otak maka terjadi pengeluaran urin dan feses.

2. Pemeriksaan Dalam Pada Jenazah
a. Lapisan dalam dan bagian tengah pembuluh darah mengalami laserasi ataupun
ruptur.
b. Tanda-tanda Asfiksia
Terdapat bintik perdarahan pada pelebaran pembuluh darah
Kongesti pada bagian atas yaitu daerah kepala, leher dan otak
Ditemukan darah lebih gelap dan encer akibat kadar CO2 yang meninggi.
c. Terdapat resapan darah pada jaringan dibawah kulit dan otot
d. Terdapat memar atau ruptur pada beberapa keadaan. Kerusakan otot ini lebih
banyak terjadi pada kasus pengantungan yang disertai dengan tindak kekerasan.
Kasus Gantung Diri
Lebam pada gantung diri terkonsentrasi pada daerah ekstemitas
83 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

e. Pada pemeriksaan paru-paru serig ditemui edema paru.
f. Mungkin terdapat patah tulang hyoid atau kartilago cricoid.
g. Fraktur 2 buah tulang vertebra servikalis bagian atas
Fraktur ini seringkali terjadi pada korban hukum gantung dimana korban tergantung
secara penuh dan tertitis jauh dari lantai.

c. Aspek Medikolegal
Perbedaan Penggantungan Bunuh Diri Penggantungan Pembunuhan
1.

2.

3.


4.

5.



6.



7.

8.

9.



Usia

Jejas Jerat

Simpul Tali


Riwayat
Korban
Cedera



Racun



Tangan

Kemudahan

Tempat
kejadian


Lebih sering terjadi pada remaja
dan dewasa
Bentuk miring berupa lingkaran
terputus
Biasanya satu simpul pada bagian
samping leher. Simpul biasanya
simpul hidup
Korban mempunyai riwayat
bunuh diri dengan cara lain
Tidak terdapat luka yang
menyebabkan kematian dan tidak
terdapat tanda-tanda perlawanan
Dapat ditemukan racun dalam
lambung korban, seperti arsen,
sublimat, korosif. Rasa nyeri
mendorong korban melakukan
gantung diri
Tidak dalam keadaan terikat

Tempat kejadian mudah
ditemukan
Jika tempat kejadian merupakan
tempat yang tertutup, atau
didapatkan ruangan dengan pintu
terkunci makan dugaan bunih diri
Tidak mengenal batasan usia

Lingkaran tidak terputus,
mendatar, letak di tengah leher
Simpul tali lebih dari satu dan
terikat kuat

Korban tidak mempunyai riwayat
upaya bunuh diri
Terdapat luka-luka yang
mengarah ke pembunuhan


Dapat terdapat racun berupa
opium, kalium sianida. Racun ini
tidak menyebabkan efek kemauan
bunuh diri
Tangan terikat mengarah k kasus
pembunuhan
Korban biasa digantung di tempat
yang sulit ditemukan
Bila sebaliknya ditemukan
terkunci dari luar maka
penggantungan biasanya kasus
pembunuhan
84 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M


10.

Lingkar tali
adalah kuat
Jika lingkar tali dapat keluar
melewati kepala, maka dicurigain
bunuh diri

Jika lingkar tali tidak dapat keluar
melewati kepala, maka dicurigai
peristiwa pembunuhan


d. Perbedaan Penggantungan Antemortem dengan Postmortem
No Penggantungan Antemortem Penggantungan Postmortem
1.


2.


3.

4.


5.


6.


7.




8.

9.
Tanda jejas jerat berupa lingkaran
terputus (non continous) dan letaknya
pada leher bagian atas
Simpul tali biasanya tunggal, terdapat
pada sisi leher

Ekimosis tampak jelas pada salah satu
sisi dari jejas penjeratan.
Lebam mayat tampak diatas jejas jerat
dan pada tungkai bawah

Pada kulit ditempat jejas penjeratan
teraba seperti kertas perkamen yaitu
tanda parchmentisasi
Sianosis pada wajah, bibir, telinga, dll
sangat jelas terlihat terutama jika
kematian karena asfiksia
Wajah membengkak dan mata
mengalami kongesti dan agak menonjol,
disertai dengan gambaran pembuluh
darah vena yang jelas pada bagian
kening dan dahi
Lidah bisa terjulur atau tidak sama
sekali
Ereksi penis disertai dengan keluarnya
Tanda jejas jerat biasanya berbentuk utuh
(continous), agak sirkuler dan letaknya pada
bagian leher tidak begitu tinggi
Simpul tali lebih dari satu biasanya lebih
dari satu, diikatkan dengan kuat dan
diletakan pada bagian depan leher
Ekimosis pada salah satu sisi jejas
penjeratan tidak ada atau tidak jelas.
Lebam mayat terdapat pada bagian tubuh
yang menggantung sesuai dengan posisi
mayat setelah meninggal
Tanda parchmentisasi tidak ada atau tidak
jelas

Sianosis pada bagian wajah, bibir, telinga,
dll, tergantung dari penyebab kematian

Sianosis pada bagian wajah, bibir, telinga,
dll, tergantung dari penyebab kematian



Lidah tidak terjulur kecuali pada kasus
pencekikan
Ereksi penis dan cairan sperma tidak ada.
85 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M




10.
cairan sperma sering terjadi pada
korban pria. Sering ditemukan
keluarnya feses
Air liur ditemukan menetes dari sudut
mulut, dengan arah yang vertikal
menuju dada.
Pengeluaran feses juga tidak ada


Air liur tidak ditemukan yang menetes pada
kasus selain kasus penggantungan



















86 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

E. ASUSILA
1. Persetubuhan yang Merupakan Kejahatan
Persetubuhan yang merupakan kejahatan seperti yang dimaksudkan oleh undang-
undang , tertera pada pasal-pasal yang terdapat pada Bab XIV KUHP, tentang
Kejahatan Terhadap Kesusilaan; yang meliputi persetubuhan di dalam perkawinan
maupun di luar perkawinan.
Pasal 288 KUHP
(1) Barang siapa dalam perkawinan bersetubuh dengan seorang wanita yang
diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa yang bersangkutan belum
waktunya untuk dikawin, apabila perbuatan mengakibatkan luka-luka diancam
dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan luka-luka berat, dijatuhkan pidana penjara paling
lama delapan tahun.
(3) Jika mengakibatkan mati, dijatuhkan pidana penjara paling lama dua belas tahun.

Dengan demikian dari Visum et Repertum yang dibuat oleh dokter diharapkan
dapat membuktikan bahwa korban memang belum pantas dikawin, memang terdapat
tanda-tanda persetubuhan, tanda-tanda kekerasan dan dapat menjelaskan perihal sebab
kematiannya.
Di dalam upaya menentukan bahwa seseorang belum mampu dikawin dapat
timbul permasalahan bagi dokter karena penentuan tersebut mencakup dua pengertian,
yaitu pengertian secara biologis dan pengertian menurut undang-undang. Secara
biologis seorang perempuan dikatakan mampu untuk dikawin bila ia telah siap untuk
87 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

dapat memberikan keturunan, dimana hal ini dapat diketahui dari menstruasi, apakah ia
belum pernah mendapat menstruasi atau sudah pernah. Sedangkan menurut undang-
undang perkawinan, maka batas umur termuda bagi seorang perempuan yang
diperkenankan untuk melangsungkan perkawinan adalah 16 tahun. Dengan demikian
dokter diharapkan dapat menentukan berapa umur dari perempuan yang diduga
merupakan korban seperti yang dimaksud dalam pasal 288 KUHP.
Dalam kasus-kasus persetubuhan di luar perkawinan yang merupakan kejahatan,
dimana persetubuhan tersebut memang disetujui oleh si perempuan maka dalam hal ini
pasal-pasal dalam KUHP yang dimaksud adalah pasal 284 dan 287.

Pasal 284 KUHP
(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan:
1. a. seorang pria yang telah kawin yang melakukan gendak (overspel), padahal
diketahui bahwa pasal 27 BW (Burgerlyk Wetboek) berlaku baginya.
b. seorang wanita yang telah kawin yang melakukan gendak (overspel),
padahal diketahui bahwa pasal 27 BW (Burgerlyk Wetboek) berlaku
baginya.
2. a. seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal
diketahuinya bahwa yang turut bersalah telah kawin.
b. seorang wanita yang telah kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu,
padahal diketahuinya bahwa yang turut bersalah telah kawin dan pasal 27
BW (Burgerlyk Wetboek) berlaku baginya.
88 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

(2) Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan suami/isteri yang
tercemar,dan bila bagi mereka berlaku pasal 27 BW (Burgerlyk Wetboek), dalam
tenggang waktu tiga bulan diikuti dengan permintaan bercerai atau pisah meja da
pisah ranjang karena alasan itu juga.
(3) Terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72, 73, dan 75.
(4) Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang peradilan
belum dimulai.
(5) Jika bagi suami-isteri berlaku pasal 27 BW (Burgerlyk Wetboek), pengaduan tidak
diindahkan selama perkawinan belum diputuskan karena perceraian atau sebelum
putusan yang menyatakan pisah meja dan tempat tidur menjadi tetap.

Pasal 27 BW
Dalam waktu yang sama seorang laki hanya diperbolehkan mempunyai satu orang
perempuan sebagai isterinya, seorang perempuan hanya satu orang laki sebagai
suaminya.

Pasal 287 KUHP
(1) Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal
diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas
tahun, atau kalau umurnya tidak jelas bahwa belum waktunya untuk dikawin,
diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
89 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

(2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur wanita belum
sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan pasal
294.

Tindak pidana ini merupakan persetubuhan dengan wanita yang menurut undang-
undang belum cukup umur. Jika umur korban belum cukup 15 tahun tetapi sudah di
atas 12 tahun, penuntutan baru dilakukan bila ada pengaduan dari yang bersangkutan.
Jadi dengan keadaan itu persetubuhan tersebut merupakan delik aduan, bila tidak ada
pengaduan, tidak ada penuntutan.
Tetapi keadaan akan berbeda jika:
a. Umur korban belum sampai 12 tahun
b. Korban yang belum cukup 15 tahun itu menderita luka berat atau mati akibat
perbuatan itu (KUHP pasal 291); atau
c. Korban yang belum cukup 15 tahun itu dalah anaknya, anak tirinya, muridnya,
anak yang berada di bawah pengawasannya, bujangnya atau bawahannya (KUHP
pasal 294).
Dalam keadaan di atas, penuntutan dapat dilakukan walaupun tidak ada
pengaduan karena bukan lagi merupakan delik aduan.
Pada pemeriksaan akan diketahui umur korban. Jika tidak ada akte kelahiran
maka umur korban yang pasti tidak diketahui. Dokter perlu memperkirakan umur
korban baik dengan menyimpulkan apakah wajah dan bentuk tubuh korban sesuai
dengan umur yang dikatakannya, melihat perkembangan payudara dan pertumbuhan
90 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

rambut kemaluan, melalui pertumbuhan gigi (molar ke-2 dan molar ke-3), serta dengan
mengetahui apakah menstruasi telah terjadi.
Hal di atas perlu diperhatikan mengingat bunyi kalimat: padahal diketahuinya
atau sepatutnya harus diduganya bahwa wanita itu umurnya belum lima belas tahun
atau kalau umurnya tidak jelas bahwa belum waktunya untuk dikawin. Perempuan
yang belum pernah mengalami menstruasi dianggap belum patut untuk dikawin.
Pasal 291 KUHP
(1) Kalau salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 286, 287, 288 dan 290 itu
berakibat luka berat, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
(2) Kalau salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 285, 286, 287, 289 dan
290 itu berakibat matinya orang, diancam dengan pidana penjara paling lama lima
belas tahun.

Pasal 294 KUHP
Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tirinya atau anak
piaraannya, anak yang di bawah pengawasannya, orang di bawah umur yang
diserahkan kepadanya untuk dipelihara, dididiknya atau dijaganya, atau bujangnya atau
orang yang di bawah umur, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Dengan itu maka dihukum juga:
1. Pegawai negeri yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang di
bawahnya/orang yang dipercayakan/diserahkan kepadanya untuk dijaga.
91 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

2. Pengurus, dokter, guru, pejabat, pengurus atau bujang di penjara, di tempat bekerja
kepunyaan negeri, tempat pendidikan, rumah piatu, RS jiwa atau lembaga semua
yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang dimaksudkan di situ.
Pada kasus persetubuhan di luar perkawinan yang merupakan kejahatan dimana
persetubuhan tersebut terjadi tanpa persetujuan wanita, seperti yang dimaksud oleh
pasal 285 dan 286 KUHP; maka untuk kasus-kasus tersebut Visum et Repertum harus
dapat membuktikan bahwa pada wanita tersebut telah terjadi kekerasan dan
persetubuhan. Kejahatan seksual seperti yang dimaksud oleh pasal 285 KUHP disebut
perkosaan, dan perlu dibedakan dari pasal 286 KUHP.

Pasal 285 KUHP
Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita
bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan
dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
Pada tindak pidana di atas perlu dibuktikan telah terjadi persetubuhan dan telah
terjadi paksaan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Dokter dapat menentukan
apakah persetubuhan telah terjadi atau tidak, apakah terdapat tanda-tanda kekerasan.
Tetapi ini tidak dapat menentukan apakah terdapat unsur paksaan pada tindak pidana
ini.
Ditemukannya tanda kekerasan pada tubuh korban tidak selalu merupakan akibat
paksaan, mungkin juga disebabkan oleh hal-hal lain yang tak ada hubungannya dengan
paksaan. Demikian pula bila tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan, maka hal itu
belum merupakan bukti bahwa paksaan tidak terjadi. Pada hakekatnya dokter tak dapat
92 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

menentukan unsur paksaan yang terdapat pada tindak pidana perkosaan; sehingga ia
juga tidak mungkin menentukan apakah perkosaan telah terjadi.
Yang berwenang untuk menentukan hal tersebut adalah hakim, karena perkosaan
adalah pengertian hukum bukan istilah medis sehingga dokter jangan menggunakan
istilah perkosaan dalam Visum et Repertum.

Pasal 286 KUHP
Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan padahal
diketahuinya bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam
dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
Pada tindak pidana di atas harus terbukti bahwa korban berada dalam keadaan
pingsan atau tidak berdaya. Dokter perlu mencari tahu apakah korban sadar waktu
persetubuhan terjadi, adakah penyakit yang diderita korban yang sewaktu-waktu dapat
mengakibatkan korban pingsan atau tidak berdaya. Jika korban mengatakan ia menjadi
pingsan, maka perlu diketahui bagaimana terjadinya pingsan itu, apakah terjadi setelah
korban diberi minuman atau makanan. Pada pemeriksaan perlu diperhatikan apakah
korban menunjukkan tanda-tanda bekas kehilangan kesadaran, atau tanda-tanda telah
berada di bawah pengaruh obat-obatan.
Jika terbukti bahwa si pelaku telah telah sengaja membuat korban pingsan atau tidak
berdaya, ia dapat dituntut telah melakukan tindak pidana perkosaan, karena dengan
membuat korban pingsan atau tidak berdaya ia telah melakukan kekerasan.

93 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Pasal 89 KUHP
Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan
kekerasan.
Kejahatan seksual yang dimaksud dalam KUHP pasal 286 adalah pelaku tidak
melakukan upaya apapun; pingsan atau tidak berdayanya korban bukan diakibatkan
oleh perbuatan si pelaku kejahatan seksual.

Pembuktian Persetubuhan
Persetubuhan adalah suatu peristiwa dimana terjadi penetrasi penis ke dalam vagina,
penetrasi tersebut dapat lengkap atau tidak lengkap dan dengan atau tanpa disertai ejakulasi.
Dengan demikian hasil dari upaya pembuktian adanya persetubuhan dipengaruhi oleh
berbagai faktor antara lain:
Besarnya penis dan derajat penetrasinya
Bentuk dan elastisitas selaput dara (hymen)
Ada tidaknya ejakulasi dan keadaan ejakulat itu sendiri
Posisi persetubuhan
Keaslian barang bukti serta waktu pemeriksaan
Pemeriksaan harus dilakukan sesegera mungkin, sebab dengan berlangsungnya waktu
tanda-tanda persetubuhan akan menghilang dengan sendirinya. Sebelum dilakukan
pemeriksaan, dokter hendaknya mendapat izin tertulis dari pihak-pihak yang diperiksa. Jika
korban adalah seorang anak izin dapat diminta dari orang tua atau walinya.

Pemeriksaan Korban
a. Pemeriksaan tubuh
94 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Pemeriksaan dilakukan pada selaput dara, apakah ada ruptur atau tidak. Bila
ada, tentukan ruptur baru atau lama dan catat lokasi ruptur tersebut, teliti apakah
sampai ke insertio atau tidak. Tentukan besar orifisium, sebesar ujung jari
kelingking, jari telunjuk, atau dua jari. Sebagai gantinya dapat juga ditentukan
ukuran lingkaran orifisium, dengan cara ujung kelingking atau telunjuk dimasukkan
dengan hati-hati ke dalam orifisium sampai terasa tepi selaput dara menjepit ujung
jari, beri tanda pada sarung tangan dan lingkaran pada titik itu diukur. Ukuran pada
seorang perawan kira-kira 2,5 cm. Lingkaran yang memungkinkan persetubuhan
dapat terjadi menurut Voight adalah minimal 9 cm.
Harus diingat bahwa tidak terdapatnya robekan pada selaput dara, tidak dapat
dipastikan bahwa pada wanita tidak terjadi penetrasi; sebaliknya adanya robekan
pada selaput dara hanya merupakan pertanda adanya suatu benda (penis atau benda
lain yang masuk ke dalam vagina.
Apabila pada persetubuhan tersebut disertai dengan ejakulasi dan ejakulat
tersebut mengandung sperma, maka adanya sperma di dalam liang vagina
merupakan tanda pasti adanya persetubuhan. Apabila ejakulat tidak mengandung
sperma, maka pembuktian adanya persetubuhan dapat diketahui dengan melakukan
pemeriksaan terhadap ejakulat tersebut.
Komponen yang terdapat di dalam ejakulat dan dapat diperiksa adalah: enzim
asam fosfatase, kolin dan spermin. Baik enzim asam fosfatase, kolin maapun
spermin bila dibandingkan dengan sperma nilai pembuktiannya lebih rendah oleh
karena ketiga komponen tersebut tidak spesifik. Walaupun demikian enzim fosfatase
masih dapat diandalkan, karena kadar asam fosfatase yang terdapat dalam vagina
(berasal dari wanita itu sendiri), kadarnya jauh lebih rendah bila dibandingkan
dengan asam fosfatase yang berasal dari kelenjar fosfat.
95 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

Dengan demikian apabila pada kejahatan seksual yang disertai dengan
persetubuhan itu tidak sampai berakhir dengan ejakulasi, dengan sendirinya
pembuktian adanya persetubuhan secara kedokteran forensik tidak mungkin dapat
dilakukan secara pasti. Sebagai konsekuensinya, dokter tidak dapat secara pasti pula
menentukan bahwa pada seorang wanita tidak terjadi persetubuhan; maksimal dokter
harus mengatakan bahwa pada diri wanita yang diperiksanya itu tidak ditemukan
tanda-tanda persetubuhan, yang mencakup dua kemungkinan: pertama, memang
tidak ada persetubuhan dan yang kedua persetubuhan ada tapi tanda-tandanya tidak
dapat ditemukan.
Apabila persetubuhan telah dapat dibuktikan secara pasti maka perkiraan saat
terjadinya persetubuhan harus ditentukan; hal ini menyangkut masalah alibi yang
sangat penting di dalam proses penyidikan.
Dalam waktu 4-5 jam postkoital sperma di dalam liang vagina masih dapat
bergerak; sperma masih dapat ditemukan namun tidak bergerak sampai sekitar 24-36
jam postkoital, dan masih dapat ditemukan sampai 7-8 hari bila wanita yang menjadi
korban meninggal. Perkiraan saat terjadinya persetubuhan juga dapat ditentukan dari
proses penyembuhan selaput dara yang robek. Pada umumnya penyembuhan
tersebut dicapai dalam waktu 7-10 hari postkoital.
b. Pemeriksaan pakaian
Dalam hal pembuktian adanya persetubuhan, pemeriksaan dapat dilakukan
pada pakaian korban untuk menentukan adanya bercak ejakulat. Dari bercak tersebut
dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan bahwa bercak yang
telah ditemukan adalah air mani serta dapat menentukan adanya sperma.


96 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

2. Pemeriksaan Pelaku
a. Pemeriksaan tubuh
Untuk mengetahui apakah seorang pria baru melakukan persetubuhan, dapat
dilakukan pemeriksaan ada tidaknya sel epitel vagina pada glans penis. Perlu juga dilakukan
pemeriksaan sekret uretra untuk menentukan adanya penyakit kelamin.
b. Pemeriksaan pakaian
Pada pemeriksaan pakaian, catat adanya bercak semen, darah, dan sebagainya.
Bercak semen tidak mempunyai arti dalam pembuktian sehingga tidak perlu ditentukan.
Darah mempunyai nilai karena kemungkinan berasal dari darah deflorasi. Di sini penentuan
golongan darah penting untuk dilakukan. Trace evidence pada pakaian yang dipakai ketika
terjadi persetubuhan harus diperiksa. Bila fasilitas untuk pemeriksaan tidak ada, kirim ke
laboratorium forensik di kepolisian atau bagian Ilmu Kedokteran Forensik, dibungkus, segel,
serta dibuat berita acara pembungkusan dan penyegelan.
3. Pembuktian Kekerasan
Tidak sulit untuk membuktikan adanya kekerasan pada tubuh wanita yang menjadi korban.
Dalam hal ini perlu diketahui lokasi luka-luka yang sering ditemukan, yaitu di daerah mulut dan
bibir, leher, puting susu, pergelangan tangan, pangkal paha serta di sekitar dan pada alat genital.
Luka-luka akibat kekerasan seksual biasanya berbentuk luka lecet bekas kuku, gigitan (bite
marks) serta luka-luka memar.
Sepatutnya diingat bahwa tidak semua kekerasan meninggalkan bekas atau jejak berbentuk
luka. Dengan demikian, tidak ditemukannya luka tidak berarti bahwa pada wanita korban tidak
terjadi kekerasan itulah alasan mengapa dokter harus menggunakan kalimat tanda-tanda kekerasan
di dalam setiap Visum et Repertum yang dibuat, oleh karena tidak ditemukannya tanda-tanda
97 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

kekerasan mencakup dua pengertian: pertama, memang tidak ada kekerasan, dan yang kedua
kekerasan terjadi namun tidak meninggalkan bekas (luka) atau bekas tersebut sudah hilang.
Tindakan pembiusan serta tindakan lainnya yang menyebabkan korban tidak berdaya
merupakan salah satu bentuk kekerasan. Dalam hal ini perlu dilakukan pemeriksaan untuk
menentukan adanya racun atau obat-obatan yang kiranya dapat membuat wanita tersebut pingsan;
hal tersebut menimbulkan konsekuensi bahwa pada setiap kasus kejahatan seksual, pemeriksaan
toksikologik menjadi prosedur yang rutin dikerjakan.
4. Perkiraan Umur
Penentuan umur bagi wanita yang menjadi korban kejahatan seksual seperti yang
dikehendaki oleh pasal 284 dan 287 KUHP adalah hal yang tidak mungkin dapat dilakukan
(kecuali didapatkan informasi dari akte keahiran). Dengan teknologi kedokteran yang canggih pun
maksimal hanya sampai pada perkiraan umur saja.
Perkiraan umur dapat diketahui dengan melakukan serangkaian pemeriksaan yang meliputi
pemeriksaan fisik, ciri-ciri seks sekunder, pertumbuhan gigi, fusi atau penyatuan dari tulang-tulang
khususnya tengkorak serta pemeriksaan radiologi lainnya.
Dalam menilai perkiraan umur, dokter perlu menyimpulkan apakah wajah dan bentuk badan
korban sesuai dengan yang dikatakannya. Keadaan perkembangan payudara dan pertumbuhan
rambut kemaluan perlu dikemukakan. Ditentukan apakah gigi geraham belakang ke-2 (molar ke-2)
sudah tumbuh (terjadi pada umur kira-kira 12 tahun, sedangkan molar ke-3 akan muncul pada usia
17-21 tahun atau lebih). Juga harus ditanyakan apakah korban sudah pernah menstruasi bila umur
korban tidak diketahui.
Hal-hal tersebut di atas perlu diketahui sehubungan dengan bunyi pasal 287 KUHP untuk
menentukan apakah penuntutan harus dilakukan.

98 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M




KESIMPULAN

1. Pembuatan VeR merupakan salah satu bentuk pelayanan medikolegal di rumah sakit.
Departemen Kesehatan telah menetapkan standar pelayanan rumah sakit, termasuk
pelayanan medikolegal. Dengan demikian, kualitas pelayanan VeR secara langsung
akan mencerminkan kualitas pelayanan medikolegal di rumah sakit tersebut. Standar
ini dianggap penting karena pelayanan medikolegal memiliki dampak yuridis yang
luas dan dapat menentukan nasib seseorang. Selain itu, kualitas pelayanan
medikolegal juga mempengaruhi penilaian akreditasi rumah sakit. Dan bagi praktisi
kesehatan diharapkan agar dapat mengupayakan prosedur pembuatan VeR
khususnya VeR pada korban hidup yang memenuhi standar VeR
2. Tanatologi adalah bagian dari ilmu forensik yang mempelajari kematian dan
perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhinya.
Tanatologi diperlukan untuk menetapkan waktu kematian, sebab kematian pasti, cara
kematian (homocide, suicide, accident, dan untuk transplantasi (donor organ).
3. Asfiksia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran
udara pernapasan, mengakibatkan oksigen darah berkurang disertai dengan
peningkatan karbon dioksida. Dengan demikian organ tubuh mengalami kekurangan
oksigen dan terjadi kematian.
99 | K e d o k t e r a n F o r e n s i k d a n M e d i k o l e g a l R S A M

4. Kejahatan seksual yang dimaksud dalam KUHP pasal 286 adalah pelaku tidak
melakukan upaya apapun; pingsan atau tidak berdayanya korban bukan diakibatkan
oleh perbuatan si pelaku kejahatan seksual.

5.