0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
86 tayangan17 halaman

LP Sinusitis S1

UNTUK TUGAS KULIAH S1 NERS

Diunggah oleh

devisuryaningsih96
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
86 tayangan17 halaman

LP Sinusitis S1

UNTUK TUGAS KULIAH S1 NERS

Diunggah oleh

devisuryaningsih96
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

SINUSITIS
DI RUANG APEL
RSUD DR. ADJIDARMO RANGKASBITUNG

Untuk Memenuhi Persyaratan Profesi


Tugas Individu

Disusun Oleh:
TETIK RIYANTI
230518015

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN DAN NERS


STIKES ABDI NUSANTARA JAKARTA
2024
LAPORAN PENDAHULUAN
SINUSITIS

A. Definisi
Sinusitis merupakan suatu proses peradangan pada mukosa atau selaputlender
sinus paranasal. Akibat peradangan ini dapat menyebabkan pembentukan cairan atau
kerusakan tulang di bawahnya. Sinus paranasaladalah rongga-rongga yang terdapat
pada tulang-tulang di wajah. Terdiri darisinus frontal (di dahi), sinus etmoid (pangkal
hidung), sinus maksila (pipikanan dan kiri), sinus sfenoid (di belakang sinus etmoid).
(Efiaty, 2007).

Sinusitas didefinisikan sebagai inflamasi/ peradangan pada satu ataulebih dari


sinus paranasal. Sinus adalah suatu rongga/ruangan berisi udaradengan dinding yang
terdiri dari membran mukosa. Meskipun tipe sinusitisakut yang sering terjadi adalah
disebabkan oleh virus dan alergi akan tetapidiagnosa sinusitis fungal atau bacterial
yang akurat sangatlah penting bagikebaikan pasien dan pencegahan komplikasi yang
mungkin terjadi, sepertisinusitis kronis atau menyebarkan infeksi ke tempat lain
(misalnyameningitis).

Sinusitis adalah suatu peradangan pada sinus yang terjadi karena alergi,infeksi
virus, bakteri dan jamur. Sinusitis biasa terjadi pada salah satu darikeempat sinus yang
ada (Cangjaya, 2002). Fungsi sinus adalah sebagai bilik personansi saat bicara. Sinus
menjadi tempat terjadinya infeksi.

Sinusitis mencakup proporsi yang tinggi dalam infeksi saluran pernafasan atas.
Jika ostium ke dalam nasal bersih, infeksi akan hilangdengan cepat. Namun demikian
bila drainase tersumbat oleh septum yangmengalami penyimpanan atau oleh turbinasi
yang mengalami hipertrofi, tajiatau polips, maka sinusitis akan menetap sebagai
pencetus infeksi sekunderatau berkembang menjadi suatu proses supurative akut.

Sinusitis dibagi menjadi :

1. Akut (berlangsung kurang dari 4 minggu)


2. Kronik (berlangsung lebih dari 12 minggu)
B. Etiologi

Sinus paranasal salah satu fungsinya adalah menghasilkan lender


yangdialirkan ke dalam hidung, untuk selanjutnya dialirkan ke belakang, ke
arahtenggorokan untuk ditelan ke saluran pencernaan. Semua keadaan
yangmengakibatkan tersumbatnya aliran lendir dari sinus ke rongga hidung akan
menyebabkan terjadinya sinusitis. Secara garis besar penyebab sinusitis ada 2 macam,
yaitu :

1. Faktor Lokal adalah semua kelainan pada hidung yang dapatmengakibatkan


terjadinya sumbatan; antara lain infeksi, alergi, kelainananatomi, tumor, benda
asing, iritasi polutan dan gangguan padamukosilia (rambut halus pada selaput
lendir).
2. Faktor Sistemik adalah keadaan diluar hidung yang dapat menyebabkansinusitis;
antara lain gangguan daya tahan tubuh (Diabetes, AIDS), penggunaan obat-obat
yang dapat mengakibatkan sumbatan hidung.

C. Patofisiologi

Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus danlancarnya


klirens mukosiliar (mucociliary clearance) di dalam KOM. Mukus juga mengandung
substansi antimicrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagaimekanisme pertahanan
tubuh terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan. Organ-organ yang
membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi edema, mukosa yang
berhadapan akan saling bertemu sehinggasilia tidak dapat bergerak dan ostium
tersumbat. Akibatnya terjadi tekanannegative di dalam ronga sinus yang
menyebabkan terjadinya transudasi,mula-mula serous. Kondisi ini biasa dianggap
sebagai rinosinusitis non- bacterial dan biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa
pengobatan.

Bila kondisi ini menetap, secret yang terkumpul dalam sinus merupakanmedia
baik untuk tumbuhnya dan multiplikasi bakteri. Secret menjadi purulen. Keadaan ini
disebut sebagai rinosinusitis akut bacterial danmemerlukan terapi antibiotic. Jika
terapi tidak berhasil (misalnya karena adafactor predisposisi), inflamasi berlanjut,
terjadi hipoksia dan bacteri anaerob berkembang. Mukosa makin membengkak dan ini
merupakan rantai siklus yang terus berputar sampai akhirnya perubahan mukosa
menjadi kronik yaituhipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista. Pada
keadaan inimungkin diperlukan tindakan operasi.

Klasifikasi dan mikrobiologi: Consensus international tahun 1995membagi


rinosinusitis hanya akut dengan batas sampai 8 minggu dan kronik jika lebih dari 8
minggu. Sedangkan Consensus tahun 2004 membagi menjadiakut dengan batas
sampai 4 minggu, subakut antara 4 minggu sampai 3 bulandan kronik jika lebih dari 3
bulan. Sinusitis kronik dengan penyebabrinogenik umumnya merupakan lanjutan dari
sinusitis akut yang tidak terobatisecara adekuat. Pada sinusitis kronik adanya factor
predisposisi harus dicari dan di obati secara tuntas.

Menurut berbagai penelitian, bacteri utama yang ditemukan padasinusitis akut


adalah streptococcus pneumonia (30-50%). Hemopylusinfluenzae (20-40%) dan
moraxella catarrhalis (4%). Pada anak,M.Catarrhalis lebih banyak di temukan (20%).
Pada sinusitis kronik, factor predisposisi lebih berperan, tetapi umumnya bakteri yang
ada lebih condong ke rarah bakteri negative gram dan anaerob.
Pathway
D. Manifestasi Klinis
1. Sinusitis Akut

Sinusitis akut sering terjadi sebagai akibat infeksi traktusrespiratorius atas,


terutama infeksi virus atau eksaserbasi rhinitisalergika. Manifestasi klinis
sinusitis akut :

a) Nyeri diatasi area sinus


Nyeri biasanya sesuai dengan daerah yang terkena, yaitu :
- Sinusitis maksilaris : nyeri pipi tepat di bawah mata, sakit gigi,sakit kepala.
- Sinusitis frontalis : sakit kepala di dahi.
- Sinusitis etmoidalis : nyeri di belakang dan diantara mata sertasakit kepala
di dahi, nyeri tekan di pinggiran hidung, berkurangnya indera penciuman
dan hidung tersumbat.
- Sinusitis sfenoidalis : nyeri yang lokasinya tidak dapat dipastikandan bisa
dirasakan di puncak kepala bagian depan ataupun belakang atau kadang
menyababkan sakit telinga dan leher
b) sekresi nasal yang purulent
2. Sinusitis Kronik
Sinusitis kronik biasanya disebabkan oleh obstruksi hidung kronikakibat rabas
dan edema membrane mukosa hidung. Manifestasi klinissinusitis kronik yaitu :
a) Batuk, karena tetesan konstan rabas kental kea rah nasofaring
b) Sakit kepala kronis pada daerah periorbital
c) Nyeri wajah, yang paling menonjol saat bangun tidur pada pagi hari
d) Keletihan

Gejala yang lainnya adalah :

1. Hidung tersumbat
2. Hiposmia/anosmia
3. Halitosis
E. Pemeriksa Penunjang
1. Rinoskopi anterior : Mukosa merah, mukosa bengkak, mukosa di meatusmedius
2. Rinoskopi posterior : Mukopus nasofaring
3. Nyeri tekan pipi sakit
4. Transiluminasi : kesuraman pada sisi sakit
5. X foto sinus paranasalis: Kesuraman, gambaran “airfluidlevel”, Penebalan Muka

F. Penatalaksanaan

Prinsip pengobatan ialah menghilangkan gejala membrantas infeksi,dan


menghilangkan penyebab. Pengobatan dpat dilakukan dengan cara konservatif dan
pembedahan. Pengobatan konservatif terdiri dari :

1. Istirahat yang cukup dan udara disekitarnya harus bersih dengan kelembaban yang
ideal 45-55%
2. Antibiotika ayang adekuat paling sedikit selama 2 minggu
3. Analgetika untuk mengatasi rasa nyeri
4. Dekongestan untuk memperbaiki saluran yang tidak boleh diberikan lebih dari
pada 5 hari karena dapat terjadi Rebound congestion dan Rhinitis redikamentosa.
Selain itu pada pemberian dekongestan terlalu lama dapat timbul rasa nyeri, rasa
terbakar,dan kering karena arthofimukosa dan kerusakan silia
5. Antihistamin jika ada factor alergi
6. Kortikosteoid dalam jangka pendek jika ada riwayat alergi yang cukup parah.

Pengobatan operatif dilakukan hanya jika ada gejala sakit yang kronis,otitis media
kronik, bronchitis kronis, atau ada komplikasi serta abses orbitaatau komplikasi abses
intracranial. Prinsip operasi sinus ialah untukmemperbaiki saluran sinus paranasalis
yaitu dengan cara membebaskanmuara sinus dari sumbatan. Operasi dapat dilakukan
dengan alat sinoskopi (1-“ESS= fungsional endoscopic sinus surgery). Tekhnologi
ballon sinuplasty digunakan sebagai perawatan sinusitis. Tekhnologi ini, sama dengan
balloon Angioplasty untuk menggunakan kateter balon sinus yang kecil dan
lentur(fleksibel) untuk membuka sumbatan saluran sinus, memulihkan saluran
pembuangan Sinus yang normaldan fungsi-fungsinya. Ketika balon mengembang, ia
akan secaraperlahan mengubah struktur dan memperlebardinding-dinding dari saluran
tersebut tanpa merusak jalur sinus.

G. Data Fokus
1. Data Objektif
a) Demam, drainage ada : Serous, Mukppurulen, Purulen
b) Polip mungkin timbul dan biasanya terjadi bilateral pada hidung dansinus y

ang mengalami radang → Pucat, Odema keluar dari hidngatau mukosa sinus

c) Kemerahan dan Odema membran mukosa


d) Pemeriksaan penunjung :
- Kultur organisme hidung dan tenggorokan
- Pemeriksaan rongent sinus
2. Data Subjektif
a) Observasi nares :
- Riwayat bernafas melalui mulut, kapan, onset, frekwensinya
- Riwayat pembedahan hidung atau trauma
- Penggunaan obat tetes atau semprot hidung : jenis, jumlah,frekwensinyya ,
lamanya
b) Sekret hidung :
- warna, jumlah, konsistensi secret
- Epistaksis
- Ada tidaknya krusta/nyeri hidung.
c) Riwayat Sinusitis :
- Nyeri kepala, lokasi dan beratnya
- Hubungan sinusitis dengan musim/ cuaca.
d) Gangguan umum lainnya : kelemahan
H. Analisa Data

NO DATA ETIOLOGI MASALAH


1 DS : Pasien mengatakan Anastesi Ketidak efektifan
hidung terpasang bersihan jalan nafas
tampor Pembedahan

DO : Anastesi
- Klien terlihat sulit bernafas
melalui hidung dan Pemasangan tampon
bernafas melalui mulut
- Pernafasan terlihat lambat Aspirasi
- Pasien terlihat tidak
nyaman Akumulasi secret
- RR : 14 x/menit
- TD : 110/70mmHg Ketidak efektifan jalan
- T : 36°C nafas
- N : 60 x/menit
2 DS : Pasien mengatakan Infeksi saluran pernafasan Hipertermi
badan terasa panas atas

DO : Makrofag menangkap benda


asing yang masuk ke tubuh
- TD : 100/60mmHg
- Nadi : 90 x/menit Merangsang pengeluaran
- Rr : 26 x/menit mediator kimia
- Suhu tubuh39°C
Prostaglandin

Peningkatan set. Point


Hipotalamus

Suhu tubuh meningkat

3 DS : Klien mengatakan nyeri Pembedahan Nyeri


luka operasi

Terputusnya inkontinuitas
DO : jaringan
- Klien terlihat tidak
nyaman,skala nyeri 6
- Klien terlihat meringis Hormon BPH meningkat
kesakitan
- Ekspresi wajah meringis
Merangsang SSp

Sensasi rasa nyeri

4 DS : Klien mengatakan Perubahan pada status Ansietas


cemas akan di lakukan kesehatan
operasi

DO : Ansietas
- Klien tampak gelisah
- Klien terlihat tegang
- Klien terlihat cemas
- Klien terlihat takut
5 DS : Klien mengatakan tidak Gelisah Defisiensi pengetahuan
tahu tentang penyakitnya

DO : Klien bingung
- Klien terlihat bingung
dengan penyakit yang
dideritanya sekarang Kurangnya informasi
- Klien tampak gelisah
- Klien terus bertanya-tanya
dengan pernyataan yang
sama

6 DS : Klien mengatakan tidur Inflamasi Gangguan istirahat tidur


terganggu

DO : Rasa tidak nyaman karena


- Klien sering terbangun hidung tersumbat (buntu)
- Gelisah
- Tidur kurangdari 6 jam
- Nafas pendek Kualitas tidur terganggu /
- RR : 14 x/menit tidur tidak nyenyak
- TD : 110/70mmHg
- T : 36°C
- N : 60 x/menit

I. Diagnosa Keperawatan

1. Ketidak efektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan sekresi berlebihan


sekunder akibat proses inflamasi

2. Hipertermia berhubungan dengan proses inflamasi, pemajanan kuman

3. Nyeri akut berhubungan dengan iritasi jalan napas atas sekunder akibatinfeksi

4. Ansietas berhubungan dengan proses penyakit (kesulitan bernapas), perubahan


dalam status kesehatan (eksudet purulen)

5. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit


yang diderita dan pengobatannya
6. Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hidung buntu., nyeri sekunder
peradangan hidung

J. Perencanaan Keperawatan

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional


Keperawatan Hasil
1 Ketidakefektifan Tujuan : - Kaji penumpukan - Mengetahui tingkat ke
bersihan jalan Bersihan jalan nafas secret yang ada parahan dan tindakan
napas kembali efektif selanjutnya
berhubungan Kriteria Hasil : - Minta klien nafas - Memberikan pasien
dengan sekresi - Mendemonstrasikan dalam sebelum beberapa cara untuk
berlebihan batuk efektif dan suction dilakukan mengatasi dan
sekunder akibat suaranafas yang mengontrol pernapasan.
- Posisikan pasien
proses inflamasi bersih, tidak ada - Peninggian kepala tempat
yang lebih aman,
sianosis dan tidur mempermudah
misalnya
dyspnea (mampu fungsi pernapasan
peninggian
mengeluarkan dengan menggunakan
kepala tempat
sputum, mampu gravitasi.
tidur, duduk pada
bernafas dengan - Mengetahui keadaan
sandaran tempat
mudah, tidak ada umum dan
tidur
pursed lips) perkembangan kondisi
- Menunjukkan jalan klien
napas yang paten - Kerjasama untuk
- Observasi tanda-
(klien tidak merasa menghilangkan
tanda vital
tercekik,irama penumpukan secret/
- Kolaborasi
nafas, frekuensi masalah
dengan timmedis
pernafasan dalam
rentang normal, untuk - Nebulizing dapat
tidak ada suara pembersihan mengencerkan secret dan
nafas abnormal) secret berperan sebagai
- Mampu - Kolaborasi bronkodilator
mengidentifikasi pemberian
dan mencegah nebulizing
faktor yang dapat
menghambat jalan
nafas
2 Hipertermia Setelah dilakukan - Observasi TTV - Mengetahui keadaan
berhubungan tindakan keperawatan umum dan perkembangan
dengan proses 1x24 jam suhu tubuh - Monitor suhu kondisi klien
inflamasi, pasien kembali tubuh sesering - Suhu tubuh harus
pemajanan normal, dengan KH : mungkin dipantau secara efektif
kuman - Suhu tubuh dalam guna mengetahui
rentang normal - Monitor intake perkembangan dan
- Nadi dan RR dalam dan output kemajuan dari pasien
rentang normal cairan - Mengetahui kebutuhan
- Tidak ada pasien
- Kompres pasien
perubahan warna - Dapat membantu
pada lipat paha
kulit dan tidak ada mengurangi demam
dan aksila
pusing - Mengurangi demam
dengan aksi sentralnya
- Kolaborasi
pada hipotalamus,
pemberian anti
meskipun demam
piretik
mungkin dapat berguna
dalam membatasi
pertumbuhan organisme
dan auto destruksi dari
sel-sel terinfeksi
3 Nyeri akut Setelah dilakukan - Kaji tingkat nyeri - Mengetahui tingkat nyeri
berhubungan tindakan keperawatan klien dalam menentukan
dengan iritasi 3x24 jam nyeri - Ajarkan teknik tindakan selanjutnya
jalan napas atas berkurang atau relaksasi dan - Klien mengetahui teknik
sekunder akibat hilang,dengan KH : distraksi relaksasi dan distraksi
infeksi - Mampu mengontrol sehingga dapa
- Kolaborasi dengan
nyeri (tahu tmempraktekkannya bila
tim medis
penyebab nyeri, mengalami nyeri
mampu - Menghilangkan/
- Monitor vital sign
menggunakan mengurangi keluhan nyeri
sebelum dan
teknik klien
sesudah
nonfarmakologi - Mengetahui keadaan
pemberian
untuk mengurangi umum dan perkembangan
analgesik pertama
nyeri, mencari kondisi klien
kali
bantuan)
- Melaporkan bahwa
nyeri berkurang
dengan
menggunakan
manajemen nyeri
- Mampu mengenali
nyeri(skala,
intensitas,frekuensi,
dan tanda nyeri)
- Menyatakan rasa
nyaman setelah
nyeri berkurang
4 Ansietas Setelah dilakukan - Gunakan - Agar pasien menjadi lebih
berhubungan tindakan keperawatan pendekatan yang nyaman
dengan proses 1x24 jam cemas klien menenangkan - Mengetahui tingkat
penyakit berkurang atau hilang - Identifikasi kecemasan klien dalam
(kesulitan dengan KH : tingkat menentukan tindakan
bernapas), - Klien mampu kecemasan selanjutnya
perubahan dalam mengidentifikasi - Dorong keluarga - Mengurangi kecemasan
status kesehatan dan mengungkapkan untuk memani - Klien mengetahui teknik
(eksudet gejala cemas pasien relaksasi sehingga dapat
purulen) - Mengidentifikasi, - Instruksikan klien mempraktekannya bila
mengungkapkan dan menggunakan
menunjukkan tehnik teknik relaksasi mengalami cemas
untuk mengontrol - Observasi tanda- - Mengetahui keadaan
cemas tanda vital umum dan perkembangan
- Vital sign dalam - Kolaborasi kondisi klien
batas normal dengan tim medis - Obat dapat Menurunkan
- Postur tubuh, lain tingkat kecemasan klien
ekspresi wajah,
bahasa tubuh dan
tingkat aktivitas
menunjukkan
berkurangnya
kecemasan
5 Defisiensi Setelah dilakukan - Berikan - Meningkatkan
pengetahuan tindakan keperawatan penjelasan pada pemahaman klien tentang
berhubungan 1x24 jam klien dapat klien tentang penyakit dan terapi untuk
dengan kurang lebih memahami penyakit yang di penyakit tersebut
informasi penyakit yang deritanya sehingga klien lebih
tentang penyakit dideritanya, dengan perlahan,tenang kooperatif
yang diderita dan KH : serta gunakan - Mengetahui keadaan
pengobatannya - Klien dan keluarga kalimat yang umum dan perkembangan
menyatakan jelas, singkat dan kondisi klien
pemahaman tentang mudah - Meningkatkan
penyakit,kondisi, dimengerti pengetahuan
prognosis, dan - Observasi TTV
program - Gambarkan tanda
pengobatan dan gejala yang
- Klien dan keluarga biasa muncul
mampu pada penyakit
melaksanakan dengan cara yang
prosedur yang tepat
dijelaskan secara
benar
- Klien dan keluarga
mampu
menjelaskan
kembali apa yang
dijelaskan perawat/
tim kesehatan
lainnya
6 Gangguan Setelah dilakukan - Kaji kebutuhan - Mengetahui permasalahan
istirahat tidur tindakan keperawatan tidur klien. klien dalam pemenuhan
berhubungan 1x24 jam istirahat kebutuhan istirahat tidur
dengan hidung tidur kembali normal, - Agar klien dapat tidur
buntu., nyeri dengan KH : - Ciptakan suasana dengan tenang
sekunder Klien dapat tidur 6 yangnyaman. - Pernafasan tidak
peradangan sampai 8 jam setiap terganggu
hidung hari - Pernafasan dapat efektif
kembali lewat hidung

K. Evaluasi
1. Potensi jalan napas dengan cairan sekret mudah dikeluarkan.
2. Nyeri teratasi atau berkurang.
3. Suhu tubuh kembali normal
4. Rasa cemas berkurang
5. Istirahat tidur klien kembali normal
DAFTAR PUSTAKA

Bare, Brenda G., Suzanne C. Smeltzer. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth Edisi 8. Jakarta: EGC.

Kusuma, Hardhi., Amin Huda Nurarif. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc. Yogyakarta:Mediaction.

Reeves, Charlene J., Gayie Roux., Robin Lochart. 2001. Keperawatan Medikal Bedah.
Jakarta: Salemba Medika.

Anda mungkin juga menyukai