Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

PROTEKSI TEGANGAN TINGGI


(PROTEKSI TRANSFORMATOR DAN BUSBAR)

Disusun oleh:
KE 3C
Kurnia Alifiana

3.22.12.2.12

PROGRAM STUDI TEKNIK KONVERSI ENERGI


JURUSAN TEKNIK MESIN
POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Suatu sistem tenaga listrik terdiri dari rangkaian peralatan yang sangat memungkinkan
untuk mengalami gangguan, baik sebagai akibat dari faktor luar maupun dari kerusakan
peralatan itu sendiri. Untuk itulah diperlukan sistem proteksi yang pada prinsipnya
bertugas sebagai berikut :
1. Mendeteksi gangguan yang terjadi dengan cara mengenali gejala gangguan yang
dapat berupa perubahan besaran tegangan, arus, sudut fasa maupun frekuensi.
2. Membebaskan (memisahkan) bagian sistem yang terganggu dari sistem yang tidak
terganggu.
Sistem proteksi tidak bisa menghilangkan datangnya gangguan, namun dengan adanya
sistem proteksi yang bekerja dengan baik maka beberapa kerugian dan kemungkinan
timbulnya bahaya atau kerusakan dapat dihindarkan. Berikut ini adalah beberapa manfaat
dari adanya sistem proteksi :
1. Mencegah kerusakan lebih jauh dari peralatan yang terganggu. Peralatan yang
terganggu tentu telah mengalami kelainan atau kerusakan awal. Apabila peralatan
tersebut tidak dibebaskan dari tegangan tentu kerusakan akan menjadi semakin
besar.
2. Mencegah bahaya terhadap manusia dan properti. Gangguan hubung singkat yang
melalui peralatan atau properti (misal rumah, pohon) tentu akan membahayakan
kalau tidak segera dibebaskan dari tegangan, karena semua benda yang
bersentuhan dengan sistem akan mempunyai tegangan sentuh yang membahayakan
bagi manusia.
3. Mencegah meluasnya pemadaman atau gangguan. Bila gangguan yang terjadi pada
suatu tempat tidak segera dipisahkan, maka gejala gangguan akan dirasakan oleh
seluruh atau sebagian besar sistem sehingga bisa menimbulkan gangguan yang
meluas atau bahkan bisa mengakibatkan pemadaman total (black out).

4. Mengurangi stress pada peralatan yang tidak terganggu. Gejala gangguan yang
terjadi pada suatu tempat akan dirasakan oleh peralatan yang tidak terganggua
disekelilingnya. Misalnya gangguan hubung singkat maka akan mengalirkan arus
yang sangat besar yang melewati komponen sistem (peralatan) disekitarnya dan ini
menimbulkan stress pada peralatan tersebut yang pada akhirnya bisa mengurangi
umur (life time) peralatan.
Pemilik sistem tenaga listrik tentu berharap setiap saat proteksi yang terpasang bisa
bekerja normal sesuai yang diharapkan. Namun demikian perlu dimaklumi bahwa proteksi
itu sendiri merupakan rangkaian dari beberapa peralatan yang masing-masing mempunyai
kemungkinan rusak atau gagal beroperasi. Semakin besar harapan yang diminta akan
semakin besar pula sumber daya yang harus diberikan pada sistem proteksi. Untuk itu
diperlukan keputusan yang logis, yang mempertimbangkan keseimbangan antara tingkat
keperluan dan biaya yang harus dikeluarkan. Sebagai contoh kompleksitas proteksi pada
sistem tegangan menengah tentu tidak perlu sama dengan proteksi pada sistem tegangan
tinggi.

1.2 RUMUSAN MASALAH


a. Apa yang diketahui tentang transformator dan busbar?
b. Bagaimana sistem proteksi pada transformator dan busbar?
1.3 TUJUAN
a. Mengetahui tentang transformator dan busbar.
b. Mengetahui sistem proteksi pada transformator dan busbar.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 TRANSFORMATOR
Transformator atau trafo adalah suatu peralatan listrik yang dapat memindahkan energi
listrik atau memindahkan dan mengubah energi listrik bolak-balik dari satu level ke level
tegangan yang lain melalui kinerja satu gandengan magnet dan berdasarkan prinsip induksi
elektromagnetik.
Pada umumnya transformator terdiri atas sebuah inti yang terbuat dari besi berlapis, dan
dua buah kumparan yaitu kumparan perimer dan kumparan sekunder. Kedua kumparan ini
tidak terhubung secara langsung. Satu-satunya hubungan antara kedua kumparan adalah
fluks magnetik bersama yang terdapat dalam inti. Salah satu dari kedua kumparan
transformator tadi dihubungkan ke sumber daya listrik bolak-balik dan kumparan kedua
(serta ketiga jika ada) akan mensuplai daya ke beban. Kumparan transformator yang
terhubung kesumber daya dinamakan kumparan primer sedangkan yang terhubung ke beban
dinamakan kumparan sekunder, jika terdapat kumparan ketiga dianamakan kumparan
tersier.
Transformator digunakan secara luas baik dalam bidang tenaga listrik maupun
elektronika. Penggunaan transformator dalam sistem tenaga memungkinkan terpilihnya
tegangan yang sesuai dan ekonomis untuk tiap-tiap keperluan misalnya, kebutuhan akan
tegangan tinggi dalam pengiriman daya jarak jauh. Penggunaan transformator yang sangat
sederhana dan andal merupakan salah satu alasan penting dalam pemakaiannya dalam
penyaluran tenaga listrik arus bolak-balik, karena arus bolakbalik sangat banyak
dipergunakan untuk pembangkitan dan penyaluran tenaga listrik. Pada penyaluran tenaga
listrik terjadi kerugian sebesar I2R watt, kerugian ini akan banyak berkurang apabila
tegangan dinaikkan. Dengan demikian saluran-saluran tenaga listrik senantiasa mempergunakan
tegangan yang tinggi.
Tegangan yang paling tinggi di Indonesia pada saat ini adalah 500 kV. Hal ini dilakukan
terutama untuk mengurangi kerugian energi yang terjadi. Dan menaikkan tegangan listrik di
pusat listrik dari tegangan generator yang biasanya berkisar antara 6-20 kv pada awal saluran
transmisi, dan menurukannya pada ujung saluran itu ketegangan yang lebih rendah, dilakukan

dengan transformator. Transformator yang dipakai pada jaringan tenaga listrik merupakan
transformator tenaga.
Disamping itu, ada jenis jenis transformator lain yang banyak dipergunakan, dan yang
pada umumnya merupakan transformator yang jauh lebih kecil.Misalnya transformator yang
dipakai dirumah tangga, yang dipakai pada lampu TL, pesawat radio, televisi dan berbagai alat
elektronika lainnya.

2.1.1 PROTEKSI TRANSFORMATOR


Transformator (trafo) merupakan peralatan utama gardu induk. Komponen trafo terdiri
atas kumparan, inti besi dan minyak isolasi, oleh karena itu maka pada trafo terdapat
parameter elektrik maupun non elektrik khususnya temperatur dan hal ini yang membuat
proteksi trafo terdiri atas proteksi elektrik maupun non elektrik. Dibawah ini tabel
proteksi trafo sesuai dengan SPLN 52-1.
Tabel 1. Jenis Proteksi Trafo
No

Jenis Proteksi

Kapasitas (MVA)
10

10<<30

30

Rele Suhu

Rele Bucholz

Rele Jansen

Rele Tekanan Lebih

Rele Differensial

Rele Tangki Tanah

Rele Hubung Tanah Terbatas (REF)

Rele Beban Lebih ( OLR )

Rele Arus Lebih ( OCR )

10

Rele Hubung Tanah ( GFR )

11

Pelebur ( Fuse )

2.1.1.1 PROTEKSI ELEKTRIK

Trafo mempunyai proteksi elektrik utama (main) maupun cadangan (back-up). Dibawah
ini digambarkan proteksi elektrik terpasang pada trafo daya ukuran 30 MVA atau lebih.

Gambar 1. Proteksi elektrik trafo


Pengaman utama trafo pada prinsispnya adalah relai diferential yang bekerja bila terjadi
gangguan fasa-fasa maupun fasa-tanah. Diferential yang terpasang pada trafo terdiri dari
dua macam :
1. Terpasang antara sisi primer dan sekunder [3]
2. Terpasang antara netral dengan fasa, baik sisi primer [4] maupun sisi sekunder [2], disebut
restricted earth fault / REF.
Dalam hal terjadi gangguan pada kawasan pengamanannya (antara dua CT), maka
pengaman utama mentripkan PMT trafo disisi primer maupun sekunder.
Pengaman cadangan trafo adalah OCR untuk gangguan fasa-fasa dan GFR untuk
gangguan fasa-tanah disisi primer [5] yang mentripkan PMT sisi primer saja. Adapun
OCR/GFR sisi sekunder [1] merupakan pengaman cadangan jauh (remote back-up) bagi
penyulang keluar. Proteksi no [6] adalah stand by earth fault, bekerja bila terjadi
gangguan hubung singkat diluar trafo khususnya untuk mengamankan peralatan
pentanahan (NGR).

Selanjutnya dalam tabel 2 disampaikan beberapa kemungkinan gangguan yang bisa


terjadi pada trafo beserta pengaman apa yang bekerja dan bagaimana akibatnya bila
gangguan tidak segera diisolasi.
Tabel 2. Gangguan dan proteksi trafo.
No

Jenis Gangguan

Hubung singkat di
dalam daerah
pengamanan trafo

Proteksi

Akibat

Utama

Back

Diffrensial

up
OCR

REF

GFR

Kerusakan pada isolasi,


kumparan atau inti
Tangki menggembung

Bucholz
Tangki Tanah

Hubung singkat diluar


daerah pengamanan
trafo

Tek. lebih
OCR

OCR

GFR

GFR

Kerusakan pada isolasi


atau kumparan atau
NGR

SBEF
4

Gangguan sistem pen-

Rele suhu

Kerusakan isolasi

Gangguan pada

Jansen

Kerusakan OLTC

OLTC

Tek lebih

Tegangan lebih

OVR

Kerusakan isolasi

dingin
5

2.1.1.2 RELAI DIFFERENSIAL

Relai diferensial bekerja berdasarkan hukum Kirchoff yaitu jumlah arus yang
melalui satu titik sama dengan nol. Pada relai diferensial yang dimaksud suatu titik
adalah daerah yang diamankan (protected zones) yang dibatasi trafo arus yang
tersambung ke relai diferensial. Pada keadaan tanpa gangguan atau gangguan di
luar daerah yang diamankan, jumlah arus yang melalui daerah yang diamankan
sama dengan nol. Pada keadaan gangguan di dalam daerah yang diamankan,
jumlah arus yang melalui daerah yang diamankan tidak sama dengan nol. Gambar
2 menunjukkan kondisi normal (tidak ada gangguan) atau ada gangguan diluar
kawasan pengamanannya. Dalam hal ini i1 = i2 dan berlawanan arah, sehingga
arus yang masuk relai nol, relai tidak bekerja. Apabila terjadi gangguan dalam
kawasan pengamanannya maka i2 berubah arah sehingga arus yang masuk ke relai
= i1+i2, tidak sama dengan nol sehingga relai bekerja.

KAWASAN
PENGAMANAN

CT1

CT2

I1

I2

i2

i1

Gambar 2. Prinsip pengaman diferensial

Dalam praktek, relai diferensial tersebut mengalami beberapa permasalahan sebagai


berikut :
1. Adanya perbedaan karakteristik CT sisi primer dengan sekunder. Hal ini
mengakibatkan output CT tidak selalu sama.

2. Adanya perubahan ratio trafo dikarenakan perubahan posisi on load tap changer
(OLTC)
3. Adanya magnetizing inrush current, yaitu arus yang mengalir pada sisi primer saja
yang terjadi pada saat trafo diberi tegangan.
Permasalahan no.1 dan no.2 diatasi dengan penggunaan relai diferensial bias, yaitu
relai dengan kumparan penahan (restrain) sehingga tidak selalu bekerja meskipun
ada perbedaan antara i1 dan i2. Karakteristik relai diferensial bias disampaikan
pada gambar 3. Karakteristik tersebut menjelaskan hubungan antara arus penahan
(restrain) dengan arus operasi. Relai akan bekerja apabila terletak pada daerah
TRIP, sedangkan apabila pada posisi BLOK maka relai tidak bekerja. Arus operasi
IO = i1-i2 sedangkan arus restrain IR = (i1+i2)/2. Relai disetting dengan Iomin yaitu
arus minimum relai kerja dan slope V%. Padaumumnya IO min diset 0,3 arus
nominal relai sedangkan V% di set 30 %.

I0
SLOPE V%

I02
I 01

I 0

TRIP

I R

V%=

I 0
I R

BLOK

I0 min
IR

Gambar 3. Karakteristik diferensial bias.

g%

2.1.1.3 WIRING DIFERENSIAL.


Pada diferensial trafo daya ada dua variabel yang dibandingkan antara primer dan
sekunder yaitu besar arus dan arah atau sudut fasenya. Dalam keadaan normal
atau keadaan gangguan luar maka variabel sisi primer harus sama dengan sisi
sekunder. Untuk merealisasikan hal ini maka diperlukan penyesuaian sudut fase
denganwiring dan penyesuaian besarnya arus dengan ACT. Syarat wiring dapat
dilihat dalam tabel 3 berikut.
Tabel 3. Syarat wiring diferensial trafo
Sambungan

Sambungan CT

Sambungan ACT
Primer

Sekunder

Sisi Trafo
Y

Contoh penerapan wiring secara lengkap untuk trafo dengan hubungan belitan Yy0
disampaikan dalam gambar 4. Dengan perkembangan teknologi elektronika, relai
diferensial sudah mampu mengakomodir segala kondisi CT sehingga sangat mudah
penerapannya.

Gambar 4. wiring diferensial trafo Yy0

2.2 BUSBAR
Busbar atau rel adalah titik pertemuan atau hubungan trafo-trafo tenaga, SUTT, SKTT dan
peralatan listrik lainnya untuk menerima dan menyalurkan tenaga listrik atau daya listrik.
Ada pula yang mengartikan, Busbar dalam sistem tenaga adalah lokasi di mana jalur
transmisi, sumber generasi, dan beban distribusi bertemu. Karena konvergensi ini, sirkuit
pendek yang terletak di dekat busbar cenderung memiliki arus besar yang sangat tinggi.
Karena arus sangat besarnya, maka jika ada kesalahan memerlukan kecepatan yang tinggi
dalam operasi perlindungan busbar untuk membatasi kerusakan peralatan tersebut. Namun,
kliring berkecepatan tinggi harus seimbang terhadap kebutuhan untuk keamanan.
Tersandung salah untuk kesalahan eksternal dapat menyebabkan gangguan besar, dan
membahayakan stabilitas daya sistem. Besarnya kesalahan yang tinggi meningkatkan
kemungkinan CT saturasi selama kesalahan eksternal dekat dengan busbar, dan CT saturasi
meningkatkan kemungkinan operasi yang salah dari perlindungan busbar.

2.2.1 PROTEKSI BUSBAR


Gangguan pada busbar relatif jarang (sekitar 7 % ) dibandingkan dengan gangguan pada
penghantar (sekitar 60 %) dari keseluruhan gangguan, tetapi dampaknya akan jauh lebih
besar dibandingkan pada gangguan penghantar, terutama jika pasokan yang terhubung
ke pembangkit tersebut cukup besar. Dampak yang dapat ditimbulkan oleh gangguan di
bus jika gangguan tidak segera diputuskan antara lain adalah :
1. Kerusakan instalasi
2. Timbulnya masalah stabilitas transient,
3. Dimungkinkan OCR dan GFR di sistem bekerja sehingga pemutusan menyebar.
Proteksi busbar pada prinsipnya adalah menjumlah seluruh arus yang keluar dan masuk
busbar, yang dalam keadaan normal harus sama dengan nol. Desain proteksi busbar
harus benar-benar selektif dan tidak mengijinkan terjadi malakerja karena PMT yang
ditripkan oleh proteksi busbar cukup banyak.
2.2.1.1 PROTEKSI BUSBAR TUNGGAL
Gambar 5 menunjukkan proteksi untuk single busbar yang dibagi menjadi dua (zone).
Kelompok CT ke-1 yaitu a,b dan c merupakan daerah proteksi relai diferensial untuk
zone 1 dan kelompok CT ke-2 yaitu d,e dan f untuk zone 2.

Gambar 5. Proteksi Single Busbar


Sedangkan kelompok CT ke-3 yaitu g,h,j dan k berfungsi sebagai check zone yang
berfungsi memastikan bahwa gangguan merupakan gangguan internal dan untuk
mencegah mal operasi jika ada kelainan pada proteksi busbar masingmasing zone

(misalnya ada wiring yang terbuka atau terhubung singkat). Jika terjadi gangguan pada
zone 1, maka jumlah arus dari CT a, b dan c tidak sama dengan nol, akibatnya ada
arus yang melalui relai R1. Hal ini juga dirasakan oleh relai R3 yang akan menutup
kontaknya untuk memberi tegangan positip, dan dengan menutupnya kontak dari relai
R1 maka sinyal trip akan dikirim ke PMT yang dilingkupi CT a,b dan c. Dengan
demikian zone 1 dapat diisolir dari sistem. Jika ada rangkaian arus yang terbuka pada
zone proteksi, maka pada saat beban yang cukup besar atau pada saat ada gangguan
eksternal, akan menyebabkan proteksi busbar pada zone tersebut tidak stabil atau relai
dari busbar tersebut akan menutup kontaknya. Tetapi dengan adanya chek zone, relai
tersebut tidak mendapat tegangan positip sehingga mal operasi dapat dicegah.
2.2.1.2 PROTEKSI BUSBAR GANDA
Proteksi busbar ganda disampaikan dalam gambar 3-6. Tampak pada gambar bahwa
sistem tersebut mengakomodasi manuver rel melalui Disconector Switch (DS) atau
Pemisah (PMS). Dengan bantuan kontak bantu pada posisi masingmasing DS maka
secara otomatis zone dari relai busbar akan mengikuti posisi dari DS.

Gambar 6. Proteksi busbar ganda

DAFTAR PUSTAKA
maxup01.blogspot.com
PT PLN (PERSERO) JASA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN UNIT DIKLAT
SEMARANG
repository.usu.ac.id