Anda di halaman 1dari 19

EVOLUSI II

KELOMPOK 8:
1. Ivan Wisnu Adipradana
2. Nurita Suci Lestari
3. Rininta Triaswinanti
4. Rizky Rivonda

(28)

(19)
(25)
(29)

XII IPA 3
SMA NEGERI 91
JAKARTA

A.Spesiasi
Spesiasi adalah proses suatu spesies berdivergen menjadi dua atau lebih spesies. Ia telah terpantau
berkali-kali pada kondisi laboratorium yang terkontrol maupun di alam bebas. Pada organisme yang
berkembang biak secara seksual, spesiasi dihasilkan oleh isolasi reproduksi yang diikuti dengan divergensi
genealogis.

Gambar empat mekanisme spesiasi

Terdapat empat mekanisme spesiasi. Yang paling umum terjadi pada hewan
adalah spesiasi alopatrik, yang terjadi pada populasi yang awalnya terisolasi secara
geografis, misalnya melalui fragmentasi habitat atau migrasi. Seleksi di bawah kondisi
demikian dapat menghasilkan perubahan yang sangat cepat pada penampilan dan
perilaku organisme. Karena seleksi dan hanyutan bekerja secara bebas pada populasi
yang terisolasi, pemisahan pada akhirnya akan menghasilkan organisme yang tidak
akan dapat berkawin campur.
Mekanisme kedua spesiasi adalah spesiasi peripatrik, yang terjadi ketika sebagian
kecil populasi organisme menjadi terisolasi dalam sebuah lingkungan yang baru. Ini
berbeda dengan spesiasi alopatrik dalam hal ukuran populasi yang lebih kecil dari
populasi tetua. Dalam hal ini, efek pendiri menyebabkan spesiasi cepat melalui
hanyutan genetika yang cepat dan seleksi terhadap lungkang gen yang kecil.
Mekanisme ketiga spesiasi adalah spesiasi parapatrik. Ia mirip dengan spesiasi
peripatrik dalam hal ukuran populasi kecil yang masuk ke habitat yang baru, namun
berbeda dalam hal tidak adanya pemisahan secara fisik antara dua populasi. Spesiasi ini
dihasilkan dari evolusi mekanisme yang mengurangi aliran genetika antara dua
populasi. Secara umum, ini terjadi ketika terdapat perubahan drastis pada lingkungan
habitat tetua spesies. Salah satu contohnya adalah rumput Anthoxanthum odoratum,
yang dapat mengalami spesiasi parapatrik sebagai respon terhadap polusi logam
terlokalisasi yang berasal dari pertambangan. Pada kasus ini, tanaman berevolusi
menjadi resistan terhadap kadar logam yang tinggi dalam tanah. Seleksi keluar terhadap
kawin campur dengan populasi tetua menghasilkan perubahan pada waktu
pembungaan, menyebabkan isolasi reproduksi. Seleksi keluar terhadap hibrid antar dua
populasi dapat menyebabkan "penguatan", yang merupakan evolusi sifat yang
mempromosikan perkawinan dalam spesies, serta peralihan karakter, yang terjadi ketika
dua spesies menjadi lebih berbeda pada penampilannya.

Gmbar isolasi geografis burung Finch di Kepulauan Galapagos menghasilkan lebih dari satu lusin
spesies baru

Mekanisme keempat spesiasi adalah spesiasi simpatrik, di mana spesies


berdivergen tanpa isolasi geografis atau perubahan pada habitat. Mekanisme ini cukup
langka karena hanya dengan aliran gen yang sedikit akan menghilangkan perbedaan
genetika antara satu bagian populasi dengan bagian populasi lainnya. Secara umum,
spesiasi simpatrik pada hewan memerlukan evolusi perbedaan genetika dan perkawinan
tak-acak, mengijinkan isolasi reproduksi berkembang
Salah satu jenis spesiasi simpatrik melibatkan perkawinan silang dua spesies yang
berkerabat, menghasilkan spesies hibrid. Hal ini tidaklah umum terjadi pada hewan
karena hewan hibrid bisanya mandul. Sebaliknya, perkawinan silang umumnya terjadi
pada tanaman, karena tanaman sering menggandakan jumlah kromosomnya,
membentuk poliploid. Ini mengijinkan kromosom dari tiap spesies tetua membentuk
pasangan yang sepadan selama meiosis. Salah satu contoh kejadian spesiasi ini adalah
ketika tanaman Arabidopsis thaliana dan Arabidopsis arenosa berkawin silang,
menghasilkan spesies baru Arabidopsis suecica. Hal ini terjadi sekitar 20.000 tahun
yang lalu, dan proses spesiasi ini telah diulang dalam laboratorium, mengijinkan kajian
mekanisme genetika yang terlibat dalam proses ini. Sebenarnya, penggandaan
kromosom dalam spesies merupakan sebab utama isolasi reproduksi, karena setengah
dari kromosom yang berganda akan tidak sepadan ketika berkawin dengan organisme
yang kromosomnya tidak berganda.
Untuk lebih jelasnya, kami akan menjelaskan lebih dalam lagi mengenai macammacam spesiasi. Spesiasi dapat disebabkan oleh mekanisme pengisolasian, mutasi dan
seleksi alam, serta poliploidi (pada tanaman).

a) Mekanisme Pengisolasian
1. Spesiasi Alopatrik ( Allopatric Speciation)

Terjadinya spesiasi alopatrik banyak dibuktikan melalui studi variasi geografi.


Spesies yang beranekaragam secara geografis dari seluruh karakter dapat
menghalangi pertukaran gen antara spesies simpatrik. Populasi yang terpisah secara
geografis dapat terisolasi oleh kemandulan atau perbedaan perilaku dibandingkan
dengan populasi yang berdekatan. Populasi yang terisolasi mungkin tidak dapat
melakukan interbreeding jika mereka bertemu, karena bentuknya sangat
menyimpang (divergent) dan kemudian masuk ke dalam simpatrik tetapi tidak terjadi
interbreeding. Spesiasi alopatrik merupakan mekanisme isolasi yang terjadi secara
gradual.
Contoh bukti perbedaan alopatrik misalnya hewan air tawar menunjukkan
keanekaragaman yang besar di daerah pegunungan yang banyak terisolasi dengan
sistem sungai. Pada suatu pulau suatu spesies adalah homogen di atas rentang
kontinen yang berbeda dalam hal penampilan, ekologi dan perilaku. Contoh spesiasi
alopatrik lainnya adalah pembentukan spesies burung finch di Kepulauan Galapagos
yang dikemukakan oleh Darwin. Menurut Darwin dalam Stearns and Hoekstra
(2003) bahwa burung finch berasal dari satu nenek moyang burung yang sama.
Spesiasi alopatrik juga dialami oleh tupai antelope di Grand Canyon. Di mana
pada tebing selatan hidup tupai antelope harris (Ammospermophillus harris).
Beberapa mil dari daerah itu pada sisi tebing utara hidup tupai antelope berekor
putih harris (Ammospermophillus leucurus), yang berukuran sedikit lebih kecil dan
memiliki ekor yang lebih pendek dengan warna putih di bawah ekornya. Ternyata di
situ semua burung-burung dan organisme lain dapat dengan mudah menyebar
melewati ngarai ini, tetapi tidak dapat dilewati oleh kedua jenis tupai ini.
2. Spesiasi Simpatrik
Menurut Campbell, dkk (2003) dalam spesiasi simpatrik, spesies baru muncul
di dalam lingkungan hidup populasi tetua, isolasi genetik berkembang dengan
berbagai cara, tanpa adanya isolasi geografis. Model spesiasi simpatrik meliputi
spesiasi gradual dan spontan. Sebagian besar model spesiasi simpatrik masih dalam
kontroversi, kecuali pada model spesiasi spontan dan spesiasi poliploidi yang terjadi
pada tumbuhan.
Hugo de Vries menyatakan bahwa spesiasi simpatrik dengan autopoliploidi
yang terjadi pada tumbuhan bunga primrose (Oenothera lamarckiana) yang
merupakan suatu spesies diploid dengan 14 kromosom. Di mana suatu saat muncul
varian baru yang tidak biasanya diantara tumbuhan itu dan bersifat tetraploid dengan
28 kromosom. Selanjutnya bahwa tumbuhan itu tidak mampu kawin dengan bunga
mawar diploid, spesies baru itu kemudian dinamai Oenothera gigas. Mekanisme lain
spesiasi adalah alopoliploid yaitu kontribusi dua spesies yang berbeda terhadap
suatu hibrid poliploid. Misalnya rumput Spartina anglica yang berasal dari

hibridisasi Spartina maritima dengan Spartina alternaflora. Spesiasi simpatrik pada


hewan contohnya serangga Rhagoletis sp.
Model-model spesiasi simpatrik didasarkan pada seleksi terpecah (distruptive
selection), seperti ketika dua homozigot pada satu atau lebih lokus teradaptasi
dengan sumber yang berbeda dan hal itu merupakan suatu multiple-niche
polymorphism. Contohnya pada serangga herbivora bergenotip AA dan AA
teradaptasi dengan spesies tumbuhan 1 dan 2, dimana genotip AA tidak teradaptasi
dengan baik. Masing-masing homozigot ingin mempunyai fittes lebih tinggi jika
dilakukan mating secara assortative dengan genotip yang mirip dan tidak
menghasilkan keturunan heterozigot yang tidak fit. Assortative mating mungkin
dipertimbangkan adanya lokus B yang dapat mempengaruhi perilaku kawin maupun
mendorong serangga untuk memilih inang spesifik, yang pada tempat tersebut dapat
ditemukan pasangan dan kemudian dapat bertelur. Jika BB dan Bb kawin hanya
pada inang 2, perbedaan dalam pemilihan inang dapat mendasari terjadinya
pengasingan/ isolasi reproduktif. Banyak dari serangga herbivora yang merupakan
spesies yang berkerabat dekat dibatasi oleh perbedaan inang, terutama untuk
pemenuhan kebutuhan makan, mating/kawin.
Spesiasi tipe ini terjadi melalui beberapa cara, yaitu isolasi tingkah laku,
isolasi ekologi, isolasi musiman, isolasi mekanis, isolasi gamet dan isolasi hibrid.
Isolasi Tingkah Laku
Tidak ada ketertarikan seksual di antara jantan dan betina pada spesies yang
berbeda. Sinyal khusus yang mengawali terjadinya perkawinan merupakan
hal unik di dalam satu spesies. Biasanya hewan jantan memberi tanda atau
sinyal tertentu dalam bentuk tingkah laku, seperti mengeluarkan suara,
melakukan ritual, tarian atau mengekskresikan zat kimia. Contohnya burung
bower jantan akan menghiasi sarangnya dengan ranting berwarna biru,
menari dan berkicau untuk menarik perhatian betina. Setelah proses ritual
selesai, maka akan terjadi perkawinan.

Isolasi Ekologis

Isolasi ekologis juga dapat menyebabkan isolasi reproduksi yang kemudian


diikuti dengan spesiasi jika anggota-anggota populasi menempati nisia
(relung) ataupun habitat yang berbeda. Contohnya adalah jika suatu anggota
populasi hidup di puncak pohon, sedangkan anggota populasi lainnya hidup
di dasar hutan. Kedua anggota populasi tersebut menempati daerah yang
sama, tetapi tidak dapat melakukan reproduksi karena tidak dapat bertemu.
Isolasi Musiman (Temporal)
Isolasi musiman merupakan isolasi yang disebabkan noleh perbedaan masa
aktif reproduksi anggota-anggota populasi dalam satu tahun. Isolasi ini
terjadi ketika dua subspecies dapat disilangkan secara buatan untuk
mengahasilkan keturunan atau hibrid, tetapi di alam keduanya menghasilkan
gamet-gamet pada waktu yang berbeda dalam satu tahun.
Contohnya, spesies Pinus radiata dan P. muricata hidup di area yang sama di
Kalifornia Tengah. Kedua spesies ini tidak dapat saling kawin karena P.
radiata melepaskan serbuk sari pada bulan Februari, sedangkan P. muricata
pada bulan April. Sigung dari bagian Timur dan sigung dari bagian Barat
padang rumput di Amerika mempunyai musim kawin yang berbeda, sehingga
tidak dapat saling kawin.

Isolasi Mekanis
Perkawinan tidak dapat terjadi akibat organ seksual eksternal yang tidak
cocok satu sama lain. Organ kopulasi pada banyak insekta jantan hanya
6

sesuai untuk betina dari spesies yang sama. Banyak spesies tumbuhan
mempunyai struktur bunga yang beradaptasi dengan polinator tertentu
(insekta/hewan lain misal burung), contohnya tanaman sage hitam memiliki
bunga kecil, penyerbukan dilakukan oleh lebah kecil. Sage putih memiliki
struktur bunga yang besar sehingga penyerbukan hanya dapat dilakukan oleh
lebah besar.

Isolasi Gametik
Jantan dan betina dari spesies yang berbeda dapat melakukan perkawinan,
tetapi pembuahan yang terjadi tidak akan menghasilkan zigot. Hal ini berlaku
pada pembuahan internal maupun eksternal. Pada banyak mamalia sperma
tidak dapat bertahan hidup di dalam saluran reproduksi betina spesies lain,
jantan dan betina bulu babi mengeluarkan sperma dan telur di laut. Fertilisasi
dapat berlangsung jika molekul pada permukaan sperma dan telur dapat
bersatu. 2. Penghalang poszigotik (mencegah perkembangan makhluk hidup
dewasa yang fertil) zigot yang dihasilkan disebut hibrid zigot. Ada tiga
macam penghalang poszigotik:
a. Ketidakmampuan hibrid untuk berkembang (hybrid inviability); misal
katak dari genus Rana yang hidup di habitat sama dapat saling kawin
tetapi hibrid tidak dapat berkembang sempurna atau menjadi individu
yang lemah.
b. Sterilitas hibrid (hybrid sterility), hibrid yang dihasilkan dari perkawinan
dua spesies berbeda, bersifat steril, oleh karena itu hibrid ini tidak dapat
mewariskan sifat tetuanya; misalnya hibrid (disebut bagal) antara kuda
dan keledai.

Gambar Sterilitas Hibrid

c.

Kegagalan rantai pewarisan pada hibrid


(hybrid breakdown); generasi hibrid
pertama fertil dan mampu berkembang,
tetapi jika hibrid ini saling kawin maka atau hibrid kawin dengan tetua
maka hibrid keturunannya bersifat steril.

Isolasi Hibrid
Isolasi hibrid terjadi ketika dua organisme yang berbeda melakukan
perkawinan, tetapi zigot hibrid yang terbentuk gagal berkembang mencapai
tingkat kematangan seksual. Kalupun amampu berkembang mencapai tingkat
kematangan seksual, individu hibrid yang terbentuk infertil atau steril.
Contohnya adalah bagal (mule) yang merupakan hasil persilangan antara
kuda betina dan keledai jantan.
3. Spesiasi Parapatrik/ Semi Geografik
Jika seleksi menyokong dua alel berbeda yang berdekatan atau parapatrik,
frekuensi sudah dapat ditetapkan. Dengan cukupnya seleksi pada suatu lokus yang
berkontribusi terhadap isolasi reproduktif, populasi dapat membedakan kepada
spesies yang terisolasi secara reproduktif. Endler (1977) dalam Widodo dkk (2003)
berargumen bahwa zona bastar yang biasanya menandai untuk dapat terjadinya
kontak sekunder sebenarnya sudah muncul secara in situ (melalui perbedaan
populasi parapatrik dan spesies yang muncul juga parapatrik).
Spesiasi parapatrik merupakan spesiasi yang terjadi karena adanya variasi
frekuensi kawin dalam suatu populasi yang menempati wilayah yang sama. Pada
model ini, spesies induk tinggal di habitat yang kontinu tanpa ada isolasi geografi.
Spesies baru terbentuk dari populasi yang berdekatan. Suatu populasi yang berada di
dalam wilayah tertentu harus berusaha untuk beradaptasi dengan baik untuk
menjamin kelangsungan hidupnya, dan usaha itu dimulai dengan memperluas daerah
ke daerah lain yang masih berdekatan dengan daerah asalnya. Apabila di area yang
baru ini terjadi seleksi, maka perubahan gen akan terakumulasi dan dua populasi
akan berubah menjadi teradaptasikan dengan lingkungan barunya. Jika kemudian
mereka berubah menjadi spesies lain (spesies yang berbeda), maka perbatasan ini
akan diakui sebagai zona hibrid. Dengan demikian, dua populasi tersebut akan
8

terpisah, namun secara geografis letaknya berdekatan sepanjang gradient


lingkungan.
Di dalam spesiasi parapatrik tidak ada barier ekstrinsik yang spesifik untuk
gene flow. Populasi berlanjut, tetapi populasi tidak kawin secara acak, individu lebih
mudah kawin dengan tetangganya secara geografis dari pada individu di dalam
cakupan populasi yang berbeda. Artinya bahwa individu lebih mungkin untuk kawin
dengan tetangganya daripada dengan individu yang ada dalam cakupan Di dalam
gaya ini, penyimpangan boleh terjadi oleh karena arus gen dikurangi di dalam
populasi dan bermacam-macam tekanan pemilihan ke seberang cakupan populasi.

b) Mutasi dan Seleksi Alam


Mutasi gen merupakan perubahan struktur kimia gen (DNA) yaitu pada basa
nukleotidanya, yang menyebabkan perubahan sifat pada suatu organisme dan
bersifat menurun. Pemahaman mengenai mutasi gen dapat dijelaskan lebih lanjut
dengan mempelajari angka laju mutasi dan frekuensi gen dalam populasi.
Angka laju mutasi merupakan angka yang menunjukkan banyaknya gen yang
bermutasi dari seluruh gamet yang dihasilkan oleh satu individu suatu spesies.
Angka laju mutasi suatu spesies biasanya sangat rendah, yaitu rata-rata 1 : 100.000.
Hal ini berarti pada setiap 100.000 gamet terdapat satu gen yang bermutasi.
Meskipun angka laju mutasi sangat kecil, namun tetap menjadi salah satu
mekanisme evolusi yang penting. Alasannya: (1) setiap gamet dapat mengandung
beribu-ribu gen, (2) setiap individu mampu menghasilkan ribuan bahkan jutaan
gamet, dan (3) jumlah tiap generasi dalam suatu populasi individu sangat banyak.
Umumnya mutasi bersifat merugikan. Peluang terjadinya mutasi yang
menguntungkan hanya sekitar 1 : 1.000, yang berarti pada setiap 1.000 kali mutasi,
hanya ada satu mutasi yang menguntungkan. Meskipun peluang mutasi yang
menguntungkan kecil, namun karena jumlah generasi selama populasi spesies
tersebut hidup besar, maka jumlah mutasi yang menguntungkan juga besar.
Mutasi dikatakan menguntungkan kalau mutasi:
1. menghasilkan spesies yang adaptif dan
2. menghasilkan spesies yang mempunyai vitalitas (daya hidup) dan viabilitas
(kelangsungan hidup) yang tinggi.
Sebaliknya, mutasi dikatakan merugikan bila mutasi:
1. menghasilkan alel yang mengakibatkan mutasi letal (mematikan),
2. menghasilkan spesies yang tidak adaptif, dan
3. menghasilkan spesies yang mempunyai vitalitas rendah.
Mutasi yang menyebabkan timbulnya alel letal, misalnya alel letal yang
bersifat resesif. Pengaruh gen letal resesif ini hanya tampak bila berada dalam
keadaan homozigot, namun tidak tampak pada keadaan heterozigot. Gen resesif ini
akan tetap ada dalam populasi dan seleksi alam hanya akan bekerja pada individuindividu yang homozigot.
9

Perbandingan frekuensi (penyebaran) alel dominan yang non letal dan alel
resesif yang letal dapat diketahui dengan menghitung frekuensi alel populasinya.
Atau, perbandingan frekuensi genotip homozigot terhadap frekuensi genotip
heterozigot pada gen non letal maupun gen letalnya dapat diketahui dengan
menghitung frekuensi gen (genotip) populasinya.

Terjadinya mutasi diikuti oleh seleksi alam yang memungkinkan adaptasi


dengan kondisi setempat. Seleksi alam adalah proses di mana mutasi genetika yang
meningkatkan keberlangsungan dan reproduksi suatu organisme menjadi (dan tetap)
lebih umum dari generasi yang satu ke genarasi yang lain pada sebuah populasi. Ia
sering disebut sebagai mekanisme yang "terbukti sendiri" karena:

Variasi terwariskan terdapat dalam populasi organisme

Organisme menghasilkan keturunan lebih dari yang dapat bertahan hidup

Keturunan-keturunan ini bervariasi dalam kemampuannya bertahan hidup dan


bereproduksi.

Kondisi-kondisi ini menghasilkan kompetisi antar organisme untuk bertahan


hidup dan bereproduksi. Oleh sebab itu, organisme dengan sifat-sifat yang lebih
menguntungkan akan lebih berkemungkinan mewariskan sifatnya, sedangkan yang
tidak menguntungkan cenderung tidak akan diwariskan ke generasi selanjutnya.
Konsep pusat seleksi alam adalah kebugaran evolusi organisme. Kebugaran
evolusi mengukur kontribusi genetika organisme pada generasi selanjutnya. Namun,
ini tidaklah sama dengan jumlah total keturunan, melainkan kebugaran mengukur
proporsi generasi tersebut untuk membawa gen sebuah organisme. Karena itu, jika
sebuah alel meningkatkan kebugaran lebih daripada alel-alel lainnya, maka pada tiap
generasi, alel tersebut menjadi lebih umum dalam populasi. Contoh-contoh sifat
yang dapat meningkatkan kebugaran adalah peningkatan keberlangsungan hidup dan
fekunditas. Sebaliknya, kebugaran yang lebih rendah yang disebabkan oleh alel yang
kurang menguntungkan atau merugikan mengakibatkan alel ini menjadi lebih
langka. Adalah penting untuk diperhatikan bahwa kebugaran sebuah alel bukanlah
karakteristik yang tetap. Jika lingkungan berubah, sifat-sifat yang sebelumnya
bersifat netral atau merugikan bisa menjadi menguntungkan dan yang sebelumnya
menguntungkan bisa menjadi merugikan.

c) Poliploidi
Poliploidi merupakan suatu kondisi dimana makhluk hidup tertentu memiliki
lebih dari dua perangkat kromosom. Keadaan ini terjadi akibat adanya induksi
poliploidisasi. Pada umumnya tiap organisme mempunyai dua perangkat kromosom
(diploid). Akan tetapi tidak ditutup kemungkinan akan terjadinya perubahan
perangkat kromosom tersebut. Organisme yang mengalami perubahan perangkat
kromosom menjadi lebih dari dua perangkat kromosom disebut poliploid, sedangkan
10

organisme yang mengalami perubahan perangkat kromosom menjadi satu perangkat


kromosom disebut monoploid atau haploid.
Menurut Wilkins dan Gosling, poliploidi merupakan salah satu bentuk mutasi
kromosom dan dapat digunakan sebagai pengendali kelamin(sex control) suatu
organisme, pembentuk galur murni, dan penghasil ikan yang steril. Tipe-tipe
poliploidi dibedakan berdasarkan jumlah perangkat kromosom yang dibentuk,
contohnya triploid, tetraploid, pentaploid, dan seterusnya.
Berdasarkan asal usul kejadiannya, poliploidi dapat dibedakan menjadi
autopoliploidi dan alloploidi. Pada autopoliploidis tidak dilibatkan spesies yang lain
jadi seluruh perangkat kromosom yang ada berasal dari spesies yang sama.
Autotriploid dapat terjadi karena pembuahan suatu gamet diploid dengan gamet
haploid. Gamet diploid yang terbentuk adalah hasil kegagalan pemisahan seluruh
perangkat kromosom selama meiosis. Zigot autotripoid juga mungkin terjadi karena
adanya pembuahan satu ovum oleh dua sperma atau juga mungkin terjadi akibat
persilangan eksperimental individu diploid dan tetraploid (Niekerson, 1990 dalam
Abidah, 2000)
Pada allopoliploidi, peristiwa poliploidi tersebut melibatkan spesies yang lain.
Biasanya perangkat kromosom yang lain tersebut berasal dari spesies yang
berkerabat dekat. Allopoliploidi terjadi karena adanya perkawinan antara dua spesies
yang berkerabat dekat.
Poliploidi bisa terjadi secara alami maupun secara buatan. Poliploidi secara
buatan melibatkan campur tangan manusia sedangkan poliploidi alami terjadi tanpa
unsur kesengajaan. Penyebab terjadinya poliploidi secara alami adalah karena
faktor-faktor lingkungan sekitar makhluk hidup yang meliputi faktor suhu, tekanan,
ketinggian tempat, dan lain-lain. Selain itu poliploidi alami juga bisa disebabkan
oleh persilangan individu poliploid yang diikuti dengan gangguan selama proses
pembelahan sel. Nickerson menjelaskan bahwa poliploidi juga bisa terjadi karena
kegagalan meiosis sehingga terbentuk gamet diploid (2n) yang nantinya akan
dibuahi gamet haploid (1n) sehingga akan dihasilkan individu triploid (3n).
Kegagalan meiosis tersebut mungkin disebabkan oleh rusaknya gelendonggelendong pembelahan sehingga kromosom tidak memisah selama anafase.
Kerusakan gelendong tersebut adalah akibat adanya perubahan kondisi lingkungan
luar, seperti perubahan suhu, pH, dan tekanan, dan juga adanya zat-zat kimia yang
bisa menyebabkan rusaknya protein-protein tubuler yang menyusun gelendonggelendong pembelahan.
Menurut Ayala, dkk. poliploidi yang terjadi dalam ruang lingkup hewan
banyak terjadi pada hewan-hewan hermafrodit, seperti cacing tanah dan planaria,
dan juga hewan-hewan betina partenogenetik (hewan betina yang menghasilkan

11

keturunan tanpa fertilisasi), seperti kumbang, kupu-kupu malam, udang, ikan mas,
serta salamander.
PROSES PEMBENTUKAN POLIPLOIDI
Poliploidi terjadi karena penggandaan kromosom secara keseluruhan sehingga
dari individu diploid akan muncul individu-individu triploid dan tetraploid.
Poliploidi juga bisa memunculkan individu-individu pentaploid, heksaploid, dan
sebagainya. Poliploidi mungkin terjadi karena kegagalan meiosis atau karena
penggandaan perangkat kromosom di dalam sel-sel somatik secara spontan.
Proses Pembentukan Ikan Normal
Ikan normal tumbuh dari telur 2n yang dibuahi oleh sperma 1n. Zigot yang
terbentuk dari hasil fertilisasi ini memiliki 3n kromosom. Selanjutnya sel-sel
embrional yang memiliki 3n kromosom tersebut akan mengalami peloncatan
polar body II. Sewaktu peloncatan polar body II tersebut 1n kromosom dar
sel tersebut akan meloncat keluar sehingga di dalam sel hanya tertinggal 2n
kromosom yang masing-masing berasal dari induk jantan dan induk betina.
Selanjutnya akan terjadi pembelahan mitosis dan sel-sel embrio tersebut akan
berkembang menjadi ikan normal yang memiliki 2n kromosom.
Proses Pembentukan Ikan Triploid
Ikan triploid terbentuk apabila terjadi perkawinan antara ikan tetraploid (4n)
dengan ikan diploid (2n). induk yang memiliki 4n kromosom akan
menghasilkan gamet yang diploid (2n), sedangkan induk yang memiliki 2n
kromosom akan menghasilkan gamet yang haploid (1n). Apabila kedua
gamet ini melakukan fertilisasi maka akan terbentu individu yang triploid.
Selain akibat perkawinan antara ikan tetraploid (4n) dengan ikan diploid
(2n), ikan triploid juga mungkin terbentuk akibat induksi panas. Adanya
induksi panas ini akan mencegah peloncatan polar body II selama proses
pembelahan meiosis sehingga embrio yang tumbuh memiliki 3n kromosom.
Ada juga pendapat bahwa ikan triploid alami terbentuk akibat adanya
multiple fertilization (1 sel telur dibuahi oleh dua inti sperma).
Proses Pembentukan Ikan Tetraploid
Proses pembentukan ikan tetraploid dapat terjadi karena persilangan antara
dua genus yang berlainan tapi masih dalam satu famili. Hybrid ini bersifat
steril karena memiliki genom yang berlainan.

B.Asal Usul Kehidupan


Asal usul kehidupan merupakan prekursor evolusi biologis, namun pemahaman
terhadap evolusi yang terjadi seketika organisme muncul dan investigasi bagaimana ini
terjadi tidak tergantung pada pemahaman bagaimana kehidupan dimulai. Konsensus
ilmiah saat ini adalah bahwa senyawa biokimia yang kompleks, yang menyusus
kehidupan, berasal dari reaksi kimia yang lebih sederhana. Namun belumlah jelas
bagaimana ia terjadi. Tidak begitu pasti bagaimana perkembangan kehidupan yang
12

paling awal, struktur kehidupan pertama, ataupun identitas dan ciri-ciri dari leluhur
universal terakhir dan lungkang gen leluhur. Oleh karena itu, tidak terdapat konsensus
ilmiah yang pasti bagaimana kehidupan dimulai, namun terdapat beberapa proposal
yang melibatkan molekul swa-replikasi (misalnya RNA) dan perakitan sel sederhana.
Menurut teori evolusi, asal-usul kehidupan dibedakan menjadi evolusi kimia dan
biologi. Kedua evolusi tersebut akan dijelaskan lebih mendalam lagi dalam uraian
sebagai berikut.
1. Evolusi Kimia
Menerangkan bahwa terbentuknya senyawa organik terjadi secara bertahap
dimulai dari bereaksinya bahan-bahan anorganik yang terdapat di dalam atmosfer
primitif dengan energi halilintar membentuk senyawa-senyawa organik kompleks.
Stanley Miller mencoba mensimulasikan kondisi atmosfer purba di dalam
skala laboratorium. Ia merancang alat yang seperti terlihat dalam gambar di bawah
ini.

Gambar: Skema alat percobaan Miller

Miller memasukkan gas H2, CH4 (metan), NH3 (amonia) dan air ke dalam
alat. Air dipanasi sehingga uap air bercampur dengan gas-gas tadi. Sebagai sumber
energi yang bertindak sebagai "halilintar" agar gas-gas dan uap air bereaksi,
digunakan lecutan aliran listrik tegangan tinggi. Ternyata timbul reaksi, terbentuk
13

senyawa-senyawa organik seperti asam amino, adenin dan gula sederhana seperti
ribosa.
Hasil percobaan di atas memberi petunjuk bahwa satuan-satuan kompleks di
dalam sistem kehidupam seperti lipid, gula, asam amino, nukleotida dapat terbentuk
di bawah kondisi abiotik. Yang menjadi masalah utama adalah belum dapat
terjawabnya bagaimana mekanisme peralihan dari senyawa kompleks menjadi
makhluk hidup yang paling sederhana.
Teori evolusi kimia dikemukakan oleh beberapa ahli berikut ini:
1. A.I. Oparin (Rusia)
Dia adalah orang pertama yang mengemukakan bahwa evolusi zat-zat
kimia telah terjadi sebelum kehidupan ini ada. Dalam bukunya The Origin of
Life, dia mengemukakan bahwa asal mula kehidupan terjadi bersamaan dengan
evolusi terbentuknya bumi dan atmosfernya. Atmosfer bumi mula-mula memiliki
air, karbondioksida, metana, dan ammonia, namun tidak memiliki oksigen.
Dengan adanya panas dari berbagai sumber energi, zat-zat tersebut mengalami
serangkaian perubahan menjadi berbagai molekul organic sederhana. Senyawasenyawa ini membentuk semacam campuran yang kaya akan materi-materi
dalam lautan yang masih panas, yang disebut primodial soup. Bahan campuran
ini belum merupakan makhluk hidup, tetapi bertingkah laku mirip seperti sistem
biologi. Primodial soup ini melakukan sintesis dan membentuk molekul organik
kecil atau monomer, misalkan asam amino dan nukleotida.
Monomer-monomer lalu bergabung membentuk polimer, misalnya protein
dan asam nukleat. Kemudian agregrasi ini membentuk molekul dalam bentuk
tetesan yang disebut protobion. Protobion ini memiliki ciri kimia yang berbeda
dengan lingkungannya.
Kondisi atmosfer masa kini tidak lagi memungkinkan untuk sintesis
molekul organic secara spontan, karena oksigen atmosfer akan memecah ikatan
kimia dan mengekstrasi elektron.
Polimerasi atau penggabungan monomer ini dapat dibuktikan oleh Sidney
Fox. Beliau melakukan percobaan dengan memanaskan larutan kental monomer
organic yang mengandung asam amino pada suhu titik leburnya. Saat air
menguap, terbentuk lapisan monomer yang berpolimerasi. Polimer ini oleh
Sydney Fox disebut proteinoid. Selanjutnya dalam penelitiannya di laboratorium,
proteinoid dicampur dengan air dingin dan akan membentuk gabungan
proteinoid yang menyusun tetesan kecil yang disebut mikrosfer. Mikrosfer
diselubungi oleh membrane selektif permeable.
2. Harold Urey
Dia mengemukakan teori yang didasari atas pemikiran bahwa bahan
organik merupakan bahan dasar organisme hidup, yang pada mulanya dibentuk
sebagai reaksi gas yang ada di alam dengan bantuan energi.
Menurut teori Urey, konsep tersebut dapat dijabarkan atas 4 fase berikut ini:
14

Fase 1. Tersedianya molekul metana, ammonia, hydrogen, dan uap air


yang sangat banyak di atmosfer.
Fase 2. Energi yang timbul dari aliran listrik, halilintar, dan radiasi sinar
kosmis merupakan energi pengikat dalam reaksi molekul metana,
ammonia, hydrogen, dan uap air.
Fase 3. Terbentuknya zat hidup yang paling sederhana.
Fase 4. Zat hidup yang terbentuk berkembang dalam waktu jutaan tahun
menjadi sejenis organisme yang lebih kompleks.
3. Stanley Miller
Dia berhasil membuktikan teori gurunya, Urey, dalam laboratorium
dengan alat yang dinamakan perangkat percobaan Stanley Miller-Harold Urey.
Alat ini disimpan pada suatu kondisi yang diperkirakan sama dengan kondisi
pada waktu sebelum ada kehidupan. Kedalam alat tersebut dimasukkan
bermacam-macam gas, seperti uap air yang dihasilkan dari air yang dipanaskan,
hydrogen, metana, dan ammonia.
Selanjutnya pada alat tersebut diberikan aliran listrik 75.000 volt (seperti
kilatan halilintar yang selalu terjadi di alam pada waktu itu). Setelah seminggu,
ternyata Miller mendapatkan zat organik yang berupa asam amino. Asam amino
merupakan komponen kehidupan. Selain asam amino, diperoleh juga asam
hidroksi, HCN, dan urea. Pemikiran selanjutnya adalah bagaimana terbentuknya
protein dari asam amino ini.
4. Melvin Calvin
Dia menunjukkan bahwa radiasi sinar dapat mengubah metana, ammonia,
hydrogen, dan air menjadi molekul-molekul gula dan asam amino, dan juga
membentuk purin dan pirimidin, yang merupakan zat dasar pembentukan DNA,
RNA, ATP, dan ADP.
Dari evolusi kimia dapat kita simpulkan bahwa senyawa anorganik yang
ada di atmosfer mengalami perubahan sedikit demi sedikit membentuk senyawa
organic. Senyawa organic itulah yang merupakan komponen dasar makhluk
hidup.
2. Evolusi Biologi
Alexander Oparin adalah Ilmuwan Rusia. Di dalam bukunya yang berjudul
The Origin of Life (Asal Usul Kehidupan). Oparin menyatakan bahwa paad suatu
ketika atmosfer bumi kaya akan senyawa uap air, CO 2, CH4, NH3, dan Hidrogen.
Karena adanya energi radiasi benda-benda angkasa yang amat kuat, seperti sinar
Ultraviolet, memungkinkan senyawa-senyawa sederhana tersebut membentuk
senyawa organik atau senyawa hidrokarbon yang lebih kompleks. Proses reaksi
tersebut berlangsung di lautan.
Senyawa kompleks yang mula-mula terbentuk diperkirakan senyawa aseperti
Alkohol (H2H5OH), dan senyawa asam amino yang paling sederhana. Selama
15

berjuta-juta tahun, senyawa sederhana tersebut bereaksi membentuk senyawa yang


lebih kompleks, Gliserin, Asam organik, Purin dan Pirimidin. Senyawa kompleks
tersebut merupakan bahan pembentuk sel.
Menurut Oparin senyawa kompleks tersebut sangat berlimpah dilautan
maupun di permukaan daratan. Adanya energi yang berlimpah, misalnya sinar
Ultraviolet, dalam jangka waktu yang amat panjang memungkinkan lautan menjadi
timbunan senyawa organik yang merupakan sop purba atau Sop Primordial.
Senyawa kompleks yang tertimbun membentuk sop purba di lautan tersebut
selanjutnya berkembang sehingga memiliki kemampuan dan sifat sebagai berikut :
a. memiliki sejenis membran yang mampu memisahkan ikatan-ikatan
kompleks yang terbentuk dengan molekul-molekul organik yang terdapat
di sekelilingnya;
b. memiliki kemampuan untuk menyerap dan mengeluarkan molekulmolekul dari dan ke sekelilingnya;
c. memiliki kemampuan untuk memanfaatkan molekul-molekul yang diserap
sesuai denagn pola-pola ikatan didalamnya;
d. mempunyai kemampuan untuk memisahkan bagian-bagian dari ikatanikatannya. Kemampuan semacam ini oleh para ahli dianggap sebagai
kemampuan untuk berkembang biak yang pertama kali.
Senyawa kompleks dengan sifat-sifat tersebut diduga sebagai kehidupan yang
pertamakali terbentuk. Jadi senyawa kompleks yang merupakan perkembangan dari
sop purba tersebut telah memiliki sifat-sifat hidup seperti nutrisi, ekskresi, mampu
mengadan metabolisme, dan mempunayi kemampuan memperbanyak diri atau
reproduksi.
Walaupun dengan adanya senyawa-senyawa sederhana serta energi yang
berlimpah sehingga dilautan berlimpah senyawa organik yang lebih kompleks,
namun Oparin mengalami kesulitan untuk menjelaskan mengenai mekanisme
transformasi dari molekul-molekul protein sebagai abenda tak hidup kebenda hidup.
Bagaimana senyawa-senyawa organik sop purba tersebut dapat memiliki
kemampuan seperti tersebut diatas? Oparin menjelaskan sebagai berikut :
Protein sebagai senyawa yang bersifat Zwittwer Ion, dapat membentuk
kompleks koloid hidrofil (menyerap air), sehingga molekul protein tersebut
dibungkus oleh molekul air. Gumpalan senyawa kompleks tersebut dapat lepas dari
cairan dimana dia berada dan membentuk emulsi. Penggabunagn struktur emulsi ini
akan menghasilkan koloid yang terpisah dari fase cair dan membentuk timbunan
gumpalan atau Koaservat.
Timbunan Koaservat yang kaya berbagai kompleks organik tersebut
memungkinkan terjadinya pertukaran substansi dengan lingkungannya. Di samping
itu secara selektif gumpalan Koaservat tersebut memusatkan senyawa-senyawa lain
kedalamnya terutama Kristaloid. Komposisi gumpalan koloid tersebut bergantung
kepada komposisi mediumnya. Denagn demikian, perbedaan komposisi medium
akan menyebabkan timbulnya variasi pada komposisi sop purba. Variasi komposisi
16

sop purba diberbagai areal akan mengarah kepada terbentuknya komposisi kimia
Koaservat yang merupakan penyedia bahan mentah untuk proses biokimia.
Tahap selanjutnya substansi didalam Koaservat membentuk enzim. Di
sekeliling perbatasan antara Koaservat dengan lingkungannya terjadi penjajaran
molekul-molekul Lipida dan protein sehingga terbentuklah selaput sel primitif.
Terbentuknya selaput sel primitif ini memungkinkan memberikan stabilitas pada
koaservat. Dengan demikian, kerjasama antara molekul-molekul yang telah ada
sebelumnya yang dapat mereplikasi diri kedalam koaservat dan penagturan kembali
Koaservat yang terbungkus lipida amat mungkin akan mnghasilkan sel primitif.
Kemampuan koaservat untuk menyerap zat-zat dari medium memungkinkan
bertambah besarnya ukuran koaservat. Kemungkinan selanjutnya memungkinkan
terbentuknya organisme Heterotropik yang mampu mereplikasi diri dan
mendapatkan bahan makanan dari sop Primordial yang kaya akan zat-zat organik.
Teori evolusi biologi ini banyak diterima oleh pakar ilmuwan. Namun, tidak
sedikit Ilmuwan yang membantah tentang interaksi molekul secara acak yang dapat
menjadi awal terbentuknya organisme hidup.
Teori evolusi kimia dan teori evolusi biologi banyak pendukungnya, namun
baru teori evolusi kimia yang telah dibuktikan secara eksperimental, sedangkan teori
evolusi biologi belum ada yang menguji secara eksperimental.

C.Kecenderungan Baru Teori Evolusi


Menurut pendapat para ahli yang menganut teori penciptaan, teori evolusi memiliki
banyak kelemahan dan tidak memiliki cukup bukti untuk mempertahankan kebenaran
teorinya. Menurut mereka, teori evolusi Darwin tidak didasarkan pada temuan ilmiah
yang konkret, tetapi dibangun hanya berdasarkan asumsi-asumsi . Dalam bukunya yang
berjudul The Origin of Species, Darwin juga mengakui adanya kesulitan-kesulitan
teori dan masih berharap hal itu dapat terpecahkan dengan adanya penemuanpenemuan ilmiah baru. Namun beberapa temuan-temuan ilmiah yang baru justru makin
mempersulit teori-teorinya. Menurut penganut teori penciptaan, teori evolusi Darwin
memiliki tiga kelemahan mendasar, yaitu
1. Teori Evolusi Tidak Dapat Menjelaskan Bagaimana Kehidupan di Bumi
Bermula
Teori penciptaan mengemukakan bahwa kehidupan yang ada di planet
diciptakan oleh Tuhan. Bumi yang dicipta Tuhan pada masa lalu sampai sekarang
mempunyai ciri yang tidak berubah. Mereka mengungkapkan teori ini berdasarkan
atas kejadian-kejadian gaib yang pernah dilihatnya. Kejadian gaib tersebut dianggap
sebagai ciptaan Tuhan, seperti halnya bumi dan kehidupan yang ada di di dalamnya
juga diciptakan oleh-Nya.
Dalam teorinya, Darwin tidak pernah merujuk kepada asal-usul kehidupan.
Pemahaman sains pada masa Darwin masih beranggapan bahwa makhluk hidup
mempunyai struktur yang sangat sederhana sehingga pembentukan sebuah sel
17

hidup dari bahan tak hidup sangat mungkin terjadi. Pada saat Darwin menyusun
teorinya, teori abiogenesis masih dianut oleh dunia ilmu pengetahuan pada waktu
itu dan merupakan landasan bagiu teori evolusi. Akan tetapi, penemuan Louis
Pasteur telah menggugurkan teori abiogenesis yang menyatakan bahwa kehidupan
berasal dari materi tidak hidup. Karena itu, teori evolusi yang dibangun atas dasar
teori tersebut (karena menyatakan sel pertama berasal dari benda tak hidup)
mestinya juga gugur atau perlu ditinjau kembali.
Alasan utama mengapa teori evolusi ini tidak dapat menjelaskna tentang asalusul kehidupan adalah karena sel hidup yang paling sederhana pun ternyata
dijelaskan dengan peristiwa kebetulan adalah terbentuknya protein yang
merupakan salah satu penyusun sel hidup. Asam nukleat atau DNA makhluk hidup
hanya dapat bereplikasi dengan bantuan sejumlah protein tertentu (enzim). Namun,
sintesis enzim-enzim tersebut hanya dapat terjadi dengan adanya informasi yang
tersimpan dalam DNA. Pada kejadian tersebut, sangat tidak mungkin protein dan
asam nukleat, yang keduanya berstruktur kompleks, muncul secara spontan di
tempat dan pada saat yang sama.
2. Tidak Ada Temuan Ilmiah yang Menunjukkan bahwa Mekanisme Evolusi
yang Diajukan Teori Evolusi Memiliki Kekuatan untuk Berevolusi
Menurut teori mekanisme seleksi alam, makhluk hidup yang lebih kuat dan
sesuai dengan kondisi alam habitatnya akan bertahan hidup, sedangkan yang
lemahcenderung mengalami kepunahan. Mekanisme seleksi alam tidak memiliki
kekuatan kekuatan evolusioner. Kenyataan ini juga disadari oleh Darwin, dengan
menyatakan bahwa seleksi alam tidak dapat melakukan apa pun hingga tejadi
variasi yang menguntungkan.
Namun, hukum pewarisan sifat yang ditemukan oleh Mendel dan diakui oleh
ilmu genetika yang berkembang pada abad ke-20, menggugurkan pendapat bahwa
sifat-sifat yang diperoleh melalui seleksi alam diteruskan ke generasi berikutnya.
Denagn demikian, menurut pengamat teori penciptaan, seleksi alam tidak dapat
menunujukkan mekanisme evolusi.
Menurut teori evolusi, jutaan makhluk hidup yang ada di atas bumi terbentuk
sebagai hasil dari proses mutasi banyak organ kompleks organism. Akan tetapi,
sebuah fakta ilmiah seketika melemahakan teori tersebut. Berdasarkan fakta,
mutasi tidak menyebabkan makhluk hidup berkembang, tetapi cenderung selalu
merugikan. Telah dipahami bahwa mutasi, yang ditampilkan sebagai sebuah
mekanisme evolusioner, sebenarnya merupakan peristiwa genetik yang merugikan
makhluk hidup dan menjadikan mereka cacat. Dengan demikian, tak diragukan lagi
bahwa sebuah mekanisme yang merusak tidak mungkin menjadi mekanisme
evolusioner.
3. Terdapat Catatan Fosil yang Menunujukkan Adanya Hal-Hal yang
Berlawanan dari Apa yang Dikemukakan oleh Teori Evolusi
Para penaganut teori penciptaan menyebutkan makhluk-makhluk peralihan
merupakan makhluk khyalan yang tidak pernah ada. Para penganut teori penciptaan
berkeyakinan bahwa jika spesies transisi tersebut benar-benar pernah ada, pasti
terdapat jutaan makhluk peralihan yang jumlahnya tiap spesies juga berjuta-juta.
18

Darwin pun mengemukakan pendapatnya bahwa jika teori tersebut benar, akan
ditemukan banyak sekali jumlah spesies transisi/antara yang menghubungkan
semua spesies dalam grup yang sama dan bukti keberadaannya dapat ditemukan di
antara sisa-sisa fosil.
Meskipun sejak pertengahan abad ke-19 telah dilakukan pencarian fosil-fosil
di seluruh penjuru dunia, tidak pernah ditemukan bentuk-bentuk transisi tersebut.
Semua fosil yang ditemuakn dalam penggalian menunjukkan tanda-tanda bahwa
kehidupan muncul di bumi secara tiba-tiba dan dalam bentuk yang sempurna.
Catatan fosil tidak menunjukkan adanya evolusi bertahap, tetapi memperlihatkan
adanya ledakan tiba-tiba satu kelompok makhluk hidup yang disertai kepunahan
kelompok lain. Denagn kata lain, semua spesies makhluk hidup muncul tiba-tiba
dalam bentuk sempurna, tanpa bentuk-bentuk peralihan apa pun di antaranya. Tentu
saja, hal tersebut sangat berlawanan dengan asumsi-asumsi dalam teori Darwin. Hal
itu merupakan bukti kuat bahwa makhluk hidup diciptakan.
Hasil kajian terhadap fosil-fosil yang ditemukan menunjukkan bahwa
makhluk hidup muncul di muka bumi dalam keadaan sudah maju dan sempurna.
Hal itu berarti bahwa asal-usul spesies bukan karena evolusi melainkan melalui
penciptaan.

19