Anda di halaman 1dari 57

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
PT. Pamapersada Nusantara adalah salah satu perusahaan swasta
nasional yang mempunyai perjanjian kontrak kerja dalam penambangan
batubara di Tanjung Enim dengan PT. Bukit Asam (Persero) Tbk.
Berdasarkan perjanjian kontrak kerja PT. Pamapersada Nusantara Job Site
Tanjung Enim mendapatkan beberapa wilayah yaitu TAL (Tambang Air
Laya) dan NAL (Non Air Laya). Dimana TAL dibagi menjadi beberapa
wilayah antara lain: TAL Selatan, TAL Barat, TAL Timur, dan Pre Bench.
dan NAL dibagi juga menjadi beberapa wilayah antara lain: MTBS dan
MTBU.
Kegiatan yang dilakukan pada setiap wilayah kerja sangat beragam
mulai dari pemuatan jalan, penggalian dan penimbunan tanah penutup hingga
penambangan batubara. Masingmasing kegiatan dilakukan berdasarkan
program kerja yang telah disepakati antara pihak PT. Pamapersada Nusantara
job site tanjung enim dengan PT. Bukit Asam (Persero), Tbk. Seluruh
kemajuan dari setiap kegiatan selalu dievaluasi bersama sama oleh kedua
belah pihak dengan melakukan join survey.
Pada tahun 2016 direncanakan PT. Bukit Asam (Persero), Tbk akan
melakukan pengembangan site baru pada wilayah TAL (Tambang Air Laya)
yaitu pada daerah TSBC (Townsite Basecamp). Sistem penambangan yang
direncanakan pada daerah TSBC (Townsite Basecamp) adalah sistem
penambangan konvensional yang menggunakan excavator backhoe, highway

dump truck dan bulldozer sebagai alat tambang utamanya. PT. Pamapersada
Nusantara selaku pemegang kontrak kerja pada wilayah TAL perlu melakukan
perencanaan terhadap kebutuhan alat tambang utama dengan target produksi
yang telah dibebankan oleh PT. Bukit Asam (Persero), Tbk.
Namun dengan semakin meningkatnya harga dolar Amerika terhadap
rupiah, serta turunnya harga batubara di pasaran dunia, tentunya PT.
Pamapersada Nusantara pasti akan merasakan dampak dari hal tersebut
dengan berkurangnya keuntungan yang akan diperoleh. Untuk menanggulangi
permasalahan tersebut tentunya perusahaan harus melakukan penghematan
(cost down).
Hal yang perlu diperhatikan adalah dalam pengadaan alat tambang
utama perlu pemilihan cara yang paling menguntungkan bagi perusahaan
dikarenakan dibutuhkan investasi yang sangat besar. Baik itu dari hal alat
yang mahal, biaya perawatan tergolong tinggi, serta nilai depresiasi alat tinggi.
Menurut Rostiyanti (2011:37), Ada 3 cara untuk pengadaan alat
tambang utama yang lazim digunakan, yaitu:
1. Pembelian secara lansung.
2. leasing
3. Sewa (Rental)
Dari ketiga cara pengadaan alat tambang utama di atas untuk penelitian
ini hanya menggunakan 2 metode saja yaitu pembelian secara lansung dan
leasing dan kedua metode yang digunakan tentunya memiliki kelemahan dan
kelebihan masing-masing, terutama menyangkut investasi awal yang harus

dikeluarkan, nilai depresiasi yang harus ditanggung, biaya pajak, biaya bunga,
dan biaya asuransi alat, biaya perbaikan (repair), biaya perawatan
(maintenance), serta biaya operasi yang harus ditanggung oleh perusahaan.
Kemampuan setiap perusahaan pun berbeda-beda, oleh karena itu dari kedua
cara tersebut tentu ada yang terbaik untuk setiap perusahaan.
Dikarenakan kedua cara pengadaan alat tambang utama tersebut
memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, maka dari itu penulis
ingin menganalisis cara yang paling cocok dengan perusahaan PT.
Pamapersada Nusantara dalam pengadaan alat tambang utama. Sehingga
penulis mengambil judul Analisis Investasi Pengadaan Alat Tambang Utama
Untuk Pengupasan Overburden dengan Metoda NPV, IRR, dan NAL di PT.
Pamapersada Nusantara Distrik MTBU Job Site Tanjung Enim, Sumatera
Selatan
B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang Penelitian ini dapat diidentifikasi masalah sebagai
berikut:
1. Dengan adanya pengembangan site baru maka dibutuhkan pengadaan alat
tambang utama.
2. Ada dua alternatif yang tersedia untuk pengadaan alat tambang utama.
3. Untuk mengetahui alternatif terbaik perlu diketahui biaya masuk dan
biaya keluar masing-masing alat.
4. Dalam pemilihan alternatif terbaik dalam pengadaan alat tambang utama
digunakan beberapa metode analisis kelayakan investasi.

C. Batasan Masalah
Dari indentifikasi masalah, maka penelitian ini hanya dibatasi pada alat
tambang utama (alat gali-muat, alat angkut dan alat gusur), yang meliputi:
1. Cara pengadaan alat tambang utama yang akan dianalisis adalah
pembelian secara lansung dan leasing.
2. Perhitungan biaya keluar hanya menyangkut biaya kepemilikan (owning
cost) dan biaya operasional (operating cost) dari alat tambang tambang
utama
3. Biaya masuk berasal dari biaya hasil pegupasan overburden dari alat
tambang utama.
4. Analisis investasi pengadaan alat tambang utama menggunakan metode
NPV, IRR, dan NAL.
D. Perumusan Masalah
Dari identifikasi dan batasan masalah yang sudah dibahas di atas maka
dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Berapakah biaya kepemilikan (owning cost) dan biaya operasional
(operating cost) dari masing-masing alat tambang utama?
2. Berapakah biaya dari hasil pengupasan overburden untuk masing-masing
alat tambang utama?
3. Apakah kedua cara pengadaan alat tambang utama di atas layak secara
ekonomis jika dianalisis dengan metode NPV, IRR, dan NAL?
4. Manakah cara pengadaan alat tambang utama di atas yang paling
menguntungkan untuk perusahaan saat ini?

E. Tujuan Penelitian
Dari perumasan masalah di atas maka didapatkan tujuan penelitian
sebagai berikut:
1. Menghitung besaran biaya kepemilikan (owning cost) dan biaya
operasional (operating cost) dari masing-masing alat tambang utama.
2. Menghitung besaran biaya dari hasil pengupasan overburden dari masingmasing alat tambang utama.
3. Mengetahui bahwa kedua cara pengadaan alat tambang utama di atas
layak secara ekonomis jika dianalis dengan metode NPV, IRR, dan NAL.
4. Mengetahui

cara

pengadaan

alat

tambang

utama

yang

paling

menguntungkan dari kedua cara yang ada bagi perusahaan dengan konsisi
saat ini.
F. Manfaat Penelitian
Adapun beberapa manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Penulis , dapat mengaplikasikan teori-teori yang telah dipelajari
pada saat perkuliahan dan mengetahui cara pengadaan alat tambang
utama yang paling baik untuk kondisi perusahaan saat ini.
2. Bagi Perusahaan, memberikan masukan pada perusahaan berbagai
alternatif dalam upaya peningkatan keuntungan perusahaan dan dapat
menjadi pertimbangan bagi perusahaan dalam pengadaan alat tambang
utama untuk peningkatan keuntungan perusahaan.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Dasar Teori
1. Alat Berat
Menurut Wisnu Wijaya dalam Sumarya (2009:15) Alat berat
adalah Alat-alat yang digunakan pada pekerjaan tanah (earth works) yang
memberikan

faktor

effektifitas

dan

effisiensi

yang

lebih

besar

dibandingkan dengan pekerjaan secara manual/suatu sumber daya melipat


gandakan jasa manusia untuk mencapai usahanya.
a. Tujuan Penggunaan Alat Berat
1) Secara Teknis
a) Untuk mendapatkan ketelitian yang lebih besar.
b) Menyederhanakan/memudahkan pengurusan organisasi.
2) Secara Ekonomis
a) Mempercepat/memperbesar daya kerja.
b) Mengurangi biaya pelaksanaan kerja.
3) Secara Humanis
a) Mengoptimalkan

penggunaan

tenaga

buruh

dengan

penggunaan alat-alat berat, tenaga buruh yang ada dapat


dioptimalkan sehingga pekerjaan dapat berjalan dengan lancar.
b) Memungkinkan untuk pelaksanaan pekerjaan yang tidak dapat
dilaksanakan secara manual.

b. Kesulitan dalam pengadaan alat berat


Dibalik keuntungan menggunakan alat berat, terdapat beberapa
kesulitan dalam pengadaan alat berat, antara lain:
1) Investasi awal yang tinggi.
2) Masalah pengadaan alat berat, dikarenakan umumnya alat berat
didatangkan secara import.
3) Adanya kemungkinan kerusakan dan ketersedian spare part untuk
perbaikan.
4) Masalah penjualan kembali dan penyusutan nilai alat.
c. Pertimbangan pemilihan alat berat
Untuk menghindari kerugian dan mendapatkan keuntungan dari
penggunaan alat berat, dibutuhkan pengetahuan yang baik mengenai
pemilihan dan penggunaan peralatan sehingga dapat diperoleh hasil
yang optimal. Untuk itu diperlukan pemilihan alat-alat berat yang
harus digunakan.
Beberapa pertimbangan dalam pemilihan alat berat, antara lain:
1) Pertimbangan Teknik
a) Kemampuan peralatan yang akan digunakan.
b) Tingkat ketilitian alat yang akan digunakan.
c) Kondisi tempat kerja alat.
d) Dimensi alat.
e) Kemungkinan kerusakan dari alat.
f) Ketersedian tenaga mekanik dan spare part alat tersebut.

g) Keserbagunaan alat.
h) Keistimewaan alat.
i) Pelayanan alat yang digunakan.
2) Pertimbangan Ekonomis
a) Harga alat sampai di site.
b) Biaya pemeliharaan / perawatan.
c) Biaya perbaikan.
d) Gaji operator.
e) Biaya penyusutan.
f) Pajak dan biaya asuransi yang dibebankan ke perusahaan.
g) Berapa lama pengembalian modal dari pembelian peralatan.
3) Pertimbangan Keuangan
Dalam pertimbangan keuangan menyangkut masalah modal
(investasi), beberapa faktor yang harus dipertimbangkan adalah:
a) Investasi (I)
Merupakan modal/biaya mesin, peralatan dan lain
sebagainya

yang diperlukan untuk membangun proyek

pertambangan, alat-alat, rehabilitasi, perluasan, ditambah


dengan bunga (i%) selama proyek berjalan.
b) Biaya Investasi (Cost Investation)
Biaya investasi merupakan biaya penjangkauan waktu
tertentu (tahun) atas proyek/pekerjaan berjalan yang meliputi:

(1) Bunga atas investasi (I%M) dihitung sejak proyek dimulai


sampai selesai.
(2) Biaya operasi atas proyek bersangkutan (O).
(3) Biaya perawatan atas proyek yang bersangkutan (P).
(4) Biaya penggantian atas proyek yang bersangkutan (R).
(5) Biaya penyusutan proyek yang bersangkutan.
d. Sistim kepemilikan alat
Permasalahan yang sering dihadapi pengusaha pertambangan
adalah mengenai pengadaan alat berat. Dalam pengadaan alat berat
perlu dipertimbangkan proses pengadaannya apakah dengan membeli
secara tunai, membeli secara leasing, atau sewa.
Pada perusahaan pertambangan yang memiliki modal besar dan
cadangan yang besar, serta umur tambang yang panjang membeli alat
berat adalah salah satu cara terbaik, namun setiap cara yang ada
memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing, seperti:
1) Beli Langsung (Investasi)
Sistem beli langsung (Investasi) dimana alat berat yang
dibutuhkan untuk pelaksanaan pekerjaan pertambangan dibeli
langsung oleh perusahaan. Sistem beli langsung sangat cocok
untuk pekerjaan jangka panjang, tetapi dengan modal awal besar.
Keuntungan beli langsung:
a) Kondisi alat terkontrol.
b) Kesiapan alat terjamin.

10

c) Dapat mengikuti perkembangan teknologi alat.


d) Kontuinuitas alat terjamin terutama untuk pekerjaan jangka
panjang.
e) Dapat menguasai teknologi.
f) Biaya alat tidak tergantung pihak lain.
g) Biaya operasi murah.
Kerugian beli langsung:
a) Sulit pengendalian operator dan mekanik.
b) Harus mempunyai sarana pemeliharaan.
c) Kemungkinan alat menganggur (iddle time).
d) Mahal untuk pemakaian jangka panjang.
e) Perlu perhatian serius terhadap pengendalian biaya operasi dan
perbaikan.
2) Leasing
Leasing adalah kegiatan pembiayaan dalam

bentuk

penyedian barang modal baik secara sewa guna usaha dengan hak
opsi (finance lease) maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi
(operating lease) untuk digunakan lessee selama jangka waktu
tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala.
Selanjutnya, yang dimaksud dengan finance lease adalah
kegiatan sewa guna usaha, dimana lessee pada akhir masa kontrak
mempunyai hak opsi untuk membeli sewa guna usaha berdasarkan

11

nilai sisa yang disepakati. Sebaliknya operating lease tidak


mempunyai hak opsi untuk membeli objek sewa guna usaha.
Dari berbagai definsi tersebut di atas dapat ditarik
kesimpulan bahwa sewa guna usaha merupakan suatu kontrak atau
persetujuan sewa-menyewa. Objek sewa guna usaha adalah barang
modal dengan pihak lessee memiliki hak opsi dengan harga
berdasarkan nilai sisa.
Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam suatu perjanjian
leasing adalah:
a) Lessor, yaitu pihak yang menyewakan barangnya.
b) Lessee, yaitu pihak yang menggunakan barang modal tersebut
dengan melakukan pembayaran.
c) Supplier, yaitu perusahaan menyediakan barang untuk dijual
kepada lease dengan pembayaran secara tunai oleh lessor.
d) Kreditur, yaitu pihak yang menyediakan dana kepada lessor.
Keuntungan leasing:
a) Tidak perlu menyediakan modal besar sekaligus.
b) Pada akhir masa kontrak alat dapat dibeli/dimiliki.
Kerugian leasing:
a) Perusahaan harus menyediakan uang untuk mengangsur selama
periode kontrak.
b) Kemungkinan terjadinya alat menganggur (iddle time) karena
tidak ada pekerjaan.

12

2. Produktivitas Alat Tambang Utama


a. Kemampuan Produktivitas Alat Gali-Muat
Untuk mengetahui produktivitas alat gali muat, maka perlu
dihitung kapasitas bucket per siklus yaitu dengan persamaan:
(Komatsu Publication, 2007:15A-9)

q = q1 x k sf
Keterangan:
q
q1
K
Sf

Kapasitas Bucket (bcm/bucket)


Kapasitas Bucket (teoritis)
Faktor Pengisian (Bucket Fill Factor)
Swell Factor

=
=
=
=

Maka setelah mengetahui kapasitas dari bucket excavator per


siklus, kita dapat menghitung produktivitas excavator tersebut dengan
menggunakan persamaan berikut:
Q=q

(Komatsu Publication, 2007:15A-9)

Keterangan:
Q
q
Cm
E

=
=
=
=

Produksi Perjam (bcm/jam)


Kapasitas Bucket (bcm/bucket)
Cycle Time (detik)
Efesiensi Kerja

b. Kemampuan Produktivitas Alat Angkut


Dalam perhitungan produktivitas alat angkut, perlu dihitung
kapasitas vessel dump truck per siklus dengan persamaan:
C = n x q1 x k

(Komatsu Publication, 2007:15A-17)

Keterangan:
C
n
q1
k

=
=
=
=

Produksi Persiklus (bcm/vessel)


Jumlah Pengisian Alat Muat ke Alat Angkut.
Kapasitas Bucket (teoritis)
Faktor Pengisian (Bucket Fill Factor)

13

Maka setelah mengetahui kapasitas dari vessel dump truck per


siklus, kita dapat menghitung produktivitas dump truck tersebut
dengan menggunakan persamaan berikut:
M

(Komatsu Publication, 2007:15A-17)

Keterangan:
Q
C
Cmt
M

=
=
=
=

Produksi Perjam (bcm/jam)


Produksi Persiklus (bcm/vessel)
Cycle Time (detik)
Jumlah Alat Angkut

c. Kemampuan Produktivitas Alat Gusur/Dorong


Untuk mengetahui produktivitas alat gusur/dorong, maka perlu
dihitung kapasitas blade yaitu dengan persamaan:
(Komatsu Publication, 2007:15A-4)

q = q1 a Sf
Keterangan:
q1
q
a
Sf

=
=
=
=

Kapasitas Blade (bcm/blade)


Kapasitas Blade (Teoritis)
Faktor Koreksi Blade
Swell Factor

Maka setelah mengetahui kapasitas dari blade bulldozer per


siklus, kita dapat menghitung produktivitas bulldozer tersebut dengan
menggunakan persamaan berikut :
Q=q

eE

(Komatsu Publication, 2007:15A-4)

Keterangan:
Q
q
Cm
e
E

=
=
=
=
=

Produksi Perjam (bcm/ jam)


Produksi Persiklus (bcm/blade)
Cycle Time (detik)
Grade Factor
Efesiensi Kerja

14

3. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas


a. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Escavator
1) Tahanan Gali
Tahanan gali yaitu tahanan yang dialami oleh alat gali-muat
pada waktu melakukan penggalian tanah, Tahanan disebabkan
oleh:
a) Gesekan antara alat gali-muat dan tanah, Pada umumnya
semakin besar kelembaban dan kekerasan butiran tanah,
semakin besar pula gesekan yang terjadi.
b) Kekerasan tanah yang umumnya bersifat mutlak menahan
masuknya alat gali kedalam tanah.
c) Kekerasan (Roughness) dan ukuran butiran tanah.
d) Adanya adhesi antara tanah dengan alat gali-muat, dan kohesi
antara butiran tanah itu sendiri.
e) Berat jenis tanah; Hal ini utama sangat berpengaruh terhadap
alat gali-muat yang juga berfungsi sebagai alat muat (Power
shovel, Clamshell, dan Dragline)
2) Keadaan dari lapangan atau Front kerja.
Front kerja yang luas akan memudahkan excavator untuk
melakukan loading, sehingga akan meningkatkan cycle time untuk
setiap loading. Posisi material yang dekat dengan jangkauan bucket
memberikan kenaikan produksi, karena mengurangi gerak putar
atau swing.

15

3) Faktor Pengisian (Bucket Fill Factor)


Adalah persentase volume yang sesuai atau sesungguhnya
yang dapat diisikan ke dalam vassel atau bucket dibandingkan
dengan kapasitas teoritisnya. Suatu vassel mempunyai faktor isi
87%, artinya 13% volume vassel tersebut tidak dapat diisi.
Biasanya memiliki factor isi dari 100% karena dapat diisi munjung.
Tabel 1. Bucket Fill Factor
Kategori
Easy

Kondisi Material
Tanah asli, lempung tanah,
lempung, tanah lunak

Nilai
1.1 1.2

Average
Tanah berpasir dan tanah kering
Rather
Tanah berpasir dengan kerikil
Difficult
Difficult
Batuan hasil blasting
Sumber: Komatsu Publication, 2007:15A-9

1.0 1.1
0.8 0.9
0.7 0.8

Besar faktor pengisian suatu alat tergantung kepada:


a) Kandungan material
Makin besar kandungan air dari suatu material, maka
faktor pengisian makin kecil. Sebab dengan adanya air
mengakibatkan ruang yang seharusnya terisi oleh material diisi
oleh air.
b) Ukuran material
Ukuran

material

yang

umunya

lebih

besar,

menyebabkan banyak ruangan dalam bucket yang terisi oleh


material, sehingga faktor pengisian menjadi kecil.

16

c) Kelengketan material
Jika material yang lengket banyak pada bucket baik sisi
dalam maupun luarnya, maka akan meningkatkan faktor
pengisian alat apabila kegiatan penumpahan alat bersih, maka
akan mengurangi faktor pengisian karena volume bucket akan
menjadi semakin kecil.
d) Keahlian dan pengalaman operator
Keahlian dan pengalaman operator sangat perlu dalam
pelaksanaan kegiatan penambangan, karena operator yang ahli
dan pengalaman akan menghasilkan faktor pengisian yang
tinggi.
4) Faktor Pengembangan (Swell Factor)
Pemberaian merupakan prosentase pengembangan volume
material

dari

volume

asli,

yang

dapat

mengakibatkan

bertambahnya jumlah material yang harus dipindahkan dari


kedudukan aslinya. Ketika digali, material akan lepas dan terberai
sedemikian rupa dan tidak akan kembali ke bentuk semula.
Pemberaian tejadi karena terbentuk rongga-rongga udara di antara
partikel-partikel material lepas tersebut. Misalnya, satu kubik
material pada kondisi asli (bank) setelah digali volumenya
mengembang atau bertambah 30%, artinya volume bertambah 1.3
kali volume aslinya, namun beratnya tetap sama sebelum dan

17

sesudah digali. Rumus-rumus yang berkaitan dengan pemberaian


material sebagai berikut:
Swell Factor =

x 100%

Swell Factor =

x 100%

(Partanto Prodjosumarto, 1995:184)


5) Efektifitas Alat Mekanis
Efektifitas penggunaan alat mekanis merupakan faktor yang
menunjukan kondisi alat-alat mekanis dalam melakukan pekerjaan
dengan memperhatikan kehilangan waktu selama kerja.
Adapun parameter efektifitas dalam penggunaan alat-alat
mekanis meliputi:
a) Kesediaan Mekanis (Mechanical Availability)
Mechanical Availability (MA) adalah angka yang
menunjukan

tingkat

suatu

alat

dapat

bekerja

dengan

memperhitungkan kehilangan waktu karena alasan-alasan


mekanis seperti perawatan atau reparasi mesin, penggantian
suku cadang (sparepart) dan lain-lain. Kesiapan mekanis
merupakan suatu cara untuk mengetahui kondisi mekanis yang
sesungguhnya dari alat yang sedang dipergunakan.

MA

W
x 100% (Partanto Prodjosumarto, 1995:179)
W R

18

Keterangan :
W

= Working Hours atau jumlah jam kerja


merupakan waktu yang dibebankan kepada
seorang operator suatu alat yang dalam kondisi
dapat dioperasikan artinya tidak rusak, meliputi
setiap keterlambatan yaitu pulang ke lokasi
kerja, pindah tempat, pelumasan dan pengisian
bahan bakar serta keadaan cuaca.
= Repair Hours merupakan waktu untuk
perbaikan dan waktu yang hilang karena
menunggu saat perbaikan termasuk juga waktu
untuk penyediaan suku cadang serta waktu
untuk perawatan preventif.

b) Kesediaan Fisik (Physical Availability)


Faktor

yang

menunjukan

kesediaan

alat

untuk

melakukan kerja dengan memperhitungkan waktu yang hilang


karena rusaknya jalan, faktor cuaca dan lain-lain. Kesediaan
fisik selalu lebih besar dari kesediaan mekanis, berarti bahwa
alat belum digunakan sesuai dengan kemampuannya

PA

WS
x 100% (Partanto Prodjosumarto, 1995:179)
WSR

Keterangan:
W
S

St

= Working Hours atau jumlah jam kerja


= Standby Hours atau jumlah jam kerja suatu alat
yang tidak dapat dipergunakan padahal alat
tersebut tidak rusak dan dalam keadaan siap
operasi.
= Repair Hours merupakan waktu untuk
perbaikan dan waktu yang hilang karena
menunggu saat perbaikan termasuk juga waktu
untuk penyediaan suku cadang serta waktu
untuk perawatan preventif.
= Schedule Time (W+S+R)/jumlah seluruh jam.

19

c) Penggunaan Kesediaan (Use of Availability)


Faktor yang menunjukkan efisiensi kerja alat selama
waktu kerja yang tersedia dimana kondisi alat tidak rusak. Hal
ini dimaksudkan untuk mengetahui berapa efektif alat yang
tidak rusak dimanfaatkan dan menjadi ukuran seberapa baik
pengelolaan peralatan yang digunakan. Persentase rendah
menunjukkan bahwa pengoperasian alat tidak maksimal.

UA

W
x 100 %
WS

(Partanto Prodjosumarto, 1995:180)

Keterangan:
W
S

= Working Hours atau jumlah jam kerja.


= Standby Hours atau jam kerja suatu alat yang
tidak dapat dipergunakan padahal alat tersebut
tidak rusak dan dalam keadaan siap beroperasi.

d) Penggunaan Efektif (Effective Utilization)


Faktor yang menunjukkan berapa persen dari seluruh
waktu kerja yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk bekerja
atau persen waktu yang dimanfaatkan oleh alat untuk bekerja
dari sejumlah waktu kerja yang tersedia. Effective Utilization
ini sama dengan pengertian efisiensi kerja alat mekanis.

EU

W
x 100 % (Partanto Prodjosumarto, 1995:180)
WS R

Keterangan:
W
St

= Working Hours atau jumlah jam kerja.


= Scheduled Time (W+R+S) atau jumlah seluruh
jam kerja dimana alat dijadwalkan untuk
beroperasi.

20

6) Pola Pemuatan
Pola pemuatan dapat dilihat dari beberapa keadaan yang
ditunjukkan alat gali-muat dan alat angkut, yaitu:
a) Pola pemuatan yang didasarkan pada keadaan alat gali-muat
yang berada di atas atau di bawah jenjang.
(1) Top Loading
Alat gali-muat melakukkan penggalian dengan
menempatkan dirinya di atas jenjang atau alat angkut
berada di bawah alat gali-muat yang dapat dilihat pada
gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Pola Pemuatan Top Loading


(2) Bottom Loading
Alat gali-muat melakukan penggalian dengan
menempatkan dirinya di jenjang yang sama dengan posisi
alat angkut yang dapat dilihat pada gambar 2 di bawah ini.

21

Gambar 2. Pola Pemuatan Bottom Loading


b) Pola pemuatan berdasarkan jumlah penempatan posisi alat
angkut untuk dimuati terhadap posisi alat gali-muat.
(1) Single Back Up
Single Back Up yaitu alat angkut memposisikan diri
untuk dimuati pada satu tempat sedangkan alat angkut
berikutnya menunggu alat angkut pertama dimuati sampai
penuh, setelah alat angkut pertama berangkat alat angkut
kedua memposisikan diri untuk dimuati sedangkan truk
ketiga menunggu, dan begitu seterusnya.
(2) Double Back Up
Double Back Up yaitu alat angkut memposisikan
diri untuk dimuati pada dua tempat, kemudian alat galimuat mengisi salah satu alat angkut sampai penuh setelah
itu mengisi alat angkut kedua yang sudah memposisikan
diri di sisi lain sementara alat angkut kedua diisi, alat

22

angkut ketiga memposisikan diri di tempat yang sama


dengan alat angkut pertama dan seterusnya yang dapat kita
lihat pada gambar 3 di bawah ini.

S
Sumber: Yanto Indonesianto, 2012:45
Gambar 3.Pola Pemuatan Single Back Up, Double Back Up
c) Pola Pemuatan Berdasarkan Posisi Pemuatan
(1) Frontal Cut
Alat muat berhadapan dengan muka jenjang atau
front penggalian dan mulai menggali kedepan dan samping
alat muat. Dalam hal ini digunakan double spotting dalam
penempatan posisi dump truck. Alat muat pertama kali pada
dump truck sebelah kanan sampai penuh dan berangkat,
setelah itu dilanjutkan pada dump truck sebelah kiri yang
dapat dilihat pada gambar 4 di bawah ini.

23

Sumber : Yanto Indonesianto, 2012:47


Gambar 4. Pola Pemuatan Frontal Cut
(2) Paralel Cut With Drive-By
Alat muat bergerak melintang dan sejajar dengan
front penggalian. Pada metode ini, akses untuk alat angkut
harus tersedia dua arah. Walapun sudut putar rata rata
lebih besar dari pada frontal cut, truck tidak perlu
membelakangi alat muat dan spotting lebih mudah yang
dapat kita lihat pada gambar 5 di bawah ini.

Sumber: Yanto Indonesianto, 2012:47


Gambar 5. Pola Pemuatan Paralel Cut With Drive-By

24

(3) Paralel Cut With Turn And Back


Paralel cut with turn and back terdiri dari dua
metode yaitu:
(a) Single Spotting/Single Truck Back Up
Pada cara ini truck kedua menunggu selagi alat
muat mengisi truck pertama, setelah truck pertama
berangkat, truck kedua berputar dan mundur, saat truck
diisi, truck ketiga datang dan melakukan manuver, dan
seterusnya yang dapat kita lihat pada gambar 6 di
bawah ini.

Sumber: Yanto Indonesianto, 2012:47


Gambar 6. Pola Pemuatan Single Spotting
(b) Double Spotting / Double Truck Back Up
Pada cara ini truck memutar dan mundur
kesalah satu sisi alat muat pada waktu alat muat

25

mengisi

truck

pertama.

Setelah

truck

pertama

berangkat, alat muat mengisi truck kedua. Ketika truck


sudah dimuati, truck ketiga datang dan lansung berputar
dan mundur kearah alat muat, begitu pula seterusnya
yang dapat kita lihat pada gambar 7 di bawah ini.

Sumber: Yanto Indonesianto, 2012:47


Gambar 7. Pola Pemuatan Double Spotting
7) Waktu Edar Alat Gali Muat
Waktu edar alat gali-muat dapat dirumuskan sebagai
berikut:
Ctgm = Tm1 + Tm2 + Tm3 + Tm4
(Komatsu Publication, 2007:15A-10)
Keterangan:
Ctgm
Tm1
Tm2
Tm3
Tm4

=
=
=
=
=

Waktu edar alat gali-muat (detik).


Waktu putar dengan bucket kosong (detik).
Waktu menggali material (detik).
Waktu putar dengan bucket terisi (detik).
Waktu menumpahkan muatan (detik).

26

b. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Alat Angkut


1) Tahanan Gulir atau Tahanan Gelinding (Rolling Resistance)
Tahanan gulir merupakan jumlah segala gaya-gaya luar
yang berlawanan dengan arah gerak kendaraan yang berjalan di
atas jalur jalan atau permukaan tanah. Dengan sendirinya yang
mengalami tahanan gulir ini secara langsung adalah bagian luar
ban sebuah kendaraan.
Tahanan gulir ini tergantung dari banyak hal, diantaranya
yang tepenting adalah:
a) Keadaan jalan, yaitu kekerasan dan kemulusan permukaannya:
semakin keras dan mulusnya atau rata jalan tersebut, semakin
kecil tahanan gulirnya. Jenis tanah atau material yang
dipergunakan untuk membuat jalan tidak terlalu berpengaruh.
b) Keadaan

bagian

permukaan jalan

kendaraan

yang bersangkutan dengan

jika memakai ban karet maka yang

berpengaruh adalah ukuran ban, tekanan dan permukaan


bannya apakah masih baru atau sudah gundul, sedangkan jika
memakai crawler track maka keadaan dan macam track nya
kurang berpengaruh akan tetapi kondisi jalannya yang
berpengaruh.

Berikut

dinyatkan dalam persen.

angka-angka

tahanan

gulir

yang

27

2) Tahanan Kemiringan (Grade Resistance)


Tahanan kemiringan Merupakan besarnya gaya berat yang
melawan atau membantu gerak kendaraan karena kemiringan jalur
jalan yang melaluinya. Jika jalur jalan itu naik, disebut kemiringan
positif maka tahanan kemiringan akan melawan gerak kendaraan,
sehingga memperbesar tenaga yang diperlukan. Sebaliknya jika
jalur jalan itu turun disebut kemiringan negatif maka tahanan
kemiringannya

akan

mengurangi tenaga

membantu

gerak

yang dibutuhkan.

kendaraan

artinya

Tahanan kemiringan

tergantung dari dua faktor yaitu:


a) Besarnya kemiringan yang biasa dinyatakan dalam persen (%).
Kemiringan 1% berarti jalan-jalan itu naik atau turun 1 meter
untuk tiap jarak mendatar sebesar 100 meter atau naik/turun 1
ft untuk setiap 100 ft jarak mendatar.
b) Berat kendaraan itu sendiri dinyatakan dalam gross ton.
3) Rimpul (Tractive Effort)
Rimpull yaitu besarnya kekuatan tarik yang dapat diberikan
oleh mesin suatu alat kepada permukaan beroda atau ban
penggeraknya yang menyentuh permukaan jalur jalan.
a) Kecepatan kendaraan dengan mesin yang dimilikinya.
b) Mengatasi kemampuan kendaraan untuk mengatasi tahanan.
c) kemiringan dan tahanan gulir dari jalur jalan yang dilaluinya.
d) Membatasi volume meterial yang dapat diangkut.

28

4) Coeficient of Traction
Suatu faktor yang menunjukkan beberapa bagian dari
seluruh berat kendaraan pada ban yang dapat dipakai untuk
menarik atau mendorong. Coeficient of traction tergantung dari:
a) Keadaan ban.
b) Keadaan permukaan jalur jalan.
c) Berat kendaraan yang diterima roda penggeraknya.
d) Percepatan.
5) Berat material
Berat material yang akan diangkut oleh alat angkut dapat
mempengaruhi: kecepatan kendaraan dengan HP (Horse Power)
mesin yang dimiliki membatasi volume material yang akan
diangkut.
6) Percepatan
Percepatan

adalah

waktu

yang

diperlukan

untuk

mempercepat kendaraan dengan memakai kelebihan rimpull yang


tidak dipergunakan untuk menggerakkan kendaraan pada jalur
jalan

tertentu.

Lamanya

waktu

yang

dibutuhkan

untuk

mempercepat kendaraan tergantung dari beberapa faktor, yaitu:


a) Berat kendaraan; semakin berat, semakin lama waktu yang
dibutuhkan untuk mempercepat kendaraan.
b) Kelebihan rimpull yang ada; semakin besar rimpull yang
berlebihan, semakin cepat kendaraan itu dapat dipercepat. Jadi

29

kalau kelebihan rimpull itu tidak ada, maka percepatan tidak


akan timbul, artinya kendaraan tersebut tidak dapat dipercepat.
7) Efesiensi Kerja
Effisiensi kerja adalah penilaian terhadap pelaksanaan suatu
pekerjaan atau merupakan perbandingan antar waktu yang dipakai
untuk bekerja dengan waktu yang tersedia. Waktu kerja efektif
adalah waktu yang benarbenar digunakan oleh operator bersama
alat mekanis yang digunakan untuk kegiatan produksi. Untuk dapat
menentukan waktu kerja efektif harus dilakukan analisa waktu
kerja yang dilakukan pada jam kerja yang telah dijadwalkan.
Besarnya waktu yang tersedia ini dinyatakan dalam kenyataan
belum dapat digunakan seluruh untuk produksi. Hal ini disebabkan
karena adanya hambatanhambatan yang terjadi selama alat
mekanis tersebut berproduksi, baik hambatan yang dapat dihindari
maupun hambatan yang tidak dihindari.
Beberapa faktor yang mempengaruhi penilaian terhadap
efesiensi kerja sebagai berikut:
a) Waktu Kerja Nyata yang Terjadi
Waktu kerja penambangan adalah jumlah jam kerja
yang digunakan untuk melakukan kegiatan penambangan yang
meliputi penggalian, pemuatan, pengangkutan. Efesiensi kerja
akan semakin besar apabila banyaknya waktu kerja nyata untuk
penambangan semakin mendekati jumlah waktu yang tersedia.

30

b) HambatanHambatan yang Terjadi


Dalam kenyataan dilapangan akan terjadi hambatanhambatan

baik

yang

dapat

dihindari,

sehingga

akan

berpengaruh terhadap besar kecilnya efesiensi kerja. Jika


jumlah jam kerja dapat dimanfaatkan secara efektif, maka
diharapkan produksi dari alat muat dan alat angkut dapat
optimal.
c) Jam Perbaikan (Repair Hours)
Waktu kerja yang hilang karena menunggu saat
perbaikan termasuk juga waktu untuk penyedian suku cadang
(Spare Parts).Dengan adanya hambatan-hambatan yang terjadi
selama kegiatan pemuatan dan pengangkutan overburden dan
batubara berlansung ditambah dengan adanya waktu yang
hilang karena untuk perbaikan alat, maka waktu kerja efektif
dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
We = Wop (Js + Jr)

(Yanto Indonesianto, 2012:44)

We = Wop {(Wtd + Wd) + Jr}


Ek =
Keterangan:
Ek
We
Wop
Wtd
Js
Jr

=
=
=
=
=
=

Efesiensi kerja (%)


Waktu kerja efektif (menit)
Waktu kerja yang tersedia (menit)
Waktu hambatan tidak dapat dihindari (menit)
Standby time (menit) dimana (Js = Wtd +Wd)
Waktu reparasi (menit)

31

Waktu kerja yang tersedia dalam kenyataan belum


dapat digunakan seluruhnya untuk produksi (kurang dari 100
%). Hal ini disebabkan karena adanya hambatanhambatan
yang terjadi selama alat mekanis tersebut berproduksi, karena
hal tersebut di atas jarang-jarang dalam satu jam operator betulbetul berkerja selama 60 menit. Berdasarkan pengalaman ,
maka bila operator dapat berkerja selama 50 menit dalam satu
jam, ini berarti efesiensinya adalah 83 % maka hal itu dianggap
baik sekali.
8) Waktu Edar Alat Angkut
Waktu edar alat angkut dapat dirumuskan sebagai berikut :
Cta = Ta1 + Ta2 + Ta3 + Ta4 + Ta5 + Ta6 + Ta7
(Komatsu Publication, 2007:15A-13)
Keterangan:
Cta
Ta1
Ta2
Ta3
Ta4
Ta5
Ta6
Ta7

=
=
=
=
=
=

Waktu edar alat angkut (detik)


Waktu antri (detik).
Waktu mengambil posisi untuk dimuati (detik).
Waktu diisi muatan (detik).
Waktu mengangkut muatan (detik).
Waktu mengambil posisi untuk menumpah
(detik).
= Waktu pengosongan muatan (detik).
= Waktu kembali kosong (detik).

c. FaktorFaktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Alat Gusur/Alat


Dorong
1) Waktu Edar Alat Gusur/Alat Dorong.
Gerakan opearsi dozer adalah maju, pindah gigi, mundur,
dan pindah gigi yang dituliskan seperti persamaan dibawah ini.

32

CM

D D
+ +Z
F R

(Komatsu Publication, 2007 :15A - 4)

Keterangan:
D
F
R
Z

=
=
=
=

Jarak Gusur (m)


Kecepatan Maju (m/menit) = 0,75 x kec.max
Kecepatan Mundur (m/menit) = 0,85 x kec.max
Waktu Untuk Pindah Gigi (menit)

2) Blade Fill Factor


Tabel 2. Blade Fill Factor
Jenis Operasi
Mudah
Normal
Agak sulit
Sulit
Sumber: Komatsu Publication, 2007:15A-4

A
1,1 0,9
0,9 0,7
0,7 0,6
0,6 0,4

3) Density Material Dan Swell Factor


Density material adalah berat perunit volume dari suatu
material. Material mempunyai density yang berbeda karena
dipengaruhi oleh sifat sifat fisik antara lain : ukuran partikel,
kandungan air, pori pori dan kondisi fisik lainnya. Material yang
padat akan mempunyai berat yang lebih besar pervolume yang
sama dibandingkan material yang tidak padat

33

4) Grade Factor
1.2

Factor

1.1

1.0

0.9

0.8

0.7
-15

-10

-5

+5

+10

Grade
Sumber: Komatsu Publication, 2007:15A-5
Gambar 8. Grade Factor
4. Perhitungan Kebutuhan Alat Tambang Utama

Produksi = Jumlah Alat Produktivitas/Shift Banyak Shift/ Hari


(Yanto Indonesianto, 2012:147)

Production (Perbulan) = Jumlah Alat Productivity UA PA WH

+15

34

5. Owning and Operating Cost Alat Tambang Utama


Secara umum biaya pemilikan dan biaya operasi alat tambang
utama dapat digambarkan sebagai berikut :

Sumber: Komatsu Publication, 2007:16-2


Gambar 9. Biaya Pemilikan dan Biaya Operasi ATU
a. Owning Cost (Biaya Kepemilikan)
Owning Cost atau biaya kepemilikan adalah biaya yang harus
dikeluarkan pemilik alat berat tersebut walaupun alat tidak beroperasi
tetapi biaya ini tetap harus dibayarkan. Biaya kepemilikan terdiri atas
2 komponen besar, yakninya:

35

1) Depreciation Cost (Biaya Depresiasi)


Penyusutan (Depresiasi) adalah harga modal yang hilang
pada suatu peralatan yang disebabkan oleh umur pemakaian. Guna
menghitung besarnya biaya penyusutan perlu diketahui terlebih
dahulu umur kegunaan dari alat yang bersangkutan dan nilai sisa
pada batas akhir umur kegunaannya. Terdapat banyak cara yang
digunakan untuk menentukan biaya penyusutan. Salah satu metoda
yang banyak digunakan adalah Straight Line Method yaitu
turunnya nilai modal dilakukan dengan pengurangan nilai
penyusutan yang sama besarnya sepanjang umur kegunaan dari alat
tersebut, sebagai berikut:
Depreciation Cost

= Net Depreciation Value

Depreciation Period (Hours)


(Komatsu Publication. 2007:16-2)
Keterangan :
Net Depereciation Value = Selisih antara harga beli baru
dengan jual kembali.
Depreciation Period
= Masa pakai alat efektif dalam
jam.
2) Interest, Insurance, and Tax (IIT)
Interest adalah biaya bunga yang harus dibayarkan pemilik
terhadap investasi yang dimiliki, terutama bagi pemilik yang
membeli unit secara leasing/angsuran.
Insurance adalah biaya penjamin terhadap kerusakan alat
yang diakibatkan kecelakaan kerja ataupun bencana alam,

36

bergantung dari jenis polis asuransi yang dipilih. Biasa harga yang
harus dibayarkan untuk asuransi berupa % dari harga alat
Tax adalah besaran pajak yang harus dibayarkan terhadap
kepemilikan alat berat, besaran biaya pajak diatur dalam undangundang dan peraturan daerah.
Besarnya interest, insurance, and tax dapat dihutung
dengan formula seperti berikut:
IIT =
Factor =
r = trade in value rate =
(Komatsu Publication, 2007:16-4)
Keterangan :
Delivered Price
Annual Rates

Annual use in Hours


n
r

= Harga alat sampai di lokasi tambang


(harga alat + biaya pengiriman).
= Bunga pinjaman ditambah besaran
biaya asuransi ditambah besaran
pajak dalam persen yang berlaku saat
ini.
= Perencanaan waktu pakai alat dalam
satu tahun (dalam satuan jam).
= Usia pakai alat/waktu depresiasi
= Perbandingan harga alat saat dijual
kembali dengan harga alat sampai di
site.

b. Operating Cost (Biaya Operasi)


Operating cost/biaya opersai adalah biaya yang harus dikeluarkan
oleh pengguna alat berat tersebut saat alat berat tersebut bekerja. Ada 6
hal yang diperhitungkan dalam operating cost ini, yakni:

37

1) Bahan Bakar (Fuel)


Biaya

bahan

bakar

merupakan

biaya

yang

harus

dikeluarkan untuk mengoperasikan alat berat, masing-masing jenis


alat berat memiliki fuel consumption yang berbeda-beda. Fuel
Consumption masing-masing alat akan dijelaskan pada tabel 3
berikut:

No.

1
2
3
4

Tabel 3. Fuel Consumption Alat Tambang Utama


Jenis Alat
Konsumsi Bahan Bakar per Jam
(Liter/jam)
Low
Medium
High
Excavator
47.7-63.6 63.6-79.5
79.5-127.1
PC 2000-8
Excavator
25.6-34.1 34.1-42.6
42.6-68.2
PC 800 -7
HD
38.5-57.7 38.5-77.3
77.3-108.2
785-7
HD
28.7-43.0 43.0-57.4
57.4-78.9
465-7

Buldozer
40.2-65.9 65.9-73.7
D-375 -5
Sumber: Komatsu Publication, 2007:16-10
5

73.7- 90.4

2) Lubricant (Oil and Grease), Filters, and Periodic Maintenance


Labor
Setiap unit yang dioperasikan tentunya membutuhkan
perawatan, baik itu perawatan apabila terjadi kerusakan, maupun
perawatan rutin setiap waktu penggunaan tertentu. Perawatan rutin
biasanya meliputi penggantian oli, pelumasan dengan grease
(gomok), pergantian saringan, dan beberapa perawatan rutin
lainnya. Untuk setiap unit yang berbeda tentunya juga memiliki

38

kebutuhan terhadap oli dan gomok yang berbeda. Untuk lebih


jelasnya perhatikan Tabel 4.
Tabel 4. Kebutuhan Oli dan Grease
No

Nama
Alat

Oli
Mesin
(Liter/Ja
m)

Oli
Transmisi
(Liter/
Jam)

Final
Drive Oil
(Liter
/Jam)

Hydraulic
Control
(Liter
/ Jam)

Grease
(Kg/
Jam)

Excavator
PC 2000-8
Excavator
PC 800-7
HD
785-7
HD
465-7
Bulldozer
D 375A-5

0.24

0.08

0.085

0.26

0.08

0.12

0.05

0.02

0.09

0.16

0.26

0.11

0.13

0.20

0.03

0.12

0.19

0.07

0.032

0.02

0,12

0,15

0,7

0,06

0,04

2
3
4
5

Sumber: Komatsu Publication, 2007:16-10


3) Ban (Tires)
Salah satu komponen penting dari alat berat, terutama alat
pengangkutan adalah komponen ban. Usia pakai dari ban itu
sendiri juga dapat diperhitungkan, menyesuaikan dengan kondisi
permukaan jalan yang dilalui, usia pakai ban dapat dilihat pada
tabel 5.

39

Machine
Off-Highway
Dump Truck
Articulated
Dump truck
Motor
Graders
Wheel
Loaders
Wheel
Dozers
Hydraulic
Escavators

Tabel 5. Usia Pakai Ban


Easy
Medium
Condition
Condition
4.000-6.000
2.000-4.000

Severe
Condition
1.000-2.000

7.000

5.000

3.000

3.000

2.000

1.000

4.000-6.000

2.000-4.000

1.000-2.000

3.000

2.000

1.000

3.000

2.000

1.000

Traveling on Traveling on
well
gravelly
maintained
surfaces, tire
roads, or in
wear is normal
silt or sand, but occasionally
tire wear is
cut by rocks.
normal.
Sumber: Komatsu Publication, 2007:16-22

Tire wear
mostly due to
rock-cut
liable to
puncture
frequently.

4) Biaya Perbaikan (Repair Cost)


Selain perawatan berkala seperti pergantian oli, saringan
oli, saringan minyak, dan perawatan rutin lainnya, kerusakan pada
unit juga sering terjadi. Untuk itu biaya perbaikan (repair cost)
juga harus diperhitungkan.
Biaya Perbaikan (Repair Cost) dapat dihitung dengan
formula:
Biaya Perbaikan =
(Komatsu Piblication. 2007:16-6)

40

5) Gaji Operator (Operator Salary)


Gaji operator menjadi salah satu hal yang harus
diperhitungkan dalam peghitungan biaya produksi alat berat.
Biasanya operator digaji berdasarkan jam kerja mereka, namun di
beberapa perusahaan operator alat berat menjadi karyawan tetap,
sehingga gaji operator dibayarkan per bulan. Besarannya berkisar
antara 2-3 kali upah minimum regional di daerah tersebut. Sebagai
contoh, provinsi Sumatera Selatan untuk tahun 2015 menetapkan
upah minimum provinsi sebesar Rp 1.825.000,- maka gaji operator
alat berat di daerah ini berkisar antara Rp 3.650.000,- sampai
dengan Rp 5.475.000,- per bulan.
6) Special Items
Special Items adalah bagian-bagian dari unit alat berat yang
harus diganti bila sudah haus, seperti teeth bucket, ripper point,
dan shank pada grader. Special Items juga mempunyai masa pakai,
tergantung material yang dikerjakan dan lokasi kerjanya. Masa
pakai special items dapat dilihat pada tabel 6

Item

Tabel 6. Special Item


Easy Range
Medium

Ripper Point
150
30
Shank
1.500
450
Protector
Shank
7.0
3.500
Sumber: Komatsu Publication, 2007:16-22

Severe
Range
15
150
2.000

41

6. Evaluasi Investasi
Kegiatan investasi merupakan kegiatan penting yang memerlukan
biaya besar dan berdampak jangka panjang terhadap kelanjutan usaha.
Oleh karena itu, analisis yang sistematis dan rasional sangat dibutuhkan
sebelum kegiatan itu direalisasikan.
Suatu investasi merupakan kegiatan menanamkan modal jangka
panjang, dimana selain investasi tersebut perlu pula disadari dari awal
bahwa investasi akan diikuti oleh sejumlah pengeluaran lain yang secara
periodik perlu disiapkan. Pengeluaran tersebut sendiri terdiri dari biaya
operasional (operation cost), biaya perawatan (maintenance cost), dan
biaya-biaya lain yang tidak dapat dihindarkan. Disamping pengeluaran,
investasi akan menghasilkan sejumlah keuntungan atau manfaat, mungkin
dalam bentuk penjualan-penjualan produk benda atau jasa atau penyediaan
fasilitas.
Secara umum kegiatan investasi menghasilkan komponen cash
flow seperti gambar 10.

Sumber: Giatman, 2006:68


Gambar 10. Cash Flow Investasi

42

a. Metode Net Present Value (NPV)


Net Present Value

adalah metode menghitung nilai bersih

(netto) pada waktu sekarang (present). Asumsi present yaitu


menjelaskan waktu awal perhitungan bertepatan dengan saat evaluasi
dilakukan, atau pada periode tahun ke-0 dalam perhitungan cash flow
investasi (lihat gambar 11).

Sumber: Giatman, 2006:69


Gambar 11. Cash Flow Kondisi Present
Dengan demikian, metode NPV pada dasarnya adalah
memindahkan cash flow yang menyebar sepanjang masa investasi ke
waktu awal investasi (t=0) atau kondisi present, tentu saja dengan
menerapkan konsep Ekuivalensi uang.
Suatu cash flow tidak selalu dapat diperoleh secara lengkap,
yaitu terdiri dari cash-in dan cash-out, tetapi mungkin saja hanya

43

dapat diukur langsung aspek biayanya saja atau benefitnya saja.


Contoh, jika kita melakukan invastasi dalam rangka memperbaiki atau
menyempurnakan salah satu bagian saja dari sejumlah rangkaian
fasilitas produksi, sehingga dapat dihitung hanya komponen biayanya
saja, sedangkan komponen benefitnya tidak dapat dihitung karena
masih merupakan suatu rangkaian dari sistem tunggal. Jika demikian,
maka cash flow tersebut hanya terdiri dari cash-out atau cash-in. Cash
flow yang benefit saja perhitungannya disebut dengan Present Worth of
Benefit (PWB), sedangkan jika yang diperhitungkan hanya cash-out
(cost) disebut dengan Present Worth of Cost (PWC). Sementara nilai
NPV diperoleh dari PWB-PWC.
Jadi, untuk mendapatkan nilai NPV dari suatu aliran uang
(Cash Flow) dapat digunakan formula sebagai berikut :

(Giatman, 2006:70)

Keterangan :
CF t
R
t
n

= Cash flow atau arus kas pada waktu t.


= Biaya modal proyek (Project cost of capital)
= Periode waktu
= Usia Proyek

Kriteria Keputusan
Untuk mengetahui apakah rencana suatu investasi tersebut
layak ekonomis atau tidak, diperlukan suatu ukuran / kriteria tertentu
dalam metode NPV, yaitu :Jika, NPV > 0 artinya investasi akan

44

menguntungkan / layak (fisible) dan NPV < 0 artinya investasi tidak


menguntungkan (unfisible)
Jika rencana investasi tersebut dinyatakan layak, maka
direkomendasikan untuk dilaksanakan investasi tersebut, namun jika
ternyata tidak layak, maka proyek tersbut tidak direkomendasikan
untuk dijalankan. Namun layak atau tidaknya suatu rencana investasi
belumlah keputusan akhir dari suatu program investasi, sering kali
pertimbangan-pertimbangan

tertentu

ikut

pula

mempengaruhi

keputusan yang akan diambil.


b. Metode Internal Rate Of Return
Internal Rate Of Return didefinisikan sebagai tingkat diskonto
yang menyamakan nilai sekarang dari arus kas masuk proyek yang
diharapkan terhadap nilai sekarang biaya proyek.
PV(Arus Masuk)

= PV(Biaya Investasi)

(Suharto, Wibowo, 2001:458)

Internal Rate Of Return juga dapat diartikan sebagai suatu


tingkat discount rate yang menghasilkan Net Present Value (NPV)
sama dengan Nol.

(Suharto, Wibowo, 2001:458)


Kriteria Keputusan
Jika IRR lebih besar atau sama dengan project cost of capital
maka sebaiknya proyek diterima. Jika IRR lebih kecil project cost of

45

capital, proyek harus ditolak. Mengapa? IRR dapar dipadang sebagai


suatu tingkat keuntungan yang diharapkan dari suatu proyek (expected
rate of return). Sedangkan project cost of capital adalah tingkat
keuntungan yang di syaratkan (required rate of return). Jika IRR lebih
besar dari biaya modal proyek proyek dapat membayar biaya modal
proyek dan tetap menghasilkan suatu surplus keuntungan yang
dinikmati oleh pemegang saham. Dengan demikian, mengambil
proyek yang IRR-nya (expected rate of return) lebih besar dari biaya
modal proyek (require rate or return) akan meningkat kemakmuran
pemegang saham.
Jika IRR sama dengan biaya modal proyek, proyek
diperkirakan akan menghasilkan keuntungan besar yang diisyaratkan
oleh pemilik modal, tidak lebih tidak kurang. Kondisi itu tentunya
masih dapat diterima oleh pemilik modal (baik pemilik modal asing
atau kreditur maupun pemilik modal sendiri).
Jika terdapat 2 proyek yang bersifat mutually exclusive, proyek
dengan IRR yang lebih tinggi yang sebaiknya dipilih, dengan asumsi
IRR kedua proyek lebih besar atau sama dengan biaya modal proyek.
Hal ini berlaku pula untuk lebih dari 2 proyek yang mutually exlusive.
Pada kondisi ini, proyek dengan IRR yang terbesar yang dipili, dengan
asumsi IRR biaya modal.
Kelemahan metode IRR, jika proyek memiliki arus kas yang
tidak normal ada kemungkinan IRR tidak dapat digunakan. Yang

46

dimaksud arus kas yang normal adalah serangkaian (satu atau lebih)
arus kas keluar diikuti dengan serangkaian arus kas masuk. Pada arus
kas yang tidak normal, arus kas negatif (pengeluaran) muncul
selama tahun-tahun setelah proyek berjalan. Jika arus kas tidak
normal, dapat timbul masalah mutiple IRR atau IRR ganda.
c. Metode Net Advantages To Leasing (NAL)
Untuk mengetahui manfaat dari leasing maka perlu dibuat
perbandingan antara manfaat membeli dan manfaat leasing itu sendiri,
Selisih ini dikenal sebagai net advantages to leasing (NAL). NAL pada
dasarnya adalah akumulasi arus kas (baik arus kas masuk ataupun arus
kas keluar) yang terkait dengan leasing, dibandingkan dengan cara
pembelian secara lansung. Secara spesifik, melalui leasing suatu
perusahaan menghindari sejumlah biaya operasional tertentu tetapi
perusahaan harus membayar sejumlah uang sewa diluar pajak.
Dengan leasing perusahaan terhindar dari biaya-biaya beban
bunga yang bisa mengurangi pajak, serta biaya depresiasi, yang
terakhir perusahaan tidak menerima nilai sisa alat jika pengadaan alat
dilakukan secara leasing. Tetapi perusahaan tidak harus mengadakan
pengeluaran awal untuk membeli alat tersebut, dengan demikian net
advantages to leasing (NAL) mencerminkan penghematan biaya yang
diberikan oleh leasing.
Secara teroritis, leasing mempunyai beberapa keunggulan baik
bagi pihak yang menyewa maupun yang menyewakan. Tetapi sebelum

47

memutuskan untuk menggunakan leasing sebagai sumber dana perlu


dianalisis untuk menentukan bahwa sumber dana ini memang lebih
menguntungkan jika dibandingkan dengan sumber dana yang lain
seperti pembelian secara lansung.
Maka dilakukan analisis kelayakan investasi dengan metode
net advantages to leasing (NAL) untuk menganalisis seberapa besar
keunggulan leasing dibandingkan dengan pembelian secara lansung
dalam pengadaan alat dengan menggunakan rumus dibawah ini.
NAL = PV cost of owning PV cost of leasing

(Brigham, F Eugene dan Ehrhardt, C Michael)

Keterangan :
T

= Tax Rate

= Lease Payment

Kd

= Cost of debt after tax

Ko

= Cost of capital

Oc

= Operating cost

Dep

= Depresiasi

48

Kriteria Keputusan
Dalam pengambilan keputusan untuk memperoleh pengadaan
alat yang tepat antara pembelian secara lansung dengan leasing adalah
memperhatikan nilai NAL yang didapatkan dari pengurangan antara
nilai PV cost of owning dengan PV cost cost of leasing. Jika NAL > 0
maka pengadaan alat yang dipilih adalah secara leasing namun apabila
NAL < 0 maka pengadaan alat yang dipilih adalah pembelian secara
lansung.
7. Pemilihan Alternatif
Jika rencana investasi dimunculkan dalam beberapa alternatif yang
berimplikasi pada perbedaan estimasi cash flownya, maka untuk
menentukan

alternatif

mana

yang

memiliki

cash

flow

lebih

menguntungkan dibutuhkan suatu proses analisis dan pemilihan yang


disebut dengan analisis alternatif.
Memilih alternatif merupakan kegiatan untuk memastikan proyek
yang sudah dinyatakan layak apakah sudah optimal atau belum utuk
dijalankan. Untuk menjamin suatu pilihan sudah optimal, tentu setidaknya
tersedia sejumlah alternatif layak yang perlu dipilih salah satu terbaik
diantaranya. Oleh karena itu, perlu disiapkan alternatif-alternatif yang
cukup untuk dipilih.

49

Dalam menyiapkan alternatif, ada beberapa persyaratan, yaitu :


a. Alternatif harus bersifat exhausive (Lengkap)
b. Alternatif harus bersifat mutually exclusive (tidak boleh muncul dalam
dua alternatif)
Tujuan dalam memilih alternatif adalah untuk mendapatkan
keuntungan ekonomis yang optimal. Oleh karena itu kriteria pemilihan
akan dipengaruhi oleh situasi alternatif yang akan dipilih, sebagai berikut :
Tabel 7. Kriteria Pemilihan Alternatif
Situasi
Kriteria
Input Fixed / tetap
Maximum Output
Output Fixed / tetap
Minimum Input
Input-Output tidak tetap
Optimasi (Maximum Outoput)
Sumber: Giatman, 2006:100)
Dalam pemilihan alternatif, metode evaluasi investasi dapat
dipergunakan dan akan konsisten satu sama lainnya. Namun dalam
penerapannya perlu pula diperhatikan umur dari masing-masing alternatif,
sehingga dalam membandingkan terpenuhi kaidah-kaidah indikator
perbandingan, yaitu :
1) Indikator harus sama
2) Bernilai tunggal
Dalam penelitian saya ini untuk analisis sendiri saya menggunakan
tiga metode, yakni NPV, IRR dan NAL. Pada dasarnya pada metode NPV
disini menggambarkan hasil dan sisa keuntungan yang akan diperoleh
perusahaan pada akhir umur tambang dan metode IRR adalah suatu tingkat
discount rate yang menghasilkan Net Present Value (NPV) sama dengan
Nol yang apabila nilai IRR itu sama/lebih tinggi dari suku bunga pada saat

50

itu, berarti layak untuk diterima. sedangkan metode NAL pada dasarnya
menganalisis seberapa besar keunggulan leasing dibandingkan dengan
pembelian secara lansung dalam pengadaan alat.

51

BAB III
METODELOGI PENELITIAN
A. Metodelogi Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metodologi penelitian
terapan. Menurut Namawi, Martini (1996:10) menjelaskan bahwa penelitian
terapan adalah sebagai berikut :
Satu jenis penelitian yang hasilnya dapat secara lansung diterapkan
untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi. Tujuan utama penelitian
terapan adalah untuk pemecahan masalah sehingga hasil penelitian dapat
dimanfaaatkan untuk kepentingan manusia baik secara individu atau
kelompok maupun untuk keperluan industri.
B. Desain Penelitian
1. Studi Literatur
Mempelajari teori-teori yang berhubungan dengan materi yang
akan dibahas di lapangan melalui buku-buku, seperti : Ekonomi Teknik
oleh Drs.M.Giatman, Pemindahan Tanah Mekanis oleh Ir. Partanto
Prodjosumarto, Pemindahan Tanah Mekanis oleh Ir. Yanto Indonesianto
M.sc, Bahan ajar alat berat oleh Drs. Sumarya, MT, Spesification and
Application Handbook Komatsu Edition 28, Manajemen Keuangan oleh
Dodo Suharto, dan Herman Wibowo, Financial Management oleh Eugene
F Brigham dan Michael C Ehrhardt dan beberapa sumber lain yang
berhubungan
2. Pengambilan Data
Data yang diambil berupa data primer dan data sekunder. Untuk
data primer diambil langsung dilapangan atau didapatkan dari wawancara
lansung dengan pimpinan dan staff karyawan perusahaan yang

51
52

52

berkompeten dan ada kaitannya dengan objek penelitian seperti data biaya
cicilan peralatan, harga alat, dan biaya pengupasan overburden. Sedangkan
untuk data sekunder didapat dari literatur perusahaan atau laporan
perusahaan seperti data produksi perusahan, spesifikasi alat tambang
utama, dan data owning dan operating cost .
3. Pengolahan Data
Setelah data didapatkan maka selanjutnya adalah pengelompokan
dan pengolahan data, dikarenakan untuk penelitian ini dibutuhkan banyak
sekalii data, maka data harus dikelompokkan sesuai dengan tahapan
pengerjaannya.
Adapun yang dilakukan pada tahapan ini adalah :
a. Perhitungan produktivitas alat berat.
b. Perhitungan kebutuhan peralatan.
c. Perhitungan biaya kepemilikan dan biaya operasional alat berat.
d. Perhitungan biaya pengupasan overburden.
e. Pembuatan cash flow
f. Perhitungan evaluasi investasi dengan metode NPV, IRR, dan NAL
4. Analisis Pengolahan Data
Setelah semua data yang ada diolah selanjutnya dilakukan analisis
data yang sudah diolah. Dari cash flow yang sudah ada kemudian
dianalisis kelayakannya apakah layak untuk jadi alternatif atau tidak.
Untuk analisis sendiri digunakan tiga metode, yaitu NPV, IRR, dan NAL.

53

Setelah analisis selesai

dilakukan dan sudah menghasilkan

beberapa alternatif, kemudian dilakukan pemilihan alternatif terbaik, yang


kemudian akan menjadi rekomendasi kepada perusahaan.
5. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan

diperoleh

dari

hasil

pengamatan

lapangan,

perhitungan, dan analisis data. Kemudian dihasilkan suatu rekomendasi


yang bermanfaat bagi perusahaan. Serta saran-saran agar apa yang
direkomendasikan bisa dilaksankan oleh perusahaan.

54

Kerangka Konseptual
Input
Data primer didapatkan dari
wawancara lansung dengan
pimpinan
dan
staff
karyawan seperti:
1. Biaya cicilan peralatan.
2. Biaya pengupasan
overburden.
3. Harga alat
Data Sekunder:
1. Data produksi target
produksi perusahaan.
2. Spesifikasi Alat
Tambang Utama.
3. Data Owning dan
Operating Cost.

Proses
1. Menghitung biaya
kepemilikan dan biaya
operasional.
2. Mengitung biaya hasil
pengupasan overburden.
3. Menghitungan evaluasi
investasi dengan metode
NPV, IRR, dan NAL.
4. Menghitungan analisis
pemilihan alternatif terbaik
dari ketiga cara pengadaan

Output
1. Biaya kepemilikan dan
biaya operasional.
2. Biaya Pengupasan
overburden.
3. Analis kelayakan.
4. Analis pemilihan
alternatif terbaik.

55

Diagram Alur Penelitian

Studi Literatur

Pengamatan
Lapangan

Pengambilan Data

Data Primer

Data Sekunder

Pengolahan Data

Pembuatan Cash
Flow

Analisis Kelayakan
Alternatif

Analisis Pemilihan
Alterntif Terbaik

Kesimpulan dan
Saran

56

c. Jadwal Pelaksanaan
Penelitian ini rencananya akan dilaksanakan selama 4 minggu, yaitu
pada tanggal 22 Mei 22 Juni 2015 (4 Minggu), dengan jadwal pelaksanaan
sebagai berikut:

No

Kegiatan

Orientasi Lapangan

Pengumpulan Referensi dan


Data

Pengolahan Data

Konsultasi dan Bimbingan

Penyusunan, Pengumpulan
Draft Laporan

Waktu Pelaksanaan Minggu Ke1


2
3
4

57

Daftar Pustaka
Giatman. (2006) . Ekonomi Teknik. Jakarta: Rajawali Pers
Sumarya. (2009) .Bahan Ajar Alat Berat dan Interaksi Alat Berat. Padang:
Universitas Negeri Padang.
Partanto, Prodjosumarto. (1995). Pemindahan Tanah Mekanis. Bandung: Jurusan
Teknik Pertambangan, ITB.
Yanto, Indonesianto. (2005). Pemindahan Tanah Mekanais. Yogjakarta: Jurusan
Teknik Pertambangan, UPN Veteran.
Komatsu Publication. (2007). Specification and Application Handbook, 28th
Edition. Japan: Komatsu Ltd.
Dodo, Suharto dan Herman, Wibowoo. (2001). Manajemen Keuangan. Jakarta:
Erlangga.
Brigham, F Eugene dan Erchardt,C Michael. (2011). Financial Management.
Kanada: Nelson Education
Martini, Mimi. Namawi, Hadari. (1996). Penelitian Terapan. Yogyakarta:
Universitas Gajah Mada
http://Manajemen Perencanaan Alat Berat pdf. Diakses tanggal: 4 April 2015.