Anda di halaman 1dari 8

REFLEKSI KASUS

DIARE AKUT
dengan DEHIDRASI RINGAN-SEDANG e.c. VIRUS





Penyusun :
Risti Graharti, S.Ked
(091801073)

Pembimbing :
dr. Handayani Dwi Utami, M.Kes, Sp.F


KEPANITERAAN KLINIK
ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RSUD dr. H. ABDUL MOELOEK PROPINSI LAMPUNG
2014





REFLEKSI KASUS
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

Nama Dokter Muda / NPM : Risti Graharti / 0918011073
Stase : Kedokteran Forensik dan Medikolegal

1. Jenis Kasus

Kasus yang akan dibahas dan direfleksikan oleh penulis pada kesempatan ini
yaitu diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang e.c virus. Kasus ini
bukanlah kasus yang sederhana, namun penulis akan membahas secara
ringkas dan mengambil hal-hal penting yang berguna kedepannya bagi
pembaca secara umum dan bagi penulis sendiri secara khususnya.

Menurut WHO (1980), diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga
kali sehari. BAB cair dapat disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair
dengan atau tanpa darah lendir yang berlangsung kurang dari satu minggu.
Diare akut adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali perhari,
disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan
darah yang berlangsung kurang dari satu minggu. Pada bayi yang minum ASI
sering frekuensi buang air besar lebih dari 3-4 kali perhari, keadaan ini tidak dapat
disebut diare, tetapi masih bersifat fisiologis atau normal. Selama berat badan bayi
meningkat normal, hal tersebut tidak tergolong diare, tetapi merupakan intoleransi
laktosa sementara akibat belum sempurnanya perkembangan saluran cerna.



2. Alasan Memilih Kasus

Pemilihan dilakukan penulis dikarenakan kasus ini masih banyak terjadi di
kehidupanmasyarakat dan ini terjadi langsung dihadapan penulis sehingga
merupakan pengalaman yang berkesan dalam kasus tersebut. Kasus ini terjadi
kurang lebih sepuluh bulan yang lalu saat penulis sedang menjalani
kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Anak di RSUAM Bandar Lampung.

Seorang anak laki-laki inisial ZR usia 1 tahun 4 bulan dengan berat badan 8,5 kg,
masuk tanggal 15 Oktober 2013 pukul 09.45 dengan diagnosa diare akut dengan
dehidrasi ringan-sedang e.c virus. Pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum
tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis, suhu 36,8C, Nadi 140x/m, RR
30x/m. Mata terlihat cekung, turgor kulit kembali lambat, bising usus positif
meningkat.
Pemeriksaan penunjang didapatkan Hb 10,5 gr/dl, leukosit 6500/ul, hitung jenis
0/0/0/46/47/7, dari pemeriksaan feses didapatkan lendir (+), darah (-), telur cacing
(-), amoeba (-), sel eritrosit 0-1, sel leukosit 2-3, sel epitel +.

Pada anamnesa kasus didapatkan mencret cair awalnya berwarna coklat sekarang
berwarna kuning sebanyak 6x dengan konsistensi cair, tidak ada ampas, tidak ada
lendir dan darah, dan keluhan tambahan muntah lebih dari 10 x berwarna putih
beserta makanan yang baru dimakan. Sejak keluhan mencret dan muntah terjadi,
pasien rewel dan matanya tampak cekung. Pasien dibawa ke bidan namun
disarankan dibawa di RS.

Pemeriksaan fisik yang dilakukan sudah sesuai untuk menegakkan diagnosis, dari
pemeriksaan ditemukan beberapa gejala kinis yang dapat mengarahkan diagnosa
penyakit pasien pada diagnosa yang tepat. Dari pemeriksaan fisik didapatkan
keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis, suhu 36,8
frekuensi nadi 140x/menit, frekuensi napas 30x/menit, mata terlihat cekung,
turgor kulit kembali lambat, auskultasi abdomen didapatkan bising usus
hiperperistaltik. Dari hasil pemeriksaan fisik, dapat ditegakkan diagnosa diare
akut disertai dehidrasi akut ringan-sedang. Untuk mengetahui penyebab dari diare
akut ini diperlukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan feses lengkap dan
darah lengkap.

Diagnosa pada pasien ini yaitu diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang e.c
suspect virus. Diare akut adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari tiga
kali sehari, disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa
lendir dan darah berlangsung kurang dari satu minggu. Pada pasien ini tinja pasien
tidak disertai darah dan lendir. Sehingga diare akut yang disebabkan bakteri dapat
disingkirkan. Untuk diagnosa diare akut disebakan oleh intoleransi laktosa dapat
disingkirkan karena pasien sudah mulai mengonsumsi susu formula sejak lahir
dan tidak pernah didapatkan keluhan seperti ini. Dehidrasi ringan sedang pada
pasien ini didapatkan dari tanda seperti rewel, mata cekung, turgor kulit kembali
lambat. Pasien diare ringan-sedang ditentukan bila terdapat dua tanda atau lebih
gejala yaitu, keadaan umum gelisah, rewel, mata cekung, bibir kering, rasa haus
dan ingin minum banyak, turgor kulit kembali lambat. Dari pemeriksaan
ditemukan mata cekung, dan turgor kulit kembali lambat.

3. Penatalaksanaan Kasus Seharusnya
1. Rehidrasi
Dilakukan dengan pemberian oralit 100-200 cc setiap kali BAB.
Rehidrasi pada pasien ini juga dilakukan dengan pemasangan IV line KAEN
3A karena muntah. Rehidrasi menggunakan KAEN 3A tidak tepat,
seharusnya menggunakan cairan ringer laktat. KAEN 3A merupakan cairan
rumatan untuk menggantikan kehilangan cairan akut. KAEN 3A
mengandung osmolaritas 290 mOsm/L, natrium 60 mEq/L, kalium
10mEq/L, Chlor 50mEq/L, HCO
3
20 mEq/L, dekstrose 27 gr/L, kalori 108
kal/L.
Kebutuhan cairan rehidrasi pada pasien ini dengan dehidrasi ringan-sedang
dimana terjadi kehilangan cairan tubuh sebanyak 6-9%, yaitu sebanyak 60-
90 cc/kgBB. Pemberian cairan rehidrasi ini dihabiskan dalam 4 jam.
Rehidrasi dengan BB 8,5 kg: 8,5 x 60 cc/kgBB = 510 cc dalam 4 jam
Tetesan per menit (mikro) = 510 x 60 = 127,5
4 x 60
Tetesan per menit (makro) = 510 x 15 = 31,8 tetes =32 tetes/menit
4 x 60
Terapi rehidrasi ini tidak dilakukan pada pasien ini.
Kebutuhan cairan maintenance/rumatan pada pasien ini dengan BB 8,5 kg :
8,5 x 100ml/Kg BB = 850 ml/hari

Tetesan per menit (mikro) = 850 x 60 tetes/menit = 35,4 tetes = 35 tetes/ menit
24 jam x 60 detik
Tetesan per menit (makro) = 850 x 15 = 8,8 tetes = 9 tetes per menit
24 x60
Cairan maintenance yang diberikan pada pasien ini adalah cairan KAEN 3A.
Pemberian cairan pada pasien ini tidak sesuai karena cairan yang diberikan 15
tetes per menit mikro.
Pada hari ketiga cairan rumatan pasien diganti dengan cairan KAEN 3B, karena
BAB cair pasien semakin sering disertai dengan muntah yang semakin sering.
Dipilih cairan KAEN 3B karena kandungan elektrolitnya lebih tinggi dibanding
KAEN 3A. Dimana kehilangan elektrolit terjadi lebih banyak pada pasien ini.
Cairan diberikan dalam tetesan makro sebanyak 15 tetes/ menit. Pemberian ini
tidak sesuai, seharusnya 9 tetes/menit.

2. Suplementasi zinc
Zinc sulfat diberikan pada usia > 6 bulan sama dengan 20 mg per hari yang
dilarutkan sehingga dalam terapi yang diberikan pada kasus ini sudah sesuai
yaitu Zinc Kid sirup yang mengandung zinc sulfat 20 mg, diberikan 1x1
sendok takar.

3. Teruskan susu-makan
Pada kasus diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang diberikan tambahan
cairan lebih banyak dari biasanya. Pemberian susu formula diberikan lebih
sering dan lebih lama. Pemberian makanan selama diare harus diteruskan dan
ditingkatkan setelah sembuh, tujuannya adalah memberikan makanan yang
kaya nutrient sebanyak anak mampu menerima. Sebagian besar anak dengan
diare cair, nafsu makannya timbul kembali setelah dehidrasi teratasi.
Meneruskan pemberian makanan akan mempercepat kembalinya fungsi usus
yang normal termasuk kemampuan menerima dan mengabsorbsi berbagai
nutrient, sehingga memburuknya status gizi dapat dicegah atau paling tidak
dapat dikurangi.
Pada pasien ini telah dianjurkan kepada ibu pasien agar tetap meneruskan
pemberian susu formula dan memberikan makanan lunak kepada pasien.

4. Pemberian obat antibiotik.
Pemberian antibiotik harus berdasarkan indikasi yang sesuai. Pada hari I dan II
dirawat pasien tidak mendapat antibiotik, setelah hari ketiga pasien diberi
cefadroxil sirup. Pemberian antibiotik ini tidak sesuai, karena dari anamnesa,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang tidak didapatkan diare yang
disebabkan oleh bakteri.

5. Edukasi Orang Tua Pasien
Kami memberikan nasehat dan menilai pemahaman ibu terhadap penyakit diare
dan terapinya. Kami menjelaskan bagaimana cara pemberian oralit, zinc, nutrisi
yang cukup dan kebersihan makanan.

Terapi tambahan
1. Probiotik
Lacto B sebagai probiotik diberi batas sebagai mikroorganisme hidup dalam
makanan yang difermentasi yang menunjang kesehatan melalui terciptanya
keseimbangan mikroflora intestinal yang lebih baik. Pencegahan diare dapat
dilakukan dengan pemberian probiotik dalam waktu yang panjang terutama
untuk bayi yang tidak minum ASI. Kemungkinan efek probiotik dalam
pencegahan diare melalui perubahan lingkungan mikrolumen usus , kompetisi
nutrient, mencegah adhesi kuman pathogen pada enterosit, modifikasi toksin
atau reseptor toksin efek trofik terhadap mukosa usus melalui penyediaan
nutrient dan imunomodulasi.
2. Obat antipiretik
Pasien mengeluh demam pada malam hari sehingga diberikan ibuprofen syrup
dengan dosis 100mg/5ml.

4. Penatalaksanaan Kasus saat waktu tersebut
Diberikan IVFD Kaen 3A gtt XV/menit, oralit sachet 3x1, dan lacto B

5. Sikap Anda dalam berkolaborasi dengan dokter, sejawat, dan keluarga
Pasien.
a. Dokter
Kasus ini akhirnya dibahas bersama dengan dokter dan hal-htu
diperbaiki. Penulis juga memfollow-up pasien setiap hari hingga
pasien dapat pulang.

b. Keluarga Pasien
Penulis memberikan pengarahan tentang kondisi yang di alami pasien,
juga memberikan penjelasan tentang diare, tanda bahaya diare,
penatalaksanaan, serta dampak yang ditimbulkan dari penyakit
tersebut.

6. Langkah anda jika mengalami kasus serupa
Saya akan mengupayakan agar pasien dapat dilakukan penanganan segera
agar dapat mencegah komplikasi lebih lanjut dehidrasi beratm dan bahkan
shock hipovolemik. Bila ada tanda-tanda bahaya bawa kembali anak ke
rumah sakit.



Umpan balik dari pembimbing







Dokter Pembimbing

dr. Handayani Dwi Utami, M.Kes, Sp.F