LAPORAN PENDAHULUAN
SINUSITIS
Disusun oleh:
DEDE DHAZREKA
19400010
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN GUNA BANGSA
YOGYAKARTA
2019
A. DEFINISI
Sinusitis adalah radang mukosa sinus paranasal sesuai anatomi sinus yang
terkena dapat dibagi menjadi sinusitis maksila, sinusitis etmoid,sinusitis
frontal, dan sinusitis sphenoid
sinusitis dapat berlangsung akut maupun kronik. Dapat mengenai anak yang
sudah besar. Pada sinusitis paranasal sudah berkembang pada anak umur 6-
11tahun (Soepardi 2001).
Sinisitus adalah peradangan pada sinus. Sinusitis mencakup proporsi yang
tinggi dalam infeksi saluran pernapasan atas. Jika ostium ke dalam saluran
nasal bersih, infeksi bisa hilang dengan cepat. Namun bila drainase tersumbat
oleh spuntum yang mengalami penyimpangan atau oleh turbinasi yang
mengalami hipertrofi, taji atau polip, maka sinusitis akan menetap sebagai
pencetus infeksi sekunder atau berkembang menjadi suatu proses supurativa
aktif.
B. ETIOLOGI
Penyebab timbulnya sinusitis berbeda-beda tergantung dari klasifikasi sinusitis
itu sendiri. Penyebab dari sinusitis akut adalah akibat infeksi traktus
respiratorius atas, terutama infeksi virus atau eksaserabasi rhinitis alergika.
Sedangkan penyebab dari sinusitis kronis adalah adanya obstruksi hidung
kronik akibat rabas dan edema membrane mukosa hidung.
a. Rinogen
Obstruksi dari ostium Sinus (maksilaris/paranasalis) yang disebabkan oleh:
Rinitis Akut (influenza)
Polip, septum deviasi
b. Dentogen
Penjalaran infeksidari gigi geraham atas. Kuman penyebab :
Streptococcus pneumoniae
Hamophilus influenza
Steptococcus viridans
Staphylococcus aureus
Branchamella catarhatis
Pada Sinusitis Akut, yaitu:
a. Infeksi virus. Sinusitis akut bisa terjadi setelah adanya infeksi virus pada
saluran pernafasan bagian atas (misalnya Rhinovirus, Influenza virus, dan
Parainfluenza virus).
b. Bakteri
Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan
normal tidak menimbulkan penyakit (misalnya Streptococcus pneumoniae,
Haemophilus influenzae). Jika sistem pertahanan tubuh menurun atau
drainase dari sinus tersumbat akibat pilek atau infeksi virus lainnya, maka
bakteri yang sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang biak dan
menyusup ke dalam sinus, sehingga terjadi infeksi sinus akut.
c. Infeksi jamur. Infeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut pada penderita
gangguan sistem kekebalan, contohnya jamur Aspergillus.
d. Peradangan menahun pada saluran hidung. Pada penderita rhinitis alergi dan
juga penderita rhinitis vasomotor.
e. Septum nasi yang bengkok.
f. Tonsilitis yg kronik
Pada Sinusitis Kronik, yaitu:
a. Sinusitis akut yang sering kambuh atau tidak sembuh.
b. Alergi
c. Karies dentis ( gigi geraham atas )
d. Septum nasi yang bengkok sehingga menggagu aliran mucosa.
e. Benda asing di hidung dan sinus paranasal
f. Tumor di hidung dan sinus paranasal.
C. KLASIFIKASI
Secara klinis, sinusitis dapat dikategorikan sebagai:
1. Sinusitis akut (bila gejalanya berlangsung beberapa hari sampai 4 minggu).
Macam-macam sinusitis akut : sinusitis maksila akut, sinusitis emtmoidal
akut, sinus frontal akut, dan sinus sphenoid akut.
2. Sinusitis subakut (bila berlangsung dari 4 minggu sampai 3 bulan).
3. Sinusitis kronis (bila berlangsung lebih dari 3 bulan), ( Adams, 2007)
D. MANIFESTASI KLINIS
Berdasarkan manifestasi klinis menurut Adams (1997 hal 241) sinusitis
dapat dibagi dua yaitu :
1. Sinusitis Akut
a. Sinus Maksilaris : Gejalanya berupa demam, malaise, dan nyeri kepala
yang tak jelas yang biasanya reda dengan pemberian analgetik biasa
seperti aspirin. Wajah terasa bengkak, penuh dan gigi terasa nyeri
pada gerakan kepala mendadak, dan sering kali terdapat nyeri pipi
khas yang tumpul dan menusuk juga terkadang berbau busuk.
b. Sinusitis etmoidalis : Gejalanya berupa nyeri dan nyeri tekan di antara
kedua mata dan diatas jembatan hidung, drainase dan sumbatan
hidung.
c. Sinusitis Frontalis : Gejalanya berupa nyeri kepala yang khas berlokasi
diatas alis dan biasa pada pagi hari dan memburuk pada tengah hari
kemudian perlahan-lahan sampai menjelang malam.
d. Sinusitis Sfenoidalis : Gejalanya berupa nyeri kepala yang mengarah
ke verteks kranium.
2. Sinusitis Kronik. Gejala sinusitis kronik tidak jelas. Selama eksaserbasi
akut, gejala-gejala mirip dengan gejala sinusitis akut namun diluar masa
itu gejala berupa suatu perasaan penuh pada wajah dan hidung, dan
hipersekresi yang sering kali mukopurulen
Gejala dan Tanda Klinis : (Ballenger, 1997 cit Setiadi 2009).
a. Febris, filek kental, berbau, bisa bercampur darah
b. Nyeri :
Pipi : biasanya unilateral
Kepala : biasanya homolateral, terutama pada sorehari
Gigi (geraham atas) homolateral.
c. Hidung :
buntu homolateral
Suara bindeng.
E. PATOFISIOLOGI
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostiumostium sinus dan lancarnya
klirensmukosiliar (mucociliarry clearance) di dalam KOM (kompleks
osteomeatal). Mukus juga mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat
yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang
masuk bersama udara pernapasan.
Organ-organ yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi
edema mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak
dapat bergerak dan ostium tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negatif
didalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi, mula-mula
serous. Kondisi ini bisa dianggap sebagai rinosinusitis non-nacterial dan
biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa pengobatan. Bila kondisi ini
menetap, sekret yang berkumpul didalam sinus merupakan media baik
untuk tumbuhnya dan multiplikasi bakteri. Sekret menjadi purulen. Keadaan
ini disebut sebagai rinosinusitis akut bakterial dan memerlukan terapi
antibiotik. Jika terapi tidak berhasil (misalnya karena ada faktor
presdiposisi, inflamasi berlanjut, terjadi hipoksia dan bakteri anaerob
berkembang. Mukosa makin membengkan dan ini merupakan rantai siklus
yang terus berputar sampai akhirnya perubahan mukosa menjadi kronik
yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista. Pada keadaan
ini mungkin diperlukan tindakan operasi.
Sinustis bisa disebabkan juga oleh kerusakan gigi yang disebut dengan
sinusitis dentogen. Sinusitis dentogen merupakan salah satu penyebab
penting sinusitis kronik. Dasar sinus maksila adalah prosesus alveolaris
tempat akar gigi rahang atas, sehingga rongga sinus maksila hanya
terpisahkan oleh tulang tipis dengan akar gigi, bahkan kadang-kadang tanpa
tulang pembatas. Infeksi gigi rahang atas seperti infeksi apikal akar gigi atau
inflamasi jaringan periodontal muah menyebar secara langsung ke sinus
atau melalui pembulu darah dan limfe (Endang mangunkusumo, 2007).
F. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Operatif
Sinusitis kronis yang tidak sembuh dengan pengobatan medik adekuat
dan optimal serta adanya kelainan mukosa menetap merupakan indikasi
tindakan bedah. Beberapa macam tindakan bedah mulai dari antrostomi
meatus inferior, Caldwel-Luc, trepanasi sinus frontal, dan Bedah Sinus
Endoskopi Fungsional (BSEF) dapat dilaksanakan. Bedah sinus
konvensional tidak memperlihatkan usaha pemulihan drainase dan
ventilasi sinus melalui ostium alami. Namun dengan berkembangnya
pengetahuan patogenesis sinusitis, maka berkembang pula modifikasi
bedah sinus konvensional misalnya operasi Caldwel-Luc yang hanya
mengangkat jaringan patologik dan meninggalkan jaringan normal agar
tetap berfungsi dan melakukan antrostomi meatus medius sehingga
drainase dapat sembuh kembali.
Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF) merupakan kemajuan pesat
dalam bedah sinus. Jenis operasi ini lebih dipilih karena merupakan
tindakan konservatif yang lebih efektif dan fungsional. Keuntungan
BSEF adalah penggunaan endoskop dengan pencahayaan yang sangat
terang, sehingga saat operasi kita dapat melihat lebih jelas dan rinci
adanya kelainan patologi dirongga-rongga sinus. Jaringan patologik
yang diangkat tanpa melukai jaringan normal dan ostium sinus yang
tersumbat diperlebar. Dengan ini ventilasi sinus lancar secara alami,
jaringan normal tetap berfungsi dan kelainan didalam sinus maksila dan
frontal akan sembuh sendiri.
2. Pengobatan
a. Drainage
Medical : - Dekongestan lokal : efedrin 1%(dewasa) ½%(anak)
- Dekongestan oral : Psedo efedrin 3 X 60 mg
Surgikal : irigasi sinus maksilaris
b. antibiotik diberikan dalam 5-7 hari (untk akut) yaitu :
ampisilin 4 X 500 mg
amoksilin 3 x 500 mg
Sulfametaksol=TMP (800/60) 2 x 1tablet
Diksisiklin 100 mg/hari.
c. Simtomatik
parasetamol., metampiron 3 x 500 mg.
d. Untuk kromis adalah :
Cabut geraham atas bila penyebab dentogen
Irigasi 1 x setiap minggu ( 10-20)
Operasi Cadwell Luc bila degenerasi mukosa ireversibel (biopsi)
G. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
a. Wawancara
3. Keluhan utama :
biasanya penderita mengeluh nyeri kepala sinus, tenggorokan.
4. Riwayat Penyakit sekarang :
Menggali data agar pasien cerita mengenai kejadian yang dialami pasien
sampai terkena penyakit sinusitisis
5. Riwayat penyakit dahulu :
Pasien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau
trauma
Pernah mempunyai riwayat penyakit THT
Pernah menederita sakit gigi geraham
Apakah pasien pernah masuk rumah sakit sebelumnya
1. Riwayat keluarga :
Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang lalu yang
mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang atau adakah
penyakit turunan seperti DM, hipertensi dan asma.
2. Riwayat psikososial
Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas/sedih)
Interpersonal : hubungan dengan orang lain.
b. Pemeriksaan fisik fokus
Berisi data yang mungkin ditemukan pada pasien secara teroritis.
Status kesehatan umum : keadaan umum , tanda viotal, kesadaran.
1. Pengkajian
Sistem Pernafasan
Dalam pengkajian sistem ini kaji adakah cuping hidung, RR dan
irama (dangkal/cepat), bentuk dada (simetris/tidak, barrel, pigeon
chest), pergerakan dada kanan dan kiri, retraksi dada, clubbing
finger. Cek fremitus fokal (simetris/tidak), pengembangan dada
kanan dan kiri. Perkusi paru 10 titik anterior dan posterior, bunyi
paru (resonan/hiperesonan). Auskultasi suara paru anterior dan
posterior 10 titik ( vesikuler), suara abnormal (ronchi/raler).
Sistem Perkemihan
Cek konjungtiva (anemis/ananemis), mukosa bibir, cek abdomen
(adanya asites, distensi dan vesika urinaria). Inspeksi vagina (warna
kulit,kebersihan, kelembaban meatus urea dan labia ) penis (warna
kulit, meatus uretra), adanya lesi/tidak, urin output
(warna,jumlah,discharge,hematuri). Ukur CRT, palpasi suhu akral.
Auskultasi paru (ICS 2-6), bruit vascular di area arteri renalis, arteri
iliaka dan arteri femoralis, ukur lingkar perut. Palpasi ringan dan
dalam adanya nyeri tekan, pemeriksaan asites, balotemen, distensi
abdomen, kandung kemih. Perkusi bladder (dullness/timpani), area
CVA (nyeri/tdk), kaji edema.
Sistem Pencernaan
Dalam pengkajian ini kaji abdomen, pergerakan dan lingkar perut,
liat adanya herniasi umbilical, distensi abdomen, asites. Auskultasi
nempat kuadran untuk mengetahui bising usus, adanya bruit
vaskular. Melakukan pemeriksaan balotemen, perkusi empat
kuadran. Palpasi ringan dan dalam di semua kuadran, batas hepar.
Sistem Kardiovaskuler
Pengkajian pada sistem ini mengkaji tanda-tanda vital, inspeksi
warna kulit (pucat/tdk), konjungtiva, peningkatan JVP, pulsasi apeks
jantung. Auskultasi (pulmonic, aortic), suara paru (vesikuler).
Perkusi jantung (ICS 2-5) ICS >5 indikasi kardiomegali, raba nadi
perifer, suhu akral, cek edema.
H. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan jaringan ditandai dengan
klien tampak meringis, sulit tidur.
2. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi ditandai dengan
kenaikan suhu tubuh, kulit teraba panas.
3. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan mucus berlebih
ditandai dengan sulit bernapas, terdapat secret.
I. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Berisi rencana asuhan keperawayan yang sesuai NOC NIC dan ditemukan
pada pasien secara teroritis
Kriteria INTERVENSI AKTIVITAS
Diagnosa
Hasil/Tujuan (NIC) (NIC)
Keperawatan
(NOC)
Nyeri akut Setelah dilakukan Kaji tingkat nyeri,
berhubungan asuhan keperawatan Pain lokasi dan
dengan agen selama 3 x 24 jam Management karasteristik nyeri.
injuri fisik nyeri dapat teratasi
(post operasi) dengan kriteria hasil Jelaskan pada
ditandai : pasien tentang
dengan klien - Klien mampu penyebab nyeri
tampak mengontrol nyeri
meringis, sulit (tahu penyebab Ajarkan tehnik
tidur. nyeri, mampu untuk pernafasan
menggunakan diafragmatik lambat
tehnik / napas dalam
nonfarmakologi
untuk mengurangi Berikan aktivitas
nyeri, mencari hiburan (ngobrol
bantuan) dengan anggota
- Melaporkan bahwa keluarga)
nyeri berkurang
dengan Observasi tanda-
menggunakan tanda vital
manajemen nyeri
- Klien tampak Kolaborasi dengan
rileks tim medis dalam
pemberian analgetik
Hipertermi Setelah dilakukan Thermoregulasi - Monitor suhu
berhubungan asuhan keperawatan sesering
dengan proses selama 3 x 24 jam mungkin
inflamasi pasien menunjukkan - Monitor warna
ditandai suhu tubuh dalam dan suhu kulit
dengan batas normal dengan - Monitor tanda-
kenaikan suhu kriteria hasil : tanda vital
tubuh, kulit - Tanda-tanda - Berikan
teraba panas. vital dalam antipiretik
rentang - Berikan cairan
normal intravena
- Pasien - Catat adanya
merasa fluktuasi
nyaman tekanan darah
- Kulit tidak Monitor hidrasi
lagi teraba seperti turgor
panas kulit,
kelembaban
membrane
mukosa.
Bersihan jalan Airway - buka jalan nafas,
nafas tidak Setelah dilakukan Management guanakan teknik
efektif tindakan Airway suction chin lift atau jaw
berhubungan keperawatan selama thrust bila perlu
dengan mucus 3x24 jam jalan nafas - Posisikan pasien
berlebih bersih atau untuk
ditandai menghilang memaksimalkan
dengan sulit Dengan kriteria hasil ventilasi
bernapas, : - Identifikasi
terdapat pasien perlunya
1. Klien dapat
secret. pemasangan alat
mendemonstrasikan
jalan nafas
batuk efektif dan
buatan
suara nafas yang
- Pasang mayo
bersih, tidak ada
bila perlu
sianosis dan
- Lakukan
dyspneu (mampu
fisioterapi dada
mengeluarkan
jika perlu
sputum, mampu
- Keluarkan
bernafas dengan
sekret dengan
mudah, tidak ada
batuk atau
pursed lips)
suction
- klien dapat
- Auskultasi suara
menunjukkan jalan
nafas, catat
nafas yang paten
adanya suara
(klien tidak merasa
tambahan
tercekik, irama
- Lakukan suction
nafas, frekuensi
pada mayo
pernafasan dalam
rentang normal,
tidak ada suara - Berikan
nafas abnormal) bronkodilator
- klien mampu bila perlu
mengidentifikasikan - Berikan
dan mencegah pelembab udara
factor yang dapat Kassa basah
menghambat jalan NaCl Lembab
nafas - Atur intake
untuk cairan
mengoptimalkan
keseimbangan.
Monitor
respirasi dan
status O2
DAFTAR PUSTAKA
Doenges, M. G. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3 EGC, Jakarta 2000
Lab. UPF Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan tenggorokan FK Unair, Pedoman
diagnosis dan Terapi Rumah sakit Umum Daerah dr Soetom FK Unair,
Surabaya
Prasetyo B, Ilmu Penyakit THT, EGC Jakarta