Anda di halaman 1dari 9

Lampiran

MATERI AJAR
Kompetensi Dasar 3
Kompetensi Dasar 4

Merencanakan rangkaian catu daya mode non-linier (Switched


Mode Power Supplies-SMPS)
Merencanakan rangkaian catu daya mode non-linier (Switched
Mode Power Supplies-SMPS)

PERTEMUAN 1
Catu daya atau power supply merupakan sumber tegangan, daya bagi peralatan elektronika
agar suatu peralatan elektronika dapat bekerja. Catu daya yang baik haruslah mengeluarkan
tegangan regulasi yang baik agar perlatan tidak rusak. Pada saat ini banyak peralatan elektronika
yang menggunakan adaptor IC regulator yang telah dibahas sebelumnya dibandingkan dengan
mode switching. Padahal regulator switching ini memiliki efisiensi daya yang besar sekitar 83%
dibandingkan catu daya IC regulator. Jika pada IC regulator tegangan input harus lebih besar
dibandingkan output, tetapi pada catu daya switching tidak diperlukan karena efisiensi daya yang
besar. Dibawah ini merupakan diagram blok dari catu daya mode switching.

Tegangan regulasi dihasilkan dengan cara men-switching transistor saat kondisi on atau
off. Dengan demikian duty cycle yang menentukan tegangan DC rata-rata. Duty cycle dapat
diatur melalui feedback negatif. Feedback ini dihasilkan dari suatu komparator tegangan yang
membandingkan tegangan DC rata-rata dengan tegangan referensi.
Untuk dioda clamp harus digunakan dioda dengan karakteristik fast recovery rectifier atau
dikenal dengan dioda schottky. Dioda ini berguna untuk mempertahankan titik kerja dari
switching transistor dengan melakukan pemotongan tegangan spike yang dihasilkan oleh
transistor switching tersebut. Salah satu dioda schottky adalah 1N5819 dengan tegangan
breakdown pada 40V. Kelebihan dari dioda schottky adalah kecepatan responnya terhadap
penyerahkan tegangan.
Pada bagian filter input terdiri dari penyearah bridge (full wave rectifier) dan sebuah filter
kapasitor. Untuk meningkatkan efisiensi dari regulasi maka resistor seri tidak digunakan. Perlu
diperhatikan dalam memilih dioda bridge yang digunakan karena terdapat arus surge yang
besarnya sampai kira-kira 12 A. Arus surge merupakan arus pengisian kapasitor pada saat
rangkaian regulator ini dihidupkan pertama kali. Arus surge ini menjadi besar karena tidak
terdapat resistor seri. Rangkaian penyearah dan filter input ini akan menghasilkan tegangan DC
yang tidak teregulasi.
Karena dalam rangkaian filter terdiri kapasitor dan induktor, maka nilai tegangannya
ditentukan oleh dua komponen tersebut. Didalam perhitungan kapasitor dan induktor terdapat
tegangan ripple, dimana tegangan ripple tersebut harus dibuat sekecil (mV). Karena catu daya
mode switching ini harus digunakan pada frekuensi besar ( 20 KHz) maka kapasitor yang

digunakan merupakan kapasitor tantalum. Karena kapasitor elektrolit tidak dapat digunakan
untuk rangkaian yang memiliki frekuensi yang besar. Untuk mencari nilai kapasitor dan induktor
yang digunakan dapat menggunakan rumus dibawah ini.

Keterangan : Vin = Tegangan Input


Vo = Tegangan ripple
f = Frekuensi switching
Filter juga berfungsi sebagai penyaring tegangan spike yang dihasilkan oleh suatu transistor
agar peralatan elektronika tidak mendapatkan tegangan spike tersebut.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa catu daya mode switching memiliki
parameter sebagai berikut.
1. Tegangan input tak teregulasi
2. Tegangan output teregulasi yang diinginkan
3. Frekuensi kerja dari switching transistor
4. Arus output dari regulator switching
5. Tegangan ripple output teregulasi.
Tingginya efisiensi dari regulator switching dipengaruhi oleh efisiensi kerja dari
switching transistor seri. Pada saat transistor switching kondisi aktif (on) maka semua
tegangan input akan dilewatkan filter LC. Sebaliknya pada saat transistor switching
kondisi putus (OFF) maka tegangan input tidak akan melewati transistor switching
sehingga tegangan yang masuk ke filter LC adalah nol. Hal ini menyebabkan nilai duty
cycle sebesar 50% maka transistor switching akan kondisi aktif dan putus dalam sela
waktu yang sama dan tegangan rata-rata yang dihasilkan dari kondisi ini dapat ditentukan
dengan persamaan :
V out =D V
Perubahan dari duty cycle ini akan mempengaruhi besarnya tegangan output
teregulasi. Sehingga untuk mengkompensasi penurunan/kenaikan tegangan input tidak
teregulasi dapat diatur dengan merubah duty cycle dari transistor switching ini. Kondisi
aktif dan putus dari transistor switching ini terjadi berulang-ulang sehingga dengan duty
cycle yang tetap akan menghasilkan gelombang kotak yang periodik. Dibawah ini
merupakan gambaran rangkaian regulator secara sederhana.

Saat switch terhubung IL akan mengalir dari Vin ke beban. Karena terdapat perbedaan
tegangan antara tegangan output dan tegangan input maka IL akan naik. Pada saat switch
terputus maka energi yang tersimpan di dalam induktor akan memaksa agar I L tetap
mengalir ke beban, IL akan turun. Arus rata-rata yang melewati induktor sama dengan
arus beban. Karena tegangan Vo dijaga konstan oleh kapasitor maka Io akan
konstant. Ketika IL naik di atas Io maka kapasitor akan diisidan pada saat IL turun di
bawah Io maka kapasitor akan discharge. Kondisi ini akan terus berulang sehingga akan
menghasilkan suatu gelombang yang periodik dan operasi kerja regulator dalam kondisi
steady state.
Berdasarkan penjelasan diatas regulasi ini sangat cocok untuk tersambung dengan
PWM (Pulse Width Modulation), dimana pada PWM lebar pulsa tersebut dapat kita atur
sesuai dengan yang diinginkan. Dibawah ini merupakan rangkaian dari regulator yang
terhubung dengan PWM.

Cara kerjanya, Input listrik AC 220V via rectifier diubah ke DC, filter berfungsi
membersihkan dari noise sumber listrik AC. Dimungkinkan juga ditambah dengan rangkaian
PFC (power factor correction). Sejumlah kapasitor berkapasitas besar juga digunakan untuk lebih
meratakan tegangan. Rangkaian kapasitor ini juga dihubungkan dengan field-efect transistor
(biasanya oleh MOSFET). MOSFET terhubung secara serial dengan sisi input transformer
berfungsi sebagai on-off switch. Ia akan meng-feedback sekiranya terjadi perubahan daya yang
dibutuhkan, berupa sinyal PWM. Contohnya ketika jalur 12V DC membutuhkan arus daya 6A
saat PC dengan load normal. Saat bekerja full load, meningkat hingga 8A, ini akan menyebabkan
tegangan output power supply turun. Feedback dikirim ke sirkuit PWM dengan adanya
perubahan tegangan tersebut, yang akan membuat MOSFET berubah state menjadi on, dan
menyampaikan pada sisi input transformer. Hasil akhirnya, dalam waktu singkat, tegangan
output akan kembali normal (DC 12V).

PERTEMUAN 2
Buck Konverter
Buck konverter adalah rangkaian dimana tegangan masukan lebih besar dari tegangan
keluaran. Dia merupakan konverter yang bekerja sebagai Step-Down DC(Direct Current)
kerjanya adalah menurunkan tegangan DC dengan mengatur besar Dutycycle. Sama seperti
regulator mode linier, terhadap switch pada rangkaian ini, dimana terdapat dua kondisi juga, saat
tersambung (ON), dan terputus (OFF). Dibawah ini merupakan gambar Buck Konverter secara
sederhana.

Saat switch terhubung dioda bekerja reversed sehingga suplai input mengalir ke induktor juga
ke beban. Saat switch terputus dioda bekerja forward sehingga energi yang disimpan di induktor
dapat mengalir ke beban. Untuk membuat rangkaian Buck konverter diperlukan tahap-tahap
sebagai berikut.
1. Menentukan daya output maksimum, tegangan output, dan tegangan input.
Pout =V out x I out
ataubisa juga :=

Pout
P

Ket : = Efisiensi (tentukan sendiri berapa persen)


Pin = Daya masukan
Pout = Daya keluar
2. Menentukan frekuensi switching ini tergantung dari sumber switching.
3. Menentukan dutycycle.
V
D= out
V
4. Menentukan rippel arus maksimum biasanya 30% dari arus beban (disunting dari
microchip), atau bisa juga menggunakan rumus dibawah ini.
V out 1D
ripple=
=
V out 8 LC f 2
5. Menghitung nilai Induktor, nilai kapasitor output.
Untuk Induktor :
V out
1
L= ( V V out )
=(H )
f
V V out
V out =1D

Untuk kapasitor :
V (1D)
C= out
=( F)
2
8 L V out f
Sebagai contoh, rancanglah sebuah Buck konverter memiliki tegangan input sebesar 24 V,
tegangan keluaran 12 V, arus keluaran sebesar 2 A, dan frekuensi switching sebesar 40 KHz.
Jawab :
Menentukan daya output maksimum, tegangan output, dan tegangan input.
Pout =V out x I out =12 x 2=24 W
Menentukan frekuensi switching ini tergantung dari sumber switching, f = 40 KHz.
Menentukan dutycycle.
V
12
D= out = =0,5
V 24
Menentukan rippel.
V out 1D 10,5
ripple=
=
=
=0,0123=1
V out
V out
12
Menghitung nilai Induktor, nilai kapasitor output.
Induktor :
V out
1
1
12
L= ( V V out )
=
( 2412 )
=3 104 H
f
V V out 40000
24 (0,5)
Kapasitor :
V (1D)
24(0,5)
C= out
=
=0,25104 F
2
4
2
8 L V out f 8( 310 )(0,5)(40000)

Rangkaiannya seperti dibawah ini :

Sedangkan untuk bentuk sinyal keluarannya karena D = 0,5 oleh karena itu antara T ON dan
TOFF lebarnya sama.

PERTEMUAN 3

Boost Konverter
Boost konverter adalah rangkaian dimana tegangan masukan lebih kecil dari tegangan
keluaran. Dia merupakan konverter yang bekerja sebagai step up konverter. Konverter ini terdiri
dari dua semikonduktor yaitu diode dan transistor, daya untuk boost konverter bisa datang dari
sumber DC yang cocok seperti baterai, panel surya boost konverter memiliki arus keluaran lebih
kecil dari arus masukan dikarenakan tegangan output yang harus lebih besar sedangkan daya
output = daya input. Dibawah ini merupakan contoh gambar rangkaiannya.

Boost konverter memiliki 3 kondisi. Kondisi pertama ketika switch tertutup dimana diode
bekerja reversed, sehingga output open/terisolasi. dan inputan menyuplai energi ke induktor.
Yang kedua ketika switch terbuka dimana output menerima energi dari input dan induktor
sehingga outputnya lebih besar daripada inputan. Yang ketiga tegangan outputnya dipelihara oleh
nilai C yang besar/rippel tegangan dijaga tetap kecil oleh kapasitor. Konsep dari rangkaian ini
adalah dimana induktor dapat menampung energi listrik sehingga tegangan keluaran dapat diatur
oleh dutycyclic. Untuk membuat rangkaiannya dibawah ini hal yang harus ditentukan.
1. Menentukan nilai dutycyclic.
V
V out =
1D
2. Menentukan nilai resistansi.
V
R= out
I out
3. Menentukan nilai induktor.
2
D(1D)
L=
R
2f
4. Menentukan nilai kapasitor keluar.
V D
C= out
R V out f
5. Menentukan nilai arus keluar maksimum.
V
V D
I max=
+
2
(1D) R 2 L f
6. Mencari jumlah lilitan induktor (N).

N=

L I max
Bmax Ac

Ket : Bmax bisa berkisar 0,3 sampai 0,35. Dan Ac jika ferit yang digunakan FPQ32/30 maka memiliki Ac=1.42 cm2.

Lampiran
a

Lembar Penilaian Sikap (Afektif)


LEMBAR PENILAIAN SIKAP (AFEKTIF)

Mata Pelajaran

: Penerapan Rangkaian Elektronika

Kelas / Program

: XI TAV A/ Teknik Audio Video

Kompetensi

: KD 3.11. Merencanakan rangkaian catu daya mode non-linier (Switched


Mode Power Supplies-SMPS)
KD 4.11. Merencanakan rangkaian catu daya mode non-linier (Switched
Mode Power Supplies-SMPS)

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.

AHMAD RIZKY SYUHADA


AMIN RAZIATIFUDIN
ANDIKA ROSANKY
ARI WIBISONO
BENNE PRAAKESA
DIMAS SURYANTAMA PUTRA
DWI SEPTIANI
ERIK ERLANDA
FEBYAN SULASTRI
FIQRIH
IKA FITYAN MAULANA
INDAH NURYANTI
INTAN PUTRI ANA
JUNAYDI ICHSAN
LELY ARYANTI
MARUF AFIFUDDIN. S

Predikat Penilaian Sikap


A

Sangat Baik

Baik

Cukup

Isi
(5)

Perawatan

(4)

Penggunaan

(3)

Unjuk Kerja
Kemampuan
Menjawab

(2)

persentasiKemampuan

(1)

Persentasi
Kerjasama

Nama Siswa

Disiplin

No

Aktif

Observasi

(6)

(7)

(8)

Kurang

Sangat Buruk
0
akumulasi nilai seluruh aspek
Nilai Total=
100
4 jumlah aspek

b. Soal Tertulis
Pengetahuan :
1. Apa