Anda di halaman 1dari 8

Oleh : Prajna Purnama

Mahasiswa Sosiologi Universitas Jenderal


Soedirman
A.

Pengantar

Selama ini sosiologi dikenal sebagai ilmu yang mempelajari masyarakat.


Menurut KBBI, masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluasluasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yg mereka anggap sama.
Apabila definisi masyarakat adalah seperti itu, maka sesungguhnya
pernyataan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat
kurang mencerminkan keseluruhan dari sosiologi. sosiologi memang
mempelajari masyarakat, seperti struktur sosial, mobilitas sosial, tahap
perkembangan masyarakat dan lain sebagainya, namun sosiologi juga
mempelajari individu sebagai unsur pembentuk masyarakat. Sosiologi
tidak hanya menganalisa gejala makro, tetapi juga mempelajari interaksi
sederhana antara dua orang individu sebagai bagian dari gejala mikro.
Salah satu teori sosiologi yang menganalisa gejala mikro adalah
dramaturgi yang diprakarsai oleh sosiolog dari Amerika, Erving Goffman.
Pemikiran Goffman sangat sejalan dengan interaksionisme simbolik,
Goffman juga dianggap sebagai seorang interaksionisme simbolik,
walaupun beliau tidak mengakuinya(Mulyana, 2001:104). Walaupun beliau
tidak mengakui dirinya sebagai seorang pemikir interaksionisme simbolik,
namun nyatanya pemikirannya justru menjadi yang terpenting dalam
interaksionisme simbolik(Ritzer, 2004:416). Inti dari interaksionisme
simbolik adalah pemaknaan atau interpretasi antar individu terhadap
suatu simbol, baik verbal maupun non-verbal. Goffman dalam
dramaturginya juga membahas dan mendalami makna-makna subjektif
individu dan segala proses pembangunan sebuah makna. Dengan
pemikirannya tersebut, akhirnya muncul sebuah mahzab baru dalam
interaksionisme simbolik, yakni mazhab dramaturgi. Mazhab dramaturgi
memiliki fokus pendekatan yang khas. Dramaturgi tidak mencari tahu apa

yang dilakukan, apa yang ingin dilakukan atau mengapa suatu hal
dilakukan oleh seseorang, tetapi mencari tahu bagaimana seseorang
melakukannya(Mulyana, 2001:107).
Dalam makalah ini dibahas teori dramaturgi secara lebih mendalam. Subbahasan dalam makalah ini antara lain adalah konsep diri ala Goffman,
panggung sandiwara, dan kelompok drama.

B.

Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut :


1) Apa itu teori dramaturgi?
2) Apa yang dijelaskan oleh teori dramaturgi?
3) Apa kegunaan teori dramaturgi dalam kehidupan sehari-hari?
4) Apa kekurangan teori dramaturgi?

C.Pembahasan
a. Konsep diri ala Goffman
Teori dramaturgi yang diprakarsai oleh Erving Goffman pada intinya
adalah analogi kehidupan sosial sehari-hari dengan pertunjukan drama
yang ditampilkan diatas panggung. Dalam memahami dramaturgi
diperlukan pemahaman tentang konsep diri, karena inti dari dramaturgi
adalah manajemen dan pemahaman kesan diri. Konsep diri Erving
Goffman merupakan pengembangan konsep diri Herbert Mead(Mulyana,
2001:110). Mead mengungkapkan konsep diri dengan memisahkannya
menjadi dua bagian, yakni I dan Me. I adalah diri individu yang bebas
sedangkan Me adalah diri individu yang tersosialisasi atau dengan kata
lain tidak bebas dan harus berperilaku sesuai dengan harapan orangorang. Melalui konsep itu, Goffman berpendapat bahwa diri adalah
sesuatu yang dipinjamkan oleh orang lain(mulyana, 2001:110). Terlihat
bahwa Goffman lebih mengembangkan konsep Me walaupun Goffman
tetap membahas konsep I pada konsep panggung belakang. maksud dari
diri yang dipinjamkan adalah status dan peran yang ada pada individu
merupakan harapan dari khalayak dan akan dicabut dari individu apabila
individu sudah tidak memenuhi suatu kriteria atau bahkan hanya karena

khalayak menginginkannya. Mengenai status dan peran, maka perlu


dibahas pendapat Ralph Linton. Menurut Linton, status dapat dibedakan
menjadi dua, yakni ascribed status dan achieved status (Sunarto,
2004:53). Ascribed status adalah status yang didapatkan seseorang tanpa
harus melakukan sesuatu, seperti status anak raja, sedangkan achieved
status adalah status yang didapatkan seseorang setelah melakukan usaha
tertentu, misal status sebagai dosen. Memang terdapat perbedaan antara
ascribed status dan achieved status, namun keduanya juga memiliki
persamaan, yakni harus ada pengakuan oleh khalayak untuk bisa ada dan
keduanya juga dapat dihilangkan apabila khalayak menghendaki. Hal
inilah yang dimaksudkan Goffman bahwa diri hanyalah pinjaman. Contoh
yang lebih menjelaskan adalah sebagai berikut, misal seseorang telah
berhasil memecahkan rekor berlari jarak 100m dengan waktu 3 detik saja
sehingga dia dinobatkan sebagai manusia tercepat(status), namun tidak
lama kemudian dia diketahui menggunakan obat-obatan tertentu agar
bisa berlari secepat itu, sehingga akhirnya khalayak tidak lagi mengakui
dia sebagai manusia tercepat. Contoh tersebut cukup menjelaskan bahwa
diri seseorang hanyalah pinjaman yang dapat diambil lagi suatu saat.
Goffman menjelaskan lebih lanjut mengenai konsep diri. Menurutnya, saat
berinteraksi seseorang ingin menyampaikan suatu gambaran diri dan
berharap gambaran tersebut diterima secara benar oleh orang lain
(Mulayana, 2001:112). Goffman menyebut usaha pembangunan
gambaran diri tersebut sebagai impression management(manajemen
kesan). Manajemen kesan adalah teknik untuk membentuk kesan tertentu
pada situasi tertentu dan untuk mencapai tujuan tertentu. Manajemen
kesan dilakukan oleh setiap individu di hampir seluruh tindakannya, mulai
dari cara berpakaian, bertutur kata, berperilaku, semuanya memiliki
maksud untuk membangun kesan tertentu. Misal, seseorang memegang
smartphone saat berjalan di mall untuk menunjukan kesan bahwa dia
adalah orang yang up to date. Inti dari manajemen kesan adalah
pengelolaan informasi yang akan disampaikan kepada orang lain agar
tujuan untuk mendapatkan kesan tertentu berhasil dicapai.

b. Panggung Sandiwara
Analogi kehidupan sosial dengan drama oleh Goffman sangat terlihat dari
konsep panggung sandiwara yang dikemukakannya. Goffman menyatakan
bahwa dalam kehidupan sosial terdapat dua bagian, yakni front
stage(panggung depan) dan back stage(panggung belakang) (Mulayana,
2001:114). Panggung depan adalah tempat seseorang menampilkan
peran dan kesan yang ingin dia tunjukan kepada khalayak atau kesan
yang diharapkan oleh khalayak (menjadi Me) layaknya seorang aktor yang
sedang memainkan sebuah peran dalam drama, sedangkan panggung
belakang adalah tempat bagi seseorang untuk berperilaku menjadi dirinya
sendiri(menjadi I) sekaligus mempersiapkan dirinya untuk tampil di
panggung depan layaknya sebuah pementasan drama yang memiliki
panggung belakang untuk merias wajah, berganti kostum dan lain
sebagainya. Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa baik panggung
depan maupun panggung belakang tidak merujuk pada suatu tempat
yang tetap. Rumah adalah panggung belakang bagi kebanyakan orang. Di
rumah seseorang dapat menjadi dirinya sendiri, namun apabila rumah
tersebut kedatangan tamu, maka rumah tersebut seketika berubah
menjadi panggung depan bagi pemiliki rumah. Akan menjadi sulit untuk
membangun sebuah kesan di panggung depan apabila khalayak
mengetahui panggung belakang seseorang. Namun ada kalanya
seseorang sengaja memperlihatkan panggung belakangnya untuk bisa
mendukung penampilannya di panggung depan seperti penayangan
dibalik layar pembuatan sebuah film yang meningkatkan apresiasi
penonton terhadap film tersebut. Misal, seorang calon pemimpin
organisasi yang sengaja memberitahukan bahwa dia memiliki masa kecil
yang sulit, yaitu ditinggal kedua orang tua sejak usia 8 tahun untuk
menunjukan kesan bahwa dia adalah orang yang mandiri dan
bertanggung jawab.
Goffman kemudian membag lagi panggung depan menjadi dua bagian,
yakni setting dan personal front. Setting adalah situasi fisik yang harus
ada saat seseorang ingin melakukan suatu peran dan tanpa adanya

situasi tersebut biasanya peran juga tidak dapat dilakukan. Misal, dokter
bedah yang memerlukan ruang operasi. personal front adalah
kenampakan atau penampilan seseorang berupa atribut-atribut dan
perilaku verbal maupun non-verbal yang menjadi ciri khas suatu peran.
Misal, dokter bedah membawa pisau bedah dan mengalungkan stetoskop
di lehernya. Selain pembagian panggung depan menjadi dua bagian,
Goffman juga menyatakan hal lain mengenai panggung depan.
Menurutnya panggung depan cenderung terlembagakan (Mulyana,
2001:116). Maksudnya adalah, peran untuk ditampilkan di panggung
depan telah tersedia dan pengharapan tampilan terhadap suatu peran
telah disepakati khalayak(terlembaga), sehingga peran yang ditampilkan
sebenarnya bukan diciptakan tapi dipilih. Misal, Dono ingin dianggap
sebagai mahasiswa yang baik, maka Dono tidak perlu repot-repot
memikirkan ciri-ciri baru mahasiswa yang baik. Dono hanya tinggal
melakukan apa yang sudah menjadi ciri-ciri mahasiswa yang baik, seperti
berpakaian rapi, membawa buku teks kemana-mana, sering mengunjungi
perpustakaan, dan lain sebagainya.
Bahasan menarik tentang panggung depan lainnya adalah mengenai
manajemen jarak sosial dan jarak peran. Manajemen jarak sosial adalah
pengaturan kedekatan seseorang dengan khalayak yang dilakukan pada
kondisi tertentu untuk mendapatkan kesan tertentu. Misal, seorang caleg
yang sedang kampanye rela ikut membajak sawah agar masyarakat
merasa dekat sehingga nantinya akan memilih dia padahal bisa jadi saat
bertemu di lain kesempatan caleg tersebut bersikap angkuh. Atau seorang
Jenderal polisi yang tidak terlalu sering makan di kantin kantor agar jarak
sosial dengan bawahan nya tidak terlalu dekat guna mempertahankan
wibawa nya.
Jarak peran adalah arak yang dibuat individu terhadap peran yang
dilakukannya (Ritzer, 2004:403). Jarak peran juga adalah fungsi dari
status sosial. Jarak peran dapat digunakan untuk menunjukan status sosial
tertentu. Misal, seorang tukang sapu melakukan pekerjaanya dengan raut
wajah masam dan mengejakannya asal-asalan. Dia menunjukan bahwa

dirinya dengan peran sebagai tukang sapu memiliki jarak. Dia juga
menunjukkan bahwa dirinya terlalu terhormat untuk melakukan pekerjaan
tersebut.
c.

Kelompok Drama

Dramaturgi dan manajemen kesan tidak melulu mengenai pengaturan


yang dilakukan oleh individu. Selain membawa peran pribadi, individu
juga membangun kesan kelompoknya (Mulyana, 2001:122). Goffman
menggunakan istilah perfomance team untuk menunjuk sekumpulan
orang yang mendramatisasi suatu aktivitas. Anggota kelompok melakukan
kerjasama dalam membangun suatu kesan. Kelompok juga melakukan
latihan terlebih dahulu layaknya sebuah tim pementasan drama yang
berlatih. Untuk memahami hal ini contoh yang tepat adalah pembentukan
kesan oleh pilot dan pramugari yang terlihat tenang dan biasa dalam
menghadapi situasi yang sebenarnya gawat untuk membangun kesan
bahwa maskapai penerbangan mereka berkualitas baik sekaligus
menenangkan penumpang.

d. Kelemahan Teori Dramaturgi


Teori dramaturgi menyatakan bahwa selalu terdapat pembangunan kesan
di setiap tindakan. Teori ini tidak memperhitungkan tindakan yang tidak
diawali dengan persiapan di panggung belakang, misal saat seseorang
ditelepon dan diberi kabar bahwa Ibunya meninggal dunia dan seketika ia
berteriak dan menangis. Tindakan pada contoh tersebut jelas bukan
tindakan dengan tujuan menyampaikan suatu makna walaupun makna
bahwa ia sedang sedih tetap tersampaikan. Selain itu menurut Reynolds
dan Petras Meltzer, dramaturgi dan interaksionisme simbolik kurang
mikroskopis karena tidak memperhatikan faktor psikologis sebagai
pendorong yang kuat suatu tindakan (Ritzer, 2004:409).

D.

Kesimpulan

Dramaturgi adalah teori yang dikemukakan oleh Erving Goffman. Teori ini
adalah analogi kehidupan sosial dengan pementasan drama. Analogi jelas
terlihat pada konsep panggung depan dan panggung belakang. Konsep
diri yang dikemukakan oleh Goffman merupakan pengembangan dari
konsep diri yang dicetuskan oleh George Herbert Mead. Goffman
menyatakan bahwa diri adalah pinjaman. Goffman membahas manajemen
kesan sebagai salah satu bahasan utama dramaturgi. Goffman membagi
dunia sosial menjadi dua bagian, yakni panggung depan dan panggung
belakang. panggung depan terdiri dari dua bagian, yaitu setting dan
personal front. Dalam melakukan manajemen kesan, dapat dilakukan manajemen jarak sosial
dan jarak peran. Dramaturgi tidak hanya membahas tentang manajemen kesan oleh individu,
tetapi juga manajemen kesan yang dilakukan oleh kelompok. Teori dramaturgi memiliki
kekurangan, yaitu tidak memperhatikan tindakan yang sama sekali tidak diawali dengan
persiapan di panggung belakang dan juga kurang mikroskopis karena tidak memperhatikan
faktor psikologis yang menjadi pendorong kuat dilakukannya suatu tindakan.

Daftar Pustaka
Mulyana, Deddy.2001.Metodologi Penelitian Kualitatif.Bandung:Rosda
Karya
Ritzer, George.2004.Sociological Theory.New York:McGraw-Hill
Sunarto, Kamanto.2004.Pengantar Sosiologi.Jakarta:Lembaga Penerbit
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia