LAPORAN PENDAHULUAN
RHINITIS VASOMOTOR
DI POLI KLINIK THT RSUD ULIN BANJARMASIN
Oleh :
Nama : Rachmawati Eka Putri Kesuma
NIM : P07120217076
Semester :V
Prodi : Diploma IV
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN BANJARMASIN
JURUSAN DIV KEPERAWATAN
BANJARBARU
2019
LEMBAR PENGESAHAN
Nama : Rachmawati Eka Putri Kesuma
NIM : P07120217076
Judul : Laporan Pendahuluan Rhinitis Vasomotor Di Poli THT RSUD Ulin
Banjarmasin
Banjarmasin, November 2019
Mengetahui
Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik
H. Marwansyah, M.Kep Hj. Intan Permata Sari, S.Kep, Ns
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. Pengertian
Rhinitis vasomotor / rhinitis non alergi adalah suatu keadaan
idiopatik yang didiagnosis tanpa adanya infeksi, alergi, eosinofilia,
perubahan hormonal (kehamilan, hipertiroid), dan pajanan obat
(kontrasepsi oral, antihipertensi, B-bloker, aspirin, klorpromazin dan obat
topikal hidung dekongestan).
Rinitis vasomotor umumnya digambarkan sebagai gejala hidung
kronis, seperti obstruksi dan rinorea yang terjadi dalam kaitannya dengan
pemicu non-alergi dan tidak menular. Rinitis vasomotor ditentukan oleh
hasil tes cukit yang negatif untuk alergen yang relevan dan / atau tes
antibodi spesifik alergen yang negatif (Kaliner, 2009).
2. Etiologi
Etiologi dan patofisologi yang pasti belum diketahui. Beberapa
hipotesis telah dikemukakan untuk menerangkan patofsiologi rinitis
vasomotor (Soepardi, dkk, 2014):
a. Neurogenik (disfungsi sistem otonom)
Serabut simpatis hidung berasal dari korda spinalis segmen Th1-
Th2, menginervasi terutama pembuluh darah mukosa dan sebagian
kelenjar. Serabut simpatis melepaskan ko-transmitter noradrenalin dan
neuropeptida Y yang menyebabkan vasokonstriksi dan penurunan
sekresi hidung. Tonus simpatis ini berfluktuasi sepanjang hari yang
menyebabkan adanya peningkatan tahanan rongga hidung yang
bergantian setiap 2-4 jam dan dengan adanya siklus ini, seseorang akan
mampu untuk dapat bernapas dengan tetap normal melalui rongga
hidung yang berubah-ubah luasnya.
Serabut saraf parasimpatis berasal dari nukleus superior menuju
ganglion sfenopalatina dan membentuk n. vidianus, kemudian
menginervasi pembuluh darah dan terutama kelenjar endokrin. Pada
rangsangan akan terjadi pelepasan ko-transmitter asetikolin dan
vasoaktif intestinal peptida yang menyebabkan peningkatan sekresi
hidung dan vasodilatasi, sehingga terjadi kongesti hidung
b. Neuropeptida
Pada mekanisme ini terjadi disfungsi hidung yang diakibatkan oleh
meningkatnya rangsangan terhadap saraf sensoris di hidung. Adanya
rangsangan abnormal saraf sensoris ini akan diikuti dengan
peningkatan pelepasan neuropeptida seperti substansi P dan calcitonin
gene related protein yang menyebabkan peningkatan permeabilitas
vaskuler dan sekresi kelenjar
c. Nitrit Oksida (NO)
Kadar NO yang tinggi dan persisten di lapisan epitel hidung dapat
menyebabkan terjadinya kerusakan atau nekrosis epitel, sehingga
rangsangan nonspesifik beinteraksi langsung ke lapisan sub epitel.
Akibatnya terjadi peningkatan reaktifitas serabut trigeminal dan
recruitment refleks vaskuler dan kelenjar mukosa hidung.
d. Trauma
Rinitis vasomotor dapat merupakan komplikasi jangka panjang dari
trauma hidung melalui mekanisme neurogenik dan/atau neuropeptida.
3. Manifestasi Klinis
Banyak orang dengan penyakit hidung non-alergi akan memiliki
sejumlah besar iritasi, peradangan, dan hiperaktivitas di hidung yang
berkontribusi pada sifat penyakit kronis yang terus-menerus. Alergi
hidung di sisi lain biasanya hadir dengan hidung berair, bersin, dan gatal
tetapi beberapa pasien juga dapat mengalami hidung tersumbat, drainase
di daerah belakang hidung, dan sakit kepala. Dengan alergi hidung kita
biasanya melihat masalah yang pasti pada musim-musim tertentu atau
korelasi dengan paparan debu, bulu binatang, jamur atau jamur dan pada
beberapa pasien reaksi ekstrim terhadap makanan tertentu. Gejala alergi
yang juga melibatkan mata biasanya adalah kemerahan, gatal dan
penyiraman mata (Bozalis, dkk, 2014).
a. Pada rinitis vasomotor, gejala sering dicetuskan oleh berbagai
rangsangan non-spesifik, seperti asap/rokok, bau yang menyengat,
parfum, minuman beralkohol, makanan pedas, udara dingin,
pendingin, pemanas ruangan, perubahan kelembaban, perubahan suhu
luar, kelelahan dan stres/emosi. Pada keadaan normal faktor-faktor
tadi tidak dirasakan sebagai gangguan oleh individu tersebut
(Soepardi, dkk, 2014).
b. Kelainan ini mempunyai gejala yang mirip dengan rinitis alergi,
namun gejala yang dominan adalah hidung tersumbat, bergantian kiri
dan kanan, tergantung pada posisi pasien, selain itu terdapat rinore
yang mukoid atau serosa, keluhan ini jarang disertai dengan gejala
mata. Gejala dapat memburuk pada pagi hari waktu bangun tidur oleh
karena adanya perubahan suhu yang ekstrim, udara lembab, juga oleh
asap rokok dan sebagainya (Soepardi, dkk, 2014).
c. Berdasarkan gejala yang menonjol, kelainan ini dibedakan dalam 3
golongan, yaitu golongan 1) golongan bersin (sneezers), gejala
biasanya memberikan respon yang baik dengan terapi antihistamin
dan glukortikoid topikal; 2) golongan rinore (runners), gejala dapat
diatasi dengan pemberian antikolinergik topikal; dan 3) golongan
tersumbat (blockers), kongesti umumnya memberikan respon yang
baik dengan terapi glukortikosteroid topikal dan vasokonstriktor oral
(Soepardi, dkk, 2014).
4. Patofisiologi
Sistem saraf otonom mengontrol aliran darah ke mukosa hidung dan
sekresi dari kelenjar. Diameter resistensi pembuluh darah di hidung diatur
oleh sistem saraf simpatis sedangkan parasimpatis mengontrol sekresi
kelenjar. Pada rinitis vasomotor terjadi disfungsi sistem saraf otonom yang
menimbulkan peningkatan kerja parasimpatis yang disertai penurunan
kerja saraf simpatis. Baik sistem simpatis yang hipoaktif maupun sistem
parasimpatis yang hiperaktif, keduanya dapat menimbulkan dilatasi
arteriola dan kapiler disertai peningkatan permeabilitas kapiler, yang
akhirnya akan menyebabkan transudasi cairan, edema dan kongesti.
Peningkatan peptide vasoaktif dari sel - sel seperti sel mast.
Termasuk diantara peptide ini adalah histamin, leukotrin, prostaglandin,
polipeptide intestinal vasoaktif dan kinin. Elemen-elemen ini tidak hanya
mengontrol diameter pembuluh darah yang menyebabkan kongesti, tetapi
juga meningkatkan efek asetilkolin dari sistem saraf parasimpatis terhadap
sekresi hidung, yang menyebabkan rinore. Pelepasan peptide-peptide ini
tidak diperantarai oleh Ig-E (non-Ig E mediated) seperti pada rinitis alergi.
Adanya reseptor zat iritan yang berlebihan juga berperan pada
rinitis vasomotor. Banyak kasus yang dihubungkan dengan zat-zat atau
kondisi yang spesifik. Beberapa diantaranya adalah perubahan temperatur
atau tekanan udara, perfume, asap rokok, polusi udara dan stress (
emosional atau fisikal ).
5. Pathway
6. Komplikasi
Komplikasi dari rhinitis vasomotor yang tersering adalah sinusitis dan
polip nasi dan otitis media.
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan nasoendoskopi
b. Pemeriksaan sitologi hidung
c. Hitung eosinofil pada darah tepi
d. Uji kulit allergen penyebab
8. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada rinitis vasomotor bervariasi, tergantung pada
faktor penyebab dan gejala yang menonjol. Secara garis besar dibagi :
a. Menghindari Faktor Pencetus
Lingkungan rumah harus dimodifikasi untuk menghindari
faktor-faktor yang memulai atau memperburuk rinitis, misalnya, bau,
debu, jamur, serangga, atau asap rokok. Kontrol kelembaban dan suhu
dapat mengurangi ketidakstabilan hidung atau hiperaktivitas
vasomotor (Sharon & Bansal, 2015)
b. Olahraga
Olahraga dapat membantu mengurangi sumbatan hidung
dengan menstimulasi pengeluaran saraf simpatis, yang menghasilkan
vasokonstriksi dan berlangsung selama 15-30 menit. Berat badan bisa
sangat penting pada beberapa pasien. (Sharon & Bansal, 2015)
c. Operasi
Karena bernapas melalui setiap lubang hidung biasanya
bergantian setiap 1 atau 2 jam, deviasi septum dapat menimbulkan
komplikasi tambahan pada pasien dengan rinitis vasomotor. Berbagai
derajat deviasi septum dapat terjadi pada sekitar sepertiga dari semua
pasien dengan rinitis dan memerlukan tindakan operasi. Deviasi
septum ringan tanpa sumbatan unilateral tidak dilakukan evaluasi.
(Sharon & Bansal, 2015).
d. Neurektomi n.vidianus, yaitu dengan melakukan pemotongan pada
n.vidianus, bila dengan cara di atas tidak memberikan hasil optimal.
Operasi ini tidaklah mudah, dapat menimbulkan komplikasi, seperti
sinusitis, diplopia, buta, gangguan lakrimasi, neuralgia atau anastesis
infraorbita dan palatum. Dapat juga dilakukan tindakan blocking
ganglion sfenopalatina (Soepardi, dkk, 2014).
e. Medikamentosa
Pengobatan simtomatis dengan obat-obatan dekongestan oral, cuci
hidung dengan larutan garam fisiologis. Dapat juga diberikan
kortikosteroid topikal 100-200 µg. Pada kasus berat dapat diberikan
antikolinergik topikal (iprapropium bromida).
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas Pasien
Nama lengkap pasien, umur, tanggal lahir, jenis kelamin, alamat,
pendidikan, agama, pekerjaan, suku bangsa.
b. Keluhan utama
Sering mengalami hidung tersumbat bergantian pada lubang hidung
kanan dan kiri sejak 1 minggu yang lalu.
c. Riwayat penyakit sekarang
Menanyakan kembali sejak kapan keluhan muncul, untuk memastikan
apa yang telah dikatakan pasien.
Menanyakan adakah gejala penyerta (keluar ingus encer dan jernih,
bersin di pagi hari).
d. Riwayat penyakit keluarga
Menanyakan adakah keluarga yang menderita penyakit yang sama
dengan yang dialami oleh pasien. Atau adakah diwayat alergi dalam
keluarga unutk membedakan dengan rinitis alergi.
e. Riwayat penyakit dahulu
Menanyakan apakah pasien pernah mengalami keluhan yang sama
sebelumnya. Cari tahu riwayat penyakit dahulu dari kondisi medis
apapun yang signifikan.
f. Riwayat sosial
Menanyakan kepada pasien apakah penyakitnya menganggu/sangat
menggangu/ tidak menggangu aktivitas sehari-hari pasien.
g. Riwayat pengobatan/obat
Apakan sudah menggunakan obat tertentu dan bagaimana hasilnya.
h. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan rhinoskopi anterior tampak gambaran klasik berupa
edema mukosa hidung, konkha hipertropi dan berwarna merah gelap
atau merah tua (karakteristik), tetapi dapat juga dijumpai berwarna
pucat. Permukaan konkha dapat licin atau berbenjol. Pada rongga
hidung terdapat sekret mukoid, biasanya sedikit. Akan tetapi pada
golongan rinore, sekret yang ditemukan bersifat serosa dengan jumlah
yang banyak. Pada rhinoskopi posterior dapat dijumpai post nasal
drip.
i. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menyingkirkan
kemungkinan rhinitis alergi. Test kulit (skintest) biasanya negatif,
demikian pula test RAST (phadebas radioallergosobent test), serta
kadar IgE total dalam batas normal. Kadang-kadang ditemukan juga
eosinofil pada sekret hidung, akan tetapi dalam jumlah yang
sedikit. Infeksi sering menyertai yang ditandai dengan adanya sel
neutrofil dalam sekret.
j. Pemeriksaan radiologi sinus memperlihatkan mukosa yang edema
dan mungkin tampak gambaran cairan dalam sinus apabila sinus
telah terlibat.
2. Diagnosis Keperawatan
a. Cemas berhubungan dengan Kurangnya Pengetahuan tentang
penyakit dan prosedur tindakan medis
b. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi /adanya
secret yang mengental
c. Gangguan pola istirahat berhubungan dengan penyumbatan pada
hidung
d. Gangguan konsep diri berhubungan dengan rhinore.
3. Intervensi Keperawatan
a. Cemas berhubungan dengan Kurangnya Pengetahuan tentang
penyakit dan prosedur tindakan medis
Tujuan : Cemas klien berkurang/hilang
Kriteria :
Klien akan menggambarkan tingkat kecemasan dan pola
kopingnya
Klien mengetahui dan mengerti tentang penyakit yang
dideritanya serta pengobatannya.
Intervensi Rasional
1. Kaji tingkat kecemasan klien 1. Menentukan tindakan
2. Berikan kenyamanan dan selanjutnya
ketentaman pada klien : 2. Memudahkan penerimaan
klien terhadap informasi yang
– Temani klien
diberikan
– Perlihatkan rasa empati(
datang dengan menyentuh klien 3. Meningkatkan pemahaman
klien tentang penyakit dan terapi
)
untuk penyakit tersebut
3. Berikan penjelasan pada klien
sehingga klien lebih kooperatif
tentang penyakit yang
dideritanya tenang 4. Dengan menghilangkan
perlahan,
seta gunakan kalimat yang jelas, stimulus yang mencemaskan
akan meningkatkan ketenangan
singkat mudah dimengerti
klien.
4. Singkirkan stimulasi yang 5. Mengetahui perkembangan
berlebihan misalnya : klien secara dini.
– Tempatkan klien diruangan 6. Obat dapat menurunkan
yang lebih tenang tingkat kecemasan klien
– Batasi kontak dengan orang
lain /klien lain yang
kemungkinan mengalami
kecemasan
5. Observasi tanda-tanda vital.
6. Bila perlu , kolaborasi dengan
tim medis
b. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi /adnya
secret yang mengental.
Tujuan : Jalan nafas efektif setelah secret dikeluarkan
Kriteria :
Klien tidak bernafas lagi melalui mulut
Jalan nafas kembali normal terutama hidung
Intervensi Rasional
a. Kaji penumpukan secret yang a. Mengetahui tingkat
ada keparahan dan tindakan
selanjutnya
b. Observasi tanda-tanda vital.
c. Kolaborasi dengan team medis b. Mengetahui perkembangan
klien sebelum dilakukan
operasi
c. Kerjasama untuk
menghilangkan obat yang
dikonsumsi
c. Gangguan pola istirahat berhubungan dengan penyumbatan pada
hidung
Tujuan : klien dapat istirahat dan tidur dengan nyaman
Kriteria :
Klien tidur 6-8 jam sehari
Intervensi Rasional
a. Kaji kebutuhan tidur klien. a. Mengetahui permasalahan klien
yang dalam pemenuhan kebutuhan
b. ciptakan suasana
istirahat tidur
nyaman.
c. Anjurkan klien bernafas b. Agar klien dapat tidur dengan
tenang
lewat mulut
d. Kolaborasi dengan tim c. Pernafasan tidak terganggu.
medis pemberian obat d. Pernafasan dapat efektif kembali
lewat hidung
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2015. Buku Modul Penyakit ilmu kesehatan THT-KL. Ed 1. Fakultas
kedokteran universitas syiah kuala. Banda Aceh.
Elise Kasakeyan. Rinitis Vasomotor. Dalam : Soepardi EA, Nurbaiti Iskandar, Ed.
Buku Ajar Ilmu Penyakit THT. Edisi ke-7. Jakarta : Balai Penerbit FK UI,
2014. h. 135 – 6.
Mark DS, Michael AK. Nonallergic Rhinitis, With a Focus on Vasomotor Rhinitis.
In : WAO Journal. 2009. Institute for Asthma & Allergy : Bethesda.
Available from : http://www.waojournal.org/content/pdf/1939-4551-2-3-
20.pdf
Soepardi, A.A., Iskandar, N., Bashiruddin, J., Restuti, R.D., 2014. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Ed 7. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.