Anda di halaman 1dari 17

Kasus: Seorang Pria Berusia 27 Tahun

dengan Nyeri Perut Pada Seluruh Regio Abdomen


Terutama Kanan Bawah, Demam, dan Muntah
Pembimbing: dr.Iwan Irawan Karman,SpB
Rani Asali (2011.061.062) dan Angeline Francis Rumintjap (2011.061.066)

PRESENTASI KASUS

Seorang pria berusia 27 tahun datang ke rumah sakit karena nyeri pada seluruh daerah
perut terutama bagian kanan bawah yang tak tertahankan.
Pasien merasakan nyeri di perut bagian kanan bawah sejak 1 hari yang lalu.
Nyeri dirasakan hilang timbul seperti terkena benda tumpul. Pasien dapat menunjuk
letak pasti nyeri di daerah perut kanan bawah. Selama beberapa hari ini pasien
mengeluh sering merasa mual dan nafsu makannya berkurang. 5 jam sebelum
masuk IGD pasien mengaku nyeri semakin terasa di seluruh bagian perut, nyeri yang
dirasakan sama dengan sebelumnya yaitu hilang timbul. Selain itu pasien mengaku
telah muntah 2x di rumah, muntah yang pertama berisi makanan, yang kedua berisi
cairan bewarna bening. Keluhan lainnya pasien buang air besar sebanyak 3 kali
dengan konsistensi cair lebih banyak dari ampas, sehari-harinya pasien selalu buang
air besar 1 kali sehari dengan konsitensi padat. Tidak ada keluhan berkemih. Pasien
merasakan badannya teraba lebih hangat dari biasanya, namun suhu tidak diukur.
Pada pasien tidak terdapat riwayat hipertensi dan diabetes mellitus.Tidak ada
riwayat penyakit yang serupa.Tidak ada riwayat yang sama maupun keganasan dalam
keluarga.
Pada pemeriksaan fisik, keadaan umum pasien tampak kesakitan. Pasien
memiliki tinggi badan 168 cm dan berat badan 53 kg sehingga Indeks Massa Tubuh
(IMT)-nya didapatkan hanya 19kg/m3dengan status gizi cukup. Untuk tanda-tanda
vital pasien tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 96 x/menit, laju pernapasan 28
x/menit, dan terdapat perbedaan antara suhu aksila dan rektal > 1oC dengan suhu
axilla 37,1 0Cdan suhurektal 38.3 0C.

Kedua konjungtiva tidak anemis, kedua sklera anikterik, pupil isokor dengan
diameter 3mm, refleks cahaya langsung maupun tidak langsung +/+. Mulut,bibir,
telinga, dan hidung dalam batas normal, tidak terdapat pembesaran kelenjar getah
bening pada leher, periklavikular maupun aksila.
Pada pemeriksaan toraks paru, inspeksi gerakan napas simetris dalam keadaan
statis dan dinamis, palpasi stem fremitus kiri sama dengan kanan, perkusi sonor pada
kedua lapangan paru, auskultasi terdengar suara nafas vesikuler.Pada pemeriksaan
toraks jantung, pada inspeksi iktus kordis tidak terlihat, palpasiiktus kordis tidak
teraba, batas atas jantung ICS II linea parasternalis sinistra,batas kanan jantung ICS V
linea sternalis dextra, dan batas kiri jantung ICS IV linea midklavikularis sinistra,
pada auskultasi bunyi jantung I dan II regular, tanpa murmur maupun gallop.
Pemeriksaan abdomen, inspeksi perut tampak datar,bila bernafas dalam pasien
merasa sakit, kemudian pasien diminta batuk dan pasien lalu merasa nyeri, pasien
dapat menunjukkan dengan tepat posisi nyeri pada perut bagian kanan bawah.Mimik
muka kesakitan dengan nilai VAS 7.Auskultasi bising usus menurun1-2x/menit dan
terdengar lemah pada ke-4 kuadran. Palpasi hepar tidak teraba, nyeri tekan pada
seluruh regio abdomen terutama titik McBurney (+),Rovsingssign(-), Blumbergs
sign (+), Dumphys sign (+), Obturators sign (+), Psoass sign (+), defense muskular
(+) pada seluruh regio abdomen. Perkusi nyeri ketok pada seluruh regio abdomen
terutama di daerahMcBurney, shifting dullnes (-). Pada pemeriksaan colok dubur,
tonus sfingter ani baik, ampulla recti tidak kolaps, nyeri tekan pada arah jam 12, feces
(+).
Ekstremitas atas dan bawah teraba hangat, CRT < 2 detik.Pemeriksaan fisik
lainnya dalam batas normal.
Kemudian pasien dilakukan operasi appendectomy dengan hasil eksplorasi
diameter appendiksnya 2cm dengan letak pelvinal. Pada saat peritoneum dibuka
terdapat pus yang keluar banyak, dan didapatkan perforasi > 2/3 Kemudian dilakukan
kultur pus dan PA jaringan.
Pasien mendapat obat-obatan pre operasi sebagai berikut:IVFD RL 2000 cc/24
jam, Omeprazole 2 x 40mg IV, Ceftriaxone 2 x 1 gram IV, Metronidazole 3 x 500 mg
IV drip, Ketorolac 3 x 1 amp IV.
Terapi post operasi adalahposisi sesuai fowler/ duduk 400, IVFD RD 5 %
2500cc /24 jam, diet cair air putih/air gula, Ceftriaxone 2x1 gram IV, Metronidazole
3x500mg IV, Gentamicin 2x80 mg IV, Farmadol 3x500 mg IV drip, bila demam
2

dengan suhu tubuh > 380 C tambahkan 500mg drip, Omeprazole 2x40 mg IV,
Tramadol 50 mg tiap kolf, Ondansentron 2x8 mg IV, diet cairan air putih / air gula,
Mylanta 3x15 cc per oral.

Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Laboratorium selama Perawatan

Variabel

Nilai Normal

26 Oktober 2012

29 Oktober 2012

Hemoglobin (g/dl)

14-18

16,3

14,1

Hematokrit (%)

40-54

47

41

Leukosit (ribu/uL)

4-10

15,8

18,8

Trombosit (ribu/uL)

150-400

280

193

Waktu Perdarahan (menit)

1-3

Waktu Pembekuan (menit)

3-6

Protein
Protein Total (g/dl)

6-8,3

5,4

Albumin (g/dl)

3,5-4,8

2,92

Urine Sedimen
Leukosit (/LPB)

0-5

4-6

Eritrosit (/LPB)

0-1

0-1

Epitel (/LPK)

Negatif

(+)

Silinder (/LPK)

Negatif

(-)

Kristal

Negatif

Amorf (+)

Bakteri

Negatif

(-)

Lain-lain

Negatif

Lendir (+)

Selama perawatan pasien selalu memiliki tanda-tanda vital yang baik,


dengan keluhan nyeri luka bekas operasi yang makin berkurang dari hari ke
hari.Pada hari kedua pasien sempat merasakan kembung pada perut dan flatus (-),
kemudian keluhan terus berlanjut hingga keesokan harinya dengan flatus (+) dan
buang air besar (-). Untuk mengatasi rasa kembung diberikan obat Alinamin F
3x1 ampul IV dan mulai diberikan diet lauk cincang.Pada hari ketiga cairan
diganti dengan Aminofluid 1000 cc/24 jam, Tramadol 3x50 mg IV drips dalam

piggy bag, ondansetron diturunkan menjadi 1x8 mg IV, Paracetamol 3x500 mg,
dan Mylanta diganti dengan Antasida 3x15 cc. Obat yang ditambahkan juga
Vitamin K 3x1 ampul IV dan Asam Traneksamat 3x500 mg IV. Antibiotik
Ceftriaxone diganti dengan Meropenem 2x1 gram IV, dan Gentamisin distop.Pada hari keempat, pasien buang air besar 6x dengan konsistensi cair >
ampas dan rasa kembung sudah minimal.Obat seperti Ondansetron dan Tramadol
diberikan bila perlu. Hasil kultur pus menunjukkan Staphylococcus xylosus.

DIAGNOSIS BANDING

URETEROLITIASIS
Batu ureter atau batu ginjal kanan.Gambaran yang khas Adanya riwayat kolik
dari pinggang ke perut menjalar ke inguinal kanan.Eritrosituria sering ditemukan.
Pielonefritis sering disertai dengan demam tinggi, menggigil, nyeri kostovertebral di
sebelah kanan dan piuria. 1

DIVERTIKULITIS
Divertikulitis adalah radang akut dalam divertikel tanpa atau dengan
perforasi.Biasanya radang disebabkan oleh retensi feses di dalamnya.Perforasi akibat
divertikulitis dapat menyebabkan peritonitis.Gejala klinik peritonitis lokal pada
divertikulitis mirip apendisitis akut, tetapi tempatnya berbeda. Berada pada left and
right lower quadrant (terbanyak di left), Tenderness of left lower quadrant, sering
terdapat konstipasi dan meningkatnya frekuensi defekasi, Lower Gastrointestinal
bleeding, Keluhan berupa nyeri di daerah suprapubik.
Gejala mual atau muntah bergantung pada lokasi dan hebatnya serangan.Selain itu
ditemukan demam sedang disertai distensi perut, leukositosis sedang. Tatalaksana
divertikulitis adalah dengan kolostomi menggunakan cara hartmann. 1

PERITONITIS
Kebanyakan Pasien datang dengan keluhan nyeri abdomen.Nyeri timbul tiba-tiba atau
tersembunyi.Pada awalnya, nyeri abdomen yang timbul sifatnya tumpul dan tidak
spesifik (peritoneum viseral) dan kemudian infeksi berlangsung secara progresif,

menetap, nyeri hebat dan semakin terlokalisasi (peritoneum parietale).


Mual dan muntah biasanya sering muncul pada pasien dengan peritonitis.
Infeksi peritoneal diklasifikasikan menjadi primer (spontan), sekunder (berhubungan
dengan proses patologi yang berlangsung di organ dalam), atau tersier (infeksi
berulang yang terjadi setelah terapi yang adekuat).Pemeriksaan fisik dan penunjang
yang tepat dapat membedakan peritonitis primer atau sekunder.

APENDISITIS
I.

ANATOMI
Apendiks pertama kali muncul pada minggu kedelapan perkembangan
embrionik sebagai penonjolan dari bagian terminal sekum.Apendiks
merupakan organ sisa perkembangan dari midgut.

Letak di fossa iliaca kanan, basis/pangkalnya sesuai dengan titik


McBurney (1/3 lateral antara SIAS dan umbilikus)

Basis keluar dari puncak sekum (pertemuan ketiga taenia coli)

Bentuk tabung, panjang 3-15 cm. Menurut studi yang dilakukan, panjang
apendiks dapat berkisar antara <1 cm hingga>30 cm, dimana panjang
rata-ratanya 6-9 cm.

Pangkal lumen menyempit, distal melebar.

Lokasi/posisi terhadap sekum :


o Retrosekal (65%)
o Pelvinal, antesekal, medial
o Preileal, postileal, dan lain-lain.

Vaskularisasi dari A.apendikularis (cabang dari A.ileokolika) dan


merupakan endoarteri.

Inervasi berasal dari :


o Parasimpatis : N.vagus
o Simpatis : Thorakalis X.

Histologi :
o Mukosa : epitel kubik (kolon)
o Submukosa : terdapat folikel limfoid
o Otot : sirkuler, longitudinal
o Serosa 2,3

II.

EPIDEMIOLOGI
Apendisitis paling sering ditemukan pada dekade kedua hingga keempat,
dengan usia rata-rata 31,3 tahun dan usia median 22 tahun. Terdapat sedikit
dominansi laki-laki pada kasus apendisitis dengan rasio 1,2-1,3 : 1
dibandingkan dengan perempuan. Sumber lain mengatakan bahwa rasio
insiden apendisitis pada laki-laki dan perempuan hampir sama, kecuali pada
saat pubertas hingga usia 25 tahun, dimana rasio apendisitis menjadi 3:1 untuk
laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Apendektomi sendiri merupakan
tindakan bedah terbanyak yang dilakukan di Amerika Serikat.
Insiden apendisitis lebih rendah pada negara berkembang, seperti
negara-negara di benua Afrika, dan pada golongan dengan status
sosioekonomi rendah.2,4

III.

ETIOLOGI
Penyebab pasti apendisitis masih belum diketahui, namun ditemukan beberapa
faktor pencetus yang kemudian dapat menyebabkan insiden apendisitis akut.
1. Obstruksi
Obstruksi pada lumen merupakan faktor dominan yang mencetuskan
apendisitis akut. Frekuensi insiden obstruksi meningkat sesuai dengan
proses inflamasi yang berlangsung. Fekalith, hasil akumulasi dan
pengentalan materi feses pada serat sayuran, merupakan kausa umum
apendisitis yang disebabkan obstruksi lumen, ditemukan sebagai
penyebab pada 40% kasus apendisitis akut simple, 65% kasus
apendisitis gangrenosa tanpa ruptur dan sebanyak 90% kasus
apendisitis gangrenosa dengan ruptur. Penyebab lain yang tidak umum
:
a. Hiperplasia / hipertrofi kelenjar limfoid yang terkait dengan
infeksi virus seperti campak
b. Barium yang telah mengental pada pemeriksaan radiologi
sebelumnya
c. Biji-bijian dari buah maupun sayuran

d. Parasit

usus

vermicularis,

seperti

Ascaris

Strongyloides

lumbricoides,
stercoralis,

Enterobius

Echinococcus

granulosis, hingga Entamoeba histolytica.


e. Tumor
2. Infeksi
Populasi bakteri pada appendiks normal sama dengan populasi pada
kolon yang normal. Flora normal appendiks cenderung konstan selama
hidup, terkecuali bakteri Porphyromonas gingivalis, yang biasanya
baru terdapat pada dewasa.Organisme utama yang ditemukan baik
pada appendiks normal, apendisitis akut, maupun yang telah
mengalami perforasi adalah Escherichia coli dan Bacteroides
fragilis.Bagaimanapun,

apendisitis

akut

merupakan

infeksi

polimikrobial, pada pasien dengan apendisitis akut yang telah


mengalami perforasi dapat ditemukan 14 organisme yang berbeda pada
hasil kulturnya. 2,4,10,11

Tabel 2.1
Organisme Umum yang Ditemukan Pada Hasil Kultur Peritoneal
Pasien Dengan Apendisitis Akut

Aerob dan fakultatif


Basil gram negative

Anaerob
Basil gram negatif

o Escherichia coli

o Bacteroides fragilis

o Pseudomonas aeruginosa

o Bacteroides sp.

o Klabsiella sp.

o Fusobacterium sp.

Kokus gram positif


o Streptococcus anginosus
o Streptococcus sp.
o Enterococcus sp.

Kokus gram positif


o Peptostreptococcus sp.
Basil gram positif
o Clostridium sp.

IV.

PATOGENESIS
Obstruksi pada proksimal dari lumen apendiks mengakibatkan closed-loop
obstruction,

dan

berlanjutnya

sekresi

mukosa

apendiks

kemudian

menyebabkan distensi dalam waktu yang cukup singkat.


Volume lumen apendiks umumnya hanya 0,1 mL, yang menyebabkan
adanya sekresi 0,5 mL sekresi cairan apendiks distal dari obstruksi sudah
dapat meningkatkan tekanan intraluminal sebanyak 60 cmH2O. Distensi
apendiks menyebabkan stimulasi ujung saraf aferen viseral, mengakibatkan
sensasi tidak nyaman, rasa sakit yang tumpul dan difus pada daerah abdomen
tengah dan bagian bawah epigastrium.Peristaltik juga menstimulasi distensi
yang lalu menyebabkan cramping yang menyertai rasa sakit viseral pada
apendisitis.Distensi meningkat seiring bertambahnya sekresi lumen apendiks
dan multiplikasi yang cepat dari bakteri-bakteri apendiks.Distensi ini lalu
menyebabkan rasa mual dan muntah, dan juga menyebabkan nyeri viseral
semakin memburuk.
Dengan tingginya tekanan pada organ, tekanan vena akhirnya dapat
dilewati.Pembuluh kapiler dan venul-venul mengalami obstruksi, tetapi aliran
arteriol berlanjut, sehingga terjadi pembengkakan organ dan kongesti
pembuluh darah pada appendiks.
Proses inflamasi dengan cepat menyertakan lapisan serosa apendiks
dan lalu peritoneum parietal pada regio tersebut, yang kemudian menimbulkan
karakteristik rasa sakit yang berpusat di kuadran kanan bawah abdomen. Pada
nyeri viseral akibat distensi serabut yang terkena adalah C-fibers yang bersifat
konduksinya lambat dan lokalisasinya buruk, sedangkan pada peritoneum
parietal jenisnya adalah delta A-fibers yang sifat konduksinya cepat dan
unilateral.
Mukosa traktus urinarius, termasuk di dalamnya apendiks, rentan
terhadap disfungsi vaskular yang berarti bila terjadi disfungsi pada awal
perjalanan penyakit, invasi bakteri akan mudah terjadi. Distensi apendiks yang
progresif menyebabkan terganggunya venous return dan kemudian aliran
arteriol, sehingga area dengan vaskularisasi yang paling buruk mendapatkan
hasil yang paling buruk juga.

Distensi, invasi bakteri, suplai vaskular yang tidak adekuat, dan proses
infark, semua hal ini kemudian menyebabkan terjadinya perforasi yang
umumnya terjadi pada bagian yang terdekat dengan obstruksi. 2,3

V.

MANIFESTASI KLINIS
Anamnesis (Symptoms)

Nafsu makan hilang (anoreksia). Hal ini merupakan gejala yang paling
sering terjadi hingga dikatakan bahwa pasien yang lapar hampir dapat
dipastikan tidak sedang menderita apendisitis akut.

Sakit di daerah sekitar pusat dan epigastrium yang diselingi cramping


yang kemudian berlokalisasi di perut kanan bawah dalam jangka waktu
1-12 jam (rata-rata berkisar antara 4-6 jam). Namun hal ini dapat
bervariasi mengingat terdapat populasi yang langsung merasakan
lokalisasi sakit di perut kanan bawah. Rasa nyeri juga bergantung pada
anatomis apendiks.

Mual dan muntah. Perlu diingat bahwa muntah yang mendahului miliki
kemungkinan besar bukan merupakan apendisitis. Sebanyak 75% pasien
dengan apendisitis mengalami gejala ini.

Konstipasi maupun diare

Sakit seluruh perut bila sudah ada peritonitis generalisata

Pemeriksaan fisik (Sign)

Tanda-tanda vital
Pada apendisitis tanpa komplikasi, terdapat demam ringan antara 37,5
38,5oC (perbedaan 1oC rektal dan aksiler sudah bermakna). Literatur lain
menyebutkan terdapat kenaikan suhu > 1oC dan juga dapat ditemukan
peningkatan laju nadi.

Penampakan dan keadaan umum


Pasien dengan apendisitis lebih cenderung untuk berbaring dengan kaki
(terutama kaki kanan) akan terangkat untuk menghindari rasa sakit
akibat gerakan. Jika diminta bergerak, mereka akan bergerak dengan
lambat dan hati-hati.

Pada inspeksi abdomen :


o Tidak tampak kelainan

o Penonjolan perut kanan bawah bila sudah ada infiltrat atau


abses
o Kembung

dan

tidak

ikut

gerak

nafas

bila

sudah

perforasi/peritonitis

Pada auskultasi abdomen :


o Peristaltik normal, kecuali bila ada peritonitis, bising usus
menghilang

Pada palpasi abdomen :


o Nyeri tekan perut kanan bawah yang terpusat pada ataupun
dekat dengan McBurney
o Teraba massa di perut kanan bawah bila sudah terbentuk
infiltrat/abses
o Defance muscular lokal dandefance menyeluruh bila sudah
peritonitis
o Blumberg

sign(direct

rebound

tenderness):

penekanan

padaperut kanan bawah perlahan, lalu lepas tiba-tiba dan


kemudian pasien akan merasakan sakit pada daerah perut kanan
bawah
o Rovsing sign(indirect rebound tenderness): penekanan pada
perut kiri bawah perlahan, lalu lepas tiba-tiba dan kemudian
pasien akan merasakan sakit pada daerah perut kanan bawah
o Obturator sign : stretching pada otot obturator internus, fleksi
dan endorotasi sendi panggul yang kemudian diikuti rasa sakit
(apendiks pelvinal, dekat otot obturator)
o Psoas sign : stretching pada otot iliopsoas, yang kemudian
diikuti rasa sakit (retrosekal, dekat otot psoas)

Pada perkusi abdomen :


o Pekak hepar menghilang bila sudah ada perforasi (sering pekak
ada)

Colok dubur :
o Nyeri pada posisi jam 10 dan 11, bila letak pelvinal
o Sfingter longgar, bila ada peritonitis 2,5,6

10

VI.

DIAGNOSIS
Kesalahan diagnosis pada apendisitis sekitar 15-20%.Terutama terjadi pada
wanita.Untuk menghindari kesalahan perlu pemeriksaan secara seksama dan
bila perlu observasi tiap 1-2 jam.
1. Anamnesis
2. Pemeriksaan fisis
3. Pemeriksaan penunjang
o Laboratorium

Leukositosis (shift to the left, dominan sel PMN)


ringan yang berkisar antara 10.000 18.000
sel/mm3 pada apendisitis tanpa komplikasi. Bila
sudah melebihi 18.000 sel/mm3 meningkatkan
kecurigaan ke arah perforasi apendiks dengan
maupun tanpa abses

LED meningkat pada infiltrat/abses

Dapat ditemukan hematuria mikro maupun


piuria,

namun

tidak

dengan

bakteriuria.

Urinalisis juga berguna untuk menyingkirkan


kecurigaan ke arah gangguan saluran kemih.
o Kultur sampel intraperitonial perlu dilakukan, bila :

Kondisi imunosupresi (penyakit, pengobatan)

Pasien yang menderita abses setelah pengobatan


apendisitis

o Foto abdomen

Kadang ditemukan fekolit

Perselubungan di fossa iliaka kanan maupun


distribusi udara usus yang tidak normal

Udara bebas di subdiagfragma kanan

Batu saluran kemih dapat terlihat

o Foto thoraks

Untuk menyingkirkan referred pain yang berasal


dari basal pneumonia kanan

11

o Barium enema

Bila barium mengisi apendiks, apendisitis dapat


disingkirkan

o USG

Diameter anteroposterior pada apendiks noncompressible yang lebih besar atau sama dengan
6 mm dapat menjadi dasar diagnosis apendisitis
yang juga disertai dengan penebalan dinding
apendiks dan adanya cairan periapendiks

Massa infiltrat atau abses

Menyingkirkan diagnosis banding lain (terutama


pada wanita dalam usia produktif reproduksi)

o Laparoskopi

VII.

Berguna pada kasus meragukan 2,3,5,6,8

DIAGNOSIS BANDING
Penetapan diagnosis banding apendisitis berpegang pada 4 faktor utama, yaitu
lokasi anatomis dari apendiks yang meradang, stadium dari proses (tanpa
komplikasi hingga ruptur), usia pasien, dan jenis kelamin pasien.
1. Gastrointestinal
a. Acute Mesenteric Adenitis
b. Gastroenteritis akut
c. Divertikulitis Meckel
d. Lesi kolon
e. Chrons Enteritis
2. Traktus urinarius
a. Pyelonefritis, pyelolithiasis
b. Uretritis, ureterolithiasis
3. Traktus respiratorius
a. Basal pneumonia kanan
b. Pleural efusi kanan
4. Sistem kardiovaskular

12

a. Infark miokard
b. Ruptur aneurisma aorta abdominalis
c. Trombosis

5. Sistemik
a. DHF
6. Wanita (Gynecologic Disorders)
a. Pelvic Inflamatory Disease (PID)
b. Pecahnya folikel de graf (ovulasi, mittelschmerz)
c. Torsi kista ovarium
d. Kehamilan ektopik terganggu (KET)
7. Lain-lain
a. Orkitis, torsi testis/epididimis. 2

VIII. TATALAKSANA
Prinsipnya bila diagnosis apendisitis akut ditegakkan harus segera dilakukan
apendektomi

Konservatif
Dilakukan pada :
o Infiltrat apendikular
o Abses apendikuler (abses primer dengan walling off sempurna)
Tindakan berupa :
o Bedrest total, kepala ditinggikan
o Diet cair, lunak, rendah serat
o Antibiotik yang sesuai/spektrum luas
o Observasi dilakukan 2-4 kali/hari :

Nyeri, massa, konsistensi

Nadi, suhu

Laboratorium : leukosit, LED

Tanda peritonitis

o Bila pada observasi gejala menetap atau bertambah : lakukan


apendektomi emergensi
13

o Bila

ada

perbaikan,

tunda

2-3

bulan

lalu

dilakukan

apendektomi elektif

Pembedahan
Apendektomi
o Sebaiknya dilakukan dalam 2x24 jam
o Pendekatan :
o Terbuka
o Laparaskopi
o Macam insisi :
o Insisi grid iron (McBurney), paling sering dipakai
o Insisi Lanz, paramedian kanan
o Midline, suprapubik, transversi, dan lain-lain
o Antibiotik profilaksis dinyatakan efektif pada pencegahan infeksi luka
bekas operasi dan abses intraabdomen. Cakupan antibiotik terbatas untuk
24-48 jam pada apendisitis yang belum mengalami perforasi. Untuk
apendisitis yang telah mengalami perforasi, terapi yang direkomendasikan
adalah sepanjang 7-10 hari. Antibiotik IV dapat diberikan hingga nilai
leukosit normal dan pasien tidak demam selama 24 jam. 6,7,9,12

IX.

KOMPLIKASI
1. Massa periapendikular/infiltrat
a. Mikroperforasi

pada

apendisitis

gangrenosa

akan

ditutupi

pendinginan (walling off) oleh omentum, lengkung lurus, tidak


jarang sekum, kolon, peritoneum, sehingga terbentuk massa
infiltrat. Jadi pertahanan tubuh berhasil melokalisir daerah infeksi
b. Perforasi pada walling off yang tidak sempurna mengakibatkan
abses sekunder (abses di tempat lain, sehingga terjadi peritonitis)
c. Perforasi pada walling off sempurna mengakibatkan abses primer
(sulit dibedakan dengan infiltrat)
d. Bila walling off sempurna dan tidak ada perforasi, massa infiltrat
menjadi tenang dan berpisah perlahan (apendiks tidak akan sembuh
sempurna, timbul fibrosis, perlekatan dengan sekitarnya)
14

e. Gambaran klinik
i. Riwayat klasik apendisitis akut
ii. Demam, nadi cepat
iii. Massa perut kanan bawah, nyeri
f. Laboratorium
i. Lekositosis (shift to the left)
ii. LED meningkat
g. USG
i. Untuk melihat kantong nanah
h. Terapi
i. Konservatif
ii. Operatif bila :
1. Massa masih mobil
2. Gagal konservatif
3. Abses sekunder (walling off tidak sempurna)
drainase, bila perlu laparotomi
2. Apendisitis perforata
a. Insiden apendisitis perforata sebanyak 25,8% dan banyak
ditemukan pada orang tua (>65 tahun, 51%) dan anak-anak (<5
tahun, 45%)
b. Tanda-tanda yang dapat dilihat :
i. Demam (> 39 oC)
ii. Leukositosis (> 18.000 sel/mm3)
iii. Rebound tenderness yang dapat bersifat lokal
c. Perforasi mengakibatkan peritonitis dan abses sekunder/lokal
(rongga pelvis, subdiagfragma)
d. Perforasi tergantung pada :
i. Virulensi kuman
ii. Daya tahan tubuh (tua, anak)
iii. Omentum, organ sekitar
iv. Adanya fekalit di lumen
v. Keterlambatan diagnosis
e. Gambaran klinik

15

i. Tanda toksik : demam tinggi, nadi cepat sekali, mungkin


dehidrasi
ii. Nyeri hebat di perut kanan bawah berganti nyeri seluruh
dinding perut
iii. Perut distensi (kembung)
iv. Defans muscular menyeluruh
v. Pekak hepar menghilang (biasanya tetap ada)
vi. Bising usus menghilang
vii. Colok dobor : sfingter longgar
f. Laboratorium
i. Leukositosis
g. Terapi
i. Laparotomi
3. Apendisitis rekurens
Kriteria :
o Ada riwayat serangan berulang sakit perut kanan bawah
o Hasil patologi menunjukkan radang akut
4. Apendisitis kronik
Kriteria :
o Sakit perut kanan bawah lebih dari 2 minggu
o Patologi : radang kronik, berupa fibrosis menyeluruh apendiks,
obstruksi lumen oleh fibrosis dan infiltrasi sel radang kronik
5. Mukokel apendiks
Dilatasi kistik apendiks yang berisi musin akibat adanya obstruksi kronik
pangkal apendiks berupa jaringan fibrotic. 3

X.

PROGNOSIS
Mortalitas akibat apendisitis di Amerika Serikat telah menurun dari 9,9 per
100.000 pada tahun 1939 menjadi 0,2 per 100.000 pada dewasa ini. Mortalitas
pada apendisitis akut yang ruptur adalah sebanyak 1%, sedangkan bila terjadi
pada lansia meningkat menjadi 5%.Kematian biasanya terkait dengan sepsis
yang tak terkontrol, peritonitis, abses intra abdomen, maupun sepsis akibat
bakteri gram negatif. 4

16

DIAGNOSIS KERJA

Peritonitis generalisata e.c. apendisitis perforata

17