SISTEM SENSORI PERSEPSI
Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Panca Indra
(Gangguan Penciuman, Peraba Dan Pengecap )
Oleh SGD 1:
Ni Kadek Sukmawati
(1202105004)
Kadek Dian Kartika Khrisnayanti
(1202105005)
Ida Ayu Shri Adhnya Shwari
(1202105011)
I Kadek Ari Wisana
(1202105018)
Ni Komang Gek Erniasih
(1202105035)
Made Dana Putra
(1202105041)
Ni Putu Anggelina Wijaya
(1202105044)
Kadek Elda Widnyana
(1202105071)
Ni Kadek Ade Suryani
(1202105089)
Ni Luh Dwi Ari Maharthini
(1202105090)
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2013
LEARNING TASK
ASKEP GANGGUAN PANCA INDRA (GANGGUAN PENCIUMAN, PERABA DAN
PENGECAP )
Ns. NKG Prapti, S.Kep MNS
Tn. Dendi, 65 tahun, suku Jawa datang ke RS dengan diantar oleh keluarganya. Klien
mengeluh sejak empat bulan yang lalu merasa hidungnya tersumbat dan sering
mengeluarkan lendir (pilek terus menerus). Penciuman klien terganggu karena hidung
buntu akibat pilek, mengeluh nyeri kepala dan sakit tenggorokan. Riwayat epistaksis (+)
beberapa bulan yang lalu. Klien disebutkan pernah menderita sakit gigi geraham. Pada
pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan pada sinus, hasil rinuskopi; mukosa merah dan
bengkak, klien didiagnosa mengalami sinusitis.
Berdasarkan kasus diatas:
1. Identifikasi istilah medis yang belum diketahui kemudian diskusikan dengan
kelompok.
2. Diskusikan tentang sinusitis:
a. Pengertian
b. Etiologi
c. Patofisiologi (WOC) diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
d. Gejala klinis
e. Penatalaksanaan
3. Buatlah intervensi keperawatan sesuai dengan diagnosa keperawatan yang muncul
dan sertakan satu artikel yang menunjang salah satu intervensi pada diagnose yang
diangkat.
1. Identifikasi istilah medis yang belum diketahui kemudian diskusikan dengan
kelompok.
a. Epistaksis
adalah keluarnya darah dari hidung yang penyebabnya bisa lokal atau
sistemik. Perdarahan bisa ringan sampai serius dan bila tidak segera ditolong
dapat berakibat fatal. Sumber perdarahan biasanya berasal dari bagian depan
atau bagian belakang hidung.
Epistaksis ringan biasanya berasal dari bagian anterior hidung,
umumnya mudah diatasi dan dapat berhenti sendiri.
Epistaksis berat berasal dari bagian posterior hidung yang dapat
menimbulkan syok dan anemia serta dapat menyebabkan terjadinya
iskemia serebri, insufisiensi koroner dan infark miokard yang kalau
tidak cepat ditolong dapat berakhir dengan kematian. Pemberian
infus dan transfusi darah serta pemasangan tampon atau tindakan
lainnya harus cepat dilakukan. Disamping itu epistaksis juga dapat
merupakan tanda adanya pertumbuhan suatu tumor baik ganas
maupun jinak. Ini juga memerlukan penatalaksanaan yang rinci dan
terarah untuk menegakkan diagnosis dan menentukan modalitas
pengobatan yang terbaik.
b. Rinuskopi
merupakan suatu pemeriksaan pada rongga hidung. Rinoskopi dibagi
menjadi 2 jenis, yaitu :
Rinoskopi anterior adalah pemeriksaan rongga hidung dari depan
dengan memakai spekulum hidung. Di belakang vestibulum dapat
dilihat bagian dalam hidung. Saluran udara harus bebasdan kurang
lebih sama pada kedua sisi. Pada kedua dinding lateral dapat dilihat
konka inferior.
Rhinoskopi posterior adalah pemeriksaan ronnga hidung dari
belakang, dengan menggunakan kaca nasofaring. Dengan mengubahubah posisi kaca, kita dapat melihat koana, ujung posterior septum,
ujung posterior konka, sekret yang mengalir dari hidung ke
nasofaring (post nasal drip), torus tubarius, dan ostium tuba.
2. Pendahuluan Sinusitis
DEFINISI
Sinusitis merupakan suatu
proses peradangan pada mukosa
atau selaput lendir sinus paranasal.
Akibat
peradangan
ini
dapat
menyebabkan pembentukan cairan
atau
kerusakan
tulang
di
bawahnya., terutama pada daerah
fossa kanina dan menyebabkan
sekret purulen, nafas bau, post nasal drip. Sinusitis adalah inflamasi mukosa sinus.
Penyebab utamanya adalah selesma (common cold) yang merupakan infeksi virus,
yang selanjutnya dapat diikuti oleh infeksi bakteri.
Sinusitis adalah radang pada sinus paranasalis, dimana dapat disebabkan
oleh infeksi maupun bukan infeksi, dari bakteri, jamur, virus, alergi maupun sebab
autoimun ( Williams, 1992)
Sinusitis adalah peradangan yang terjadi pada rongga sinus. Sinusitis banyak
ditemukan pada penderita hay fever yang mana pada penderita ini terjadi pilek
menahun akibat dari alergi terhadap debu dan sari bunga. Sinusitis juga dapat
disebabkan oleh bahan bahan iritan seperti bahan kimia yang terdapat pada
semprotan hidung serta bahan bahan kimia lainnya yang masuk melalui
hidung.Sinusitis juga bisa disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri. Sinus atau
sering pula disebut dengan sinus paranasalis adalah rongga udara yang terdapat
pada bagian padat dari tulang tenggkorak di sekitar wajah, yang berfungsi untuk
memperingan tulang tenggkorak. Rongga ini berjumlah empat pasang kiri dan
kanan. Sinus frontalis terletak di bagian dahi, sedangkan sinus maksilaris terletak di
belakang pipi. Sementara itu, sinus sphenoid dan sinus ethmoid terletak agak lebih
dalam di belakang rongga mata dan di belakang sinus maksilaris. Dinding sinus
terutama dibentuk oleh sel sel penghasil cairan mukus. Udara masuk ke dalam sinus
melalui sebuah lubang kecil yang menghubungkan antara rongga sinus dengan
rongga hidung yang disebut dengan ostia. Jika oleh karena suatu sebab lubang ini
buntu maka udara tidak akan bisa keluar masuk dan cairan mukus yang diproduksi
di dalam sinus tidak akan bisa dikeluarkan (Cock, 2008).
ETIOLOGI
Sinusitis maksilaris disebabkan oleh beberapa faktor pejamu yaitu genetik,
kondisi kongenital, alergi dan imun, abnormalitas anatomi. Faktor lingkungan yaitu
infeksi bakteri, trauma, medikamentosa, tindakan bedah. Terjadinya sinusitis dapat
merupakan perluasan infeksi dari hidung (rinogen), gigi dan gusi (dentogen), faring,
tonsil serta penyebaran hematogen walaupun jarang. Sinusitis juga dapat terjadi
akibat trauma langsung,
Selain itu, etiologi sinusitis berdasarkan lamanya, yaitu;
a. Sinusitis Akut
Infeksi virus
Sinusitis akut bisa terjadi setelah adanya infeksi virus pada saluran
pernafasan bagian atas (misalnya Rhinovirus, Influenza virus, dan
Parainfluenza virus).
Bakteri
Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam
keadaan normal tidak menimbulkan penyakit (misalnya Streptococcus
pneumoniae, Haemophilus influenzae). Jika sistem pertahanan tubuh
menurun atau drainase dari sinus tersumbat akibat pilek atau infeksi virus
lainnya, maka bakteri yang sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang
biak dan menyusup ke dalam sinus, sehingga terjadi infeksi sinus akut.
Infeksi jamur
Infeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut pada penderita
gangguan sistem kekebalan, contohnya jamur Aspergillus.
Peradangan menahun pada saluran hidung
Pada penderita rhinitis alergi dan juga penderita rhinitis vasomotor.
Septum nasi yang bengkok
Tonsilitis yg kronik
b. Sinusitis Kronik
Sinusitis kronis adalah komplikasi dari berbagai penyakit radang sinus pada
umumnya.Penyebabnya multi faktorial dan juga
termasuk alergi,faktor
lingkungan seperti debu, infeksi bakteri, atau jamur.Faktor non alergi seperti
rhinitis vasomotor dapat juga menyebabkan masalah sinus kronis (Schreiber,
2005).
Etiologi sinusitis kronis. Infeksi kronis pada sinusitis kronis dapat disebabkan :
Gangguan drainase: Gangguan drainase dapat disebabkan obstruksi mekanik
dan kerusakan silia.
Perubahan mukosa: Perubahan mukosa dapat disebabkan alergi, defisiensi
imunologik, dan kerusakan silia.
Pengobatan : Pengobatan infeksi akut yang tidak sempurna. Sebaliknya,
kerusakan silia dapat disebabkan oleh gangguan
drainase, perubahan
mukosa, dan polusi bahan kimia.
Gejala sinusitis kronik. Secara subjektif, sinusitis kronis memberikan gejala :
Hidung: Terasa ada sekret dalam hidung.
Nasofaring: Terasa ada sekret pasca nasal (post nasal drip). Sekret ini
memicu terjadinya batuk kronis.
Faring: Rasa gatal dan tidak nyaman di tenggorok.
Telinga: Gangguan pendengaran karena sumbatan tuba Eustachius.
Kepala: Nyeri kepala / sakit kepala yang biasanya terasa pada pagi hari dan
berkurang atau menghilang setelah siang hari. Penyebabnya belum diketahui
pasti. Mungkin karena malam hari terjadi penimbunan ingus dalam sinus
paranasal dan rongga hidung serta terjadi stasis vena.
Mata: Terjadi infeksi mata melalui penjalaran duktus nasolakrimalis.
Saluran napas: Terjadi batuk dan kadang-kadang terjadi komplikasi pada
paru seperti bronkitis, bronkiektasis, dan asma bronkial
Saluran cerna: Terjadi gastroenteritis akibat tertelannya mukopus. Sering
terjadi pada anak-anak.
Secara objektif, gejala sinusitis kronis tidak seberat sinusitis akut. Tidak
terjadi pembengkakan wajah pada sinusitis kronis. Pada pemeriksaan rinoskopi
anterior ditemukan sekret kental purulen di meatus nasi medius dan meatus nasi
superior. Sekret purulen juga ditemukan di nasofaring dan dapat turun ke
tenggorok pada pemeriksaan rinoskopi posterior. Pemeriksaan mikrobiologik
sinusitis kronis. Biasanya sinusitis kronis terinfeksi oleh kuman campuran,
bakteri aerob (S. aureus, S. viridans & H. influenzae) dan bakteri anaerob
(Peptostreptokokus & Fusobakterium) (Muhammad, 2007).
PATOFISOLOGI
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostiumostium sinus dan lancarnya
bersihan mukosiliar (Mucociliarry clearance) di dalam KOM (kompleks
osteomeatal). Mukus juga mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat yang
berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk
bersama udara pernafasan.
Organ-organ yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi
edema mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat
bergerak dan ostium tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negatif di dalam rongga
sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi, mula-mula serousa. Kondisi ini bisa
dianggap sebagai rinosinusitis non-bakterial dan biasanya sembuh dalam beberapa
hari tanpa pengobatan. Bila kondisi ini menetap, sekret yang berkumpul didalam
sinus merupakan media baik untuk tumbuh dan multiplikasi bakteri. Sekret menjadi
purulen. Keadaan ini disebut juga sebagai rinosinusitis akut bakterial dan
memerlukan terapi antibiotik. Jika terapi tidak berhasil (misal karena ada faktor
predisposisi , inflamasi berlanjut, terjadi hipoksia, dan bakteri anaerob
berkembang), mukosa semakin membengkak dan ini merupakan rantai siklus yang
terus berputar sampai akhirnya perubahan mukosa menjadi kronik yaitu hipertrofi,
polipoid atau pembentukan polip dan kista. Pada keadaan ini diperlukan tindakan
operasi.
Sinusitis juga dapat disebabkan oleh kerusakan gigi yang disebut dengan
sinusitis dentogen. Sinusitis dentogen merupakan salah satu penyebab penting
sinusitis kronik. Dasar sinus maksila adalah prosesus alveolaris tempat akar gigi
rahang atas, sehingga rongga sinus maksila hanya terpisahkan oleh tulang tipis
dengan akar gigi, dan terkadang bahkan tanpa tulang pembatas. Infeksi gigi rahang
atas seperti infeksi apikal akar gigi atau inflamasi jaringan periodontal menyebar
secara langsung ke sinus atau melalui pembuluh darah dan limfe. Terjadinya
sinusitis dentogen memungkinan terjadinya sinusitis maksila kronik yang mengenai
satu sisi dengan ingus / cairan lendiri hidung yang purulen dan nafas yang berbau
busuk.( Kennedy E. 2011)
GEJALA KLINIS
Gejala klinis sinusitis, menuut Soepardi, EA. 200 yaitu:
a. Sinusitis Akut
Gejala Subyektif
Terdiri atas gejala sistemik yaitu demam dan rasa lesu serta gejala
lokal yaitu hidung tersumbat, ingus kental dan kadang berbau dan mengalir
ke nasofaring (post natal drip), halifosis (mulut berbau busuk), sakit kepala
yang lebih berat pada pagi hari, nyeri di daerah sinus yang terkena serta
kadang nyeri alih ketempat lain.
Gejala Obyektif
Tampak pembengkakandi daerah muka pada sinusitis akut merupakan
manifestasi klinis yang dimulai dengan adanya tanda-tanda peradangan pada
daerah tersebut. Hal ini sama dengan manifestasi klinis pada sinusitis
subakut merupakan tanda-tanda radang akutnya mulai mereda.
Sinusitis maksila akut
Gejala : Demam, pusing, ingus kental di hidung, hidung tersumbat,
nyeri pada pipi terutama sore hari, ingus mengalir ke nasofaring, kental
kadang-kadang berbau dan bercampur darah.
Sinusitis etmoid akut
Gejala : ingus kental di hidung dan nasafaring, nyeri di antara dua
mata, dan pusing.
Sinusitis frontal akut
Gejala : demam,sakit kepala yang hebat pada siang hari,tetapi
berkurang setelah sore hari, ingus kental dan penciuman berkurang.
Sinusitis sphenoid akut
Gejala : nyeri di bola mata, sakit kepala, ingus di nasofaring
b. Sinusitis Kronis
Gejala Subyektif
Gejala hidung dan nasofaring berupa sekret dihidung dan nasofaring (post
natal drip). Sekret di nasofaring secara terus menerus akan menyebabkan
batuk kronik
Gejala faring berupa rasa tidak nyaman di tenggorokan
Gejala saluran cerna dapat berupa gastroentritis akibat mukopus yang
tertelan
Nyeri kepala biasanya pada pagi hari dan berkurang di siang hari
Gejala mata akibat perjalanan infeksi melalui duktus nasolakrimalis
PENATALAKSANAAN
Therapi primer dari sinusitis akut adalah secara medikamentosa.
1. Analgetik
Rasa sakit yang disebabkan oleh sinusitis dapat hilang dengan pemberian
aspirin atau preparat codein. Kompres hangat pada wajah juga dapat menbantu
untuk mengjilangkan rasa sakit tersebut
2. Antibiotik
Secara umum, dapat diberikan antibiotika yang sesuia selama 10 14 hari
walaupun gejala klinik telah hilang. Antibiotik yang sering diberikan adalah
amoxicillin, ampicillin, erythromicin plus sulfonamid, sefuroksim dan
trimetoprim plus sulfonamid
3. Dekongestan
Pemberian dekongestan seperti pseudoefedrin, dan tetes hidung poten seperti
fenilefrin dan oksimetazolin cukup bermanfaat untuk mengurangi udem
sehingga dapat terjadi drainase sinus.
4. Irigasi antrum
Indikasinya adalah apabila ketiga terapi di atas gagal, dan ostium sinus
sedemikian udematosa sehingga terbentuk abses sejati. Irigasi antrum
maksiilaris dilakukan dengan mengalirkan larutan salin hangat melalui fossa
incisivus kedalam antrum maksillaris. Caian ini kemudian akan mendorong pus
untuk keluar melalui ostium normal.
5. Diatermi gelombang pendek
6. Menghilangkan faktor predioposisi
Prinsip utama penanganan sinusitis kronik adalah
1. Terapi Konservatif
a. Obat dekongestan (obat tetes hidung) untuk memperlancar
drenase secret
darisinus dan hidung. Contoh ; dekongestan local: efedrin, dekongestan
oral: pseudoefedrin 3x50mg.
b. Antibiotic, diberikan antibiotic spectrum luas selama 10 atau 14 hari. Contoh
:cefadroxil (antibiotic golongan cephalosforin)
c. Obat anti alergi atau antihistamin. Contoh : Loratadine.
d. Obat mukolitik untuk mengencerkan secret. Contoh : Ambroxol.
e. Diatermi dengan sinar gelombang pendek (ultra short wave diathermy)
selama 10hari di daerah sinus yang sakit, untuk memperbaiki vaskularisasi
sinus
f. Memperbaiki lingkungan pasien untuk menghilangkan polusi
g. Terapi pencucian Proetz (proetz displacement therapy), yang pada
prinsipnyamembuat tekanan negative dalam rongga hidung dan sinus
paranasal danmengisap secret keluar. Pencucian Proetz dilakukan 2 kali
seminggu, bila setelah6 kali pencucian secret masih banyak, berarti mukosa
sinus tidak dapat kembalinormal (irreversible).
h. Pungsi dan irigasi, untuk mengeluarkan secret dengan cara memakai trokar
yangditusukkan di meatus inferior dengan diarahkan ke tepi atas daun
telinga. Setelahdi pungsi, dilanjutkan dengan irigasi menggunakan larutan
garam fisiologik.
i. Antrostomi intranasal, yaitu tindakan membuat lubang pada maetus inferior
yangmenghubungkan rongga hidung dan sinus maksila untuk drenase secret
danventilasi sinus maksila.
2. Pembedahan Radikal
Bila pengobatan radikal gagal, dilakukan terapi radikal yaitu mengangkat
mukosayang patologik dan membuat drenase dari sinus yang terkena. Untuk
sinus maksiladilakukan Operasi Caldwell-Luc. Untuk sinus etmoid dilakukan
etmoidektomi yang biasadilakukan dari dalam hidung (intra-nasal) atau dari
luar (ekstranasal).
Drenase secret pada sinus frontal dapat dilakukan dari dalam hidung
(intranasal)atau dengan operasi dari luar (ekstranasal), seperti operasi Killian.
Drenase sinussphenoid dilakukan dari dalam hidung (intranasal). Pembedahan
Tidak
RadikalAkhir-akhir
ini
dikembangkan
operasi
sinus
paranasal
menggunakan endosko yang disebut Bedah Sinus Endoskopik Fungsional
(BSEF)
3. Buatlah intervensi keperawatan sesuai dengan diagnosa keperawatan yang
muncul dan sertakan satu artikel yang menunjang salah satu intervensi pada
diagnose yang diangkat.
ANALISIS DATA
No
1
Data
Etiologi
Sinusitis
DS:
Px
Sering
mengeluarkan
bersihan jalan
ledir
(pilek terus menerus)
Masalah
Ketidak efetifan
Pilek terus menerus
nafas
Hidung tersumbat
DO :
Epistaksis (+)
Sering mengeluarkan
lendir
Hidung tersumbat
2.
DS :
Px mengeluh nyeri kepala dan sakit
Sinusitis
Nyeri akut
tenggorokan
DO :
Pemeriksaan fisik ditemukan nyeri
tekan pada sinus.
c DS : 3
Nyeri kepala dan
tengorokan
nyeri tekan sinus
Sinusitis
DO :
Hasil rinuskopi : mukosa kemerahan
dan bengkak
Gangguan citra
tubuh
Pembuluh darah
vena menyempit
aliran darah
pembuluh nadi
meningkat
sinus mengelembung
benjolan sekitar
hidung
DIAGNOSIS
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan px sering
mengeluarkan lendir dan pilek terus menerus sehinga menyebabkan
penyubatan hidung
2. Nyeri akut berhubungan dengan px mengalami nyeri pada kepala dan sakit
tenggorokan selain itu mengalami nyeri tekan pada sinus
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan hasil pemeriksaan dengan
rinuskopi yang menunjukan mukosa merak dan mengalami pembengkakan
pada daerah rongga hidung
ASUHAN KEPERAWATAN
No.
Diagnosa
Tujuan
Ketidakefekt
ifan
Bersihan
Jalan Napas
Setelah
Intervensi
melakukan
asuhan
keperawatan selam . X 24 jam
diharapkan px dapat bernafas
dengan efektif. Dapat diatasi
dengan criteria hasil :
NOC LABEL :
Respiratory Status : Airway
Patency
1. Pernafasan
px
normal
( kecepatan, ritme,kedalaman )
2. Px bersih dari secret
3. Kecemasan px berkurang
Aspiration Prevention
1. Klien dapat mengidentifikasi
faktor resiko aspirasi.
2. Klien dapat menghindari
faktor resiko yang dapat
menyebabkan aspirasi.
3. Klien dapat menentukan
posisi makan dan minum
yang benar.
Rasional
NIC LABEL
1. Untuk mengetahui
Airway management
pernafasan klien,
sehingg dapat
1. Kaji tingkat
diberikan tindakan
pernafasan px
keperawatan yang
2. Buka jalan nafas px
sesuai
3. Posisikan pasien
2. Membuka jalan
dengan benar untuk
nafas akan
memaksimalkan
memperlancar
ventilasi
pernafasan px
4. Bersihkan secret
3. Posisi yang sesuai
dengan suction
akan membuka
ventilasi
Respiratory
4. Bersih dari secret
akan memperlancar
monitoring
jalan nafas px
1. Monitor dan
auskultasi
1. Untuk mengetahui
pernafasan
kecepatan,
(kecepatan,
ritme,kedalaman px
ritme,kedalaman)
2. Monitor pola nafas 2. Apabila pola nafas
abnormal maka akan
( bradypneau,
dilakukan tindakan
tachypneau,hyperv
keperawatan yang
entilation)
tepat
3. Monitor kebisingan
nafas (crowing,
3. Kebisingan nafas
snoring )
menandai
4. Tentukan apakah
ketidakefektifan
perlu untuk
4. Klien dapat memilih makanan
sesuai dengan kemampuan
menelan klien.
dilakukan suction
dengan auskultasi
5. Monitor secret px
Aspiration
Precaution
jalan nafas
4. Dengan suction,
secret akan
dibersihkan
5. Apabila secret
berlebihan, perlu
dibersihkan
1. Monitor level
kesadaran, reflek
batuk dan
kemampuan
1. Untuk mengetahui
menelan klien.
kompensasi
klien
2. Anjurkan klien
apabila
terjadi
memakan makanan
aspirasi.
yang lembek .
2. Agar klien lebih
3. Potong makanan
mudah menelan
menjadi bagian
makanan.
yang kecil-kecil.
3.
Untuk
4. Posisikan kepala
mempermudah klien
klien lebih tinggi
mencerna dan
30 hingga 45 menit
menelan makanan.
setelah makan.
4. Untuk menghindari
terjadinya aspirasi
pada klien setelah
makanan masuk
dalam tubuh.
Nyeri
b.d
akut Setelah
dilakukan
tindakan a. NIC Label : Pain
agens keperawatan selama 2x 24 jam, Management
cedera
nyeri
biologis
dengan:
klien
dapat
berkurang, 1.Melakukan
yang
ditandai
penilaian 1. Mempermudah
komprehensif
terhadap nyeri yaitu
rasa
dirasakan pasien
dengan
a. NOC Label : Pain Level
karakteristik,
melaporkan
Dengan kriteria hasil:
permulaan/
nyeri secara
verbal
1. Klien
melaporkan nyerinya
berkurang atau hilang
mengidendifikasi
durasi,
frekuensi,
kualitas,
intensitas
atau
nyeri
yang
2. Ekspresi
nyeri
klien
berkurang
beratnya nyeri, dan
faktor pencetus.
2.Menentukan
dari
dampak 2. Untuk menyiapkan
pengalaman
psikologis
pasien
b. NOC Label : Pain Control
nyeri pada kualitas
untuk
Dengan kriteria hasil:
hidup
keadaannya
1. Klien dapat mengenali faktor
penyebab nyeri
2. Klien dapat mencari bantuan
tenaga kesehatan.
3. Klien dapat mengenali gejalagejala nyeri
(misalnya,
tidur, nafsu makan,
aktivitas, kesadaran,
suasana
hati,
hubungan,
kinerja
pekerjaan, tanggung
jawab dan peran)
4. Klien menggunakan analgesik 3. Mengeksplorasi
sesuai rekomendasi.
menerima
3. Untuk
mengetahui
pengetahuan pasien
pengetahuan pasien
dan
mengenai
keyakinan
tentang rasa nyeri
keadaannya
dan
menentukan
penanganan
yang
tepat
4. Menggunakan
4. Untuk
komunikasi
mengidentifikasi
teraupetik
strategis
yang
perasaan
pasien
untuk
mengenai
nyeri
mengakui
yang
pengalaman
dan
nyeri
respon
dialaminya
sehingga
mempermudah
penerimaan pasien
dalam memberikan
terhadap nyeri
intervensi
Gangguan
citra tubuh
Setelah
melakukan
asuhan NIC LABEL :
1. Untuk
mengetahui
keperawatan selam . X 24 jam
frekuensi
diharapkan
Body
Image
dapat Enhancement
menyatakan kritikan
keadaan 1. Monitor frekuensi
mengenai
px
menyesuaikan
dengan
fisiknya.
Dapat
dari
diatasi
dengan
pernyataan
mengenai
criteria
2. Bantu
NOC LABEL :
sendiri.
kritik
px
untuk
perubahan
yang
menyesuaikan
dengan perubahan penampilan
fisik.
px
dengan
menyesuaikan
perubahan
status
kesehatan.
penampilan
dari
fisik
penilaian
seseorang.
perubahan
yang
3. Agar
px
dapat
memisahkan
memisahkan
dapat
dapat
penyakitnya.
penyakitnya.
3. Bantu
px
dikarenakan
dikarenakan
dapat
2. Agar
menerima
mendiskusikan
Body Image
2. Px
diri
diri sendiri.
hasil :
1. Px
px
penampilan
dari
fisik
penilaian
seseorang sehingga
px tidak mengalami
risiko HDR.
Daftar Pustaka
1. Balenger JJ, Snow JrJB. Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery, 15th
Ed.William & Wilkins, Baltimore, 1996.
2. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/143/jtptunimus-gdl-aryabogiku-71103-babii.pdf (diakses tgl 11-12-2013)
3. eprints.uns.ac.id/5081/1/02407200911441.pdf (diakses tgl 11-12-2013)
4. Williams JW, Simel DL, Roberts L, Samsa GP. 1992. Clinical evaluation
for sinusitis. Making the diagnosis by history and physical examination
Ann. Intern. Med . 117 (9): 705-10.
5. Muhammad, 2007. Sinusitis akut.
http://hennykartika.wordpress.com/category/sinus-paranasal/ (11desember
2013)
6. Schreiber C, Hutchinson S, Webster C, Ames M, Richardson M, Powers C.
2004. Prevalence of migraine in patients with a history of self-reported or
physician-diagnosed "sinus" headache. Arch. Intern. Med . 164 (16): 176972.
7. Kennedy E. 2011. Sinusitis. http://www.emedicine.com/emerg/topic536.htm.
diakses pada 10 Desember 2013
8. Soepardi, EA. 2007. Buku Ajar Ilmu Kersehatan Telinga Hidung Tenggorok
Kepala dan Leher. Jakarta: Gaya Baru
9. Herdman, T. Heather.2010. Nanda Internasional Diagnosis Keperawatan.
Jakarta: EGC.
10. Moorhead, Soe, et all. 2004. Nursing Outcomes Classification (NOC)., Fifth
Edition. United State of America: Mosby.
11. Dochter, Joanne McCloskey and Buleeheck, Gloria N. 2004. Nursing
Interventions Classification (NIC)., Fifth Edition. United State of America:
Mosby.