Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN KASUS

KECELAKAAN LALU LINTAS


(TRAFFIC ACCIDENT)

Oleh:
Eka Lestari (1418011068)
Wahidatur Rohmah (1618012154)

Preseptor:
Dr. M Galih Irianto, Sp.F

ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL


RSUD Dr. Hi. ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
2018
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Kasus dengan judul “Kecelakaan
Lalu Lintas” sebagai rangkaian kegiatan Kepaniteraan Klinik di SMF Forensik
RSUD Dr. Abdoel Moeloek Bandar Lampung.

Dengan ketulusan hati penulis juga ingin menyampaikan rasa terima kasih dr. M.
Galih I, Sp.F selaku dosen pembimbing di bagian Forensik, atas semua bantuan dan
kesabarannya membimbing penulis sehingga penulis dapat menjalani kepaniteraan
klinik di bagian Forensik RSUD Dr. Abdoel Moeloek Bandar Lampung.

Penulis menyadari bahwa Laporan Kasus ini tentu tidak terlepas dari kekurangan
karena keterbatasan waktu, tenaga, dan pengetahuan penulis. Maka sangat diperlukan
masukan dan saran yang membangun. Semoga Laporan Kasus ini dapat memberikan
manfaat bagi kita semua.

Bandar Lampung, Mei 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI

Daftar Isi

BAB 1 Pendahuluan ..................................................................................................... 4

BAB 2 Ilustrasi Kasus .................................................................................................. 6

BAB 3 Tinjauan Pustaka ............................................................................................. 10

BAB 4 Pembahasan .................................................................................................... 17

BAB 5 Kesimpulan ..................................................................................................... 22

Lampiran

3
BAB 1
PENDAHULUAN

Semua bentuk transportasi (udara, air atau darat) memiliki risiko bahaya atau cedera
yang berkaitan dengan lingkungan tertentu yang berisiko terhadap jenis cedera.
Kecelakaan lalu lintas merupakan indikator utama tingkat keselamatan jalan raya. Di
negara maju masalah keselamatan jalan merupakan masalah yang sangat diperhatikan
guna mereduksi kuantitas kecelakaan yang terjadi. Hal ini menjadi indikator terhadap
pentingnya memahami karakteristik kecelakaan (Hidayati, 2016).

Kecelakaan lalu lintas di Indonesia oleh World Health Organisation (WHO) dinilai
menjadi pembunuh terbesar ketiga, di bawah penyakit jantung koroner dan
tubercolosis/TBC. World Health Organization mencatat 1,2 juta orang meninggal
setiap tahunnya dalam kecelakaan lalu lintas dan 50 juta orang korban kecelakaan
lalu lintas mengalami luka serius maupun catat tetap, umumnya yang tewas dalam
kecelakaan lalu intas berusia 15 sampai 44 tahun, dan 77% adalah laki-laki (WHO,
2013). Pada survei yang telah dilakukan di 18 negara, Indonesia merupakan negara
dengan urutan kelima dalam peringkat negara korban tewas terbanyak akibat
kecelakaan lalu lintas. Diatas Indonwsia, Negara-negara lain dengan jumlah korban
tewas kecelakaan lalu lintas adalah Cina, India, Nigeria, dan Brazil (WHO, 2013).

Di Indonesia, jumlah kecelakaan lalu lintas terus mengalami peningkatan. Pada tahun
2009 berjumlah 106.384. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Perhubungan
Darat dalam Qoriyah, pada tahun 2010 tercatat 109.319 kasus kecelakaan lalu lintas
dengan korban meninggal dunia 31.234 orang, luka berat 46.851 orang, dan luka
ringan 97.702 orang, Sedangkan pada tahun 2011, tercatat 109.776 kasus dengan
korban meninggal dunia 31.185 orang, luka berat 36.767 orang, dan luka ringan
108.811 orang. Data dari Markas Besar Polisi Republik Indonesia mulai dari Januari

4
hingga pertengahan Februari 2012, terjadi 9.884 kasus kecelakaan lalu lintas, dengan
korban meninggal dunia 1.547 orang, luka berat 2.562 orang, dan luka ringan 7.564
orang.

Jumlah kecelakaan lalu lintas di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahun.


Banyaknya angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia seiring dengan jumlah
kendaraan bermotor yang terus meningkat. Peningkatan jumlah kendaraan jenis
sepeda motor memiliki angka paling tinggi di antara jenis kendaraan bermotor
lainnya

5
BAB 2
ILUSTRASI KASUS

PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. H. ABDUL MOELOEK
Jl. Dr. Riva’i No. 06 Telp.0721-703312 Fax. 703952
BANDAR LAMPUNG

Nomor : Bandar Lampung, 11 Mei 2018


Lampiran :-
Perihal : Hasil Pemeriksaan Luar Atas Nama
Tri Widardo

PRO JUSTITIA

VISUM ET REPERTUM

Yang bertanda tangan di bawah ini, Laisa Muliati, dokter pada Rumah Sakit Umum
Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Propinsi Lampung. Atas permintaan tertulis
dari.........., Pangkat……………, NRP:……...., jabatan ………., atas nama Kepala Kepolisian
…………………… dengan surat pernyataan nomor :………………., sebelas mei dua ribu
delapan belas. Maka dengan ini menerangkan bahwa pada tanggal sebelas Mei dua
ribu delapan belas, jam tujuh belas lebih dua puluh menit waktu Indonesia barat,
bertempat di Ruang Bedah Jenazah Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul
Moeloek Provinsi Lampung, telah melakukan pemeriksaan terhadap jenazah, dengan
identitas yang menurut surat permintaan tersebut adalah :----------------------------------
Nama : Tri Widardo-----------------------------------------------------------
Umur : 25 tahun----------------------------------------------------------------
Jenis Kelamin : Laki-laki---------------------------------------------------------------
Pekerjaan : Tidak diketahui-------------------------------------------------------
Kewarganegaraan : Indonesia---------------------------------------------------------------

6
Agama : Islam--------------------------------------------------------------------
Alamat : Dusun 1 natar 2, Lampung Selatan---------------------------------

Hasil pemeriksaan : -----------------------------------------------------------------------------


Pemeriksaan Luar : -----------------------------------------------------------------------------
1. Label mayat :------------------------------------------------------------------------------
2. Tutup/bungkus mayat: Kain sepanduk berwarna putih bertuliskan “Polisi”:
berwarna biru dan karung plastik warna orange bertuliskan “maxi”------------------
3. Perhiasan mayat : Tidak ada----------------------------------------------------------------
4. Pakaian mayat : ------------------------------------------------------------------------------
 Kaos lengan pendek tidak berkerah, warna abu-abu di bagian tengah dan
hitam di bagian lengan bertuliskan “Maceleeth Footwear est 2002”.--------
 Celana pendek jeans selutut merk cardinal berlumuran darah, size no 73.-
5. Benda di samping mayat:-------------------------------------------------------------------
 Ban dalam berwarna hitam-------------------------------------------------------
6. Kaku mayat terdapat pada lengan kanan kiri mudah dilawan, tidak terdapat
lebam mayat----------------------------------------------------------------------------------
7. Mayat adalah mayat seorang laki-laki, bangsa Indonesia, umur dua puluh lima
tahun, kulit kuning langsat, gizi baik, panjang tubuh seratus lima puluh tujuh
sentimeter, zakar tidak dapat dinilai-------------------------------------------------------
8. Identitas khusus pasien : -------------------------------------------------------------------
9. Rambut berwarna hitam tumbuh lebat panjang sembilan sentimeter. Alis mata
berwarna hitam tumbuh tebal panjang nol koma tiga sentimeter. Bulu mata
berwarna hitam tumbuh lentik panjang nol koma tujuh sentimeter. Kumis
tercukur. Jenggot tercukur---------------------------------------------------------------
10. Mata kanan terbuka lima millimeter. Mata kiri terbuka tiga millimeter. Teleng
mata lima millimeter. Warna tirai mata coklat. Selaput bola mata jernih. Selaput
kelopak mata pucat------------------------------------------------------------------------
11. Hidung sedang, mulut tertutup, lidah tidak terjulur-------------------------------------
12. Gigi geligi: gigi keenam kiri atas hilang--------------------------------------------------

7
13. Dari lubang mulut keluar darah. Dari lubang kemaluan tidak dapat dinilai---------
14. Luka-luka: ------------------------------------------------------------------------------------
 Pada dahi sisi kiri, lima sentimeter dari garis pertengahan depan dan
empat sentimeter di atas ujung alis terdapat luka lecet berukuran satu kali
satu sentimeter--------------------------------------------------------------------
 Pada leher sisi depan, tiga belas sentimeter dari garis pertengahan depan
dan lima sentimeter di bawah dagu terdapat luka lecet berukuran delapan
kali enam sentimeter--------------------------------------------------------------
 Pada pelipis kanan, sebelas sentimeter dari garis pertengahan depan dan
lima belas sentimeter di atas puncak bahu terdapat luka lecet berukuran
enam kali tiga sentimeter----------------------------------------------------------
 Pada lengan kanan bawah bagian depan, satu sentimeter dari garis tengah
tangan dan tiga sentimeter di bawah lipat siku terdapat luka lecet
berukuran dua kali dua puluh lima sentimeter----------------------------------
 Pada leher sisi depan, delapan sentimeter di bawah dagu dan tepat di garis
pertengahan depan terdapat luka lecet yang melingkar ke leher sisi kiri
belakang dengan ukuran empat belas kali empat sentimeter------------------
 Pada dada sisi kanan, dua sentimeter dari garis pertengahan depan dan
sembilan sentimeter di bawah puncak bahu terdapat luka lecet disertai
memar berukuran tujuh belas kali tujuh sentimeter----------------------------
 Pada perut, tiga belas sentimeter dari garis pertengahan depan dan lima
puluh enam sentimeter di bawah puncak bahu terdapat luka terbuka
mengelilingi perut memutar ke belakang sampai perut kanan bawah.
Organ dalam rongga perut tumpah berhamburan-------------------------------
 Pada lutut kanan, terdapat luka terbuka dan kulit terlepas sampai
pergelangan kaki kanan------------------------------------------------------------
 Pada pinggul kiri terdapat luka terbuka mengelilingi paha (pinggul kiri
terlepas)----------------------------------------------------------------------------
15 Patah tulang:--------------------------------------------------------------------------------

8
 Pada tulang selangka kanan terdapat patah tulang------------------------------
 Pada tulang panggul terdapat patah tulang------------------------------------

KESIMPULAN:Telah diperiksa jenazah laki-laki usia dua puluh lima tahun dengan
panjang badan seratus lima puluh tujuh sentimeter, pada jenazah ditemukan kaku
mayat. Terdapat luka lecet pada dahi sisi kiri, pelipis kanan, lengah kanan bawah
bagian depan, leher sisi depan, dada sisi kanan. Luka memar pada dada sisi kanan.
Luka terbuka terdapat pada perut, pinggul kiri, dan lutut kanan. Patah tulang terdapat
pada tulang selangka kanan dan tulang panggul. Dari gambaran tersebut termasuk ke
dalam kekerasan tumpul----------------------------------------------------------------------

Dokter tersebut diatas

dr. Laisa Muliati


NIP. 1971 0220 200212 2 006

9
BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Kecelakaan Lalu Lintas


A. Definisi
Berdasarkan UU RI No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan, kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan raya tidak diduga
dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan
lain yang mengakibatkan korban manusia dan kerugian harta benda.
Berdasarkan UU tersebut tentang LLAJ (Lalu lintas dan Angkutan Jalan)
pasal 229, kecelakaan Lalu Lintas digolongkan atas: ringan, sedang dan berat.

B. Faktor Penyebab Kecelakaan


Faktor penyebab kecelakaan lalu lintas dikelompokkan menjadi tiga
kelompok (Hobbs 1979 dalam Azizirrahman 2015).
1. Faktor manusia: pejalan kaki, penumpang sampai pengemudi. Faktor
manusia ini menyangkut masalah disiplin berlalu lintas.
a. Faktor pengemudi: dianggap sebagai salah satu faktor utama yang
menentukan KLL. Faktor pengemudi ditemukan memberikan
kontribusi 75-80% terhadap KLL. Faktor manusia yang berada di
belakang kemudi ini memegang peranan penting.
b. Faktor penumpang. Misalnya jumlah muatan (baik penumpangnya
maupun barangnya) yang berlebih. Secara psikologis ada juga
kemungkinan penumpang menggangu pengemudi.
c. Faktor pemakai jalanan. Pemakai jalan di Indonesia bukan saja terdiri
dari kendaraan. Di sana ada pejalan kaki atau pengendara sepeda.
Selain itu, jalan raya dapat menjadi tempat numpang pedagang kaki
lima, peminta-minta dan semacamnya. Hal ini membuat samakin
semrawutnya keadaan di jalanan. Jalan umum juga dipakai sebagai

10
sarana perparkiran. Tidak jarang terjadi, mobil terparkir mendapat
tabrakan.
2. Faktor Kendaraan
Jenis-jenis kendaraan: Jalan raya penuh dengan berbagai jenis kendaraan,
berupa:
a. kendaraan tidak bermotor: sepeda, becak, gerobak, bendi/delman.
b. Kendaraan bermotor: sepeda motor, roda tiga/bemo, oplet, sedan, bus,
truk gandengan. Di antara jenis kendaraan, KLL paling sering terjadi
pada kendaraan sepeda motor.
3. Faktor jalanan: keadaan fisik jalanan, rambu-rambu jalanan.
a. kebaikan jalan: antara lain dilihat dari ketersediaan rambu-rambu lalu
lintas.
b. Sarana jalanan:
- Panjang jalan yang tersedia dengan jumlah kendaraan yang tumpah di
atasnya. Di kota-kota besar tampak kemacetan terjadi dimana-mana,
memancing terjadinya kecelakaan. Dan sebaliknya, jalan raya yang
mulus memancing pengemudi untuk ‘balap’, juga memancing
kecelakaan.
- Keadaan fisik jalanan: pengerjaan jalanan atau jalan yang fisiknya
kurang memadai, misalnya lubang-lubang dapat menjadi pemicu
terjadinya kecelakaan.
- Keadaan jalan yang berkaitan dengan kemungkinan KLL berupa:
- struktur: datar/mendaki.menurun; lurus/berkelok-kelok/
- kondisi: baik/berlubang-lubang.
- Luas: lorong, jalan tol
- Status: jalan desa, jalan provinsi negara.
4. Faktor lingkungan: cuaca, geografik: Dapat diduga bahwa dengan adanya
kabut, hujan, jalan licin akan membawa risiko KLL.

11
C. Klasifikasi Kecelakaan Lalu Lintas
Seseorang yang terluka akibat tabrakan lalu lintas dapat dibagi menjadi 3
kelompok yaitu pejalan kaki, pengendara sepeda (pedal atau motor) dan
pengemudi atau penumpang kendaraan. Dari ketiga kelompok besar ini,
pejalan kaki merupakan yang paling sering terjadi.
1. Transportasi pribadi atau cedera lalu lintas
a. Pejalan Kaki
Pejalan kaki yang mengalami luka akibat tersambar kendaraan
bermotor dapat terjadi secara langsung yaitu kontak dengan kendaraan
utama atau dengan objek lain seperti tanah dan sebagainya setelah
terjadinya kontak dengan kendaraan utama. Cedera utama (primer)
sering dapat membentuk pola yang dapat dikenali meskipun berbagai
faktor dapat mengubah kontelasi cedera. Ketika seorang dewasa
tertabrak bagian depan mobil misalnya bagian bumper depan (spatbor)
biasanya menyerang korban sekitar setinggi lutut. Namun, titik kontak
yang pasti, apakah di depan, samping atau belakang kaki, akan
bergantung pada orientasi korban, sifat dari bagian depan mobil, dan
apakah ia secara aktif mengerem di waktu terjadinya dampak.

Gambar 1. Seorang pejalan kaki yang tersambar mobil bagian depan


(Cedera bumper) yaitu fraktur kompleks di kaki kanan dan laserasi
pada kaki kiri.

12
Cedera sekunder biasanya lebih serius dan berpotensi mematikan
dibanding cedera primer, Cedera sekunder dapat bervariasi dari luka
memar akibat tergelincir di permukaan jalan, hingga fraktur
tengkorak atau rangka aksial yang disebabkan oleh kontak langsung
dengan permukaan keras.

Mekanisme cidera memegang peranan yang sangat besar dalam


menentukan berat ringannya konsekuensi patofisiologi dari trauma
kepala. Cidera percepatan (aselerasi) terjadi jika benda yang sedang
bergerak membentur kepala yang diam, seperti trauma akibat pukulan
benda tumpul, atau karena kena lemparan benda tumpul. Cidera
perlambatan (deselerasi) adalah bila kepala membentur objek yang
secara relative tidak bergerak seperti badan mobil atau tanah. Kedua
kekuatan ini mungkin terjadi secara tiba-tiba tanpa kontak langsung,
seperti yang terjadi bila posisi badan diubah secara kasar dan cepat.
Trauma adalah penyebab kematian utama pada manusia antara usia 1
dan 44 tahun. Bagaimana pun kerugian akibat trauma dalam hal
kehilangan kesempatan hidup produktif, melebihi kerugian yang
ditimbulkan oleh kanker dan penyakit kardiovaskular. Sebagai
penyebab utama kematian dan kecatatan, trauma telah menjadi
masalah kesehatan dan sosial yang signifikan.

b. Trauma pengendara motor dan sepeda


Sebagian besar cedera pengendara sepeda motor terjadi akibat
terjatuh dari kendaraan ke jalan raya. berbagai cedera dapat dicegah
dengan menggunakan pakaian pelindung yang sesuai dan helm
berstandar. Abrasi umumnya disebabkan oleh kontak dengan
permukaan jalan setelah terjadinya kecelakaan, cedera pada anggota

13
badan seperti dada dan tulang belakang sangat umum terjadi yang
disebabkan kontak dengan objek atau kendaraan lain.

Gambar 2. Abrasi pada pinggang kiri

Meskipun sudah diwajibkan untuk memakai helm berstandar cedera


kepala merupakan penyebab umum morbiditas dan mortalitas. cedera
“tail-gating” dimana pengendara motor dibawah truk sehingga
mengakibatkan cedera kepala bahkan terputusnya kepala. Cedera ini
telah dikurangi dengan kehadiran bar di sisi samping truk yang
bertujuan untuk mencegah sepeda motor atau mobil masuk ke bawah
truk. Cedera-cedra yang terjadi dapat diakibatkan oleh jatuhnya
pengendara dari posisi berkendara yang relatif tinggi atau karena
mesin yang tidak stabil.

c. Pengendara Mobil
Sebagian besar dampak melibatkan bagian depan, sudut depan,
kendaraan lain dan objek stasioner. Saat ini banyak negara yang
memiliki undang-undang tentang persyaratan untuk mengenakan
sabuk pengaman baik pada bagian depan atau belakang. tingkat

14
cedera yang dialami oleh penghuni kendaraan sangat bergantung
pada kecepatan kendaraan pada saat terjadi tabrakan, sifat deformasi
dan struktur bagian kendaraan yang terkena dampak oleh
penumpang. Penumpang jok bagian belakang yang tidak terkendali
juga rentan terhadap cedera baik melalui deselerasi atau akselerasi.
Cedera umumnya tidak separah penghuni kursi depan. Dampak
deselerasi, penumpang belakang akan terlempar pada kursi depan
yang dapat berdampak pada kursi depan kemudian diproyeksikan
memukul kaca depan atau bahkan terlempar keluar kaca depan.
Sabuk pengaman telah mengurangi jumlah dan keparahan cedera
pada pengendara mobil. Selain sabuk pengaman airbag atau kantong
udara pada bagian depan dapat membantu melindungi semua
penghuni mobil setelah tabrakan dengan metode penghambatan.

Gambar 3. Cedera wajah akibat kaca depan yang pecah

2. Cedera Kereta Api


Cedera kereta api merupakan cedera yang umum terjadi seperti pada
negara Cina. Sebagian besar kematian atau cedera pada tejadi pada
individu akibat kecelakaan atau bunuh diri dibanding dengan cedera
masal misalnya akibat tergelincirnya kereta api.

15
3. Korban Jiwa Pesawat
Ketika sebuah pesawat menghantam tanah, hasilnya akan tergantung pada
kecepatan transfer dari kekuatan, dan ini tergantung pada kecepatan
pesawat dan sudut benturan. Jika kekuatannya sangat parah, semua
penumpang dapat terbunuh oleh cedera deselerasi dan karena trauma
ganda karena kehilangan integritas dari badan pesawat.
4. Korban Jiwa Laut
Kemungkinan mati di lingkungan laut meningkat dengan tidak memakai
alat pengaman yang tepat. Cedera fisik yang umumnya meraka derita
adalah trauma langsung misalnya patah tulang badan, patah tulang
tengkorak.

Korban kecelakaan lalu lintas dapat berupa:

o korban mati, adalah korban yang dipastikan mati sebagai akibat


kecelakaan lalu lintas dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh)
hari setelah kecelakaan tersebut.
o korban luka berat, adalah korban yang karena luka-lukanya menderita
cacat tetap atau harus dirawat dalam jangka waktu lebih dari 30 (tiga
puluh) hari sejak terjadi kecelakaan.
o korban luka ringan, adalah korban yang tidak termasuk dalam
pengertian korban mati dan korban luka berat.

Orang yang mengalami cidera berat harus dikaji dengan cepat dan efisien. Kriteria
protokol untuk memudahkan pengkajian awal, intervensi, dan triage untuk korban
trauma telah dikembangkan oleh American College of Surgeons, Committee on
Trauma.

 Prarumah Sakit

16
Penatalaksanaan awal sering kali menentukan hasil akhir. Fase ini dimulai
pada tempat kecelakaan dengan pengkajian cepat terhadap cidera-cidera yang
mengancam keselamatan jiwa.
 Rumah sakit
Pengkajian dan perawatan yang dilakukan setibanya di rumah sakit dibagi
dalam empat fase: evaluasi primer, resusitasi, pengkajian sekunder, dan
perawatan definitive. Evaluasi primer mengkaji masalah-masalah jalan napas,
pernapasan, dan sirkulasi, dan menentukan kemungkinan ancaman terhadap
jiwa dan anggota badan. Informasi tentang menkanisme terjadinya cidera dan
gambaran tentang keadaan kecelakaan (seperti stang roda mobil yang
bengkok) akan memberikan petunjuk tentang kemungkinan terjadinya cidera
serius. Pengkajian sekunder dilakukan apabila kondisi pasien sudah berhasil
distabilkan. Pada fase ini riwayat kesehatan yang lengkap, termasuk tentang
mekanisme terjadinya cidera, harus diperoleh dan pemeriksaan fisik secara
menyeluruh harus dilakukan. Informasi tentang pola atau mekanisme
terjadinya cidera sering kali akan sangat membantu dalam mendiagnosa
kemungkinan gangguan yang diakibatkan. Trauma tumpul terjadi pada
kecelakaan kendaraan bermotor (KKB) dan jatuh, sedangkan trauma tusuk
(penetrasi) sering kali diakibatkan oleh luka tembak, atau luka tikam.

Umumnya makin besar kecepatan yang terlibat di dalam suatu kecelakaan, akan
makin besar cidera yang terjadi (misalnya KKB kecepatan tinggi). Pada kecelakaan
kendaraan mobil, badan kendaraan memberikan sebagian perlindungan dan menyerap
energi dari hasil benturan tabrakan. Pengendara atau penumpang yang tidak
menggunakan sabuk pengaman, bagaimana pun akan terlempar dari mobil dan
dampaknya mendapatkan cidera tambahan. Pengendara sepeda motor mempunyai
perlindungan yang minimal dan seringkali akan menderita cidera yang parah apabila
terlempar dari motor. Perlambatan yang cepat selama KKB atau jatuh dapat
menyebabkan kekuatan yang terputus yang dapat merobek struktur tertentu. Organ-

17
organ yang berdenyut seperti jantung dapat terlepas dari pembuluh besar yang
menahannya. Demikian juga organ-organ abdomen (limpa, ginjal, usus) akan terlepas
dari mesenteri. Tipe kedua trauma tumpul termasuk kompresi yang disebabkan oleh
kekuatan tabrakan berat. Pada kasus demikian, jantung dapat terhimpit di antara
sternum dan tulang belakang. Hepar, limpa, dan pankreas juga sering tertekan
terhadap tulang belakang. Cidera karena benturan seringkali menyebabkan kerusakan
internal dengan sedikit tanda-tanda trauma eksternal.

Tipe kerusakan pada kendaraan seringkali memberikan petunjuk-petunjuk cidera


spesifik yang diderita pada KKB. Stir atau kemudi kendaraan yang bengkok atau
rusak memperbesar dugaan akan kemungkinan cidera pada dada, iga, jantung, trakea,
tulang belakang atau abdomen. Trauma kepala dan wajah, cidera tulang belakang
servikal, dan cidera trakeal sering berkaitan dengan kerusakan pada kaca depan mobil
atau dashboard. Benturan lateral dapat menyebabkan patah iga, luka dada penetrasi
akibat pegangan pintu atau jendela, cidera limpa atau hepar, dan fraktur pelvis.

Pengemudi yaitu orang yang mengemudikan kendaraan sepeda motor. Pengemudi


yang baik adalah pengemudi yang defensive (bertahan), dibandingkan offensive
(menyerang), merupakan orang yang sudah mengembangkan kemampuan dasar
mengemudi, kebiasaan mengemudi, kondisi yang tepat, dan penilaian suara yang
baik. Terakhir, kesehatan mental dan jasmani. Di luar itu, sebuah sikap tanggung
jawab dan kehati-hatian merupakan hal yang paling penting. Sikap kehati-hatian,
pengemudi yang defensive tidak pernah menganggap bahwa orang lain, baik pejalan
kaki maupun pengemudi, akan melakukan hal yang tepat atau mengambil tindakan
pencegahan yang aman dan tepat. Batas keselamatan harus dijaga dan pemberian
kelonggaran dibuat untuk kebodohan, keegoisan, atau mengemudi yang tidak teratur
pada pihak lain yang mungkin terjadi, sama untuk kondisi lawan pengemudi seperti
jalan yang licin. Kecelakaan banyak terjadi pada umur 15 hingga 24 tahun dibanding
yang lain. Pengemudi yang paling aman adalah orang berumur 65 hingga 74 tahun.
Kesehatan orang muda baik, koordinasi yang sempurna, dan pikiran yang hebat.

18
Berdasarkan National Safety Council, kecepatan yang tinggi merupakan pelanggaran
yang sering terjadi dalam mengemudi (dan yang paling tinggi pada umur 15 hingga
24 tahun), dan pelanggaran kecepatan ini 87% lebih tinggi pada area pedesaan
dibandingkan perkotaan. Dengan jelas, peringatan kecepatan tidak dipedulikan,
khususnya pada malam hari. Banyak orang mengalami ledakan pada saat kecepatan
tinggi setelah melewati area yang padat sebagai pembalasan untuk kehilangan waktu.
Kecepatan lain yang berbahaya ialah melewati kendaraan-kendaraan lain.
Kemungkinan terjadi kematian pada pengemudi meningkat searah dengan kecepatan
yang tinggi.

Menariknya, tahun 1974, ketika ada mandat untuk batas kecepatan 55 mil per jam
memberikan efek kepada Negara yakni kematian tahunan menurun. Mengemudi
ketika lelah atau kantuk dapat menjadi sumber bahaya bagi pengemudi di bawah
pengaruh obat. Pengemudi yang bijak akan mengambil di sisi jalan dan beristrirahat
hingga dapat terjaga. Setiap orang yang di bawah ketegangan emosi seharusnya tidak
mengemudi. Jika seseorang mempunyai penglihatan yang buruk harus menggunakan
lensa yang baik, atau jika perlu mengemudi harus dibatasi. Mengemudi seharusnya
diberikan pada orang lain jika orang tersebut mempunyai kelainan medis sementara,
seperti demam, bersin. Orangtua seharusnya mendiskusikan kepada dokter tentang
masalah mengemudi, sama juga dengan orang yang mengalami penyakit kronis.
Sumber bahaya lainnya termasuk melakukan pembicaraan, khususnya dengan
penumpang, ingin tampil (menyombongkan diri), menarik perhatian di jalan,
menyetir rapat, mendengarkan radio atau musik terlalu asik, mengemudi dengan tidak
menentu atau teratur. Mengemudi merupakan pekerjaan yang membutuhkan waktu
yang penuh, serius, dan bertanggung jawab. Tidak ada waktu untuk tidak
memperhatikan.

Kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan korban meninggal dunia termasuk


kecelakaan lalu lintas berat (Pasal 229 ayat [4] UU LLAJ). Bagi pengemudi yang

19
terlibat dalam kecelakaan lalu lintas memiliki kewajiban (Pasal 231 ayat [1] UU
LLAJ):
a. menghentikan Kendaraan yang dikemudikannya;
b. memberikan pertolongan kepada korban;
c. melaporkan kecelakaan kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia terdekat;
dan
d. memberikan keterangan yang terkait dengan kejadian kecelakaan.

Setiap pengemudi yang karena kelalaiannya mengakibatkan kecelakaan lalu lintas


wajib bertanggung jawab atas kerugian yang diderita korban, akan tetapi tanggung
jawab ini tidak berlaku apabila (Pasal 234 ayat [3] UULLAJ):

a. adanya keadaan memaksa yang tidak dapat dielakkan atau di luar kemampuan
Pengemudi;
b. disebabkan oleh perilaku korban sendiri atau pihak ketiga; dan/ atau
c. disebabkan gerakan orang dan/ atau hewan walaupun telah diambil tindakan
pencegahan

Bagaimana jika pengemudi telah bertanggung jawab dan telah terjadi perdamaian
dengan keluarga korban, apakah polisi tetap berhak melakukan penyidikan?
Mengenai hal ini kita perlu melihat ketentuan Pasal 235 ayat (1) UU LLAJ yang
berbunyi:

“Jika korban meninggal dunia akibat Kecelakaan Lalu Lintas sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 229 ayat (1) huruf c, Pengemudi, pemilik, dan/atau
Perusahaan Angkutan Umum wajib memberikan bantuan kepada ahli waris
korban berupa biaya pengobatan dan/atau biaya pemakaman dengan tidak
menggugurkan tuntutan perkara pidana.”

20
Berdasarkan ketentuan di atas, dapat diketahui bahwa walaupun pengemudi telah
bertanggung jawab atas kematian korban, tuntutan pidana terhadap dirinya tidak
menjadi hilang. Oleh karena itu, kepolisian tetap melakukan penyidikan sesuai
hukum acara pidana sesuai peraturan perundang-undangan (Pasal 230 UU LLAJ).

Ancaman sanksi pidana untuk pengemudi kendaraan bermotor penyebab kecelakaan


lalu lintas yang mengakibatkan korban meninggal dunia adalah pidana penjara paling
lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak Rp12.000.000 (Pasal 310 ayat [4] UU
LLAJ).

Walaupun pelaku telah bertanggung jawab serta adanya perdamaian dengan keluarga
korban tidak menghapuskan tuntutan pidana seperti yang terdapat pada Putusan MA
No. 1187 K/Pid/2011. Bahkan dalam Putusan MA No. 2174 K/Pid/2009, terdakwa
tetap dikenakan hukuman walaupun telah ada perdamaian dan terdakwa sendiri juga
mengalami luka (retak tulang tangan kiri dan tak sadarkan diri) dalam kecelakaan
tersebut.

Kendati demikian, pelaku tetap perlu mengusahakan perdamaian dengan keluarga


korban karena hal itu dapat dipertimbangkan hakim untuk meringankan hukumannya.
Sebaliknya, tidak adanya perdamaian antara pelaku dengan keluarga korban bisa
menjadi hal yang memberatkan pelaku. Sebagai contoh, dalam Putusan MA No. 403
K/Pid/2011 antara pelaku dan keluarga korban tidak tercapai perdamaian, serta
dalam Putusan MA No. 553 K/ Pid/2012 pelaku tidak memiliki iktikad baik untuk
melakukan perdamaian kepada keluarga korban, sehingga menurut majelis hakim
tidak adanya perdamaian dijadikan sebagai pertimbangan yang memberatkan
kesalahan terdakwa.

21
BAB 4
PEMBAHASAN

4.1 Pembahasan
Pada tanggal 11 Mei 2018, Pukul 17.20 WIB, bertempat di Ruang Bedah
Jenazah Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi
Lampung, telah melakukan pemeriksaan terhadap jenazah bernama Tri
Widardo usia 25 tahun. Jenazah merupakan korban kecelakaan lalu lintas
yang menggunakan sepeda motor, berdasarkan informasi kronologi yang
didapat dari polisi korban terlindas sebuah tronton pada pukul 14.00 WIB
setelah sebelumnya mencoba menyalip tronton tersebut namun tidak
berhasil dan akhirnya terlindas.

Prosedur medikolegal pada kasus ini belum memenuhi persyaratan


dikarenakan tidak adanya surat permintaan visum tertulis dari kepolisian.
Hal ini tidak sesuai dengan pasal 133 ayat 1 dan 2 KUHAP yang
menyatakan bahwa dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan
menangani seorang korban baik luka, keracunan atau mati yang diduga
karena peristiwa tindak pidana. Ia berwenang mengajukan permintaan
keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau
ahli lainnya. Permintaan tersebut dilakukan secara tertulis yang dalam
surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. Sama sekali tidak
dibenarkan tindakan pemeriksaan visum tanpa adanya surat tertulis
permintaan visum et repertum atas korban.

Permintaan surat keterangan pemeriksaan jenazah dilakukan atas dasar


adanya laporan pada pihak kepolisian setempat dimana hal ini sesuai

22
dengan UU No. 14 tahun 1992 tentang lalulintas dan angkutan jalan pasal
27 ayat (1) huruf c: “Bila terjadi peristiwa kecelakaan lalu lintas maka
pengemudi kendaraan bermotor yang terlibat dalam peristiwa kecelakaan
lalu lintas, wajib melaporkan kecelakaan tersebut kepada pejabat polisi
negara Republik Indonesia terdekat.”. Ketentuan hukum yang berlaku
pada kasus kecelakaan lalu lintas dengan korban meninggal ini menurut
UU No. 14 tahun 1992 tentang lalu lintas dan angkutan jalan,
terdapat pada pasal 31 ayat (1), yaitu: “Apabila korban meninggal,
pengemudi dan/atau pemilik dan/atau pengusaha angkutan umum wajib
memberi bantuan kepada ahli waris dari korban berupa biaya pengobatan
dan/atau biaya pemakaman.”. Sedangkan menurut KUHP, ketentuan
pidana tentang hal yang menyebabkan mati atau luka akibat kealpaan
terdapat dalam pasal 359: “Barangsiapa karena kesalahan (kealpaannya)
menyebabkan orang lain meninggal, diancam dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahunatau pidana kurungan paling lama 1 (satu)
tahun.”

Hasil pemeriksaan luar jenazah didapatkan panjang badan seratus lima


puluh tujuh sentimeter, pada jenazah ditemukan kaku mayat. Terdapat
luka lecet pada dahi sisi kiri, pelipis kanan, lengah kanan bawah bagian
depan, leher sisi depan, dada sisi kanan. Luka memar pada dada sisi
kanan. Luka terbuka terdapat pada perut, pinggul kiri, dan lutut kanan.
Pada perut, tiga belas sentimeter dari garis pertengahan depan dan lima
puluh enam sentimeter di bawah puncak bahu terdapat luka terbuka
mengelilingi perut memutar ke belakang sampai perut kanan bawah.
Organ dalam rongga perut tumpah berhamburan. Pada lutut kanan,
terdapat luka terbuka dan kulit terlepas sampai pergelangan kaki kanan.
Patah tulang terdapat pada tulang selangka kanan dan tulang panggul.
Melihat pola dan sifat luka, maka hal ini sesuai dengan kekerasan tumpul.

23
Kaku mayat yang diperoleh pada pemeriksaan yakni kelenturan otot
setelah kematian masih dipertahankan karena metabolisme tingkat seluler
masih berjalan berupa pemecahan cadangan glikogen otot yang
menghasilkan energi. Energi ini digunakan untuk mengubah ADP
menjadi ATP. Selama masih terdapat ATP maka serabut aktin dan miosin
tetap lentur. Bila cadangan glikogen dalam otot habis, maka energi tidak
terbentuk lagi, aktin dan miosin menggumpal dan otot menjadi kaku.
Kaku mayat dibuktikan dengan memeriksa persendian. Kaku mayat mulai
tampak kira-kira 2 jam setelah mati klinis, dimulai dari bagian luar tubuh
(otot-otot kecil) ke arah dalam (sentripetal). Teori lama menyebutkan
bahwa kaku mayat ini menjalar kraniokaudal. Setelah mati klinis 12 jam
kaku mayat menjadi lengkap,dipertahankan selama 12 jam dan kemudian
menghilang dalam urutan yang sama.

Luka Terbuka atau Luka Robek Luka terbuka adalah luka yang
disebabkan karena adanya persentuhan dengan benda tumpul dengan
kekuatan yang mampu merobek seluruh lapisan kulit dan jaringan
dibawahnya. Ciri-ciri dari luka terbuka adalah bentuk luka tidak
beraturan, tepi atau dinding luka tidak rata, tebing luka tidak rata, bila
ditautkan tidak merapat karena terdapat jembatan-jembatan jaringan yang
menghubungkan kedua tepi luka, akar rambut tampak hancur
atau tercabut, disekitar luka robek sering tampak adanya luka lecet atau
luka memar.

Sebagian besar cedera pengendara sepeda motor terjadi akibat terjatuh


dari kendaraan ke jalan raya. berbagai cedera dapat dicegah dengan
menggunakan pakaian pelindung yang sesuai dan helm berstandar. Abrasi
umumnya disebabkan oleh kontak dengan permukaan jalan setelah
terjadinya kecelakaan, cedera pada anggota badan seperti dada dan tulang
belakang sangat umum terjadi yang disebabkan kontak dengan objek atau

24
kendaraan lain. Cedera “tail-gating” dimana pengendara motor dibawah
truk sehingga mengakibatkan cedera kepala bahkan terputusnya kepala.
Cedera ini telah dikurangi dengan kehadiran bar di sisi samping truk yang
bertujuan untuk mencegah sepeda motor atau mobil masuk ke bawah
truk. Cedera-cedera yang terjadi dapat diakibatkan oleh jatuhnya
pengendara dari posisi berkendara yang relatif tinggi atau karena mesin
yang tidak stabil.

Faktor yang mempengaruhi kecelakaan:


 Faktor manusia: faktor manusia merupakan faktor yang paling dominan
dalam kecelakaan. Hampir semua kejadian kecelakaan didahului dengan
pelanggaran rambu-rambu lalu lintas. Pelanggaran dapat terjadi karena sengaja
melanggar, ketidaktahuan terhadap arti aturan yang berlaku ataupun
tidak melihat ketentuan yang diberlakukan atau pula pura-pura tidak tahu.
 Faktor kendaraan: faktor kendaraan yang paling sering terjadi adalah ban
pecah, rem tidak berfungsi sebagaimana seharusnya, kelelahan logam yang
mengakibatkan bagian kendaraan patah,peralatan yang sudah aus tidak diganti
dan berbagai penyebab lainnya. Keseluruhan faktor kendaraan sangat terkait
dengan teknologi yang digunakan, perawatan yang dilakukan terhadap
kendaraan.
 Faktor jalan: faktor jalan terkait dengan kecepatan rencana jalan, geometrik
jalan, pagar pengaman didaerah pegunungan, ada tidaknya median jalan, jarak
pandang dan kondisi permukaan jalan. Jalan yang rusak/berlobang sangat
membahayakan pemakai jalan terutama bagi pemakai sepedamotor.

Selama mengemudikan kendaraan di jalan, setiap pengemudi kendaraan bermotor


memiliki kewajiban seperti dalam pasal 23 ayat (1) UU No.14 Tahun 1992 tentang
Lalu Lintas dan Angkutan Jalan berikut: (1) Pengemudi kendaraan bermotor pada
waktu mengemudikan kendaraan bermotor di jalan,wajib : a. Mampu
mengemudikan kendaraannya dengan wajar; b. Mengutamakan keselamatan pejalan

25
kaki; c. Menunjukkan surat tanda bukti pendaftaran kendaraan bermotor, atau surat
tanda coba kendaraan bermotor, surat izin mengemudi, dan tanda bukti lulus uji; d.
Mematuhi ketentuan tentang kelas jalan, rambu-rambu dan marka jalan, alat pemberi
isyarat lalu lintas, waktu kerja dan waktu istirahat pengemudi, gerakan lalu lintas,
berhenti dan parkir, persyaratan teknis dan laik jalan kendaraan bermotor, pengguna
kendaraan bermotor, peringatan dengan bunyi dan sinar, kecepatan maksimum dan
atau minimum. Menurut pasal 27 ayat (1) bila terjadi peristiwa kecelakaan lalu lintas
maka pengemudikendaraan bermotor yang terlibat dalam peristiwa kecelakaan lalu
lintas,wajib: a. menghentikan kendaraan; b. menolong orang yang menjadi korban
kecelakaan; c. melaporkan kecelakaan tersebut kepada pejabat polisi negara Republik
Indonesiaterdekat.

Sanksi pada pelanggaran pasal 27 ayat (1) terdapat pada pasal 63:
“Barangsiapa terlibat peristiwa kecelakaan lalu lintas pada waktu mengemudikan
kendaraan bermotor di jalan dan tidak menghentikan kendaraannya, tidak menolong
orang yang menjadi korban kecelakaan dan tidak melaporkan kecelakaan tersebut
kepada pejabat polisi negara Republik Indonesia terdekat,sebagaimana diatur dalam
pasal 27 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau
denda setinggi-tingginya Rp 6.000.000,- (enam juta rupiah)” Bila jatuh korban
pada kecelakaan lalu lintas maka hal tersebut diatur dalam pasal 31sebagai berikut: (1)
Apabila korban meninggal, pengemudi dan/atau pemilik dan/atau pengusaha
angkutanumum wajib memberi bantuan kepada ahli waris dari korban berupa biaya
pengobatandan/atau biaya pemakaman. (2) Apabila terjadi cedera terhadap badan
atau kesehatan korban, bantuan yang diberikankepada korban berupa biaya
pengobatan.

26
BAB 5
KESIMPULAN

Kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan raya tidak diduga
dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pengguna
jalan lain yang mengakibatkan korban manusia dan kerugian harta benda.
Faktor yang dapat memengaruhi kecelakaan berupa faktor manusia,
kendaraan, jalan dan lingkungan.

Hasil pemeriksaan luar jenazah didapatkan kaku mayat. Terdapat luka


lecet pada dahi sisi kiri, pelipis kanan, lengah kanan bawah bagian depan,
leher sisi depan, dada sisi kanan. Luka memar pada dada sisi kanan. Luka
terbuka terdapat pada perut, pinggul kiri, dan lutut kanan. Pada perut, tiga
belas sentimeter dari garis pertengahan depan dan lima puluh enam
sentimeter di bawah puncak bahu terdapat luka terbuka mengelilingi perut
memutar ke belakang sampai perut kanan bawah. Organ dalam rongga
perut tumpah berhamburan. Pada lutut kanan, terdapat luka terbuka dan
kulit terlepas sampai pergelangan kaki kanan. Patah tulang terdapat pada
tulang selangka kanan dan tulang panggul. Melihat pola dan sifat luka,
maka hal ini sesuai dengan kekerasan tumpul.

27
DAFTAR PUSTAKA

Angela A,Thomuka C, Siwu J. 2013. Pola luka pada kasus kecelakaan


lalu lintas di BLU RSU Prof DR. RD Kandou Manado Periode
2010-2011. Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi,
Manado

Azzizirrahman M, Normelani E, Arisanty D. 2015. Faktor penyebab


terjadinya kecelakaan lalu lintas pada daerah rawan kecelakaan di
kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin. JPG. 2(3): 20-
37

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes.2013. Riset


Kesehatan Dasar 2013. Jakarta : Kemenkes

Hidayati A, Hendrati LY. 2016. Analisis risiko kecelakaan lalu lintas


berdasar pengetahuan, penggunaan jalur, dan kecepatan berkendara.
Jurnal Berkala Epidemiologi. 4(2): 275-287.

Payne-James J, Jones R, Karch SB, Manlove J. 2011. Simpson’s Forensic


Medicine 13th edition.

Riandini IL, Susanti R, Yanis A. 2015. Gambaran luka korban


kecelakaan lalu lintas yang dilakukan pemeriksaan di RSUP Dr. M
Djamil Padang. Jurnal Kesehatan Andalas. 4(2): 1-7

World Health Organization. 2013. Global status report on road safety.


Diakses Mei 2018.

28
LAMPIRAN

29
30
31