Anda di halaman 1dari 8

RESTORASI LAHAN BEKAS TAMBANG BERDASARKAN KAIDAH EKOLOGI

RAHMAWATY, S. Hut., MSi.


Fakultas Pertanian
Program Ilmu Kehutanan
Universitas Sumatera Utara

PENDAHULUAN
Pembangunan berwawasan lingkungan menjadi suatu kebutuhan penting bagi
setiap bangsa dan negara yang menginginkan kelestarian sumberdaya alam. Oleh
sebab itu, sumberdaya alam perlu dijaga dan dipertahankan untuk kelangsungan
hidup manusia kini, maupun untuk generasi yang akan datang.
Manusia merupakan posisi kunci penyebab utama terjadinya kerusakan
lingkungan (ekosistem). Dengan semakin bertambahnya jumlah populasi manusia,
kebutuhan hidupnya pun meningkat, akibatnya terjadi peningkatan permintaan akan
lahan seperti pertanian dan pertambangan. Sejalan dengan hal tersebut dan dengan
semakin hebatnya kemampuan teknologi untuk memodifikasi alam, maka
manusialah yang merupakan faktor yang paling penting dan dominan dalam
merestorasi ekosistem rusak.
Kegiatan pembangunan seringkali menyebabkan kerusakan lingkungan,
sehingga menyebabkan penurunan mutu lingkungan, berupa kerusakan ekosistem
yang selanjutnya mengancam dan membahayakan kelangsungan hidup manusia itu
sendiri. Kegiatan manusia seperti pembukaan hutan, penambangan, pembukaan
lahan pertanian dan pemukiman, bertanggung jawab terhadap kerusakan ekosistem
yang terjadi. Hal ini menyebabkan lahan mengalami kerusakan. Akibatnya kondisi
fisik, kimia dan biologis tanah menjadi buruk, seperti lapisan tanah tidak berprofil,
terjadi bulk density (pemadatan), kekurangan unsur hara esensial, pH rendah,
pencemaran logam-logam berat pada lahan bekas tambang, serta penurunan
populasi aktifitas mikroba tanah.. Untuk itu diperlukan adanya suatu kegiatan
sebagai upaya pelesatarian lingkungan agar tidak terjadi kerusakan lebih lanjut.
Upaya tersebut dapat ditempuh dengan cara merestorasi ekosistem rusak. Dengan
dilakukannya kegiatan tersebut diharapkan akan mampu memperbaiki ekosistem
yang rusak sehingga dapat pulih atau mendekati kondisi semula.
Dalam tulisan ini penulis mencoba menguraikan tentang: ekologi restorasi,
ekosistem rusak yang harus direstorasi, upaya merestorasi ekosistem rusak, dan
alternatif apa yang dipilih untuk merestorasi ekosistem yang rusak. Tulisan ini juga
lebih ditekankan pada lahan bekas tambang sebagai ekosistem rusak.

2002 digitized by USU digital library

II.

SEKILAS MENGENAI EKOLOGI RESTORASI

Salah satu bagian dari ilmu ekologi yang sangat berperan penting dalam
kehidupan manusia adalah ekologi restorasi. Sebagaimana kita ketahui bahwa
ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makluk hidup
dengan lingkungannya, sedangkan restorasi berarti sebagai suatu perbaikan atau
pemulihan. Jadi ekologi restorasi dapat diartikan sebagai suatu penerapan ilmu
ekologi yang berupaya untuk memperbaiki atau memulihkan suatu ekosistem rusak
atau mengalami gangguan, sehingga dapat pulih atau mencapai suatu ekosistem
yang mendekati kondisi aslinya.
Untuk mertorasi ekosistem rusak, prinsip-prinsip dan pengetahuan ekologi
merupakan sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan, karena hal mendasar
yang harus diketahui dalam memahami berbagai masalah dalam merestorasi suatu
ekosistem yang rusak. Hal mendasar tersebut seperti : pengetahuan tentang
spesies, komunitas dan ekosistem, ekotype, substitusi spesies, interaksi antar
individu, spesies dan ekosistem, serta suksesi.
Merestorasi ekosistem rusak bertujuan untuk : (1). Protektif; dalam hal ini
memperbaiki stabilitas lahan, mempercepat penutupan tanah dan mengurangi
surface run off dan erosi tanah, (2). Produktif; yang mengarah pada peningkatan
kesuburan tanah (soil fertility) yang lebih produktif, sehingga bisa diusahakan
tanaman yang tidak saja menghasilkan kayu, tetapi juga dapat menghasilkan produk
non-kayu (rotan, getah, obat-obatan, buah-buahan dan lain-lain), yang dapat
dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitarnya, dan (3). Konservatif; yang
merupakan kegiatan untuk membantu mempercepat terjadinya suksesi secara alami
kearah peningkatan keanekaragaman hayati spesies lokal; serta menyelamatkan dan
pemanfaatan jenis-jenis tumbuhan potensial lokal yang telah langka.

III. LAHAN BEKAS TAMBANG SEBAGAI EKOSISTEM RUSAK


Dengan semakin majunya kemampuan manusia dalam mengelola alam untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya, bukan mustahil akan terjadi kerusakan lingkungan.
Jika hal ini tidak diimbangi dengan upaya untuk merestorasi ekosistem tersebut,
dikhawatirkan lingkungan akan rusak dan banyak terjadi bencana alam yang kelak
akan merugikan kehidupan manusia itu sendiri.
Rusaknya ekosistem ulah manusia yang cenderung melakukan kegiatan tanpa
menghiraukan dampak-dampak yang akan terjadi. Ekosistem yang rusak dapat
diartikan sebagai suatu ekosistem ekologi yang tidak dapat lagi menjalankan
fungsinya secara optimal, seperti melindungi tanah, mengatur tata air, mengatur
cuaca, dan fungsi-fungsi lainnya dalam mengatur perlindungan alam lingkungan.
Menurut Jordan (1985), Intensitas gangguan dikatogorikan ringan (apabila
struktur dasar suatu ekosistem tidak terganggu, contohnya jika sebatang pohon
besar mati dan kemudian roboh yang menyebabkan pohon lain
rusak dan
penebangan kayu yang dilakukan secara selektif dan hati-hati), moderat (apabila
struktur hutannya rusak berat/hancur, namun produktifitasnya tanahnya tidak
menurun, contohnya penebangan hutan primer untuk ditanami jenis tanaman lain
seperti kopi, coklat, palawija dan lain-lainnya), dan berat (apabila struktur hutan
rusak berat/hancur dan produkfitas tanahnya menurun, contohnya terjadi aliran lava

2002 digitized by USU digital library

dari gunung berapi dan penggunaan peralatan berat untuk membersihkan hutan,
seperti areal pertambangan). Berdasarkan ukurannya, gangguan dibagi menjadi
gangguan kecil, sedang, dan besar. Sedangkan berdasarkan lamanya gangguan
dapat diklasifikasikan menjadi gangguan jangka pendek, jangka menengah, dan
jangka panjang.

IV.

MERESTORASI LAHAN BEKAS TAMBANG

Tahap-tahap yang harus diperhatikan dalam merestorasi lahan bekas


tambang tersebut dikemukakan sebagai berikut:
1. dampak negatif dari kegiatan pertambangan, 2. soil re-construction,
3.
revegetation constrains, 4. strategi untuk merehabilitasi, dan 5. post mining land
uses.
A. Dampak Negatif dari Kegiatan Pertambangan
Akibat adanya kegiatan, mengakibatkan dampak besar terhadap lingkungan.
Hal ini dapat dilihat dengan hilangnya fungsi proteksi terhadap tanah akibat tidak
adanya penutupan tajuk yang juga berakibat pada terganggunya fungsi-fungsi
lainnya. Di samping itu, juga mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati
(gene pool), terjadinya degradasi pada daerah aliran sungai, perubahan bentuk
lahan, terjadinya peningkatan erosi, dan terlepasnya logam-logam berat yang dapat
masuk ke lingkungan perairan. Jika hal ini dibiarkan, maka akan mengancam
kehidupan manusia.
B. Soil Re-Construction
Untuk mencapai tujuan restorasi seperti yang telah disebutkan sebelumnya,
maka perlu dilakukan beberapa upaya seperti : rekonstruksi lahan dan manajenem
top soil.
Pada kegiatan ini, lahan yang masih belum rata harus terlebih dahulu
ditata dengan penimbunan kembali (back filling) dengan memperhatikan jenis dan
asal bahan urugan, ketebalan, dan ada tidaknya sistem aliran air (drainase) yang
kemungkinan terganggu. Sebaiknya bahan-bahan galian dikembalikan keasalnya
mendekati keadaan aslinya.
Ketebalan penutupan tanah (sub-soil) disarankan
berkisar 70-120 cm yang dilanjutkan dengan re-distribusi top-soil.
Untuk
memperoleh kwalitas top-soil yang baik, maka pada saat pengerukan, penyimpanan
dan re-distribusinya harus dilakukan pengawasan yang ketat. Re-alokasi top-soil
pada lahan tanam bisa dilakukan secara lokal (per-lubang) atau disebarkan merata
dengan kedalaman yang memadai. selain itu juga dilakukan revegetasi lahan kritis.
C. Revegetation Constrain
Strategi yang perlu diterapkan pada perbaikan kondisi tanah antara lain :
perbaikan ruang tubuh, pemberian top-soil dan bahan organik serta pemupukan
dasar dan pemberian kapur. Hal utama yang harus diperhatikan dalam merestorasi
lahan bekas tambang jika kita ingin mengadakan suatu penanaman tanaman adalah
kendala tanah dan tanaman-tanaman lokal yang potensial.
Menurut Bradshaw
(1983), masalah-masalah yang dijumpai dalam merestorasi lahan bekas ini adalah
masalah fisik, kimia (nutrients dan toxicity), dan biologi. Masalah fisik tanah
mencakup tekstur dan struktur tanah.
Akibat dari kegiatan pertambangan
mempengaruhi solum tanah dan terjadinya pemadatan tanah, mempengaruhi
stabilitas tanah dan bentuk lahan. Masalah kimia tanah berhubungan dengan reaksi

2002 digitized by USU digital library

tanah (ph), kekurangan unsur hara (seperti NPK dan magnesium), dan mineral
toxicity. Untuk mengatasi PH yang rendah (berkaitan dengan ketersediaan posfat
juga rendah) dapat dilakukan dengan cara penambahan kapur. Sedangkan kendala
biologi seperti tidak adanya penutupan vegetasi dan tidak adanya mikroorganisme
potensial dapat diatasi dengan perbaikan kondisi tanah, pemilihan jenis pohon, dan
pemanfaatan mikroriza.
D. Strategi untuk Merehabilitasi
Untuk merehabilitasi lahan bekas tambang, diperlukan suatu strategi dalam
memilih spesies. Secara ekologi, spesies tanaman lokal dapat beradaptasi dengan
iklim setempat tetapi tidak untuk kondisi tanah. Untuk itu diperlukan suatu studi
awal untuk melihat apakah spesies tersebut cocok dengan kondisi setempat,
terutama untuk jenis-jenis yang cepat tumbuh, misalnya sengon, yang telah terbukti
adaptif untuk tambang karena tajuknya terbentuk dengan cepat dan daunnya mudah
dikomposisi. Dengan dilakukannya penanaman sengon minimal dapat mengubah
iklim mikro pada lahan bekas tambang tersebut. Menurut Lugo (1997), penanaman
pohon-pohon akan memberi keuntungan bagi kegiatan rehabilitasi lahan, karena
akan memungkinkan terjadinya suksesi Jump-start (permulaan yang sangat
cepat), memberikan naungan, memodifikasi ekstrim dari kerusakan lahan. Untuk
menunjang keberhasilan dalam merestorasi lahan bekas tambang, maka usahausaha seperti perbaikan lahan pra-tanam, pemilihan spesies yang cocok, aplikasi
teknik silvikultur yang benar, dan penggunaan pupuk biologis seperti pemberian
mikroriza arbuskular perlu dilakukan.
E. Post Mining Land Uses
Dalam rangka mendukung upaya merestorasi lahan bekas tambang, masih
dibutuhkan upaya penelitian, yaitu: bidang agriculture, horticulture, foresty
(produktive dan protective), wild life conservation, dan recreation.
Untuk mengevaluasi sejauh mana tingkat keberhasilan pertumbuhan tanaman
pada lahan bekas tambang, maka hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: persentasi
daya tumbuhnya, persentasi penutupan tajuknya, pertumbuhannya, perkembangan
akarnya, penambahan spesies pada lahan tersebut, serasah yang terdekomposisi,
pengurangan erosi, dan apakah tanaman tersebut dapat berfungsi sebagai filter
alam.
Dengan cara tersebut, maka dapat diketahui sejauh mana tingkat
keberhasilan yang kita capai dalam merestorasi lahan bekas tambang.

V.

MIKORIZA SEBAGAI ALTERNATIF DALAM MERESTORASI LAHAN BEKAS


TAMBANG

Sebagai salah satu alternatif untuk merstorasi lahan bekas tambang,


penggunaan mikoriza sangat diperlukan.
Mikoroza merupakan suatu bentuk
hubungan simbiosis antara cendawan dan perakaran tumbuhan tingkat tinggi. Salah
satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang cukup populer, yaitu cendawan
mikoriza arbuskula yang dapat digunakan sebagai pupuk biologis. Cendawan
mikoriza arbuskula (CMA) ini adalah salah
satu alternatif teknologi untuk
membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas, dan kualitas tanaman
utamanya tanaman yang ditanam pada lahan-lahan yang kurang subur, seperti lahan
bekas tambang.

2002 digitized by USU digital library

Kelebihan yang dimiliki oleh CMA ini adalah kemampuannya dalam


meningkatkan penyerapan unsur hara makro terutama fosfat dan beberapa unsur
mikro seperti Cu, Zn, dan Bo. Oleh sebab itu, maka penggunaan CMA ini dapat
dijadikan sebagai alat biologis untuk mengefisienkan penggunaan pupuk buatan
terutama fosfat. Untuk membantu pertumbuhan tanaman reboisasi pada lahanlahan yang rusak, penggunaan tipe cendawan ini dianggap merupakan suatu cara
yang paling efisien karena kemampuannya meningkatkan resistensi tanaman
terhadap kekeringan.
Beberapa penelitian lainnya juga membuktikan bahwa
cendawan ini juga mampu mengurangi serangan patogen tular tanah dan dapat
membantu pertumbuhan tanaman pada tanah-tanah yang tercemar logam berat,
sehingga penggunaannya dapat berfungsi sebagai bio-proteksi.
Keberadaan CMA di alam mutlak diperlukan. Peranannya sangat penting dalam
mengefektifkan daur ulang unsur hara sehingga dianggap sebagai alat yang paling
efektif untuk mempertahankan stabilitas ekosistem dan keanekaragaman hayati.
Selain itu, CMA juga merupakan sumberdaya alam hayati potensial dan dapat
diisolasi, dimurnikan dan dikembangbiakan dalam biakan monosenic.
Melalui
serangkaian penelitian di laboratorim dan pengujian di lapangan, efektivitas isolatisolat CMA untuk memacu pertumbuhan dan meningkatkan kualitas tanaman dapat
dimanipulasi dan ditingkatkan. Dengan cara tersebut, maka dapat dihasilkan dan
diseleksi isolat-isolat CMA unggul yang teruji efektif. Isolat-isolat unggul tersebut
dapat diproduksi dan dikemas dalam berbagai bentuk inokulan yang dapat berfungsi
sebagai pupuk biologis yang murah tetapi cukup efektif dan bersahabat lingkungan.
Produk ini dapat digunakan untuk membantu program reklamasi lahan bekas
tambang dalam hal meningkatkan pertumbuhan. Aplikasi CMA ini sebenarnya
merupakan keutuhan ekologi karena pada prinsipnya memanfaatkan sumberdaya
alam hayati potensial untuk meningkatkan produktivitas tanaman dengan teknologi
yang sederhana, murah, dan ramah lingkungan.

VI.

PEMILIHAN JENIS SEBAGAI UPAYA UNTUK PEMULIHAN LAHAN BEKAS


TAMBANG

Pemilihan jenis adalah tahap yang paling penting dalam upaya merestorasi
lahan bekas tambang. Pemilihan ini bertujuan untuk memilih spesies tanaman yang
disesuaikan dengan kondisi lahan yang akan direstorasi. Kunci utama keberhasilan
revegetasi adalah pemilihan jenis pohon yang tepat. Pemilihan jenis pohon yang
akan ditanam didasarkan pada adaptabilitas, cepat tumbuh, diketahui teknik
silvikultur, ketersediaan bahan tanam, dan dapat bersimbiosis dengan mikoriza.
Ada beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh jenis tumbuhan yang terpilih,
antara lain :
1. Mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi
pada tahap awal jenis tumbuhan yang dipilih hendaknya mampu berdaptasi
dengan kondisi lingkungan setempat. Untuk lahan bekas tambang, kondisi
lingkungan yang ekstrim seperti ketersediaan unsur hara yang rendah, suhu relatif
tinggi, kamasaman tanah tinggi, drainase kurang baik, kelembaban rendah, salinitas
tinggi, dan intensitas cahaya tinggi merupakan faktor-faktor lingkungan yang harus
dipertimbangkan dalam memilih spesies yang akan digunakan untuk kegiatan
restorasi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara:
a.
mengidentifikasi dan memilih jenis-jenis lokal potensial

2002 digitized by USU digital library

b.
c.
d.

mengevaluasi silvical characteristic jenis dengan kondisi lingkungan


setempat
mengevaluasi jenis-jenis non-lokal yang telah tumbuh dilokasi setempat
melakukan spesies trial dan uji provenance

2. Cepat tumbuh
Jenis cepat tumbuh biasanya tidak memerlukan syarat tumbuh terlalu rumit.
Kriteria ini penting karena akan terjadi penutupan yang cepat pada lahan terbuka
untuk mengurangi laju aliran permukaan dan erosi. Oleh karena itu, jenis-jenis
pionir pertumbuhannya cepat, sistem tajuknya melebar dan berlapis serta memiliki
sistem perakaran intensif.
3. Teknik silvikultur diketahui
Untuk memudahkan pelaksanaan penanaman dan pemiliharaan lanjutan, maka
teknik silvikultur jenis-jenis terpilih perlu diketahui, terutama yang berhubungan
dengan perlakuan biji, teknik persemaian, waktu pemindahan di lapangan sensitifitas
terhadap toksisitas logam berat, dosis pupuk yang diperlukan, toleransi terhadap
cahaya, genangan air, dan hama penyakit.
4. Ketersediaan bahan tanaman
Kriteria ini perlu diperhatikan karena akan menentukan keberhasilan upaya
dalam restorasi. Bahan tanaman berupa benih, harus tersedia dalam jumlah yang
cukup dan berkualitas baik. Kelemahan utama dalam penggunaan jenis-jenis lokal
adalah masalah kelangkaan benih.
5. Dapat bersimbiose dengan mikroba
Mengingat keadaan lahan kritis pada umumnya merupakan lahan marginal,
maka jenis-jenis yang akan ditanam dipilih dari jenis-jenis yang dapat berasosiasi
dengan bakteri penambat nitrogen atau bersimbiosis dengan cendawan mikoriza,
sehingga kebutuhan akan nitrogen dan fosfat tidak sepenuhnya bergantung pada
pemupukan.
VII. SUKSESI SEBAGAI KAIDAH EKOLOGI DALAM MERESTORASI LAHAN
BEKAS TAMBANG
Suksesi secara
alami memiliki tahap-tahap tertentu, yang terjadi secara
perlahan-lahan dan biasanya berlangsung dalam jangka waktu yang lama.
Penerapan kaedah suksesi menciptakan keseimbangan antara intervensi manusia
dengan usaha ekosistem untuk mendisain lingkungannya sendiri (self design). Self
design ini memberikan keuntungan dalam hal memberikan daya tahan hidup pada
kondisi awal trjadinya suksesi, pemantapan kondisi hutan setelah fase awal suksesi,
dan memerlukan sedikit biaya (Lugo, 1997).
Pada kegiatan restorasi lahan bekas tambang ini, fenomena alam tersebut akan
dicoba untuk dimodifikasi supaya tahapan suksesi (nudation, migrasi, ecesis,
agregation, evolution of community relationship, invation, reaction, stabilization, dan
klimaks) dapat berlangsung dengan cepat. Salah satu cara yang dapat ditempuh
adalah dengan menanam jenis tanaman tertentu secara berurutan seperti halnya
yang terjadi pada fase-fase dari suksesi alami.
A. Tumbuhan Penutup Tanah
Tumbuhan penutup tanah yang dipilih dapat berupa semak maupun herba.
Jenis-jenis yang diutamakan adalah dari jenis kacang-kacangan, dapat bersimbiosa
dengan bakteri penambat nitrogen, memiliki perakaran yang kuat, serta banyak

2002 digitized by USU digital library

menghasilkan serasah, seperti:


Centrosema, Tephrosia, Crotalaria, Indigofera,
Eupatorium, dan jenis lain yang sesuai. Tanaman-tanaman ini berguna untuk
mengurangi laju aliran permukaan (run-off), memperbaiki profil tanah khususnya
bagian top-soil, dan juga diharapkan akan ikut memperbaiki iklim mikro.
B. Tumbuhan Jenis Klimaks
Untuk merestorasi lahan bekas tambang, tumbuhan jenis klimaks merupakan
tumbuhan yang utama digunakan. Tumbuhan ini biasanya dari jenis pohon-pohonan
yang karakteristiknya yang sesuai dengan kriteria yang telah disebut di atas.
Penanaman jenis tanaman ini dapat dilakukan bersamaan dengan penanaman
tumbuhan penutup tanah maupun setelahnya. Setelah penanaman jenis tumbuhan
ini diharapkan keadaannya akan sama dengan tingkat fase ecesis dimana tumbuhan
tersebut akan mapan di tempat tersebut.
Setelah tumbuhan tersebut menghasilkan buah dan biji diharapkan akan terjadi
agregasi (pengelompokan) dari tumbuhan tersebut dengan tumbuhan anakan di
sekitarnya. Dengan adanya vegetasi di tempat tersebut diharapkan akan menarik
satwa liar di sekitarnya yang akan membawa benih-benih lain dari daerah sekitar
untuk tumbuh dan kemudian akan berkolonisasi pada lahan tersebut. Dengan
demikian fase-fase selanjutnya dari suksesi seperti reaksi perubahan habitat dan
stabilitas akan dapat terus berlangsung sampai mencapai klimaks.

VIII. KESIMPULAN
Dari Uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1. Ekologi restorasi merupakan penerapan ilmu ekologi yang berupaya untuk
memperbaiki atau memulihkan suatu ekosistem rusak atau mengalami gangguan,
sehingga dapat pulih atau mencapai suatu ekosistem yang mendekati kondisi
aslinya.
2.
Lahan bekas tambang dikategorikan sebagai ekosistem dengan intensitas
gangguan berat, berukuran besar, dan lama gangguan jangka panjang. Untuk itu
upaya restorasi diperlukan untuk mencegah kerusakan lingkungan.
3. Dalam upaya merestorasi lahan bekas tambang, diperlukan penanggulangan
secara fisik, kimia, dan biologi, seperti rekonstruksi lahan dan manajemen top-soil,
revegetasi lahan kritis, penggunaan mikoriza, pemilihan jenis yang tepat, dan
penerapan kaidah suksesi.

2002 digitized by USU digital library

DAFTAR PUSTAKA
Barrow, C.J. 1991. Degradation of Tropical Rain Forest, Tropical/Sub Tropical
Seasonally Organisme ang Tropical/Sub Tropical Upland Forests, Woodlands
and Saruglands.
Land Degradation Development and Breakdown of
Terrestrial Environments. Cambridge-UK.
Bradshaw, A.D. 1983. The Restoration of Mined Land. Conservation in Perspective
Edited by A. Warren and F.B. Goldsmith, John Willey and Sons Ltd.
Grinwald, C., Iverson L.R and Szafoni, D.B. Abandoned Mines in Illinois and North
Dakota Rehabilitation Damage Ecosystem Vol I edited by John Cairas Jr. CRC
Press Inc. Bucaraton, Flourida.
Jordan, C.F. 1985. Canges in Nutrient Cycles due to Disturbance. Nutrient Cycling
in Tropical Forest Ecosystem: Principles and Their Application in Management
and Conservation. John Willey and Sons. New York.
Jordan, W.R., M.E. Gopin., and J.D. Aber. 1993.
Disturbed Ecosystems as
Opportunities for Research in Restoration Ecology. A synthetic Approach to
Ecological Research, University Press. Cambridge. UK.
Lugo, A.E. 1997. The Apparent Paradox of Reestablishing Species Richness on
Degradedlands with Tree Monocultures. Forest Ecology ang Management.
(99)p: 9-19.
Ripley, E.A., Redmann, R.E. and Croeder, A.A. 1996. Prevention, Reclamation and
Rehabilitation. Environmental Effects Minning St. Lucie Press. Florida.

2002 digitized by USU digital library

Beri Nilai