Anda di halaman 1dari 39

BAB 1 PENDAHULUAN

Fungsi utama dari proses peradilan pidana adalah untuk mencari kebenaran sejauh yang dapat dicapai oleh manusia dan tanpa harus mengorbankan hak-hak dari tersangka. Yang bersalah akan dinyatakan bersalah dan yang memang tidak bersalah akan dinyatakan tidak bersalah. Baik undang-undang atau peraturan tidak dapat berbuat apa-apa untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam hal persepsi dan ingatan. Sudah diketahui pula bahwa manusia itu mempunyai kerentanan terhadap pengaruh-pengaruh dari luar yang bersifat sugestif. Semua alat bukti yang sah menurut Hukum Acara Pidana yang berlaku mempunyai kekuatan hukum yang sama. Permasalahannya terletak pada sejauh mana alat-alat bukti yang sah itu berguna dan dapat membantu dalam proses peradilan pada umumnya dan khususnya dalam proses penyidikan. Untuk dapat mengetahui dan dapat membantu dalam proses penyidikan, maka daam perkara pidana yang menyangkut tubuh, kesehatan, dan nyawa manusia diperlukan pengetahuan khusus, yaitu Ilmu Kedokteran Forensik. Selain bantuan Ilmu Kedokteran Forensik tersebut tertuang di dalam bentuk Visum et Repertum, maka bantuan dokter dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya sangat diperlukan didalam upaya mencari kejelasan dan kebenaran materil yang selengkap-lengkapnya tentang suatu perbuatan tindak pidana yang telah terjadi.1 Kewajiban dokter untuk membuat Keterangan Ahli telah diatur dalam pasal 133 KUHAP. Keterangan Ahli ini akan dijadikan sebagai alat bukti yang sah di depan sidang pengadilan (pasal 184 KUHAP). Dalam suatu perkara pidana yang menimbulkan korban, dokter diharapkan dapat menemukan kelainan yang terjadi pada tubuh korban, bilamana kelainan tersebut timbul, apa penyebabnya serta apa akibat yang timbul terhadap kesehatan korban. Dalam hal korban meninggal, dokter diharapkan dapat menjelaskan penyebab kematian yang bersangkutan, bagaimana mekanisme terjadinya kematian tersebut, serta membantu dalam perkiraan saat kematian dan perkiraan cara kematian.

Untuk kesemuanya itu, dalam bidang ilmu kedokteran forensik dipelajari tata laksana medikolegal, tanatologi, traumatologi, toksikologi, tehnik pemeriksaan dan segala sesuatu yang terkait, agar semua dokter dalam memenuhi kewajibannya membantu penyidik, dapat benar-benar memanfaatkan segala pengetahuan kedokterannya untuk kepentingan peradilan serta kepentingan lain yang bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat.2

SKENARIO Seorang laki-laki ditemukan di sebuah sungai kering yang penuh batu-batuan dalam keadaan mati tertelungkup. Ia mengenakan kaos dalam (oblong) dan celana panjang yang di bagian bawahnya digulung hingga setengah tungkai bawahnya. Lehernya terikat lengan baju (yang kemudian diketahui sebagai baju miliknya sendiri) dan ujung lengan baju lainnya terikat ke sebuah dahan pohon perdu setinggi 60 cm. posisi tubuh relatif mendatar, namun leher memang terjerat oleh baju tersebut. Tubuh mayat tersebut telah membusuk, namun masih dijumpai adanya satu luka terbuka di daerah ketiak kiri yang memperlihatkan pembuluh darah ketiak yang putus dan beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri yang memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan akibat kekerasan tajam. Perlu diketahui bahwa rumah terdekat dari TKP adalah kira-kira 2 km. TKP adalah suatu daerah perbukitan yang berhutan cukup lebat.

BAB 2

ISI

2.1 ASPEK HUKUM DAN MEDIKOLEGAL 2.1.1 Prosedur medikolegal Kewajiban dokter dalam membantu peradilan tercantum dalam Pasal 133 KUHAP3: (1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya. (2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. (3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehamikan atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang diletakkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat. 2.1.2 Visum et Repertum Pemeriksaan medik untuk tujuan membantu penegakan hukum antara lain adalah pembuatan Visum et Repertum terhadap seseorang yang dikirim polisi (penyidik) karena diduga sebagai korban suatu tindak pidana, baik dalam peristiwa kecelakaan lalu-lintas, kecelakaan kerja, pennganiayaan, pembunuhan, perkosaan, maupun korban meninggal yang pada pemeriksaan pertama polisi, terdapat kecurigaan akan kemungkinan adanya tindak pidana.

Mengenai kepangkatan pembuat surat permintaan Visum et Repertum telah diatur dalam Peraturan Pemerintah no 27 tahun 1983 yang menyatakan penyidik Polri berpangka serendah-rendahnya Pembantu Letnan Dua, sedangkan pada wilayah kepolisan tertentu yang komandannya adalah seorang bintara (Sersan), maka ia adalah penyidik karena jabatannya tersebut. Kepangkatan bagi penyidik pembantu adalah bintara serendah-rendahnya sersan dua. Untuk mengetahui apakah suatu surat permintaan pemeriksaan telah ditandatangani oleh yang berwenang, maka yang penting adalah bahwa si penandatangan menandatangani surat tersebut selaku penyidik.2 Visum et Repertum adalah keterangan yang dibuat oleh dokter atas permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia, baik hidup atau mati ataupun bagian atau diduga bagian dari tubuh manusia, berdasarkan kelilmuannya dan dibawah sumpah, untuk kepentingan peradilan. Visum et Repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis dalam pasal 184 KUHAP. Visum et Repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. Visum et Repertum menguraikan segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medik yang tertuang di dalam bagian Pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap sebagai pengganti benda bukti. Visum et Repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter mengenai hasil pemeriksaan medik tersebut yang tertuang di dalam bagian kesimpulan2. 2.1.2 Penulisan Visum Et Repertum Visum et Repertum terdiri dari 5 bagian yang tetap, yaitu2: 1. Kata Pro justitia, yang diletakkan di bagian atas. Kata ini menjelaskan bahwa Visum et Repertum khusus dibuat untuk tujuan peradilan. Visum et Repertum tidak membutuhkan materai untuk dijadikan sebagai alat bukti di depan sidang peradilan yang mempunyai kekuatan hukum. 2. Bagian Pendahuluan. Kata pendahuluan sendiri tidak ditulis di dalam Visum et Repertum, melainkan langsung dituliskan berupa kalimat-kalimat di bawah judul. Bagian ini menerangkan nama dokter pembuat Visum et Repertum dan institusi kesehatannya, instansi penyidik pemintanya berikut nomor dan tanggal surat permintaannya, tempat dan waktu pemeriksaan serta identitas korban yang diperiksa. Dokter tidak dibebani pemastian identitas korban, maka uraian identitas korban adalah sesuai dengan uraian identitas yang ditulis dalam surat permintaan 5

Visum et Repertum. Bila terdapat ketidaksesuaian identitas korban antara surat permintaan dengan catatan medik atau pasien yang diperiksa, dokter dapat meminta kejelasan dari penyidik. 3. Bagian pemberitaan. Bagian ini berjudul Hasil Pemeriksaan dan berisi hasil pemeriksaan medik tentang keadaan kesehatan atau sakit atau luka korban yang berkaitan dengan perkaranya, tindakan medik yang dilakukan serta keadaannya selesai pengobatan/ perawatan. Bila korban meninggal dan dilakukan autopsi, maka diuraikan keadaan seluruh alat dalam yang berkaitan dengan perkara dan matinya orang tersebut, Yang diuraikan dalam bagian ini merupakan pengganti barang bukti, berupa perlukaan/ keadaan kesehatan/ sebab kematian yang berkaitan dengan perkaranya. Temuan hasil pemeriksaan medik yang bersifat rahasia dan tidak berhubungan dengan perkaranya tidak dituangkan ke dalam bagian pemberitaan dan dianggap tetap sebagai rahasia kedokteran. 4. Bagian Kesimpulan. Bagian ini berjudul Kesimpulan dan berisi pendapat dokter berdasarkan keilmuannya, mengenai jenis perlukaan/ cedera yang ditemukan dan jenis kekerasan atau zat penyebabnya, serta derejat perlukaan atau sebab kematiannya. Pada kejahatan susila, diterangkan juga apakah telah terjadi persetubuhan dan kapan perkiraannya, serta usia korban atau kepantasan korban untuk dikawin. 5. Bagian Penutup. Bagian ini tidak berjudul dan berisikan kalimat baku Demikianlah visum et repertum ini saya buat dengan sesungguhnya berdasarkan keilmuan saya dan dengan mengingat sumpah sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana.

2.2 PEMERIKSAAN DI TEMPAT KEJADIAN PERKARA (TKP)

Bilamana pihak penyidik mendapat laporan bahwa suatu tindak pidana yang mengakibatkan kematian korban telah terjadi, maka pihak penyidik dapat meminta/ memerintahkan dokter untuk melakukan pemeriksaan di tempat kejadian perkara (TKP) tersebut sesuai dengan Hukum Acara Pidana yang berlaku dan sesuai pula dengan Undang-Undang Pokok Kepolisian tahun 1961 no. 13 pasal 13 atau sesuai dengan ketentuan pasal 3 Keputusan Men Han Kam/ Pangab No. Kep/B/17/V1/1974. Bila dokter menolak maka ia dapat dikenakan hukuman berdasarkan pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (K.U.H.P.) pasal 224. Selama melakukan pemeriksaan harus dihindari tindakan-tindakan yang dapat mengubah, menganggu atau merusak keadaan di TKP tersebut walaupun sebagai kelanjutan dari pemeriksaan itu harus mengumpulkan segala benda bukti (trace evidence) yang ada kaitannya dengan manusia, seperti mengumpukan bercak air mani atau darah yang terdapat pada pakaian atau benda-benda di sekitar korban, yang pada dasarnya tindakan pengumpulan benda bukti tadi akan merusak keadaan di TKP itu sendiri. Dengan demikian sebelum pemeriksaan dilakukan, TKP harus diamankan, dijaga keasliannya dan diabadikan dengan membuat foto-foto dan atau sktesa sebelum para petugas menyentuhnya. Sebelum datang di TKP ada beberapa hal yang harus dicatat sehubungan dengan alasan atau persyaratan yuridis, demi kepentingan kasus itu sendiri, yaitu: a. Siapa yang meminta/ memerintahkan datang ke TKP, otoritas, bagaimana permintaan/ perintah itu sampai keterangan dokter, di mana TKP dan kapan saat permintaan/ perintah tersebut dikeluarkan. Dokter dapat meminta sedikit gambaran mengenai kasus yang akan diperiksa dengan demikian ia dapat mempersiapkan perlengkapannya dengan baik. b. Perlu diingat motto : to touch as little as possible and to displace nothing Ia tidak boleh menambah atau mengurangi benda bukti: tidak boleh sembarangan membuang puntung rokok, perlengkapan jangan tertinggal, jangan membuang air kecil di kamar mandi oleh karena ada kemungkinan benda-benda bukti yang ada di tempat tersebut akan hanyut dan hilang. c. Di TKP dokter/ penyidik membuat foto dan sketsa yang mana harus disimpan dengan baik, oleh karena kemungkinan ia akan diajukan sebagai saksi selalu ada; foto dan sketsa tersebut berguna untuk memudahkan mengingatkan kembali keadaan yan sebenarnya. 7

2.2.1 Metode pencarian barang bukti Untuk dapat memperoleh barang bukti yang diperlukan didalam proses penyidikan dikenal 5 macam metode, yaitu: strip method, double strip or grid method, spiral method, zone method, dan wheel method. Metode-metode tersebut tentu sudah diketahui penyidik, namun perlu juga diketahui oleh dokter yang melakukan pemeriksaan di TKP agar tidak mengubah atau merusak keaslian keadaan TKP. 2.2.2 Pemeriksaan darah di TKP Pemeriksaan darah di TKP kasus kriminal dapat memberikan informasi yang berguna bagi proses penyidikan. Pemeriksaan yang sederhana dan dapat dilakukan oleh setiap penyidik adalah: 2.2.2.1 Dari bentuk sifat bercak dapat diketahui - Perkiraan jarak antara lantai dengan sumber perdarahan - Arah pergerakan dari sumber perdarahan baik dari korban maupun dari si pelaku kejahatan - Sumber perdarahan, darah yang berasal dari pembuluh balik (pada luka yang dangkal), akan berwarna merah gelap, sedangkan yang berasal dari pembuluh nadi (pada luka dalam) akan berwarna terang. Darah yang berasal dari saluran pernafasan atau paru-paru berwarna merah terang dan berbuih (jika telah mengering tampak seperti gambaran sarang tawon). Darah yang berasal dari saluran pencernaan akan berwarna merah-cokelat sebagai akibat dari bercampurnya darah dengan asam lambung. Darah dari pembuluh nadi akan memberikan bercak kecil-kecil menyemprot pada daerah yang lebih jauh dari daerah perdarahan; sedangkan yang berasal dari pembuluh balik biasanya membentuk genangan (ini karena tekanan dalam pembuluh nadi lebih tinggi dari tekanan atmosfir sedangkan tekanan dalam pembuluh balik lebih rendah sehingga tidak mungkin menyemprot). - Perkiraan umur/ tuanya bercak darah. Darah yang masih baru bentuknya cair dengan bau amis, dalam waktu 12-36 jam akan mengering sedangkan warna darah akan berubah menjadi cokelat dalam waktu 10-12 hari. Oleh karena banyak faktor yang memengaruhi darah 8

maka didalam prakteknya hanya disebutkan bahwa darah tersebut sangat baru (beberapa hari), baru, tua, dan sangat tua (beberapa tahun): yaitu berdasarkan perubahan-perubahan warna serta perbandingan jumlah dengan intensitas reaksi terhdap uji-uji yang dilakukan di laboratorium. 2.2.2.2 Dari distribusi bercak darah pada pakaian dapat diperkirakan posisi korban sewaktu terjadinya perdarahan. Pada orang yang bunuh diri dengan memotonong leher dalam posisi tegak atau pada kasus pembunuhan di mana korbannya sedang berdiri, maka bercak/ aliran darah akan tampak berjalan dari atas ke bawah. 2.2.2.3 Dari distribusi darah yang terdapat di lantai dapat diduga apakah kasusnya kasus bunuh diri (tergenang, setempat), ataukah pembunuhan (bercak dan genangan darah tidak beraturan, sering tampak tanda-tanda bahwa korban berusaha menghindar atau tampak bekas diseret). 2.2.2.4 Pada kasus tabrak lari, pemeriksaan bercak darah dalam hal ini golongan darahnya yang terdapat pada kendaraan yang diduga sebagai penabrak dibandingkan dengan golongan darah korban akan bermakna dan memudahkan proses penyidik. 2.2.2.4 Pemeriksaan bercak darah yang telah kering Di dalam melakukan pemeriksaan bercak darah yang telah kering di TKP atau pada barang-barang bukti seperti pisau, palu, tongkat pemukul, dan lain sebagainya, penyidik harus memperoleh kejelasan di dalam 3 hal yang pokok, yaitu: - apakah bercak tersebut memang bercak darah? - jika bercak darah, apakah berasal dari manusia? - Jika berasal dari manusia, apakah golongan darahnya? Kejelasan dari ketiga hal yang pokok tersebut penting dalam penyelesaian kasus, oleh karena bercak darah yang kering tidak dapat dibedakan dari bercak-bercak lainnya.

2.2.3 Petunjuk pengumpulan barang bukti Contoh Jumlah yang dibutuhkan Prosedur 9

Kemasan kontrol Barang bukti AMUNISI Patrum Anak peluru Kelongsong


Dalam amplop kecil Seluruhnya secara terpisah Seluruh yang ditemukan Seluruh yang ditemukan Tandai pada tempat dengan pengait Seperti di atas (satu amplop satu peluru) Seperti di atas (amplop yang terpisah bila didapatkan pada tempat dekat ujung peluru Tandai pada bagian dasar atau hidung Tandai pada bagian luar. bagian Seluruh yang ditemukan Seperti di atas Seluruh yang ditemukan Jangan luar/ pada tempat

Kelongsong shotgun Pellets

yang berbeda) Seperti di atas

kontak dengan picu. Tandai pada tembaga dekat kertas atau plastik Tandai pada tembaga dekat kertas atau plastik Tandai amplopnya

Tutup (Wadding) Bercak kering pada tekstil

Seperti di atas, bila dari dalam tubuh keringkan dahulu

Seluruh yang ditemukan

DARAH
Kemasan 5ml druggist dari tersangka yang fold korban kuat EDTA dan seluruhnya Pada objek kecil kirim semuanya. Pada objek besar, bercak dikerok dan ditaruh pada kertas yang bersih Jika basah keringkan dahulu, jangan diberi pengawet. seluruhnya Seutuhnya, dipotong. kering sendiri jangan Biatkan atau dengan

Bercak

pada Seperti di atas. Dalam seluruhnya


kantong Bungkus kertas. secara

pakaian, tekstil, dll. PAKAIAN

terpisah. Dalam kantong kertas. Bungkus secara terpisa

DOKUMEN
Surat anonim/ surat Dalam kantong plastik Dokumen yang asli, reproduksi tidak boleh Seluruh dokumen asli Jangan dengan amplop dan memegang tangan direkat. ancaman, dll

telanjang. Taruh dalam Beri perincian bila akan

Kertas yang terbakar atau hangus

Kemasan kuat

seluruhnya

diambil latent print. Jangan dipegang dengan tangan bersih untuk telanjang Pisau yang dipakai

GORESAN KUKU

Botol

plastik

atau

Semua yang ada

druggist fold

10

(fingernail scrapings)

mengorek kulit yang tergores dibawah kuku. Satu tempat untuk kuku dalam kemasan yang terpisah, beri tanda pada setiap kemasan dari jari yang mana

SENJATA API Pistol automatik


Senjata kosong, jangan dipegang kecuali ada barang rambut, amplop ditulis: berisi. bukti darah, lain: dsb. Semua yang ditemukan Beri label yang berisi nama, kaliber, nomor seri senjata dan tandatanda akan pemeriksaan ada latent pada print, penyidik. Jika dilakukan terhadap senjata, maka

Senjata ditaruh dalam diluarnya kosong atau

barang bukti lain yang seperti darah, rambut, pengemasan harus hatihati sekali dalam peti kemas karton. Pada bagian luar dari karton ditulis: senjata dalam keadaan kosong atau berisi. pemeriksaan pada pada magazine bagian Permintaan harus dan bawah

jelas. Inisial penyidik

revolvel Senjata panjang

Sama seperti di atas

Semua yang ditemukan

laras. Sama seperti di atas, inisial ujung laras Ikatkan label yang berisi nama, kaliber, nomor seri, dan inisial penyidik

laras Jika ada barang bukti Semua yang ditemukan


lain melekat: dll. darah, Dapat sama kotak dalam dari Semua yang ada rambut,

diambil dengan tangan, selanjutnya seperti di atas. Druggist fold/ obat. Jangan lusin amplop. Beberapa

RAMBUT

Kemasan untuk yang berasal

terpisah dari

rambut-rambut

masing-masing tempat.

11

beberapa Rambut dicabut. harus

tempat. utuh,

Beri

label:

tempat

daerah pengambilan.

NARKOTIKA DAN OBAT-OBAT BERBAHAYA Tiap obat satu kemasan Puyer, tablet, dan Kotak obat, druggist Semua yang ada kapsul tanaman
fold botol, dsb. Kantung plastik atau kantung kertas Semua yang ada Seperti di atas

ORGAN TUBUH (HIDUP) Darah


Tabung reaksi bersih atau botol 5ml untuk pemeriksaan 5 ml untuk alkohol Dokter mengambil, yang dapat

diberi pengawet, taruh dalam lemari pendingin sampai dikirim ke laboratorium Simpan dalam lemari pendingin dikirim laboratorium. sampai ke

Urine

Botol bersih

Semua dikeluarkan

yang

ORGAN TUBUH (MAYAT) Darah


Tabung reaksi bersih atau botol 25ml obatan, alkohol. untuk 5ml obatuntuk Beri pengawet dan anti pebeku. Simpan dalam lemari sampai laboratorium. Dalam pendingin pendingin dikirim ke

Otak

Kemasan dari plastik

300gr

lemari sampai

Empedu Hati Ginjal Urin Kulit di sekitar

Seperti di atas Seperti di atas Seperti diatas Seperti di atas Seperti di atas

Semuanya 300gr Keduanya Semua yang ada dalam kandung kencing semuanya

dikirim ke laboratorium Seperti di atas Seperti di atas Seperti di atas Seperti di atas Seperti di atas

tempat suntikan Tabel 1. Petunjuk pengumpulan barang bukti

2.3 PENENTUAN SECARA PASTI KEMATIAN KORBAN

12

Untuk dapat menentukan dengan pasti bahwa korban telah mati, perlu diketahui perihal tanda-tanda kehidupan dan tentunya perihal tanda-tanda kematian serta perubahan lanjut yang terjadi pada mayat. Tanda-tanda kematian yang penting adalah: - terhentinya denyut jantung - terhentinya pergerakan pernafasan - melemasnya otot-otot tubuh - terhentinya aktivitas otak (terhentinya aktivitas otak secara tepat dan cepat hanya dapat diketahui jika kita melakukan pemeriksaan dengan EEG, dimana akan terlihat mendatar selama 5 menit). Dengan telah ditentukannya atau diketahui bahwa korban telah mati, maka pemeriksaan di TKP dapat dilakukan dengan tenang, cermat, tepat, dan teliti. Perubahan lanjut yang terjadi pada mayat adalah1,2: - Penurunan suhu tubuh mayat Penurunan suhu tubuh terjadi karena proses pemindahan panas dari suatu benda ke benda yang lebih dingin, melalui cara radiasi, konduksi, evaporasi, dan konveksi. Grafik penurunan suhu tubuh ini hampir berbentuk kurva sigmoid atau seperti huruf S. Kecepatan penurunan suhu dipengaruhi oleh suhu keliling, aliran dan kelembaban udara, bentuk tubuh, posisi tubuh, pakaian. Selain itu suhu saat mati perlu diketahui untuk perhitungan perkiraan saat kematian. Penetunan suhu tubuh akan lebih cepat pada suhu keliling yang rendah, lingkungan berangin dengan kelembaban rendah, tubuh yang kurus, posisi telentang, tidak berpakaian atau berpakaian tipis, dan pada umumnya orang tua serta anak kecil. - Terjadinya lebam mayat (livor mortis). Setelah kematian klinis maka eritrosit akan menempati tempat terbawah akibat gaya tarik bumi (gravitasi), mengisi vena dan venula, membentuk bercak warna merah ungu (livide) pada bagian terbawah tubuh, kecuali pada bagian tubuh yang tertekan alas keras. Darah tetap cair karena adanya aktivitas fibrinolisin yang berasal dari endotel pembuluh darah. Lebam mayat biasanya mulai tmpak 20-30 menit pasca mati, makin lama 13

intensitasnya bertambah dan menjadi lengkap dan menetap setelah 8-12 jam. Sebelum waktu ini, lebam mayat masih hilang (memucat) pada penekanan dan dapat berpindah jika posisi mayat diubah. Memucatnya lebam akan lebih cepat dan lebih sempurna apabila penekanan atau perubahan posisi tubuh tersebut dilakukan dalam 6 jam pertama setelah mati klinis. Tetapi walaupun setelah 24 jam, darah masih tetap cukup cair sehingga sejumlah darah masih dapat mengalir dan membentuk lebam mayat di tempat terendah yang baru. Kadang-kadang dijumpai bercak perdarahan berwarna biru kehitaman akibat pecahnya pembuluh darah. Menetapnya lebam mayat disebabkan oleh bertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah cukup banyak sehingga sulit berpindah lagi. Selain itu kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah ikut mempersulit perpindaan tersebut. Lebam mayat dapat digunakan untuk tanda pasti kematian; memperkirakan sebab kematian, misalnya lebam berwarna merah terang pada keracunan CO atau CN, warna kecoklatan pada keracunan anilin, nitrit, nitrat, sulfonal; mengetahui perubahan posisi mayat yang dilakukan setlah terjadinya lebam mayat yang menetap; dan memperkirakan saat kematian. Apabila pada mayat terlentang yang telah timbul lebam mayat belum menetap dilakukan perubahan posisi menjadi telungkup, maka setelah beberapa saat akan terbentuk lebam mayat baru di daerah dada dan perut. Lebam mayat yang belum menetap atau masih hilang ada penekanan menunjukkan saat kematian kurang dari 8-12 jam sebelum saat pemeriksaan. Mengingat pada lebam mayat darah terdapat di dalam pembuluh darah, maka keadaan ini digunakan untuk membedakan dengan resapan darah akibat trauma (ekstravasasi). Bila pada daerah tersebut dilakukan irisan dan kemudian disiram dengan air, maka warna merah darah akan hilang atau pudar pada lebam mayat, sedangkan pada resapan darah tidak menghilang.

14

- Terjadinya kaku mayat Kelenturan otot setelah kematian masih dipertahankan karena metabolisme tingkat selular masih berjalan berupa pemecahan cadangan glikogen otot yang menghasilkan energi. Energi ini digunakan untuk mengubah ADP masjadi ATP. Selama masih terdapat ATP maka serabut aktin dan miosin tetap lentur. Bila cadangan glikogen dalam otot habis, maka energi tidak terbentuk lagi, aktin dan miosin menggumpal dan otot menjadi kaku. Kaku mayat dibuktikan dengan memeriksa persendian. Kaku mayat mulai tampak kira-kira 2 jam setelah mati klinis, dimulai dari bagian luar tubuh (otot-otot kecil) ke arah dalam (sentripetal). Setelah mati klinis 12 jam dan kemudian menghilang dalam urutan yang sama. Kaku mayat umumnya tidak disertai pemendekan serabut otot, tetapi jika sebelum terjadi kaku mayat otot berada dalam posisi teregang, maka saat kaku mayat terbentuk akan terjadi pemendekan otot. Faktor-faktor yang mempercepat terjadinya kaku mayat adalah aktivitas sebelum mati, suhu tubuh yang tinggi, bentuk tubuh kurus dengan otot-otot kecil, dan suhu lingkungan yang tinggi. Kaku mayat dapat dipergunakan untuk menunjukkan tanda pasti kematian dan memperkirakan saat kematian. Terdapat kekakuan pada mayat yang menyerupai kaku mayat: 1. Cadaveric spasm, adalah bentuk kekakuan otot yang terjadi pada saat kematian dan menetap. Cadaveric spasm sesungguhnya merupakan kaku mayat yang timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh relaksasi primer. Penyebabnya adalah akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada saat mati klinis karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal. Kepentingan medikolegalnya adalah menunjukkan sikap terakhir masa hidupnya. Misalnya tangan yang menggenggan erat benda yang diraihnya pada kasus tenggelam, tangan yang menggenggam senjata pada kasus bunuh diri. 15

2. Heat stiffening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas. Otot-otot berwarna merah muda, kaku, tetapi rapuh (mudah robek). Keadaan ini dapat dijumpai pada korban mati terbakar. Pada heat stiffening serabut-serabut ototnya memendek sehingga menimbulkan fleksi leher, siku, paha, dan lutut, membentuk sikap petinju (pugilistic attitude). Perubahan sikap ini tidak memberikan arti tertentu pada sikap semasa kematian. 3. Cold stiffening, yaitu kekakuan tubuh akibat lingkungan dingin, sehingga terjadi pembekuan cairan tubuh, termasuk cairan sendir, pemadatan jaringan lemak subkutan dan otot, sehingga bila sendi ditekuk akan terdengar bunyi pecahnya es dalam rongga sendi. - terjadinya pembusukan (decomposition, putrefaction) Pembusukan adalah proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolisis dan kerja bakteri. Autolisis adalah pelunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaan steril. Autolisis timbul akibat kerja digestif oleh enzim yang dilepaskan sel pasca mati dan hanya dapat dicegah dengan pembekuan jaringan. Setelah seseorang meninggal, bakteri yang normal hidup dalam tubuh segera masuk ke jaringan. Darah merupakan media terbaik bagi bakteri tersebut untuk bertumbuh. Sebagian besar bakteri berasal dari usus dan yang terutama adalah Clostridium welchii. Pada proses pembusukan ini terbentuk gas-gas alkana, H2S, HCN, serta asam amino dan asam lemak. Pembusukan baru tempak kira-kira 24 jam pasca mati berupa warna kehijauan pada perut kanan bawah, yaitu daerah sekum yang isinya lebih cair dan penuh dengan bakteri serta terletak dekat dinding perut. Warna 16 hidup, intravitalitas, penyebab atau cara

kehijauan ini disebabkan oleh terbentuknya sulf-methemoglobin. Secara bertahap warna kehijauan ini akan menyebar ke seluruh perut dan dada, dan bau busukpun mulai tercium. Pembuluh darah bawah kulit akan tampak seperti melebar dan berwarna hijau kehitaman. Selanjutnya kulit ari akan terkelupas atau membentuk gelembung berisi cairan kemerahan berbau busuk. Pembentukan gas di dalam tubuh, dimulai di dalam lambung dan usus, akan mengakibatkan tegangnya perut dan keluarnya cairan kemerahan dari mulut dan hidung. Gas yang terdapat di dalam jaringan dinding tubuh akan mengakibatkan terabanya derik (krepitasi). Gas ini menyebabkan pembengkakan tubuh yang menyeluruh, tetapi ketegangan terbesar terdapat di daerah dengan jaringan longgar, seperti skrotum dan payudara. Tubuh berada dalam sikap seperti petinju (pugilistic attitude), yaitu kedua lengan dan tungkau dalam sikap setengah fleksi akibat terkumpulnya gas pembusukan di dalam rongga sendi. Selanjutnya, rambut menjadi mudah dicabut dan kuku mudah terlepas, wajah menggembung dan berwarna ungu kehijauan, kelopak mata membengkak, pipi tembem, bibir tebal, lidah membengkak, dan sering terjulur diantara gigi. Keadaan seperti ini sangat berbeda dengan wajah asli korban, sehingga tidak dapat lagi dikenali oleh keluarganya. Hewan pengerat akan merusak tubuh mayat dalam beberapa jam pasca mati, terutama bila mayat dibiarkan tergeletak di daerah rumpun. Luka akibat gigitan binatang pengerat khas berupa lubang-lubang dangkal dengan tepi bergerigi. Larva lalat akan dijumpai setelah pembentukan gas pembusuk nyata, yaitu kira-kira 36-48 jam pasca mati. Kumpulan telur lalat telah dapat ditemukan beberapa jam 17

pasca mati, di alis mata, di sudut mata, lubang hidung, dan diantara bibir. Telur lalat tersebut kemudian akan menetas menjadi larva dalam waktu 24 jam. Dengan identifikasi spesies lalat larva dalam waktu 24 jam. Dengan identifikasi spesies lalut dan mengukur panjang larva, maka dapat diketahui usia larva tersebut, yang dapat dipergunakan untuk memperkirakan waktu mati, dengan asumsi bahwa lalt biasanya secepatnya meletakkan telur setelah seseorang meninggal. Alat dalam tubuh akan mengalami pembusukan dengan kecepatan yang berbeda. Perubahan warna terjadi pada lambung terutama di daerah fundus, usus, menjadi ungu kecokelatan. Mukosa saluran napas menjadi kemerahan, akibat hemolisis darah. Difusi empedu dari kandung empedu mengakibatkan warna cokelat kehijauan di jaringan sekitarnya. Otak melunak, hati menjadi berongga seperti spons, limpa melunak dan mudah robek. Kemudian alat dalam akan mengerut. Prostat dan uterus non gravid merupakan organ padat yang paling lama bertahan terhadap perubahan pembusukan. Pembusukan akan timbul lebih cepat bila suhu keliling optimal (26,5oC hingga sekitar suhu normal tubuh), kelembaban dan udara yang cukup, banyak bakteri pembusuk, tubuh gemuk atau menderita penyakit infeksi dan sepsis. Media tempat mayat terdapat juga berperan. Mayat yang terdapat di udara akan lebih cepat membusuk dibandingkan dengan yang terdapat di dalam air atau dalam tanah. Perbandingan kecepatan pembusukan mayat yang berada di dalam tanah : air : udara adalah 1 : 2 : 8. Bayi baru lahir umumnya lebih lambat membusuk, karena hanya memiliki sedikit bakteri dalam tubuhnya dan hilangnya panas tubuh yang cepat pada bayi akan menghambat pertumbuhan bakteri.

18

- Terjadinya adiposera Adiposera adalah terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak, dan berminyak, berbau tengik yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh pasca mati. Adiposera terutama terdiri dari asam-asam lemak tak jenuh yang terbentuk oleh hidrolisis lemak dan mengalami hidrogenisasi sehingga terbentuk asam lemak jenuh pasca mati yang tercampur dengan sisa-sisa otot, jaringan ikat, jaringan saraf yang termumifikasi dan kristal-kristal sferis dengan gambaran radial. Adiposera terapung di air, bila dipanaskan mencair dan terbakar dengan nyala kuning, larut di dalam alkohol panas dan eter. Adiposera dapat terbentuk di sembarang lemak tubuh, bahkan di dalam hati, tetapi lemak superfisial yang pertama kali terkena. Biasanya perubahan berbentuk bercak, dapat terlihat di pipi, payudara atau bokong, bagian tubuh atau ektremitas. Jarang seluruh lemak tubuh berubah menjadi adiposera. Adiposera akan membuat gambaran permukaan luar tubuh dapat bertahan hingga bertahun-tahun, sehingga identifikasi mayat dan perkiraan sebab kematian masih dimungkinkan. Faktor-faktor yang mempermudah terbentuknya adiposera adalah kelembaban dan lemak tubuh yang cukup, sedangkan yang menghambat adalah air yang mengalir yang membuang elektrolit. Udara yang dingin menghambat pembentukan, sedangkan suhu yang hangat akan mempercepat. Invasi bakteri endogen ke dalam jaringan pasca mati juga akan mempercepat pembentukannya. Pembusukan akan terhambat oleh adanya adiposera, karena derajat keasaman dan dehidrasi jaringan bertambah. Lemak segar hanya mengandung kira-kira 0,5% asam lemak bebas, tetapi dalam waktu 4 minggu pasca mati dapat naik menjadi 20% dan setelah 12 minggu menjadi 70% atau lebih. Pada saat ini adiposera menjadi jelas secara makroskopis sebagai bahan berwarna putih kelabu yang menggantikan atau menginfiltrasi bagian-bagian lunak tubuh. Pada stadium awal pembentukannya

19

sebelum makroskopis jelas, adiposera paling baik dideteksi dengan analisis asam palmitat. -Mumifikasi Mumifikasi adalah proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang cukup cepat sehingga terjadi pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan pembusukan. Jaringan berubah menjadi keras dan kering, berwarna gelap, berkeriput, dan tidak membusuk karena kuman tidak dapat berkembang ada lingkungan yang kering. Mumifikasi terjadi bila suhu hangat, kelembaban rendah, aliran udara yang baik, tubuh yang dehidrasi dan waktu yang lama (12-14 minggu). Mumifikasi jarang dijumpai pada cuaca yang normal. 2.4 PERKIRAAN SAAT KEMATIAN Selain perubahan pada mayat tersebut di atas, beberapa perubahan lain dapat digunakan untuk memperkiraan saat mati2. 2.4.1 Perubahan pada mata. Bila mata terbuka pada atmosfer yang kering, sklera di kiri-kanan kornea akan berwarna kecokelatan dalam beberapa jam berbentuk segitiga dengan dasar di tepi kornea (taches noires sclerotiques). Kekeruhan kornea terjadi lapis demi lapis. Kekeruhan yang terjadi pada lapis terluar dapat dihilangkan dengan meneteskan air, tetapi kekeruhan yang telah mencapai lebih dalam tidak dapat dihilangkan dengan tetesan air. Kekeruhan yang menetap ini terjadi sejak kira-kira 6 jam pasca mati. Baik dalam keadaan mata tertutup maupun terbuka, kornea menjadi keruh kirakira 10-12 jam pasca mati dan dalam beberapa jam saja fundus tidak tampak jelas. Setelah kematian tekanan bola mata menurun, memungkinkan distorsi pupil pada penekanan bola mata. Tidak ada hubungan antara diameter pupil dengan lamanya mati. Perubahan pada retina dapat menunjukkan saat kematian hingga 15 jam pasca mati. Hingga 30 menit pasca mati tampak kekeruhan makula dan mulai memucatnya diskus optikus. Kemudian hingga 1 jam pasca mati, makula lebih pucat dan tepinya tidak tajam lagi. 20

Selama 2 jam pertama pasca mati, retina pucat dan daerah sekitar diskus menjadi kuning. Warna kuning juga tampak di sekitar makula yang menjadi lebih gelap. Pada saat itu pola vaskular koroid yang tampak sebagai bercakbercak dengan latar belakang merah dengan pola segmentasi yang jelas tetapi pada kira-kira 3 jam pasca mati menjadi kabur dan setelah 5 jam pasca mati menjadi homogen dan lebih pucat. Pada kira-kira 6 jam pasca mati, batas diskus kabur dan hanya pembuluhpembuluh besar yang mengalami segmentasi yang dapat dilihat dengan latar belakang kuning-kelabu. Dalam waktu 7-10 jam pasca mati akan mencapai tepi retina dan batas diskus akan sangat kabur. Pada 12 jam pasca mati diskus hanya dapat dikenali dengan adanya konvergensi beberapa segmen pembuluh darah yang tersisa. Pada 15 jam pasca mati tidak ditemukan lagi gambaran pembuluh darah retina dan diskus, hanya makula saja yang tampak berwarna cokelat gelap. 2.4.2 Perubahan dalam lambung. Kecepatan pengosongan lambung sangat bervariasi, sehingga tidak dapat digunakan untuk memberikan petunjuk pasti waktu antara makan terakhir dan saat mati. Namun keadaan lambung dan isinya mungkin membantu dalam membuat keputusan. Ditemukannya makanan tertentu dalam isi lambung dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa korban sebelum meninggal telah makan makanan tersebut. 2.4.3 Perubahan rambut. Dengan mengingat bahwa kecepatan tumbuh rambut rata-rata 0.4mm/hari, panjang rambut kumis dan jenggot dapat dipergunakan untuk memperkirakan saat kematian. Cara ini hanya dapat digunakan bagi pria yang mempunyai kebiasaan mencukur kumis atau jenggotnya dan diketahui saat terakhir ia mecukur. 2.4.4 Pertumbuhan kuku. Sejalan dengan hal rambut tersebut di atas, pertumbuhan kuku yang diperkirakan sekitar 0,1mm per hari dapat digunakan untuk memperkirakan saat kematian bila dapat diketahui saat terakhir yang bersangkutan memotong kuku. 2.4.5 Perubahan dalam cairan serebrospinal. Kadar nitrogen asam amino kurang dari 15mg% menunjukkan kematian belum lewat 10 jam, kadar nitrogen non-protein kurang dari 80 mg% menunjukkan kematian belum 24 jam, kadar kreatin kurang dari 5 mg% dan 10 mg% masing-masing menunjukkan kematian belum mencapai 10 jam dan 30 jam. 21

2.4.6 Perubahan dalam cairan vitreus. Dalam cairan vitreus terjadi peningkatan kadar kalium yang cukup akurat untuk memperkirakan saat kematian antara 24 hingga 100 jam pasca mati. 2.4.7 Kadar komponen darah. Kadar semua komponen darah berubah setelah kematian, sehingga analisis darah pasca mati tidak memberikan gambaran konsentrasi zat-zat tersebut semasa hidupnya. Perubahan tersebut diakibatkan oleh aktivitas enzim dan bakteri, serta gangguan permeabilitas dari sel yang telah mati. 2.4.8 Reaksi supravital, yaitu reaksi jaringan tubuh sesaat pasca mati klinis yang masih sama seperti reaksi jaringan tubuh pada seseorang yang hidup. Beberapa uji dapat dilakukan terhadap mayat yang masih segar, misalnya rangsang listrik masih dapat memberikan kontraksi otot mayat hingga 90-120 menit pasca mati dan mengakibatkan sekresi kelenjar keringat sampai 60-90 menit pasca mati, sedangkan trauma masih dapat menimbulkan perdarahan bawah kulit sampai 1 jam pasca mati.

2.5 PEMERIKSAAN MEDIS 2.5.1 Pemeriksaan luar Pada pemeriksaan tubuh mayat sebelah luar, untuk kepentingan forensik, pemeriksaan harus dilakukan dengan cermat, meliputi segala sesuatu yang terlihat, tercium, maupun teraba, baik terhadap benda yang menyertai mayat, pakaian, perhiasan, sepatu, dan lain-lain, juga terhadap mayat itu sendiri. Agar pemeriksaan dapat terlaksana dengan secermat mungkin, pemeriksaan harus mengikuti sitematika yang telah ditentukan. Di Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI, sistematika pemeriksaan adalah4: 1. Label mayat Mayat yang dikirimkan untuk pemeriksaan kedokteran forensik seharusnya diberi label dari pihak kepolisian, biasanya merupakan sehelai karton yang diikatkan pada ibu jari kaki mayat serta dilakukan penyegelan pada tali pengikat label tersebut, untuk menjamin keaslian dari benda bukti.

22

Label mayat ini harus diguntung pada tali pengikatnya, serta disimpan bersama berkas pemeriksaan. Perlu dicatat warna dan bahan label tersebut. Dicatat pula apakah terdapat materai/ segel pada label ini, yang biasanya terbuat dari lak berwarna merah dengan cap dari kantor kepolisian yang mengirim mayat. Isi dari label mayat ini juga dicatat selengkapnya. Adalah kebiasaan yang baik, bila dokter pemeriksa dapat meminta keluarga terdekat dari mayat untuk sekali lagi melakukan pengenalan/ pemastian identitas. Di samping label mayat dari kepolisian, pada mayat dapat pula ditemukan label identifikasi dari Instalasi Kamar jenazah Rumah Saktit. Label ini adalah untuk kepentingan identifikasi di Kamar Jenazah agar mayat tidak tertukar saat diambil oleh keluarga. Label dari rumah sakit ini harus tetap ada pada tubuh mayat. 2. Tutup mayat Mayat seringkali dikirimkan kepada pemeriksa dalam keadaan ditutupi sesuatu. Catatlah jenis/ bahan, warna, serta corak dari penutup ini. Bila terdapat pengotoran pada penutup, catat pula letak pengotoran serta jenis/ bahan pengotoran tersebut. 3. Bungkus mayat Mayat kadang-kadang dikirimkan pada pemeriksa dalam keadaan terbungkus. Bungkus mayat ini harus dicatat jenis/ bahannya, warna, corak, serta adanya bahan yang mengotor. Dicatat pula tali pengikatnya bila ada, baik mengenai jenis/ bahan tali tersebut, maupun cara pengikatan serta letak ikatan tersebut. 4. Pakaian Pakaian mayat dicatat dengan teliti, mulai dari pakaian yang dikenakan pada bagian tubuh sebelah atas sampai tubuh sebelah bawah, dari lapisan yang terluar sampai lapisan yang terdalam. Pencatatan meliputi bahan, warna dasar, warna dan corak dari tekstil, bentuk/ model pakaian, ukuran, merek, cap binatu, monogram/ inisial serta tambalan atau tisikan bila ada. Bila terdapat pengotoran atau robekan pada pakaian, maka ini juga harus dicatat dengan teliti dengan mengukur letaknya yang tepat menggunaan 23

koordinat, serta ukuran dari pengotoran dan atau robekan yang ditemukan. Pakaian dari korban yang mati akibat kekerasan atau yang belum dikenal, sebaiknya disimpan untuk barang bukti. Bila ditemukan saku pada pakaian, maka saku ini harus diperiksa dan dicatat isinya dengan teliti pula. 5. Perhiasan Perhiasan yang dipakai oleh mayat harus dicatat pula dengan teliti. Pencatatan meliputi jenis perhiasan, bahan, warna, merk, bentuk, serta ukuran nama/ inisial pada benda perhiasan tersebut.

6. Benda di samping mayat Bersamaan dengan pengiriman mayat, kadangkala disertakan pula pengiriman benda di samping mayat, misalnya bungkusan atau tas. Terhadap benda di samping mayat inipun dilakukan pencatatan yang teliti dan lengkap. 7. Tanda kematian Di samping untuk pemastian bahwa korban yang dikirimkan untuk pemeriksaan benar-benar telah mati, pencatatan tanda kematian ini berguna pula untuk penentuan saat kematian. Agar pencatatan terhadap tanda kematian ini bermanfaat, jangan lupa mencatat waktu/ saat dilakukannya pemeriksaan terhadap tanda kematian ini. 8. Identifikasi umum Catat tanda umum yang menunjukkan identitas mayat, seperti: jenis kelamin, bangsa atau ras, umur, warna kulit, keadaan gizi, tinggi dan berat badan, keadaan zakar yang disirkumsisi, adanya striae albicantes pada dinding perut. 9. Identifikasi khusus Catat segala sesuatu yang dapat digunakan untuk penentuan identitas secara khusus. a. Rajah/ tatoo Tentukan letak, bentuk, warna, serta tulisan tatoo yang ditemukan. Bila perlu, buatlah dokumentasi foto. 24

b. Jaringan parut Catat seteliti mungkin jaringan parut yang ditemukan, baik yang timbul akibat penyembuhan luka maupun yang terjadi sebagai akibat tindakan bedah. c. Kapalan (callus) Dengan mencatat distribusi callus, kadangkala dapat diperoleh keterangan yang berharga mengenai pekerjaan mayat yang diperiksa semasa hidupnya. d. Kelainan pada kulit Adanya kutil, angioma, bercak hiper atau hipopigmentasi, eksema, dan kelainan lain sering kali dapat membantu dalam penentuan identitas. e. Anomali dan cacat pada tubuh Kelainan anatomis berupa anomali atau deformitas akibat penyakit atau kekerasan perlu dicatat dengan seksama. Tidak tercatatnya ciri-ciri yang disebut di atas dapat sangat merugikan karena dapat menyebabkan diragukannya hasil pemeriksaan terhadap mayat secara keseluruhan. 10. Pemeriksaan rambut Pemeriksaan terhadap rambut dimaksudkan untuk membantu identifikasi. Pencatatan dilakukan terhadap distribusi, warna, keadaan tumbuh, serta sifat dari rambut tersebut baik dalam hal halus kasarnya atau lurus ikalnya. Bila pada tubuh mayat ditemukan rambut yang mempunyai sifat yang berlainan dari rambut mayat, rambut-rambut ini harus diambil, disimpan an diberi label, untuk pemeriksaan laboratorium lanjutan bila ternyata diperlukan di kemudian hari. 11. Pemeriksaan mata Periksa apakah kelopak mata terbuka atau tertutup. Pada kelopak mata, diperhatikan pula akan adanya tanda-tanda kekerasan serta kelainan lain yang ditimbulkan oleh penyakit dan sebagainya. Periksa pula keadaan selaput lendir kelopak mata, bagaimana warnanya, adakah pembuluh darah yang melebar, adalah bintik perdarahan atau bercak perdarahan. 25

Terhadap bola mata, dilakukan pula pemeriksaan terhadap kemungkinan terdapatnya tanda kekerasan, kelainan seperti ptosis bulbi, pemakaian mata palsu, dan sebagainya. Perhatikan pula keadaan selaput lendir bola mata akan adanya pelebaran pembuluh darah, bintik perdarahan atau kelainan lain. Terhadap kornea (selaput bening mata) ditentukan apakah jernih, adakah kelainan, baik yang fisiologik maupun yang patologik. Iris dicatat warnanya untuk membantu identifiasi. Catat pula kelainan yang mungkin ditemukan. Perhatikan pupil dan catat ukurannya, apakah sama pada mata yang kanan dan yang kiri. Bila terdapat kelainan pada lensa mata, ini pun harus dicatat. 12. Pemeriksaan daun telinga dan hidung Pemeriksaan meliputi pencatatan terhadap bentuk dari daun telinga dan hidung, terutama pada mayat dengan bentuk yang luar biasa karena hal ini mungkin dapat membentu dalam identifikasi. Catat pula kelainan serta tanda kekerasan yang ditemukan. Periksa apakah dari lubang telinga dan hidung keluar cairan/ darah. 13. Pemeriksaan terhadap rongga mulut dan mulut Pemeriksaan meliputi bibir, lidah, rongga mulut, serta gigi geligi. Catat kelainan atau tanda kekerasan yang ditemukan. Periksa dengan teliti keadaan rongga mulut akan kemungkinan terdapatnya benda asing. Terhadap gigi geligi, pencatatan harus dilakukan selengkaplengkapnya meliputi julah gigi yang terdapat, gigi geligi yang hilang/ patah/ mendapat tambalan/ bungkus logam, gigi palsu, kelainan letak, pewarnaan, dan sebagainya. Data gigi geligi merupakan alat yang sangat beguna untuk identifikasi bila terdapat data pembanding. Perlu diingat bahwa gigi geligi adalah bagian tubuh yang paling keras dan tahan terhadap kerusakan. 14. Pemeriksaan pada alat kelamin dan lubang pelepasan Kelainan atau tanda kekerasan yang ditemukan harus mendapat perhatian dan dicatat selengkapnya.

26

Pada mayat laki-laki, catat apakah alat kelamin mengalami sirkumsisi. Catat kelainan bawaan yang mungkin ditemukan, adanya manikmanik yang ditanam dibawah kulit, juga keluarnya cairan dari lubng kemaluan serta kelainan yang ditimbulkan oleh penyakit atau sebab lain. Pada dugaan telah terjadinya suatu persetubuhan beberapa saat sebelumnya, dapat diambil preparat tekan menggunakan kaca objek yang ditekankan pada daerah glans atau corona glandis yang kemudian dapat dilakukan pemeriksaan terhadap adanya sel epitel vagina menggunakan tehnik laboratorium tertentu. Pada mayat wanita, periksa keadaan selaput dara dan komisura posterior akan kemungkinan adanya tanda kekerasan. Pada kasus dengan persanggkaan telah melakukan persetubuhan beberapa saat sebelumnya, jangan lupa dilakukan pemeriksaan laboratorium terhadap cairan/ sekret liang sanggama. Lubang pelepasan perlu pula mendapat perhatian. Pada mayat yang sering mendapat perlakukan sodomi, mungkin ditemukan anus berbentuk corong yang selaput lendirnya sebagain berubah menjadi lapisan bertanduk dan hilangnya rugae. 15. Lain-lain Perlu diperhatikan adanya: a. tanda perbendungan, ikterus, warna kebiru-biruan pada kuku/ ujung-ujung jari atau adanya edema/ sembab b. bekas pengobatan berupa bekas kerokan, tracheostomi, suntikan, pungsi lumbal, dll. c. Terdapatnya bercak lumpur atau pengotoran lain pada tubuh, kepingan atau serpihan cat, pecahan kaca, lumuran aspal, dan lain-lain. 16. Pemeriksaan terhadap tanda-tanda kekerasan Pada pemeriksaan terhadap tanda kekerasan/ luka, perlu dilakukan pencatatan yang teliti dan objektif terhadap: a. letak luka

27

pertama-tama sebutkan regio anatomis luka yang ditemukan, dengan juga mencatat letaknya yang tepat menggunakan koordinat terhada garis/ titik anatomis yang terdekat b. jenis luka tentukan jenis luka, apakah merupakan luka lecet, luka memar, atau luka terbuka c. bentuk luka sebutkan bentuk luka yang ditemukan. Pada luka yang terbuka sebutkan pula bentuk luka setelah luka dirapatkan. d. arah luka dicatat arah dari luka, apakah melintang, membujur, atau miring.

e. tepi luka perhatikan tepi luka apakah rata, teratur atau berbentuk tidak beraturan. f. sudut luka pada luka terbuka, perhatikan apakah sudut luka merupakan sudut runcing, membulat, atau bentuk lain. g. dasar luka Perhatikan dasar luka, jaringan bawah kulit atau otot, atau bahkan merupakan rongga badan. h. sekitar luka perhatikan adanya pengotoran, terdapatnya luka/ tanda kekerasan lain di sekitar luka. i. ukuran luka luka diukur dengan teliti. Pada luka terbuka, ukuran luka diukur juga setelah luka yang bersangkutan dirapatkan. j. Saluran luka Penentuan saluran luka dilakukan in situ. Tentukan perjalanan luka serta panjang luka. Penentuan ini baru dapat ditentukan pada saat dilakukan pembedahan mayat. k. Lain-lain 28

Pada luka lecet jenis serut, pemeriksaan teliti terhadap permukaan luka terhadap pola penumpukan kulit ari yang terserut dapat mengungkapkan arah kekerasan yang menyebabkan luka tersebut. 17. pemeriksaan terhadap patah tulang tentukan letak patah tulang yang diteman serta catat sifat/ jenis masing-masing patah tulang yang terdapat. 2.5.2 Pemeriksaan autopsi pada kasus kematian akibat kekerasan Pada kematian akibat kekerasan, pemeriksaan terhadap luka harus dapat mengungkapkan berbagai hal tersebut di bawah ini4: a. Penyebab luka Dengan memperhatikan morfologi luka, kekerasan penyebab luka dapat ditentukan. Pada kasus tertentu, gambaran luka seringkali dapat memberi petunjuk mengenai bentuk benda yang mengenai tubuh, misalnya luka yang disebabkan oleh benda tumpul berbentuk bulat panjang akan meninggalkan negative imprint oleh timbulnya marginal haemorrhage. Luka lecet jenis tekan memberikan gambaran bentuk benda penyebab luka. b. Arah kekerasan Pada luka lecet jenis gores dan luka robek, arah kekerasan dapat ditentukan. Hal ini sangat membantu pihak yang berwajib dalam melakukan rekonstruksi terjadinya perkara. c. Cara terjadinya luka Yang dimaksdukan dengan cara terjadinya luka adalah apakah luka yang ditemukan terjadi sebagai akibat kecelakaan, pembunuhan, atau bunuh diri. Luka-luka akibat kecelakaan biasanya terdapat pada bagian tubuh yang terbuka. Bagin tubuh yang biasanya terlindung jarang mendapat luka pada suatu kecelakaan. Daerah terlindung ini misalnya adalah daerah ketiak, daerah sisi depan leher, daerah lipat siku, dan sebagainya.

29

Luka akibat pembunuhan dapat ditemukan tersebar pada seluruh bagian tubuh. Pada korban pembunuhan yang sempat mengadakan pelawanan, dapat ditemukan luka tangkis yang bisanya terdapat pada daerah ekstensor lengan bawah atau telapak tangan. Pada korban bunuh diri, luka biasanya menunjukkan sifat luka percobaan (tentative wounds) yang mengelompok dan berjalan kurang lebih sejajar. d. Hubungan antara luka yang ditemukan dengan sebab mati Harus dapat dibuktikan bahwa terjadinya kematian semata-mata disebabkan oleh kekerasan yang menyebabkan luka. Untuk itu pertama-tama harus dapat dibuktikan bahwa luka yang ditemukan adalah benar-benar luka yang terjadi semasa korban masih hidup (luka intravital). Untuk ini, tanda intravitalitas luka berupa reaksi jaringan terhadap luka perlu mendapat perhatian. Tanda intravitalitas luka dapat bervariasi dari ditemukannya resapan darah, terdapatnya proses penyembuhan luka, serbukan sel radang, pemeriksaan histo-enzimatik sampai pemeriksaan kadar histamin bebas dan serotonin jaringan. Pembunuhan menggunakan kekerasan dapat dilakukan dengan benda tumpul, benda tajam, maupun senjata api. Kadang-kadang dapat juga terjadi pembunuhan dengan api, sekalipun jarang terjadi. Pada pembunuhan dengan menggunakan kekerasan tajam, luka harus dilukiskan dengan baik, dengan memperhatikan bentuk luka, tepi luka, sudut luka, keadaan sekitar luka, serta lokasi luka. Dalam peristiwa pembunuhan, cari pula kemungkinan terdapatnya luka tangkis di daerah ekstensor lengan bawah serta telapak tangan. Pada autopsi kasus dengan luka yang menembus ke daam tubuh, misalnya tembakan senjata api atau tusukan senjata tajam, perlu ditentukan arah serta jalannya saluran luka dalam tubuh mayat1. 2.5.3Pemeriksaan pada kasus dengan mengunakan senjata tajam Pada bunuh diri daerah yang dipilih adalah daerah leher, dada, perut bagian atas, atau pergelangan tangan, sering ditemukan luka-luka 30

percobaan yang berjalan sejajar baik di sekitar luka yang fatal meupun pada bagian tubuh lain. Senjata yang dipakai sering dijumpai masih dalam keadaan tergenggam di tangan korban (cadaveric spasme). Pada pembunuhan tidak ada tempat khusus, jumlah luka sering lebih dari satu, adanya luka pada bagian belakang merupakan ciri khas pembunuh, pada lengan dan telapak tangan sering didapat luka-luka tangkis; pada beberapa kasus kadang-kadang korban selain ditusuk juga dihantam dengan benda tumpul dari senjata sehingga selain luka akibat benda tajam didapatkan luka akibat benda tumpul. 2.5.4 Autopsi pada kasus kematin akibat penjeratan Pada kasus penjeratan, kadangkala masih ditemukan jerat pada leher korban. Jerat harus diperlakukan sebagai barang bukti dan dilepaskan dari leher korban dengan jalan mengguntingnya secara miring pada jerat, di tempat yang paling jauh dari simpul, sehingga simpul pada jerat tetap utuh. Pada kasus penjeratan, jerat biasanya berjalan horizontal/ mendatar dan letaknya rendah. Jerat ini biasanya meninggalkan jejas jerat berupa luka lecet jenis tekan yang melingkari leher. Catat keadaan jejas jerat dengan teliti, dengan menyebutkan arah, lebar, serta letak jerat yang tepat. Perhatikan apakah jejas jerat menunjukkan pola (pattern) tertentu yang sesuai dengan permukaan jerat yang bersentuhan dengan kulit leher. Pada umumnya, simpul mati ditemukan pada kasus pembunuhan, sedangan simpul hidup ditemukan pada kasus bunuh diri. Namun perkecualian selalu terjadi.4 2.5.5 Pemeriksaan Organ/ Alat Dalam Pemeriksaan organ/ alat tubuh biasanya dimulai dari lidah, esofagus, trachea, dan seterusnya sampai meliputi seluruh alat tubuh. Otak biasanya diperiksa terakhir4. - Lidah Pada lidah, perhatikan permukaan lidah, adakah kelainan bekas gigitan, baik yang baru maupun yang lama. - Tonsil Perhatikan permukaan maupun penampang tonsil, adakah selaput, gambaran infeksi, nanah, dan sebagainya 31

- Kelenjar gondok Perhatikan ukuran dan beratnya. Periksa apakah permukaannya rata, catat warnanya, adakah perdarahan berbintik atau resapan darah - Kerongkongan Perhatikan adanya benda-benda asing, keadaan selaput lendir serta kelainan yang mungkin ditemukan. - Batang tenggorok Perhatikan adanya benda asing, busa, darah, serta keadaan selaput lendirnya - Tulang lidah Perhatikan adanya patah tulang, resapan darah, - Arteria carotis interna Perhatikan adanya tanda kekerasan pada sekitar arteri ini -Thymus Pada permukaannya perhatikan akan adanya perdarahan berbintik serta kemungkinan adanya kelainan lain - Paru-paru Kedua paru masing-masing diperiksa tersendiri. Tentukan permukaan paru-paru. Perhatikan warnanya, serta bintik perdarhan, bercak perdarahan akibat aspirasi darah ke dalam alveoli. - Jantung Perhatikan besarnya jantung, bandingkan dengan kepalan tinju kanan mayat. Perhatikan akan adanya resapan darah, luka, atau bintik-bintik perdarahan. - Aorta thoracalis Perhatikan kemungkinan terdapatnya deposit kapur, ateroma atau pembentukan aneurisma. - Aorta abdominalis Perhatikan dinding aorta terhadap adanya penimbunan perkapuran atau atheroma. Perhatikan pula muara dari pembuluh nadi yang keluar dari aorta abdominalis ini, terutama muara aa.renalis kanan dan kiri. 32

- Anak ginjal Kedua anak ginjal harus dicari terlebih dahulu sebelum dilakukan pemeriksaan lanjut pada blok alat rongga perut dan panggul. - Ginjal, ureter, dan kandung kencing Pada penampang ginjal, perhatkan gambaran korteks dan medula ginjal. Juga perhatikan pervis renis akan kemungkinan terdapat batu ginjal, tanda peradangan, nanah dan sebagainya. - Hati dan kandung empedu Pemeriksaan dilakukan terhadap permukaan hati, yang pada keadaan biasa menunjukkan permukaan yang rata dan licin, berwarna merah-cokelat. Kandung empedu diperiksa ukuran serta diraba akan kemungkinan terdapatnya batu empedu. - Limpa dan kelenjar getah bening Catat bila ditemukan kelenjar getah bening regional yang membesar. - Lambung, usus halus, dan usus besar Perhatikan isi lambung dan simpan dalam botol atau kantong plastik bersih bila isi lambung ini diperlukan untuk pemeriksaan toksikologi. Usus diperiksa akan kemungkinan terdapat darah dalam lumen serta kemungkinan terdapatnya kelainan bersifat ulseratif, polip, dan lain-lain. - Pankreas Perhatikan ukuran serta beratnya. - Otak besar, otak kecil, dan batang otak Perhatikan permukaan luar dari otak dan catat kelainan yang ditemukan. - Alat kelamin dalam - Timbang dan catatlah berat masing-masing alat/ organ Sebelum mengembalikan organ-organ kembali ke dalam tubuh mayat, pertimbangkan potongan terlebih jaringan dahulu guna kemungkinan pemeriksaan diperlukannya

33

histopatologik toksikologi

atau

diperlukan

organ

guna

pemeriksaan

2.6 IDENTIFIKASI FORENSIK Menentukan identitas korban seperti halnya identitas pada tersangka pelaku kejahatan merupakan bagian yang terpenting dari penyidikan. Dengan dapat ditentukannya identitas dengan tepat dapat dihindari kekeliruan dalam proses peradilan yang dapat berakibat fatal. Penentuan identitas korban dilakukan dengan memakai metode identifikasi sebagai berikut2: a. Visual. Termasuk metode yang sederhana dan mudah dikerjakan yaitu dengan memperlihatkan tubuh terutama wajah korban kepada pihak keluarga, metode ini akan memberi hasil jika keadaan mayat tidak rusak berat dan tidak dalam keadaan busuk lanjut. b. Dokumen. KTP, SIM, kartu pelajar, dan tanda pengenal lainnya merupakan sarana yang dapat dipakai untuk menetukan identitas. Dokumen yang ada di dalam saku seorang laki-laki lebih bermakna bisa dibandingkan dengan dokumen yang berada dalam tas seorang wanita, terutama pada kasus kecelakaan massal sehingga tas yang dipegang dapat terlempat dan sampai ke dekat tubuh wanita lainnya. Hal mana tidak terjadi pada laki-laki yang mempunyai kebiasaan menyimpan dokumen dalam sakunya.

34

c. Perhiasan. Merupakan metode identifikasi yang baik, walupun tubuh korban telah rusak atau hangus. Inisial yang tedapat pada cincin dapat memberikan informasi siapa si pemberi cincin tersebut, dengan demikian dapa diketahui pula identitas korban, Dalam penentuan identifikasi dengan metode ini tidak jarang diperlukan keahlian dari seorang yang memang ahli di bidang tersebut. d. Pakaian. Pencatatan yang baik dan teliti dari pakaian yang dikenakan korban seperti model, bahan yang dipakai, merek penjahit, label binatu dapat merupakan petunjuk siapa pemilik pakaian tersebut dan tentunya identitas korban. e. Medis. Merupakan motode identifikasi yang selalu dapat dipakai dan mempunyai nilai tinggi dalam hal ketepatannya terutama jika korban memiliki status medis (medical record, ante-mortem record), yang baik. Jenis kelamin, perkiraan umur, tinggi dan berat badan serta warna rambut dan mata diklasifikasi dalam tanda medis yang umum. Sedangkan yang sifatnya lebih khusus adalah bentuk cacat fisik, bekas operasi, tumor, tatoo, dan lain sebagainya. Dengan metode ini dapat dibantu dengan pemeriksaan radiologis (rontgen foto), umpamanya untuk membantu perkiraan umur, adanya benda asing dan bekas patah tulang. f. Gigi. Sebaiknya dilakukan oleh dokter gigi ahli forensik, akan tetapi dalam prakteknya hampir semuanya pemeriksaan dilakukan oleh dokter ahli ilmu kedokteran forensik khususnya patologi Forensik. Melihat sifat khusus dari gigi yaitu ketahanan serta tidak ada kesamaan bentuk gigi pada setiap manusia, pemeriksaan ini mempunyai nilai tinggi seperti halnya sidik jari, khususnya jika keadaan mayat telah busuk/ rusak dan terutama bila ada ante-mortem record. Gigi dapat juga dipakai untuk membantu dalam hal perkiraan umur serta kebiasaan/ pekerjaan dan kadang-kadang golongan suka tertentu. g. Sidik jari. Sidik jari atau finger prints dapat menentukan identitas secara pasti oleh karena sifat kekhususannya yaitu pada setiap orang akan berbeda walaupun pada kasus saudara kembar satu telur. Keterbatasannya hanyalah cepat rusak/ membusuknya tubuh. Penggunaan sidik jari untuk memnetukan identitas seseorang tentunya baru dapat bila orang tersebut sebelumnya sudah diambil sidik jarinya. Akan tetapi walaupun datanya tidak ada pengambilan sidik jari pada korban tetap bermanfaat yaitu dengan membandingkan sidik jari yang mungkin tertinggal pada alat-alat yang di ruamh korba (latent print); 35

sedangkan pada kasus pembunuhan latent print yang ada pada senjata dapat membuat si pelaku kejahatan tidak dapat mungkir atau mengelak dari tuduhan bahwa ia telah melakukan pembunuhan. h. Serologi. Prinsipnya ialah dengan menentukan golongan darah, dimana pada umumnya golongan darah seseorang dapat ditentukan dari pemeriksaan darah, air mani, dan cairan tubuh lainnya i. Ekslusi. Cara ini dipakai biasanya pada kasus kecelakaan masal, seperti pada kasus kecelakaan pesawat terbang. Dari 5 korban telah dapat diidentifikasi sebanyak 49 korban, maka sisanya tentulah korban yang sesuai dengan daftar penumpang. Cara ini akan memberikan hasil yang baik dalam arti ketepatan bila antemortem records yang adamemang baik.

2.6 INTEPRETASI TEMUAN Umumnya luka akibat kekerasan benda tajam pada kasus pembunuhan, bunuh diri atau kecelakaan memiliki ciri-ciri berikut1,2: Pembunuhan Bunuh diri Kecelakaan Lokasi luka sembarang terpilih Terpapar Jumlah luka Banyak Banyak Tunggal/ banyak Pakaian Terkena Tidak terkena Terkena Luka tangkis Ada Tidak ada Tidak ada Luka percobaan Tidak rata Ada Tidak ada Cedeta sekunder Mungkin ada Tidak ada Mungkin ada Tabel 2. Perbedaan luka akibat kekerasan tajam pada kasus pembunuhan, bunuh diri, dan kecelakaan FAKTOR Lokasi Kondisi Pakaian Senjata Surat/ LUKA PEMBUNUHAN Variabel Tidak teratur Tertembus Tidak ada catatan Tidak ada Varibale Satu atau lebih BUNUH DIRI Tersembunyi Teratur Terbuka, luka tampak jelas Ada Ada (seringkali) Tertentu Biasanya satu 36

TKP

peninggalan Titik anatomis Jumlah (fatal)

Luka percobaan Tidak ada Luka tangkis Ada (biasanya) Tanda pergulatan Ada (biasanya) Mutilasi Ada (dapat) Arah irisan variabel Tabel 3. Cara kematian akibat senjata tajam

Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Sejajar

2.7KESIMPULAN Gambaran umum luka yang diakibatkan karena kekerasan benda tajam adalah tepi dan dinding luka yang rata, berbentuk garis, tidak terdapat jembatan jaringan dan dasar luka berbentuk garis atau titik. Selian gambaran umum luka tersebut di atas, luka iris atau sayat dan luka bacok mempunyai kedua sudut luka lancip dan dalam luka tidak melebihi panjang luka. Sudut luka yang lancip dapat terjadi dua kali pada tepat yang berdekatan akibat pergesaran senjata sewaktu ditarik atau akibat bergeraknya korban. Bila dibarengi gerak memutar, dapat menghasilkan luka yang tidak selalu berupa garis. Penjeratan adalah penekanan benda asing berupa tali, ikat pinggang, rantai, stagen, kawat, kabel, kaos kaki, dan sebagainya, melingkari atau mengikat leher yang makin lama makin kuat, sehingga saluran pernapasan tertutup. Jejas jerat pada leher sangat bervariasi. Bila jerat lunak dan lebar seperti handuk atau selendang sutera, maka jejas mungkin tidak ditemukan dan pada otot-otot leher sebelah dalam dapat atau tidak ditemukan sedikit resapan darah. Pada kasus pembunuhnya, pengikatnya biasanya dengan simpul mati dan sering terlihat bekas luka pada leher.2

37

BAB 3 PENUTUP Untuk dapat mengetahui dan dapat membantu dalam proses penyidikan, maka dalam perkara pidana yang menyangkut tubuh, kesehatan, dan nyawa manusia diperlukan pengetahuan khusus, yaitu Ilmu Kedokteran Forensik. Selain bantuan Ilmu Kedokteran Forensik tersebut tertuang di dalam bentuk Visum et repertum, maka bantuan dokter dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya sangat diperlukan didalam upaya mencari kejelasan dan kebenaran materil yang selengkap-lengkapnya tentang suatu perbuatan tindak pidana yang telah terjadi.1 Visum et repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis dalam pasal 184 KUHAP. Visum et Repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. Visum et Repertum menguraikan segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medik yang tertuang di dalam bagian Pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap sebagai pengganti benda bukti2. Bilamana pihak penyidik mendapat laporan bahwa suatu tindak pidana yang mengakibatkan kematian korbn telah terjadi, maka pihak penyidik dapat meminta/ memerintahkan dokter untuk melakukan pemeriksaan di tempat kejadian perkara (TKP) tersebut sesuai dengan Hukum Acara Pidana yang berlaku dan sesuai pula dengan Undang-Undang Pokok Kepolisian tahun 1961 no. 13 pasal 13 atau sesuai dengan ketentuan pasal 3 Keputusan Men Han Kam/ Pangab No. Kep/B/17/V1/19741. Gambaran umum luka yang diakibatkan karena kekerasan benda tajam adalah tepi dan dinding luka yang rata, berbentuk garis, tidak terdapat jembatan jaringan dan dasar luka berbentuk garis atau titik.

38

Penjeratan adalah penekanan benda asing berupa tali, ikat pinggang, rantai, stagen, kawat, kabel, kaos kaki, dan sebagainya, melingkari atau mengikat leher yang makin lama makin kuat, sehingga saluran pernapasan tertutup2.

DAFTAR PUSTAKA

1. Idries AM, Tjiptomartono AL. Penerapan ilmu kedokteran forensik dalam proses penyidikan. Jakarta: Sangung Seto; 2008. 2. Arif Budianto, Wibisana Widiatmaka, Siswandi Sudiono, Winardi, Abdul Munim, Sidhi, et al. Ilmu kedokteran forensik. Jakarta: FKUI; 1997. 3. Peraturan perundang-undangan bidang kedokteran. Jakarta: FKUI; 1994. 4. Staf pengajar bagian kedokteran forensik FKUI. Tehnik autopsi forensik. Jakarta: FKUI; 2000.

39